SEBAGIAN kalangan Kristen di Indonesia menyatakan dengan bangga bahwa mereka memahami dan menjalankan misi agama mereka secara RADIKAL. Itu bisa dibaca dalam sebuah buku berjudul: "Kami Mengalami Yesus di Bandung" (Jakarta: Metanoia Publishing, 2011). Daniel H. Pandji, tokoh Kristen yang juga Koordinator Jaringan Doa Nasional, memberikan komentar:



“Buku ini menguak suatu kebenaran sejarah yang sangat penting bagaimana saat ini banyak  pemimpin-pemimpin rohani yang telah menyebar ke seluruh bangsa bahkan berbagai belahan dunia, hal itu dimulai dari gerakan doa yang militan pada tahun 1980 an, lalu memunculkan gerakan penginjilan yang menyentuh berbagai bidang. Buku ini harus dibaca oleh orang-orang yang mau memiliki semangat untuk mengubahkan bangsa.”



Kelompok Kristen ini menyatakan kebanggaannya, bahwa saat ini, telah muncul anak-anak muda Kristen yang “dibangkitkan untuk mengikut Tuhan secara radikal.” (hal. 23). Mereka memiliki sikap RADIKAL dalam berbagai aspek:



•    Radikal dalam Pemberian. Banyak anak muda memberikan apa saja yang mereka miliki kepada Tuhan untuk pekerjaan pelayanan yang memang kerap dilakukan tanpa kehadiran donatur-donatur. Seorang mahasiswi memberikan seluruh emas yang dimiliki (diberi oleh orang tuanya untuk persiapan pernikahan). Hasil penjualan emas itu kemudian digunakan untuk menyewa sebuah rumah pelayanan, yang menampung para gelandangan dan narapidana yang bertobat. Ada juga seorang mahasiswa menjual motornya dan hasilnya diserahkan untuk membiayai retreat pelayanan. Seorang pemudi memutuskan untuk memberi perpuluhan secara rutin 90% kepada Tuhan dari semua yang ia terima. Seorang pemuda lain memberi perpuluhan kepada Tuhan 50%. Ada satu ketetapan bersama yang radikal pada waktu itu: jika mengadakan KKR yang membutuhkan dana besar (untuk sewa gedung, sound system, buat publikasi spanduk, poster dan lain-lain) semua sepakat untuk tidak meminta-minta, atau tidak mengedarkan  proposal dalam mencari dana, tetapi mengandalkan lutut untuk berdoa dan memohon kepada Tuhan.



•    Radikal dalam berdoa. Munculnya persekutuan doa yang seringkali berdoa mencari Tuhan selama berjam-jam. Ini ditambah dengan bangkitnya anak-anak muda yang berani mengambil keputusan untuk berdoa lebih dari satu jam setiap hari.



•    Radikal dalam Membayar Harga.  Bangkitnya anak-anak muda yang berani membayar harga, tidak peduli berapa pun itu. Beberapa dianiaya oleh orang tua yang belum mengerti. Ada yang dipukuli dan dikejar dengan benda tajam, namun tetap memilih untuk mengikut Tuhan. Beberapa anak muda karena pelayanan, diancam oleh ayahnya untuk diputuskan biaya hidupnya, namun itu tidak menggoyahkan kesetiaan mereka kepada Tuhan. Mereka tetap mengasihi, serta mendoakan orang tuanya sampai bertobat dan mengalami lawatan Tuhan. Anak-anak muda yang melayani gelandangan dan narapidana bahkan berani menyediakan rumah penampungan, tinggal bersama mereka, serta melayani mereka meskipun beberapa kali mengalami ancaman kekerasan ketika terpaksa harus melerai  perkelahian antar geng yang menggunakan senjata tajam.



•    Radikal dalam Kekudusan Hidup. Bangkitnya anak-anak muda yang memiliki komitmen dari hal-hal sederhana seperti tidak menyontek lagi. Kemudian munculnya generasi yang bertekad untuk hidup kudus dalam pergaulan antar lawan jenis, memutuskan untuk menjaga kesucian pernikahan, serta hidup berbeda dari anak-anak muda pada umumnya yang hidup bebas.



•    Radikal dalam Memberitakan Injil. Banyak anak muda mendatangi taman-taman kota di Bandung, tempat para gelandangan, pencuri, dan bahkan tempat-tempat rawan seperti markas para perampok berkumpul untuk memberitakan Kabar Baik kepada mereka. Bertahun-tahun tempat-tempat seperti ini terus dilayani secara teratur oleh anak-anak muda yang sudah diubahkan oleh Kristus.



•    Radikal dalam Memberikan Waktu untuk Pelayanan. Di tengah-tengah kesibukan belajar, selalu ada komitmen untuk melayani persekutuan, pemuridan, evaluasi pelayanan minggu, kunjungan dan beritakan Injil, serta berdoa bersama. Semua dilakukan paling tidak seminggu sekali. Dapat dikatakan setiap pekerja, dalam setiap minggu pasti terlibat pelayanan rutin minimal empat sampai lima kali. (hal. 23-26), dikutip persis sesuai buku aslinya).



RADIKALISME kaum Kristen di Indonesia ini juga diwujudkan dalam sejumlah puisi dan lagu. Satu diantaranya berbunyi sebagai berikut:



“Slamatkan Indonesia”

Trimakasih Tuhan untuk negeri tercinta

Trimakasih Tuhan untuk Indonesia

Trimakasih

Hatiku bersyukur padaMu Tuhanku

Indonesia membutuhkanMu Yesus

Indonesia nantikan curahan RohMu

Indonesia rindu kemuliaanMu

Inilah doaku…

Inilah doaku…

Slamatkan Indonesia, slamatkan Indonesia,

Slamatkan Indonesia

Itulah kerinduanku.



*****



Dalam buku berjudul "Menjadi Garam Dunia", karya Erich Sunarto, (Jakarta: Pustaka Sorgawi, 2007), juga ditegaskan: “Untuk menuju ke Sorga, tidak ada jalan yang lain, kecuali melalui Yesus.” (hal. 124).  Dengan semangat itulah, kaum Kristen Radikal ini berusaha mewujudkan tekadnya untuk mengkristenkan Indonesia. Para misionaris bersama dengan para penjajah Portugis dan Belanda telah beratus-ratus tahun berusaha untuk mengkristenkan Indonesia, dengan berbagai cara.   Karena kaum misionaris menganggap misi mereka sebagai misi suci, maka mereka tidak pernah berhenti dari upayanya.



Bahkan, melalui buku Kami Mengalami Yesus di Bandung, kita melihat, bagaimana kuatnya semangat dan kebanggaan mereka sebagai kaum Kristen yang pantang menyerah untuk mengkristenkan Indonesia. Mereka bersemangat mengorbankan tenaga, pikiran, waktu, dan harta demi tegaknya misi Kristen di Nusantara ini. Mereka dengan bangganya mengumumkan corak beragama yang RADIKAL dalam berbagai hal.



Umat Islam Indonesia tentu memahami benar semangat dan gerakan kaum misionaris Kristen ini. Tujuan mereka sudah jelas: mengubah Indonesia yang mayoritas Muslim menjadi Kristen. Dalam buku berjudul "Jadikan Sekalian Bangsa BersukaCita! Sepremasi Allah dalam Misi", karya John Piper (Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 2003), dikatakan:



“Bisakah alam semesta dan agama-agama lain menuntun orang-orang kepada hidup yang kekal dan kepada sukacita bersama Allah? Jawaban Alkitabiahnya: Tidak bisa! Menarik sekali, sejak penjelmaan Anak Allah dalam Perjanjian Baru, semua iman yang menyelamatkan harus terpusat kepada-Nya. Sebelum Kristus, kaum Israel memfokuskan imannya pada janji-janji Allah (Roma 4:20). Dan bangsa-bangsa berjalan menurut jalannya masing-masing (Kisah Para Rasul 14:16. Masa-masa itu disebut “zaman kebodohan”. Tetapi sekarang, sejak kedatangan Anak Manusia ke dalam dunia, Kristus menjadi pusat misi gereja. Tujuan Misi ialah “menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada Nama-Nya” (Roma 1:5).” (hal. 355).



Sebagai Muslim kita patut mengagumi semangat para misionaris Kristen tersebut. Tetapi, kaum misionaris Kristen juga perlu memahami, bahwa dalam pandangan agama Islam, kemurtadan adalah dosa besar. Meninggalkan keyakinan Islam (murtad) sama artinya dengan menghancurkan seluruh fondasi amal perbuatan.



Karena itu, murtad adalah sebuah kejahatan serius dalam pandangan Islam.



Para santri di pondok-pondok pesantren biasanya sangat akrab dengan Kitab Sullamut Tawfiq karya Syaikh Abdullah bin Husain bin Thahir bin Muhammad bin Hasyim. Kitab ini termasuk yang mendapatkan perhatian serius dari ulama besar asal Banten, Syeikh Nawawi al-Bantani, sehingga beliau memberikan syarah atas kitab yang biasanya dipasangkan dengan Kitab Safinatun Najah.  Dalam kitab inilah, sebenarnya umat Islam diingatkan agar menjaga Islamnya dari hal-hal yang membatalkannya, yakni murtad (riddah). Dijelaskan juga dalam kitab ini, bahwa ada tiga jenis riddah, yaitu murtad dengan I’tiqad, murtad dengan lisan, dan murtad dengan perbuatan.



Masalah kemurtadan ini perlu mendapatkan perhatian serius dari setiap Muslim, sebab ini sudah menyangkut aspek yang sangat mendasar dalam pandangan Islam, yaitu masalah iman. Dalam pandangan Islam, murtad (batalnya keimanan) seseorang, bukanlah hal yang kecil. Jika iman batal, maka hilanglah pondasi keislamannya. Ia menjadi kafir, yang di dalam al-Quran diberikan predikat ”seburuk-buruknya makhluk” (QS al-Bayyinah).  Banyak ayat al-Quran yang menyebutkan bahaya dan resiko pemurtadan bagi seorang Muslim.



”Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah:217). “Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu Dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (an-Nur:39).



Karena itulah, jika kita telaah, selama ratusan tahun – meskipun sudah disokong kekuatan kolonial --  misi Kristen di Indonesia membentur tembok yang sangat kokoh. Dalam al-Quran disebutkan, bahwa Allah murka, karena dituduh punya anak. “Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak.” (QS Maryam:88-91).



Mohammad Natsir, tokoh Islam Indonesia dan salah satu Pahlawan Nasional, pernah menyampaikan pesan tegas kepada kaum Kristen:



“Hanya satu saja permintaan kami: Isyhadu bi-anna muslimun. Saksikanlah dan akuilah kami ini adalah Muslimin. Yakni orang-orang yang sudah memeluk agama Islam. Orang-orang yang sudah mempunyai identitas-identitas Islam. Jangan identitas kami saudara-saudara ganggu, jangan kita ganggu mengganggu dalam soal agama ini. Agar agama jangan jadi pokok sengketa yang sesungguhnya tidak semestinya begitu…. Kami umat Islam tidak apriori menganggap musuh terhadap orang yang bukan Islam. Tetapi tegas pula Allah SWT melarang kami bersahabat dengan orang-orang yang mengganggu agama kami, agama Islam. Malah kami akan dianggap dhalim bila berbuat demikian… sebab kalaulah ada sesuatu harta yang kami cintai lebih dari segala-galanya itu ialah agama dan keimanan kami. Itulah yang hendak kami wariskan kepada anak cucu dan keturunan kami. Jangan tuan-tuan coba pula untuk memotong tali warisan ini.” (Dikutip dari Pengantar Prof. Umar Hubeis untuk buku Dialog Islam dan Kristen karya Bey Arifin, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1983). Semoga kita bisa mengambil hikmah… Amin. (Depok, 23 Desember 2011).



Penulis adalah dosen Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor


(read more ...)





Beberapa bulan lalu ada peristiwa penting yang tidak boleh dilewatkan para pelaku dan peminat Pendidikan Islam.  Setelah  menggelar  Seminar Internasional pada 18-19 Mei 2011, lalu Seminar Nasional  pada 29 Juni 2011, tentang Tema yang sama, maka pada Hari Rabu, 20 Juli 2011, Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor  menyelenggarakan Lokakarya “Islamisasi Ilmu dan Kampus” untuk para pejabat Struktural kampus UIKA Bogor.


Lokakarya diikuti oleh seluruh pejabat struktural,  mulai Rektor , wakil Rektor, sampai semua dekan dan para wakil dekan di UIKA. Lokakarya dibuka oleh Rektor UIKA, Prof. Dr. Ramly Hutabarat.  Bertindak sebagai Keynote speaker adalah Prof Dr Ir AM Saefuddin, dengan pemateri Dr. Adian Husaini dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.


Bagi UIKA, wacana Islamisasi Ilmu dan Kampus bukanlah hal yang baru.  Gerakan itu sudah diserukan oleh Prof AM Saefuddin saat dia menjadi rektor UIKA tahun 1983.    Dalam paparannya, AM Saefuddin menekankan perlunya konsep Islamisasi Ilmu dan Kampus diaplikasi kan dengan sungguh-sungguh dalam kehidupan kampus. Bukan hanya dalam kurikulum, tetapi juga dalam perilaku sivitas akademika dalam kehidupan kampus.


Dalam Lokakarya tersebut,  saya menyampaikan paparan tentang  perlunya UIKA mengambil peluang melaksanakan Islamisasi Ilmu, sebab tuntutan umat Islam sangat besar, akan terwujudnya satu kampus Islam yang benar-benar Islami dan bermutu.  Banyak orang tua kini bertanya, setelah anaknya tamat di satu SMA atau Madrasah Aliyah yang baik, ke mana anaknya harus melanjutkan kuliah. Mereka ingin agar anaknya benar-benar menjadi sarjana yang baik, yakni memiliki pemahaman Islam yang benar, bebas dari pengaruh liberal, dan memiliki keahlian tertentu yang diperlukan untuk mengarungi kehidupan di dunia.


Ada contoh kasus. Seorang anak lulusan satu Pesantren unggulan yang bermutu tinggi, hafal al-Quran 30 juz dan juga menguasai ilmu-ilmu Ilmu Pengetahuan Alam dengan baik. Setelah diterima di satu perguruan tinggi terkenal di Yogyakarta, si anak kesulitan megembangkan ilmu-ilmu keislaman yang sudah dikuasainya saat belajar di pesantrennya.


Islamisasi Ilmu bukan sesuatu yang utopis, sebagaimana dibayangkan oleh sebagian kalangan, sehingga ada yang ketakutan dengan istilah “Islamisasi”.  Ketika suatu institusi Pendidikan melabeli dirinya dengan kata “Islam”,  atau menyatakan dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam, maka  saat itulah ia berkewajiban meloakukan proses Islamisasi yang terus-menerus, sehingga lembaganya menjadi semakin Islami.


Apanya yang harus Islami?


Tentu saja, yang harus Islami adalah pemikiran dan perilaku pimpinan dan dosen-dosennya terlebih dahulu. Sebab, mereka adalah guru, yang – dalam bahasa Jawa – artinya wajib “digugu” dan “ditiru”. Dosen harus menjadi teladan bagi mahasiswa, dalam hal keilmuan, ibadah,  dan akhlak. Jika hal itu belum tercapai, maka perlu dilakukan proses Islamisasi!


Selain itu, tentu saja, Islamisasi harus mencakup kurikulum pendidikannya. Jika masih ada diantara kurikulum yang diajarkan mengandung muatan-muatan pemikiran secular atau liberal – misalnya – maka hal itu wajib diluruskan dan di-Islamkan. Jika tidak bisa dilakukan proses Islamisasi, maka kurikulum sekular itu harus dibuang, atau minimal dibahas untuk dikritisi dengan perspektif Islam.


Misalnya, kurikulum tentang sains kealaman (natural sciences), seharusnya dikaitkan dengan konsep tauhid dan sejarah sains Islam.  Sebab, objek studi kajian ilmu ini adalah “ayat-ayat Allah”.  Jika metode belajar sains itu Islami, maka pengajaran sains harusnya mengarahkan mahasiswa untuk semakin mengenal sang-Pencipta (ma’rifatullah) dan mendorong mereka semakin taat kepada Allah.  Jika pelajaran sains semakin menjauhkan mahasiswa dari Allah,  – misalnya hanya diarahkan untuk eksploitasi alam semata-mata --  itu sama saja menjerumuskan manusia ke derajat binatang, bahkan lebih rendah lagi. (QS 7:179).


Disamping itu, pelajaran sains perlu dikaitkan dengan sejarah sains itu sendiri, yang selama ini tidak memperkenalkan prestasi para ilmuwan Muslim.  Sejarah sains itu perlu disampaikan dengan jujur, sehingga diharapkan dapat menanamkan sikap “izzah”   (pride) pada diri mahasiswa Muslim. Mereka perlu paham, bahwa Islam adalah sebuah peradaban yang pernah memimpin dunia dalam bidang sains, beratus tahun sebelum dunia Barat kemudian mengambil alih prestasi kaum Muslim tersebut. Islam bukan hanya mimpi dan utopia, tetapi sebuah konsep yang dapat diterapkan dalam kehidupan: pribadi, keluarga, masyarakat, dan kenegaraan.


Itu memang masa lalu.  Ini bukan soal romantisisme. Tetapi, masa lalu memang teramat penting untuk memberikan perspektif tentang masa depan.  Semua bangsa menengok masa lalu untuk merumuskan masa depannya. Inilah yang disebut sejarah. Bangsa Barat mengenalkan masyarakat mereka dengan masa lalu, agar mereka bangga dengan peradaban mereka di masa Yunani dan Romawi.  Bangsa China, hingga kini, terus menggalakkan masyarakatnya agar tidak melupakan nilai-nilai masa lampau mereka. Begitu juga bangsa India, Jepang, dan sebagainya.


Kita, kaum Muslim di Indonesia, juga diarahkan untuk membangga-banggakan masa lalu kita. Hanya saja, sebagai Muslim, kita dipaksa untuk membanggakan zaman Majapahit di masa Gajah Mada. Mitos kebesaran Majapahit di zaman Gajah Mada itulah yang harus kita banggakan.  Lalu, dimana letaknya kejayaan Islam di Indonesia?  Kita – secara halus – diajari bahwa tidak ada yang bisa dibanggakan dari Islam! Islam tidak menghasilkan Borobudur dan Prambanan yang menjadi kebanggaan dunia. Maka, dampaknya, bangsa kita dilarang menonjolkan Islam di mana-mana.


Begitu keluar dari pintu bandara internasional Soekarno-Hatta kita tidak disambut oleh tulisan ayat-ayat al-Quran  atau foto-foto Masjid dan Pesantren. Tapi, kita disambut oleh berbagai jenis patung!  Itulah Indonesia!?  Memang, 87% penduduk Indonesia Muslim, tetapi diajarkan bahwa Islam tidak pernah membawa kemajuan bagi bangsa ini.  Bahkan, Islamlah yang menghancurkan kebesaran Majapahit!  Itulah yang diajarkan kepada kita, kepada anak-anak kita sekarang di sekolah-sekolah, bahkan di madrasah dan pondok pesantren!


Ironis sekali!  Sebuah bangsa Muslim terbesar berhasil dibelokkan dari sejarahnya sendiri, sehingga bangsa Muslim ini tidak merasa sebagai bagian dari umat Islam, dan merasa tidak perlu untuk melanjutkan proses Islamisasi  di Kepulauan Nusantara. Akibatnya,  kaum Muslim dijauhkan dari rasa memiliki bangsa ini. Lihatlah, hingga kini, mungkin jarang sekali ada masjid atau Majlis Ta’lim yang secara sengaja merayakan Peringatan Kemerdekaan RI setiap tanggal 17 Agustus. Sebab, sudah dijejalkan di kepala kita, sejak sekolah di SD,  yang namanya memperingati kemerdekaan itu hanya dilakukan dengan Upacara Bendera. Padahal, kemerdekaan RI adalah buah dari perjuangan fi sabilillah yang dilakukan para pejuang kemerdekaan.


Sebenarnya, banyak sejarawan yang sudah mencoba meluruskan pengajaran sejarah di sekolah-sekolah.  Sebab, faktanya tidaklah seperti itu. Di kawasan Nusantara ini, Islam telah menorehkan goresan tinta emas dalam upaya kebangkitan intelektual.  Sebagai contoh, apa yang pernah ditulis oleh seorang wartawan senior Rosihan Anwar.


Nama Rosihan Anwar (1922-2011), tidaklah terlalu identik dengan sosok seorang tokoh Islam, seperti Moh. Natsir, Prof. Hamka, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, dan sebagainya. Rosihan Anwar lebih dikenal sebagai wartawan senior yang hidup di beberapa  zaman: kolonial Belanda, pendudukan Jepang, Kemerdekaan Indonesia, dan pasca Kemerdekaan. Ia pun sempat menyaksikan naik turunnya rezim-rezim penguasa di Indonesia, dari Soekarno sampai Soesilo Bambang Yudhoyono.


Meskipun begitu,  membaca sebuah bukunya yang berjudul Jatuh Bangun Pergerakan Islam di Indonesia (1971), tidak dapat dipungkiri, ada sejumlah gagasan “Islamisasi” pemahaman sejarah Indonesia, yang menarik untuk disimak. Kamis (4/8/2011), saya diminta menjadi salah satu pembahas buku yang kembali diterbitkan oleh Fadli Zon Library. Pembahas lain, Prof. Dr. Taufik Abdullah, sejarawan senior LIPI.


Buku ini sejatinya merupakan kumpulan surat/nasehat Rosihan Anwar kepada putrinya, Aida Fathya. Simaklah sebagian kutipan nasehat Rosihan kepada putrinya tersebut:


“J.M. Pluvier menamakan Islam sebagai suatu pra-nasionalisme di Nusantara. W.F. Wertheim pun melihat peran Islam sebagai gerakan pra-nasionalisme. Bahkan Rupert Emerson dan Fred von der Mahden melihat adanya interrelasi antara hubungan agama dengan nasionalisme di Burma dan Indonesia. Gerakan kebangsaan di Burma dipelopori oleh Young Men’s Buddhist Association, begitu juga gerakan nasionalisme Indonesia yang dipelopori oleh orang-orang Islam. Budi Utomo memang merupakan sebuah gerakan nasionalis, sama seperti Nationale Indische Partij yang dipimin Douwes Dekker alias Dr. Setia Budi, tetapi gerakan-gerakan itu kecil. Dan, SI-lah gerakan kebangsaan-keagamaan yang pertama dengan anggota-anggotanya yang mencapai 2 juta orang ada saat itu, dan mempunyai organisasi massa yang berakar di kaum petani atau apa yang dinamakan George Kahin “the first peasant-based mass organisastion. Inilah yang harus kau ingat selalu, Aida Fathya, bahwa pelopor gerakan nasionalisme yang menentang kolonialisme dan imperialisme Belanda ialah Islam.”


Meskipun buku ini tidak terlalu mendalam dan terperinci membahas tentang sejarah perkembangan Islam di Indonesia, tetapi buku ini mengungkap percikan-percikan fakta sejarah pergerakan nasional Indonesia yang dipelopori oleh para tokoh dan organisasi Islam. Rosihan membawakan pesan penting bagi bangsa Indonesia, bahwa Islam adalah pelopor kebangkitan nasional dan pelopor dalam pembebasan Indonesia dari belenggu penjajahan.


Itu pesan penting dari Rosihan Anwar. Dan pesan itu memiliki nilai yang sangat berarti, sebab – tidak dapat disangkal – para sejarawan dan tokoh-tokoh Islam Indonesia telah banyak mengungkapkan kejanggalan penulisan dan pengajaran sejarah di Indonesia, khususnya yang terkait dengan Islam. Di sana-sini, secara sistematis, ditemukan upaya untuk mengecilkan peran Islam dalam sejarah kebangkitan dan kemerdekaan Indonesia.


Pada catatan yang lalu, kita pernah mengutip tulisan Buya Hamka  dalam Tafsir al-Azhar: “Diajarkan secara halus apa yang dinamai Nasionalisme, dan hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa Indonesia hendaklah lebih mencintai Gajah Mada daripada Raden Patah. (Lihat, Hamka, Tafsir al-Azhar -- Juzu’ VI, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), hal. 300.)


Cobalah tanyakan kepada anak-anak kita sekarang, apakah mereka mengenal Raden Patah, Raja Muslim Pertama di Tanah Jawa? Raden Patah adalah putra Raja Majapahit, yang sekaligus santri dari Sunan Ampel.  Tanyakan kepada para siswa di sekolah-sekolah Islam, apakah mereka mengenal dan mengagumi Sultan Agung yang mengirimkan para tentaranya dari Yogyakarta ke Jakarta untuk mengusir penjajah Portugis?


Tapi, kita dan anak-anak kita terus dicekoki sebuah cerita bahwa Nusantara pernah disatukan oleh Gajah Mada. Bahwa Kerajaan Hindu itulah yang berhasil menyatukan Nusantara. Lalu, setelah itu, datanglah Kerajaan Islam dengan Raja-nya Raden Patah dan didukung para Wali Songo, untuk meruntuhkan Kerajaan Majapahit.  Opini yang ingin disampaikan kepada anak-anak kita tampaknya:  “Islam datang untuk menghancurkan kejayaan Indonesia yang sudah berhasil dibangun oleh Majapahit!” Sebab, setelah itu -- sebagaimana digambarkan dalam buku pelajaran Sejarah --  muncul Kerajaan-kerajaan Islam yang tidak pernah berhasil menjelma menjadi Kerajaan Nasional, sebagaimana Sriwijaya dan Majapahit. Jadi, Islam digambarkan sebagai faktor yang tidak kondusif sebagai ”pemersatu Indonesia”. Dengan kata lain, Indonesia hanya bisa disatukan bukan dengan Islam, tetapi dengan ideologi lain, apakah ateisme, animisme, atau sekularisme.


Padahal, coba tanyakan kepada mereka, kapan Majapahit benar-benar berhasil menyatukan Nusantara; wilayahnya sampai dimana; dengan cara apa Majapahit menyatukan Nusantara.  Katanya, Gajah Mada pernah bersumpah, namanya Sumpah Palapa! Apakah sumpah seseorang bisa dijadikan bukti bahwa dia berhasil mewujudkan sumpahnya? Prof. C.C. Berg, termasuk sejarawan yang mengkritik upaya pengkultusan dan pemitosan kebesaran Majapahit. Ia menulis sebuah artikel di Jurnal Indonesië, Maret 1952, No. 5, berjudul ”De Sadeng-oorlog en de mythe van Groot-Majapahit” (Perang Sadeng dan Mitos Kebesaran Majapahit).


Mitos kebesaran dan keruntuhan Majapahit banyak dikisahkan dalam Kitab anonim Darmagandul yang isinya meratapi keruntuhan Majaphit dan mencerca para penyebar Islam di Tanah Jawa (Wali Songo).   Serat ini begitu menggebu-gebu menyerang Islam dan mengharapkan orang Jawa berganti agama, dengan meninggalkan Islam. Ditulis, misalnya: "Wong Djawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam bendjing, aganti agama kaweruh, ....(Artinya: Orang Jawa ganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti (menganut) agama kaweruh ...).  Juga ditulis: "Kitab Arab djaman wektu niki, sampun mboten kanggo, resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis, kitabe Djeng Nabi, Isa Rahullahu." (Artinya: Kitab Arab jaman waktu ini, sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan untuk memutusi perkara adalah kitab Kanjeng Nabi Isa Rahullah). (Lihat, Anonim. Darmagandul. Cetakan IV. (Kediri: Penerbit Tan Khoen Swie, 1955).


Fakta pengajaran sains dan sejarah di sekolah-sekolah semacam itu, seharusnya menjadi perhatian serius dari Perguruan Tinggi Islam (PTI). Sebab, tugas utama PTI memang melahirkan sarjana-sarjana yang memahami ilmu agama dan kondisi kontemporer sekaligus. Itulah yang disebut program Islamisasi. Karena itu, lokakarya “Islamisasi Ilmu” yang dilakukan untuk para pejabat struktural Kampus UIKA Bogor dapat dijadikan salah satu contoh yang baik.


Lokakarya di UIKA itu sangat istimewa. Sebab,  “peniup peluit” pertama  Islamisasi Ilmu di UIKA, yaitu Prof Dr Ir AM Saefuddin dengan setia menunggui acara itu, dari pagi hari sampai berakhirnya acara di sore harinya. Pak AM – begitu dia biasa dipanggil – berharap agar UIKA Bogor bisa menjadi salah satu kampus tempat bersemainya gagasan Islamisasi Ilmu yang sudah dia gulirkan 28 tahun sebelumnya.  Amin.*/Depok, 23 Ramadhan 1432 H/23 Agustus 2011.

(read more ...)



Setelah masuk Islam, Laura Rodriguez--seorang perempuan Spanyol--memilih aktif dalam berbagai kegiatan advokasi bagi komunitas Muslim Spanyol. Sekarang ia menjadi ketua Union of Muslim Womens Rights Organization, yang bergerak dalam pembelaan hak-hak perempuan Muslim, terutama kaum imigran.

Mengapa ia tertarik untuk aktif dalam organisasi yang membela hak kaum perempuan, terutama para muslimah? Karena soal hak-hak perempuan inilah yang mendorong Laura untuk memeluk agama Islam.


Ia lahir dari keluarga Katolik dan mendapat pendidikan dari sekolah Katolik. Menurut Laura, agama Katolik yang dulu dianutnya, sangat membatasi hak-hak perempuan.


"Dalam ajaran Islam, kaum perempuan diberi banyak hak dibandingkan dalam ajaran Katolik. Agama Kristen membatasi hak-hak kaum perempuan, sedangkan agama Islam memberdayakan kaum perempuan," kata Laura pada surat kabar Turki, Hurriyet.


"Islam memberikan saya hak-hak sebagai perempuan, yang tidak diberikan dalam agama Katolik, seperti kebebasan sebagai individu, hak mendapat pendidikan, perlindungan hukum, hak dalam pekerjaan ..."


"Dalam agama Katolik, perempuan tidak boleh berkomunikasi langsung dengan Tuhannya. Misi perempuan dalam agama Katolik, cuma untuk melahirkan anak saja. Agama Katolik juga tidak memberikan hak bagi perempuan untuk menggugat cerai," papar Laura.


Sekedar informasi, sampai saat ini, perempuan Spanyol yang ingin membuka rekening bank, harus sepengetahuan suaminya. Hal tersebut diungkapkan Yusuf Fernandez Ordonez, sekretaris Federasi Muslim Spanyol, organisasi afiliasi Union of Muslim Women yang dipimpin Laura.


Situasi berubah ketika negara-negara yang mayoritas penduduknya Kristiani, menerapkan sistem sekuler dan gereja-gereja mulai kehilangan pengaruhnya di masyarakat. Kaum perempuan Kristen mulai leluasa untuk mendapatkan hak-haknya, sehingga mereka bisa mengenyam pendidikan yang layak seperti halnya kaum lelaki.


Sementara, Laura berpendapat, meski Islam memberikan banyak hak bagi kaum perempuan, masih banyak hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan kondisi kaum perempuan Muslim sekarang ini. Khusus di Spanyol, utamanya adalah para imigran. Menurut Laura yang sudah 17 tahun berkecimpung menangangi isu-isu imigran, kaum perempuan imigran menghadapi persoalan yang lebih pelik dibandingkan kaum lelaki imigran, apalagi jika menyangkut posisi para muslimah.


"Pemerintah Spanyol tidak membuat banyak kemajuan terkait peningkatan hak kaum perempuan Muslim. Undang-undang tentang kesetaraan lelaki dan perempuan yang berlaku di negara ini, tidak memasukkan isu-isu yang berhubungan dengan agama. Saat ini, tidak ada perwakilan dari kaum perempuan dalam Dewan Islam yang selama ini menjadi jembatan dialog antara komunitas Muslim dengan pemerintah," ujar Laura.


Selain itu, kata Laura, masjid-masjid di Spanyol masih banyak yang membatasi kaum perempuan untuk datang ke masjid. "Dan pemerintah mengabaikan persoalan ini," tukasnya.


Lebih lanjut Laura mengatakan, persoalan lainnya yang dihadapi komunitas Muslim di Spanyol adalah pemberitaan media massa yang cenderung negatif jika bicara soal Islam. Media massa menggambarkan citra yang buruk terhadap kaum lelaki dan perempuan muslim, seolah-olah kaum lelaki dalam Islam adalah pihak yang suka mendominasi serta gemar melakukan kekerasan terhadap perempuan. Sementara perempuan muslim digambarkan sebagai pihak yang "penurut" dan selalu dikorbankan.


"Kami menyelenggarakan acara-acara tentang komunitas Muslim di Spanyol, tapi perhatian media massa sangat minim. Mungkin beda, jika kami mengatakan akan menimpuki seorang perempuan di pusat kota Madrid, semua media massa pasti akan berkumpul," tukas Laura.


Persoalan lainnya di Spanyol, tambah Laura, Islam selalu diidentikan dengan ekstrimisme dan terorisme, dan selalu dipersoalkan lewat isu-isu imigrasi. "Padahal seharusnya, Islam harus dilihat sebagai bagian dari identitas Eropa yang tak terbantahkan," ujarnya.


"Ini persoalan identitas. Kami lahir sebagai orang Eropa, tapi kami muslim. Islam juga bagian dari identitas orang Eropa," tegas Laura.


Para imigran muslim di Spanyol pada dasarnya mudah berbaur dengan masyarakat negeri itu, dan komunitas muslim tetap menghargai serta mendukung pemerintahan monarki di Negeri Tango itu.


Menurut Laura, prasangka buruk menjadi dimensi sosial yang dihadapi komunitas Muslim di Spanyol. "Jika saya ingin masuk ke sebuah partai politik, mereka akan menolak saya karena saya mengenakan jilbab," tukas Laura. (ln/IE/Hurriyet)


(read more ...)



anin Mazaya

Selasa, 22 Maret 2011 06:29:11


Hits: 1111




Ternyata sejarah menyimpan bukti-bukti bahwa madzhab Syi’ah –yang ada hari ini– bukanlah madzhab yang dianut oleh Nabi  dan Ahlul Bait. Apa saja bukti-bukti itu? Silahkan baca selengkapnya...



Ulama Syi’ah selalu membuat klaim bahwa madzhab mereka adalah warisan dari keluarga Nabi. Kita banyak mendengar klaim seperti ini di mana-mana, khususnya ditujukan bagi muslim yang awam. Awam di sini bukan sekedar awam dalam artian tidak berpendidikan atau tidak terpelajar, tetapi awam dalam pemahaman Islam, termasuk kalangan awam yang saya maksud adalah kalangan intelektual yang berpendidikan tinggi hingga menyelesaikan jenjang pasca sarjana, barangkali juga diberi gelar profesor. Tetapi dalam masalah pemahaman agama sangat awam, bahkan banyak dari pemilik gelar –satu gelar ataupun lebih– yang belum dapat membaca Al-Qur’an dengan benar.


Banyak orang awam terpesona oleh cerita-cerita yang enak didengar tentang madzhab Ahlul Bait, begitu juga cerita tentang penderitaan Ahlul Bait dan cerita-cerita lainnya. Mereka terpengaruh oleh cerita-cerita Syi’ah tanpa bisa melacak asal usul cerita-cerita itu, tanpa bisa memilah apakah cerita itu benar adanya atau hanya sekedar dongeng tanpa ada faktanya. Di satu sisi kita kasihan melihat orang-orang awam yang tertipu, tetapi di sisi lain kita bisa memaklumi bahwa orang awam tidak dapat melacak asal usul periwayatan sebuah cerita. Karena untuk melacak kebenaran sebuah cerita bukan hal yang mudah bagi orang awam, begitu juga memanipulasi cerita tidak mudah dilakukan oleh orang awam.


Tetapi jika kita melihat lagi sejarah dengan teliti, kita akan menemukan peristiwa-peristiwa yang bertentangan dengan banyak klaim yang dibuat oleh Syi’ah. Hingga akhirnya kita bertanya-tanya tentang kebenaran klaim Syi’ah. Dan yang lebih mengherankan lagi, Syi’ah tetap saja tidak bergeming dan tetap bersikeras memegang teguh klaimnya yang telah dibantah oleh sejarah. Yang disebut klaim bisa jadi hanya kesimpulan dari beberapa fakta yang bisa saja keliru, namun mestinya jika klaim itu bertabrakan dengan satu bukti nyata dan sejarah yang benar-benar terjadi, mestinya mereka yang mencari kebenaran akan meninjau kembali pemikiran sebelumnya yang keliru.


Tetapi berbeda bagi ulama Syi’ah, karena ada beberapa ulama Syi’ah berusaha menutupi peristiwa-peristiwa yang bertentangan dengan madzhab Syi’ah, atau seperti kata Abbas Al-Qummi: “Dapat melemahkan akidah orang banyak, yang bisa kita temukan dalam kitab Ma’rifatul Imam, karya Sayyid Muhammad Husein Al Huseini:


“Temanku –Ayatullah Sayyid Shadruddin Al-Jaza’iri– menceritakan; Pada suatu hari dia berada di rumah Ayatullah Sayyid Muhsin Al-Amin Al-Amili di Syam, kebetulan Tsiqatul Muhadditsin Abbas Al-Qummi juga ada di sana. Lalu terjadilah dialog antara Abbas Al-Qummi dan Muhsin Al-Amin. Abbas Al-Qummi bertanya kepada Muhsin Al-Amin: “Mengapa anda menyebutkan baiat imam Ali Zainal Abidin kepada Yazid bin Muawiyah, –semoga dia dan ayahnya dikutuk dan masuk neraka– dalam kitab A’yanu As-Syi’ah?” Muhsin Al-Amin menjawab: “Kitab A’yanu As-Syi’ah adalah kitab sejarah, karena telah terbukti dalam sejarah bahwa ketika Muslim bin Uqbah menyerang kota Madinah, membunuh dan merampok serta memperbolehkan kehormatan selama tiga hari atas perintah Yazid, melakukan kejahatan yang tidak mampu ditulis oleh pena, imam As-Sajjad telah berbaiat pada Yazid karena kepentingan mendesak, dan karena taqiyah untuk menjaga diri dan bani Hasyim. Baiat ini adalah seperti baiat Ali pada Abu Bakar setelah enam bulan dari wafatnya Nabi, setelah syahidnya Fatimah.”


Abbas Al-Qummi mengatakan: “Tidak boleh menyebutkan kejadian ini meskipun benar terjadi, karena dapat melemahkan akidah orang banyak, dan kita harus selalu menyebutkan kejadian yang tidak betentangan dengan akidah orang banyak.”


Muhsin Al-Amin menjawab: “Saya tidak tahu, mana kejadian sejarah yang ada manfaat di dalamnya dan mana yang tidak ada manfaatnya, hendaknya anda mengingatkan saya pada kejadian yang tidak ada manfaatnya, saya tidak akan menuliskannya.”


 


Selain berusaha “menghapus” peristiwa itu dari buku-buku Syi’ah, ulama Syi’ah juga menebarkan keraguan seputar peristiwa-peristiwa yang tidak sejalan dengan kepentingan Syi’ah dan “melemahkan akidah orang”, seperti Ali Al-Milani yang mencoba meragukan peristiwa Abu Bakar diperintahkan oleh Nabi untuk menjadi imam shalat. Dia mencoba menguji peristiwa itu melalui metode penelitian hadits ala Syi’ah. Namun itu tidak banyak berguna karena peristiwa itu tercantum dalam kitab Shahih Bukhari, yang dianggap shahih oleh kaum muslimin. Jika peristiwa itu diragukan, maka sudah semestinya peristiwa lainnya yang tercantum dalam Shahih Bukhari juga ikut diragukan, seperti peristiwa Saqifah, dan peristiwa Nabi yang menyerahkan bendera perang kepada Ali pada perang Khaibar. Juga hadits tentang kedudukan Nabi Muhammad dan Ali yang dinyatakan bagai Nabi Musa dan Nabi Harun.


Akhirnya orang awam banyak yang tidak mengetahui –atau meragukan– peristiwa-peristiwa penting yang bertentangan dengan kepentingan penyebaran Syi’ah, hingga akhirnya peristiwa-peristiwa itu tidak dijadikan data dalam proses menarik kesimpulan. Dan akhirnya kesimpulan itu bisa jadi benar secara urutan logika, tetapi karena ada data yang tidak diikutkan –atau premis yang tidak valid– maka kesimpulannya menjadi keliru.


Sejarah keluarga Nabi


Pada makalah singkat ini kami akan membuktikan kepada pembaca, seputar sejarah keluarga Nabi  yang disepakati oleh para sejarawan baik Sunni maupun Syi’ah, yang akan membuktikan bahwa para Ahlul Bait tidak pernah menganut ajaran yang dianut dan diyakini oleh kaum Syi’ah hari ini.


Seluruh sejarawan baik dari pihak Syi’ah maupun Sunni mengakui bahwa Ahlul Bait Nabi tinggal bermukim di kota Madinah, di tengah-tengah penganut madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagian Khalifah yang berkuasa menginginkan mereka agar pindah ke kota lain, tetapi mereka tetap ingin tinggal di kota Madinah.


Meskipun Musa Al-Kazhim akhirnya pindah ke Iraq atas permintaan Khalifah Harun Ar-Rasyid, tinggal sebagai tamu dinasti Abbasiyah hingga meninggal dunia di Baghdad pada tahun 183 hijriyah, dan dikubur di Baghdad, hari ini daerah di sekitar kuburnya disebut dengan Kazhimiyah, karena kuburannya ada di sana.


Begitu pula Ali Ar-Ridha dipanggil oleh Al-Ma’mun untuk dijadikan putra mahkota yang akan menggantikan jabatannya sebagai khalifah, akhirnya Ali pergi ke Khurasan dan meninggal dunia pada tahun 203 Hijriyah, dan dimakamkan di kota Masyhad.


Bagitu juga Ali Al-Hadi meninggalkan kota Madinah, tetapi tidak menuju kufah dan malah tinggal di Samarra’, karena memenuhi panggilan Khalifah Al-Mutawakkil, dan meninggal dunia pada tahun 254 hijriyah, meninggalkan dua orang anak yang bernama Hasan dan Ja’far. Hasan menjadi imam kesebelas bagi Syi’ah sementara Ja’far dijuluki oleh Syi’ah dengan julukan Ja’far Al-Kadzab (si pendusta) karena dia menyangkal keberadaan anak Hasan Al-Askari yang diyakini keberadaannya oleh Syi’ah, yang mana dengan itu dia membongkar kepalsuan ajaran Syi’ah. Dengan ini bisa dipahami bahwa keberadaan para imam Ahlul Bait di luar kota Madinah adalah dalam waktu yang sangat singkat, dan semua itu di luar keinginan mereka sendiri, karena memenuhi panggilan khalifah yang berkuasa saat itu.


Di sini muncul beberapa pertanyaan yang logis alias masuk akal tentang madzhab yang dianut oleh keluarga Nabi nan suci. Bukan hanya pertanyaan, tapi bukti-bukti nyata bagi mereka yang mempergunakan akal sehatnya untuk berpikir, yang tidak dapat dibantah oleh Syi’ah baik di masa lalu atau saat ini (jika ada pembaca yang dapat membantah saya persilahkan, tapi saya tidak menjanjikan imbalan):


Di antara bukti-bukti yang menunjukkan adanya pemalsuan sejarah bahwa para imam adalah bermadzhab Syi’ah:


Ali berada di bawah ketaatan para khulafa Rasyidin yang menjabat khalifah sebelumnya, jika memang madzhab Ali berbeda dengan para khalifah sebelumnya –seperti yang diklaim oleh Syi’ah– sudah pasti Ali akan keluar dari Madinah yang penduduknya tidak mau berbaiat kepadanya, dan pergi ke negeri Islam lainnya, apalagi negeri yang belum lama masuk dalam Islam seperti Iraq dan Persia, yang mana penduduk negeri itu baru masuk Islam dan haus akan kebenaran, jika memang Ali benar-benar dihalangi untuk menduduki jabatan yang menjadi haknya pasti mereka akan menolongnya, tetapi yang terjadi adalah Ali tidak keluar dari Madinah, baru keluar dari Madinah setelah dibaiat menjadi khalifah.


Begitu juga peristiwa perdamaian antara Hasan dan Muawiyah, sudah semestinya Hasan tidak menyerahkan jabatan imamah kepada Muawiyah, jika memang imamah adalah jabatan yang sama seperti kenabian –seperti yang diyakini Syi’ah, lihat dalam kitab Ashlu Syi’ah wa Ushuluha juga kitab Aqaidul Imamiyah–, sudah semestinya Hasan berjuang sampai tetes darah terakhir, apalagi ribuan tentara siap untuk mendukungnya dalam menumpas Muawiyah. Bukannya menumpas Muawiyah, Hasan malah menyerahkan jabatan yang menjadi amanat ilahi –sebagaimana kenabian– kepada musuh yang telah memerangi ayahnya.


Para imam setelah imam Ali tidak pernah memberontak kepada khalifah yang adil, kecuali imam Husein yang syahid di Karbala, meskipun demikian beliau memberontak karena kezhaliman Yazid, bukan karena Husein yang menginginkan untuk menjadi imam, meskipun dia adalah orang yang paling berhak menjadi khalifah saat itu.


Maka kita simak saat Zaid bin Ali berdialog dengan Muhammad Al-Baqir mengenai apakah untuk menjadi seorang imam disyaratkan untuk memberontak, sedangkan Zaid meyakini hal itu, yaitu untuk menjadi imam seseorang harus memberontak pada khalifah. Muhammad Al-Baqir membantah hal itu dengan menyatakan jika syarat yang ditetapkan oleh Zaid benar maka ayah mereka berdua “Ali bin Husain” bukanlah imam karena dia tidak memberontak kepada Yazid dan tidak mengajak orang lain untuk memberontak. Peristiwa baiat Ali bin Husein terhadap Yazid disebutkan oleh Muhsin Al-Amin dalam A’yanus Syi’ah.


Juga bagaimana para keluarga Nabi tetap tinggal di tengah-tengah Ahlus Sunnah jika memang mereka bermadzhab Syi’ah –seperti klaim Syi’ah selama ini–, mengapa mereka tidak tinggal di wilayah yang banyak terdapat orang yang mencintai mereka dari golongan Rafidhah dan Ghulat seperti di Kufah maupun Khurasan, apalagi saat mereka tinggal di Madinah mereka tidak luput dari pengawasan Bani Abbasiyah yang saat itu menguasai pemerintahan. Berbeda ketika mereka menyebar di negeri lain.


Semua Ahlul Bait yang memberontak kepada khalifah tidak ada yang bermadzhab Syi’ah Rafidhah, mereka memberontak karena alasan politik, bukan karena alasan madzhab, sedangkan Ahlul Bait yang berhasil mendirikan negara tidak ada dari mereka yang menerapkan madzhab Syi’ah, seperti:


Ahlul Bait yang bermadzhab Sunni, dan berhasil mendirikan negara adalah:


Idris bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib, pendiri dinasti Adarisah di Maghrib, bahkan Idris bin Hasan adalah penyebab utama dari menyebarnya madzhab maliki di Maroko, semua itu karena imam Malik tidak mengakui keabsahan baiat Abu Ja’far Al-Manshur yang telah berbaiat sebelumnya kepada Muhammad bin Abdullah bin Hasan yang dikenal dengan nama An-Nafsu Az-Zakiyyah, maka dia berpendapat bahwa Abu Ja’far masih terikat baiat dengan Muhammad bin Hasan, imam Malik disiksa karena pendapatnya itu, dan dia tidak menarik ucapannya.


Baiat kepada Muhammad dilakukan secara rahasia, di antara yang berbaiat adalah saudara-saudaranya, ayahnya, Abu Ja’far Al-Manshur, Abul Abbas dan Ja’far As-Shadiq yang dianggap oleh Syi’ah sebagai imam ke enam, juga banyak tokoh Ahlul Bait lainnya.


Asyraf Makkah yang merupakan keturunan Imam Husein, yang memerintah Makkah beberapa abad yang lalu.


Begitu juga Asyraf Madinah yang merupakan keturunan Hasan, yang memerintah kota Madinah.

Begitu juga Ahlul Bait yang bermadzhab Zaidi, walaupun mereka bermadzhab Zaidi tapi mereka tidak terpengaruh oleh ajaran Rafidhah, mereka hanya menganggap Ali lebih utama dibanding Abu Bakar dan Umar, mereka juga mensyaratkan bahwa yang lebih mulia dan utama harus menjabat khalifah, namun mereka juga mencintai seluruh sahabat Nabi, yang dalam sejarah dikenal dengan istilah Syi’ah sebagai sikap politik, bukan sebagai madzhab.


Ahlul Bait penganut madzhab Zaidi yang berhasil mendirikan negara dan tidak terpengaruh madzhab Rafidhah:


Muhammad bin Yusuf Al-Ukhaidhir, dia adalah Muhammad bin Yusuf bin Ibrahim bin Musa Al-Jaun bin Hasan Al-Mutsanna bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib, pendiri pemerintahan Ukhaidhiri di wilayah Yamamah, begitu juga anak keturunannya, Muhammad adalah orang yang datang dari Hijaz ke Yamamah dan mendirikan negara di sana pada tahun 252 H/866 M.


Begitu juga Husein bin Qasim Ar-Rassi, pendiri pemerintahan Alawiyah di Sha’dah dan Shan’a, Yaman, pada tahun 280 H. Ayahnya yang bernama Qasim Ar-Rassi adalah penulis kitab “Bantahan terhadap kaum Rafidhah”, yang telah dicetak.


An-Nashir lil Haqq Al-Hasan yang dijuluki Al-Athrusy karena pendengarannya kurang baik, pendiri negara Alawiyyin di Dailam, yang mengajarkan Islam kepada penduduk Jil dan Dailam yang kekuasaannya mencapai Thabaristan, berhasil membebaskan Amil dan masuk ke kota Jalus pada tahun 301 H, tetap memimpin pemerintahan hingga wafat tahun 304 H. dia meninggalkan warisan ilmiyah yang banyak, yang tidak memuat ajaran Rafidhah sedikitpun, di antaranya adalah kitab Al-Bisat, yang ditahqiq oleh Abdul Karim Jadban, diterbitkan pertama kali pada tahun 1997 oleh Dar Turats di Sha’dah.


Sedangkan banyak dari Ahlul Bait sendiri yang termasuk ulama Ahlus Sunnah, di antaranya adalah kebanyakan dari 11 imam, –karena imam yang ke-12 sebenarnya tidak pernah ada– seperti Hasan dan Husein, Ali Zainal Abidin, Muhammad Al-Baqir, Ja’far As-Shadiq, Musa Al-Kazhim dan Ahlul Bait lainnya. Begitu juga Imam Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin Sa’ib bin Abdullah bin Yazid bin Muthalib bin Abdi Manaf bin Qushay Al-Muththalibi As-Syafi’i, beliau adalah imam salah satu dari empat madzhab dalam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang memiliki hubungan erat dengan keluarga Nabi, karena dia adalah keturunan Muthalib bin Abdi Manaf, sama seperti Nabi  Muhammad yang juga keturunan Abdi Manaf, sedangkan keluarga Muththalib juga termasuk Ahlul Bait yang tidak boleh menerima sedekah, seperti pendapat jumhur ulama.


Al-Qur’an memuat kisah Nabi Isa yang menolak klaim kaum Nasrani terhadap dirinya, menyatakan bahwa Nabi Isa bukanlah Tuhan yang layak disembah. Kita perlu meneliti lebih dalam sebelum meyakini sesuatu.


Jika madzhab Syi’ah bukanlah madzhab Ahlul Bait seperti diklaim oleh Syiah, lalu madzhab siapa?


Sumber : syiahindonesia





Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/21/11495-bukti-nyata-kepalsuan-madzhab-syiah.html#ixzz1Hk0lBVKL

 

(read more ...)



Cina menginginkan muslim yang merupakan 85 persen dari 240 juta penduduk Indonesia menjadi sekuler. Sekulerisasi itu bertujuan agar tidak membuat muslim di Indonesia membahayakan kepentingan Cina yang sekarang sudah hampir menguasai Indonesia.

WikiLeaks merilis sebuah kawat rahasia Kedubes AS di Beijing yang berisi pertemuan Kemlu China dan AS. Dalam kawat disebutkan China berencana untuk membuat umat Muslim Indonesia menjadi sekuler.


WikiLeaks melansir dari situsnya, Rabu (15/12/2010), sebuah kawat rahasia dari Kedubes AS di Beijing tertanggal 5 Maret 2007 dengan kode referensi Beijing 1448. Di mana saat itu berlangsung pertemuan antara Wakil Menlu China Cui Tiankai dan Dirjen Urusan Asia Kemlu China Hu Zhengyue dengan fihak pejabat Kemlu AS Eric John.


Dalam pertemuan itu mereka membahas sejumlah negara Asean. Khususnya, Indonesia diantara negara yang mendapat perhatian yang utama. Eric John bertanya pada Hu, bagaimana pemerintah China melihat pemerintah Indonesia sekarang?


"Beijing tidak terkesan dengan presiden Indonesia pasca krisis ekonomi di akhir 1990-an. Tapi Beijing terkesan dengan perkembangan yang ditujukan Presiden SBY yang berkuasa sejak 2004," demikian kata Hu seperti dikutip WikiLeaks.


Menurut Hu, China memantau betapa ada peningkatan gesekan antar etnis dan agama di Indonesia. Pemerintah China pun ingin mendorong sekularisasi muslim di Indonesia. "Beijing ingin mempromosikan Islam sekuler di Indonesia," kata Hu kepada John.


Bagaimana cara Beijing mensekulerkan muslim Indonesia? Menurut Hu, hal itu dilakukan dengan mendorong hubungan muslim Indonesia dengan muslim Cina. Dengan demikian, muslim Indonesia bisa terpengaruh dengan sifat muslim Cina, di mana di China memang sekuler, karena pemerintah Cina yang komunis itu, sangatlah ketat terhadap para pemeluk agama, khususnya Islam.


Bahkan, Cina tidak segan-segan melakukan repressif terhadap kaum muslimin, seperti yang terjadi di Propinsi Uigur. (mn/yh/berbagai sumber)


(read more ...)



 Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa










 

Oleh: Sholih Hasyim*

 


ADA orangtua yang tinggal di sebuah pelosok desa sebagai petani dan penjual sate, bekerja keras tak kenal lelah, membanting tulang mencari nafkah. Ketika kembali pulang ke rumah, ia disambut oleh istri dan kedua anaknya dengan senyum yang tersungging di bibir. Maka seketika ia merasakan bahagia, kepenatan yang dirasakan sepanjang hari menjadi hilang dengan cepatnya.

 

Ada orangtua yang menangis karena gembira demi melihat puteranya dilantik menjadi profesor termuda di salah satu perguruan tinggi terkenal di Jawa Timur. Selesai menerima penghargaan dari almamaternya, bapak tersebut tidak mampu menahan isak tangis di belakang kursi wisuda. Betapa pengorbanan yang selama ini dilakukan untuk keberhasilan anaknya tidaklah sia-sia. Ia melupakan penderitaan selama bertahun-tahun demi masa depan buah hatinya. Itulah 1/100 rahmat yang dikaruniakan oleh Allah kepada sang bapak. Rela berkorban tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun, yang penting anaknya sukses.

 

Ada pula cerita. Serombongan gajah mencari lokasi lain untuk mempertahankan kehidupan. Diantara mereka, salah satu induk gajah melahirkan anaknya dengan kaki cacat sebelah. Sementara gajah yang lain terus melaju, seolah-olah tak peduli dengan penderitaan kawannya. Gajah itu sendirian dikerumuni binatang buas yang siap menerkam bayi gajah. Ia akhirnya meninggalkan anak yang baru saja dilahirkan, untuk menghindari ancaman binatang buas. Baru beberapa langkah menyusul rombongan, namun hatinya tidak tega membiarkan anaknya sendirian. Ia kembali mengelus-elus anaknya di tengah-tengah bahaya. Sehingga bisa berjalan dan diajak menyusul rombongannya. Induk gajah itu berani menghadapi ancaman, karena instingkasih sayang terhadap anaknya.

 

***

 

Jika kita mencermati kehidupan bangsa kita sekarang, seringkali melihat manusia itu tidak konsisten dalam memelihara rahmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, berbeda jauh dengan hewan. Informasi anarki, kekerasan politik, pembunuhan, pemerkosaan, persaingan yang tidak sehat antar kelompok, pertentangan antar etnis dan elit politik serta berbagai kriminalitas lainnya menghiasi media cetak dan elektronik setiap hari.

 

Barangkali kita tidak heran bahwasanya akhir-akhir ini mendengar orangtua memperkosa anak tirinya, suami yang tega mencari wanita idaman lain di tempat kerjanya pada saat yang bersamaan keluarganya sedang menunggu kehadirannya di rumah dengan harap-harap cemas. Seorang istri tega berbuat serong bersama pria idaman lain yang kebetulan sebagai atasannya. Seorang wanita tega membuang anaknya yang baru saja dilahirkan. Karena hasil hubungan gelap dengan laki-laki lain.

 

Dimanakah gerangan 1/100 rahmat yang diturunkan Tuhan kepadanya? Apakah sifat itu sudah dicabut oleh-Nya?

 

Ada ribuan pertanyaan. Persis dengan berbagai masalah, gejolak dan problem bangsa kita. Mengapa bangsa Indonesia yang dikenal murah senyum, pemaaf, sopan, rukun agawe santoso, tepo sliro,paternalistik, tahan menderita, tiba-tiba menjadi bringas dan kejam?

 

Efek Virus Takatsur

 

Dr. Yusuf Ali dalam tafsir “The Holy Qur’an”, mengatakan, bahwasanya penyebab hilangnya sifat rahmat pada diri manusia karena telah dihinggapi penyakit ruhani (mental) bernama takatsur (usaha menumpuk-numpuk harta, mengejar jabatan, memperbanyak pengaruh, massa dll).

 

Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa. Di bawah ini adalah tanda-tanda dari penyakit itu.

 

Serakah  

 

Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?". Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.” (QS. Thoha (20) : 120-121 ).

 

Pohon itu dinamakan Syajaratulkhuldi (pohon kekekalan), karena menurut syaitan, orang yang memakan buahnya akan kekal, tidak akan mati. Pohon ini dilarang Allah bagi yang mendekatinya.  Ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat Thaha ayat 120, tapi itu adalah nama yang diberikan syaitan.

 

Apa yang dilakukan Adam dan Hawa itu adalah sebuah tindakan serakah dan durhaka. Karena lupa,  ia telah melanggar larangan Allah. Ia juga telah tersesat mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. Kesalahan Adam a.s. meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat.

 

Dengki (Hasud) 

 

Dengki adalah rojaa-u zawaali ni’mati al-ghoir (senantiasa berharap hilangnya nikmat pada diri orang lain). Dalam sejarah kehidupan manusia sifat buruk inilah yang menjadi penyebab pembunuhan pertama kali di dunia. Dilakukan putra seorang Nabi yang bernama Qobil dan Habil. Habil meninggal di tangan kakak kandungnya hanya karena persoalan wanita. Wajar jika Rasulullah mengingatkan kepada kita bahwa sifat hasud tidak sekedar mencukur rambut bahkan mencukur sendi-sendi agama. Beliau juga mengingatkan:

 

“ Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki akan membakar seluruh kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.“ (al Hadist). Ummat ini akan menjadi baik selama tidak berkembang sifat dengki.

 

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Maidah (5) : 27).

 

Takabur (Sombong)

 

Menurut Imam Al Ghozali puncak keruntuhan kepercayaan adalah syirik (menyekutukan Allah) dan puncak kerusakan akhlak adalah takabur. Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (bathrul haq wa ghomthun Nas). Sifat warisan iblis inilah yang menjadikan anak manusia tidak pandai melihat kekurangan dirinya sendiri (intropeksi), tetapi lebih senang melihat kekurangan orang lain. Semua orang memiliki kans untuk bersikap sombong dalam profesi apapun.

 

Pernah suatu kali,  ada peristiwa pertentangan antara pemulung di Surabaya. Awalnya hanya sebatas pertarungan mulut, kemudian berkembang menjadi adu fiisik. Salah seorang lawannya ada yang mengancam, “Kamu harus berani mengambil resiko akibat peristiwa yang memalukan ini, tidakkah kamu mengetahui bahwa sayalah yang merintis profesi sebagai pemulung di sini?.

 

Betapa jelas, bahwa pekerjaan sebagai pemulung saja bisa membanggakan asal usul dan rasa sombong. Apalagi pekerjaan yang lebih bergengsi dari itu.

 

“Dan (Ingatlah) ketika kami Berkata kepada malaikat : "Sujudlah kamu kepada Adam", Maka mereka sujud kecuali iblis. ia membangkang. “(QS. Thoha (20) : 116).

 

Allah sangat membenci kesombongan. Karena pada dasarnya manusia itu tempat salah dan lupa (al insanu mahalil khothoi wa an nisyan). Sekalipun manusia memiliki potensi yang baik tetapi dibatasi oleh berbagai kekurangan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Allah tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga seorang yang dalam dirinya masih tersimpan sifat sombong sekalipun sedikit.

 

Dendam

 

Sifat ini sangat berbahaya baik secara individu maupun kelompok/kehidupan sosial. Karena sifat ini akan mendorong seseorang untuk menjatuhkan orang lain yang berbeda dengannya. Ia ingin melihat orang yang menjadi lawan politiknya celaka. Ia akan berusaha agar tidak ada orang lain yang menyainginya, baik dalam aspek jabatan, kekayaan, pengaruh, ilmu dll. Ia gembira jika melihat orang lain bernasib buruk, jatuh agar posisinya tetap eksis dan diakui orang lain. Rasulullah mengingatkan kepada kita agar senantiasa waspada terhadap penyakit jiwa ini. Sebab penyakit ini akan mudah merusak pergaulan hidup. Sabda beliau: “Sekuat apapun seseorang, sebuah perkumpulan, sebuah negara akan hancur, jika dendam ini menjalar. “

 

Jika kita mencermati carut marutnya kehidupan manusia dari masa ke masa pokok pangkalnya adalah efek ketiga penyakit jiwa tersebut. Yaitu: serakah, dengki, sombong dan dendam. Usaha yang terpenting dalam mengatasi gejolak sosial lanjut beliau, masing-masing individu dari anak bangsa ini mengembangkan tiga sifat berikut : Pertama, maafkanlah orang yang pernah berbuat zalim kepadamu (wa’fu man zhalamaka). Kedua, berilah kepada orang yang pernah menghalangi pemberian kepadamu (wa’thi man haromaka). Ketiga, sambunglah orang yang pernah memutuskan hubungan kepadamu (wa shil man qotho’aka).

 

Jika sikap senantiasa memberi kepada siapa saja, apapun bentuknya pemberian itu, baik berupa materi dan immateri, menjalin silaturahim dan menyebarkan pintu maaf maka rahmat Allah akan senantiasa meliputi kehidupan mereka.

Resep Memelihara Titipan Rahmat

 

Dalam al-Quran Surat At-Takastur Allah SWT memberikan resep yang sangat jitu untuk merawat titipan rahmat dari-Nya.

 

Pertama, ziarah Kubur

 

Dengan ziarah kubur (rekreasi rohani) seseorang diingatkan tentang hakikat kesementaraan kehidupan. Apa saja yang menjadi kebanggaan kita di dunia, kekuasaan, harta, wanita, pengaruh, ilmu akan berakhir. Saudara yang menjadi kepercayaan kita bisa saja akan berkhianat. Sahabat karib yang kemarin menjadi mitra bergaul dan dialog ternyata menjadi seonggok mayat yang dibungkus kain kafan. 

 

KH. A. Gimnastyar pernah mengingatkan dalam kuliah shubuhnya di RCTI, presiden Amerika lalu George W. Bush yang memimpin perang terhadap teroris, dan diindentikkan dengan kaum muslimin. Beliau mengatakan : Wahai presiden jangan berlagak sombong, apakah anda tidak menyadari bahwa kekuasaan yang sedang anda pegang tidak kuasa menolak kematian anda.

 

Rasulullah Saw. bersabda: “Aku pernah melarang kalian ziarah kubur, sekarang berziaralah karena ia mengingatkanmu tentang kehidupan akhirat.” (Al Hadits)

 

Kedua, mempelajari Ilmu Fardhu ‘Ain (Syariat)

 

Berbicara syariat kita jangan salah dalam memahaminya. Dalam islam syariat adalah ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya untuk kita. Didalamnya terkandung ibadah, aqidah dan akhlaq. Jadi tidak ada dichotomi antara syariat dan hakikat sebagaimana yang dipahami oleh kaum sufi.

 

Dengan ilmu syariat disamping mencerdaskan pikiran kita, sekaligus menata batin kita. Kecerdasan ruhaniah menghantarkan seseorang terampil dalam menarik hikmah di balik peristiwa kehidupan. Sehingga dia mampu bersikap arif dan bijaksana. Ahli hikmah mengatakan : Dunia adalah ladangnya ilmu (Ad Dunya Mazro’atul ilmi). Rangkaian kejadian dan fluktuasinya yang melibatkan kepentingan individu, kolektif akan menjadi bahan renungan, ilmu dan pengalaman. Pengalaman adalah guru yang terbaik.

 

Jika ketiga resep yang diberikan oleh al-Qur’an diatas kita laksanakan dengan baik, insya Allah gejala anarki, pembunuhan, pertentangan antar elite dan berbagai gejolak sosial yang lain akan segera berakhir. Insya Allah.

 

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui, Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.” (QS. At-Takatsur (102) : 3-5).

 

Ketiga, meningkatkan Rasa Tanggungjawab

 

Apapun yang dilakukan seseorang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, kelak di kemudian hari. Apakah masa muda yang dimiliki dimanfaatkan untuk pengabdian, untuk apakah umur yang telah dihabiskan, ilmu yang dimilikinya sudahkah disumbangkan kepada yang memerlukan, harta yang dinikmati dari mana diperolehnya dan apakah telah diinfakkan. Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita jawab di akhirat kelak. Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjawab berbagai pertanyaan diatas dengan jujur dan tanggung jawab?

 

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur (102) : 8).

 

Kata Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: Perbuatan ma’siat lahir yang harus dijauhi, yaitu yang dilakukan oleh anggota badan, mulut, kedua tangan, kedua kaki, kedua mata, kedua telinga.

 

Semua anggota badan (yang merupakan karunia Allah SWT secara gratis) akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya kelak.

 

Tujuh macam kejahatan yang dilakukan oleh tujuh anggota badan itu adalah :

 

·   Mata,

 

·  Telinga,

 

·  Lidah,

 

·  Perut,

 

·  Kemaluan,

 

·  Tangan

 

·  Dan kaki

 

Konon, karena itulah Allah SWT menjadikan tujuh macam neraka. Untuk tempat penyiksaan mereka yang melakukan kejahatan dengan salah satu anggota tubuh tersebut. Agar anggota tubuh sebagai media untuk menggapai kebahagiaan kehidupan dunia dan menyelamatkan kita di akhirat, maka harus disyukuri dengan cara digunakan untuk menyenangkan Yang Maha Memberikan.

 

Mata digunakan untuk melihat yang baik dan indah, jangan melihat yang haram. Telinga dipakai untuk mendengar bacaan al-Quran dan As-Sunnah, tidak untuk mendengarkan yang tercela, seperti ghibah, mengumpat dan menimbulkan fitnah, lidah untuk berzikir dan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak untuk menghasut, berdusta yang mengantarkan kepada kehancuran. Menjaga perut dengan diisi makanan halal, kemaluan (faraj) disterilkan dari zina, tangan dijauhkan dari membunuh, memukul, mencuri, memegang sesuatu yang haram, kaki hanya digunakan untuk mengerjakan ibadat. Tidak dibawa menuju ke tempat ma’siat. Demikianlah pendidikan akhlak versi Al-Ghazali.

 

Karena pada dasarnya anggota tubuh dijadikan oleh Allah SWT sebagai nikmat dan amanat. Mengelola nikmat dan amanat dengan di salah gunakan, merupakan kejahatan yang terbesar. Manusia harus menggunakan dan mengambil manfaat anggota tubuh untuk patuh kepada Allah SWT. [Kudus, Oktober 2010]

 

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com tinggal di Kudus, Jawa Tengah


 




 

 

 




Friday, 29 Oktober 2010






Banner











Banner










 










Banner







 








IKLAN BARIS



www.serbaadamuslim.com 

GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517










TERKAIT











 













© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved     

 
(read more ...)



 Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa










 

Oleh: Sholih Hasyim*

 


ADA orangtua yang tinggal di sebuah pelosok desa sebagai petani dan penjual sate, bekerja keras tak kenal lelah, membanting tulang mencari nafkah. Ketika kembali pulang ke rumah, ia disambut oleh istri dan kedua anaknya dengan senyum yang tersungging di bibir. Maka seketika ia merasakan bahagia, kepenatan yang dirasakan sepanjang hari menjadi hilang dengan cepatnya.

 

Ada orangtua yang menangis karena gembira demi melihat puteranya dilantik menjadi profesor termuda di salah satu perguruan tinggi terkenal di Jawa Timur. Selesai menerima penghargaan dari almamaternya, bapak tersebut tidak mampu menahan isak tangis di belakang kursi wisuda. Betapa pengorbanan yang selama ini dilakukan untuk keberhasilan anaknya tidaklah sia-sia. Ia melupakan penderitaan selama bertahun-tahun demi masa depan buah hatinya. Itulah 1/100 rahmat yang dikaruniakan oleh Allah kepada sang bapak. Rela berkorban tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun, yang penting anaknya sukses.

 

Ada pula cerita. Serombongan gajah mencari lokasi lain untuk mempertahankan kehidupan. Diantara mereka, salah satu induk gajah melahirkan anaknya dengan kaki cacat sebelah. Sementara gajah yang lain terus melaju, seolah-olah tak peduli dengan penderitaan kawannya. Gajah itu sendirian dikerumuni binatang buas yang siap menerkam bayi gajah. Ia akhirnya meninggalkan anak yang baru saja dilahirkan, untuk menghindari ancaman binatang buas. Baru beberapa langkah menyusul rombongan, namun hatinya tidak tega membiarkan anaknya sendirian. Ia kembali mengelus-elus anaknya di tengah-tengah bahaya. Sehingga bisa berjalan dan diajak menyusul rombongannya. Induk gajah itu berani menghadapi ancaman, karena instingkasih sayang terhadap anaknya.

 

***

 

Jika kita mencermati kehidupan bangsa kita sekarang, seringkali melihat manusia itu tidak konsisten dalam memelihara rahmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, berbeda jauh dengan hewan. Informasi anarki, kekerasan politik, pembunuhan, pemerkosaan, persaingan yang tidak sehat antar kelompok, pertentangan antar etnis dan elit politik serta berbagai kriminalitas lainnya menghiasi media cetak dan elektronik setiap hari.

 

Barangkali kita tidak heran bahwasanya akhir-akhir ini mendengar orangtua memperkosa anak tirinya, suami yang tega mencari wanita idaman lain di tempat kerjanya pada saat yang bersamaan keluarganya sedang menunggu kehadirannya di rumah dengan harap-harap cemas. Seorang istri tega berbuat serong bersama pria idaman lain yang kebetulan sebagai atasannya. Seorang wanita tega membuang anaknya yang baru saja dilahirkan. Karena hasil hubungan gelap dengan laki-laki lain.

 

Dimanakah gerangan 1/100 rahmat yang diturunkan Tuhan kepadanya? Apakah sifat itu sudah dicabut oleh-Nya?

 

Ada ribuan pertanyaan. Persis dengan berbagai masalah, gejolak dan problem bangsa kita. Mengapa bangsa Indonesia yang dikenal murah senyum, pemaaf, sopan, rukun agawe santoso, tepo sliro,paternalistik, tahan menderita, tiba-tiba menjadi bringas dan kejam?

 

Efek Virus Takatsur

 

Dr. Yusuf Ali dalam tafsir “The Holy Qur’an”, mengatakan, bahwasanya penyebab hilangnya sifat rahmat pada diri manusia karena telah dihinggapi penyakit ruhani (mental) bernama takatsur (usaha menumpuk-numpuk harta, mengejar jabatan, memperbanyak pengaruh, massa dll).

 

Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa. Di bawah ini adalah tanda-tanda dari penyakit itu.

 

Serakah  

 

Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?". Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.” (QS. Thoha (20) : 120-121 ).

 

Pohon itu dinamakan Syajaratulkhuldi (pohon kekekalan), karena menurut syaitan, orang yang memakan buahnya akan kekal, tidak akan mati. Pohon ini dilarang Allah bagi yang mendekatinya.  Ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat Thaha ayat 120, tapi itu adalah nama yang diberikan syaitan.

 

Apa yang dilakukan Adam dan Hawa itu adalah sebuah tindakan serakah dan durhaka. Karena lupa,  ia telah melanggar larangan Allah. Ia juga telah tersesat mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. Kesalahan Adam a.s. meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat.

 

Dengki (Hasud) 

 

Dengki adalah rojaa-u zawaali ni’mati al-ghoir (senantiasa berharap hilangnya nikmat pada diri orang lain). Dalam sejarah kehidupan manusia sifat buruk inilah yang menjadi penyebab pembunuhan pertama kali di dunia. Dilakukan putra seorang Nabi yang bernama Qobil dan Habil. Habil meninggal di tangan kakak kandungnya hanya karena persoalan wanita. Wajar jika Rasulullah mengingatkan kepada kita bahwa sifat hasud tidak sekedar mencukur rambut bahkan mencukur sendi-sendi agama. Beliau juga mengingatkan:

 

“ Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki akan membakar seluruh kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.“ (al Hadist). Ummat ini akan menjadi baik selama tidak berkembang sifat dengki.

 

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Maidah (5) : 27).

 

Takabur (Sombong)

 

Menurut Imam Al Ghozali puncak keruntuhan kepercayaan adalah syirik (menyekutukan Allah) dan puncak kerusakan akhlak adalah takabur. Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (bathrul haq wa ghomthun Nas). Sifat warisan iblis inilah yang menjadikan anak manusia tidak pandai melihat kekurangan dirinya sendiri (intropeksi), tetapi lebih senang melihat kekurangan orang lain. Semua orang memiliki kans untuk bersikap sombong dalam profesi apapun.

 

Pernah suatu kali,  ada peristiwa pertentangan antara pemulung di Surabaya. Awalnya hanya sebatas pertarungan mulut, kemudian berkembang menjadi adu fiisik. Salah seorang lawannya ada yang mengancam, “Kamu harus berani mengambil resiko akibat peristiwa yang memalukan ini, tidakkah kamu mengetahui bahwa sayalah yang merintis profesi sebagai pemulung di sini?.

 

Betapa jelas, bahwa pekerjaan sebagai pemulung saja bisa membanggakan asal usul dan rasa sombong. Apalagi pekerjaan yang lebih bergengsi dari itu.

 

“Dan (Ingatlah) ketika kami Berkata kepada malaikat : "Sujudlah kamu kepada Adam", Maka mereka sujud kecuali iblis. ia membangkang. “(QS. Thoha (20) : 116).

 

Allah sangat membenci kesombongan. Karena pada dasarnya manusia itu tempat salah dan lupa (al insanu mahalil khothoi wa an nisyan). Sekalipun manusia memiliki potensi yang baik tetapi dibatasi oleh berbagai kekurangan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Allah tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga seorang yang dalam dirinya masih tersimpan sifat sombong sekalipun sedikit.

 

Dendam

 

Sifat ini sangat berbahaya baik secara individu maupun kelompok/kehidupan sosial. Karena sifat ini akan mendorong seseorang untuk menjatuhkan orang lain yang berbeda dengannya. Ia ingin melihat orang yang menjadi lawan politiknya celaka. Ia akan berusaha agar tidak ada orang lain yang menyainginya, baik dalam aspek jabatan, kekayaan, pengaruh, ilmu dll. Ia gembira jika melihat orang lain bernasib buruk, jatuh agar posisinya tetap eksis dan diakui orang lain. Rasulullah mengingatkan kepada kita agar senantiasa waspada terhadap penyakit jiwa ini. Sebab penyakit ini akan mudah merusak pergaulan hidup. Sabda beliau: “Sekuat apapun seseorang, sebuah perkumpulan, sebuah negara akan hancur, jika dendam ini menjalar. “

 

Jika kita mencermati carut marutnya kehidupan manusia dari masa ke masa pokok pangkalnya adalah efek ketiga penyakit jiwa tersebut. Yaitu: serakah, dengki, sombong dan dendam. Usaha yang terpenting dalam mengatasi gejolak sosial lanjut beliau, masing-masing individu dari anak bangsa ini mengembangkan tiga sifat berikut : Pertama, maafkanlah orang yang pernah berbuat zalim kepadamu (wa’fu man zhalamaka). Kedua, berilah kepada orang yang pernah menghalangi pemberian kepadamu (wa’thi man haromaka). Ketiga, sambunglah orang yang pernah memutuskan hubungan kepadamu (wa shil man qotho’aka).

 

Jika sikap senantiasa memberi kepada siapa saja, apapun bentuknya pemberian itu, baik berupa materi dan immateri, menjalin silaturahim dan menyebarkan pintu maaf maka rahmat Allah akan senantiasa meliputi kehidupan mereka.

Resep Memelihara Titipan Rahmat

 

Dalam al-Quran Surat At-Takastur Allah SWT memberikan resep yang sangat jitu untuk merawat titipan rahmat dari-Nya.

 

Pertama, ziarah Kubur

 

Dengan ziarah kubur (rekreasi rohani) seseorang diingatkan tentang hakikat kesementaraan kehidupan. Apa saja yang menjadi kebanggaan kita di dunia, kekuasaan, harta, wanita, pengaruh, ilmu akan berakhir. Saudara yang menjadi kepercayaan kita bisa saja akan berkhianat. Sahabat karib yang kemarin menjadi mitra bergaul dan dialog ternyata menjadi seonggok mayat yang dibungkus kain kafan. 

 

KH. A. Gimnastyar pernah mengingatkan dalam kuliah shubuhnya di RCTI, presiden Amerika lalu George W. Bush yang memimpin perang terhadap teroris, dan diindentikkan dengan kaum muslimin. Beliau mengatakan : Wahai presiden jangan berlagak sombong, apakah anda tidak menyadari bahwa kekuasaan yang sedang anda pegang tidak kuasa menolak kematian anda.

 

Rasulullah Saw. bersabda: “Aku pernah melarang kalian ziarah kubur, sekarang berziaralah karena ia mengingatkanmu tentang kehidupan akhirat.” (Al Hadits)

 

Kedua, mempelajari Ilmu Fardhu ‘Ain (Syariat)

 

Berbicara syariat kita jangan salah dalam memahaminya. Dalam islam syariat adalah ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya untuk kita. Didalamnya terkandung ibadah, aqidah dan akhlaq. Jadi tidak ada dichotomi antara syariat dan hakikat sebagaimana yang dipahami oleh kaum sufi.

 

Dengan ilmu syariat disamping mencerdaskan pikiran kita, sekaligus menata batin kita. Kecerdasan ruhaniah menghantarkan seseorang terampil dalam menarik hikmah di balik peristiwa kehidupan. Sehingga dia mampu bersikap arif dan bijaksana. Ahli hikmah mengatakan : Dunia adalah ladangnya ilmu (Ad Dunya Mazro’atul ilmi). Rangkaian kejadian dan fluktuasinya yang melibatkan kepentingan individu, kolektif akan menjadi bahan renungan, ilmu dan pengalaman. Pengalaman adalah guru yang terbaik.

 

Jika ketiga resep yang diberikan oleh al-Qur’an diatas kita laksanakan dengan baik, insya Allah gejala anarki, pembunuhan, pertentangan antar elite dan berbagai gejolak sosial yang lain akan segera berakhir. Insya Allah.

 

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui, Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.” (QS. At-Takatsur (102) : 3-5).

 

Ketiga, meningkatkan Rasa Tanggungjawab

 

Apapun yang dilakukan seseorang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, kelak di kemudian hari. Apakah masa muda yang dimiliki dimanfaatkan untuk pengabdian, untuk apakah umur yang telah dihabiskan, ilmu yang dimilikinya sudahkah disumbangkan kepada yang memerlukan, harta yang dinikmati dari mana diperolehnya dan apakah telah diinfakkan. Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita jawab di akhirat kelak. Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjawab berbagai pertanyaan diatas dengan jujur dan tanggung jawab?

 

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur (102) : 8).

 

Kata Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: Perbuatan ma’siat lahir yang harus dijauhi, yaitu yang dilakukan oleh anggota badan, mulut, kedua tangan, kedua kaki, kedua mata, kedua telinga.

 

Semua anggota badan (yang merupakan karunia Allah SWT secara gratis) akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya kelak.

 

Tujuh macam kejahatan yang dilakukan oleh tujuh anggota badan itu adalah :

 

·   Mata,

 

·  Telinga,

 

·  Lidah,

 

·  Perut,

 

·  Kemaluan,

 

·  Tangan

 

·  Dan kaki

 

Konon, karena itulah Allah SWT menjadikan tujuh macam neraka. Untuk tempat penyiksaan mereka yang melakukan kejahatan dengan salah satu anggota tubuh tersebut. Agar anggota tubuh sebagai media untuk menggapai kebahagiaan kehidupan dunia dan menyelamatkan kita di akhirat, maka harus disyukuri dengan cara digunakan untuk menyenangkan Yang Maha Memberikan.

 

Mata digunakan untuk melihat yang baik dan indah, jangan melihat yang haram. Telinga dipakai untuk mendengar bacaan al-Quran dan As-Sunnah, tidak untuk mendengarkan yang tercela, seperti ghibah, mengumpat dan menimbulkan fitnah, lidah untuk berzikir dan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak untuk menghasut, berdusta yang mengantarkan kepada kehancuran. Menjaga perut dengan diisi makanan halal, kemaluan (faraj) disterilkan dari zina, tangan dijauhkan dari membunuh, memukul, mencuri, memegang sesuatu yang haram, kaki hanya digunakan untuk mengerjakan ibadat. Tidak dibawa menuju ke tempat ma’siat. Demikianlah pendidikan akhlak versi Al-Ghazali.

 

Karena pada dasarnya anggota tubuh dijadikan oleh Allah SWT sebagai nikmat dan amanat. Mengelola nikmat dan amanat dengan di salah gunakan, merupakan kejahatan yang terbesar. Manusia harus menggunakan dan mengambil manfaat anggota tubuh untuk patuh kepada Allah SWT. [Kudus, Oktober 2010]

 

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com tinggal di Kudus, Jawa Tengah


 




 

 

 




Friday, 29 Oktober 2010






Banner











Banner










 










Banner







 








IKLAN BARIS



www.serbaadamuslim.com 

GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517










TERKAIT











 













© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved     

 
(read more ...)



 Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa










 

Oleh: Sholih Hasyim*

 


ADA orangtua yang tinggal di sebuah pelosok desa sebagai petani dan penjual sate, bekerja keras tak kenal lelah, membanting tulang mencari nafkah. Ketika kembali pulang ke rumah, ia disambut oleh istri dan kedua anaknya dengan senyum yang tersungging di bibir. Maka seketika ia merasakan bahagia, kepenatan yang dirasakan sepanjang hari menjadi hilang dengan cepatnya.

 

Ada orangtua yang menangis karena gembira demi melihat puteranya dilantik menjadi profesor termuda di salah satu perguruan tinggi terkenal di Jawa Timur. Selesai menerima penghargaan dari almamaternya, bapak tersebut tidak mampu menahan isak tangis di belakang kursi wisuda. Betapa pengorbanan yang selama ini dilakukan untuk keberhasilan anaknya tidaklah sia-sia. Ia melupakan penderitaan selama bertahun-tahun demi masa depan buah hatinya. Itulah 1/100 rahmat yang dikaruniakan oleh Allah kepada sang bapak. Rela berkorban tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun, yang penting anaknya sukses.

 

Ada pula cerita. Serombongan gajah mencari lokasi lain untuk mempertahankan kehidupan. Diantara mereka, salah satu induk gajah melahirkan anaknya dengan kaki cacat sebelah. Sementara gajah yang lain terus melaju, seolah-olah tak peduli dengan penderitaan kawannya. Gajah itu sendirian dikerumuni binatang buas yang siap menerkam bayi gajah. Ia akhirnya meninggalkan anak yang baru saja dilahirkan, untuk menghindari ancaman binatang buas. Baru beberapa langkah menyusul rombongan, namun hatinya tidak tega membiarkan anaknya sendirian. Ia kembali mengelus-elus anaknya di tengah-tengah bahaya. Sehingga bisa berjalan dan diajak menyusul rombongannya. Induk gajah itu berani menghadapi ancaman, karena instingkasih sayang terhadap anaknya.

 

***

 

Jika kita mencermati kehidupan bangsa kita sekarang, seringkali melihat manusia itu tidak konsisten dalam memelihara rahmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, berbeda jauh dengan hewan. Informasi anarki, kekerasan politik, pembunuhan, pemerkosaan, persaingan yang tidak sehat antar kelompok, pertentangan antar etnis dan elit politik serta berbagai kriminalitas lainnya menghiasi media cetak dan elektronik setiap hari.

 

Barangkali kita tidak heran bahwasanya akhir-akhir ini mendengar orangtua memperkosa anak tirinya, suami yang tega mencari wanita idaman lain di tempat kerjanya pada saat yang bersamaan keluarganya sedang menunggu kehadirannya di rumah dengan harap-harap cemas. Seorang istri tega berbuat serong bersama pria idaman lain yang kebetulan sebagai atasannya. Seorang wanita tega membuang anaknya yang baru saja dilahirkan. Karena hasil hubungan gelap dengan laki-laki lain.

 

Dimanakah gerangan 1/100 rahmat yang diturunkan Tuhan kepadanya? Apakah sifat itu sudah dicabut oleh-Nya?

 

Ada ribuan pertanyaan. Persis dengan berbagai masalah, gejolak dan problem bangsa kita. Mengapa bangsa Indonesia yang dikenal murah senyum, pemaaf, sopan, rukun agawe santoso, tepo sliro,paternalistik, tahan menderita, tiba-tiba menjadi bringas dan kejam?

 

Efek Virus Takatsur

 

Dr. Yusuf Ali dalam tafsir “The Holy Qur’an”, mengatakan, bahwasanya penyebab hilangnya sifat rahmat pada diri manusia karena telah dihinggapi penyakit ruhani (mental) bernama takatsur (usaha menumpuk-numpuk harta, mengejar jabatan, memperbanyak pengaruh, massa dll).

 

Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa. Di bawah ini adalah tanda-tanda dari penyakit itu.

 

Serakah  

 

Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?". Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.” (QS. Thoha (20) : 120-121 ).

 

Pohon itu dinamakan Syajaratulkhuldi (pohon kekekalan), karena menurut syaitan, orang yang memakan buahnya akan kekal, tidak akan mati. Pohon ini dilarang Allah bagi yang mendekatinya.  Ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat Thaha ayat 120, tapi itu adalah nama yang diberikan syaitan.

 

Apa yang dilakukan Adam dan Hawa itu adalah sebuah tindakan serakah dan durhaka. Karena lupa,  ia telah melanggar larangan Allah. Ia juga telah tersesat mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. Kesalahan Adam a.s. meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat.

 

Dengki (Hasud) 

 

Dengki adalah rojaa-u zawaali ni’mati al-ghoir (senantiasa berharap hilangnya nikmat pada diri orang lain). Dalam sejarah kehidupan manusia sifat buruk inilah yang menjadi penyebab pembunuhan pertama kali di dunia. Dilakukan putra seorang Nabi yang bernama Qobil dan Habil. Habil meninggal di tangan kakak kandungnya hanya karena persoalan wanita. Wajar jika Rasulullah mengingatkan kepada kita bahwa sifat hasud tidak sekedar mencukur rambut bahkan mencukur sendi-sendi agama. Beliau juga mengingatkan:

 

“ Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki akan membakar seluruh kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.“ (al Hadist). Ummat ini akan menjadi baik selama tidak berkembang sifat dengki.

 

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Maidah (5) : 27).

 

Takabur (Sombong)

 

Menurut Imam Al Ghozali puncak keruntuhan kepercayaan adalah syirik (menyekutukan Allah) dan puncak kerusakan akhlak adalah takabur. Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (bathrul haq wa ghomthun Nas). Sifat warisan iblis inilah yang menjadikan anak manusia tidak pandai melihat kekurangan dirinya sendiri (intropeksi), tetapi lebih senang melihat kekurangan orang lain. Semua orang memiliki kans untuk bersikap sombong dalam profesi apapun.

 

Pernah suatu kali,  ada peristiwa pertentangan antara pemulung di Surabaya. Awalnya hanya sebatas pertarungan mulut, kemudian berkembang menjadi adu fiisik. Salah seorang lawannya ada yang mengancam, “Kamu harus berani mengambil resiko akibat peristiwa yang memalukan ini, tidakkah kamu mengetahui bahwa sayalah yang merintis profesi sebagai pemulung di sini?.

 

Betapa jelas, bahwa pekerjaan sebagai pemulung saja bisa membanggakan asal usul dan rasa sombong. Apalagi pekerjaan yang lebih bergengsi dari itu.

 

“Dan (Ingatlah) ketika kami Berkata kepada malaikat : "Sujudlah kamu kepada Adam", Maka mereka sujud kecuali iblis. ia membangkang. “(QS. Thoha (20) : 116).

 

Allah sangat membenci kesombongan. Karena pada dasarnya manusia itu tempat salah dan lupa (al insanu mahalil khothoi wa an nisyan). Sekalipun manusia memiliki potensi yang baik tetapi dibatasi oleh berbagai kekurangan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Allah tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga seorang yang dalam dirinya masih tersimpan sifat sombong sekalipun sedikit.

 

Dendam

 

Sifat ini sangat berbahaya baik secara individu maupun kelompok/kehidupan sosial. Karena sifat ini akan mendorong seseorang untuk menjatuhkan orang lain yang berbeda dengannya. Ia ingin melihat orang yang menjadi lawan politiknya celaka. Ia akan berusaha agar tidak ada orang lain yang menyainginya, baik dalam aspek jabatan, kekayaan, pengaruh, ilmu dll. Ia gembira jika melihat orang lain bernasib buruk, jatuh agar posisinya tetap eksis dan diakui orang lain. Rasulullah mengingatkan kepada kita agar senantiasa waspada terhadap penyakit jiwa ini. Sebab penyakit ini akan mudah merusak pergaulan hidup. Sabda beliau: “Sekuat apapun seseorang, sebuah perkumpulan, sebuah negara akan hancur, jika dendam ini menjalar. “

 

Jika kita mencermati carut marutnya kehidupan manusia dari masa ke masa pokok pangkalnya adalah efek ketiga penyakit jiwa tersebut. Yaitu: serakah, dengki, sombong dan dendam. Usaha yang terpenting dalam mengatasi gejolak sosial lanjut beliau, masing-masing individu dari anak bangsa ini mengembangkan tiga sifat berikut : Pertama, maafkanlah orang yang pernah berbuat zalim kepadamu (wa’fu man zhalamaka). Kedua, berilah kepada orang yang pernah menghalangi pemberian kepadamu (wa’thi man haromaka). Ketiga, sambunglah orang yang pernah memutuskan hubungan kepadamu (wa shil man qotho’aka).

 

Jika sikap senantiasa memberi kepada siapa saja, apapun bentuknya pemberian itu, baik berupa materi dan immateri, menjalin silaturahim dan menyebarkan pintu maaf maka rahmat Allah akan senantiasa meliputi kehidupan mereka.

Resep Memelihara Titipan Rahmat

 

Dalam al-Quran Surat At-Takastur Allah SWT memberikan resep yang sangat jitu untuk merawat titipan rahmat dari-Nya.

 

Pertama, ziarah Kubur

 

Dengan ziarah kubur (rekreasi rohani) seseorang diingatkan tentang hakikat kesementaraan kehidupan. Apa saja yang menjadi kebanggaan kita di dunia, kekuasaan, harta, wanita, pengaruh, ilmu akan berakhir. Saudara yang menjadi kepercayaan kita bisa saja akan berkhianat. Sahabat karib yang kemarin menjadi mitra bergaul dan dialog ternyata menjadi seonggok mayat yang dibungkus kain kafan. 

