JAKARTA (Arrahmah.com) – Banyak ilmu miskin komitmen! Itulah sindrom “Bani Israel” yang bisa jadi menjangkiti banyak para da’i (penyeru) di negeri ini, termasuk Hidayat Nur Wahid (HNW), Mantan Ketua MPR-RI yang juga politikus PKS. Bayangkan, pakar Syi’ah lulusan Universitas Islam Madinah itu ragu akan kesesatan Syi’ah dan tidak berani secara tegas mengatakan bahwa Syi’ah itu sesat. Astaghfirullah!



Mengapa ragu katakan Syi’ah sesat?



Fakta sesatnya Syi’ah sebenarnya sudah lama dideklarasikan di negeri ini. Pada tahun 1997, tepatnya pada tanggal 1 September 1997, dilakukan pertemuan tokoh-tokoh Islam di Istiqlal. Dari pertemuan tersebut, dihasilkan “Deklarasi Istiqlal”. Inti deklarasi itu menyatakan bahwa aliran LIBERAL & SYI’AH dinyatakan sesat.



Dalam seminar tersebut, sebagaimana dikutip dari eramuslim.com, HNW menjadi salah satu pemakalah, dan HNW yang baru pulang dari Saudi tersebut begitu tegas terhadap paham sesat Syi’ah. Namun, belakangan, di tahun 2006, HNW mengatakan bahwa ia bukan berasal dari mazhab yang suka mengkafirkan sesama muslim, dan sama sekali tidak terkait dengan peristiwa vonis sesat secara in absentia terhadap aliran Syi’ah di Masjid Istiqlal tahun 1997. Menurut HNW, ia tidak menandatangani rekomendasi Istiqlal itu. Jadi, HNW itu menganggap Syi’ah sama dengan Islam, tidak sesat? Astaghfirullah!



HNW alami sindrom “Bani Israel”



HNW alami sindrom “Bani Israel”, yakni banyak ilmu miskin komitmen. Hal ini sebagaimana yang disampaikan Ustadz AM Waskito (penulis “Bersikap Adil Kepada Wahabi”) via sms kepada Arrahmah.com melihat fakta HNW yang mengakui tidak ikut menanda tangani “Deklarasi Istiqlal” dan ragu menyatakan kesesatan Syi’ah.



Padahal, HNW adalah seorang pakar Syi’ah lulusan Program Doktor Pasca Sarjana Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, Fakultas Dakwah & Ushuluddin, Jurusan Aqidah, pada tahun 1992. Namun sindrom “Bani Israel” rupanya lebih kuat mengcengkram HNW, yakni banyak ilmu miskin komitmen, sehingga dirinya ragu, takut untuk mengatakan kebenaran (al haq) bahwa Syi’ah itu sesat!  



Apakah ini bagian dari tanda-tanda akhir zaman, yakni banyak para da’i (penyeru) namun mereka bukan menyeru atau mengajak kepada kebaikan yang akan menghantarkan manusia kepada surga, namun mereka malah menyeru manusia ke pintu-pintu neraka jahannam. Na’udzu billahi min dzalik!



Semoga kita dilindungi Allah SWT., dari ulama yang demikian, Insya Allah!



(M Fachry/arrahmah.com)



 







Read more: http://arrahmah.com/read/2012/01/11/17358-ragu-katakan-syiah-sesat-hnw-alami-sindrom-bani-israel.html#ixzz1j9gMilZQ


(read more ...)






SEJUMLAH tujuh belas doktrin Syi’ah yang selalu mereka sembunyikan dari kaum muslimin sebagai bagian dari pengamalan doktrin taqiyah (menyembunyikan Syi’ahnya). Ketujuh belas doktrin ini terdapat dalam kitab suci Syi’ah:





  1. Dunia dengan seluruh isinya adalah milik para imam Syi’ah. Mereka akan memberikan dunia ini kepada siapa yang dikehendaki dan mencabutnya dari siapa yang dikehendaki (Ushulul Kaafi, hal.259, Al-Kulaini, cet. India).



    Jelas Doktrin semacam ini bertentangan dengan firman Allah SWT QS: Al-A’raf 7: 128, “Sesungguhnya bumi adalah milik Allah, Dia dikaruniakan kepada siapa yang Dia kehendaki”. Kepercayaan Syi’ah diatas menunjukkan penyetaraan kekuasaan para imam Syi’ah dengan Allah dan doktrin ini merupakan aqidah syirik.





  2. Ali bin Abi Thalib yang diklaim sebagai imam Syi’ah yang pertama dinyatakan sebagai dzat yang pertama dan terakhir, yang dhahir dan yang bathin sebagaimana termaktub dalam surat Al-Hadid, 57: 3 (Rijalul Kashi hal. 138).



    Doktrin semacam ini jelas merupakan kekafiran Syi’ah yang berdusta atas nama Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dengan doktrin semacam ini Syi’ah menempatkan Ali sebagai Tuhan. Dan hal ini sudah pasti merupakan tipu daya Syi’ah terhadap kaum muslimin dan kesucian aqidahnya.





  3. Para imam Syi’ah merupakan wajah Allah, mata Allah dan tangan-tangan Allah yang membawa rahmat bagi para hamba Allah (Ushulul Kaafi, hal. 83).





  4. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib oleh Syi’ah dikatakan menjadi wakil Allah dalam menentukan surga dan neraka, memperoleh sesuatu yang tidak diperoleh oleh manusia sebelumnya, mengetahui yang baik dan yang buruk, mengetahui segala sesuatu secara rinci yang pernah terjadi dahulu maupun yang ghaib (Ushulul Kaafi, hal. 84).





  5. Keinginan para imam Syi’ah adalah keinginan Allah juga (Ushulul Kaafi, hal. 278).





  6. Para imam Syi’ah mengetahui kapan datang ajalnya dan mereka sendiri yang menentukan saat kematiannya karena bila imam tidak mengetahui hal-hal semacam itu maka ia tidak berhak menjadi imam (Ushulul Kaafi, hal. 158).





  7. Para imam Syi’ah mengetahui apapun yang tersembunyi dan dapat mengetahui dan menjawab apa saja bila kita bertanya kepada mereka karena mereka mengetahui hal ghaib sebagaimana yang Allah ketahui (Ushulul Kaafi, hal. 193).





  8. Allah itu bersifat bada’ yaitu baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi. Akan tetapi para imam Syi’ah telah mengetahui lebih dahulu hal yang belum terjadi (Ushulul Kaafi, hal. 40). 



    Menurut Al-Kulaini (ulama besar ahli hadits Syi’ah), Bahwa Allah tidak mengetahui bahwa Husein bin Ali akan mati terbunuh. Menurut mereka Tuhan pada mulanya tidak tahu karena itu Tuhan membuat ketetapan baru sesuai dengan kondisi yang ada. Akan tetapi imam Syi’ah telah mengetahui apa yang akan terjadi. Oleh sebab itu menurut doktrin Syi’ah Allah bersifat bada’ (Ushulul Kaafi, hal. 232).





  9. Para imam Syi’ah merupakan gudang ilmu Allah dan juga penerjemah ilmu Allah. Para imam Syi’ah bersifat Ma’sum (Bersih dari kesalahan dan tidak pernah lupa apalagi berbuat Dosa). Allah menyuruh manusia untuk mentaati imam Syi’ah, tidak boleh mengingkarinya dan mereka menjadi hujjah (Argumentasi Kebenaran) Allah atas langit dan bumi (Ushulul Kaafi, hal. 165).





  10. Para imam Syi’ah sama dengan Rasulullah Saw (Ibid).





  11. Yang dimaksud para imam Syi’ah adalah Ali bin Abi Thalib, Husein bin Ali, Ali bin Husein, Hassan bin Ali dan Muhammad bin Ali (Ushulul Kaafi, hal. 109)





  12. Al-Qur’an yang ada sekarang telah berubah, dikurangi dan ditambah (Ushulul Kaafi, hal. 670). Salah satu contoh ayat Al-Qur’an yang dikurangi dari aslinya yaitu ayat Al-Qur’an An-Nisa’: 47, menurut versi Syi’ah berbunyi: “Ya ayyuhalladziina uutul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa fie ‘Aliyyin nuuran mubiinan”. (Fashlul Khitab, hal. 180).





  13. Menurut Syi’ah, Al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun yang tersisa sekarang hanya 6660 ayat (Ushulul Kaafi, hal. 671).





  14. Menyatakan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman bin Affan, Muawiyah, Aisyah, Hafshah, Hindun, dan Ummul Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi, mereka ini adalah musuh-musuh Allah. Siapa yang tidak memusuhi mereka, maka tidaklah sempurna imannya kepada Allah, Rasul-Nya dan imam-imam Syi’ah (Haqqul Yaqin, hal. 519 oleh Muhammad Baqir Al-Majlisi).





  15. Menghalalkan nikah Mut’ah, bahkan menurut doktrin Syi’ah orang yang melakukan kawin mut’ah 4 kali derajatnya lebih tinggi dari Nabi Muhammad Saw. (Tafsir Minhajush Shadiqin, hal. 356, oleh Mullah Fathullah Kassani).





  16. Menghalalkan saling tukar-menukar budak perempuan untuk disetubuhi kepada sesama temannya. Kata mereka, imam Ja’far berkata kepada temannya: “Wahai Muhammad, kumpulilah budakku ini sesuka hatimu. Jika engkau sudah tidak suka kembalikan lagi kepadaku.” (Al-Istibshar III, hal. 136, oleh Abu Ja’far Muhammad Hasan At-Thusi).





  17. Rasulullah dan para sahabat akan dibangkitkan sebelum hari kiamat. Imam Mahdi sebelum hari kiamat akan datang dan dia membongkar kuburan Abu Bakar dan Umar yang ada didekat kuburan Rasulullah. Setelah dihidupkan maka kedua orang ini akan disalib (Haqqul Yaqin, hal. 360, oleh Mullah Muhammad Baqir al-Majlisi).





Ketujuhbelas doktrin Syi’ah di atas, apakah bisa dianggap sebagai aqidah Islam sebagaimana dibawa oleh Rasulullah Saw. dan dipegang teguh oleh para Sahabat serta kaum Muslimin yang hidup sejak zaman Tabi’in hingga sekarang? Adakah orang masih percaya bahwa Syi’ah itu bagian dari umat Islam? Menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, barangsiapa yang tidak MENGKAFIRKAN aqidah Syi’ah ini, maka dia termasuk Kafir.



Semua kitab tersebut diatas adalah kitab-kitab induk atau rujukan pokok kaum Syi’ah yang posisinya seperti halnya kitab-kitab hadits Imam Bukhari, Muslim, Ahmad bin Hambal, Nasa’i, Tirmidzi, Abu Daud, dan Ibnu Majah bagi kaum Muslimin. Oleh karena itu, upaya-upaya Syi’ah untuk menanamkan kesan bahwa Syi’ah adalah bagian dari kaum Muslimin, hanya berbeda dalam beberapa hal yang tidak prinsip, adalah dusta dan harus ditolak tegas !!!.



Sumber: Risalah Mujahidin, edisi 9, th 1 Jumadil Ula 1428 / Juni 2007



(read more ...)




JAKARTA (Arrahmah.com) – Organisasi yang memayungi sekte sesat di Indonesia Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), melakukan taqiyah dengan membantah bahwa jamaahnya diperbolehkan untuk tidak salat Jumat dan nikah mut’ah (kawin kontrak).



“Kami di IJABI nikah mut’ah diharamkan,” tega Ketua dewan Syura IJABI Jalaludin Rakhmat yang merupakan gembong syiah di Indonesia saat jumpa pers di Kantor Pusat IJABI di Jakarta Selatan, Sabtu (31/12).



Lebih dari, itu Jalal menegaskan, banyak pengurus IJABI yang menjadi khatib salat Jumat di masjid-masjid besar. Sehingga fakta tersebut dengan jelas membatalkan anggapan bahwa Syiah dibolehkan tidak melaksanakan salat Jumat.



Soal nikah mut’ah, Jalal menilai pada hakikatnya semua orang melakukan nikah mut’ah namun dalam konteks yang berbeda. “Kita semuanya nikah mut’ah, segera setelah akad nikah, taqliq talak itu nikah mut’ah,” jelasnya.



Karena itu,  Jalal meminta masyarakat yang belum memahami soal Syiah untuk berdialog dan tidak menggunakan cara kekerasan untuk memaksakan pendapat.



Di negeri Iran hingga kini tidak pernah dilaksanakan shalat Jum’at dimasjid-masjid kaum syi’ah. Karena mereka beranggapan sholat jum’at harus dilakukan bersama Imam Mahdi mereka yang belum muncul, sholat jum’at pernah dilaksanakan ketika Khomeini dianggap sebagai wilayatul faqih yang mewakilkan urusan umat syi’ah dimasa keghaiban Imam Mahdi versi Syi’ah.



Entah, apa yang membuat Jalal tidak menjalankan ajarannya tersebut. Bisa jadi ini adalah taqiyah (kebohongan dalam ajaran Syi’ah) yang merupakan aqidah syi’ah yang dilakukan Jalal untuk menyelamatkan diri. Dalam sebuah riwayat versi syiah mengatas namakan Ahlul bait Ja’far As-Shadiq mengatakan:



 “Taqiyah adalah 9 dari 10 bagian agama.” Ja’far juga mengatakan: “Tidak ada agama bagi yang tidak bertaqiyyah.” Begitu juga riwayat dari Abu Ja’far, yang mengatakan: “Taqiyyah adalah agamaku dan agama kakek-kakekku.” (Riwayat-riwayat ini tercantum dalam kitab Al-Kafi, bab. Taqiyyah, jilid. 2, hal. 217).



Ibnu Babawaih Al-Qummi, salah seorang ulama besar Syi’ah, mengatakan: “kami meyakini bahwa taqiyah adalah wajib, siapa yang meninggalkannya sama seperti meninggalkan shalat.” (Al-I’tiqadat, hal. 114).



Ini nampaknya yang sedang dimainkan Jalaludin rahmat untuk membela sektenya, Ia bertaqiyyah(berbohong) bahwa mereka tidak pula melaksanakan nikah mut’ah. Padahal dalam pernyataannya secara implisit, Ia meminta masyarakat memahami bahwa mut’ah itu dilakukan bukan hanya oleh syi’ah. Perhatikan ucapannya ini Soal nikah mut’ah, “Kita semuanya nikah mut’ah, segera setelah akad nikah, taqliq talak itu nikah mut’ah,” jelasnya.



Itulah kedustaan yang sering dilakukan sekte sesat syi’ah, mereka menolak dikatakan mewajibkan mut’ah, tetapi tak begitu lama lisannya sendiri yang menegaskan pembolehan nikah tersebut.



Nikah Mut’ah tidak mungkin ditinggalkan pengikut syi’ah, karena menurut Syi’ah nikah mut’ah salah satu bentuk taqarrub kepada Allah yang mampu mengangkat derajat mereka.



Syi’ah meyakini mut’ah sebagai salah satu dasar pokok (ushul) agama, dan orang yang mengingkarinya dianggap sebagai orang yang ingkar terhadap agama.(Sumber: Kitab Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih, 3/366 dan Tafsir Minhaj Ash-Shadiqin, 2/495).



Syi’ah juga menganggap mut’ah sebagai salah satu keutamaan agama dan dapat meredam murka Tuhan.(Sumber: Tafsir Minhaj Ash-Shadiqin, karya Al-Kasyani, 2/493).



Menurut Syi’ah seorang wanita yang dimut’ah akan diampuni dosanya.(Sumber: Kitab Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih, 3/366).



Syi’ah menganggap mut’ah sebagai salah satu sebab terbesar dan utama seseorang masuk ke dalam surga, bahkan dapat mengangkat derajat mereka hingga mereka mampu menyamai kedudukan para nabi di surga.(Sumber: Kitab Man Laa Yahdhuruhu Al-Faqih, 3/366).



Wallahu ‘alam bishshowab.



(Bilal/arrahmah)



(read more ...)




JAKARTA (Arrahmah.com) – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (Jatim) meminta masyarakat mewaspadai aliran Syiah agar tak berkembang di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.



Menurut Ketua MUI Jawa Timur KH Abdussomad Bukhori, kelompok Syiah boleh diakui eksistensinya tapi jangan diberikan fasilitas untuk berkembang.



“Aliran Syiah jangan berkembang dan merembet ke tempat lain. Indonesia itu isinya orang Sunni walaupun NU, Muhammadiyah, Al-Irsyad semuanya sunni. Syiah itu kelompok kecil harus mengerti-lah,” kata Abdussomad  di Kompleks Mapolda Jatim, Surabaya, Jumat (30/12) seperti dilansir Okezone.



Kendati demikian, dia mengaku tidak sepakat dengan aksi kekerasan yang terjadi di Pesantren Syiah, Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben Kabupaten Sampang, kemarin. Abdussomad juga berharap tidak ada pihak-pihak yang memancing di air keruh terkait insiden tersebut.



“Mengembangkan Syiah di Madura tentunya sangat berat. Kita kekerasan tidak setuju tapi jangan ada yang mancing-mancing agar terjadi kekerasan itu,” katanya.



MUI sendiri, tegasnya, sudah melakukan beberapa langkah-langkah terkait kasus di Sampang itu. Meski belum sampai pada tahap fatwa haram terkait keberadaan Syiah di Indonesia.



Sebab, jika kekuatan Syiah berkembang setara dengan kekuatan Sunni di Indonesia, dia khawatir sering terlibat kerusuhan mengingat kedua aliran ini memiliki kekuatan yang sepadan, mirip dengan kondisi di Irak dan Iran.



“Saya kira Jawa Timur ini adalah kondisi yang sangat pas. Akhirnya kondisinya menjadi kondusif,” katanya.

 

Tambah KH Abdussomad Bukhori , jika sebuah negara terdapat dua aliran ini dengan kekuatan yang sama,maka negara tersebut tidak akan tentram.



“Sunni dan Syiah memang tidak bisa ketemu. Rukun Imannya saja berbeda,” jelas Abdussomad.



Dia menjelaskan, ada beberapa perbedaan yang menonjol di Syiah dengan umat Islam pada umumnya. Azan saja berbeda di Syiah, lantunan Azan diubah ada tambahan dua bait.



“Di Syiah salat saja berbeda, yakni salat Zuhur dan Asar digabung jadi satu. Kemudian salat Maghrib dan Isya. Perbedaan itulah yang tidak bisa ketemu dengan umat Islam pada umumnya,” jelasnya.



Dia menambahkan nikah mut’ah (nikah kontrak) diperbolehkan di Syiah.



Abdussomad menjelaskan Syiah terbagi menjadi beberapa sekte. Ada sekte beraliran ekstrem dan moderat. “Sekte yang lunak ini ajarannya tetap bertentangan dengan umumnya umat Islam,” tukasnya.



Apa yang membuat kekhawatiran ulama terhadap syiah jika hidup berdampingan dengan sunni? Hal tersebut dikarenakan syi’ah mempunyai pandangan yang burk terhadap ahlu sunnah atau sunni. Pandangan buruk tersebut terkait keyakinan mereka bahwasanya kaum muslimin atau ahlus sunnah wal jama’ah adalah kafir dan harus diperangi. Keyakinan tersebut dapat kita lihat pada kitab-kitab pegangan kaum syiah.



Al-Majlisi, ulama Syi’ah kenamaan, yang menyusun kitab Biharul Anwar –ensiklopedi hadits Syi’ah yang terdiri dari 110 jilid–. Pada jilid ke 30, hal. 399, dia menyatakan:



“Saya katakan: Dalil yang menunjukkan bahwa Abu Bakar, Umar dan orang yang sejalan dengan mereka adalah kafir, juga menunjukkan pahala melaknat dan memusuhi mereka, yang menunjukkan bid’ah mereka, terlalu banyak untuk disebutkan dalam satu jilid atau berjilid-jilid buku, apa yang telah kami nukilkan di atas sudah cukup bagi orang yang diberi petunjuk Allah ke jalan yang lurus.”



Wallahu’alam bishshowab.



(Bilal/arrahmah)



 



(read more ...)



(read more ...)




Oleh: Dr. Adian Husaini



DALAM sebuah buku Sejarah untuk siswa SMP kelas VIII (Jakarta: Erlangga, 2006), diuraikan satu bab khusus berjudul “Perkembangan Kristen di Indonesia”. Bab ini dibuka dengan uraian berikut: “Mengapa perlu mempelajari bab ini? Penyebaran Kristen di Indonesia berintikan damai dan cinta kasih. Namun, karena intervensi politik Barat, timbul kesan penyebaran Kristen identik dengan kolonialisme dan imperialisme. Dengan mempelajari bab ini, kita diajak untuk semakin sadar betapa campur tangan politik dapat merusak nilai-nilai luhur yang terkandung pada setiap agama.”



Pada bagian selanjutnya dijelaskan tentang kendala penyebaran agama Kristen di Indonesia: “Para penguasa dan penduduk setempat mencurigai para rohaniwan sebagai sekutu Portugis ataupun Belanda. Tindakan penindasan yang dilakukan para pedagang maupun pemerintah kolonial menimbulkan kesan bahwa Kristen identik (sama saja) dengan kolonialisme. Padahal para rohaniwan selalu datang dengan maksud damai.” (hal. 61)



Inilah salah satu contoh materi sejarah yang diajarkan kepada para pelajar SMP. Benarkah isi buku pelajaran sejarah tersebut? Ada baiknya kita simak penjelasan dari kalangan Kristen sendiri!



Pada tahun 2010, juga rangka memperingati 150 tahun Huria Kristen Batak Prostestan, Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, bekerjasama dengan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, Ecole francaise d,Extreme-Orient, dan Yayasan Pustaka Obor Indonesia menerbitkan sebuah buku berjudul Utusan Damai di Kemelut Perang, Peran Zending dalam Perang Toba: Berdasarkan Laporan L.I. Nommensen dan Penginjil RMG Lain, karya Prof. Dr. Uli Kozok, seorang professor kelahiran Jerman.



Prof. Uli Kozok membuka bukunya dengan sebuah kutipan seorang tokoh Gereja se-Dunia, Ph. Potter: “Gerakan penginjilan […] bermula bertepatan dengan waktu munculnya kolonialisme, imperialisme dan – sebagai akibatnya – rasisme. Oleh sebab itu maka gerakan penginjilan secara hakiki terkait dengan sejarah rasisme.”



Berdasarkan dokumen-dokumen di lembaga misi di Jerman yang mengirimkan Nommensen ke Tanah Batak, yaitu Rheinische Missions-Geselschaft (RMG), Prof. Uli Kozok menemukan fakta pengakuan Ludwig Ingwer (L.I.) Nommensen, tokoh misionaris Jerman di Tanah Batak, bahwa dia bergabung dengan pasukan Belanda untuk melawan gerakan perlawanan para pahlawan Batak yang dipimpin Sisingamangaraja XII. Laporan Berichte Rheinische Missionsgeselschaft (BRMG), menunjukkan, para penginjil justru bersekutu dengan tentara penjajah dalam menumpas perlawanan Sisingamangaraja XII. Lebih jauh Prof. Kozok mencatat:



“Pemerintah Belanda akhirnya mengabulkan permintaan Nommensen, sehingga terbentuk koalisi Injil dan pedang yang sangat sukses karena kedua belah pihak memiliki musuh yang sama: Sisingamangaraja XII yang oleh zending dicap sebagai “musuh bebuyutan pemerintah Belanda dan zending Kristen.” Bersama-sama mereka berangkat untuk mematahkan perjuangan Sisingamangaraja. Pihak pemerintah dibekali dengan persenjataan, organisasi, dan ilmu pengetahuan peperangan modern, sementara pihak zending dibekali dengan pengetahuan adat istiadat dan bahasa. Kedua belah pihak, zending Batak dan pemerintah kolonial, saling membutuhkan dan saling melengkapi, dan tujuan mereka pun pada hakikatnya sama: memastikan bahwa orang Batak “terbuka pada pengaruh Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa. (BRMG 1882:202)” (hal. 92).



Dalam perang menumpas perjuangan Sisingamangaraja XII, pihak zending Kristen berhasil meyakinkan ratusan raja di tanah Batak agar berhenti mengadakan perlawanan dan menyerah kepada kekuasaan Belanda:



“Dukungan dan bantuan para misionaris yang mendampingi ekspedisi militer hingga ke Danau Toba juga mempunyai tujuan lain, yaitu meyakinkan masyarakat bahwa perlawanan mereka sia-sia saja dan mendesak mereka agar menyerahkan diri.” (JB 1878:31). (hal. 93).



Sementara, para raja yang tidak mau menyerah, didenda dan kampung mereka dibakar. Atas jasa para misionaris, terutama Nommensen dan Simoncit, pemerintah kolonial Belanda memberikan penghargaan resmi, melalui sebuah surat:



“Pemerintah mengucapkan terimakasih kepada penginjil Rheinische Missions-Geselschaft di Barmen, terutama Bapak I. Nommensen dan Bapak A. Simoncit yang bertempat tinggal di Silindung, atas jasa yang telah diberikan selama ekspedisi melawan Toba. (BRMG 1879:169-170).” (hal. 93-94).



Selain surat penghargaan, para misionaris juga mendapat hadiah sebesar 1000 Gulden dari pemerintah kolonial yang dapat diambil setiap saat. Kerjasama antara misionaris Kristen dan penjajah Belanda berlangsung sampai Pahlawan Sisingamangaraja XII tewas dalam pertempuran tahun 1907. Dukungan kaum misionaris kepada pemerintah penjajah juga dimaksudkan untuk mencegah masuknya Islam ke Tanah Batak. (BRMG 1878:94).



Sikap pro-penjajah dari kaum Misionaris bukan hanya saat Perang Toba melawan Sisingamangaraja XII. Sikap para misionaris Kristen ini masih terus berlangsung di kemudian hari. BRMG 1897: 278-279 menulis laporan berjudul “Wie weiter auf Sumatra?” (Bagaimana Kelanjutannya di Sumatra?). Batakmission mengaku mengalami kendala untuk melakukan misi Kristen di Samosir, sebab Samosir masih merupakan “Tanah Batak Merdeka”. Selanjutnya, BRMG mencatat:

“Oleh sebab itu, “dapat dimengerti bahwa penginjil kita sangat menghendaki agar pemerintah Belanda menduduki Samosir.” Lagipula, konferensi penginjil tahun 1897 telah memutuskan bahwa “penginjilan dapat dilakukan dengan lebih tenang dan dengan lebih banyak sukses di bawah perlindungan pemerintah Eropa.” (hal. 103).



Menurut catatan sejarah, kerjasama misionaris Kristen Batak dengan penjajah Belanda diakui dengan bangga oleh para misionaris Batak. Belanda juga mempersenjatai kaum Kristen Batak dengan 50 bedil. Sebab, jika orang Batak menjadi Muslim, mereka tidak mungkin setia kepada pemerintah penjajah. BRMG 1878:154 mencatat:



“Betapa orang Batak Kristen dapat diandalkan tampak jelas sekarang. Sebagai orang Islam, orang Batak takkan mungkin menjadi rakyat yang patuh pada Belanda. […] memang benar orang Silindung yang Kristen adalah teman setia Belanda, dan pasukan bantuan mereka berperang bersama pasukan Belanda.”. (hal. 106).



Dalam surat-surat yang dikirim tokoh misionaris I. Nommensen, tampak jelas digunakannya istilah “musuh” untuk Sisingamangaraja XII dan rakyat Batak yang berusaha mempertahankan kemerdekaan mereka. Misalnya, dia tulis: “Setelah kami bekerja dengan tenang selama beberapa hari, musuh kami yang jahat bergerak lagi”… “Kebanyakan musuh berasal dari daerah sekitar Danau Toba, dari Butar dan Lobu Siregar, digerakkan oleh Sisingamangaraja, seorang demagog yang menghasut dan mencelakakan rakyatnya.” (hal. 107).



Dalam suratnya yang lain, Nommensen mencatat: “Hal yang paling penting adalah bahwa Toba keluar dari isolasinya, terbuka pada pengaruh Eropa dan tunduk pada kekuasaan Eropa sehingga dengan sangat mudah zending kita bisa masuk… (BRMG 1882:302).” (hal. 108).



Sebuah surat tentang pentingnya penaklukan Toba oleh penjajah Belanda dan misi Kristen dalam rangka menghambat masuknya pengaruh Islam, ditulis oleh laporan BRMG 1882 (7): 202-205:



“Perang dan penaklukan Toba sangat mendukung dan mempercepat pembukaan pos penginjilan. Walaupun tidak secara langsung, para penginjil kita di Silindung memainkan peranan yang cukup besar dalam ekspedisi militer Belanda terhadap Toba. Upaya mereka untuk menyebarkan Injil di Silindung mendapatkan perlawanan dari Sisingamangaraja yang dulu maupun Sisingamangaraja yang sekarang. Karena sudah kehilangan sebagian besar kekuasaannya, keduanya berusaha memperoleh kembali pengaruhnya yang hilang dengan mengusir para penginjil. Sisingamangaraja terutama memusuhi agama Kristen, akan tetapin karena ia bersekutu dengan orang Aceh di Utara maupun dengan Batak Islam di Timur maka kegiatan mereka juga memusuhi pemerintah Belanda. Dengan demikian sangat bijaksana keputusan pemerintah untuk langsung bertindak memperluas dan memperkokoh kekuasaannya, mengingat tindak-tanduk orang Aceh dan jaringan mereka yang makin hari makin ketat dan luas.” (hal. 153-154).



Dalam bukunya, Prof Uli Kozok juga menunjukkan data bahwa hubungan erat antara misi Kristen dan Penjajahan memang sudah menjadi suatu kelaziman. Paus Pius XI, misalnya, melalui surat kabar Vatikan, Osservatore Romano, 24 Februari 1935, pernah secara eksplisit mengeluarkan pernyataan yang mendukung penjajahan:



“Penjajahan merupakan keajaiban yang diwujudkan dengan kesabaran, keberanian dan cinta kasih. Tiada bangsa atau ras yang berhak hidup terisolir. Penjajahan tidak berlandaskan penindasan tetapi berdasarkan prinsip moralitas tertinggi, penuh dengan cinta kasih, kedamaian dan persaudaraan. Gereja Katolik senantiasa mendukung penjajahan, asal dilaksanakan dengan jujur dan manusiawi tanpa menggunakan kekerasan. Oleh sebab itu kami melihatnya sebagai sesuatu yang memiliki daya dan keindahan yang luar biasa.” (hal. 85-86).



Bukan hanya kolonialisme, ideologi rasisme juga ditanamkan kepada para misionaris dari Rheinische Missions-Geselschaft (RMG). Seorang petinggi RMG, Ludwig von Rohden (1815-1889), berpendapat bahwa semua manusia adalah keturunan Nabi Nuh, yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru dunia. Ada lima warna kulit yang dimiliki keturunan Nabi Nuh itu: putih, kuning, merah, coklat dan hitam. Menurutnya, warna kulit ditentukan oleh kadar dosa masing-masing. Semakin berdosa sebuah bangsa, maka akan semakin hitam warna kulitnya. Kata Ludwig von Rohden dalam sebuah tulisannya:



“Secara bertahap-tahap manusia menjauhkan diri dari sumber kehidupan ilahi. Semakin jauh [sebuah bangsa] menjauhkan diri, semakin merosot moral dan kecerdasan, seiring dengan itu juga postur, bentuk tubuh dan warna kulitnya. Bangsa yang paling dekaden mendapatkan warna kulit paling hitam, dan bentuk tubuhnya menjadi mirip dengan binatang. Namun perbedaan hakiki antara manusia dan binatang masih tetap ada: ialah jiwa yang dihembuskan Allah kepada jasad sebagai bagian kehidupan ilahi.” (hal. 59).



Menurut Rohden, bangsa berkulit hitam bisa menjadi putih kulitnya jika mereka menjadi Kristen:



“Negro yang paling rendah derajat pun masih bisa diangkat menjadi manusia terdidik bila dididik dengan cara yang tepat melalui pengaruh Kekristenan yang bersifat menyembuhkan. Seiring dengan [proses penyembuhan] itu, maka raut muka yang kebinatangan menghilang, pandangan mata dan tubuhnya akan menjadi lebih sempurna, bahkan warna kulitnya secara turun-temurun bisa menjadi lebih putih.” (hal. 60).



Itulah fakta dan data tentang misi Kristen yang ditampilkan Prof. Uli Kozok – guru besar dan ketua jurusan bahasa Indonesia di Universitas Hawai. Gambaran misi Kristen yang berkolaborasi dengan penjajah itu jauh sekali bedanya dengan isi buku Sejarah yang kini diajarkan kepada anak-anak Muslim di sekolah-sekolah tingkat SMP.



Seyogyanya, para pimpinan sekolah Islam, para guru, dan orang tua sadar benar akan kekeliruan besar semacam ini. Sungguh ironis, jika ada lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan bahan-bahan sejarah semacam ini, yang merusak pemikiran dan jauh sekali dari fakta sejarah sebenarnya. Bukankah Allah SWT sudah memperingatkan: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka!” Wallahu a’lam bil-sshawab.*/Depok, 24 Ramadhan 1432 M/24 Agustus 2011.



Penulis adalah kolumnis www.hidayatullah.com, Ketua Program Studi Pendidikan Islam, Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor


(read more ...)




Saif Al Battar


Selasa, 16 Agustus 2011 11:16:20


Hits: 1278





Perkembangan Nushairiyah


Tokoh-tokoh yang paling berperan dalam menyebarkan sekte Nushairiyah sejak zaman pendirinya adalah sebagai berikut:





  1. Abu Syu’aib Muhammad bin Nushair An-Numairi, pendiri gerakan ini. Ia mengklaim dirinya adalah nabi dan al-bab yang menghubungkan kaum Syi’ah dengan imam kesebelas mereka, Abul Hasan Al-Askari, dan terakhir mereka, Muhammad Al-Mahdi bin Abul Hasan  Al-Askari. Ia meyakini Ali dan para imam keturunannya adalah Tuhan, meyakini reinkarnasi, menghalalkan homoseksual dan menikah dengan mahram. Ia mengambil kota Samira sebagai pusat gerakannya, sampai ia mati pada tahun 260 H (atau tahun 270 H menurut keterangan sebagian pakar sejarah).




  2. Pemimpin dan propagandis kedua adalah Muhammad bin Jundab. Riwayat hidup dan propaganda serta seberapa besar perannya bagi perkembangan gerakan Nushairiyah masih terlalu rumit untuk diungkapkan. Namun kelompok Nushairiyah mengakuinya sebagai pemimpin kedua mereka.




  3. Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad Al-Hanan Al-Janbalani adalah penerusnya yang menggantikannya sebagai al-bab. Ia tinggal di daerah Janbalan, Iran dan membentuk sebuah tarekat sufi Syi’ah bernama tarekat Janbalaniyah. Ia memimpin Nushairiyah sampai saat ia mati tahun 287 H.




  4. Husain bin Ali bin Husain bin Hamdan Al-Khusaibi. Al-Jambalani merekrutnya sebagai murid utama saat ia menyebarkan pemikirannya di Mesir. Al-Khusaibi mengikuti gurunya ke Janbalan, mendalami ajaran sektenya, sampai diangkat sebagai pengganti gurunya. Ia lantas meninggalkan Iran dan pergi ke Iraq. Ia menyebarkan dakwahnya dan memimpin sektenya dengan Baghdad sebagai pusat gerakannya mempergunakan pengaruh kekuasaan Bani Buwaih. Saat itu kekuasaan daulah Abbasiyah dikendalikan oleh Bani Buwaih, sebuah marga Syi’ah ekstrim dari Persia. Sebagai penguasa beraliran Syi’ah ekstrim, Bani Buwaih mempergunakan kekuatan politik, ekonomi, dan militer untuk mendukung semua gerakan Syi’ah, termasuk Nushairiyah dan Syi’ah Isma’iliyyah. Tak heran apabila selama 113 tahun masa kekuasaan Bani Buwaih, 334-447 (945-1055 M), Nushairiyah mendapatkan keleluasaan untuk bergerak dan menyebar luaskan ajarannya. Oleh karenanya, kelompok Nushairiyah menganggap para penguasa Bani Buwaih adalah pemimpin suci mereka.




  5. Al-Khushaibi lantas berkeliling ke berbagai wilayah dalam rangka menyebar luaskan jaringan sektenya. Pada akhirnya, ia mengambil kota Halb (Alepo) di Suriah sebagai pusat gerakannya. Hal itu karena gerakannya mendapat dukungan penuh dari penguasa daulah Hamdaniyah, Saifud Daulah Ali bin Hamdan Al-Hamdani. Al-Khushaibi adalah tokoh yang menyusun dan menuliskan dasar-dasar ajaran Nushairiyah. Kepada Saifud Daulah Al-Hamdani, ia menghadiahkan dua karyanya yang merupakan buku pegangan kelompok Nushairiyah, Al-Hidayah dan Al-Maidah. 