 

KH. A. Gimnastyar pernah mengingatkan dalam kuliah shubuhnya di RCTI, presiden Amerika lalu George W. Bush yang memimpin perang terhadap teroris, dan diindentikkan dengan kaum muslimin. Beliau mengatakan : Wahai presiden jangan berlagak sombong, apakah anda tidak menyadari bahwa kekuasaan yang sedang anda pegang tidak kuasa menolak kematian anda.

 

Rasulullah Saw. bersabda: “Aku pernah melarang kalian ziarah kubur, sekarang berziaralah karena ia mengingatkanmu tentang kehidupan akhirat.” (Al Hadits)

 

Kedua, mempelajari Ilmu Fardhu ‘Ain (Syariat)

 

Berbicara syariat kita jangan salah dalam memahaminya. Dalam islam syariat adalah ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya untuk kita. Didalamnya terkandung ibadah, aqidah dan akhlaq. Jadi tidak ada dichotomi antara syariat dan hakikat sebagaimana yang dipahami oleh kaum sufi.

 

Dengan ilmu syariat disamping mencerdaskan pikiran kita, sekaligus menata batin kita. Kecerdasan ruhaniah menghantarkan seseorang terampil dalam menarik hikmah di balik peristiwa kehidupan. Sehingga dia mampu bersikap arif dan bijaksana. Ahli hikmah mengatakan : Dunia adalah ladangnya ilmu (Ad Dunya Mazro’atul ilmi). Rangkaian kejadian dan fluktuasinya yang melibatkan kepentingan individu, kolektif akan menjadi bahan renungan, ilmu dan pengalaman. Pengalaman adalah guru yang terbaik.

 

Jika ketiga resep yang diberikan oleh al-Qur’an diatas kita laksanakan dengan baik, insya Allah gejala anarki, pembunuhan, pertentangan antar elite dan berbagai gejolak sosial yang lain akan segera berakhir. Insya Allah.

 

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui, Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.” (QS. At-Takatsur (102) : 3-5).

 

Ketiga, meningkatkan Rasa Tanggungjawab

 

Apapun yang dilakukan seseorang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, kelak di kemudian hari. Apakah masa muda yang dimiliki dimanfaatkan untuk pengabdian, untuk apakah umur yang telah dihabiskan, ilmu yang dimilikinya sudahkah disumbangkan kepada yang memerlukan, harta yang dinikmati dari mana diperolehnya dan apakah telah diinfakkan. Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita jawab di akhirat kelak. Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjawab berbagai pertanyaan diatas dengan jujur dan tanggung jawab?

 

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur (102) : 8).

 

Kata Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: Perbuatan ma’siat lahir yang harus dijauhi, yaitu yang dilakukan oleh anggota badan, mulut, kedua tangan, kedua kaki, kedua mata, kedua telinga.

 

Semua anggota badan (yang merupakan karunia Allah SWT secara gratis) akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya kelak.

 

Tujuh macam kejahatan yang dilakukan oleh tujuh anggota badan itu adalah :

 

·   Mata,

 

·  Telinga,

 

·  Lidah,

 

·  Perut,

 

·  Kemaluan,

 

·  Tangan

 

·  Dan kaki

 

Konon, karena itulah Allah SWT menjadikan tujuh macam neraka. Untuk tempat penyiksaan mereka yang melakukan kejahatan dengan salah satu anggota tubuh tersebut. Agar anggota tubuh sebagai media untuk menggapai kebahagiaan kehidupan dunia dan menyelamatkan kita di akhirat, maka harus disyukuri dengan cara digunakan untuk menyenangkan Yang Maha Memberikan.

 

Mata digunakan untuk melihat yang baik dan indah, jangan melihat yang haram. Telinga dipakai untuk mendengar bacaan al-Quran dan As-Sunnah, tidak untuk mendengarkan yang tercela, seperti ghibah, mengumpat dan menimbulkan fitnah, lidah untuk berzikir dan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak untuk menghasut, berdusta yang mengantarkan kepada kehancuran. Menjaga perut dengan diisi makanan halal, kemaluan (faraj) disterilkan dari zina, tangan dijauhkan dari membunuh, memukul, mencuri, memegang sesuatu yang haram, kaki hanya digunakan untuk mengerjakan ibadat. Tidak dibawa menuju ke tempat ma’siat. Demikianlah pendidikan akhlak versi Al-Ghazali.

 

Karena pada dasarnya anggota tubuh dijadikan oleh Allah SWT sebagai nikmat dan amanat. Mengelola nikmat dan amanat dengan di salah gunakan, merupakan kejahatan yang terbesar. Manusia harus menggunakan dan mengambil manfaat anggota tubuh untuk patuh kepada Allah SWT. [Kudus, Oktober 2010]

 

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com tinggal di Kudus, Jawa Tengah


 




 

 

 




Friday, 29 Oktober 2010






Banner











Banner










 










Banner







 








IKLAN BARIS



www.serbaadamuslim.com 

GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517










TERKAIT











 













© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved     

 
(read more ...)



 Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa










 

Oleh: Sholih Hasyim*

 


ADA orangtua yang tinggal di sebuah pelosok desa sebagai petani dan penjual sate, bekerja keras tak kenal lelah, membanting tulang mencari nafkah. Ketika kembali pulang ke rumah, ia disambut oleh istri dan kedua anaknya dengan senyum yang tersungging di bibir. Maka seketika ia merasakan bahagia, kepenatan yang dirasakan sepanjang hari menjadi hilang dengan cepatnya.

 

Ada orangtua yang menangis karena gembira demi melihat puteranya dilantik menjadi profesor termuda di salah satu perguruan tinggi terkenal di Jawa Timur. Selesai menerima penghargaan dari almamaternya, bapak tersebut tidak mampu menahan isak tangis di belakang kursi wisuda. Betapa pengorbanan yang selama ini dilakukan untuk keberhasilan anaknya tidaklah sia-sia. Ia melupakan penderitaan selama bertahun-tahun demi masa depan buah hatinya. Itulah 1/100 rahmat yang dikaruniakan oleh Allah kepada sang bapak. Rela berkorban tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun, yang penting anaknya sukses.

 

Ada pula cerita. Serombongan gajah mencari lokasi lain untuk mempertahankan kehidupan. Diantara mereka, salah satu induk gajah melahirkan anaknya dengan kaki cacat sebelah. Sementara gajah yang lain terus melaju, seolah-olah tak peduli dengan penderitaan kawannya. Gajah itu sendirian dikerumuni binatang buas yang siap menerkam bayi gajah. Ia akhirnya meninggalkan anak yang baru saja dilahirkan, untuk menghindari ancaman binatang buas. Baru beberapa langkah menyusul rombongan, namun hatinya tidak tega membiarkan anaknya sendirian. Ia kembali mengelus-elus anaknya di tengah-tengah bahaya. Sehingga bisa berjalan dan diajak menyusul rombongannya. Induk gajah itu berani menghadapi ancaman, karena instingkasih sayang terhadap anaknya.

 

***

 

Jika kita mencermati kehidupan bangsa kita sekarang, seringkali melihat manusia itu tidak konsisten dalam memelihara rahmat yang diberikan oleh Allah kepadanya, berbeda jauh dengan hewan. Informasi anarki, kekerasan politik, pembunuhan, pemerkosaan, persaingan yang tidak sehat antar kelompok, pertentangan antar etnis dan elit politik serta berbagai kriminalitas lainnya menghiasi media cetak dan elektronik setiap hari.

 

Barangkali kita tidak heran bahwasanya akhir-akhir ini mendengar orangtua memperkosa anak tirinya, suami yang tega mencari wanita idaman lain di tempat kerjanya pada saat yang bersamaan keluarganya sedang menunggu kehadirannya di rumah dengan harap-harap cemas. Seorang istri tega berbuat serong bersama pria idaman lain yang kebetulan sebagai atasannya. Seorang wanita tega membuang anaknya yang baru saja dilahirkan. Karena hasil hubungan gelap dengan laki-laki lain.

 

Dimanakah gerangan 1/100 rahmat yang diturunkan Tuhan kepadanya? Apakah sifat itu sudah dicabut oleh-Nya?

 

Ada ribuan pertanyaan. Persis dengan berbagai masalah, gejolak dan problem bangsa kita. Mengapa bangsa Indonesia yang dikenal murah senyum, pemaaf, sopan, rukun agawe santoso, tepo sliro,paternalistik, tahan menderita, tiba-tiba menjadi bringas dan kejam?

 

Efek Virus Takatsur

 

Dr. Yusuf Ali dalam tafsir “The Holy Qur’an”, mengatakan, bahwasanya penyebab hilangnya sifat rahmat pada diri manusia karena telah dihinggapi penyakit ruhani (mental) bernama takatsur (usaha menumpuk-numpuk harta, mengejar jabatan, memperbanyak pengaruh, massa dll).

 

Menurut Imam Al Ghozali jika virus ruhani tersebut hinggap pada diri seseorang, maka akan melahirkan beberapa penyakit jiwa. Di bawah ini adalah tanda-tanda dari penyakit itu.

 

Serakah  

 

Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?". Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.” (QS. Thoha (20) : 120-121 ).

 

Pohon itu dinamakan Syajaratulkhuldi (pohon kekekalan), karena menurut syaitan, orang yang memakan buahnya akan kekal, tidak akan mati. Pohon ini dilarang Allah bagi yang mendekatinya.  Ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat Thaha ayat 120, tapi itu adalah nama yang diberikan syaitan.

 

Apa yang dilakukan Adam dan Hawa itu adalah sebuah tindakan serakah dan durhaka. Karena lupa,  ia telah melanggar larangan Allah. Ia juga telah tersesat mengikuti apa yang dibisikkan syaitan. Kesalahan Adam a.s. meskipun tidak begitu besar menurut ukuran manusia biasa sudah dinamai durhaka dan sesat.

 

Dengki (Hasud) 

 

Dengki adalah rojaa-u zawaali ni’mati al-ghoir (senantiasa berharap hilangnya nikmat pada diri orang lain). Dalam sejarah kehidupan manusia sifat buruk inilah yang menjadi penyebab pembunuhan pertama kali di dunia. Dilakukan putra seorang Nabi yang bernama Qobil dan Habil. Habil meninggal di tangan kakak kandungnya hanya karena persoalan wanita. Wajar jika Rasulullah mengingatkan kepada kita bahwa sifat hasud tidak sekedar mencukur rambut bahkan mencukur sendi-sendi agama. Beliau juga mengingatkan:

 

“ Jauhilah oleh kalian sifat dengki, karena sesungguhnya dengki akan membakar seluruh kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.“ (al Hadist). Ummat ini akan menjadi baik selama tidak berkembang sifat dengki.

 

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Maidah (5) : 27).

 

Takabur (Sombong)

 

Menurut Imam Al Ghozali puncak keruntuhan kepercayaan adalah syirik (menyekutukan Allah) dan puncak kerusakan akhlak adalah takabur. Takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (bathrul haq wa ghomthun Nas). Sifat warisan iblis inilah yang menjadikan anak manusia tidak pandai melihat kekurangan dirinya sendiri (intropeksi), tetapi lebih senang melihat kekurangan orang lain. Semua orang memiliki kans untuk bersikap sombong dalam profesi apapun.

 

Pernah suatu kali,  ada peristiwa pertentangan antara pemulung di Surabaya. Awalnya hanya sebatas pertarungan mulut, kemudian berkembang menjadi adu fiisik. Salah seorang lawannya ada yang mengancam, “Kamu harus berani mengambil resiko akibat peristiwa yang memalukan ini, tidakkah kamu mengetahui bahwa sayalah yang merintis profesi sebagai pemulung di sini?.

 

Betapa jelas, bahwa pekerjaan sebagai pemulung saja bisa membanggakan asal usul dan rasa sombong. Apalagi pekerjaan yang lebih bergengsi dari itu.

 

“Dan (Ingatlah) ketika kami Berkata kepada malaikat : "Sujudlah kamu kepada Adam", Maka mereka sujud kecuali iblis. ia membangkang. “(QS. Thoha (20) : 116).

 

Allah sangat membenci kesombongan. Karena pada dasarnya manusia itu tempat salah dan lupa (al insanu mahalil khothoi wa an nisyan). Sekalipun manusia memiliki potensi yang baik tetapi dibatasi oleh berbagai kekurangan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Allah tidak akan memasukkan seseorang ke dalam surga seorang yang dalam dirinya masih tersimpan sifat sombong sekalipun sedikit.

 

Dendam

 

Sifat ini sangat berbahaya baik secara individu maupun kelompok/kehidupan sosial. Karena sifat ini akan mendorong seseorang untuk menjatuhkan orang lain yang berbeda dengannya. Ia ingin melihat orang yang menjadi lawan politiknya celaka. Ia akan berusaha agar tidak ada orang lain yang menyainginya, baik dalam aspek jabatan, kekayaan, pengaruh, ilmu dll. Ia gembira jika melihat orang lain bernasib buruk, jatuh agar posisinya tetap eksis dan diakui orang lain. Rasulullah mengingatkan kepada kita agar senantiasa waspada terhadap penyakit jiwa ini. Sebab penyakit ini akan mudah merusak pergaulan hidup. Sabda beliau: “Sekuat apapun seseorang, sebuah perkumpulan, sebuah negara akan hancur, jika dendam ini menjalar. “

 

Jika kita mencermati carut marutnya kehidupan manusia dari masa ke masa pokok pangkalnya adalah efek ketiga penyakit jiwa tersebut. Yaitu: serakah, dengki, sombong dan dendam. Usaha yang terpenting dalam mengatasi gejolak sosial lanjut beliau, masing-masing individu dari anak bangsa ini mengembangkan tiga sifat berikut : Pertama, maafkanlah orang yang pernah berbuat zalim kepadamu (wa’fu man zhalamaka). Kedua, berilah kepada orang yang pernah menghalangi pemberian kepadamu (wa’thi man haromaka). Ketiga, sambunglah orang yang pernah memutuskan hubungan kepadamu (wa shil man qotho’aka).

 

Jika sikap senantiasa memberi kepada siapa saja, apapun bentuknya pemberian itu, baik berupa materi dan immateri, menjalin silaturahim dan menyebarkan pintu maaf maka rahmat Allah akan senantiasa meliputi kehidupan mereka.

Resep Memelihara Titipan Rahmat

 

Dalam al-Quran Surat At-Takastur Allah SWT memberikan resep yang sangat jitu untuk merawat titipan rahmat dari-Nya.

 

Pertama, ziarah Kubur

 

Dengan ziarah kubur (rekreasi rohani) seseorang diingatkan tentang hakikat kesementaraan kehidupan. Apa saja yang menjadi kebanggaan kita di dunia, kekuasaan, harta, wanita, pengaruh, ilmu akan berakhir. Saudara yang menjadi kepercayaan kita bisa saja akan berkhianat. Sahabat karib yang kemarin menjadi mitra bergaul dan dialog ternyata menjadi seonggok mayat yang dibungkus kain kafan. 

 

KH. A. Gimnastyar pernah mengingatkan dalam kuliah shubuhnya di RCTI, presiden Amerika lalu George W. Bush yang memimpin perang terhadap teroris, dan diindentikkan dengan kaum muslimin. Beliau mengatakan : Wahai presiden jangan berlagak sombong, apakah anda tidak menyadari bahwa kekuasaan yang sedang anda pegang tidak kuasa menolak kematian anda.

 

Rasulullah Saw. bersabda: “Aku pernah melarang kalian ziarah kubur, sekarang berziaralah karena ia mengingatkanmu tentang kehidupan akhirat.” (Al Hadits)

 

Kedua, mempelajari Ilmu Fardhu ‘Ain (Syariat)

 

Berbicara syariat kita jangan salah dalam memahaminya. Dalam islam syariat adalah ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya untuk kita. Didalamnya terkandung ibadah, aqidah dan akhlaq. Jadi tidak ada dichotomi antara syariat dan hakikat sebagaimana yang dipahami oleh kaum sufi.

 

Dengan ilmu syariat disamping mencerdaskan pikiran kita, sekaligus menata batin kita. Kecerdasan ruhaniah menghantarkan seseorang terampil dalam menarik hikmah di balik peristiwa kehidupan. Sehingga dia mampu bersikap arif dan bijaksana. Ahli hikmah mengatakan : Dunia adalah ladangnya ilmu (Ad Dunya Mazro’atul ilmi). Rangkaian kejadian dan fluktuasinya yang melibatkan kepentingan individu, kolektif akan menjadi bahan renungan, ilmu dan pengalaman. Pengalaman adalah guru yang terbaik.

 

Jika ketiga resep yang diberikan oleh al-Qur’an diatas kita laksanakan dengan baik, insya Allah gejala anarki, pembunuhan, pertentangan antar elite dan berbagai gejolak sosial yang lain akan segera berakhir. Insya Allah.

 

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), Dan janganlah begitu, kelak kamu akan Mengetahui, Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.” (QS. At-Takatsur (102) : 3-5).

 

Ketiga, meningkatkan Rasa Tanggungjawab

 

Apapun yang dilakukan seseorang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, kelak di kemudian hari. Apakah masa muda yang dimiliki dimanfaatkan untuk pengabdian, untuk apakah umur yang telah dihabiskan, ilmu yang dimilikinya sudahkah disumbangkan kepada yang memerlukan, harta yang dinikmati dari mana diperolehnya dan apakah telah diinfakkan. Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut akan kita jawab di akhirat kelak. Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjawab berbagai pertanyaan diatas dengan jujur dan tanggung jawab?

 

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur (102) : 8).

 

Kata Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin: Perbuatan ma’siat lahir yang harus dijauhi, yaitu yang dilakukan oleh anggota badan, mulut, kedua tangan, kedua kaki, kedua mata, kedua telinga.

 

Semua anggota badan (yang merupakan karunia Allah SWT secara gratis) akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya kelak.

 

Tujuh macam kejahatan yang dilakukan oleh tujuh anggota badan itu adalah :

 

·   Mata,

 

·  Telinga,

 

·  Lidah,

 

·  Perut,

 

·  Kemaluan,

 

·  Tangan

 

·  Dan kaki

 

Konon, karena itulah Allah SWT menjadikan tujuh macam neraka. Untuk tempat penyiksaan mereka yang melakukan kejahatan dengan salah satu anggota tubuh tersebut. Agar anggota tubuh sebagai media untuk menggapai kebahagiaan kehidupan dunia dan menyelamatkan kita di akhirat, maka harus disyukuri dengan cara digunakan untuk menyenangkan Yang Maha Memberikan.

 

Mata digunakan untuk melihat yang baik dan indah, jangan melihat yang haram. Telinga dipakai untuk mendengar bacaan al-Quran dan As-Sunnah, tidak untuk mendengarkan yang tercela, seperti ghibah, mengumpat dan menimbulkan fitnah, lidah untuk berzikir dan amar ma’ruf nahi mungkar, tidak untuk menghasut, berdusta yang mengantarkan kepada kehancuran. Menjaga perut dengan diisi makanan halal, kemaluan (faraj) disterilkan dari zina, tangan dijauhkan dari membunuh, memukul, mencuri, memegang sesuatu yang haram, kaki hanya digunakan untuk mengerjakan ibadat. Tidak dibawa menuju ke tempat ma’siat. Demikianlah pendidikan akhlak versi Al-Ghazali.

 

Karena pada dasarnya anggota tubuh dijadikan oleh Allah SWT sebagai nikmat dan amanat. Mengelola nikmat dan amanat dengan di salah gunakan, merupakan kejahatan yang terbesar. Manusia harus menggunakan dan mengambil manfaat anggota tubuh untuk patuh kepada Allah SWT. [Kudus, Oktober 2010]

 

Penulis adalah kolumnis hidayatullah.com tinggal di Kudus, Jawa Tengah


 




 

 

 




Friday, 29 Oktober 2010






Banner











Banner










 










Banner







 








IKLAN BARIS



www.serbaadamuslim.com 

GROSIR KAOS KAKI, tersedia aneka warna, dibutuhkan reseller seluruh Indonesia. Hub. Rina 08155100517










TERKAIT











 













© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved     

 
(read more ...)




Apa pendapat Anda tentang fatwa NU yang mengharamkan infotainmen ghibah?

 


NU mengharamkan infotainmen ghibah, itu betul. Jadi yang diharamkan adalah ghibah. Ghibah yang diharamkan di infotainmen, bukan infotainmen-nya yang diharamkan.

 

Ghibah itu absolut, tidak bisa disangkal. Tetapi dalam implementasinya, ghibah tidak ada di dalam dunia jurnalistik. Kita mesti cari di mana yang maksudnya ghibah ini? Anda pernah baca kode etik jurnalistik? Ghibah itu diakomodasi di pasal berapa?

 

Pasal sembilan Kode Etik Jurnalistik mengatakan, wartawan menghormati kehidupan pribadi. Nah, kita mengatakan, pasal sembilan itu tidak melarang wartawan untuk mengungkapkan, menceritakan masalah pribadi, asalkan tidak sampai mengghibah. Begitu!

 

Menurut Anda, bisakah infotainmen lepas dari berita gibah dan gosip?

 

Anda pernah nonton infotainmen, nggak? Kemarin, selama dua pekan itu berita infotainmen, Gus Dur semua isinya. Itu gosip, nggak?

 

Yang namanya gosip, apa pun infotainmennya, tidak boleh muat. Anda boleh saja muat, tapi orang nggak akan percaya, kan?

 

Dalam kode etik, gosip itu memang nggak boleh. Jadi, membuat berita gosip itu pelanggaran kode etik. Itu jawaban saya.

 

Apa benar tokoh publik, khususnya artis, tidak memiliki privasi di mata infotainmen hingga segala aspek hidup mereka bisa diberitakan?

 

Ya, betul, memang tidak ada privasi.  Ketika sang artis, misalnya, dalam proses kasusnya itu berkaitan dengan publik, dia harus mendapatklan kontrol. Malah dianjurkan oleh undang-undang.

 

Tapi, kita dianjurkan untuk meneliti track record-nya. Apakah dalam konteks dia sebagai publik figur yang mewakili kita.

Dalam keadaan seperti apa privasi publik figur penting untuk diketahui dan diungkap kepada umum?

 

Publik figur adalah tokoh publik. Itu tidak sempit. Luas. Pak SBY (Susilo bambang Yudhoyono) itu tokoh publik, iya kan. Ya, itu boleh saja (diberitakan). Kita juga pernah mengungkap (kasus) Pak Harto, Saddam Husain, tentang Pangeran Charles, sama saja kan. Itu tidak masalah.

 

Yang tidak benar di sini adalah, menyiarkan yang tidak benar dan yang beritikad buruk untuk tujuan merusak martabatnya orang. Jadi, kalau ada orang yang menikah sampai tiga kali, empat kali, itu boleh diberitakan.

 

Yang tidak boleh itu, ketika Anda menganggap dan mengecap orang tersebut sebagai orang jahat karena beristri empat. Itu yang nggak boleh.

 

Menurut Anda, apa sebetulnya tujuan idiil pemberitaan infotainmen, terutama gosip?

 

Maksudnya gosip yang mana, nggak ngerti saya.

 

Misalnya rumor, berita kawin cerai artis, dan semacamnya?

 

Kalau rumor, kita sudah selesai. Bahwa yang namanya rumor, di tempat Anda (Majalah Suara Hidayatullah dan Hidayatullah.com) pun harus mematuhi kode etik. Jadi, nonton infotainmennya yang baguslah. Jangan yang jelek-jelek. Saya juga tidak mau merusak persepsi Anda. [Ainuddin Chalik/hidayatullah.com]    

(read more ...)





Ghibah dan gosip tidak bisa lepas dari infotainmen

 


Hidayatullah.com--Nada suara pria di ujung sambungan telepon itu meninggi saat Hidayatullah.com sampai pada pertanyaan, “Apakah infotainmen bisa terlepas dari berita-berita ghibah dan gosip?”

 

Ilham Bintang, pelopor infotainmen Indonesia yang juga menjabat Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, balik bertanya kepada Hidayatullah.com dalam wawancara via telepon itu.

 

“Anda pernah nonton infotainmen, nggak?   

 

Bukan kali ini saja Ilham bersikap demikian. Saat Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi, menegaskan kembali fatwa haramnya infotainmen ghibah akhir tahun 2009 lalu, Ilham juga tegas menolaknya.

 

Bahkan, pria berkumis tebal kelahiran Makassar 1955 ini balik meminta PBNU agar memberikan data infotainmen mana yang melakukan ghibah.

 

Ilham mengaku setuju jika ghibah adalah haram dan tidak boleh dilakukan pekerja infotainmen. “Tapi, kalau tidak menyebut siapa yang ghibah, akan menjadi ghibah tersendiri,” ujarnya.

 

Dua hari setelah pernyataan Ilham tersebut, 30 Desember 2009, PWI dan PBNU mengadakan pertemuan dan membuat pernyataan bersama perihal infotainmen. Berbicara kepada pers usai pertemuan, Ilham mengatakan, “infotainmen diberi jalan terang untuk hijrah”.

 

Ketua PBNU, Said Aqil Siradj, yang turut berbicara saat itu mengatakan, infotainmen yang diharamkan oleh NU adalah infotainmen yang bermuatan ghibah dan fitnah.

 

Ghibah, kata Said, adalah fakta mengenai aib seseorang yang jika diberitakan akan menyebabkan orang yang bersangkutan merasa tersinggung dan jatuh martabatnya, seperti masalah perselingkuhan. Sedangkan fitnah adalah menceritakan aib seseorang namun tidak ada faktanya.

 

Said juga menjelaskan, jika menceritakan tentang pejabat yang korupsi, siapa yang terlibat, asal-usul uang, dan ke mana larinya uang, hal itu justru diwajibkan dan merupakan tugas suci.

 

Di tempat lain, jika Ilham sibuk membantah kaitan infotainmen dengan berita ghibah dan gosip, kebanyakan wartawan infotainmen justru mengakuinya. Seperti halnya Nafiz Qurtubi, wartawan infotainmen Expose yang ditayangkan di TVOne.

 

Nafiz, yang sudah tujuh tahun meliput berita hiburan, mengakui berita ghibah dan rekayasa berita kerap terjadi di infotainmen. Namun, bukan berarti seluruh berita infotainmen adalah ghibah. Selain itu, tidak hanya infotainmen yang merekayasa berita untuk menaikkan atau menjatuhkan pamor seseorang. Berita politik dan olah raga pun bisa.

 

Bahaya Ghibah

 

Menurut Dr Ahmad Zain an-Najah, ahli fikih yang juga Wakil Majelis Fatwa Dewan Fatwa, Dewan Dawah Islamiyah Indonesia, jika ghibah menyebar dan menjadi tren di masyarakat, kehidupan tidak akan tenang. Namun, masih ada pengecualian tentang haramnya ghibah.

 

Setidaknya ada tiga kondisi dibolehkannya ghibah. Pertama, ketika dimintai pendapat untuk urusan penting dan besar seperti seorang wanita yang dilamar oleh laki-laki yang tidak dikenalnya. Bila dia meminta pertimbangan dari orang tuanya atau tokoh masyarakat, maka orangtuanya atau tokoh tersebut harus memberitahu secara jujur tentang kelebihan dan kekurangan orang tersebut agar dia bisa menolak atau menertima lamaran.

 

Ini berdasarkan Hadist Fatimah binti Qais yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan mengatakan bahwa dirinya dilamar oleh dua orang, yaitu Muawiyah dan Abu Jahm, kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menjelaskan kekurangan dari kedua orang tersebut.

 

Kedua, untuk mengungkap sebuah kasus, seperti dugaan korupsi. Karena kejahatan dan kesalahan orang yang didakwa harus diselidiki maka keburukannya perlu diungkap. Hanya saja, keburukan yang diungkap tersebut harus berkaitan dengan kejahatan yang didakwakan kepada orang tersebut. 

 

Ketiga, dalam periwayatan hadist seseorang boleh menyebutkan kejelekan seseorang. Umpamanya dengan mengatakan bahwa si fulan adalan pembohong atau suka menipu. Tujuannya agar hadist yang diriwayatkan oleh orang yang suka menipu ditolak. Karena secara logika, orang yang suka berbohong dan menipu, punya potensi besar untuk berbohong dengan membuat hadits palsu.

 

“Ghibah dalam hal seperti ini dibolehkan, bahkan harus dilakukan untuk menyelamatkan hadist Rasulullah,” kata Zain. [Ainuddin Chalik, Ibnu Syafaat, Surya Fachrizal/hidayatullah.com]


(read more ...)




Meski beritanya benar, para ulama menganggap gajinya haram.  Atau mencari rizki diluar urusan gosip



Hidayatullah.com—Belum berselang lama ormas Islam keberatan berita gossip alias “ghibahtainment”, kini  marak lagi jenis pemberitaan semacam itu. Ghibah terbaru adalah kasus dai sejuta umat, Zainuddin MZ.



Sejumlah pakar fikih meminta media dan wartawan berhat-hati memberitakan berita yang bernilai ghibah. Sebab, dampaknya apa yang ia makan dan kelak menjadi daging. Jangan sampai harta dari ghibah akan menghambatnya di akhirat kelak.



Menurut Prof Dr. KH. Ali Mustafa Ya’kub, MA, Imam Masjid Istiqlal, hukum uang (gaji) yang dipakai wartawan infotainment sangat dekat dengan haram.



Menurutnya, ada juga yang bernilai positif dan itu tidak termasuk haram. Namun jika beritanya bernilai aib, meski benar, gaji yang dimakan menurut hukum fikih adalah haram.



“Kita tidak bisa memutlakkan infotainment itu haram atau tidak. Jika infotainment itu memfitnah atau memberitakan aib seseorang, yang orang bersangkutan tidak suka jika itu diberitakan, maka ini haram. Dan, wartawan infotainment yang demikian tentu tidak boleh menerima uang imbalan,” ujarnya.



“Kita lihat isi infotainment itu sendiri. Kalau isinya haram maka gaji wartawannya pun haram,” ujar guru besar Ilmu Hadis IIQ (Institut Ilmu Alquran) Jakarta ini.



Menurut pakar hukum Islam ini, ada juga infotainment yang tidak haram dan bernilai positif. Ia menyebut contoh, berita tentang pernikahan, umroh, dan publik figur yang melahirkan.



“Tetapi jika ada infotainment yang isinya berita haram, sementara yang bersangkutan tidak keberatan, maka hukum infotainment tersebut tetap haram, dan gaji wartawan infotainment tersebut jelas haram,” ujarnya.



Menurutnya, hukum keharaman infotainment yang memfitnah dan mengumpat ini terang terdapat dalam Al-Qur’an, bahwasannya itu haram. QS. Al-Hujarat:12, bunyinya, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang."



Ganti pekerjaan



Sementara itu pakar Fikih Dr Zain Al-Najah meminta wartawan tak menjadikannya kegiatan infotainment sebagai alternatif mencari rezeki. Karena di dalamnya banyak terdapat hal-hal syubhat yang melampaui ajaran agama.



“Sebaiknya mencari rezeki yang lain yang lebih jelas kehalalannya,” terang pria lulusan Al Azhar, Mesir ini.



Menurutnya, berita ghibah yang kini sering dikejar wartawan pasti hanya akan menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Hal seperti ini tak lain  dari motif infotainment itu sendiri yang berbasis pada kepentingan materi (bisnis), tanpa mengindahkan norma-norma agama dan kelayakan.



Karena sifatnya bisnis, yang tidak dalam upaya menjalankan perintah agama, maka hal-hal yang dilarang agama, seperti mengumbar aurat, membuka aib orang lain, dan mengorek-ngorek kesalahan orang untuk dikonsumsi publik, menjadi satu hal yang harus dieksploitasi. Padahal hal ini tentu merusak dan sangat dilarang agama.



“Membuka aib orang lain itu haram! Apalagi semua itu dilakukan tanpa ada maksud yang jelas atau tidak ada keuntungannya,” terang Dr. Zain Al-Najah kepada hidayatullah.com.



Zain mengutip hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, sebagaimana dalam Kitab Arba’in Nawawi, “Barangsiapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.”



Herannya,  aib orang yang seharusnya ditutupi, kok sekarang malah dibuka-buka. Andaipun kasus itu benar, aib orang tetaplah ghibah. [mam/cha/hidayatullah.com]

 

(read more ...)




Menyiarkan ghibah, sama seperti memakan bangkai saudaranya. Begitu juga mendengarnya dan menyukainya.

 

 

Hidayatullah.com—Seorang gadis jelita, diwawancarai sebuah stasiun TV dengan wajah berkaca-kaca, seolah ingin menangis. Wanita bernama Aida Saskia itu mengaku telah diperkosa Zainuddin MZ. Tidak main-main, ia menuduh diperlakukan tak senonoh pria yang pernah dijuluki sebagai “dai sejuta umat”.

 

Seolah tanpa meminta bukti dengan tuduhan berat itu, awak media percaya saja berita ini. Bahkan si wanita menuntut dai sejuta umat itu minta maaf dan memenuhi semua janji-janjinya.  

 

Sebelum ini, pada awal malam, pertengahan Januari 2010 di Bioskop 21 Theatre Planet Hollywod Jakarta terjadi sesi tanya-jawab  saat peluncuran sebuah film ber-genre komedi.

 

“Biasanya, jika jumpa pers dilakukan sebelum pemutaran film, tandanya film komedi ini nggak lucu. Saya ragu film ini lucu,” ujar seorang wartawan infotainmen kepada pengarah acara.

 

Tidak hanya mengkritik, pertanyaan yang diajukan sang wartawan kepada salah seorang aktris film tersebut, Julia Perez,  juga jauh dari tema film. Sang wartawan justru bertanya apakah Julia ingin mengikuti jejak Ayu Azhari yang saat ini sedang mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Sukabumi, Jawa Barat.

 

Agaknya, sang wartawan mencoba mengorek-ngorek sudut pandang lain dari sosok Julia selain film terbarunya itu.

 

“Jika Anda ikut mencalonkan diri, itu akan menambah jumlah bintang esek-esek yang jadi calon bupati,” tanya wartawan.

Ditanya demikian, aktris ini sama sekali tidak marah. Dia cuma bilang kepada sang wartawan, “pikiran Anda saja yang begitu”.

 

Memang, buat wartawan infotainmen, acara-acara seremonial seperti peluncuran film bukan hal yang menarik untuk diberitakan. Ini diakui Aris – nama samaran – seorang mantan wartawan infotainmen Kroscek yang tayang di stasiun televisi swasta Trans TV.

 

“Itu nggak seru. Hanya berita biasa. Kurang greget. Paling satu spot selesai,” kata Aris yang mengaku keluar dari dunia infotainmen sejak dinasihati kakaknya yang seorang ustadz di sebuah pesantren di Malang, Jawa Timur ini.

 

Untuk membuat laku sebuah album lagu, sinetron, ataupun film, kata Aris kepada Hidayatullah.com, tak jarang terjadi persekongkolan antara pihak artis dengan oknum wartawan infotainmen. Misalnya, dengan merekayasa berita skandal hubungan percintaan artis yang bersangkutan.

 

“Dengan begitu, pemberitaanya terus menerus ada. Kan promosi juga nih!” ungkap Aris.          

 

Berita Settingan

 

Pernyataan Aris dikuatkan oleh seorang sumber hidayatullah.com, seorang redaktur salah satu tabloid infotainmen yang berkantor di daerah Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Sebut saja namanya Hendra.

 

Berita rekayasa atau berita settingan, kata Hendra, biasanya dilakukan untuk mengangkat pamor artis-artis pendatang baru. Artis sangat  membutuhkan pemberitaan. Sering-tidaknya seorang artis diberitakan oleh media massa berpengaruh terhadap tawaran kerja (jobs order) mereka. “Produser hiburan tidak mau memakai artis yang tidak populer,” jelas Hendra.

 

Maka tak heran jika pada acara jumpa pers tadi sang pengarah acara merasa perlu mengatakan Julia sudah dikontrak untuk bermain tujuh film pada tahun ini.

 

Imbalan jutaan rupiah untuk media infotainmen dari pihak sang artis jelas ada. Namun, Hendra enggan menyebut angka pastinya. Uang itu kadang dibayar di muka, kadang juga dibayar setengah di awal, dan dilunasi ketika berita sudah ditayangkan. 

 

Namun, tidak semua permintaan berita settingan artis pendatang baru mereka terima. “Kita juga melihat bakat dan penampilan sang artis. Kalau tidak berbakat dan tidak menarik, untuk apa diberitakan?” tukas dia.

 

Picu Angka Perceraian

 

Hal senada juga diungkap Prima Gerda Pratiwi, mantan koordinator liputan infotainmen Potret Selebriti Terkini (Poster). Pratiwi mengaku terganggu dengan jurnalisme gosip yang selama ini dilakoninya.

 

"Berita infotainmen terkadang membuat pasangan yang harmonis jadi bercerai dan pasangan yang awalnya putus baik-baik jadi saling bermusuhan," keluh Pratiwi seperti dikutip situs berita detik.com.

 

Itu sebabnya hingga saat ini Pratiwi tidak lagi mau bekerja di infotainmen atau media gosip. Namun diakuinya, tayangan

seputar gosip memang sangat diminati pemirsa. Hal ini terlihat dari rating yang dikeluarkan lembaga survei AC Nielsen setiap hari Rabu. Menurutnya, hasil survei AC Nielsen tersebut menjadi pijakan dalam setiap rapat redaksi infotainmen untuk menggarap tayangan berikutnya.

 

Terkadang, ujar Pertiwi, bila tidak ada gosip yang dianggap menarik, redaksi melakukan berita settingan terhadap salah satu artis supaya beritanya bisa menjual dan diminati pemirsa. Ini dilakukan untuk meningkatkan perolehan rating yang tinggi.

 

"Kalau ratingnya jeblok, PH (rumah produksi) yang menggarap infotainmen nggak akan dikontrak lagi (oleh) stasiun televisi. Makanya infotainmen berlomba menyajikan berita-berita yang berbau gosip atau skandal artis. Kalau tidak ada gosip yang panas, redaksi akan menyettingnya," ujar Pratiwi membeberkan.

 

Menteri Agama, Suryadharma Ali, mencoba menghubungkan maraknya infotainmen ghibah dengan angka perceraian di Indonesia. Katanya, pada tahun 1980-an, angka perceraian berkisar 60 ribu per tahun. Namun dalam lima tahun terakhir, angka itu menanjak tajam.

 

Dari rata-rata dua juta perkawinan setiap tahun, tercatat 200 ribu angka perceraian per tahunnya. “Bahkan pada tahun 2005 terjadi 500 ribu perceraian,” ungkap Suryadharma saat menjadi pembicara dalam diskusi  bertajuk Infotainmen = Gibah? di Jakarta tengah bulan lalu. 

 

Korelasi antara tayangan infotainmen gibah dan perceraian, menurut Suryadharma, cukup jelas. Sebab, tokoh publik yang diberitakan infotainmen ghibah adalah idola masyarakat. Perilaku negatif sebagian kalangan artis, seperti selingkuh, konsumerisme, kehidupan glamor dan bebas, menjadi hal yang biasa akibat tayangan infotainmen.

 

Untuk itu, Suryadharma mengajak semua pihak agar berlaku jujur dalam melihat isi tayangan infotainmen. Ini harus mendapat perhatian khusus.  Sayangnya, penertiban tayangan infotainmen bukanlah wewenangnya.

 

Suryadharma mengatakan, pihaknya akan bekerjasama dengan Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, untuk mengatasi masalah ini.  “Ini membutuhkan kerja kolektif semua pihak.”

 

Perihal kaitan infotainmen dengan perceraian artis dan masyarakat, disanggah oleh Hendra. Menurutnya, yang memicu perceraian seorang artis adalah kuasa hukum atau pengacara sang artis sendiri, bukan pihak infotainmen.

 

Bahkan, kata Hendra, dengan mengetahui nama kuasa hukum seorang artis, pihak infotainmen bisa menebak dengan tepat perihal kasus dan vonisnya.

 

“Bila kuasa hukumnya si A, ujungnya adalah cerai. Atau, jika pengacaranya si B, maka kasusnya adalah KDRT (kekerasan dalam rumah tangga),” kata Hendra mengungkapkan.

 

Ketika seorang artis masuk ke dalam bisnis dunia hiburan, jelas Hendra lagi, tidak ada istilah privasi bagi orang tersebut. Semua gerak-gerik sang artis akan dipantau oleh para wartawan infotainmen. Hampir tidak ada ruang sembunyi, karena relasi wartawan infotainmen meliputi seluruh lokasi syuting, tempat hiburan, stasiun TV, bahkan para panitera pengadilan agama.

 

Karena itu tak heran bila tidak ada artis yang bisa melakukan cerai secara diam-diam. Sebab, pihak infotainmen mengenal seluruh panitera di pengadilan agama, khususnya kawasan Jakarta, Bogor, Tanggerang, Bekasi, Depok, dan Bandung.

 

Bikin Stress

 

Sementara itu, pengamat media massa Sirikit Syah mengatakan, banyak media dan wartawan kebingungan memahami konsep infotainmen. Ia menyebut contoh di luar negeri yang disebut "entertainment news", yaitu berita-berita dari dunia hiburan. Isinya tentang proses kreatif para seniman. Sementara di Indonesia, isinya hanya bikin stress.

 

“Misalnya, bagaimana memproduksi (film) Avatar, berapa biaya produksi (film) Lord of the Ring, siapa artis berbayaran paling mahal, peluncuran album atau single baru, perolehan box office, pakai baju apa Jenifer Lopez di ajang Grammy, siapa paling keren di karpet merah, dan seterusnya. Betul-betul tentang dunia hiburan dan tidak bikin stres. “

 

Ketika ditanya, apakah masyarakat terhibur dengan infotainmen bernilai gosip, ia justru menampik.

 

“Terhibur? Tidak. Siapa terhibur dengan berita artis A dan artis B mau cerai sampai tiga kali? Siapa terhibur dengan kabar ada artis yang punya istri simpanan lagi?” tambahnya.

 

Memakan bangkai

 

Hendra mengakui, jika infotainmen dikaitkan dengan agama memang tidak akan bertemu. “Itu memang ghibah dan namimah. Tapi itu sudah menjadi aturan main di dunia hiburan.”

 

Ahli fikih lulusan Universitas al-Azhar, Mesir, Dr Ahmad Zain an-Najah mengatakan, infotainmen ghibah jelas haram. Maka, mendapatkan rezeki dengan cara menyebarkan berita ghibah juga haram.

 

Mengutip Surat al-Hujurat (49) ayat 12,  Zain mengatakan, pelaku ghibah seperti orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri.  “... dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.”

 

“Tentunya yang mendengar dan menyetujui sama dosanya dengan orang yang melakukannya,” pungkas Zain.  [Ainuddin Chalik, Kukuh Santoso, Ibnu Syafaat, Surya Fachrizal /hidayatullah.com]

(read more ...)



 Selasa, 12/10/2010 10:38 WIB | email | print | share



Ihsan Dababseh, perempuan Palestina berusia 24 tahun itu tidak akan pernah melupakan pengalaman pahit dan menyakitkan saat ia ditawan oleh tentara-tentara Zionis Israel. Apalagi jika ia menyaksikan kembali rekaman video yang memperlihatkan bagaimana tentara-tentara Zionis itu telah melecehkan dan menghinakan martabatnya sebagai manusia.


Ihsan adalah perempuan Palestina dalam rekaman video yang beredar luas baru-baru ini. Rekaman video yang menggemparkan itu membuktikan kebiadaban tentara Zionis dalam memperlakukan warga Palestina yang menjadi tawanan mereka. Dalam video tersebut terlihat tentara-tentara Israel melecehkan Ihsan dengan cara menari-nari mengelilingi Ihsan dengan kondisi mata ditutup terlihat kebingungan dan ketakutan.


Sebelum diperlakukan seperti dalam rekaman video itu, Ihsan menjalani interogasi yang melelahkan dan menyakitkan fisik dan batinnya. Semuanya berawal ketika perempuan Palestina asal desa Nuba, Hebron bagian barat itu hendak mengunjungi seorang temannya di luar Hebron.


Pukul 08.00 pagi, ia melewati pos pemeriksaan tentara Israel di Asyun dan tanpa alasan yang jelas, tentara Zionis di pos tersebut menahannya. "Mereka (tentara Zionis)menyuruh saya berdiri di luar pos di tengah guyuran air hujan yang dingin, mereka menghina saya dan memukul saya," tutur Ihsan.


Setelah itu, ia dibawa ke ruang interogasi dan ditanyai selama empat jam tanpa jeda. Yang paling berat bagi Ihsan adalah mendengar penghinaan-penghinaan yang dilontarkan oleh para interogatornya. "Mereka mengancam akan menghancurkan rumah saya," ungkap Ihsan.


Ia melanjutkan, "Setelah meninggalkan ruang interogasi, sekitar sepuluh tentara Israel membawa saya ke sebuah dinding, mata sata ditutup dan saya diikat selama hampir satu jam. Lalu saya mendengar suara musik dan suara tentara-tentara yang sedang tertawa, suara gaduh dan saya merasakan ada gerakan-gerakan."


"Saya tidak tahu apa terjadi di sekitar saya. Saya berhasil menggerakan sedikit penutup mata saya dan melihat tentara-tentara Zionis itu sedang menari-nari mengelilingi saya. Saya ketakutan dan berusaha merapatkan tubuh saya ke dinding untuk melindungi diri saya," sambung Ihsan.


Ia sempat mendekam di penjara Israel selama dua tahun. Di hari kebebasannya, rekaman video itu beredar. Ihsan mengontak sebuah organisasi advokasi untuk warga Palestina yang menjadi tawanan Israel dan mengatakan bahwa gadis yang ditutup matanya di rekaman video itu adalah dirinya.


"Secara kebetulan saya menyaksikan berita di televisi dan melihat rekaman video itu ditayangkan. Saya sangat terkejut, syok sekaligus sangat sedih karena video mengingatkan saya pada pengalaman pahit dan penyiksaan yang saya alami saat diinterogasi oleh tentara-tentara Israel. Meskipun saya sudah bebas, melihat video itu membuat hati saya sakit," ungkap Ihsan.


Didampingi organisasi advokasi yang ia hubungi, Ihsan mengadukan tentara-tentara Zionis Israel yang telah menghina dan menyiksanya. Komite Anti-Kekerasan di Yerusalem menawarkannya bantuan hukum dan organisasi advokasi memberinya bantuan dana untuk proses pengadilan melawan tentara Israel. Namun Ihsan menolak tawaran bantuan dari organisasi hak asasi Israel, Btselem. Ia juga menyatakan tak percaya pada penyelidikan yang dilakukan militer Israel.


"Saya menolak bantuan Btselem dan saya tidak percaya dengan investigasi militer Israel. Investigasi yang mereka lakukan cuma ilusi, karena mereka tidak pernah menghukum pelaku kejahatan terhadap warga Palestina," tukas Ihsan.


Ihsan mengaku senang rekaman video itu beredar, tapi tidak mau berharap para pelakunya akan dimintai pertanggung jawaban. "Dari rekaman video itu, setidaknya dunia melihat kebiadaban penjajah dan perilaku tentara-tentara Zionis yang mempermalukan, menghina dan melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia serta hukum internasional," tegas Ihsan.


Ihsan menceritakan buruknya perlakuan yang diterima warga Palestina di penjara Israel. "Para tawanan dilecehkan, ditelanjangi dan diperlakukan dengan keji sebelum dijebloskan ke penjara. Kami tidak diberi makanan yang layak dan kami bergantung pada makanan dari kantin yang harus kami beli. Kami dilarang menerima kunjungan dari anak-anak kami, kami diisolasi dari dunia agar tidak tahu apa terjadi di luar sana," tutur Ihsan.


Ihsan cuma satu dari sekian banyak perempuan Palestina yang masih mendekam di penjara-penjara Zionis Israel. Para perempuan Palestina itu menjadi korban tentara-tentara Zionis yang kerap menangkapi warga Palestina tanpa alasan yang jelas. Semoga Allah Swt memberikan kekuatan dan kemuliaan bagi para perempuan-perempuan Palestina yang menjadi korban kebiadaban Zionis Israel itu. (ln/PalNews)


(read more ...)



 Memasuki bulan rajab, sebagian umat islam sibuk dengan berbagai amalan. Ada yang melaksanakan puasa rajab, shalat khusus di bulan Rajab, Umroh, dan juga peringatan isra’ dan mi’raj nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.


Islam telah menetapkan bahwa bulan rajab ini adalah salah satu di antara empat bulan haram (suci). Pensucian bulan dalam islam ini berkaitan dengan kemuliaan bulan-bulan tersebut dan besarnya pahala atau dosa bagi yang melakukan kebaikan atau kemungkaran padanya. Dan di antara hikmah disucikannya bulan-bulan ini, umat islam mendapatkan keamanan untuk melakukan perjalanan dalam rangka menunaikan ibadah haji.


Meskipun islam memasukkan bulan Rajab ke dalam daftar bulan-bulan suci, namun Islam tidak mengajarkan adanya sebuah amalan khusus untuk dilaksanakan ada bulan ini. Tidak ada sunnah untuk melaksanakan puasa khusus di bulan Rajab, umrah khusus, atau pun peringatan Isra’ dan Mi’raj.


Dalam persoalan isra’ dan Mi’raj, umat Islam mempercayai adanya dan terjadinya, karena riwayat-riwayat yang menerangkan sampai ke derajat mutawatir. Tetapi di balik mutawatirnya riwayat tentang adanya peristiwa itu, terjadi perselisihan di kalangan ulama’ tentang kapan terjadinya peristiwa itu. Syaikh Mubarakfuri di dalam ar-Rahiqul Makhtum menyebutkan beberapa pendapat tentan terjadinya isra’ dan Mi’raj, sebagai berikut;



  1. Ath-Thabari berpendapat bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi bersamaan dengan diangkatnya nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai rasul. Maknanya hal ini terjadi di tahun pertama kenabian.

  2. Al-Qurthubi dan an-nawawi berpendapat, Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tahun kelima setelah nabi Muhammad diangkat menjadi seorang Rasul.

  3. Al-Manshurfuri berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun kesepuluh setelah kenabian.

  4. Ada pendapat yang menyatakan bahwa peristiwa itu terjadi setahun sebelum Hijrah Nabi, pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ketiga belas setelah kenabian.

  5. Ada juga yang berpendapat bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi enam bulan sebelum hijrah rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

  6. Dan ada yang menyatakan terjadi dua bulan sebelum hijrah beliau ke Madinah.


Dari sekian pendapat tentang kapan persisnya isra’ dan mi’raj terjadi, tidak satu pun pendapat yang didasari dengan riwayat yang shahih. Dari sini, tidak ada satu pendapat yang lebih kuat dari pendapat yang lain. Semuanya memiliki bobot yang sama, sehingga tidak bisa dikuatkan atas pendapat yang lain.


Hanya saja, setelah mengemukakan beberapa pendapat ini, syaikh Mubarakfuri menjelaskan bahwa ketiga pendapat pertama tertolak, karena isra’ dan Mi’raj terjadi setelah wafatnya paman beliau dan isteri beliau. Sementara isteri beliau wafat pada bulan Ramadlan tahun ke sepuluh setelah kenabian. Ketika Khadijah wafat, belum turun kewajiban menunaikan shalat lima waktu, karena perintah shalat ini diturunkan dalam peristiwa mi’raj nabi saw ke sidratil Muntaha.


Penjelasan Syaikh Mubarakfuri tersebut di atas, memberikan pengertian bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj itu ada, tetapi waktu terjadinya peristiwa ini tidak tercatat dalam sejarah. Maka umat islam hanya berkewajiban mempercayai adanya peristiwa itu saja. Tidak ada kewajiban meyakini kapan waktunya, apalagi kewajiban memperingatinya. Dengan mempertimbangkan lemahnya pendapat yang menyatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab, maka jelas tidak logis kalau Islam mengajarkan adanya peringatan Isra’ dan Mi’raj di bulan Rajab.


Dilupakannya waktu terjadinya isra’ dan mi’raj tentu memiliki makna pula. Dan di antara hikmah dilupakannya kapan peristiwa ini terjadi adalah agar umat islam tidak terbebani untuk melaksanakan peringatan. Andaikata toh Islam mengajarkan peringatan itu, tentu Rasulullah saw memerintahkan para shahabatnya untuk melakukan peringatan. Sebab tidak ada satu bagian dari agama islam ini yang tercecer, belum diajarkan oleh rasulullah saw. Firman Allah;


“Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamuni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhaiislam itu jadi agama bagimu” (al-maidah:3)


Dan jika peringatan Isra’ dan mi’raj ini disyari’atkan, tentu tidak akan ada perselisihan tentang kapan terjadinya peristiwa isra’ dan mi’raj, dan para shahabat pun akan menjelaskan apa yang harus dilakukan. Sebab para shahabat telah menyampaikan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah tanpa dikurangi. Memang salah satu dari shahabat bisa kurang dalam menyampaikan sesuatu, tetapi tidak akan ada kesepakatan di antara shahabat untuk mengurangi ajaran Islam.


Karena itulah, hal yang terpenting yang menjadi alasan tidak perlunya ada peringatan adalah karena tidak adanya tuntunan dalam agama Islam. Rasulullah saw bersabda;


مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ


“Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak kami perintahkan maka amalan itu tertolak” (HR Muslim)


Kadang-kadang orang beralasan, apa jeleknya sih mengadakan peringatan isra’ mi’raj. Toh pengajian itu ada manfaatnya yang sangat besar.


Pertanyaan semacam ini adalah sebuah kerancuan dalam berfikir. Memang benar pengajian itu tidak ada jeleknya. Tetapi jeleknya adalah karena menyelisihi sunnah Rasulullah saw. Keyakinan adanya ajaran untuk memperingati hari-hari tertentu dalam islam adalah sebuah penyimpangan dari sunnah. Jika kebaikan bercampur dengan kejelekan, maka kaidah fiqih menyatakan;


Menghindarkan keburukan harus didahulukan atas mendatangkan manfaat.


Maknanya, jika dalam sebuah aktifitas terkandung kebaikan, tetapi juga ada sisi negatifnya, maka hendaklah aktifitas itu ditinggalkan. Memang ada manfaat, tetapi ada efek samping yang negatif. Islam mengajarkan agar amal itu tidak berefek negatif, sehingga jika suatu amal ada efek negatif harus dihentikan.


Lalu kapan diadakannya pengajian?


Nah, justru itulah yang harus difikirkan. Agar pengajian untuk masyarakat tidak hanya dilaksanakan dalam peringatan saja, tetapi justru harus dilaksanakan secara rutin dan berkala. Pengajian yang diselenggarakan dalam sebuah peringatan tentu tidak akan beranjak dari persoalan itu-itu saja. Mungkin hanya berbeda tinjauan dan cara menyampaikan. Sedangkan persoalan lainnya, tentang tafsir al-Qur’an, sejarah nabi, aqidah, akhlak dan yang lainnya, kapan mengajarkannya? [muslimdaily.net]


 

 

(read more ...)



 Kaum misionaris Kristen pun berusaha memisahkan antara keislaman dan keindonesiaan. Baca CAP Adian Husaini ke-290




Oleh: Dr. Adian Husaini*




DISKUSI
 Sabtuan INSISTS, Sabtu,  24 Juli 2010 lalu membahas tema “Kristenisasasi dan Budaya Jawa”.  Berbicara dalam acara itu  adalah Susiyanto,  peserta Program Kaderisasi Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Program Magister Pemikiran Islam—Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam diskusi, ia sekaligus meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Strategi Misi Kristen Memisahkan Islam dan Jawa (2010).



Dalam CAP ke-275 lalu, saat membahas tentang Perayaan Natal Bersama, kita sudah menyinggung tentang strategi budaya dalam penyebaran misi Kristen di Indonesia. Strategi budaya ini tampaknya digunakan untuk menggusur citra yang melekat pada bangsa Indonesia bahwa Kristen adalah agama penjajah. Kaum misionaris Kristen pun berusaha memisahkan antara keislaman dan keindonesiaan. Salah satu contoh adalah upaya mereka untuk mencegah penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia.



J.D. Wolterbeek dalam bukunya,  Babad Zending di Pulau Jawa,  mengatakan: “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.” 



Senada dengan ini, tokoh Yesuit Frans van Lith (m. 1926) menyatakan: “Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. (Seperti dikutip oleh Karel A. Steenbrink, dalam bukunya, Orang-Orang Katolik di Indonesia).



Para pandakwah Islam yang datang ke wilayah Nusantara telah melakukan suatu proses Islamisasi bahasa dan budaya Nusantara. Bahasa Melayu telah di-Islamkan. Banyak kosa kata Melayu yang diubah konsepnya dan diisi oleh kosa kata yang berasal dari Islamic basic vocabulary (kamus dasar Islam).  Istilah-istilah baru seperti “ilmu, adil, adab, hikmah, rakyat, musyawarah, daulah, wujud, dan sebagainya dimasukkan menjadi kosa kata Melayu. Dengan itu, bisa dipahami, jika belajar bahasa Melayu menjadi identik dengan belajar Islam. Bahkan, hingga kini, istilah Melayu di Malaysia, identik dengan Islam. seorang disebut sebagai “Melayu” jika dia beragama Islam.



Para pendakwah Islam juga berhasil melakukan proses akulturasi budaya Islam dengan budaya Jawa. Mayoritas orang Jawa kemudian memeluk agama Islam dan mereka sulit dipisahkan dengan keislaman. Karena itulah, tidak mudah mengubah agama orang Jawa menjadi Kristen. Sulitnya orang Jawa ditembus misi Kristen digambarkan oleh tokoh misi Katolik, Pater van den Elzen, dalam sebuah suratnya bertanggal 19 Desember 1863:



Orang Jawa menganggap diri mereka sebagai Muslim meskipun mereka tidak mempraktekkannya. Mereka tidak bertindak sebagai Muslim seperti dituntut oleh ajaran “Buku Suci” mereka. Saya tidak dapat mempercayai  bahwa tidak ada satu pun orang Jawa menjadi Katolik semenjak didirikannya missi pada tahun 1808. Dulunya Jawa ini sedikit lebih maju daripada sekarang ini. Sejak tahun 1382, ketika Islam masuk, Jawa terus mengalami kemunduran. Saya dapat mengerti sekarang, mengapa Santo Fransiskus Xaverius tidak pernah menginjakkan kakinya di Jawa. Tentulah ia mendapat informasi yang amat akurat tentang penduduk di wilayah ini, termasuk Jawa. Dan Portugis yang telah berhasil menduduki beberapa tempat disini menganjurkan agar ia pergi ke Maluku, Jepang, dan Cina,  karena tahu tak ada apa-apa yang bisa dibuat di Jawa. Akan tetapi, dalam pandanganku di pedalaman toh ada sesuatu yang dapat dilakukan.”


 


Melihat fenomena itu, kaum misionaris Kristen kemudian membuat satu strategi budaya. Banyak misionaris menampilkan diri sebagai tokoh-tokoh budaya Jawa dan membuat berbagai upaya agar orang Jawa bisa berpandangan bahwa Kejawaan lebih identik dengan Kekristenan, ketimbang dengan Keislaman. Ringkasnya, orang Jawa lebih cocok menjadi Kristen ketimbang menjadi Islam. Sebab, Islam adalah agama Arab yang hanya cocok untuk orang Arab, bukan untuk orang Jawa. Sedangkan Kristen sudah mengalami proses akulturasi dengan budaya Jawa, sehingga lebih cocok untuk orang Jawa.



Dalam kaitan inilah, buku Susiyanto tersebut membedah liku-liku kiat misionaris yang didukung oleh orientalis Belanda untuk menjauhkan orang Jawa dari Islam.  Sebagai contoh, dibuat kesan pada anak didik di sekolah-sekolah melalui pelajaran sejarah, dengan cara mengangkat kebudayaan Hindu dan Budha sebagai warisan agung leluhur bangsa. Seolah-olah Indonesia besar dan jaya di masa Kerajaan Hindu dan Budha. Kedatangan Islam kemudian menghancurkan kejayaan Indonesia tersebut.



Berbagai peninggalan fisik di masa Hindhu Budha – seperti candi-candi  dan sejenisnya -- diangkat sedemikian rupa, sehingga menggambarkan kejayaan Indonesia di masa lalu, di zaman pra-Islam. Candi diangkat sebagai simbol  “kebesaran” bangsa Indonesia di masa lalu. Padahal, ungkap Susiyanto dalam diskusi tersebut, kebudayaan candi pada masa dibangunnya,  sebenarnya tidak pernah menjadi bagian dari “jiwa” masyarakat Jawa. Candi-candi tersebut dibuat untuk mengokohkan kewibawaan kasta Brahmana dan Ksatriya. Sementara rakyat jelata, yang umumnya berasal dari kasta Sudra, seringkali dilibatkan dalam proses kerja paksa saat pembangunannya. Jadi proses pembangunan candi sebenarnya merupakan simbol ketertindasan kalangan rakyat jelata oleh kekuasaan yang berada di atasnya. Akan tetapi penderitaan rakyat yang bersifat demikian ini jarang ditampilkan dalam buku-buku sejarah maupun pewacanaan kebudayaan yang saat ini beredar.



Susiyanto juga mengingatkan bahwa usaha-usaha membangkitkan kebudayaan lama sebagai warisan bangsa yang dianggap luhur ini di negeri-negeri Islam, memiliki kepentingan strategis yang lebih besar. Tujuannya tak lain untuk mendistorsi ajaran Islam dan melepaskan pengaruh Islam di masyarakat. Sebagai contoh seorang orientalis Barat bernama Ceyler T. Young mengakui hal tersebut sebagai berikut: “Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut”.



Usaha-usaha orientalis dan misionaris di era penjajahan, ternyata masih dilanjutkan pada era kini. Sejumlah buku yang hadir dari kalangan misionaris masih melanjutkan agenda untuk memarginalkan peran Islam. Bambang Noorsena misalnya, seorang tokoh Kristen Orthodoks Syria, dalam karyanya yang berjudul ”Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen” berusaha membuktikan bahwa Kristen merupakan ajaran agama yang secara teologis mampu berinteraksi dengan ajaran Kejawen. Bambang Noorsena juga berusaha membuktikan bahwa sejumlah karya sastra Jawa memiliki kecenderungan menerima Kristen dan anti terhadap Islam.



Dalam kajian yang berlangsung di sekretariat INSISTS tersebut, Susiyanto telah membuktikan bahwa argumentasi yang digunakan oleh Bambang Noorsena untuk mempertahankan gagasannya adalah lemah dan tidak berdasar. Bambang Noorsena juga melakukan sejumlah manipulasi terhadap buku-buku yang digunakan sebagai referensi. Contoh yang jelas adalah manipulasinya  terhadap karya B.M. Schuurman berjudul ”Pambijake Kekeraning Ngaurip”.



Dalam buku tersebut, Schuurman menemukan, Serat Dewa Ruci tidak mengandung nilai-nilai Kristiani, karena tidak mengakui dosa asal. Sebaliknya, Bambang Noorsena memanipulasi karya Schuurman, dan menyimpulkan bahwa Serat Dewa Ruci bisa dipertemukan dengan nilai-nilai Kristen. Serat Dewa Ruci itu sendiri merupakan cerita populer di Jawa yang tidak jelas benar penulisnya. Ada yang menyebut, cerita itu ditulis oleh Sunan Kalijaga. Tetapi, tidak dapat dipastikan. Serat ini menceritakan pertemuan Bima dan Dewa Ruci di dasar Samudera yang bertubuh mungil, tetapi mampu dimasuki oleh tubuh Bima yang jauh lebih besar.



Dalam kajian-kajian tentang sejumlah karya sastra Jawa, Bambang Noorsena mencoba memanipulasi karakter Nabi Isa yang berasal dari konsepsi Islam dengan mendistorsinya sebagai karakter Kristus yang berasal dari konsepsi Kristen. Karya orientalis dan misionaris semisal Philip van Akkeren sering digunakan oleh Bambang Noorsena untuk menguatkan argumentasinya. Padahal, karya-karya itu sendiri sudah mengandung manipulasi.



Contohnya adalah karya Philip van Akkeren yang berjudul “Sri and Christ: A Study of the Indigenous Church in East Java”. Dalam buku ini,  van Akkeren berupaya mengkaji kisah Aji Saka dalam Serat Paramayoga karya R. Ng. Ranggawarsita. Hasilnya, Van Akkeren menyimpulkan bahwa Ranggawarsita, pujangga Jawa, memiliki “ketertarikan” terhadap agama Kristen. Alasannya, karya tersebut memuat cerita tentang Nabi Isa. Van Akkeren menyebutkan bahwa sebelum datang ke Jawa, Aji Saka telah masuk ke dalam agama Kristen di Yerusalem.(Akkeren, 1970: 46)



Konklusi Philips van Akkeren ini kemudian diikuti oleh Bambang Noorsena yang sering menampilkan dirinya sebagai tokoh dialog lintas agama. Dalam bukunya, “Menyongsong Sang Ratu Adil : Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen”  Bambang Noorsena menggambarkan Aji Saka telah mengalami persentuhan dengan iman Kristen dengan menyembah Tuhan yang Maha Esa melalui Nabi Isa. Selanjutnya Noorsena mengutip pendapat Philip van Akkeren bahwa: ”dalam kisah Ranggawarsita ternyata simpati besar disisihkan bagi Kristus”. (Noorsena, 2007:209-210)



Sebenarnya, isi Paramayoga sendiri banyak mengambil inspirasi dari cerita pewayangan dan kisah para nabi mulai dari Adam hingga Muhammad. Awalnya, Aji Saka berguru kepada Dewa Wisnu di India. Setelah semua ilmu mampu diserap, Dewa Hindhu itu menasihati agar mencari kesejatian hidup dengan melanjutkan berguru kepada seorang imam yang lebih mumpuni bernama Ngusman Ngaji. Pada era itu diceritakan bahwa Nabi Isa sedang mengemban risalah di kalangan Bani Israil. Aji Saka meminta ijin kepada gurunya untuk menjadi sahabat (murid) Nabi Isa. Ngusman Ngaji tidak mengijinkan, sebab ia mengetahui takdir bahwa Aji Saka akan menjadi pengikut setia Nabi Muhammad dan menghuni Pulau Jawa.



Statemen sang guru dalam Paramayoga diuraikan sebagai berikut:


”Hal ini tidak kuijinkan, sebab engkau kelak harus mengabdikan dirimu sepenuhnya kepada Tuhan, tetapi itu bukan pekerjaanmu. Takdir menghendaki engkau menempuh karir panjang. Telah ditentukan, engkau akan menghuni Pulau Jawa yang panjang, di tenggara India. Jangan lupakan nubuatan ini. Dikemudian hari akan ada nabi lain dari Allah, yang terakhir, yang tidak ada bandingannya, bernama Muhammad, utusan Allah, yang telah memberi cahaya bagi dunia dan dilahirkan di Makkah. Engkau akan menjadi sahabat dekatnya”.(Akkeren, 1970:46).



Paramayoga memang menggambarkan bahwa tokoh Aji Saka yang ditakdirkan berumur panjang sempat bergaul dengan Nabi Isa.



Namun sebagaimana pesan gurunya, bukan ”panggilan” melainkan sekedar mengisi ”kekosongan” dalam penantian yang panjang kedatangan Nabi Muhammad. Jika dicermati, kisah Nabi dalam Paramayoga yang dimulai sejak era Adam hingga Nabi Muhammad lebih menunjukkan bahwa karya ini berusaha menampilkan kisah yang berasal dari konsepsi Islam, termasuk kisah tentang Nabi Isa. Sama sekali tidak terdapat cerita bahwa Aji Saka menganut Agama Kristen atau terkait Kristus yang berasal dari konsepsi Kristen.



Dengan demikian klaim, Van Akkeren dan Bambang Noorsena bahwa kisah Aji Saka merupakan titik perjumpaan antara Kristen dan Kejawen boleh dikatakan sekedar manipulasi belaka.



Upaya lain yang tersohor untuk memisahkan antara Islam dan Jawa dilakukan melalui penerbitan Serat Darmogandul.  Kitab yang hingga kini tak jelas penulisnya itu memiliki ciri yang kental dengan semangat anti-Islam, pro-Kristen, dan pro-penjajah Belanda. Sikap anti-Islam ditujukan misalnya, kitab Arab (Al Quran) harus ditinggalkan dan diganti Kitab Nabi Isa (Injil).  Sedang sikap pro-Kristen terungkap dengan diangkatnya cerita Dawud-Absalom, Dawud-Uria, pohon pengetahuan, dan sejenisnya yang bersumber dari Perjanjian Lama serta mendukung misi Injil di Jawa.



Dukungannya terhadap penjajah ditunjukkan dengan pujian bahwa Belanda yang beragama Kristen adalah penyembah Tuhan yang benar dan lurus pengetahuannya.



Dalam bukunya, Susiyanto banyak memuat kutipan-kutipan isi Serat Darmagandul dalam bahasa aslinya (Jawa) yang menunjukkan bagaimana kitab ini seperti sengaja ditulis untuk menanamkan kebencian orang Jawa pada Islam dan para wali penyebar agama Islam di tanah Jawa. Isi kitab ini masih terus disebarkan ke tengah masyarakat Jawa, sampai sekarang. Koran Solo Pos, misalnya, menurunkan serial Darmagandul  dalam sejumlah edisi penerbitannya. Serat ini juga banyak dijadikan rujukan dalam penulisan buku-buku sejarah nasional Indonesia.



Ironisnya, banyak orang tua Muslim yang tidak peduli, bahwa anak-anaknya di sekolah sekarang sedang dicekoki cerita-cerita sejarah yang justru mengecilkan peran Islam dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Inilah salah satu arti penting kehadiran buku Susiyanto ini: meluruskan sejarah Islam Indonesia yang selama ini banyak dimanipulasi oleh pihak lain.  [Depok, Juli 2010/hidayatullah.com]

(read more ...)




Sejak bergulirnya revolusi Iran dibawah kepemimpinan Imam Khomeini, Iran berubah menjadi sebuah Negara digdaya di kawasan Arab. Kekuatan militer mereka berkembang pesat. Pun, mereka kerap melayangkan kritik tajam terhadap kebijakan-kebijakan barat yang diskriminatif, dimana hanya negara- negara yang bernyali yang bisa melakukan hal tersebut. Tak pernah gentar terhadap gertakan Negara adidaya AS seputar pengembangan teknologi nuklirnya. Dan seringkali pula menunjukkan kepeduliannya atas negeri-negeri muslim yang lemah dan terjajah, walaupun hanya sekedar memberikan komentar pedas dalam forum-forum dunia. Dan begitu besar sikap permusuhannya terhadap Israel Yahudi yang telah banyak menelan jiwa kaum muslimin.


Sepak terjang Iran telah banyak  menarik simpati kaum muslimin dunia. Pasca runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani, kaum muslimin telah kehilangan pelindungnya. Dan kini Iran muncul menentang kezhaliman dunia Barat (kafir) terhadap dunia Islam ditengah kebisuan dan ketidakberdayaan para pemimpin-pemimpin negeri Arab. Hmmm..apakah Iran akan menjadi bagian dari seri sejarah keperkasaan  Islam?


Secara kasat mata memang seperti itulah adanya. Namun sejarah telah berkata lain tentang Iran yang berakidahkan Syiah Ghulat. Lihatlah bagaimana syiah mempunyai andil atas terbunuhnya sahabat Rosululloh shalallohu alaihi wa sallam   yang mulia, Ali bin Abi Thalib. Begitu juga pengkhianatan mereka atas Husein rodhiallohu ‘anhu. Dan tak akan hilang dari catatan sejarah bagaimana syiah berkonspirasi dengan pasukan Tar-Tar untuk mengkudeta kepemimpinan Harun Ar-Rasyid. Sejarah justru bertutur bahwa Syiah adalah musuh besar bagi kaum muslim sunni.


Lalu bagaimana dengan Syiah Iran saat ini? Tindak-tanduknya memang terlihat pro terhadap Islam, tapi wajib diketahui bahwa orang-orang syiah adalah orang – orang yang pendusta. Saat ini mereka berkata A, sedetik kemudian mereka berpaling akan berubah menjadi B. Hal ini karena mereka memasukkan dusta sebagai bagian dari akidah (taqiyah). (Alkafi 2/219)


Banyak fakta telah terungkap bahwa pada kenyataannya permusuhan Iran justru tertuju kepada Islam itu sendiri. Lihatlah di Ibukota Iran, Teheran. Silahkan Anda hitung berapa banyak Masjid-Masjid Sunni jika dibandingkan dengan Sinagog (tempat peribadatan orang-orang Yahudi) ?! Tidak ada satupun Masjid sunni berdiri disana, justru Sinagog bertebaran hingga lebih dari 45 buah! Padahal populasi muslim sunni di Iran adalah terbesar kedua setelah Syiah. Itu hanya secuil bukti ketimpangan amal perkataan dengan fakta lapangan. (suaramedia.com)


Mungkin banyak juga yang belum tahu kalau Imam Khomeini memimpin Revolusi dari tempat pengasingannya di Perancis. Tapi pasti kaum muslimin tahu kalau Perancis dan AS adalah sekutu intim. Tentu ada permainan diantara mereka bertiga; Khomeini, Perancis dan AS (dalam hal ini CIA). Pun pada masa kekuasaannnya Khomeni, Iran telah bermesraan dengan AS dan Israel. Kita bisa ketahui hal ini dalam kasus skandal “Iran kontra”.


Dan mungkin tidak banyak orang tahu kalau yang memuluskan jalan Amerika untuk menyerang Irak yang mayoritas Sunni salahsatunya adalah Syiah Iran. Syiah Iran mengizinkan kapal induk Amerika memasuki wilayah perairan Teluk Persia Iran dan menjadikannya sebagai basis militer angkatan laut dan udara Amerika. Mereka juga memberikan bantuan berupa pemberian informasi intelijen ke AS. Seandainya memang Iran pro terhadap kaum muslimin tentunya hal itu tidak akan terjadi.


Adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri lagi bahwa Syiah memiliki kebencian yang mendalam kepada Sunni. Kita bisa dapati hal tersebut pada kitab – kitab rujukannya. Jika kita mau sedikit saja berusaha mencari informasi tentang hal ini, maka itu sudah cukup bagi kita untuk dapat menemukan sekian banyak bukti kekejaman syiah terhadap sunni. Mereka tega membantai 500 orang sunni yang berada dipenjara dengan cara merubuhkan penjara tersebut. Mereka tega membantai orang sunni hanya lantaran memiliki nama para sahabat yang mulia; Abu Bakar, Umar, dan Utsman . Mereka tega menggantung para ulama Sunni dengan tuduhan – tuduhan yang tak berbukti. Apakah seperti ini kelakuan pelindung umat?! Tidak, mereka hanya melindungi diri mereka sendiri sebagai syiah bukan sebagai bagian kaum muslimin sebagaimana yang kerap mereka gembar – gemborkan dihadapan publik.


Kini Iran tengah berusaha mengekspor revolusinya ke berbagai negara, terutama wilayah Arab. Di Libanon, Suriah dan Bahrain, Syiah telah menancapkan ideologinya. Mereka berusaha menguasai negara – negara terusan Suez dengan maksud agar mempermudah suplai senjata kepada pejuang – pejuang mereka. Mereka telah masuk ke Eritrea yang miskin, dan sedang menuju ke gerbang laut merah yang mengontrol terusan Suez. Dari sini Iran dapat mengancam Yaman dan Arab Saudi dan meneruskan persenjataannya ke Sudan dan Mesir  Setidaknya itulah yang dikatakan oleh mantan panglima perang dan Ahli Strategi Mesir, Hussam Sweilem. Masih menurut Hussam Sweilem, bahkan Syiah Iran memiliki departemen tersendiri di kementrian dalam negeri yang menangani program ekspor ideology syiah ke luar negeri. (eramuslim.com)


Namun keberanian Syiah menentang hegemoni AS telah menawan sebagian kaum Sunni yang awam. Sungguh seandainya Syiah menjadi mayoritas di negeri ini, maka niscaya nasib kita akan serupa dengan nasib saudara – saudara kita di Iran.


(read more ...)



 Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam buat junjungan alam yakni Nabi besar Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam, keluarga beliau, sahabat – sahabat beliau Shallallahu’alaihi wa sallam dan orang – orang yang mengikuti jalan beliau sampai hari kiamat.




Amma Ba’du.

Sesungguhnya sebaik – baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik – baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam, seburuk – buruk perkara adalah hal – hal baru yang diada-adakan (Bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” [Shahih : Diriwayatkan oleh Imam Muslim]



Pembaca yang kami hormati. Semoga Allah menjaga kita semua nya.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda : ”Barangsiapa yang mengada – adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya (tidak berpedoman padanya), maka hal itu tertolak.” [Shahih : Hadits Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]



Didalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda : ”Barangsiapa yang melakukan suatu amalan (ibadah) yang bukan dari urusan (agama) kami, maka hal itu tertolak.”



Dari hadits diatas dapat kita simpulkan bahwa, Bid’ah itu adalah sesuatu yang baru didalam agama, yang tidak mempunyai dalil baik itu dari al-Quran maupun as-Sunnah, yang menyerupai peribadatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.



Jika kita sudah mengetahui apa itu bid’ah, sekarang apa hukumnya melakukan bid’ah. Segala bid’ah didalam urusan agama adalah sesat. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda : ”Oleh karena itu wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnah ku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang telah mendapatkan petunjuk. Gigitlah ia (dengan kuat) dengan gigi gerham. Hendaklah kalian menghindari perkara yang baru yang diada-adakan (bid’ah), karena semua perkara bid’ah adalah Sesat.” [Shahih : Diriwayatkan Abu Dawud, dan At-Tirmidzi, ia berkata ”ini hasan shahih. Dishahihkan oleh Al-Albani didalam Shahiihuj Jami’ no 2549]



Wahai saudara ku, semoga Allah merahmati mu.

Isra’ Mi’raj merupakan salah satu tanda dari sekian banyak tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan salah satu mukjizat yang Allah berikan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala ceritakan tentang ini didalam al-Quran surat (17) Al-Isra’.



Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Q.S Al-Isra’ ayat 1]



Diantara hal yang terjadi pada malam Isra’ Mi’raj ini adalah perintah Shalat. Yang awal nya diwajibkan sebanyak 50 kali. Setelah itu, dengan kasih dan sayang nya Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada umat Islam. Lalu dikurangi hingga menjadi 5 waktu.


 



Hadits tentang tawar menawar jumlah rakaat shalat, salah satunya ada dalam kitab "Mukhtashar Shahih Bukhari", karya Syaikh Albani, pada halaman 292, Bab Shalat hadits ke 193 dan 194.



Ibnu Syihab berkata, "Ibnu Hazm memberitahukan kepadaku bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah al-Anshari berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, Jibril lalu membawaku naik sampai jelas bagiku Mustawa. Di sana, aku mendengar goresan pena-pena. Ibnu Hazm dan Anas bin Malik berkata bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda, Allah Azza wa Jalla lalu mewajibkan atas umatku lima puluh shalat (dalam sehari semalam). Aku lalu kembali dengan membawa kewajiban itu hingga kulewati Musa, kemudian ia (Musa) berkata kepadaku, Apa yang diwajibkan Allah atas umatmu? Aku menjawab, Dia mewajibkan lima puluh kali shalat (dalam sehari semalam). Musa berkata, Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu. Allah lalu memberi dispensasi (keringanan) kepadaku (dalam satu riwayat: Maka aku kembali dan mengajukan usulan kepada Tuhanku), lalu Tuhan membebaskan separonya. Aku lalu kembali kepada Musa dan aku katakan, Tuhan telah membebaskan separonya. Musa berkata, Kembalilah kepada Tuhanmu karena sesungguhnya umatmu tidak kuat atas yang demikian itu. Aku kembali kepada Tuhanku lagi, lalu Dia membebaskan separonya lagi. Aku lalu kembali kepada Musa, kemudian ia berkata, Kembalilah kepada Tuhanmu karena umatmu tidak kuat atas yang demikian itu. Aku kembali kepada Tuhan, kemudian Dia berfirman, Shalat itu lima (waktu) dan lima itu (nilainya) sama dengan lima puluh (kali), tidak ada firman yang diganti di hadapan Ku. Aku lalu kembali kepada Musa, lalu ia berkata, Kembalilah kepada Tuhanmu. Aku jawab, (Sungguh) aku malu kepada Tuhanku. Jibril lalu pergi bersamaku sampai ke Sidratul Muntaha dan Sidratul Muntaha itu tertutup oleh warna-warna yang aku tidak mengetahui apakah itu sebenarnya? Aku lalu dimasukkan ke surga. Tiba-tiba di sana ada kail dari mutiara dan debunya adalah kasturi." [SHAHIH. Bukhari, bab Shalat no 193-194].

Sebagian besar kaum Muslimin, terutama dinegara kita ini. Menjadikan moment ini sebagai peringatan. Atau yang disebut dengan hari peringatan Isra’ Mi’raj. Mereka berkumpul – kumpul di masjid lalu mendengarkan ceramah tentang Isra’ Mi’raj ini. Bahkan ada yang berlebih – lebihan, berpesta dimasjid, makan dan minum. Apakah hanya sebuah peringatan saja Isra’ Mi’raj itu......! Setelah hari itu berlalu, maka habis tanpa meninggalkan apa – apa. Mereka meyakini bahwa Isra’ Mi’raj itu terjadi pada malam 27 Rajab.



Padahal para Ulama, baik yang dahulu maupun yang sekarang sepakat. Bahwa tidak ada satupun hadits dari Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam, baik itu hadits yang Shahih (Kuat), maupun hadits yang Dhaif (Lemah). Yang menjelaskan kapan terjadinya Isra’ Mi’raj ini. Bahkan para Ulama berselisih didalam menentukan nya.



A. Perbedaan Para Ulama Tentang Isra’ dan Mi’raj

1. Menurut Imam Az-Zuhri Rahimahullah : “Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi setahun sebelum beliau hijrah ke Madinah.” [Dala’il An-Nubuwwah (II/354), Imam Al-Baihaqi dan Tarikh Al-Islam (I/141), Imam Adz-Dzahabi].



2. Menurut Ibnu Ishak Rahimahullah : “Peristiwa itu terjadi kira – kira sepuluh tahun setelah Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam diutus sebagai rasul, yakni sebelum Abu Thalib dan Khadijah meninggalkan dunia.” [Sirah Ibnu Hisyam (I/396) dan Al-Bidayah wa An-Nihayah (III/107), Imam Ibnu Katsir]



3. Menurut Ismail As-Suda Rahimahullah : “Peristiwa Isra’ itu terjadi enam belas bulan sebelum Rasul hijrah.”



4. Menurut Imam Bukhari Rahimahullah : “Peristiwa Isra’ terjadi setelah kematian Abu Thalib.” [Fathul Baari (VII/196), Ibnu Hajar. Lihat pendapat ini didalam Seleksi Sirah Nabawiyah : Studi Kritis Muhaddits terhadap Riwayat Dhaif (hal 184), Syaikh Dr. Akram Dhiya’ Al-Umuri. Pustaka Darul Falah]



5. Menurut Al-Waqidi meriwayatkan dari beberapa gurunya bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi pada malam Sabtu, 17 Ramadhan tahun ke 12 dari kenabian, tepatnya delapan belas bulan sebelum Hijrah.



6. Sedangkan menurut guru-gurunya yang lain, kata Al-Waqidi Rahimahullah : “Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam melakukan Isra’ dan Mi’raj pada malam tanggal 17 Rabi’ul Awwal setahun sebelum Hijrah.



7. Al-Waqidi berkata : “Saya sendiri berpendapat, peristiwa itu terjadi pada tanggal 27 Rajab.” [Lihat perkataan Al-Waqidi ini didalam Al-Wafa (hal 200 – 201), Ibnul Jauzi. Pustaka Al-Kautsar]



Wahai saudara ku, semoga Allah merahmati mu.

Lihatlah, bagaimana para ulama tidak berani memastikan dengan benar. Kapan terjadinya Isra’ Mi’raj. Kalaulah hal ini merupakan hari raya atau peringatan bagi kita, atau ada satu syariat Ibadah pada Isra’ Mi’raj. Pasti Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam, para sahabat, dan para ulama lain nya. Telah sepakat tentang tanggal terjadinya Isra’ Mi’raj ini. Mari kita lihat tanggapan para Ulama tentang masalah perbedaan ini.



B. Tidak Ada Riwayat yang Sah tentang KAPAN Isra’ dan Mi’raj Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam.



Syaikh Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid hafizhullah berkata didalam Fiqih Sirah nya, beliau berkata : “Tidak ada riwayat yang menjelaskan tanggal terjadinya peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang dapat dijadikan sandaran. Oleh karena itu, terjadi perbedaan dalam hal ini dan beragam pendapat. Hal ini menunjukkan, sebagaimana telah kami katakan juga tentang tanggal kelahiran beliau Shallallahu’alaihi wa Sallam bahwa mala Isra’ dan Mi’raj bukanlah malam yang istimewa untuk melakukan ibadah. Tidak disyariatkan pada malam tersebut untuk meningkatkan ibadah, baik berupa shalat, umrah, ataupun sedekah. Seandainya malam tersebut memiliki keistimewaan khusus untuk beribadah, pasti akan ada penjelasnya untuk kita dapat menghilangkan keraguan dan perbedaan.” [Lihat, Fikih Sirah, hal 238]



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata : “Tidak ada dalil yang jelas tentang malam Isra’ juga bulan nya juga kepastian nya. Yang ada riwayat munqothi yang beragam. Tidak ada satupun yang kuat. Tidak disyariatkan bagi kaum Muslimin yang meyakini malam tersebut mengistimewakan dengan shalat dan lain nya.” [Zaadul Maad (I/58), Ibnu Qayyim. Lihat, Fikih Sirah, hal 239]



Al-Allamah asy-Syaikh Abu Umamah bin An-Naqqasy berkata : “Adapun malam Isra’ dan Mi’raj, tidak ada satupun riwayat, baik Shahih maupun Dhaif (Lemah) yang menjelaskan keistimewaan beramal pada malam tersebut. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam maupun sahabat tidak menjelaskan hal tersebut dengan sanad yang Shahih. Selain itu, tidak pernah ada saat ini hingga hari Kiamat yang menjelaskan hal tersebut. Siapa saja yang mengatakan tentang hal itu, itu hanyalah pendapat pribadinya saja yang mungkin ada pertimbangan tertentu. Oleh karena itu, banyak sekali pendapat – pendapat dalam hal ini yang bertolak belakang dan tidak ada satu pun yang shahih. Seandainya hal ini memberikan manfaat bagi umat sekalipun setitik, niscaya Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam akan menjelaskan nya.” [Al-Mawahib Ad-Diniyah (3/14), Imam Al-Qasthalani. Lihat Fikih Sirah hal 239]



Sebagian masyarakat meyakini bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Rajab, hal ini telah dibantah oleh Imam Asy-Syinqiti Rahimahullah.

Al-Imam Asy-Syinqithi berkata : “Tidak ada dalil yang Shahih maupun Hasan yang menjelaskan bahwa peristiwa Isra’ terjadi di bulan Rajab, yang sesungguhnya semua itu tidak memiliki dasar.” [Manhaj Tasyri Islami Wa Hikamatuhu, Imam Muhammad As-Syinqithi. Lihat, Fikih Sirah hal 239]



Al-Allamah Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah berkata : “Tentang kepastian terjadinya malam Isra’ dan Mi’raj ini tidak di sebutkan dalam hadits – hadits Shahih (Kuat), tidak ada yang menyebutkan bahwa itu terjadi pada bulan Rajab dan tidak pula pada bulan lain nya. Semua yang memastikan nya tidak benar berasal dari Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam. Demikian menurut para Ahli Ilmu. Allah mempunyai hikmah tertentu dengan menjadikan manusia lupa akan kepastian tanggal kejadian nya. Walaupun demikian, kepastiannya diketahui, kaum Muslimin tidak boleh mengkhususnya dengan suatu ibadah dan tidak boleh merayakan nya, karena Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam dan para sahabatnya Radhiyallahu’anhu tidak pernah merayakan nya dan tidak pernah mengkhususkan nya. Jika perayaan nya di syariatkan, tentu Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam telah menerangkan nya kepada umat ini, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Dan jika itu disyariatkan, tentu sudah diketahui dan dikenal serta dinukilkan dari pada sahabat beliau kepada kita, karena mereka senantiasa menyampaikan segala sesuatu dari Nabi mereka yang dibutuhkan umat ini, dan mereka tidak pernah berlebih – lebihan dalam menjalankan agama ini, bahkan merekalah orang - orang yang lebih dahulu melaksanakan setiap kebaikan. Jika perayaan malam tersebut disyariatkan, tentulah mereka manusia pertama yang melaksanakan nya. Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling loyal terhadap sesame manusia, beliau telah menyampaikan risalah dengan sangat jelas dan telah menunaikan amanat dengan sempurna. Seandainya memuliakan malam tersebut dan merayakan nya termasuk agama Allah, tentulah Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam tidak melengahkan nya tidak menyembunyikan nya.” [At-Tahdzir minal Bida’ hal 16 – 20. Lihat, Fatawa Terkini , jil 2 hal 430 - 435]



Alhamdulillah, dengan demikian jelaslah bagi kita. Bahwa malam Isra’ Mi’raj itu tidak memiliki keistimewaan yang khusus untuk kita beribadah. Sebagaimana yang dilakukan sebagian besar kaum Muslimin pada saat ini. Dan tidak ada satupun ibadah yang khusus pada malam tersebut. Maka dari itu peringatan Isra’ Mi’raj yang kita kenal selama ini. Termasuk kedalam hal – hal yang baru didalam agama ini. Karena tidak ada satupun hadits baik yang Shahih muapun yang Dhaif yang menjelaskan tentang kejadiaan nya ataupun ibadah apa yang harus kita lakukan. Dan sudah kita ketahui, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya sebaik – baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik – baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam, seburuk – buruk perkara adalah hal – hal baru yang diada-adakan (Bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” [Shahih : Diriwayatkan oleh Imam Muslim]



Maka dari itu, termasuk perintah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam adalah meninggalkan peringatan Isra’ Mi’raj. Karena amalan ini tidak ada dasarnya. Walaupun kita menganggap ini adalah suatu kebaikkan akan tetapi kebaikkan itu hanya ada pada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi wa sallam.



Seluruh ibadah yang berhubungan dengan hari tertentu, tanggal tertentu, sudah dijelaskan didalam al-Quran dan as-Sunnah. Contoh, ibadah puasa, maka masuknya ibadah puasa itu dengan masuknya awal bulan Ramadhan dan berakhir dengan masuknya bulan Syawwal, atau Idul Adha yang dijelaskan pada tanggal 10 Dzulhijjah, dan untuk di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah, dan disunnahkan untuk melakukan puasa sunnah setiap bulan pada tanggal 13, 14, dan 15.

Sebagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda :

“Ya Abu Dzar, apabila engkau hendak berpuasa tiga hari dalam satu bulan, maka berpuasalah pada (tanggal) tiga belas, empat belas, dan lima belas.” [Shahih : Diriwayatkan Tirmidzi dan Nasa’i]



Contoh lain lagi adalah Puasa hari Senin dan Kamis. Puasa hari Asyura dan banyak lagi. Semua ibadah yang berhubungan (berkaitan) dengan hari dan tanggal atau bulan tertentu sudah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam, baik itu kapan waktu nya maupun jenis ibadah yang harus dilakukan nya. Adapun Isra’ Mi’raj, maka tidak ada kejelasan dari Allah dan Rasul-Nya, karena tidak ada ibadah tertentu yang disyariatkan pada tanggal atau bulan tersebut. Dengan demikian, jelaslah bahwa peringatan Isra’ Mi’raj adalah suatu hal yang baru didalam agama ini, yang harus kita jauhi.

Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhu berkata : “Manusia akan senantiasa di jalan yang benar selama mereka mengikuti sunnah. Semua bid’ah adalah kesesatan, meskipun orang – orang menganggapnya baik.” [Diriwayatkan oleh al-Laalikaa’I]



Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah, dia berkata : “Ikutilah jalan – jalan petunjuk, jangan gentar dengan sedikitnya orang yang menitinya. Jauhilah jalan – jalan kesesatan (bid’ah) dan janganlah tertipu oleh banyaknya orang yang binasa karena mengikutinya.” [Al-I’tisham karya Imam asy-Syatibi]



Hanya Allah-lah yang dapat memberikan petunjuk. Semoga Allah mengampuni kita semua.



***



Maraji

1.Al-Quran dan Kitab – Kitab Hadits

2.Fikih Sirah, Syaikh Prof. Dr. Zaid bin Abdul Karim Az-Zaid. Darus Sunnah.

3.Seleksi Sirah Nabawiyah, Syaikh Dr. Akram Dhiya’ Al-Umuri. Darul Falah.

4.Al-Wafa, Imam Ibnu Jauzi. Al-Kautsar.

5.Fatawa Terkini, Disusun oleh Khalid Al-Juraisiy. Darul Haq

Dan lain – lain nya.



 


 
(read more ...)





Oleh : Abah Zacky


Kehidupan dunia pra-Islam, sesungguhnya sangat bengis terhadap wanita. Berbagai ajaran di dunia ini menempatkan wanita sebagai manusia kelas 2. Dalam tradisi Yahudi, misalnya seorang wanita yang sedang haidl tidak boleh berada di dalam rumah bersama suaminya. Karena dianggap kotor, seorang wanita tidak boleh makan bersama keluarganya, tidak boleh pula sekedar berteduh di dalam rumahnya. Sedangkan di dalam masyarakat Arab pra-Islam, kaum wanita bisa dianggap sebagai barang yang bisa diwariskan kepada anak lelaki. Tak jarang jika lahir bayi perempuan maka akan dikuburkan hidup-hidup.



Bahkan Yunani yang digambarkan sebagai masyarakat yang paling maju dan modern, masih menempatkan wanita dalam kedudukan yang tidak manusiawi. Di dalam masyarakat Yunani ada keyakinan bahwa wanita adalah penyebab segala penderitaan dan musibah yang menimpa manusia. Wanita dianggap sebagai makhluk yang paling rendah derajatnya. Dalam praktek kehidupan mereka, wanita tidak berhak duduk di meja makan sebagaimana laki-laki, terlebih-lebih manakala ada tamu asing, maka kedudukan wanita adalah sebagai seorang budak dan pelayan.


Dunia baru mulai memperhatikan nasib perempuan dalam tingkat internasional dan dalam format yang sangat jelas, pada tahun 1975. Perhatian itu ditandai dengan ditetapkannya tahun tersebut sebagai Tahun Perempuan International oleh PBB. Dan pada tahun tersebut diadakan konferensi dunia pertama tentang perempuan, di Mexico.


Kemudian pada tahun 1979, Majelis Umum PBB mengadakan konferensi dengan tema “Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Againts Woment , yang di singkat CEDAW (Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan) . Secara aklamasi , para peserta konferensi menandatangani sebuah piagam kesepakatan yang terdiri dari 30 pasal dalam 6 bagian yang bertujuan untuk menghapus semua bentuk diskriminasi terhadap perempuan tersebut. Dan yang lebih menarik lagi, kesepakatan ini diperlakukan secara “ paksa “ kepada seluruh negara yang dianggap sepakat terhadapnya, baik secara eksplisit maupun implisit.


Meskipun sejak pertengahan paruh kedua abad 20 gagasan kemerdekaan wanita sudah muncul, namun PBB tidak langsung menekan negara-negara di dunia untuk menyetujuinya. PBB menetapkan tahun 2000 M sebagai batas akhir bagi seluruh negara agar ikut menandatangani kesepakatan tersebut, sekaligus tahun itu di gunakan untuk menetapkan langkah-langkah strategis agar wanita muslimah dengan segera mengikuti dan mempraktekan kesepakatan tesebut.


Salah satu langkah strategis yang di tempuh adalah sosialisasi istilah “Gender“. Istilah ini maksudnya adalah untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi sosial- budaya. Sementara itu, “sex“ digunakan untuk mengindentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Sebagai contoh, memanjat, ojek, adalah peran laki-laki sedangkan memasak, memandikan anak adalah peran wanita. Pembedaan yang terakhir inilah yang dimaksud dengan gender.


Arah utama kajian gender ini adalah untuk menyosialisasikan kesetaraan peran sosial laki-laki dan wanita. Gerakan penyetaraan ini sering disebut dengan pengarusutamaan. Yaitu gerakan untuk membawa kaum wanita keluar dari peran pinggiran dalam kehidupan sosial.


Yang menarik dari perjuangan pengarausutamaan gender ini, aktifis-aktifis pejuang gender mengunakan term-term keagamaan untuk mengesahkan konsep mereka. Sebagai contoh, mereka mengambil konsep tauhid sebagai titik tolak menanamkan pemahaman kesetaraan gender. Azizah Y. Al-Hibri, salah seorang feminis Islam terkemuka menyatakan, ”Tauhid adalah konsep keagamaan yang paling dasar yang menyediakan prinsip-prinsip dasar mengenai kesetaraan”. Menurutnya, tauhid memberikan ide tentang kesetaraan metafisis atas laki-laki dan perempuan sebagai dua ciptaan Tuhan.


Masih menurutnya, hukum Islam harus didasarkan kepada apa yang dia istilahkan dengan divine logic (logika suci) di atas, dan tidak tunduk pada pandangan dunia yang susun temusun (hirarkis) sebagaimana yang dikenal di dalam keilmuan fiqh.


Sebagai lawan dari divine logic al-Hibri mengembangkan apa yang ia sebuat sebagai satanic logic (Logika setan). Menurutnya, logika setan inilah yang menyediakan perangkat pendukung bagi dunia patriarkhi. Sayangnya, kalangan ahli fiqh, menurut al-Hibri, dalam pekerjaan mereka banyak menggunakan logika setan. Bentuk logika ini dalam konteks fiqh Islam yang berkaitan dengan perempuan adalah laki-laki itu lebih tinggi kedudukannya di atas perempuan, atau disebut dengan dominasi patriarkhi. Hal yang menuruutnya aneh ketika logika ini mampu mendistorsi (membelokkan) makna teks al-Qur’an dari yang mendukung kesetaraan menuju kepada yang penindasan perempuan. Akibatnya, fiqh menjadi tidak memihak kepada perempuan untuk beberapa abad lamanya. Ijithad model demikian, menurutnya, tidak bisa diterima dan bertentangan dengan tauhid. Dengan demikian dalam pandangan al-Hibri, produk fiqh yang telah ditulis berabad-abad oleh ulama kita, bisa dibatalkan isinya karena masih kental dengan nuansa patriarkhisme.


Ringkas kata, al-Hibri memandang kesetaraan gender adalah logika suci (divine logic) sedangkan patriarkhi adalah logika setan. Kesetaraan gender adalah tauhid, sedangkan patriarkhi dalam pemikiran fiqih adalah ajaran setan. Penyimpangan dari divine logic tidak bisa ditolerir meskipun mempergunakan alasan hukum yang super canggih. Sedangkan inti divine logic adalah keesaan Tuhan dan selain Tuhan (ma siwa llahi) adalah memiliki martabat dan kedudukan yang setara. ]


Janji kemerdekaan bagi wanita oleh kaum feminis memang terdengar indah. Bagaimana tidak gerakan tersebut menjanjikan kemerdekaan, kebebasan dan masa depan perempuan. Maka ketika mendengar adanya gerakan pemerdekaan wanita, tentu kaum wanita merasa berbahagia. Para pecinta keadilan tentu merasa ada secercah harap yang terbit. Namun, tidak semua orang berpikir seperti, paling tidak ada seorang tokoh yaitu DR. Fuad Abdul Karim, justru menganggap konferensi yang mendorong lahirnya gerakan feminis ini sebagai konvensi tentang kaum perempuan yang paling berbahaya. Beliau menolak gagasan itu bukan karena tidak menyukai keadilan. Setidaknya ada tiga alasan yang beliau kemukakan atas penolakannya terhadap gagasan ini, yaitu :


Pertama : munculnya anggapan bahwa agama merupakan pemicu berbagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Akibat dari asumsi ini, lalu muncullah gerakan dekonstruksi terhadap ajaran-ajaran agama. Sebagai misal, istilah tauhid yang biasa difahami sebagai pengesaan Allah, difahami sebagai kesatuan dan kesetaraan martabat.


Kedua : mengaitkan hak-hak perempuan pada seluruh segi kehidupan seperti: ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain- lainya, dengan wordview Barat. Inilah titik yang paling krusial, bahwa kemerdekaan yang dimaksudkan adalah kemerdekaan dalam wordview barat. Bukanlah kemerdekaan dalam kacamata ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Bukti paling nyata dalam hal ini, bisa kita saksikan dari usulan Siti Musdah Mulia cs yang mengusulkan dibatalkannya kompilasi hukum islam. Sebagai contoh, mengusulkan agar dalam lembaga keluarga bukan hanya wanita yang memiliki masa iddah, tetapi lelaki juga harus memiliki masa iddah.


Ketiga : Konferensi tersebut, merupakan satu satunya kesepakatan yang mengikat kepada seluruh negara yang ikut menandatanginya , dan harus melasanakan segala isinya, tanpa boleh mengritik pasal-pasal yang ada di dalamnya. Ini sebuah ironi, kepada ajaran yang dibawa oleh Rasul mereka akan bebas menanyakan, tetapi terhadap kesepakatan itu mereka tak akan bertanya.


Dr Fu’ad adalah ikon penolakan saja. Sebenarnya banyak pula umat Islam yang tidak sreg kepada isi kesepakatan tersebut. Alasan utamanya adalah karena kemerdekaan dan kebebasan yang diusung dalam piagam tersebut adalah kemerdekaan ala barat. Bukan hanya kaum pria (Muslimin) yang menolak isu tersebut. Bahkan muslimat pun, jika masih kuat memegang ajaran agamanya, ia tidak akan tunduk begitu saja kepada logika Barat.


Secara keseluruhan, usaha memerdekakan kaum wanita oleh PBB, dan ditindak lanjuti dengan perjuangan para feminis sesungguhnya merupakan sikap berlebih-lebihan dalam memerdekakan wanita menuju ruang kebebasan mutlak. Dan model ini sesungguhnya adalah bentuk penghinaan wanita gaya baru. Wanita dieksploitasi dengan mengatasnamakan kemerdekaan.


[muslimdaily.net]



(read more ...)




Tak ada mendung, tiada hujan. Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar di tengah hari bolong. Persis seperti itulah kemunculan berita penangkapan teroris di Aceh dan Pamulang, Ciputat. Tapi berbeda dengan suara halililintar yang mengejutkan banyak orang, agaknya kabar terbaru tentang pemberantasan teroris kali ini tak membuat khalayak tercengang. Alih-alih terhenyak, publik justru menaruh curiga: Kok tiba-tiba ada teroris? Mengapa justru terkuak saat SBY sedang dirundung masalah Bank Century?


Di www.detik.com, ada sebuah postingan menarik dari pembaca: SBY Selalu Diuntungkan Densus 88, tulisnya. Benarkah demikian?


Sebuah isu, untuk kasus-kasus tertentu, menurut saya, tak lahir begitu saja ke permukaan. Dia tidak by accident; tp by design. Istilahnya: manajemen isu. Isu yang direncanakan akan diblow up sedemikianrupa dengan tujuan untuk menetralisir isu yang bisa merusak citra,; mengalihkannya dan berharap berdampak pada keuntungan sang pembuat isu.


Apakah penangkapan teroris di Aceh dan Pamulang adalah sebuah isu yang didesign? Sangat mudah menelaahnya: perhatikan momentum kelahiran isu tersebut dan adakah pihak yang diuntungkan dari hal itu. Ada tiga momentum munculnya isu trror kali ini: pansus Century, kunjungan SBY ke Australia dan semakin dekatnya kedatangan Presiden AS Barack Obama ke Indonesia.


Kita melihat teramat banyak kebetulan yang aneh. Pertama, penggerebakan teroris oleh Densus 88 di Aceh dan Pamulang dilakukan setelah gonjang-ganjing Pansus Century. Kita semua tahu, ujung dari pansus ini merusak citra positif SBY di mata publik. Berderet pertanyaan mengelitik bisa diajukan di sini: Mengapa penggerebekan dilakukan setelah pansus usai? Mengapa tidak dilakukan saat pansus masih ramai? Jika polisi beralasan belum cukupbukti untuk menangkap, argumen ini bisa dengan mudah dipatahkan.


Bukankah pengintaian telah dilakukan cukup lama? Masa sih sebegitu lama polisi tak memiliki bukti untuk langsung meggerebek mereka. Pada akhirnya, Densus 88 memilih untuk menggerebek pasca Pansus Century agar isu ini tidak tenggelam oleh Century yang jauh lebih seksi.


Keberhasilan penangkapan teroris, dalam konteks ini, tentu teramat menguntungkan SBY. Publik sejenak akan melupakan kasus Century. Sukses ini sekaligus diharapkan dapat mendongkrak kembali citra positif SBY yang sempat turun.


Kedua, isu teroris muncul saat SBY berkunjung ke Australia. Apa reaksi pejabat Negeri Kangguru itu saat SBY mengumumkan kematian Dulmatin di depan Parlemen setempat? SBY mendapat aplaus meriah. Puja puji pun mengalir deras membasahi tubuh SBY. “Ini adalah operasi yang sangat sulit dan memakan waktu panjang. Keberhasilan ini pantas diberikan untuk bangsa Indonesia lewat aparat keamanannya yang telah menunaikan tugas ini,”PM Australia Kevin Ruud.


Sementara itu media-media di Australia menggambarkan keberhasilan Indonesia sebagai kemenangan besar Polri. Pada titik ini, sangat penting bagi SBY untuk memberikan kabar gembira kepada pemerintah Australia. Salah satunya karena Australia telah banyak memberikan bantua dana untuk pemberantasan terorisme. Tahun 2004 saja, mereka berkomitmen meningkatkan bantuan bagi Polri dari Aus$ 10 juta menjadi Aus$ 20 juta untuk jangka waktu lima tahun. Sebagai pihak penerima bantuan, tentu saja SBY harus memberikan laporan yang menyenangkan, bukan?


Ketiga, isu teroris lahir hanya beberapa pekan menjelang kedatangan Presiden AS Barack Obama. AS, sebagai negara yang memimpin perang melawan teroris, akan sangat gembira jika ada negara yang “dipimpinnya” berhasil menumpas teroris. Sukses ini adalah cara paling elegan bagi SBY untuk memberi kesan positif kepada “bos” yang akan bertamu ke rumah. Apalagi jika mengingat tak sedikit bantuan materi maupun materi yang telah diberikan AS kepada Indonesia.


Tak jau beda dengan kita yang akan kedatangan tamu besar, bos atau orang yang kita hormati. Berbagai persiapan kita lakukan: membersihkan rumah, menyiapkan makanan terbaik, hingga memasang umbul-umbul, jika diperlukan. Apalagi si bos ini telah banyak berjasa bagi kita diantaranya sering memberikan kita pinjaman uang dalam jumlah banyak.


Kita harus menyambutnya dengan gembira dan meriah. Kita pun siap-siap memberikan laporan menyenangkan seputar pinjaman yang si bos berikan. “Dananya sudah saya gunakan dengan baik, bos.” Kurang lebih begitulah jawaban yang kita siapkan.

Kepada Obama, kita pun demikian. “Mr President, bantuan yang Anda berikan telah digunakan untuk memberantas teroris. Dulmatin telah tewas.”


Tak hanya tentang teroris. Orang-orang JIL, kaum SEPILIS juga akan melaporkan hal yang sama. Apakah sebuah kebetulan tiba-tiba saja ada rencana memidanakan nikah sirri? Apakah kebetulan tiba-tiba saja ada Uji Materi UU Penistaan Agama di MK? Dan apalah kebtulan tiba-tiba saja beberapa hari lalu pentolan JIL, Ulil Abshar Abdalla melakukan Orasi Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki?


Tak ada yang kebetulan. Karena kita tahu sendiri, mereka selama ini bergerak dengan dana dari AS. Dan AS berkepentingan untuk itu karena mereka memiliki agenda sekulerisasi dan liberalisasi di Tanah Air. Paling tidak, jika ada utusan Obama yang bertanya kepada mereka tentang program apa yang telah dilakukan, dari dana yang sudah diberikan, jawabannya telah tersedia.


Ya, habis Century, terbitlah Dulmatin, dan Datanglah Obama.


Erwyn Kurniawan, Editor Maghfiroh Pustaka


(read more ...)




Selasa, 16/02/2010 18:22 WIB | email | cetak | share


Sebelum para ilmuwan melakukan penelitian tentang manfaat air susu ibu, Islam sudah memerintahkan agar para ibu menyusui anak-anaknya. Perintah itu terdapat Surat Al-Baqarah ayat 233 yang berbunyi;


"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang maruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. "


Berdasarkan ayat tersebut, hubungan intim dengan ibu melalui kegiatan menyusui adalah hak seorang anak yang dilahirkan dari keluarga Muslim. Apalagi berabad-abad kemudian para ilmuwan yang melakukan penelitian mengakui bahwa ASI (Air Susu Ibu) memberikan banyak manfaat bagi perkembangan anak. Bayi-bayi diberi ASI dengan cukup memiliki kekebalan tubuh yang kuat dan memiliki kecerdasan intelektual dan emosional yang lebih baik dibandingkan bayi-bayi yang diberi susu formula.


Meski sudah tahu manfaat ASI, banyak kaum perempuan zaman sekarang yang enggan memberikan ASI pada anak-anaknya, termasuk ketakutan untuk melahirkan secara normal dan lebih memilih melahirkan lewat operasi. Ada fenomena para ibu bersikap lunak terhadap asupan makanan untuk anak-anaknya. Mereka lebih memilih memberikan susu formula dan makanan bayi instan, karena produk susu dan makanan itu kini sudah banyak tersedia di pasaran.


Kecenderungan itu juga terjadi di kalangan perempuan Muslim. Kesadaran untuk memberikan ASI pada anak-anaknya justeru masih tinggi di kalangan muslimah konservatif dengan tingkat pendidikan tinggi. Di balik pakaian tertutup mereka, masih mau memberikan ASI pada anak-anaknya yang masih bayi. Mereka masih memegang teguh kebiasaan kalangan kaum muslimin di awal-awal perkembangan Islam. Para ibu ketika itu, menyapih anaknya setelah berusia dua tahun dan tidak memberikan makanan padat sebelum gigi si anak tumbuh. Jika mereka tidak mampu menyusui bayi-bayi mereka karena alasan yang kuat, maka mereka akan mencari perempuan lain yang bisa menyusui bayi mereka.


Di zaman sekarang, banyak hal yang menyebabkan anak-anak Muslim kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ASI. Baik dari faktor si ibu, anak dan faktor luar seperti sistem rumah sakit yang tidak mempromosikan pemberian ASI Eksklusif pada bayi yang baru lahir. Baru belakngan ini saja, Indonesia mengkampanyekan inisiasi menyusui dini di rumah-rumah sakit.


Rumah-rumah sakit kadang memberikan susu formula pada bayi yang baru lahir. Kadang terjadi praktik yang tidak etis, dimana terjadi kesepakatan antara pihak rumah sakit dan produsen susu atau obat tertentu untuk mempromosikan produk-produk mereka pada pasien. Ada juga kaum perempuan yang hanya mau menyusui bayinya sampai usia enam bulan dengan alasan produksi ASI nya sudah berkurang. Padahal hal itu bisa diatasi dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan berkalori.


Di sisi lain, karena faktor sang bayi, banyak para ibu yang harus berjuang agar bayinya mau menyusu ASI dan menolak memberikan susu botol pada bayinya yang baru lahir. Untuk kasus seperti ini, seorang ibi membutuhkan dukungan dari suami dan anggota keluarga lainnya dan si ibu dibiarkan untuk bersama-sama dengan bayinya paling tidak di 40 hari pertama kehidupan sang bayi.


Mengingat pentingnya ASI, patut disayangkan jika kaum perempuan Muslim enggan memberikan ASI pada bayi-bayinya yang baru lahir.Karena pemberian ASI yang baik akan menciptakan generasi-generasi Muslim yang kuat, sehat dan cerdas baik dari sisi intelektual maupun emosional, seperti hasil penelitian para ilmuwan tentang manfaat ASI. (ln/iol)


*eramuslim.com


(read more ...)




Diposting pada Rabu, 17-02-2010 | 13:57:57 WIB

 


Banyak perempuan barat berharap dapat menyelamatkan diri mereka dari belenggu kebudayaan barat, yang telah merendahkan martabat dan mengeksploitasi diri mereka.


Menurut mereka, Islam adalah satu-satunya alternatif untuk menyelamatkan diri. Tidak mengherankan kalau banyak perempuan barat berpindah ke agama Islam, setelah menyadari bahwa cara Islam menjaga kehormatan perempuan, meninggikan martabat dan penghormatan terhadap kemanusiaan mereka.


Kisah berpindahnya wanita barat ke dalam agama Islam sangat banyak. Dalam artikel ini adalah cuplikan dari surat penulis Kristen terkenal Joanna Francis, di mana ia bercerita tentang situasi dan keadaan tragis perempuan di barat,  juga ungkapan terima kasihnya kepada perempuan Muslim. Kesaksian tersebut ia tuliskan dalam surat yang dikirimkan kepada orang-orang yang ia sebut sebagai "saudara Muslim".


Surat tersebut diterjemahkan dari situs: tribes.tribe.net, dan diterbitkan  oleh beberapa situs Arab.


Joanna Francis menulis :


Surat kepada seorang perempuan muslim yang berpindah dari agama Kristen


Sejak awal ketika Zionis mendeklarasikan "perang melawan teror", dunia Islam adalah tema utama yang dibahas oleh setiap rumah di Amerika. Saya melihat pembantaian, kematian dan kehancuran yang terjadi di Lebanon. Selain itu, saya juga melihat sesuatu yang lain: Saya melihat kalian.


Saya tidak bisa tidak memperhatikan bahwa hampir setiap wanita yang saya lihat tersebut dalam keadaan menunggu kelahiran bayi atau selalu dikelilingi oleh anak-anak. Saya bisa melihat bahwa meskipun perempuan ini berpakaian sederhana, kecantikan mereka masih bersinar melalui pakaian yang mereka pakai. Tapi saya tidak hanya melihat keindahan tersebut dari luar. Saya juga merasakan sesuatu yang aneh dari cara berpakaian mereka, yaitu rasa iri dari dalam diri saya.


Saya tidak bisa tidak mengagumi martabat kalian, keindahan, kesopanan, dan semua itu memancarkan kebahagiaan dari diri kalian. Ya, ini aneh, tapi saya sadar,  bahkan di bawah pemboman yang terus menerus, kalian masih tampak lebih bahagia daripada kami, karena kalian masih hidup di alam kehidupan perempuan. Perempuan yang hidup dari zaman dahulu kala, dari awal alam semesta. Di Barat, perempuan juga mengikuti pola hidup seperti ini pada tahun 60-an, ketika kita juga berada dalam peperangan. Tapi saat kami terlibat peperangan dengan amunisi yang tidak nyata, dengan penipuan yang licik dan pembusukan moral.


Orang-orang Amerika, bukan saja berperang dengan jet atau tank, tetapi juga dengan keberadaan Hollywood. Mereka ingin menembak kalian seperti saat dengan "amunisi yang sesungguhnya", setelah mereka menghancurkan infrastruktur lengkap negara kalian. Saya tidak ingin ini terjadi pada kalian. Kalian akan merasa terhina, sama seperti yang kami rasakan. Kalian dapat menghindari hal ini, jika kalian mendengarkan orang-orang dari kami yang telah menderita kerugian serius dari pengaruh merusak mereka.


Karena semua produksi di Hollywood, yang kalian lihat, adalah dusta, distorsi realitas, perdukunan. Mereka menyuarakan bahwa seks bebas tidak berbahaya karena mereka berusaha menghancurkan tatanan moral masyarakat, yang kemudian menyiarkan program-program beracun mereka.


Mereka akan mencoba merayu kalian dengan film dan klip yang menarik, yang salah satunya menggambarkan kami, orang Amerika, bahagia dan puas, bangga dengan pakaian yang nampak seperti perempuan murahan dan puas bahwa kita tidak memiliki keluarga. Sebagian besar dari kami tidak bahagia, percayalah.


Jutaan orang dari masyarakat kami sedang diobati dengan antidepresan, membenci pekerjaan mereka, dan menangis pada malam hari karena orang-orang yang mengatakan bahwa mereka mencintai kami, kemudian setelah mengeksploitasi kami kemudian membuang kami. Mereka ingin menghancurkan keluarga kalian dan meyakinkan kalian untuk memiliki lebih sedikit anak-anak. Mereka menyuarakan itu semua dengan menyajikan tipu muslihat yang menunjukkan bahwa perkawinan adalah suatu bentuk perbudakan, kutukan, terlalu sederhana dan kuno. Mereka ingin kalian mempermalukan diri kalian sendiri dan kehilangan iman. Mereka terdengar seperti Iblis dan kisah tipu muslihatnya kepada Hawa (istri Adam).


Saya percaya bahwa kalian seperti batu mulia, seperti emas murni. Beberapa dari kami telah ditipu dan diajak bertanya tentang nilai kemurnian kalian. Kesucian wanita yang sangat berharga mereka tanamkan pada pikiran kami bahwa itu semua murahan. Tapi percayalah, tidak ada yang dapat menggantikan kesempatan untuk melihat dalam cermin dan melihat kemurnian, keluguan dan harga diri, kecuali ketika melihat kalian.


Gaya ala barat dirancang untuk meyakinkan kalian bahwa hal yang paling berharga dari kalian adalah seksualitas. Tapi, anehnya, gaun kalian indah dan kerudung lebih seksi daripada mode-mode ala barat, karena pakaian kalian membungkus aura misteri dan menunjukkan kesadaran dan kepercayaan diri.


Seksualitas perempuan dilindungi dari mata yang tidak layak, karena itu semua hanya boleh untuk orang yang begitu mencintai dan menghormati kalian, yang menikahi kalian. Dan karena laki-laki kalian adalah orang-orang jantan, mereka layak mendapatkan wanita yang lebih, tidak ada kekurangan dan terbaik, yaitu kalian.


Orang-orang diantara kami kini tidak lagi ingin bersih. Mereka tidak mengenali mutiara yang sangat berharga dalam diri mereka. Bukannya memilih tampilan yang anggun, mereka justru memilih mutiara yang palsu yang akan mereka campakkan pada suatu saat nanti.  


Hal yang paling berharga bagi kalian adalah inner beauty (kecantikan dari dalam), Namun, saya melihat bahwa beberapa perempuan muslim bertindak secara gegabah dan mencoba segala cara untuk meniru barat, bahkan itu terjadi pada mereka yang memakai jilbab. Mengapa mereka meniru wanita-wanita yang menyesal karena martabat mereka yang hilang, atau mereka yang akan segera kehilangan itu semua? Yang tidak ada kompensasi atas semua penyesalan tersebut.


Kalian adalah berlian yang sempurna, jangan biarkan mereka menipu kalian dan mengubah kalian menjadi batu-batu. Semua yang kalian lihat di majalah mode Barat dan saluran TV, adalah dusta. Jaringan mereka adalah jaringan setan.


Saya akan membuka rahasia, kalau-kalau kalian penasaran: seks sebelum nikah begitu lumrah buat kami . Kami telah mempercayakan tubuh kami untuk laki-laki, di mana kami saling mencintai, percaya bahwa itu akan memaksa mereka untuk mencintai dan menikah dengan kami, sama seperti yang kami lihat di TV. Tetapi keyakinan keyakinan kami itu menjadi hal yang tidak menyenangkan! Ironis memang, kami hanya bisa membuang emosi kami. Hal tersebut membuat kami menangis.


Berbicara sebagai seorang wanita seorang wanita, saya pikir Kalian mengerti saya. Sebagai seorang wanita yang dapat benar-benar memahami apa yang ada dalam hati wanita lain.


Kami rasa semua benar-benar sama. Ras, agama atau kebangsaan tidak penting bagi kami. Hati wanita akan tetap sama di mana-mana. Kita semua ingin dicintai. Ini adalah yang kita rasakan sebagai hal terbaik. Kita dapat menghargai keluarga kita, menciptakan kenyamanan dan memberikan kekuatan kepada manusia-manusia yang kita cintai. Tapi kami perempuan Amerika telah tertipu, percaya bahwa kami akan bahagia, mempunyai karier, rumah sendiri, di mana seperti kalian dapat hidup sendiri, dan kebebasan untuk memberikan cinta kepada orang yang kami pilih.


Tapi ternyata apa yang kami dapat bukan kebebasan. Dan bukan pula cinta. Hanya di atas perkawinanlah, perempuan dapat damai penuh kasih sayang.


Kami diam-diam mengagumi dan iri hati pada kalian, walaupun beberapa dari kami tidak menyadari hal ini. Tolong, jangan kalian merendahkan kami dan tidak berpikir bahwa kami menikmati keadaan seperti itu. Ini bukan kesalahan kami. Sebagian besar dari kami tidak memiliki ayah yang seharusnya melindungi kami ketika kami masih muda karena keluarga kami sudah hancur. Kalian tahu siapa yang ada di balik konspirasi ini?


Jangan tertipu, saudara perempuanku. Jangan biarkan mereka memperlakukan hal itu pada Kalian. Tetaplah lugu dan murni. Kami wanita Kristen perlu melihat apa yang benar dalam kehidupan seorang wanita. Kami membutuhkan kalian untuk membantu sebagai tauladan buat kami, karena kami telah tersesat. Kami ingin kembali ke kemurnian yang kalian miliki.


Ingat: Kalian tidak dapat menekan pasta gigi untuk kembali ke dalam tabung. Jadi lindungilah kehormatan kalian! Dan saya berharap bahwa Kalian akan menerima saran ini, yang saya beritahukan kepada kalian, dalam semangat persahabatan, rasa hormat dan kagum.


Dari kakakmu-orang Kristen dengan penuh rasa cinta.


Joanna Francis - wartawan (USA)


[muslimdaily.net]


(read more ...)




Seorang Muslim juga perlu melakukan hijrah yang bersifat maknawi, berpindah dari kekufuran pada keimanan. Dari kejahilan kepada ilmu Oleh: Alwi Alatas*





Hidayatullah.com--Kita telah memasuki tahun baru Hijriah 1431. Setiap memasuki bulan Muharram kaum Muslimin selalu mengenang perjalanan hijrah yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam beserta para sahabatnya dari Mekah ke Madinah. Komunitas Muslim di Mekah ketika itu berada dalam keadaan tertindas dan terdzalimi, sehingga mereka tidak memiliki pilihan lain selain bermigrasi ke tempat yang baru, yaitu Madinah. Rasulullah sendiri berangkat dari Mekah bersama Abu Bakar al-Shiddiq di malam hari pada akhir bulan Safar tahun pertama Hijriah. Keduanya bersembunyi di gua Tsaur di Selatan Mekah selama tiga hari hingga tanggal 1 Rabiul Awwal. Setelah itu keduanya berangkat menuju Madinah hingga tiba di Quba (di Selatan Madinah) pada hari Senin, 8 Rabiul Awwal. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam membangun sebuah masjid di Quba’ dan menetap di wilayah tersebut selama empat hari. Barulah setelah itu beliau masuk ke Madinah dengan disambut oleh masyarakat kota tersebut. Ada banyak pelajaran yang terdapat di dalam kisah hijrah. Tulisan ini akan membahas beberapa hal penting terkait dengan fenomena hijrah.



Hijrah secara bahasa berarti perpindahan atau migrasi dari satu tempat ke tempat yang lain. Fenomena migrasi sebetulnya merupakan fenomena yang sangat tua dalam sejarah umat manusia. Sejak awal peradabannya selalu kita dapati sekelompok manusia yang melakukan perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain. Motif perpindahan manusia ini sangat beragam. Banyak orang yang memutuskan untuk bermigrasi karena dorongan ekonomi. Pada zaman dulu mereka berpindah dari satu wilayah yang kurang subur ke wilayah yang lebih subur. Pada masa-masa berikutnya, hingga sekarang ini, manusia berpindah dari satu negeri yang lemah pengelolaan ekonominya ke negara yang lebih menjanjikan secara ekonomi. Orang-orang China yang berpindah dan menetap di banyak negeri di dunia, juga mewakili motif ini.



Sekelompok manusia lainnya bermigrasi, atau terpaksa pindah, karena alasan-alasan politik. Kekaisaran Romawi kuno terkadang memindahkan suku-suku barbar tertentu ke tempat yang jauh dari pusat kekuasaan agar mereka tidak menjadi gangguan bagi pemerintah. Persoalan politik juga yang mendorong orang-orang Yahudi berdiaspora ke berbagai belahan dunia setelah al-Quds (Yerusalem) ditaklukkan oleh bangsa Romawi pada tahun 70-an Masehi. Pada masa sekarang ini kita mendapati sekelompok orang yang bermigrasi dalam rangka mencari suaka politik, seperti kaum komunis Indonesia yang menetap di BelAnda pasca gagalnya revolusi yang mereka lakukan pada tahun 1965.



Persoalan sosial, terutama konflik horizontal yang terjadi di antara suku-suku bangsa juga bisa menjadi motif migrasi. Inilah sebagian alasan mengapa, misalnya, suku-suku Bani Kahlan di Yaman melakukan migrasi ke Utara. Konflik mereka dengan Bani Himyar menjadi salah satu penyebabnya. Salah satu anggota Bani Kahlan, yaitu Tsa’labah bin Amr, berpindah ke Hijaz dan belakangan menetap di Yastrib (yang pada zaman Nabi berganti nama menjadi Madinah). Keturunan dari cucu-cucu Tsa’labah inilah, yaitu Bani Aus dan Khazraj, yang nantinya menyambut Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan para Muhajirin untuk tinggal di kota mereka.



Terkadang migrasi juga didorong oleh terjadinya bencana alam. Pada tahun 920-an Masehi kerajaan Mataram Kuno di bawah Mpu Sindok memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, kemungkinan besar dipicu oleh erupsi Gunung Merapi. Perpindahan pusat pemerintahan ini tentu saja diikuti oleh perpindahan masyarakat ke pusat pemerintahan yang baru. Pecahnya bendungan Ma’rib di Yaman pada tahun 450-451 Masehi merupakan contoh lain. Bencana tersebut menyebabkan kemunduran Yaman dan mendorong suku-suku yang ada di sana bercerai-berai dan berpindah tempat.



Terlalu banyak contoh untuk disebutkan disini. Yang jelas, banyak manusia telah melakukan migrasi pada berbagai kurun sejarah yang mereka lalui. Manusia telah ‘bergerak’ sejak permulaan eksistensinya sebagaimana bergeraknya tanah yang mereka pijak (lempeng benua).



Di samping motif-motif yang telah diterangkan di atas, ada segolongan manusia yang bermigrasi dengan motif berbeda. Mereka tidak berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain melainkan dengan dilAndasi iman kepada Allah. Mereka menjadikan Allah dan Rasul-Nya sebagai alasan utama dibalik perpindahan yang mereka lakukan. Inilah yang terjadi pada para Nabi dan orang-orang shalih sepanjang sejarah. Sebagian Nabi melakukan migrasi bersama para pengikutnya setelah penentangan kaum di tempat tinggal mereka memuncak dan Allah memutuskan untuk menghukum mereka. Kita juga mengetahui bagaimana Nabi Ibrahim ’alaihis salam memindahkan istri dan anaknya ke lembah Mekah yang kemudian mengawali sejarah kota tersebut. Kita juga membaca kisah Nabi Yusuf ’alaihis salam yang mengajak ayah dan saudara-saudaranya untuk bermigrasi ke Mesir. Lalu beberapa abad kemudian, ketika tekanan dari rezim Fir’aun yang baru telah menyebabkan Bani Israil jatuh dalam penindasan, Nabi Musa ’alaihis salam muncul dan memperjuangkan pemindahan umatnya dari Mesir ke Palestina.



Migrasi telah dilakukan baik oleh para Nabi dan orang-orang shalih maupun oleh kelompok masyarakat lainnya. Yang membedakan adalah motif utama mereka. Nabi shallallahu ’alaihi wasallam pernah bersabda tentang orang yang berhijrah dari Mekah ke Madinah karena perempuan yang disukainya. ”Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya .... Barangsiapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrah karena kesenangan dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.” (HR Bukhari dan Muslim).



Dua orang yang sama-sama bermigrasi belum tentu memiliki niat dan tujuan yang sama. Hasil yang akan diperoleh keduanya juga tentu akan berbeda.



Dari fisik menuju ilmu



Terlepas dari motif yang telah dijelaskan di atas, fenomena migrasi memiliki penjelasan lain yang juga menarik. Orang-orang yang bermigrasi, bagaimanapun juga, biasanya terpaksa meninggalkan keadaan yang cukup nyaman kepada keadaan yang kurang atau bahkan tidak nyaman. Orang yang berpindah ke tempat baru biasanya akan berhadapan dengan banyak tantangan yang lebih besar yang pada tingkat tertentu akan memberikan suasana tidak nyaman, setidaknya pada masa awal perpindahannya. Namun jika mereka berhasil merespon tantangan tersebut dengan baik, maka mereka akan muncul sebagai manusia dan masyarakat yang lebih baik dari sebelumnya.



Ketika berpindah ke tempat yang baru, mereka biasanya akan menghadapi iklim dan suasana geografis yang berbeda, berhadapan dengan komunitas dengan budaya dan tradisi yang berbeda. Hal ini tentu saja akan menimbulkan rasa tidak nyaman. Tetapi pada saat yang sama tempat yang baru juga menyajikan berbagai tantangan dan peluang yang mungkin tidak mereka dapati di tempat sebelumnya. Rasa tidak nyaman dan berbagai tantangan yang ada di tempat yang baru pada gilirannya akan mendorong seseorang untuk keluar dari sifat ’santai’ (idle) kepada karakter yang lebih gesit dan cekatan dalam memberikan respon. Kadang perpindahan ke tempat yang baru, ketika tidak diikuti dengan integrasi dengan masyarakat setempat, juga menciptakan rasa keterasingan (alienasi) yang jika direspon secara tepat akan mendorong seseorang untuk bersikap kompetitif dan sanggup bersaing dengan kelompok masyarakat di sekitarnya. Sebaliknya, jika terjadi proses integrasi yang baik, seperti pada kasus kaum Muhajirin dan Anshar, maka akan memunculkan semangat untuk saling tolong menolong dan saling menguatkan di antara para pendatang dan penduduk yang menerima mereka.



Hal-hal inilah yang menjadikan kaum migran biasanya lebih agresif, lebih gesit, dan lebih cekatan dalam menangkap peluang yang ada di tempat yang baru. Tantangan dan rasa kurang nyaman menyebabkan mereka harus selalu sigap dan mampu untuk mengubah berbagai kesulitan menjadi keuntungan di masa depan. Tetapi jika kaum migran ini tidak memiliki visi yang kuat dan segera tenggelam pada kenyamanan yang mungkin ditemukan di tempat yang baru, maka mereka tidak akan mampu merespon berbagai tantangan yang ada dan akan mengabaikan berbagai peluang yang lewat di depan mata mereka.



Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan para sahabat yang berhijrah ke Madinah juga sempat merasakan ketidaknyamanan di tempat yang baru (Madinah). Abu Bakar al-Shiddiq dan Bilal bin Rabah radhiyallahu ’anhuma sempat sakit demam pada hari-hari awal mereka di Madinah karena keadaan di kota tersebut yang lebih panas dan karena kerinduan mereka pada Mekah. Tapi berkat doa Nabi, maka semua ketidaknyamanan itu berhasil mereka lalui dengan baik. Kaum Muslimin yang berasal dari Mekah memang merasakan ujian yang berat menjelang mereka keluar dari kota Mekah. Tapi ketika mereka berhijrah ke Madinah, maka ujian dan tantangan yang mereka terima bukannya makin ringan. Mereka menghadapi suasana geografis yang berbeda dengan tempat tinggalnya dulu, mereka pindah ke Madinah dalam keadaan tidak memiliki harta, masyarakat Madinah pada awalnya juga bersifat majemuk dan rentan terhadap konflik. Selain itu, mereka juga menghadapi ancaman serangan dari luar. Namun, dibawah arahan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam mereka berhasil menyikapi semua tantangan tersebut dengan tepat. Sehingga mereka pada akhirnya keluar sebagai pemenang.



Sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, sekarang ini sudah tidak ada lagi hijrah. Artinya, jika dulu kaum beriman diperintahkan bermigrasi dari Mekah ke Madinah dan mereka mendapat pahala untuk hijrahnya tersebut, maka setelah penaklukkan kota Mekah perpindahan semacam itu sudah tidak diperintahkan lagi. Hal ini agar orang tidak mengira bahwa migrasi merupakan hal yang wajib dalam agama, sehingga setiap manusia dari satu generasi ke generasi lain akan selalu melakukan hijrah kendati tuntutan untuk itu sama sekali tidak ada. Walaupun demikian, hal ini sama sekali tidak menafikan bahwa pada waktu-waktu tertentu ada sekelompok kaum Muslimin yang melakukan migrasi. Yang paling penting untuk mereka perhatikan dalam hal ini adalah niat yang baik dalam proses migrasi mereka serta kesiapan dan kegigihan mereka untuk berjuang di tempat yang baru. Dengan begitu, mereka akan mampu tampil ke muka sebagai problem solver bagi persoalan-persoalan yang ada.



Di samping hijrah secara fisik (migrasi), tentu saja masih ada hijrah dalam bentuk yang lain, yaitu hijrah secara maknawi. Hal ini telah banyak dijelaskan oleh para ulama dan pemikir Muslim kontemporer. Seorang Muslim juga perlu melakukan hijrah yang bersifat maknawi dalam kehidupannya ini, yaitu berpindah dari kekufuran pada keimanan, dari kejahilan kepada ilmu, dari akhlak yang buruk kepada akhlakul karimah.



Perpindahan yang bersifat maknawi ini juga akan melibatkan rasa tidak nyaman pada prosesnya. Seseorang mungkin merasa nyaman dengan perilaku maksiyat, akhlak yang buruk, serta kebiasaan jahil yang dimilikinya. Nyaman, karena semua itu sejalan dengan hawa nafsunya dan tidak memerlukan pengorbanan diri, walaupun konsekuensinya adalah hilangnya kenyamanan dalam bentuk yang lain. Orang yang tenggelam dalam hawa nafsunya pada akhirnya akan merasakan kekosongan jiwa dan hukuman yang berat di akhirat. Itu adalah bentuk ketidaknyamanan yang jauh lebih serius.



Sebaliknya, sebagian orang memaksa dirinya untuk berpindah kepada ilmu dengan belajar; kepada keimanan dengan terus mendekatkan diri pada Allah; pada akhlak karimah dengan selalu membiasakan diri dengan perilaku yang baik. Proses ini tentu melibatkan perasaan tidak nyaman, setidaknya pada awal prosesnya, karena semua itu menuntut pengorbanan. Perubahan dari keadaan yang tidak baik pada keadaan yang baik juga akan memberikan berbagai tantangan yang tidak mudah. Namun, pada akhirnya semua itu akan tergantikan dengan kenyamanan yang jauh lebih besar dan langgeng, yaitu kemuliaan diri dan ketenangan jiwa serta keridhaan Allah dan surga-Nya.



Semoga dengan tahun baru 1431 Hijriah ini kita bisa menguatkan komitmen kita, pada tingkat individu maupun masyarakat, untuk berhijrah menuju ke kedudukan yang lebih baik di sisi Allah.  [Kuala Lumpur, 3 Muharram 1431/20 Desember 2009/www.hidayatullah.com]



Penulis sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia

 

(read more ...)




Kalimat Tauhid di dalam ajaran Islam mengandung banyak konsekuensi. Seorang Muslim atau ahli Tauhid hanya mengesakan, memuji, mengagungkan, membesarkan dan mensucikan Allah semata. Sebab demikianlah tuntutan ajaran Tauhid. Di antara ekspresi seorang ahli Tauhid ialah seringnya terlontar dari bibirnya kalimat-kalimat seperti Subhaanallah (Maha Suci Allah), Alhamdulillah (segala Puji hanya bagi Allah), Laa ilaaha illa Allah (Tiada ilah selain Allah) dan Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Semua kalimat itu diucapkannya dengan penuh pemahaman, penghayatan dan keyakinan.


 


Seorang Muslim yang faham makna kalimat Subhaanallah tidak akan terjebak ke dalam anggapan adanya fihak lain selain Allah yang pantas disucikan. Ia tahu hanya Allah sajalah di dalam hidup ini yang tidak mengandung cacat dan kekurangan. Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna. Oleh karena itu sepanjang perjalanan sejarah dunia Allah mengutus para Nabi dan Rasul dengan tujuan untuk menjernihkan aqidah ummat manusia. Sebab manusia memiliki kecenderungan untuk merasa butuh mensucikan sesuatu di dalam hidupnya. Namun sayang, kebanyakan manusia bodoh akan Ma’rifatullah (Pengenalan akan Allah)  sehingga mereka akhirnya menjadikan banyak fihak selain Allah sebagai fihak yang disucikan sedemikian rupa sebagaimana semestinya mereka mensucikan Allah Subhaanahu wa Ta’aala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi).


 


Di antara mereka ada yang mensucikan sesama manusia yang dianggap sangat mulia. Sedemikian rupa pensucian itu sehingga mereka memposisikan manusia yang dimuliakan itu berlebihan alias melampaui batas. Seperti yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap Uzair dan kaum Nasrani terhadap Nabiyullah Isa putra Maryam ’alahis-salam.


وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ


 ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا


مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ


Orang-orang Yahudi berkata: ”Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putra Allah". Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?


 


Kaum Nasrani telah memposisikan Nabiyullah Isa sebagai anak tuhan bahkan tuhan itu sendiri. Oleh karenanya  kita ummat Islam sangat bersyukur adanya sebuah surah di dalam Al-Qur’an yang memberikan pengetahuan fundamental mengenai aqidah tauhid, yaitu surah Al-Ikhlas.


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ 


”Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia".(QS Al-Ikhlas ayat 1-4)


 


Dengan tegas dan jelas surah di atas memberikan dasar-dasar aqidah pengesaan Allah di dalam ajaran Islam. Sejak SD kebanyak muslim sudah hafal surah di atas di luar kepala. Sehingga bagi seorang muslim adalah suatu hal yang tidak masuk di akal bila ada sesama  manusia yang diposisikan sebagai anak tuhan apalagi sebagai tuhan itu sendiri. Karena jelas diegaskan bahwa   Allah itu ” tiada beranak dan tiada pula diperanakkan” dan bahwa Allah itu ”tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”.


 


Oleh karenanya di dalam Islam kita diajarkan agar jangan mensucikan, mengagungkan atau mengagumi sesama manusia berlebihan. Malah dalam rangka prefentif, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sudah menutup celah muncul dan berkembangnya penyakit mensucikan sesama manusia dalam bentuk teguran keras beliau ketika menyaksikan seorang muslim memuji sesama muslim berlebihan. Perhatikanlah hadits di bawah ini:


عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ


مَدَحَ رَجُلٌ رَجُلًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


قَالَ فَقَالَ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ قَطَعْتَ عُنُقَ


صَاحِبِكَ مِرَارًا إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا صَاحِبَهُ لَا مَحَالَةَ


 فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلَانًا وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا


 أَحْسِبُهُ إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَاكَ كَذَا وَكَذَا


Hadis riwayat Abu Bakrah ra., ia berkata: Seorang lelaki memuji orang lain di hadapan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam maka beliau bersabda: “Celaka kamu! Kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu!” Beliau mengucapkannya berulang-ulang. ”Apabila seorang di antara kamu terpaksa harus memuji temannya, hendaklah ia berkata: Aku mengetahui kebaikan si Fulan namun Allah lebih mengetahui keadaannya, dan aku tidak memberikan kesaksian kepada siapa pun yang aku ketahui di hadapan Allah karena Allah lebih mengetahui keadaannya yang sebenarnya”. (HR Muslim 5319)


 


Bayangkan, saudaraku. Betapa keras teguran Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada seseorang yang telah memuji orang lainnya. Sedemikian kerasnya teguran Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sehingga tindakan memuji sesama manusia itu disetarakan dengan memenggal leher teman artinya membunuhnya…! Dan hal ini dikatakan berulang-kali oleh Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Mengapa teguran Nabi shollallahu ’alaih wa sallam begitu kerasnya? Karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sangat khawatir bila ummat beliau terjatuh kepada penyimpangan ummat terdahulu, khususnya kaum Yahudi dan Nasrani. Sebab penyimpangan seperti ini dapat dipandang sebagai salah satu bentuk mempersekutukan Allah. Dan itu berarti termasuk dosa besar. Bahkan dosa yang tidak bisa diampuni Allah.


إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ


لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا


”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa ayat 48)


 


Sehingga dalam kesempatan lainnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bahkan pernah menegur keras para sahabat ketika beliau dapati mereka melakukan bentuk penghormatan berlebihan kepada diri Rasulullah.


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ سَمِعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ


سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُطْرُونِي كَمَا


 أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ


Ibnu Abbas mendengar Umar berkata dari atas mimbar: ”Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana kaum Nasrani mengkultuskan Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Maka ucapkanlah: hamba Allah dan RasulNya.” (HR Bukhary 3189)


 


Subhanallah... Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sadar dan faham betul bahwa kemusyrikan seringkali bermula dari bentuk mensucikan orang-orang mulia seperti para Nabi sebagaimana yang dialami oleh kaum Nasrani yang bermula dari mensucikan Nabi Isa berlebihan akhirnya menjadi melampaui batas sehingga dewasa ini kaum Nasrani meyakini bahwa Nabi Isa adalah anak tuhan bahkan tuhan itu sendiri.


 


Saudaraku, berarti Islam sangat tidak membenarkan hadirnya berbagai bentuk penghormatan berlebihan kepada sesama manusia walau terhadap seorang Nabiyullah sekalipun. Dan jika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam melarang ummatnya untuk mengkultuskan diri beliau, bagaimana lagi gerangan kerasnya teguran beliau jika saja beliau bisa menyaksikan perlakuan sebagian ummat Islam di zaman kita yang mengkultuskan kalangan yang mengaku diri mereka sebagai ”keturunan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam”? Atau pengkultusan terhadap seorang Kyai atau Ajengan di sebuah Pesantren? Atau pengkultusan para kader kepada Qiyadah/pimpinan sebuah Jama’ah minal Muslimin dalam bentuk mentaati segala keputusan-keputusannya walau sudah jelas bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah?


اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك وأنا أعلم ، وأستغفرك مما لا أعلم


Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari mempersekutukan Engkau sedang aku mengetahuinya dan aku mohon ampun kepadaMu dari apa-apa yang tidak kuketahui.


(read more ...)




Diposting pada Selasa, 05-01-2010 | 00:14:06 WIB

Terus terang, akhir-akhir ini rasanya sumpek melihat berita-berita TV. Isinya didominasi pemujaan-pemujaan terhadap Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Banyak suara-suara yang mengusulkan agar Gus Dur diangkat sebagai pahlawan nasional. Termasuk gerakan di DPR, facebook, dan sebagainya. Sementara pernyataan dari tokoh-tokoh Islam, seperti MUI, PP Muhammadiyyah, dan sebagainya “setali tiga uang”. Semua mengarah kepada upaya memuja Gus Dur. (Atau mungkin mereka ingin menempatkan Gus Dur sebagai “nabi jaman modern”? Entahlah).



Jujur saja, sikap-sikap seperti inilah yang selama puluhan tahun telah mematikan cahaya kebenaran. Ummat Islam tidak diajari bersikap tegas, jelas, dan lurus. Para elit agamawan, tokoh sosial, dan politik berlomba-lomba mencari muka, dengan resiko mengundang kemurkaan Allah Al Aziz. Na’udzubillah min dzalik.


Bayangkan, saat tahun 2001 lalu, ketika Gus Dur menjadi Presiden RI, mayoritas kekuatan politik di Indonesia menyerang dirinya dari berbagai sisi. Segala macam dalil-dalil untuk menjatuhkan Gus Dur, dikeluarkan semua. Termasuk foto Gus Dur memangku Ariyanti Sitepu, VCD Gus Dur dibaiat di gereja, dokumen keterlibatan Gus Dur dalam partai Ba’ats Irak, dan sebagainya. Tetapi lihatlah saat ini, setelah Gus Dur meninggal, semua orang berusaha memuja-muja Gus Dur. Seolah dia adalah ‘Tuhan’ yang berhak diagung-agungkan.


Ummat Islam mundur terus-menerus karena sejak lama ditipu terus oleh elit-elitnya. Mereka tidak diajari sikap yang benar, konsisten, tegas, dan pemberani. Semua elit rata-rata mencari muka, dengan alasan “sikap diplomatis”. Ya, ada kalanya “sikap diplomatis” bisa dipakai. Tetapi tidak dalam segala persoalan harus memakai “sikap diplomatis”. Dalam urusan akidah yang membahayakan Ummat, seperti dalam soal film “Kiamat 2012” lalu itu, kita harus bersikap tegas.


Baiklah, mari kita bahas kembali tentang Gus Dur. Siapakah Gus Dur ini? Siapakah dia, bagaimanakah ideologinya? Bagaimana perjuangannya?


Dari sekian banyak proses pembacaan dan analisis terhadap kiprah Gus Dur sejak dia memimpin PBNU, saya dapat menyimpulkan, bahwa: “Mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ketika Gus Dur meninggal, adalah kesalahan. Kematian Gus Dur bukanlah musibah, tetapi bagian dari pertolongan Allah Al Aziz kepada kaum Muslimin di Indonesia.”


Ketika bicara tentang Gus Dur, maka kita harus berbicara tentang YAHUDI. Nah, inilah asas segala pembicaraan tentang Gus Dur. Siapapun yang berbicara tentang Gus Dur tanpa menyinggung gerakan Yahudi internasional, dia salah!!!


Coba kita runut masalah ini secara jernih, bi idznillah:


[01] Setiap hari kita membaca Surat Al Fatihah dalam Shalat. Disana ada doa, agar kita diberi petunjuk oleh Allah, yaitu mengikuti Shiratal Mustaqim. Shirat Al Mustaqim ini bukan jalan “al maghdhub ‘alaihim” (jalan orang yang dimurkai oleh Allah). Nabi Saw menjelaskan, bahwa kaum yang dimurkai itu adalah kaum Yahudi. Maka ketika kita bicara tentang Yahudi, otomatis kita bicara tentang suatu kaum yang dimurkai Allah Al Aziz. Ini bukan perkara sepele, tetapi amat sangat serius.


[02] Yahudi (Bani Israil) mengalami pasang-surut gerakan selama ribuan tahun. Awal gerakan mereka adalah di masa Nabi Ya’qub As dan anak keturunannya yang diberi tempat oleh raja Mesir di Kan’an. Di kalangan Bani Israil ada yang shalih-shalih, tetapi lebih banyak yang durhaka. Para Nabi-nabi, seperti Ya’qub, Yusuf, Musa, Harun, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, dan lain-lain ‘alaihimussalam, mereka termasuk bagian Bani Israil yang shalih-shalih.


[03] Di jaman modern, atau setidaknya setelah Eropa mengalami Renaissance, Yahudi mengalami transformasi gerakan keagamaan baru. Gerakannya berbeda dengan risalah Nabi-nabi dari kalangan Bani Israil. Gerakan mereka justru menginduk kepada inspirasi Samiri yang pernah membuat patung Al Baqarah (sapi betina) untuk pemujaan. Mereka mengambil ide-ide kemusyrikan dari bangsa Mesir, di jaman Fir’aun. Hampir semua simbol-simbol keagamaan yang dipakai Yahudi modern, itu digali dari peradaban kemusyrikan Mesir. Jadi, Yahudi modern bukanlah pengikut Musa, Dawud, atau Sulaiman, tetapi mengikuti Samiri yang membuat patung sapi betina untuk pemujaan. Hal itu dikuatkan dengan doktrin Talmud yang mengagung-agungkan etnis mereka, dan melecehkan Tuhan (Allah Ta’ala). Yahudi yang berpegang kepada Talmud bukanlah bagian dari Ahli Kitab, tetapi mereka adalah orang-orang musyrik yang mengikuti jalan Samiri.


[04] Secara umum, Yahudi modern terdiri dari dua komunitas besar, yaitu: Yahudi asli (original Jewish) dan Yahudi warna-warni (colored Jewish). Yahudi asli maksudnya, orang-orang yang mewarisi darah Yahudi. Darah Yahudi ditentukan oleh silsilah keturunan dari jalur ibu. Inilah manusia yang benar-benar disebut Yahudi. Dan harus dicatat, kaum Yahudi ini amat sangat ketat dalam menjaga kemurnian etnis mereka. Mereka tidak tertarik melakukan asimilasi seluas-luasnya, sebab mereka merasa sebagai “etnis terbaik di dunia”, sementara etnis lain dianggap “budak” yang bebas dieksplotasi tanpa batas. Lalu yang disebut Yahudi warna-warni adalah siapa saja dari etnis apapun selain Yahudi yang bekerja mensukseskan misi Yahudi internasional. Mereka ini bisa disebut “budak-budak” Yahudi asli. Mereka bisa orang Jawa, bisa orang pesantren, bisa bergelar kyai haji, bisa asal Jombang, dan sebagainya. Mereka itu jelas-jelas tidak berdarah Yahudi, karena ibunya bukan Yahudi, tetapi mau suka-rela berjihad membela missi Yahudi internasional.


[05] Yahudi warna-warni itu biasanya tergabung dalam organisasi-organisasi mantel pendukung Zionisme internasional. Selama ini, mereka kita kenal sebagai “Freemasonry”. Tetapi menurut ahlinya, organisasi mantel itu bisa macam-macam. Freemasonry hanya satu bentuk saja. Rizki Ridyasmara menyebut mereka sebagai kelompok Luciferian, karena mereka mengabdi kepada “tuhan” yang bernama Lucifer yang disimbolkan dalam bentuk bintang, di dalamnya ada bentuk kepala kambing bertanduk dua. Bisa dikatakan, Lucifer adalah simbolisasi Iblis itu sendiri. Kaum Freemasonry ini bisa berasal dari berbagai etnis, dari berbagai negara, dari berbagai status, ikatan keagamaan, organisasi, dan sebagainya. Tapi mereka satu kata dalam simbol keagamaan, ideologi, dan missi memperjuangkan kepentingan Yahudi nternasional.


[06] Pertanyaannya, mengapa Yahudi asli harus membentuk organisasi mantel yang bermacam-macam? Atau mengapa Yahudi asli harus meminta bantuan “Yahudi abang ijo”? Jawabnya: Yahudi membutuhkan penetrasi ke berbagai negara/etnis di dunia, untuk mendukung missi mereka. Sedangkan cara terbaik penetrasi ialah dengan memakai tangan orang-orang dari negara/etnis masing-masing. Misalnya, Yahudi mengambil seorang kyai haji sebagai agen mereka. Maka diharapkan, semua jamaah kyai haji itu akan mudah dikendalikan untuk mendukung missi Yahudi. Kemudian, Yahudi sendiri merasa dirinya terlalu suci untuk berhubungan dengan manusia-manusia lain. Mereka tidak mau “kotor tangan”, maka dipakailah agen-agen dari setiap negara untuk menggarap negara masing-masing. Soal biaya, mereka bersedia memberikan dukungan penuh.


[07] Perlu dicatat, bahwa siapapun yang terlibat dalam gerakan mantel Yahudi seperti Freemasonry, mereka bukan orang Muslim. Mereka itu kafir. Tidak diragukan lagi. Mengapa? Sebab mereka berani mengkhianati agamanya sendiri dalam rangka mensukseskan missi Yahudi. Kemudian, mereka tidak meyakini lagi bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Ideologi mereka diganti dengan humanisme, pluralisme, dan demokratisme. Kemudian, mereka selama hidupnya selalu memusuhi missi perjuangan Islam. Dan mereka ridha dengan ritual-ritual kekufuran yang berlaku di organisasi seperti Freemasonry itu.


[08] Untuk mengenali apakah seseorang terlibat Freemasonry atau tidak, sungguh tidak mudah. Mungkin hanya kerja intelijen negara yang bisa menyingkap hal itu. Tetapi seorang anggota Freemasonry bisa dikenali tanda-tandanya, misalnya: (1) Mereka bukan Yahudi asli, ibunya bukan berdarah Yahudi; (2) Selama hidupnya dia mengagung-agungkan slogan humanisme, pluralisme, dan demokrasi; (3) Dia sangat memusuhi misi perjuangan Islam, dan membenturkan misi tersebut dengan seruan Sekularisme atau Nasionalisme; (4) Dia memiliki sumbangan, sedikit atau banyak, bagi kemajuan Yahudi internasional; (5) Dia mendapat penghargaan resmi dari organisasi Yahudi internasional.


[09] Adalah sulit untuk memastikan bahwa Gus Dur adalah seorang Freemason, sebab kita tidak memiliki bukti validnya. Bisa jadi kalangan Muslim lain memiliki data tersebut, sehingga ia bisa dibuka. Namun untuk menyimpulkan, bahwa Gus Dur adalah seorang penyokong gerakan Yahudi internasional sangatlah mudah. Banyak tanda-tandanya. Misalnya, dia pernah terlibat mendirikan Shimon Perez Institute; dia pernah pergi ke Israel; dia pernah mendapat medali dari organisasi Yahudi karena keberaniannya membela kepentingan Yahudi di Indonesia; ketika menjadi Presiden RI, dia pernah hendak membuka hubungan dagang dengan Israel; Gus Dur secara formal pernah membela Yahudi di depan media massa. Dia mengatakan, “Yahudi itu orang beragama, bukan atheis. Kalau dengan Soviet yang komunis saja Indonesia mau menjalin hubungan, mengapa tidak dengan Israel?” Begitu kira-kira alasan dia ketika itu. Sangat jelas sekali bahwa Gus Dur adalah seorang Zionis (pembela Israel) dari kalangan bangsa Indonesia.


[10] Fakta kecil yang perlu disinggung, yakni kedekatan Gus Dur dengan Ahmad Dhani, dari band Dewa. Semua orang sudah tahu, bagaimana sikap Dhani kepada Gus Dur. Dhani sangat memuja-muja Gus Dur. Pendek kata, Gus Dur mau berbicara apapun, Dhani dijamin akan mendukung. Sementara Dhani ini sangat layak dicurigai sebagai bagian dari Freemasonry di Indonesia. Ada yang pernah membahas simbol-simbol yang dipakai Dhani dalam cover album-albumnya. Dhani pernah menginjak-injak kaligrafi Allah yang telah disamarkan, di atas panggung band. Kemunculan abum “Laskar Cinta” ditujukan sebagai anti-tessa “Laskar Jihad” (segala upaya Jihad untuk membela Islam). Dalam salah satu lagu hits-nya, Dhani melantunkan lirik yang kurang lebih isinya sebagai berikut, “Tak ada yang lain, selain diri-Mu yang selalu kupujaaa… Dengan mata-Mu aku melihat, dengan lidah-Mu aku bicara.” Di mata kita, mungkin lagu ini dianggap bentuk pujian kepada Allah. Maka ia dianggap sebagai lagu “pop religi” Dhani dan bandnya. Padahal bisa jadi, yang dimaksud diri-Mu, memuja-Mu, mata-Mu, lidah-Mu itu adalah Lucifer, dewa pujaan kaum Freemasonry. Sebab disana tidak ada disebutkan kata “Allah” sedikit pun. Malah kaligrafi Allah diinjak-injak oleh Dhani dan kawan-kawan. Ada sebuah informasi menarik, ketika Kraton Solo tiba-tiba menganugerahi Dhani dengan gelar “Raden”. Tidak ada angina, tidak ada hujan, tiba-tiba Dhani dianugerahi gelar itu. Dhani sendiri merasa heran dengan gelar itu, sebab dia bukan orang Jawa. Ini sangat janggal. Ada apa ini, tiba-tiba dia di-raden-kan oleh Kraton Solo? Hal lain yang tak kalah menarik, kasus Dhani dengan Mulan Jamila. Hampir tidak ada satu pun media infotainment yang menghujat sikap Dhani yang mengkhianati isterinya itu. Padahal ketika kasus yang sama menimpa pasangan artis-artis lain, media infotanment getol memberitakan hal itu. Saya juga masih ingat, betapa Dhani sangat ngefans dengan Manchester United yang dikenal dengan julukan “Setan Merah”. Ketika MU akan bertanding dengan FC Barcelona dalam Piala Champions, Dhani secara emosional mendukung MU. Malah ketika MU datang ke Malaysia, Dhani mengajak anak-anaknya datang kesana. Banyak sisi-sisi menarik seputar kiprah Dhani “Dewa” yang mencerminkan kedekatan manusia itu dengan gerakan Freemasonry.


[11] Patut diingat dengan jelas, bagaimana peranan media massa, terutama media TV dalam memuja-muja Gus Dur. Selama ini saya cukup bersimpati kepada MetroTV, sering mengakses TVOne, dan berita-berita lain. Tetapi dengan gerakan pemujaan Gus Dur, ini tampak nyata bahwa media-media itu seperti berlomba mencari keridhaan Yahudi internasional. Caranya, dengan memuja-muja Gus Dur. Sejujurnya, sejak dulu Gus Dur itu tidak ada apa-apanya. Dia menjadi besar bukan karena dirinya, tetapi karena REKAYASA MEDIA. Media yang membuat Gus Dur besar, dan media pula yang membuat tokoh-tokoh lain kecil. Bayangkan, media massa tidak pernah peduli ketika Ketua PP Persatuan Islam, KH. Shiddiq Amin wafat. Begitu pula, ketika KH. Husein Umar wafat. Media tidak mau memberitakan, atau menghargainya secara layak. Tetapi ketika ada seorang icon Yahudi di Indonesia mati, mereka berlomba-lomba melakukan “ritual pemujaan”. Sangat menyedihkan! Kalau akhirnya nanti Gus Dur benar-benar ditasbihkan sebagai “pahlawan nasional”, sungguh kita patut memboikot semua media-media sekuler itu. Jangan lagi merasa memiliki media, selain media yang kita buat sendiri.


[12] Orang-orang yang mengklaim dirinya pro pluralisme, pro demokrasi, pro humanisme, lalu memuja-muja Gus Dur sebagai manusia yang berjasa besar dalam ketiga isu tersebut. Pada dasarnya, mereka adalah orang-orang BODOH yang tidak mengerti ujung dari gerakan pluralisme, humanisme, dan demokrasi itu sendiri. Pluralisme adalah ideologi untuk mematikan keimanan kepada agama-agama (bukan hanya Islam). Seorang pluralis sejati tidak memiliki keyakinan yang kuat kepada suatu agama, selain agama pluralisme itu sendiri. Orang-orang yang berakidah humanisme, mereka mempertuhankan “kepentingan manusia”, sehingga manusia dianggap bebas merdeka, termasuk bebas dari aturan agama. Manusia yang berakidah demokrasi, mereka meyakini bahwa “suara rakyat suara Tuhan”. Artinya, cukuplah kesepakatan rakyat untuk menggantikan peranan aturan Tuhan. Ketiga prinsip (pluralisme, humanisme, demokrasi) ini adalah hakikat atheisme, sebagaimana prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Freemasonry kepada para pengikutnya.


[13] Semua orang yang memuja-muja Gus Dur, pada dasarnya tidak keluar dari 3 kemungkinan: Pertama, mereka orang bodoh yang tidak tahu informasi dan sempit wawasan. Mereka orang-orang fanatik yang tidak bisa membedakan hitam dan putih; Kedua, mereka orang oportunis yang merasa perlu mencari keridhaan umat manusia (khususnya investor Yahudi) agar mendapat keuntungan-keuntungan duniawi; Ketiga, mereka satu barisan dengan Gus Dur dalam rangka memadamkan cahaya agama Allah dan membesarkan missi Yahudi laknatullah ‘alaihim. Hanya ini kemungkinannya.


[14] Betapa banyak manusia takut kepada Gus Dur, selama hidupnya. Mereka tidak berani mengkritik Gus Dur, tidak berani berbeda pendapat, tidak berani membantah, tidak berani menentang pendapat-pendapatnya yang keliru. Termasuk, ketika Gus Dur mengatakan, bahwa Al Qur’an adalah kitab suci yang paling porno. Mereka tetap tidak berani mengingatkan Gus Dur. Mereka sangat takut kepada Gus Dur, karena takut kuwalat, takut celaka, takut mengalami kemalangan. Lihatlah, betapa banyak manusia sudah mempertuhankan Gus Dur. Kepada Allah mereka tidak takut, tetapi kepada Gus Dur begitu ketakutan. Realitas seperti itu adalah kemusyrikan dalam bentuk baru.


[15] Terakhir, betapa hinanya manusia yang mau membela, membantu, mendukung, menyokong, mempermudah gerakan Yahudi internasional. Padahal mereka semula adalah Muslim, orang Indonesia, orang pesantren, dan sebagainya. Sayang sekali, mereka mendukung Yahudi internasional yang terkenal dengan misi-misi kejahatan mereka untuk memperbudak seluruh manusia di dunia. Mereka mendukung gerakan yang tujuan akhirnya menjadikan semua manusia bersimpuh di telapak kaki Yahudi. Bahkan sangat disayangkan sekali, mereka lahir dari rahim wanita-wanita non Yahudi. Mengapa? Sebab selama mereka tidak memiliki darah Yahudi, statusnya tetap sebagai “budak”. Sangat menyedihkan, mereka bersusah-payah mendukung misi kerusakan di muka bumi.


Sulit bagi saya untuk memastikan, apakah Gus Dur seorang Freemason atau bukan? Tetapi setidaknya kita mendapat banyak bukti, bahwa dia adalah tokoh yang selama hidupnya banyak menolong missi-missi Yahudi internasional. Dalam Surat Al Maa’idah dikatakan, “Wan man yatawallahum, fainnahu minhum” [siapa yang loyal kepada mereka (Yahudi atau Nashrani), sesungguhnya dia bagian dari mereka].


Sekali lagi ditegaskan disini, Gus Dur bukan saja tidak pantas dianggap sebagai “pahlawan nasional”. Bahkan mengucapkan “innalillah wa inna ilaihi raji’un” saat dia mati, adalah sebuah kesalahan.


Saudaraku, Anda jangan takut kepada siapapun dalam rangka mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sekaligus Anda jangan berani memuja-muja manusia yang tidak pantas dipuji, sehingga perbuatan Anda itu akan mengundang kemurkaan Allah Ta’ala. Jadilah Muslim sejati yang bicara apa adanya; katakan benar jika benar, katakan salah jika salah. Demi Allah, orang-orang oportunis dimanapun tidak akan beruntung. Mereka takut dimusuhi manusia, tetapi tidak takut dimusuhi Allah Ta’ala.


Perhatikan nasib orang-orang yang saat ini berlomba-lomba memuja Gus Dur, kemudian mereka tidak bertaubat dari kesalahan-kesalahannya. Lihatlah apa yang nanti akan menimpa mereka! Mari kita sama-sama menyaksikan!


Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu Akbar, wallahu Akbar, wallahu Akbar walillahil hamdu.


Abu Muhammad Waskito.


(Dulu dibesarkan dalam kultur Nahdhiyin, di Malang).


*muslimdaily.net



(read more ...)




Fenomena Mengacuhkan Al-Qur’an








 

 وَقَالَ الرّسُولُ يَرَبّ إِنّ قَوْمِي اتّخَذُواْ هَـَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً


“Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang diacuhkan (ditinggalkan)" QS. Al-Furqan: 30


 


Sesungguhnya Allah SWT memuliakan umat ini dengan banyak keistemewaan. Satu di antara keistemewaan itu bahkan yang teragung adalah diturunkannya Al-Qu’an. Al-Qu’an merupakan satu-satunya kitab suci yang orisinalitasnya bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini patut dibanggakan, karena kitab-kitab suci agama lain telah terkontaminasi ulah tangan manusia. Semua kitab suci mereka telah mengalami perubahan berupa penambahan atau pengurangan di dalamnya.


 


Setelah Allah memuliakan umat ini, kebanyakan umat ini malah tidak memuliakan dirinya. Padahal Allah SWT telah menfasilitasi dengan sumber kemuliaan, yaitu Al-Qur’an. Umat ini banyak mengacuhkan Al-Qur’an layaknya apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin dulu. Al-Qur’an kian diabaikan dan ditinggalkan. Hukum halal dan haramnya tidak ditaati.


 


Ayat di atas merupakan keluh kesah Rasul SAW kepada Allah tentang perlakuan kaum musyrikin Makkah kala itu. Betapa kuat pertentangan kaumnya. Betapa hebat respon penolakan mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca. Mereka menuduh Rasul SAW tukang sihir dan ayat-ayat itu adalah mantra-mantranya.  Mereka juga mengklaim Rasul SAW sebagai ahli syair yang pandai merangkai kata demi kata sehingga menjadi indah dan enak didengar. Rasul SAW sangat terpukul atas semua respon itu. Keluhan beliau akhirnya direkam sendiri oleh Allah dalam Kitab-Nya.


 


Jauh setelah Rasul SAW tiada, kondisi kita tampak makin parah. Al-Qu’an kian ditinggalkan. Bukan hanya oleh kaum kuffar, namun juga kaum Muslimin sendiri. Imam Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat di atas menyebutkan beberapa fenomena umat ini yang bisa dikategorikan termasuk meninggalkan Al-Qur’an. Lihat Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Furqan: 30 (Maktabah Syamilah)


 


Pertama, mereka yang apabila dibacakan Al-Qur’an malah memperbanyak obrolan dan perkataan sia-sia. Tujuannya agar tidak mendengar Al-Qur’an.


Adab atau sikap yang seharusnya diperhatikan ketika Al-Qur’an dibacakan adalah menyimaknya dengan sepenuh hati.


وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ


Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (Al-A’raf: 204) Al-Qur’an adalah kalamullah yang agung. Rahmat darinya tidak akan turun, melainkan dengan menyimaknya dengan seksama tatkala ia dibacakan. Untuk itu, demi menghindari sikap yang tidak pantas terhadap Al-Qur’an, sebaiknya ia tidak dibaca di majelis senda gurau, karena mugkin sekali Al-Qur’an akan diacuhkan di tempat itu. Ia hanya layak dibaca di majelis ilmu atau zikir.


 


Kedua, tidak mentadabburi dan berusaha memahaminya.


Tujuan membaca Al-Qur’an adalah untuk ditadabburi isinya sekaligus memahaminya. Dengan mentadabburi kita tahu kapan kita perlu tersenyum, kapan kita meneteskan air mata, kapan kita memanjatkan permohonan, atau kapan kita meminta perlindungan. Tanpa tadabbur, Al-Qur’an layaknya tak lebih dari sebuah buku tebal yang dibaca tetapi tak dimengerti isinya. Mengabaikan usaha untuk tadabbur Al-Qur’an adalah salah satu bentuk mengacuhkannya atau bisa jadi termasuk orang yang terkunci mata hatinya. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?” (QS. Muhammad: 24)


  


Ketiga, tidak mengaplikasikannya dengan mengamalkan segala perintah dan menjauhi semua larangannya.


Kitab yang Agung ini tidak akan tampak keindahannya kecuali bila kandungannya diaplikasikan dalam realitas kehidupan. Bila seseorang menyesuaikan akhlaknya dengan akhlak Qur’ani, terpandanglah ia di mata manusia. Bila seseorang memegang teguh kewajiban Al-Qur’an, ia akan mulia selamanya. Bila seseorang menahan dirinya dari segala larangan dalam Al-Qur’an, kesuciannya senantiasa terjaga. Memberanikan diri selalu menyelisihi Al-Qur’an termasuk mengacuhkan Al-Qur’an. Hendaklah seorang menilai sejauh mana kepribadiannya dengan Al-Qur’an.


فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ إِنَّكَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ


Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 43)


 


Keempat, berpaling darinya dengan menyibukkan diri dengan syair, nyanyian, permainan, dan obrolan.


Saat lidah kita lebih fasih melantunkan lagu atau lebih merdu saat menyanyikannya dibandingkan saat melantunkan Al-Qur’an, itu pertanda ada yang tidak beres dalam diri kita. Saat hati kita lebih terenyuh dengan syair atau lebih syahdu saat mendeklamasikannya, kita perlu bertanya pada diri kita. Puncaknya kita ternyata lebih antusias menyimak apapun selain Al-Qur’an. Ada apa dengan diri kita? Kenapa di ponsel kita, lebih banyak conten lagunya dibanding murattal? Kenapa koleksi dvd Al-Qur’an kita tidak sevariatif dvd lagu-lagu? Kenapa di rumah kita lebih sering diputar suara para biduan dibanding lantunan tilawah para imam?


 


Kelima, mengutamakan solusi selain solusi Qur’ani.


Sesungguhnya Al-Qur’an menawarkan kita berbagai solusi kehidupan. Lalu kenapa masih saja banyak yang menolak termasuk kaum Muslimin sendiri. Al-Qur’an dituduh sebagai kitab klasik yang tak relevan dengan zaman modern. Hukum-hukumnya tidak semaju hukum positif produk manusia. Sesungguhnya mengutamakan solusi Al-Qur’an merupakan usaha memuliakan Al-Qur’an. Sebaliknya mengutamakan solusi di luar itu, dipandang mengacuhkan Al-Qur’an.


إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ


Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jatsiyah: 18)


 


Bila dahulu, Rasul SAW mengeluhkan respon negatif kaumnya yang kebanyakan masih musyrik, tampaknya kini beliau kondisi umat beliau sudah hampir sama dengan mereka. Akankah Rasul SAW pun di dalam kuburnya menangisi perlakuan kita yang kerap mengacuhkan Al-Qur’an?


 


Oleh:


Habib Ziadi

Alumni Mahad Aly Isy Karima

kini berdakwah di Tanah Papua





(read more ...)




SUKABUMI (Arrahmah.com) - Kiprah Ayu Azhari, nampaknya tak bisa dipisahkan dari yang “panas-panas” di negeri ini. Sejak tahun 1980-an, artis yang tersohor dengan julukan “bom seks” ini sudah sering memanaskan media nasional, hingga manca negara. Maklum, artis yang menurut Gus Dur berwajah ayu itu, adalah bintang segala bintang panas.


Di dunia perfilman Ayu tampil sebagai artis film panas. Di dunia tarik suara, istri vokalis "White Lion", Mike Tramp itu “fanatik” dengan suguhan goyang seronok. Tak pandang bulu, di hadapan siapapun ia bergoyang seronok, meski di depan Menteri Kehutanan yang notabene ketua partai Islam sekalipun.



Salah satu aksi seronok Ayu Azhari dipertontonkan ketika tampil membaca puisi dalam acara Peringatan Seperempat Abad Departemen Kehutanan (Dephut) bertajuk Pagelaran Seni Suluk Hijau di Gedung Manggala Wanabhakti, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (27/3) malam.



Menurut kabar dari Warta Kota (30/03/2008), aksi “pamer dada” Ayu Azhari di hadapan menteri itu sungguh keterlaluan. Betapa tidak, busana yang dikenakan, atasan model halter warna hijau muda dengan punggung terbuka dan bawahan kain selutut warna hijau bermotif merumbai, Ayu tampil seksi dalam acara itu. Bajunya yang tanpa lengan dengan bagian belakang terbuka serta diikat pada bagian leher itu menampakkan bagian dada seolah-olah tanpa pelindung (BH) alias no bra.



Bahkan saat mengakhiri puisinya, Ayu meninggalkan panggung seraya menari setengah berputar beberapa saat, sehingga… astagfirullah, tidak pantas bila dituliskan di sini.



Buntut dari aksi erotis Ayu Azhari itu, Menhut MS Kaban sangat marah atas penampilan seronok tersebut.



Di dunia modelling, lebih dahsyat lagi panasnya. Foto-foto –maaf– bugilnya bertebaran di seluruh penjuru dunia, bisa diakses –sekaligus  bisa merusak moral bangsa terutama kaula muda– baik di media cetak maupun di dunia maya. Saking nakalnya media, beberapa portal berita bahkan "fanatik" menampilkan foto Ayu tak berbusana sebagai ilustrasi berita politik terkait Pilkada Sukabumi.



Itulah yang terjadi jika pers dan sumber berita sama-sama doyan porno. Sang artis yang jadi incaran berita memang terkenal karena kepornoannya, sementara sang jurnalis yang otaknya ngeres gemar mengekspresikan otaknya dengan mengumbar foto-foto Ayu tak berbusana, pada berita yang tidak semestinya. Artis dan wartawan sama-sama doyan porno, maka korbannya adalah generasi muda.



Incar jabatan Wakil Bupati, artis panas kenakan kerudung dan umbar slogan "baik, benar dan istiqomah"




Awal Januari 2010, beberapa sudut kota Sukabumi, antara lain di Kecamatan Cisaat, Cibadak, Cimahpar, dan daerah selatan Kabupaten Sukabumi, bertebaran baliho yang memajang foto Ayu Azhari. Tapi jangan salah, kali ini bukan foto bugil Ayu Azhari. Dalam baliho itu Ayu tidak sendiri, tapi berdampingan dengan pasangan sang bakal calon Bupati, Heriyanto. Salah satunya baliho berukuran besar sekitar 5x6 meter. Warna latar (background) poster merah-putih, terpampang foto Heriyanto dan Ayu Azhari di sisi kiri dan kanan.



Foto Ayu Azhari itu benar-benar ayu, tampak shalihah dengan jilbab hitam menutupi aurat yang dulu diumbarnya. Jilbab hitam itu sangat serasi dengan pakaian gamisnya.



Pada bagian bawah poster, tertera tulisan “Mohon doa restu” kemudian nama pasangan, dan tentunya tidak tertinggal slogan kampanye pasangan. Slogan dalam bahasa sunda itu berbunyi “Hayu bebeunah, Heri-Ayu bener, bageur, istiqomah,” yang jika diterjemahkan berarti: ”Mari berbenah, Heri dan Ayu benar, baik, dan istiqomah.”



Entah, apa definisi "benar, baik dan istiqomah" yang akan dipraktikkan artis panas Ayu Azhari jika kelak terpilih jadi Wakil Bupati Sukabumi.



Heriyanto akan maju untuk Calon Bupati dari PMB dan beberapa partai koalisi., sementara Ayu akan maju dari PDIP.



Majunya artis bernama asli Khodijah Azhari, dari awal memang sudah mengundang pro-kontra yang menghebohkan warga Sukabumi. Sebab, mereka selama ini mengenal Ayu bukan sebagai politisi, melainkan sebagai bomseks, artis panas, pedangdut seronok dan foto model polos.



Mungkin karena stigma “bom seks” yang tak bisa dipisahkan dari Ayu Azhari itulah, maka tangan-tangan iseng beraksi menjahili baliho “bom seks” berkerudung. Di beberapa tempat yang terpasang baliho Ayu Azhari berkerudung, mulai dipasangi poster-poster Ayu Azhari dengan pose berbeda. Bedanya, di baliho Ayu terlihat berkerudung. Sedang poster-poster itu, adalah poster Ayu Azhari tahun 80-an yang hanya mengenakan swimsuit (pakaian renang).



MUI:  Pilih pemimpin yang kuat agamanya sesuai kriteria Islam



Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, H. Amidhan menyayangkan adanya kepentingan pihak-pihak tertentu untuk  menangguk suara terbanyak dalam pencalonan pencalonan bomseks Ayu Azhari sebagai Wakil Bupati Sukabumi. Jika hanya berorientasi pada jumlah suara dalam pilkada, maka amat disayangkan bila terjadi kampanye yang kontraproduktif. Amidhan mengimbau umat Islam Sukabumi untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan karakter Sukabumi.



"Sukabumi itu kan kota yang kuat agamanya," jelasnya.



Amidhan juga mengimbau masyarakat Sukabumi untuk memilih pemimpin berdasarkan kriteria yang sesuai dengan syariat Islam.



"MUI memang punya kriteria atau syarat menjadi pemimpin yakni di antara sebagai pemimpin itu harus beriman, takwa, memperjuangkan kepentingan umat, integritasnya teruji dan memiliki visi misi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan," pungkas Amidhan.



Forum Umat Islam Tuding PDIP Pengkhianat




Jauh-jauh hari, Forum Umat Islam (FUI) mengimbau PDIP, untuk tidak mendukung Azu Azhari sebagai Calaon Wakil Bupati Sukabumi. Karena, jika jabatan diberikan kepada yang tidak tepat, maka akan datang kehancuran.



"Partai-partai politik sekarang kan banyak yang pragmatis. Hanya karena popularitas maka seseorang di dukung," ujar FUI, Muhammad Al-Khaththath di Jakarta, Jumat (25/12).



Alasannya, sambungnya, jika mengacu pada hadist Nabi yang mengatakan barangsiapa mengangkat seseorang menjadi pemimpin padahal ada orang lain yang lebih layak dan alim, maka diingatkan oleh Rasulullah sebagai sebuah pengkhianatan.



"Faktornya apa sih, popularitas? Ingat Nabi sudah berpesan jika hanya karena demikian itu adalah penghianatan. Sebab hasilnya kalau tidak tepat maka semuanya bisa rusak, ya politik, sosial, budaya semua dan korbannya kembali adalah rakyat," tegasnya.



Untuk itu dirinya mengimbau kepada PDIP maupun partai lain untuk memilih seorang pemimpin yang ahli, amanah dan takwa sehingga tercapai masyarakat yang takwa, adil dan makmur.



"Ingat, apabila suatu jabatan diberikan tidak pada ahlinya, tunggu saja kehancuran yang pasti akan datang. Cukup sudah berbagai masalah bangsa yang ada saat ini," imbuhnya.



Jika Bom Seks Terpilih jadi Wakil Bupati Sukabumi



Kata pepatah, kafilah menggonggong anjing berlalu. Suara ”ilahiah” para kiyai dan ulama tak diacuhkan sama sekali. Sang bom seks tetap melaju menuju singgasana Wakil Bupati. Tak peduli apapun track record, reputasi, moral dan agamanya. Dan tak peduli Ayu bukan penduduk asli Sukabumi atau bukan.



Meski diwarnai pro dan kontra, Ayu Azhari menyatakan siap maju sebagai salah satu calon Wakil Bupati Sukabumi periode 2010-2015. Guna melengkapi persyaratan bakal calon, kuasa hukum Ayu, Secarpiandy, mendatangi kantor DPC PDI Perjuangan Sukabumi, Jawa Barat, Sabtu (2/1). Kedatangannya untuk pemantapan serta verifikasi syarat-syarat bakal calon.



Menurut Secarpiandy, kedatangannya atas undangan DPC PDI Perjuangan dan bisa diwakilkan kuasa hukum lantaran Ayu Azhari amat sibuk. Namun saat konferensi cabang, Ayu Azhari dipastikan akan hadir karena sifatnya wajib dan tidak dapat diwakilkan. Dalam kesempatan ini, Secarpiandy menyatakan kesiapan Ayu untuk memenangkan konferensi cabang guna lolos menjadi calon Wakil Bupati Sukabumi.



Hari ini (10/1/2010), Ayu Azhari dijadwalkan menjalankan tahapan verifikasi pencalonannya sebagai bakal calon wakil bupati di Sekretariat DPC PDIP Kabupaten Sukabumi di Jalan Raya Selakopi, Kecamatan Cicantayan.



Tapi karena kesibukan lain, Ayu Azhari mangkir dari panggilan tim verifikasi PDIP Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.



"Ketidakhadiran Ayu Azhari disebabkan Ayu Azhari memiliki kesibukan lain yang sedang shooting di luar kota," kata Ketua Tim Verifikasi Balon PDIP, Agus Sunardi, di Sukabumi, Minggu (10/1).



Namun, lanjut dia, dengan ketidakhadiran Ayu dalam verifikasi ini menjadi bahan pertimbangan partainya untuk mengajukan berkas pencalonan Ayu Azhari ke tingkat DPD PDIP Jawa Barat dan DPP PDIP.



"Verifikasi ini wajib diikuti oleh setiap balon yang mendaftar kepada kami. Karena dalam verifikasi tersebut, setiap balon harus melengkapi persyaratan administrasi yang kami siapkan," ujarnya seraya memberikan waktu kepada kepada Ayu Azhari hingga hari Rabu, (13/1) mendatang.



Bakal calon bupati Heriyanto, ketika mendaftarkan ke PDI-P, mengatakan, dirinya dan Ayu Azhari sudah mempersiapkan segalanya untuk menjadi calon dari PDI-P. Dalam waktu dekat pihaknya akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat dengan membuat baliho.



"Visi dan misi kami adalah meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM), menjadikan Kabupaten Sukabumi sebagai daerah penyangga ibu kota dalam lima tahun ke depan dan akan memberdayakan ekonomi masyarakat," ujarnya.



Ia mengungkapkan, dari hasil survei suara yang masuk bila dirinya maju dalam pilkada ini sudah tercatat 150 ribu suara yang berasal dari PDI-P dan partai pengusung lainnya serta dari masyarakat. "Kami yakin akan menang satu putaran dalam pilkada ini dan kami meminta doa restu dari seluruh pihak untuk bisa mendukung kami," katanya.



Entah ”Indeks Pembangunan Manusia” (Human Development Index) model apa yang akan ditingkatkan oleh sang bupati dan wakilnya, jika wakil bupatinya tidak punya latar belakang dan kompetensi di bidang pembangunan sumber daya manusia. Selama ini sang wakil bupati yang kondang dengan gelar ”bom seks” itu terkenal ahli meningkatkan pembangunan ”syahwat” kaum pria.



Apakah interpretasi mereka tentang komponen indeks mutu manusia berbeda dengan kebanyakan orang? Jika berasumsi bahwa penentu indeks mutu manusia adalah ”transparansi dan keterbukaan,” memang Ayu Azharilah orang yang paling pas. Setidak-tidaknya, ia telah membuktikan ”keterbukaannya” dengan foto-foto bugil yang tersebar luas dan meracuni banyak generasi muda.



Kelak, jika Ayu dan pasangan cabupnya memenangkan pilkada, maka para ulama dan umat Islam harus siap-siap untuk dipimpin oleh Wakil Bupati yang sudah akrab dengan julukan ”bom seks” itu. Itulah resiko demokrasi!



Jika demikian, maka orang yang paling bahagia di Sukabumi adalah kaum pria penikmat foto ”bugil” dan situs porno, karena selama ini mereka sudah sangat akrab dengan Wakil Bupatinya. Bukankah mereka sudah sangat mengenal Wakil Bupatinya  luar-dalam, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, bahkan hingga organ rahasia terdalam (aurat), yang mereka saksikan selama bertahun-tahun di dunia maya?



Urang Sukabumi, mari camkan sabda agung baginda Rasulullah SAW: "Tunggu saat kehancuranannya, apabila amanat itu disia-siakan!" Para sahabat serentak bertanya, "Ya Rasulullah, apa yang dimaksud menyia-nyiakan amanah itu?" Nabi SAW menjawab: "Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu tanggal kehancurannya” (HR. Bukhari). [voa-islam.com/arrahmah.com]


 


(read more ...)