    Syaikh Isa Sa’ud, ulama besar Nushairiyah di propinsi Ladziqiyah, menulis dalam majalah Al-Amani edisi perdana dan kedua (1930 M) bahwa berkat dukungan Saifud Daulah, maka para komandan militer, pejabat pemerintahan, sastrawan, dan penulis berbondong-bondong mendukung Nushairiyah. Berkat Saifud Daulah pula, Nushairiyah mampu menyebarkan ajarannya ke Suriah, Mesir, Irak, dan negeri-negeri non-Arab lainnya. Pada saat yang sama, kepemimpinan daulah Abbasiyah di masa khalifah Al-Mustakfi billah semakin melemah. Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh penguasa Bani Buwaih di Irak, Ahwaz, dan Persia untuk menyebar luaskan paham Nushairiyah.




  6. Hal yang penting untuk dicatat, pada saat itu ada seorang pejabat tinggi dalam daulah Abbasiyah yang menjadi simpatisan dan pendukung berat Nushairiyah. Ia adalah mentri Ibnu Furat yang beraliran Syi’ah. Nama lengkapnya adalah Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Musa (241-312 H). Ia hidup sezaman dengan empat tokoh utama pendiri dan propagandis Nushairiyah; Ibnu Nushair an-Numairi, Ibnu Jundab, Al-Janbalani, dan Al-Khushaibi. Ibnu Furat dijatuhi hukuman penjara sampai mati oleh khalifah Al-Mu’tadhid billah dan Al-Mu’tadir billah.




  7. Al-Khushaibi dengan demikian adalah pemimpin Nushairiyah yang paling brilian dan sukses. Ia adalah penyusun dan pengembang buku-buku induk pegangan kelompok Nushairiyah. Oleh karenanya, ia dijuluki syaikh ad-din. Dalam menyebarkan propagandanya, ia dibantu oleh murid andalannya, Umar Thawil (260-358 H). Al-Khushaibi mati pada tahun 346 H. Kuburannya di sebelah utara kota Halb sampai saat ini masih diziarahi dan dianggap suci oleh kaum Nushairiyah.




  8. Sepeninggal Al-Khushaibi, gerakan Nushairiyah memiliki dua pusat gerakan: (a) Pusat terbesar gerakan berada di Halb dengan tokohnya Muhammad bin Ali Al-Jaili. (b) Pusat gerakan di Baghdad dengan tokohnya Ali Al-Jasri.




  9. Pusat gerakan Nushairiyah di Baghdad hancur bersamaan dengan dibumi hanguskannya kota Baghdad oleh pasukan Mongol pimpinan Hulakho Khan, tahun 656 H. Pusat gerakan Nushairiyah sepenuhnya berada di Halb, Suriah. Kepemimpinan Nushairiyah di Halb pada akhirnya dipegang oleh Abu Sa’id Al-Maimun Surur bin Qasim Ath-Thabrani adalah tokoh pelanjut gerakan ini. Ia lahir di kota Thabariyah, utara Palestina pada tahun 358 H. Ia berpindah ke Halb dan belajar langsung kepada Muhammad bin Ali Al-Jaili, sampai akhirnya menjadi penggantinya sebagai pemimpin Nushairiyah dan tarekat Janbalaniyah. Ia lalu memindahkan pusat gerakan dari Halb ke propinsi Ladzikiyah karena gencarnya serangan suku-suku muslim Kurdi dan Turki kepada mereka. Suku-suku Kurdi dan Turki berjihad untuk meIawan kekufuran kelompok Nushairiyah. Abu Sa’id Al-Maimun mati pada tahun 426 H. Kuburannya diziarahi dan disucikan oleh pengikutnya sampai hari ini.




  10. Setelah itu kepemimpinan Nushairiyah silih berganti, sampai akhirnya dipegang oleh gubernur Hasan Makzun As-Sinjari An-Nushairi. Dengan pasukan Nushairiyah berkekuatan 50.000 prajurit, ditambah gabungan sekte Syi’ah Ismailiyah Aghan Khan, ia berhasil mengusir suku-suku Kurdi dan merebut gunung Nushairiyah dan Kalbiyah serta benteng Abu Qubais di propinsi Ladzikiyah. Peristiwa itu terjadi pada tahun 620 H Ia adalah pemimpin agama dan militer yang berhasil mengokohkan pegunungan Nushairiyah di propinsi Ladzikiyah sebagai pusat gerakan Nushairiyah. Ia mendesak suku Kurdi sampai ke wilayah ‘Acre, Lebanon. Pusat gerakannya berada di benteng Abu Qubais. Ia menyusun dan menulis ulang ajaran-ajaran Nushairiyah, sampai ia mati pada tahun 638 H. Kuburannya di kampung Kafr Susah dekat dataran tinggi Golan diziarahi dan disucikan oleh pengikutnya sampai hari ini.




  11. Selama masa berlangsungnya perang Salib dan serangan bangsa Mongol, kelompok Nushairiyah meninggalkan daerah pegunungan propinsi Ladziqiyah dan berpindah ke daerah-daaerah pantai. Hal itu untuk membantu pergerakan tentara Salib Eropa dan tentara musyrik Mongol untuk menghancurkan pasukan Islam di Suriah, Lebanon, dan Palestina. Penulis Nushairiyah kontemporer, Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil menjelaskan bahwa pada saat itu, kelompok Nushariyah hidup membaur bersama pasukan Salib Eropa. Ia menulis dalam bukunya Tarikh Al-‘Alawiyyin, “Sehingga bangsa Alawi memiliki keutamaan khusus dan sifat-sifat istimewa yang menyerupai seluruh kelompok Arab dan Turki lainnya, seperti kelompok Masehi (Nashrani—edt), Yahudi, Romawi, dan lain-lain




  12. Ketika pasukan Salib Eropa berhasi diusir dari bumi Syam oleh pasukan Islam, maka kelompok Nushairiyah kembali ke pegunungan dan melancarkan makar mereka secara sembunyi-sembunyi. Mereka baru kembali melancarkan serangan secara terang-terangan kepada umat Islam, saat tentara Mongol pimpinan Timur Lank (1336-1405 M) menyapu dunia Islam. Kelompok Nushairiyah bahu-membahu dengan Timur Lank yang beraliran Syi’ah ekstrim untuk menghancurkan kaum muslimin di Syam dan Iraq. Timur Lank melakukan perusakan, pembakaran, dan pembantaian keji terhadap kaum muslimin saat menaklukkan Damaskus dan Baghdad. Persekongkolan keji Nushairiyah dengan Timur Lank ini diakui sendiri oleh para tokoh dan penulis Nushairiyah, seperti Muhammad Amin Ghalib Ath-Thawil dalam bukunya Tarikh Al-‘Alawiyyin. Peristiwa ini juga dicatat oleh para sejarawan dan pakar perbandingan agama dan sekte, seperti Prof. DR. Muhammad Abu Zahrah dalam bukunya Al-Madzahib Al-Islamiyyah dan Amin Ar-Raihani dalam bukunya An-Nakbat: Khulashah Tarikh Suriyah mundzu al-‘ahd al-awwal li-thufan ila al-‘ahd al-jumhury bi-Lubnan.




  13. Para pemimpin Islam telah berkali-kali mencoba mendakwahi dan mentarbiyah mereka agar kembali kepada kebenaran. Usaha pertama dilakukan oleh sultan Shalahudin Al-Ayubi (daulah Ayyubiyah) setelah berhasil mengalahkan pasukan Salib Eropa. Ia membangun masjid di setiap perkampungan Nushairiyah, mendakwahi mereka sampai mereka menampakkan kembali kepada Islam. Ia mewajibkan mereka untuk melaksanakan shalat, shaum Ramadhan, dan kewajiban-kewajiban Islam lainnya. Usaha kedua dilakukan oleh sultan Zhahir Baybars (daulah Mamalik) setelah berhasil mengalahkan tentara Mongol dari negeri Syam. Dan usaha ketiga dilakukan oleh sultan Salim Al-Utsmani (daulah Utsmaniyah) setelah mengalahkan mereka dalam jihad yang lama. Setiap kali kelompok Nushairiyah dikalahkan dalam jihad lalu didakwahi dan ditarbiyah, maka mereka menampakkan keislaman, mengerjakan shalat, shaum Ramadhan, mengharamkan homoseksual dan minuman keras, dan melaksanakan kewajiban-kewajiban Islam lainnya. Namun begitu para penguasa muslim yang kuat tersebut digantikan oleh para penguasa yang lemah, maka kelompok Nushairiyah kembali murtad. Mereka menghancurkan masjid-masjid dan menjadikannya sebagai tempat pembuangan sampah. Pengembara internasional, Ibnu Bathuthah, menjadi saksi hidup atas hal itu saat mengunjungi negeri Syam pada abad 9 H, sebagaimana ia tulis dalam ensiklopedi pengembaraannya, Tuhfatun Nazhar fi Gharaibil Amshar wa ‘Ajaibil Asfar.




  14. Pada abad belakangan, gubernur Mesir yang berada di bawah kuasa Daulah Utsmaniyah, Ibrahim Basya bin Muhammad Ali Basya mengulangi kembali usaha dakwah dan tarbiyah terhadap kelompok Nushairiyah. Ia membangun masjid-masjid dan madrasah-madrasah, mengirim para dai sehingga mereka masuk Isam, mewajibkan mereka untuk melaksanakan shalat, shaum, meninggalkan homoseksual dan minuman keras, dan menaati syariat Islam lainnya. Pada saat lemah, mereka menampakkan keislaman. Namun saat kekuatan mereka berhasil dibangkitkan, mereka kembali murtad, membakar masjid-masjid dan madrasah-madrasah, dan melakukan kudeta militer pada tahun 1834 M di propinsi Ladzikiyah. Pemberontakan mereka bisa dipadamkan oleh Ibrahim Basya.




  15. Usaha terakhir dilakukan oleh sultan Abdul Hamid II dari daulah Utsmaniyah dengan mengangkat Dhiya’ Basya untuk menjalankan program dakwah, tarbiyah, dan ishlah sebagaimana telah berkali-kali dilakukan oleh penguasa Islam terdahulu. Hasil dari semua usaha tersebut hanyalah pengulangan dari apa yang sudah terjadi. Begitu kekuatan daulah Utsmaniyah melemah, mereka kembali murtad dan memusuhi kaum muslimin. Terlebih, setelah itu daulah Ustmaniyah telah dikuasai oleh kelompok nasionalis-sekuleris Turki dan tengah teribat Perang Dunia I melawan penjajah saibis Inggris, Perancis, dan sekutu-sekutunya. Tak heran apabila kelompok Nushairiyah kembali bersekongkol dengan Perancis dan Inggris. 




  16. Kelompok Nushairiyah berulangkali melakukan penyerangan dan pemberontakan terhadap kekuasaan Islam. Di antara contohnya adalah pemberontakan besar Nushairiyah tahun 717 H di negeri Syam di bawah pimpinan seseorang yang mengaku sebagai Muhammad bin Hasan Al-Mahdi Al-Qaim bi-Amrillah.Mereka berhasil merebut propinsi Jabalah, membantai warganya, meruntuhkan masjid-masjid dan menjadikannya sebagai warung-warung minuman keras. Semboyan mereka adalah Laa Ilaaha Illa ‘Aliyy, wa laa hijaaba illa Muhammad, wa laa baab illa Salman (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Ali, tidak ada al-hijab (utusan Tuhan) selain Muhammad, dan tidak ada al-bab (perantara antara utusan Tuhan dengan manusia) selain Salman. Mereka mencaci maki shahabat Abu Bakar dan Umar, dan memaksa setiap muslim yang mereka tawan untuk  bersaksi :”Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Ali, aku bersujud kepada Tuhanku Al-Mahdi Yang Menghidupkan lagi Mematikan…” (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, 14/83-84)




  17. Pada saat penjajah Perancis menduduki Suriah tahun 1920 M, pimpinan dinas inteijen Perancis kapten Blondel berkumpul dengan para tokoh Nushairiyah di Ladzikiyah. Mereka sepakat untuk menjadikan propinsi Ladzikiyah (pusat gerakan Nushairiyah) sebagai negara merdeka dan memisahkan diri dari negara Suriah. Maka kelompok Nushairiyah memproklamasikan berdirinya negara Ladzikiyah, dengan Sulaiman Al-Mursyid (pemimpin besar Nushairiyah saat itu) sebagai presidennya. Atas saran dari Inggris, Sulaiman Al-Mursyid mengklaim dirinya adalah Ilah (Tuhan yang berhak disembah). Untuk tujuan itu, Perancis merancang jas kepresidenan yang di dalamnya dipasangi rangkaian elektronik dengan batu baterei dan sakelar yang berada di saku jasnya. Cukup dengan memencet sakelar dalam sakunya, maka memancarlah cahaya dari rangkaian listrik dalam jas itu. Pada saat itulah, seluruh pengikut Nushairiyah dan dinas intelijen Perancis bersujud kepada Sulaiman Al-Mursyid dengan membaca doa: “Anta Ilahii…Engkaulah Tuhan sesembahanku.”




  18. Pada tahun 1938 M, presiden ‘Tuhan’ Nushairiyah, Sulaiman Al-Mursyid, meresmikan pengangkatan para hakim dan pembentukan angkatan bersenjata Nushairiyah untuk mempertahankan negara Nushairiyah Ladzikiyah. Ketika negara Suriah berhasil meraih kemerdekaan dan mengusir penjajah Perancis, pemerintah Suriah segera memadamkan pemberontakan Nushairiyah ini. Pasukan Suriah berhasil meruntuhkan negara Ladzikiyah dan Sulaiman Al-Mursyid tertangkap pada tahun 1946 M (1366 H). Ia dihukum mati. Kelompok Nushairiyah lalu mengangkat anaknya, Mujib Al-Mursyid. Sebagaimana bapaknya, Mujib Al-Mursyid juga mengaku sebagai Tuhan. Pada tahun 1951 M, dinas intelijen Suriah berhasil membunuh Mujib Al-Mursyid. Setiap kali menyembelih hewan, pengikut Nushairiyah membaca doa: ”Dengan nama Mujib Yang Maha Besar, dari tanganku untuk memotong leher Abu Bakar dan Umar.”




  19. DR. Mujahid Al-Amin dalam bukunya, Al-‘Alawiyyun aw An-Nushairiyah, mencantumkan dokumen rahasia Nushairiyah yang secara resmi disiarkan oleh Departemen Luar Negeri Perancis dengan no. 3547 tertanggal 15 Juni 1936 M. Dokumen itu adalah surat resmi kelompok Nushairiyah Suriah kepada perdana mentri Perancis. Isinya adalah permohonan untuk mempertahankan pasukan Perancis di Suriah, ucapan selamat kepada para imigran Yahudi dari seluruh dunia yang masuk ke Palestina, dan provokasi untuk memerangi kaum muslimin. Surat itu ditanda tangani oleh para pemimpin Nushairiyah Suriah pada tahun 1936; Sulaiman Al-Asad, Muhammad Sulaiman Al-Ahmad, Mahmud Agha Hadid, Aziz Agha Hawasy, ‘Tuhan” Sulaiman Al-Mursyid, dan Muhammad Bek Junaid.




  20. Para perang Arab-Israel 1967 M, kelompok Nushairiyah kembali bersekongkol dengan Yahudi dalam memerangi kaum muslimin. Kelompok Nushairiyah yang berhasil melakukan kudeta militer dan menjadi penguasa Suriah lewat kendaraan partai sosialis Baath menyerahkan dataran tinggi Golan secara cuma-cuma kepada negara Yahudi Israel. Dokumen rahasia tokoh-Nushairiyah seputar keganjilan dan konspirasi Nushairiyah Suriah-Yahudi Israel dalam perang 1967 M tersebut akhirnya bocor dan dipublikasikan oleh perdana mentri Yordania, Sa’ad Jum’ah, tahun itu juga dalam bukunya Mujtama’ul Karahiyah. Dalam dokumen Nushairiyah itu dijelaskan, bahwa Nushairiyah meyakini rasul dan al-bab mereka Abu Syu’aib Muhammad bin Nushair An-Numairi telah berinkarnasi dalam sosok seorang pemimpin yang buta salah satu matanya, muncul dari arah selatan, bergerak dan menaklukkan Damaskus, lalu bergerak ke utara untuk memberikan ketaatan kepada Tuhan si Buta salah satu matanya. Jika dua Tuhan yang buta salah satu matanya telah berstu, niscaya kekuasaannya akan bertahan selama 70 tahun. Menurut keyakinan para pemimpin Nushairiyah, Abu Syu’aib berinkarnasi dalam sosok Mose Dayan, si Jagal Yahudi itu. (Sa’ad Jum’ah, Mujtama’ Al-Karahiyah, hlm. 62-75)




  21. Sepeninggal gubernur Hasan Makzun As-Sinjari, kelompok Nushairiyah terpecah dalam beberapa pusat pergerakan yang dipimpin oleh tokoh-tokoh yang digelari syaikh. Antara satu pusat ggerakan dengan pusat gerakan lainnya tidak terjalin hubungan. Hal itu bertahan selama ratusan tahun. Sampai akhirnya pada tahun 1966 M, Nushairiyah berhasil naik ke puncak kekuasaan tertinggi di Suriah. Menunggangi partai sosialis Baath, mereka melakukan kudeta militer dan sukses mengantarkan pemimpinnya, Hafez Al-Assad menjadi perdana mentri lalu sebagai presiden (22 Februari 1971-10 Juni 2000 M). Ia segera menjadi diktator bertangan besi yang menjadikan kelompok Nushairiyah yang hanya 10 % dari keseluruhan penduduk Suriah, sebagai pemegang kendali semua urusan (politik, ekonomi, militer, pendidikan, kebudayaan, keagamaan) di Suriah. Sejak saat itulah, pembantaian demi pembantaian keji mereka lancarkan terhadap mayoritas penduduk Suriah yang beragama Islam dari madzhab ahlus sunnah wal jama’ah. Untuk menutupi kemurtadan mereka, nama yang mereka angkat adalah ‘Partai Sosialis Baath’, “pembangunan dan kebebasan” dan slogan-slogan palsu lainnya. Kini, kekejaman rezim Bashar Al-Assad (10 Juni 2000-…) terus berlangsung, meneruskan dendam berabad-abad agama Nushairiyah terhadap Islam dan kaum muslimin.




(Selengkapnya lihat: Alwi As-Saqqaf, An-Nushairiyah, hlm. 12, Dr. Sulaiman Al-Halabi, Thaifah An-Nushairiyah, hlm. 39-42, Mamduh Al-Buhairi, Mausu’ah Firaq Asy-Syi’ah, hlm.114-115 dan Dr. Muhammad bin Ahmad Al-Khathib, Al-Harakat Al-Bathiniyah fil ‘Alam Islami, hlm. 325-339)


(read more ...)




Oleh: Muhib  Al Majdi  / Arrahmah.com


Tidak banyak kaum muslimin yang mengetahui hakekat peristiwa yang tengah terjadi di Suriah. Banyak di antara kaum muslimin yang menyangka kebiadaban rezim Suriah tersebut semata-mata didasari oleh kepentingan politik untuk menyelamatkan kekuasaan rezim Partai Baath, partai sosialis yang telah mencengkeram rakyat Suriah selama puluhan tahun dengan kekuatan senjata. Belum banyak yang tahu bahwa kebiadaban rezim partai Baath juga dilatar belakangi oleh faktor ideologi dan agama. Ya, partai Baath telah didominasi oleh kelompok Nushairiyah sejak era Hafizh Asad. Kelompok Nushairiyah merupakan bagian dari sekte Syi’ah esktrim yang telah dihukumi murtad dari Islam oleh seluruh ulama kaum muslimin. Jadi, rezim Syi’ah esktrim tengah mempertontonkan kebiadannya kepada mayoritas rakyat yang beragama Islam, ahlus sunnah wal jama’ah. Demonstrasi damai versus kebiadaban militer di Suriah sejatinya adalah pertaarungan dua agama: Islam versus Nushairiyah.


Tidak heran bila Iran yang beragama Syi’ah Imamiyah (biasa juga disebut Syi’ah Itsna Atsariyah atau Syi’ah Ja’fariyah) getol memberikan dukungan militer, politik, dan ekonomi kepada rezim Syi’ah Suriah. Dua aliran Syi’ah ekstrim telah bertemu untuk menghabisi musuh bersama; mayoritas rakyat Suriah yang beragama Islam aliran Ahlus Sunnah. Bila ditambah kekuatan Syi’ah Lebanon (dengan milisi Hizbul Laata —plesetan dari nama sebenarnya, Hizbullah), kekuatan Israel, dan Kristen Libanon yang juga memusuhi Ahlus Sunnah; maka rakyat muslim sunni Suriah tengah terkepung dari seluruh penjuru. Umat Islam sedunia sudah seharusnya terus memberikan dukungan kepada perjuangan rakyat Suriah, sebagaimana dukungan mereka kepada perjuangan rakyat muslim Mesir, Tunisia, dan Palestina. Para ulama dan tokoh umat Islam wajib membongkar kedok rezim Nushairiyah Suriah, sehingga wala’ dan bara’ kaum muslimin jelas. Berikut ini sebagian fatwa ulama Islam yang menjelaskan hakekat kelompok Nushairiyah dan partai Baath.


Fatwa tentang Sekte Nushairiyah


Fadhilah syaikh Hamud bin ‘Uqla Asy-Syu’aibi hafizhahullah


As salaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh


Siapa sebenarnya kelompok Nushairiyah itu? Kepada siapa mereka menisbahkan diri? Kapan kelompok ini muncul? Di negeri mana saja keberadaannya? Bagaimana ajaran agama mereka? Bagaiamana pendapat para ulama tentang mereka? Bolehkah memberikan ucapan selamat atas hari-hari kebahagiaan mereka dan memberikan ucapan bela sungkawa atas musibah yang menimpa mereka? Bolehkah menshalatkan jenazah mereka?


Berilah kami fatwa dalam masalah ini, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan


Jawab:


Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga, dan seluruh shahabatnya. Amma ba’du…

Jawaban atas beberapa pertanyaan di atas membutuhkan satu jilid buku tersendiri. Untuk itu, kami akan menjawab secara ringkas saja:


Nushairiyah adalah salah satu kelompok Syi’ah ekstrim yang muncul pada abad ketiga Hijriyah. Berbagai aliran keagamaan yang kafir seperti Bathiniyah, Ismailiyah, Budha, dan sekte-sekte kafir yang berasal dari agama Majusi masuk bergabung ke dalam kelompok Nushairiyah. Nushairiyah banyak terdapat di Suriah dan negara-negara yang bertetangga dengan Suriah.


Nushairiyah menisbahkan kelompoknya kepada seorang yang bernama Muhammad bin Nushair An-Numair, yang mengklaim dirinya sebagai nabi dan menyatakan bahwa Abul Hasan Al-Askari —-imam ke-11 kelompok Syi’ah— adalah Tuhan yang telah mengutus dirinya sebagai nabi.


Ajaran agama Nushairiyah tegak di atas dasar akidah yang rusak dan ritual-ritual ibadah yang usang hasil pencampur-adukkan dari ajaran Yahudi, Nashrani, Budha, dan Islam. Di antara akidah sesat kelompok Nushairiyah adalah:


1.    Kultus individu yang esktrim terhadap diri sahabat Ali bin Abi Thaib dengan meyakini beliau adalah Rabb (Tuhan Yang Maha Menciptakan, Maha Mematikan, Maha Memberi rizki, Maha Mengatur alam—edt), Ilah (Tuhan yang berhak disembah—edt),  dan Pencipta langit, bumi, dan seluruh makhluk. Di antara bentuk penyembahan mereka kepada Ali bin Abi Thalib adalah semboyan agama mereka:


( لا إله إلا حيدرة الانزع البطين ، ولا حجاب عليه إلا محمد الصادق الأمين ، ولا طريق إليه إلا سلمان ذو القوة المتين ..)


“Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Haidarah (Singa betina, julukan Ali—edt) ksatria yang terpercaya


Tiada hijab (penghalang) atasnya kecuali Muhammad Ash-Shadiq Al-Amin (yang jujur lagi terpercaya)


Dan tiada jalan menujunya kecuali Salman Dzul Quwwatil Matin (pemilik kekuatan yang perkasa).


 Dari semboyan mereka ini nampak jelas bahwa kelompok Nushairiyah lebih kafir dari kaum Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrik sekalipun karena dengan ucapan ini mereka menyandarkan penciptaan dan pengaturan seuruh makhluk kepada Ali bin Abi Thalib. Sedangkan kaum Yahudi, Nasrani, dan musyrik mengakui bahwa Allah SWT adalah Sang Pencipta dan Sang Pengatur urusan seluruh makhluk.


2.    Mereka meyakini reinkarnasi, yaitu meyakini bahwa jika seorang manusia meninggal dunia maka ruhnya berpisah dengan jasadnya dan memasuki jasad makhluk lain. Baik jasad manusia maupun jasad hewan, sesuai jenis amal perbuatannya saat ia masih hidup. Jika amal perbuatannya baik, maka ruhnya akan menempati jasad manusia atau hewan yang mulia. Adapun jika amal perbuatannya buruk, maka ruhnya akan menempati jasad hewan yang hina, seperti anjing dan lain sebagainya. Hakekat dari keyakinan ini adalah meyakini bahwa dunia ini tidak akan rusak, tidak akan pernah berakhir, tidak ada kebangkitan setelah mati, tidak ada surga, tidak ada neraka…ruh akan senantiasa berpindah dari satu jasad ke jasad lainnya sampai suatu saat yang tidak akan pernah berakhir. Keyakinan yang rusak ini mereka ambil dari agama Budha, karena keyakinan reinkarnasi adalah salah satu pokok ajaran agama Budha.


3.    Di antara pokok ajaran akidah mereka yang sangat mengakar kuat adalah kebencian dan permusuhan yang sangat keras terhadap Islam dan kaum muslimin. Sebagai bentuk permusuhan dan kebenciaan mereka kepada Islam, mereka menjuluki shahabat Umar bin Khatab dengan julukan ‘Iblisul Abalisah’ (rajanya para iblis). Adapun tingkatan iblis  setelah Umar menurut keyakinan mereka adalah Abu Bakar kemudian Utsman.


4.    Mereka mengharamkan ziarah ke kuburan Nabi Muhammad SAW karena di samping makam beliau SAW terdapat makam shahabat Abu Bakar Ash-Shidiq dan Umar bin Khathab.


Pada zaman dahulu keberadaan agama sesat Nushairiyah ini terbatas pada sebuah tempat di negeri Syam dan mereka tidak diberi peluang untuk memegang posisi dalam bidang pemerintahan maupun bidang pengajaran, berdasar fatwa syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Keadaan itu terus berlanjut sampai akhirnya penjajah Perancis menduduki negeri Syam. Perancis memberi mereka julukan baru ‘Al-Alawiyyin’ (keturunan atau pendukung Ali bin Abi Thalib—edt), memberi mereka kesempatan mendiami seantero negeri Syam, dan mengangkat mereka sebagai pemegang jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan penjajah Perancis di Syam.


Adapun pendapat para ulama Islam tentang kelompok Nushairiyah…sesungguhnya para ulama Islam telah menyatakan Nushairiyah adalah kelompok yang telah keluar dari agama Islam (kelompok murtad—edt), karena agama mereka tegak di atas dasar syirik, keyakinan reinkarnasi, pengingkaran terhadap kehidupan setelah mati, surga, dan neraka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah telah ditanya tentang status kelompok Nushairiyah, maka beliau menjawab:


الحمد لله رب العالمين .. هؤلاء القوم المسمون بالنصيرية هم وسائر أصناف القرامطة الباطنية اكفر من اليهود والنصارى بل اكفر بكثير من المشركين ، وضررهم على أمة محمد صلى الله عليه وسلم أعظم من ضرر الكفار المحاربين فإن هؤلاء يتظاهرون عند جهال المسلمين بالتشيع وموالاة أهل البيت وهم في الحقيقة لا يؤمنون بالله ولا برسوله ولا بكتابه ولا بأمر ولا بنهي ولا ثواب ولا عقاب ولا بجنة ولا بنار ولا بأحد من المرسلين قبل محمد صلى الله عليه وسلم ولا بملة من الملل ولا بدين من الأديان السالفة بل يأخذون من كلام الله ورسوله المعروف عند علماء المسلمين ويتأولونه على أمور يفترونها ويدعون أنها علم الباطن من جنس ما ذكره السائل …)


“Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam. Kelompok yang dinamakan Nushairiyah tersebut dan seluruh kelompok Qaramithah Bathiniyah (salah satu sekte Syi’ah yang ekstrim—edt) yang lain adalah orang-orang yang kekafirannya lebih parah dari kekafiran kaum Yahudi dan Nashrani, bahkan kekafirannya lebih berat dari kekafiran kebanyakan kaum musyrik. Bahaya mereka (kelompok Nushairiyah dan Qaramithah Bathiniyah—edt) terhadap kaum muslimin lebih besar dari bahaya kaum kafir yang memerangi Islam, karena mereka menampakkan dirinya sebagai orang-orang Syi’ah yang loyal kepada ahlul bait di hadapan kaum muslimin yang bodoh. Padahal sejatinya mereka tidak beriman kepada Allah, rasul-Nya, kitab-Nya, perintah, larangan, pahala, siksa, surga, neraka, maupun seorang rasul pun sebelum Muhammad SAW. Mereka juga tidak mengimani adanya ajaran rasul dan agama samawi terdahulu apapun. Mereka hanya mengambil sebagian firman Allah dan sabda rasul-Nya yang dikenal di kalangan ulama Islam, lantas mereka melakukan ta’wil sesat yang mereka ada-adakan dan mereka klaim sebagai ilmu bathin semisal yang telah disebutkan oleh penanya di atas…”


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah melanjutkan jawabnnya sampai pada perkataan beliau: ”Sudah diketahui bersama bahwa pesisir pantai negeri-negeri Syam jatuh ke tangan pasukan Nasrani (tentara Salib—edt) dari arah mereka (kelompok Nushairiyah). Mereka selalu membantu setiap musuh Islam. Menurut mereka, di antara musibah terbesar yang menimpa mereka adalah kemenangan kaum muslimin atas pasukan Tartar…” Fatwa beliau cukup panjang, dan kami cukupkan dengan kutipan pendek di atas.


Adapun mengucapkan selamat atas hari-hari bahagia mereka, mengucapkan bela sungkawa atas musibah yang menimpa mereka, dan menshalatkan jenazah mereka adalah perbuatan yang diharamkan dan tidak diperbolehkan, karena menyelisihi kaedah wala’ dan bara’ yang merupakan salah stau ajaran pokok yang urgen dalam pokok-pokok ajaran tauhid.


Demikian jawaban ringkas yang bisa saya sampaikan.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para shahabatnya.


Hamud bin ‘Uqla Asy-Syu’aibi

25 Rabi’ul Awwal 1421 H


Fatwa tentang Partai Baath


Soal:

Fadhilah syaikh…kami mengharapkan Anda berkenan menuliskan fatwa tentang partai sosialis Ba’ath Arab dan hukum bergabung dengan partai tersebut. Semoga Allah SWT membalas Anda dengan kebaikan


Jawab:


 Segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.


Partai sosialis Baath Arab adalah sebuah partai nasionalis rasis sekuleris permisif, tegak di atas dasar memisahkan agama dari negara, politik, dan aspek kehidupan. Partai ini dengan seluruh dasar-dasarnya, tujuan-tujuannya, sarana-sarananya, pembentukannya, dan seluruh bagian-bagiannya bertolak belakang dan menyelisihi syariat dan ajaran Islam. Partai ini hanya mampu menyeret umat Islam kepada kehinaan, keterbelakangan, kemiskinan, dan kekalahan demi kekalahan.


Lebih dari itu, dari dahulu sampai sekarang partai ini menjadi topeng bagi kekuasaan kelompok Nushairiyah yang kafir, keluar dari Islam, dan berkhianat di Suriah. Melalui partai kafir ini, kelompok Nushairiyah yang berkuasa melampiaskan seluruh kedengkian kelompoknya yang keji terhadap Islam dan kaum muslimin. Sejarah kontemporer kelompok Nushairiyah menjadi saksi atas hal ini.


Dengan demikian, ia adalah partai kafir dari aspek pembentukan, sarana, tujuan, dan organisasinya. Seorang yang memahami hakekat Islam dan hakekat partai ini serta pengikutnya tentu tidak akan ragu sedikit pun atas hukum ini. Maka tidak boleh berkoalisi, bergabung, atau mengkampanyekan partai ini.


Barangsiapa melakukan hal itu atas dasar sukarela tanpa ada paksaan yang dibenarkan oleh syariat, hanya karena mencari mata pencaharian, jabatan, atau alasan semisal meskipun ia tidak meyakini dasar-dasar dan tujuan-tujuan partai ini, maka ia telah kafir keluar dari agama Islam (murtad) sampai ia bertaubat dan berlepas diri secara lahir dan batin dari partai ini dan para pengikutnya. Ia dihukumi kafir murtad, sekalipun lisannya mengakui dirinya adalah seorang muslim, namun perbuatannya mendustakan pengakuan lisannya tersebut. Allah SWT berfirman:


{ مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْأِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْراً فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ }


Artinya:

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. (QS. An-Nahl (16): 106)


Barangsiapa menampakkan kekafiran dengan ucapan atau perbuatan tanpa ada paksaan atau penghalang lainnya yang diakui oleh syariat…maka ia telah kafir, membuka hatinya lebar-lebar untuk menerima kekafiran, terkena murka Allah dan siksaan yang pedih di akhirat.


Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan seluruh shahabatnya.


Syaikh Abu Bashir Abdul Mun’im Musthafa Hulaimah Ath-Thathusyi



Di banding Mesir dan Tunisia, gelombang demonstrasi rakyat Suriah menentang rezim Suriah menemui tembok penghalang yang lebih tebal, berat, dan tinggi. Ribuan muslim sunni telah gugur diterjang timah panas aparat keamanan Suriah selama masa demonstrasi yang telah berlangsung lebih dari empat bulan ini. Puluhan ribu muslim sunni lainnya mengalami luka-luka berat, dan jumlah yang lebih besar lagi terpaksa mengungsi ke daerah-daerah perbatasan Turki.

(read more ...)




Saif Al Battar


Sabtu, 13 Agustus 2011 14:01:16


Hits: 1975





Pengantar


Seorang pendeta Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ berpura-pura masuk Islam untuk menghancurkan Islam dari daIam. Ia menampakkan dirinya sebagai seorang yang shalih dan hidup zuhud. Di tengah masyarakat Mesir, Kufah, dan Bashrah, ia menyebarkan pendapat sesat bahwa Ali bin Abi Thalib RA adalah orang yang diberi wasiat oleh Rasulullah SAW untuk menjadi khalifah sepeninggalnya. Ia juga memprovokasi masyarakat dengan menyebut Abu Bakar, Umar, dan Utsman adalah para penjahat yang bersekongkol merebut jabatan kekhalifahan dari Ali.



Dengan provokasi terus-menerus, banyak orang-orang bodoh di Mesir, Kufah, dan Basrah yang menjadi pengikutnya. Ia menggerakkan mereka untuk mengepung rumah khalifah Utsman di Madinah, sehingga berujung kepada pembunuhan khalifah Utsman oleh mereka. Kekacauan itu disusul dengan pengangkatan Ali sebagai khalifah. Namun gejolak belum padam, sehingga terjadi perang Jamal dan perang Shiffin, yang disusul dengan perundingan (tahkim) pihak Ali dan pihak Mu’awiyah di Daumatul Jandal pada tahun 36 H.


Dampak dari peristiwa itu, barisan Ali terpecah menjadi tiga golongan; mayoritas kaum muslimin yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah, kelompok sesat Khawarij, dan kelompok Syi’ah. Semula kelompok Syi’ah hanya mengganggap Ali lebih layak menjadi khalifah, dan mereka tidak mengkafirkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Namun dalam perkembangannya, sebagian kelompok Syi’ah bersikap ekstrim dengan mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, dan seluruh shahabat yang mereka tuding ‘bersekongkol mengkudeta’ Ali.


Dalam perkembangannya, kelompok Syi’ah terpecah menjadi 20 sekte; dua sekte Syi’ah Kaisaniyah, tiga sekte Syi’ah Zaidiyah, dan lima belas sekte Syi’ah Imamiyah. Kelompok Syi’ah menjadi induk semang bagi kelompok Nushairiyah adalah Syi’ah Imamiyah.


Syi’ah Imamiyah terpecah menjadi lima belas sekte akibat perbedaan pendapat yang sangat tajam di antara mereka sendiri. Mereka meyakini kekhilafahan adalah hak Ali bin Abi Thalib, lalu ia mewasiatkan kedudukan itu kepada anaknya, Hasan bin Ali. Hasan bin Ali mewasiatkan penggantinya adalah saudaranya, Husain bin Ali. Husain bin Ali lalu mewasiatkannya kepada anaknya, Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali. Ali Zainal Abidin mewasiatkan kepada anaknya, Muhammad Al-Baqir. Muhammad Al-Baqir lalu mewasiatkannya kepada anaknya, Ja’far Ash-Shadiq.


Setelah itu, mereka terpecah menjadi dua sekte karena berselisih tajam tentang keturunannya yang menggantikannya sebagai khalifah:




  1. Satu sekte meyakini penggantinya adalah anaknya, Ismail. Mereka adalah kelompok Syi’ah Ismailiyah. Mereka terpecah lagi dalam banyak kelompok, namun pada saat ini yang eksis adalah tiga kelompok besar:



    •  Ismailiyah Musta’liyah (kelompok Baharah)

    •  Ismailiyah Nizariyah (kelompok Agha Khan)

    •  Sekte Druz




  2. Satu sekte meyakini penggantinya adalah Musa Al-Kazhim. Mereka adalah kelompok Syi’ah Itsna ‘Asyariyah atau juga disebut Syi’ah Ja’fariyah. Di Libanon, mereka disebut Mutawilah. Syi’ah Itsna ‘Asyariyah adalah kelompok terbesar dan terpenting dalam kelompok induk Syi’ah Imamiyah. Mayoritas Syi’ah di Iran, Irak, Pakistan, Lebanon, dan Jazirah Arab (Saudi Arabia, Bahrain, dan lain-lain) beraliran Syi’ah Itsna ‘Asyariyah. Dari aliran ini pula timbul banyak pecahan, yang salah satunya adalah Nushairiyah.




(Dr. Sulaiman Al-Halabi, Thaifah An-Nushairiyah Tarikhuha wa Aqa’iduha, Kuwait: Ad-Dar As-Salafiyah, cet. 2, 1404 H, hal. 21-26)


Syi’ah Ekstrim


Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi sukses memecah belah kaum muslimin menjadi dua golongan:ahlus sunnah wal jama’ah dan Syi’ah. Namun ia tidak berhenti di situ saja. Ia berusaha keras menyesatkan dan mengeluarkan pengikutnya, kelompok Syi’ah (Syi’ah Sabaiyyah), dari agama Islam. Maka ia menampakkan dirinya sebagai orang yang shalih, bertakwa, zuhud, berilmu, dan pembela Ahlul Bait. Ia mengajarkan kepada pengikutnya, bahwa Allah SWT menyatu dalam diri Ali bin Abi Thalib sehingga Ali memiliki unsur ketuhanan dan karenanya harus disembah. Hal ini sama persis dengan ajaran Paulus, pendeta Yahudi yang pura-pura masuk Kristen untuk menghancurkan Kristen dari dalam. Paulus mengajarkan kepada pengikut Kristen bahwa Allah SWT bersatu dengan diri Isa Al-Masih (mereka menyebutnya: Yesus Kristus) sehingga ia memiliki unsur ketuhanan dan harus disembah.


Orang-orang bodoh yang belum lurus keislamannya tertipu oleh ajaran palsu Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi. Syarik Al-Amiri berkata: “Dilaporkan kepada amirul mukminin Ali bin Abi Thalib bahwa di sini (kufah) di depan pintu masjid ada sebuah kaum yang mengakui engkau (Ali bin Abi Thalib) adalah tuhan sesembahan mereka.” Maka Ali memanggil mereka dan menanyai mereka, “Celaka kalian ini, apa yang kalian katakan?” Mereka menjawab, “Engkau adalah Tuhan kami, Pencipta kami, dan Pemberi rizki kami.” Ali menjawab, “Celaka kalian. Aku hanyalah seorang hamba seperti kalian. Aku makan sebagaimana kalian makan dan aku minum sebagaimana kalian minum. Jika aku menaati Allah, maka jika Allah berkeendak niscaya Dia memberiku balasan pahala. Dan jika aku mendurhakai Allah, maka aku khawatir jika Allah mengadzabku. Maka takutlah kalian kepada Allah dan kembalilah kepada kebenaran!” Ali memberi mereka waktu tiga hari untuk bertaubat. Namun mereka telah gelap hati dan memegang teguh kesesatannya. Setelah didakwahi selama tiga hari namun mereka tetap bertahan di atas keyakinan mereka, maka Ali memerintahkan penggaian parit-parit di depan masjid Kufah, lalu ia memerintahkan agar mereka dibakar hidup-hidup karena telah murtad. (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 12/309-310 hadits no. 6922)


Semboyan dan ajaran mereka lalu diikuti oleh banyak orang Yahudi dan orang Majusi Persia yang hendak merusak Islam dari dalam. Orang-orang Majusi menaruh dendam kesumat kepada Islam dan kaum muslimin karena kaum muslimin telah meruntuhkan kejayaan Imperium Persia yang berkuasa di muka bumi selama 12 abad lamanya. Kaum Yahudi menaruh dendam karena kaum muslimin telah mengalahkan Yahudi Bani Qainuqa’, Bani Nadhir, Bani Quraizhah, Yahudi Khaibar, dan mengusir kaum Yahudi dari Jazirah Arab.


Cara terbaik bagi mereka untuk memuluskan program jahatnya adalah bergabung dengan kelompok Syi’ah dengan kedok membela Ahlul Bait. Mereka memasukkan akidah-akidah Yahudi, Majusi, Budha, dan musyrikin lainnya ke dalam kelompok mereka. Akibatnya, akidah mereka sangat berbeda dengan akidah kelompok Ahlus Sunnah dan Syi’ah moderat. Mereka lantas dikenal sebagai Syi’ah Ekstrim.


Imam Asy-Syahrastani menulis, “Al-Ghulat (kaum ekstrim) adalah nama untuk orang-orang yang bersikap ekstrim terhadap para imam mereka, sehingga mereka mengeluarkan para imam mereka dari batasan kemanusiaan dan mengangkat mereka kepada derajat ketuhanan.Terkadang mereka menyerupakan salah seorang imam dengan Tuhan Yang berhak disembah. Terkadang mereka juga menyerupakan Tuhan Yang berhak disembah dengan makhluk. Mereka berada di antara sikap terlalu berlebihan dan terlalu meremehkan. Syubhat-syubhat mereka timbul dari paham-paham hululiyyah (paham yang menyatakan Allah menitis pada semua makhluk-Nya; semua makhluk di alam semesta adalah wujud dari Allah), paham reinkarnasi, agama Yahudi dan Nashrani. Karena kaum Yahudi menyerupakan Al-Khaliq (Sang Pencipta) dengan makhluk, sedangkan Nashrani menyerupakan makhluk dengan Al-Khaliq. Syubhat-syubhat tersebut merambah pikiran orang-orang Syi’ah ekstrim, sehingga mereka memberlakukan sifat-sifat Tuhan untuk diri para imam mereka.” (Al-Milal wan Nihal (dicetak sebagai catatan kaki Al-Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal), 1/10).


Sejarawan dan sosiolog muslim, imam Ibnu Khaldun menulis: “Di antara kelompok Syi’ah terdapat beberapa kelompok yang disebut kelompok ekstrim. Mereka melampaui batas normal akal dan iman dengan meyakini ketuhanan para imam mereka. Baik dengan meyakini bahwa para imam mereka adalah manusia yang memiliki sifat-sifat Tuhan, maupun meyakini bahwa Tuhan bersemayam dalam jasad manusiawi mereka. Itulah pendapat hululiyah yang bersesuaian dengan keyakinan kaum Nashrani bahwa Tuhan bersemayam dalam jasad Isa bin Maryam.” (Muqaddimah Ibnu Khaldun, hlm. 832)


Seorang ulama besar kelompok Syi’ah Itsna Asyariyah, Asy-Syaikh Al-Mufid, menulis: “Kelompok ekstrim yang berpura-pura menampakkan keislaman adalah orang-orang yang menisbahkan Ali dan para imam anak keturunannya kepada derajat ketuhanan dan kenabian. Mereka menyematkan sifat-sifat keutamaan dalam urusan agama dan dunia kepada Ali dan para imam anak keturunannya sampai melampaui batas dan keluar dari tujuan sebenarnya. Maka mereka adalah kaum yang sesat dan kafir. Amirul Mukminin Ali ‘alaihis salam telah memvonis mereka kafir dan keluar dari Islam.”  (Thaifah An-Nushairiyah, hlm. 30)


Bersambung….


(read more ...)



Hidayatullah.com-- Ketika aku kembali ke Srebrenica, aku mengajukan dana bantuan untuk merekonstruksi rumahku karena semua pipa air rusak. Rumah yang telah dibangun oleh suamiku dan di mana aku pernah tinggal bersamanya dan anak-anak adalah satu-satunya peninggalan berharga yang aku miliki. Akan tetapi selam tiga tahun pengajuan danaku selalu ditolak.



Aku tinggal di rumah ketika perang berlangsung. Suami dan anakku yang tertua memintaku untuk pergi dengan anakku yang lebih muda dan pergi ke Sarajevo. Akan tetapi aku tidak ingin meninggalkan mereka sendirian. Terakhir kali aku melihat anak-anakku, yang lahir pada tahun 1973 dan 1979, berada di sini, di halaman depan di bawah pohon ini.



Mengapa Serbia membunuh mereka, anak-anakku yang berumur 22 dan 16 tahun saat itu. Bagaimana bisa bahwa orang-orang yang melakukan ini masih tinggal di sini di Srebrenica? Bagaimana mereka melihat kita disisi lain mereka mengetahui apa yang mereka telah lakukan?



Anakku yang bungsu begitu ceria dan menyukai mata pelajaran matematika. Dan ia sangat pandai di pelajaran ini. Ketika gurunya bertemuku dia sering menyapaku, "Ke sini ibu matematika", karena kepandaian anakku.


Pemerintah belum menemukan tulang anakku. Mereka belum menemukan tulang suamiku, anak-anakku dan iparku. Aku pergi ke pemakaman yang berlangsung pada tanggal 11 Juli setiap tahun di Potocari Memorial Genosida, akan tetapi kabar dan nasib mereka belum aku temukan. Aku berharap suatu hari nanti aku akan dapat untuk mengubur anak-anaku.



Ketika aku kembali pada tahun 2000 setelah 5 tahun dalam pengungsian. Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku didampingi polisi yang memberikan perlindungan.


Akan tetapi sebelum kami tiba di rumahku mereka mengatakan kepadaku bahwa mereka tidak akan pergi denganku dan bahwa aku melakukan ini dengan resiko sendiri. Sebuah keluarga Serbia tinggal di rumahku dan ketika aku mengetuk pintu rumahku mereka tidak membukanya. Akan tetapi aku tahu mereka ada di dalam rumahku, dan aku tidak takut.


Aku hanya ingin masuk ke dalam dan melihat apakah ada foto-foto keluargaku yang masih tersisa. Foto-foto itu yang aku ingin ambil. Ketika seseorang akhirnya membuka pintu, ia mengusirku dan mengancam akan membunuhku apabila aku kembali datang. Tapi aku tidak takut. Dalam pikiranku - terbayang - aku melihat anak-anakku di sana berdiri di sebelah pohon di mana aku pernah melihatnya.



Akhirnya ada orang yang membantuku untuk mendapatkan kembali rumah yang dulu pernah aku tinggali bersama keluargaku.



Ketika aku melarikan diri dari Potocari ke Tuzla, tidak ada yang bertanya di mana anak-anakku. Tidak ada yang tersisa di diriku, aku harus minum air dari kaleng ikan bekas. Suatu hari seorang perempuan memberiku cangkir (Safia masih memiliki cangkir dan menunjukkan kepada kami). Kebaikan itu masih aku ingat sampai sekarang.



Anakku tertua sudah menikah ketika perang terjadi. Dan istrinya hamil 7 bulan. Ketika tentara Serbia datang, aku meminta suami dan anakku untuk melarikan diri.


Mereka berlari di seberang jalan dan ke hutan naik gunung. Aku dan menantu, istri anakku berlari ke arah lain. Ibu mertua tidak mau ikut denganku. Dia tetap tinggal di rumah. Ketika kami tiba di Potocari (di mana PBB menjaga perdamaian dan pasukan Belanda ditempatkan), kami tinggal di pabrik selama dua malam.


Kemudian Belanda memaksa kami untuk meninggalkan pabrik tempat kami mencari perlindungan setelah malam kedua dan kami harus tidur di luar. Aku tidak bisa tidur semalaman saat aku menunggu untuk berangkat dengan truk PBB.



Aku pergi bersama menantuku naik truk keesokan paginya dan kami tiba ke tempat yang bernama Trieste. Mereka mengatakan kepada kami untuk turun dan berjalan dan mereka memaksa kami untuk memberi mereka semua yang kita miliki dan mengancam kita jika tidak memberikannya dengan memotong payudara kami. Aku sangat takut dan khawatir keselamtan menantuku, aku mencoba menyembunyikannya.



Para prajurit mengambil gadis-gadis muda dari truk. Aku merasa seseorang berada di belakangku dan tentara mengambil putri pergi. Aku mulai menjerit dan berteriak sangat keras sehingga tentara lain datang seorang bertanya kepadaku apa masalahnya. Aku mengatakan bahwa mereka telah mengambil menantuku yang sedang hamil 7 bulan. Sementara aku menunggu dia untuk kembali, aku melihat dua anak kecil menangis untuk ibu mereka.



Prajurit membawanya ke dalam hutan untuk memperkosanya. Itu adalah di mana mereka mengambil semua wanita untuk memperkosa. Pada akhirnya menantuku dikembalikan kepadaku, tapi kami tidak berbicara sampai kami tiba di Sarajevo.



Kami selamat, tapi aku bertanya pada diri sendiri setiap hari: Mengapa? Mengapa ini terjadi?


Aku berharap ini tidak akan pernah terjadi lagi kepada siapa pun.*/Muhammad Yusuf Efendi 


Baca juga kekejaman Sang Penjagal Muslim Bosnia


Lihat foto-foto kekejamannya di FB Hidayatullah online

(read more ...)




Senin, 04/04/2011 17:39 WIB | email | print



Injil Matius menempati urutan pertama dalam Perjanjian Baru. Penempatan yang tentunya sengaja dilakukan untuk memenuhi asumsi-asumsi tertentu. Salah satunya, untuk sesegera mungkin menempatkan silsilah Yesus yang bernuansa Yahudi, tepat setelah Perjanjian Lama rampung. Karena dalam perbandingan dengan kedua Injil sesudahnya, Matius dianggap paling bernuansa Yahudi (konon terdapat 65 rujukan terhadap Perjanjian Lama).


Cocok dengan anggapan tradisional bahwa Mathius adalah seorang Yahudi. Dalam hal lain dikatakan Matius adalah seorang Yahudi tulen, tetapi ia bekerja untuk kepentingan bangsa Romawi yang justru menjajah bangsa Yahudi. Mengenai Injil Mathius ini, A. Tricot menulis:


"Injil Mathius adalah suatu buku Yahudi dalam bentuk dan jiwanya. Walaupun ditutup dengan pakaian Yunani, buku itu tetap berbau Yahudi dan menunjukkan ciri-ciri Yahudi."


Berbeda dengan penulis Perjanjian Baru lainnya, Penulis Injil Mathius melakukan pendekatan dan penafsiran yang cukup unik terhadap Perjanjian Lama. Ia begitu tertarik terhadap kisah-kisah Perjanjian Lama yang disulap menjadi nubuat bagi Yesus, kadang Mathius terlalu bersemangat dalam melakukannya sehingga kadang ia menghasilkan berbagai kesalahan.


Terdapat keunikan dalam cara Matius menuliskan nama-nama murid Yesus Lihatlah kalimat Mathius Pemungut Cukai dan Simon Orang Zelot. Begitu kontras. Petugas pajak tidak hanya instrumen penindasan Romawi, mereka juga memperkaya diri dengan mengorbankan rakyat. Jadi, Mathius adalah orang Yahudi yang mengambil keuntungan dari orang Yahudi lainnya. Seorang Yahudi yang bekerja untuk pemerintah Roma yang dianggap sebagai pengkhianat.


Dr. Maurice Bucaille menyatakan bahwa yang menjadi ciri-ciri Injil Mathius adalah bahwa ia merupakan Injil kelompok Yahudi Kristen yang sedang memutuskan hubungannya dengan agama Yahudi, tetapi tetap dalam garis Perjanjian Lama. Injil Matihus ini mempunyai arti yang sangat penting jika di pandang dari segi sejarah agama Yahudi Kristen.


Namun ada yang menyatakan Mathius sendiri sebenarnya tidak menulis Injil ini, tapi ada beberapa orang tidak dikenal yang menulis injil ini. Misinya hampir mutlak ingin mewarisi ajaran-ajaran Yahudi paganis dan membelokkan ajaran orisinal Yesus.


Ketidakjelasan bahwa memang Matius menulis injil ini dikuatkan pada Matius 9:9-10 yang berbunyi:


“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: Ikutlah Aku. Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia."


Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya.


Ada yang janggal disini, karena jika memang Matius yang menulis injil tersebut, seharunya Matius memakai kata ganti aku, sehingga redaksinya akan menjadi seperti dibawah ini:


"Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat aku sedang duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepada aku: Ikutlah Aku. Maka berdirilah aku lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah aku, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan aku beserta teman-teman aku."


Lalu kejanggalan yang kedua adalah bahwa bahasa yang digunakan dalam penulisan Injil Matius adalah bahasa Yunani. Padahal Matius sendiri adalah seorang Yahudi yang seumur hidupnya tinggal di Palestina. Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh Matius pun adalah bahasa Ibrani, bukan Yunani.


Jadi, kalau memang kitab injil ini saja tidak jelas dan sangat terkait misi Yahudi paganis untuk membelokkan ajaran Yesus, kenapa kita malah mengutipnya ditambah embel-embel Islam Rahmatan Lil Alamin lagi. (pz/dari berbagai sumber)



(read more ...)





Umat Islam pada umumnya hanya mengenali Syi`ah secara remang-remang. Orang hanya tahu tentang Syi`ah setidaknya terhitung sejak pasca Revolusi Iran. Dimana Syi`ah adalah kelompok yang identik dengan suksesi Ali Radhiyallahu Anhu, pembela hak-hak ahlul bait atau suatu madzhab seperti madzhab yang empat. Dan itu adalah beberapa pemahaman yang dipahami Muslimin awam mengenai hakikat kelompok sesat ini.


Orang tidak tahu bahwa doktrin-doktrin Syi`ah sangat bertentangan dengan pemahaman Ahlussunnah Wal Jama`ah dalam hal pemikiran dan ide-idenya yang spesifik. Karena kalau kita lihat secara historis, asal-usul timbulnya Syi`ah adalah sebagai akibat daripada pengaruh keyakinan-keyakinan orang Persia yang menganut agama raja dan warisan nenek moyang. Orang-orang Persia telah mempunyai andil besar dalam proses pertumbuhan Syi`ah untuk membalas dendam terhadap Islam yang telah menghancur luluhkan kekuatan mereka dengan mengatas namakan Islam sendiri.


Syi`ah tidak mungkin bisa tumbuh dengan cepat seperti sekarang ini kalau bukan dikarenakan jasa-jasa para tokoh-tokoh (setan-setan) mereka. Secara historis, diantara tokoh-tokohnya yang menonjol ialah:


1. Abdulloh Bin Saba




Kelahiran Syi`ah diawali ketika seorang Yahudi dari Yaman bernama Abdulloh Bin Saba muncul dan berpura-pura memeluk Islam, mencintai Ahlul Bait (keluarga Nabi), berlebihan dalam menyanjung Ali Bin Abi Thalib, dan menda’wahkan adanya wasiat khusus dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bagi Ali Radhiyallahu Anhu untuk menjadi Kholifah sepeninggal beliau Shallallahu Alaihi wa Sallam, serta pada akhirnya ia mengangkat Ali Radhiyallahu Anhu ke tingkat ketuhanan. Ia mentransfer apa-apa yang ditemukannya dalam ide-ide Yahudi ke dalam ajaran Syi`ah. Seperti Raj`ah (munculnya kembali Imam), menetapkan sifat bada` bagi Alloh yaitu Alloh baru mengetahui sesuatu bila sudah terjadi, para Imam mengetahui hal-hal yang ghaib dan ide-ide lainnya. Ia pernah berkata ketika ia masih menganut agama Yahudi, bahwa Yusha Bin Nun telah mendapat wasiat dari Musa, sebagaimana dalam Islam bahwa Ali juga telah mendapat wasiat dari Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.


Abdulloh Bin Saba telah berpindah-pindah dari Madinah ke Mesir, Kufah, Fusthath dan Basrah, kemudian berkata kepada Ali: “Engkau, Engkau”, maksudnya Engkaulah Alloh. Sesuatu yang mendorong Ali memutuskan diri untuk membakarnya sebagai hukuman, tetapi Abdulloh bin Abbas Radhiyallahu Anhu menasihatinya agar keputusan itu tidak di laksanakan. Kemudian ia di buang ke Madain.


2. Kulaini


Ia adalah pengarang kitab “Al Kafi”. Kitab tersebut di kalangan Syi`ah setaraf dengan kitab Sohih Bukhori Muslim di kalangan Ahlussunnah. Di yakininya bahwa di dalam kitab itu terdapat 16199 buah hadits. Dan hadits sohih yang diriwayatkan dari Rosululloh Shallallahu Alaihi wa Sallam (pengakuannya) kira-kira 6000 buah hadits. Dan kenyataannya di dalam kitab tersebut banyak terdapat hal-hal yang khurafat dan palsu.


2. Muhammad Baqir bin Syeikh Muhammad Taqiy “al-Majlisi”


Ia adalah pengarang kitab “Haqul yakin”, yang mengatakan bahwa Abu Bakar, Umar, Utsman, Muawwiyah, Aisyah, Hafshah, Hindun dan Ummul Hakam adalah makhluk yang paling jelek di muka bumi, mereka itu adalah musuh-musuh Alloh.


3. Ayatulloh Khumaini


Sosok yang satu ini adalah salah satu tokoh Syi`ah kontemporer, pemimpin revolusi Syi`ah di Iran, yang mengendalikan roda pemerintahan. Ia mengarang buku “Kasyful Asror” dan “Pemerintahan Islam”. Ia pernah mengatakan bahwa agama Ahlussunnah belum sempurna, mengkafirkan Ahlussunnah, menghalalkan harta dan darah Ahlussunnah. Ia hendak memusnahkan golongan Sunni di Iran dan tidak memberikan kesempatan apapun pada golongan ini, sehingga nantinya hanya tinggal nama dan catatan sejarah semata-mata.


Inilah gambaran tentang beberapa tokoh spiritual Syi`ah di samping tokoh-tokoh lainnya, yang mereka memiliki andil yang sangat besar dalam memporak-porandakan Islam dari dalam.


Dan dari hal ini kita tahu bahwa Syi`ah adalah sebuah agama tersendiri yang memiliki doktrin penuh manipulasi dengan berkedok Islam. Oleh karena itu kita semua harus memiliki sikap tegas dalam menolak upaya-upaya untuk menanamkan kesan bahwa Syi`ah adalah bagian dari kaum Muslimin. Wallohu A`lam.



(read more ...)




Keajaiban Al Quran dilihat dari sisi kandungannya telah banyak ditulis dan diketahui, tetapi keajaiban dilihat dari bagaimana Al Quran ditulis/disusun mungkin belum banyak yang mengetahui. Orang-orang non-muslim khususnya kaum orientalis barat sering menuduh bahwa Al Qur’an adalah buatan Muhammad. Padahal kalau kita baca Al Qur’an ada ayat yang menyatakan tantangan kepada orang-orang kafir khususnya untuk membuat buku/kitab seperti Al Quran dimana hal ini tidak mungkin akan dapat dilakukannya meskipun jin dan manusia bersatu padu membuatnya.



Tulisan singkat ini bertujuan untuk menyajikan beberapa keajaiban Al Qur’an dilihat dari segi bagaimana Al Qur’an ditulis, dan sekaligus secara tidak langsung juga untuk menyangkal tuduhan tersebut, dimana Muhammad sebagai manusia biasa tidak mungkin dapat melakukan atau menciptakan sebuah Al Qur’an. Pandangan sains secara konvensional menempatkan matematika sebagai suatu yang prinsipil dari sebuah cabang pengetahuan dimana alasan dikedepankan, emosi tidak dilibatkan, kepastian menjadi hal yang ingin diketahui, dan kebenaran hari ini merupakan kebenaran untuk selamanya.


Dalam masalah agama, ilmuan memandang bahwa semua agama sama, karena semua agama sama-sama tidak mampu memverifikasi atau menjustifikasi kebenaran melalui pembuktian yang dapat diterima oleh logika. Jadi suatu hal dikatakan valid jika ada bukti nyata, dan pembuktian ini merupakan sebuah prosedur yang dibentuk untuk membuktikan suatu realitas yang tak terlihat melalui sebuah proses deduksi dan konklusi yang hasil akhirnya dapat diterima oleh semua pihak.


Dengan dasar tersebut, tulisan ini mencoba untuk membawa pembaca pada suatu kesimpulan bahwa Al Qur’an yang ditulis menurut aturan matematika, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur’an adalah benar-benar firman Allah dan bukan buatan Nabi Muhammad. Kiranya patut juga direnungi apa yang dikatakan oleh Galileo (1564-1642 AD) bahwa . “Mathematics is the language in which God wrote the universe (Matematika adalah bahasa yang digunakan Tuhan dalam menuliskan alam semesta ini)” ada benarnya. Kebenaran bahasa matematika tersebut akan dibahas sekilas sebagai tambahan dari tema utama tulisan ini.


Angka-angka Menakjubkan dari Beberapa Kata dalam Al Qur’an


Kalau kita buka Al Quran dan kita perhatikan beberapa kata dalam Al Quran dan menghitung berapa kali kata tersebut disebutkan dalam Al Quran, kita akan peroleh suatu hal yang sangat menakjubkan. Mungkin kita betanya, berapa lama waktu yang diperlukan untuk mencari dan menghitungnya. Dengan kemajuan teknologi khususnya komputer, hal tersebut tidak menjadi masalah. Tabel 1 menyajikan frekuensi penyebutan beberapa kata penting dalam Al Qur’an yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari.


Berdasarkan tabel tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik. Misalnya pada kata “dunya” dan “akhirat” yang disebutkan dalam Al Qur’an dengan frekuensi sama, kita dapat menafsirkan bahwa Allah menyuruh umat manusia untuk memperhatikan baik kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat secara seimbang. Artinya kehidupan dunia dan akhirat sama-sama penting bagi orang Islam. Selanjutnya pada penyebutan kata “malaaikat” dan “syayaathiin” juga disebutkan secara seimbang. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kebaikan yang direfleksikan oleh kata “malaaikah” akan selalu diimbangi oleh adanya kejahatan yang direfleksikan oleh kata “syayaathiin”. Hal lain juga dapat kita kaji pada beberapa pasangan kata yang lain.


Tabel 1. Jumlah Penyebutan beberapa Kata Penting dalam Al Quran


Sumber: From the Numeric Miracles In the Holy Qur’an by Suwaidan, www.islamicity.org


Beberapa kata lain yang menarik dari tabel tersebut adalah kata “syahr (bulan)” yang disebutkan sebanyak 12 kali yang menunjukkan bahwa jumlah bulan dalam setahun adalah 12, dan kata “yaum (hari)” yang disebutkan sebanyak 365 kali yang menunjukkan jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari. Selanjutnya Kata “lautan (perairan)” disebutkan sebanyak 32 kali, dan kata “daratan” disebut dalam Al Quran sebanyak 13 kali. Jika kedua bilangan tersebut kita tambahkan kita dapatkan angka 45.


Sekarang kita lakukan perhitungan berikut:


· Dengan mencari persentase jumlah kata “bahr (lautan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:

(32/45)x100% = 71.11111111111%


· Dengan mencari persentase jumlah kata “barr (daratan)” terhadap total jumlah kata (bahr dan barr) kita dapatkan:

(13/45)x100% = 28.88888888889%


Kita akan mendapatkan bahwa Allah SWT dalam Al Quran 14 abad yang lalu menyatakan bahwa persentase air di bumi adalah 71.11111111111%, dan persentase daratan adalah 28.88888888889%, dan ini adalah rasio yang riil dari air dan daratan di bumi ini.


Al Qur’an Didisain Berdasarkan Bilangan 19


Dalam kaitannya dengan pertanyaan yang bersifat matematis yang hanya memiliki satu jawaban pasti, maka jika ada beberapa ahli matematika, yang menjawab di waktu dan tempat yang berbeda dan dengan menggunakan metode yang berbeda, maka tentunya akan memperoleh jawaban yang sama. Dengan kata lain, pembuktian secara matematis tidak dipengaruhi oleh ruang dan waktu. Perlu diketahui bahwa dari seluruh kitab suci yang ada di dunia ini, Al Qur’an merupakan satu-satunya kitab suci yang seluruhnya ditulis dalam bahasa aslinya. Berkaitan dengan pembuktian, kebenaran Al Qur’an sebagai wahyu Allah yang sering dikatakan oleh orang barat sebagai ciptaan Muhammad, dapat dibuktikan secara matematis bahwa Al Qur’an tidak mungkin diciptakan oleh Muhammad. Adalah seorang ahli biokimia berkebangsaan Amerika keturunan Mesir dan seorang ilmuan muslim, Dr. Rashad Khalifa yang pertama kali menemukan sistem matematika pada desain Al Qur’an. Dia memulai meneliti komposisi matematik dari Al Quran pada 1968, dan memasukkan Al Qur’an ke dalam sistem komputer pada 1969 dan 1970, yang diteruskan dengan menerjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Inggris pada awal 70-an. Dia tertantang untuk memperoleh jawaban untuk menjelaskan tentang inisial pada beberapa surat dalam Al Qur’an (seperti Alif Lam Mim) yang sering diberi penjelasan hanya dengan “hanya Allah yang mengetahui maknanya”. Dengan tantangan ini, dia memulai riset secara mendalam pada inisial-inisial tersebut setelah memasukkan teks Al Qur’an ke dalam sistem komputer, dengan tujuan utama mencari pola matematis yang mungkin akan menjelaskan pentingnya inisial-inisial tersebut. Setelah beberapa tahun melakukan riset, Dr. Khalifa mempublikasikan temuan-temuan pertamanya dalam sebuah buku berjudul “MIRACLE OF THE QURAN: Significance of the Mysterious Aphabets” pada Oktober 1973 bertepatan dengan Ramadan 1393. Pada buku tersebut hanya melaporkan bahwa inisial-inisial yang ada pada beberapa surat pada Al Qur’an memiliki jumlah huruf terbanyak (proporsi tertinggi) pada masing-masing suratnya, dibandingkan huruf-huruf lain. Misalnya, Surat “Qaaf” (S No. 50) yang dimulai dengan inisial “Qaaf” mengandung huruf “Qaaf” dengan jumlah terbanyak. Surat “Shaad” (QS No. 38) yang memiliki inisial “Shaad”, mengandung huruf “Shaad” dengan proporsi terbesar. Fenomena ini benar untuk semua surat yang berinisial, kecuali Surat Yaa Siin (No. 36), yang menunjukkan kebalikannya yaitu huruf “Yaa” dan “Siin” memiliki proporsi terendah. Berdasarkan temuan tersebut, pada awalnya dia hanya berfikir sampai sebatas temuan tersebut mengenai inisial pada Al Qur’an, tanpa menghubungkan frekuensi munculnya huruf-huruf yang ada pada inisial surat dengan sebuah bilangan pembagi secara umum (common denominator). Akhirnya, pada Januari 1974 (bertepatan dengan Zul-Hijjah 1393), dia menemukan bahwa bilangan 19 sebagai bilangan pembagi secara umum[1] dalam insial-inisial tersebut dan seluruh penulisan dalam Al Qur’an, sekaligus sebagai kode rahasia Al Qur’an. Temuan ini sungguh menakjubkan karena seluruh teks dalam Al Qur’an tersusun secara matematis dengan begitu canggihnya yang didasarkan pada bilangan 19 pada setiap elemen sebagai bilangan pembagi secara umum. Sistem matematis tersebut memiliki tingkat kompleksitas yang bervariasi dari yang sangat sederhana (bisa dihitung secara manual) sampai dengan yang sangat kompleks yang harus memerlukan bantuan program komputer untuk membuktikan apakah kelipatan 19. Jadi, sistem matematika yang didasarkan bilangan 19 yang melekat pada Al Quran dapat diapresiasi bukan hanya oleh orang yang memiliki kepandaian komputer dan matematika tingkat tinggi, tetapi juga oleh orang yang hanya dapat melakukan penghitungan secara sederhana.


Selain 19 sebagai kode rahasia Al Qur’an itu sendiri, peristiwa ditemukannya bilangan 19 sebagai “miracle” dari Al Qur’an juga dapat dihubungkan dengan bilangan 19 sebagai kehendak Allah. Disebutkan di atas bahwa kode rahasia tersebut ditemukan pada tahun 1393 Hijriah. Al Qur’an diturunkan pertama kali pada 13 tahun sebelum Hijriah (hijrah Nabi). Jadi keajaiban Al Qur’an ini ditemukan 1393+13=1406 tahun (dalam hitungan hijriah) setelah Al Qur’an diturunkan, yang bertepatan dengan tahun 1974 M.


Surah 74 adalah Surah Al Muddatsir yang berarti orang yang berkemul (Al Quran dan Terjemahnya, Depag) dan juga dapat berarti rahasia yang tesembunyi, yang memang mengandung rahasia Allah mengenai keajaiban Al Qur’an. Dalam Surah 74 ayat 30-36 dinyatakan:


(74:30) Di atasnya adalah 19.


(74:31) Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami jadikan bilangan mereka itu (19) melainkan untuk:


- cobaan/ujian/tes bagi orang-orang kafir,


- meyakinkan orang-orang yang diberi Al Kitab (Nasrani dan Yahudi),


- memperkuat (menambah)keyakinan orang yang beriman,


- menghilangkan keragu-raguan pada orang-orang yang diberi Al kitab dan juga orang-orang yang beriman, dan


- menunjukkan mereka yang ada dalam hatinya menyimpan keragu-raguan; dan orang-orang kafir mengatakan: “Apakah yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?” Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia. Dan ini tiada lain hanyalah sebuah peringatan bagi manusia.


(74:32) Sungguh, demi bulan.


(74:33) Dan malam ketika berlalu.


(74:34) Dan pagi (subuh) ketika mulai terang.


(74:35) Sesungguhnya ini (bilangan ini) adalah salah satu dari keajaiban yang besar.


(74:36) Sebagai peringatan bagi umat manusia.


Sebagian besar ahli tafsir menafsirkan 19 sebagai jumlah malaikat. Menurut Dr. Rashad Khalifa, menafsirkan bilangan 19 sebagai jumlah malaikat adalah tidak tepat karena bagaimana mungkin jumlah malaikat dapat dijadikan untuk ujian/tes bagi orang-orang kafir, untuk meyakinkan orang-orang nasrani dan yahudi, untuk meningkatkan keimanan orang yang telah beriman dan juga untuk menghilangkan keragu-raguan. Jadi, tepatnya bilangan 19 ini merupakan keajaiban yang besar dari Al Qur’an sesuai ayat 35 di atas, menurut terjemahan Dr. Rashad Khalifa (dan juga terjemahan beberapa penterjemah lain). Jadi pada ayat 35 kata “innahaa” merujuk pada kata “’iddatun” pada ayat 31.


Mengapa 19?


Untuk menjawab pertanyaan tersebut, perlu dijelaskan tentang sistem bilangan. Kita pasti mengenal betul sistem bilangan Romawi yang masih sangat dikenal pada saat ini, seperti I=1, V=5, X=10, L=50, C=100, D=500 dan M=1000. Seperti halnya pada sistem bilangan Romawi, sistem bilangan juga dikenal pada huruf-huruf arab. Bilangan yang ditandai pada setiap huruf dikenal sebagai “nilai numerik (numerical value atau gematrical value)”. Click link ini untuk mengetahui lebih jauh tentang nilai numerik.


Setelah mengetahui nilai dari setiap huruf arab tersebut, kita dapat menjawab mengapa 19 dipakai sebagai kode rahasia Allah dalam Al Qur’an, dan sekaligus dapat digunakan untuk mengungkap keajaiban Al Qur’an. Berikut beberapa hal yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa 19.


* 19 merupakan nilai numerik dari kata “Waahid” dalam bahasa arab yang artinya ‘esa/satu’ (lihat Tabel 2) Tabel 2. Nilai numerik dari kata “waahid”


* 19 merupakan bilangan positif pertama dan terakhir (1 dan 9), yang dapat diartikan sebagai Yang Pertama dan Yang Terakhir seperti yang dikatakan Allah, misalnya, pada QS 57 ayat 3 sebagai berikut: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS 57:3). Kata “waahid” dalam Qur’an disebutkan sebanyak 25 kali, dimana 6 diantaranya tidak merujuk pada Allah (seperti salah satu jenis makanan, pintu, dsb). Sisanya 19 kali merujuk pada Allah. Total jumlah dari (nomor surat + jumlah ayat pada masing-masing surat) dimana 19 kata “waahid” yang merujuk pada Allah adalah 361 = 19 x 19. Jadi 19 melambangkan keesaan Allah (Tuhan Yang Esa).


* Pilar agama Islam yang pertama juga dikodekan dengan 19


“La – Ilaha – Illa – Allah”


Nilai-nilai numerik dari setiap huruf arab pada kalimah syahadat di atas adalah dapat ditulis sebagai berikut


“30 1 – 1 30 5 – 1 30 1 – 1 30 30 5”


Jika susunan angka tersebut ditulis menjadi sebuah bilangan, diperoleh = 30113051301130305 = 19 x … atau merupakan bilangan yang mempunyai kelipatan 19. Jadi jelaslah bahwa 19 merujuk kepada keesaan Allah sebagai satu-satunya dzat yang wajib disembah.