Banyak kita jumpai seruan untuk mengikuti kebanyakan orang (mayoritas) dalam hal beragama, ia berbendapat bahwa mengikuti mayoritaslah merupakan kebenaran dalam beragama. Telah dijelaskan dalam Alquran bahwa mengikuti kebanyakan orang bukanlah merupakan tolak ukur suatu kebenaran,


Saudaraku yang dirahmati Allah, tahukah engkau bahwa, Allah Subhanahu wa ta’ala telah berfirman :


1. Kebanyakan manusia menyesatkan :


وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ


Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah (Qs:al An’aam:116)


2. Kebanyakan manusia tidak bersyukur:


إِنَّ اللّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَشْكُرُونَ


“..akan tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur” (Qs Al Baqoroh:243)


3. Kebanyakan manusia tidak mengetahui kebenaran:


وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ


“…akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Qs.Al A’raf:187)


4. Kebanyakan manusia lalai mengingat Allah:


وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ


“.. dan sesungguhnya kebanyakan manusia itu lengah terhadap tanda tanda kekuasan Kami” (Qs.Yunus:92)


5. Kebanyakan manusia itu fasik:


وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ


“..dan sesungguhnya kebanyakan manusia itu benar benar fasiq” (Qs.Al Maa’idah:49)


6. Kebanyakan manusia mengingkari Al Quran:


وَلَقَدْ صَرَّفْنَا لِلنَّاسِ فِي هَـذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلاَّ كُفُوراً


“ dan sesungguhnya Kami telah mengulang ulang kepada manusia didalam Al-Quran ini setiap macam perumpamaan, tetapi kebanyakan manusia tidak menyukai selain mengingkari”. (Qs.Al Isra’:89)


7. Kebanyakan manusia mengingkari berjumpa dengan Allah:


وَإِنَّ كَثِيراً مِّنَ النَّاسِ بِلِقَاء رَبِّهِمْ لَكَافِرُونَ


Dan sesungguhnya kebanyakan diantara manusia benar benar ingkar akan pertemuan dengan rabb-nya. (Qs.Ar Ruum:8)


8. Kebanyakan manusia tidak beriman:


وَلَـكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يُؤْمِنُونَ


..akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”. (Qs.Hud:17)


Saudaraku yang dirahmati oleh Allah, tahukah engkau, bahwa:


1. Sedikit sekali manusia yang bersyukur:


وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ


Sedikit sekali dari hamba-Ku yang bersyukur.” (Qs.Saba’:13)


2. Sedikit sekali manusia yang beriman:


وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلاً مَا تُؤْمِنُونَ


..Sedikit sekali kalian beriman kepadanya. (Qs.Al Haaqqah:41)


3. Sedikit sekali manusia menginggat Allah:


مَّعَ اللَّهِ قَلِيلاً مَّا


“ Sangatlah sedikit kalian-Nya.” (Qs.An Naml:62)


4. Sedikit sekali manusia yang mau mengambil pelajaran.


مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ


“..Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran” (Qs.Al A’raf:3)


Saudaraku, alangkah banyaknya manausia yang tidak mengenal dan mengetahui kebenaran, yang lalai mengingat allah, yang tidak pandai bersyukur yang mengingkari Al-Quran, yang mengingkari perjumpaan dengan Rabb-nya dan yang tidak beriman.


Serta alangka sedikitnya manusia yang bersyukur, yang mau mengambil pelajaran, yang senantiasa mengingat Allah dan yang beriman kepada Al-Quran.


……..mantera apa yang menyihir kita untuk berlomba lomba menjadi yang terbanyak, berkorban demi yang banyak dan mengikuti yang terbanyak ???.


Allah subhanahu wata’ala telah mengingatkan kepada hamba hamba-Nya “


وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ


“Seandainya kalian mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, sungguh mereka akan menyesatkan kalian dari jalan Allah “(Qs:al An’aam:116)


Disalin dan diringkas dari bulletin Publikasi Ahlusunnah Jakarta,

(read more ...)



Adalh karunia Alloh azza wa jalla pada kita saat bisa kita sadari dan pahami akan kemudahan bagi diri senantiasa dapat meniti jalan yg menuju pintu ridho dan ampunan-Nya. sebaliknya justru merupakan petaka jika tdk pernah mempunyai kesadaran seperti yg telah disebutkan. Apalagi begitu mudahnya kita merencanakan dan melakukan pembukaan jalan yg dimurkai oleh Alloh azza wa jalla.

MUHASABAH

bilakah seseorang dibiarkan begitu saja berbuat semaunya dalam hidup ini, tanpa ada yg mengawasi dan memperhitungkan amal perbuatannya tentu ia diperbolehkan bertindak bodoh dan ceroboh menyia-nyiakan kehidupannya. sebagaimana org jahil menghambur-hamburkan hartanya. bagaimana mungkin karakter seperti itu deperbolehkan? bukankah Alloh mempunyai malaikat-malaikat yg bertugas menulis seluruh perkara yg kecil dan yg besar, serta mencatat perbuatan seberat atom sekalipun?

beruntunglah org-org yg dalam dirinya tumbuh usaha keras keras untuk membuat lebih baik kehidupanya sekalipun dhohirnya tampak jelas, akan tetapi ia adlh org yg mengeti betul tentang hakikat kebaiakan, ia pun memahami bahwa nanti akan tiba suatu masa dimana setiap hal yg telah dilakukan akan di perhitungkan, dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh Dzat yg Maha mengetahui semua perkara yg di rahasiakan.

Maka langkah paling cerdas dan bijak sebelum semua terlanjur, adalah upaya muhasabah terhadap diri sendiri atas kebaikan dan keburukan yg telah diperbuat.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(al hasyr:18)

Agar ia tdk terperanjat kaget dengn sesuatu yg tdk pernah terbayangkan sebelumnya pada hari pertemuan dengan Hakim yg Maha Adil Alloh azza wa jalla. ia mengira dirinya adalah orang yg baik dan bertaqwa................

(read more ...)




13.  Ahlussunnah         : Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.


Syiah                     : Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.


 


14.  Ahlussunnah         : Khamer/ arak tidak suci.


Syiah                     : Khamer/ arak suci.


 


15.  Ahlussunnah         : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.


Syiah                     : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.


 


16.  Ahlussunnah         :  Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.


Syiah                     : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.





 


17.  Ahlussunnah         : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.


Syiah                     : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya.


(Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).


 


18.  Ahlussunnah         : Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.


Syiah                     : Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.


 


19.  Ahlussunnah         : Shalat Dhuha disunnahkan.


Syiah                     : Shalat Dhuha tidak dibenarkan.


(padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).


 


Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah/Rafidhah).  Sengaja  kami  nukil  sedikit saja,  sebab apabila kami nukil


seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini.


Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).


Masihkah mereka akan dipertahankan sebaga Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya).


Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).


Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).


Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.


Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.


Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita.


Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin.


(read more ...)




6.      Ahlussunnah         : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.


Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.


Syiah                     : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma’shum, seperti para Nabi.


 


7.      Ahlussunnah         : Dilarang mencaci-maki para sahabat.


Syiah                     : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membaiat Abu Bakar sebagai Khalifah.


 


8.      Ahlussunnah         :   Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.


Syiah                     : Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.


 


9.      Ahlussunnah         : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah :


a)      Bukhari


b)      Muslim


c)      Abu Daud


d)      Turmudzi


e)      Ibnu Majah


f)       An Nasa’i


(kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).


Syiah                     : Kitab-kitab Syiah ada empat :


a)      Al Kaafi


b)      Al Istibshor


c)      Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih


d)      Att Tahdziib


(Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah). 


 


10.  Ahlussunnah         : Al-Quran tetap orisinil


Syiah                     : Al-Quran yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).


 


11.  Ahlussunnah         : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.


Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.


Syiah                     : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah.


Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.


 


12.  Ahlussunnah         : Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.


Syiah                     : Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.


Setelah mereka semuanya baiat kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai  ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.


Keterangan           : Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.


(read more ...)





Sekelompok Muslim menggugat fatwa MUI tentang “haramnya seorang Muslim hadir dalam Perayaan Natal Bersama. Sikap “kebelet” agar bisa disebut toleran?. Baca CAP Adian Husaini, MA ke-83


Menjelang perayaan Hari Natal, 25 Desember, ada sebagian kalangan kaum Muslim yang kembali menggugat fatwa MUI tentang “haramnya seorang Muslim hadir dalam Perayaan Natal Bersama.” Ada yang menyatakan, bahwa yang melarang Perayaan Natal Bersama (PNB) atau yang tidak mau menghadiri PNB adalah tidak toleran, eksklusif, tidak menyadari pluralisme, tidak mau berta’aruf, dan sebagainya. Padahal orang Islam disuruh melakukan ta’aruf (QS 49:13). Banyak yang kemudian berdebat “boleh dan tidaknya” menghadiri PNB, tanpa menyadari, bahwa sebenarnya telah banyak diciptakan mitos-mitos seputar apa yang disebut PNB itu sendiri.



Pertama, mitos bahwa PNB adalah keharusan. Mitos ini seperti sudah begitu berurat-berakar, bahwa PNB adalah enak dan perlu. Padahal, bisa dipertanyakan, apa memang perlu diadakan PNB? Untuk apa? Jika PNB perlu, bahkan dilakukan pada skala nasional dan dijadikan acara resmi kenegaraan, maka perlukah juga diadakan WB (Waisak Bersama), NB (Nyepi Bersama), IFB (Iedul Fitri Bersama), IAB (Idul Adha Bersama), MNB (Maulid Nabi Bersama), IMB (Isra’ Mi’raj Bersama), IB (Imlek Bersama). Jika semua itu dilakukan, mungkin demi alasan efisiensi dan pluralisme beragama, akan ada yang usul, sebaiknya semua umat beragama merayakan HRB (Hari Raya Bersama), yang menggabungkan hari raya semua agama menjadi satu. Di situ diperingati bersama kelahiran Tuhan Yesus, peringatan Nabi Muhammad SAW, dan kelahiran dewa-dewa tertentu, dan sebagainya.



Keharusan PNB sebenarnya adalah sebuah mitos. Jika kaum Kristen merayakan Natal, mengapa mesti melibatkan kaum agama lain? Ketika itu mereka memperingati kelahiran Tuhan Yesus, maka mengapa mesti memaksakan umat agama lain untuk mendengarkan cerita tentang Yesus dalam versi Kristen? Mengapa doktrin tentang Yesus sebagai juru selamat umat manusia itu tidak diyakini diantara pemeluk Kristen sendiri?



Di sebuah negeri Muslim terbesar di dunia, seperti Indonesia, wacana tentang perlunya PNB adalah sebuah keanehan. Kita tidak pernah mendengar bahwa kaum Kristen di AS, Inggris, Kanada, Australia, misalnya, mendiskusikan tentang perlunya dilaksanakan IFB (Idul Fitri Bersama), agar mereka disebut toleran. Bahkan, mereka tidak merasa perlu menetapkan Idul Fitri sebagai hari libur nasional. Padahal, di Inggris, Kanada, dan Australia, mereka menjadikan 26 Desember sebagai “Boxing Day” dan hari libur nasional. Selain Natal, hari Paskah diberikan libur sampai dua hari (Easter Sunday dan Esater Monday). Di Kanada dan Perancis, Hari Natal juga libur dua hari. Hari libur nasional di AS meliputi, New Year’s Day (1 Januari), Martin Luther King Jr Birthday (17 Januari), Washingotn’s Birthday (21 Februari), Memorial Day (30 Mei), Flag Day (14 Juni), Independence Day (4 Juli), Labour Day (5 September), Columbus Day (10 Oktober), Veterans Day (11 November), Thanksgiving’s Day (24 November), Christmas Day (25 Desember).



Kedua, mitos bahwa PNB membina kerukunan umat beragama. Mitos ini begitu kuat dikampanyekan, bahwa salah satu cara membina kerukunan antar umat beragama adalah dengan PNB. Dalam PNB biasanya dilakukan berbagai acara yang menegaskan keyakinan umat Kristen terhadap Yesus, bahwa Yesus adalah anak Allah yang tunggal, juru selamat umat manusia, yang wafat di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Kalau mau selamat, manusia diharuskan percaya kepada doktrin itu. (Yohanes, 14:16). Satu kepercayaan yang dikritik keras oleh al-Quran. (QS 5:72-73, 157; 19:89-91, dsb).



Dalam surat Maryam disebutkan, memberikan sifat bahwa Allah punya anak, adalah satu “Kejahatan besar” (syaian iddan). Dan Allah berfirman dalam al-Quran: “Hampir-hampir langit runtuh dan bumi terbelah serta gunung-gunung hancur. Bahwasannya mereka mengklaim bahwa al-Rahman itu mempunyai anak.” (QS 19:90-91).



Prof. Hamka menyebut tradisi perayaan Hari Besar Agama Bersama semacam itu bukan menyuburkan kerukunan umat beragama atau toleransi, tetapi menyuburkan kemunafikan. Di akhir tahun 1960-an, Hamka menulis tentang usulan perlunya diadakan perayaan Natal dan Idul Fitri bersama, karena waktunya berdekatan:



“Si orang Islam diharuskan dengan penuh khusyu’ bahwa Tuhan Allah beranak, dan Yesus Kristus ialah Allah.



Sebagaimana tadi orang-orang Kristen disuruh mendengar tentang Nabi Muhammad saw dengan tenang, padahal mereka diajarkan oleh pendetanya bahwa Nabi Muhammad bukanlah nabi, melainkan penjahat. Dan al-Quran bukanlah kitab suci melainkan buku karangan Muhammad saja. Kedua belah pihak, baik orang Kristen yang disuruh tafakur mendengarkan al-Quran, atau orang Islam yang disuruh mendengarkan bahwa Tuhan Allah itu ialah saru ditambah dua sama dengan satu, semuanya disuruh mendengarkan hal-hal yang tidak mereka percayai dan tidak dapat mereka terima… Pada hakekatnya mereka itu tidak ada yang toleransi. Mereka kedua belah pihak hanya menekan perasaan, mendengarkan ucapan-ucapan yang dimuntahkan oleh telinga mereka.



Jiwa, raga, hati, sanubari, dan otak, tidak bisa menerima. Kalau keterangan orang Islam bahwa Nabi Muhammad saw adalah Nabi akhir zaman, penutup sekalian Rasul. Jiwa raga orang Kristen akan mengatakan bahwa keterangan orang Islam ini harus ditolak, sebab kalau diterima kita tidak Kristen lagi. Dalam hal kepercayaan tidak ada toleransi. Sementara sang pastor dan pendeta menerangkan bahwa dosa waris Nabi Adam, ditebus oleh Yesus Kristus di atas kayu palang, dan manusia ini dilahirkan dalam dosa, dan jalan selamat hanya percaya dan cinta dalam Yesus.”
Demikian kutipan tulisan Prof. Hamka yang ia beri judul: “Toleransi, Sekulerisme, atau Sinkretisme.”



Ketiga, mitos bahwa dalam PNB orang Muslim hanya menghadiri acara non-ritual dan bukan acara ritual. Untuk menjernihkan mitos ini, maka yang perlu dikaji adalah sejarah peringatan Natal itu sendiri, dan bagaimana bisa dipisahkan antara yang ritual dan yang non-ritual. Sebab, tradisi ini tidak muncul di zaman Yesus dan tidak pernah diperintahkan oleh Yesus. Maka, bagaimana bisa ditentukan, mana yang ritual dan mana yang tidak ritual? Yang jelas-jelas tidak ritual adalah menghadirkan tokoh Santa Claus, karena ini adalah tokoh fiktif yang kehadirannya dalam peringatan Natal banyak dikritik oleh kalangan Kristen. Sebuah situs Kristen (www.sabda.org), menulis satu artikel berjudul: “Merayakan Natal dengan Sinterklas: Boleh atau Tidak?”



“Dikatakan, dalam artikelnya yang berjudul The Origin of Santa Claus and the Christian Response to Him (Asal-usul Sinterklas dan Tanggapan Orang Kristen Terhadapnya), Pastor Richard P. Bucher menjelaskan bahwa tokoh Sinterklas lebih merupakan hasil polesan cerita legenda dan mitos yang kemudian diperkuat serta dimanfaatkan pula oleh para pelaku bisnis.



Sinterklas yang kita kenal saat ini diduga berasal dari cerita kehidupan seorang pastor dari Myra yang bernama Nicholas (350M). Cerita yang beredar (tidak ditunjang oleh catatan sejarah yang bisa dipercaya) mengatakan bahwa Nicholas dikenal sebagai pastor yang melakukan banyak perbuatan baik dengan menolong orang-orang yang membutuhkan. Setelah kematiannya, dia dinobatkan sebagai "orang suci" oleh gereja Katolik, dengan nama Santo Nicholas. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh Sinterklas sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran iman Kristen… Akhirnya, sebagai guru Sekolah Minggu kita harus menyadari bahwa hal terpenting yang harus kita perhatikan adalah menjadikan Kristus sebagai berita utama dalam merayakan Natal -- Natal adalah Yesus.”



Mitos tentang Santa Claus ini begitu hebat pengaruhnya, sampai-sampai banyak kalangan Muslim yang bangga berpakaian ala Santa Claus.



Keempat, mitos bahwa tidak ada unsur misi Kristen dalam PNB. Melihat PNB hanya dari sisi kerukunan dan toleransi tidaklah tepat. Sebab, dalam PNB unsur misi Kristen juga perlu dijelaskan secara jujur. PNB adalah salah satu media yang baik untuk menyebarkan misi Kristen, agar umat manusia mengenal doktrin kepercayaan Kristen, bahwa dengan mempercayai Tuhan Yesus sebagai juru selamat, manusia akan selamat.



Sebab, misi Kristen adalah tugas penting dari setiap individu dan Gereja Kristen. Konsili Vatikan II (1962-1965), yang sering dikatakan membawa angin segar dalam hubungan antar umat beragama, juga mengeluarkan satu dokumen khusus tentang misi Kristen (The Decree on the Missionary Activity) yang disebut “ad gentes” (kepada bangsa-bangsa). Dalam dokumen nostra aetate, memang dikatakan, bahwa mereka menghargai kaum Muslim, yang menyembah satu Tuhan dan mengajak kaum Muslim untuk melupakan masa lalu serta melakukan kerjasama untuk memperjuangkan keadilan sosial, nilai-nilai moral, perdamaian, dan kebebasan. (“Upon the Moslems, too, the Church looks with esteem. They adore one God, living and enduring, merciful and all-powerful, Maker of heaven and earth …Although in the cause of the centuries many quarrels and hostilities have arisen between Christians and Moslems, this most sacred Synod urges alls to forget the past and to strive sincerely for mutual understanding On behalf of all mankind, let them make common cause of safeguarding and fostering social justice, moral values, peace, and freedom.”).



Tetapi, dalam ad gentes juga ditegaskan, misi Kristen harus tetap dijalankan dan semua manusia harus dibaptis. Disebutkan, bahwa Gereja telah mendapatkan tugas suci untuk menjadi “sakramen universal penyelamatan umat manusia (the universal sacrament of salvation), dan untuk memaklumkan Injil kepada seluruh manusia (to proclaim the gospel to all men). Juga ditegaskan, semuya manusia harus dikonversi kepada Tuhan Yesus, mengenal Tuhan Yesus melalui misi Kristen, dan semua manusia harus disatukan dalam Yesus dengan pembaptisan. (Therefore, all must be converted to Him, made known by the Churchs preaching, and all must be incorporated into Him by baptism and into the Church which is His body).



Tentu adalah hal yang normal, bahwa kaum Kristen ingin menyebarkan agamanya, dan memandang penyebaran misi Kristen sebagai tugas suci mereka. Namun, alangkah baiknya, jika hal itu dikatakan secara terus-terang, bahwa acara-acara seperti PNB memang merupakan bagian dari penyebaran misi Kristen.



Dengan memahami hakekat Natal dan PNB, seyogyanya kaum non-Muslim menghormati fatwa Majelis Ulama Indonesia yang melarang umat Islam untuk menghadiri PNB. MUI tidak melarang kaum Kristen merayakan Natal. Fatwa itu adalah untuk internal umat Islam, dan sama sekali tidak merugikan pemeluk Kristen. Fatwa itu dimaksudkan untuk menjaga kemurnian aqidah Islam dan menghormati pemeluk Kristen dalam merayakan Hari Natal.



Fatwa itu dikeluarkan Komisi Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, yang isinya antara lain menyatakan: (1) Mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram (2) agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT, dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.



Kalangan Kristen ketika itu, melalui DGI dan MAWI, banyak mengkritik fatwa tersebut. Mereka menilai fatwa itu berlebihan dan tidak sejalan dengan semangat kerukunan umat beragama. Kalangan Kristen dari luar negeri juga banyak yang berkomentar senada. Padahal, sebenarnya aneh, jika kalangan Kristen yang meributkan fatwa ini. Lebih ajaib lagi, jika ada yang mengaku Muslim meributkan fatwa ini, karena mungkin “kebelet” merayakan Hari Natal dan ingin disebut toleran.



Kalau terpaksa harus merayakan Natal, tidaklah bijak jika harus menggugat soal hukumnya. Apalagi, kemudian, melegitimasi dengan satu atau dua ayat al-Quran yang ditafsirkan sekehendak hatinya. Untuk memahami masalah salat, tidaklah cukup hanya mengutip ayat al-Quran dalam surat al-Ma’un: “Celakalah orang-orang yang salat.” Masalah peringatan Hari Besar Agama, sudah diberi contoh dan penjelasan yang jelas oleh Rasulullah SAW, dan dicontohkan oleh para sahabat Rasul yang mulia. Sebaiknya hal ini dikaji secara ilmiah dari sudut ketentuan-ketentuan Islam. Untuk berijtihad, memutuskan mana yang halal dan mana yang haram, memerlukan kehati-hatian, dan menghindari kesembronoan. Sebab, tanggung jawab di hadapan Allah, sangatlah berat. Tidaklah cukup membaca satu ayat, lalu dikatakan, bahwa masalah ini halal atau haram.



Lain halnya, jika seseorang yang memposisikan sebagai mujtahid, tidak peduli dengan semua itu. Untuk masalah hukum-hukum seputar Hari Raya, misalnya, bisa dibaca Kitab “Iqtidha’ as-Shirat al-Mustaqim Mukhalifata Ashhabil Jahim”, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah).



Sejak awal mula, Islam sadar akan makna pluralitas. Islam hadir dengan mengakui hak hidup dan beragama bagi umat beragama lain, disaat kaum Kristen Eropa menyerukan membunuh kaum “heresy” karena berbeda agama. Karen Armstrong memuji tindakan Umar bin Khatab dalam memberikan perlindungan dan kebebasan beragama kepada kaum Kristen di Jerusalem, Beliau adalah penguasa pertama yang menaklukkan Jerusalem tanpa pengrusakan dan pembantaian manusia. Namun, Umar r.a. tidak mengajurkan kaum Muslim untuk berbondong-bondong merayakan Natal Bersama.



Peringatan Hari Raya Keagamaan, sebaiknya tetap dipertahankan sebagai hal yang eksklusif milik masing-masing umat beragama. Biar masing-masing pemeluk agama meyakini keyakinan agamanya, tanpa dipaksa untuk menjadi munafik. Masih banyak cara dan jalan untuk membangun sikap untuk saling mengenal dan bekerjasama antar umat beragama, seperti bersama-sama melawan kezaliman global yang menindas umat manusia. Dan untuk itu tidak perlu menciptakan mitos tentang seorang tokoh fiktif bernama Santa Claus untuk menjadi juru selamat manusia, khususnya anak-anak. Wallahu a’lam. (KL, 24 Desember 2004).

 











 









 















 





















© 2010 Hidayatullah.Com, All Rights Reserved    




Banner



Site Meter

(read more ...)




Orang beriman sadar bahwa apa yang dimilikinya hanya hak guna (pinjaman), bukan hak milik. Karena yang memilikinya adalah Allah Swt

Oleh: Sholih Hasyim*




Kekayaan seorang mukmin yang paling mahal dalam kehidupan ini adalah manisnya iman kepada Allah Swt. Jika kita memilikinya, sekalipun kita miskin harta, pengaruh, jabatan, tinggal di gubuk reot, mendekam di balik jeruji, hakikatnya kita memiliki segala-galanya dalam kehidupan ini. Sebagaimana pengalaman Nabi Yusuf As.



Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS. Yusuf (12) :



Sebaliknya, meskipun dunia dan seisinya berada di dalam genggaman kita, tetapi kita faqrul iman (miskin iman), maka sejatinya kita tidak memiliki apa-apa. Karena, kita tidak bisa memaknai dan menikmati kehidupan ini. Dunia yang luas tak bertepi ini terasa sempit. Dunia yang terang benderang ini terasa gelap gulita. Orang beriman sekalipun miskin harta, tetapi memiliki kekayaan jiwa (ghinan nafsi).



Oleh karena itu kita harus berjuang tanpa mengenal lelah, dengan tenaga, fikiran, potensi yang kita miliki untuk mencapai manisnya iman (halawatul iman). Betapapun tinggi gunung kita daki, lautan yang tidak bertepi kita arungi, semua untuk memperoleh kenikmatan spiritual (lazzatur ruhi), yang diserap dari iman itu. Karena, di tengah-tengah perjuangan itu Allah Swt akan menggantinya dengan dua surga. Surga di dunia dengan kehidupan yang bahagia (hayatun thayyibah) dan surga di akhirat, selamat dari siksa neraka.



Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar (QS. Yunus (10) : 62-64).



Namun, bagaimanakah iman yang sebenarnya, aqidah salimah (steril dari kontaminasi kemusyrikian)  merujuk referensi Islam itu?



Iman yang benar adalah keyakinan yang terhunjam di kedalaman hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan seluruh anggota tubuh. Keyakinan bulat, tiada keraguan sedikit pun (al-yaqinu kulluhu). Dan mampu mempengaruhi orientasi kehidupan (ittijahul hayah). Iman tidak sekedar amal perbuatan, bukan pula sebatas pengetahuan tentang rukun Iman.



Iman bukan pula sekedar ucapan lisan seseorang yang mengaku bahwa dirinya orang beriman. Sebab, orang-orang munafik pun dengan lisannya menyatakan hal yang serupa, tetapi hatinya mengingkari statemennya sendiri. (QS. Al-Baqarah (2) : 8-9).



Iman pula tidak sebatas amal perbuatan an sich yang secara lahiriah merupakan ciri khusus perbuatan orang beriman. Sebab, orang-orang munafik pun tidak sedikit yang secara permukaan mengerjakan ibadah dan berbuat baik (fi’lul khoir), sedangkan hatinya kontradiksi dengan penampakan lahiriahnya. Apa yang dikerjakan tidak didasari kemurnian niat untuk mencari ridha Allah Swt (QS. An-Nisa (4) : 142). Iman juga bukan sekedar pengetahuan akan makna dan hakikat iman, tidak sedikit orang yang mendalami hakikat dan makna iman, tetapi mereka tetap saja ingkar (QS. An-Naml (27) : 14), (QS. Al-Baqarah (2) : 146).



Dengan demikian, iman membutuhkan penerimaan oleh akal hingga mencapai keyakinan yang benar-benar kuat, tidak lentur dengan perasaan bimbang. (QS. Al-Hujurat (49) : 15). Iman di samping menuntut adanya pengetahuan, pemahaman dan keyakinan yang kokoh, dia juga mensyaratkan adanya kepatuhan hati, sami’na wa ‘atha’na (kami dengar dan kami patuh), kesediaan dan kerelaan menjalankan perintah (instruksi) Allah Swt dan Rasul-Nya, serta ulil amri yang dipilih-Nya (QS. An-Nisa (4) : 65), (QS. An-Nur (24) : 51), (QS. Al-Ahzab (33) : 36).



Di samping pengetahuan dan penerimaan, iman sepatutnya membangkitkan semangat untuk beramal, berjuang dengan harta dan jiwa, sesuai dengan yang dituntut oleh iman itu sendiri dan kewajiban orang beriman (QS. Al-Anfal (8) : 2-4).



Dalam menyajikan ilustrasi tentang iman, Al-Quran selalu mengambil bentuk sebagai perilaku terpuji dan amal yang mendatangkan manfaat, yang merupakan garis pembeda antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir dan munafik (QS. Al-Mukminun (23) : 1-5).



Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam sembahyangnya, orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (QS. Al-Mukminun (23) : 1-5).



Iman dan Kekayaan



Orang beriman sadar bahwa apa yang dimilikinya hanya hak guna (pinjaman), bukan hak milik. Karena yang memilikinya adalah Allah Swt. Maka, dilandasi oleh keimanan ia ikhlas memberikan sesuatu, sekalipun pada saat akan mengeluarkan ada perasaan berat, tetapi keimanannnya itu mengantarkannya untuk rela memberi. Ia yakin dengan memberi, hakikatnya akan mendapatkan balasan yang lebih baik. Balasan itu tidak akan salah alamat, pasti akan mengenai dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Justru infak yang paling tinggi nilainya adalah ketika akan dikeluarkan banyak sekali pertimbangannya, dan berat hati untuk memulainya.



Bahkan bersedia memberikan yang lebih banyak, melebihi dari yang diwajibkan, karena yakin bahwa apa yang diberikannya untuk menunaikan kewajiban kepada Allah Swt. Itulah yang kekal abadi. Sedangkan apa yang di genggaman tangannya akan hilang, lenyap tanpa bekas. Apa yang kita berikan untuk kebaikan, itulah milik kita sebenarnya.



Sebagai contoh kita nukilkan di sini pengalaman ruhani seorang sahabat Rasulullah Saw bernama Ubay bin Ka’ab:



“Aku pernah diutus oleh Rasulullah Saw mengumpulkan zakat. Dalam menjalankan tugas ini, aku berjumpa dengan seorang laki-laki yang akan dipungut zakat hartanya. Setelah dikumpulkan semua ternaknya, maka menurut pendapatku dia hanya berkewajiban membayar bintu makhadh (unta yang sangat mudah). Aku katakan kepadanya: Berikanlah seekor bintu makhadh, karena hanya itu zakat yang diwajibkan kepadamu. Dia menjawab: Unta seusia itu belum mempunyai susu dan belum dapat dikendarai. Inilah seekor onta muda, besar dan gemuk. Ambillah ia !. Aku menjawab: Aku tidak akan mengambil apa yang tidak diperintahkan kepadaku. Kini Rasulullah Saw tidak jauh dari kita. Engkau bisa menemui beliau, mengutarakan apa yang telah kau utarakan kepadaku ini. Kalau Rasulullah Saw menyetujui, tentu aku pun menerimanya. Sebaliknya, jika beliau tidak sepakat, maka aku pun menolaknya. Lelaki itu berkata: Boleh. Lalu kami pergi bersama dengan membawa onta tersebut. Kami menjumpai Rasulullah Saw, lalu laki-laki itu berkata: Ya Rasulullah! Utusanmu telah datang kepadaku. Demi Allah, sebelum ini, baik Rasulullah Saw sendiri maupun utusannya belum pernah mengambil zakat dari hartaku. Lalu aku kumpulkan ternakku, hingga utusanmu berkata: Kewajibanmu hanya membayar bintu makhadh. Unta seperti itu belum mempunyai susu dan belum bisa dikendarai. Aku kemukakan kepadanya supaya dia mengambil seekor onta yang muda dan besar, tetapi dia tidak mau menerimanya. Dan inilah onta itu, kubawa kepadamu, ya Rasulullah, ambillah ia. Rasulullah Saw menjawab: Kewajibanmu hanya itu (bintu makhadh). Tetapi kalau engkau berbuat kebaikan dengan suka rela, niscaya Allah Swt akan memberi pahala kepadamu karenanya, dan kami pun menerimanya. Lelaki itu berkata: Inilah onta itu, ya Rasulullah! Telah kubawa kepadamu. Karena itu terimalah ia. Lalu Rasulullah Saw memerintahkan kepada utusannya itu untuk menerimanya dan mendoakan keberkahan hartanya.” [HR. Abu Daud].



Al-Hamdulilllah, setelah bersedekah dan didoakan oleh manusia pilihan (al-Musthofa) itu, hartanya menjadi barakah, bertambah kebaikannya, semakin berlimpah, baik secara kuantitas dan kualitas. Keluarganya semakin harmonis, anak dan istrinya semakin patuh. Dia terhindarkan dari berbagai penyakit yang selama ini diidapnya. Karena sedekah itu bisa menolak bala’ (Ash-Shadaqatu tadfa’ul bala’). Dia sering mendapatkan jalan keluar dari berbagai kesulitan yang ditemuinya. Bahkan, orang-orang terdekatnya semakin cinta, simpati, dan selalu membelanya. Hashshinuu amwalaku biz zakat (bentengilah harta kekayaanmu dengan zakat), meminjam istilah Umar bin Khathab.



Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (QS. Al-Lail (92) : 5-7).



Apabila kita dalam kondisi papa, keluarkan harta yang paling kita senangi, niscaya Allah Swt akan menghilangkan kemiskinan kita itu. Apabila kita memiliki kecukupan, keluarkanlah infaq, niscaya Allah Swt akan menambah kekayaan kita. Apabila kita kaya, gemarlah berinfaq dengan tulus, supaya semakin kaya. Dan apabila kita sedang sakit, berinfaklah, Insya Allah sakit itu akan segera disembuhkan oleh-Nya. Sedekah adalah solusi yang jitu untuk mengatasi berbagai kerumitan kehidupan kita. Semoga kita bisa mengambil ‘ibrah (pelajaran), ‘ubur (jembatan menuju puncak sukses) dari kisah tadi.



Akrabilah Allah Swt di saat lapang, maka Ia akan mendatangimu ketika sempit (Hadits Qudsi). Wallahu a’lam bishshawab. [2009, Sholih Hasyim/www.hidayatullah.com]

 

(read more ...)





Dalam tekanan dan kesendirian, bermodal keberanian, mantan karyawati RS Mitra Internasional Bekasi Barat ini memperjuangkan haknya berjilbab


 

Hidayatullah.com—Nama lengkapnya, Wine Dwi Mandela. Perempuan berusia 27 tahun ini harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan, demi mempertahankan jilbab yang ia yakini sebagai bentuk keimanan pada agamanya.



Wine yang telah bekerja sebagai tenaga Fisioterapi sejak tahun 2004 di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat ini dicampakkan begitu saja oleh pihak rumah sakit dengan dalih yang dicari-cari. Padahal selama empat tahun bekerja di rumah sakit swasta tersebut, ia mengaku tak pernah melakukan pelanggaran yang merugikan perusahaan.



Awalnya, Wine memang bersikap seperti karyawati RS Mitra pada lainnya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa RS Mitra Keluarga manapun memang memberlakukan larangan berjilbab bagi karyawatinya. Bila ada di antara mereka karyawati yang berjilbab maka mau tidak mau mereka harus melepas jilbab setibanya di rumah sakit.



Wine pun melakukan hal sama ketika ia berjilbab di tahun 2005. Selama tiga tahun ia bongkar pasang jilbab; berangkat memakai jilbab, tiba di RS buka jilbab, lalu pulang kembali mengenakan jilbab. Selama tiga tahun, meski resah kerap menghantui batinnya, ia masih bertahan dengan cara tersebut dengan pembenaran bahwa pekerjaan yang dilakukannya pun adalah bentuk ibadah.



Namun, petunjuk Allah mulai menerangi hati gadis kelahiran Jakarta, 27 November 1982 ini manakala pertengahan bulan April 2008 ia melakukan umrah. Dalam perjalanan umrah yang dipimpin oleh Ustadz Abu Jibril tersebut ia dinasehati oleh istri sang ustadz. Ia menanyakan kepada Wine mengapa masih bertahan dengan pekerjaan yang jelas-jelas menghalanginya menjalankan syariat Islam.



 “Ketika itu istri Ustadz bertanya kepada saya, bagaimana bila ajal datang menjemput, sementara saya sedang dalam keadaan tidak berjilbab,” kenang Wine kepada hidayatullah.



Pertanyaan itulah yang menghantam kesadarannya dan membuat batinnya tak mampu lagi berkompromi dengan cara berjilbab yang telah dilakukannya selama tiga tahun belakangan.



Tekanan Manajemen



Berbekal kesadarannya itulah, Wine bertekad untuk mengenakan jilbab ketika kembali masuk kerja pada tanggal 21 April 2008. Ia mengaku tak ada seorang teman pun yang sempat ia ajak untuk mengikuti langkahnya. Semua yang dilakukannya benar-benar bertolak dari kesadaran dan spontanitas. Saat itu, ia masuk pukul 8 pagi. Ia keluar dari loker tempat berganti pakaian karyawan, menggunakan jilbab dan manset, lengkap dengan seragam kerja harian yang diwajibkan perusahaan. Jilbab yang dikenakannya ketika itu pun berwarna hitam, senada dengan rambut agar tak terlalu menarik perhatian.



Seketika seluruh mata tertuju kepadanya. Semua orang memandangnya dengan keheranan dan pihak rumah sakit kontan “gerah” melihat ulah Wine. Wine pun segera ditegur oleh Koordinator Rehabilitasi Medik, bagian dimana Wine menunaikan tugasnya selama ini. Ibu Suparmi, sang Koordinator, mengecam tindakan Wine dan menegaskan larangan bagi karyawati untuk berjilbab saat menjalankan tugas.



Wine tak bergeming dan sikap Wine membuat Manajer HRD RS Mitra Bekasi Barat, drg. Elisabeth Setyodewi, MM turun tangan. Wine segera dihadapkan pada tuntutan untuk segera mengajukan pengunduran diri bila tetap bertahan menggunakan jilbab di RS. Pihak RS tidak ingin melakukan pemecatan karena menurut pihak rumah sakit semua karyawan yang ingin melakukan pemutusan hubungan kerja pun membuat surat pengunduran diri. Belakangan, oleh Tim Pembela Muslim, hal ini diduga sebagai upaya manajemen RS berkelit dari kewajiban membayar pesangon bagi karyawan yang di-PHK.



Didesak dan ditekan sedemikian rupa oleh pihak manajemen, Wine akhirnya bersedia membuat surat pengunduran diri dengan alasan tidak boleh menggunakan jilbab. Namun, alasan itupun tidak disetujui oleh pihak manajemen karena terkesan ekstrim. Ia disarankan untuk membuat surat pengunduran diri tanpa alasan. Tentu saja Wine menolak membuat surat tersebut karena memang alasannya mengundurkan diri karena larangan berjilbab. Namun, pihak manajemen tetap pada sikapnya. Akhirnya tanpa ada keputusan apapun, Wine meninggalkan RS pukul 9.15 pagi setelah dipaksa menyerahkan kartu pegawai, kartu HMO (Kartu Berobat), dan kunci loker.



Beberapa hari kemudian, ia ditelepon oleh pihak RS untuk datang mengurus masalah administrasi. Pada tanggal 25 April 2008, Wine pun datang menjawab panggilan tersebut dan meminta surat pemecatan dengan alasan larangan menggunakan jilbab. Permintaan tersebut dijawab dengan ancaman blacklist dari Setyodewi, supaya tidak ada satu rumah sakit pun di Jakarta dan sekitarnya yang akan menerima Wine bekerja. Pertemuan ini lagi-lagi tidak membuahkan hasil.



Waktu berlanjut hingga sepekan. Yang datang kepada Wine justru surat Panggilan I dan II yang isinya meminta Wine untuk kembali bekerja tetapi tetap dilarang menggunakan jilbab. Sebagai seorang muslimah sejati, tentu saja ia menolak panggilan tersebut. Hingga akhirnya datanglah surat panggilan III yang menyatakan pemecatan karena Wine telah mangkir dari pekerjaannya.



Proses Hukum



Melihat tidak adanya niat baik dari pihak RS, Wine pun menempuh jalur hukum dengan mengajukan permasalahan ini ke Tim Pembela Muslim (TPM). Selama proses hukum berjalan pun nampak pihak RS tidak sedikitpun berusaha mencapai kesepakatan yang terbaik. Bahkan pihak pengacara RS yang menghubungi Wine pun terkesan menakut-nakuti serta meminta Wine untuk mundur saja dari kasus ini. Namun, dara lulusan Akademi Fisioterapi UKI (Universitas Kristen Indonesia) ini tak ciut nyali.



Ia tetap maju berjuang, membela haknya dan hak kaum muslimah lainnya untuk mengenakan jilbab. Walau menurut pengakuannya, tak seorang pun dari teman-teman sekerjanya yang berani memberikan kesaksian untuk proses hukum, meski mereka juga jilbaber yang mengalami nasib yang sama.



“Awalnya mereka menyatakan dukungannya tetapi ternyata mereka kemudian memilih diam,” ujar Wine menyesalkan.



Perundingan demi perundingan hukum dilalui Wine, mulai perundingan  Bipartit yang dilakukan antara pihak kuasa hukum RS Mitra Keluarga Bekasi dengan TPM hingga perundingan Tripartit yang melibatkan Dinas Tenaga Kerja Bekasi. Perundingan tingkat Tripartit ini terpaksa ditempuh karena dalam tempo 30 hari tidak tercapai titik temu antara TPM dengan kuasa hukum RS. Masalah ini pun telah sampai di tangan DPRD Bekasi.



Selama proses hukum berjalan, ada tawaran dari pihak RS pada Wine untuk kembali bekerja. Namun, posisi yang ditawarkan justru semakin menambah kekecewaan Wine. Ia ditawarkan untuk bekerja di salah satu perusahaaan yang masih satu grup dengan RS Mitra Keluarga, yaitu  PT Estetika Interpresindo yang menyediakan kebutuhan rumah sakit dengan posisi di bagian administrasi. Ini jelas melecehkan profesionalisme Wine yang selama empat tahun menjadi tenaga fisioterapi. Meski ia dijamin boleh mengenakan jilbab tetapi Wine bersikeras menolak tawaran tersebut karena ia tahu, hal itu tidak berlaku pada karyawati lainnya.



Dapat Dukungan



Di tengah beban masalah dan tekanan itulah Wine terkadang merasakan ketakutan dan kegelisahan yang panjang. Ia merasa jalan yang harus ditapakinya begitu terjal dan masalahnya tak kunjung selesai. Di saat itulah ia merasakan kekuatan yang begitu dahsyat datang dari Allah SWT dan keluarga hingga ia tetap berdiri menantang tekanan dan cibiran yang datang dari berbagai pihak. Yang tak masuk diakal, cibiran justru datang dari kaum Muslim sendiri.



 “Yang paling menyakitkan adalah cibiran yang datang dari sesama Muslim,” ungkapnya.



Namun ia tak ingin bernasib sama seperti seorang temannya yang memilih keluar dari RS karena berjilbab tanpa memperjuangkan haknya. Wine bertekad untuk terus berjuang melawan kezaliman itu.



Jalan panjang yang ditempuh Wine dengan kesabaran dan keberanian memang tak akan disia-siakan oleh Allah SWT. Dukungan dari berbagai pihak, terutama dari Ormas Islam seperti FPI dan Forum Peduli Jilbab, datang membanjiri. Bahkan Forum Peduli Jilbab menggelar unjuk rasa di depan RS Mitra Keluarga Bekasi dengan kekuatan 500 orang. Menyusul kemudian pernyataan Walikota Bekasi, Mochtar Mohamad yang akan memeriksa kembali izin usaha perusahaan di Kota Bekasi yang diketahui melarang karyawati atau pekerjanya menggunakan jilbab. Mochtar mengaku tidak segan mencabut izin usaha, apabila perusahaan membuat peraturan diskriminatif terhadap pekerjanya.



Izin bagi karyawati menggunakan jilbab di RS Mitra Keluarga Bekasi Barat kemudian keluar pasca Idul Fitri 1429, lalu menyusul akan diberlakukan di seluruh RS Mitra Keluarga di tempat lain mulai Januari 2009. Hak-hak Wine berupa gaji yang tidak dibayar selama tujuh bulan dan pesangon pun telah dilunasi pihak RS.  



Untuk mencegah kasus-kasus diskriminasi terhadap keyakinan beragama seperti ini, Win berharap kaum Muslim cepat tanggap dan kompak.



“Masih banyak umat yang belum paham jilbab yang memenuhi syariat. Ini menyebabkan pandangan umat terhadap kasus ini sangat beragam,” katanya kepada www.hidayatullah.com. Herannya, di negeri di mana kaum Muslim mayoritas. Diskriminasi seperti ini terus berlanjut. [syafaat/Sahid/www.hidayatullah.com]


This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it



 

(read more ...)





Saudaraku, ajaran Islam memang benar-benar sempurna dan lengkap. Sedemikian lengkapnya sehingga soal bagaimana melaksanakan sholat berjamaahpun diatur di dalamnya. Pernah diriwayatkan bahwa para sahabat langsung diajarkan oleh Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam agar di dalam barisan sholat berjamaah senantiasa dipastikan lurus dan rapatnya. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bahkan memberikan ancaman berupa akibat yang akan ditimbulkan bilamana shaf dibiarkan tidak lurus.    


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَوِّي صُفُوفَنَا


حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّي بِهَا الْقِدَاحَ حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ


 ثُمَّ خَرَجَ يَوْمًا فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلًا


 بَادِيًا صَدْرُهُ مِنْ الصَّفِّ فَقَالَ عِبَادَ اللَّهِ


 لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ


Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam selalu meluruskan shaf kami, sehingga beliau seolah-oleh meratakan anak panah sehingga beliau melihat bahwa kami telah memahaminya. Kemudian suatu hari beliau keluar (untuk menunaikan sholat), lalu berdiri hingga ketika hampir mengucapkan takbir, beliau melihat seorang lelaki dadanya keluar (menonjol) dari shaf, maka beliau bersabda: “”Hai hamba-hamba Allah, kalian benar-benar meluruskan shaf kalian (jika tidak) Allah akan (menimbulkan perselisihan) di antara wajah-wajah kalian.” (HR Muslim dan Ahmad)


 


Berdasarkan hadits di atas, jelas Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperingatkan kemungkinan terjadinya perselisihan antara wajah-wajah para sahabat jika mereka mengabaikan lurusnya shaf. Perselisihan antara wajah dapat juga diartikan sebagai munculnya perbedaan cara pandang dalam berbagai masalah kehidupan. Secara jangka panjang hal ini dapat mengakibatkan terjadinya perpecahan di tengah tubuh ummat Islam. Saudaraku, jika kita mau jujur, persoalan kerapihan shaf sholat berjamaah di banyak masjid di negeri kita tampaknya sudah kronis. Mungkinkah ini yang menyebabkan sulitnya kita ummat Islam dapat bersatu menghadapi musuh-musuh Islam dewasa ini?


 


Perlu disadari juga bahwa lurusnya shaf sangat mempengaruhi ke-afdhol-an sholat berjamaah yang kita lakukan dalam penilaian  Allah. Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam sampai bersabda:


سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ


“Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk tegaknya sholat.” (HR Bukhary)


سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ


“Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat.” (HR Ibnu Majah)


 


Maka saudaraku, marilah kita senantiasa memastikan bahwa saat kita hadir dalam sholat berjamaah –apalagi jika kita menjadi Imam sholatnya- kita senantiasa menegakkan sholat tersebut sesuai arahan dan bimbingan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Kita pastikan bahwa shaf-shaf sholat berjamaah kita selalu berada dalam keadaan lurus dan rapat. Konon menurut suatu riwayat Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu sangat tegas dalam masalah ini sehingga beliau pernah meluruskan shaf barisan sholat berjamaah dengan menggunakan pedangnya...! Oleh karenanya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam pernah menyuruh para sahabat agar berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat secara teratur di hadapan Allah. Sehingga para sahabat heran dan bertanya seperti apakah barisan para malaikat di hadapan Allah itu?


أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَلَّ وَعَزَّ


قُلْنَا وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ


قَالَ يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْمُقَدَّمَةَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ


“Tidakkah kalian berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat (dengan rapih) di hadapan Rabb mereka?” Maka kami bertanya: ”Ya Rasulullah, bagaimanakah berbarisnya para malaikat di hadapan Rabb mereka?” Beliau bersabda: “Mereka menyempurnakan shaf-shaf pertama dan merapatkan shaf.” (HR Abu Dawud, An-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad)


 


Pada kesempatan lain Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam pernah memperingatkan para sahabat agar menutup celah-celah di antara shaf sholat berjamaah mereka dengan saling berdekatan satu sama lain antara mereka. Sebab bilamana celah-celah tersebut dibiarkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dapat melihat –dengan izin Allah- syetan menyelinap di dalam barisan orang-orang yang sholat berjamaah laksana anak-anak kambing...!


 


رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ


فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ


يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ


“Rapatkanlah shaf-shaf kalian, saling berdekatanlah, dan luruskanlah dengan leher-leher (kalian), karena demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggamannya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari celah-celah shaf seakan-akan dia adalah kambing kecil.” (HR Abu Dawud)


 


Saudaraku, jika kita merujuk kepada hadits di atas lalu kita kaitkan dengan realita sholat berjamaah ummat Islam kebanyakan, maka kita sangat khawatir sudah berapa banyak syetan yang berseliweran meramaikan barisan sholat berjamaah kaum muslimin di masyarakat kita selama ini…! Tidak mengherankan bilamana sholat kita selama ini tidak terlalu jelas memberikan nilai tambah bagi hadirnya akhlak mulia. Padahal Allah menjamin bahwa sholat seseorang pasti mencegah dirinya dari berbuat keji dan mungkar. Jangan-jangan inilah di antara faktor utamanya...!


وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ


”... dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS Al-Ankabut ayat 45)


 


Kadang kita malah menjumpai kenyataan dimana saat kita berkeinginan untuk merapatkan shaf dengan mendekatkan diri kepada tetangga sholat kita, malah saudara kita itu malah menjauhkan badannya dari kita. Sehingga shaf tidak kunjung rapat, selalu saja ada celah-celah di antara orang-orang yang sholat. Memang ini semua memerlukan edukasi ummat secara massif agar kita semua dapat benar-benar meraih sholat yang berbuah akhlaqul karimah. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dalam salah satu hadits beliau. Bilamana seseorang memutuskan shaf sholat, maka sama saja ia mengundang diputusnya rahmat Allah atas dirinya. Sebaliknya bila seseorang menyambung shaf sholat yang tadinya terputus justeru dia akan memperoleh sambungan rahmat Allah atas dirinya.


مَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ


“Barangsiapa menyambung suatu shaf, niscaya Allah menyambungnya (dengan rahmatNya). Dan barangsiapa yang memutuskan suatu shaf, niscaya Allah memutuskannya (dari rahmatNya).” (HR An-Nasai)


 


Ya Allah, rahmatilah kami semua dengan sebab rapihnya, lurusnya dan rapatnya shof sholat berjamaah kami. Ya Allah, terimalah selalu segenap ’amal sholeh dan ’amal ibadah kami semua. Amin ya Rabb.-


*Ihsan Tanjung






(read more ...)




Diposting pada Kamis, 01-10-2009 | 17:27:34 WIB

 


Kematian Noordin M. Top masih menjadi misteri sekaligus kontroversi. Penggerebekan Detasemen Khusus 88 Antiteror di Jebres, Solo (17/9/2009) berlangsung tanpa liputan media massa. Tidak seperti biasanya yang penuh sorotan kamera wartawan. Tapi hasilnya, setelah dilansir polisi, ternyata justru memancing perdebatan. Polisi haqqul yaqin salah satu jenazah yang tertembak di lokasi adalah Noordin berdasarkan pemeriksaan sidik jari dan tes DNA. Namun, pengamat terorisme, Dynno Chressbon memperoleh informasi kunci dari kerabat Noordin, dan kontan meragukannya. Keraguan juga diperlihatkan mantan aktivis Darul Islam, Al-Chaidar dan Wakil Ketua Komisi III DPR, Soeripto.



Bila kita refleksi ke belakang, suasana mencekam sangat terasa bagi warga sekitar lokasi penyergapan, karena serangan berlangsung di pekan terakhir Ramadhan. Warga baru saja menunaikan shalat tarawih, tiba-tiba puluhan aparat mengepung rumah Agus Susilo di desa Kepuhsari, Mojosongo. Di dalamnya tak hanya ada empat lelaki tersangka teroris, melainkan juga ada seorang perempuan sedang hamil tua, Puteri Munawaroh, isteri Susilo sang tuan rumah. Sebagaimana peristiwa penyergapan di Temanggung, Jatiasih dan Wonosobo, kita sekali lagi menyaksikan kebrutalan aparat Polri.



Apa sesungguhnya misi yang dikejar aparat, sehingga harus menembak mati keempat tersangka: Bagus Budi Santoso (alias Urwah), Aryo Sudarso (alias Aji), Agus Susilo (alias Adib), dan sosok yang disangka Noordin? Apakah aparat sedang menerapkan prinsip penghukuman tanpa proses peradilan, ataukah sedang mengalami disorientasi karena isu terorisme yang bercabang kepentingan? Sebagian warga yang kritis mulai meragukan bahwa kelompok teroris itu benar-benar berbahaya, sebab mereka tidak melihat upaya optimal aparat untuk melumpuhkan, misalnya, dengan menggunakan gas air mata dan bom pembius.



Keanehan Operasi Densus




Keganjilan sudah terasa sejak detik pertama penyergapan. Menurut laporan petugas keamanan yang memeriksa kondisi korban, semua tersangka tewas karena luka tembak sekitar pukul 00.00 – 00.30 tengah malam (Republika, 17/9/2009). Setelah itu terjadi kebakaran akibat tertembaknya tabung tanki motor yang terkena peluru atau ledakan bom TNT yang dilemparkan aparat.



Anehnya, setelah kondisi senyap akibat kebakaran justru terdengar berondongan peluru sampai jam enam pagi diselingi jeda beberapa kali. Apa sebenarnya yang ditakutkan 15 aparat Densus yang mengepung rumah itu dan puluhan petugas yang mengamankan lokasi dari keingintahuan wartawan dan warga sekitar? Apa benar Noordin hendak meledakkan diri?



Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri sendiri akhirnya menyatakan bahwa Noordin tertembak peluru aparat, sehingga terbukti dia tidak terlalu nekad seperti digembar-gemborkan pengamat. Senjata yang ditemukan pun hanya sepucuk pistol baretta, senapan M-16 lengkap dengan amunisinya dan granat tangan, serta bahan peledak sebanyak 200 kilogram. Tak ada rompi anti peluru yang biasa dikenakan Noordin, dan tidak semua tersangka di dalam rumah itu bersenjata yang mungkin mengancam keselamatan petugas.



Melihat fakta yang gamblang itu, Komnas HAM melontarkan kritik keras. "Penanganan terhadap kasus terorisme sudah banyak sekali dilakukan, seharusnya Polri tidak boleh arogan dengan skenarionya sendiri. Polri harus mempertimbangkan semua masukan. Yang disesalkan adalah perlakuan Polri yang terlalu vulgar," ujar Wakil Ketua Komnas HAM Bidang Internal, Ridha Saleh (Detikcom, 17/9/2009).



Pandangan serupa dinyatakan pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar, yang mengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). "Kalau mampu menangkap teroris hidup, poinnya lebih bagus," simpul Umar. Selama ini para teroris selalu tewas di tangan petugas, sehingga latar belakang aksi mereka tidak terungkap. Pertanyaan penting semisal apa benar mereka ingin mendirikan negara Islam dan sebagainya, belum terjawab.



Karena itu, Umar berharap aksi Densus 88 di Solo kali ini bukan merupakan pengalihan isu yang bersifat politis. Sebab, publik sedang dicekam isu petinggi Polri yang terlibat penggelapan dana Bank Century dan kemudian melakukan balas dendam dengan menangkap pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kredibilitas Polri sebagai institusi sedang dipertanyakan, termasuk pula integritas kepemimpinan nasional yang seyogyanya mengarahkan aparat penegak hukum bekerja sesuai dengan prinsip imparsial dan akuntabilitas publik.



Wakil Koordinator Badan Pekerja ICW (Indonesian Corruption Watch), Emerson Yuntho, kesal karena berita penggerebekan teroris mengalihkan perhatian masyarakat dari upaya pelemahan terhadap pemberantasan korupsi. "Jangan sampai kita terlena dengan berita teroris, sehingga melupakan DPR yang sedang ngebut membahas dan akan mengesahkan RUU Tipikor," jelas Emerson. Baginya, koruptor adalah teroris sejati (the real terrorist), karena teroris cuma bisa merusak satu-dua bagian saja, tapi koruptor menimbulkan destruksi yang besar dan sistemik bagi bangsa ini.



Karunia atau Bencana




Penetapan waktu penyergapan Densus memiliki efek khusus sebagaimana pemilihan waktu operasi oleh kelompok teroris. Kapolri menyatakan di depan khalayak wartawan bahwa di bulan penuh berkah (Ramadhan), bangsa Indonesia diberi ‘karunia’ dengan tertangkapnya para teroris. Insiden itu karunia atau bencana? Karena, masyarakat menangkap pesan yang keliru bahwa aparat penegak hukum ternyata lebih memilih eksekusi langsung tanpa proses peradilan, dengan demikian terjadilah gejala impunitas.



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri bersyukur dan menyambut gembira keberhasilan Densus 88 melumpuhkan Noordin Top dan kelompoknya. Hal itu terlihat dalam dialog santai dengan wartawan di Istana Negara. Menurut SBY, Noordin dan Azahari, selama ini telah mengotaki serangkaian pengeboman di Tanah Air. Karena itu, tewasnya kedua tokoh itu diharapkan membuat situasi keamanan makin kondusif.



Tugas untuk memerangi teroris akan terus dilanjutkan, kata SBY, yang akan dilantik pertengahan Oktober nanti untuk periode kedua. Tak ada nada keprihatinan atas jatuhnya korban dalam pernyataan itu, apalagi koreksi atas tindakan Densus yang eksesif. Seakan itu menunjukkan bahwa pemerintah telah mengetahui segala rencana aksi kontra-terorisme yang dijalankan Densus di lapangan, dengan segenap resiko pelanggaran HAM dan rusaknya kredibilitas pemerintahan baru hasil pemilu 2009.



Hal itu berbeda dengan sikap pemerintah Malaysia, seperti terlihat dari pernyataan Mendagri Hishammuddin Hussein, yang menyesalkan kematian Noordin Top. Menurut Hishammuddin, seandainya Noordin masih hidup, maka ia bisa masuk program rehabilitasi untuk memperbaiki perilakunya. Hisham mengakui, perbuatan yang dilakukan Noordin memang salah, sehingga hukuman berat harus dijatuhkan. Namun, hal itu tidak menutup kemungkinan bagi proses rehabilitasi sebagaimana dijalankan terhadap kelompok militan lain (The Star, 18 September 2009).



UU Antiterorisme yang diterapkan di Indonesia tak seketat ISA Malaysia atau USA Patriot Act, namun perilaku aparat Densus ternyata sama kerasnya. Densus yang bergaya ‘militeristik’ telah mengaburkan kebijakan kontra-terorisme yang komprehensif. Aksi ofensif sebenarnya hanya salah satu aspek, dan bukan faktor utama, dalam kebijakan kontra-terorisme.



Paul R. Pillar (dalam Howard dan Sawyer, 2004) menyebut kebijakan kontra-terorisme yang efektif sekurang-kurangnya menyangkut empat faktor: kondisi sosial yang memotivasi lahirnya aksi kekerasan, kemampuan individu/kelompok untuk melakukan kekerasan, perhatian teroris terhadap target yang diincarnya, dan sistem pertahanan untuk mencegah aksi teror berkelanjutan.



Aksi ofensif seperti penyergapan dan penembakan Densus 88 mungkin menekan kapabilitas dan intensi kelompok teroris, tapi tak berkaitan dengan perbaikan kondisi sosial dan pemantapan sistem pertahanan. Kondisi sosial yang rawan tercermin dari makin maraknya radikalisasi akibat tindakan aparat yang malfungsi. Sementara sistem pertahanan-keamanan sering terabaikan, misalnya: pembenahan badan intelijen agar bekerja demi kepentingan nasional dan terbebas dari intrik politik, kontrol terhadap peredaran senjata dan bahan peledak, reformasi di bidang imigrasi dan administrasi kependudukan, serta hubungan diplomatik yang setara dan produktif.



Kado Misteri



Dalam konteks itu, Presiden SBY tak cukup hanya bersyukur dengan kado lebaran yang memprihatinkan: empat jenazah tersangka teroris dan seorang ibu hamil yang terluka parah. Lebih bermartabat, apabila tersangka teroris tertangkap hidup dan segera diadili. Peristiwa ini akan menandai: apakah pemerintahan baru yang dipimpinnya tetap melindungi seluruh warga negara atau justru mendiskriminasi kelompok tertentu? Stigma teroris kini sama kejamnya dengan label komunis dan ekstrem kanan atau ekstrem kiri di masa Orde Baru.



Kado lebaran yang mengerikan itu akan membuktikan: apakah kepemimpinan SBY pada periode kedua benar-benar efektif mengendalikan seluruh aparatus negara agar bekerja sesuai fungsinya di alam demokrasi atau segelintir oknum aparat memanfaatkan kelemahan pimpinan untuk melindungi kejahatan mereka? Kebijakan kontra-terorisme, seperti dirumuskan Marta Crenshaw (2001), merupakan produk dari dinamika politik di dalam dan luar pemerintahan, termasuk persaingan antara badan dan elite pemegang keputusan.



Dalam jumpa pers, Kombes Petrus Reinhard Golose, Kepala Unit V dan Cybercrime di Mabes Polri mengungkapkan isi laptop Noordin yang ditemukan dalam penyergapan. Ia menyebut rekaman video pelaku bom Marriott dan Ritz Carlton (Dani dan Nana) serta surat tersangka yang masih buron, Syaifuddin Zuhri, sebagai digital evidences. Itu bukti untuk kesalahan siapa, karena pelaku utama sudah tewas, kalau benar Dani dan Nana faktanya? Apakah itu alibi bagi Densus 88 untuk menyergap dan menembak mati Syaifuddin dan Syahrir yang sampai sekarang masih buron? Apakah polisi bersungguh-sungguh mengumpulkan bukti kejahatan teroris agar dapat diperiksa dalam proses peradilan yang jujur, atau untuk membenarkan tindakan ofensif di luar batas? Putusan peradilan yang memvonis mati tiga tersangka Bom Bali I (Amrozi, Mukhlas, dan Imam Samudra) sangat berbeda substansinya dengan eksekusi terhadap Azahari, Noordin dan tersangka lain yang belum dibuktikan kesalahannya.



Apapun alasan aparat untuk mengungkap isi laptop yang misterius asal-usulnya itu, Dynno Chressbon tetap meragukannya, karena Noordin selama ini tidak pernah diketahui membawa laptop. Masyarakat juga terusik, bagaimana mungkin buron kelas kakap dalam pelariannya masih punya waktu untuk mendokumentasikan semua aksi terornya dalam sebuah laptop. Apalagi tujuan dokumentasi itu, menurut polisi, hanya untuk proposal mencari dana. Terorisme di Indonesia memang penuh misteri, terutama terkait siapa dalang (mastermind) dan penyandang dananya. ***


DOWNLOAD ISI ARTIKEL



*)Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Eksekutif Centre for Indonesian Reform)



Penulis adalah alumni S. Rajaratnam School of International Studies, Singapura dan partisipan Advanced Course on Counter-Terrorism (2007). Email: sapto.waluyo@gmail.com.


(read more ...)



Kamis, 12/11/2009 09:08 WIB Cetak |  Kirim |  RSS



Ketika mendengar suara hiruk-pikuk, Aisyah sontak bertanya, “Apakah yang telah terjadi di kota Madinah?”


“Kafilah Abdurrahman bin Auf baru datang dari Syam membawa barang-barang dagangannya,” seseorang menjawab.


Ummul Mukminin berkata lagi, “Kafilah yang telah menyebabkan semua ini?”


“Benar, ya Ummul Mukminin. Karena ada 700 kendaraan.”


Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya. Pandangannya jauh menerawang seolah-olah hendak mengingat-ingat kejadian yang pernah dilihat dan didengarnya.


Kemudian ia berkata, “Aku ingat, aku pernah mendengar Rasululah berkata, `Kulihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan perlahan-lahan.”


Sebagian sahabat mendengar itu. Mereka pun menyampaikannya kepada Abdurrahman bin Auf. Alangkah terkejutnya saudagar kaya itu. Sebelum tali-temali perniagaannya dilepaskan, ia segera melangkahkan kakinya ke rumah Aisyah.


“Engkau telah mengingatkanku sebuah hadits yang tak mungkin kulupa.” Abdurrahman bin Auf berkata lagi, “Maka dengan ini aku mengharap dengan sangat agar engkau menjadi saksi, bahwa kafilah ini dengan semua muatannya berikut ken¬daraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah.”


Dan dibagikanlah seluruh muatan 700 kendaraan itu kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya. Sebuah infak yang mahabesar.


Abdurrahman bin Auf adalah seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya. Bukan seorang budak yang diken¬dalikan oleh hartanya. Sebagai bukti, ia tidak mau celaka dengan mengumpulkan harta ke¬mudian menyimpannya. Ia mengumpulkan harta dengan jalan yang halal.


Kemudian, harta itu tidak ia nikmati sendirian. Keluarga, kaum kerabatnya, saudara-saudaranya dan masyarakat ikut juga menikmati kekayaan Abdurrahman bin Auf.


Saking kayanya Abdurrahman bin Auf, seseorang pernah berkata, “Seluruh penduduk Madinah bersatu dengan Abdur¬rahman bin Auf. Sepertiga hartanya dipinjamkan kepada mereka. Sepertiga lagi dipergunakannya untuk membayar utang-utang mereka. Dan sepertiga sisanya diberikan dan dibagi-bagikan kepada mereka.”


Abdurahman bin Auf sadar bahwa harta kekayaan yang ada padanya tidak akan mendatangkan kelegaan dan kesenangan pada dirinya jika tidak ia pergunakan untuk membela agama Allah dan membantu kawan-kawannya. Adapun, jika ia memikirkan harta itu untuk dirinya, ia selalu ragu saja.


Pada suatu hari, dihidangkan kepada Abdurahman bin Auf makanan untuk berbuka puasa. Memang, ketika itu ia tengah berpuasa. Sewaktu pandangannya jatuh pada hidangan tersebut, timbul selera makannya. Tetapi, beberapa saat kemudian ia malah menangis dan berkata, “Mush’ab bin Umair telah gugur sebagai seorang syahid. Ia seorang yang jauh lebih baik daripadaku. Ia hanya mendapat kafan sehelai burdah; jika ditutupkan ke kepalanya, maka kelihatan kakinya. Dan jika ditutupkan kedua kakinya, terbuka kepalanya.”


Abdurrahman bin Auf berhenti sejenak. Kemudian melanjutkan dengan suara yang juga masih terisak dan berat, “Demikian pula Hamzah yang jauh lebih baik daripadaku. Ia pun gugur sebagai syahid, dan di saat akan dikuburkan hanya terdapat baginya sehelai selendang. Telah dihamparkan bagi kami dunia seluas-luasnya, dan telah diberikan pula kepada kami hasil sebanyak-banyaknya. Sungguh kami khawatir telah didahulukan pahala kebaikan kami.”


Begitulah Abdurrahman bin Auf. Ia selalu takut bahwa hartanya hanya akan memberatkan dirinya di hadapan Allah. Ketakutan itu sering sekali, akhirnya menumpahkan air matanya. Padahal, ia tidak pernah mengambil harta yang haram sedikitpun.


Pada hari lain, sebagian sahabat berkumpul bersama Abdurrahman bin Auf menghadapi jamuan di rumahnya. Tak lama setalah makanan diletakkan di hadapan mereka, tiba-tiba ia kembali menangis. Sontak para sahabat terkejut. Mereka pun bertanya, “Kenapa kau menangis, wahai Abdurrahman bin Auf?”


Abdurrahman bin Auf sejenak tidak menjawab. Ia menangis tersedu-sedu. Sahabat benar-benar melihat bahwa be¬tapa halusnya hati seorang Abdurrahman bin Auf. Ia mudah tersentuh dan begitu penuh kekhawatiran akan segala apa yang diperbuatnya di dunia ini.


Kemudian terdengar Abdurrahman bin Auf menjawab, “Rasulullah saw. wafat dan belum pernah beliau berikut keluarganya makan roti gandum sampai kenyang. Apa harapan kita apabila dipanjangkan usia tetapi tidak menambah kebaikan?”


Jika sudah begini, bukan hanya Abdurrahman bin Auf yang menangis, para sahabat pun akan ikut menangis. Mereka adalah orang-orang yang hatinya mudah tersentuh, dekat dengan Allah dan tak pernah berhenti mengharap ridha Allah. (sa)



(read more ...)



Syiah memiliki jurus-jurus untuk menangkal serangan non syiah tentang perubahan Al Quran.Anda perlu tahu bagaimana menghadapi jurus-jurus itu. Penangkalnya ada di dalam.. silakan baca.



Pada bagian pertama dan kedua telah dikupas mengenai kenyataan yang pahit, yaitu mengingkari adanya perubahan pada Al Qur’an sama dengan mengingkari prinsip imamah, yang berarti mengingkari legalitas mazhab syiah itu sendiri. Karena sudah jelas bahwa mazhab syiah dibangun atas prinsip imamah yang bermakna, meyakini bahwa Ali dan 11 anak cucunya berhak menjadi khalifah serta mereka adalah imam yang menjadi pewaris kenabian. Hal ini biasa juga disebut dengan wilayah. Dalam kitab Al Kafi terdapat sebuah riwayat dari Imam Ja’far As Shadiq yang mengatakan: Islam ditegakkan di atas lima rukun, yaitu shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah, tidak ada yang ditekankan seperti ditekankannya wilayah pada hari ghadir. Al Kafi jilid 2 hal 21 bab Da’a’imul Islam.



 



Kita perhatikan wilayah pada hari ghadir, yaitu pengangkatan Ali menjadi khalifah oleh Nabi pada mata air yang bernama Ghadir Khum, sepulang dari haji wada’. Kisah ini akan kita bahas panjang lebar di lain kesempatan Insya Allah.



Artinya adalah meyakini Ali adalah khalifah setelah Nabi. Hal ini lebih penting daripada shalat, puasa, zakat dan haji, karena diberi penekanan yang lebih pada hari ghadir. Artinya penekanan itu lebih penting daripada penekanan terhadap tauhid. Selama ini yang menjadi penekanan dakwah para Nabi adalah tauhid, seperti yang tertera dalam Al Qur’an, tetapi bagi syiah yang terpenting adalah wilayah atau imamah.



Sebuah konsekuensi yang amat berat, tetapi mengapa kita masih mendengar teman-teman kita yang kebetulan syiah, yang marah ketika diajak bicara masalah perubahan Al Qur’an, da tidak bisa menerima jika tsyiah dituduh meyakini perubahan Al Qur’an. Saya tambahkan, bukan hanya orang awam yang “amatir” [jawa; kroco] yang mengingkari, tetapi ulama-ulama mereka pun mengingkari juga, contohnya seperti yang dibahas di bagian kedua, yaitu Muhammad Ridha Muzhaffar dan Muhammad Husein Al Kasyiful Ghita.



Pertanyaannya, mengapa mereka mengingkari kenyataan yang nampak jelas dalam kitab mereka sendiri? Menurut kami ada dua sebab:

1. Karena memang mereka bertaqiyah. Apa itu taqiyah? Silahkan anda klik di sini untuk lebih jelasnya.

2. Karena mereka benar-benar tidak tahu dan mengingkari hal itu, tetapi mereka tidak sadar akan konsekuensinya yang amat berat, yaitu keluar dari syiah dan kembali beriman pada Al Qur’an yang ada saat ini.



Perlu anda ketahui bahwa syiah memiliki alergi ketika kita ajak dialog tentang masalah perubahan Al Qur’an. Sebenarnya alergi itu tidak perlu terjadi, karena bagaimana seorang penganut sebuah keyakinan bisa alergi dengan ajaran keyakinan yang dianutnya? Kalo mau alergi tidak usah dianut saja, khan gampang, mengapa dibuat repot? [gitu aja kok repot… seperti kata Gus Pur kalo tidak salah].



Maka anda jangan takut ketika melihat teman anda yang syiah marah, mencak-mencak dan bisa jadi kejang ketika anda membicarakan masalah ini. Itu adalah reaksi yang biasa muncul dan tidak perlu ditakutkan. Walaupun kadar mencak-mencak dan kejangnya kadang berbeda antara yang amatir dan aktor intelektual.



Mengapa mereka alergi? Wajar saja, karena masalah iman pada Al Qur’an menjadi salah satu pemisah antara kaum muslimin dan mereka yang “non muslim”. Artinya mudah bagi seorang muslim awam untuk memahami bahwa siapa yang tidak percaya pada Al Qur’an adalah bukan orang muslim. Dengan begitu orang awam akan mudah menilai bahwa syiah adalah sesat. Juga karena syiah masih ingin dianggap sebagai kaum muslimin. Karena dengan masih dianggap sebagai muslim akan membuat misi dakwah syiah lebih mudah.



TINDAKAN



Jika teman anda yang syi’ah marah ketika diajak dialog masalah perubahan Al Qur’an, maka segera anda diam, biarkan dia menyelesaikan marahnya. Jika marahnya sudah mereda, beritahukan padanya bahwa hal itu tercantum dalam kitab-kitab induk syiah yang dia belum menelaahnya, katakan padanya bahwa orang yang belum tahu tidak layak untuk marah sebelum menelaah. Tetapi jika kemarahan dan emosinya begitu menggelora sampai tangannya meraih asbak atau benda yang ada di dekatnya dan mengarahkannya ke kepala anda, segera ambil benda apa pun untuk melindungi kepala anda, dan sebaiknya anda segera pergi sebelum benda itu benar-benar mendarat di kepala dan menimbulkan masalah bagi anda.



Selain marah dan mencak-mencak ada juga reaksi lain yang muncul saat diajak dialog, yaitu dengan mengajak anda meneruskan dialog. Lalu kira-kira apa jawaban yang akan keluar dari syi’ah?



1.    Serangan balik



Artinya teman anda yang syi’ah akan balik menuduh bahwa dalam riwayat sunni juga ada yang menunjukkan Al Qur’an telah dirubah. Jelas mereka  berbohong, karena isi hadits-hadits yang dimaksud oleh syiah hanyalah seputar nasakh tilawah atau perbedaan qira’at yang memang pernah ada. Perlu diperhatikan bahwa banyak ulama syi’ah yang mengakui adanya nasakh, seperti Syaikh Thaifah At Thusi misalnya, meski demikian, kita lihat Abul Qasim Al Khu’I mengatakan bahwa nasakh itu tak lain dan tak bukan adalah tahrif itu sendiri. Semua ini adalah upaya untuk menghindar dan berputar-putar tanpa ada jawaban yang jelas. Sehingga kita perhatikan dari teman yang syi’ah, mereka selalu berputar-putar dalam diskusi sehingga membuat kita lelah menghadapinya. Bisa jadi mereka sengaja berbuat demikian untuk menghindar dari jawaban-jawaban yang membuatnya merasa kalah dalam debat. Kita perhatikan semua syi’ah suka berputar-putar dalam dialog. Saya curiga teman-teman syi’ah telah mengalami mutasi pada gennya sehingga mereka semua menjadi suka berbohong dan berputar-putar dalam dialog. Kita tidak lupa bagaimana taqiyah adalah salah satu ajaran pokok dalam syiah. Kita tidak heran, karena taqiyah adalah sembilan dari sepuluh bagian agama syiah. Sebenarnya cara ini merupakan sebuah aib bagi syiah yang tidak dapat menjawab tuduhan yang memang terbukti, lalu berusaha membuktikan tuduhan yang sama pada lawan.



Hal ini memang sebuah aib, tetapi hanya ini yang mereka punya, yang lebih baik daripada diam tak menjawab dan dipandang kalah dalam berdebat. Mengenai serangan balik dari syiah berkaitan masalah perubahan Al Qur’an akan dibahas lebih detil Insya Allah.



2. Membela diri



Mereka membela diri dengan menklaim bahwa riwayat yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah dhaif, biasanya mereka juga mengatakan tidak ada kitab syi’ah yang seluruh isinya shahih.



Jawabannya ada di makalah ini bagian 1 dan 2. silahkan anda merujuk kembali. Intinya perubahan Al Qur’an sudah dinyatakan oleh para ulama syiah sendiri, dan dinyatakan bahwa riwayat yang menyatakan hal itu lebih dari mutawatir, sehingga tidak ada lagi alasan untuk mengatakan bahwa riwayat tentang perubahan Al Qur’an adalah dhaif. Sebab bagaimana riwayat mutawatir bisa berstatus dhaif? Begitu mutawatirnya sehingga sama dengan riwayat imamah, akhirnya menolak perubahan Al Qur’an memiliki konsekuensi berat, yaitu menolak imamah.



Membela diri dengan mengemukakan masalah penshahihan hadits akan membuat syiah harus membela sekte akhbariyin, yaitu sekte yang mempercayai seluruh riwayat yang ada dalam kitab syiah, maka sekte akhbariyin juga percaya adanya perubahan Al Qur’an dan keyakinan-keyakinan lain, yang tercantum dalam kitab syiah.



Syi’ah yang ada di Indonesia adalah syi’ah ushuli, yang masih percaya pada perlunya seleksi riwayat untuk membedakan yang shahih dan dhaif, tetapi semua itu hanyalah teori tanpa praktek. Salah satu ulama syi’ah yang menganut paham akhbari adalah Abdul Husein Syarafudin Al Musawi, pengarang dua buku penting syiah yaitu Dialog Sunnah Syi’ah  yang diterbitkan di Indonesia oleh penerbit Mizan, dan juga buku yang berjudul Abu Hurairah, yang kami tidak ingat penerbitnya.



Pada bagian 1 dan 2 telah kami nukilkan pernyataan ulama syiah mengenai validitas riwayat perubahan Al Qur’an, jelas ulama syiah di atas lebih valid dan pandai dari teman syiah anda, yang mungkin baru 2 tahun atau 20 tahun “jadi syi’ah”. Lebih jauh lagi, ulama syiah yang dinukil di atas lebih memahami isi riwayat-riwayat syiah daripada teman anda yang syiah, yang barangkali belum bisa membaca dan menulis bahasa arab.



3. Takwil dan salah paham



Di antara cara mereka adalah dengan mengakui adanya riwayat-riwayat itu, tetapi mereka memiliki pemahaman lain, yaitu katanya riwayat-riwayat itu memiliki makna yang berbeda dengan yang tertulis, maksud ulama syiah dengan pernyataan itu adalah mengatakan bahwa Al Qur’an yang ada adalah terjaga dari perubahan, penambahan dan pengurangan. Ini sungguh aneh, karena dalam pernyataan ulama kita simak pernyataan yang jelas menunjukkan terjadinya revisi/perubahan dengan menambah atau mengurangi. Sedangkan para ulama syiah di atas tidak akan gegabah membuat pernyataan penting seperti itu jika tidak memiliki dasar yang kuat. Kita lihat dari pernyataan ulama di atas, ada yang  mendasarkan pernyataanya tentang perubahan Al Qur’an dari riwayat dalam kitab syi’ah yang berjumlah lebih dari mutawatir, yang menunjukkan adanya perubahan pada Al Qur’an hari ini. Berarti riwayat-riwayat dalam kitab syi’ah benar-benar menunjukkan perubahan Al Qur’an.



Lalu bagaimana dengan “kawan kita” yang mencoba menafsirkan riwayat syi’ah dengan makna lain? Barangkali pembaca bingung mengapa ada “teman kita yang syiah”  begitu berani memahami sendiri isi riwayat syi’ah tanpa merujuk pada ulama yang lebih paham. Tetapi kebingungan pembaca akan sirna setelah membaca riwayat dari Imam Abu Jafar Muhammad Al Baqir, salah seorang dari 12 imam syi’ah: “Jika seluruh manusia menjadi syiah kami, maka 3/4nya ragu-ragu terhadap kami dan sisanya adalah orang dungu” Rijalul Kisyi hal 179.



4. Riwayat seperti itu tidak ada.



Lebih parah lagi, bisa jadi kawan anda itu menyangkal adanya riwayat perubahan Al Qur’an dalam kitab syi’ah. Barangkali anda yang telah membaca bagian 1 dan 2 makalah ini akan bertambah bingung, bagaimana tidak? Kata Ulama besar, riwayat perubahan Al Qur’an jumlahnya lebih dari mutawatir, tapi teman kita malah bilang riwayat seperti itu g ada. Lalu mana yang benar?



Katakan saja pada kawan anda, barangkali anda belum pernah menelaah kitab syi’ah karena anda tidak bisa berbahasa arab. Atau anda adalah korban penipuan dari ustad syiah anda yang sengaja menipu agar anda tetap masuk syi’ah. Karena jika anda tahu bahwa syi’ah meyakini perubahan Al Qur’an, ustad anda takut kalo anda kembali sunni.



Mungkin anda tidak heran ketika yang menyangkal adalah orang awam yang polos, tetapi jika yang menyangkal adalah intelektual, maka anda perlu merasa heran. Pada bagian 2 telah kami paparkan contoh intelektual syi’ah yang menyangkal adanya riwayat perubahan Al Qur’an pada kitab syi’ah. Apakah ada lagi intelektual syiah yang menyangkal?

 

(read more ...)




Oleh: Dr. Abdul Wahhab Al Turairi


Pertanyaan: Saya adalah seorang penganut Syi’ah, saya ingin bertanya bagaimana pandangan Ahlussunnah tentang Imam Husein?


Jawaban:


Yang Ahlussunnah ketahui tentang Imam Husein, bahwa beliau adalah cucu Nabi dan belahan jiwanya, juga yang paling mirip wajahnya dengan Nabi. Beliau sering mencium cucunya yang satu ini. Imam Husein dan saudaranya Imam Hasan, adalah penghulu pemuda penghuni sorga. Mereka berdua adalah anak dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Tolib, orang yang mencintai dan dicintai Allah dan RasulNya. Ali adalah seorang yang harus dicintai oleh setiap mereka yang mengaku beriman. Ahlussunnah menganggap bahwa mencintai Ali adalah bagian dari iman, dan sebaliknya, membenci dan memusuhi Ali adalah bagian dari kemunafikan, salah satu sifat tercela yang harus dijauhi. Imam Husein adalah anak dari penghulu wanita penghuni sorga, belahan hati Rasulullah, Fatimah Azzahra, juga termasuk Ahlul Bait yang dibersihkan oleh Allah sebersih-bersihnya. Nabi berwasiat pada kita supaya menjaga Ahlul Bait ketika berkhotbah siang hari di tengah terik matahari Ghadir Khum : “Aku ingatkan kalian atas Ahlul Baitku”. Imam Husein adalah penghulu Ahlussunnah, dan cucu Nabi kami, Ahlussunnah mencintai Imam Husein dan yakin bahwa cinta padanya adalah ikatan tali iman. Mencintai Imam Husein termasuk amal terbaik yang dapat dipersembahkan oleh orang beriman pada Allah, dalam rangka melaksanakan sabda Nabi : “seseorang akan bersama dengan yang dicintainya”. Barang siapa mencintai Imam Husein berarti dia telah mencintai Nabi dan sebaliknya, yang membenci Imam Husein berarti telah membenci Nabi. Kami Ahlussunnah beranggapan mengenai Imam Husein sama seperti anggapan Umar bin Khottob tentang beliau : “siapa yang menumbuhkan rambut di kepala kami kalau bukan Allah lalu kalian wahai Ahlul Bait?”


Kami Ahlussunnah meyakini bahwa Imam Husein telah mati dibunuh musuh-musuh yang menzaliminya, kami berlepas diri dari seluruh orang celaka yang telah membunuhnya atau bantu-membantu dalam membunuh Imam Husein, atau mereka yang ridho atas kezaliman yang menimpanya. Kami meyakini bahwa kezaliman yang menimpa Imam Husein adalah curahan karunia dari Allah pada beliau, untuk meninggikan derajatnya, memuliakan pangkatnya, seperti sabda kakeknya : “para Nabi adalah orang yang paling berat ujiannya, lalu orang yang terbaik di setelah mereka dan seterusnya”. Dengan perantaraan ujian yang berat ini Allah mengaruniakan padanya pangkat mulia sebagai seorang syahid. Dengan ujian ini Allah mengangkatnya ke derajat para pendahulu ahlul bait yang sabar ditimpa cobaan di masa awal Islam, begitulah, Imam Husein juga bersabar dalam menghadapi ujian berat yang menimpa dirinya, sehingga Allah menyempurnakan nikmatnya dengan karunia syahadah. Perlu diketahui, bahwa karunia sebagai syahid tidak pernah diberikan kecuali pada orang yang sabar dalam menghadapi cobaan, ternyata Imam Husein termasuk mereka yang layak mendapatkannya. Kami yakin, sejak itu, kaum muslimin tidak pernah ditimpa musibah lebih besar dari syahidnya Imam Husein.


Setiap kami mengingat musibah itu, kami selalu mengucapkan perkataan yang diajarkan oleh Fatimah binti Husein, yang ikut hadir saat ayahnya syahid, dari ayahnya dari kakeknya yaitu Rasulullah, bahwa beliau bersabda : “barang siapa ditimpa musibah dan ingat akan musibah itu, lalu ber istirja’ (mengucapkan Inna lillahi...dst) maka Allah akan memberinya pahala sama seperti pahala musibah itu ketika menimpanya walaupun musibah itu sudah lama terjadi.” Maka kami mengucapkan  “Inna lillahi wa inna ilaihi Roji’un”, karena kami ingin mendapat berita gembira dari Allah : “berilah kabar gembira bagi orang-orang yang bersabar, yaitu mereka yang mengatakan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ketika ditimpa musibah. Mereka akan mendapat pujian dan rahmat dari Allah, mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”


Walaupun kami mencintai Imam Husein, tapi kami tidak akan melanggar batas yang telah ditetapkan oleh kakeknya, Rasulullah, yang telah bersabda : “ janganlah kalian berlebihan dalam memujiku seperti kaum nasrani berlebihan dalam memuji Isa bin Maryam, tapi cukup katakanlah : Muhammad adalah Hamba Allah dan RasulNya”


Ahlussunnah tidak berdoa dan meminta pertolongan pada Imam Husein dengan alasan menghormatinya [1] , karena Allah melarang kami berbuat demikian. Ahlussunnah tidak memperlakukan Nabi dan Ahlulbaitnya seperti memperlakukan Allah, sebagaimana kaum Nasrani menyekutukan Allah dengan Isa dan Maryam yang akhirnya menjadikan mereka berdua sebagai tuhan selain Allah. Ahlussunnah beranggapan bahwa Ahlul Bait tidak memiliki posisi dan kewenangan yang hanya dimiliki para Nabi, seperti kemaksuman dan kewenangan membuat syareat baru, yang hanya dimiliki oleh para Nabi sebagai penyampai Risalah Allah. Ahlussunnah meyakini bahwa Ahlul Bait adalah pengikut Nabi yang terbaik dan penyampai dakwah Nabi Muhammad, kita semua mengetahui bahwa Ahlul Bait adalah manusia biasa, tapi mereka adalah manusia-manusia terbaik. Namun ahlul bait tidak pernah merasa bahwa menjadi kerabat Nabi adalah jaminan keselamatan di akherat, seperti anggapan sebagian orang yang mengaku keturunan Nabi saat ini. Ahlul Bait adalah mereka yang paling keras membela Islam dan paling depan dalam melaksanakan ajaran Islam, seperti dijelaskan Imam Ali Zainal Abidin : Aku berharap Allah akan memberi pahala dua kali lipat bagi ahlul bait yang berbuat baik, namun takut Allah akan memberi dosa dua kali lipat bagi ahlul bait yang berbuat dosa.


Ahlussunnah tidak melanggar perintah kakek Imam Husein, Rasulullah, yang melarang ummatnya meratap, memukul badan dan menobek pakaian ketika ditimpa musibah [2] . Rasulullah menerangkan bahwa perbuatan itu termasuk perbuatan jahiliyah. Bahkan Hamzah, paman Nabi, telah dibunuh dan dirusak mayatnya, Nabi pun bersedih, beliau tidak pernah ditimpa musibah seberat ketika pamannya dibunuh dan dirusak mayatnya di perang uhud. Namun tidak pernah menjadikan hari terbunuhnya Hamzah sebagai hari duka cita yang penuh dengan tangis ratapan. Begitu juga Ali, tidak pernah berbuat demikian saat memperingati wafatnya Nabi, juga Imam Hasan dan Imam Husein tidak pernah mengadakan acara duka cita dan ratapan pada hari peringatan wafatnya Ali. Maka Ahlussunnah tidak menjadikan hari peringatan wafatnya Imam Husein sebagai hari duka cita, kami meniru hal itu dari petunjuk Nabi yang diikuti oleh Ali dan kedua puteranya, Hasan dan Husein.


Hari Asyura adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dari ancaman dan kejaran Fir’aun, Rasulullah berpuasa pada hari itu sebagai ungkapan syukur pada Allah, Ahlussunnah berpuasa pada hari itu mencontoh Nabi yang telah berpuasa pada hari itu. Pada hari itu cucu Rasulullah jatuh syahid menemui Allah, menyusul kakek, ayah, ibu dan kakaknya. Kami bersabar dan mengharap pahala Allah atas kesedihan kami terhadap musibah itu. Pada hari itu Ahlussunnah melaksanakan dua amalan besar, yaitu bersyukur atas selamatnya Nabi Musa dan bersabar atas musibah yang menimpa, yaitu syahidnya Imam Husein. Sama dengan tanggal 17 Ramadhan, Ahlussunnah bersyukur memperingati kemenangan Nabi dan para sahabatnya di perang Badar, sekaligus bersedih memperingati syahidnya Ali bin Abi Thalib. Juga hari Senin, dimana pada hari itu Nabi Muhammad lahir dan wafat. Kami berpuasa sebagai ungkapan rasa syukur atas selamatnya Nabi Musa, kami juga bersedih dan bersabar, serta tak lupa mengucapkan istirja’ Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun atas musibah syahidnya cucu baginda Nabi, Imam Husein, dengan hati yang penuh pengharapan, kiranya dapat masuk ke golongan mereka yang diberi kabar gembira.


Saudara penanya, firasat saya mengatakan, bahwa dengan mengajukan pertanyaan ini, anda sedang mencari kebenaran karena desakan rasa ingin tahu yang ada dalam hati anda. Anda hendaknya sudi mencontoh Imam Ali, yang meskipun sedang berusia muda, tapi berani mengambil sikap tegas dan meninggalkan ajaran kaumnya, masuk dalam agama Islam yang turun pada Nabi Muhammad, walaupun ketika itu pengikut Nabi baru sedikit, lagi lemah dan tertindas. Seluruh kehidupan Imam Ali menjadi teladan bagi kita agar selalu mengikuti dan mempertahankan kebenaran walaupun dengan harga yang amat mahal.


Ketahuilah wahai saudaraku, umur yang kita punya sungguh amat pendek untuk habis tenggelam dalam bahtera keraguan. Waktu yang ada sungguh sempit untuk habis karena ikut pada kesesatan. Mari kita mencari kebenaran sekuat tenaga, bersimpuh kepada Allah memanjatkan doa munajat, agar berkenan memberikan pada kita petunjuk jalan yang benar, mengilhamkan kepada kita semua hidayah ketika manusia berselisih pendapat, membimbing kita semua menuju ridhoNya, membimbing kita ke jalan yang lurus, jalan mereka yang telah diberi nikmat oleh Allah, jalan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan Sholihin. Kita harus mengerti dan sadar, jika bukan karena rahmat dan hidayah Allah yang tercurah pada kita, kita akan terus berkubang dalam kesesatan dan kebingungan. Ya Allah, dengan kecintaan kami pada NabiMu dan Ahlul Bait, kami memohon padaMu, kiranya Engkau sudi membimbing kami ke jalan NabiMu dan Ahlul Bait, menuntun kami agar dapat bersama mereka kelak di akherat, memberi hidayah agar kami dapat mengikuti jalan mereka. Amin.





[1] Ahlussunnah tidak mengatakan: Ya Husein… adrikni, atau Ya Sohibazzaman… Adrikni


[2] Syi’ah memperingati Syahidnya Imam Husein dengan memukul badan, baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata tajam, merobek pakaian dan meratap-ratap.




 


Sumber: hakekat.com

(read more ...)



Apakah Syi’ah memiliki Al Qur’an sendiri, yang berbeda dengan Al Qur’an yang ada pada umat Islam saat ini? Jika Al Qur’an itu memang ada, lalu kemana? Bukankah Al Qur’an sekarang ini adalah Al Qur’an yang diakui oleh Syi’ah, dengan bukti bahwa Al Qur’an di Iran adalah sama dengan Al Qur’an yang ada?

Al Qur’an yang ada sekarang di Iran memang sama dengan Al Qur’an cetakan Saudi, maupun Al Qur’an yang dicetak oleh percetakan di Indonesia. Sama persis, tidak ada bedanya. Dengan tegas syiah menyatakan : Al Qur’an kami adalah sama dengan Al Qur’an yang ada saat ini, buktikan jika memang ada Al Qur’an syi’ah yang berbeda!