Beberapa Contoh Bukti-bukti yang Sangat Sederhana tentang Kode 19


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa desain Al Qur’an yang didasarkan bilangan 19 ini, dapat dibuktikan dari penghitungan yang sangat sederhana sampai dengan yang sangat komplek. Berikut ini hanya sebagian kecil dari keajaiban Al Quran (sistim 19) yang dapat ditulis dalam artikel singkat ini. Fakta-fakta yang sangat sederhana:


(1) Kalimat Basmalah pada (QS 1:1) terdiri dari 19 huruf arab.


(2) QS 1:1 tersebut diturunkan kepada Muhammad setelah Surat 74 ayat 30 yang artinya “Di atasnya adalah 19”.


(3) Al Qur’an terdiri dari 114 surah, 19×6.


(4) Ayat pertama turun (QS 96:1) terdiri dari 19 huruf.


(5) Surah 96 (Al Alaq) ditempatkan pada 19 terakhir dari 114 surah (dihitung mundur dari surah 114), dan terdiri dari 19 ayat


(6) Surat terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad adalah Surah An-Nashr atau Surah 110 yang terdiri dari 3 ayat. Surah terakhir yang turun terdiri dari 19 kata dan ayat pertama terdiri dari 19 huruf.


(7) Kalimat Basmalah berjumlah 114 (19×6). Meskipun pada Surah 9 (At Taubah) tidak ada Basmalah pada permulaan surah sehingga jumlah Basmalah kalau dilihat pada awal surah kelihatan hanya 113, tetapi pada Surah 27 ayat 30 terdapat ekstra Basmalah (dan juga 27+30=57, atau 19 x 3). Dengan demikian jumlah Basmalah tetap 114.


(8) Jika dihitung jumlah surah dari surah At Taubah (QS 9) yang tidak memiliki Basmalah sampai dengan Surah yang memuat 2 Basmalah yaitu S 27, ditemukan 19 surah. Dan total jumlah nomor surah dari Surah 9 sampai Surah 27 diperoleh (9+10+11+…+26+27=342) atau 19×18. Total jumlah ini (342) sama dengan jumlah kata antara dua kalimat basmalah dalam Surat 27.


(9) Berkaitan dengan inisial surah, misalnya ada dua Surah yang diawali dengan inisial “Qaaf” yaitu Surah 42 yang memiliki 53 ayat dan Surah 50 yang terdiri dari 45 ayat. Jumlah huruf “Qaaf” pada masing-masing dua surat tersebut adalah 57 atau 19 x 3. Jika kita tambahkan nomor surah dan jumlah ayatnya diperoleh masing-masing adalah (42+53=95, atau 19 x 5) dan (50+45=95, atau 19 x 5). Selanjutnya initial “Shaad” mengawali tiga surah yang berbeda yaitu Surah 7, 19, dan 38. Total jumlah huruf “Shaad” di ketiga surah tersebut adalah 152, atau 19 x 8. Hal yang sama berlaku untuk inisial yang lain.


(10) Frekuensi munculnya empat kata pada kalimat Basmalah dalam Al Qur’an pada ayat-ayat yang bernomor merupakan kelipatan 19 (lihat Tabel 3)


Tabel 3: Empat kata dalam Basmalah dan frekuensi penyebutan dalam ayat-ayat yang bernomor dalam Al Quran


No. Kata Frekuensi muncul


1 Ism 19


2 Allah 2698 (19×142)


3 Al-Rahman 57 (19×3)


4 Al-Rahiim 114 (19×6)


(11) Ada 14 huruf arab yang berbeda yang membentuk 14 set inisial pada beberapa surah dalam Al Qur’an, dan ada 29 surah yang diawali dengan inisial (seperti Alif-Lam-Mim). Jumlah dari angka-angka tersebut diperoleh 14+14+29=57, atau 19×3.


(12) Antara surah pertama yang berinisial (Surah 2 atau Surah Al Baqarah) dan surah terakhir yang berinisial (Surah 68), terdapat 38 surah yang tidak diawali dengan inisial, 38=19×2.


(13) Al-Faatihah adalah surah pertama dalam Al-Quran, No.1, dan terdiri dri 7 ayat, sebagai surah pembuka (kunci) bagi kita dalam berhubungan dengan Allah dalam shalat. Jika kita tuliskan secara berurutan Nomor surah (No. 1) diikuti dengan nomor setiap ayat dalam surah tersebut, kita dapatkan bilangan: 11234567. Bilangan ini merupakan kelipatan 19. Hal ini menunjukkan bahwa kita membaca Al Faatihah adalah dalam rangka menyembah dan meng-Esakan Allah.


Selanjutnya, jika kita tuliskan sebuah bilangan yang dibentuk dari nomor surah (1) diikuti dengan bilangan-bilangan yang menunjukkan jumlah huruf pada setiap ayat (lihat Tabel 4), diperoleh bilangan : 119171211191843 yang juga merupakan kelipatan 19.


Tabel 4: Jumlah huruf pada setiap ayat dalam Surah Al Faatihah


(14) Ketika kita membaca Surah Al-Fatihah (dalam bahasa arab), maka bibir atas dan bawah akan saling bersentuhan tepat 19 kali. Kedua bibir kita akan bersentuhan ketika mengucapkan kata yang mengandung huruf “B atau Ba’” dan huruf “M atau Mim”. Ada 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim. Nilai numerik dari 4 huruf Ba’ adalah 4×2=8, dan nilai numerik dari 15 huruf Mim adalah 15×40=600. Total nilai numerik dari 4 huruf Ba’ dan 15 huruf Mim adalah 608=19×32 (lihat Tabel 5).


Tabel 5. Kata-kata dalam Surah Al-Fatihah yang mengandunghuruf Ba’ dan Mim beserta nilai numeriknya


Kejadian Di Alam Semesta yang Terkait dengan Bilangan 19


Beberapa kejadian lain di alam ini dan juga dalam kehidupan kita sehari-hari yang mengacu pada bilangan 19 adalah:


· Telah dibuktikan bahwa bumi, matahari dan bulan berada pada posisi yang relatif sama setiap 19 tahun


· Komet Halley mengunjungi sistim tata surya kita sekali setiap 76 tahun (19×4).


· Fakta bahwa tubuh manusia memiliki 209 tulang atau 19×11.


· Langman’s medical embryology, oleh T. W. Sadler yang merupakan buku teks di sekolah kedokteran di Amerika Serikat diperoleh pernyataan “secara umum lamanya kehamilan penuh adalah 280 hari atau 40 minggu setelah haid terakhir, atau lebih tepatnya 266 hari atau 38 minggu setelah terjadinya pembuahan”. Angka 266 dan 38 kedua-duanya adalah kelipatan dari 19 atau 19×14 dan 19×2.


Lima Pilar Islam (Rukun Islam) dan Sistem 19


Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh nabi sejak Nabi Ibrahim sebagai the founding father of Islam (misalnya lihat QS 2:67, 130-136; QS 5:44, 111; QS 3:52).Pesan utama yang disampaikan oleh seluruh Nabi sejak Nabi Ibrahim sampai Nabi Muhammad adalah sama yaitu menyembah Allah yang Esa, Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Allah menyempurnakan Islam melalui Nabi Muhammad. Jadi praktek shalat, zakat, puasa dan haji telah dilakukan dan diajarkan oleh Nabi-nabi sejak Nabi Ibrahim. Dari kelima pilar agama Islam, dapat ditunjukkan bahwa semua berkaitan dengan sistim bilangan 19 (kelipatan 19).


· Syahadat


Telah dibahas di atas bahwa pilar pertama agama Islam “Laa Ilaaha Illa Allah” didisain berdasarkan bilangan 19.


· Shalat


Kata “shalawat” yang merupakan bentuk jamak dari kata “shalat“ muncul di Al Qur’an sebanyak 5 kali. Ini menunjukkan bahwa perintah Allah untuk melaksanakan shalat 5 kali sehari dikodekan di Al Qur’an. Selanjutnya jumlah rakaat dalam shalat dikodekan dengan bilangan 19. Jumlah rakaat pada shalat subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya masing-masing adalah 2,4,4,3, dan 4 rakaat. Jika jumlah rakaat tersebut disusun menjadi sebuah angka 24434 merupakan bilangan kelipatan 19 atau (24434 = 19×1286). Digit 1286 kalau dijumlahkan akan didapat angka 17 (1+2+8+6) yang merupakan jumlah rakaat shalat dalam sehari. Untuk hari Jum’at jumlah rakaat Shalat adalah 15, karena Shalat Jum’at hanya 2 rakaat. Ini juga dapat dikaitkan dengan bilangan 19 (kelipatan 19). Jika kita buat hari Jum’at sebagai hari terakhir, maka jumlah rakaat shalat mulai hari Sabtu sampai Jum’at dapat ditulis secara berurutan sebagai berikut: 17 17 17 17 17 17 15. Jika urutan bilangan tersebut kita jadikan menjadi satu bilangan 17171717171715, maka bilangan tersebut merupakan bilangan dengan kelipatan 19 atau (19 x 903774587985). Jadi pada intinya shalat itu menyembah Tuhan yang Satu (ingat: 19 adalah total nilai numerik dari kata ‘waahid’). Surah Al-Fatihah yang dibaca dalam setiap rakaat dalam Shalat seperti dibahas sebelumnya juga mengacu pada bilangan 19. Selanjutnya, kata “Shalat’ dalam Al Qur’an disebutkan sebanyak 67 kali. Jika kita jumlahkan nomor surat-surat dan nomor ayat-ayat dimana ke 67 kata “Shalat” disebutkan, diperoleh total 4674 atau 19×246.


· Puasa


Perintah puasa dalam Al Qur’an disebutkan pada ayat-ayat berikut:


- 2:183, 184, 185, 187, 196;


- 4:92; 5:89, 95;


- 33:35, 35; dan


- 58:4.


Total jumlah bilangan tersebut adalah 1387, atau 19×73. Perlu diketahui bahwa QS 33:35 menyebutkan kata puasa dua kali, satu untuk orang laki-laki beriman dan satunya lagi untuk wanita beriman.


· Kewajiban Zakat dan Menunaikan Haji ke Mekkah


Sementara tiga pilar pertama diwajibkan kepada semua orang Islam laki-laki dan perempuan, Zakat dan Haji hanya diwajibkan kepada mereka yang mampu. Hal ini menjelaskan fenomena matematika yang menarik yang berkaitan dengan Zakat dan Haji.


Zakat disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat berikut:


Penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 2395. Total jumlah ini jika dibagi dengan 19 diperoleh sisa 1 (bilangan tersebut tidak kelipatan 19).


Haji disebutkan dalam Al Qur’an pada ayat-ayat


- 2:189, 196, 197;


- 9:3; dan


- 22:27.


Total penjumlahan angka-angka tersebut diperoleh 645, dan angka ini tidak kelipatan 19 karena jika angka tersebut dibagi 19 kurang 1.


Kemudian jika dari kata Zakat dan Haji digabungkan diperoleh nilai total 2395+645 = 3040 = 19x160.


Penutup


Secara umum disimpulkan bahwa Al Qur’an didisain secara matematis. Apa yang dibahas di atas hanyalah sebagian kecil dari ribuan bukti tentang desain matematis dari Al Qur’an dan khususnya tentang bilangan dasar 19 sebagai desain Al Qur’an yang dapat disajikan pada tulisan ini. Selain itu, tulisan ini hanya memfokuskan pada contoh-contoh yang sangat sederhana, sementara untuk contoh-contoh yang sangat kompleks tidak disajikan di sini karena mungkin akan sulit dipahami oleh orang yang tidak memiliki latar belakang atau kurang memahami matematika. Bilangan 19 yang juga berarti Allah yang Esa, dan juga berarti tidak ada Tuhan melainkan Dia, dapat dikatakan sebagai “Tanda tangan Allah” di alam semesta ini. Hal ini sesuai dengan salah satu firman Allah yang menyatakan bahwa seluruh alam ini tunduk dan sujud kepada Allah dan mengakui keesaan Allah. Hanya orang-orang kafir lah yang tidak mau sujud dan mengakui keesaan Allah. Allah dalam menciptakan Al Qur’an dan alam semesta ini telah melakukan perhirtungan secara detail, seperti firman Allah yang berbunyi: “dan Allah menghitung segala sesuatunya satu per satu (secara detail)” (QS 72:28). Jumlahkan angka-angka pada nomor surah dan ayat tersebut !!!!!! Anda memperoleh angka 19 (7+2+2+8=19). Dari uraian di atas khususnya mengenai lima pilar Islam diperoleh kesimpulan yang sangat tegas bahwa pemeluk Islam adalah orang-orang yang pasrah dan tunduk menyembah dan mengakui keesaan Allah seperti yang ditunjukkan bahwa kelima pilar Islam tersebut berkaitan dengan sistim bilangan 19 (nilai numerik dari kata “waahid” atau Esa). Hal ini juga sesuai dengan Islam sendiri yang yang secara harfiah dapat berarti pasrah/tunduk. Hal lain yang dapat diambil sebagai pelajaran dari sistim bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an adalah terpecahkannya “unsolved problem” mengenai perdebatan di antara para ulama terhadap status “Basmalah” pada Surah Al-Faatihah apakah termasuk salah satu ayat dalam surah tersebut atau tidak. Dengan ditemukannya bilangan 19 sebagai disain Al Qur’an, bukti-bukti matematis pada tulisan ini telah membuktikan bahwa lafal “Basmalah” termasuk dalam salah satu ayat Surah Al-Fatihah. Sebagai penutup, semoga tulisan ini dapat menambah keimanan bagi orang-orang yang beriman, menjadi tes/ujian bagi mereka yang belum beriman, dan menghilangkan keragu-raguan bagi mereka yang hatinya dihinggapi keragu-raguan akan kebenaran Al Qur’an. Allah akan membiarkan sesat orang-orang yang dikehendakiNya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya (QS 74:31).


Catatan:

Untuk memverifikasi “keajaiban matematis” dari Al Qur’an anda perlu menggunakan Al Qur’an yang dicetak menurut versi cetak Arab Saudi atau Timur Tengah pada umumnya. Mengapa? Hasil penelitian yang saya lakukan, terdapat banyak perbedaan antara Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya dan Qur’an versi cetak Arab Saudi (kebetulan saya memegang Qur’an versi cetak Arab Saudi), meskipun perbedaan tersebut tidak berpengaruh pada makna/arti. Perbedaan tersebut hanya pada cara menuliskan beberapa kata. Meskipun demikian, jika mengacu pada “Keajaiban Matematis” dari Al Qur’an, Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya (yang disusun oleh orang Indonesia) menyalahi aturan yang aslinya sehingga keajaiban matematis tidak muncul. Saya hanya memberikan 2 contoh kata saja dari sekian kata yang berbeda penulisannya yaitu kata “shirootho” dan “insaana”. Menurut versi cetak Arab Saudi, tidak ada huruf “ALIF” antara huruf “RO’” dan “THO” pada kata “SHIROOTHO” (lihat di Surat Al Fatihah) dan antara huruf “SIN” dan “NUN”pada kata “INSAANA”, tetapi menurut versi cetak Indonesia pada umumnya terdapat huruf ALIF pada kedua kata tersebut. Pada versi cetak Arab Saudi, untuk menunjukkan bacaan panjang pada bunyi ROO dan SAA pada kata SHIROOTHO dan INSAANA, digunakan tanda “fathah tegak”. Saya paham, maksud orang menambahkan ALIF pada kedua kata tersebut agar lebih memudahkan bagi pembacanya, tetapi ternyata menyimpang dari aslinya. Maka dari itu anda menemukan jumlah huruf yang lebih banyak pada Surat Al Fatihah ayat 6 dan 7 dari yang saya tuliskan. Sebagai tambahan, salah satu ciri Qur’an versi cetak Indonesia pada umumnya adalah Surat Al Fatihah terletak pada HALAMAN 2, sementara versi cetak Arab Saudi, Fatihah berada pada HALAMAN 1.

Mengenai jumlah kata, kata harus didefinisikan sebagai susunan dari beberapa huruf (dua hrurf atau lebih), sehingga anda harus memperlakukan “WA atau WAU” sebagai huruf meskipun bisa diartikan dengan kata “DAN” dalam bahasa Indonesia. Perlakuan “WA” (misalnya pada kata “WATAWAA”) sebenarnya bisa disamakan dengan “BI” (pada kata BISMI), karena kebetulan BI bisa gandeng dengan kata berikutnya, sementara WA tidak bisa ditulis gandeng dengan kata yang mengikutinya. Jadi jangan hitung “WA” sebagai kata, tetapi sebagai huruf.


Oleh: Ali Said


Sumber : kabarislam.com



(read more ...)



"Sejarah Gelap Para Paus"









 


Selasa, 22 Maret 2011




OLeh: Dr. Adian Husaini



“Sejarah Gelap Para Paus – Kejahatan, Pembunuhan, dan Korupsi di Vatikan”. Itulah  judul sebuah buku yang belum lama ini diterbitkan oleh Kelompok Kompas-Gramedia (KKG). Edisi bahasa Inggris buku ini ditulis oleh Brenda Ralph Lewis dengan judul Dark History of the Popes – Vice Murder and Corruption in the Vatican. 


“Benediktus IX, salah satu paus abad ke-11 yang paling hebat berskandal, yang dideskripsikan sebagai seorang yang keji, curang, buruk dan digambarkan sebagai ‘iblis dari neraka yang menyamar sebagai pendeta’. (hal.9)


Itulah sebagian gambaran tentang kejahatan Paus Benediktus IX dalam buku ini. Riwayat hidup dan kisah kejahatan Paus ini digambarkan cukup terperinci. Benediktus IX lahir sekitar tahun 1012. Dua orang pamannya juga sudah menjadi Paus, yaitu Paus Benediktus VIII dan Paus Yohanes  XIX. Ayahnya, Alberic III, yang bergelar Count Tusculum, memiliki pengaruh kuat dan mampu mengamankan singgasana Santo Petrus bagi Benediktus, meskipun saat itu usianya masih sekitar 20 tahunan.


Paus muda ini digambarkan sebagai seorang yang banyak melakukan perzinahan busuk dan pembunuhan-pembunuhan. Penggantinya, Paus Viktor III, menuntutnya dengan tuduhan melakukan ‘pemerkosaan, pembunuhan, dan tindakan-tindakan lain yang sangat keji’.  Kehidupan Benediktus, lanjut Viktor, ‘Begitu keji, curang dan buruk, sehingga  memikirkannya saja saya gemetar.” Benediktus juga dituduh melakukan tindak homoseksual dan bestialitas.


Kejahatan Paus Benediktus IX memang sangat luar biasa.  Bukan hanya soal kejahatan seksual, tetapi ia juga menjual tahta kepausannya dengan harga 680 kg emas kepada bapak baptisnya,  John Gratian. Gara-gara itu, disebutkan, ia telah menguras kekayaan Vatikan.


Paus lain yang dicatat kejahatannya dalam buku ini adalah Paus Sergius III.  Diduga, Paus Sergius telah memerintahkan pembunuhan terhadap Paus Leo V dan juga antipaus Kristofer yang dicekik dalam penjara tahun 904.  Dengan cara itu, ia dapat menduduki tahta suci Vatikan.  Tiga tahun kemudian, ia mendapatkan seorang pacar bernama Marozia yang baru berusia 15 tahun.  


Sergius III  sendiri lebih tua 30 tahun dibanding Marozia.  Sergius dan Marozia kemudian memiliki anak  yang kelak menjadi Paus Yohanes XI, sehingga Sergius merupakan satu-satunya Paus yang tercatat memiliki anak yang juga menjadi Paus.

Sebuah buku berjudul Antapodosis menggambarkan situasi  kepausan dari tahun 886-950 Masehi:


“Mereka berburu dengan menunggang kuda yang berhiaskan emas, mengadakan pesta-pesta dengan berdansa bersama para gadis ketika perburuan usai dan beristirahat dengan para pelacur (mereka) di atas ranjang-ranjang berselubung kain sutera dan sulaman-sulaman emas di atasnya. Semua uskup Roma telah menikah dan istri-istri mereka membuat pakaian-pakaian sutera dari jubah-jubah suci.”


Banyak penulis sudah mengungkap sisi gelap kehidupan kepausan. Salah satunya Peter de Rosa, penulis buku Vicars of Christ: The Dark Side of the Papacy. Buku ini juga mengungkapkan bagaimana sisi-sisi gelap kehidupan dan kebijakan tahta Vatikan yang pernah melakukan berbagai tindakan kekejaman, terutama saat menerapkan Pengadilan Gereja (Inquisisi). Kekejaman Inquisisi sudah sangat masyhur dalam sejarah Eropa. Karen Armstrong, mantan biarawati dan penulis terkenal,  menyebutkan, bahwa Inquisisi adalah salah satu dari institusi Kristen yang paling jahat (one of the most evil of all Christian institutions). (Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, (London: McMillan London Limited, 1991).


Inquisisi diterapkan terhadap berbagai golongan masyarakat yang dipandang membahayakan kepercayaan dan kekuasaan Gereja. Buku Brenda Ralph Lewis mengungkapkan dengan cukup terperinci bagaimana Gereja menindas ilmuwan seperti Galileo Galilei dan kawan-kawan yang mengajarkan teori heliosentris. Galileo (lahir 1564 M) melanjutkan teori yang dikemukakan oleh ahli astronomi asal Polandia, Nikolaus Copernicus. Tahun 1543, tepat saat kematiannya, buku Copernicus yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium, diterbitkan.


Tahun 1616, buku De Revolutionibus dimasukkan ke dalam daftar buku terlarang. Ajaran heliosentris secara resmi dilarang Gereja. Tahun 1600, Giordano Bruno dibakar hidup-hidup sampai mati, karena mengajarkan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Lokasi pembakaran Bruno di Campo de Fiori, Roma, saat ini didirikan patung dirinya. 


Melihat situasi seperti itu, Galileo yang saat itu sudah berusia lebih dari 50 tahun, kemudian memilih sikap diam.


Pada 22 Juni 1633, setelah beberapa kali dihadirkan pada sidang Inquisisi, Galileo diputus bersalah. Pihak Inquisisi menyatakan bahwa Galileo bersalah atas tindak kejahatan yang sangat mengerikan. Galileo pun terpaksa mengaku, bahwa dia telah bersalah. Bukunya, Dialogo, telah dilarang dan tetap berada dalam indeks  Buku-Buku Terlarang sampai hampei 200 tahun. Galileo sendiri dihukum penjara seumur hidup. Ia dijebloskan di penjara bawah tanah Tahta Suci Vatikan. Pada 8 Januari 1642, beberapa minggu sebelum ulang tahunnya ke-78, Galileo meninggal dunia. Tahun 1972, 330 tahun setelah kematian Galileo, Paus Yohanes Paulus II mengoreksi keputusan kepausan terdahulu dan membenarkan Galileo.


Kisah-kisah kehidupan gelap para Paus serta berbagai kebijakannya yang sangat keliru banyak terungkap dalam lembaran-lembaran sejarah Eropa. Peter de Rosa, misalnya,  menceritakan, saat pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol tahun 1808, seorang komandan pasukannya, Kolonel Lemanouski, melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid.


Ketika pasukan Lemanouski memaksa masuk, para inquisitors itu tidak mengakui adanya ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Tetapi, setelah digeledah, pasukan Lemanouski menemukan tempat-tempat penyiksaan di ruang bawah tanah.  Tempat-tempat itu penuh dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa di antaranya gila.


Pasukan Prancis yang sudah terbiasa dengan kekejaman dan darah, sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan seperti itu. Mereka lalu mengosongkan ruang-ruang penyiksaan itu, dan selanjutnya meledakaan biara tersebut.


Kejahatan penguasa-penguasa agama ini akhirnya berdampak pada munculnya gerakan liberalisasi dan sekularisasi di Eropa. Masyarakat menolak campur tangan agama (Tuhan) dalam kehidupan mereka.


Sebagian lagi bahkan menganggap agama sebagai candu, yang harus dibuang, karena selama ini agama digunakan alat penindas rakyat. Penguasa agama dan politik bersekutu menindas rakyat, sementara mereka hidup berfoya-foya di atas penderitaan rakyat. Salah satu contoh adalah Revolusi Perancis (1789), yang mengusung jargon “Liberty, Egality, Fraternity”. 


Pada masa itu, para agamawan (clergy) di Perancis menempati kelas istimewa bersama para bangsawan.  Mereka mendapatkan berbagai hak istimewa, termasuk pembebasan pajak. Padahal, jumlah mereka sangat kecil, yakni hanya sekitar 500.000 dari 26 juta rakyat Prancis.


Dendam masyarakat Barat terhadap keistimewaan para tokoh agama yang bersekutu dengan penguasa yang menindas rakyat semacam itu juga berpengaruh besar terhadap sikap Barat dalam memandang agama. Tidak heran, jika pada era berikutnya, muncul sikap anti pemuka agama, yang dikenal dengan istilah “anti-clericalism”. Trauma terhadap Inquisisi Gereja dan berbagai penyimpangan kekuasaan agama sangatlah mendalam, sehingga muncul fenomena “anti-clericalism” tersebut di Eropa pada abad ke-18. Sebuah ungkapan populer ketika itu, ialah: “Berhati-hatilah, jika anda berada di depan wanita, hatilah-hatilah anda jika berada di belakang keledai, dan berhati-hatilah jika berada di depan atau di belakang pendeta.” (Beware of a woman if you are in front of her, a mule if you are behind it and a priest whether you are in front or behind).”  (Owen Chadwick, The Secularization of the European Mind in the Nineteenth Century, (New York: Cambridge University Press, 1975).


Trauma pada dominasi dan hegemoni kekuasaan agama (Kristen) itulah yang memunculkan paham sekularisme dalam politik, yakni memisahkan antara agama dengan politik. Mereka selalu beralasan, bahwa jika agama dicampur dengan politik, maka akan terjadi “politisasi agama”; agama haruslah dipisahkan dari negara. Agama dianggap sebagai wilayah pribadi dan politik (negara) adalah wilayah publik; agama adalah hal yang suci sedangkan politik adalah hal yang kotor dan profan.

Trauma Barat terhadap sejarah keagamaan mereka berpengaruh besar terhadap cara pandang mereka terhadap agama. Jika disebut kata “religion” maka yang teringat dalam benar mereka adalah sejarah agama Kristen, lengkap dengan doktrin, ritual, dan sejarahnya yang kelam yang diwarnai dengan inquisisi dan sejarah persekusi para ilmuwan.    


Berbagai penyelewengan penguasa agama, dan pemberontakan tokoh-tokoh Kristen kepada kekuasaan Gereja yang mengklaim sebagai wakil Kristus menunjukkan bahwa konsep “infallible” (tidak dapat salah) dari Gereja sudah tergoyangkan.


Kaum Muslim, perlu mengambil hikmah dari kasus kejahatan para pemimpin Gereja ini. Ketika para tokoh agama tidak mampu menyelaraskan antara ucapan dan perilakunya, maka masyarakat akan semakin tidak percaya, bahkan bias “alergi” dengan agama.  Jika orang-orang yang sudah terlanjur diberi gelar -- atau memberi gelar untuk dirinya sendiri – sebagai “ULAMA”, tidak dapat mempertanggungjawabkan amal perbuatannya, maka bukan tidak mungkin, umat akan hilang kepercayaannya kepada para ulama. Mereka akan semakin jauh dari ulama dan lebih memuja selebriti – baik selebriti seni maupun politik.


Kasus yang menimpa sejumlah tokoh agama Katolik  itu dapat  juga menimpa agama mana saja. Jika tokoh-tokoh partai politik Islam tidak dapat memegang amanah -- sibuk  mengeruk keuntungan pribadi dan kelompoknya, tak henti-hentinya mempertontonkan konflik dan pertikaian --  maka bukan tidak mungkin, umat akan lari dari mereka dan partai mereka.


Jika para pimpinan pesantren tidak dapat memegang amanah, para ulama sibuk mengejar keuntungan duniawi, dan sebagainya,  maka umat juga akan lari dari mereka.  Jika orang-orang yang dianggap mengerti agama tidak mampu menjadi teladan bagi masyarakat, tentu saja sulit dibayangkan masyarakat umum akan sudi mengikuti mereka.


Semoga kita dapat mengambil hikmah dari semua kisah ini, untuk kebaikan umat Islam di masa yang akan datang.*/Depok, 20 Maret 2011



(read more ...)





Hanin Mazaya


Kamis, 2 Desember 2010 22:08:01


Hits: 683





Mendengar kata Syiah, tentu ingatan masyarakat, terutama muslim Indonesia melayang ke negeri di wilayah Asia barat, yakni Iran. Di sanalah Syiah berkembang pesat dan hingga kini masih menjadi paham dan aliran yang dipeluk mayoritas umat Islam di negeri yang terkenal dengan Negeri Para Mullah (para imam) itu.



Namun kini, aliran Syiah pelan namun pasti juga telah merembes keluar dari jazirah Persia dan masuk pula ke Indonesia. Dengungnya memang tidak begitu keras, tetapi komunitas ini telah menunjukkan eksistensinya. Sejarah pernah mencatat, pada 21 September 1997, diselenggarakan sebuah seminar nasional di Jakarta, yang dihadiri pejabat pemerintah, ABRI, MUI, pimpinan ormas Islam, dan masyarakat umum.



Melalui seminar itu, keluarlah sebuah keputusan penting menyangkut Syiah, antara lain; Syiah malakukan penyimpangan dan perusakan Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah (paham Sunni, paham yang dianut mayoritas Islam Indonesia, -red), menurut Syiah, Al-Quran tidak sempurna, Syiah terbukti pelaku kejahatan, dituduh penghianat dan teroris. Puncaknya, seminar itu juga mengusulkan agar pemerintah RI cq. Kejaksaan Agung melarang Syiah, termasuk penyebaran buku-buku Syiah di Indonesia.


Namun dalam perkembangannya, justru kecenderungan untuk mempelajari Syiah makin meningkat. Buku-buku tentang Syiah pun dengan gampang bisa diperoleh di toko-toko buku. Bahkan lembaga atau komunitas Syiah juga berkembang pesat tanpa lagi takut dengan pelbagai gunjingan miring tentangnya. Sekadar catatan, Gatra edisi Idul Fitri, Desember tahun lalu dengan tangkas membidik geliat komunitas ini, terutama di Jakarta dan daerah sekitarnya.


Sebab itulah, selain untuk memahami adanya kepelbagaian aliran agama di Indonesia, Jumat sore 19 Desember akhir tahun lalu digelarlah diskusi seputar Islam Syiah di Sekretariat ICRP, kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Hadir sebagai narasumber Abdurrahman Abdullah dan Umar Shahab yang keduanya mengaku sebagai penganut Syiah.


Apa itu Syiah?


Menurut Abdurrahman Abdullah, Syiah secara etimologis merupakan kesepakatan atau kesamaan pikiran dan atau perbuatan dua orang atau lebih. Mengutip istilah Thabathabai, Abdurrahman mengatakan, "Ketika dua orang sama pikiran dengan yang lain, maka itu disebut Syiah". Sedang secara termonologis, menurutnya, mereka yang menyakini bahwa Khilafah, Imamah atau kepemimpinan langsung pasca Rasul adalah hak Ali bin Abi Thalib dan putra-putranya atas dasar Nash (ketentuan) yang ada dalam syariat (Quran - Hadits) baik implisit maupun eksplisit. "Ini merupakan pernyataan Syekh Mufid, tokoh Syiah abad 3 dalam bukunya Awa Ila Maqala" sergahnya.


Abdurrahman yang sehari-harinya menjabat sebagai Direktur Sekolah Tinggi Agama Islam "Madina Ilmu" Bogor ini juga mengatakan, kemunculan Syiah sama dengan munculnya Islam itu sendiri, sehingga antara keduanya tidak bisa dipisahkan. Jika dalam perkembangannya muncul dan berbeda dengan berbagai aliran dalam Islam, itu merupakan sebuah keniscayaan. "Bahkan yang meletakkan fondasi pertama untuk berbeda itu Allah sendiri", tukasnya sambil menyitir surat Al-Maidah(5):48 dan Hud (11):118-119.


Akidah Syiah & Prinsip Dalam Syariat Sebagaimana Sunni, Syiah juga memiliki prinsip dasar dalam teologinya. Dalam hal ini, Syiah mempunyai lima dasar, yakni Tauhid (sifat peng-Esaan Allah), Keadilan (Allah Maha Adil, dan manusia bebas berbuat apa saja, yang nanti akan diminta pertanggungjawaban), An-Nubuwwah (Kenabian), Imamah (dua belas Imam), Eskatologi -Maad- (Hari Kiamat).


Sementara dalam landasan pengambilan hukum, Syiah memiliki dua argumentasi; Ijtihadiy (berdasarkan keyakinan personal), dan Yuresprudensial (hukum fiqih). Adapun sebagai sumber hukumnya Syiah berlandaskan pada Al-Quran, Sunnah atau hadits, termasuk hadist-nya para Imam, Ijma (kesepakatan), dan Aqal (argumentasi demontratif).


Identitas Syiah & Kawin Muthah


Dalam kesempatan yang sama, Umar Shahab menyatakan, bahwa yang membedakan Syiah dengan yang lainnya adalah hanya di sekitar istilah Al wila li ahli bait (loyalitas kepada keluarga Nabi). Menurutnya loyalitas ini sudah ada sejak awal kenabian Muhammad. Loyalitas ini terjadi karena mereka melihat, bahwa Nabi dan keluarganya banyak menerima tindakan yang merugikan. "Misalnya tragedi pembantaian keluarga Nabi di Karbala Irak tahun 61 hijriah, di mana Husain dan anak-anaknya terbunuh, bahkan sebagian besar keluarga Nabi dibantai oleh penguasa Bani Umayyah saat itu," Umar mencontohkan.


Sementara menyinggung soal kawin Muthah, Abdurrahman Abdullah berpendapat, "Secara sosial Muthah (kawin atas dasar perjanjian atau kontrak, red) bisa menjadi solusi dalam kehidupan (hubungan-red) laki-laki dan perempuan, bukan dijadikan upaya melegalkan prostitusi," tegasnya. (syiahindonesia/arrahmah.com)





(read more ...)




Kamis, 02/12/2010 12:59 WIB | email | print | share



Tokoh-tokoh Islam yang pernah bersuara nyaring pada awalnya dalam hal bergulirnya otonomi daerah, kini perlu bertanggung jawab. Tampaknya dengan menghindari kekuatan sentral semacam Soeharto, di masa lalu, disuarakan lah otonomi daerah.


Kenyataannya, setelah terlaksana, banyak tingkah pemda (pemerintah daerah) yang sangat menghamburkan dana, bahkan dalam rangka memberangus aqidah Ummat Islam.


Ada yang membuat patung paling besar di Bali sesuai kehinduannya, sedangkan di Denpasar Ummat islam sekitar 30-an persen dari jumlah penduduk sama sekali tidak dibolehkan memiliki kuburan Muslim. Bahkan membuat mushalla baru pun tidak boleh, apalagi masjid. Jakarta tampaknya tutup mata.


Padahal penerbangan Jakarta-Bali setiap akhir pekan yakni Jum’at sore sampai Senin pagi itu ibarat menjelang hari raya saja padatnya atau ramainya penumpang. Tetapi hal-hal yang memprihatinkan Ummat Islam seperti itu ya tidak pernah terlihat oleh mata mereka.


Ada di mana-mana pemda yang menggalakkan kemusyrikan sampai aneka macam sesaji larung laut, labuh sesaji ke gunung, menanam kepala kerbau ke gunung dan sebagainya ditumbuh suburkan di daerah-daerah. Bahkan sampai festival menikahkan kucing dengan upacara manten kucing pakai biaya 30 juta rupiah dari APBD pun diselenggarakan di Tulungagung Jawa Timur oleh Bupatinya. Pagelaran melecehkan Islam berupa upacara manten kucing dengan ijab qabul sebagaimana menikahkan orang Islam itu disuguhkan pihak Bupati Tuluangung pada 22 November 2010. Edan tenan!


Ada yang lebih gila lagi, atas nama membangun satu kuburan tokoh sesat pro Yahudi di Jombang, dikuraslah dana Rp180 miliyar dari APBD Kabupaten Jombang, APBD Provinsi Jawa Timur dan APBN Pusat. Diberitakan, anggaran untuk perbaikan kompleks makam KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di Pondok Pesantren Tebuireng Kec. Diwek Kab. Jombang sebesar Rp 180 miliar.


Dari jumlah itu Pemkab Jombang urunan dana Rp 9 miliar dari APBD 2010. Sisanya sebanyak Rp 171 miliar urunan APBD Jatim dan APBN. (lihat surabayapost.co.id, Perluasan Makam Gus Dur Dimulai, Kamis, 12 Agustus 2010 | 21:24 WIB)


Yang tidak kalah mengagetkannya, di Manado dibangun menorah (simbol suci yahudi) setinggi 62 kaki atas biaya pemda. Itu mungkin terbesar sedunia. Bintang david pun tersebar di mana-mana di sana. Atas nama otonomi daerah tentunya, dan pakai dana dari rakyat.


Di balik itu, pemimpin yang beragama Islam, yang sebenarnya mampu membangun masjid di mana-mana, (ketika ogah) maka mudah sekali berkata: sekarang sudah tidak bisa, karena sudah otonomi daerah. Sehingga walaupun pemimpin yang mengaku Islam itu sudah berkuasa entah berapa periode, masih kalah dengan Abi Kusno Cokrosuyoso , adik HOS Tjokroaminoto, yang hanya jadi menteri perhubungan beberapa bulan di saat setelah merdeka, telah mampu membangun masjid atau langgar/mushalla di seluruh stasiun kereta api di Indonesia. Sampai sekarang jasa peninggalannya masih sangat bermanfaat bagi Ummat Islam. Alhamdulillah, barokah.


Kalau dulu pernah ada yang mohon maaf atas kekeliruan “ijtihad” politiknya, kini permohonan maaf perlu dicari jalan keluarnya agar umat Islam tidak semakin digerus aneka macam himpitan. Lebih-lebih rekan-rekan sejawat pun telah tampak berkhianat, sudah pro Yahudi terang-terangan. Di antaranya sebagaimana ditulis oleh Adian Husaini sebagai berikut:


Melalui LibForAll, lobi-lobi Israel di Indonesia terus dijalankan. Sesuai dengan namanya, organisasi ini sangat aktif dalam melakukan proses liberalisasi pemikiran Islam. Dua organisasi Islam terbesar menjadi sasaran utama, yaitu NU dan Muhammadiyah. Situs LibForAll berisi banyak foto kegiatan yang melibatkan tokoh-tokoh kedua organisasi tersebut. Tentu ini adalah upaya propaganda LibForAll yang ingin membangun citra, seolah-olah mereka sudah berhasil menguasai dan mengatur kedua organisasi Islam tersebut.



Kita memahami bentuk propaganda model LibForAll ini. Padahal, faktanya, baik di tubuh NU maupun Muhammadiyah, resistensi terhadap Yahudi dan Israel sangatlah tinggi. Apalagi, setelah pembantaian ribuan warga Gaza oleh Israel, citra Israel sebagai negara biadab semakin tertanam secara mendalam pada benak umat Islam Indonesia. Namun, LibForAll, melalui situsnya, terus membanggakan kisah suksesnya dalam menanamkan lobi Yahudi dan menyebarkan paham liberalisme di Indonesia.



Salah seorang yang dibangga-banggakan oleh LibForAll adalah yaitu Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, penasehat LibForAll yang juga guru besar UIN Yogya. Dalam situsnya, LibForAll menulis peran penting Munir Mulkhan dalam memberantas ekstrimisme di Muhammadiyah. (Adian Husaini, Lobi Yahudi dan Liberalisme di Indonesia, [Depok, 20 Februari 2009/hidayatullah.com]


Maaf, kadang ditulis seperti ini justru akan menjadikan pelakunya lebih dipopulerkan lagi oleh Yahudi, misalnya dengan diberi hadiah atas nama ini dan itu, lalu disiarkan ke seluruh dunia, diangkat-angkat dan kemudian lebih giat lagi berkiprah. Sebagaimana Goenawan Mohammad telah diberi hadiah dari Yahudi Israel, dan David Prize tahun 2006 dan sejumlah uang. Belum pernah terdengar bahwa Goenawan Mohammad mengembalikan hadiah dan uang dari Yahudi Israel itu.


Malah pernah terdengar, uang dari Yahudi Israel itu dibelikan tanah di Pejaten Jakarta Selatan. Tidak dijelaskan persis, apakah tanah itu yang kemudian dibangun gedung tempat mangkalnya orang-orang liberal sekarang ini atau bukan.


Tampaknya, Goenawan Mohammad hanya berani mengembalikan hadiah Bakrie Award di bidang Kesustraan tahun 2004. Keputusan Goenawan Mohammad tersebut dilatarbelakangi rasa kecewa akan tindakan Aburizal Bakrie selama ini, mulai dari kasus Lapindo sampai persoalan Century yang mengambinghitamkan Sri Mulyani dan Boediono.


Selain mengembalikan Bakrie Award, Goenawan Mohammad juga memulangkan hadiah uang tunai beserta bunganya dengan total Rp 154 juta kepada Freedom Institute.

Terhadap kasus pengembalian hadiah Bakrie namun tidak dilakukan pengembalian hadiah dari Yahudi Israel, ada komentrar:


Sebagai orang yang mendapatkan hadiah jurnalistik dari Yahudi seharusnya Goenawan Mohammad punya rasa malu. Kalau tidak berani mengembalikan hadiah jurnalistik dari Zionis Yahudi yang telah dia terima, berarti Goenawan Mohammad adalah tokoh yang tidak punya malu. (lihat nahimunkar.com, Sesama Liberal Ternyata Sewot Juga, June 23, 20101:05 am, http://www.nahimunkar.com/sesama-liberal-ternyata-sewot-juga/).


Di saat otonomi daerah mencengkeramkan kukunya, sementara itu yang dianggap atasannya juga kurang kuat, atau bahkan sudah diketahui pula bahwa kemungkinan “sama-sama menjilat asing”, maka yang terjadi adalah saling mendahului (antara daerah dan atasannya) dalam menjilat asing. Di situlah terjadi persaingan sama sekali tidak sehat, apalagi yang dijilat adalah teroris paling kejam sedunia yakni Yahudi Israel. Maka tidak mengherankan bila daerah semakin “nglunjak” dalam mencari muka ke Yahudi Israel, namun pusat tidak berani menyumprit (membunyikan peluit).


Sehingga keadaannya kemungkinan lebih buruk dibanding penjajahan masa lalu yang para penjilat penjajahnya masih terbatas, karena istilah “Belanda kafir” masih cukup ditakuti oleh Ummat Islam. Sehingga untuk mendekat-dekat “Belanda kafir” itu masih ada rasa sungkan.


Kenyataan kini, tokoh pendukung Yahudi yang sudah mati ternyata dielu-elukan dan kuburannya dibangun dengan ratusan miliar rupiah, maka tumbuh subur lah penjilat-penjilat baru bahkan ada sarana baru yakni atas nama otonomi daerah.


Dalam kasus ini, voaislam.com memberitakan, sebuah menorah raksasa setinggi 62 kaki, dan mungkin yang terbesar di dunia, baru saja dibangun. Menorah milik pemerintah daerah setempat ini melintasi pegunungan dan melewati kota Manado. Menorah adalah salah satu lambang suci peribadatan Yahudi.


Bendera-bendera Israel terlihat di pelataran ojek dekat tugu menorah raksasa. Salah satunya terletak di dekat sebuah sinagog yang dibangun sekitar enam tahun lalu. Langit-langit menorah tersebut berbentuk Bintang Daud (David Star) yang sangat besar. Semua fasilitas itu dibiayai oleh kas pemerintah daerah setempat.


Menurut Margarita Rumokoy, kepala Departemen Pariwisata Pemkab Minahasa Utara, Pemda mendirikan menorah raksasa tahun lalu dengan biaya sebesar 150 ribu dolar AS. Minahasa Utara adalah sebuah kabupaten yang mayoritas penduduknya adalah umat Kristen. (lihat voaislam.com, Cari Perhatian Yahudi, Manado Bikin Menorah Terbesar Sedunia, Selasa, 30 Nov 2010).


Terhadap penghamburan dana serta penjilatan terhadap Yahudi Israel seperti itu apakah Pusat Jakarta akan tutup mata?


Boleh jadi justru akan muncul orang-orang yang saling berlomba untuk pintar-pintaran dalam memberi dalih wal alasan tentang itu, agar nanti mendapatkan hadiah dari Yahudi Israel.


Sudah dapat dibaca aneka gelagat buruk antek-antek dan penjilat di negeri ini. Kalau toh kebusukan yang mereka sembunyikan dapat terbebas dari pengawasan manusia, tetap saja ada Yang Maha Mengetahui khianatnya mata:


يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ [غافر/19]


Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.(QS Ghafir atau al-Mu’min [40] : 19).


Ayat itu belum tentu mereka gubris, sehingga kemungkinan yang terjadi justru sesama pengkhianat akan saling bersaing…


Inilah salah satu resiko hidup di negeri yang isinya banyak pengkhianat. Maka yang dijilat adalah pengkhianat tingkat dunia yang telah dikecam oleh Allah Ta’ala! (haji).



(read more ...)



Selasa (30/11) pagi, Amir dan pengurus Majelis Mujahidin (MM) lainnya mendatangi sekretariat Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Jalan Proklamasi, Jakarta, untuk bertemu dengan Pimpinan Pusat MUI.

Amir Majelis Mujahidin Ustadz Muhammad Thalib meminta MUI membahas temuaan MM ihwal banyaknya kekeliruan dan kesalahan fatal terjemahan harfiyah versi Departemen Agama RI sejak penerbitan awal hingga sekarang.


Amir MM Ustadz Muhammad Thalib, didampingi Ustadz Abu Jibriel, Ustadz Irfan S Awwas, Ustadz Muhammad Shabbarin Syakur, dan pengurus MM lainnya, diterima oleh Ketua MUI KH Maruf Amin dan para pengurus MUI lainnya. Diantaranya, Ichwan Syam, Syukri Ghazali, Natsir Zubaidi, Umar Syihab, Anwar Abbas dan lain-lain.


Rupanya Pimpinan Gontor KH. Syukri Ghazali yang juga merupakan salah satu ketua MUI, menyadari hal yang sama terkait kekeliruan terjemahan Al Quran versi Depag.


MM menilai, maraknya berbagai aliran sesat yang mengatasnamakan agama, baik yang moderat maupun radikal, tidak dinafikan merupakan pengaruh serta dampak negatif dari penerjemahan Al Quran berbahasa Indonesia secara harfiyah, yang tidak sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah dan syariyah.


Seperti diketahui, Al Quran dan terjemahnya versi Depag RI dilakukan secara harfiyah (leterliyk). Padahal, terjemahan Al Quran secara harfiyah, menurut Fatwa Ulama Jamiyah Al-Azhar Mesir, Kerajaan Saudi Arabia, dan Negara-negara Timur Tengah, yang dikeluarkan tahun 1936 dan diperbarui lagi tahun 1960, hukumnya haram. Dinyatakan haram, karena bobot kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara syariyah maupun ilmiyah, sehingga dapat menyesatkan serta mengambangkan aqidah kaum Muslimin.


Dalam audiensi dengan MUI, MM menyampaikan beberapa persoalan yang menjadi domain MUI berkaitan dengan adanya fatwa resmi beberapa negara Timur Tengah tentang penerjemahan Al Quran ke bahasa Ajam (non Arab) dan kekeliruan terjemahan Al Quran versi Depag (Kemenag) RI yang beberapa kali mengalami revisi (edisi terbaru adalah Al Quran dan Terjemahannya cetakan 2010).


Setelah melakukan penelitian dan kajian seksama terhadap Al Quran dan Terjemahnya versi Depag RI, dari masa ke masa mulai penerbitan awal hingga sekarang, MM menemukan banyak kekeliruan dan penyimpangan yang sangat fatal dan berbahaya, baik dari segi makna lafadh secara harfiyah, makna lafadh dalam susunan kalimat, makna majazy atau haqiqi, juga tinjauan tanasubul ayah, asbabun nuzul, balaghah, penjelasan ayat dengan ayat, penjelasan hadits, penjelasan sahabat, sejarah dan tata bahasa Arab (kaidah yang direkomendasikan oleh Abu Hayyan). Termasuk yang dikemukakan oleh Imam Dzahabi, bahwa seorang mutarjim Al Quran ke bahasa lain harus memperhatikan perbedaan struktur bahasa Arab dengan bahasa terjemahannya.


"MUI sebagai lembaga fatwa harus memiliki sikap tegas menanggapi fatwa seputar terjemah Al Quran secara harfiyyah dalam bahasa Indonesia yang sudah lama beredar di Indonesia , bahkan dicetak oleh percetakan Arab Saudi.


Diantara yang sudah beredar adalah terjemahan yang dilakukan oleh tim Depag RI yang dilakukan sejak 1968 kemudian direvisi oleh Kemenag RI (2010). Dan ternyata tetap mempertahankan terjemahan Al Quran secara harfiyyah," ujar Sekjen Majelis Mujahidin Ustadz Muhammad Shabbarin Syakur menambahkan.


MM mendesak para ulama di Indonesia , khususnya MUI untuk membahas tarjamatul Quran secara syariyyah dan ilmiyyah. Dalam kaitan itu, MM dapat berpartisipasi menyampaikan pokok-pokok pikiran berkenaan dengan tarjamatul Quran ke dalam bahasa Indonesia.


MM percaya bahwa MUI tidak akan menganggap sepele persoalan ini, dan bersedia melakukan kajian hingga tuntas, kemudian mengumumkan kepada masyarakat Indonesia dan kaum Muslimin khususnya.


Tak dipungkiri, persoalan ini memerlukan pembahasan yang mendalam, waktu yang tidak pendek dan tentunya mengundang pihak-pihak yang kapabel guna mendapatkan kebenaran yang meyakinkan dan shahih.


Atas laporan MM, Ketua MUI KH Maruf Amin berjanji akan mempelajari kekeliruan Al Quran dan Terjamahnya versi Depag RI.


Bahkan MUI akan menjadi mediator untuk menyampaikan persoalan ini ke Kementerian Departemen Agama.(Adhes Satria/arrahmah)


(read more ...)





Pemurtadan terhadap Ummat Islam sudah sangat meresahkan. Karena para pengungsi korban Letusan Merapi dari tiga dusun di Kecamatan Dukun, Magelang, pekan lalu di kumpulkan di masjid, lalu dimurtadkan, dengan cara dibagikan roti pemberkatan oleh Rohaniawan dan Relawan mereka, dan yang hadir di dalam Masjid semuanya diberkati atas nama Tuhan Yesus.


Itu dilakukan dengan kedok pemberian santunan kepada korban bencana Merapi oleh Yayasan Citra Kasih dan Anak Nusantara Berbagi Kasih dari Jakarta dan Temanggung. Astaghfirullah…!


Pemurtadan itu telah menginjak-injak hak beragama Ummat Islam, berkedok pemberian santunan kepada Ummat Islam yang sedang tertimpa musibah. Namun anehnya, kejahatan itu justru dari sisi lain ditambah dengan sikap yang sangat menyakitkan Ummat Islam yang masih memiliki ghirah Islamiyah.


Betapa sakitnya, di saat Ummat Islam dimurtadkan oleh pihak Kristen saja dengan cara dikumpulkan di masjid, malahan petinggi NU (Nahdlatul Ulama) justru terkesan membanggakan gerakan jahat pemurtadan terhadap Ummat Islam oleh pihak Nasrani itu. Di saat Ummat Islam sedang perih dan pilu hatinya itu, tergores lagi oleh berita ini:


Said Agil Siradj (Ketua Umum PBNU) menegaskan, kerjasama antara NU dengan HKBP sudah berjalan dan itu dibuktikan saat bencana Gunung Merapi, HKBP menyumbangkan bantuan ke Magelang dimana di sana mayoritas warga NU yakni tujuh kontainer. (medanbisnisdaily.com, Kamis, 02 Des 2010 08:54 WIB)


Ungkapan Said Agil Siradj itu untuk menandaskan apa yang sedang dia kerjakan yakni menandatangani naskah kerjasama antara NU dengan pihak kafir, HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), dan naskahnya diserahkan oleh Said Agil kepada pihak HKBP di Medan, 1 Desember 2010.


Ini beritanya:



Foto: SERAHKAN NASKAH Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Agil Siradj (kiri) menyerahkan naskah MoU kepada Ephorus HKBP Pdt Dr Bonar Napitupulu usai mengikuti dialog publik antara NU-HKBP, Rabu (1/12) di ruang Perpustakaan Universitas HKBP Nommensen, Medan. (edanbisnis/mulyadi hutahaean)


Teken MoU


Setelah kasus Ciketing, kata Ephorus, NU dan HKBP menandatangani memorandum of understanding (MoU) untuk membangun kebersamaan secara terus menerus dan bukan insidentil. Tujuan kerjasama itu, demi kebangsaan dan keinginan mengenal sesama.


"Karena tujuannya kebangsaan, diharapkan kerjasama ini bukan hanya NU-HKBP, tapi kerjasama antar gereja dengan NU bahkan dengan Muhammdiyah dan lainnya. Diharapkan dilakukan kerjasama antara UHN dengan IAIN, sehingga kerjasamanya bukan lagi dengan HKBP saja tapi semua gereja," jelas Ephorus. (Kamis, 02 Des 2010 08:54 WIB, medanbisnisdaily.com/news/read/2010/12/02/9639/said_agil_lupakan_ciketing_mari_bangun_kebersamaan/)


Tingkah petinggi NU yang menyakitkan bagi Ummat Islam itu tentu saja bukan hanya menyakitkan bagi Ummat Islam, namun bagi warga NU sendiri yang masih taat agama dan berfikiran waras, bukan menjual agama demi sak cokotan belaka. (haji)



(read more ...)



 Senin, 01/11/2010 12:11 WIB | email | print | share



Terungkap ternyata kamp-kamp pengungsi warga Somalia di Kenya dimanfaatkan oleh para misionaris kristen yang berkedok LSM kemanusiaan untuk melakukan aksi kristenisasi terhadap para pengungsi dengan memanfaatkan kesulitan hidup yang mereka hadapi.


LSM kristen AS bekerjasama dengan pengikut kristen Somalia yang dipimpin oleh Ahmad Ali Ahili seorang misionaris berkebangsaan AS, telah melakukan praktek kristenisasi di antara pengungsi miskin Somalia di Kenya, menurut laporan dari para saksi mata yang diwawancarai oleh salah satu media baru-baru ini.


Aljazeera sendiri telah berusaha untuk melakukan wawancara langsung dan untuk mendapatkan konfirmasi dari Ahmad Ali Ahili, namun dirinya menolak untuk diwawancarai.


Aljazeera telah bertemu dengan sejumlah pengungsi Somalia di Kenya dan mendapatkan cerita langsung dari mereka tentang kegiatan organisasi misionaris yang beraktivitas di kamp-kamp pengungsi Somalia yang ada di Kenya.


Salah seorang pengungsi menyatakan bahwa dirinya merupakan salah seorang pengungsi asal Somalia yang ada di Kenya, yang datang ke Kenya setelah runtuhnya pemerintah pusat Somalia pada tahun 1991. Kepada Aljazeera ia menyatakan bahwa selama di Kenya ia mengalami kesulitan hidup untuk mencari nafkah dalam menyambung kehidupan keluarganya. Dan ia bertemu dengan Ahmad Ali Ahili yang memberikan ia sejumlah uang sebesar 500 dolar dengan syarat ia harus masuk kedalam agama Kristen. Karena lemahnya iman dan himpitan ekonomi menyebabkan ia menerima tawaran tersebut.


Para pengungsi Somalia menjadi target lembaga-lembaga misionaris Kristen, khususnya di ibukota Nairobi. Para misionaris memberikan banyak pelatihan kepada para pengungsi Somalia seperti pelatihan menjahit, kursus komputer, montir mobil dan tentu saja diberikan pelajaran agama Kristen.


Injil yang bercover depan mirip AL-Quran yang dibagikan ke pengungsi Somalia


Kisah lain dari pengungsi Somalia diungkapkan oleh Annisa Aris Nuno (63 tahun) yang menyatakan bahwa dirinya sangat terkejut sewaktu menerima salinan seperti Al-Quran disampul depannya, ternyata isi dalamnya adalah sebuah kitab Injil.


Dalam konteks ini, Umar Mahmud salah seorang dai Somalia mengatakan bahwa lembaga-lembaga kristen menggunakan berbagai cara untuk mengkristen pengungsi muslim Somalia, termasuk merayu dengan memberikan bantuan keuangan, perawatan kesehatan gratus bagi anak-anak mereka, bahkan membuka pintu imigrasi ke Amerika, Kanada, Australi dan Eropa Barat.(fq/aljzr)


(read more ...)



 Realitanya, mereka ingin mewujudkan "Islam Amerika" di Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia




Hidayatullah.com--Siang itu, Ma’had Baitul Mughni yang terletak di bilangan Kuningan, Jakarta, kedatangan tamu spesial: Syeikh Wahbah Zuhaili, seorang ulama kaliber dunia yang telah menelurkan puluhan judul buku. Salah satunya yang paling terkenal adalah Kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu (Fiqh Islam dan Dalil-dalilnya). Buku ini tersebar di dunia Islam dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.



Gelar sarjana ia gondol dari Fakultas Syariah Universitas al-Azhar pada tahun 1956 M dengan predikat istimewa. Ayah lima anak ini juga memperoleh ijazah izin mengajar dari Fakultas Bahasa Arab Al-Azhar. Di sela-sela kuliah di Al-Azhar ia juga belajar Ilmu Hukum dan menamatkan S1-nya dari Universitas ‘Ain Syams dengan predikat magna cum laudepada tahun 1957. Lalu pada tahun 1959, ia meraih master bidang syariah dari Fakultas Hukum Universitas Kairo. Gelar doktor di bidang hukum ia peroleh pada tahun 1963 dengan predikat summa cum laude.



Kedatangannya ke Indonesia atas undangan sebuah penerbit Islam untuk menghadiri launchingbukunya berjudul Fiqh Imam Syafi’i dalam acara Islamic Book Fair, di Istora Senayan Jakarta awal Maret lalu. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, hidayatullah.com meminta waktu wawancara. Obrolan berkisar masalah penjajahan di Palestina, masalah hukum dan paham liberal. Inilah petikan wawancaranya.



Banyak persoalan dihadapi dunia Islam saat ini, diantaranya Palestina, Afghanistan, Iraq dan lainnya, apa peran ulama dan umara dalam masalah ini?




Ulama wajib secara kontinyu memperingatkan tentang bahaya perbuatan orang-orang Yahudi tersebut yang keji, tindakan kejam mereka dan upaya mereka mengyahudikan Al-Quds, menghancurkan Al-Aqsa dan masjid-masjid lainnya.



Mereka pada hakikatnya tidak menginginkan perdamaian, tapi ingin menguasai seluruh tanah Palestina dan mengusir bangsa Arab dari sana, Muslim maupun non-Muslim.



Adapun peran umara dan penguasa—jika pun kita berbaik sangka pada mereka—maka  mereka adalah orang-orang lemah atau merasa lemah. Mereka tidak punya apa-apa, karena mereka tidak mempersiapkan umat untuk melawan musuh yang menghancurkan masa depan, mencuri kekayaan dan menjajah tanah-tanah mereka. Seharusnya mereka mempersiapkan umat ini untuk hal ini. Tapi Anda lihat, sebagian mereka diam. Mereka tidak bisa bicara apa-apa, karena takut kepada Amerika dan para pengikutnya. Semua itu adalah konspirasi Israel dan Mossad.



Dengan kata lain…




Sayangnya kita tidak mengambil ibroh (pelajaran) dari berbagai sikap ini, yang menghinakan dan berbahaya bagi bangsa Arab dan Islam. Mereka semestinya mengambil pelajaran dari berbagai kejadian ini dan waspada terhadap masa depan lebih baik. Semoga Allah mewujudkan kemenangan kita terhadap para perampok itu (Zionis Israel, red), bahkan walaupun mereka dibantu oleh AS dan Eropa.



Problem kita adalah kelemahan atau merasa lemah. Padahal Sayyidina Umar berkata, “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan orang tsiqah (terpercaya) dan ketakberdaaayan orang kuat.”



Banyak pemimpin Arab yang bisa berbuat sesuatu, melakukan perlawanan, tapi mereka belum melakukan hal itu. Ini adalah kealpaan para pemimpin umat Islam dan Arab terhadap persoalan Palestina, demikian pula di Iraq dan Afghanistan.



Mereka juga berupaya mengekspor “terorisme” ke negeri kalian (Indonesia), sebagaimana mereka lakukan di Aljazair dan Mesir. Mereka gampang mengkafirkan. Mereka itu pada hakikatnya, menurut saya, adalah buatan Amerika. Amerika-lah yang menciptakan “terorisme”. Modus mereka sama dengan modus Israel. Mereka mendukung satu pihak untuk menghancurkan pihak lain, sehingga terpecah belah dan jatuh pada berbagai krisis.



Terorisme itu tidak muncul kecuali dari AS, didukung dan dibuat di AS. Kemudian, ia berkata di sisi lain bahwa mereka ingin menghancurkan terorisme. AS bermain dua kaki,  agar umat berpecah-belah dan saling berperang. Ini tidak dipahami oleh para teroris karena hanya pemimpin merekalah yang mengetahui. Adapun para pengikut mereka mengira telah melakukan amal shalih untuk Islam, tapi sebaliknya melakukan bahaya terbesar kepada Islam.



Anda membenarkan bahwa realitas terorisme memang ada dalam tubuh umat Islam?



Ada, tetapi siapa yang membuatnya? Bagaimana saya tidak mengakui, sementara realitanya begitu. Dan realita adalah bukti terbaik. Islam tidak mengenal kekerasan, ekstrimisme ataupun terorisme. Ini adalah buatan mereka, agar kita saling berperang. Ada, tetapi saya menenangnya dengan keras. Mereka itu menuju neraka, bukan ke surga sebagaimana mereka sangka.



Karena itu, ini adalah kekeliruan dari pemimpin mereka, dimana mereka bersepakat dengan negara-negara yang ingin menyalakan api terorisme. Adapun para pengikut mereka adalah orang-orang bodoh. Semua pemikiran mereka itu keliru dan tidak berasal dari Islam. Bahkan Tragedi 11 September 2001 adalah buatan fundamentalis kanan AS dengan bekerja sama dengan Mossad Israel berdasarkan banyak bukti.



Saya punya buku-buku yang menjelaskan bahwa ini adalah tipuan yang sangat besar. Semua kejadian ini dimaksudkan sebagai alasan untuk menyerang dunia Islam, tak ubahnya baju gamis Utsman ra (khalifah Utsman yang dibunuh oleh para pemberontak lalu pakaiannya yang bersimbah darah dijadikan alasan untuk menentang khalifah Ali bin Abi Thalib—red), yang mereka jadikan jembatan untuk ikut campur dalam urusan negara arab dan Islam.



Terdapat juga buku-buku yang menjelaskan bagaimana pada hari kejadian terdapat lima ribu pekerja Yahudi tidak masuk kerja di kantor mereka di WTC. Karena itu, mereka tahu siapa berada di balik itu. Bahkan Bush (George W. Bush—red) pun tahu hal ini sebelumnya. Mereka tahu bahwa ini adalah konspirasi dari konservatif kanan AS, Salibis Barat dan Zionis, dengan bekerjasama dengan Israel. Kita harus pahami ini dan mengambil satu sikap bersama terhadap terorisme bahwa ini adalah buatan non-Islam. Islam berlepas diri dari tindakan-tindakan kriminal seperti ini.



Bagaimana dengan prediksi adanya  benturan peradaban seperti pernah dipaparkan Samuel Hutington itu?




Mereka berupaya meneriakkan konflik peradaban, bahwa kita tidak bisa saling bertemu. Kita mengajak pada dialog, tapi mereka mengajak pada konflik. Ini seperti ajakan kepada “terorisme” secara tersirat. Mereka terus berupaya menyodorkan upaya agar Islam tidak bertemu dengan dunia modern. Semua ini adalah konspirasi yang harus kita ketahui hakikatnya dan harus kita hancurkan.



Apa pesan Anda untuk kaum Muslimin di Indonesia?



Pertama, hendaknya umat Islam Indonesia melawan apa yang dinamakan “Islam Amerika”, sekularisme atau liberalisme, melawan setiap pemikiran yang menjadikan Islam mengikuti jalan Amerika. Ini konspirasi terbesar terhadap Islam.



Sekarang di tengah kalian ada George Soros. Dia telah menghancurkan ekonomi Malaysia pada tahun 1998, dan kini berada di tengah kalian dan membeli sejumlah perusahaan, dan berupaya masuk ke dalam ekonomi Indonesia dan menghancurkannya, sebagaimana yang ia lakukan terhadap ekonomi Malaysia. Kalian harus mewaspadainya dan tindak-tanduknya. Hindari membeli saham pasar modal atau bursa. Lewat tipuan ini, dia tarik modal dari para orang-orang kaya, sehingga menghancurkan ekonomi dan mata uang.



Bisa Anda ceritakan tentang buku monumental Anda: Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu?



Kitab ini alhamdillah diterima luas luas dari Amerika hingga Jepang, tersebar dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diamalkan oleh setiap Muslim di rumahnya. Saya memberikan informasi di dalamnya dimana orang tidak perlu bertanya lagi kepada orang. Sebab, banyak orang sibuk hari ini. Saya lengkapi buku ini dengan daftar isi, saya membantunya menjelaskan tentang hukum-hukum halal dan haram. Buku ini alhamdulillah diterima karena hukum Islam disajikan menurut mazhab empat dengan dalil-dalilnya serta memperkuat isinya dengan berbagai referensi terpercaya, alhamdulillah. Sekarang Darul Fikr mencetak buku ini untuk ke-32 kalinya. Ini dalam bahasa Arab.



Buku ini juga dicetak banyak dalam bahasa lain. Misalnya di Turki, dicetak sejak 20 tahun lalu, diterbitkan dalam bahasa Turki dan dibagikan lewat koran Zaman. Sebanyak  350 ribu kopi dicetak dan dibagikan gratis ke setiap rumah yang berlangganan koran ini. Tidak ada buku di dunia tersebar seperti ini. Ini baru dalam bahasa Turki. Segala puji hanya milik Allah. Maka kitab ini, insya Allah, saya niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan untuk membantu ikhwan dan akhwat di seluruh dunia, dan semoga tujuan ini terwujud alhamdulillah. Dalam cetakan ke-32 ini ditambahkan enam buku lain sehingga menjadi 15 jilid.



Dunia Islam kini—termasuk Indonesia—tengah didera oleh bahaya liberalisme agama. Komentar Syeikh?



Kaum Liberal itu, menurut saya tidak punya nilai sama sekali. Kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti. Ketika Nabi Muhammad saw datang, umatnya menyembah berhala. Lalu beliau membebaskan Makkah Al-Mukarramah. Itu adalah kemenangan yang agung dengan mengumumkan tauhidullah dan membatalkan penyembahan terhadap berhala.



Ketika menaklukkan Mekah pada abad ke-8 Hijriyah beliau menegaskan: “Kebenaran telah datang dan kebatilan pun kalah. Sesungguhnya kebatilan itu kalah.” Mereka (kaum Liberal, red) itu seperti katak. Saya menyamakan mereka dengan katak, karena mereka berteriak tanpa memahami apa yang mereka lakukan.



Mereka memiliki karakter sebagai agen pemikiran dan politik amerika, serta memusuhi Islam. Mereka itu sebetulnya adalah para agen suruhan. Agen suruhan itu seperti lazimnya sangat terhina, pikirannya lemah dan kegiatannya tidak mendatangkan kebaikan. Insya Allah dalam muktamar ini kita akan bicara tentang mereka, lalu kita letakkan  garis pemisah antara Islam yang benar dan yang bukan.



Saya berharap pemikiran liberal itu tidak punya pengaruh bagi pemikiran Indonesia. Realitanya, mereka ingin mewujudkan “Islam Amerika” di Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia. Makna Islam Amerika adalah melucuti, memusuhi, menolak dan membatalkan Islam. Umat Islam Indonesi harus waspada terhadap makar ini.



Sayangnya, sebagian umat yang loyal terhadap Islam berpikir untuk mengikuti mereka  yang bertentangan dengan agama dan kemuliaan umat. Mereka itu pada hakikatnya adalah agen kolonialisme dan pemikiran barat. Dengan tegas, bangsa Indonesia takkan terpengaruh dengan kegiatan dan tingkah laku mereka yang menghancurkan dan berbahaya.



Sekularisme dimaksudkan untuk memisahkan agama dan politik. Ini bahaya pertama terhadap Islam. Orang-orang liberal itu berlepas diri dari agama manapun juga. Mereka tidak punya agama. Mereka itu pantas dijuluki dengan “mereka itu pada hari itu lebih dekat pada kekufuran daripada iman.”



Kita berdoa kepada Allah agar mereka mendapat hidayah dan petunjuk. Saya percaya bahwa saudaraku di Indonesia, tidak peduli terhadap pemikiran susupan dari para agen yang berupaya memasarkan ide ini. Mereka menyangka telah membantu umat,  tapi hakikatnya mereka mengikuti musuh. [M. Nurkholis Ridwan/www.hidayatullah.com]

 

(read more ...)



 Indonesia merupakan negara yang sangat toleran terhadap non-Muslim. Jika tidak, mana mungkin non-Muslim berkembang seperti sekarang?




Hidayatullah.com--Kasus HKBP Bekasi beberapa waktu lalu benar-benar mendapat keprihatinan dari banyak pihak. Menurut Ardiansyah SH MA MH, kasus itu terjadi  karena tidak adanya sikap dalam mentaati peraturan yang berlaku. Ketidaktaatan inilah yang memicu timbulnya konflik (pertikaian).



Berikut wawancara hidayatullah.com dengan pengamat hukum yang kini sedang menyelesaikan Program Doktor Bidang kajian Hukum Konstitusi dan Hukum Tata Negara Fakultas Hukum Universitas Kebangsaaan Malaysia (UKM) itu.



Dari aspek hukum, apa pandangan terkait kasus HKBP Bekasi?



Kasus HKBP harus dilihat dari dua hal. Pertama, adanya korban penusukan. Penusukan itu berarti tindak pidana. Penyelesaiannya dengan cara menangkap pelaku dan memproses pelakunya secara hukum.



Kedua, ada praktik keagamaan yang dilakukan penganut agama tertentu yang tidak mengacu peraturan yang berlaku. Memang, negara ini menjamin kebebasan beragama dan menjamin kebebasan beribadah. 



Untuk mengawal kebebasan beribadah maka perlu dibuat peraturan bersama antarpemeluk agama. Keluarnya SKB 2 Menteri (Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri  Dalam Negeri No 8 dan No 9 Tahun 2006) bertujuan untuk menjaga kerukunan umat beragama.



Dengan keluarnya peraturan tersebut maka setiap warga negara Indonesia, dalam hal ini para pemeluk agama wajib terikat dan mentaati peraturan tersebut. 



Dalam kasus HKBP, akibat adanya praktik keagamaan (ritual) yang dilakukan penganut agama tertentu tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku maka di sinilah awal munculnya masalah.



Kasus HKBP itu tidak bisa dilihat dari aspek SKB 2 Menteri, tidak bisa pula dilihat dari aspek penusukan (tindak pidana), akan tetapi harus dilihat dari aspek adanya sekelompok penganut agama tertentu yang tidak mentaati  peraturan yang berlaku. Ketidak-taatan inilah yang memicu timbulnya konflik (pertikaian). Kasus HKBP sejalan dengan kaedah kausalitas. Tidak akan mungkin muncul akibat, tanpa adanya sebab.



Bagaimana solusi terbaik agar kasus serupa tidak terulang?



SKB 2 Menteri merupakan dasar kebijakan bersama antarpara tokoh berbagai agama yang difasilitasi oleh pemerintah. Peraturan ini dirumuskan bersama-sama Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan para tokoh agama.



Dengan logika sederhana, jika peraturan yang telah disepakati itu ditaati maka tentu tidak akan memunculkan  masalah. Sebaliknya, jika peraturan yang telah disepakati itu dilanggar maka tentu  akan memunculkan masalah.



Insiden Ciketing (Bekasi) terjadi karena jemaah HKBP tidak mentaati peraturan tersebut. Mereka bukannya mentaati peraturan untuk mencegah terjadinya konflik antarumat berbeda agama tersebut, malah tokoh HKBP dan para pendukungnya berulangkali melanggar bahkan mewacanakan pencabutan SKB 2 Menteri yang mensyaratkan pendirian tempat ibadah harus disertai dengan persetujuan 90 orang yang akan beribadah dan 60 warga sekitar, dengan memanipulasi data persetujuan sehingga menimbulkan keresahan sehingga berbuah konflik. Oleh karena itu, agar kasus serupa tidak terulang maka tokoh agama harus mentaati peraturan ini.



Bagaimana analisa hukum kemungkinan ditingkatkannya status SKB menjadi Undang-Undang?



Mungkin saja status SKB meningkat menjadi Undang-Undang. Namun, upaya peningkatan status SKB menjadi Undang-Undang bukanlah perkara mudah. Akan banyak pernyataan ketidaksetujuan dari berbagai tokoh agama, kelompok liberal, pegiat HAM, bahkan  intervensi asing.



Untuk meningkatkan status tersebut tentu melalui peran pemerintah, dalam hal ini  Menteri Agama. Pemerintah melalui Menteri Agama bisa merancang atau menyusun draft  RUU.