Namun di sisi lain kita temukan lebih dari seribu riwayat yang menyatakan bahwa Al Qur’an yang ada hari ini ternyata telah mengalami perubahan, bukan lagi Al Qur’an yang murni asli seperti yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw. Riwayat-riwayat ini begitu banyaknya sehingga tidak bisa lagi dipungkiri oleh syiah sendiri, ini jika mereka memang mau melihat lagi dari kitab-kitab mereka. Namun sepertinya ada upaya sistematis untuk menjauhkan syiah dari kitab-kitab induk, agar syiah yang awam tidak mudah untuk mengetahui hakekat mazhab syiah. Nah di sinilah kami mengambil peranan untuk menguak isi kitab-kitab syiah, yang disembunyikan selama ini dari masyarakat banyak.

Pembahasan mengenai hal ini dapat anda simak dalam makalah Al Qur’an di mata Syiah .



Di sini ada dua pendapat yang bertolak belakang, yaitu pendapat ulama syiah hari ini, beserta ustadz-ustadz syiah, yang tentunya diikuti oleh kalangan awam syiah juga, yaitu Al Qur’an yang ada di tangan umat Islam hari ini adalah Al Qur’an yang asli. Mereka juga menyatakan bahwa riwayat-riwayat yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah palsu. Ini artinya ribuan riwayat itu, yang tentunya lebih nilainya dari sekedar mutawatir, semuanya tidak berguna, dan palsu. Di sini kita mengalami kebingungan, yaitu standar apa yang digunakan oleh syi’ah dalam menilai suatu hadits? Mengapa riwayat yang begitu banyak bisa dibilang palsu? Mengapa dibilang palsu? Hal ini telah dibahas pada makalah sebelumnya bagaimana mengikuti ahlulbait , jangan anda lewatkan.



Mengapa riwayat yang jumlahnya begitu banyak dengan mudah bisa ditolak?

Selain itu mereka juga memberikan bukti dari empat orang ulama syiah masa lalu yang menolak adanya perubahan Al Qur’an, namun di sini kita patut heran bagaimana pendapat dari empat orang ulama bisa mengalahkan pendapat yang sudah mencapai derajat ijma’. Kita akan membahas masala ini panjang lebar pada kesempatan lain Insya Allah.



Namun ada satu hal yang perlu diketahui oleh pembaca, yaitu Al Qur’an yang ada saat ini di tengah kaum muslimin adalah Al Qur’an milik ahlussunnah. Mengapa bisa dikatakan demikian? Karena seluruh perawi Al Qur’an adalah bukan dari golongan syiah, terutama para sahabat Nabi, seperti kita ketahui pengumpulan Al Qur’an dalam satu jilid seperti yang ada saat ini adalah hasil prakarsa Utsman bin Affan, begitu juga dari sahabat-sahabat lain yang mengajarkan Al Qur’an pada para tabi’in, seperti Abu Abdurrahman As Sulami, yang menjadi sumber bagi riwayat Hafs dari Ashim, riwayat Al Qur’an yang dibaca oleh kebanyakan kaum muslimin hari ini. Begitu juga riwayat-riwayat lainnya, yaitu yang dikenal dengan qira’ah sab’ah, seluruh perawinya adalah ahlussunnah, tidak ada yang meyakini 12 imam syiah.



Sedangkan sikap syi’ah terhadap para sahabat Nabi adalah jelas, yaitu mereka diklaim telah mengkhianati Ali bin Abi Thalib yang semestinya diangkat jadi khalifah. Para sahabat malah “bersekongkol” mengkhianati wasiat yang diucapkan Nabi pada hari Ghadir Khum terkait pembaiatan Ali sebagai khalifah. Artinya dalam pandangan syiah, sahabat Nabi adalah pengkhianat, dianggap sebagai musuh oleh syi’ah.



Pembaca mestinya heran, mengapa tidak ada penganut syiah di masa lalu, bahkan para imam syiah sendiri tidak meriwayatkan Al Qur’an dari jalur syiah, yaitu perawi yang seluruhnya bermazhab syiah. Artinya mazhab syi’ah yang konon adalah mazhab yang benar, agama Islam yang “asli” malah tidak punya Al Qur’an, apakah para imam syiah tidak memperhatikan Al Qur’an, hingga mereka tidak meriwayatkannya dari jalur “orang-orang terpercaya”?



Saya katakan : dalil yang menunjukkan bahwa Abubakar, Umar dan orang yang sejalan mereka dengan mereka adalah kafir, juga menunjukkan pahala melaknat dan memusuhi mereka, yang menunjukkan bid’ah mereka, terlalu banyak untuk disebutkan dalam satu jilid atau berjilid-jilid buku, apa yang telah kami nukilkan di atas cukup bagi orang yang diberi petunjuk Allah ke jalan yang lurus. Biharul Anwar jilid 30 hal 399



Pernyataan syiah bahwa Al Qur’an hari ini adalah Al Qur’an yang asli, bertentangan dengan dengan isi kitab syiah sendiri, tetapi mengapa pernyataan ini keluar dari para ustadz? Hanya ada dua kemungkinan, yang pertama, para ustadz itu tidak pernah mengakses kitab-kitab literatur induk syiah sendiri, dan yang kedua, para ustadz itu mengatakan yang tidak sebenarnya. Begitu pula pengakuan bahwa Al Qur’an hari ini adalah Al Qur’an yang asli, mengandung pengakuan syi’ah tentang validitas para sahabat Nabi, hingga periwayatannya diterima oleh syi’ah sendiri. Sikap positif terhadap sahabat Nabi pada hakekatnya berlawanan dengan ajaran syiah sendiri, karena bagaimana syiah bisa bersikap positif pada sahabat, pada mereka yang dianggap mengkhianati Ali? Di sini kita kasihan pada mazhab syi’ah karena menggunakan Al Qur’an milik mazhab lain, mestinya syi’ah berterima kasih pada ahlussunnah, karena telah berhutang budi sekian lama.



Jika riwayat-riwayat syiah menyatakan bahwa Al Qur’an yang ada saat ini telah diubah, lalu ke mana Al Qur’an yang asli? Pertanyaan ini sudah semestinya muncul di benak kita semua. Namun pembaca tidak perlu bingung, karena jawaban pertanyaan ini telah ada dalam kitab rujukan syiah, yaitu Al Kafi jilid 2 hal 633, riwayat no 23



Muhammad bin Yahya, dari Muhammad bin Husein, dari Abdurrahman bin Abu Hasyim, dari Salim bin Salamah, mengatakan: seseorang membacakan pada Abu Abdullah dan saya mendengar huruf-huruf Al Qur’an yang tidak seperti yang dibaca oleh orang banyak, lalu Abu Abdullah berkata: jangan baca dengan bacaan ini, bacalah Al Qur’an seperti orang lain sampai datangnya Al Qaim, jika Al Qaim –alaihissalam telah datang, dia akan membaca Kitab Allah dengan benar, dan mengeluarkan mushaf yang ditulis oleh Ali Alaihissalam dan [Abu Abdullah] mengatakan:



Ali memperlihatkan Al Qur’an itu pada manusia setelah selesai menuliskannya, dan berkata pada mereka: inilah kitab Allah seperti yang diturunkan oleh Allah pada Muhammad saw, telah kukumpulkan menjadi satu jilid, lalu mereka berkata: kami juga memiliki kitab Al Qur’an, kami tidak perlu Al Qur’an yang kau bawa. Ali berkata: sungguh demi Allah kalian tidak akan melihatnya setelah hari ini, aku hanya memperlihatkannya pada kalian setelah selesai kukumpulkan, agar kalian membacanya.



Riwayat ini jelas menyebutkan adanya Al Qur’an lain yang dikumpulkan oleh Ali, yang isinya berbeda dengan Al Qur’an yang ada di tangan para sahabat saat itu, dan ketika Ali memperlihatkan pada para sahabat, mereka menolaknya. Lalu Ali pun menyembunyikan Al Qur’an yang berisi petunjuk jalan yang lurus, agar tidak dibaca oleh para sahabat, dan hanya diedarkan di kalangan para imam dan pengikutnya saja. Hingga akhirnya para sahabat tidak berkesempatan untuk melihat Al Qur’an yang asli, dan berpegang teguh pada Al Qur’an yang palsu, yang ada di tangan para sahabat. Ketika ada pengikut imam yang membaca isi Al Qur’an asli, maka oleh imam diingatkan, dan diperintahkan untuk membaca Al Qur’an yang “tidak asli” sampai nanti munculnya Al Qaim.



Artinya, hari ini syi’ah tidak memiliki Al Qur’an yang asli, tetapi meminjam Al Qur’an dari penganut ahlussunnah. Apakah ini pengakuan bahwa mazhab Ahlussunnah adalah mazhab yang benar? Atau mereka menganggap ahlussunnah sesat tapi mereka mau menerima periwayatannya? Sungguh aneh, mestinya jika ahlussunnah sesat, maka riwayat haditsnya juga tidak boleh dipercaya, tetapi demi kepentingan syi’ah, tidak mengapa untuk berkontradiksi, dan mengambil riwayat Al Qur’an dari ahlussunnah, orang-orang yang tidak percaya pada imamah, yang merupakan ushuluddin terpenting bagi syiah.



Jika Al Qur’an yang asli tidak ada di dunia ini, alias tersembunyi di tangan sang imam yang juga bersembunyi, maka hadits yang dikenal dengan nama tsaqalain, dan menjadi pedoman utama syiah untuk mengklaim bahwa mazhab syiah adalah paling benar, yang berisi perintah untuk mengikuti Al Qur’an dan sunnah Nabi, menjadi tidak berlaku lagi, karena tidak bisa diamalkan. Bagaimana bis mengamalkan Al Qur’an, wong Ali sudah bersumpah bahwa kita tidak bisa melihatnya lagi sampai munculnya imam Mahdi. Begitu juga mengikuti ahlulbait, juga tidak bisa dilakukan oleh syi’ah, karena ahlulbait Nabi, yang mana bagi syiah adalah 11 imam plus fatimah, sudah berlalu, dan imam zaman sekarang yaitu imam Mahdi, bersembunyi membawa Al Qur’an, artinya ahlulbait Nabi bersembunyi bersama Al Qur’an, Tsaqalain yang harus diikuti malah bersembunyi, bagaimana bisa diikuti?



Sampai saat ini kita belum pernah mendapat penjelasan dari ulama syi’ah tentang dhaifnya redaksi hadits ini, begitu juga matannya.


(read more ...)



Buku seorang dosen agama dan doktor lulusan UIN Yogya banyak sekali kekacauan pemikiran yang memerlukan terapi serius. Baca CAP Adian ke-273

Oleh: Dr. Adian Husaini


 


Pada 5 November 2009, saya mendapat undangan untuk berbicara dalam sebuah seminar di kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Seminar bertema ”Islam dan Tantangan Pemikiran Global” itu diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Pesantren Modern Gontor cabang Lombok. Seminar dibuka oleh Gubernur NTB, Tuan Guru Zainul Majdi.  Turut memberikan sambutan adalah pimpinan Pondok Pesantren Gontor KH Abdullah Syukri Zarkasyi dan Tuan Guru Sofwan Hakim, ketua Forum Kerjasama Pesantren se-NTB. Seminar dihadiri sekitar 300 pimpinan dan guru-guru pesantren se- NTB.  Tim pembicara dari INSISTS dipimpin oleh Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.


 


Tampaknya, bagi para ulama dan tokoh Islam di NTB, isu liberalisasi Islam sudah cukup akrab dengan mereka. Mereka mengakui, sejumlah masalah yang dibahas dalam seminar sudah terjadi juga di daerah mereka, meskipun dalam skala yang belum masif seperti di sejumlah kota di Pulau Jawa.  Salah satu masalah yang sudah mulai dilontarkan kaum liberal di NTB adalah soal ”Desakralisasi Al-Quran.”  Ada seorang tokoh yang mengaku sempat berdiskusi dengan seorang mahasiswa IAIN Mataram, yang bertanya kepadanya: ”Apakah Al-Quran itu benar-benar suci atau dianggap suci?” 


Mendengar pertanyaan itu saya menjawab dengan agak bercanda, ”Tanyakan pada si mahasiswa,  apakah dia benar-benar manusia atau dianggap manusia?”  


 


Dalam seminar di NTB, isu ”desakralisasi Al-Quran” memang disinggung juga oleh KH Abdullah Syukri Zarkasyi. Gubernur NTB yang juga kandidat doktor ilmu Tafsir di Universitas al-Azhar Kairo, bahkan menguraikan cukup panjang sejarah serangan kaum orientalis terhadap Islam, termasuk terhadap Al-Quran. Ia menunjukkan sejumlah contoh kesungguhan dan kesabaran para orientalis dalam menyerang Islam. ”Sehingga dalam pertarungan ini, siapa yang lebih sabar yang akan menang,” ujarnya seraya mengajak para peserta seminar untuk meningkatkan kesabaran dalam berjuang.


 


Proyek ”desakralisasi Al-Quran” memang termasuk  salah satu tema pokok dalam liberalisasi Islam. Mengikuti tradisi kajian Al-Quran model orientalis, sejumlah pemikir liberal tampak berusaha keras meyakinkan kaum Muslim, bahwa Al-Quran bukanlah sebuah kitab suci, tetapi kitab yang dianggap suci. Ada yang berusaha keras menulis artikel untuk membuat kaum Muslimin ragu-ragu terhadap kebenaran dan keotentikan Al-Quran.  Dia mencoba meyakinkan, bahwa Al-Quran adalah kitab biasa-biasa saja, yang juga mengandung kesalahan secara tata bahasa. Tentu saja, pekerjaan semacam ini akan sia-sia saja. Meskipun si penulis mendapatkan imbalan tertentu di dunia.


 


Pikiran semacam ini tampaknya cukup luas merasuki pemikiran kalangan akademisi di lingkungan Perguruan Tinggi Islam saat ini. Tentu kita masih ingat, bagaimana seorang dosen IAIN Surabaya yang pada 5 Mei 2006, menerangkan posisi Al-Quran sebagai hasil budaya manusia. Dia katakan, "Sebagai budaya, posisi Al-Quran tidak berbeda dengan rumput. Sebagai budaya, Al-Quran tidak sakral. Yang sakral adalah kalamullah secara substantif.”       


 


Sebuah jurnal yang diterbitkan di IAIN Semarang edisi 23 Th. XI/2003, menulis di sampul belakangnya: ”ADAKAH SEBUAH OBJEK KESUCIAN DAN KEBENARAN YANG BERLAKU UNIVERSAL? TIDAK ADA! SEKALI LAGI, TIDAK ADA! TUHAN SEKALIPUN!”   Di pengantar redaksinya juga ditegaskan: ”Dan hanya orang yang mensakralkan Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut.”


 


Mengapa kaum liberal giat dalam mengkampanyekan tema ”desakralisasi Al-Quran”, bahwa Al-Quran bukanlah kitab suci?  Ternyata, jika kita cermati, tujuan mereka adalah ingin memberikan legitimasi terhadap masuknya berbagai metode penafsiran Al-Quran, di luar ilmu Tafsir Al-Quran. Dengan meletakkan posisi Al-Quran sebagai teks biasa, teks sastra, teks budaya, atau teks sejarah, yang sama dengan  teks-teks lain, maka dimungkinkan masuknya model pemahaman Al-Quran yang baru, seperti hermeneutika.


 


Di NTB itulah, saya lebih berkesempatan membaca sebuah buku berjudul Arah Baru Studi Ulum Al-Quran: Memburu Pesan Tuhan di Balik Fenomena Budaya  karya seorang dosen STAIN di Jawa Timur, yang juga doktor lulusan UIN Yogyakarta. Sebut saja inisialnya ”AW”. Tesis master dosen ini juga sudah diterbitkan menjadi sebuah buku dengan judul Menggugat Otentisitas Wahyu Tuhan, yang juga menolak kesucian Al-Quran. Buku Arah Baru Studi Ulum Al-Qur’an, semakin menegaskan, adanya kecenderungan dan gerakan penghancuran ulumul-Quran para ulama Islam, digantikan dengan teori-teori ilmu sosial para ilmuwan Barat.  AW  sangat getol dalam mempromosikan penggunaan hermeneutika untuk – katanya – memahami pesan Tuhan yang terperangkap dalam Mushaf Utsmani. Seperti biasa, para pengguna hermeneutika biasanya melakukan proses desekralisasi teks Al-Quran. Itu pula yang dilakukan dosen STAIN ini.  Simaklah pandangan penulis tentang Al-Quran berikut ini:


 


”Dalam karya ini, saya membedakan antara wahyu, al-Qur’an, dan Mushaf Usmani. Ketiganya adalah tiga nama yang kendati mengacu pada satu substansi, tetapi kadar muatan ketiganya berbeda. Wahyu sebagai pesan otentiks Tuhan masih memuat keseluruhan pesan Tuhan; al-Qur’an sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk bahasa Arab oral memuat kira-kira sekitar 50 persen pesan Tuhan; dan Mushaf Usmani sebagai wujud konkret pesan Tuhan dalam bentuk bahasa Arab tulis hanya memuat kira-kira tiga puluh persen pesan Tuhan. Jika selama menjadi wahyu masih memuat keseluruhan pesan Tuhan, tidak demikian halnya ketika telah menjadi Al-Quran dan Mushaf Usmani. Hal itu terjadi, bukan karena Tuhan tidak mampu menjamin keabadian pesan-Nya, melainkan karena keterbatasan Bahasa Arab yang dijadikan wadah pesan Tuhan yang tak terbatas itu.” (hal.vii).


 


Saya sangat prihatin dan sekaligus kasihan membaca berbagai uraian dalam buku ini. Sebab, buku ini ditulis oleh seorang dosen agama dan doktor lulusan UIN Yogya. Selain disebarkan melalui tulisan, dosen ini tentu juga mengajarkan pemikirannya kepada para mahasiswanya. Banyak sekali kekacauan dan kerancuan pemikirannya, yang tentu saja memerlukan terapi yang sangat serius. Marilah kita lihat contoh-contoh kekacauan berpikir dosen yang dinyatakan lulus doktornya di UIN Yogya dengan predikat cum laude ini. Dia menulis sebagai berikut:


 


”Ketika pesan Tuhan diwadahkan ke dalam bahasa Arab itu, maka Muhammad sebagai agen tunggal Tuhan yang juga sebagai masyarakat Arab memilih lafaz dan makna tertentu yang mampu memuat dua pesan, yakni pesan Tuhan dan pesan masyarakat Arab sebagai pemilik bahasa Arab. Implikasinya, teori interpretasi yang hanya mengacu kepada fenomena kebahasaan semacam tafsir, hanya mampu menemukan pesan masyarakat Arab sebagai pemilik bahasa Arab. Sedang pesan Tuhan yang ada di dalamnya belum tersentuh sedikit pun. Oleh karena itu, diperlukan sebuah teori interpretasi lain yang dinilai mampu menemani tafsir, sehingga yang terungkap bukan hanya pesan pemilik bahasa,tetapi juga pesan Tuhan. Hermeneutika tampaknya bisa menjadi mitra tafsir guna mengungkap pesan Tuhan di balik Bahasa Arab sebagai fenomena budaya.” (hal.viii).


 


Sekilas saja, kita bisa menilai, bahwa kata-kata si dosen STAIN itu sebenarnya asbun (asal bunyi).  Tuduhan bahwa Ilmu Tafsir selama ini tidak mampu menangkap pesan Allah dalam Al-Quran adalah suatu bentuk pernyataan asal-asalan. Tentu kita tidak bisa menyimpulkan si dosen ini ”sakit jiwa”, sebab bisa meraih gelar doktor dari UIN Yogya dengan predikat cum laude dan bisa menulis banyak buku. Tetapi, yang jelas, selama 1400 tahun lebih, umat Islam di seluruh dunia telah memahami Al-Quran dengan menggunakan Ilmu  Tafsir dan tidak menggunakan hermeneutika. Lalu, tiba-tiba di ”zaman edan” ini  muncul ”pemikir luar biasa hebat”  dari UIN Yogya yang dengan gagah berani menyimpulkan:


 


 ”teori interpretasi yang hanya mengacu kepada fenomena kebahasaan semacam tafsir, hanya mampu menemukan pesan masyarakat Arab sebagai pemilik bahasa Arab. Sedang pesan Tuhan yang ada di dalamnya belum tersentuh sedikit pun.”


 


Karena berlagak menjadi mujtahid besar itulah maka pengguna hermeneutika -- seperti penulis buku ini -- lalu bersikap sok hebat dan merendahkan martabat, keilmuan, dan keikhlasan Khalifah Usman bin Affan serta  para ulama Islam terkemuka. Tapi, ironisnya, pada saat yang sama, kaum liberal juga sangat hormat dan bertaklid buta begitu saja kepada Mohammed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zayd, Khaled Abou el-Fadl, Farid Essac, Paul Ricour, Fazlur Rahman, Hegel, dan sebagainya. 


 


Simaklah sejumlah ungkapan AW tentang Mushaf Usmani berikut ini:


 


Sejarah menunjukkan kepada kita bahwa proses pembukuan Al-Quran diwarnai campur tangan Utsman dalam posisinya sebagai khalifah, yang oleh Abu Zayd disebut sebagai ”dekrit” khalifah.” (hal. 169)... ”Maka tidak bisa disalahkan kiranya jika diasumsikan bahwa di balik keputusan khalifah Utsman tersebut mengandung adanya unsur ideologis, terutama ideologi pemilik bahasa yang dipilih menjadi bahasa Mushaf Usmani.” (hal. 170)...”Lebih-lebih, Khalifah Utsman telah menghilangkan dan menyensor bahkan memusnahkan korpus kitab-kitab individu, seperti milik Ibnu Mas’ud dan Siti Hafsah. Ini jelas berimplikasi pada pemusatan pembacaan hanya pada Mushaf Usmani. Jika boleh memberi istilah, Mushaf Usmani ini telah menjadi ”penjara” bagi pesan rahasia Tuhan. Penjara yang dimaksud di sini adalah ideologi Quraisy yang melingkupinya, dan bahkan antara Quraisy dan al-Qur’an (Mushaf Usmani) merupakan dua anak kembar yang saling bersanding dan dua cabang yang berakar sama, yang dengannya mereka mencoba menancapkan hegemoninya.” (hal. 172).


 


Begitulah pandangan doktor UIN Yogya yang sangat merendahkan martabat Sayyidina Utsman bin Affan dan menistakan Al-Quran. Sebenarnya, jika AW mau mengungkapkan berbagai penjelasan dalam kitab Ulumul Quran, maka dengan mudah ditemukan penjelasan seputar tindakan Khalifah Utsman r.a. yang sangat mulia dan luar biasa besar jasanya dalam kodifikasi Mushaf Al-Quran. Tapi, dia lebih percaya kepada pendapat-pendapat orientalis yang memberikan berbagai tuduhan dan sangkaan terhadap Khalifah Utsman r.a., menantu Rasulullah saw, dan termasuk salah satu sahabat yang dijamin masuk sorga oleh Rasulullah saw.


 


Tindakan Sayyidina Utsman itu pun sudah mendapat pesertujuan dari semua sahabat, termasuk Abdullah bin Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib. Tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang menentang tindakan Utsman r.a., karena memang kodifikasi Al-Quran itu bukan dilakukan untuk kepentingan politik atau kesukuan. Karena itulah, sepanjang sejarah Islam, meskipun terjadi berbagai konflik politik, tidak pernah terpikir suatu rezim untuk membuat Al-Quran baru. Betapa pun kerasnya konflik antara Ali dan Mu’awiyah, keduanya tetap menjadikan Mushaf Utsmani sebagai pedoman. Setelah Abbasiyah berkuasa, mereka juga tidak mengganti Mushaf Utsmani dengan Mushaf baru. Maka, tuduhan-tuduhan keji terhadap Sayyidina Utsman r.a. dan Mushaf Utsmani sebenarnya sangat tidak ilmiah dan hanya berlandaskan kebodohan dan kebencian.


 


Kajian terakhir yang menyudutkan Mushaf Usmani, misalnya datang dari seorang orientalis Kristen Jerman (berasal dari Lebanon) yang menggunakan nama samaran Christoph Luxenberg.  Sebagaimana para pendahulunya, Luxenberg juga menggugat Al-Quran sebagai “wahyu” yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Ia mencoba menggugurkan keyakinan kaum Muslim bahwa Al-Quran adalah “tanzil”, “suci”, bebas dari kesalahan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran (QS 15:9). Menurut Luxenberg --  dengan melakukan kajian semantic terhadap sejumlah kata dalam Al-Quran Arab yang  diambil dari perbendaharaan bahasa Syriac -- Al Quran yang ada saat ini (Mushaf Utsmani) adalah salah salin (mistranscribed) dan berbeda dengan teks aslinya. Teks asli Al Quran, simpulnya, lebih mirip bahasa Aramaic, ketimbang Arab. Dan naskah asli itu telah dimusnahkan Khalifah Usman bin Affan. Dengan kata lain, Al-Quran yang dipegang oleh kaum Muslim saat ini, bukanlah wahyu Allah SWT, melainkan akal-akalan Utsman bin Affan r.a.


 


Lunxenberg – seperti banyak orientalis lainnya – mempertanyakan motivasi Utsman bin Affan melakukan kodifikasi Al-Quran. Ia menduga, teks Al-Quran yang dimusnahkan Utsman bin Affan berbeda dengan teks Mushaf Utsmani yang sekarang ini.  Tuduhan semacam ini sama sekali tidak beralasan, sebab proses kodifikasi Al-Quran di zaman Utsman bin Affan sangat terbuka kerjanya, dan Al-Quran selalu diingat oleh ratusan, ribuan – bahkan kini jutaan kaum Muslimin. Setiap kekeliruan akan selalu dikoreksi oleh kaum Muslim.


 


Tetapi, para orientalis memang tidak pernah berhenti untuk menyerang Al-Quran dengan berbagai cara. Ironisnya, cara-cara orientalis semacam ini sekarang dilakukan oleh beberapa akademisi dari kalangan Perguruan Tinggi Islam sendiri.  Bahkan, tuduhan-tuduhan tidak beradab terhadap Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu seperti yang dilakukan doktor UIN Yogya itu juga kemudian dialamatkan kepada Imam al-Syafii rahimahullah. Dengan menjiplak begitu saja pendapat Nasr Hamid Abu Zayd, tanpa sikap kritis sedikit pun, AW menulis: ”Al-Quran versi bahasa Quraisy inilah yang diperjuangkan oleh Imam Syafi’i sebagai wahyu Tuhan yang layak dihormati hingga pada teks tulisannya, sebagai konsekuensi logis di mana dan dalam suku apa ia dilahirkan.” (hal. 170).


 


Tentu sangatlah tidak beradab memberikan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar kepada seorang ulama besar seperti Imam Syafii, yang begitu besar jasanya kepada umat Islam. Apalagi memberikan tuduhan dan prasangka negatif kepada sahabat-sahabat Rasulullah saw.  Umat Islam sangat mencintai Nabi Muhammad saw, dan tentu, umat Islam juga sangat mencintai para sahabatnya dan juga pelanjut risalahnya, yaitu para ulama yang alim dan shalih. Adab seperti inilah yang seharusnya dijaga dalam dunia ilmiah di lingkungan Perguruan Tinggi Islam. Tindakan menghujat dan melecehkan Al-Quran, sahabat, dan ulama, tidak patut dilakukan oleh seorang Muslim, meskipun dengan mengatasnamakan kebebasan ilmiah dan sikap kiritis.


 


Apalagi, faktanya, doktor UIN Yogya ini juga sama sekali tidak bersikap kritis ketika mengutip pendapat-pendapat para orientalis dan pemikir liberal. Ia menolak pemahaman bahwa lafaz dan makna Al-Quran (Mushaf Utsmani) berasal dari Allah, sehingga bersifat sakral (suci), dan membacanya dalam bentuk tartil pun dinilai sebagai membaca wahyu Allah dan si pembaca mendapatkan pahala. Menurut sang doktor  UIN Yogya tersebut, yang sakral dari Mushaf Utsmani hanyalah maknanya, sementara lafaznya tidak sakral. 


 


”Namun demikian, lafadznya, sebagai wadah pesan Tuhan tetap harus dihormati. Karena itu, yang dianjurkan membaca di sini adalah dalam arti mengungkap pesan itu, bukan tartilnya. Karena pesan itu terdapat dalam bahasa yang profan, maka diperlukan alat apa saja yang secara metodologis absah digunakan dalam sebuah kajian ilmiah, termasuk hermeneutika.” (hal. 184).


 


Membaca pemikiran doktor cum laude dari UIN Yogya ini, tentu wajar  jika selama ini kita mempertanyakan, mengapa penggunaan hermeneutika dalam studi Al-Quran terus digalakkan di Perguruan Tinggi Islam. Tampak jelas, bagaimana pemikiran sang doktor ini dalam menistakan Al-Quran, para sahabat Nabi Muhammad saw, dan para ulama Islam yang sangat kredibel. Kita bisa melihat bagaimana tendensiusnya kajian yang mempromosikan hermeneutika sebagai metode alternatif  dalam penafsiran Al-Quran. Kajian semacam ini jauh dari sikap ilmiah yang bermutu. Maka, adalah aneh, ketika seorang guru besar di UIN Yogya, Prof. Dr. Hamim Ilyas, membuat kriteria bahwa salah satu ciri kaum fundamentalis adalah menolak penggunaan hermeneutika dalam penafsiran Al-Quran.


Mengapa muncul kegilaan pada hermeneutika dan penistaan Ilmu Tafsir pada sebagian akademisi di Perguruan Tinggi Islam?  Kita menemukan jawabannya pada artikel Dr. Syamsuddin Arif di Harian Republika (30 September 2004), yang berjudul “Kisah Intelektual Nasr Hamid Abu Zayd”:  


 


“Terus-terang saya tidak begitu tertarik oleh teori dan ide-idenya mengenai analisis wacana, kritik teks, apalagi hermeneutika. Sebabnya, saya melihat apa yang dia lontarkan kebanyakan -- untuk tidak mengatakan seluruhnya -- adalah gagasan-gagasan nyeleneh yang diimpor dari tradisi pemikiran dan pengalaman intelektual masyarakat Barat… Orang macam Abu Zayd ini cukup banyak. Ia jatuh ke dalam lubang rasionalisme yang digalinya sendiri. Ia seperti istri Aladdin, menukar lampu lama dengan lampu baru yang dijajakan oleh si tukang sihir.” 


 


Dan memang faktanya, para pengguna hermeneutika dan pengecam Tafsir Al-Quran, hingga kini tidak pernah mampu membuat satu Tafsir Al-Quran pun. Sebab, tampaknya, ”maqam” mereka baru sampai pada tahap merusak dan hanya isapan jempol belaka, jika diangggap para hermeneut ini mampu menciptakan metode Tafsir Al-Quran baru yang sanggup menandingi kehebatan Ilmu Tafsir, Ilmu Ushul Fiqih, dan sebagainya. Bahkan, tampak jelas, buku karya doktor UIN Yogya ini pun tidak menunjukkan contoh, bagaimana metode dan model Studi Al-Quran yang baru dan hebat.


Kita yakin, Al-Quran ini Kalamullah. Al-Quran adalah milik Allah. Dan pasti, Allah yang menjaganya dari berbagai upaya untuk merusaknya. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang tahu diri!  Tidak patut burung emprit berlagak seperti burung elang.  Wallahu a’lam.  [Malang, 7 November 2009/www.hidayatullah.com]


 


(read more ...)




Jutaan keajaiban sudah tercipta seiring dengan tumbuhnya embrio dalam rahim seorang wanita. Pernahkah kita membayangkan wajah mereka di dalam rahim?






Hidayatullah.com--Ketika foto embrio manusia yang sedang berkembang karya Lennart Nilsson pertama kali ditampilkan di majalah Life pada tahun 1965, gambarnya menimbulkan kehebohan. Hanya dalam hitungan hari, sebanyak 8 juta segala hasil cetakan (koran/majalah) yang memuatnya terjual habis.

 









 Embrio berusia 5 minggu. Diperkirakan panjangnya 9 mm. Tahap pembentukan wajah, dengan mulut yang terbuka, lubang hidung dan mata.

Dalam Basic Human Embryology oleh Williams P, rujukan yang biasa dipakai dalam bidang embriologi, dikatakan, ""Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran."











 Berusia 8 minggu, embrio yang berkembang pesat dilindungi dengan baik oleh kantung amnion.

Teknologi maju memungkinkan gambar embrio yang sedang berkembang diambil dengan hasil yang lebih jelas dan lebih besar. Gambar bisa diambil dengan menggunakan kamera konvensional yang dilengkapi lensa mikro. Atau bisa juga menggunakan alat endoskopi. Teknologi pemindaian mikroskop elektron memungkinkan Nilsson mengambil ratusan atau bahkan ribuan gambar embrio yang mengagumkan.











 Janin berusia 10 minggu. Kelopak matanya semi tertutup, yang akan tertutup total dalam beberapa hari kemudian.



Gambar-gambar karya Nilsson dikumpulkan dalam sebuah buku yang diberi judul "A Child is Born".











 Usia 16 minggu, janin akan menggunakan kedua tangannya untuk mengenali seluruh tubuh dan lingkungan sekitarnya.

Bagi umat Islam, kabar mengenai perkembangan janin yang sangat menakjubkan bukan hal yang sangat mengejutkan, karena Al-Quran sudah memberitahukannya sejak belasan abad lalu.











Janin sekarang bisa menggenggam, meraih, dan menarik tali pusar yang panjang. Tulangnya masih lentur. Jaringan pembuluh darah yang sudah terbentuk bisa dilihat melalui kulit tipis yang masih tembus pandang.

 "... Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?" (QS. Az Zumar:6)











Usia 18 minggu. Si Fulan sekarang panjangnya kira-kira 14 cm dan sudah bisa mendengar suara-suara di luar "dunia gelap"nya.

Bahkan Allah juga sudah mewanti-wanti agar tidak membunuh anak-anak yang dikaruniakan kepada manusia. "Sesungguhnya RabbMu yang membentangkan rezeki bagi siapa yang Ia kehendaki dan takdirkan. Sesungguhnya Ia Maha mengetahui hamba hambaNya lagi Maha Melihat. Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut lapar, Kami-lah yang memberi rezeki mereka dan kamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah kesalahan yang besar." (QS.Al-Isra:30-31)











Usia 20 minggu. Si Fulan panjangnya 20 cm. Rambut yang dikenal dengan istilah lanugo, mulai tumbuh memenuhi seluruh kepalanya.

Awal tahun 2006 di Inggris marak perdebatan masalah aborsi. Sebagian besar wanita Inggris menginginkan Undang-Undang Aborsi diperketat agar para wanita semakin sulit atau bahkan tidak mungkin melakukan aborsi.




Survei yang dilakukan oleh MORI ketika itu menunjukkan bahwa 47 persen wanita yakin bahwa batas waktu maksimal bisa dilakukan aborsi, yaitu janin 24 minggu, harus dikurangi. Sebanyak 10% wanita bahkan menginginkan agar praktik aborsi dilarang sama sekali.



42% dari total responden (laki-laki dan perempuan) menginginkan agar usia janin yang boleh diaborsi dikurangi.



Kiranya apa gerangan yang membuat mereka ingin aborsi diperketat atau bahkan dilarang. Bukankah mereka adalah masyarakat yang permisif dengan hubungan di luar nikah dan seks bebas?



Jawabannya, karena ketika masalah pembahasan Undang-Undang Aborsi mulai memanas, beredar gambar janin si Fulan yang sedang tersenyum manis dan meringis di dalam rahim ibunya.










Usia 23 minggu janin bisa tersenyum manis

Gambar janin berusia 23 minggu hasil pemotretan dengan alat ultrasonografi itu telah menyadarkan masyarakat akan realita aborsi dan keberadaan janin-janin tak berdosa di tengah-tengah mereka.




Namun sayangnya, mesin-mesin perang Amerika Serikat dan sekutunya tanpa ampun merenggut keindahan janin-janin tak berdosa, bahkan jauh sebelum mereka berbentuk. Akibat depleted uranium dan fosfor yang digunakan dalam perang di Iraq, Afganistan, Palestina, Kosovo dan lainnya, banyak bayi yang mati dan dilahirkan dalam keadaan cacat yang mengerikan. [di/tg/gd/www.hidayatullah.com]

(read more ...)



Nov

10


Risalah Islam membawa, bahkan mengajarkan dan memperjuangkan: kebenaran, keadilan dan kejujuran. Islam tidak mengajarkan, bahkan menolak dan memerangi: kebathilan, kedzolimandan kedustaan. Dalam menegakkan misi suci ini, islam sebagai Al-Haq (pihak kebenaran) pasti mendapat tantangan dan rintangan dari kekuatan lain yang memusuhinya, yaitu kekuatan A-Bathil yang dipelopori oleh Syaithon dan pasukannya, guna menyimpangkan menusia dari jalan yang Al-Haq (kebenaran), jalan An-Najah (keselamatan), Ash-Shirothol Mustaqim.


Menurut Dr. Muhammad saied Al-Qohthoni, persaingan dua kubu ini dimulai sejak diciptakan Nabi Adam asl hingga berakhirnya kehidupan didunia ini. Marilah kita lihat dan renungi firman Alloh swt berikut ini:


Artinya:"Sesungguhnya kami Telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami bentuk tubuhmu, Kemudian kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", Maka merekapun bersujud kecuali iblis. dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Alloh berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" menjawab Iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". Alloh berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; Karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina". Iblis menjawab: "Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan". Alloh berfirman: "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." Iblis menjawab: "Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Alloh berfirman: "Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kalian semuanya".(QS. Al-Arof:11-18).


Didalam ayat-ayat ini, dijelaskan beberapa unsur penting terjadinya permusuhan antara Nabi Adam asl dan Iblis laknatulloh alaihi:



  1. Sebab terjadinya permusuhan, Iblis beranggapan bahwa Alloh swt menyesatkan dan menghancurkan dirinya disebabkan oleh Adam as. dalam hal in syaethon berkata:


Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa ayat itu adalah كَمَا أَضْلَلْتَنِيْ (sebagaimana engkau menyesatkan aku).


Sedangkan menurut ulama lain, maknanya adalah:


كَمَا أَهْلَكْتَنِيْ لَأَقْعُدَنَّ لِعِبَادِكَ الَّذِيْ تَخْلُقُهُمْ مِنْ ذُرِّيَةِ هَذَا الَّذِيْ أَبْعَدْتَنِيْ بِسَبَبِهِ عَلَى صِرَاطِ المُسْتَقِيْمِ


"sebagaimana engkau telah membinasahkan aku, niscaya aku akan duduk menghalangi hamba-hambamu dari jalanmu yang lurus, yang engkau ciptakan diantara keturunan manusia yang menjadi sebab engkau jauhkan aku".



  1. Target akhir yang hendak dicapai dalam permusuhan, yaitu menghalangi manusia dari Ash-Shirotol Mustaqim, agar manusia tidak lagi beribadah kepada Alloh swt dan tidak bertauhid. Dalam hal ini syaithon berkata:


Ketika menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir rhm berkata:


(صِرَاطُكَ المُسْتَقِيْمُ) طَرِيْقُ الحَقِّ وَ سَبِيْلُ النَّجَاةِ. وَلَأَضَلَنَّهُمْ عِنْهَا لِئَلَّا يَعْبُدُوْكَ وَلَا يُوَحِّدُوْكَ بِسَبَبِ إِضْلَالِكَ إِيَّايَ


"(jalanmu tang lurus) adalah jalan kebenaran dan langkah keselamatan. Sesungguhnya aku akan menyesatkan mereka dari jalan tersebut agar mereka tidak beribadah dan tidak mentauhidkan engkau disebabkan engkau sesatkan aku karenanya".



  1. Upaya-upaya yang dilakukan syaithon dalam proses permusuhan tersebut. Yaitu dengan menghadang manusia dari empat arah, yaitu:

    • Dari arah depan

    • Dari arah belakang

    • Dari arah kanan

    • Dari arah kiri




Dalam hal ini syaithon memberikan ancamannya dalam ucapannya:


Dalam mentafsirkan strategi syaithon ini, Ibnu Abbas ra yang berasal dari riwayat Ali bin Abi Tholhah menegaskan:


a.                   Dari depan adalah " aku berikan keraguan kepada mereka tentang hari qiyamat".


b.                  Dari belakang adalah " aku gemarkan mereka dengan dunia mereka".


c.                   Dari kanan adalah "aku samarkan kepada mereka urusan agama mereka".


d.                  Dari kiri adalah " aku senangi mereka dengan berbagai maksiat".


Sedangkan menurut saied bin Abi Arubah bahwa Qotadah menjelaskan hal ini sebagai berikut:


"aku datangi dari hadapan mereka yaitu " mereka diinformasikan bahwa tidak ada hari kebangkitan, tidak ada surga dan tidak ada neraka".


Dari belakang mereka yaitu " tentang urusan dunia, dengan memperindahkannya dan menyerukannya kepada mereka".


Dari kanan mereka yaitu " dari arah kebaikan mereka dengan menghalanginya".


Dari kiri mereka yaitu " memperindahkan keburukan dan kemaksiatan kepada mereka, menyerukannya dan memerintahkannya kepada mereka".


Menurut Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah rhm " setiap keburukan yang ada dalam dunia ini disebabkan oleh syaithon. Dan kita tidak mungkin dapat menghitung jenis-jenis keburukan yang disebarkan olehnya, apalagi rincian satuannya. Akan tetapi jenis-jenis keburukan yang disebarkannya itu dapat digolongkannya dalam enam bentuk, yaitu:


1)      Kesyirikan, kekufuran serta permusuhan kepada Alloh swt dan Rosulnya saw


2)      Membuat hal baru dalam agama (bidah).


3)      Dosa-dosa besar.


4)      Dosa-dosa kecil.


5)      Sibuk dengan hal-hal mubah.


6)      Sibuk dengan hal-hal yang kurang penting dengan meninggalkan hal yang lebih penting.


Lebih lanjut, beliau menjelaskan jika syaithon tidak mampu menyebarkan 6 racun tersebut dan sudah putus asa terhadapnya, maka sebagi senjata pamungkasnya digelarlah pasukan-pasukannya yang loyal dari bangsa jin dan manusia untuk melakukan intimidasi, propokasi kekafiran, penyesatan dan lain-lain.


Dalam hal ini, menurut syeikh Muhammad Shofwat Nuruddin –pimpinan jamaah Anshor As-Sunnah Al-Muhammadiyah Mesir- bahwa syaithon bekerja keras mempengaruhi manusia dengan berbagai strategi, bahkan menjadikan mereka tentara-tentaranya yang siap selalu melaksanakan apa yang direncanakannya. Menurut beliau adalah 4 pasukan yang digelar oleh syaithon dengan dibaginya menjadi 2 posisi, yaitu posisi dzohiroh (nyata) dan posisi khofiyah (tersembunyi).


Pasukan yang berada diposisi nyata terdiri dari:


1)      Kelompok orang-orang kafir  yang dzolim.


2)      Kelompok pelaku maksiat, yaitu orang-orang yang masuk islam, akan tetapi terbuai oleh kesenangan dunia.


Sedangkan pasukan yang berada pada posisi tersembunyi:


1)      Kaum munafiqin yang menyatakan loyal secara dzohir, akan tetapi menyembunyikan permusuhan.


2)      Orang yang ikhlas, semangat dalam beramal dan gemar berbuat, akan tetapi semakin bertambah banyak dia mendengar kata-kata dan kemajuan kaum kafir, terpengaruhlah dia dengan kaum kafir tersebut dan mendukung seluruh upaya mereka.


Pasukan ini digelar-terutama kompi kaum kafir yang dipelopori oleh yahudi dan Nashrani- dalam rangka melakukan dua serangan kepada pembela dan penganut yang Al Haq (kaum muslimin). Kedua serangan itu adalah:


1)      Al-Ghozwu Al-Askari (serangan/invasi militer) dengan melakukan intimidasi, terror fisik, pembersihan wilayah dan pembasmian kaum muslimin.


Abdulloh bin masud ra bercerita:"bahwa Nabi saw pernah melakukan sholat dibaitulloh, sedangkan disaat itu Abu Jahal dan para pedukungnya sedang duduk-duduk. Sebagian rekannya berkata kepada yang lain:


"siapakah diantara kalian yang berani meletakkan kulit bangkai dipunggung Muhammad, saat dia sujud?".


Lalu, seorang yang paling buruk diantara mereka, yaitu Uqbah bin Abi Muith bangkit berdiri, kemudian mendatangi Rosululloh saw sambil memandang dan menunggu Nabi saw melakukan sujud. Lalu dia letakkan kulit bangkai itu dipunggung beliau. Sambil tertawa, mereka saling melempar tuduhan satu sama lain.(HR. Bukhori: 1/54).


Ammar bin Yasir ra -seorang budak bani Makhzum- yang masuk islam bersama ayah dan ibundanya disiksa ditengah terik matahari yang sangat panas. Sang ayah wafat, tak sanggup menahan derita siksaan yang begitu dahsyat. Sedangkan sang ibu –sumayyah- ditusuk kemaluannya dengan besi panas oleh Abu Jahal. Disaat Rosululloh saw melintasinya, beliau berkata:


صَبْرًا آلَ يَاسِر فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الجَّنَّةَ


"sabarlah hai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga". (Syiroh Ibnu Hisyam: 1/319-320).


Menurut Muhammad Qutub serangan kaum kafir ini tidak perlu lagi kepada penafsira dan alasan, karena kedengkian mereka telah dijelaskan oleh Alloh swt dalam ayat-ayatnya diantaranya adalah:


Artinya:"Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Alloh mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. Al Baqarah: 109)


Arrtinya:"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Alloh Itulah petunjuk (yang benar)". dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Alloh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu".(QS. Al Baqarah: 120).


Artinya:"mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka (dapat) mengembalikan kalian dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya". (QS. Al Baqarah: 217)


2)                  Al-Ghozwu Al-Fikri. Menurut Muhammad Qutub rhm dalam kitabnya "Waqiuna Al-Muashir" bahwa yang dimaksud dengan Al-Ghozwu Al-Fikri adalah:


Adalah sarana-sarana non militer yang digunakan oleh pasukan salib untuk menghilangkan simbol-simbol kehidupan Islami serta memalingkan kaum muslimin dari sikap komitmen terhadap Islam, yang berkaitan dengan aqidah serta pemikiran, adat istiadat dan sikap hidup yang berhubungan dengannya".


Menurut Syofiyur Rohman Al-Mubarikfuri dalam kitabnya "Rokhiqul Makhtum" diceritakan bahwa dahulu, disaat kaum musyrikin Quraisy melihat Nabi saw tidak dapat dihalang-halangi oleh berbagai bentuk intimidasi, mereka mulai beralih memikirkan strategi lain, yang diantaranya  dalam empat bentuk:


a.                   Melakukan ejekan, hinaan, pendustaan dan mentertawai. Tujuannya adalah dalam rangka menggoncang spirit  jiwa kaum muslimin dan merendahkan mereka. (baca QS. 38: 4 dan 83: 29-33)


b.                  Mengacak-acak pengajaran, menyebarkan syubhat dan menggencarkan propaganda dusta. Tujuannya adalah dalam rangka upaya menghalangi kaum awam, higga tidak ada kesempatan untuk memikirkan dawah beliau. (baca QS. 13: 6-7)


c.                   Menganggap Al-Quran sebagai dongeng-dongeng/legenda nenek moyang. (baca QS. 25: 4-5 dan 7 serta 16: 103).


d.                  Mengadakan tawar-menawar (win-win solusion) guna mempertemukan Islam dan Jahiliyah. (baca Qs. 65: 9).


Sedangkan menurut Dr. Al Washif Ali Hizat, orang-orang yahudi memiliki upaya yang cukup panjang dalam menipu dan meragukan kaum muslimin tentang agama dan iman mereka. Diantara upaya-upaya mereka  lakukan antara lain:


a.                   Mengerahkan satu komunitas yang bertugas masuk Islam dipagi hari dan kufur di sore hari. Tujuannya dalam rangka menggoyang kepercayaan kaum muslimin terhadap islam. (QS. 3: 71-72).


b.                  Menyebarkan keraguan tentang berpindahnya kiblat dari Baitul Maqdis menuju Makkah Musyarrofah. Tujuannya adalah dalam rangka meruntuhkan rasa keagamaan dari jiwa-jiwa para shohabat. (baca QS. 2: 142).


c.                   Mengajukan pertanyaan-pertanyaan ilmiah yang secara dzohir dapat melemahkan jawaban ilmiyah Islami.


d.                  Terang-terangan mengadakan perang propaganda melawan Rosululloh saw serta mengerahkan kaum musyrikin untuk berada dibawah komando Kaab bin Al-Asyrof


e.                   Mencela Rosululloh saw dengan berbagai upaya hinaan, guna menanamkan sakit hati dalam jiwa Rosululloh saw. (QS. 2: 104).


f.                    Mengingkari ke-Nabian Muhammad saw dengan mengemukakan pendapat bahwa Nabi itu hanya berhak dari keturunan bani Israel. (QS. 3: 67).


g.                   Membentuk pasukan munafiqin yang berada dibawah komando abdulloh bin ubay bin salul. Tujuannya dalam rangka melemahkan pasukan kaum muslimin.


h.                   Memberikan julukan-julukan buruk serta memberikan julukan yang lebih utama kepada kaum musyrikin Quraisy. (Qs.4: 44-45).


 


www.nurulilmi.com

(read more ...)




SYARAT JILBAB MUSLIMAH


Penelitian kami terhadap ayat-ayat Al-Quran, As-Sunnah dan atsar-atsar Salaf dalam masalah yang penting ini, memberikan jawaban kepada kami bahwa jika seorang wanita keluar dari rumahnya, maka ia wajib menggunakan pakaian (jilbab) yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :



1. Meliputi Seluruh Badan Selain Yang Dikecualikan



Syarat ini terdapat dalam firman Allah dalam surat An-Nuur : 31 berbunyi : "Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka atau ayah suami mereka (mertua) atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka atau saudara-saudar mereka (kakak dan adiknya) atau putra-putra saudara laki-laki mereka atau putra-putra saudara perempuan mereka (=keponakan) atau wanita-wanita Islam atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."



Juga firman Allah dalam surat Al-Ahzab : 59 berbunyi : "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin : "Hendaklah mereka mengulurkann jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."


Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya : "Janganlah kaum wanita menampakkan sedikitpun dari perhiasan mereka kepada pria-pria ajnabi, kecuali yang tidak mungkin disembunyikan." Ibnu Masud berkata : Misalnya selendang dan kain lainnya. "Maksudnya adalah kain kudung yang biasa dikenakan oleh wanita Arab di atas pakaiannya serat bagian bawah pakiannya yang tampak, maka itu bukan dosa baginya, karena tidak mungkin disembunyikan."



2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan



Ini berdasarkan firman Allah dalam surat An-Nuur ayat 31 berbunyi : "Dan janganlah kaum wanita itu menampakkan perhiasan mereka." Secara umum kandungan ayat ini juga mencakup pakaian biasa jika dihiasi dengan sesuatu, yang menyebabkan kaum laki-laki melirikkan pandangan kepadanya. Hal ini dikuatkan oleh firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 33 : "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti oang-orang jahiliyah."


Juga berdasarkan sabda Nabi : "Ada tida golongan yang tidak akan ditanya yaitu, seorang laki-laki yang meninggalkan jamaah dan mendurhakai imamnya serta meninggal dalam keadaan durhaka, seorang budak wanita atau laki-laki yang melarikan diri (dari tuannya) lalu ia mati, serta seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya, padahal suaminya telah mencukupi keperluan duniawinya, namun setelah itu ia bertabarruj. Ketiganya itu tidak akan ditanya." (Dikeluarkan Al-Hakim 1/119 dan disepakati Adz-Dzahabi; Ahmad VI/19; Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad; At-Thabrani dalam Al-Kabir; Al-Baihaqi dalam As-Syuaib).Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang wajib ditutup karena dapat membangkitkan syahwat laki-laki. (Fathul Bayan VII/19).



3. Kainnya Harus Tebal (Tidak Tipis)



Sebab yang namanya menutup itu tidak akan terwujud kecuali harus tebal. Jika tipis, maka hanya akan semakin memancing fitnah (godaan) dan berarti menampakkan perhiasan. Dalam hal ini Rasulullah telah bersabda : "Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk." Di dalam hadits lain terdapat tambahan : "Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian." (At-Thabrani dalam Al-Mujam As-Shaghir hal. 232; Hadits lain tersebut dikeluarkan oleh Muslim dari riwayat Abu Hurairah. Lihat Al-HAdits As-Shahihah no. 1326).



Ibnu Abdil Barr berkata : Yang dimaksud oleh Nabi adalah kaum wanita yang mengenakan pakaian yang tipis, yang dapat mensifati (menggambarkan) bentuk tubuhnya dan tidak dapat menutup atau menyembunyikannya. Mereka itutetap berpakaian namanya, akan tetapi hakekatnya telanjang. (dikutip oleh As-Suyuthi dalam Tanwirul Hawalik III/103).



Dari Abdullah bin Abu Salamah, bahawsannya Umar bin Al-Khattab pernah memakai baju Qubthiyah (jenis pakaian dari Mesir yang tipis dan berwarna putih) kemudian Umar berkata : Jangan kamu pakaikan baju ini untuk istri-istrimu !. Seseorang kemudian bertanya : Wahai Amirul Muminin, Telah saya pakaikan itu kepada istriku dan telah aku lihat di rumah dari arah depan maupun belakang, namun aku tidk melihatnya sebagai pakaian yang tipis ! Maka Umar menjawab : Sekalipun tidak tipis, namun ia mensifati (menggambarkan lekuk tubuh). (Riwayat Al-Baihaqi II/234-235; Muslim binAl-Bitthin dari Ani Shalih dari Umar).Atsar di atas menunjukkan bahwa pakaian yang tipis atau yang mensifati dan menggambarkan lekuk-lekuk tubuh adalah dilarang. Yang tipis (transparan) itu lebih parah daripada yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal). Olehkarena itu Aisyah pernah berkata : "Yang namanya khimar adalah yang dapat menyembunyikan kulit dan rambut."




4. Harus Longgar (Tidak Ketat) Sehingga Tidak Dapat Menggambarkan Sesuatu Dari Tubuhnya



Usamah bin Zaid pernah berkata : Rasulullah pernah memberiku baju Quthbiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku : "Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyah ?" Aku menjawab : Aku pakaiakan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda : "Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Quthbiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya." (Ad-Dhiya Al-Maqdisi dalam Al-Hadits Al-Mukhtarah I/441; Ahmad dan Al-Baihaqi dengan sanad Hasan).



Aisyah pernah berkata : Seorang wanita dalam shalat harus mengenakan tiga pakaian : Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya. (Ibnu Sad VIII/71).



Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar : Jika seorang wanita menunaikan shalat, maka ia harus mengenakan seluruh pakainnya : Baju, khimar dan milhafah (mantel). (Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf II:26/1).Ini semua juga menguatkan pendapat yang kami pegangi mengenai wajibnya menyatukan antara khimar dan jilbab bagi kaum wanita jika keluar rumah.



5. Tidak Diberi Wewangian Atau Parfum



Dari Abu Musa Al-Asyari bahwasannya ia berkata : Rasulullah bersabda : "Siapapun wanita yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina." (An-Nasai II/283; Abu Daud II/192; At-Tirmidzi IV/17; Ahmad IV/100, Ibnu Khuzaimah III/91; Ibnu Hibban 1474; Al-Hakim II/396 dan disepakati oleh Adz-Dzahabi).


Dari Zainab Ats-Tsaqafiyah bahwasannya Nabi bersabda : "Jika salah seorang diantara kalian (kaum wanita) keluar menuju masjid, maka jangan sekali-kali mendekatinya dengan (memakai) wewangian." (Muslim dan Abu Awanahdalam kedua kitab Shahih-nya; Ash-Shabus Sunan dn lainnya).


Dari Abu Hurairah bahwa ia berkata : Rasulullah bersabda : "Siapapun wanita yang memakai bakhur (wewangian yang berasal dari pengasapan), maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat Isya yang akhir." (ibid)


Dari Musa bin Yasar dari Abu Hurairah : Bahwa seorang wanita berpapasan dengannya dan bau wewangian menerpanya. Maka Abu Hurairah berkata : Wahai hamba Allah ! Apakah kamu hendak ke masjid ? Ia menjawab : Ya. Abu Hurairah kemudian berkata : Pulanglah saja, lalu mandilah ! karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda : "Jika seorang wanita keluar menuju masjid sedangkan bau wewangian menghembus maka Allah tidak menerima shalatnya, sehingga ia pulang lagi menuju rumahnya lalu mandi." (Al-Baihaqi III/133; Al-Mundziri III/94).


Alasan pelarangannya sudah jelas, yaitu bahwa hal itu akan membangkitkan nafsu birahi. Ibnu Daqiq Al-Id berkata : Hadits tersebut menunjukkan haramnya memakai wewangian bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, karena hal itu akan dapat membangkitkan nafsu birahi kaum laki-laki (Al-Munawi dalam Fidhul Qadhir dalam mensyarahkan hadits dari Abu Hurairah).


Saya (Al-Albany) katakan : Jika hal itu saja diharamkan bagi wanita yang hendak keluar menuju masjid, lalu apa hukumnya bagi yang hendak menuju pasar, atau tempat keramaian lainnya ? Tidak diragukan lagi bahwa hal itujauh lebih haram dan lebih besar dosanya. Al-Haitsami dalam kitab AZ-Zawajir II/37 menyebutkan bahwa keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan memakai wewangian dn berhias adalah termasuk perbuatan kabair (dosa besar) meskipun suaminya mengizinkan.



6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki



Karena ada beberapa hadits shahih yang melaknat wanita yang menyrupakan diri dengan kaum pria, baik dalam hal pakaian maupun lainnya.Dari Abu Hurairah berkata : Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria (Abu Daud II/182; Ibnu Majah I/588; Ahmad II/325; Al-Hakim IV/19 disepakati oleh Adz-Dzahabi).


Dari Abdullah bin Amru yang berkata : Saya mendengar Rasulullah bersabda : "Tidak termasuk golongan kami para wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria dan kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita." (Ahmad II/199-200; Abu Nuaim dalam Al-Hilyah III/321)


Dari Ibnu Abbas yang berkata : Nabi melaknat kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelaki-lakian. Beliau bersabda : "Keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun mengeluarkan si fulan dan Umar juga mengeluarkan si fulan." Dalam lafadz lain : "Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupakan diri dengan kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupakan diri dengan kaum pria." (Al-Bukhari X/273-274; Abu Daud II/182,305; Ad-Darimy II/280-281; Ahmad no. 1982,2066,2123,2263,3391,3060,3151 dan 4358; At-Tirmidzi IV/16-17; Ibnu Majah V/189; At-Thayalisi no. 2679).


Dari Abdullah bin Umar yang berkata : Rasulullah bersabda : "Tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan memandang mereka pada hari kiamat; Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yangbertingkah kelaki-lakian dan menyerupakan diri dengan laki-laki dan dayyuts (orang yang tidak memiliki rasa cemburu)." (An-Nasai !/357; Al-Hakim I/72 dan IV/146-147 disepakati Adz-Dzahabi; Al-Baihaqi X/226 dan Ahmad II/182).


Dalam haits-hadits ini terkandung petunjuk yang jelas mengenai diharamkannya tindakan wanita menyerupai kaum pria, begitu pula sebaiknya.Ini bersifat umum, meliputi masalah pakaian dan lainnya, kecuali hadits yang pertama yang hanya menyebutkan hukum dalam masalah pakaian saja.



7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir



Syariat Islam telah menetapkan bahwa kaum muslimin (laki-laki maupun perempuan) tidak boleh bertasyabuh (menyerupai) kepada orang-orang kafir, baik dalam ibadah, ikut merayakan hari raya, dan berpakain khas mereka. Dalilnya : Firman Allah surat Al-Hadid : 16, berbunyi : "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik."



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Al-Iqtidha hal. 43 : Firman Allah "Janganlah mereka seperti..." merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka, di samping merupakan larangan khusus dari tindakan menyerupai mereka dalam hal membatunya hati akibat kemaksiatan. Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini (IV/310) berkata : Karena itu Allah melarang orang-orang beriman menyerupai mereka dalam perkara-perkara pokok maupun cabang.Allah berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad) : "Raaina" tetapi katakanlah "Unzhurna" dan dengarlah. Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih." Ibnu Katsir I/148 berkata : Allah melarang hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mnyerupai ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang-orang kafir.


Sebab, orang-orang Yahudi suka menggunakan plesetan kata dengan tujuan mengejek. Jika mereka ingin mengatakan "Denagrlah kami" mereka mengatakan "Raaina" sebagai plesetan kata "ruunah" (artinyaketotolan) sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 46. Allah telah memberitahukan (dalm surat Al-Mujadalah : 22) bahwa tidak ada seorang mumin yang mencintai orang-orang kafir. Barangsiapa yang mencintai orang-orang kafir, maka ia bukan orang mumin, sedangkan tindakanmenyerupakan diri secara lahiriah merupakan hal yang dicurigai sebagai wujud kecintaan, oleh karena itu diharamkan.



8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas (Pakaian Kebesaran)



Berdasarkan hadits Ibnu Umar yang berkata : Rasulullah bersabda : "Barangsiapa mengenakan pakaian (libas) syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnyadengan api neraka." (Abu Daud II/172; Ibnu Majah II/278-279).



Libas Syuhrah adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan untuk meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakain tersebut mahal, yang dipakai oleh seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya,maupun pakaian yang bernilai rendah, yang dipakai oleh seseorang untuk menampakkan kezuhudannya dan dengan tujuan riya (Asy-Syaukani dalam Nailul Authar II/94).



Ibnul Atsir berkata : "Syuhrah artinya terlihatnya sesuatu.Maksud dari Libas Syuhrah adalah pakaiannya terkenal di kalangan orang-orang yang mengangkat pandangannya mereka kepadanya. Ia berbangga terhadap orang lain dengan sikap angkuh dan sombong."



Dikutip dari Kitab Jilbab Al-Marah Al-Muslimah fil Kitabi was Sunnah (Syaikh Al-Albany rahimahulloh) (Abu Dzar alghifari)



www.hasmi.org

(read more ...)




Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang!



Segala puji bagi Allah - Tuhan semesta alam, tempat kita memuji dan meminta bantuan dan pengampunan. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan jiwa dan perbuatan kita. Sungguh, tak seorang pun bisa menyesatkan orang-orang yang telah Allah bimbing ke jalan yang lurus, dan tidak ada yang akan mampu membimbing ke jalan yang lurus orang-orang yang telah Allah sesatkan. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang tidak memiliki sekutu, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya! Kemudian ...


Assalamualaikum wa rahmatullahi Wa barakatuh!



Kedamaian dan rahmat menyertaimu, Ibu tersayang! Saya telah lama bertanya-tanya bagaimana menyampaikan pikiran dan perasaanku terhadapmu, dan saya memutuskan untuk menulis surat ini. Semoga Ayah tidak tersinggung karena surat ini ditujukan kepadamu, orang yang selalu ia jaga dan pedulikan, saya sangat menghargai itu, tetapi yang paling dekat dan sayang kepada setiap orang - adalah Ibu! Nabi (saw) berkata: "Surga berada di bawah kaki ibumu!"



Agar tidak mengundang kemarahan musuh Allah atau pun orang-orang yang dengan sukacita menyerangmu dengan berbagai interogasi dan panggilan ke polisi, dan juga agar tidak membuat banyak lidah kerabat kita mengeluarkan fitnah mereka, saya tidak akan menyebut nama.



Saya berterima kasih kepadamu, Ibu, untuk semua kesulitan yang Ibu derita demi kebahagiaan saya, sejak Ibu mengandung saya selama berbulan-bulan yang tidak mudah tentunya, dan berakhir dengan kenyataan bahwa saya menjadi saya sekarang - seorang muslim, seorang Mujahid yang selalu mencari pengampunan dan surga. Semoga Allah membalasmu untuk setiap peluh yang Ibu keluarkan saat saya dilahir ke dunia ini, untuk kegelisahan, untuk air mata, untuk malam-malam dimana Ibu terjaga, dan untuk hari-harimu yang sulit.



Karena Ibu selalu menanamkan kesalehan sejak masa kanak-kanak, karena bertahun-tahun yang dihabiskan untuk pendidikan saya, karena segala kesulitan yang Ibu tepis, maka saya tidak perlu apa-apa dan tidak akan merasa kehilangan. Dengan karunia Allah Yang Maha Kuasa dan dengan usaha Ibu, masa kecil saya adalah masa dimana saya tidak pernah kehilangan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.



Rizki ini dari Allah melalui tanganmu, Ibu. Yang paling penting bagi setiap anak, kehangatan dan kebaikan orang tua, dan saya tidak pernah sedikitpun merasakan kurangnya kehangatan, kasih sayang dan perhatian darimu. Jadi saya sangat bersyukur kepada Allah dan berterima kasih padamu atas segalanya!



Ibu yang mulia, sebagian besar hidupmu terjadi di negara kafir komunis di mana orang-orang yang dipaksakan dengan cita-cita dan nilai-nilai yang palsu. Sepenuhnya orang-orang kafir itu ingin menghilangkan rasa takut setiap orang terhadap Tuhan, dan hal itu terjadi pada hari-hari kita, tetapi mereka tidak akan pernah memadamkan cahaya Allah, dan Alhamdulillah, Allah-lah yang senantiasa membimbing kami ke jalan yang lurus, dan membuat kita sebagai muslim dalam arti yang sesungguhnya!



Tidak dapatkah Ibu melihat bagaimana orang-orang Kabardian, Balkar, dan Karachay berubah, mereka yang menyebut diri mereka Muslim, mereka yang sejak lahir tahu bahwa anggur dan vodka adalah haram dan daging babi itu dilarang? Apa yang terjadi dengan rasa malu mereka? Apa yang terjadi pada kemanusiaan mereka? Dan apa yang tersisa dari kesalehan mereka?



Lagi pula, orang-orang yang semasamu mungkin bisa sedikit melihat dimana gagasan mengenai kehormatan, penghargaan dan penghormatan bagi orang tua, kesopanan, dan seterusnya begitu ditaati. Orang tua pada saat itu mungkin berbuat kesalahan, meskipun diam-diam, tetapi mereka selalu berusaha untuk menanamkan kesalehan kepada anak-anak mereka!



Bahkan saya ingat suatu saat ketika gadis-gadis itu malu untuk tampil di depan umum tanpa jilbab, dan jika terlihat berduaan dengan seorang laki-laki, itu dianggap sebagai aib. Mereka yang tidak dapat menyingkirkan kebiasaan buruk, seperti merokok dan lain-lain, menyembunyikan diri mereka dari yang lebih tua, bahkan pada saat mereka ada di usia tua. Para pemuda menghormati dan menghargai pendahulu mereka, mereka bahkan malu untuk makan di hadapan orang-orang tua. Inilah kesopanan yang dilandaskan pada keimanan! Jika seorang pria tidak mempunyai rasa malu, maka ia tidak memiliki iman! Tetapi kafir (semoga Allah mempermalukan mereka) selalu bekerja keras! Rasa malu kita sebagai Muslim dan rasa malu para perempuan Muslim itu tidak ada lagi.



Dalam kata-kata Musa Mukozhev (semoga barakah Allah menyertainya) dalam salah satu Khutbah Jumat: "Orangtua mengirim anak perempuan mereka untuk berzina, dan mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan itu, karena perempuan ini bertemu dengan pria yang ingin ia temui!"



SubhanAllah! Seberapa keras mereka berusaha untuk membuat anak-anak mereka menjadi bagian dari penghuni neraka! Orangtua membesarkan anak-anak mereka dalam demokrasi di bawah hukum-hukum kafir, memberi mereka uang untuk membeli bir dan rokok, dan berkata: "Dia masih melakukan itu sendiri dan tidak pernah meminta orang lain untuk melakukan hal yang sama." Anak-anak merokok dan minum alkohol di hadapan orang tua, dan menonton film tidak senonoh, bersama-sama. Dan kemudian orang tua yang aneh dan tidak lagi memiliki rasa malu itu bertanya-tanya di mana orang-orang kafir ini muncul di jalanan. Tapi ini tidak mengejutkan. Ini kebijakan yang jelas orang-orang kafir - untuk memberantas Islam dan menghancurkan kaum muslim. Mereka menyebarkan kebejatan dan kejahatan, dalam rangka untuk mencapai kesejahteraan di negeri kita di bawah hukum-hukum kufur dan syirik!



Mereka para gerilyawan, yang pernah menjadi teror dan menimbulkan kepanikan bagi tentara kafir selama perang Rusia-Kaukasia, sekarang malah melayani orang-orang kafir, dan siap untuk memerangi kaum muslimin dalam rangka mendapatkan kepuasan gyaurs (orang-orang kafir).



Para gerilyawan, yang belum pernah mendamaikan diri atas penghinaan dari kafir, sekarang tunduk kepada kafir Rusia untuk mendapatkan sepotong lemak di meja mereka.



Orang-orang muslim yang tulus yang tidak ingin menerima rezim kafir karena tidak ingin hidup dalam kehinaan, kini menjadi warga negara kafir Rusia dan secara sukarela merayakan hari raya kaum Kristen dan pagan, ikut serta minum vodka pada Paskah Kristen.



Ibu sudah mendengar semua ini dari saya berkali-kali, tapi sekali lagi saya katakan pemikiran ini sekarang, ketika saya meninggalkan rumah dan bergabung dengan orang-orang yang berperang di jalan Allah, Ibu akan memahami dan mendengar saya, dengan pertolongan Allah!



Semua yang saya lakukan, saya melakukannya demi Allah. Dan surat ini, juga saya tulis demi Allah, karena saya ingin Ibu bahagia dengan saya, dan bangga bahwa anak Ibu adalah salah satu hamba Allah yang berusaha untuk mengangkat Firman Allah di bumi! Pikirkanlah, Bu, tidakkah Ibu memiliki apa yang bisa Ibu banggakan dari saya dan mujahedin lain?



Kami berjihad di jalan Allah dan tujuan kami adalah untuk mengangkat firman Allah di bumi ini tinggi-tinggi! Dan apa yang lebih indah daripada firman Allah dan janji-janji-Nya? Kami meninggalkan rumah dan memilih jalan ini dengan berkah Allah sehingga negeri kita bisa bebas dari ketidakpercayaan dan kepalsuan, sehingga keturunan kita tidak perlu melihat tanah kita tercemar dengan ideologi kafir, dan bisa hidup dengan hukum Allah, dan menghayati agama Allah sejak mereka lahir!



Ibu selalu bilang saya tidak boleh berbeda dengan orang lain, tidak boleh "bergaul", menghindarkan diri dari segala hal yang terkutuk, karena semua itu akan membuat saya dipecat dari pekerjaan, orang-orang akan berpaling dari saya, akan saya dianggap sebagai "Wahhabi", radikal, dan sebagainya., dan polisi dapat menahan saya kapanpun dengan konsekuensi lebih lanjut! Tapi esensi agama kita - yakni mendorong untuk melakukan kebaikan dan menahan dari keburukan!



Bagaimana mungkin saya tidak berbeda dan tidak "bergaul" jika ada begitu banyak kotoran? Karena untuk menjadi seperti orang lain yang Ibu inginkan, berarti saya perlu minum, merokok, bersumpah sumpah serapah, menceritakan lelucon kotor, untuk berbicara tentang perempuan, terlibat dalam perzinaan, mencari lebih banyak uang, karier, dan lain-lain. Pikirkanlah, Bu, apakah Ibu benar-benar lebih suka saya bersikap seperti orang-orang seperti itu? Semoga Allah menuntun mereka ke jalan yang lurus! Atau apakah Ibu ingin anak Ibu meretas jalan ke surga melalui tindakannya sekarang, dan mendapat hak syafaat di sisi Allah bagi orang yang mereka cintai, mendapatkan syahid di jalan Allah?



Saya tidak bisa seperti orang lain, Bu. Saya tidak ingin menjadi orang lain, saya ingin menjadi seorang Muslim! Saya ingin masuk ke dalam surga Firdaus! Bagaimana mungkin saya memilih karier dan kekayaan dunia ini, sedangkan berkah surga yang tak terbatas dijanjikan oleh Allah kepada orang beriman!



Bagaimana saya bisa mengabaikan rahmat yang besar dari Allah yang Dia tunjukkan kepada saya ketika Dia membawa saya keluar dari lumpur dan membuat saya benar-benar menjadi muslim? Saya bersumpah kepada Allah, satu hari di bawah naungan Islam bagi saya adalah lebih dari bertahun-tahun tinggal dalam ketidaktahuan, satu doa bagi saya lebih berarti daripada semua kekayaan yang ada di planet ini!



Saya ingin Ibu mengerti bahwa sekarang tidak mungkin kita menjadi kaum muslimin yang tenang, karena orang-orang kafir itu menyerbu tanah kita, nilai-nilai kita telah berubah, dan sekarang mereka berusaha untuk memalingkan kita dari agama kita. Dalam Islam, tidak ada konsep: "Beribadahlah dalam rumah dan tidak boleh berbeda dari orang kebanyakan, dan dan di luar rumah, hiduplah sesuai dengan hukum yang didirikan orang-orang kafir".



Alhamdulillah, kita adalah muslim, dan harus hidup di bawah naungan hukum-hukum Allah, pergi ke masjid kapan dan di manapun kita mau, berjenggot dan berjilbab secara terbuka untuk menghindarkan diri dari fitnah, mengambil jizyah dari orang-orang kafir yang seharusnya berada dalam posisi lebih rendah daripada Muslim! Dan karena kita tidak bisa bebas melaksanakan agama kita, Allah menyeru kita untuk berperang di jalan-Nya dan meninggikan firman-Nya!



Dan kita akan bekerja keras sampai akhir hayat di jalan Allah, sampai firman Allah tegak di atas segalanya di bumi dan tidak akan ada hukum lain daripada hukum Allah! Saya sangat sakit hati oleh kenyataan bahwa Ibu tidak mendukung saya dalam hal ini. Mengapa Ibu tidak bercita-cita untuk melakukan apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelum kita, dimana kaum ibu mengirim anak-anak mereka untuk berjihad dan mendesak mereka untuk menjadi bersemangat di jalan ini?



Allah berfirman dalam Quran:

"Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar." (QS At Taghabun [64]: 15)



Ingat cerita tentang perempuan yang tidak ada memiliki apa-apa untuk dikorbankan dalam jihad kecuali rambut dan putranya. Ia memotong rambut dan menjalinnya menjadi sebuah cambuk bagi mujahidin, dan mengirimkan putranya untuk berperang, dengan menitipkan pesan pada putranya itu untuk memberikan hidupnya di jalan Allah! Dan betapa senangnya saat ia mengetahui bahwa anaknya syahid di jalan Allah!



Ingat Asma, putri Abu Bakr, yang buta. Ia memerintahkan putranya untuk melepaskan baju besi yang melindungi dirinya dengan mengatakan: "Seseorang yang ingin surga tidak berpakaian seperti itu!" Dan mendesaknya untuk berperang sampai ia syahid di jalan Allah!



Ingat ibu-ibu yang anak-anak mereka tewas dalam pertempuran dengan orang-orang kafir, bersukacita dan berkata: "Sesungguhnya kami semua milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali"!



Sayangnya, Ibu tidak bisa melampaui cinta untuk anak Ibu ini, dan mengizinkan saya untuk itu. Ibu harus menempatkan cinta Ibu bagi Allah dan Rasul-Nya di atas cinta untuk putra Ibu dan mendukung jihad saya! Meskipun Ibu berdiri di hadapan Allah lima kali sehari, dan menangis dalam doa kepada Yang Mahakuasa, mungkin Ibu tidak pernah sekalipun meminta kepada Allah untuk membuat saya syahid!



Saya sangat sakit hati karena opini publik lebih penting bagi Ibu. Ibu lebih mengutamakan pendapat orang-orang yang ada dalam kebodohan dan sikap keras kepala mereka yang menjadikan mereka tetap berpaling dari kebenaran. Manakah yang lebih penting bagi Ibu, mereka atau Allah?



Sekarang kerabat kita menjauhi Ibu dan saya tahu itu sangat sulit bagi Ibu, melihat sikap seperti itu dari orang-orang yang telah Ibu bantu dan Ibu cintai. Tapi sekarang Ibu tidak memiliki apapun, dan sepertinya mereka tidak lagi membutuhkan Ibu. Dalam masyarakat saat ini, orang tua, yang tidak ada gunanya, ditolak oleh semua orang!



Semua upaya untuk mengumpulkan segala hal bagi saya, untuk memperoleh pekerjaan bergengsi, untuk melihat bagaimana saya mendapatkan rasa hormat dan kemuliaan di tengah-tengah masyarakat kotor ini, semua mimpi ini melesat! Sadarlah, Ibu! Apakah orang-orang sebelumnya yang kaya, membawa harta yang mereka kumpulkan setelah mereka mati? Apakah posisi yang tinggi dalam masyarakat membantu mereka? Saya bersumpah demi Allah, tidak!



Untuk berusaha untuk hidup menurut hukum Allah, untuk melakukan salat, membayar zakat, memberi sedekah, untuk melakukan perbuatan baik dan tindakan yang akan diletakkan di dalam timbangan kita di hari kiamat, melakukan tugas-tugas Ibu terhadap sesama mumin, dan menghargai jihad di jalan Allah, inilah yang harus kita lakukan.



Apakah kita tidak memiliki contoh jelas kesalahpahaman palsu ini dipaksakan pada kita oleh kebijakan kafir? Ingat Vasya Temrokov, pengusaha, dan keluarganya, dengan istana dan kekayaan. Apakah dia membawa segalanya kecuali amal perbuatannya, dan apa yang tersisa dari kekayaan yang melimpah, dan mungkin hanya keluarganya memperoleh keuntungan dari kekayaannya! Ingat Valeriy Kokov (tentang berapa banyak kerusakan yang telah ia lakukan bagi umat Islam di republik dan bagaimana ia bersemangat dalam perang dengan agama Allah tidak akan saya bicarakan, dia sudah mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan!)



Apakah posisinya menolongnya? Atau apakah seorang presiden tidak mati? Dan di mana seluruh kekayaan yang dikumpulkan dengan penipuan dan pencurian? Mungkinkah itu akan membantu keluarganya? Tapi tidak! Di hadapan Allah semua manusia akan berkumpul hanya dengan perbuatan mereka! Semua orang akan mati, dan setelah kematian semua akan menerima balasan untuk perbuatan dan tindakan mereka, dan mempertanggungjawabkannya di hadapan Sang Pencipta!



Allah berfirman dalam Quran:

"Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari. Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman", (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka.Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): "Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia ini saja, dan kita sekali-sekali tidak akan dibangkitkan" (QS Al Anam [6]: 26-29)



Insya Allah, menanggapi Allah Yang Berkuasa atas semesta alam, Presiden saat ini, Arsen Kanokov, dengan kekayaan yang tak terhitung tidak akan membantunya, begitupun dengan kursi kepresidenannya, maupun keluarga atau teman-temannya, baik Putin maupun Medvedev! Tidak ada satupun! Dan pada hisabnya hanya akan semua uang kotor yang diperoleh dari riba, semua kebohongan dan penipuan terhadap orang-orang yang bodoh, dengan dalih bahwa ia tidak melakukan apapun kecuali untuk membantu negara, dan menginvestasikan uangnya dalam perekonomian republik.



Semua tindakannya bertentangan dengan Islam dan kaum muslim. Dan pembangunan masjid pusat dari uang haram dan membangun sebuah gereja Kristen dengan kubah emas. Bisakah seorang Muslim membangun sebuah kuil kafir dan dekat dengan masjid? Dan tentu saja, salib, yang diserahkan oleh orang-orang kafir dalam upacara pembukaan Rusia FSB di Nalchik, akan diletakkan pada timbangannya di hari kiamat.



Kenyataan yang tersembunyi dari orang-orang sebagai kebenaran lainnya, dan hanya sedikit orang yang mengetahuinya: Ia dianugerahi dengan St. Sergius dari gelar Radonezh II, oleh Alexy II yang sangat patriarkal, untuk menghormati ulang tahun ke-450 masuknya Kabardino-Balkaria ke Rusia. Sebuah kombinasi mengerikan dari semua yang dibenci Allah!



Allah berfirman tentang mereka:

"Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar." (QS Ali Imran [3]: 176)



Saya ingin benar-benar tinggal bersama Ibu, terus menjagamu, bertani, mendidik anak-anak dalam Islam, beribadah kepada Allah dan menjalani kehidupan yang penuh dengan damai, tapi sekarang semua itu tidak mungkin terjadi selama Muslim masih ada dalam situasi semacam ini, dan sementara di negeri kita yanga ada hanya hukum kufur bukannya hukum Allah!



Allah berfirman dalam Quran:

"Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (QS Al Anfal [8]: 39)



Aku mohon Ibu, Ibu yang sangat saya sayangi, pertimbangkanlah kembali posisimu. Berhentilah menyalahkan orang lain karena saya pergi berjihad. Mulailah menerima dan berterima kasih pada mereka saudara-saudara saya yang oleh karunia Allah mereka berjihad sebelum saya, hingga istri saya yang tak pernah berhenti memberikan dukungan dan pengertiannya.



Jangan mendengarkan segala macam perkataan orang-orang bijak yang mengklaim diri mereka penasihat spiritual, yang menggunakan fakta bahwa orang-orang lainpun mendengarkan mereka. Mereka, yang dipimpin oleh para antek kafir ini (maksud saya adalah Pshihachev), tidak akan pernah berbicara tentang kebenaran. Semoga Allah memberi mereka balasan penuh untuk semua perbuatan mereka dan semua kata-kata yang mereka tujukan terhadap umat Islam.



Ibu tersayang, saya minta maaf untuk semuanya! Kita semua hanya bagian dari manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan, tetapi bagi saya sangat penting bahwa Ibu memaafkan saya untuk segalanya dan ridha dengan saya. Saya ingin kembali di hadapan Allah dengan hati yang tenang, karena keridhaan Allah ada dalam keridhaan orangtua. Saya tahu apa yang Ibu alami setiap kali mereka menyerang saudara-saudara saya, dimana orang-orang kafir melakukan operasi khusus terhadap mujahidin. Setiap kali Ibu mungkin berpikir bahwa saya bisa berada di sana, dan mengharapkan bahwa mereka akan memberitahu anda tentang hal itu. Dan dari pikiran-pikiran dan pengalaman, itulah, hati ibu pun mulai menyusut akibat rasa sakit dan rasa takut Ibu terhadap hidup saya.



Tapi saya mohon pada Ibu, khawatirlah pada Akhirat kita, karena, ketika kita berdiri di hadapan Allah, kita takut hanya kepada Allah. Bagaimanapun, Allah Penguasa semesta alam berjanji bahwa jika Ibu tidak merasa takut kehilangan anak, harta, hidup dan semua hal-hal duniawi, dan menghabiskan rasa takut Ibu hanya kepada Allah, Ibu tidak akan tahu rasa takut pada hari penhisaban, dan Ibu tidak akan perlu bersedih! Kita harus mencari keridhaan Allah, dan harus memimpin jihad di jalan-Nya, meninggikan kalimat Allah di bumi.



Allah berfirman:

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS Al Baqarah [2]: 216)

 

"Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: "Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah" kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit." (QS At Tawbah [9]: 38-39)



"Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar. Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!." (QS An Nisaa [4]: 74-75)



Saya tidak mampu mendengar langsung dari Ibu bahwa Ibu sudah ridha terhadap saya sebagai anak, dan maafkan saya atas segalanya, tapi jika Ibu mengatakan hal ini kepada Allah, maka ini sangat cukup bagi saya!



Saya mohon maaf untuk segala sesuatu, tapi saya tidak menyesal karena saya telah memilih jalan ini dan tidak merasa bersalah untuk itu. Sebaliknya, saya berharap untuk menerima penghargaan Allah, bahwa Dia akan memperkenankan saya masuk ke surga Firdaus dalam rahmat-Nya, dan saya bersyukur kepada Allah karena telah membawa saya untuk berjihad di jalan-Nya! Allah memilih orang-orang terbaik dan membuat mereka muslim! Lalu Ia memilih yang terbaik dari kaum muslimin dan membuat mereka Mujahidin! Dan kemudian yang terbaik dari Mujahidin Allah adalah membuatnya syahid di jalan-Nya!



Saya harap Ibu mau bergabung dalam berperang di jalan Allah dan mengikuti satu-satunya jalan yang benar sekarang! Untuk melakukan ini, Ibu hanya perlu memahami bahwa semua orang yang pernah menentang Islam dan kaum muslim, dan melawan kita, adalah musuh-musuh Allah.



Ibu tersayang, jangan pernah membiarkan ketika seseorang menyinggung atau merendahkan kaum muslimin, bantulah  saudara-saudara kita yang sepenuhnya berjuang di jalan Allah dengan apapun yang Ibu mampu, bantulah Mujahedin, dan jika perlu, lindungi mujahedin dari incaran kaum kafir, dan kemudian Allah akan membuat Ibu sebagai salah satu yang memperoleh keberhasilan di dunia ini dan di dunia yang Kekal nanti.



Ibu, mintalah pada Allah, Yang Maha Pemurah, bahwa anak Ibu mati syahid, dan bahwa Allah membawa saya ke dalam surga Firdaus, di mana mengalir sungai-sungai selamanya! Berdoalah bahwa Allah membuat kita dan keturunan kami shalih, bahwa Dia menguatkan kita di jalan-Nya dan melimpahi kita dengan kesyahidan! Dan kemudian Ibu bisa bersukacita bahwa pada hari kiamat, Ibu dengan izin Allah akan mendapat syafaat!



Ibu, saya tahu betapa sulit ini semua bagi Ibu, tetapi balasan Allah untuk semua itu sangat besar, dan ketika Ibu mendengar, insya Allah Taala, bahwa Allah telah memberikan kepada anak Ibu kesyahidan di jalan Allah, jangan lupa ayat Quran:



"SESUNGGUHNYA KITA MILIK ALLAH DAN KEPADA-NYA KITA KEMBALI!""



Kedamaian dan berkah Allah menyertaimu, Ibu terkasih! Saya sedang terburu-buru untuk pergi ke Surga, dan saya berharap untuk bertemu dengan Ibu di sana!



Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!





Muhammad Sayfullah

(althaf/kvkz/arrahmah.com)

(read more ...)




Mereka menyebut negeri ini negeri bertuah. Negeri Raja-raja yang bersekutu menyatukan jajahannya dan menjadikan kerajaan ini sebagai tanah Diraja. Kalau orang Indonesia mendengar hal ini mungkin akan marah dan menyebutnya Malingsia!


Tapi tahukah Anda, negeri ini betul-betul negeri bertuah bagi sebagian orang. Puluhan ribu atau bahkan jutaan orang berbondong-bondong datang dari penjuru negeri Bangladesh, Nepal, Filipina bahkan Tibet untuk mengais ringgit. Dan tidak sedikit dari kita yang juga terdampar ke negeri ini.


Saudara-saudara kita dari pelosok desa dan dusun, di ujung pantai atau di puncak bukit yang datang ke negeri ini untuk mengadu nasib. Mencari sebentuk rizki yang Allah sembunyikan di tanah Melayu ini.Yang datang berkerumun bukan hanya saudara-saudara kita yang berbekal ijazah SD atau SMP. Banyak juga mereka datang dengan menyodorkan ijazah Doktor bahkan Professor.


Sedih memang kalau mengetahui bagaimana para TKI intelektual ini sampai “menjual” otaknya dan tidak mengabdikan ilmu yang diperoleh kepada bangsa dan negara. Bukan karena tidak ingin berbakti, tapi karena mereka “ditolak” di negeri sendiri. Ada seorang kawan yang putus asa sudah berkali-kali melamar pekerjaan sebagai dosen tapi ditolak. Bukan karena tidak memenuhi persyaratan, tapi karena ijazahnya S3 sedangkan yang dicari master. Aneh memang. Sepatutnya dengan ijazah yang lebih tinggi negara tidak akan mengeluarkan anggaran lagi untuk menyekolahkan mereka ke jenjang yang lebih tinggi. Penghematan yang tidak sedikit kan? Tapi logika itu ternyata tidak berlaku.


Ada juga seorang doktor yang lelah menawarkan diri dari pulau ke pulau di penjuru Nusantara agar ilmunya bisa diamalkan bagi negeri tercinta. Tapi ditolak. Dan ditolak lagi. Akhirnya larilah ia ke negeri paling Selatan benua Asia ini. Seorang Professor yang sudah bertahun-tahun tinggal di Tanah Melayu ini ingin pulang membagi ilmu dan pengalamannya ke Jawa tapi tidak diterima karena tidak ada posisi yang tepat untuk kapasitasnya sebagai cendekiawan.


Jadilah kami di sini. Meninggikan dan mengharumkan nama para Raja dan Sultan sedangkan dalam hati kecil kami yang paling dalam selalu ada rasa bersalah. Karena seharusnya kebanggaan itu adalah milik Negeri Zamrud Khatulistiwa.


Negeri kita jauh lebih kaya alamnya. Lebih kaya dalam hal manusianya, baik jumlah maupun mutunya. Tanah air kita kaya budaya,melimpah warisan leluhurnya dan penuh dengan kreativitas. Tapi kenapa susah sangat untuk mencari jalan berbakti. Kenapa untuk sekolah tinggi kalau tak punya duit jangan pernah bermimpi atau berharap? Sedangkan disini ada kawan yang dari S1 sehingga S3 nya dia  biayai dengan berdagang ala kadarnya?


Apakah memang negeri ini Negeri Bertuah?Atau sebenarnya tanah air kitapun bertuah. Hanya saja tuah itu sudah pergi ketika ketaatan padaNYA pun ikut pergi. Mungkin tuah yang Allah berikan pada kampung halaman kita ikut terbang tinggi bersama kejujuran dan kebaikan yang ikut terbang bersama asap hutan yang dibakar tangan-tangan tak bertanggungjawab. Tuah itu meninggalkan kita seiring kita sendiri yang meninggalkan iman dan hati nurani kita.


Wallaahu a’lam.


(read more ...)






Dalam beberapa pekan ini, Geissy Garruda menjadi sangat terkenal di Brasil. Adalah Universitas Bandeirante di Sao Bernardo do Campo, di São Paulo, mengatakan Arruda, 20, tidak menghormati "prinsip-prinsip etika dan martabat akademik dan moralitas". Arruda menjadi berita bulan lalu setelah menghadiri kuliah dengan mengenakan rok mini.


Video rekaman insiden itu, yang terjadi bulan lalu, telah diposting di YouTube dan disebarluaskan di jaringan Brasil. Ini menunjukkan keberadaannya dicela oleh ratusan mahasiswa lain. Arruda, sekarang sering muncul di televisi, mengatakan ia sedang berjuang untuk kembali ke kehidupan normal setelah insiden itu.


Universitas Bandeirante menyebutkan Arruda menghadiri kelas dengan "pakaian yang tidak memadai" dan memiliki sikap provokatif yang "tidak sesuai dengan lingkungan universitas." Dalam artikel "Tanggung Jawab Pendidikan," universitas itu telah memperingatkan Arruda untuk mengubah perilakunya. Lebih jauh universitas memutuskan untuk mengeluarkan dia setelah berbicara dengan mahasiswa, staf dan Arruda sendiri. Unviersitas menyebut bahwa Arruda telah “mengundang” mahasiswa lain.


Arruda mengatakan bahwa ia terkejut. "Saya adalah korban," katanya. "Bagaimana saya bisa dikeluarkan? Ini absurd." Arruda mengatakan ia mengetahui pengeluaran dirinya melalui media massa dan belum menerima pemberitahuan resmi.


Brazil saja, yang negaranya sangat sekuler bisa berbuat seperti ini: mengeluarkan mahasiswinya yang berpakaian tak patut. Bagaimana, negeri Muslim dan Arab? (sa/grdn)


(read more ...)