Selanjutnya draft RUU diserahkan kepada legislatif (DPR RI). Tentu ada pembahasan yang alot diantara sesama anggota legislatif (DPR RI). Untuk mencapai kata sepakat (disahkan atau ditolak suatu RUU) maka bisa ditempuh dengan berbagai cara termasuk voting. Jika DPR RI sepakat dengan RUU maka disahkanlah RUU menjadi  UU.



Langkah apa yang mesti dilakukan untuk mewujudkan Undang-Undang tersebut?




Untuk mewujudkan undang-undang memerlukan waktu yang panjang. Meskipun mayoritas  parlemen dikuasai wakil rakyat yang beragama Islam. Tidak ada jaminan undang-undang  tersebut akan terwujud.



Hal ini disebabkan Undang-Undang merupakan produk politik. Pembahasan Rancangan Undang-Undang tersebut tentu akan berjalan alot. Ada yang pro dan ada pula yang kontra.



Masih segar ingatan kita betapa alotnya pengesahan UU Pornografi. Untuk sampai pada  tahap pengesahan UU Pornografi maka telah terjadi lima kali perubahan draft RUU  Pornografi.



Awalnya Draft RUU Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi, lalu berubah dengan hilangnya kata Anti Pornoaksi.



Peraturan perundangan di negara manapun selalu dibuat manusia dengan suatu mindset (pemikiran mendasar) di dalam benaknya. Pemikiran mendasar ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keyakinan (ideologi/agama), pengalaman, pengetahuan, literatur, dan kepentingan. Kepentingan ini pun bisa bermacam-macam: kepentingan  pribadi, keluarga, kelompok atau partai, rakyat luar, atau kepentingan asing.



Dari semua faktor di atas, yang paling berbahaya adalah ketika kepentingan asing. Secara umum, ada lima metode intervensi asing. Pertama, intervensi G2G (Government  to Government), yakni pemerintah asing langsung menekan pemerintah suatu negara. 



Kedua, intervensi W2G (World to Government), yakni lembaga internasional (PBB, WTO,  IMF) menekan suatu negara.



Ketiga, intervensi B2G (Business to Government), yakni  dunia bisnis internasional maupun domestik menekan pemerintah agar meluluskan kepentingannya dalam undang-undang.



Keempat, intervensi N2G (Non Government Organization to Government), yakni LSM  asing atau lokal menjadi kelompok penekan yang efektif terhadap eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Kelima, intervensi I2G (Intelectual to Government), yakni kaum intelektual menekan pemerintah agar meloloskan suatu agenda dalam perundangannya.



Dari sisi politik hukum, sebenarnya apa yang sedang terjadi terkait kasus tersebut?



Politik determinan atas hukum. Politik dan kekuasaan sangat menentukan keberlakuan hukum. Menurut Mahfud MD, politik hukum harus diletakkan pada legal  policy (kebijaksanaan hukum) pemerintah dalam bidang pembentukan hukum dan pelaksanaan hukum.



Sebenarnya, jika politik dan kekuasaan committed dalam penegakan hukum, maka seharusnya pemerintah tidak perlu merespon pernyataan berbagai kalangan seputar pencabutan SKB 2 Menteri. Sebaliknya, pemerintah harus konsisten mempertahankan SKB 2 Menteri, bahkan bila perlu meningkatkan statusnya menjadi  undang-undang.



Menurut Anda, bagaimana sebenarnya toleransi umat beragama di Indonesia?




Indonesia merupakan negara yang sangat toleran terhadap non-Muslim. Kalau  tidak toleran, mana mungkin non-Muslim berkembang seperti sekarang ini. Tengoklah  di negara-negara Eropa dan Amerika yang mayoritas Kristen yang katanya paling  demokratis dan menjunjung HAM. Kasus terbaru, rencana pendirian masjid saja di New York itu, bukan di Ground Zero.



Jaraknya pendirian masjid kira-kira sekitar satu kilometer dari Ground Zero. Itu saja sudah dipersoalkan. Jelas membuktikan ada hambatan dalam kebebasan beribadah. Di Prancis, ada undang-undang pelarangan mengenakan cadar. Cadar itu kan bagian dari kebebasan beribadah. Kalau masjid  mungkin dianggap mengganggu, tapi apakah memakai cadar mengganggu? Itu tubuhnya sendiri dan pakaiannya sendiri.



Di Indonesia, warga non-Muslim itu betul-betul menikmati kebebasan luar biasa. Bahkan hampir-hampir tidak ada hambatan. Justru orang Islam di Indonesia, di  negeri yang mayoritas penduduknya Muslim ini, yang sering tertindas. Silakanlah  lihat di Ambon, Bali, Papua, dan di wilayah-wilayah Indonesia lain yang Muslimnya  minoritas, warga Muslim justru tertindas. [idris/cha/hidayatullah.com]

 

(read more ...)




Seperti halnya rumah makan, tayangan infotainmen tidak melulu bercerita tentang gosip, fitnah, dan ghibah. Sajian sehat semisal berita kelahiran anak dari pasangan selebritis, prestasi dari pelaku dunia hiburan, hingga berita sakitnya seorang artis, juga kerap ditayangkan.

 

Masalahnya, yang menjadi menu favorit infotainmen adalah hal-hal yang disebut pertama tadi. Parahnya, gejala ini tidak hanya menjangkiti masyarakat, tapi juga menjadi candu bagi sang artis dan penggiat infotainmen sendiri. 

 

Meski sebelumnya ormas Islam dan beberapa pihak pernah mengecam aksi “ghibahtainmen”, kini, mereka beraksi kembali. Aksi terbaru “ghibahtainmen” adalah dengan mengumbar pengakuan seorang penyanyi dangkut Aida Saskia yang mengaku diperkosa dai sejuta umat, Zainuddin MZ.

 

Padahal, sebelum ini, beberapa ormas keagamaan dan ulama  menegaskan fatwa haramnya infotainmen. Khususnya yang memuat berita-berita ghibah.  

 

Dalam al-Qur`an, perbuatan ghibah adalah terlarang. Pelakunya bahkan disebut seperti orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Akankah masyarakat dibiarkan menikmati infotainmen tanpa bimbingan ulama? Sudikah kita membiarkan masyarakat memakan bangkai sesamanya? [sur/hidayatullah.com]

 

(read more ...)




Ia akhirnya sadar. Sebelumnya pernah membenci Syariat, membenci Islam dan MUI. Bahkan mendukung gigolo. Baca CAP Adian ke-296


Oleh: Dr. Adian Husaini



Pada hari Sabtu, 9 Oktober 2010,  bertempat di arena Indonesia Book Fair, Senayan Jakarta, saya meluncurkan novel berjudul “Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat” (Jakarta: GIP, 2010). Novel ini saya tulis dengan tujuan memudahkan kaum Muslim Indonesia untuk memahami pemikiran-pemikiran liberal dan bagaimana cara mengatasinya. Hingga kini, penyebaran ide-ide liberal dilakukan melalui berbagai cara, diantaranya melalui penulisan novel, sinetron, dan film.


“Novel Kemi” ini sarat dengan pergulatan  pemikiran tingkat tinggi dan pergulatan jiwa dan pikiran para aktivis liberal.  Novel ini berkisah tentang dua orang santri cerdas yang berpisah jalan. Kemi (Ahmad Sukaimi), santri pertama, terjebak dalam paham liberalisme. Ia mengkhianati amanah Sang Kyai. Kemi salah pilih teman dan paham keagamaan. Ujungnya, ia terjerat sindikat kriminal pembobol dana-dana asing untuk proyek liberalisasi di Indonesia. Nasibnya berujung tragis. Ia harus dirawat di  sebuah Rumah Sakit Jiwa di Cilendek, Bogor.


Rahmat, santri kedua, selain cerdas dan tampan, juga tangguh dalam “menjinakkan” pikiran-pikiran liberal. Rahmat disiapkan khusus oleh Kyai Aminudin Rois untuk membawa kembali Kemi ke pesantren.  Meskipun misi utamanya gagal,  Rahmat berhasil “mengobrak-abrik” jaringan liberal yang membelit Kemi. Sejumlah aktivis dan tokoh liberal berhasil ditaklukkan dalam diskusi.


Di dalam novel ini, ada cerita Prof. Malikan, rektor Institut Studi Lintas Agama, tempat Rahmat dan Kemi kuliah, ditaklukkan Rahmat di ruang kelas.  Siti (Murtafiah), seorang aktivis kesetaraan gender, putri kyai terkenal di Banten, terpesona oleh kesalehan, kecerdasan, dan ketampanan Rahmat. Siti, akhirnya sadar dan bertobat, kembali ke orangtua dan pesantrennya, setelah bertahun-tahun bergelimang dengan pikiran dan aktivitas liberal. Rahmat juga berhasil menyadarkan “Kyai Dulpikir”, seorang Kyai liberal terkenal di Jawa Barat. Sang Kyai sempat bertobat dan wafat di ruang seminar.


Dalam catatan ini, ada baiknya kita simak pengakuan Siti Murtafiah, setelah dia tersadar dari kekeliruan paham liberal dan kesetaraan gender yang selama ini dia peluk dan dia perjuangkan. Siti mengaku telah terjerat berbagai pemikiran salah, secara perlahan-lahan. Ia sadar setelah bertemu Rahmat. Ia kemudian menyesal dan berjanji akan bertobat.  Siti terpesona oleh sikap dan pemikiran Rahmat, seorang santri kampung yang cerdas dan shalih.


Berikut ini petikan pengakuan Siti kepada Rahmat, akan kekeliruan pemikiran-pemikiran liberal yang digandrunginya selama ini:



”Coba perhatikan, Rahmat. Saya juga baru menyadari belakangan ini. Saya sudah terseret makin jauh. Dulu saya tertarik, karena selalu dikatakan, bahwa kita mengembangkan sikap terbuka, kritis, rasional, tidak partisan. Tapi, ketika sudah masuk ke lingkungan ini, kita tidak punya pilihan, kita juga dididik sangat partisan.  Jika dulu orang Muslim bangga mengutip Imam Syafii, Imam Ghazali, dan sebagainya, maka sekarang yang dibangga-banggakan adalah ilmuwan-ilmuwan orientalis. Katanya, kritis. Bahkan, karya-karya para ulama itu diakal-akali agar sesuai dengan pikiran mereka.


Yang tanpa sadar, kita disuruh membenci sesama Muslim, pelan-pelan kami mau tidak mau harus mengambil jarak dari aktivitas keislaman dan komunitas Muslim. Coba kamu perhatikan, pernah nggak kamu lihat Kemi shalat berjamaah ke masjid, aktif dalam majlis-majlis taklim, mengajar mengaji anak-anak, shalat tahajut, puasa sunnah, dan sebagainya. Lihat, siapa teman-teman dekatnya!  Ingat nggak kata Ali bin Abi Thalib, siapa teman kepercayaan kamu, itulah kamu.


Perhatikan juga apa yang selalu diomongkan dia. Dia tidak lagi bicara tentang aqidah Islam, bahwa iman itu penting, kesalehan itu penting. Tidak bicara tentang bahaya kemusyrikan dan kemurtadan. Padahal, sejak kecil di pesantren, dia sudah diajarkan kitab-kitab Tauhid yang membahas masalah syirik. Bahkan, kata syirik, kafir,  itu sudah dicoret dari kosakata dia. Syirik dan iman dianggap sama saja. Mukmin dan tidak mukmin dianggap sama. Islam dan bukan Islam disama-samakan. Padahal, al-Quran jelas-jelas membedakan derajat orang mukmin dengan derajat orang kafir.


Saya kadang bertanya, mengapa saya menjadi begini. Bahkan, di kepala saya yang ada bukan lagi bagaimana memahami al-Quran dengan baik dan benar, tetapi bagaimana agar al-Quran bisa saya gunakan untuk mendukung pemahaman saya tentang Pluralisme, liberalisme, toleransi, dan sebagainya. Teman saya sampai berusaha keras untuk meraih gelar doktor dengan membuat metodologi Tafsir yang sesuai dengan pemikiran Pluralisme.


Semua itu tidak terjadi seketika. Perlu waktu panjang.  Sedikit demi sedikit, pikiran dibelokkan.  Tanpa sadar.  Perasaan dan pikiran dibelokkan.  Saya suatu ketika bertanya kepada diri saya sendiri, mengapa saya tidak lagi mencintai saudara-saudara saya di Palestina? Bahkan, hati saya mulai condong pada kaum Yahudi. Saya suka melihat kemenangan Yahudi; yang saya lakukan adalah mencari-cari kelemahan orang Palestina dan kelebihan orang Yahudi.  Malah, saya sama sekali sudah tidak peduli dengan masalah umat Islam di Kasmir, Moro, Afghanistan, Irak, dan sebagainya. Saya menganggap semua itu adalah komoditas kaum fundamentalis untuk mencari popularitas.


Yang lebih saya kedepankan adalah isu-isu yang dibawa oleh negara-negara Barat, seperti isu radikalisme Islam, pluralisme,  fundamentalisme, dan sebagainya. Padahal, berapa ratus ribu bahkan jutaan penduduk sipil di negara-negara Muslim itu yang dibunuhi? Saya sudah menganggap bahwa mereka itu semua berhak dibunuh, karena mereka bagian dari kaum fundamentalis. Tidak ada diantara kami yang habis-habisan mengutuk pembunuhan manusia-manusia Muslim itu. Hanya sesekali keluar pernyataan, agar tidak terlalu dianggap antek Barat. Tapi, coba kalau ada satu saja orang bule yang tewas dibunuh oleh satu kelompok Islam, atau ada bom meledak di suatu tempat yang menewaskan puluhan orang, maka kami akan habis-habisan mengutuk.


Yang lain, ini yang menyadarkan saya, tiba-tiba tertanam dalam diri saya, perasaan benci pada syariat Islam, dan bahkan benci dengan kemenangan satu partai Islam dalam Pemilu. Saya benci sekali kalau ada orang ngomong syariat. Bahkan, saya pernah memberi masukan teman-teman Kristen agar mereka mengeluarkan pernyataan yang menolak syariat. Saya pernah bingung, kenapa saya bisa menjadi begini. Saya mengenakan kerudung, tetapi isi kepala saya sama sekali tidak suka dengan kerudung. Saya benci sekali kalau ada orang Islam atau organisasi Islam yang mencoba membatasi pakaian.


Bahkan saya pernah ikut merancang demonstrasi menentang RUU Pornoaksi dan Pornografi. Saya benar-benar termakan paham kebebasan. Saya benci MUI, yang menurut saya sok Islam sendiri. Saya mendukung Lia Eden, saya mendukung Ahmadiyah, saya benci semua orang Islam. Bahkan, pernah saya membenci ayah saya sendiri, karena saya melihat dia bersama para kyai di daerah saya mendatangi DPR,  meminta agar tayangan-tayangan porno dan tidak senonoh dihentikan penayangannya. Saya benci itu semua.


Kamu tahu Rahmat, karena untuk membuktikan saya sudah benar-benar menyatu dengan paham kebebasan, saya mendukung hak wanita untuk menjadi pelacur.  Saya menentang penutupan komplek-komplek WTS di berbagai kota. Melacur saya anggap sebagai hak asasi wanita. Menjadi gigolo juga hak asasi. Yang penting tidak mengganggu hak orang lain. Hak-hak kaum homo dan lesbi juga saya perjuangkan. Sebab saya sudah dicekoki paham kebebasan, bahwa mereka adalah manusia.


Saya tidak tahu, mengapa saya menjadi seperti ini. Semua pergaulan, kuliah, diskusi, kegiatan, sepertinya sudah diatur sedemikian rupa, sampai saya tidak sadar, bahwa saya telah menjadi korban dari sebuah skenario besar. Saya korban. Kemi juga korban. Entah dia sadar atau tidak.


Bayangkan Rahmat, saya ini wanita, perempuan. Sampai karena sudah begitu merasuknya paham kesetaraan gender dalam diriku, saya tidak lagi mengakui laki-laki berhak memimpin rumah tangga. Saya benci jika dikasihani. Pernah saya naik bus, ada seorang laki-laki memberikan tempat duduknya karena kasihan saya berdiri, saya bentak dia. Saya mau suami saya yang nanti melayani saya, menyediakan minum buat saya, mengasuh anak saya, dan kalau perlu membawakan tas saya. Entah kenapa di kepala saya tertenam kebencian dan dendam kepada laki-laki, karena mereka telah menindas kaum saya selama umur manusia.


Suatu ketika, saya merenungkan semua itu dengan serius. Mengapa saya menjadi begini? Mengapa jadi begini? Itulah pertanyaan saya beberapa bulan terakhir ini. Saya sadar, tetapi saya tidak tahu, bagaimana saya akan keluar dari jeratan ini. Sudah terlalu jauh... Saya sulit keluar....Rahmat, entah bagaimana ujungnya perjalanan saya ini....”


”Saya sedih .... hati saya sangat perih... ingat ayah saya, Ibu saya, adik-adik saya...Saya dulu ingin membuktikan kepada mereka, bahwa saya bisa mandiri, saya bisa bebas, saya mau merdeka, saya tidak mau diatur lagi dengan berbagai belenggu. Saya minggat dari rumah, kuliah di satu kampus Islam Jakarta, lalu terakhir terseret ke kampus ini, karena ada beasiswa...Entahlah... sampai kapan saya akan terus seperti ini. Terkadang saya frustrasi...”


”Saya juga tidak tahu... ini sindikat atau tidak. Yang jelas, saya sudah tidak punya teman, tidak punya komunitas, malu untuk bergaul dengan sesama Muslimah. Pikiran saya yang sudah terjerat. Untuk membuang jerat-jerat pikiran ini tidak mudah. Saya sadar ini salah, tetapi saya seperti tidak berdaya untuk melawannya. Belum lagi, instruksi dan program-program yang rutin. Saya sering tak sadar menghujat-hujat Islam sendiri, memaki-maki umat Islam sendiri. Semua itu berjalan begitu saja tanpa bisa saya hindari. Saya sudah terjerat; terjerat oleh pikiran saya sendiri, terjerat oleh lidah saya sendiri! Saya sadar, saya geram, karena tidak berdaya untuk melepaskan diri dari semua keterjeratan ini... Saya tidak mampu... Padahal, di depan laki-laki saya selalu mencoba tampil perkasa, saya tidak mau dipandang rendah. Tapi, kenyataannya, saya tidak berdaya melawan pikiran saya sendiri...”.



Demikianlah sebagian pengakuan dan pertobatan Siti, seorang aktivis gender, kepada Rahmat. Siti akhirnya diracun oleh sindikat yang menjeratnya, karena dianggap berkhianat. Beruntung, dia masih bisa diselamatkan. Di akhir cerita, Siti membuktikan kesungguhannya untuk bertobat. Ia bahkan mengorbankan rasa cintanya pada Rahmat dan memilih berjuang membesarkan pesantren ayahnya. Ia lebih mengedepankan aktivitas dakwah dan pendidikan  Islam.

Kisah Siti, Kemi, dan Rahmat bisa dibaca lebih jauh dalam Novel Kemi: Cinta Kebebasan yang Tersesat. Selamat membaca!


(read more ...)



Pasca demonstrasi Front Pembela Islam (FPI) untuk menghentikan pemutaran film-film seputar homoseksual dan biseksual dalam Festival Film Q!, isu ini menjadi pembicaraan hangat dalam pembahasan pembolehan gay atau lesbian untuk masuk dalam parpol tertentu.


Setidaknya ada beberapa pertanyaan seputar, bagaimana tanggapan partai politik mengenai isu ini? Termasuk bagaimana respons partai mengetahui ada gay atau lesbian yang mendaftar masuk menjadi anggota?



Pertanyaan itu diajukan kepada Ketua Fraksi Partai Demokrat, Jafar Hafsah, dalam sebuah diskusi membahas temuan Lembaga Survei Indonesia mengenai isu toleransi di partai politik, Jakarta, Rabu (29/9/2010) Bagaimana jawaban Jafar?


"Kan ada laki-laki, ada perempuan. Mengapa kita kawin, itu kan untuk melanjutkan keturunan. Secara biologis, terdapat saling ketertarikan," kata Jafar.



Di Indonesia, belum ada undang-undang yang mengatur soal homoseksualitas dan sebagainya itu, katanya. "Walau pun ada yang mengubah alat kelamin, tapi kan tidak bisa sempurna juga. Misalnya dia tidak bisa mengandung. Cuma dibuatkanlah sebegitu serupa." "Jadi masuk partai, tidak ada kategori homo dan tidak homo. Yang ada laki-laki dan perempuan," kata Jafar.



Kalau penganut Ahmadiyah? "Kan tidak ada kategori Ahmadiyah. Yang ada kategori agama yang diakui di Indonesia. Jadi, sama Ahmadiyah atau gay, itu rahasia yang bersangkutan," ujarnya.



Toleransi Bukan Isu Utama Parpol


Sementara itu menurut Lembaga Survei Indonesia menemukan isu toleransi bukan utama di sembilan partai yang bercokol di parlemen.



Direktur Eksekutif LSI Dodi Ambardi memberi contoh kasus penusukan pendeta Huria Kristen Batak Protestan ditanggapi semua partai dengan sporadik. "Spontan belaka," kata Dodi dalam jumpa pers di kantor LSI, Jakarta, Rabu 29 September 2010.



Reaksi seperti itu, kata Dodi, tak mencukupi karena tidak berbentuk sikap resmi partai. Reaksi spontan itu membuktikan isu toleransi bukan agenda kontinyu di partai-partai politik termasuk yang bergaris tengah seperti Partai Demokrat, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Golkar.


Isu toleransi bagi partai sekadar salah satu dari sederet isu yang digarap. Partai menyikapi hal itu dengan bersikap lunak, memberi reaksi dengan dosis rendah," ujar Dodi.



Cara pandang para politisi beragam partai atas kasus HKBP itu, kata Dodi, terkelompok dalam tiga kategori. Pertama, sebagai isu kriminal. Kedua, sebagai isu legal formal berkaitan dengan Surat Keputusan Bersama tiga menteri soal rumah ibadah. Ketiga, soal toleransi beragama.



Jafar Hafsah, Ketua Fraksi Demokrat di Parlemen, menyatakan, isu toleransi merupakan isu hangat di Demokrat. Namun Jafar menyatakan di forum yang sama, seperti halnya orang bercinta, "kan tidak setiap hari menyatakan cinta. Tapi kan substansinya toleransi." (voi/arrahmah.com)






(read more ...)




Diposting pada Ahad, 10-10-2010 | 16:41:44 WIB

 



Masalah terorisme selalu menjadi perhatian publik di Indonesia. Beragam pendapat diutarakan, beragam solusi diusulkan, namun sangat jarang yang melihat akar persoalannya.


Presiden SBY, diamini para pembantunya, berusaha meyakinkan bahwa akar terorisme adalah kemiskinan dan kebodohan. Sebuah analisis yang kurang cerdas mengingat beberapa orang yang dituduh teroris justru bukan orang bodoh dan miskin.


Dr. Azahari misalnya, seorang doktor dan dosen universitas ternama. Jelas dia tidak bodoh, tidak juga miskin atau pengangguran tanpa kerjaan. Di level dunia, tertuduh gembong teroris adalah Usamah bin Ladin, seorang lulusan univertas dan pengusaha konstruksi terkemuka di Timur Tengah. Wakil Usamah adalah dr. Ayman Azh Zhawahiri, seorang dokter spesialis bedah. Bodoh sekali orang yang menganggap Ayman miskin dan bodoh.


Dari beberapa contoh tadi, jelas analisis tersebut kurang valid, kalau tidak bisa dibilang ngawur. Mungkin juga yang ngawur bukan SBY, melainkan para pembantu dan pembisiknya.


Di sisi lain, kelompok liberal dan sekuler melihat bahwa penyebabnya adalah ajaran agama Islam. Ayat-ayat dan hadits yang mendorong perilaku radikal dituding jadi kambing hitam. Ini sejalan dengan upaya Amerika untuk menghilangkan poin-poin syariat Islam tentang jihad fi sabilillah yang dianggap sebagai biang ideologi terorisme. Di Timur Tengah, misalnya, mereka mengedarkan Furqanul Haq. Sebuah versi Al-Quran edisi minus ayat-ayat jihad.


Padahal, tak hanya Islam, agama lain juga memiliki konsep “jihad.” Lihat saja Kristen, apa yang membuat mereka bisa melancarkan Perang Salib selama beberapa abad kalau bukan konsep mereka tentang Holy War?


Maka pandangan kelompok liberal dan sekuler ini tidak fair. Mereka ingin dunia damai dan aman dari terorisme, tetapi kuncinya dengan mengebiri semangat perlawanan umat Islam pada penindasan dan penjajahan. Maklum saja, majikan mereka, bangsa-bangsa penjajah Barat, sangat khawatir menghadapi perlawanan jihad Muslim.



Pada masa lalu, Inggris menciptakan sekte sesat bernama Ahmadiyah di India yang sedang dijajahnya. Pemimpinnya, Mirza Ghulam Ahmad, mengharamkan jihad melawan Inggris. Ia juga membanggakan Inggris sebagai tuan besar yang wajib ditaati. Yang lebih gila, ia mengaku nabi dan mengkafirkan orang Islam yang tak percaya pada kenabiannya.


Sangat jelas bahwa Inggris ingin melemahkan semangat jihad Islam agar bisa leluasa menjajah India. Menguasai dan menguras potensi alamnya. Sebuah metode menetralisir musuh agar tak terus melawan.


Padahal melawan penindasan, perang dan militer adalah hal yang manusiawi. Manusia pasti ingin survive. Manusia pasti ingin melawan jika ditindas dan diperlakukan tak adil. Apapun agamanya, apapun rasnya. Bahkan semut pun menggigit jika manusia merusak sarangnya.


Terorisme yang dituduhkan kepada sekelompok umat Islam yang berjihad sebenarnya adalah upaya perlawanan. Sudah terlalu lama umat Islam dijajah, ditindas dan dikuras kekayaannya. Sudah terlalu banyak darah tertumpah oleh bangsa-bangsa penjajah Barat yang kafir.


“Teroris” menyerang sasaran sipil karena Inggris, Amerika dan penjajah lain tak segan membantai Muslim sipil. “Teroris” meledakkan bom karena negeri-negeri Muslim yang dijajah diratakan dengan rudal dan roket. “Teroris” merampok musuhnya karena kekayaan alam negeri mereka dikuras para penjajah dengan bantuan boneka lokal yang setia pada tuannya.


Akar persoalan teroris, jika mau jujur, sebenarnya adalah upaya menuntut keadilan. Rangkaian bom Natal dan bom Bali terjadi karena dipicu serangan Kristen pada Muslim di Ambon. Muslim dizhalimi tetapi tak ada pembelaan memadai dari aparat keamanan. Pada titik ini pembalasan menjadi pilihan.


Bahkan jika ditarik lebih jauh, munculnya Darul Islam (DI/TII) pada 1949 pun merupakan reaksi Muslim pada ketidakadilan. Awalnya Muslim dan Kristen sudah sepakat dalam perumusan UUD 1945. Panitia Sembilan menyepakati Piagam Jakarta yang menjamin berlakunya syariat Islam bagi Muslim dengan rumusan “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya."


Baru sehari merdeka, kesepakatan itu dikhianati, seorang tokoh Kristen dari Indonesia Timur mengancam akan keluar dari NKRI. Melalui seorang perwira Jepang, tokoh itu menekan Soekarno dan Hatta agar menghapus kewajiban menjalankan syariat Islam dari Konstitusi. Inilah benih separatisme pertama dalam sejarah Indonesia, mengancam memisahkan diri dari republik karena dengki pada umat lain yang ingin menjalankan syariatnya.


Akibatnya terjadilah kezhaliman hukum. Umat Islam mayoritas tetapi dihalangi menjalankan hukum syariatnya. Mereka dipaksa tunduk pada hukum Kristen dan sekuler warisan Belanda. Apalagi diplomasi Soekarno waktu itu begitu mengalah pada Belanda, perundingan Rennville membuat Jawa Barat dikosongkan. Wilayah dan penduduknya yang Muslim seolah diserahkan pada Belanda.


Inilah yang memicu Darul Islam berdiri. Ketidakadilan persoalan hukum dan ketidakpuasan karena diserahkan pada Belanda. Ini juga akar semua perlawanan Islam di Indonesia. Sebenarnya mereka hanya menuntut satu hal saja, bisa menegakkan syariat Islam untuk dirinya sendiri.


Namun keinginan itu selalu dihalang-halangi. Para aktornya pun selalu itu-itu saja. Piagam Jakarta dijegal berkat tekanan seorang tokoh Kristen. Renville ditandatangi PM Amir Syarifudin yang Kristen. Komji hingga Tanjung Priok didalangi oleh Benny Moerdani.


Terakhir, konspirasi itu semakin telanjang. Muslim di Kalimantan dibantai oleh Dayak Kristen, berlanjut ke Ambon dan Poso. Kasus di Poso bahkan menunjukkan adanya kerjasama Protestan dan Katholik. Fabianus Tibo cs yang Katholik memimpin serangan awal kepada Muslim. Belakangan mereka merasa diumpankan oleh kelompok Protestan.


Kemudian, Muslim bereaksi dan melawan. Mereka berhasil membalas dan menghentikan kezhaliman Kristen. Tetapi mereka yang melawan kemucian diberi cap teroris dan disikat tanpa ampun dengan Densus 88. Unit khusus yang dibiayai Amerika dan Australia.


Unit itu jelas sekali diproyeksikan untuk memusuhi Muslim. Mereka dipuji-puji ketika menangkap, menyiksa dan membunuh Muslim. Namun ketika mereka menangkap aktivis RMS, Australia mengancam akan menyelidiki kasus itu sebagai “pelanggaran HAM.”


Kini Densus 88 diotaki oleh Gorries Mere. Secara resmi komandannya Tito Karnavian. Namun insiden ributnya Densus di Polonia dengan Provost AU membuktikan hal lain. Gorries memimpin langsung di lapangan meskipun ia sebenarnya bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNN).


Semua rangkaian di atas membuktikan satu hal: semua kezhaliman yang menimpa umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia merupakan buah konspirasi penjajah Barat yang Kristen dengan boneka lokalnya. Sementara semua aksi perlawanan, yang dicap terorisme, adalah reaksi terhadap kezhaliman tersebut. Inilah akar terorisme yang sebenarnya.


annajahsolo.wordpress.com


(read more ...)



 “Indonesia merupakan ladang yang sedang menguning, yang besar tuaiannya,” demikian tujuan misi Kristen. Baca CAP Adian ke-295!




Oleh: Dr. Adian Husaini*


KASUS penyegelan rumah milik jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) di Ciketing Bekasi, Jawa Barat, akhirnya berbuntut panjang. Jemaat HKBP tidak terima dengan keputusan pemerintah dan melakukan berbagai aksi demonstratif, yang akhirnya berujung pada insiden bentrokan jemaat HKBP dengan warga Muslim Bekasi. Sebagian kalangan kemudian mengangkat dan membesar-besarkan kasus ini sampai ke dunia internasional, sehingga memberikan citra negatif terhadap Indonesia.



Citra buruk yang tampaknya ingin dibentuk adalah bahwa seolah-olah negeri Muslim terbesar di dunia ini merupakan satu bangsa yang tidak beradab yang tidak menghargai kebebasan beragama; seolah-olah, kaum Kristen di Indonesia merupakan kaum yang tertindas. Sejumlah aktivis Kristen di Indonesia tergolong rajin memanfaatkan momentum kasus-kasus konflik soal pendirian gereja, menjadi komoditi yang berharga untuk membentuk citra buruk bangsa Indonesia, khususnya kaum Muslim.



Ujung-ujungnya, muncul tekanan dari berbagai Negara atau kelompok di luar negeri, agar Indonesia memberikan ruang kebebasan beragama yang lebih besar kepada golongan minoritas Kristen.  Pada 12 Februari 2010 lalu, Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) mengeluarkan data, yang menurut mereka, dalam tahun 2007 ada 100 buah gereja yang diganggu atau dipaksa untuk ditutup. Tahun 2008,  ada 40 buah gereja yang mendapat gangguan. Tahun 2009 sampai Januari 2010, ada 19 buah gereja yang diganggu atau dibakar di Bekasi, Depok,  Parung, Purwakarta, Cianjur, Tangerang, Jakarta, Temanggung, dan  Sibuhuan Kabupaten Padang Lawas (Sumatera Utara).


Menurut data FFKJ tersebut, selama masa pemerintahan Presiden Sukarno (1945 - 1966) hanya ada 2 buah gereja yang dibakar. Pada era pemerintahan Presiden Suharto (1966 - 1998) ada 456 gereja yang dirusak atau dibakar.  Pada periode 1965-1974, kata FKKJ, "hanya"  46 buah gereja yang dirusak atau dibakar. Sedangkan dari tahun 1975 atau masa setelah diberlakukannya SKB  2 Menteri tahun 1969 hingga saat lengsernya Suharto tahun 1998, angka gereja yang dirusak atau dibakar sebanyak 410 buah.



Jadi, menurut catatan FKKJ  hingga awal tahun 2010, telah ada hampir sekitar 1200 buah gereja yang dirusak dan ditutup. “Jadi kita menemukan angka perusakan gereja untuk masa reformasi paska Suharto sebanyak 740  buah,” tulis siaran pers FKKJ yang ditandatangani oleh Theophilus Bela dan Gustav Dupe.



Mungkin banyak pihak yang tercengang melihat besarnya angka perusakan gereja di Indonesia. Sangat fantastis. Sayangnya, pihak FKKJ tidak menyajikan analisis yang komprehensif tentang data tersebut. Benarkah yang dirusak itu memang gereja? Mengapa hal itu terjadi? Umat Islam bisa saja membuat data, berapa ribu masjid dan mushola yang dirusak dan digusur oleh developer Kristen! Juga, mestinya ada analisis, mengapa sudah begitu banyak gereja yang dirusak, tetapi pertumbuhan gereja di Indonesia juga sangat fantastis?



Analisis yang komprehensif sangat diperlukan jika kita ingin menyelesaikan masalah secara mendasar, bukan sekedar memanfaatkan kasus-kasus untuk tujuan tertentu. Apalagi, dalam siaran pers FKKJ itu juga disebutkan, seolah-olah biang keladi semua itu adalah adanya SKB dua menteri tahun 1969 yang mengatur pendirian rumah ibadah. Pihak Kristen. Khususnya kelomok-kelompok evangelis,  tidak mau terbuka, bahwa sebenarnya pendirian Gereja bukanlah sekedar persoalan tempat ibadah belaka, tetapi terkait dengan misi mereka untuk mengkristenkan Indonesia. Keterbukaan dan dialog ini sangat penting, sebab kedudukan dan fungsi Gereja bagi kaum Kristen  berbeda dengan kedudukan dan fungsi masjid bagi umat Islam.



Kaum Muslim mendirikan masjid karena dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Aturan-aturan tentang kemasjidan sangat jelas dalam Kitab Suci umat Islam dan Sunnah Nabi Muhammad saw. Bagi kaum Muslim, Masjid digunakan shalat lima waktu dalam sehari. Kaum Muslim juga bisa shalat di masjid mana saja, selama bukan masjid aliran sesat. Sementara kaum Kristen tidak bisa sembahyang di Gereja sekte apa saja, karena beda tata cara ritual. Perbedaan-perbedaan semacam itu seyogyanya dipahami, agar dapat dicarikan solusi yang komprehensif.



Misi Gereja



Apa sebenarnya misi dan tujuan suatu gereja didirikan? 



Tahun 1964, tokoh Kristen  Batak, Dr. Walter  Bonar Sidjabat, menerbitkan buku berjudul Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini (Jakarta: Badan Penerbit Kristen, 1964).  Melalui bukunya ini, Dr. Sidjabat menegaskan misi sejati kehadiran Kristen dan Gereja-gereja mereka di seluruh pelosok Indonesia.



Dalam pengantar bukunya, ia menulis:


“Kita terpanggil untuk mengikrarkan iman kita di daerah-daerah berpenduduk berambut keriting, berombak-ombak dan lurus-lurus, di tengah penduduk berkulit coklat, coklat tua, kuning langsat dan sebagainya. Guna penuaian panggilan inilah gereja-gereja kita berserak-serak di seluruh penjuru Nusantara agar rakyat  yang  “bhineka tunggal ika”,  yang terdiri dari penganut berbagai agama dan ideologi dapat mengenal dan mengikuti Yesus Kristus.” (Kutipan-kutipan dari buku Dr. Sidjabat dalam artikel ini telah disesuaikan dengan EYD).


Mengikuti pemikiran tokoh Kristen Batak ini, bisa dipahami bahwa kehadiran sebuah gereja bagi kaum Kristen bukanlah sekedar persoalan “kebebasan beribadah” atau “kebebasan beragama”. Banyak kalangan Muslim dan mungkin juga kaum Kristen sendiri yang tidak paham akan eksistensi sebuah gereja. Bahwa, menurut kaum Kristen, pendirian sebuah gereja bukan sekedar  pendirian sebuah tempat ibadah, tetapi juga bagian dari sebuah pekerjaan Misi Kristen; agar masyarakat di sekitarnya “mengenal dan mengikuti Yesus Kristus”. 