Indonesia pernah mencanangkan tahun 2008 sebagai Tahun Kunjungan Wisata. Sayang, yang dipertontonkan justru tradisi yang dimurkai Allah



Hidayatullah.com--Optimis. Demikian raut wajah Jero Wacik, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Republik Indonesia, sebelum menabuh beduk tanda diresmikannya Visit Indonesian Year (VIY) 2008 lalu.



Tak hanya itu, hari itu juga menjadi hari yang membanggakan bagi Jero. Pasalnya, sebagai menteri, baru pada masanya Indonesia kembali berhasil menggelar Tahun Kunjungan Wisata.

Menurut Jero, VIY 2008 bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan sektor pariwisata dengan mengajak seluruh komponen masyarakat berpartisipasi mensukseskan program ini.



“Kita telah menyiapkan lebih dari 100 even di seluruh Indonesia untuk menyambut kedatangan wisman (wisatawan mancanegara),” katanya.



Target pun sudah dipasang. VIY 2008, kata Jero, diharap bisa mendatangkan 7 juta wisman. Tahun 2006, wisman yang ditargetkan 6 juta hanya tercapai 5,5 juta orang. Sedikit lagi mencapai target.



Jero juga mengaku, telah mendapat dana sebanyak US$ 15 juta untuk mempromosikan proyek besar ini ke seluruh dunia. Salah satunya, dengan beriklan di berbagai stasiun televisi ternama di seantero dunia.



Bagi Jero, menjadikan tahun 2008 sebagai Tahun Kunjungan Wisata bukan berarti tanpa perhitungan. Indonesia sudah lama tidak menggelar program ini, setelah terakhir tahun 1991. Selain itu, “Kita juga mencari momen yang tepat. Tahun 2008 adalah 100 tahun kebangkitan nasional,” kata Jero lagi waktu itu.



Tantangan program ini, ancaman terorisme, bencana alam, dan keamanan, yang bisa mengkhawatirkan turis asing masuk ke Indonesia. Program ini diharapkan bisa mengembalikan nama baik Indonesia di mata dunia.



Sambutan daerah



Beberapa daerah kemudian mencanangkan dirinya sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) Visit Indonesia Year. Mereka juga mentargetkan jumlah kedatangan wisman ke daerahnya. Propinsi Sumatera Barat (Sumbar), misalnya, memasang target 5 juta wisatawan.



Berbagai event bertaraf internasional mereka persiapkan, seperti World Climbing Festival di Kabupaten Limapuluh Kota, Festival Jam Gadang, dan Pedati Nusatara VIII 2008 di Bukittinggi, Pekan Budaya di Batusangkar, Hoyak Tabuik di Pariaman, Festival Danau Singkarak dan Danau Maninjau, Paralayang Internasional, dan Festival Langkisau di Pesisir Selatan.



DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, Kalimantan, dan daerah lainnya, menggelar pula berbagai program yang beragam.



Kepala Kerbau



Namun, yang mengkhawatirkan, di antara sekian banyak program tersebut terselip tontonan bernuansa syirik (menyekutukan Allah Subhanahu wa Taala) dan terkesan mubazir.

Di Pelabuhan Ratu, ibu kota Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, misalnya. ada upacara adat Serah Taun, sebuah upacara memasukkan padi hasil panen ke dalam leuit (gudang). Menurut Nano Juhartono, Kepala Seksi Wisata Khusus Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, acara tersebut kental dengan unsur magis.



Bayangkan, sebelum prosesi dilakukan, para puun (dukun) membacakan mantra-mantra yang ditujukan kepada Dewi Padi, yang biasa dikenal dengan Nyi Sri. Menurut Nano, mantra-mantra itu juga mengandung makna ucapan terima kasih kepada Nyi Sri atas terselenggaranya panen dengan baik.



“Kegiatan usai panen ini juga menjadi program daya tarik wisata Visit Indonesia Year,” ujar Nano saat ditemui Hidayatullah di kantornya.



Tak cuma itu, Pelabuhan Ratu yang terletak di pesisir pantai selatan Pulau Jawa ini punya tradisi tahunan bernama Pesta Nelayan. Acara yang diselenggarakan setiap bulan April ini juga punya tujuan yang sama seperti Serah Taun. Hanya saja, pesta yang selalu ditandai dengan pelepasan sesajen berupa kepala kerbau dan nasi tumpeng ini dipersembahkan kepada Nyi Roro Kidul.



Uniknya, pelepasan sesajen itu dilakukan oleh seorang wanita yang didandani dan menggunakan kebaya warna hijau. Konon, Nyi Roro Kidul sangat menyukai warna hijau. Tak cuma itu, wanita itu pun harus cantik. Untuk mendapatkan yang cantik, biasanya panitia pesta nelayan menggelar kontes kecantikan tingkat SMU.



Belakangan, menurut Ali Murtadho, Ketua Panitia Pesta Nelayan di tahun itu, persembahan kepala kerbau sudah tak ada lagi. “Kepala kerbau, sejak beberapa tahun silam, sudah diganti dengan benur (benih ikan) dan kura-kura,” katanya. Namun, menurut pengakuan Ketua MUI Kecamatan Pelabuhan Ratu, KH Abdullah Mansyur, kepala kerbau itu masih tetap ada, tapi hanya sekadar saja.



“Kalau dulu hanya menyembelih satu kerbau, tapi sekarang tinggal beli di pasar,” ujarnya saat ditemui di Pelabuhan Ratu.



Abdullah sudah berupaya untuk mengubah budaya ini dengan menyisipkan istighosah pada acara ini. Alasannya, istighosah juga bermakna bersyukur, cuma bukan kepada Nyi Sri, melainkan kepada Allah SWT.



Itu saja, menurut Abdullah, masih ada nelayan yang protes. Mereka mengaku hasil tangkapan menjadi berkurang. Walhasil, sekelompok kecil nelayan sempat ketahuan mengadakan sendiri acara lempar sesajen kepala kerbau atas dukungan dana dari seorang bandar ikan.



Lalu, berapa rupiah yang masuk ke kas daerah dari perayaan budaya ini? Sayang sekali Nano tak memiliki datanya. Yang jelas, kata Nano, setiap perayaan dua upacara itu selalu dihadiri turis-turis bule.



Dimodali APBD



Lain lagi di Sumatera Barat. Jika di Pelabuhan Ratu pemerintah daerah hanya bertindak sebagai promotor, sementara dana dijaring dari masyarakat, maka di Sumbar perayaan-perayaan justru didanai oleh APBD.



Kebudayaan Turun Pamonan atau penyucian berbagai benda pusaka, seperti keris, tombak, pedang, dan tongkat di Kabupaten Solok Selatan, misalnya, didukung penuh oleh Pemda. Padahal, tradisi ini sebenarnya sudah lama punah. Namun, “dibangkitkan” kembali oleh Pemda.

Dalam kepercayaan masyarakat, air bekas cucian Pamonan ini memiliki kekuatan gaib dan berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.



Masyarakat menggunakannya untuk tolak bala dan hama penyakit tanaman. Bahkan, sebagian warga ada yang mengambil air bekas cucian benda pusaka itu untuk ‘penjaga diri’. Caranya, di masukan ke dalam botol kecil bekas minyak wangi, lalu dibungkus dengan kain hitam, dan dibawa ke mana pergi.



Tradisi lainnya yang terus dikembangkan dan ”dimodali’ pemerintah adalah Hoyak Tabuik (Tabot) atau pesta budaya Perayaan Tabuik di Pariaman. Perayaan ini sangat kental dengan tradisi kaum Syiah.



Perayaan Tabuik dimaksudkan untuk memperingati kematian dua cucu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yakni Hasan dan Husain, yang memimpin pasukan kaum Muslim saat bertempur melawan pasukan Dinasti Bani Umayah dalam perang Karbala.



Dalam pertempuran tersebut, Husain syahid secara mengenaskan. Sebagian kaum Muslim meyakini bahwa jenazah Husain dimasukkan ke dalam peti jenazah (Tabuik) dan dibawa ke langit menggunakan "Bouraq".



Pembuatan Tabuik menelan dana Rp 250 juta. Modal awal pembuatan Tabuik sebesar Rp 70 juta bersumber dari APBD. Selebihnya merupakan sumbangan masyarakat dan pihak ketiga. Setiap tahun perayaan Tabuik digelar pada tanggal 1 sampai 10 Muharram.



Kendati perayaan Tabuik telah menelan dana ratusan juta rupiah, puncak dari tradisi kaum Syiah itu hanyalah kemubaziran, jika tidak dikatakan beraroma syirik. Sebab, Tabuik yang telah diusung-usung selama sepekan ini, akhirnya hanya dibuang ke laut dan menjadi sampah yang mencemari pantai Pariaman yang elok.



Masih banyak lagi daerah yang menjadikan tradisi bernuansa syirik sebagai pendulang rupiah bagi pendapatan anggaran daerah (PAD). Daerah-daerah seperti Yogyakarta, Tenggarong, dan lainnya pun melakukan hal yang sama.



Lalu, apa jadinya sebuah daerah yang membangun dari uang hasil menjual tradisi bernuansa syirik? Pantaslah jika Allah SWT berkali-kali mengingatkan kita dengan musibah bencana. Wallahu’alam. [Dodi/Sahid/www.hidayatullah.com]


(read more ...)



Ada yang menyerok kotoran kerbau dengan tangannya, ada pula yang membasuh mukanya dengan air kencing si kerbau



Hidayatullah.com--Satu Suro di Surakarta (Solo, Jawa Tengah) ada tontonan ”menarik”. Beberapa kerbau bule keturunan kerbau Kiai Slamet diarak keliling kota Solo, Jawa Tengah.



Awalnya, rute arak-arakan itu hanya mengelilingi tembok keraton. Kini, rutenya diperpanjang, melewati jalan protokol kota Surakarta. Karuan saja, masyarakat pun banyak yang menonton, baik masyarakat Surakarta sendiri, maupun masyarakat daerah sekitarnya, seperti Purwodadi, Boyolali, Klaten, dan Sragen, yang jaraknya bisa lebih dari 60 km.



Mengapa mereka rela datang jauh-jauh untuk menonton arak-arakan ini? Rupanya mereka bukan sekadar menonton, tapi juga berharap kebagian ”berkah” dari sang kerbau bule itu. Apa itu? Ya, kotoran ”si Bule”



Sutami, contohnya, datang dari Grobogan, Purwodadi, yang jaraknya sekitar 100 kilometer dari Solo, hanya untuk memburu air kencing kerbau. Benar saja, saat sang kerbau kencing, wanita itu menadahkan kedua tangannya. Lalu, cairan kuning beraroma pesing itu langsung dibasuhkan ke wajahnya. "Biar awet muda dan cantik," kata wanita berusia 47 tahun itu.



Lain lagi dengan Wartono, 50 tahun. Petani asal Sumberlawang, Kabupaten Sragen ini langsung meloncat mendekati sang kerbau –seolah takut orang lain mendahului—manakala sang kerbau itu buang kotoran. Plukk! Gundukan beraroma memualkan perut itu diraup dengan pecinya.



"Ini akan saya taburkan ke sawah agar subur. Berkah Kraton ini semoga membuat hasil panen saya makin baik," katanya dengan wajah berbinar-binar.



Sementara Anik (35), pedagang sayur di Desa Gedangan, Grogol, diam saja ketika kerbau itu menyantap sayur-mayur yang dijajakannya selepas perayaan itu. ”Dia (kerbau itu) menyantap daun mbayung, bayem, dan daun singkong. Habis semua. Kata orang, (itu) bisa ngrejekeni (mendatangkan rezeki). Ya, saya biarkan saja," ceritanya.



Bukan Budaya Kraton



Menurut Puger, Kepala Sasono Pustoko Kraton Kasunanan, Solo, semua kebiasaan itu –memperebutkan kotoran kerbau-- bukanlah ajaran Kraton Solo. “(Kebiasaan seperti itu) tidak ada dalam buku di sini. Instruksi dari kraton tidak ada, apalagi itu digunakan untuk hal-hal yang tidak benar.”



Jika kotoran itu digunakan untuk pupuk tanaman, kata Puger lagi, masih masuk akal. Kotoran binatang ternak memang bagus dijadikan pupuk.



”Tapi kalau untuk yang lain-lain, saya sebagai Pangeran di sini tidak bertanggung jawab. Itu karena emosi rakyat saja,” kata putra Pakubuwono XII ini lagi.



Menurut Puger, tradisi memperebutkan kotoran kerbau sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak. Budaya itu timbul karena rakyat pada saat itu amat cinta kepada rajanya. Mereka berebut ingin menyentuh Sang Raja. Akan tetapi, karena tidak bisa, akhirnya hewan piaraannya yang disentuh, termasuk kotoran-kotorannya. Kebiasaan ini kemudian bergeser. Kerbau itu malah yang dihormati secara berlebih-lebihan.



Cuci Pusaka



Selain arak-arakan kerbau, di Karesidenan Surakarta, khususnya di wilayah Wonogiri, masih ada satu tontonan bernuansa syirik. Yaitu, acara jamasan (pencucian) benda-benda pusaka milik Kasunanan di waduk Gajah Mungkur. Acara ini juga dilangsungkan pada tanggal 1 Suro.



Anehnya, air sisa cucian itu kemudian diperebutkan banyak orang. Air ini dipercaya oleh mereka mengandung banyak khasiat, termasuk menyembuhkan sakit.



Yang lebih aneh lagi, kegiatan ini didukung penuh oleh Pemerintan daerah Wonogiri. Alasannya, apalagi kalau bukan untuk pemasukan kas daerah. Adanya kegiatan ini, PAD (Pendapatan Asli Daerah) meningkat.



Ini diakui oleh Budi (33), bukan nama sebenarnya, salah seorang staf Departemen Pariwisata Wonogiri, kepada Hidayatullah. “Jumlah penjualan tiket masuk ke obyek wisata meningkat menjadi 10 hingga 20 persen,” tutur laki-laki berkacamata ini. [Thoriq/SAHID/www.hidayatullah.com]

(read more ...)




Oleh: Burhan Sodiq




Baru-baru ini lantang terdengar usulan untuk melarang buku-buku tulisan Sayyid Qutb. Alasannya, buku-buku inilah yang menyuburkan ideologi terorisme di Indonesia. Oleh karenanya, menghentikan cetakannya, distribusinya dan melarangnya adalah sebuah solusi yang dianggap sangat efektif untuk mematikan ideology teror.



Satu hal yang perlu kita bertanya, apa yang dimaksud dengan ideology terror itu? Apakah ayat dan hadits yang diuraikan oleh ulama mujahid termasuk ideology terror? Kalau memang seperti itu apakah kemudian mereka tega menuduh ayat dan hadist dari Nabi adalah ayat-ayat terror dan hadist terror? Bukankah ini nanti akan mengarah kepada pembunuhan karakter seorang ulama yang mengabdikan dirinya untuk Islam? Dan pada akhirnya berujung kepada tuduhan kepada Nabi kita yang mulia Muhammad SAW, karena ulama adalah pewaris Nabi.



Nampaknya istilah idiologi terror perlu dijelaskan ulang. Karena kalau ini hanya tuduhan tanpa dalil dan hanya dilandasi oleh semangat kebencian pada salah satu kelompok umat islam oleh kelompok umat islam yang lain, maka ini merupakan upaya yang kontraproduktif. Politik adu domba telah mulai disematkan, saling mengadu antar kelompok, dengan isu yang sama terorisme. Sampai sekarang semuanya masih gelap, tak ada pembuktian di depan pengadilan, tapi eksekusi mati telah dilaksanakan. Maka tak urung, fenomena terorisme ini bak bola liar yang menggelinding kemana saja tergantung siapa yang menendangnya. Dan lagi-lagi umat Islam harus menanggung tuduhan atas ini semua.



Ironisnya peristiwa ini bukan malah membuat umat ini maju dan bersatu menghadapinya. Justru ada upaya pemecah belahan, upaya tuduhan sepihak dan vonis tidak sopan dengan menggunakan lidah dan tangan orang yang selama ini memang memiliki masalah dengan saudaranya sendiri. Bukankah upaya ini justru malah menyuburkan kebencian, karena ternyata pola penangannya cenderung destruktif, kejam dan tidak berperikemanusiaan. Mereka tidak hanya menghabisi dari sisi nyawa, tetapi juga dari sisi nama baik, karakter dan pembunuhan citra.



Bidikan ini jelas beralasan. Indonesia yang mayoritas berpenduduk Muslim adalah ancaman terbesar bagi stabilitas peradaban dunia. Berbilangnya ormas yang maju, pendidikan islam yang luar biasa digemari masyarakat, dan animo luar biasa anak muda terhadap perjuangan Islam dan anti-Barat tentu saja mengkhawatirkan pihak-pihak yang tidak suka dengan Islam. Munculnya cendekiawan dan kaum intelektual yang belajar dengan sungguh-sungguh di negeri-negeri kaum muslimin, dan pulang dengan semangat membangun islam yang murni juga bukan berita gembira bagi musuh-musuh islam. Tetapi itu semua tidak lagi bisa dilawan dengan pedang, mortar, atau mesiu ledakan. Tetapi dihabisi dengan skenario besar, sandiwara dan operasi intelejen yang mengagumkan. Persis seperti adegan film thriller Hollywood yang penuh intrik dan konspirasi. Bidikannya hanya satu, melemahkan islam dari segala lini yang dia miliki.



Bila bola tuduhan ideology terror ini tidak segera diluruskan, maka ia tetap saja akan menuduh dan memakan banyak korban. Distorsi opini, penyesatan informasi, bila dilakukan oleh orang pintar dan konon bergelar ulama akan lebih berbahaya dampaknya, daripada dilakukan oleh orang yang bodoh terhadap agamanya.



Apa Salah Buku?



Islam adalah agama yang memiliki tradisi menulis dan membaca yang sangat bagus. Tidaklah mengherankan jikalau para ulama terdahulu mewariskan ilmunya melalui tulisan dan kitab yang bisa dibaca di jaman-jaman setelahnya. Buku-buku itu adalah buah karya pikiran mereka, dari pengkajian yang mendalam, usaha yang tak kenal lelah dan proses yang panjang. Tentu saja di sana penuh dengan kebaikan, kebenaran dan sebuah usaha untuk menjelaskan problematika keummatan dengan bahasa yang gamblang. Namun, karya itu juga bukan sebuah karya sempurna. Kalau lah ada kesalahan sedikit hal itu wajar-wajar saja. Tugas kita sebagai penerusnya adalah meluruskan kesalahan itu bila mampu. Bukan malah dengan membakar dan menghilangkan buku-buku tersebut.



Karena buah pikiran tidak bisa dibendung. Pikiran selalu akan berproses, karena dengan begitu ia hidup. Siapa yang bisa membunuh pikiran orang, menghentikan dia berpikir dan melarangnya berpikir? Tidak ada. Buku pun tidak bisa dilarang, karena ternyata larangan terhadap buku justru memunculkan sebuah rasa penasaran yang hebat. Bukannya malah sepi pembaca, justru buku itu best seller dengan caranya sendiri. Jadi, ideology terror dari buku seperti apa yang kalian maksudkan?



Akar masalah terror adalah perlawanan. Perlawanan terhadap penindasan. Karena umat islam dikenal dengan umat yang memiliki izzah di dunia untuk meraih keberuntungan di akhirat. Di bumi mana saja, umat islam tidak pernah mau dijajah. Maka perlawanan itulah yang kemudian terjadi. Mereka melawan dengan apa yang bisa mereka lawan. Jadi selama ada penindasan di atas muka bumi ini, maka perlawanan itu akan selalu ada, dan tidak akan bisa mati. Namun sayangnya usaha tulus perlawanan ini kemungkinan diboncengi musuh Islam untuk melakukan pencitraan buruk dan agenda ghazwul fikr di kalangan umat Islam.



Sudah saatnya umat Islam menyadari ancaman boncengan ini. Bersatu tegakkan barisan, bukan malah saling tuduh dan mencaci maki antar saudaranya sendiri. Selain itu memalukan, juga hanya akan menghinakan pelakunya sendiri. Tak dapat apa-apa, ditinggalkan teman dan saudara. Jangan mau termakan isu adu domba, karena semua butuh saling paham.

 

[muslimdaily.net]

(read more ...)




JAYAPURA (Arrahmah.com) - Pemerhati Masalah Perempuan, Asri Supatmiati di Jayapura, Rabu (1/7) menyatakan, gagasan kesetaraan jender yang saat ini banyak diusung kaum feminis ternyata hanya menciptakan jalan untuk mengeksploitasi para perempuan.


"Para feminis ini menghendaki agar kaum perempuan diberi hak-hak yang setara dengan laki-laki dengan menghilangkan diskriminasi," ujarnya.



Selanjutnya dia menjelaskan, para feminis menganggap kewajiban para perempuan di dalam kehidupan rumah tangga sebagai beban yang menghambat kemandirian sehingga harus disingkirkan walaupun dengan cara mereduksi nilai-nilai budaya dan agama. Misalnya peran sebagai ibu untuk mengandung, menyusui, mendidik anak dan mengatur urusan rumah tangga.



Sementara itu, sistem kehidupan kapitalisme yang saat ini diterapkan hampir di seluruh bidang kehidupan masyarakat, menuntut para perempuan juga harus mampu menghasilkan materi sebagai perwujudan eksistensi dan aktualisasi diri mereka di ranah publik.



Akibatnya, perempuan yang berusaha menunjukkan jati dirinya di dunia kerja yang pekat dengan nilai-nilai kapitalisme dengan meninggalkan kehidupan domestik justru terjebak dalam sistem kehidupan ini sehingga memurukkan harkat dan martabatnya.



"Para perempuan ini, antara sadar dan tidak, menjadi ujung tombak dalam sistem ekonomi kapitalisme. Jadi model, sales promotion girl, public relation sampai profesi sebagai pelobi hampir selalu berada di pundak mereka untuk mendatangkan pundi-pundi rupiah," tandas Asri.



Di sisi lain, perempuan terdidik yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi, tidak luput dari lingkaran eksploitasi. Menurut Asri, tenaga dan pikiran mereka diperas habis-habisan untuk menggerakkan roda-roda perekonomian dengan lebih banyak menghabiskan waktu di gedung-gedung perkantoran daripada di rumah.



Bahkan, eksistensi perempuan di ranah publik kapitelisme justru semakin mendudukkan posisi mereka dalam kubangan libido laki-laki yang tidak punya benteng iman dan takwa.



Oleh karena itu, Asri menegaskan gagasan kesetaraan jender adalah racun bagi kaum perempuan sendiri.



Gagasan yang berasal dari dunia barat ini, bukan merupakan jalan terbaik untuk mengentaskan persoalan perempuan.



Sebaliknya, menyetarakan posisi perempuan dan laki-laki menimbulkan persoalan baru bagi perempuan dan bahkan masyarakat pada umumnya. Seperti tingginya angka perceraian yang melahirkan orang tua tunggal, rendahnya angka natalitas, maraknya pelecehan seksual terhadap perempuan dan lain sebagainya.



"Masyarakat jangan tertipu dengan ide kesetaraan jender, jika ingin menyelamatkan generasi dan bangsa dari kehancuran," tegas Asri. (Althaf/antara/arrahmah.com)


(read more ...)




 

 


Sebuah kelompok pendukung poligami di Malaysia yang melancarkan kampanye dukungan poligami memunculkan debat yang panas mengenai isu ini di kalangan muslimin Malaysia.


Kelompok ini mendukung langkah poligami karena membantu masalah wanita yang kurang beruntung serta mencegah timbulnya perzinahan. Sementara dikalangan yang menentang sunnah rosul ini mengatakan poligami melanggar hak wanita.


"Kami ingin merubah cara masyarakat memandang poligami, sehingga poligami akan terlihat indah daripada sesuatu yang dianggap menjijikkan," tutut Hatijah Aam, wanita yang membentuk “Polygamy Club” kepada The Canadian Press, Senin 28 September.


"Apa yang salah dengan berbagi seorang suami? Saya telah melakukannya hampir 30 tahun.

Kelompok ini memiliki anggota 300 suami dan 700 istri. Tujuan dibentuknya organisasi ini adalah untuk membantu wanita janda yang memiliki anak, mantan psk dan wanita yang terlambat menikah untuk mendapatkan jodoh melalui cara poligami.


Para founder kelompok ini berharap dapat memberikan percontohan dari keluarga poligami yang dapat hidup bahagia dan sejahtera untuk mengcounter aktivis wanita/kaum feminis yang mengatakan bahwa memiliki beberapa istri dan banyak anak akan mengakibatkan penderitaan.


"Beberapa orang memperlakukan poligami sebagai bahan lelucon karena mereka tidak memahaminya secara benar," kata suami Hatijah, Ikramullah, seorang pengusaha.


"Namun orang-orang yang mempraktekkannya akan tahu bahwa poligami itu bukanlah sesuatu yang buruk."


Kartini Maarof, seorang wanita pengacara yakin bahwa poligami dapat membantu para ibu yang mengalami perceraian.


Sepuluh tahun yang lalu, dia menyusun pernikahan suami dengan wanita yang menjadi kliennya sendiri, seorang janda dengan 7 orang anak.


"Tentu saja anda akan merindukan suami anda dan terdapat perasaan alami tentang persaingan dan kecemburuan pada awalnya," kata Kartini.


"Namun setelah beberapa lama, anda akan mencoba menjadi teman dan anda dapat belajar bahwa anda bisa berbagi masalah anda dengan yang lainnya."


Poligami adalah hal yang dilegalkan di Malaysia bagi mereka yang memeluk Islam. 65% penduduk Malaysia adalah Islam dari total 27 juta penduduknya.


Islam melihat poligami sebagai sebuah jawaban realistik dari masalah sosial seperti perzinahan dan kehidupan yang buruk bagi para janda.


Seorang suami yang ingin menikah lagi untuk yang kedua, ketiga maupun ke empat, bagaimanapun juga harus memastikan bahwa dia dapat berlaku adil dan mampu menghidupi keluarganya tersebut dengan layak.

[muslimdaily.net/iol]


(read more ...)





Informasi ini sekedar menunjukkan bentuk kepedulian Jepang akan kesehatan dan kenyamanan warganya.



* Tahun 2004, Pemerintah Jepang menaikan harga rokok. Dengan dinaikannya rokok, tidak menyebabkan ongkos bus, taksi, dll menjadi naik.



* Tahun 2007 akhir, Pemerintah Jepang memasang larangan merokok di semua taksi di Jepang, tidak terkecuali untuk pengemudinya. Kalau di Indonesia, penumpang mengalah kepada sopir taksi yang merokok.



* Tahun 2008, Pemerintah Jepang mengeluarkan kartu “Taspo”, yaitu semacam SIK (Surat Ijin Merokok), dengan tujuan anak di bawah umur 20 tahun tidak boleh merokok. Masing-masing perokok wajib terdaftar sebagai perokok dan wajib memiliki kartu tersebut. Kartu Taspo ini sangat sakti. Mesin penjual rokok atau toko tidak akan menjual rokoknya kepada yang tidak memiliki kartu ini.



* Kartu ini juga akan mendeteksi presentase pengguaan rokok per bulan dalam hitungan grafik, yang berhubungan dengan kesehatan dunia dan sebagainya.



* Rokok di Jepang dibuatkan semacam klasifikasi dari 10 s/d 1. Tujuannya adalah memberikan penyuluhan kepada perokok untuk berhenti secara alami. Klasifikasi tingkat 10 adalah yang paling berat, baik itu kadar tar, nikotin, dll. Setelah itu kita biasakan dengan rokok klasifikasi 9, 8, 7, dst., akhirnya klasifikasi tingkat-1, yaitu rokok yang paling ringan. Kalau sudah terbiasa menghisap rokok klasifikasi-1, tidak merokok sama sekali pun kita bisa.



* Tempat-tempat merokok disediakan bagi perokok hampir di pusat-pusat kota



* Merokok sambil berjalan bisa didenda 5000 yen/ 400 rebu di tempat!



* Awal 2009, dikabarkan harga rokok akan naik berlipat-lipat, dari 300 yen menjadi 900 yen. Dijamin, gaji akan habis kalau nekad beli rokok tiap hari.



Semua karena pemerintah peduli kepada warganya.



[muslimdaily.net/kaskus]


(read more ...)



Sep

10

RAHASIA PUASA

Sebagai muslim yang sejati, kedatangan dan kehadiran Ramadhan yang mulia pada tahun ini merupakan sesuatu yang amat membahagiakan kita. Betapa tidak, dengan menunaikan ibadah Ramadhan, amat banyak keuntungan yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.


Disinilah letak pentingnya bagi kita untuk membuka tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan.


Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya Al Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahasia puasa yang bisa kita buka untuk selanjutnya bisa kita rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.


a.Menguatkan Jiwa.


Dalam hidup hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, di dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya yang artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat


berdasarkan ilmu-Nya (QS 45:23).


Dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk dan membuka pintu-pintu langit hingga segala do’anya dikabulkan oleh Allah Swt, Rasulullah Saw bersabda yang artinya:


Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang dizalimi (HR. Tirmidzi).


b.Mendidik Kemauan.


Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan, meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang untuk menyimpang begitu besar.


Karena itu, Rasulullah Saw menyatakan: Puasa itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.


c.Menyehatkan Badan.


Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.


d.. Mengenal Nilai Kenikmatan.


Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.


Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasakan langsung betapa besar sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit dan kecil.


Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya, Allah berfirman yang artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS 14:7).


e.Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain.


Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini


masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina dan sebagainya.


Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).


*www.muslimDayli.net


 

(read more ...)



GARA-GARA JENGGOT

Oleh: Burhan Sodiq.





HARI-HARI ini jenggot menjadi bahan kriteria razia baru. Meski belum pernah kena razia namun nampaknya boleh saja kita jaga-jaga. Siapa tahu jenggot yang cuma seukuran jagung ini bikin masalah dengan diri kita.



Pasca peledakan bom dua hotel mewah itu memang masyarakat menjadi sangat parno. Mereka ketakutan kalau di lingkungannya terdapat para tersangka teroris. Maka mereka pun mulai aktif melakukan banyak hal, di antara saling pasang mata dan pasang telinga. Para pendatang baru target penyelidikan, akankah mereka memiliki ciri-ciri seperti yang dibilang polisi selama ini. Berpeci, berjubah, berjenggot, berjilbab dan bercadar. Dalam rilisnya, sebuah LSM bahkan menyebutkan bahwa bisnis herbal thibbun nabawi, penerbitan buku islam, dan pesantren juga termasuk yang harus diawasi. Karena mereka bisa jadi menjadi soko guru terorisme nasional.



Tidak cukup itu, seorang pengamat terorisme yang konon juga dosen dalam sekolah intelijen menyebutkan, yayasan islam, baitul mal, lembaga zakat juga patut diwaspadai sebagai wahana pengumpul duit umat untuk membiayai aksi peledakan. Wow! Luar biasa sekali efeknya, sampai kemana-mana.



Seorang teman penyiar radio, sedang mencoba bisnis baru. Di rumah istrinya, ia termasuk warga yang baru. Bisnis barunya ini membutuhkan wahana persemaian berupa drum bekas bensin. Karena dia ke mana-mana memakai peci dan berjanggut, maka dia menjadi orang yang tertuduh di kampungnya. Masyarakat tiba-tiba menjadi pintar menghubung-hubungkan seolah wartawan media massa televisi yang asal hubung itu. Unsur-unsur penguat dikumpulkan kemudian dihubung-hubungkan sekenanya. Pertama, dia aktif ke mesjid. Seperti diketahui pelaku pemboman, konon kata media massa adalah remaja masjid. Kedua, dia suka memakai peci dan berjanggut. Unsur kedua ini juga sama dengan para buronan yang katanya anak buahnya Noor Din M Top. Ketiga, dia orang baru, kata para aparat orang baru harus diawasi. Yang kelima yang paling dahsyat, dia membeli drum gede. Tidaklah wajar seseorang memberi drum gede di kampung itu. Lengkap sudah data-data yang dikumpulkan dan akhirnya masyarakat melaporkan ke polisi. Begitulah yang terjadi, padahal dia sama sekali tak ada kaitannya dengan terorisme. Dia hanya ingin berbudi daya jamur, dan tong besar itu sebagai wahana persemaiannya.



Di belahan bumi lainnya, ada sebuah cerita yang lebih unik. Seorang suami dan istri yang berjubah dan berjilbab besar bercadar memasuki sebuah mall. Sang suami membawa ransel di punggungnya. Kontan saja banyak pengunjung yang menaruh curiga. Berpuluh-puluh pasang mata melihatnya. Seolah tersangka baru yang sedang melenggang di catwalk. Tapi mereka cuek cuek saja, toh mereka hanya ingin melihat pameran komputer saja.



Di bandara, seorang teman juga diperlakukan berbeda. Semua penumpang melenggang kangkung tanpa ada pemeriksaan berlebihan. Sementara temen saya ini harus diperiksa berlapis-lapis. Tubuhnya diraba-raba. Hanya karena jenggotnya terlalu panjang hingga ke dada.



Fenomena ini jelas membuat kita tertawa. Kenapa menjadi sedemikian massivenya. Kenapa atribut luar menjadi sedemikian mudah tervonis. Apakah jubah, jenggot dan segala asesorisnya selalu identik dengan pelaku peledakan? Logika awam saja bisa menjawab, kalau cctv yang ada di dua hotel itu tidak pernah menunjukkan bahwa pelaku berpakaian ala timur tengah.



Apakah ini ada nuansa anti timur tengah? Menolak segala yang berbau budaya arab. Menolak pakaian ala mereka dan memberi stigma seolah yang berasal dari Arab adalah kumuh dan terkait dengan terorisme. Sebaliknya, masyarakat dihasung untuk lebih suka memakai pakaian mini dan seksi sebagai ikon budaya barat yang disanjung dan dipuji.



Kalau memang orang ingin melakukan peledakan, tidak mungkin mereka akan mengenakan cadar dan jubah panjang. Persis seperti seorang intel polisi yang sedang bertugas. Ia tidak akan mungkin mengenakan baju seragam kebesarannya. Tetapi kenapa logika ini justru malah tidak terpakai?



Inilah fenomena yang membuat kita mengelus dada. Apa yang sedang terjadi sekarang justru tidak menambah kita yakin terorisme bisa tertumpas. Malah melebar menjadi perang budaya yang tidak ada manfaatnya. Memakai jubah, cadar dan berjenggot bukanlah kesalahan sebagaimana orang membawa bom atau senjata tajam. Tapi itu merupakan identitas seseorang saja, yang ingin lebih dekat dengan sunah rasulnya. Sebagaimana para pemuja barat yang mengenakan baju terbuka auratnya, sebagai tanda ingin dekat dengan artis yang mereka puja. So, jangan berlebihan melihat masalah, umat islam ini ingin sebuah ketenangan, bukan malah teror dalam wujud yang berbeda.



source : voa-islam.com

(read more ...)



Kau Rayu Aku Dengan Status FBmu





Aku terkesima dengan status-status di FBmu. Kata-katamu begitu bersahaja, bermakna, dan sering membuat hatiku berkaca-kaca. Kau lambungkan diriku, meski aku pun hanya bermodal GR saja saat membaca status-statusmu. Inikah kata-kata untukku? Padahal bisa jadi itu bukan untukku. Tapi status-status itu sudah berhasil merebut hatiku...



Aku sendiri juga tidak tahu, kenapa kamu bisa sebegitu pandai menulis status. Padahal sehari-hari yang aku tahu, kamu tidak selembut itu. Gayamu urakan, cara bicaramu juga sering tidak berkesan, dan tidak terlalu sopan. Pengetahuan kamu juga tak sehebat itu, saat berdiskusi kamu pun tak terlihat pandai berlogika dan dialektika. Tapi sungguh, status-statusmu mengaduk-ngaduk hatiku...



Ingin aku segera terbangun dari keterpesonaan ini. Bahwa ini semua hanya permainan kata-kata. Namun nampaknya aku tak terlalu bisa, menyadari kesalahan yang sudah lama mengikat hati dan pikiranku. Meski dari lubuk hati yang terdalam aku tahu, status itu bukan murni dari pikiranmu. Tapi apakah aku peduli dengan itu, mungkin saja aku peduli, tapi lebih sering aku tidak mau tahu itu. Karena ternyata statusmu telah membelitku...



Bagaikan air hujan, status yang kau tulis berkali-kali di fbmu, telah membuat aku tenang. Meski kadang hanya kutipan, copy paste-an, tapi nampaknya itulah yang justru aku butuhkan. Karena aku tidak begitu perlu untuk tahu status terkinimu. Sedang apakah kamu, lagi berpikir apakah kamu, bagiku tidaklah penting. Karena statusmu telah berkali-kali merayu hatiku...



Namun percayakah kamu bahwa manusia akan selalu mengenal kebosanan. Meski semuanya berawal dari sebuah kenikmatan, kesenangan dan kebahagiaan. Karena semakin kau membuaiku, semakin aku tahu bahwa semuanya itu palsu. Sesuatu yang tidak tulus hanya akan berakhir di lisan, tapi tidak pernah dibenarkan oleh hati dan perasaan. Dan ketika aku tahu ini semua palsu, salam persahabatan dariku, semoga Allah mengampunimu...

 

(read more ...)



Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Dr. Adian Husaini, meluncurkan buku barunya yang berjudul "Pancasila, Bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam". Peluncuran buku yang diterbitkan oleh Gema Insani Press (GIP) itu berlangsung Sabtu, 29 Agustus 2009, bertempat di Aula Masjid al-Furqan, Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, Jalan Kramat Raya 45 Jakarta.

Melalui bukunya, Adian Husaini berusaha menguraikan sejarah kelahiran Pancasila dan polemik penafsiran Pancasila antara berbagai kelompok di Indonesia, baik golongan Kristen, nasionalis sekular, PKI, maupun golongan nasionalis Islam.


Buku ini memuat banyak sekali data-data sejarah, terutama mengungkapkan bagaimana para tokoh pejuang Islam mencoba memperjuangkan aspirasi Islam melalui rumusan dasar negara, khususnya Pembukaan UUD 1945 yang memuat teks Pancasila.


Hasil penelitian penulis menunjukkan, meskipun ”tujuh kata” (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) telah dihapuskan dari Piagam Jakarta, tetapi naskah yang sekarang menjelma menjadi Pembukaan UUD 1945 tersebut tetap sangat kental dengan warna pandangan-dunia Islam (Islamic worldview) seperti kata Allah, adil, adab, hikmah, musyawarah.


Hal ini, menurut Adian, bisa dibuktikan dari tanggapan tokoh Katolik Dr. Soedjati Djiwandodo, dalam artikelnya di Suara Pembaruan, 9/2/2004, berjudul "Mukaddimah UUD 1945 Tidak Sakral, Perlu Diganti",yang mengusulkan sudah saatnya Indonesia secara tegas menyatakan diri sebagai negara sekuler.


Ada juga penulis Kristen yang mengakui kekalahan tokoh-tokoh Kristen dan Hindu dalam perumusan Pancasila, dalam menghadapi tokoh-tokoh Islam ketika itu. Maka, yang dilakukan oleh kaum Kristen sepanjang sejarah pasca kemerdekaan, adalah mempertahankan tafsir sekular Pancasila. Padahal, penafsiran semacam itu tidak sesuai dengan pemahaman dan maksud para perumus Pancasila (Pembukaan UUD 1945) dari kalangan tokoh Islam, seperti KH Wahid Hasjim, Haji Agus Salim, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan sebagainya, yang secara gigih mempertahankan aspirasi Islam dalam rumusan Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu, tidaklah beralasan sama sekali menjadikan Pancasila sebagai alat pemukul dan penindas aspirasi umat Islam.


Buku ini ditulis dengan melakukan riset yang cukup serius terhadap berbagai dokumen dan data sejarah, mengingat akhir-akhir ini ada gejala pada sebagian kalangan untuk mengangkat kembali Pancasila sebagai senjata guna menentang masuknya aspirasi Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti UU Pornografi, UU Makanan Halal, UU Zakat, dan sebagainya. Bahkan, tuduhan-tuduhan anti-Pancasila dan anti-NKRI tak jarang juga dialamatkan kepada umat Islam. Penulis mengingatkan bahwa upaya untuk menyeret Pancasila  ke kutub ”netral-agama” (sekular) telah mengalami kegagalan selama Orde Lama dan Orde Baru.



Dr. Adian Husaini, meruapakan peraih gelar doktor Peradaban Islam di Universitas Islam Internasional Malaysia. Ia juga dikenal sebagai penulis produktif yang telah menulis lebih dari 25 judul buku. Bukunya yang berjudul Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, (GIP, 2005), meraih juara pertama dalam Islamic Book Fair tahun 2006 untuk kategori non-fiksi.


[muslimdaily/inpas]


(read more ...)




Tak akan ada gadis sumbing terpilih menjadi ratu kecantikan,  meski IQ-nya tinggi. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-268



Oleh: Dr. Adian Husaini*



Hidayatullah.com--Menjelang bulan suci Ramadhan 1430 Hijriah, media massa Indonesia banyak menyiarkan berita tentang prestasi yang diraih oleh Zivanna Letisha Siregar, anak Indonesia yang ikut dalam Kontes Ratu Kecantikan Sejagad (Miss Universe) 2009.



Hasil jajak pendapat di missuniverse.com pada Kamis (20/8/2009) menunjukkan, Zizi – panggilan Zivanna – menduduki peringkat ketiga, satu prestasi yang belum pernah diraih oleh putri Indonesia sebelumnya. Prestasi itu diraih karena banyaknya orang Indonesia yang mendukungnya lewat polling. Media massa pun gegap gempita mendukungnya. Banyak yang  secara terbuka bangga dan berharap, Zizi akan menang dalam kontes Miss Universe tersebut.



Menariknya, hampir tidak tampak lagi suara yang mempersoalkan keikutsertaan wakil Indonesia tersebut di pentas pemilihan Ratu Sejagad. Nyaris tak terdengar suara MUI, Departemen Agama, NU, Muhammadiyah, dan sebagainya. Seolah-olah kehadiran Zizi di pentas kecantikan internasional itu memang sudah direstui oleh bangsa Indonesia. Padahal, dalam kontes tersebut,  Zizi menampilkan pakaian bikini yang pada tahun-tahun sebelumnya selalu mengundang kontroversi.



Begitu kuatnya arus global informasi tersebut, sehingga mampu menyekat suara-suara yang berbeda. Semua seperti digiring untuk bungkam. Seolah-olah banyak yang sudah tahu akan resiko yang dihadapi jika berani mempersoalkan hal-hal seperti ini, maka akan dengan mudah dikecam sebagai manusia yang sok moralis, menghambat kebebasan berekspresi, kaum radikal, dan sebagainya.



Mungkin, sadar akan kekuatan besar seperti itulah, maka banyak yang memilih diam, atau enggan berkomentar. Semua seperti sadar bahwa sekarang adalah zaman kebebasan. Ini zaman liberal. Semua serba boleh. Maksiat atau tidak maksiat tidak peduli lagi. Yang penting seru! Yang penting enak ditonton! Yang penting menghibur! Yang penting menghasilkan uang! Persetan dengan semua nilai moral atau agama!



Padahal, diukur dari sudut pandang Islam, jelas keikutsertaan dalam kontes kecantikan seperti kontes Miss Universe adalah perbuatan haram. Itu jelas dosa! Itulah kemungkaran yang sangat nyata; mengumbar aurat di muka umum. Mungkin Zizi dan para pendukungnya berpikir bahwa tubuh yang dimilikinya adalah miliknya sendiri, dan dia merasa seratus persen berhak menggunakannya untuk tujuan apa saja sesuai kehendaknya. Tidak ada urusan dengan aturan Allah SWT. Mungkin, mereka juga berpikir, bahwa toh, tindakan itu tidak merugikan orang lain! Tidak mengganggu lain. Apa salahnya!



Salah satu media internet yang mengkritik keras keikutsertaan putri Indonesia dalam ajang Miss Universe 2009 itu adalah www.voa-islam.com.     Situs ini secara tegas mengkritik kontes tersebut: ”Beginikah kiblat kemajuan sebuah peradaban di mana wanitanya harus berani meludahi ajaran para Nabi, terutama Nabi Muhammad Saw? Beginikah simbol sebuah kemajuan peradaban, di mana wanitanya akan dihormati manakala berani membuka dada dan paha? Ataukah beginikah standar kecantikan wanita manakala layak tubuhnya dijadikan simbol penglaris dagangan saja?”



Dalam suasana gegap gempitanya paham kebebasan dan – meminjam istilah Taufik Ismail --  ”Gerakan Syahwat Merdeka”  di Indonesia, memang suara-suara yang menyerukan agar manusia Indonesia menjadi manusia-manusia yang lebih adil dan beradab menjadi tenggelam.  Padahal, ada al-Quran sudah mengajak perempuan untuk menutup auratnya: "Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kerudungnya ke dadanya" (QS An-Nur:31).



Nabi Muhammad saw juga pernah bersabda: "Ada dua golongan penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya: Laki-laki yang tangan mereka menggenggam cambuk yang mirip ekor sapi untuk memukuli orang lain,  dan wanita-wanita yang berpakaian namun telanjang dan berlenggak lenggok. Kepalanya bergoyang-goyang bak punuk onta. Mereka itu tidak masuk surga dan tidak pula mencium baunya. Padahal sesungguhnya bau surga itu bisa tercium dari jarak sekian dan sekian." (HR. Muslim)



Betapa pun, Zizi adalah Muslimah. Bahkan, konon, ia adalah lulusan sebuah SMU Islam di Jakarta. Yang harus dilakukan jika seorang Muslim/Muslimah ketika melakukan tindakan dosa adalah bertobat. Bukan malah bangga dengan tindakannya dan mengajak orang lain untuk mengikuti tindakan dosanya. Apakah Zizi, kedua orang tua, dan pendukungnya yang Muslim  tidak tahu bahwa tindakan mengumbar aurat seperti itu adalah tindakan dosa? Sebagai sesama Muslim, kita WAJIB mengimbau dan menasehatinya. Kita tidak bertanggung jawab atas tindakannya. Masing-masing kita akan bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri di hadapan Allah.



Sapi perah




Jika Zizi dan para pendukungnya enggan mendengar pendapat yang masih berbau agama, ada baiknya juga disimak pendapat Dr. Daoed Joesoef,  seorang cendekiawan yang dalam sejarah Indonesia dikenal sebagai tokoh sekular. Daoed Joesoef pernah menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P&K) selama satu periode (1977-1982).  Semasa hidupnya, Daoed Joesoef dikenal dengan pemikirannya yang sekular.



Pemikirannya yang sekular telah banyak mengundang kritik dari para tokoh Islam. Tetapi, ada satu sisi pemikirannya sejalan dengan tokoh-tokoh Islam di Indonesia, yaitu kritik-kritiknya yang keras dan tajam terhadap keberadaan kontes ratu-ratuan.  Daoed Joesoef adalah doktor lulusan Sorbonne Perancis (1972) dan Ketua Dewan Direktur CSIS (1972-1998). Ia juga pernah menjadi anggota pengurus organisasi ”Angkatan Seni Rupa Indonesia” di Medan (1946), dan Ketua cabang Yogyakarta untuk organisasi ”Seniman Indonesia Muda” (1946-1947).



Betapa sekularnya pemikiran Daoed Joesoef bisa disimak dari sikapnya yang tidak mau mengucapkan salam Islam saat menjabat Menteri P&K. Dalam memoarnya yang terbit tahun 2006 berjudul ”Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran”, Daoed Joesoef  memberikan alasan: ”Aku katakan, bahwa aku berpidato sebagai Menteri dari Negara Republik Indonesia yang adalah Negara Kebangsaan yang serba majemuk, multikultural, multiagama dan kepercayaan, multi suku dan asal-usul, dan lain-lain, bukan negara agama dan pasti bukan negara Islam.”



Tentu saja, jika diukur pada tataran sekarang, pandangan dan sikap Daoed Joesoef semacam itu tampak ganjil. Tetapi, tidak semua pendapat Daoed Joesoef perlu ditolak. Ada pendapatnya yang sangat menarik untuk disimak dan direnungkan. Sebagai cendekiawan, pandangannya terhadap berbagai jenis kontes ratu kecantikan, bisa dikatakan sangat tajam dan mendasar.



Saat menjadi Menteri P&K pula, Daoed Joesoef menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis pemilihan miss dan ratu kecantikan. Ketika itu memang sedang marak-maraknya promosi aneka ragam miss, ada Miss Kacamata Rayban, Miss Jengki, Miss Fiat, Miss Pantai, di samping pemilihan ratu ayu daerah, ratu ayu Indonesia, yang langsung dikaitkan dengan berbagai jenis keratuan internasional. Dan semuanya, tulis Daoed Joesoef, ”menyatakan demi manfaat dan kegunaan (pariwisata) serta keharuman nama dan martabat Indonesia.”



Apa kata Daoed Joesoef tentang semua jenis ratu-ratuan tersebut? ”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, di samping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak a priori  anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara,” tulis Daoed Joesoef.



Menurut mantan dosen FE-UI ini, wanita yang terjebak ke dalam kontes ratu-ratuan, tidak menyadari dirinya telah terlena, terbius, tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya. Itu ibarat perokok atau pemadat yang melupakan begitu saja nikotin atau candu yang jelas merusak kesehatannya. Lebih jauh, Daoed Joesoef menyampaikan kritik pedasnya: ”Pendek kata kalau di zaman dahulu para penguasa (raja) saling mengirim hadiah berupa perempuan, zaman sekarang pebisnis yang berkedok lembaga kecantikan, dengan dukungan pemerintah dan restu publik, mengirim perempuan pilihan untuk turut ”meramaikan” pesta kecantikan perempuan di forum internasional.”



Dari 900 halaman lebih memoarnya tersebut, Daoed Joesoef memberikan porsi cukup panjang (hal. 649-657) untuk menguraikan buruknya praktik-praktik ratu-ratuan bagi perempuan itu sendiri. Perempuan tentu boleh tampil cantik. Tapi, Daoed Joesoef mengingatkan tiga hal. Pertama, jangan ia diumbar, dibiarkan untuk dieksploitasi seenaknya oleh orang/pihak lain hingga membahayakan dirinya sendiri. Kedua, jangan memupuknya secara berlebihan, karena bagaimana pun kecantikan itu hanya setebal kulit. Ketiga, kecantikan yang dipupuk dan lalu dijadikan standar personalitas perempuan berpotensi menjadi liang kubur  perempuan yang bersangkutan.  Bila kecantikan itu redup, karena hanya setebal kulit, berarti perempuan itu tidak dapat lagi memenuhi standar yang telah dipatoknya sendiri. Orang lain, termasuk suaminya, akan membelakanginya, lalu berpaling ke perempuan cantik lain.



Semasa belajar di Paris, Daoed Joesoef mengaku pernah membaca sebuah kasus seorang guru matematika dipecat oleh Menteri Pendidikan Nasional Perancis, gara-gara guru tersebut mengikuti kontes ratu kecantikan daerah yang merupakan awal dari pemilihan ratu kecantikan nasional. Ketika itu tidak ada media yang membelanya, karena publik menganggap kegiatan seperti itu tidak pantas dilakukan seorang guru. Karena itu, menurutnya, jika ada pendidik yang membela kegiatan pemilihan ratu ayu, pantas sekali dipertanyakan bagaimana keadaan nuraninya.



”Apa kata inteleknya tidak perlu dipersoalkan, karena sekarang ini keintelektualan bisa disewa per hari, per minggu, per bulan, per tahun, bahkan permanen, dengan honor yang lumayan. Artinya, even seorang intelek bisa saja melacurkan kemurnian inteleknya karena nurani sudah diredam oleh uang,”
tulis Daoed Joesoef.



Daoed Joesoef  menolak argumentasi bahwa kontes kecantikan juga menonjolkan sisi-sisi intelektual perempuan dan banyak pesertanya yang mahasiswi. Juga ia menolak alasan bahwa penggunaan pakaian renang dalam kontes semacam itu adalah hal yang biasa.  ”Namun tampil berbaju renang melenggang di catwalk, ini soal yang berbeda. Gadis itu bukan untuk mandi, tapi disiapkan, didandani, dengan sengaja, supaya enak ditonton, bisa dinikmati penonjolan bagian tubuh keperempuanannya, yang biasanya tidak diobral untuk setiap orang,” tulis Daoed Joesoef lebih jauh.



Bahkan, Daoed Joesoef menyamakan peserta kontes kecantikan itu sama dengan sapi perah: ”setelah dibersihkan lalu diukur badan termasuk buah dada (badan)nya dan kemudian diperas susunya untuk dijual, tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya sudah dimanfaatkan, dijadikan sapi perah. Untuk kepentingan dan keuntungan siapa?”



Terhadap orang yang menyatakan bahwa yang dinilai dalam kontes kecantikan bukan hanya kecantikannya, tetapi juga otaknya, sikapnya, dan keberaniannya, Daoed Joesoef  menyatakan, bahwa semua itu hanya embel-embel  guna menutupi kriterium kecantikan yang tetap diunggulkan. ”Percayalah, tidak akan ada gadis sumbing yang akan terpilih menjadi ratu betapa pun tinggi IQ-nya, terpuji sikapnya atau keberaniannya yang mengagumkan,” tulisnya.



Terhadap alasan kegunaan kontes ratu kecantikan untuk promosi wisata dan penarikan devisa, Daoed Joesoef menyebutnya sebagai wishful thinking belaka, untuk menarik simpati masyarakat dan dukungan pemerintah. Kalau keamanan terjamin, jaringan transpor bisa diandalkan, sistem komunikasi lancar, bisa on time, pelayanan hotel prima, maka keindahan alam Indonesia saja cukup bisa menarik wisatawan.



Lalu, apa jalan keluarnya? ”Stop all those nonsense! Hentikan semua kegiatan pemilihan ratu kecantikan yang jelas mengeksploitasi perempuan dan pasti merendahkan martabatnya!” seru Daoed Joesoef. “Namun,”  lanjutnya, “kalau perempuan sendiri bergairah melakukan perbuatan yang tercela itu karena kepentingan materi sesaat tanpa mempedulikan masa depan anak-anak, ya mau bilang apa lagi!”.  



Meskipun kita tidak sependapat dengan banyak pemikiran sekular Daoed Joesoef, tetapi pandangannya tentang ratu-ratuan ini patut kita acungi jempol. Kini, di tengah-tengah semakin menguatnya hegemoni liberalisme nilai-nilai moral dan menghunjamnya paham materialisme, pendapat jernih Daoed Joesoef dalam soal peran dan kedudukan perempuan perlu diperhatikan, khususnya bagi pejabat dan pemuka masyarakat. Secara terbuka Daoed Joesoef mengimbau:



“Kalaupun gadis-gadis kita yang cantik jelita lagi terpelajar, cerdas dan terampil serta berbudi pekerti terpuji dan berani, masih berhasrat menyalurkan energinya yang menggebu-gebu ke kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, siapkanlah diri mereka agar menjadi IBU yang ideal, memenuhi perempuan yang sebenarnya dalam keluarga, perannya yang paling alami. Jadi bukan peran  sembarangan, karena mendidik makhluk ciptaan Tuhan yang dipercayakan oleh Tuhan kepadanya.  Jangan anggap bahwa mengasuh, membesarkan dan mendidik anak secara benar bukan suatu pekerjaan yang terhormat. Pekerjaan ini memang tidak menghasilkan uang, pasti tidak membuahkan popularitas, tentu tidak akan ditampilkan oleh media massa dengan penuh kemegahan, tetapi ia pasti mengandung suatu misi yang suci…”



Demikianlah, sebuah contoh pemikiran yang jernih tentang kedudukan dan martabat perempuan. Mudah-mudahan masih ada petinggi negara dan elite masyarakat yang mendukung pemikiran semacam ini, dan kemudian berani melakukan tindakan untuk menegakkan kebenaran, meskipun resikonya, dia bisa jadi tidak akan populer. [Depok, 20 Agustus 2009/www.hidayatullah.com].



Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara  Radio dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

 

(read more ...)




Malam kian larut berselimut gulita

T’lah sekian lama tiada kekasih kucumbu

Demi Allah, bila bukan karena mengingat-Mu

Niscaya ranjang ini t’lah bergoyang

Namun duhai rabbi,

Rasa malu telah menghalangiku…



Hari demi hari berlalu tanpa kesan apa pun, semua dirasakan kosong, semua berlalu secepat petir yang singgah hanya dalam hujan sehari. Perasaan itu seakan berteriak kencang ‘aku butuh teman’….tapi tak seorang pun mampu mendengarnya, lalu dipejamkan matanya, berpikir…’aku dalam kesendirian’.Kungkungan sunyi dan kehampaan hati itu seakan bertanya, adakah seseorang yang mau berbagi. Berbagi dalam suka dan duka, tak peduli pagi, siang dan malam. Dia membutuhkan semua itu, merindukan saat-saat indah itu. Saat ketika rindu menyapa yang membawanya jauh dengan perasaan itu, hasrat itu.


Wanita itu termenung di balik jendela kamarnya. Tatapan matanya kosong. Sementara suasana malam terasa begitu mencekam: dingin dan sepi. Suami tercinta berada di negeri jauh melaksanakan tugas khalifah di medan jihad. Wanita itu nyaris frustrasi karena pertahanan diri mulai terganggu. Wanita shalihah yang tinggal di pinggiran madinah ini lebih suka sendirian dalam kamarnya. Ia seakan hilang dari kehidupan ramai. Apalagi sewaktu udara begitu dingin menusuk tulang. Berkawankan sepi dan dingin, namun dalam suasana demikian mampukah wanita itu melahirkan muraqabatullah.


Syair itu menggambarkan pergulatan batin yang luar biasa, dilantunkan seorang perempuan di zaman Umar bin Khatab. Waktu itu, Umar sedang berkeliling kota dalam kegelapan malam. Dalam perjalanan rutin itu, sampailah beliau ke dekat rumah seorang perempuan yang sedang menahan gejolak biologisnya karena ditinggal berjihad suaminya dalam waktu yang lama. Untuk sekedar menghibur diri sendiri dalam kesepian yang begitu sangat, terlantunkanlah syair itu yang kemudian didengar oleh Umar.

Keterpisahan dengan suami tercinta dalam waktu lama, kesepian, kegelapan malam melambangkan kesuraman yang melanda jiwanya. Kesulitan untuk tidur pada waktu itu mungkin merupakan pengalaman terburuk yang pernah dijumpainya. Penderitaan yang paling menyiksa bagi seseorang yang mengalami kesepian.


Orang yang terjaga dari tidurnya di tengah-tengah kesunyian malam, sangat mudah dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya. Bayang-bayang mimpi yang mendatangkan perasaan cemas dan gelisah meninggalkan kesan yang mencekam perasaan. Cara apa pun yang katanya dapat menghapus perasaan was-was itu pada keesokan harinya tidak banyak bermanfaat. Bahkan, sekalipun kita tidak mengalami tekanan perasaan seberat yang dialami wanita tadi, ketakutan-ketakutan (trauma) yang terkubur dalam alam bawah sadar kita menyebabkan kita mudah diserang oleh perasaan cemas dan gelisah itu.


Manusia tanpa kesadaran muraqabatullah akan selalu dahaga, karenanya mereka sangat bernafsu untuk memburu segala sesuatu yang berhubungan dengan hasrat ini. Menyalurkan hasrat rendah ini dalam rel yang berseberangan dengan perintah Allah bukanlah meredakan gairah, tapi malah semakin memacu semangat mendapatkan kemaksiatan yang lain. Faktanya, usaha manusia untuk senantiasa berpacu dalam memenuhi segala hasratnya malah menimbulkan tegangan dan dorongan baru yang harus dikejar dan dipenuhi yaitu “keinginan”.


Keinginan adalah sesuatu yang paradoks: setelah suatu keinginan terpenuhi, timbul keinginan lain untuk segera diselesaikan dan dipenuhi hajatnya. Namun, dalam kerangka kehidupan modern, keinginan haruslah menjadi sesuatu yang tak berujung dan harus selalu diposisikan sebagai pesona yang dapat menyedot hasrat.


Subhanallah, ternyata penderitaan wanita itu tidak berakhir dalam kemaksiatan. Kesetiaannya masih tegak berdiri seperti gunung memaku bumi. Padahal badai hasrat itu begitu kuat seakan tsunami yang melantakkan apa saja. Namun ‘al khauf’ yang menghunjam jiwanya memenangkan Allah atas segalanya. Hatinya dikuasai Allah, kesadaran dzikrullahnya begitu teruji.


Inilah pangkal masalah terbesar yang kita hadapi saat ini yaitu jauh dari Allah, jarang mengingat Allah, dan “dikuasainya” hati kita oleh sesuatu selain Allah. Inilah masalah yang akan mendatangkan banyak masalah lainnya. Saat jauh dari Allah, maka kita akan leluasa berbuat maksiat. Tidak ada lagi rasa malu. Tidak ada lagi rasa diawasi oleh Allah, sehingga tidak ada lagi yang mengendalikan perilaku kita. Maksiat inilah yang kemudian melahirkan ketidaktenangan, kehinaan, dan kesengsaraan hidup.


Sejak temuan kasus ini, maka Umar bersegera menemui putrinya yang tercinta, Hafshah, kemudian bertanya, “Berapa lama seorang perempuan tahan menunggu suaminya ?“ Dijawablah oleh Hafshah, “empat bulan”. Setelah kejadian tersebut, Umar memerintahkan kepada para panglima perang untuk tidak membiarkan seorangpun dari tentaranya meninggalkan keluarganya lebih dari empat bulan. Begitulah kepedulian sekaligus solusi seorang pemimpin seperti Umar di zamannya.


Kemudian apa yang tengah terjadi dengan wanita kita sekarang, dengan isteri-isteri kita, dengan anak-anak kita bahkan dengan ibu-ibu kita. Kalau keterbatasan teknologi di zaman Umar saja nyaris menggelincirkan iman seorang wanita mukminah, bagaimana dengan kita sekarang? Zaman dimana teknologi telah menyatu dengan kehidupan manusia kalaupun belum bisa dikatakan diperbudak teknologi. Hampir tak ada wilayah privacy yang tidak tersentuh produk teknologi ini, bahkan ketika kita menghadap Allah pun ringtone HP masih menyertai. Industrialisasi yang kapitalistik telah menghantarkan wanita sebagai komoditas. Semangat konsumerisme dipompakan dengan begitu hebat. Pengertian konsumsi yang absurd ini dalam kehidupan modern menjadi arena sosial yang menyedot dan menarik minat energi pelampiasan.


Ia menjelma menjadi medan kesadaran yang harus segera dipenuhi dan dipuaskan kebutuhannya. Identitas diri di hadapan lingkungan sosial yang demikian diperebutkan dan dibentuk oleh produk-produk rayuan melalui citra-citra tertentu yang ditawarkan lewat berbagai media massa: Supaya Anda kelihatan jantan dan macho Anda harus mengisap rokok tertentu. Supaya perempuan kelihatan cantik, pergunakanlah kosmetik merek tertentu. Agar Anda dikategorikan sebagai manusia yang tidak ketinggalan zaman, milikilah atribut artis yang lagi ngetop!


Logikanya adalah jika segala hawa nafsu disalurkan demi pemenuhan kenikmatan, ia dapat menjadi semacam dinamo yang pengoperasiannya bisa dilakukan menjadi tanpa batas sehingga akhirnya ia menjelma menjadi sesuatu yang tidak realistis dan membahayakan eksistensi manusia itu sendiri. Oleh karena itu, sangatlah wajar jika para ‘ulama yang shalih, misalnya, memandang manusia seperti ini sebagai manusia yang dibutakan matanya yang hanya tertarik pada kulit ketimbang terpesona untuk mencari dan menemukan isi.


“Apakah engkau tidak perhatikan orang yang telah menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya. Apakah engkau akan dapat menjadi pelindungnya. Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memehami? Mereka itu hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi.” Qs. Al Furqan: 43-44)


Dapat dimengerti jika logika hawa nafsu sanggup memalingkan dan menyamarkan setiap upaya pencarian manusia terhadap nilai-nilai luhur sebab logika hawa nafsu yang mewabah akibat bekerjanya spirit kapitalisme diproduksi oleh apa yang mereka sebut sebagai “mesin hawa nafsu”–sebuah peristilahan psikoanalisis yang mereka gunakan untuk menjelaskan mekanisme produksi “ketidakcukupan” dalam diri seseorang. Keinginan untuk “memiliki” bukan disebabkan “ketidakcukupan alamiah” yang ada dalam diri kita, melainkan hanya untuk memenuhi pencarian identitas yang tidak henti-hentinya. Oleh karena itu, identitas manusia hari ini adalah identitas yang dibangun oleh proses konsumsi dan proses komoditi dari citraan dan rayuan-rayuan media massa.


Iklan-iklan di televisi misalnya, ia beroperasi lewat pengosongan tanda-tanda dari pesan dan maknanya secara utuh sehingga yang tersisa adalah penampakan semata. Sebuah wajah merayu yang penuh atribut dan make-up adalah wajah yang kosong tanpa makna sebab penampakan artifisial dan kepalsuannya menyembunyikan kebenaran diri. Apa yang ditampilkan dari kepalsuan dan kesemuan tersebut menjadi sebuah rayuan bagi para pemirsa. Hingga yang muncul dari sebuah rayuan, bukanlah sampainya pesan dan makna-makna, melainkan munculnya keterpesonaan, ketergiuran, dan gelora hawa nafsu: gelora seksual, gelora belanja, gelora berkuasa.


Sehingga tidak sedikit kita lihat, banyak wanita yang terjebak dengan anggapan bahwa keelokan fisik adalah segala-galanya. Mereka menganggap bahwa kemuliaan dan kebahagiaan akan didapat bila berwajah cantik, kulit yang putih, dan tubuh yang ramping. Maka tidak aneh kalau banyak ditemukan wanita yang mati-matian memperputih kulitnya, mengoperasi plastik bagian tubuhnya, menghambur-hamburkan berjuta-juta uang demi mengejar prestise.


Sementara bagi yang tidak mampu, mereka menjadi rendah diri dan merasa tereliminasi dari pergaulan. Padahal, kecantikan dan kemolekan tubuh tidak dapat dijadikan tolok ukur kemuliaan. Lebih jauh lagi, semua itu tidak bisa menjamin seseorang akan bahagia. Sesungguhnya kemuliaan yang diraih seorang wanita salehah adalah karena kemampuannya untuk menjaga martabatnya (‘iffah) dengan hijab serta iman dan takwa.


Ibarat sebuah bangunan, ia akan berdiri lama jika mempunyai pondasi yang kokoh. Andaikan pondasi sebuah bangunan itu tidak kokoh, maka seindah dan semegah apapun, pasti akan cepat runtuh. Begitu juga dengan iffah yang dimiliki oleh seorang wanita, dengan iman dan takwa merupakan pondasi dasar untuk meraih kemulian-kemulian lain.


Dengan iffah, seorang muslimah akan selalu menjaga akhlaknya. Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasa malu. Sebagaimana terukir dalam hadis Nabi Saw. : ”Malu dan iman itu saling bergandengan, jika hilang salah satunya, maka hilanglah bagian yang lain.” (HR. Hakim dan At-Thabari).


Adanya rasa malu, membuat segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan melakukan sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Sehingga dengan akhlak yang dimiliki, ia lebih harum daripada kesturi.


Dengan iffah, seorang muslimah akan sadar betul bagaimana cara bersikap dan bertutur kata. Tidak ada dalam sejarah, seorang wanita salehah centil, suka jingkrak-jingkrak dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian mutu manikam yang penuh makna bermutu tinggi.


Tengoklah figur-figur mulia yang mendapatkan tempat terhormat di tengah-tengah umat hingga kini. Khadijah ra. misalnya, namanya terus berkibar sampai sekarang, bahkan setiap anak wanita dianjurkan untuk meneladaninya.


Terkenalnya seorang Khadijah bukan karena kecantikan wajahnya, namun karena pengorbanannya yang demikian fenomenal dalam mendukung perjuangan dakwah Rasulullah Saw. Begitu pun Aisyah ra., salah seorang istri Nabi dan juga seorang cendikiawan muda. Darinya para sahabat mendapat banyak ilmu. Ada pula Asma binti Yazid, seorang mujahidah yang membinasakan sembilan tentara Romawi di perang Yarmuk, hanya dengan sebilah tiang kemah. Masih banyak wanita mulia yang berkarya untuk umat pada masa-masa berikutnya. Keharuman dan keabadian nama mereka disebabkan oleh kemampuan mengembangkan kualitas diri, menjaga iffah (martabat), dan memelihara diri dari kemaksiatan. Sinar kemuliaan mereka muncul dari dalam diri, bukan fisik. Sinar inilah yang lebih abadi.


*www.dakwatuna.com

(read more ...)



Memasuki bulan Agustus ini, kita mulai menyaksikan adanya sesuatu yang berbeda di jalan-jalan, di ujung-ujung gang, dan di jalan-jalan perkampungan. Warna merah putih menghiasi jalan-jalan dan perkampungan. Mulai melangkah lebih jauh lagi pada bulan Agustus, kita mulai saksikan perlombaan-perlombaan digelar di gang-gang perkampungan. Anak-anak larut dalam kegembiraan merayakan peringatan hari kemerdekaan yang sebenarnya belum mereka ketahui. Wajarlah, masih anak-anak. Mereka hanya berkeinginan untuk mendapatkan hadiah dan merasa senang saat mengikuti lomba.

Tak ketinggalan dengan anak-anak mereka yang berkompetisi dalam lomba balap karung, makan kerupuk, memasukkan ballpoint ke dalam botol, mengambil koin dari labu, pecah air, membawa kelereng, pecah balon, dan juga memindah belut; orang tua dan kakak-kakak mereka pun juga ikut larut dalam perayaan-perayaan lomba. Ya, semua rakyat dari seluruh lapisan larut dalam perlombaan-perlombaan merayakan hari kemerdekaan RI mulai dari kampung, pedesaan, perkotaan, pabrik, pasar, kantor, dan seluruh pelosok tanah air.


Puncak dari segala puncak itu nantinya adalah pada saat peringatan Detik-detik Proklamasi yang akan berlangsung pada tanggal 17 Agustus tepat pada puku 10.00 WIB. (read more ...)



Penguasa selalu berkepentingan agar rakyat selalu dalam kebodohan dan ketaklidannya. Agar mereka tidak menggugat perampokan uang rakyat yang dilakukan penguasa dengan berbagai cara. 

Sistem ekonomi yang berlaku di Indonesia sejak tahun 1967 hingga sekarang adalah Kapitalisme. Dalam bahasa eufimisme, sering disebut sebagai Sistem Pasar, atau rezim SBY menyebutnya sebagai ‘Jalan Tengah’. Namun semuanya itu hanyalah nama lain dari KAPITALISME. Kapitalisme adalah the way of life-nya kaum Liberalis, kitab suci para ekonom NeoLib, dan juga para aktivis Liberal. Satu-satunya bahan bakar kapitalisme adalah sistem ribawi. Tanpa Riba, kapitalisme tidak akan bisa jalan. Sebab itu, Islam jelas dan tegas mengharamkan kapitalisme dengan segala strain-nya, sama seperti Islam menyikapi Komunisme. Kedua sistem ciptaan Yahudi ini, Kapitalisme dan Komunisme, haram hukumnya bagi orang Islam. Komunisme tidak mengakui eksistensi tuhan, sedangkan Kapitalisme menuhankan fulus. Dua-duanya sesat.


Kapitalisme Bukan Sekadar Sistem Ekonomi


Apa itu Kapitalisme? Ekonom Milton H. Spencer dalam Contemporary Macro Economics (1997) menyatakannya sebagai sebuah sistem organisasi ekonomi (perusahaan-perusahaan) yang dicirikan oleh hak milik privat atas alat-alat produksi dan distribusi (tanah, pabrik-pabrik, jalan raya, kereta api, sungai, laut, dan sebagainya) dan pemanfaatannya untuk mencapai laba dalam kondisi penuh persaingan.


Sedang kata kunci kapitalisme adalah “Negara jangan ikut campur”. Hal ini berasal dari akhir abad ke-17 di Perancis saat Louis XIV berkuasa. Menteri Keuangannya, Jean Baptiste Colbert, bertanya pada seorang pengusaha bernama Legendre, bagaimana kiranya pemerintah dapat membantu dunia usaha. Legendre menjawab, “Laissez nousfaire” (Jangan mengganggu kita, Leave Us Alone). Walau demikian, dewasa ini tidak ada satu pun negara di dunia ini yang menjalankan kapitalisme seperti aturan aslinya (Pure Capitalism), melainkan Mixed-Capitalism, termasuk Chief of Commander-nya Kapitalisme Dunia, Amerika Serikat (Kapitalisme Versus Sosialisme, Suatu Analisis Ekonomi Teoritis; Dr. Winardi, SE; 1986).


Kapitalisme sebagai sebuah sistem ekonomi, banyak orang sudah tahu. Namun di tiap sistem ekonomi—karena ekonomi adalah landasan terbawah piramida peradaban—maka sistem ekonomi selalu melengkapi dirinya dengan pranata pendukungnya di dalam banyak bidang kehidupan seperti ideologi politik, psikologi massa, pendidikan, sosial budaya, bahkan hingga mengintervensi ruang privat keagamaan.


Kapitalisme tidak cuma mengindustrikan produksi ekonomi saja, tapi dia juga mengindustrikan semua bidang kehidupan masyarakat seperti industri berpikir, industri kebudayaan, industri santai, industri seni, industri pendidikan, industri keagamaan, dan sebagainya. “Sampai-sampai kebutuhan orang dimanipulasikan oleh industri sehingga orang membeli apa yang diharuskan oleh industri, bukan karena memang kebutuhannya sendiri. …Karena kehilangan otonominya, akal budi manusia menjadi alat yang netral belaka. Ia tidak berhak lagi memutuskan apakah suatu tindakan itu benar atau salah, baik atau buruk. Baik buruknya, benar atau salahnya tindakan seseorang diukur dari luar dirinya, apakah itu bernama norma-norma umum atau kecenderungan zaman yang diproduksi oleh mesin-mesin kapitalisme. Akal budi tinggal menyesuaikan diri kepada norma industri itu.” (Dilema Usaha Manusia Rasional, Kritik Masyarakat Modern Oleh Max Horkheimer dalam rangka Sekolah Frankfurt; Sindhunata, ed; 1983).


Horkheimer menambahkan, “Di bidang sosial politik, pengebirian akal budi itu dengan mudah menumpulkan kemampuan masyarakat untuk menguak tabir manipulasi ideologi dan membongkar vested-interest terselubung kaum pemimpin.” (h.102)


Kapitalisme Ersatz untuk Indonesia


Di Indonesia, para penguasa (sipil maupun militer) dan pembuat kebijakan selalu berkolusi dengan para pengusaha. Penguasa dan Pengusaha. Dalam istilah Yoshihara Kunio (Kapitalisme Semu Asia Tenggara, 1990—sebuah buku yang dilarang beredar di masa diktatur Jenderal Harto berkuasa), kolusi ini disebut Kolusi “Ali-Baba”. Istilah “Ali” untuk menyebut para penguasa dan birokrat pribumi (sipil dan militer) yang berwenang membuat undang-undang dan peraturan,  sedang istilah “Baba” digunakan untuk menyebut para pengusaha besar di Indonesia yang memang didominasi pengusaha sipit.


Ali-Baba ini selalu berkolusi, bersimbiosis-mutualisma, dan menipu rakyat banyak demi kepentingan kelompok mereka sendiri. “Ali” membuat undang-undang dan peraturan agar “Baba” bisa leluasa dan bebas berusaha di sini.


Pada awalnya, birokrasi seperti yang dicita-citakan Max Weber, dibentuk untuk menyelesaikan suatu tugas seefektif dan seefisien mungkin. Namun di dalam prakteknya, birokrasi yang memang diberi kewenangan besar ini kemudian tumbuh menjadi satu kelompok tersendiri di dalam masyarakat yang malah menggunakan kewenangannya untuk mengeruk keuntungan finansil bagi diri dan keluarganya sendiri. Setiap urusan dinilai dengan sedikit-banyaknya keuntungan finansil yang bisa dikeruk. Semakin besar keuntungan finansil yang akan didapat, maka urusan akan lebih cepat selesai, ini juga berlaku sebaliknya.


Sosiolog Arief Budiman yang sudah lama mukim di Australia dalam salah satu bukunya “Krisis Tersembunyi Dalam Pembangunan, Birokrasi-Birokrasi Pembangunan” (1988, h.386-387) menulis, “…tumbuh kelas birokrat yang menguasai pebagai institusi pemerintahan. Beberapa ahli menyebut sebagai kelompok ‘Birokrat Kapitalis’. Yang disebut sebagai kelas birokrat-kapitalis adalah kelompok birokrat yang menggunakan kekuasaan birokrasinya untuk melakukan akumulasi modal, biasanya untuk kepentingan pribadinya.” Istilah Kapitalis-Birokrat ini pernah berjaya di Indonesia di tahun 1960-an (Kapbir) dan ironisnya malah disosialisasikan oleh PKI, untuk menghantam elit negara yang korup. Faktanya, Kapbir ini semakin banyak di negeri ini sekarang dan sebab itu ada istilah baru “Korupsi Gotong-Royong”.


Kolusi antara “Ali dan Baba” ini menyebabkan mereka tumbuh menjadi satu kelas elit negara, satu kelas masyaakat yang kaya raya, sejahtera, dan kehidupan serta kesadarannya teralienasi (terasing) dari rakyat kebanyakan yang tetap dalam kemiskinan dan kemelaratan. Mereka hanya memerlukan rakyat banyak jika hal itu akan mendatangkan keuntungan bagi kelompoknya, semisal lima tahun sekali dalam apa yang mereka sebut sebagai “Pesta Demokrasi”. Setelah itu, rakyat tidak lagi diperlukan dan dicampakkan. Penipuan massal dan dusta lewat berbagai media massa yang dikuasainya adalah senjata kelompok penguasa untuk bisa menipu rakyat banyak.


Sebab itu mereka sangat berkepentingan agar rakyat banyak tetap dalam kebodohan, tetap dalam ketololannya, tetap dalam ketaklidannya, agar semua yang sebenarnya dilakukan mereka, merampok uang rakyat, tidak digugat oleh rakyat. Rakyat banyak harus tetap dibuat bodoh, agar bisa terus menjadi pendukung setia mereka. Dalam hal ini titel kesarjanaan tidaklah penting, karena bisa jadi seorang sarjana tetap “jahil” dalam bidang politik, atau jahil dalam memenuhi suara hati nuraninya. Sebab itu ada peribahasa dalam bahasa Perancis, “La Republique n’a pas besain de savants”, Republik tidak membutuhkan ilmuwan.


Kapitalisme yang tumbuh di Indonesia, yang berangkat dari KKN antara “Ali dan Baba” merupakan Kapitalisme Semu, yang dalam bahasa Yoshihara disebut sebagai Ersatz-Capitalism. Indonesia menjadi ladang yang sangat subur bagi kapitalisme jenis ini sampai sekarang. Gerakan reformasi hanya menumbangkan seorang Harto namun memunculkan Harto-Harto baru, dan jauh lebih serakah, lebih buas, dan lebih tidak berkarakter.(bersambung/ridyasmara)  


(read more ...)




Oleh Al Ustadz Ari Wahyudi


Ibnu al-Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitabnya Bada’i al-Fawa’id [3/743], “Tatkala mata telah mengalami kekeringan disebabkan tidak pernah menangis karena takut kepada Allah ta’ala, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya keringnya mata itu adalah bersumber dari kerasnya hati. Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.”



Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar terlindung dari hati yang tidak khusyu’, sebagaimana terdapat dalam hadits, “Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari hawa nafsu yang tidak pernah merasa kenyang, dan dari doa yang tidak dikabulkan.” (HR. Muslim [2722]).


Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu? Apakah keselamatan itu?”. Maka Nabi menjawab, “Tahanlah lisanmu, hendaknya rumah terasa luas untukmu, dan tangisilah kesalahan-kesalahanmu.” (HR. Tirmidzi [2406], dia mengatakan; hadits hasan. Hadits ini disahihkan al-Albani dalam Shahih at-Targhib [2741]).


Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah mengatakan [al-Bidayah wa an-Nihayah, 10/256], “Segala sesuatu memiliki ciri, sedangkan ciri orang yang dibiarkan binasa adalah tidak bisa menangis karena takut kepada Allah.”


Di antara sebab kerasnya hati adalah :


* Berlebihan dalam berbicara

* Melakukan kemaksiatan atau tidak menunaikan kewajiban

* Terlalu banyak tertawa

* Terlalu banyak makan

* Banyak berbuat dosa

* Berteman dengan orang-orang yang jelek agamanya


Agar hati yang keras menjadi lembut

Disebutkan oleh Ibnu al-Qayyim di dalam al-Wabil as-Shayyib [hal.99] bahwa suatu ketika ada seorang lelaki yang berkata kepada Hasan al-Bashri, “Wahai Abu Sa’id! Aku mengadu kepadamu tentang kerasnya hatiku.” Maka Beliau menjawab, “Lembutkanlah hatimu dengan berdzikir.”


Sebab-sebab agar hati menjadi lembut dan mudah menangis karena Allah antara lain :


* Mengenal Allah melalui nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan-Nya

* Membaca al-Qur’an dan merenungi kandungan maknanya

* Banyak berdzikir kepada Allah

* Memperbanyak ketaatan

* Mengingat kematian, menyaksikan orang yang sedang di ambang kematian atau melihat jenazah orang

* Mengkonsumsi makanan yang halal

* Menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat

* Sering mendengarkan nasehat

* Mengingat kengerian hari kiamat, sedikitnya bekal kita dan merasa takut kepada Allah

* Meneteskan air mata ketika berziarah kubur

* Mengambil pelajaran dari kejadian di dunia seperti melihat api lalu teringat akan neraka

* Berdoa

* Memaksa diri agar bisa menangis di kala sendiri


[diringkas dari al-Buka min Khas-yatillah, hal. 18-33 karya Ihsan bin Muhammad al-Utaibi]


Tidak mengamalkan ilmu, sebab hati menjadi keras

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Disebabkan tindakan (ahli kitab) membatalkan ikatan perjanjian mereka, maka Kami pun melaknat mereka, dan Kami jadikan keras hati mereka. Mereka menyelewengkan kata-kata (ayat-ayat) dari tempat (makna) yang semestinya, dan mereka juga telah melupakan sebagian besar peringatan yang diberikan kepadanya.” (QS. Al-Maa’idah : 13).


Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 225)


*www.salafiyunpad.wordpress.com

(read more ...)




Berikut ini adalah nasihat seorang sahabat yang beliau sampaikan pada kolom komentar di blog ini. Sungguh, nasihat beliau sangat berharga bagi kita, oleh karena itu, pada artikel kali ini, akan ana tampilkan nasihat beliau, semoga bermanfaat bagi semuanya. Sebuah nasihat yang ditulis oleh Akhiy fillah Abu Mushlih Ari Wahyudi.



Diriwayatkan dari Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, dan perkara yang haram juga jelas. Dan di antara keduanya terdapat hal-hal yang samar dan meragukan. Banyak orang yang tidak mengetahuinya. Barangsiapa yang menjaga dirinya dari hal-hal yang samar dan meragukan itu maka niscaya akan terpelihara agama dan harga dirinya. Dan barangsiapa yang nekad menerjang hal-hal yang samar dan meragukan itu maka dia terjerumus dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana halnya seorang penggembala yang menggembalakan hewannya di sekitar daerah larangan, hampir-hampir saja dia memasukinya. Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila daging itu baik maka baiklah seluruh anggota badan. Dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh anggota badan. Ketahuilah segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599]).


Makna qalb

Dalam bahasa Arab jantung disebut ‘qalb’, terkadang kata ‘qalb’ juga dipakai untuk menyebut akal (lihat Al-Mu’jam Al-Wasith, 2/753). Al-Farra’ -seorang pakar bahasa Arab- mengatakan bahwa makna qalb dalam ayat (yang artinya), “Bagi orang yang memiliki qalb.” (QS. Qaf : 37) ialah akal (kamus Mukhtar Ash-Shihah, alwarraq.com). Dalam terjemah Al-Qur’an ke bahasa Indonesia yang di tas-hih oleh Departemen Agama ‘qalb’ diartikan sebagai ‘hati’ (lihat Al-Qur’an dan Terjemahnya, hal. 520. Penerbit Syaamil). Wal hasil, di dalam Al-Qur’an Allah menyatakan bahwa akal itu letaknya di dalam hati.


An-Nawawi rahimahullah mengatakan (Syarh Muslim, 6/108-109), “Di dalam hadits ini terdapat penegasan agar (manusia) berupaya memperbaiki hati serta menjaganya dari kerusakan. Sekelompok ulama berargumen dengan hadits ini untuk menyatakan bahwa akal terletak di dalam hati bukan di kepala (otak), dan dalam hal ini terdapat khilaf yang masyhur. Pendapat para ulama madzhab kami (madzhab Syafi’i) dan mayoritas mutakallimin menyatakan bahwa akal terletak di dalam hati.” Pendapat serupa juga disampaikan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dengan menyebutkan dalil-dalilnya ketika menjelaskan kandungan hadits ini (lihat Fath Al-Bari, 1/158).


Hati yang hidup, mati, dan sakit

Untuk memperjelas hal ini, marilah kita simak penuturan Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah berikut ini. Beliau mengatakan (Syarh Al-’Aqidah Ath-Thahawiyah, tahqiq Al-Albani, hal. 274-275), “Ketahuilah, sesungguhnya hati bisa hidup dan bisa mati, bisa sakit dan bisa sehat. Hati merupakan unsur (non-fisik) yang paling agung di dalam tubuh. Allah ta’ala berfirman (yang artinya, “Apakah sama antara orang yang dahulunya mati kemudian Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya untuk berjalan di antara manusia, dengan orang yang senasib dengannya namun tetap terkungkung di dalam kegelapan dan tidak bisa keluar darinya.” (QS. Al-An’aam : 122). Maksudnya orang tersebut sebelumnya mati karena tenggelam dalam kekafiran, kemudian Kami (Allah) pun menghidupkan jiwanya dengan iman.”


Beliau melanjutkan, “Hati yang sehat dan hidup apabila disodori kebatilan dan perkara-perkara yang buruk maka nalurinya akan mendorong untuk menjauhi hal itu dan membencinya serta tidak mau memperhatikannya. Berbeda keadaannya dengan hati yang mati. Hati yang mati tidak mampu membedakan baik dan buruk. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Celakalah orang yang tidak memiliki hati yang dapat mengenal perkara ma’ruf dan mungkar.” Begitu pula halnya hati yang sakit karena terjangkit syahwat. Maka hati (yang sakit) semacam itu -karena kelemahannya- akan condong kepada kebatilan dan keburukan yang disodorkan kepadanya bergantung pada kuat-lemahnya penyakit tersebut.” (hal. 275)


Dua macam penyakit hati

Kemudian Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah memaparkan, “Penyakit hati ada dua macam, sebagaimana yang telah disinggung di depan : penyakit syahwat (keinginan yang terlarang) dan penyakit syubhat (penyimpangan cara berpikir). Penyakit yang paling buruk di antara keduanya adalah syubhat, dan syubhat yang paling buruk adalah yang terkait dengan masalah takdir. Terkadang hati itu menderita sakit dan semakin bertambah parah namun orangnya tidak menyadari hal itu. Hal itu bisa saja terjadi karena dia tidak mau mengenali hakikat kesehatan hatinya dan sebab-sebab untuk menjagaya. Bahkan terkadang hati seseorang mati namun dia tidak menyadari kematiannya. Ciri yang menunjukkan keadaan itu adalah tatkala [1] dosa yang timbul akibat melakukan perbuatan buruk/maksiat tidak bisa lagi membuat hatinya terluka, begitu pula [2] ketika kebodohannya terhadap kebenaran dan ketidak mengertiannya mengenai aqidah yang keliru sudah tidak terasa menyakitkan baginya. Sebab apabila hati masih hidup tentu akan bisa merasakan sakit karena mengalirnya sesuatu yang buruk (dosa) kepadanya, dan merasa sedih dan terluka akibat kebodohan dirinya terhadap kebenaran, dan besarnya rasa sakit itu bergantung pada kadar kehidupan yang ada padanya. (Sebagaimana dikatakan oleh penyair), “Luka yang bersarang di tubuh mayit, tentu tidak lagi menyakitinya.”.” (hal. 275)


Tidak mengamalkan ilmu, sebab hati menjadi keras

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Disebabkan tindakan (ahli kitab) membatalkan ikatan perjanjian mereka, maka Kami pun melaknat mereka, dan Kami jadikan keras hati mereka. Mereka menyelewengkan kata-kata (ayat-ayat) dari tempat (makna) yang semestinya, dan mereka juga telah melupakan sebagian besar peringatan yang diberikan kepadanya.” (QS. Al-Maa’idah : 13).

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa kerasnya hati ini termasuk hukuman paling parah yang menimpa manusia (akibat dosanya). Ayat-ayat dan peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dia tidak merasa takut melakukan kejelekan, dan tidak terpacu melakukan kebaikan, sehingga petunjuk (ilmu) yang sampai kepadanya bukannya menambah baik justru semakin menambah buruk keadaannya (lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 225)


Berjuang melawan penyakit

Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi rahimahullah mengatakan dalam Syarahnya, “Terkadang orang merasakan penyakit yang bersarang di dalam hatinya, namun dia mau menahan rasa pahit yang sangat karena menelan obat dan berusaha tetap sabar untuk menyembuhkan dirinya. Maka dia lebih menyukai merasa sakit karena proses pengobatan yang harus dijalaninya begitu susah (daripada membiarkan penyakitnya terus menjalar). Sesungguhnya obat untuk penyakit hati adalah dengan berjuang menyelisihi hawa nafsu. Padahal perkara itu -menyelisihi nafsu- adalah sesuatu yang sangat sulit dan berat bagi jiwa manusia. Namun, memang tidak ada obat lain yang lebih manjur daripada obat itu. Terkadang, ketika berusaha untuk melatih jiwanya untuk sabar kemudian ternyata tekadnya memudar di tengah jalan sehingga hal itu membuatnya tidak mau lagi bertahan; karena begitu lemah ilmu, keyakinan, dan kesabaran dirinya. Hal itu sebagaimana halnya orang yang berusaha menempuh suatu jalan menuju daerah yang aman namun jalan itu diliputi dengan hal-hal yang menakutkan. Padahal si penempuh jalan itu pun menyadari bahwa apabila dia mau bersabar niscaya rasa takut itu akan lenyap dan berakhir dengan rasa aman. Untuk itulah dia memerlukan kekuatan sabar dan keyakinan yang kokoh terhadap tujuan yang akan dicapai. Kapan saja sabar dan keyakinannya melemah, maka dia akan berputar haluan meninggalkan jalan itu dan tidak mau repot-repot merasakan beratnya kesulitan yang ada di sana. Apalagi jika tidak ada teman (baik) yang menyertainya sehingga dia merasa gentar berjalan sendirian (di atas kebenaran), maka dia pun mengeluh, “Di manakah orang-orang (baik) itu, di saat aku membutuhkan mereka; sehingga aku bisa meniru mereka!”. Inilah keadaan yang menimpa kebanyakan orang, dan itulah penyebab kehancuran mereka. Sesungguhnya orang yang benar-benar sabar dan tulus tidak akan merasa gentar hanya karena sedikitnya teman ataupun karena kehilangan kawan; hal ini akan bisa dia rasakan ketika hatinya senantiasa merasakan kebersamaan (persahabatan) dengan generasi yang pertama, yaitu (sebagaimana makna firman Allah), “Orang-orang yang diberikan kenikmatan oleh Allah yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang-orang salih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisaa’ : 69)….” (hal. 275)


Beliau kembali menuturkan, “Tanda sakitnya hati adalah ketika dia berpaling dari mengkonsumsi asupan gizi yang bermanfaat dan cocok (bagi kesehatan hatinya) menuju asupan-asupan yang berbahaya, serta ketika dia berpaling meninggalkan obat yang manjur kepada obat yang membahayakannya. Maka di sini ada empat perkara : [1] asupan yang bermanfaat, [2] obat yang menyembuhkan, [3] asupan yang membahayakan, dan [4] obat yang membinasakan. Hati yang sehat akan memilih sesuatu yang bermanfaat dan menyembuhkan daripada sesuatu yang berbahaya dan menyakiti. Sedangkan hati yang sakit justru sebaliknya. Asupan paling bermanfaat adalah asupan iman, sedangkan obat paling bermanfaat adalah obat Al-Qur’an, dan masing-masing dari keduanya (iman dan Al-Qur’an) juga menyimpan asupan sekaligus obat. Sehingga orang yang menginginkan kesembuhan dengan selain (bimbingan) Al-Kitab dan As-Sunnah, maka dia tergolong ajhalul jaahiliin (orang yang paling bodoh) dan termasuk deretan adhalludh dhaalliin (orang yang paling sesat)…” (hal. 276).


Menimba ilmu, jalan untuk mendapatkan obat

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Menuntut ilmu termasuk amal kebaikan yang paling utama, sedangkan kebaikan-kebaikan itu akan melenyapkan kejelekan. Maka sangat layak jika menuntut ilmu karena mengharapkan wajah Allah menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa yang telah lalu. Dalil-dalil menunjukkan bahwa mengikuti kejelekan dengan kebaikan akan dapat menghapuskan kejelekan. Lantas bagaimanakah lagi dengan suatu amal yang tergolong kebaikan paling utama dan ketaatan yang paling mulia! Diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu, beliau pernah berkata, “Sesungguhnya ada seorang yang keluar dari rumahnya sedangkan dia menanggung dosa yang banyak sebagaimana bukit Tihamah, tatkala dia mendengar ilmu (disampaikan) maka dia pun merasa takut, kembali (taat) dan bertaubat. Maka pulanglah dia ke rumahnya dalam keadaan bersih dari dosa. Oleh sebab itu janganlah kalian memisahkan diri dari majelis para ulama.” (Al-’Ilmu, fadhluhu wa syarafuhu, hal. 80).


*Salafiyunpad.wordpress

(read more ...)




oleh Dzikrullah *


Oleh-oleh isteriku dari Melbourne itu sederhana, tapi mengesankan. Kaos yang dibuat oleh IISNA, Islamic Information and Service Network of Australia, itu pesannya sesuatu yang sudah jelas, dan difahami ratusan juta Muslimin Indonesia sejak kanak-kanak. Tapi berapa orang dari kita yang pernah mengatakannya kepada teman-teman kita penganut agama Kristen? Bahwa Jesus alias Nabi Isa As. adalah seorang Muslim, inti ajaran yang dibawanya sama dengan yang dibawa Nabi Muhammad Saw. yaitu tauhid, menolak penyembahan dan pengabdian selain kepada satu Ilah.


Penyimpangan terjadi setelah dirinya diangkat oleh Allah Swt. Beberapa muridnya berkompromi dengan Paulus --orang yang selama hidupnya sama sekali tak pernah berjumpa Jesus--, yang tadinya sangat anti-ajaran Jesus tapi kemudian berbalik jadi penda’wah utama ajaran Kristen. Catatan-catatan pribadinya bahkan kini jadi bagian penting kitab suci Kristen (Bible).


Pauluslah yang mengakomodasi kepercayaan pagan Romawi --bahwa tuhan lebih dari satu, dan menyepakati tiga unsur tuhan yang merupakan kesatuan (trinitas): tuhan Bapa, tuhan anak (Jesus), dan roh kudus. Distorsi ini kemudian mencapai puncaknya, ketika Kaisar Konstantin Agung, raja superpower Romawi waktu itu, menyelenggarakan Konsili Nicea tahun 325 M. Kongres besar Kristen ini memilih teologi Paulus sebagai teologi resmi Gereja, dan menganggap semua aliran Kristen yang lain sebagai heresy (kekafiran). Di Konsili ini, aspek-aspek Ketuhanan Jesus diputuskan lewat pemungutan suara (voting).


Tahun 392 M Kaisar Theodosius mengeluarkan Edict of Theodosius, yang meresmikan Kristen sebagai agama negara bagi Kekaisaran Romawi. Ketika Kristen secara resmi jadi agama Romawi --yang dicampur-aduk dengan paganisme, resmi pulalah penyelewengannya dari ajaran tauhid Jesus.


Kaos itu sebuah cara sederhana untuk mendudukkan perkara sebenarnya dari pandangan Islam. Jesus adalah nabi. Telah mendahului sebelum dia nabi-nabi lain yang diutus Allah Swt. dengan pesan yang sama: mengingatkan kembali siapa manusia, siapa Penciptanya, dan bagaimana manusia bersikap tahu diri kepada Penciptanya.


Ngomong-ngomong tentang Jesus, ada berita di harian The Washington Post yang menggelikan. Evangelis terkenal Jerry Falwell yang berteman dekat dengan Presiden W Bush bilang begini, “Rakyat di kawasan itu (Aceh) belum pernah mendengar nama Jesus disebut, jadi tak ada salahnya misionaris menyebarkan ajaran Bible sambil membawa bantuan kemanusiaan.” Ia menanggapi kritik terhadap gerakan Kristenisasi di balik bantuan bagi korban Tsunami di Aceh. Lucunya, wartawan penulis berita itu sendiri yang membantah Falwell, “Tidak benar itu. Sebagai Muslim orang Aceh sudah mengenal Jesus karena nama itu tertera di dalam al-Quran bahkan sejak mereka mempelajarinya di waktu kecil.” Di dalam al-Quran, nama Nabi Isa As. alias Jesus disebut jauh lebih banyak daripada nama Nabi Muhammad Saw.


Yang sering lupa justeru umat Muslim sendiri, bahwa salah satu misi utama Islam adalah meluruskan berbagai ajaran yang bengkok, terutama pada kaum yang menamakan dirinya Yahudi dan Nasrani. Al-Ikhlash yang bagi banyak orang sering biasa disebut surat “Qulhu” turun di masa-masa sangat awal kenabian Muhammad, sudah menohok ulu hati teologi yang menyimpang itu, “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan...” Tapi, untuk sekedar menjelaskan kebengkokan itu kepada teman-teman Kristen pun umat Muslim Indonesia cenderung enggan. Sebagian karena nggak mau ribut, sebagian karena memang nggak tahu harus bicara apa, karena tak cukup percaya diri.


Jadi, jika kini umat Muslim Indonesia ---khususnya yang bekerja membantu Aceh-- tak bersikap jelas menghadapi Kristenisasi lewat bantuan kemanusiaan, ya wajar saja.


Di Pulau Aceh, di seberang Pulau We di mana Sabang berada, Catholic Relief Service (CRS) kabarnya sudah mendapat lampu hijau langsung dari Presiden SBY, untuk menangani pembangunan lebih dari 100 rumah penduduk. Lobinya lewat Menkokesra Alwi Shihab. Pulau itu konon sudah lama dikenal sebagai salah satu basis gerakan separatis. Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah naik helikopter, mengunjungi daerah-daerah terpencil Aceh, dipandu oleh dua orang petugas dari Obor Berkat Indonesia (OBI), organisasi yang rajin membungkus obat dengan kantong plastik bertuliskan pesan-pesan gereja. Lebih dari 70 LSM dari Vatikan ditenteng mendarat oleh dubesnya sendiri masuk ke pedalaman garis pantai Aceh Barat siap mendirikan sekolah-sekolah. Truk-truk logistik World Vision beroda 12 merajai jalan-jalan Banda Aceh.


Apakah rakyat Aceh diam saja, karena mereka sedang butuh bantuan? Tidak. Di lapangan kita mulai mendengar berbagai keresahan mereka, tapi camat dan bupati yang jadi tuan rumah sedang berperan sebagai diplomat. Di satu sisi mereka harus mendengarkan kegelisahan rakyat, di sisi lain mereka tak mau dibilang ‘fanatik’ oleh atasannya. Sedangkan kita sedang menunggu bom waktu. Jika pemerintah menganggap “tidak ada masalah” dengan berbagai gerakan Kristenisasi itu, berarti pemerintah secara tidak langsung sedang mendiamkan proses menuju terjadinya insiden-insiden yang akan punya daya tarik internasional.


Logika sehatnya, kehadiran orang-orang misi Kristen di Aceh --sebuah negeri Muslim, justeru kesempatan bagi rakyat Aceh meluruskan kebengkokan ajaran iman mereka. Di Afghanistan dan Iraq itulah yang terjadi. Ribuan tentara Amerika yang ditugaskan menduduki negeri-negeri Muslim malah bersyahadat sejak Perang Teluk I, Perang Afghanistan, dan Perang Teluk II.


Anda ingat wartawan Inggris Yvonne Ridley, yang disandera oleh pasukan Taliban beberapa pekan sebelum AS menyerang negeri miskin itu akhir 2001? Selama sepuluh hari ditahan Taliban, Yvonne ngamuk hampir tak berhenti. Caci-maki berupa kata-kata kotor diteriakkannya kepada pemuda-pemuda bersurban hitam. Makanan yang diberikan kepadanya dilemparkan ke wajah pemuda-pemuda bergamis itu. Tak sekalipun mereka membalas amukan Yvonne. Beberapa pekan setelah dibebaskan dan berada di London, Yvonne malah bersyahadat. Untuk korban Tsunami di Aceh, Yvonne memandu sebuah lelang amal live di televisi bagi ICR (Indonesian Children Relief) dan Muslim’s Hand, organisasi bantuan kemanusiaan Muslim di negeri itu. Seorang pria menyumbangkan mobil Mercedes Benz lewat Yvonne.


Tapi kenapa logika sehat yang terjadi di Iraq dan Afghanistan tidak berlaku di Aceh? Kenapa hati kita dilanda kecemasan serius akan aqidah rakyat Nanggroe Aceh Darussalam, yang oleh bangsa kita dikenal kuat berpegang pada Islam? Sejujurnya, itu karena kita melihat dengan mata sendiri, pelan-pelan Islam tak lagi terlihat begitu kental di jalan-jalan Aceh. Gadis-gadis Aceh sudah tak segan lagi menonjolkan auratnya, bahkan bertempelan badan dengan lelaki yang bukan muhrimnya, di atas motor dan di pasar-pasar. Getar suara adzan sudah tak lagi mengundang cukup banyak orang untuk datang ke masjid. Rokok dan kopi jauh lebih mengasyikkan bagi lelaki Aceh ketimbang mengirup segarnya al-Quran. Demikian, kata sahabat-sahabatku orang Aceh sendiri. Dan sejujurnya juga, dalam hal-hal itu, bukan hanya Aceh tetapi diri kita sendiri di luar Aceh pun patut kita cemaskan.


* Kolumnis hidayatullah.com


(read more ...)




Penelitian menunjukkan, madu terbukti dapat menyembuhkan infeksi kulit. Al-Quran menjadikannya sebagai nama salah satu Surat



Hidayatullah.com--Penelitian dari Unit Penelitian Madu Waikato, di Universitas Waikato, Selandia Baru, belum lama ini menunjukkan sekelumit rahasia keajaiban madu pada luka. Hasil penelitian mengkonfirmasikan bahwa madu telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Lebih manjur dibandingkan dengan antibiotik dan bebas dari efek samping.



Petrus Molan, Ph.D., profesor biokimia, Ketua Unit Penelitian Madu Waikato, menceritakan tentang seorang pasien dengan luka yang telah dideritanya selama 20 tahun. Ia terkena infeksi semacam bakteri yang kebal terhadap antibiotik.



Pasien perempuan berkewarganegaraan Inggris itu pada bagian ketiaknya secara terus-menerus mengeluarkan nanah dalam jangka waktu lama. Seakan-akan penyakitnya sulit untuk sembuh.



Di bulan Agustus 1999, dia membaca artikel tentang penyembuhan luka dengan madu. Dia mendesak dokternya mempergunakan madu sebagai obat untuk lukanya, dan sebulan  kemudian lukanya telah sembuh total. Dia telah dapat bekerja lagi sejak saat itu.



Dalam tes lain, ilmuwan menggunakan berbagai variasi madu terkenal, seperti misalnya madu manuka dari Selandia Baru dan  madu jelly bush dari Australia. Keduanya tersedia untuk tujuan pengobatan; sayangnya rumah sakit jarang menggunakannya.



Penelitian Sydney mengkonfirmasikan bahwa madu dapat secara efektif menggantikan antibiotik pada luka. Seperti kata seorang dokter, "Madu dapat dipertimbangkan sebagai obat alternatif."



Beberapa studi medis, termasuk satu dari para peneliti di Universitas Sydney, madu sudah terbukti kemanjurannya dalam menyembuhkan luka dan mengobati infeksi jika digunakan secara benar.



Para ilmuwan Sydney mengkonfirmasikan sesuatu yang telah dikenal selama ribuan tahun: madu mempunyai berbagai macam khasiat dalam penyembuhan. Beberapa botol "cairan-keemasan" obat mujarab untuk berbagai macam penyakit, telah ditemukan di sebuah makam Pharaoh. (sebuah harta karun ribuan tahun yang lalu, telah ditemukan dalam keadaan masih sangat segar)



Orang-orang Yunani Kuno sepanjang zaman telah menggunakan madu. Sampai Perang Dunia II, madu sebagai penangkal berbagai macam bakteri, telah digunakan dalam perawatan luka. Dengan kedatangan penisilin dan antibiotik lainnya di abad 20, berbagai macam manfaat pengobatan madu mengalami kemunduran. Tetapi itu mungkin akan segera berubah.



Para peneliti Australia telah berhasil menyingkap kemanjuran antimikrobial dari madu. Dr. Shona Blair dari Universitas Pengobatan Sydney telah menemukan bahwa penggunaan madu cair pada sebuah luka berair memproduksi peroksida hidrogen, suatu anti-bakteri yang terkenal.



Kelompok peneliti lebih lanjut telah mendemonstrasikan bahwa madu sangat kuat ketika berhadapan dengan methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA).



Para ilmuwan masih mencoba untuk mendapatkan sumber dari madu pembunuh kuman dan berspekulasi bahwa salah satu dari komponen madu, methylglyoxal, mengubah komponen lain di dalam madu. Dengan demikian dapat mencegah bakteri dari pemicu perkembangan baru, dan madu bersifat daya tahan.



Sejauh ini, riset spesifik mereka telah menggunakan madu lebah yang sering berada di semak pohon teh dan pohon semak belukar dan pohon jenis Leptospermum, yang tumbuh di Australia dan daerah perbatasan.



Madu juga dikenal untuk mengurangi edema. Edema dapat meningkatkan pembusukan luka kulit purpuric, yang mungkin sampai ke kulit necrosis. Madu yang digunakan pada luka kulit meningococcal akan sangat membantu. Laporan tentang efektivitas madu dalam perawatan ganggren (sejenis penyakit luka membusuk), bisa mendapatkan manfaat dalam mengurangi jumlah amputasi dari keracunan darah pada kulit meningococcal.



Ketika digunakan pada luka bakar, madu dapat mengurangi bekas luka. “Saya dapat membuktikan dari pengalaman saya sendiri. Selama tugas saya sebagai tukang, kecerobohan saya kadang muncul mengakibatkan jari tangan saya melepuh berair. Walaupun saya tidak mempunyai madu lebah produk dari semak belukar pohon teh, saya mengoleskan madu fireweed pada bagian yang melepuh. Luka bakar reda dalam beberapa menit, dan pagi berikutnya bagian yang melepuh telah hilang tanpa bekas.



Jangan pernah meremehkan kekuatan penyembuhan yang diperoleh dari alam, seperti cara pengobatan tradisional yang telah teruji oleh waktu --dalam hal penggunaan madu misalnya, yang telah digunakan ribuan tahun. [epoch/ngr/www.hidayatullah.com]

 

(read more ...)




Pada Hari Senin, 13 Juni 2005, pukul 08.30 WIB, dalam acara Good Morning, Trans TV melakukan kampanye legalisasi perkawinan sesama jenis. Ketika itu ditampilkan sosok wanita lesbi bernama Agustin, yang mengaku sudah 13 tahun hidup bersama pasangannya yang juga seorang wanita.


Agustin, yang mengaku menyukai sesama wanita sejak umur 12 tahun,  ditampilkan sebagai sosok yang “tertindas”, diusir oleh keluarganya, pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, gara-gara dirinya seorang lesbi. Kini ia bekerja di LSM Koalisi Perempuan Indonesia. 


Ketika ditanya, mengapa dia berani membuka dirinya, sebagai seorang lesbi, Agustin menyatakan, bahwa dia sudah capek berbohong. Dia ingin jujur dan mengimbau masyarakat bisa memahami dan menerimanya.


Praktik hubungan seksual dan perkawinan sesama jenis, katanya, adalah sesuatu yang baik. Seorang psikolog yang juga seorang wanita (tidak dijelaskan apakah dia lesbi atau tidak) juga menjelaskan bahwa homoseksual dan lesbian bukan praktik yang abnormal, tetapi merupakan

orientasi dan praktik seksual yang normal.  


Acara Trans TV itu tentu saja perlu diberi perhatian serius oleh kaum Muslimin. Sebab, ini merupakan kampanye dan promosi perkawinan sesama jenis yang bersifat massal dan terbuka. Selama ini, banyak TV yang menayangkan acara –baik sinetron, komedi, film– yang secara terselubung berisi kampanye dukungan buat kaum homo.


Hanya saja, biasanya tidak sampai kepada bentuk dukungan terhadap perkawinan sesama jenis.

Setelah acara itu, saya mengirimkan banyak SMS kepada beberapa tokoh Islam di Indonesia. Namun, hampir seminggu ini, belum ada reaksi.


Mungkin tokoh-tokoh Islam sedang sibuk, atau sedang mengalami “kegagapan” menghadapi arus globalisasi dan hegemoni media televisi yang saat ini menjadi “penguasa moral” dan penentu nilai-nilai moral baru di tengah masyarakat.


Salah satu dampak globalisasi adalah lahirnya sikap “ketidakberdayaan” (powerless) yang gagap dan gamang dalam menyikapi kedigdayaan media informasi seperti TV. Kasus Inul, Dewa, dan sebagainya, menunjukkan, bagaimana tokoh-tokoh dan institusi keagamaan yang mencoba melawan kebathilan itu akhirnya justru dihajar habis-habisan, dilecehkan, diperhinakan  oleh sang

penguasa media TV.


Melalui kekuasaannya, sang media mampu mengarahkan opini publik, bahwa yang menolak

praktik-praktik kemaksiatan adalah orang-orang yang naif, emosional, berpikiran sempit, sok moralis, dan sebagainya. 


Lihatlah, hingga kini, berbagai stasiun TV secara bergiliran menampilkan figur Artika Sari Devi, putri Indonesia yang berhasil masuk 15 besar dalam kontes Miss Universe di Bangkok tahun ini. Semua TV memuji Artika sebagai sosok yang sabar menghadapi ujian yang berat –berupa protes-protes sebagian masyarakat– dan telah mengharumkan nama bangsa di dunia internasional.


Orang-orang yang protes keikutsertaan Artika diposisikan sebagai berwawasan sempit, karena

mempersoalkan soal kecil, yaitu masalah “pakaian renang”.


Bahkan, Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, Meutia Hatta secara implisit juga ikut mengakui jasa Artika buat bangsa. Opini publik digiring dengan sangat kuat, untuk mengakui bahwa Artika adalah pahlawan bangsa, sedangkan yang memprotes Artika adalah manusia-manusia picik, naif dan dungu.


Apa yang sedang terjadi saat ini adalah terjadinya penghancuran besar-besaran terhadap nilai-nilai

kebenaran dan kebathilan dalam masyarakat kita.  Jika digunakan teori konspirasi, ternyata hal ini sulit lagi dipetakan. Meskipun sebagian besar pemilik stasiun TV adalah non-Muslim, tetapi ternyata TV yang dimiliki Muslim (seperti Trans TV dan Lativi) juga tidak jauh beda cara berpikir dan berperilakunya dengan stasiun TV yang dimiliki orang non-Muslim.


Tampak yang dominan adalah pola pikir  “materialisme” dan “kapitalisme” yang mengedepankan keuntungan materi. Yang menjadi tolok ukur suatu acara  layak ditayangkan atau tidak di TV, adalah “rating” dan daya tarik iklan.


Kampanye penyesatan, pergeseran, dan  penghancuran nilai-nilai moral tampaknya dirancang dengan sangat canggih. Sebagai contoh dalam kasus Artika. Orang tidak diajak berdiskusi dalam soal substansi tentang nilai manusia, tetapi dibelokkan ke masalah “pakaian  renang.”


Acara-acara kontes kecantikan adalah sebuah bentuk penistaan manusia dan penghancuran tata nilai kemanusiaan. Apa pun alasannya, kontes semacam ini, tetap lebih mementingkan unsur kecantikan fisik yang “given” dari Tuhan. Seorang dihargai karena  cantik, bukan karena prestasi dan usaha kerasnya.


Dalam Islam,  yang paling bertaqwa dinilai yang paling mulia. Tapi, soal pakaian juga bukan soal kecil. Protes terhadap masalah itu juga merupakan hal yang prinsip. Karena dianggap hal penting itulah, maka peserta kontes Miss Universe diwajibkan memakai pakaian renang dalam salah

satu sesi acara.


Kita bertanya, apa hubungannya  kewajiban mengenakan pakaian renang dengan kemuliaan

seorang wanita? Mengapa hal ini tidak diprotes oleh Artika dan pendukungnya? 


Promosi dan kampanye kebatilan semacam ini saat ini berlangsung dari menit ke menit melalui layar TV yang menerobos masuk tanpa permisi ke kamar-kamar masyarakat. Tak terkecuali kampanye legalisasi perkawinan sesama jenis, seperti yang dilakukan Trans TV.


Pemilik dan awak televisi ini seperti tutup mata dan telinga, bahwa apa yang mereka lakukan adalah

sebuah tindakan yang sangat bejat dan biadab, karena telah mempromosikan sebuah kebatilan. Jika mereka muslim, mestinya mereka sadar, bahwa praktik homoseksual dan lesbianisme adalah tindakan bejat.


Di dalam Ensiklopedi Hukum Islam disebutkan bahwa praktik homoseks  merupakan satu dosa besar dan sanksinya sangat berat. Rasulullah saw bersabda, “Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut.” (HR Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaki).


Imam Syafii berpendapat, bahwa pelaku homoseksual harus dirajam (dilempari batu sampai mati) tanpa membedakan apakah pelakunya masih bujangan atau sudah menikah.


Untuk pelaku praktik lesbi (wanita dengan wanita), diberikan ganjaran hukuman kurungan dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya. (QS 4:15). Para fuqaha membedakan hukuman  antara pelaku homoseksual (sesama laki-laki) dengan lesbian (sesama wanita). Pelaku lesbi tidak dihukum mati.


Dalam Kitab Fathul Mu’in –kitab fiqih yang dikaji di pesantren-pesantren Indonesia--  dikatakan, bahwa pelaku lesbi (musaahaqah) diberi sanksi sesuai dengan keputusan penguasa (ta’zir).


Jadi, bagaimana pun, homoseksual dan lesbian adalah sebuah praktik kejahatan kriminal,

dan tidak patut dipromosikan apalagi dilegalkan. 


Dalam agama Kristen pun, homoseksual masih tetap dipandang sebagai kejahatan. Paus saat ini, Benediktus XVI, dikenal sebagai penentang gigih praktik homoseksual, meskipun dia sendiri tidak menikah.


Dalam Kitab Imamat (Leviticus) 20:13, disebutkan: “Bila seorang  laki-laki tidur dengan laki-laki secara orang bersetubuh dengan perempuan, jadi keduanya melakukan suatu kekejian, pastilah mereka dihukum mati dan darah mereka tertimpa kepada mereka sendiri.” 


Karena itu, kita tidak habis mengerti, mengapa sebuah stasiun TV, seperti Trans-TV berani-beraninya mempromosikan sebuah kejahatan, berupa homoseksual dan lesbianisme. Keuntungan apakah yang mereka raup dari promosi kejahatan seperti ini?


Yang masih kita syukuri, saat itu, TransTV tidak menampilkan orang-orang sekular-liberal dari kalangan agama tertentu yang melegalisasi praktik semacam itu.


Di dunia Kristen, sudah lazim ditemukan tokoh-tokoh agama Kristen yang menghalalkan homoseksual atau bahkan yang secara terang-terangan menjalankan praktik homoseksual. Kita masih ingat, bagaimana pada tanggal 2 November 2003, dunia Kristen diguncang hebat oleh

satu peristiwa dilantiknya Gene Robinson, seorang gay, sebagai Uskup Gereja Anglikan di New Hampshire, Amerika Serikat.


Posisi yang ditempati Robinson merupakan jabatan tertinggi yang pernah dicapai oleh

seorang gay di lingkungan Gereja.  


Robinson (56 tahun) adalah pelaku homoseksual yang telah hidup bersama dengan pasangan homoseks-nya bernama Mark Andrew, selama 14 tahun. Bisa dibayangkan, selama ia menjadi tokoh gereja pun, sebenarnya publik telah mengatahui perilakunya.


Dalam acara penobatannya sebagai Uskup, Mark Andrew-lah yang menyerahkan topi keuskupan (bishops miter) kepada Robinson. Di akhir upacara penobatannya, Gene Robinson

menatap publik, dan bersama-sama mereka menyanyikan lagu "Hallelujah".


Itu terjadi di dunia Kristen. Di kalangan Islam, bahkan di lingkungan pendidikan tinggi Islam, juga

sudah muncul kondisi serupa. Sejumlah akademisi Islam yang belajar Islam di IAIN memberikan legitimasi terhadap perkawinan sejenis.


Tahun 2004 lalu, “Jurnal Justisia” terbitan Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, menulis “cover story” dengan judul  “Indahnya Kawin Sesama Jenis”.  Isi jurnal ini kemudian juga disebarkan melalui sebuah media internet (www.indoqueer.com).


Dari delapan artikel utama yang membahas isu tersebut, semuanya menyuarakan keberpihakannya terhadap pernikahan gay dan homoseksualitas secara umum, kecuali satu tulisan saja yang dengan tegas mengharamkannya. 

 


Dikatakan di Jurnal ini, bahwa “Hanya orang primitif saja yang yang melihat perkwinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.


Jika dulu Tuhan mengutus Luth untuk menumpas kaum homo karena mungkin bisa menggagalkan proyek Tuhan dalam menciptakan manusia (karena waktu itu manusia masih sedikit)?”


M Kholidul Adib Ach yang menulis artikel berjudul "Agama Peduli Homoseksual: Membebaskan Kaum Homoseksual dari Penindasan Agama", berpendapat begini: “Pengharaman nikah sejenis adalah bentuk kebodohan umat Islam generasi sekarang karena ia hanya memahami doktrin agamanya secara given, taken for granted, tanpa ada pembacaan ulang secara kritis atas

doktrin tersebut.”


Menurut pemimpin redaksi Jurnal Justisia ini,  pembacaan yang dilakukan umat sekarang atas kisah kaum Luth hanya sebatas permukaan dan tidak membaca "narasi yang tak tampak".


Katanya, "Boleh jadi cerita kaum Luth ini, kalaupun benar adanya, jangan-jangan malah

cuma mitos, terdapat kepentingan politik Luth terhadap seseorang yang kebetulan homoseks."


Senada dengan Kholidul Adib, penulis lain bernama Sumanto al-Qurtuby yang juga redaktur eksekutif Justisia mengkritisi kisah yang sama dengan pertanyaan, andaikan kisah Luth itu "historis", apakah homoseksualitas merupakan unsur utama atau komplemen saja?


Qurtuby memberi ilustrasi dengan menyebut kisah perseteruan mantan PM Mahathir

Muhammad dengan Anwar Ibrahim di Malaysia: sebuah kisah pertandingan politik yang dibungkus dengan isu sodomi. 


Jika kita ikuti wacana dan perdebatan tentang homoseksual yang diangkat sebagian mahasiswa IAIN Semarang ini, nyaris sama dengan wacana serupa di kalangan Kristen.


Dalam kasus homoseksual, para teolog Kristen pendukung homoseksual juga berlomba-lomba membuat tafsiran baru, agar praktik maksiat itu disahkan oleh Gereja. Dalam Bible, Kitab Kejadian 19:4-11, diceritakan tentang hukuman Tuhan terhadap kaum Sodom dan Gomorah.


Pada umumnya, kaum Kristen memahami, bahwa homoseksual adalah penyebab kaum itu dihancurkan oleh Tuhan. Sehingga mereka mempopulerkan istilah Sodomi yang menunjuk pada praktik maksiat antar sesama jenis.


Tetapi, sebagian teolog Kristen pendukung homoseksual kemudian membuat tafsiran lain. John J. McNeill SJ, misalnya,  menulis buku “The Church and the Homosexual” memberikan justifikasi moral terhadap praktik homoseksual. Menurut dia, Tuhan menghukum kaum Sodom dan Gomorah, bukan karena praktik homoseksual, tetapi karena ketidaksopanan penduduk kota itu terhadap Tamu Lot.


Kaum Katolik mendirikan sebuah kelompok gay bernama “Dignity” yang mengajarkan, bahwa

praktik homoseksual tidak bertentangan dengan ajaran Kristus.


Tahun 1976, dalam pertemuan tokoh-tokoh Gereja di Minneapolis, AS, dideklarasikan, bahwa

homosexual persons are children of God.”    


Itulah yang terjadi dalam dunia Kristen. Dan itu pula yang sekarang sedang diusahakan oleh sebagian orang dari kalangan Muslim untuk mengikuti jejak Kristen.


Promosi homoseksual kini terus digencarkan sebagai bagian dari proses sekularisasi dan liberalisasi

Islam. Meskipun secara formal mereka mengaku Islam, para promotor kemunkaran tidak berhenti untuk mempromosikan kebatilan (al-munkar) dan justru aktif mencegah dan melawan kebenaran. Allah sudah mengingatkan akan adanya makhluk-makhluk seperti ini:


Orang-orang munafik laki-laki dan wanita, sebagian mereka dengan sebagian lain adalah sama, mereka menyuruh yang munkar dan melarang yang ma’ruf, dan mereka menggenggamkan tangannya (bakhil). Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS at-Taubah:67).  Wallahu a’lam. (Jakarta, 17 Juni 2005).


 


*www.Hidayatullah.com

(read more ...)



Hidayatullah.com--Bulan Ramadhan akan segera tiba, insya Allah pertengahan bulan Agustus 2009. Itu artinya kita diberi hak istimewa, bukan saja bilangan umur yang kian bertambah, tapi juga belaian kasih Ar-Rahmaan menghampiri kita (lagi) agar bersih jiwa-raga.



Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan rahmat dan keberkatan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, Ramadhan adalah penghulu dari sebelas bulan yang lain. Hanya orang yang kenal keistimewaan Ramadhan saja yang akan suka cita bila Ramadhan akan tiba.



Jelas, kita harus mempersiapkan diri baik-baik guna menyambutnya. Bagaimana caranya? Langkah-langkah berikut ini barangkali bisa membantu.



1. Mengulangi kembali pelajaran-pelajaran yang berkaitan dengan puasa. Hendaknya kita memasuki dan menjalani puasa dengan pengetahuan, pedoman-pedoman yang baik, serta pengalaman-pengalaman yang telah lalu. Pelajaran itu bisa seputar rukun, syarat sah, syarat membatalkan, perkara-perkara sunnat dan makruh, dan hikmah yang terkandung di dalamnya.



2. Persiapan ruhani, yaitu menenangkan jiwa dalam menghadapi bulan puasa sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat.



3. Memperbanyak doa, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kesehatan, tenaga, kelapangan, dan kesempatan mengerjakan puasa. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah supaya kita dapat berpuasa dengan hati yang jujur, tulus dan jauh dari riya’, ujub, dan segala penyakit yang menghilangkan pahala puasa.



4. Menguatkan semangat untuk melaksanakan satu bentuk latihan dengan sempurna agar kita memperoleh predikat sebagai muttaqin (orang yang bertaqwa).



5. Siapkan diri untuk menjalankan puasa dengan perkataan dan perbuatan yang baik dengan sepenuh hati serta ikhlas semata-mata karena Allah.



6. Tinggalkan kebiasan-kebiasan yang memberatkan dan merugikan diri, seperti berbelanja berlebihan, tenggelam dalam hiburan, membuang waktu, dan melakukan perbuatan yang tidak mendatangkan faedah. Hal tersebut justru bertentangan dengan hikmah puasa.



7. Sambutlah bulan puasa dengan cita-cita dan azzam (tekad) yang tinggi dengan memperbanyak ibadah, baik siang atau malam. Ini diperlukan untuk melatih diri dan mensucikan jiwa.



8. Ucapkan tahniah kepada saudara seiman. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Nasa’i dari Abi Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah senantiasa menggembirakan para sahabat saat kedatangan bulan Ramadhan. Rasulullah menggembirakan para sahabat dengan sabdanya, ”Sesungguhnya akan datang kepada kamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkati, Allah mewajibkan kamu berpuasa di dalamnya. Pada bulan Ramadhan dibuka pintu-pintu syurga, dikunci semua pintu neraka, dibelenggu semua syaitan. Di malamnya ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang tidak memperoleh kebajikan pada malam itu, berartilah diharamkan baginya segala kebaikan untuk dirinya.”



Semoga dengan rasa kesungguhan dalam menyambut kehadiran Ramadhan, kita bisa sukses dalam menjalankan ibadah puasa. Amin. [Ali Athwa/Sahid/www.hidayatullah.com]

Last Updated ( Tuesday, 04 August 2009 07:35 )

(read more ...)




 





Ada sebuah ayat di dalam Al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa suatu masyarakat sengaja menjadikan ”berhala” tertentu sebagai perekat hubungan antara satu individu dengan individu lainnya. Sedemikian rupa ”berhala” itu diagungkan sehingga para anggota masyarakat yang ”menyembahnya” merasakan tumbuhnya semacam ”kasih-sayang” di antara mereka satu sama lain.  Suatu bentuk kasih-sayang yang bersifat artifisial dan temporer. Ia bukan kasih-sayang yang sejati apalagi abadi. Gambaran mengenai berhala pencipta kasih-sayang palsu ini dijelaskan berkenaan dengan kisah Nabiyullah Ibrahim ’alaihis-salam.


 


وَقَالَ إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ بَيْنِكُمْ


فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ


بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ


“Dan berkata Ibrahim ’alaihis-salam: "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.” (QS Al-Ankabut ayat 25)


 


 


"Berhala-berhala" di zaman dahulu adalah berupa patung-patung yang disembah dan dijadikan sebab bersatunya mereka yang sama2 menyembah berhala patung itu padahal berhala itu merupakan produk bikinan manusia. Di zaman modern sekarang "berhala" bisa berupa aneka isme/ ideologi/ falsafah/ jalan hidup/ way of life/ sistem hidup/ pandangan hidup produk bikinan manusia. Manusia  di zaman skrg  juga "menyembah" berhala-berhala modern tersebut dan mereka menjadikannya sebagai "pemersatu" di antara aneka individu dan kelompok di dalam masyarakat. Berhala modern itu menciptakan semacam persatuan dan kasih-sayang yang berlaku sebatas  kehidupan mereka di dunia saja. Berhala modern itu bisa memiliki nama yang beraneka-ragam. Tapi apapun namanya, satu hal yang pasti bahwa ia semua merupakan produk fikiran terbatas manusia. Ia bisa bernama Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Liberalisme, Nasionalisme atau apapun selain itu.


 


Semenjak runtuhnya tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara ummat Islam 85 tahun yang lalu bangsa-bangsa Muslim di segenap penjuru dunia mulai menjalani kehidupan sosialberlandaskan sebuah faham yang sesungguhnya asing bagi mereka. Faham itu bernama Nasionalisme. Ketika Khilafah Islamiyyah masih tegak dan menaungi kehidupan sosial ummat, mereka menghayati bahwa hanya aqidah Islam Laa ilaha illa Allah sajalah yang mempersatukan mereka satu sama lain. Hanya aqidah inilah yang menyebabkan meleburnya sahabat Abu Bakar yang Arab dengan Salman yang berasal dari Persia dengan Bilal yang orang Ethiopia dengan Shuhaib yang berasal dari bangsa Romawi.  Mereka menjalin al-ukhuwwah wal mahabbah (persaudaraan dan kasih sayang) yang menembus batas-batas suku, bangsa, warna kulit, asal tanah-air dan bahasa. Dan yang lebih penting lagi bahwa ikatan persatuan dan kesatuan yang mereka jalin menembus batas dimensi waktu sehingga tidak hanya berlaku selagi mereka masih di dunia semata, melainkan jauh sampai kehidupan di akhirat kelak. Mengapa? Karena ikatan mereka berlandaskan perlombaan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Hidup lagi Maha Abadi.


 


الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ


 


”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf ayat 67)


 


Orang-orang beriman tidak ingin menjalin pertemanan yang sebatas akrab di dunia namun di akhirat kemudian menjadi musuh satu sama lain. Oleh karenanya, mereka tidak akan pernah mau mengorbankan aqidahnya yang mereka yakini akan menimbulkan kasih-sayang hakiki dan abadi. Sesaatpun mereka tidak akan mau menggadaikan aqidahnya dengan faham atau ideologi selainnya. Sebab aqidah Islam merupakan pemersatu yang datang dan dijamin oleh Penciptanya pasti akan mewujudkan kehidupan berjamaah sejati dan tidak bakal mengantarkan kepada perpecahan dan bercerai-berainya jamaah tersebut.


 


وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا


 


”Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dalam jamaah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS Ali Imran ayat 103)


 


Sewaktu ummat Islam hidup di bawah naungan Syariat Allah dalam tatanan Khilafah Islamiyyah mereka tidak mengenal bentuk ikatan kehidupan sosial selain Al-Islam. Mereka tidak pernah membangga-banggakan perbedaan suku dan bangsa satu sama lain. Betapapun realitas suku dan bangsa memang tetap wujud, tetapi ia tidak pernah mengalahkan kuatnya ikatan aqidah di dalam masyarakat. Sedangkan setelah masing-masing negeri kaum muslimin mengikuti jejak langkah Republik Turki Modern Sekuler, maka mulailah mereka mengekor kepada dunia barat yang hidup dengan membanggakan Nasionalisme masing-masing bangsa. Padahal bangsa-bangsa Barat tidak pernah benar-benar berhasil membangun soliditas sosial melalui man-made ideology tersebut. Akhirnya bangsa-bangsa Muslim mulai sibuk mencari-cari identitas Nasionalisme-nya masing-masing. Mulailah orang Indonesia lebih bangga dengan ke-Indonesiaannya daripada ke-Islamannya. Bangsa Mesir bangga dengan ke-Mesirannya. Bangsa Saudi bangga dengan ke-Saudiannya. Bangsa Turki bangga dengan ke-Turkiannya. Lalu perlahan tapi pasti kebanggaan akan Islam sebagai perekat hakiki dan abadi kian tahun kian meluntur.


 


Sehingga di dalam kitab Fi Zhilalil Qur’an Asy-Syahid Sayyid Qutb rahimahullah menulis komentar mengenai surah Al-Ankabut ayat 25 di atas sebagai berikut:


 


Ia (Ibrahim) ’alaihis-salam berkata kepada mereka (kaumnya), “Kalian menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan selain Allah, yang kalian lakukan bukan karena kalian mempercayai dan meyakini berhaknya berhala-berhala itu untuk disembah. Namun, itu kalian lakukan karena basa-basi kalian satu sama lain, dan karena keinginan untuk menjaga hubungan baik kalian satu sama lain, untuk menyembah berhala ini. Sehingga, seorang teman tak ingin meninggalkan sesembahan temannya (ketika kebenaran tampak baginya) semata karena untuk menjaga hubungan baik di antara mereka, dengan mengorbankan kebenaran dan akidah!”


 


Hal ini terjadi di tengah masyarakat yang tak menjadikan akidah dengan serius. Sehingga, mereka saling berusaha menyenangkan temannya dengan mengorbankan akidahnya, dan melihat masalah akidah itu sebagai sesuatu yang lebih rendah dibandingkan jika ia harus kehilangan teman! Ini adalah keseriusan yang benar-benar serius. Keseriusan yang tak menerima peremehan, santai, atau basa-basi.


 


Kemudian Ibrahim’alaihis-salam menyingkapkan kepada mereka lembaran mereka di akhirat. Hubungan sesama teman yang mereka amat takut jika terganggu karena akidah, dan yang membuat mereka terpaksa menyembah berhala karena untuk menjaga hubungan itu, ternyata di akhirat menjadi permusuhan, saling kecam, dan perpecahan.


 


”...Kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain)....”


 


Hari ketika para pengikut mengingkari orang-orang yang diikutinya, orang-orang yang dibeking mengkafirkan orang-orang yang membekingnya, setiap kelompok menuduh temannya sebagai pihak yang menyesatkannya, dan setiap orang yang sesat melaknat teman yang menyesatkannya!


 


Kemudian kekafiran dan saling melaknat itu tak bermanfaat sama sekali, serta tak dapat menghalangi azab bagi siapapun.


”...Dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolong pun.”


 


Mereka (kaumnya Nabi Ibrahim ’alaihis-salam) pernah menggunakan api untuk membakar Ibrahim ’alaihis-salam, tapi Allah kemudian membela dan menyelamatkan Ibrahim ’alaihis-salam dari api itu. Sementara mereka tak ada yang dapat menolong mereka dan tak ada keselamatan bagi mereka!


 


Saudaraku, marilah kita tinggalkan segala bentuk “berhala modern” yang sadar ataupun tidak selama ini kita “sembah”. Kita jadikan faham selain Islam sebagai sebuah perekat antara satu sama lain, padahal persatuan dan kasih-sayang yang dihasilkannya hanya bersifat fatamorgana.  Marilah hanya AL-ISLAM  yang kita jadikan "faktor pemersatu" yang pasti terjamin akan mempersatukan kita di dunia dan di akhirat.  Al-Islam bukan produk manusia melainkan produk Allah Yg Maha Tahu dan Maha Sempurna pengetahuannya.


 


Sedemikian hebatnya pengaruh Nasionalisme sehingga sebagian orang yang mengaku berjuang untuk kepentingan ummat-pun takluk di bawah ideologi buatan manusia yang satu ini. Betapa ironisnya perjuangan para politisi Islam tatkala mereka rela untuk menunjukkan inkonsistensi-nya di hadapan seluruh ummat demi meraih penerimaan dari fihak lain yang jelas-jelas mengusung Nasionalisme. Seolah kelompok yang mengusung ideologi Islam harus siap mengorbankan apapun demi mendapatkan keridhaan kelompok yang mengusung Nasionalisme. Seolah memelihara persatuan dan soliditas berlandaskan Nasionalisme jauh lebih penting dan utama daripada mewujudkan al-ukhuwwah wal mahabbah (persaudaraan dan kasih sayang) berlandaskan aqidah Islam.


 


Sedemikian dalamnya faham Nasionalisme telah merasuk ke dalam hati sebagian orang yang mengaku memperjuangkan aspirasi politik Islam sehingga rela mengatakan bahwa ”Isyu penegakkan Syariat Islam merupakan isyu yang sudah usang dan tidak relevan.” Tidakkah para politisi ini menyadari bahwa ucapan mereka seperti ini bisa menyebabkan rontoknya eksistensi Syahadatain di dalam dirinya? Dengan kata lain ucapannya telah mengundang virus ke-murtad-an kepada si pengucapnya. Wa na’udzubillahi min dzaalika.


 


Sebagian orang berdalih bahwa jika kita mengusung syiar ”Penegakkan Syariat Islam”  lalu  bagaimana dengan nasib orang-orang di luar Islam? Saudaraku, disinilah tugas kita orang-orang beriman untuk mempromosikan Islam sebagai "faktor pemersatu" yg bersifat Rahmatan lil aalamiin. Tidakkah terasa aneh bila "mereka" bisa dan boleh dibiarkan mendikte aneka isme/ ideologi/ falsafah/ jalan hidup/ way of life/ sistem hidup/ pandangan hidup produk bikinan manusia kepada kita umat Islam, sedangkan kita umat Islam tidak mampu –bahkan kadang tidak mau- mempromosikan (baca: berdawah) menyebarluaskan ajaran Allah kepada "mereka"? Wallahualam.-


 


وَلَا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّهِ


أَنْ يُؤْتَى أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ


 


”Dan Janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu". (QS Ali Imran ayat 73)


(read more ...)



Sebuah berita gembira datang dari sebuah hadits Rosul bahwa Rosulullah Saw. Bersabda :


”Seluruh dunia ini adalah perhiasan dan perhiasan terbaik di dunia ini adalah wanita yang sholehah.” (HR. an-Nasa’I dan Ahmad)


Di dalam Islam, peranan seorang istri memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan berumah-tangga dan peranannya yang sangat dibutuhkan menuntutnya untuk memilih kualitas yang baik sehingga bisa menjadi seorang istri yang baik. Pemahamannya, perkataaannya dan kecenderungannya, semua ditujukan untuk mencapai keridho’an Allah Swt., Tuhan semesta Alam. Ketika seorang istri membahagiakan suaminya yang pada akhirnya, hal itu adalah untuk mendapatkan keridho’an dari Allah Swt. sehingga dia (seorang istri) berkeinginan untuk mengupayakannya.


Kualitas seorang istri seharusnya memenuhi sebagaimana yang disenangi oleh pencipta-Nya yang tersurat dalam surat Al-Ahzab. Seorang Wanita Muslimah adalah seorang wanita yang benar (dalam aqidah), sederhana, sabar, setia, menjaga kehormatannya tatkala suami tidak ada di rumah, mempertahankan keutuhan (rumah tangga) dalam waktu susah dan senang serta mengajak untuk senantiasa ada dalam pujian Allah Swt.


Ketika seorang Wanita Muslimah menikah (menjadi seorang istri) maka dia harus mengerti bahwa dia memiliki peranan yang khusus dan pertanggungjawaban dalam Islam kepada pencipta-Nya, Allah Swt. menjadikan wanita berbeda dengan pria sebagaimana yang disebutkan dalam ayat Al-Qur’an:


”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.” (QS. An Nisaa’ , 4:32)


Kita dapat melihat dari ayat ini bahwa Allah Swt. membuat perbedaan yang jelas antara peranan laki-laki dan wanita dan tidak diperbolehkan bagi laki-laki atau wanita untuk menanyakan ketentuan peranan yang telah Allah berikan sebagaimana firman Allah:


“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al Ahzab, 33:36)


Karenanya, seorang istri akan membenarkan Rasulullah dan akan membantu suaminya untuk menyesuaikan dengan prinsip-prinsip syari’ah (hukum Islam) dan memastikan suaminya untuk kembali melaksanakan kewajiban-kewajibannya, begitupun dengan kedudukan suami, dia juga harus memenuhi kewajiban terhadap istrinya.


Diantara hak-hak lainnya, seorang istri memiliki hak untuk Nafaqah (diberi nafkah) yang berupa makanan, pakaian dan tempat untuk berlindung yang didapatkan dari suaminya. Dia (suami) berkewajiban membelanjakan hartanya untuk itu walaupun jika istri memiliki harta sendiri untuk memenuhinya. Rasulullah Saw. Bersabda :


”Istrimu memiliki hak atas kamu bahwa kamu mencukupi mereka dengan makanan, pakaian dan tempat berlindung dengan cara yang baik.” (HR. Muslim)


Ini adalah penting untuk dicatat bahwa ketika seorang istri menunaikan kewajiban terhadap suaminya, dia (istri) telah melakukan kepatuhan terhadap pencipta-Nya, karenanya dia (istri yang telah menunaikan kewajibannya) mendapatkan pahala dari Tuhan-Nya. Rasulullah Saw. mencintai istri-istrinya karena kesholehan mereka.


Aisyah Ra. suatu kali meriwayatkan tentang kebaikan kualitas Zainab Ra., istri ketujuh dari Rosulullah Saw.,

”Zainab adalah seseorang yang kedudukannya hampir sama kedudukannya denganku dalam pandangan Rasulullah, dan aku belum pernah melihat seorang wanita yang lebih terdepan kesholehannya daripada Zainab Ra., lebih dalam kebaikannya, lebih dalam kebenarannya, lebih dalam pertalian darahnya, lebih dalam kedermawanannya dan pengorbanannya dalam hidup serta mempunyai hati yang lebih lembut, itulah yang menyebabkan ia lebih dekat kepada Allah”.


Seperti kebesaran Wanita-wanita Muslimah yang telah dicontohkan kepada kita, patut kiranya bagi kita untuk mencontohnya dengan cara mempelajari kesuciannya, kekuatan dari karakternya, kebaikan imannya dan kebijaksanaan mereka. Usaha untuk mencontoh Ummul Mukminin yang telah dijanjikan surga (oleh Allah) dapat menunjuki kita kepada karunia surga.


Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda :


“Ketika seorang wanita menunaikan sholat 5 waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan mematuhi suaminya, maka dia akan masuk surga dengan beberapa pintu yang dia inginkan.” (HR. Al Bukhari, Al Muwatta’ dan Musnad Imam Ahmad)


Wahai Muslimah yang tulus, perhatikan bagaimana Nabi Saw. menjadikan sikap ta’at kepada suami sebagai dari bagian amal perbuatan yang dapat mewajibkan masuk surga, seperti shalat, puasa; karena itu bersungguh-sungguhlah dalam mematuhinya dan jauhilah sikap durhaka kepadanya, karena di dalam kedurhakan kepada suami terdapat murka Allah Swt.


Wallahu a’lam bish showab..



oleh: Ustaz Abu Jibriel (abujibriel.com)

(read more ...)




Jika berjalan-jalan ke Puncak atau ke Lembang, sejauh mata memandang, yang terlihat adalah hamparan hijaunya perkebunan teh. Bak permadani lembut yang dihamparkan Allah untuk kita pergi bermain diatasnya. Selalu tergoda untuk berada diatasnya dan tak jarang pula ada perasaan ingin memilikinya meski hanya sepetak dibelakang rumah kita.


Pun dalam kehidupan manusia. Berjuta orang dengan latar belakang dan warna kehidupan masing-masing. Seseorang yang masih lajang mempunyai pekerjaan yang mapan dengan penghasilan diatas rata-rata, seorang ayah yang mempunyai banyak tanggungan tapi harus kesana kemari demi sesuap nasi bagi keluarganya, seseorang yang sudah berkeluarga yang mempunyai pendidikan tinggi dan karir yang dicita-citakan tapi tanpa kehadiran seorang amanah diantaranya, seorang istri yang mengurus rumah tangga sampai tak ada waktu untuk menjalankan mimpi-mimpinya dan siapapun mereka dengan latar belakang apapun, tak jarang masih banyak orang yang ingin saling bertukar posisi.


"Andai saya menjadi si A atau menjadi si X pasti kehidupan ku tak akan begini dan akan selalu bahagia jika dalam posisinya" ataupun beribu alasan lainnya yang berandai-andai.


Cerita seorang Karun adalah sebuah kisah yang bisa dijadikan sebuah renungan, ketika seseorang dalam keadaan tidak mempunyai apa-apa. Kemudian ketika Allah menawarkan kekayaan, Karun mulai membayangkan sebuah kehidupan yang indah jika semua kenikmatan duniawi berada didalam genggamannya. Dan begitulah Karun terpedaya dengan semua kenikmatan semu, melupakan semua ibadah yang biasa dilakukannya. Sehingga Allah mengazab dan menenggelamkannya bersama seluruh harta yang lebih ia cintai dari Kekasihnya semula.


Sebuah pengandaian dari seorang karun yang berakhir dibawah tanah bersama seluruh impiannya.


Seorang manusia tak kan luput dari yang namanya sebuah keinginan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari yang sedang dijalaninya. Pun dengan seorang Fatimah Azzahra putri Rasulullah SAW. Dikisahkan ketika Rasul sedang berkunjung ke rumah Fatimah, Rasul mendapati Fatimah sedang menggiling syari (sejenis padi-padian) dengan penggilingan tangan dari batu sambil menangis. Rasul bertanya apa yang menyebabkan Fatimah begitu bersedih, Fatimah menjawab bahwa kegiatannya menggiling syari dan pekerjaan rumah tanggalah yang menyebabkannya menangis. Kemudian Fatimah memohon kepada ayahnya, Rasulullah SAW, untuk meminta Ali, suaminya, mencarikan seorang khadimat sekedar meringankan pekerjaannya seputar rumah tangga.


Rasul dengan tenang menjawab pertanyaan putri tercintanya Fatimah. Bahwasanya Allah mampu jika berkehendak, penggilingan syari tersebut berputar sendiri mengerjakan pekerjaanya, ataupun memudahkan segala pekerjaan rumah tangganya. Tetapi Allah menginginkan kebaikan ditulis dari tangan Fatimah sendiri dan menghapuskan keburukannya melalui semua rutinitasnya dalam pekerjaan rumah tangga. Jika semua amalnya terus dilakukan maka Allah akan mengampuninya dari sesuatu yang telah lalu dan dari sesuatu yang akan datang. Rasul pun tak luput menggambarkan kemudahan sakaratul maut juga keindahan taman-taman surgawi jika seorang istri melayani suami dengan sepenuh hati.


Dua kisah yang dapat kita jadikan tauladan dalam kehidupan, ketika rasa ketidak puasan akan kehidupan yang sedang dijalani hadir dalam kehidupan kita. Allah mengabulkan keinginan Karun, ketika ia menghendaki sebuah kehidupan yang indah di dunia dengan akhir kehidupannya ditenggelamkan Allah didasar tanah. karena Karun tidak mampu memegang amanah yang telah Allah berikan. Tetapi Allah begitu menyayangi seorang Fatimah yang sedang berkeluh kesah terhadap ayahanda tercintanya, tentang kehidupan yang dijalaninya, dengan menjanjikan kehidupan di taman surgawi jika Fatimah ikhlas menjalaninya.


Bukan sebuah dosa jika kita mempunyai keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ketika rasa itu muncul karena melihat kehidupan orang lain yang menurut kita lebih indah dibanding kehidupan kita sendiri. Karena memang Allah telah menjadikannya terasa indah dimata manusia mencintai apa yang diinginkan berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Karena itu semua adalah kesenangan dunia. Semua tercantum dengan jelas dalam Al-Quran, surat Ali-Imran, ayat 14.


Jadi ketika seorang ibu rumah tangga melihat wanita lain yang tenang menjalani hidupnya, tanpa disibukkan dengan segala kegiatan rumah tangga, adalah sebuah kewajaran jika timbul keinginan dibebaskannya dalam rutinitasnya sehari-hari. Ketika seseorang yang masih sendirian melihat orang lain yang mapan menjalani kehidupannya, bersama suami atau istri dan anak-anak tercintanya, kemudian timbul perasaan harap-harap cemas, kapan akan bertemu pujaan hatinya dan menjalani kehidupan normal layakanya sebuah keluarga harmoni, hal itu adalah lumrah. Ketika seorang ayah yang membanting tulang mencari rezeki, agar keluarganya tercinta mendapatkan kehidupan yang layak dan melihat orang lain begitu mudahnya mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa harus bersusah payah, kemudian timbul kerinduannya akan kehidupan ketika semua masih terasa mudah untuk dijalani tanpa adanya tanggung jawab besar, hal itu bukanlah sebuah dosa.


Tetapi jika seorang manusia ikhlas dengan apa yang sedang dijalaninya, Allah telah mengabarkan berita yang lebih indah dari pada semua kenikmatan duniawi. Tersedia baginya disisi Allah taman-taman surgawi dimana manusia kekal hidup didalamnya, dengan pasangan-pasangan suci dan ridha Allah menyertainya, Allah Maha melihat hamba-hambanya. Dan hal ini pun muktamat Allah cantumkan dalam AlQuran, surat Ali-Imran, ayat 15.


Rumput yang hijau nan indah pun sejuk memang akan selalu menggoda kita untuk datang dan bersantai diatas hamparannya, apalagi rumput indah itu adalah milik tetangga kita tercinta atau orang terdekat. Tapi kawan.... rumput mereka memang akan selalu tampak indah dimata kita dan akan selalu timbul keinginan untuk memiliki dan mencintainya. Rumput itu tidak hanya berwarna hijau saja tapi malah akan tampak berpelangi, jika kita bersyukur dengan yang kita jalani saat ini. Karena syetan akan selalu mempunyai seribu cara untuk mewarnai rumput tersebut agar tampak selalu indah di mata kita. Wallohualam.....


(read more ...)





Haruskah Menjadi “Wanita Modern”?

Apa yang sesungguhnya terjadi di balik fenomena modernitas? Ternyata, tuntutan penampilan, pergaulan, dan pola beradaptasi menggeser jati diri kebanyakan para wanita.


Awalnya, para wanita modern memandang bahwa aktualisasi diri merupakan pencarian yang tidak bisa dihindari. Mereka ingin berbeda dengan wanita biasa, apalagi mereka memiliki fasilitas berupa kekayaan dan relasi untuk mengaktualisasikan dirinya ke dalam berbagai bentuk aktivitas. Tetapi kenyataannya, pilihan beraktivitas lebih banyak porsinya pada sesuatu yang bersifat materil duniawi. Padahal jika mereka menyadari, seharusnya aktualisasi tersebut ditujukan pada pencarian makna hidup, bukan menikmati kehidupan menurut selera belaka.


Kita bisa menyebutkan contoh secara materil. Berapa banyak koleksi sepatu, tas, busana, perhiasan dan hal-hal lain yang bersifat duniawi. Sementara keinginan untuk mengoleksi buku-buku dan media ke-Islaman yang bermanfaat relatif sedikit. Hal ini otomatis menunjukkan bahwa pemanfaatan waktu untuk mengkaji Al-Qur’an dan Al-Hadits sangat sedikit ketimbang jadwal untuk menonton, jalan-jalan, ataupun berbelanja.


Dari sisi lain, kita pun bisa menemukan keadaan yang tidak selalu selaras dengan asumsi semula. Bila awalnya, gaya metropolitan dirasa sangat menyenangkan, namun seiring dengan pertarungan antara iman dan kufur, antara taat dan maksiat, terungkaplah bahwa dunia glamor dan hingar bingar tidak mampu diterima oleh nilai-nilai ilahiyah yang masih tertanam di dalam hati para muslimah. Buktinya, dalam berbagai keadaan, mereka seolah terpaksa tampil sebagai wanita yang kosmopolitan lantaran gaya dan pergaulannya menuntut seperti itu. Atau karena tidak ada orang terdekat yang mengingatkan tentang ketakwaan, ia pun cenderung terombang-ambing tak tahu arah. Kenyataan inilah yang tak bisa dipungkiri. Perasaan tertekan, gundah-gulana, stres, dan teralienasi (terasing) terus menggelayuti hati dan pikiran mereka yang masih menyisakan iman yang benar. Namun, keadaan ini tidak bisa dibiarkan. Bila ia tidak mau kembali ke dalam naungan Islam, lambat laun keimanannya menipis bahkan mungkin lenyap, na’udzubillahi min dzalika.


Solusi Fatamorgana


Apa yang sekarang sedang marak di dunia jati diri mungkin saja dianggap solusi oleh wanita modern ini. Seminar-seminar motivasi, manajemen diri, tempat-tempat “pencerahan”, bahkan media meditasi tidak jarang dipilih sebagai solusi terampuh bila para modernis sedang menghadapi masalah. Benarkah ini solusinya?


Sebagian di antara mereka tidak mempedulikan asal-muasal, aliran, bahkan keyakinan dari para pengelola fasilitas atau kegiatan tersebut. Padahal, sudah cukup bukti, banyak kesesatan yang tidak disadari lantaran tidak mementingkan nilai-nilai akidah ketika seseorang mencoba keluar dari problem yang sedang dihadapinya. Dengan perkataan lain, sesungguhnya mereka hanya menambah daftar penyimpangan yang menyebabkannya jauh dari keridhoan Alloh.


Secara identitas, kadangkala sang wanita modern seolah-olah merasa asing dengan nilai-nilai Islam, sehingga bila menghadiri seminar atau majelis ta’lim tertentu, mereka seolah-olah baru saja menemukan kembali jati diri mereka yang hilang. Kalau begitu, apa tujuan mereka menghadiri majelis ta’lim? Apakah sebagai pertobatan sesaat, dan merasakan kembali penderitaan hati ketika berada dalam lingkungan modern?


Sungguh ironis bukan! Di satu sisi, mereka ingin tampil sebagai wanita yang “all out” (habis-habisan). Yakni ingin menunjukan kepiawaian mereka di publik dan sanggup menghadapi berbagai tantangan di era globalisasi saat ini. Namun di sisi lain, mereka justru merasa kesepian saat berada di puncak kemandiriannya. Beruntunglah para wanita yang dapat merasakan perbedaan itu, sehingga tanpa letih, mereka berupaya untuk menemukan kembali jati diri mereka yang hilang, yakni dengan cara mendalami sisi spiritual pada diri mereka sendiri.


Akan tetapi, banyak juga di antara mereka yang sekedar “latah” sehingga upaya-upaya itu malah membuat mereka semakin terbingungkan dan berakhir tanpa mengetahui siapakah diri mereka yang sebenarnya.


Dalam hal ini, perlu disadari bahwa kita adalah makhluk, dan perlu mengenal Alloh swt sebagai Ilah. Inilah jalan untuk menemukan ketenangan batin yang dapat menuntun kepada perilaku yang lebih ’smart’ di dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebab, siapapun yang telah mencapai tahap-tahap dari pengenalan diri sendiri, maka dia pun akan mengetahui “how to deal with self“ (cara berurusan dengan diri sendiri), agar seseorang bisa memahami berbagai kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam dirinya, sehingga tidak akan mengambil tindakan-tindakan yang bisa merugikan diri sendiri.


Mungkin saja bahwa yang dicapainya saat ini, masih belum sesuai dengan seluruh harapan atau cita-citanya. Akan tetapi, dia juga menyadari bahwa seluruh kehendak dirinya bukan hal yang sempurna, sehingga boleh jadi sebagian dari kehendaknya itu malah akan memberikan dampak buruk atas kehidupannya di kemudian hari.

Hidup kita menjadi lebih sederhana dan indah bila sudah memahami tahap pengenalan diri sendiri. Alasannya, kita dengan mudah akan mampu mengukur kemampuan masing-masing. Dan pada saat yang sama, kita tahu bagaimana cara menempatkan diri agar sesuai dengan posisi yang semestinya di dalam kehidupan.


Namun kebanyakan dari kita sering keliru di dalam memaknai hubungan antara makhluk dan Sang Pencipta. Bahkan terkadang, kita sering memposisikan Tuhan agar Dia mematuhi segala kehendak dan harapan-harapan kita. Tidakkah kita menyadari bahwa kitalah yang seharusnya menjadi hamba-Nya, dan bukan malah sebaliknya.

Di sini, jelas bahwa yang sebenarnya ingin dicari adalah diri mereka sendiri yang sudah lama mereka lupakan dan hampir-hampir mereka tidak mengenalinya lagi, karena mereka sibuk mencari sesuatu yang fatamargona yang terpental jauh dari ajaran Nabi .


Ingatlah, wanita adalah makhluk yang dimuliakan Alloh , sehingga segala perilakunya haruslah terjaga. Sebenarnya, kedudukan kaum wanita dengan kaum pria itu sejajar. Sebab, wanita adalah partner kaum pria, dan mereka harus saling bermitra dan bukan malah bersaing seperti yang sering disalahartikan oleh kelompok-kelompok yang mengaku sebagai bagian dari umat Muhammad .


Dengan penjelasan ini, sudah selayaknya kita menyadari bahwa mereka sebenarnya “going nowhere” (tidak pergi ke mana-mana) dan dijamin, akan berakhir dengan “uncertainty” alias ketidakpastian, rasa hampa dan tidak memahami tujuan hidup.


Aneh memang! Apabila barang mereka hilang, maka mereka akan sibuk untuk mencarinya, sehingga seluruh tenaganya dikerahkan untuk mendapatkannya kembali. Akan tetapi, apabila jati dirinya yang hilang, maka mereka seolah-olah tidak peduli.

Apa yang dianjurkan Islam dari seorang wanita sebenarnya sangat sederhana, yaitu agar kaum wanita menjaga kehormatan diri dengan sebaik-baiknya, yakni sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan salah satu cara itu adalah dengan berpakaian sesuai panduan Al-Qur’an, dan bukan ala Barat atau Timur.


Sadarkah bahwa cara kita berpakaian, berdandan dan bertingkah laku saat ini telah dipengaruhi oleh budaya bangsa Barat alias westernize yang sebenarnya tidak berhubungan dengan modernitas. Singkatnya, smart woman adalah mereka yang menggunakan akalnya untuk berpikir, merenungi makna dan nilai kehidupan, dan bukan yang semata-mata meniru serta berpenampilan ala wanita barat.


Untuk itu, wanita yang berpendidikan dan mampu mengikuti perkembangan zaman (modern woman) adalah para wanita yang patuh dan taat kepada Perintah-Nya.


Tidakkah kita selayaknya menyadari bahwa di dalam Al-Qur’an, Alloh swt telah mengatur tata cara manusia berperilaku, termasuk berpakaian? Dan secara tegas, Al-Qur’an mewajibkan kaum Muslimah untuk berpakaian sesuai yang dijelaskan Alloh .


Di sinilah keyakinan terhadap Al-Qur’an harus dipupuk sehingga kita mampu mematuhi rambu-rambu dan norma-norma agama, bahkan melebihi kepatuhan kita terhadap aturan kantor tempat kita bekerja. Namun anehnya, kita lebih takut terkena skors di kantor apabila kita melanggar salah satu aturannya, dan kurang peduli bahkan mengabaikan perintah Alloh swt yang memberikan kehidupan dan rezeki-Nya kepada kita secara tidak terbatas. Bahkan sesungguhnya rezeki kantor kita pun bergantung kepada Karunia dan Rahmat Alloh.


Apa gerangan yang terjadi dengan para wanita muslimah saat ini? Tidakkah kita selayaknya menyadari bahwa selama ini, kita mendapatkan limpahan nikmat dari Tuhan semesta alam? Akan tetapi, pernahkah kita mensyukuri hal itu?


Cobalah bandingkan bila kita diberi hadiah dari seseorang, maka kita akan berusaha untuk mengucapkan terima kasih dengan berbagai cara, bahkan sering kali para “wanita modern” mengucapkan terima kasih dengan memberikan pujian setinggi langit. Rasionalkah cara berpikir dan tindakan kita selama ini? Sudahkah kita berterima kasih dan mensyukuri segala nikmat Alloh swt yang diberikan-Nya setiap saat?


Sebagai penutup, selayaknya setiap muslimah mengharap surga yang hakiki, bukan sekadar kesenangan sesaat. Hanya satu caranya, yaitu meraih predikat wanita taat dan takwa kepada Alloh dan Rasul-Nya. Memang, apabila kondisi ini yang diinginkan, maka banyak hal yang perlu dikorbankan, karena jati diri wanita seperti ini dituntut untuk tidak tergoda oleh gemerlapnya perhiasan dunia sementara banyak wanita lain yang tergoda. Akan tetapi tidak sembarang wanita di dunia ini bisa menggapainya. Hanya wanita yang mempunyai ciri-ciri tertentulah yang mampu meraihnya. Ciri-ciri tersebut adalah: (1) Beriman kepada Alloh. (2) Berdiam di rumah dan tidak bertabarruj. (3) Menundukkan pandangan dan menjaga dirinya. (4) Menjaga lisannya dari ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba). (5) Menjaga pendengarannya dari nyanyian-nyanyian, ucapan kotor, dan yang sejenisnya. (6) Menghormati suami, menunaikan haknya, berusaha membuatnya tentram, dan mentaatinya dalam ketaatan kepada Alloh. (7) Hemat dalam kehidupan. (8) Tidak menyerupai laki-laki. (9) Berusaha menjaga shalat-shalat, puasa-puasa, dan sedekah sunnahnya. (10) Hendaknya dia menjadi seorang da’iyah di kalangan para wanita, menyeru pada kebaikan, dan melarang dari kemunkaran.



*www.bacagerimis.wordpress.com

(read more ...)



"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya."

(QS. Al-Furqaan: 43)

Bagaimana Menghadapinya


Maha Suci Dzat yang telah menjadikan manusia disibukkan dengan berbagai urusannya masing-masing. Dia pulalah yang mengajarkan doa agar setiap urusan itu rasyada (lurus, selesai). Tuntas sempurna seperti yang diharapkan. Yang tentu ini tak bisa lepas dari rahmat (belas kasih) Allah.


Alkisah di suatu kali, ada dua orang buruh yang memikul batangan besar pohon untuk kayu bakar. Keduanya mendendangkan nasyid-nasyid yang saling bersahutan. Mereka mengucap-kan kata-kata yang sangat menghibur. Yang satu mendengarkan apa yang didendangkan temannya, dan ia mengulanginya ataupun menyahut dengan kata-kata hiburan yang lain. Begitu sebaliknya dan terus, hingga mereka sampai di tempat tujuan, menyelesaikan pekerjaannya dengan tanpa membawa beban seperti lupa akan beban yang tengah mereka pikul.


Menangkap satu isyarat dan pelajaran yang menarik dari perilaku kedua orang ini, adalah bahwa jika mereka tidak mendendangkan nasyid, pasti mereka akan merasa bahwa beban yang mereka bawa sangatlah memberatkan. Dialog mereka lewat hal ini dan pengalihan perhatian mereka dari beratnya beban kepada sesuatu yang menyenangkan lagi menghibur, dapat membuat perjalanan yang panjang tak terasa melelahkan.


Setiap manusia, siapapun ia, orang yang di dekatnya, atau kita sendiri, yang telah Allah jadikan mudah bagi mereka jalan kepada kefujuran atau ketakwaan, jalan menuju kepada dosa atau pahala, selalu diberikan pilihan untuk menyelesaikan setiap urusannya. Inilah sebenarnya apa yang diemban manusia, berat terasa olehnya dalam memikulnya, melewati perjalanan panjang hidupnya, saat ini hingga nanti akhir hayatnya di dunia. Inilah beban manusia yang jika jernih hatinya, ia akan berhenti sejenak dan berpikir, ia akan memilih bagaimana bersabar menghadapi hawa nafsunya bahkan mampu menaklukkannya.


Bisyr Al-Hafi, suatu ketika ia melakukan perjalanan dengan seorang laki-laki dari kawannya yang merasa haus dan berkata kepadanya, “Mungkinkah kita minum dari air sumur ini?”

Bisyr berkata, “Bersabarlah kita minum di sumber air yang lain saja.”

Tatkala keduanya telah sampai pada sumur yang lain, temannya berkata, “Mungkinkah kita minum dari sumber air ini?”

Bisyr berkata, “Kita minum di sumber yang lain lagi.” Demikian ia terus menerus memberi alasan setiap bertemu dengan sumber air. “Bersabarlah.” Mereka pun kembali berjalan. Sambil menoleh kepada laki-laki itu Bisyr berkata, “Begitulah semestinya dunia ini kita lewati.”


Menjadikan diri kita sabar menghadapi ujian dunia untuk tetap berada dalam ketakwaan dan ketaatan ibadah, menghibur diri dalam rangka menenangkan jiwa dengan memperbanyak pendekatan Ilahiyah, adalah cara yang benar dalam menghadapi semua urusan dunia. Berani menekan kecenderungan diri terhadap hawa nafsu atau syahwat yang mungkin sering kali melampaui batas. Bertekad bulat tegakkan jihad melawan dunia dan syahwat. Cepat menyikapi kenikmatan-kenikmatan yang menggiurkan di hadapan, agar tidak dikalahkan. Karena sesungguhnya ini adalah perang, maka berpegang- teguhlah pada keyakinan, laksana berpegangan pada tali kekang saat kuda berlari kencang. Serta beristiqamah kepada kesungguhan agar menang dalam usaha pemurnian. Sehingga akal, hati dan pikiran kita tetap pada jalur yang lurus.


Lebih Dekat Mengenalnya


Hawa nafsu atau syahwat, salah satu unsur dalam jiwa manusia yang hendaknya setiap pemilik itu mengenalnya. Hawa nafsu adalah kecenderungan tabiat terhadap apa yang sesuai dengannya. Dalam pengertian ini ia tidaklah tercela. Ibnu Qayyim berkata, “Kalaulah seseorang berpendapat bahwa hawa nafsu itu mutlak tercela, hal ini dapat dipahami karena pada umumnya hawa nafsu itu melahirkan yang haram atau mengarah kepada yang haram karena kadarnya yang melampaui batas.”


Sering kali memang, hawa nafsu itu mengajak kepada kenikmatan tanpa mempertimbangkan akibatnya. Padahal jika mengingat sebuah syair yang berbunyi, ‘Banyak kelezatan yang membunuh kebahagian’, seseorang akan lebih berhati-hati dengannya. Ia tak kan rela merasakan hubungannya renggang dengan istrinya karena nikmatnya dada berdegup berbuat serong. Ia berharap melihat anaknya tumbuh dewasa, tanpa tahu anaknya melayang di atas lezatnya asap candu narkoba. Seseorang akan merenung dalam-dalam di belakang jeruji kurungan, setelah beberapa jam yang lalu ia puaskan mengutil perabot rumah tangga di sebuah swalayan.


Hawa nafsu seperti jaring-jaring yang menjerat. Situasi yang dijumpai memaksa untuk melakukannya, setelah itu akhir dari segala pilihan adalah tangisan dan penyesalan. Mulailah terhitung banyak orang yang terperangkap dalam dosa dan tidak bisa lagi keluar.

Ketika seseorang mengikuti hawa nafsunya, walaupun tidak sampai merugikan, dia tetap akan merasakan kehinaan dalam dirinya karena posisinya yang telah kalah oleh hawa nafsu. Namun hawa nafsunya tetap berpaling dari berpikir mengenai kehinaan itu. Yang demikian ini adalah sifat daripada binatang, karena hawa nafsu tidak pernah berpikir tentang akibat, hanya saja binatang lebih bisa dimaklumi. Jadi, hawa nafsu itu tak lebih laksana binatang liar yang harus dirantai lehernya, karena ia akan menghancurkan tanaman takwa yang ada di dalam jiwa.


Tetapi perkara ini menjadi sungguh aneh. Ada banyak orang yang membiarkan hawa nafsunya melakukan apa-apa yang disenanginya, lalu menjatuhkan orang tersebut pada sesuatu yang ia sendiri pun tidak menyenanginya. Sedangkan ada pula orang yang mengekang nafsunya sekencang-kencangnya, hingga melarangnya dari hal-hal yang sebenarnya dibolehkan. Saat itulah seseorang disebut telah menzhalimi nafsunya sendiri. Padahal niatnya mencenderungkan tabiat kepada hal yang baik.


Akibat kezhalimannya terhadap nafsunya sendiri ini, ada orang yang ingin sampai pada tingkat zuhud namun makan tidak sesuai dengan kadar yang dibutuhkan tubuhnya, sehingga mengakibatkan dirinya lemah untuk melakukan kewajiban-kewajiban ibadah. Ada juga yang terlalu menekan nafsunya dengan menyendiri dan menjauhkan diri dari lingkungan, sehingga terasingkan dari manusia dengan alasan menjauh dari kehinaan makhluk dan menyatu dengan Sang Khalik. Akibatnya, justru ia tersesat terlebih meninggalkan kewajiban-kewajiban sosialnya yang utama, seperti menjenguk orang sakit, menyambung silaturahmi, berbakti kepada orang tua, ataupun berdakwah.


Jika terbuka bagi seseorang pintu-pintu menuju hal yang mubah, hal yang halal-halal saja, maka ia takkan berlebihan mempergunakanya. Berusaha terus memenuhi kewajiban-kewajiban ibadahnya dan menambah-nya dengan amalan-amalan sunnah. Demikian mereka yang mau mendidik hawa nafsunya, mengajarinya dengan kesungguhan dan memiliki semangat dan keyakinan dalam menjaga prinsip-prinsip agama. Berbeda dengan mereka yang senang membiarkan hawa nafsu memenuhi keinginannya dan memanjakannya. Maka akan tersingkaplah maksiat-maksiat yang sering dilakukan para pendosa.


Bahayanya


Bicara hawa nafsu, kita ingat sekali Allah mengisahkan Yusuf dalam Al-Qur’an Al-Karim. Ketika masalahnya mengaitkan beliau dengan hawa nafsu seorang wanita yang hampir tak terbendung. Seorang pria dihadapkan wanita cantik jelita dengan gelora birahi menyala-nyala. Kekaguman siapa sampai suasana panas membara hampir menyeret ke dalam kelamnya jurang hitam?


Seseorang yang sekali tergoda hawa nafsunya untuk merasakan kenikmatan yang diharamkan, dan ia tidak memikirkan akibatnya, ia akan ketagihan hingga diarahkan kepada satu kondisi di mana ia tidak lagi merasakan kenikmatan dengan mengikuti hawa nafsunya, karena hal itu sudah menjadi sesuatu yang biasa, biasa dengan keburukan berarti biasa dengan kehinaan. Yusuf memilih kesabaran sesaat demi selamatnya ia dari dalamnya jurang kehinaan.


Kebanyakan pelaku maksiat mungkin tidak bermaksud melakukannya. Mereka hanya lemah menahan gejolak nafsunya, tidak cermat menangkap buah kesabaran dan memahami petaka yang diakibatkan hawa nafsunya. Padahal perbedaannya seperti antara rasa manis dan pahit. Banyak keuntungan yang didapat dalam kesabaran, begitupun kerugian akan didapati jika hawa nafsu diperturutkan. Akhirnya, jika aturan-aturan Allah pun dilanggar, jadilah mereka sebagai ‘hamba’ hawa nafsunya.

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ

“Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahannya.” (QS. Al-Furqaan: 43)


Sesungguhnya manusia lebih unggul daripada binatang, karena manusia memiliki akal yang dapat mengendalikan hawa nafsunya. Jika manusia tidak mau menerima pertimbangan akal, dan merelakan hawa nafsu mengusainya, hinalah manusia dan lebih rendah derajatnya daripada makhluk tak berakal. Sungguh bahaya!

إِنْ هُمْ إِلاَّ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلاً

“Mereka itu tidak lain seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya daripada binatang ternak itu.”


Unta itu makan lebih banyak daripada manusia, burung pipit lebih sering melakukan hubungan seksual daripada manusia, binatang itu bebas dalam melampiaskan keinganannya tanpa pernah merasakan kesedihan dan kesusahan akibat mengikuti hawa nafsunya.


*www.bacagerimis.wordpress.com

(read more ...)



Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambahnya karena ketaatan dan berkurangnya karena kemaksiatan. Semakin banyak seseorang melakukan ketaatan maka semakin bertambah pula keimanannya. Ketika keimanan seseorang semakin bertambah maka ia akan mendapatkan banyak kebaikan.

Tak sedikit wanita di masa sekarang ini yang telah menanggalkan rasa malunya dari cara dia berbusana, bergaul, dan bergaya hidup modern lainnya inilah gambaran fenomena kehidupan saat ini.”


Sifat malu itu adalah bagian dan akhlak mulia, bahkan merupakan cabang dari keimanan. Sifat malu memang identik dengan wanita karena merekalah yang dominan memilikinya.


Namun sifat malu tidak mutlak milik kaum hawa, laki-laki pun memilikinya. Adanya sifat malu pada diri seseorang akan mendorongnya kepada kebaikan dan mencegahnya kepada kejahatan. Bila rasa malu itu telah hilang, ia akan jatuh dalam perbuatan maksiat dan dosa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:


“Termasuk yang diperoleh manusia dari ucapan kenabiannya yang pertama adalah: jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu”. (HR. Bukhari)


Merebaknya kejahatan sexsual kian memprihatinkan. Namun sedikit yang menyadari bahwa semua itu bersumber dari tersebarnya kerusakan sebagai akibat dari diumbarnya aurat wanita di tempat-tempat umum. Bocah yang masih ingusan/bahkan kakek yang tua renta pun bisa menjadi pelaku kejahatan karena mereka secara terus menerus disuguhi pemandangan yang bukan haknya ironisnya sebagian korban adalah anak perempuan dibawah umur.


Sebagian orangtua seolah begitu leluasa membiarkan putra-putri mereka bercampur baur dengan laki-laki baik di sekolah, di rumah, atau di tempat lainnya. Mereka membiarkan anak gadis mereka pergi keluar rumah sendirian tanpa ditemani siapapun. Demikian kenyataan ini benar-benar terjadi.


Bila rasa malu telah hilang dari seorang insan, ia akan melangkah dari satu kejelekan kepada hal yang lebih jelek lagi. Dan satu kerendahan kepada hal yang lebih jelek lagi. Dari satu kerendahan kepada hal yang lebih rendah lagi.


Sungguh wajib bagi kita untuk terus merasakan pengasan Allah dan malu kepada-Nya di setiap waktu dan tempat seseorang yang jujur dalam keimanannya akan merasa malu kepada Allah jika melanggar kehormatan orang lain dan mengambil hak orang lain. Sedangkan orang yang telah dicabut rasa malu dari wajahnya, ia akan berani melanggar larangan Allah. Nau’udzu billah.


Bila kita telah mengetahui pentingnya sifat malu, maka berupayalah untuk menumbuhkannya didalam keluarga. Karena ketika rasa malu itu masih ada, kebaikan akan senantiasa mereka diagungkan.


Agama Islam datang dengan memberikan kemuliaan kepada wanita, memelihara dan menjaganya dari terkaman serigala dari kalangan manusia, sebagaimana Islam menjaga hak-hak wanita, mengangkat hakikat dan martabatnya.


Islam mewajibkan bagi wanita untuk menghijabi (menutup) dirinya dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya agar ia tidak menjadi barang dagangan murahan yang bisa dinikmati setiap orang kapanpun dan dimanapun.


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka serta jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya (tidak mungkin di tutupi)”. (QS. An Nur: 30)




Pada zaman sekarang ini, banyak wanita yang mengaku seorang muslimah akan tetapi dengan ikhlas menjual kehormatannya. Dan tidak sedikit wanita muslimah yang tidak segan-segan mereka terjun dalam dunia musik dan acting. Mereka begitu bebas berinteraksi dengan orang lain tanpa menghiraukan keberadaan sang suami. Maka jangan heran jika kehidupan rumah tangga mereka tidak berjalan sesuai harapan.


Oleh karena itu, tidak sepantasnya bagi wanita muslimah untuk melakukan hal-hal seperti itu, karena tidak akan memberikan manfaat baik bagi dirinya ataupun orang lain.


Alangkah baik bagi seorang wanita muslimah untuk tidak banyak keluar rumah kecuali memang terdapat keperluan yang penting. Itupun mereka apabila keluar harus menutup aurat agar terhindar dari berbagai fitnah. Namun apabila tidak ada keperluan, sebaiknya seorang wanita muslimah tinggal di rumah. Dengan begitu, dia akan lebih terjaga kehormatannya.


Sebagaimana Allah berfirman:


“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan jangan bertabarruj (berhias) seabgaimana tabarruj orang-orang jahiliyyah yang  (Adien)qdahulu”. (QS. Al Ahzab:33).


Wallahu alam.


(albumputrigerimis/teamhasmi.org)


(read more ...)




Nama atau kata adalah identik dengan sebuah makna. Makna itu bisa dalam atau dangkal, luas atau sempit, tajam atau polesan, tergantung dari kedalaman, keluasan, atau ketajaman seseorang dalam mempersepsikan nama tersebut. Kata “Fahmu” (Paham), “Sabr” (sabar), “Ikhlas” bagi seorang ulama bernama Yusuf Al Qardawi adalah kata-kata yang syarat makna sehingga dari masing-masing kata itu lahir sebuah buku dengan bahasan yang sangat mendalam. Namun bagi seorang awam, betapa banyak kita jumpai ia salah mempersepsikan makna dari kata-kata tersebut. Dan pada akhirnya, persepsinya yang dangkal hanya melahirkan tindakan-tindakan kehidupan yang juga dangkal dan kurang bermakna. Disinilah kita melihat relevansi “amal” dengan “pemahaman” yang dimiliki seseorang.


Mereka yang memiliki pemahaman yang benar, akan beramal dengan benar. Sebaliknya, mereka yang memiliki pemahaman yang dangkal, akan beramal secara dangkal pula. Tidak memiliki makna terindah bagi dirinya.


***


Allah SWT memiliki 99 nama yang baik. Dari nama-nama itu, kita bisa mengenal Allah dengan memahami makna yang terkandung di dalamnya. Ar Rahman menunjukkan bahwa Allah Maha Pengasih, Ar Rahim menunjukkan bahwa Allah Maha Penyayang, Al Malik Menunjukkan bahwa Allah Maha Merajai, Al Quddus menunjukkan bahwa Allah Maha Suci, dan lain-lain. Semua makna yang terkandung dari Asma Al Husna adalah makna-makna yang agung dan secara keseluruhan sifat-sifat Allah SWT tergambar dari nama-nama itu. Sebagai hamba, kita diperintah untuk memiliki sifat-sifat yang baik dengan mengacu dari sifat-sifat Allah tersebut sesuai dengan batas kemampuan seorang manusia. Sejauh mana sang hamba bisa mengejawantahan sifat-sifat mulia itu dalam kehidupan, kembali lagi, tergantung dari pemahaman sang hamba akan sifat-sifat itu.


Oleh karenanya saya memahami bahwa “barang siapa yang mampu menghafal 99 nama baik Allah itu, maka ia akan masuk surga”, tentu berkolerasi dengan pemahaman dan amal sholeh yang ia produksi dalam kehidupan. “Menghafal” berarti telah terbenamnya kesadaran makna indah itu dalam hati sang hamba dan telah mampu membangkitkan amal-amal kebaikan yang mengacu pada kemuliaan nama-nama itu.


Rasulullah Saw juga memiliki julukan atau nama-nama. Al Amin adalah nama julukan yang beliau sandang sejak sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, karena beliau terkenal sebagai orang terpercaya di kalangan orang Quraisy. Beliau juga dikenal sebagai Al Quran berjalan, karena seluruh perilaku hidupnya mencerminkan nilai-nilai Al Qur’an Al Karim. Memahami nama julukan beliau tentu dimaksudkan agar kita mampu meneladani akhlak-akhlak agung beliau.


***


Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Dalam rangka lebih mengenal esensi dari bulan Ramadhan yang akan segera dihadapi, pada pengajian rutin bapak-bapak pekan lalu, kami mencoba menggali makna yang terkandung dari nama-nama julukan yang sering disematkan bagi bulan Ramadhan. Diharapkan dengan memahami makna-makna itu, maka kesadaran akan datangnya bulan yang agung itu kian meresap dan menggumpal dalam jiwa sehingga menimbulkan kerinduan dan kebahagiaan dalam menyambutnya.


Ramadhan adalah bulan pendidikan (Syahru At Tarbiyah), karena pada bulan ini orang-orang beriman dididik untuk berlaku disiplin dengan aturan-aturan Allah SWT dan Rasul-Nya. Secara fisik, Allah mendidik untuk disiplin dalam mengatur pola makan. Secara psikis, Allah mendidik untuk berlaku sabar, jujur, menahan amarah, empati dan berbagi kepada orang lain, dan sifat-sifat luhur lainnya. Dan secara fikri, Allah mendidik agar orang-orang beriman senantiasa bertafakkur dan mengambil pelajaran-pelajaran yang bermakna bagi kehidupannya.


Ramadhan adalah bulan perjuangan (Syahru Al Jihad), karena untuk sukses menjalani Ramadhan dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Allah hendak mengajarkan bahwa untuk sukses dalam kehidupan pun dibutuhkan perjuangan, yaitu mengendalikan hawa nafsu agar tunduk dan patuh dengan ketentuan Allah dan Rasul-Nya.


Ramadhan adalah bulan Qur’an (Syahru Al Qur’an), karena Al Qur’an pertama kali diturunkan pada Ramadhan. Sepatutnyalah pada bulan ini, interaksi kaum muslimin dengan Al Quran menjadi sangat intens sebagaimana dicontohkan oleh generasi salaf yang mencurahkan waktu demikian banyak pada bulan Ramadhan untuk berinteraksi dengan Al Quran, baik dengan membaca, mentadabburi, dan mengamalkan kandungan-kandungan isinya.


Ramadhan adalah bulan persaudaraan (Syahru Al Ukhuwwah). Pada bulan ini Allah mendidik kaum muslimin untuk lebih mencintai dan peduli terhadap saudara-saudaranya. Rasulullah Saw mengajarkan dengan ringan bersedekah di bulan ini, memberi makanan bagi orang yang berpuasa, menunaikan zakat, dan membuang dengki dan sifat-sifat buruk terhadap saudaranya.


Ramadhan adalah bulan ibadah (Syahru Al ‘Ibadah). Dalam bulan ini Allah membuka peluang bagi hamba-hamba-Nya untuk beribadah (mahdhoh) sebanyak-banyaknya, karena pada bulan ini pahala ibadah dibalas dengan berlipat ganda. Allah SWT mendidik kaum muslimin untuk merealisasikan misi hidup dengan senantiasa beribadah kepada Allah SWT. Target keimanan yang diharapkan adalah hamba-hamba yang selalu mengorientasikan hidup untuk beribadah, sebagaimana firman Allah: Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)". (Al An’aam 6:162-163).


Masih ada beberapa nama yang disematkan untuk Ramadhan. Bulan Jama’ah, bulan dakwah, bulan diturunkan Lailatul Qadar, bulan mulia, bulan suci, bulan penuh berkah, dan lain-lain. Nama-nama itu mencerminkan makna, esensi dan juga kebaikan yang teramat banyak. Bagaimana kita harus beramal di dalam bulan Ramadhan, kita bisa mengambil spirit dari nama-nama itu.


Barang siapa yang gembira dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Allah SWT akan memasukkan sang hamba ke dalam surga-Nya. Bagaimana bisa? karena gembira menyambut ramadhan adalah cerminan iman. Semakin bahagia dan rindu seorang hamba kepada Ramadhan, semakin dalam keimanan yang dimiliki seseorang. Tentu pemahaman ini bukan untuk menghakimi dan mengukur keimanan orang lain, tetapi untuk menghakimi dan mengukur keimanan di dalam diri sendiri. 


Semoga kita bisa disampaikan ke bulan Ramadhan. Dan semoga kita bisa mengoptimalkan bulan Ramadhan untuk taqarrub ilallah, membersihkan hati, dan memperkuat simpul-simpul jamaah.


”Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan. Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikan kami ke bulan Ramadan.” (HR. Ahmad dan Tabrani).


Wallahualam bishshawaab


muhammadrizqon.multiply.com


*www.eramuslim.com


(read more ...)



Saat ini kita boleh bersyukur karena banyak wanita Indonesia yang berpendidikan tinggi dan bekerja di wilayah publik. Ada yang menjadi mentri, pimpinan tertinggi BUMN, sutradara, penulis, dokter, dosen, hakim, bahkan ada yang pernah menjadi presiden. Kita berharap suatu saat Indonesia memiliki wanita-wanita yang kuat, wanita-wanita terdidik dengan ilmu pengetahuan, wanita-wanita sholehah. Istri yang meneguhkan suaminya untuk giat dan jujur bekerja serta ibu yang melahirkan anak-anak yang sehat dan sholeh.


Dibalik kemajuan wanita-wanita Indonsia hari ini ada satu yang hilang dari diri wanita Indonesia, yaitu rendahnya kesadaran memberikan ASI (Air Susu Ibu) seperti yang disampaikan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Menneg PP) Meutia Hatta Swasono (http://www.menegpp.go.id) . Hanya 14% ibu di Tanah Air yang memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada bayinya sampai enam bulan (http://www.indonesia.go.id).


Mengapa saya menulis masalah ASI karena orang tua yang memiliki bayi saat ini adalah usia produktif alias pemuda. Mereka yang berusia 40 tahun ke atas saaat ini sudah jarang sekali memiliki bayi. Banyak juga mahasiswa baik itu S1 dan pascasarjana yang kuliah sambil punya bayi.