Dikatakan dalam buku ini: “Di atas Gereja terletak tugas pekabaran Injil. Pekabaran Injil adalah dinamis. Secara dinamis Gereja bertanggung jawab akan pekabaran Injil ke dalam, kepada orang-orang yang telah menjadi anggota-anggota tubuh Kristus (“ecclesia”) dan keluar, kepada orang-orang yang sedang menunggu, mengabaikan, menolak atau tidak acuh terhadap Yesus sebagai Juruselamat mereka.” (hal. 41).



Sementara itu, bagi kaum Muslim yang sadar akan keislamannya, persoalan misi Kristen, bukanlah masalah sepele.  Orang yang berganti agama, keluar dari agama Islam, dalam pandangan Islam disebut orang yang murtad dan kafir. Amal perbuatan mereka tidak diterima oleh Allah. (QS 2:217, 24:39).  Al-Quran juga menegaskan, bahwa Allah SWT sangat murka jika dikatakan Dia mempunyai anak. (QS 19:88-91). Dan orang-orang yang menyatakan bahwa Allah adalah salah satu dari tiga oknum, maka orang itu disebut telah kafir (QS 5:72-75).



Dalam menjalankan misi mereka di dunia Islam, kaum Kristen sadar benar akan tantangan berat yang datang dari umat Islam. Sebab, memang, Islam adalah satu-satunya agama yang Kitab Sucinya (al-Quran) memberikan koreksi secara mendasar terhadap dasar-dasar teologi Kristen. (QS 4:157).  Karena itulah, dalam bukunya,  Dr. Sidjabat secara khusus, menguraikan sejarah perkembangan Islam di Indonesia, yang dinilainya merupakan tantangan berat bagi perkembangan misi Kristen di Indonesia. Sidjabat mengimbau Kaum Kristen di Indonesia tidak surut langkah dalam menjalankan misi mereka. Bahkan, kalau perlu melakukan konfrontasi. Maka, simaklah pesan-pesan penting Sidjabat kepada kaum Kristen Indonesia berikut ini:



“Saudara-saudara, kenyataan-kenyataan jang saya telah paparkan ini telah menunjukkan adanya suatu tantangan jang hebat sekali untuk ummat Kristen. Sudah pasti bahwa yang dapat  saya rumuskan pada lembaran-lembaran ini hanya sebagian kecil dari realita Islam di Indonesia. Dalam hubungan ini saya hendak menunjukkan kepada ummat Kristen bahwa sekarang ini jumlah yang menunggu-nunggu Injil Kristus Yesus jauh lebih banyak daripada jumlah jang dihadapi oleh Rasul-rasul pada abad pertama tarich Masehi. Dan perlu diketengahkan bahwa jumlah tadi tidaklah hanya “jumlah” bilangan saja, tetapi manusia-manusia yang hidup, yang ingin mengetahui nilainya dan yang haus akan pengetahuan tentang haluan hidupnya, kemana ummat Islam Indonesia juga tergolong.



Di Indonesia ini, hal yang saya utarakan itu dapat dengan terang dilihat dan dihayati. Menurut pertimbangan secara insani,  penduduk Indonesia masih terus lagi akan merupakan penduduk yang sebagian besar beragama Islam, sekalipun banyak yang sudah beralih kepada agama atau aliran lain, antara lain: agama Buddha, Komunisme, aliran kebatinan yang lepas dari Islam, ateisme dan lain-lain. Pekabaran Indjil di Indonesia, kalau demikian, masih akan terus menghadapi “challenge” Islam di negara gugusan ini...



Seluruhnya ini menunjukkan bahwa pertemuan Injil dengan Islam dalam bidang-cakup yang lebih luas sudah “dimulai”. Saya bilang “dimulai”, bukan dengan melupakan Pekabaran Injil kepada ummat Islam sejak abad jang ketudjuh, melainkan karena kalau kita perhatikan dengan seksama maka “konfrontasi” Injil dan agama-agama di dunia ini dalam bidang-cakup yang seluas-luasnya, dan dalam hal ini dengan Islam, barulah “dimulai” dewasa ini secara mendalam. Dan bagi orang-orang yang berkeyakinan atas kuasa Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roch Kudus, setiap konfrontasi seperti ini akan selalu dipandangnya sebagai undangan untuk turut mengerahkan jiwa dan raga memenuhi tugas demi kemuliaan Allah.”


*****




Membaca pemikiran tokoh Kristen Batak seperti ini, kaum Muslim Indonesia tentu memahami, bahwa sejak awal mula misi dijalankan, Gereja sudah menyiapkan diri untuk melakukan konfrontasi, khususnya dengan umat Islam. Bahkan, konfrontasi itu harus dilakukan dengan mengerahkan jiwa dan raga demi kemuliaan Tuhan.


Dalam konteks semacam inilah, barangkali kita bisa memahami, mengapa kaum Kristen senantiasa menolak  berbagai peraturan yang mengatur tatacara pendirian rumah ibadah dan penyebaran agama, meskipun peraturan itu juga menjerat kaum Muslim di daerah-daerah minoritas Muslim. 



Dalam konteks inilah kita juga memahami militansi sikap jemaat HKBP Ciketing Bekasi.  Juga, kita paham, mengapa kaum Kristen Indonesia – dari berbagai sekte dan agama – seperti bersatu dalam menyikapi kasus HKBP Ciketing  dan berusaha menyeret kasus ini ke isu “kebebasan beragama” dan “pluralisme”. Meskipun Gereja-gereja terus tumbuh bak cendawan di musim hujan, senantiasa dicitrakan, kaum Kristen adalah umat tertindas dan tidak punya kebebasan beragama di negeri Muslim terbesar ini.



Justru, yang sulit kita pahami adalah orang-orang yang mengaku beragama Islam tetapi – sadar atau tidak – telah menempatkan dirinya menjadi “jubir”  Gereja Kristen Batak, dengan imbalan meraih gelar kehormatan “Tokoh Pluralis” dan sejenisnya.



Padahal, ambisi kalangan Kristen untuk mengkristenkan Indonesia belum pernah berakhir. PadaCatatan Akhir Pekan ke-281, kita membahas ambisi dari sekelompok kaum Kristen evangelis yang memasang target tahun 2020 sebagai masa “panen raya”. Sebuah buku berjudul Transformasi Indonesia: Pemikiran dan Proses Perubahan yang Dikaitkan dengan Kesatuan Tubuh Kristus (Jakarta: Metanoia, 2003), menggambarkan ambisi dan harapan besar kaum misionaris Kristen di Indonesia tersebut. Ditegaskan dalam buku tersebut:


”Indonesia merupakan sebuah ladang yang sedang menguning, yang besar tuaiannya! Ya, Indonesia siap mengalami transformasi yang besar. Hal ini bukan suatu kerinduan yang hampa, namun suatu pernyataan iman terhadap janji firman Tuhan. Ini juga bukan impian di siang bolong, tetapi suatu ekspresi keyakinan akan kasih dan kuasa Tuhan. Dengan memeriksa firman Tuhan, kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa Indonesia memiliki prakondisi yang sangat cocok bagi tuaian besar yang Ia rencanakan.”




Inilah tekad kaum misionaris Kristen untuk mengkristenkan Indonesia. Segala daya upaya mereka kerahkan. Gereja-gereja terus dibangun di mana-mana untuk memuluskan misi mereka. Gereja-gereja dan gerakan misi terus bergerak untuk meraih tujuan, yang ditegaskan pada sampul belakang buku ini:”supaya semua gereja yang ada di Indonesia dapat bersatu sehingga Indonesia dapat mengalami transformasi dan dimenangkan bagi Kristus.”



Menghadapi serbuan kaum misionaris tersebut, seharusnya kaum Muslim tidak perlu berkecil hati. Sudah saatnya umat Islam tidak bersikap menunggu dan defensif. Mungkin sudah tiba masanya, organisasi-organisasi Islam mencetak dai-dai yang tangguh, cerdas, berani, santun, dan ramah, untuk menyadarkan para pendeta Kristen dan tokoh-tokohnya, bahwa mereka sedang memeluk keyakinan yang salah (sesat/adh-dhalliin). Ajaklah mereka untuk menyembah Allah semata-mata, tidak menserikatkan Allah dengan yang lain, dan mengakui kenabian Muhammad saw. Jangan menyatakan Allah punya anak.



Jika mereka menolak, katakanlah, kami orang-orang Muslim; kita hormati keyakinan mereka, meskipun kita tidak membenarkannya. Sebab, tugas umat Muhammad saw hanyalah menyampaikan kebenaran, bukan memaksakan. Di akhirat nanti, akan terbukti, siapa yang benar dan siapa yang salah. Sebagai Muslim, kita yakin, bahwa kita benar! [depok, September 2010]

(read more ...)




Dalam harian Jawa Pos edisi 26 Mei 1987, seorang tokoh politik senior yang diidentikan sebagai cendekiawan Muslim bahkan sering dijuluki sebagai “lokomotif reformasi politik” di Indonesia menulis, “Revolusi Iran itu sesungguhnya suatu revolusi yang berskala magnetif dan keleluasaannya melebihi revolusi modern manapun. Kalau dibandingkan dengan Revolusi Prancis yang bersemboyan liberty, egalite, faternity, maka revolusi Prancis ini masih kalah dan belum bisa dibandingkan dengan Revolusi Islam Iran.”. Kemudian tanpa berpikir jernih dan tidak berdasar analisa akurat – dan memang ia sendiri sudah menjustifikasi dirinya bahwa ia sering salah dalam berijtihad – ia melanjutkan, “Melihat semua kenyataan ini, maka pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatulloh Ruhullah Khomeini menyatakan, harus ada suatu revolusi. Dan, ia menawarkan Islam yang murni yang tidak dicampur dengan Marxisme, Sosialisme dan lain-lain. Dan, memang kenyataan revolusi ini akan berhasil.”.


Selubung Revolusi Iran


Revolusi Iran tahun 1979 adalah canangan perubahan secara radikal yang diusung oleh Khomeini untuk menggulingkan kekuasaan Shah Reza Pahlevi yang loyal kepada Barat dan berlaku tiran terhadap rakyatnya, bukan hanya kepada golongan Syi’ah, juga kepada Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang ketika itu berjumlah 10 juta-an orang (25 % dari penduduk Iran).


Karena tirani Shah dan “kata manis namun beracun” Khomeini yang ber kamuflase(taqiyah) dengan mengatakan “Di dalam sebuah negara Islam akan datang ini, tidak akan ada diskriminasi!”, yang menyebabkan Ahlus Sunnah ikut serta mengangkat senjata untuk menggulingkan Shah. Setelah itu, bukan tanda jasa yang diterima Ahlus Sunnah, pembantaian etnis (genocide) dan tindakan diskriminatif yang justru “dihadiahkan”, juga klaim dusta bahwa populasi mereka (Ahlus Sunnah) hanya 2 juta orang dan untuk mendapatkan masjid saja sulitnya minta ampun. Inilah tipuan revolusi ala Khomeini!


 


Tertipu Revolusi ala Khomeini


Walau goresan pena tokoh yang bertitel Prof.Dr. tersebut telah cukup lama dirilis dan ditulis, namun hingga kini “kekagumannya” belumlah pudar, bahkan “diwariskan dan diestafetakan” kepada anaknya yang telah resmi menjadi anggota legislatif pada pemilu 2009 yang lalu.


Meskipun dugaan kuat sementara menyatakanbahwa tokoh “sepuh” tersebut bukanlah seorang Syi’ah, namun dipastikan bahwa ia:



  1. Cenderung sepihak, karena pendapatnya hanya bersumber dari berita yang dirilis pemerintah Iran atau buku-buku Syi’ah saja;.


2. Ia lupa bahwa Timur Tengah bukan hanya Iran, masih banyak negara lainnya.


Nyatanya hingga kematian Khomeini, tidak banyak keberhasilan revolusi yang diraih, kecuali tersebarnya ajaran sesat Syi’ah dan banyaknya konflik antar faksi Syi’ah, khususnya yang terjadi akhir-akhir ini antara kubu konservatif yang diwakili Ali Khomane’i dan Presiden Ahmadinejad dengan kubu reformis yang diwakili mantan Pre-siden Khatami dan tokoh oposisi Mousavi serta beberapa cucu Khomeini sendiri;


3. Tertipu dengan isapan jempol, slogan kosongdan seruan palsu Khomeini yang dulu lantang mengumandangkan “Bukan timur…bukan Barat,hanya Islam…Islam….”;


4. Bodoh terhadap ajaran Islam, hingga lancangmempropagandakan revolusi Khomeini se-bagai Islam yang murni (apanya yang murni?).


 


Sebuah Komparasi


Salah satu klaim fatal tokoh di atas adalah kebodohan dan ketidakmengertiannya terhadap hakekat Islam yang murni (baca Ahlus Sunnah wal Jama’ah) yang “diserupakan” dengan revolusi sesat ala Khomeini. Padahal antara keduanya ter-dapat jurang perbedaan yang sangat jauh sekali!


Berikut perbandingan singkat antara Islam yangmurni dan Islam palsu ala Khomeini:



  1. Islam yang murni tegak di atas Tauhid, yaitumengesakan Alloh swt dengan semurni-mur-ninya.


Sedangkan Islam palsu ala Khomeini berdiri


di atas syirik ala Persia dan paganisme ala Majusiyang membanggakan penyembahan kepada api.


2. slam yang murni hidup di atas Ittiba’, yaitumeneladani Rosululloh saw dengan jujur.


Sedangkan Islam palsu ala Khomeini berge-limang dengan bid’ah yang sesat-menyesatkan, yaitu perpaduan “campur sari” ajaran sesat ‘Abdulloh bin Saba’ dengan filsafat batil Majusi dan “ramuan” kesesatan lainnya.


3. Islam yang murni eksis di atas sumber yang benar;al-Qur’an, as-Sunnah dan al-Ijma’.


Sedangkan Islam palsu ala Khomeini eksis de-ngan mengacak-acak al-Qur’an, membuat Qur’antandingan, menghancurkan as-Sunnah dan tidak percaya kepada ijma’, spesifiknya ijma’ para sahabat Rosululloh saw.


4. Islam yang murni bersinergi dengan pemaha-man yang benar, yaitu pemahaman para sahabat rdm.


Sedangkan Islam palsu ala Khomeini bersinergidengan sumber kesesatan dan pemahaman sesat yang  dengan lancang bahkan mengkafirkan para sahabat rdm, kecuali hanya beberapa orang saja.


 


Ke-sok-Islami-an Khomeini


Sutradara Revolusi Iran


Berikut testimoni Dr. Musa al-Musawi yang pernah menjadi “orang dekat” Khomeini terhadap ke-sok-Islami-an Khomeini yang berlaku tiran dan bertindak diktator yang oleh tokoh politik Indo-nesia di atas dianggap sebagai “penggiat” Islam yang murni:



  1. Khomeini mengidentikkan Islam sebagai aga-ma pendengki, suka berperang dan hausme-numpahkan darah.


Khomeini menyatakan, “Islam dimulai dengankucuran darah dan semua masalah takkan beres tanpa mengucurkan darah sebanyak-banyaknya.”.


Sejak awal berdirinya hingga kini, Republik Iran melakukan kebijaksanaan pemimpin besar-nya dengan paket membunuh rakyat yang tak berdosa, meneror dan memerangi negara-negara tetangganya, membantai golongan minoritas yang menuntut haknya dan membantai politisi yang menentang kebijakan rezimnya.


2. Khomeini mengidentikkan Islam sebagai aga-ma tiran yang memberangus hak asasi dan kebebasan.


Hal ini terlihat dari pernyataannya, “Akan ku-potong lidah siapa pun yang bernada anti republik.”.


3. Khomeini mengidentikkan Islam sebagai aga-ma yang tidak mengenal keadilan dan kasih sayang.


4. Khomeini mengidentikkan bahwa Islam ada-lah perampok harta benda milik umat.


Hal ini telah dipraktekkan pada rezimnya, dimana ia berkata, “Harta benda para hartawan itu berasal dari uang haram, wajib dirampas untuk mashlahat kaum lemah.”.


Kenyataannya, harta hasil rampasan tersebut“hanya” digunakan sebagai dana segar untuk me-numpas lawan-lawan politiknya.


5. Pada rezimnya, Khomeini mengidentikkan Islam sebagai agama dustadan tipu daya.


Pemimpin revolusi Iran ini telah melakukankebohongan kepada dunia, khususnya kaum Mus-limin. Mereka mengklaim anti Israel dan Amerika. Namun, di balik klaim tersebut, mereka menjalin kerja sama “mesra” dengan Zionisme Israel Inter-nasional dan Amerika secara rahasia. Kini, “propa-ganda usang” ini masih getol digalakkan namun masih banyak juga tokoh yang tertipu.


6. Pada masa rezimnya, Khomeini telah meng-identikkan bahwa Islam sebagai agama mata-mata dan fitnah.


Khomeini memerintahkan agar para bapak memata-matai anaknya, begitu juga para ibu, antara tetangga terhadap tetangga lainnya, dan seorang anak terhadap saudara-saudaranya.


7. Khomeini telah mengidentikkan Islam sebagaiagama caci maki dan melempar tuduhan de-ngan kata-kata kotor.


Khomeini sangat mendukung Departemen Penerangan Republik Iran yang selalu mencerca tokoh-tokoh Islam negara Arab serta tokoh-tokoh Iran yang menentang rezimnya, dan yang lebih keji tentu saja terhadap para sahabat Rosululloh saw.


8. Khomeini telah mengidentikkan Islam sebagaiagama firqoh penuh ikhtilaf.


Khomeini bahkan sangat merestui tindakan mengintimidasi tokoh-tokoh Islam dengan ekspor revolusi ke negara mereka masing-masing.


Demikianlah historisitas, akar kronologis danhakekat dari Revolusi Iran ala Khomeini yang “berhasil” “meruntuhkan kemurnian Islam”, “mengganyang kebenaran”, “memberangus kemu-liaan” dan “menipu” banyak tokoh.


Waspada, deteksi dan berhati-hatilah wahai kaum Muslimin..!! Serta jangan lupa untuk meng-gali, mengkaji dan dan pelajari Islam yang murni, Ahlus Sunnah wal Jama’ah..!!


*hasmi.org

(read more ...)




MALAYSIA (Arrahmah.com) Siapa yang tidak kenal Ary Ginanjar dengan ESQnya ? Lembaga training SDM bernuansa multi media ini cukup popular di kalangan kaum Muslimin. Selain selalu menghadirkan training-training wah yang dikemas dengan teknologi canggih, Ary Ginanjar dengan ESQnya juga dikenal progresif dengan membangun pusat kegiatannya di jalan TB Simatupang Jakarta dengan nama Menara 165. Kini, Ary Ginanjar dengan ESQnya di fatwa sesat oleh Mufti Malaysia karena dianggap merusak aqidah dan menghina Nabi SAW. Benarkah ?


 


Mufti Malaysia Fatwa ESQ Sesat


Ini sebuah berita menghebohkan bagi kaum Muslimin Indonesia, utamanya yang ikut training-training ESQnya Ary Ginanjar. Baru-baru ini, sebuah fatwa dari Mufti wilayah persekutuan Malaysia telah menilai ESQ sesat dan harus dihindari. Melalui kajian, akhirnya mereka memutuskan bahwa ajaran ESQ yang mengusung ide 7 Budi Utama dan bercita-cita akan menuju Indonesia Emas pada tahun 2020 ini, difatwakan sesat berdasarkan sebuah fatwa tertanggal 10 Juni 2010.


Dalam fatwanya Mufti wilayah persekutuan Malaysia menjelaskan alasan kesesatan ESQ Ary Ginanjar, berikut ringkasan fatwanya:



  • ESQ mendukung paham liberalisme yang menafsirkan nash-nash agama (al-quran dan sunnah) secara bebas.

  • ESQ menuduh para Nabi mencapai kebenaran melalui pengalaman dan pencarian dan ini bertentangan dengan aqidah Islam tentang Nabi dan Rasul.

  • ESQ mencampuradukkan ajaran spritual bukan Islam dengan ajaran spiritual Islam.

  • ESQ menekankan konsep suara hati sebagai rujukan utama dalam menentukan baik atau buruknya sebuah perbuatan.

  • ESQ menjadikan logika sebagai sumber rujukan utama.

  • ESQ mengingkari mukjizat karena dianggap tidak dapat diterima akal.

  • ESQ menyamakan bacaan Al-fatiha sebanyak 17 kali dalam shalat dengan ajaran Bushido Jepang yang berlatar belakang ajaran Buddha.

  • ESQ menafsirkan kalimat syahadat dengan "triple one".


Demikian ringkasan singkat fatwa Mufti wilayah persekutuan Malaysia yang ditandatangani oleh Datuk Hj. Wan Zahidi bin Wan Teh yang merupakan mufti resmi wilayah persekutuan Malaysia.


Sebenarnya beberapa waktu lalu telah ada yang menuduh ESQ sesat di Indonesia. Pada sebuah sesi tanya jawab dalam sebuah acara dari salah satu radio di Bekasi, seorang ustadz yang mengisi acara tersebut ditanya oleh pendengar yang meminta tanggapan ustadz tersebut tentang training ESQ. Dengan sangat mengejutkan sang ustadz tersebut membeberkan kesesatan ESQ menurut yang ia pahami dan poin-poin yang ia anggap sesat itu agak mirip dengan apa yang difatwakan oleh mufti Malaysia ini.


Sampai berita ini diturunkan dari situs-situs ESQ belum ada tanggapan terkait fatwa Mufti Malaysia ini yang menyesatkan ajaran ESQ tersebut.


Sesat Karena Merusak Aqidah dan Menghina Nabi SAW


Tentu saja fatwa Mufti Malaysia tersebut membuah heboh kaum Muslimin di Indonesia. Maklum, ESQ dan Ary Ginanjar sudah terlanjur menjadi icon training Islam dengan teknologi canggih multi medianya.


Sebelumnya, ESQ yang berpusat di menara 165 jalan TB Simatupang Jakarta selatan dan digawangi oleh Ary Ginanjar Agustian, telah berhasil mentraining puluhan ribu orang dengan konsep keseimbangan antara Emosi, Spiritual dan intelektual.


Menurut ESQ sendiri dijabarkan bahwa ESQ adalah pelatihan sumber daya manusia yang bertujuan untuk membentuk nilai moral dan karakter manusia, melalui penggabungan 3 potensi yang ada di manusia yaitu kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.


Selama ketiga potensi manusia tersebut terpisah dan tidak didayagunakan dengan baik dan maksimal maka menurut kajian ESQ manusia akan terjadi krisis moral dan split personality. Dan lebih buruk lagi manusia yang tidak dapat mendayagunakan ketiga potensi itu maka manusia tersebut akan kehilangan makna hidup serta jati dirinya. Begitu kutipan yang menjelaskan apa itu ESQ secara singkat.


Sementara itu, Mufti Malaysia itu ditandatangani oleh Mufti wilayah persekutuan Malaysia, Datuk Hj. Wan Zahidi bin Wan Teh tanggal 10 Juni 2010, dan dirilis dalam situs resmi pemerintah Malaysia www.muftiwp.gov.my, Rabu (7/7/2010). Oleh Mufti Malaysia, ESQ dianggap ajaran yang dapat merusak akidah serta syariah Islam.


Ciri-cirinya, menurut Mufti Malaysia adalah, ESQ mendukung paham liberalisme karena menafsirkan Al-Quran dan As-Sunnah secara bebas. ESQ mengajarkan bahwa pada dasarnya ajaran seluruh agama adalah benar dan sama.


ESQ mendukung paham liberalisme karena menafsirkan Al-Quran dan As-Sunnah secara bebas


ESQ juga dianggap menuduh para Nabi mencapai kebenaran melalui pengalaman dan pencarian. Ini sangat bertentangan dengan akidah Islam soal Nabi dan Rasul.


ESQ dituduh telah mencampuradukan ajaran kerohanian bukan Islam dengan ajaran Islam. Mufti juga melihat jika ESQ menekankan konsep suara hati sebagai rujukan utama dalam menentukan baik buruk suatu perbuatan.


...ESQ juga dianggap salah karena telah menjadikan logika sebagai rujukan, bukannya Al-Quran dan Hadits...


ESQ juga dianggap salah karena telah menjadikan logika sebagai rujukan, bukannya Al-Quran dan Hadits. ESQ juga dianggap mengingkari mukjizat karena bertentangan dengan keadaan zaman sekarang yang serba logik, dan tidak dapat diterima akal.


ESQ dinilai salah karena menggunakan kode 19 rekaan dari Rasyad Khalifah untuk menafsirkan Al-Quran. Rasyad Khalifah mengaku sebagai rasul dan membawa agama baru yang dinamakan submission. Teori ini bahkan dipandang lebih tinggi dibanding Al-Quran.


...ESQ menyamakan bacaan Al-Fatihah sebanyak 17 kali oleh orang Islam dengan ajaran Bushido Jepang. Ini adalah tafsiran sesat...


ESQ menyamakan bacaan Al-Fatihah sebanyak 17 kali oleh orang Islam dengan ajaran Bushido Jepang. ESQ dianggap telah menafsirkan makna kalimat syahadat dengan "triple one". Menurut Mufti, itu adalah tafsiran sesat.


Dalam laman facebook yang dibuat oleh pengikut ajaran Ary, salah seorang juga sempat menanyakan soal fatwa Mufti ini. Account dengan nama FKA ESQ 165 - Samarinda Kukar tersebut meminta tanggapan dari pengikut yang lain terkait fatwa Mufti.


...ESQ juga dianggap menuduh para Nabi mencapai kebenaran melalui pengalaman dan pencarian. Ini sangat bertentangan dengan akidah Islam soal Nabi dan Rasul...


Hingga kini Ary Ginanjar belum bisa dihubungi. Dia masih berada di luar negeri. Sedangkan sekretarisnya, Susi, tidak mau mengomentari fatwa ini. Dalam situs resmi ESQ juga belum ada tanggapan terkait fatwa Mufti Malaysia yang menyesatkan ajaran ESQ.


Kini, kaum Muslimin di negeri ini tinggal menunggu klarifikasi dari sang pemimpin ESQ, Ary Ginanjar. Dapatkah Ary Ginanjar memberikan jawaban dan hujjah yang kuat sesuai Al Quran dan As Sunnah bahwa ajaran trainingnya ESQ tidak sesat dan menyesatkan. Wallahualam bis showab!


(M Fachry/arrahmah.com/berbagai sumber)


(read more ...)



JAKARTA (Arrahmah.com) - Masalah fatwa sesat ESQ masih terus bergulir. Setelah sebelumnya ESQ memasang iklan satu halaman penuh di Republika (13/7) di halaman 25, kini giliran Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pasang iklan seperempat halaman di koran yang sama (20/7). DDII bantah ikut mengeluarkan rekomendasi untuk ESQ. Bagaimana akhir kasus fatwa sesat ESQ ini?


DDII Tidak Pernah Keluarkan Rekomendasi


Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) mengatakan tidak pernah secara resmi mengeluarkan rekomendasi apapun tentang pelatihan ESQ. Hal ini disampaikan DDII secara resmi dan terbuka dalam sebuah iklan seperempat halaman yang menghiasi Republika, (20/7).


Sebelumnya, di harian Republika (13/7) di halaman 25, DDII disebut pernah memberikan rekomendasi menyangkut pelatihan ESQ. Klarifikasi akhirnya diberikan oleh ketua DDII, Ustadz Syuhada Bahri. Dalam pernyataan yang ditandatangani beliau dan dan Sekretaris Umumnya, H. Abdul Wahid Alwi, MA, DDII mengatakan, tidak pernah secara resmi mengeluarkan rekomendasi/pernyataan apapun tentang pelatihan ESQ.



DDII juga mengatakan, pernyataan atau ungkapan yang dimuat di harian tersebut bukan merupakan pernyataan resmi DDII. Saat ditanya apakah ada sanski kepada oknum anggotanya yang telah memberikan surat dukungan berkop DDII tersebut, Syuhada mengatakan tak ada sanksi.



"Tak sampai sanksi lah, mungkin beliau waktu itu hanya khilaf saja, " ujarnya.


Ustadz Syuhada Bahri: Ini Sebagai Pelurusan Berita



Ketika ditanya mengapa DDII harus pasan iklan besar menyangkut soal berita dukungan kepada ESQ, Ustadz Syuhada Bahri menjawab :



"Ini pelurusan berita, sebab kami juga mendapat banyak telpon yang mempertanyakan masalah ini, "


Menurutnya, sejak lembaga ESQ difatwakan sesat  oleh Mufti Wilayah-Wilayah Persekutan, Datuk Hj. Wan Zahidi, DDII mendapatkan dampaknya, diantaranya adalah

munculnya berbagai pertanyaan dari para jamaahnya di seluruh Indonesia.



"Ini pelurusan berita, sebab kami juga mendapat banyak telpon yang mempertanyakan masalah ini, " ujar beliau.


Menurut Ustadz Syuhada, langkah memasang iklan ini dilakukan untuk mengclearkan berbagai pertanyaan yang ditujukan ke DDII seputar ESQ.



Sebagaimana diberitakan sebelumnya, DDII dikabarkan ikut mengeluarkan rekomendasi dan pernyataan tentang pelatihan ESQ. Namun, Ustadz Syuhada Bahri membantah, bahwa lembaga ini tak pernah memberikan rekomendasi atau pernyataan apapun tentang ESQ sebagaimana pernah dimuat di salah

satu media Jakarta.


(M Fachry/arrahmah.com)

(read more ...)



Dari sebuah milis dikabarkan bahwa Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) akan membentuk Tim Peneliti tentang ESQ yang diketuai oleh Dr. Adian Husaini. Tim ini diminta melakukan kajian yang serius, komprehensif, dan adil terhadap ESQ. Sambil menunggu hasil kerja tim DDII ini, mari kita kaji tulisan tentang ESQ dan Pluralisme agama yang ditulis oleh mahasiswa Program Doktor Pendidikan Islam PKU-DDII Universitas Ibn Khaldun, Bogor, sebagaimana yang dimuat dalam nahimunkar.com


ESQ DAN PLURALISME AGAMA[1]


Oleh Dinar Dewi Kania dan Aji Jumiono,


mahasiswa Program Doktor Pendidikan Islam PKU-DDII Universitas Ibn Khaldun, Bogor.


A. PENDAHULUAN


Persoalan pokok kehidupan masyarakat di Indonesia dan berbagai belahan dunia lainnya pada umumnya adalah dominasi paham sekularisme yang didorong oleh kehidupan yang serba materialistis. Di banyak negara maju, banyak orang yang terkategori sukses dalam kariernya namun ia merasa tidak bahagia. Setelah sukses ternyata ia hanya menjadi budak waktu yang bekerja untuk memenuhi tuntutan para mitra dan kliennya. Keberhasilannya hanya menjadi "penjara" bagi dirinya. Mereka tidak bahagia dengan kesuksesannya. Umumnya mereka menyadari telah menaiki tangga yang salah justru setelah mencapai puncak tertinggi dari anak tangga kariernya. Pada akhirnya, uang yang berlimpah, harta, pangkat, kedudukan dan penghormatan bukanlah sesuatu yang mereka cari selama ini. Hal ini menjadi suatu penyakit baru yang dinamakan dengan spiritual pathology atau spiritual illness.


Fenomena tersebut melahirkan pelatihan spiritual di kalangan eksekutif dan staf perusahaan ternama baik di dalam maupun di luar negeri. Misalnya saja dalam buku Megatrend 2000 (John Naisbit dan Patricia Aburdene) menyampaikan bahwa telah 67.000 pegawai Pacific Bell di California telah mengikuti pelatihan spiritual ala New Age. Demikian pula pegawai P&G, Ford Co, AT&T, General Motors, GE, Johnson&Johnson, Motorolla dan IBM dan lain-lain. Perkembangan pelatihan spiritual di perusahaan-perusahaan Indonesia baik swasta maupun milik pemerintah juga mengalami fenomena yang sama. Sampai tahun 2008 saja telah lebih dari 600.000 orang eksekutif telah mengikuti pelatihan ESQ.Saat ini ESQ seolah menjadi ikon paradigma baru dalam menjalani kehidupan yang penuh turbulensi bagi para professional dan next generation negeri ini. Target dengan adanya ESQ dapat menjadi panduan surfing di samudera kehidupan, senantiasa online dengan pusat kehidupan hakiki, hidup inline dengan garis orbit kehidupan yang sesungguhnya, dan istiqomah tetap berpusat pada kiblat dan garis edar yang benar saat offline.


Namun masyarakat dikejutkan oleh keluarnya fatwa haram dari mufti Malaysia di wilayah persekutuan yang mecakup Kuala Lumpur, Putrajaya dan Labuan, berdasarkan Warta Kerajaan: Seri Paduka Baginda, Jilid 54, no. 12, tanggal 17 Juni 2010. Beberapa alasan pengharaman tersebut salah satunya dalam poin pertama (i) mendukung paham liberalisme atau menafsirkan nash-nash agama (al-Quran dan Sunnah) secara bebas, dan paham Pluralisme agama yaitu paham yang mengajarkan semua agama adalah sama dan benar. Kedua-dua paham ini sesat dan boleh membawa kepada kekufuran.


Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana sebenarnya konsep ESQ dan apakah dalam konsep tersebut teradapat ide-ide pluralisme agama sebagaimana difatwakan oleh mufti Malaysia di wilayah persekutuan.


B. PELATIHAN ESQ


ESQ memposisikan diri sebagai lembaga pelatihan dan pengembangan Sumber Daya Manusia. Dalam profil ESQ yang dikutip pada situs ESQ dinyatakan bahwa ESQ adalah lembaga training independen di bidang SDM yang menggunakan metode "ESQ Way 165". Lembaga ini bukan lembaga dakwah, politik, agama, LSM maupun ormas, namun ESQ seperti oksigen yang tidak berwarna dan netral. Dengan falsafah ini Tim ESQ berharap dapat diterima oleh komunitas manusia universal sesuai dengan konsep God Spot yang juga memberikan anggukan universal pada setiap manusia.


Dalam pengantar buku ESQ Ary Ginanjar menuliskan kata-kata Emha Ainun Nadjib saat konser kenduri cinta di Senayan Jakarta :


Kalau di dalam buku ini ada Rukun Iman dan Rukun Islam,


Bukan berarti ekslusifisme aliran atau agama,


Tapi keinginan untuk menyampaikan kebenaran.


Kalau di dalam buku ini ada Al Quran,


Itu bukan untuk golongan


Tapi untuk seluruh umat manusia


Bukan Al Quran untuk Islam


Bukan dunia untuk Islam


Tapi Al Quran dan Islam untuk dunia


Pelatihan ESQ menjadi suatu pelatihan spiritual yang dikenal banyak menjangkau kalangan eksekutif. Pelatihan ESQ ini diklaim memadukan prinsip asas dalam Islam, yaitu Rukun Iman, Rukun Islam dan Ihsan serta kaidah-kaidah yang tidak bertentangan dengann Islam. Pelatihan ini dianggap [ menjadi fenomena dan harapan baru karena selama ini modul pengembangan sumberdaya manusia, manajemen, kepemimpinan, dan psikologi umumnya menggunakan rujukan Barat yang dikenal sekuler, tetapi ESQ memberikan penawaran alternatif sebuah pelatihan yang berlandaskan nilai-nilai Islam sebagai penyelesaian masalah di tempat kerja, sekolah, universitas dan di dalam institusi keluarga. Menurut mereka, pelatihan yang telah diikuti lebih dari 850 ribu orang ini selama ini menjadi alternatif pengembangan SDM dari yang selama ini menggunakan teori-teori pengembangan SDM dari Barat[6].


Tujuan pelatihan ESQ ini para peserta disadarkan akan makna kebahagiaan hakiki yang sesuai dengan fitrah manusia, sehingga dalam training ESQ dan sejenisnya tak jarang dijumpai isak tangis terdengar di segenap sudut ruang, dan kemudian puluhan atau bahkan ratusan peserta training itu tenggelam dalam raungan tangis, dalam sembilu kepedihan dan penyesalan atas segenap dosa yang telah mereka perbuat selama ini. Misalnya saja dalam salah satu segmen training ESQ atau training sejenisnya yang mengusung tema tentang spiritualitas dan etos kerja. Ribuan peserta - termasuk para pejabat BUMN dan pemerintah daerah - telah mengikuti training itu, dan ribuan orang itu selalu tenggelam dalam apa yang saya sebut sebagai momen pengakuan dosa massal dalam haru biru penuh tangisan penyesalan.


C. KONSEP ESQ


Dalam bukunya, ESQ menyatakan memadukan rukun iman dan rukun Islam. Konsep ini begitu fenomenal mengingat konsep-konsep manajemen diri dan publik saat konsep ini dicetuskan (sekitar tahun 2000) tengah berkembang pesat teori kepribadian dan pengembangan diri yang berasal dari barat seperti konsep Seven Habits dari Stephen Covey. Publik pun memberikan banyak harapan konsep yang bermuara pada ajaran Islam ini dapat mengimbangi bahkan menggantikan konsep Barat tersebut.