Saya telah melakukan survey kecil-kecilan. Sebagian besar teman-teman kuliah di pascasarjana atau teman-teman yang bekerja tidak memberi ASI ekslusif kepada bayinya. Dan kenyataan pahitpun didapat, anak-anak yang tidak medapatkan ASI ekslusif itu daya tahan tubuhnya lemah dan sering terkena penyakit.


Menurut Ibu Meutia Hatta diantara penyebabnya adalah faktor sosial budaya, kurangnya pengetahuan akan pentingnya ASI, serta jajaran kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung. Kurangnya dukungan institusi, dikatakan Meutia, mempunyai kontribusi cukup besar terhadap rendahnya para ibu memberikan ASI kepada bayinya. Kurangnnya kesadaran dan kesempatan memberi ASI menurut saya merupakan factor utama rendahnya para Ibu memberi ASI kepada bayinya. Apalagi bagi ibu-ibu yang bekerja. Masa cuti yang hanya 3 bulan tentu tidak cukup memberi ASI ekslusif di rumah.


“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya;  ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah  kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (QS. Luqman, 31:14)


Tak ada yang dapat membantah tantang kehebatan ASI. Allah SWT menciptakan ASI untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan melindunginya dalam melawan kemungkinan serangan penyakit. Keseimbangan zat-zat gizi dalam air susu ibu berada pada tingkat terbaik dan air susunya memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi, ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf. Susu formula semahal apapun dan secanggih apapun pabriknya tidak mampu menandingi keunggulan dan kehebatan makanan ajaib ini.


Kita sebagai pemuda apalagi mereka yang diberikan kesempatan oleh Allah SWT berpendidikan tinggi tentu dapat memikirkan bahwa ASI Allah ciptakan bukan secara kebetulan. Allah telah menciptakan sedemikina rupa agar generasi kita menjadi kuat dan cerdas. Setinggi apapun pendidikan kita, sehebat apapaun jabatan kita, sebesar apapaun gaji kita, kita memiliki kewajiban mendidik, mengasuh dan melindungi anak-anak kita.


Jika masa cuti sudah habis, kita tetap dapat memberikan ASI ekslusif dengan cara memerah ASI kemudian berikan kepada bayi saat kita tak berada di sisinya. Ada sebuah metode bernama “Marmet’ yang dapat memerah ASI dalam jumlah yang banyak hanya mengunakan tangan. Jangan jadikan kuliah dan pekerjaan sebagai alasan kita tak memberikan hak bayi. Jangan pula merasa ASI kita kurang lantas kita beralih memberi bayi susu formula. Karena rumus ASI itu adalah seperti mata air, semakin disedot maka semakin banyak keluarnya. Jika tidak disedot maka akan berkurang kuantitasnya.


Saya yakin kita sepakat untuk melahirkan generasi rabbani, generasi kuat dan cerdas, generasi yang akan meneruskan risalah para nabi. ASI sudah terbukti membuat anak-anak cerdas dan kuat. Tegakah kita membekali anak-anak dengan daya tahan tubuh yang rendah? Kita ingin melihat anak-anak kita hari ini adalah pemimpin masa depan. Salah satu karakter pemimpin adalah tangguh, kuat, cerdas dan sholeh. Persiapkanlah pemimpin itu sejak sekarang bagaimanapun sibuknya kita…


Oleh :


Yesi Elsandar; Alumnus program doctor universitas Padjadjaran Bandung. Lahir 12-12-1974. Pekerjaan Ibu rumah tangga, dosen, konsultan bisnis dan manajemen, penggiat ASI. Aktivitas lain, ketua Kelompok Kajian Sayang Ibu dan Buah Hati di Bandung. Meneyelesaikan program doctor tanpa lupa memberi ASI kepada kedua batitanya. Alhamdulillah anak-anak tumbuh sehat dan cerdas, jarang sekali sakit. Anak yang ke dua (21 bulan) belum pernah ke dokter.


*www.eramuslim.com

(read more ...)



Teriakan bersahutan muncul dari seorang wanita usia muda....disusul kemudian lengkingan lantang suara remaja putri yang berteriak dengan suara yang cukup keras... Semuanya menuntut dengan suara yang satu dan permintaan yang sama: "Dimanakah kebahagiaan dan kesenangan itu? Dimanakah ketenangan jiwa dan ketetapan hati itu?"

 Kami terbawa oleh kesedihan dan tertimpa gundah gulana...Tidur tak nyenyak disebabkan oleh banyaknya dosa yang menyelimuti langit-langit hati kami. Kami dikelilingi oleh syahwat yang membara, dan layar-layar TV yang membangkitkan rangsangan seks kami ... Sementara setitik iman masih tersisa dalam hati kami memanggil kalian ...Tolonglah Kami !!



Ukhti Muslimah!!


Kita hidup pada zaman dimana sarana informasi beraneka ragam banyaknya. Duniapun menyuarakan peradaban materi yang memenuhi tempat-tempat hiburan dan kesenangan ... menjauhkan kebahagiaan dan mendekatkan kesengsaraan.




Di tengah-tengah lautan ganas dengan ombak yang menggulung itu, seorang muslim merasa takut fitnah menimpa dirinya disebabkan oleh tersebarnya Syubhat(hal hal yang samar) dan banyaknya "Syahwat" hawa nafsu. Rasulullah Salallahu alaihi Wasalam bersabda: "Sesungguhnya di hadapan kalian akan banyak fitnah, bagaikan malam gelap gulita, seseorang menjadi mumin di pagi hari dan menjadi kafir di sore hari, menjadi mumin di sore hari dan menjadi kafir di pagi hari" (HR. Abu Daud)


Karena keinginan yang tinggi terhadap surga yang seluas langit dan bumi dan karena ketakutan tergelincir dalam kubang kehancuran..., maka teguklah air sungai yang jernih dan memancarkan cahaya dari firman Allah dan sabda Rasul-Nya Salallahu alaihi Wasalam, yang hal itu akan menghilangkan kebengisan, melepaskan cengkraman syaitan dan merobek tirai yang dipercantik oleh maksiat. Rahmat Allah azza wa jalla akan menggapaimu untuk menyelamatkanmu dari siksaan yang pedih dan menjagamu dari kejatuhan ke dalam salah satu pintu diantara pintu-pintu kehancuran dan kebinasaan.



Ukhti muslimah ...


Diantara bahaya terbesar yang mengancam seorang wanita muslimah adalah pengaruh nafsu seks dan terbukanya pintu syahwat di hadapan mereka. Disebabkan oleh awal-awal yang dianggap remeh, tetapi pada akhirnya bisa menggelincirkan seseorang ke dalam perbuatan zina yang diharamkan.



Imam Ahmad rahimahullah berkata: "Saya tidak tahu adanya dosa besar setelah bunuh diri melebihi zina"


Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya telah mengharamkan zina karena kejinya perbuatan ini dan jeleknya sarana pengantarnya. Allah azza wa jalla melarang mendekati sarana dan penyebab zina karena itu adalah langkah awal sebelum terperosok ke dalamnya. Allah taala berfirman: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk" (Al-Isra:32).


Perbuatan zina termasuk dosa besar setelah syirik dan pembunuhan, dan termasuk perbuatan jijik yang membinasakan, dan kejahatan yang mematikan. Rasulullah Salallahu alaihi Wasalam bersabda: "Tidaklah suatu dosa setelah syirik yang lebih besar disisi Allah dari setetes air mani yang diletakkan seseorang lelaki pada rahim yang tidak dihalalkan baginya".


Dalam hadits mutafaqun alahi: "Tidaklah seseorang pezina itu berzina, sementara dia seorang yang beriman (dengan keimanan yang sempurna)".


Keharaman dipertegas lagi oleh Allah azza wa jalla dalam firman-Nya: "Dan orang-orang yang tidak menyembah ilah yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Al-Furqan:68-70).


Dalam ayat ini Allah azza wa jalla menggandengkan perbuatan zina dengan syirik dan membunuh jiwa, serta menjadikan hukuman semua itu berupa kekekalan di dalam adzab yang berlipat-lipat, selama hamba itu belum membuang penyebab adzab itu, yaitu taubat, iman dan amal shaleh.


Allah azza wa jalla mensyaratkan keberuntungan dan keselamatan seorang hamba dengan menjaga kemaluan agar tidak tergelincir pada perbuatan zina. Dan tidak ada jalan menuju kepada keselamatan kecuali dengan meninggalkannya. Allah azza wa jalla berfirman: "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela." (Al-Muminun:1-6)



Ukhti muslimah !!


Zina itu kehinanan yang akan menghancurkan bangunan yang megah, menundukkan kepala yang berwibawa, menghitamkan wajah yang putih dan membisukan lisan yang tajam. Dan itu adalah kehinaan yang paling berpeluang menanggalkan baju kehormatan, bagaimanapun indahnya baju kehormatan itu.


Dan juga merupakan kotoran hitam yang bila menimpa suatu keluarga, maka akan menutupi lembaran-lembaran kehidupan sebelumnya yang putih, dan pandangan matapun tidak memandang mereka kecuali sebagai sesuatu yang hitam dan jelek.



Hukuman Zina




Allah taala mengkhususkan perbuatan zina dengan tiga hukuman:



  1. Dibunuh dengan bentuk pembunuhan yang jelek dan siksaan yang pedih.

  2. Allah melarang hamba-hamba-Nya merasa kasihan dan sayang kepada pelaku zina

  3. Allah memerintahkan agar hukuman tersebut disaksikan oleh kaum muminin, agar lebih tepat sasaran dan sampai kepada hikmah ditegakkannya hukuman itu.


Adapun hukumannya di dunia, adalah dengan menegakkan hukuman bagi pelaku zina laki-laki maupun perempuan yang sudah menikah, berupa rajam dengan lemparan batu hingga meninggal, agar seluruh anggota tubuhnya merasakan siksaan itu sebagai hukuman bagi keduanya (pelaku zina). Keduanya dilempar dengan batu sebagai gambaran bahwa mereka telah menghancurkan suatu rumah tangga, maka keduanya dirajam dengan batu-batu dari bangunan yang telah mereka runtuhkan.


Bila keduanya belum berkeluarga, maka mereka dicambuk sebanyak 100 kali dengan cambukan yang paling keras dan dibuang dari negeri asalnya selama satu tahun.


Diantara hukuman zina adalah seperti apa yang disabdakan Rasulullah Salallahu alaihi Wasalam: "Pintu-pintu surga akan dibuka pada pertengahan malam, lalu ada yang menyeru: "Adakah orang yang memohon lalu permohonannya dikabulkan? Adakah orang yang meminta lalu permintaannya dipenuhi? Adakah orang yang tertimpa sesuatu yang jelek lalu dibebaskan darinya? Maka tidak ada seorang muslimpun yang memohon dengan suatu permohonan kecuali dikabulkan oleh Allah, kecuali wanita pezina yang menjual kehormatannya" (HR.Ahmad dan Tabarani dengan sanad hasan)


Dan diantara akibat tersebarnya perbuatan zina yang keji ini adalah timbulnya berbagai macam penyakit, sebagaimana disinyalir dalam hadits: "Tidaklah nampak suatu perbuatan fahisah (zina) pada suatu kaum hingga mereka terang-terangan melakukannya, kecuali mereka akan ditimpa penyakit menular dan penyakit-penyakit lain yang belum pernah ada pada orang-orang dulu sebelum mereka" (HR.Ibnu Majah).


Dan hal itu dapat disaksikan sekarang ini pada umat yang membiarkan dan membolehkan perbuatan kotor ini.



Abdullah bin Masud berkata: "Tidaklah nampak suatu riba dan zina pada suatu negeri, kecuali Allah akan menghancurkan mereka"


Dan diantara akibat perbuatan zina ini adalah seperti apa yang disabdakan Rasulullah Salallahu alaihi Wasalam dalam hadits Ruyah: "Maka kamipun menuju ke suatu lobang seperti tungku yang atasnya sempit dan bawahnya luas, lalu dinyalakan api. Bila mendekat maka mereka akan terangkat hingga hampir saja mereka terlempar keluar, dan bila apinya redup maka mereka kembali turun.


Di dalamnya terdapat golongan laki-laki dan perempuan yang telanjang, maka saya bertanya: "Siapa mereka?" Kedua (malaikat) itu menjawab: "Mereka itu adalah tukang zina laki-laki dan perempuan." Dan di dalam hadits juga terdapat: "Sesungguhnya seorang laki-laki yang berzina dengan seorang wanita, maka bagi keduanya di dalam kubur akan disiksa setengah siksaan umat ini."


Diantara hukuman zina adalah pelakunya mengumpulkan segala jenis kejelekan seperti: kekurangan agama, tidak bersifat wara(usaha menghindari dosa), tidak bersifat sopan santun, serta tidak mempunyai "ghirah" (rasa cemburu)


Jadi, kita tidak akan menemukan seorang pezina yang memiliki wara, menepati janji, kejujuran dalam perkataan, menjaga ikatan persahabatan dan tidak memiliki "ghirah" yang penuh terhadap keluarganya.


Diantara akibat zina adalah wajah yang hitam dan kelam, hati yang gelap karena cahayanya yang hilang, jiwa yang penuh kesedihan, kegundahan, dan jauh dari ketenangan, umur yang pendek, berkah yang dicabut dan kefakiran yang akan menimpanya. Dalam salah satu atsar disebutkan: "Sesungguhnya Allah membinasakan para taghut dan memfakirkan para pelaku zina"


Diantara akibat lain dari zina adalah pelakunya tidak lagi menyandang nama baik sebagai orang mulia, orang yang baik-baik dan orang yang adil, bahkan sebaliknya akan menyandang nama jelek sebagai orang yang fasik, pezina dan sebagai pengkhianat, keseraman yang meliputi wajahnya, kesempitan dan penyakit hati yang ia derita. Dan diantara akibat zina yang paling besar adalah "Suul Khatimah"(Akhir hidup yang jelek). Ibnul Qayyim berkata: "Bila anda melihat keadaan sebagian besar orang yang sakaratul maut, maka anda akan melihat adanya halangan antara dia dan husnul khatimah, sebagai akibat dari perbuatan-perbuatan jelek yang pernah mereka lakukan"



Ukhi Muslimah !!


Hati-hatilah! Janganlah memberanikan diri untuk melakukan maksiat yang kecil, terlebih lagi yang besar. Wanita-wanita Arab jahiliyah dulu sangat membenci zina dan tidak ridha menimpa orang-orang merdeka (bukan budak). Ketika Rasulullah Salallahu alaihi Wasalam membaiat mereka untuk tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak mencuri dan berzina, Hindun binti Utbah bertanya dengan penuh keheranan: "Apakah ada seorang wanita merdeka yang berzina wahai Rasulullah?"




Dalam salah satu peribahasa Arab mengatakan: "Seorang wanita merdeka meninggal dan tidak makan dari usaha menjual diri"



Ukhti Muslimah !! Ingatlah! Bahwa Allah melihatmu, maka janganlah melanggar perintah-Nya dan terperosok ke dalam apa yang Ia murkai.



Jalan Keselamatan




Ukhti Muslimah !!


Semoga Allah menjagamu dan menghiasimu dengan taqwa!. Laluilah jalan keselamatan! Bangkitlah dari tidurmu! Jauhilah apa yang dapat menggiringmu kepada kehancuran dan membawamu kepada kahinaan.


Diantara jalan keselamatan adalah sebagai berikut:



1.   Tidak berdua-duaan dengan laki-laki lain yang bukan muhrim, selamanya..., baik di rumah, di mobil, di toko, di peSalallahu alaihi Wasalamat dan di tempat lainnya. Jadilah satu umat yang taat kepada Allah azza wa jalla dan Rasul-Nya. Maka janganlah dengan mudah melanggar perintah keduanya. Rasulullah bersabda: "Tidaklah seorang laki-laki yang berdua-duaan dengan seorang wanita, kecuali yang ketiganya adalah syaitan"



2.   Tidak sering keluar ke pasar sebatas kemampuan dan beribadah kepada Allah dengan tetap tinggal dirumah, dengan mengikuti perintah Allah azza wa jalla: "Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian"(Al-Ahzab:33)




Abdullah bin Masud berkata: "Tidak ada taqarub seorang wanita kepada Allah melebihi tinggalnya di rumah." Dan ketika keluar, hendaklah bersama muhrimmu atau wanita yang dapat dipercaya dari keluargamu. Dan janganlah merendahkan suara dan berlemah lembut dalam bertutur kata kepada penjual. Tidak apa anda rugi beberapa rupiah dari pada kerugian menimpa agamamu, naudzu billahi min dzalik



3.   Hindarilah "Tabarruj" (berhias diri) dan "Sufur" (tidak menutup aurat) ketika keluar rumah, karena itu menyebabkan fitnah dan menarik perhatian. Rasulullah bersabda: "Ada 2 golongan penghuni neraka dan disebutkan salah satu diantaranya- wanita yang berpakaian tapi telanjang dan berjalan miring berlenggak-lenggok." Dan pakaian yang paling dianjurkan adalah abaa yang sederhana (pakaian berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuh), menutup kedua tangan dan kaki, serta tidak menggunakan wangi-wangian.


Hendaklah anda mencontoh Ummahatul Muminin dan Shahabiyat, bila keluar rumah mereka itu bagaikan burung gagak yang memakai pakaian hitam, tidak sesuatupun dari tubuh mereka yang terlihat.



4.   Hindarilah wahai ukhti muslimah! Membaca majalah-majalah yang merusak dan menonton film-film yang terdapat adegan porno, karena itu akan membangkitkan nafsu seks dan meremehkan perbuatan keji dengan menamakannya sebagai "cinta dan persahabatan" dan menampakkan perbuatan zina dengan menamakannya "hubungan kasih sayang yang matang antara seorang laki-laki dan wanita". Janganlah merusak rumahmu, hatimu dan akalmu dengan hubungan-hubungan yang diharamkan.



5.   Allah azza wa jalla berfirman: "Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu bahan olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang menghinakan" (Lukman:6).


 


Maka hindarilah mendengarkan lagu-lagu dan musik, hiasilah pendengaranmu dengan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, rutinlah membaca dzikir dan istighfar, perbanyaklah "dzikrul maut" (mengingat mati) dan "Muhasabtun Nafs" (evaluasi diri).


Ketahuilah bahwa ketika anda berbuat maksiat kepada Allah, maka sesungguhnya anda bermaksiat kepada-Nya dengan nikmat yang Ia berikan kepadamu, maka hati-hatilah, jangan sampai nikmat itu dicabut dari diri Anda.



6.   Takutlah kepada Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa dan Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi. Ini adalah rasa takut yang paling tinggi yang menjauhkan seseorang dari perbuatan maksiat. Anggaplah bahwa suatu ketika anda tergelincir pada seperseribu perbuatan zina. Maka bagaimana jika seandainya hal itu diketahui oleh bapakmu, ibumu, saudara-saudaramu, kerabatmu atau suamimu? Dalam pandangan dan buah bibir mereka ketika anda meninggal, mereka akan menganggap anda sebagai seorang pezina, naudzu billahi min dzalik



7.   Hendaklah Anda memiliki temah shalehah yang menolong dan membantu Anda, karena manusia itu lemah sementara syaitan siap menerkam dimana saja. Hindarilah temah jelek, karena ia akan datang kepada Anda bagaikan seorang pencuri yang masuk secara sembunyi-sembunyi mencari kesempatan hingga ia menggelincirkanmu pada sesuatu yang diharamkan.


Ingatlah paman Nabi Salallahu alaihi Wasalam, ia adalah lelaki tua dan memiliki akal yang lurus, tetapi walaupun demikian karena adanya teman yang jelek yaitu Abu Jahal yang hadir di sampingnya ketika wafat, menjadi penyebab meninggalnya ia dalam keadaan syirik.



8.   Perbanyaklah berdoa, karena Nabi umat ini termasuk orang yang senantiasa membaca doa dan banyak istighfar



9.   Janganlah dibiarkan waktu senggang berlalu kecuali anda membaca Al-Quran. Berusahalah menghafal apa yang mudah dari Al-Quran. Kalau Anda memiliki semangat yang tinggi, maka bergabunglah dengan kelompok Tahfidzul Quran khusus wanita, karena jika diri Anda tidak disibukkan dengan ketaatan dan ibadah, maka anda akan disibukkan oleh kebathilan



10.  Sesungguhnya apa yang kalian cari dalam hubungan-hubungan yang diharamkan untuk mengisi waktu atau memenuhi rasa kasih sayang pada hakekatnya adalah akibat dari kekosongan rohani dan hati, serta kesempitan dada yang bersumber dari jauhnya seseorang dari ketaatan dan ibadah. Allah azza wa jalla berfirman: "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit" (Thaha:124)



11.  Ingatlah bahwa Anda akan meninggalkan dunia ini dengan lembaran-lembaran yang Anda tulis sepanjang hari-hari kehidupan Anda, bila lembaran-lembaran itu penuh dengan ketaatan dan ibadah, maka bergembiralah. Dan bila sebaliknya maka segeralah bertaubat sebelum meninggal. Karena hari kiamat itu adalah hari penyesalan.


Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: "Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan." (Maryam:39). Yaitu hari dibukanya (segala hal yang tersembunyi) dan lembaran-lembaran yang beterbangan. Hari dimana seorang ibu yang menyusui melupakan anaknya yang sedang ia susui. Ingatlah wahai ukhti muslimah!, hari dimana anda terbaring di dalam kubur sendirian



12.  Ukhti Muslimah !! Telepon telah menjerumuskan banyak wanita, maka janganlah Anda menjadi salah satu dari mereka. Bila Anda diuji oleh seekor serigala barwajah manusia dan anda telah memulai hubungan yang diharamkan dengannya, maka hendaklah segera memutuskan hubungan itu sebelum berlanjut. Dan ketahuilah bahwa Allah akan memberikan anda jalan keluar dan keselamatan dari padanya.



13.  Ingatlah ! Wahai yang mencari kebahagiaan dan berusaha menuju surga, bahwa itu semua dalam rangka taat kepada Allah dan menjalani perintah-perintah-Nya. "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik" (An-Nahl:97)



Ingatlah bahwa meninggalkan maksiat lebih ringan dari pada meminta taubat. Saya mengingatkan Anda dengan hadits Rasulullah Salallahu alaihi Wasalam: "Bila seorang wanita shalat lima waktu, puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka ia akan memasuki pintu-pintu surga mana saja yang ia kehendaki"



Semoga Allah memberimu petunjuk yang dapat memberikan petunjuk kepada orang lain, menjadikanmu wanita mulia, bertakwa dan suci, menghiasi dirimu dengan iman dan menjadikanmu wanita shalehah dan taat serta termasuk orang-orang yang diseru nanti pada hari kiamat: "Masuklah ke dalam surga, tidak ada kekhawatiran terhadapmu dan tidak (pula) kamu bersedih hati." (Al-Araaf:49)
.


(teamhasmi.org) 


(read more ...)




Selama ini, mayoritas orang selalu menganggap Syiah bagian dari Islam. Mayoritas kaum muslimin di seluruh dunia sendiri menilai bahwa menentukan sikap terhadap Syi’ah adalah sesuatu yang sulit dan membingungkan. Ini disebabkan beberapa hal mendasar yaitu kurangnya informasi tentang Syi’ah. Syi’ah, di kalangan mayoritas kaum muslimin adalah eksistensi yang tidak jelas, tidak diketahui apa hakikatnya, bagaimana berkembang, tidak melihat bagaimana sejarahnya, dan tidak dapat diprediksi bagaimana di kemudian hari. Berangkat dari hal-hal tersebut, akhirnya orang Islam yang umum meyakini Syi’ah tak lain hanyalah salah satu mazhab Islam, seperti mazhab Syafi’i, Maliki dan sejenisnya.



Tapi sesungguhnya ada perbedaan antara Syiah dan Islam. Bisa dikatakan, Islam dengan Syiah serupa tapi tak sama. Secara fisik, sulit sekali membedakan antara penganut Islam dengan Syiah, namun jika diteliti lebih jauh dan lebih mendalam lagi—terutama dari segi aqidah—perbedaan di antara Islam dan Syiah sangatlah besar. Ibaratnya, Islam dan Syiah seperti minyak dan air, hingga tak mungkin bisa disatukan.


Asal-usul Syi’ah


Syi’ah secara etimologi bahasa berarti pengikut, sekte dan golongan seseorang. Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang berkedok dengan slogan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib beserta anak cucunya bahwasanya Ali bin Abi Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm). Sedang dalam istilah syara’, Syi’ah adalah suatu aliran yang timbul sejak masa pemerintahan Utsman bin Affan yang dipimpin oleh Abdullah bin Saba’ Al-Himyari.


Abdullah bi Saba’ mengenalkan ajarannya secara terang-terangan dan menggalang massa untuk memproklamasikan bahwa kepemimpinan (imamah) sesudah Nabi Muhammad saw seharusnya jatuh ke tangan Ali bin Abi Thalib karena suatu nash (teks) Nabi saw. Menurut Abdullah bin Saba’, Khalifah Abu Bakar, Umar dan Utsman telah mengambil alih kedudukan tersebut. Dalam Majmu’ Fatawa, 4/435, Abdullah bi Shaba menampakkan sikap ekstrem di dalam memuliakan Ali, dengan suatu slogan bahwa Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa).


Keyakinan itu berkembang terus-menerus dari waktu ke waktu, sampai kepada menuhankan Ali bin Abi Thalib. Berhubung hal itu suatu kebohongan, maka diambil suatu tindakan oleh Ali bin Abi Thalib, yaitu mereka dibakar, lalu sebagian dari mereka melarikan diri ke Madain.


Pada periode abad pertama Hijriah, aliran Syi’ah belum menjelma menjadi aliran yang solid. Barulah pada abad kedua Hijriah, perkembangan Syiah sangat pesat bahkan mulai menjadi mainstream tersendiri. Pada waktu-waktu berikutnya, Syiah bahkan menjadi semacam keyakinan yang menjadi trend di kalangan generasi muda Islam: mengklaim menjadi tokoh pembaharu Islam, namun banyak dari pemikiran dan prinsip dasar keyakinan ini yang tidak sejalan dengan Islam itu sendiri.


Perkembangan Syiah


Bertahun-tahun lamanya gerakan Syiah hanya berputar di Iran, rumah dan kiblat utama Syiah. Namun sejak tahun 1979, persis ketika revolusi Iran meletus dan negeri ini dipimpin oleh Ayatullah Khomeini dengan cara menumbangkan rejim Syah Reza Pahlevi, Syiah merembes ke berbagai penjuru dunia. Kelompok-kelompok yang mengarah kepada gerakan Syi’ah seperti yang terjadi di Iran, marak dan muncul di mana-mana.


Perkembangan Syi’ah, yaitu gerakan yang mengatasnamakan madzhab Ahlul Bait ini memang cukup pesat, terlebih di kalangan masyarakat yang umumnya adalah awam dalam soal keagamaan, menjadi lahan empuk bagi gerakan-gerakan aliran sempalan untuk menggaet mereka menjadi sebuah komunitas, kelompok dan jama’ahnya.


Doktrin Taqiyah


Untuk menghalangi perkembangan Syi’ah sangatlah sulit. Hal itu dikarenakan Syi’ah membuat doktrin dan ajaran yang disebut “taqiya.” Apa itu taqiyah? Taqiyah adalah konsep Syiah dimana mereka diperbolehkan memutarbalikkan fakta (berbohong) untuk menutupi kesesatannya dan mengutarakan sesuatu yang tidak diyakininya. Konsep taqiya ini diambil dari riwayat Imam Abu Ja’far Ash-Shadiq a.s., beliau berkata: “Taqiyah adalah agamaku dan agama bapak-bapakku. Seseorang tidak dianggap beragama bila tidak bertaqiyah.” (Al-Kaafi, jus II, h. 219).



Jadi sudah jelas bahwa Syi’ah mewajibkan konsep taqiyah kepada pengikutnya. Seorang Syi’ah wajib bertaqiyah di depan siapa saja, baik orang mukmin yang bukan alirannya maupun orang kafir atau ketika kalah beradu argumentasi, terancam keselamatannya serta di saat dalam kondisi minoritas. Dalam keadaan minoritas dan terpojok, para tokoh Syi’ah memerintahkan untuk meningkatkan taqiyah kepada pengikutnya agar menyatu dengan kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berangkat Jum’at di masjidnya dan tidak menampakkan permusuhan. Inilah kecanggihan dan kemujaraban konsep taqiyah, sehingga sangat sulit untuk melacak apalagi membendung gerakan mereka.


Padahal, arti taqiyah menurut pemahaman para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah berdasar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, taqiyah tidaklah wajib hukumnya, melainkan mubah, itupun dalam kondisi ketika menghadapi kaum musrikin demi menjaga keselamatan jiwanya dari siksaan yang akan menimpanya, atau dipaksa untuk kafir dan taqiyah ini merupakan pilihan terakhir karena tidak ada jalan lain.


Doktrin taqiyah dalam ajaran Syi’ah merupakan strategi yang sangat hebat untuk mengembangkan pahamnya, serta untuk menghadapi kalangan Ahli Sunnah, hingga sangat sukar untuk diketahui gerakan mereka dan kesesatannya.


Kesesatan-kesesatan Syiah





Di kalangan Syiah, terkenal klaim 12 Imam atau sering pula disebut “Ahlul Bait” Rasulullah Muhammad saw; penganutnya mendakwa hanya dirinya atau golongannya yang mencintai dan mengikuti Ahlul Bait. Klaim ini tentu saja ampuh dalam mengelabui kaum Ahli Sunnah, yang dalam ajaran agamanya, diperintahkan untuk mencintai dan menjungjung tinggi Ahlul Bait. Padahal para imam Ahlul Bait berlepas diri dari tuduhan dan anggapan mereka. Tokoh-tokoh Ahlul Bait (Alawiyyin) bahkan sangat gigih dalam memerangi faham Syi’ah, seperti mantan Mufti Kerajaan Johor Bahru, Sayyid Alwi bin Thahir Al-Haddad, dalam bukunya “Uqud Al-Almas.”


Adapun beberapa kesesatan Syiah yang telah nyata adalah:



  1. Keyakinan bahwa Imam sesudah Rasulullah saw. Adalah Ali bin Abi Thalib, sesuai dengan sabda Nabi saw. Karena itu para Khalifah dituduh merampok kepemimpinan dari tangan Ali bin Abi Thalib r.a.

  2. Keyakinan bahwa Imam mereka maksum (terjaga dari salah dan dosa).

  3. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam yang telah wafat akan hidup kembali sebelum hari kiamat untuk membalas dendam kepada lawan-lawannya, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, Aisyah dll.

  4. Keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib dan para Imam mengetahui rahasia ghaib, baik yang lalu maupun yang akan datang. Ini berarti sama dengan menuhankan Ali dan Imam.

  5. Keyakinan tentang ketuhanan Ali bin Abi Thalib yang dideklarasikan oleh para pengikut Abdullah bin Saba’ dan akhirnya mereka dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib sendiri karena keyakinan tersebut.

  6. Keyakinan mengutamakan Ali bin Abi Thalib atas Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Padahal Ali sendiri mengambil tindakan hukum cambuk 80 kali terhadap orang yang meyakini kebohongan tersebut.

  7. Keyakinan mencaci maki ara sahabat atau sebagian sahabat seperti Utsman bin Affan (lihat Dirasat fil Ahwaa’ wal Firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minhaa, Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, hal.237).

  8. Pada abad kedua Hijriah perkembangan keyakinan Syi’ah semakin menjadi-jadi sebagai aliran yang mempunyai berbagai perangkat keyakinan baku dan terus berkembang sampai berdirinya dinasti Fathimiyyah di Mesir dan dinasti Sofawiyyah di Iran. Terakhir aliran tersebut terangkat kembali dengan revolusi Khomaeni dan dijadikan sebagai aliran resmi negara Iran sejak 1979.


Saat ini figur-figur Syiah begitu terkenal dan banyak dikagumi oleh generasi muda Islam, karena pemikiran-pemikiran yang lebih banyak mengutamakan kajian logika dan filsafat. Namun, semua jamaah Sunnah wal Jamaah di seluruh dunia, sudah bersepakat adanya bahwa Syiah adalah salah satu gerakan sesat. (sa/berbagaisumber)


Rujukan:



  1. Dr. Nashir bin Abd. Karim Al Aql, "Dirasat fil Ahwaa’ wal firaq wal Bida’ wa Mauqifus Salaf minha."

  2. Drs. KH. Dawam Anwar dkk. "Mengapa kita menolak Syi’ah."

  3. Abdullah bin Said Al Junaid, "Perbandingan antara Sunnah dan Syi’ah. "

  4. Dan lain-lain, kitab-kitab karangan orang Syi’ah.

  5. Beberapa situs dan blog pribadi


(read more ...)



Semoga Antum selalu berada dalam rahmat dan lindungan Allah SWT. Apa yang Antum cemaskan di atas adalah benar adanya dan menjadi kecemasan para pejuang-pejuang dakwah Islam di mana pun sekarang ini. Perang yang dilancarkan musuh-musuh Islam digelar dalam berbagai cara dan di berbagai medan. Ada perang yang menggunakan peluru tajam dan bom, namun ada pula perang yang menggunakan gaya hidup (life-style), yang dalam materi-materi keislaman dikenal dengan istilah Perang Pemikiran atau Perang Kebudayaan (Ghouzwul Fikri). Barat sendiri mengenal istilah itu dengan istilah Perang Peradaban yang dihaluskan menjadi ‘Benturan Peradaban’ (The Clash of Civilization).


Perang Pemikiran yang dilancarkan musuh-musuh Islam antara lain dengan menjerumuskan generasi muda Islam menjadi generasi muda yang suka berfoya-foya, enggan bekerja keras, dan berpikiran sekuler dengan menjadikan orientasi hidupnya demi mengejar kenikmatan kehidupan dunia semata. Tujuan hidup adalah menjadi kaya raya, terkenal, dan populer.


Hal ini sudah lama dirancang oleh Yahudi, di antaranya dimasukkan ke dalam Protocol of Zions yang disahkan menjadi agenda gerakan Yahudi Internasional paska Kongres Zionis Internasional di Swiss tahun 1897 (Protocol ini aslinya terdiri dari 25 pasal, namun kini menjadi 24, silakan search sendiri karena sangat mudah mendapatkannya di internet).


Lalu hal tersebut ditegaskan lagi oleh Samuel Zweimer, Ketua Umum Asosiasi Agen Yahudi pada sambutan pembukaan Konferensi Yerusalem (1935), di mana hadir para utusan agen yahudi dari seluruh dunia. Dalam pidatonya yang juga bisa dicari di internet, Zweimer antara lain menyatakan:


…yang perlu saudara-saudara perhatikan adalah bahwa tujuan misi yang telah diperjuangkan bangsa Yahudi dengan mengirim saudara-saudara ke negeri-negeri Islam, bukanlah untuk mengharapkan kaum muslim beralih ke agama Yahudi atau Kristen. Bukan itu. Tetapi tugasmu adalah mengeluarkan mereka dari Islam, menjauhkan mereka dari Islam, dan tidak berpikir mempertahankan agamanya. Di samping itu saudara-saudara harus menjadikan mereka jauh dari keluhuran budi, jauh dari watak yang baik.


Oleh karena itu, tugas saudara adalah membuka jalan agar kekuatan kolonial mampu menerobos benteng kerajaan Islam. Cara ini telah Anda lakukan dengan baik seratus tahun lalu. Kita dan seluruh saudara kita sangat gembira dengan hasil perjuangan saudara selama ini.


Sarana yang telah saudara-saudara bawa saat ini ternyata mampu mengubah pikiran dunia mengikuti kita. Itulah jalan yang telah saudara-saudara perjuangkan dengan susah payah untuk mengeluarkan kaum muslimin dari agamanya. Kini saudara-saudara telah berhasil mencetak kader-kader dari berbagai macam bangsa yang tidak mengenal hubungannya dengan Allah dan memang mereka tidak ada keinginan sedikitpun untuk mengerti tentang-Nya.


Saudara-saudara telah mengeluarkan kaum muslimin dari agama mereka, sekalipun mereka tetap enggan memakai baju yahudi atau baju kristen. Gaya hidup seperti itulah sasaran perjuangan kita, yakni para pemuda Islam yang malas, enggan bekerja keras, cenderung berfoya-foya, hanya gemar mempelajari segala hal yang berkaitan dengan sensualitas dan nafsu syahwat, bekerja semata-mata demi mengejar kekayaan material dunia semata, memburu jabatan, memuaskan nafsunya, dan sebagainya.


Kini tugas saudara-saudara telah terlaksana dengan amat baik. Saudara-saudara telah mengagungkan agama kita semua, agama yahudi.


Saudara-saudara patut mengetahui bahwa para tetua kita sangat gembira dengan segala apa yang telah saudara-saudara hasilkan. Oleh sebab itu, lanjutkanlah perjuanganmu demi risalah agamamu. Semoga saudara-saudara semua mendapat berkat dari Tuhan kita, Elohim, Allah yang Maha Suci dan Maha Agung. Lanjutkanlah perjuangan ini hingga dunia benar-benar terberkati…


Terkait dengan hal tersebut, lebih kurang dua tahun belakangan ini, jika kita cermati kehidupan remaja di berbagai kota besar, terdapat fenomena baru yakni berbondong-bondong mereka pergi ke suatu tempat di pagi hari, bahkan sejak ba’da subuh,  untuk menyaksikan konser musik yang biasanya di gelar di pelataran parkir sebuah pusat perbelanjaan atau tempat keramaian lainnya.


Kita bisa melihat, sejak pagi hari, berbagai stasiun teve di negeri ini sudah mencekoki kita dengan berbagai acara konser seperti Inbox, Dahsyat, Derings, Playlist, dan sebagainya. Lalu ada pula Missing Lyrics dan lain-lain. Dan kian kemari, lebih dari 90% acara teve, merupakan acara yang konyol, tidak mendidik, mempromosikan kekerasan, dan sama sekali tidak bermanfaat, seperti berbagai sinetron, reality-show (yang sering sudah direkayasa), musik, dan acara “hiburan” seperti Extravaganza dan semacamnya.


Fenomena ini bagi kebanyakan orang memang tidak terlalu dipusingkan. Namun ketahuilah bahwa di suatu tempat di belahan bumi ini, musuh-musuh Islam tengah tertawa bahagia melihat kondisi saudara-saudara kita ini yang setiap hari disibukkan oleh “Kebudayaan Sampah” ini.  


Diam-diam, tanpa disadari banyak orang, umat Islam di negeri ini memang tengah dilemahkan. Generasi muda Islam dibius dengan berbagai budaya pop, antara lain lewat musik sebagai pintu gerbang emas serangan budaya. Sedang generasi yang lebih tua, diserang dengan hal-hal yang lebih dahsyat. Salah satunya dengan kenikmatan hidup duniawi, baik harta, tahta, maupun perempuan, bujukan ideologi, dan sebagainya. Salah satu faktanya, bukan ilusi lagi, adalah  bagaimana kenyataan jika sebagian orang-orang yang selama ini disebut sebagai “pemimpin umat” malah bersekutu dengan kaum kafirin dan liberalis dalam memilih imam. Semua itu dilakukan demi kenikmatan duniawi semata dengan berdalih macam-macam, baik dalih rasionalis maupun agamis. Padahal Rasulullah SAW tidak pernah memberikan loyalitasnya pada pemimpin kaum Quraisy sedikit pun.


Jika dulu dan sampai sekarang Barat menyerang umat Islam dengan 3G (Gold, Glory, dan Gospel), maka Barat sekarang juga menyerang umat Islam lewat 3F (Food, Fashion, and Fun). Dalam bukunya, Jihad vs McWorld, Benjamin R. Barber mengatakan jika apa yang terjadi di dunia hari ini adalah pem-Barat-an budaya (westernisasi), yang dilakukan Utara terhadap Selatan. MTV, McDonald, celana jeans, musik ska, dan R & B dan film-film Hollywood kini dinikmati oleh warga dunia ketiga. Budaya Barat tidak lagi milik segolongan orang Amerika, tapi sudah milik dunia. Termasuk negeri-negeri Islam. Apa yang menjangkiti dunia Islam hari ini adalah berkembangnya mazhab selebritis. Indikasinya adalah eksploitasi aurat dalam media massa, yang salah satunya snagat efektif melalui tayangan TV. Film-film seperti Beverly Hills, Dawson Creek, dan Melrose Place, dan juga sinetron-sinetron konyol dan tidak bermutu lokal Indonesia, seolah-olah tontonan maha penting bagi semua orang dibanding rubrik ilmu pengetahuan. Info Selebritis, atau gosip artis, seolah begitu berharga dibanding berita penting lainnya dalam kehidupan. Semua itu, bisa langsung masuk ke kamar kita secara bebas.


Ini merupakan fakta di dalam masyarakat kita. Salah satu hasilnya adalah, fenomena kebangkitan Islam yang pernah booming di sekitar tahun 1980-an, ternyata tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Secara politis umat Islam kalah total dengan kaum liberal, secara budaya demikian pula. Apa yang dihasilkan oleh gerakan Islam di Indonesia sekarang ini dalam bidang peradaban dan penegakan syariah? Secara kasat mata kita harus berendah hati untuk mengakui: NOL BESAR.


Dalam pilpres kemarin, partai-partai yang menjual label Islam justru mendukung ‘imam’ yang tidak mau membubarkan gerakan sesat Ahmadiyah dan yang membela kaum Liberal yang berkiblat ke Amerika, suatu negara Luciferian. Padahal jika Rasulullah SAW masih hidup, pasti akan segera diperanginya.


Dalam bidang pemikiran, gerakan Islam sekarang tidak ada satu pun yang melahirkan kelompok kajian strategis yang mumpuni dan besar, yang mampu mencerdaskan dan membuat umat-Nya kritis. Yang ada, gerakan Islam hanya melahirkan banyak sekali grup nasyid, yang asyik berdendang-ria dan masuk-keluar dapur rekaman. Malah banyak ustadz yang sekarang terobsesi jadi artis, sehingga salah satunya, tanpa risih mengadopsi lagu “Jablay” dan menjadikannya musik gambus dengan mengganti syairnya. Dia bergoyang-goyang sambil menyanyikan lagu “Jablay”tapi diganti liriknya. Mirip badut.


Akhirul kalam, inilah kondisi ril umat Islam sekarang. Memang, tidak bisa kita pungkiri juga, ada satu-dua generasi muda Islam yang cemerlang, namun secara keseluruhan, mereka tengah mabuk-kepayang oleh budaya sampah. Akankah mereka akan kita biarkan menjadi generasi sampah juga? Wallahu’alam bishawab. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.   

(read more ...)




Ini kisah tentang wanita Mesir yang bersama suaminya akan menunaikan ibadah haji. Mereka datang melalui jalan laut. Mereka tiba dan menunaikan manasik haji.


Mereka thawaf di Ka’bah, melakukan sa’i, meminum air zam-zam, dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Mereka tiada henti-hentinya meneteskan air mata, hingga kembali pulang menuju negeri mereka melalui jalan laut. Suaminya berkata, “Kami berada di dalam sebuah ruangan kamar kapal laut. Ada saya, istri dan anak-anak saya.”


Ketika itu kami sedang bercengkerama, tiba-tiba terdengar teriakan keras dan hentakan telapak kaki. Saya pun keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata semua orang berteriak dengan keras, “Kapal akan tenggelam. Kapal akan tenggelam!”


Dengan penuh ketakutan, saya secepatnya kembali ke kamar dan berkata kepada istri saya, “Kita harus segera keluar, kapal ini akan tenggelam, kapal ini akan tenggelam!” Tapi istri saya menolak, “Tidak, aku tidak akan keluar.”


“Apa yang kamu katakan? Apa kamu sudah gila? Apa akalmu telah hilang? Kapal ini akan tenggelam, kamu ingin mati?”


Dia menjawab, “Aku tidak akan keluar sebelum aku mengenakan jilbabku dengan sempurna.”


Saya berusaha menjelaskan kepadanya bahwa orang-orang saat ini tidak akan sempat memandang wanita, karena sedang berada dalam bencana yang besar.


Istriku menjawab, “Aku tidak akan berdebat dalam perkara ini dan janganlah engkau mendebatku dalam masalah ini. Demi Allah, aku tidak akan keluar dari kamar ini kecuali aku telah mengenakan jilbabku dengan sempurna, jilbab yang diperintahkan oleh Allah kepadaku.”


Aku pasrah dengan realita yang terjadi. Maka dia mengenakan jilbabnya. Saat itu orang-orang saling mendorong ingin menye-lamatkan diri mereka masing-masing.


Lalu dia mengenakan jilbabnya yang mengagumkan. Saat itu istriku tampak sangat tenang. Tidak terlihat tanda-tanda gelisah, takut, dan bersedih. Kemudian kami keluar dan ia telah mengenakan jilbabnya dengan sempurna. Aku memegang tangannya dan ia memegang erat tanganku.”


Tiba-tiba istriku bertanya, “Wahai suamiku, apakah engkau ridha kepadaku?” Aku pun menjawab,”Ya.”


Sungguh aku merasa aneh dengan pertanyaannya. Apakah ini saat yang tepat dia bertanya begitu?”


Dengan jawabanku itu, istriku merasa gembira dan aman. Ia menyunggingkan senyuman. Lalu kami pergi untuk mencari keselamatan. Akan tetapi kami dipisahkan oleh ombak yang besar. Akhirnya kapal kami pun tenggelam.


Tak lama kemudian datanglah tim penyelamat. Mereka menyelamatkan orang-orang yang masih bisa diselamatkan dan tidak mampu menyelamatkan sisanya.


Saya termasuk orang yang selamat. Saya dan anak-anak mencari istri saya di tengah orang-orang yang selamat, namun saya tidak menemukannya. Lalu saya pergi ke tempat para jenazah korban yang tenggelam. Saya mendapatkannya dalam keadaan telah mati dalam jilbabnya.


Laa ilaaha illallah…

Betapa jauhnya para wanita kita dibanding wanita ini. Salah seorang dari mere­ka keluar rumah dengan merasa aman, bebas, dan tenang. Dengan perasaan seperti itu, ia keluar ke pasar dengan memperlihatkan kepalanya, memakai wewangian, berdandan, dan menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya.


Sebaliknya, wanita yang dalam bahaya dan bencana besar ini tetap berpegang kepada jilbabnya. Saya tidak ingin mengomentari sikap ini. Akan tetapi saya ingin menyerukan kepada saudari-saudari yang beriman, “Bertakwalah (takutlah) kepada Allah dalam jilbab anda. Manakah yang anda pilih, jilbab anda atau Neraka? Bertakwalah kepada Allah tentang simbol kesucian dan kehormatan ini.


Janganlah meninggalkan bagaimanapun keadaan dan perihal anda. Takut terhadap su’ul khatimah (akhir hidup yang jelek) adalah kebiasaan para ulama dan merupakan sesuatu yang mengejutkan orang-orang shalih.


Sahl bin Abdullah At-Tustury berkata, “jilbabmu atau Neraka? Bertakwalah kepada Allah dalam masalah simbol kesucian dan kehormatan. Jangan melepaskannya bagai­manapun kondisi dan keadaanmu…”


Takut terhadap su’ul khatimah (akhir hidup yang jelek) adalah kebiasaan para ulama dan sesuatu yang mengejutkan orang-orang shalih.


Sahl bin Abdullah At-Tustury berkata, “Takutnya Shiddiqin terhadap su’ul khatimah ini terjadi pada setiap detak jantungnya dan setiap gerakan. Mereka itulah yang disifati oleh Allah subhanahu wa ta`ala dengan firman-Nya, “Dengan hati yang takut”. (QS. Al-Mukminun: 60)


Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata, “Sesungguhnya rasa takut terhadap khatimah (akhir hayat) telah menggagalkan tampilnya orang-orang yang bertakwa, dan seakan-akan orang-orang yang berbuat dosa lagi zhalim telah menandatangani kontrak keamanan.


Orang-orang yang bertakwa takut kepada su’ul khatimah, sedangkan orang-orang yang banyak dosa seakan-akan pada diri mereka terdapat jaminan keamanan. Sufyan menangis pada suatu malam dan dia semakin banyak menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, “Semua ini karena anda takut terhadap dosa?”


Beliau mengambil sebuah piring besar di tangannya lalu berkata, “Demi Allah, dosa itu terasa lebih ringan bagiku daripada ini, akan tetapi saya menangis karena takut terhadap su’ul khatimah.”


Maka hendaknya kita takut terhadap su’ul khatimah. Nabi Shalallahu Alayhi wa Sallam di dalam hadits yang shahih bersabda, “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian benar-benar mengerjakan pekerjaan ahli Surga, sehingga tidak ada (jarak) antara dia dan Surga itu kecuali sehasta saja. Namun ia telah di dahului oleh ketentuan (takdir) Allah atasnya. Lalu ia mengerjakan pekerjaan ahli Neraka, maka ia pun masuk Neraka. Dan sesungguhnya salah seorang di antara kalian mengerjakan pekerjaan ahli Neraka, sehingga tak ada (jarak) antara dia dan Neraka, kecuali sehasta saja, maka ia didahului oleh ketentuan (takdir) Allah atasnya. Lalu ia mengerjakan pekerjaan ahli Surga, maka ia pun masuk ke dalam Surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Sesungguhnya amalan itu tergantung pada akhirnya. “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu me­rasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) Surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30)


(read more ...)



Ketika pada suatu waktu Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan kepadaku untuk pulang kembali dari perjalanan yang panjang, saat berada dalam pesawat terbang ternyata saya duduk bersebelahan dengan sekelompok anak muda yang senantiasa bergelimang dalam perbuatan sia-sia dan tiada manfaat, sampai-sampai suara tertawanya sangat keras terdengar.

Mereka banyak membuat kegaduhan dan tempat duduk merekapun dipenuhi oleh kepulan rokok cigarette. Dan sudah menjadi hikmah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala pada saat itu adalah bahwa diriku tidak dapat berpindah duduk ke tempat yang lain dikarenakan penumpangnya sangat penuh sekali.


Saya mencoba untuk menghindari kegaduhan dan suasana tidak nyaman ini dengan berusaha tidur, namun mataku tidak dapat terpejam juga. Dan tatkala hatiku mulai dihinggapi perasaan bosan bercampur kesal, maka saya membuka mushhaf al-Quran al-Karim dan mulai membaca sebagian ayat-ayatnya dengan suara yang sayup-sayup terdengar.


 


Ternyata hal itu justru menimbulkan efek lain, yaitu membuat sebagian para pemuda berandalan (kalau boleh dikatakan demikian) tersebuat diam, bahkan mengganti kegaduhannya dengan membaca majalah, dan sebagian yang lainnya mulai tertidur pulas.


Tiba-tiba salah seorang di antara mereka –tempat duduknya persis di sebelahku- berteriak nyaring: "Cukup, cukup".


Saya mengira bahwa saya telah sedikit menyusahkannya karena membaca dengan agak keras, maka sayapun memohon maaf kepadanya. Kemudian sayapun mulai membacanya dengan suara lirih yang hanya didengar olehku. Namun saya melihat dia menutup mukanya dengan kedua tangannya, serta tidak dapat duduk dengan tenang dan mulai banyak bergerak. Kemudian dengan wajah memelas dia berkata kepadaku: "Saya memohon kepadamu untuk tidak membacanya lagi...Cukup...Saya tidak sanggup untuk bersabar lagi".


Akhirnya dia meninggalkan tempat duduknya hingga dalam beberapa saat aku tidak melihatnya. Kemudian diapun kembali seraya mengucapkan salam kepadaku dan memohon maaf yang teramat sangat. Setelah itu dia terdiam, dan sayapun tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi.


Setelah beberapa saat dari kebisuannya, dia menoleh kepadaku dengan kedua mata yang basah oleh linangan air mata, seraya berkata lirih kepadaku: "Sudah tiga tahun atau lebih saya tidak pernah lagi bersujud dalam shalat, dan bahkan tidak pernah membaca al-Quran walaupun hanya satu ayat saja...! Dan sudah sebulan ini saya bepergian dengan banyak melakukan berbagai perbuatan munkar.


* www.Hasmi.org


 


Maka ketika tiba-tiba saya melihatmu membaca al-Quran, saat itu saya mulai merasakan bahwa hidupku sangat kelam, hatiku terasa sesak dan leherku terasa tercekik. Dalam setiap ayat yang engkau baca, saya merasakan lecutan cambuk yang menderaku...!"


Dalam diriku sayapun bergumam: "Sampai kapan kelalaian ini akan terus berlanjut? Dan sampai kapankah saya harus menjalani hidup seperti ini?"


"Apa yang akan terjadi setelah kesia-siaan ini?"


 


"Maka sayapun beranjak ke kamar kecil, dan saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi?"


"Sayapun ingin menangis dengan sekeras-kerasnya, dan tidak kudapati tempat yang dapat menyembunyikan hal tersebut dari pandangan orang lain kecuali hanya di kamar kecil!"


 


Dari ucapannya, maka hal itu tiada lain adalah ungkapan taubat dan keinginan untuk kembali menggapai jalan Allah Subhanahu Wa Ta’ala... kemudian diapun terdiam.


 


Dan ketika kaki pesawat menyentuh landasan, dia menghadangnya agar bisa berbicara hanya berdua saja, jauh dari pandangan teman-temannya. Dengan antusias dia bertanya kepadaku: "Apa engkau mempunyai keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengampuniku?"


 


Saya berkata kepadanya: "Apabila taubatmu benar dan engkaupun bertekad untuk kembali kepangkuan-Nya, maka sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Taala akan memgampuni dosa apa saja!"


Dia berkata: "Tetapi dosa yang telah kukerjakan sangat besar sekali...besar sekali...!"


 


Saya berkata kepadanya: "Belum pernahkah engkau mendengar firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala


:


 



قُلْ يَاعِبَادِي الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لاَ تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ


"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang"{QS. al-Zumar (39): 53}"


Saat itulah kulihat senyum bahagia dari pancaran wajahnya dan linangan air mata taubat dari kedua mata mungilnya, kemudian dia melepas kepergianku dan berlalu meninggalkanku...!


Subhanallah al-Azhīm...!


Sesungguhnya perbuatan maksiat dan tindakan melampaui batas yang dikerjakan oleh seorang insan, maka di dalamnya hatinya masih senantiasa tersimpan setitik kebaikan. Apabila kita sanggup menarik simpatinya dan mengayominya, maka dengan izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala kita akan dapat memanen benih kebaikan yang mulai tumbuh.


 


Benih kebaikan akan senantiasa ada dalam hati seseorang meskipun kehidupannya bergelimang dengan hawa nafsu. Dan apabila Allah Subhanahu Wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan menyinari hatinya dengan secercah cahaya hidayah hingga dapat menggapai jalan hidayah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk(memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit…"{QS. al-Anam (6): 125}


(read more ...)






Allah ta’ala berfirman,


يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ


“Pada hari itu -hari kiamat- tidak bermanfaat lagi harta dan keturunan, melainkan bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. as-Syu’ara: 88-89).


 


Abu Utsman an-Naisaburi rahimahullah mengatakan tentang hakikat hati yang selamat, “Yaitu hati yang terbebas dari bid’ah dan tenteram dengan Sunnah.” (disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya [6/48] cet Maktabah Taufiqiyah).


Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan bahwa hakikat hati yang selamat itu adalah, “Hati yang bersih dari syirik dan keragu-raguan. Adapun dosa, maka tidak ada seorang pun yang bisa terbebas darinya. Ini adalah pendapat mayoritas ahli tafsir.” (Ma’alim at-Tanzil [6/119], lihat juga Tafsir Ibnu Jarir at-Thabari [19/366] as-Syamilah).


Imam al-Alusi rahimahullah juga menyebutkan bahwa terdapat riwayat dari para ulama salaf seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Ibnu Sirin, dan lain-lain yang menafsirkan bahwa yang dimaksud hati yang selamat adalah, “Hati yang selamat dari penyakit kekafiran dan kemunafikan.” (Ruh al-Ma’ani [14/260] as-Syamilah).


Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pengertian paling lengkap tentang makna hati yang selamat itu adalah hati yang terselamatkan dari segala syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan larangan-Nya. Hati yang bersih dari segala macam syubhat yang bertentangan dengan berita dari-Nya. Oleh sebab itu, hati semacam ini akan terbebas dari penghambaan kepada selain-Nya. Dan ia akan terbebas dari tekanan untuk berhukum kepada selain Rasul-Nya…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah).


Syaikh as-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Hati yang selamat artinya yang bersih dari: kesyirikan, keragu-raguan, mencintai keburukan, dan terus menerus dalam bid’ah dan dosa-dosa. Konsekuensi bersihnya hati itu dari apa-apa yang disebutkan tadi adalah ia memiliki sifat-sifat yang berlawanan dengannya. Berupa keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kebaikan dan memandang indah kebaikan itu di dalam hati, dan juga kehendak dan kecintaannya pun mengikuti kecintaan Allah, hawa nafsunya tunduk mengikuti apa yang datang dari Allah.” (Taisir al-Karim ar-Rahman hal. 592-593 cet. Mu’assasah ar-Risalah)


Ibnul Qayyim rahimahullah juga menjelaskan karakter si pemilik hati yang selamat itu, “… apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya karena Allah. Apabila dia memberi maka juga karena Allah. Apabila dia mencegah/tidak memberi maka itupun karena Allah…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)


Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan:


حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ شَابُورٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ الْحَارِثِ عَنِ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِى أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الإِيمَانَ ».


Mu’ammal bin al-Fadhl menuturkan kepada kami. Dia berkata: Muhammad bin Syu’aib bin syabur menuturkan kepada kami dari Yahya bin al-Harits dari al-Qasim dari Abu Umamah radhiyallahu’anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barang siapa yang mencintai karena Allah. Membenci karena Allah. Memberi karena Allah. Dan tidak memberi juga karena Allah. Maka sungguh dia telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud, disahihkan al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Abu Dawud [10/181] as-Syamilah)


Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan, “…Dan hal itu pun tidak cukup baginya sampai dia terbebas dari belenggu ketundukan berhukum kepada siapa saja selain Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu dia hanya mengikatkan hatinya dengan kuat untuk mengikuti dan meneladani beliau semata. Bukan kepada siapa-siapa. Baik dalam hal ucapan maupun perbuatan…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)


Allah ta’ala berfirman,


فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


“Maka demi Rabbmu, sekali-kali mereka belumlah beriman sampai mereka menjadikanmu (hai Muhammad) sebagai hakim di dalam perselisihan yang terjadi di antara mereka, kemudian mereka tidak mendapati rasa berat di dalam hati mereka, dan mereka pun pasrah dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisa’: 65)


Allah ta’ala berfirman,


وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا


“Tidaklah layak bagi seorang yang beriman, lelaki dan perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara ternyata masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barang siapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36)


Allah ta’ala berfirman mengenai Nabi-Nya,


وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى


“Tidaklah dia -Muhammad- berbicara dengan memperturutkan hawa nafsunya, akan tetapi apa yang disampaikannya hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. an-Najm: 3-4)


Oleh karena itu, Allah ta’ala menyatakan,


مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ


“Barang siapa taat kepada Rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisaa’ : 80)


Allah ta’ala juga memerintahkan,


وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا


“Apa saja yang dibawa oleh rasul maka ambillah (laksanakan) dan apa saja yang dilarangnya kepada kalian maka tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr: 7)


Oleh sebab itulah, kehidupan yang sejati hanya akan diperoleh dengan memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya. Tunduk beribadah dengan ikhlas kepada Allah, dan mengikatkan diri dengan syari’at dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ


“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya Allah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan dikumpulkan untuk bertemu dengan-Nya.” (QS. al-Anfal: 24)


Ketika menjelaskan kandungan pelajaran dari ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanyalah bisa digapai dengan memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya. Barang siapa yang tidak muncul pada dirinya istijabah/sikap memenuhi dan mematuhi seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun sebenarnya dia masih memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dia dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan pada diri orang yang memenuhi seruan Allah dan rasul-Nya secara lahir dan batin. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka masih hidup. Oleh karena itulah maka orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna di antara mereka dalam memenuhi seruan dakwah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang beliau dakwahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang luput darinya sebagian darinya maka itu artinya dia telah kehilangan sebagian unsur kehidupan, dan di dalam dirinya mungkin masih terdapat kehidupan sekadar dengan besarnya istijabahnya terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Fawa’id, hal. 85-86 cet. Dar al-’Aqidah)


Oleh karena itulah Allah menyebut orang-orang kafir sebagai orang yang mati, walaupun jasad mereka masih bergentayangan di atas muka bumi. Allah ta’ala berfirman,


أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا


“Apakah orang yang telah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya untuk berjalan di tengah-tengah manusia sama dengan orang sepertinya (mati) yang tenggelam di dalam berbagai kegelapan dan tidak bisa keluar darinya.” (QS. al-An’am: 122).


Imam al-Baghawi rahimahullah mengatakan tentang tafsir ayat ini, “Dahulu orang itu sesat kemudian Kami berikan petunjuk kepadanya. Dahulu dia mati akibat kekafiran -yang menyelimuti hatinya- kemudian Kami hidupkan kembali dengan iman.” (Ma’alim at-Tanzil [3/184] as-Syamilah)


Penafsiran ini didukung oleh beberapa atsar dari ulama salaf yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir at-Thabari rahimahullah di dalam tafsirnya. adh-Dhahhak rahimahullah mengatakan bahwa orang yang mati -hatinya- kemudian Allah hidupkan dengan iman adalah Umar bin al-Khatthab radhiyallahu’anhu, sedangkan orang yang tetap tenggelam di dalam kegelapan itu adalah Abu Jahal. Adapun menurut Ikrimah, yang dimaksud orang yang mati -hatinya- kemudian Allah hidupkan dengan iman adalah ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhuma, sedangkan orang yang tetap tenggelam di dalam kegelapan itu adalah Abu Jahal. Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma juga mengatakan, “Dia itu adalah orang kafir yang kemudian Allah tunjukkan kepada Islam.” (Jami’ al-Bayan [12/89-91] as-Syamilah)


Sehingga yang menjadi syi’ar dan slogan orang-orang yang beriman adalah ’sami’na wa atha’na’ (kami dengar dan kami taat). Sebab mereka menyadari bahwa dengan sikap seperti itulah hidup mereka menjadi benar-benar berarti. Allah ta’ala berfirman tentang mereka,


إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman itu ketika diseru untuk patuh kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul itu memutuskan perkara di antara mereka maka jawaban mereka hanyalah, ‘Kami dengar dan kami taati’. Hanya mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. an-Nur: 51)


Inilah sikap seorang mukmin. Dia akan senantiasa mendengar dan menaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Baik hal itu sesuai dengan hawa nafsunya atau tidak. Orang-orang seperti itu sajalah yang akan bisa mendapatkan keberuntungan. Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Tidak akan beruntung kecuali orang yang menjadikan Allah dan rasul-Nya sebagai hakim/pemutus perkara -di antara mereka- dan tidak akan beruntung selain orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman [2/781] cet. Jum’iyah Ihya’ at-Turots al-Islami)


Sebaliknya, seorang yang hatinya telah mati. Maka apabila dia mencintai, cintanya karena kepentingan hawa nafsunya. Memberi dan tidak pun juga karena hawa nafsunya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Jenis hati yang kedua adalah hati yang mati, yaitu yang di dalamnya tidak terdapat kehidupan. Ia tidak mengenal Rabbnya, tidak menyembah-Nya dengan perintah-Nya, tidak mengikuti kecintaan dan keridhaan-Nya. Akan tetapi dia bersikap untuk menuruti hawa nafsunya dan semata-mata untuk meraih ambisi pribadi. Walaupun seandainya untuk mendapatkannya dia harus membuat Allah murka dan marah, maka dia tidak lagi peduli asalkan dia mendapatkan apa yang disenangi oleh nafsu dan mendapatkan ambisi pribadinya. Dia tidak peduli apakah Rabbnya ridha ataukah murka. Oleh sebab itu pada hakikatnya dia adalah penyembah selain Allah, dengan rasa cinta, takut, harapan, ridha dan murka, serta pengagungan dan perendahan dirinya. Apabila dia mencintai maka dia mencintai karena dorongan hawa nafsunya. Apabila dia membenci maka dia membenci juga karena hawa nafsunya. Apabila dia memberikan sesuatu maka dia pun memberikannya karena hawa nafsu. Begitu pula apabila mencegah/tidak memberi, maka dia pun melakukannya karena hawa nafsu. Baginya hawa nafsu lebih diutamakan dan lebih dicintainya daripada keridhaan Tuhannya. Hawa nafsu adalah imamnya. Syahwat adalah komandannya. Kebodohan adalah sopirnya. Kelalaian adalah kendaraannya. Pikirannya hanya berisi ambisi-ambisi untuk memenuhi keinginan duniawi. Pikirannya telah terjangkit penyakit hawa nafsu dan dimabuk dengan dunia…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15 cet. Dar Thaibah)




(read more ...)





Sincan adalah anak yang sering mendurhakai kedua orang tuanya, dia suka berbohong, mengeluarkan kata-kata yang kurang ajar kepada kedua orang tuanya, dan suka membuat orang tuanya marah dan jengkel. Jadi, jangan heran kalau banyak anak-anak yang meniru watak Sincan, karena telah terpengaruh oleh cerita kartun tersebut.


Allah berfirman,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kalian jangan menyembah selain dia dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak kalian dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kalian mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS.Al-Israa’:23)


Nabi saw telah menyebutkan di antara dosa-dosa besar,

“Menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua.” Kemudian Beliau duduk -sebelumnya bersandar- sambil bersabda, “Ingatlah, dan juga perkataan dusta.” (HR. Bukhari dalam Shahih-nya 2511)


Abu Amr Ibnush Shalah berkata, “Mungkin bisa dikatakan, taat kepada kedua orang tua adalah wajib dalam segala sesuatu yang bukan maksiat, menyelisihi perintah keduanya dalam hal itu adalah kedurhakaan.” (Lihat Umdah Al-Qariy (13/216)


Jadi, termasuk dosa besar jika seseorang mencela, membentak, merendahkan orang tuanya. Semua ini adalah bentuk-bentuk durhaka yang terlarang di dalam agama kita yang memiliki aturan yang amat sempurna!


Masih akankah kita membiarkan anak-anak kita tenggelam dalam kesalahan-kesalahan yang menipu dengan bingkai menarik lagi menghibur. Hendaknya kita selalu berdoa dengan harap dan cemas agar kita dan keluarga terus dianugrahi petunjuk Ilahi. Waallahu’alam



(read more ...)




Iman bisa bertambah dan bisa berkurang. Bertambahnya karena ketaatan dan berkurangnya karena kemaksiatan. Semakin banyak seseorang melakukan ketaatan maka semakin bertambah pula keimanannya. Ketika keimanan seseorang semakin bertambah maka ia akan mendapatkan banyak kebaikan.


Tak sedikit wanita di masa sekarang ini yang telah menanggalkan rasa malunya dari cara dia berbusana, bergaul, dan bergaya hidup modern lainnya inilah gambaran fenomena kehidupan saat ini.”


Sifat malu itu adalah bagian dan akhlak mulia, bahkan merupakan cabang dari keimanan. Sifat malu memang identik dengan wanita karena merekalah yang dominan memilikinya. Namun sifat malu tidak mutlak milik kaum hawa, laki-laki pun memilikinya. Adanya sifat malu pada diri seseorang akan mendorongnya kepada kebaikan dan mencegahnya kepada kejahatan. Bila rasa malu itu telah hilang, ia akan jatuh dalam perbuatan maksiat dan dosa. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:


“Termasuk yang diperoleh manusia dari ucapan kenabiannya yang pertama adalah: jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu”. (HR. Bukhari)


Merebaknya kejahatan seksual kian memprihatinkan. Namun sedikit yang menyadari bahwa semua itu bersumber dari tersebarnya kerusakan sebagai akibat dari diumbarnya aurat wanita di tempat-tempat umum. Bocah yang masih ingusan/bahkan kakek yang tua renta pun bisa menjadi pelaku kejahatan karena mereka secara terus menerus disuguhi pemandangan yang bukan haknya ironisnya sebagian kor-ban adalah anak perempuan dibawah umur.


Sebagian orangtua seoleh begitu leluasa membiarkan putra-putri mereka bercampur baur dengan laki-laki baik di sekolah, di rumah, atau di tempat lainnya. Mereka membiarkan anak gadis mereka pergi keluar rumah sendirian tanpa ditemani siapapun. Demikian kenyataan ini benar-benar terjadi.


Bila rasa malu telah hilang dari seorang insan, ia akan melangkah dari satu kejelekan kepada hal yang lebih jelek lagi. Dan satu kerendahan kepada hal yang lebih jelek lagi. Dari satu kerendahan kepada hal yang lebih rendah lagi.


Sungguh wajib bagi kita untuk terus merasakan pengasan Allah dan malu kepada-Nya di setiap waktu dan tempat seseorang yang jujur dalam keimanannya akan merasa malu kepada Allah jika melanggar kehormatan orang lain dan mengambil hak orang lain. Sedangkan orang yang telah dicabut rasa malu dari wajahnya, ia akan berani melanggar larangan Allah. Nau’udzu billah.


Bila kita telah mengetahui pentingnya sifat malu, maka berupayalah untuk menumbuhkannya didalam keluarga. Karena ketika rasa malu itu maish ada, kebaikan akan senantiasa mereka agungkan.


Agama Islam datang dengan memberikan kemuliaan kepada wanita, memelihara dan menjaganya dari terkaman serigala dari kalangan manusia, sebagaimana Islam menjaga hak-hak wanita, mengangkat hakikat dan martabatnya.


Islam mewajibkan bagi wanita untuk menghijabi (menutup) dirinya dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya agar ia tidak menjadi barang dagangan murahan yang bisa dinikmati setiap orang kapanpun dan dimanapun. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:


“Katakanlah kepada wanita-wanita mukminah: Hendaklah mereka menundukkan pandangan mata mereka dan menjaga kemaluan mereka serta jangan menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya (tidak mungkin di tutupi)”. (QS. An Nur: 30)

Pada zaman sekarang ini, banyak wanita yang mengaku seorang muslimah akan tetapi dengan ikhlas menjual kehormatannya. Dan tidak sedikit wanita muslimah yang tidak segan-segan mereka terjun dalam dunia musik dan acting. Mereka begitu bebas berinteraksi dengan orang lain tanpa menghiraukan keberadaan sang suami. Maka jangan heran jika kehidupan rumah tangga mereka tidak berjalan sesuai harapan.


Oleh karena itu, tidak sepantasnya bagi wanita muslimah untuk melakukan hal-hal seperti itu, karena tidak akan memberikan manfaat baik bagi dirinya ataupun orang lain.


Alangkah baik bagi seorang wanita muslimah untuk tidak banyak keluar rumah kecuali memang terdapat keperluan yang penting. Itupun mereka apabila keluar harus menutup aurat agar terhindar dari berbagai fitnah. Namun apabila tidak ada keperluan, sebaiknya seorang wanita muslimah tinggal di rumah. Dengan begitu, dia akan lebih terjaga kehormatannya. Sebagaimana Allah berfirman:


“Dan tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian dan jangan bertabarruj (berhias) seabgaimana tabarruj orang-orang jahiliyyah yang dahulu”. (QS. Al Ahzab:33). Wallahu alam.

(read more ...)




Parfum dan wanita merupakan bagian yang tak terpisahkan.Saking pentingnya banyak kaum hawa yang tak percaya diri bila tidak memakai benda ini. Sekejap saja kita keluar rumah dijalan, di pasar, di tempat keramaian maka akan dengan mudah hidung kita mencium bau yang semerbak dari wewangian parfum.Berbagai macam merek parfum dijual dari harga di bawah sepuluh ribu rupiah sampai ratusan ribu bahkan ada yang mencapai jutaan.Yang menjadi masalah bukannya merek atau harganya . Sebenarnya boleh nggak sih seorang wanita muslimah keluar dengan memakai parfum?walaupun hanya setetes saja?


Wajib bagi setiap muslimah mengetahui tentang masalah ini agar nantinya bermanfaat bagi diri kita, apakah yang kita lakukan sudah sesuai dengan garis syariat agama kita , sayang kan kalau ternyata hal ini kita anggap enteng (disepelekan)ternyata merupakan suatu kesalahan besar setelah di tinjau dari kacamata islam sehingga anggapan semacam ….ah itukan hanya setetes saja apa salahnya??, atau hanya parfum ini …tidak akan kita dengar lagi ……lalu bagaimana sebenarnya islam memandang masalah wanita yang keluar rumah dengan memakai parfum ??? Ada baiknya kita simak penjelasan berikut ini.



  1. Nabi Shalallahu alaihi wassalam bersabda:”Siapa saja perempuan yang memakai harum-haruman (parfum) maka janganlah ia menghadiri shalat isya (dimasjid) bersama kami” {Shahih riwayat Imam Ahmad,Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i dari jalan Abu Hurairah, juga lihat kitab Ash-shahihah hadits no.1094)

  2. Dari Abu hurairah : “Bahwa seorang wanita berpapasan dengannya dan bau wewangian (parfum) menerpanya.Maka Abu Hurairah berkata:”Wahai hamba Allah! apakah kamu hendak kemasjid?”ia menjawab:”Ya!” Abu Hurairah kemudian berkata lagi:”Pulanglah saja, lalu mandilah! karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda:”Jika seorang wanita keluar menuju masjid sedangkan bau wewangiannya menghembus maka Allah tidak menerima shalatnya, sehingga ia pulang lagi menuju rumahnya lalu mandi (baru kemudian shalat kemasjid” {Hadits shahih, dikeluarkan oleh Al-baihaqi (III/133 dan 246) lihat silsilah Hadits Shahihah Syaikh Albani 3/1031)

  3. Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:”Siapa saja perempuan yang memakai minyak wangi kemudian keluar ke masjid niscaya tidak diterima shalatnya sehingga ia mandi dahulu (membersihkan dirinya dari wangi-wangian tersebut) ” {Shahih riwayatb Ibnu Majah dari jalan Abu Hurairah}


Hadits  pertama menjelaskan haramnya seorang wanita keluar ke masjid untuk menghadiri shalat isya dengan memakai wewangian.Disebutnya shalat isya disini tidak berarti menghadiri shalat-shalat lainnya diperbolehkan.Tentu saja tidak!!karena pada hadits kedua dan ketiganya menunjukkan keumuman seluruh macam shalat baik shalat fardhu maupun sunnah (seperti shalat tarawih dan shalat hari raya). Disebut shalat isya pada hadits no. 1 karena fitnahnya lebih besar.Kita lihat penjelasan Ibnul Malik mengenai hal ini :”shalat isya itu dikerjakan pada waktu malam hari, dimana kondisi jalanan pada waktu itu sepi dan gelap, sedangkan bau harum itu dapat membangkitkan birahi laki-laki, sehingga kaum wanita tidak bisa aman dari fitnah pada saat-saat seperti itu.Berbeda dengan waktu lainnya seperti Shubuh dan Magrib yang agak terang. Sudah jelas bahwa memakai wewangian itu menghalangi seorang wanita untuk mendatangi masjid secara mutlak”(Jilbab Wanita Muslimah:143-144)’


Apakah benar hanya ke masjid saja yang dilarang??? kalau begitu keluar rumah asalkan kita nggak ke masjid sah-sah saja kita memakai minyak wangi.Pembahasan ini belum lah selesai. Penulis menemukan satu hadits lagi yang patut kita camkan baik-baik karena apabila kita meremehkan bahaya sekali akibatnya .Ingin tahu lebih detail lagi???


Hadits ini diriwayatkan dari jalan Abu Musa Al-Asyari Radhiyallahu anhu dia menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi wassalam telah bersabda:



“Siapa saja perempuan yang memakai minyak wangi, kemudian ia keluar lalu ia melewati suatu kaum (orang banyak) supaya mereka mendapati (mencium )baunya , maka dia itu adalah perempuan zina /tuna susila”(Hadits ini hasan shahih diriwayatkan Imam Ahmad(4/414),Abu Dawud(4173),Tirmidzi(2786),An-Nasa’i(8/153)).



Jadi bagi siapa saja wanita muslimah yang memakai parfum ketika keluar rumah akan terkena ancaman ini. Alasan pelarangannya sudah jelas yaitu bahwa hal itu dapat membangkitkan syahwat kaum laki-laki.Al-Alamah Al-Mubarakafuri Rahimahullah menjelaskan hadits diatas dengan mengatakan:



“Yang demikian itu disebut berzina karena wangi-wangian yang dikenakan wanita dapat membangkitkan syahwat laki-laki dan menarik perhatian mereka. Laki-laki yang melihatnya berarti telah berzina dengan mata dan dengan demikian wanita itu telah melakukan perbuatan dosa “(30 larangan Wanita 30-31).



begitu pula dengan Syaikh Albani beliaupun menyampaikan penjelasan hadits diatas (hadits 1,2,3 dan yang terakhir ) dengan berkata:



“Jika hal itu (memakai wewangian ) saja diharamkan bagi wanita yang hendak keluar masjid, lalu apa hukumnya bagi yang hendak menuju pasar, atau tempat keramaian lainnya??tidak diragukan lagi bahwa hal ini jauh lebih haram dan lebih besar dosanya.AlHaitsami dalam kitabnya Az-Zawajir (2/37) menyebutkan bahwa keluarnya seorang wanita dari rumahnya dengan memakai harum-haruman dan berhias adalah termasuk perbuatan dosa besar, meskipun suaminya mengijinkannya.(Jilbab Wanita muslimah 143).



Mungkin akan timbul pertanyaan dalam benak kita, kalau memakai parfum haram hukumnya (ketika keluar rumah) lalu bagaimana mengatasi bau badan kita???tentunya kita akan malu dan tidak percaya diri berdekatan dengan teman-teman di kampus, sekolah, rumah sakit dan sebagainya.Bagaimana ini???ukhti-ukhti jangan khawatir sekarang ini banyak produk yang dijual dipasaran untuk mengatasi masalah tersebut.Dari yang berbentuk bubuk sampai cairpun dijual bebas.Pilihlah yang tidak memakai wewangian (fragarance free),apalagi kalau ukhti rajin minum jamu maka tidaklah sulit untuk mengatasi masalah “bau badan ini” dengan rajin mandi, minum jamu dan memakai produk khusus untuk mengatasi “bau badan” maka insya Allah kita akan terhindar dari bau yang tidak menyenangkan itu.Sehingga kita tidak akan bergantung lagi dengan parfum , bila ukhti dirumah maka islam tidak melarang seorang wanita muslimah memakainya, kita bebas memakainya asalkan kita yakin parfum itu tidak akan tercium oleh laki-laki yang bukan mahram kita.jadi kita nggak mau kan terjerumus dalam kesalahan fatal (dosa) hanya gara-gara dari setetes parfum yang kita pakai ketika keluar rumah.


Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita , sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.amin.


(read more ...)



 


“Bisa jadi kamu membenci sesu-atu, padahal itu sangat baik bagi kamu, dan bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal itu sangat buruk bagi kamu.” (QS. Al-Baqoroh: 216)


Ada apa dengan kita hari ini? Sering menilai sesuatu yang baik sebagai sesuatu yang buruk dan sebalinya, menilai suatu keburukan sebagai kebaikan. Kita sering salah kaprah!


Kita mengira, bahwa kehidupan dunia adalah segalanya, seakan-akan kebahagiaan itu ada padanya. Bukankah kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, serta tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu?


Kita mengira, sedekah adalah pengurang harta dan rizki yang dimiliki. Sadarkah kita? Bukankah sedekah itu adalah pelindung harta, pembuka pintu rezeki dan penolak bala?


Kita merasa, mendengarkan mu-sik adalah sesuatu yang mendatangkan kenikmatan dan menyenangkan. Bukankah musik itu adalah senandung syetan yang mengeraskan hati dan membuat pendengarnya lalai dari kesadaran?


Kita menyangka, mendapatkan pasangan cantik dan rupawan adalah sebuah kebanggaan yang akan mendatangkan kebahagiaan. Tidak sadarkah kita? kebahagiaan dan ketenangan adalah milik mereka yang mendapatkan pasangan soleh dan solehah yang beriman!


Kita mengira, orang gaul itu adalah mereka yang tahu banyak tentang trend fashion terkini, musik terkini, film terkini dan semuanya yang teranyar. Mereka yang bangga dengan gayanya yang nge-Rock, Pungk, Hip Hop, dan R&B. Sadarkah kita? Mereka adalah orang-orang berselera rendahan! Bukankah lebih baik mengagumi mereka yang tahu kebenaran, mengikutinya, dan teguh di dalamnya? Tidak perduli apa yang orang lain pikir dan katakan. Juga tak perduli apakah sesuai dengan trend teranyar atau malah ketinggalan zaman. Siapa yang lebih baik pakaiannya daripada orang-orang yang mengikuti cara berpakaian mereka yang dipuji oleh Dzat yang Maha Indah?


Kita menyangka, mereka yang mencari kesenangan dan kenikmatan dengan sesuatu yang diharamkan dan berzina ria, merasakan kesenangan dan menikmati kehidupan. Tidakkah kita tahu? Orang yang melakukan se-suatu yang haram akan mengalami kesusahan. Bukankah zina itu perbua-tan orang-orang yang menjijikan, ti-dak tahu arti kehormatan dan menu-kar sesuatu yang baik dengan keburukan yang mendatangkan kesengsaraan tak berkesudahan?


Kita mengira, kebahagiaan adalah milik mereka yang memiliki jabatan tinggi dan harta yang melimpah. Kitapun terkadang berangan-angan untuk mendapatkannya. Tidak yakinkah kita? kebahagiaan dan ketena-ngan adalah milik orang beriman, yang mengikuti petunjuk Alloh, menyerahkan diri pada-Nya dan berbuat baik sesamanya! Disanalah letak kebahagiaan!


Kita merasa, akhlak baik itu sudah tidak zaman, norak dan kampungan. Percayalah! Tidaklah akhlak baik itu melekat pada budi pekerti seseorang, kecuali baginya kemuliaan.


Kita sering merasa, shalat adalah kewajiban dari Alloh yang menjadi beban. Bukankah sholat itu salah satu bentuk kasih sayang Alloh untuk melindungi kita agar jauh dari berbuat kesalahan dan kebodohan? Bahkan terkadang, kita juga merasa bahwa agama itu adalah sesuatu yang kolot, kuno dan ketinggalan zaman.


Bangunlah wahai sahabatku! Hilangkan pikiran itu! Yakinlah, agama adalah cara yang tidak pernah ketinggalan zamannya, terjitu dan cara termudah untuk menempuh kehidupan dengan penuh kebahagiaan dan kepuasan sepanjang masa.


Kita semua tahu, bahwa seorang ibu lebih tahu apa yang terbaik buat anaknya, seorang guru lebih mengerti dari pada murid yang diajarinya dan seorang yang melihat menjadi penun-tun bagi yang buta. Bagaimana mungkin kita mengabaikan petunjuk dari Sang Pencipta semua ibu, pemberi ilmu para guru dan pemberi penglihatan kepada semua yang dapat melihat?


Apakah manusia yang hidup tidak lebih dari umur bumi dan tinggal di suatu tempat di dalamnya lebih mengetahui dari pada Alloh Yang hidup kekal, Yang menciptakan bumi dan menguasainya?


Jadi sahabatku, janganlah sok tahu tentang kehidupan. Jangan coba-coba mencari jalan yang belum pasti, hidup cuma sekali. Hiduplah dengan tuntunan Islam, yang segala macam kebaikan terhimpun di dalamnya. Bukalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasululloh ; baca, pelajari, renungkan, amalkan dan rasakanlah sensasinya.


WaAlloh A’lam.


 


 

(read more ...)



Saudariku muslimah, salah seorang darimu pernah berkisah, simaklah mudah-mudahan engkau bisa mengambil faedah.



Mulanya hanyalah perkenalan dan percakapan biasa lewat telepon. Seiring waktu berkembanglah pembicaraan sampai pada kisah cinta dan seluk-beluknya. Dia pun kemudian mengungkapkan cintanya dan berjanji akan meminang saya. Dia meminta agar bisa melihat wajah saya, terang saya menolaknya. Dia mengancam akan memutuskan hubungan. Akupun menyerah. Kukirimkan fotoku serta surat-surat yang begitu manis penuh rayu. Surat menyurat pun berlangsung selalu. Sampai akhirnya dia meminta untuk berjumpa dan jalan berdua dengannya. Aku menolak dengan keras. Tapi dia mengancam akan menyebarluaskan foto-foto saya serta surat-surat saya dan suara saya yang direkamnya ketika kami bercakap-cakap lewat telepon. Akhirnya akupun keluar pergi bersamanya dengan tekad agar bisa pulang segera secepatnya. Ya, akupun pulang akan tetapi dengan mambawa aib dan kehinaan. Ku katakan padanya: Nikahilah aku! Sungguh ini adalah aib bagiku. Maka dia menjawab dengan segenap penghinaan, ejekan dan mentertawakan: Sesungguhnya aku tidak akan menikahi wanita pezina.



Saudariku yang mulia, jika engkau memang memiliki akal untuk berfikir maka dengarkanlah nasehat berikut ini:



Janganlah engkau percaya bahwa pernikahan akan mungkin terlaksana hanya karena perkenalan dan percakapan iseng lewat telepon. Kalaupun memang ini terjadi maka akan mengalami kegagalan, kegalauan dan penyesalan.



Janganlah engkau percayai seorang pemuda ketika dia mulai menampakkan kejujuran dan keikhlasannya dan menyatakan sangat menghargai dan menjunjung tinggi kehormatanmu tapi dia mengkhianati keluargamu dengan meneleponmu dan mengajakmu jalan bersama. Jangan kamu percayai dia ketika dia mulai menyatakan cinta dan berlemah lembut dalam pembicaraannya. Sungguh dia melakukan semua itu dengan tujuan-tujuan busuknya yang tampak jelas bagi orang yang berakal. Akankah dia benar-benar menjunjung tinggi kehormatanmu sementara dia mengajakmu berjumpa dan jalan bersama padahal engkau belum halal baginya?



Janganlah engkau percayai para penyeru emansipasi yang mengharuskan adanya cinta (pacaran) sebelum pernikahan.



Ketahuilah bahwa cinta yang hakiki adalah setelah menikah. Adapun selain itu, umumnya adalah cinta yang penuh kepalsuan. Cinta yang dibangun di atas dusta dan kebohongan, semata-mata untuk bersenang-senang memuaskan hawa nafsu yang tak lama kemudian akan tampaklah kenyataan yang sesungguhnya. Berapa banyak keluarga yang hancur berantakan padahal mereka telah berpacaran sebelum akad pernikahan dan berjanji akan setia berkasih sayang sepanjang jaman? Bahkan berapa banyak pula pasangan yang berantakan sebelum sampai pada pelaminan dibarengi hilangnya kehormatan yang dibanggakan?



Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya bahwa Nabi SAW bersabda: Pada suatu malam aku bermimpi didatangi dua orang. Keduanya berkata kepadaku, Pergilah! -kemudian beliau menyebutkan haditsnya sampai pada sabdanya SAW -: Kemudian kami mendatangi bangunan seperti tanur yang di dalamnya terdengar suara gaduh memekik. Kamipun melongoknya. Ternyata di dalamnya terdapat pria dan wanita telanjang yang disambar oleh lidah api dari bawah mereka. Ketika lidah api itu mengenai mereka, merekapun memekik kepanasan dan kesakitan. Ketika Nabi SAW menanyakan hal tersebut kepada malaikat, mereka menjawab: Adapun pria dan wanita yang ada di tanur tersebut mereka adalah laki-laki dan wanita pezina.

Maka apakah engkau ingin menjadi bagian dari mereka wahai saudariku muslimah?



Jauhilah bercakap-cakap tanpa keperluan di telepon karena sesungguhnya Allah merekamnya demikian juga syaithan dari jenis manusia pun merekamnya. Mereka para petualang cinta akan menggunakannya sebagai alat untuk mengintimidasi kalian agar kalian mau mendengar mereka dan mentaati mereka. Qiyaskan juga ke dalamnya chating yang tiada guna dan hanya membuang waktu semata.



Hati-hatilah, janganlah engkau foto dirimu kecuali karena suatu hajat dan janganlah terlalu mudah engkau sebarluaskan fotomu dengan segala bentuknya karena hal tersebut merupakan senjata yang paling berbahaya yang digunakan oleh serigala manusia sebagai alat untuk mengancam dan mengintimidasi kalian.



Jauhilah olehmu untuk menulis surat-surat cinta karena hal itu juga merupakan sarana yang digunakan oleh mereka.



Hindarilah majalah-majalah dan kisah-kisah cinta yang rendah, hina penuh aib dan cela. Sungguh di dalamnya terdapat racun yang membinasakan yang tersembunyi di balik indahnya halaman yang warna-warni serta kertas yang halus mengkilap dan wangi.



Jauhilah menonton sinetron-sinetron dan film-film yang hina, yang hanya menonjolkan kemewahan serta gemerlapnya dunia, menyajikan kisah cinta dengan akting yang justru merendahkan martabat wanita. Jauhilah semua itu karena hanya akan merusak akhlak, kehormatan, serta rasa malumu.



Hati-hatilah, janganlah engkau pamerkan auratmu dan janganlah engkau terlalu sering ke luar rumah dan ke pasar-pasar tanpa ada keperluan mendesak yang menuntut untuk itu. Sungguh hal itu hanya akan menjerumuskanmu ke dalam murka Rabbmu.



Janganlah engkau pergi berduaan dengan sopir pribadimu, sungguh ini merupakan khalwat yang terlarang. Janganlah sekali-kali engkau membela diri dengan beralasan bahwa ini darurat. Bertakwalah, karena barang siapa yang bertakwa kepada Allah, akan dijadikan baginya jalan keluar dari segala permasalahannya.



Hati-hatilah engkau wahai saudariku dari teman yang jelek. Cari dan bergaullah dengan temanmu yang shalihah yang akan membimbingmu kepada keridlaan Rabbmu dan senantiasa mengingatkamu agar tidak terjatuh pada perkara yang akan mendatangkan murka Rabbmu.



Saudariku yang mulia,

Hati-hatilah dari segala kemaksiatan dan dosa karena hal tersebut merupakan sebab hilangnya nikmat, mendatangkan musibah, dan merupakan sebab datangnya kesengsaraan serta adzab yang membinasakan.



Persiapkanlah dirimu untuk menghadapi malaikat maut dengan banyak bertaubat dan beramal shalih, sungguh engkau tidak tahu kapan giliranmu akan tiba.



Saudariku,

Setelah engkau baca nasihat di atas maka ketahuilah bahwa pintu taubat senantiasa terbuka bagi siapa saja yang benar-benar ingin bertaubat. Allah berfirman: Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas akan dirinya (berbuat dosa), janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesunggunya Allah mengampuni dosa seluruhnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Az-Zumar : 53)



Maka apabila engkau wahai saudariku telah tenggelam dalam suatu kemaksiatan dan dosa, segeralah bertaubat dengan taubatan nashuha sebelum pintu taubat tertutup dan sebelum tubuhmu ditimbun di dalam tanah. Dan pada saat itu tidaklah lagi berguna penyesalan.



Semoga Allah membangunkan kita dari kelalaian yang ada dan semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima taubat kita, melindungi kita dari adzab qubur dan adzab neraka, serta memasukkan kita ke dalam surga Firdaus Al-A’la.



Shalawat serta salam senantisa tercurah kepada Nabi kita.



(Diterjemahkan dari www.alsalafiyat.com dengan perubahan dan tambahan)

(read more ...)



Jul

04

Ini adalah postingan pertamaku saat bergabung bersama CyberMQ Blog.Kedepan InsyaAllah saya akan coba terus menulis di blog tercinta saya ini tentang sesuatu yang bermanfaat bagi dunia. Semoga tulisan awal ini menjadi langkah penting dalam memulai kreasi saya didunia maya khususnya di blog saya ini. Kunjungi kembali blog saya beberapa waktu kedepan untuk melihat tulisan saya.(read more ...)