Dalam pengantar buku ESQnya, Ary Ginanjar menuliskan sebagai berikut :


Memang nyata-nyata terbukti bahwa konsep rukun iman dan rukun Islam yang dilahirkan kurang lebih 1400 tahun silam adalah konsep kemenangan pribadi dan kemenangan publik saat ini yang begitu populer di seluruh dunia. Berbagai teori barat tentang konsep kemenganan pribadi dan publik yang ada justru semakin membenarkan konsep rukun Iman dan Rukun Islam. Manusia harus memiliki konsep duniawi atau kepekaan emosi dan intelegensia yang baik (EQ plus IQ) dan penting pula penguasaan ruhiyah vertikal atau spiritual quotient (SQ). Dan merujuk kepada istilah bi-dimensional tersebut, sebuah upaya penggabungan terhadap ketiga konsep tersebut dilakukan. Lewat sebuah perenungan yang panjang, saya mencoba untuk melakukan sebuah usaha penggabungan dari ketiganya dalam bentuk konsep ESQ (Emotonal Spiritual Quotient) yang dapat memelihara keseimbangan kutub akhirat dan kutub keduniaan. Melalui ESQ akan dibangun suatu prinsip hidup dan karakter berdasarkan Rukun Iman dan Rukun Islam, sehingga akan tercipta suatu kecerdasan emosi dan spiritual sekaligus langkah pelatihan yang sistematis dan jelas. Pada akhirnya akan terbentuk suatu pemahaman visi, sikap terbuka, integritas, konsisten dan kreatif yang didasari atas kesadaran diri serta sesuai dengan suara hati yang terdalam yang pada akhirnya akan menjadikan Islam tidak hanya sebatas agama ritual tetapi juga sebagai "the way of life".


Konsep utama dari ESQ adalah Zero Mind Process (ZMP) sebagai proses penjernihan emosi sehingga mecapai God Spot atau fitrah , 6 asas atau orbit untuk membangun mental, dan 5 prinsip untuk membangun kekuatan pribadi dan sosial ( personal and social strenght). Konsep tersebut kemudian dipatenkan sebagai ESQ model, sebagaimana gambar di bawah ini :


Menurut Ary Ginanjar, ESQ model adalah sebuah mekanisme sistematis untuk me-"manage" ketiga potensi manusia, yaitu body, mind dan soul, dalam satu kesatuan yang integral. Gambar ESQ Model menunjukan enam asas yang berfungsi untuk melindungi pusat orbit, dalam hal ini adalah God Spot. Keenam asas ini berfungsi menjaga agar fitrah di pusat tetap utuh terpelihara. Dan karaktakteristik dari keenam asas ini sesuai dengan sifat dasar manusia (human nature), sejalan dengan hati nurani, dan kehendak alam sebagai cerminan dari kehendak Allah yang Maha Kuasa. Keenam asas tersebut menggambarkan rukun iman. Sedangkan lima lingkaran terluar mengorbit pada titik Tuhan (God Spot) yang menggambarkan rukun Islam.


Konsep dasar ESQ diawali dengan God Spot yang berupa anggukan universal. Anggukan universal ini disebut juga dengan suara hati. Semua manusia sama dalam rasa ingin memberi, kasih sayang, ingin maju, mengetahui, ingin bersih, memelihara, menolong, melindungi dan menyukai yang indah. Konsep God Spot ini disebut fitrah atau suara hati yang sama pada setiap manusia. Ary Ginanjar menafsirkan surat Al-Araf ayat 172 tentang adanya perjanjian antara Allah dengan ruh manusia sebagai bukti adanya anggukan universal. Ia mencontohkan dengan adanya persetujuan ketika mendengar atau melihat suatu perbuatan baik seperti menyaksikan film bermutu atau membaca buku bermutu, mendengar percakapan yang berkualitas dan lain-lain.


Ary Ginanjar mempersamakan emosi dengan nafs amarah dan berperan sebagai radar hati . Emosi memiliki dua kondisi kategori yaitu in-line dan offline dari radar orbit. In-line yaitu ketika emosi sesuai dengan hati nurani (God Spot) dan offline ketika tidak sesuai dengan hati nurani. Sedangkan suara hati spiritual adalah nafs mutmainnah. ZMP dapat dicapai melalui penjernihan pikiran manusia sehingga manusia terbebas dari virus dan bakteri belenggu-belenggu negatif yang terbentuk oleh persepsi dan paradigma. Belenggu-belenggu tersebut adalah prasangka negatif, pengaruh prinsip hidup, pengaruh pengalaman, pengaruh kepentingan, pengaruh sudut pandang, pengaruh pembanding, dan pengaruh literatur.


Nilai spiritual menurut Ary Ginanjar adalah "nilai-nilai yang berlaku dan diterima oleh semua orang, yang sesuai dan bisa diterima dalam skala lokal, nasional dan regional ataupun internasional." Dijelaskan lebih lanjut bahwa nilai tersebut harus tetap berada pada orbit spiritual yang dapat diterima oleh seluruh penduduk bumi bahkan penduduk langit, yang merupakan nilai puncak atau "ultimate value". Nilai ini merupakan prinsip-prinsip yang dapat diterima dalam bahasa bulan, matahari, bintang dan jiwa manusia yang memiliki fitrah tertinggi.


Lalu ia menambahkan,


Yang kita cari adalah nilai kebenaran tertinggi, nilai keadilan tertinggi, nilai cinta dan kasih tertinggi, nilai kesetiaan tertinggi, dan nilai kejujuran tertinggi, yang tidak lagi dibatasi lagi oleh perbedaan manusia. Lalu apakah pusat orbit yang mampu menghasilkan ini semua ?


Manusia menurut konsep ESQ adalah makhluk spiritual murni, yaitu makhluk yang ditiupkan ruh-ruh spiritual ke dalam tubuh manusia. Sifat-sifat tersebut kemudian dipadukan ke dalam materi konkret berupa tubuh atau jasad manusia yang terbuat dari tanah. Pendapat ini dibuktikan dengan adanya penemuan ilmiah SQ (Spiritual Quotient) di California University oleh V.S Ramachandran pada tahun 1997, lalu God Spot oleh Michael Persinger, Wolf Singer, dan Rudolfo Llinnas tentang osilasi saraf spiritual. Para ahli tersebut diatas berhasil membuktikan bahwa manusia memiliki makna tertinggi kehidupan manusia (The Ultimate Meaning).


Ary Ginanjar menegaskan bahwa penemuan God Spot pada manusia lebih meyakinkan pendapat ini, karena akan senantiasa mencari Tuhan-nya, yaitu melalui sifat-sifat-Nya, yang selalu diidam-idamkan manusia dan sekaligus merupakan bukti kepekasaan Allah, penghambaan serta penghambaan manusia. Ia juga menambahkan bahwa hal ini yang dinamakan proto kesadaran yang terdeteksi pada osilasi 40 Hz oleh Pare dan Llinas. Dengan bermodalkan Spritual Quotient (SQ), manusia mengabdi kepada Allah untuk mengelola bumi sebagai khalifah dan misi utamanya semata-mata mencari keridhaan Allah, target utamanya adalah menegakan keadilan, perdamaian dan kemakmuran. Langkah nyatanya berupa spiritualisasi di segala bidang. Inilah yang menurutnya The Ultimate Meaning sesungguhnya, yang harus dicari oleh Danah Zohar, dan yang harus dicari oleh Abraham Maslow, yaitu aktualisasi diri melalui Ihsan.


Ary Ginanjar juga menciptakan 33 spiritual capital atau collective unconscious yang menciptakan nilai-nilai (value) serta dorongan dari dalam (drive). Sifat-sifat ini menurutnya termasuk kategori ihsan, atau menuju sifat-sifat Allah (taqarub), yang terletak pada spiritual center (God Spot). Nilai-nilai tersebut diikhtisarkan dari 99 Asmaul Husna yang merupakan proto kesadaran yang terdeteksi pada osilasi Pare-Llinas, yang dianggap sebagai arketipe oleh Zohar, yang diduga sebagai super-ego oleh Freud, self-actualization oleh Maslow,


unconscious-mind oleh Carl Jung, dan dinamakan "makna hidup" oleh Frankl. Ia lalu menamakan nilai-nilai ini sebagai Asmaul Husna Value Sistem (AHVS) yang menghasilkan ultimate value dan ultimate drive.


D. KONSEP PLURALISME AGAMA


Plularisme agama (religious pluralism) adalah sebuah paham (isme) tentang bagaimanana melihat keberagaman dalam agama-agama yang begitu banyak dan beragam. Gagasan ini mulanya tidak dikenal dalam teologi resmi Gereja, namun pihak Kristen kemudian menggunakan paham ini untuk kepentingan mereka dalam penyebaran globalisasi dan westerenisasi. Dalam konsep pluralime agama terdapat pengakuan terhadap eksistensi the one Universal God (uhan Universal God), atau adanya kesamaan tuhan dalam level esoteris sebagaimana teori trancendent unity of Religions yang digagas oleh Frithjof Schuon.


John Hick sebagai salah satu tokoh utama pluralisme agama, melontarkan gagasan pluralismenya dengan the transformation from religion centered to God-centredness atau transformasi dari pemusatan agama menuju pemusatan Tuhan. Sehingga dua konsep kunci dalam pluralisme adalah konsep "agama" dan konsep "tuhan". Hick menggantikan terminologi Tuhan menjadi The Real yang kemudian dibekan menjadi the "the Real an sich" atau the noumenal Real ( esensi), dan "the phenomenal Real" yaitu Zat yang nyata sebagaimana yang tampak oleh manusia melalui kacamata-kacamata tradisi dan agama-agama yang berbeda. The phenomenal Real menyebabkan manusia memiliki tuhan yang dinamakan secara berbeda sesuai kacamata traditisional dan kultural manusia seperti Yahweh, Trinitas, Allah, Krisna, Wisnu, Siwa. Menurut hipotesa Hick seharusnya yang menjadi titik pusat dan pangkal keselamatan/pembebasan/ pencerahan satu-satunya adalah the noumenal Real, yang merupakan realitas ketuhanan yang absolut, tunggal dan tak terbatas oleh segala macam ungkapan, konsepsi, dan pemahaman atau komprehensi manusia.


Hick mencoba menjustifikasi tesisnya dengan menggunakan teori revolusi Copernican. Menurut Hick, dikutip dari Anis Malik Toha :


Kini revolusi Copernican dalam astronomi terjadi karena sebuah transformasi dalam cara manusia memahami alam dan posisi mereka di dalamnya. Transformasi ini melibatkan suatu pergeseran dari dogma bahwa bumi adalah pusat dari alam yang berputar mengelilinginya menuju sebuah pemahaman bahwa mataharilah sesungguhnya yang berada di pusat, dan semua planet, termasuk bumi kita, berak mengelilinginya. Dan Revolusi Copernican yang diperlukan dalam teologi melibatkan sebuat tranformasi yang sama radikalnya berkenaan dengan alam agama-agama dan tempat atau posisi agama kita sendiri di dalamnya. Ia melibatkan dogma bahwa Kristen berada di pusat menuju pemahaman bahwa Tuhanlah yang berada di pusat, dan semua agama-agama manusia, termasuk agama kita berputar di sekelilingnya.


Hick memprediksi bahwa secara gradual akan terjadi converging course (konvergensi cara-cara beragama) yaitu adanya agama lintas kultural dan inklusif yang dikemas dalam ide global theology. Agama baru ini menurutnya akan banyak menolong manusia modern dan dapat membangun kehidupan bersama yang toleran, penuh kedamaian, kesetaraan.


E. PEMBAHASAN


Sebagaimana telah dijelaskans sebelumnya bahwa Inti pokok konsep pluralisme adalah pertama; konsep tentang "agama" yang dianggap sebagai himpunan tradisi kultural, kedua ; konsep "penyatuan Tuhan". Konsep God-centeredness ini mengakui adanya "the one universal God pada level esoteris atau transenden yang menjadi landasan gagasan penyatuan agama-agama (the transcendent unity of religion). Jika melakukan perbandingan secara langsung dengan mencari definisi tentang "agama dan "tuhan" dalam buku ESQ, maka tidak akan ditemukan pembahasan mengenai masalah tersebut.


Namun dalam buku ESQ banyak digagas mengenai konsep nilai universal yang merupakan ultimate value yang disebut suara hati yang berasal dari suara Tuhan dan merupakan pusat orbit manusia. Justifikasi ESQ diperoleh dari teori God Spot atau titik tuhan yang ditemukan oleh V.S. Ramachandran dan dikembangkan oleh Danah Zohar dan lain-lain. Dalam membangun teori pluralisme agama, Hick menggunakan teori revolusi Copernican sebagai hujjah ilmiah penguat ide-idenya dengan Tuhan sebagai pusat orbit dan agama-agama sebagai planet yang mengelilinginya. Apakah suatu kebetulah jika ESQ juga menggunakan pergerakan planet mengelilingi matahari sebagai model konseptualnya ?


Dalam buku ESQ juga ditemukan pernyataan bahwa suara hati merupakan sumber kebenaran. Suara hati muncul karena keadaan zero (0) atau berserah diri pada Allah (E), sehingga tidak menutupi potensi spiritual (S) yang terletak pada God Spot, pada akhirnya kecerdasan spiritual (SQ) bekerja normal (+). Lalu dijelaskan bahwa pusat keseimbangan manusia ada ketika berjalan sesuai orbit yang berpusat pada God Spot. God spot itu sumber nilai-nilai spiritual yang berlaku universal tanpa memandang perbedaan manusia dan sesuai dengan hukum alam. Untuk mencapai nilai-nilai fitrah atau God spot harus melalu proses berpikir zero (ZMP) artinya berserah diri pada Allah.


Pertanyaannya, jika nilai-nilai tersebut universal, apakah nilai-nilai tersebut berasal dari tuhan universal ? pada tuhan siapa kepasrahan harus diberikan pada kondisi Zero ? apakah orang yang memiliki kepercayaan berbeda-beda juga dapat mencapai kondisi zero ? karena Allah adalah Nama Tuhan yang hanya terdapat dalam ajaran Islam. Konsep Tuhan dalam Barat sangat rancu begitu juga dalam agama Hindu, Budha, Konguchu dan lain-lain. Menurut al-Attas, Islam bukanlah kata benda verbal yang menunjuk pada penyerahan diri, Islam adalah nama sebuah agama yang khusus yang mendeskripsikan penyerahan diri yang benar, yang juga merupakan definisi agama itu; yaitu penyerahan diri pada Tuhan. Cara dan bentuk penyerahan diri dalam suatu agama secara definitif dipengaruhi oleh konsepsi mengenai Tuhan dalam agama itu. Sehingga konsepsi Tuhan dalam agama menjadi sangat krusial agar dapat mengartikulasikan bentuk penyerahan diri yang sesungguhnya. Konsepsi ini menurut al-Attas harus mempu mendeskripsikan sifat Tuhan yang benar, yang hanya bisa diperoleh dari wahyu bukan dari tradisi budaya atau etnis tertentu atau percapmuran antara etnis dan tradidsi budaya dengan kitab suci, tidak suga dari spekulasi filosofis berdasarkan penemuan sains.


Jawaban terhadap isu-isu yang ditanyakan dalam dokumen yang ditulis oleh Ary Ginanjar dan disetujui oleh Panel Syariah ESQ Malaysia pada tanggal 25 Februari 2010, disebutkan bahwa suara hati yang dimaksud oleh ESQ adalah suara hati nurani hak dan kebenaran yang berpadukan dengan al-Quran dan Hadist. Mengenai teori God Spot sebagai rujukan pihak ESQ menjawab bahwa ESQ hanya membentangkan penemuan sains semata dan bahwa traning ESQ telah dinyatakan sesuai dengan ajaran Islam, hanya bermaksud fitrah yang berpadukan al-Quran dan Hadist atau sunnah nabi.


ESQ merupakan bukti bahwa Islamisasi tidak bisa dilakukan hanya dengan proses justifikasi. Konsep ESQ dirumuskan dengan melakukan justifikasi terhadap pengalaman dan temuan-temuan sains modern. Islamisasi tidak bisa dilakukan tanpa melakukan dewesternisasi atau memisahkan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang membentuk kebudayaan dan peradaban Barat. Dengan tetap mengedepankan prasangka positif, hal ini terjadi pada umumnya disebabkan ketidakpahaman terhadap perbedaan mendasar antara epistemologi Barat dan Islam. Sebuah realita yang memprihatikan karena saat ini umat Islam sedang mengalami apa yang disebut sebagai krisis epistemologi.


Penulis sependapat dengan pemikiran al-Attas bahwa sains modern harus didalami tetapi asas-asas filosofisnya harus disusun kembali sesuai kerangka metafisika Islam. Adalah benar jika agama (Islam) sejalan dengan sains, namun tidak berarti Islam sejalan dengan metodologi ilmiah dan filsafat sains modern. Tidak ada ilmu yang bebas nilai sehingga menurut al-Atas kita harus meneliti dan mengkaji dengan cerdas dan penilaian yang melekat pada, atau bersatu dengan, pelbagai asumsi dan interpretasi ilmu modern. Kita juga harus melakukan kritisi terhadap setiap teori ilmu atau filsafat yang baru dengan memahami terlebih dahulu implikasinya dan menguji validitas nilainya yang terkandung di dalam teori tersebut. ESQ dalam hal ini tidak boleh sembrono dalam mengambil penemuan-penemuan sains yang masih spekulatif karena teori SQ masih perlu dikritisi tidak semata-mata dengan memodifikasi konsep tersebut dengan mencuplik ayat dan hadist yang sepertinya sesuai dengan fenomena sains tersebut.


Sebagai contoh, ketika ESQ menjustifikasi bahwa penemuan God Spot sesuai dengan ajaran Islam, ESQ berpegang dari hadits yang diriwayatkan Bukhari Muslim yang berbunyi "Di dalam diri manusia ada segumpal daging. Bila baik daging itu, maka baiklah orangnya. Bila jelek daging itu, maka jeleklah orang itu. Daging itu adalah qalb." Secara tidak langsung ESQ menyetujui bahwa letak hati atau qalb itu berada di otak sebagaimana penemuan neurasains tersebut. Taufik Pasiak dalam bukunya Revolusi IQ/EQ/ SQ juga melakukan justifikasi yang sama. Menurutnya kata qalb dalam hadits tersebut bukan bermakna hati/ jantung (heart dalam bahasa inggris), tetapi lebih tepat dimaknai sebagai otak spiritual karena menurutnya aql memiliki banyak fungsi, yaitu fungsi rasional, fungsi intuitif serta fungsi spiritual. Jika porsi kata aql lebih diperbanyak pada usaha sains, maka kata qalb lebih banyak menunjuk usaha-usaha ruhani.


Mengenai letak qalb, seorang ulama salaf terkenal yang memiliki otoritas dalam masalah jiwa, Imam al-Ghazaly, menyatakan bahwa qalb sebagai daging yang bersuhu panas berbentuk kusama berada di sisi sebelah kiri dada, di dalam isinya ada rongga yang berisi darah hitam sekali, dan kalbu itu tempat melahirkan jiwa yang bersifat hewani serta tempat asalnya. Dengan pengertian ini, kalbu yang dimaksud al-Ghazaly menunjuk kepada jantung. Begitu juga dengan al-Attas menterjemahkan qalb sebagai heart.Al-Quran sendiri mengisyaratkan mengenai hal tersebut dalam surat al-Hajj (22) ayat 46.


أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آَذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ [الحج/46]


Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai kalbu yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah qalb yang di dalam dada.


Tentunya dengan adanya pendapat Iman al-Ghazaly dan penegasan ayat al-Quran, Hipotesa yang menyatakan otak sebagai tempat bersemayamnya qalb, perlu mendapatkan penelaahan lebih lanjut karena asumsi tersebut lebih didasarkan atas penemuan dalam bidang neurosain. Dan penemuan neurosain terbaru pun bisa menyanggah teori tersebut. Kerancuan letak qalb didasari banyaknya ayat al-Quran yang menyatakan bahwa qalb selain mengacu kepada emosi manusia juga merupakan fakultas aktif yang berfikir, sehingga jika letak qalb itu benar berada di Jantung sebagaimana pendapat imam Ghazaly, maka sulit membayangkan bagaimana organ jantung dapat memiliki fungsi kognitif seperti otak,


Namun kini tampak titik terang kebenaran penafsiran ulama salaf yang menyatakan bahwa qalb adalah jantung yang memiliki kemampuan berpikir. Sekumpulan ilmuwan Barat yang aktif melakukan penelitian mengenai hubungan jantung dan otak (heart and brain interaction) telah menemukan fakta menarik mengenai hal ini. Dalam website Institute of HeartMath, para ilmuwan ini menulisan hasil penelitiannya pada e-book berjudul "The Coherent Heart". Dalam monograf ilmiah tesebut dijelaskan penemuan terbaru mengenai interaksi antara jantung dan otak yang ternyata mempengaruhi berbagai macam aspek dari kemampuan kognitif seorang manusia. Kesimpulan tersebut ditarik setelah kecanggihan alat teknologi kedokteran mampu menemukan sekumpulan ganglia di dalam organ tersebut yang dapat berhubungan dengan otak. Oleh sebab itu, hendaklah ESQ dalam mendefinisikan konsep-konsep kunci seperti pikiran (mind), jiwa (soul), emosi, fitrah, suara hati, suara hati spiritual, natural law, dan lain-lain, dapat menukil tafsiran ulama-ulama salaf dan kontemporer yang memiliki otoritas dalam masalah ini untuk menghindari kerancuan.


F. PENUTUP


Konsep ESQ sebagai sebuah modul pelatihan Sumber Daya Manusia mengandung beberapa gagasan yang mengudang kontroversi walaupun untuk membuktikan dakwaan yang menyatakan bahwa ESQ adalah pendukung liberalisme dan pluralisme masih perlu penelitian lebih lanjut dan mendalam, terutama untuk melihat ada tidaknya ide "persamaan tuhan" pada level esoteris dalam ajaran ESQ, ataupun gagasan-gagasan lainnya seperti Asmaul Husna Value System (AHVS) dan tafsirannya yang tidak dibahas dalam makalah ini.


Jawaban pertanyaan ini sangat krusial dalam rangka identifikasi adanya unsur pluralisme agama dalam kosep ESQ karena, pertama, dalam kebijakan ESQ Leadership Center tidak membatasi peserta pelatihan pada mereka yang beragama Islam. Peserta dengan latar belakang agama berbeda juga diperbolehkan mengikuti pelatihan ESQ. Dengan dibolehkannya non-muslim mengikuti pelatihan ini, dapat menjadi indikasi bahwa kondisi Zero dapat dicapai oleh siapa saja, asalkan melakukan penyerahan diri pada tuhan. Kedua, adanya pernyataan bahwa ESQ seperti oksigen yang tidak berwarna dan netral. Dengan falsafah ini Tim ESQ berharap dapat diterima oleh komunitas manusia universal sesuai dengan konsep God Spot. Pernyataan ini merupakan pernyataan yang berbahaya karena ilmu tidak netral namun bergantung pada worldview dimana ilmu tersebut dilahirkan, sehingga ESQ perlu menjelaskan bentuk kenetralan dan universalitas yang dimaksud dalam pernyataan tersebut.


Sejauh ini penulis hanya mendapatkan data dari jawaban ESQ terhadap dakwaan bahwa ESQ mendukung liberalisme dan menyebarkan pluralisme. Disebutkan bahwa bahwa ESQ menolak keras dakwaan tersebut karena definisi dan ciri-ciri pluralisme tidak terdapat dalam buku-buku ESQ. Kemudian ESQ menjelaskan tentang ciri-ciri liberalisme dan pluralisme, namun sayangnya jawaban tersebut tidak diberi komentar atau bukti-bukti yang kuat.


Selain dewan syariah, ESQ juga harus berkonsultasi dengan orang-orang yang memiliki worldview Islam dan paham mengenai epistemologi Barat dan Islam, agar pada saat melakukan Islamisasi konsep dan teori pelatihan manajemen diri, tidak terjadi kerancuan yang menyesatkan dalam hal pemikiran maupun praktek. Semangat untuk menyebarkan nilai-nilai Islam secara global dan universal tentunya jangan sampai terjebak kepada pemahaman yang justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam sehingga ajaran Islam kemudian ditundukan oleh konsep dan teori Barat serta penemuan-penemuan dalam bidang sains yang masih bersifat spekulatif. Hal ini diperlukan untuk menghindari pengalaman Barat ketika ajaran Kristen akhirnya harus tunduk oleh sekularisme dan pluralisme dalam rangka menyesuaikan agama mereka dengan tuntutan globalisasi.


Ditulis oleh Dinar Dewi Kania dan Aji Jumiono, mahasiswa Program Doktor Pendidikan Islam PKU-DDII Universitas Ibn Khaldun, Bogor. Makalah ini dipresentasikan dalam diskusi sabtuan Insists pada tanggal 17 Juli 2010.


Muhammad Religineer dalam Pengantar dalam buku ESQ Power, cetakan ke-14, Jakarta : Arga Publishing, 2009, hlm xii.


ESQ Way 165, , Tokoh Agama Indonesia dan Malaysia ; ESQ tidak menyimpang, Republika Nomor 181/ tahun ke-18, Selasa, 13 Juli 2010.


http://www.muftiwp.gov.my/pmwp/profail_jabatan_files/fatwa_esq.pdf


www.esqway165.com


Tim ESQ Leadership Center, Sdn, Bhd. Jawapan Kepada "Isu-isu yang Ditanyakan oleh Alumni ESQ". Edaran Terhad (SULIT). 25 Februari 2010.


Ary Ginanjar Agustian. Rahasia Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ) Berdasarkan Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, Jakarta : Penerbit Arga. 2001, hlm. xix-xxi.


Ary Ginanjar Agustian, ESQ Power, hlm.28


Ibid, hlm.66


Ibid, hlm 179


Ary Ginanjar Agustian. Rahasia Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual (ESQ), hlm 10-11.


Ary Ginanjar Agustian, ESQ Power. hlm. 144


Ibid, hlm. 145 dan152


Ibid, hlm. 145 - 147


Ary Ginanjar Agustian, ESQ Power, hlm. 188.


Ibid, hlm. 96.


Ibid, hlm. 99.


Ibid, hlm. 103.


Ibid, hlm. 104.


Adian Husaini,


Syed Muhammad Naquib al-Attas, Respon Islam terhadap Kesatuan Agama-agama, Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam Islamia, Thn I no. 3, 2004, hlm. 43.


Anis Malik Toha, Konsep World Theology dan Global Theology ; Eksposisi Doktrin Pluralisme Agama, Smith dan Hick, Jurnal Pemikiran dan Peradaban Islam ISLAMIA Thn I No. 4, 2005, hlm. 55


Ibid, hlm. 57


Ibid, hlm. 59


Ibid, hlm 54-59


Ary Ginanjar, ESQ, hlm. Iiv


Ary Ginanjar Agustian, ESQ Power, hlm. 210.


Al-Attas menyatakan sifat Tuhan yang dipahami Islam, tidak sama dengan konsepsi Tuhan yang dipahami dalam doktrin dan tradisi keagamaan lain di dunia. Ia juga tidak sama dengan konsepsi Tuhan yang dipahami dalam tradisi filsafat Yunani dan Helenistik. Ia tidak sama dengan konsepsi Tuhan yang dipahami dalam filsafat Barat atau tradisi sains; juga tidak sama dengan yang dipahami dalam tradisi mistisme Timur dan Barat. Kalaupun ada kemiripan yang mungkin ditemukan antara sifat Tuhan yang dipahami dalam Islam dengan berbagai macam konsepsi agama lain, maka itupun tidak bisa ditafsirkan sebagai bukti bahwa tuhan yang dimaksud adalah sama, yakni Tuhan Universal Yang Esa (The One Universal God), karena masing-masing konsep tersebut digunakan sesuai dengan dan termasuk dalam sistem dan kerangka konseptual yang berbeda-beda, sehingga konsepsi tersebut merupakan suatu kesluran, atau super system, tidak sama antara yang satu dengan yang lain. Lihat Syed Muhammad Naquib al-Attas, Respon Islam terhada[p Konsep Kesatuan Agama-agama, hlm. 44 .


[29] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Respon Islam terhada[p Konsep Kesatuan Agama-agama, hlm. 47.


Dokumen ESQ Center yang ditulis oleh Ary Ginanjar dan disetujui oleh Panel Syariah ESQ Malaysia, hlm. 7


Wan Mohd Nor Wan Daud, FIlsafat dan Praktek Pendidikan Islam, hlm. 335


Wan Mohd Nor Wan Daud, Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed M. Naquib al-Attas, Jakarta : Mizan, 1998, hlm.392.


Dokumen ESQ Center yang ditulis oleh Ary Ginanjar dan disetujui oleh Panel Syariah ESQ Malaysia.


Taufik Pasiak, Revolusi IQ/EQ/ SQ, hlm. 29-30. Para ahli otak menemukan bahwa kecerdasan spiritual itu berakar kuat dalam otak manusia. Setidaknya ada empat bukti penelitian yang memperkuat dugaan adanya potensi spiritual dalam otak manusia :1) Osilasi 40 Hz yang ditemukan oleh Denis Pare dan Rudopho Llinas, yang kemudian dikembangkan oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, 2) Alam bawah sadar kognitif yang ditemukan oleh Joseph deLoux dan kemudian dikembangkan menjadi emotional intelligence oleh Daniel Goleman serta Robert Cooper dengan konsep suara hati, 3) God Spot pada daerah temporal yang ditemukan oleh Michael Pesinger dan Vilyanur Ramachandran, serta bukti gangguan perilaku moral pada pasien dengan kerusakan lobus prefrontal, dan 4) Somatic Marker oleh Antonio Damasio. Keempat bukti itu memberikan informasi tentang adanya hati nurani atau intuisi dalam otak manusia, sehingga penelitian ini memperkuat keyakinan bahwa manusia tidak mungkin lari dari Tuhan. Lihat Pasiak, hlm. 27.


Imam al-Ghazaly, Teori dasar Penyucian Jiwa, Jakarta : Nur Insani, 2003, hlm. 44.


The Coherent Heart ditulis oleh Rollin McCraty, Ph.D., Mike Atkinson, Dana Tomasino, B.A., and Raymond Trevor Bradley, Ph.D. Tentang monograph tersebut dijelaskan dalam situs resminya, "...It provides an in-depth understanding of the role of the heart role in the emergence of systemwide coherence and new research findings on how heart-brain interactions affect various aspects of cognitive performance. The Coherent Heart explores communication within and among the bodys systems through the generation and transmission of rhythms and patterns in the nervous and hormonal systems. Using the pattern of the hearts rhythmic activity as the primary physiological marker, six different modes of psychophysiological function are identified, distinguished by their physiological, mental, and emotional correlates. lihat http://www.heartmath.org/research/research-our-heart-brain.html


Mengenai ganglia atau ganglion disebutkan "In neurological contexts, ganglia are composed mainly of somata and dendritic structures which are bundled or connected together. Ganglia often interconnect with other ganglia to form a complex system of ganglia known as a plexus. Ganglia provide relay points and intermediary connections between different neurological structures in the body, such as the peripheral and central nervous systems. Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Ganglion.


Keterangan tentang hubungan antara jantung dengan otak dapat dilihat pada situs IHM

(read more ...)



JAKARTA (Arrahmah.com) - ESQ akhirnya dinyatakan sesat dan menyesatkan. Demikian kesimpulan dari diskusi Forum Komunikasi Sosial dan Kemasyarakatan (FKSK) yang ke 58 yang diadakan di Gedung Intiland, Jakarta, Kamis (29/7). Sayangnya Ary Ginanjar, presdir ESQ Leadershi[ Centre tidak hadir untuk menolak secara terbuka kesimpulan tersebut.


Benarnya Fatwa Mufti Malaysia


The Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) yang diajarkan Ary Ginanjar Agustian selama 10 tahun belakangan ini ternyata sesat dan menyesatkan. Pasalnya, training ESQ yang sudah diikuti lebih dari 850.000 orang di Indonesia, Malaysia, Australia, Belanda dan AS dengan biaya amat mahal itu, ternyata mengandung ajaran sinkretisme, liberalisme, pluralisme dan dapat menjadikan zindiq dan kufur.



Maka benarlah apa yang dikatakan Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia, Datuk Haji Wan Zahidi Bin Wah Teh, yang melarang ajaran ESQ Ary dikembangkan di Kuala Lumpur, Putra Jaya dan Labuan Malaysia, karena dianggap sesat dan menyimpang dari aqidah Islam.



Demikian antara lain kesimpulan dari diskusi Forum Komunikasi Sosial dan Kemasyarakatan (FKSK) ke 58 yang diadakan di Gedung Intiland, Jakarta, Kamis (29/7). Turut berbicara KH Amin Djamaluddin (Direktur LPPI), KH Anwar Ibrahim (Ketua Komisi Fatwa MUI), Bernard Abdul Jabbar (Mantan Missionaris Kristen) dan KH Muhammad Al Khaththath (Sekjen FUI). Sedangkan Ary Ginanjar Agustian (Presdir ESQ Leadership Centre) yang sudah berkali-kali menyatakan bersedia hadir ternyata mengingkari janji dengan dalih ada undangan ke Malaysia.


Sesat & Menyesatkan Karena Menjurus Kepada Syirik



Menurut Amin Djamaluddin yang dikenal sebagai ulama ahli aliran sesat, Ary dengan sengaja telah menyampaikan ajaran sesat dan menyesatkan orang lain melalui buku yang ditulisnya "Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual". Sebab dalam buku itu penuh dengan ajaran sinkretisme, pluralisme, liberalisme sehingga menjurus pada zindiq dan kufur bahkan syirik. Ary juga mengajarkan agar umat Islam tidak percaya dengan mukjizat para Nabi termasuk mukjizat Nabi Muhammad SAW, karena dianggap tidak masuk akal.



"Setelah saya teliti, dalam buku tersebut Ary sesat dan menyesatkan dengan sengaja mencampur adukkan ajaran Islam dengan Kristen, Yahudi, Hindu dan Buddha. Selain itu Ary menggunakan kebebasan berfikir untuk menafsirkan Al Quran dan Hadis, padahal dia bukan ahli Tafsir dan ahli Hadis, sehingga tafsirannya ngawur sekali. Selain itu Ary juga menafsirkan 99 sifat Allah dalam Asmaul Husna bisa juga menjadi sifat manusia dalam kehidupan sehari-hari. Jadi seolah-olah manusia bisa meniru Allah sehingga bisa menjurus pada kemusyrikan. Apalagi Ary tetap meyakini suara hati sebagai sumber kebenaran, bukan Al Quran dan As Sunnah sebagai sumber kebenaran," tegasnya.



Pendapat Amin Djamaluddin itu diperkuat dengan pendapat Bernard Abdul Jabbar yang mampu membuktikan bahwa ajaran dalam buku yang ditulis Ary itu ternyata secara diam-diam diambil dari kitab injil, kitab taurat dan kitab weda yang merupakan kitab suci Hindu. Memang sebelumnya Ary bertahun-tahun menjadi dosen Universitas Udayana Bali sehingga bergaul akrab dengan orang Hindu Bali.


ESQ Wajib Koreksi Diri



Sementara itu KH Anwar Ibrahim meragukan ajaran ESQ, karena penuh dengan liberalisme dan pluralisme, yang menganggap semua agama adalah benar. Pasalnya, sewaktu Ary mendirikan ESQ tahun 2000 bertepatan dengan lahirnya gerakan Islam liberal di Indonesia yang diwakili JIL (Jaringan Islam Liberal).



"Apakah orang seperti Ary Ginanjar bisa dijadikan rujukan dalam memahami Al Quran dan As Sunnah, sementara Ary sendiri tidak mampu berbahasa Arab sehingga keahliannya dalam memahami litelatur Islam sangat diragukan," ungkap Anwar Ibrahim yang pernah studi Islam di Madinah dan Kairo tersebut.  



Sedangkan KH Muhammad Al Khaththath menyebut ajaran Ary bisa menjurus pada kesyirikan. Pasalnya, para peserta ESQ dimintanya untuk meneladani sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna.



"Saya menyayangkan mengapa tidak ada pelajaran syariah dalam training ESQ, yang ada hanya aqidah dan itupun sudah menyimpang dari pokok ajaran Islam dan menjurus pada kesyirikan," tegasnya.



Sementara itu Amin Djamaluddin mengusulkan umat Islam jangan hanya menerima permintaan maaf Ary saja, tetapi wajib mengumumkan di berbagai media massa mengenai kekeliruan dan kesesatan yang terdapat dalam bukunya dan modil trainingnya sehingga bersedia untuk mengkoreksinya. Selain itu Ary juga harus merombak modul dan materi dalam trainingnya sehingga tidak menyesatkan para peserta training. Pasalnya, kalau hanya mengandalkan ucapan permintan maaf saja, nanti dikhawatirkan akah dikhianati, sehingga dia kembali mengajarkan ajaran sesatnya untuk merusak aqidah umat Islam. Sebab selama ini Ary dikenal suka berubah-ubah dan tidak konsekwen dalam ucapannya.


Sumber : Suara Islam

(read more ...)



 Fakta menunjukkan,  ideologi ‘tak bertuhan merupakan penyebab terpuruknya abad ke-20 ke dalam perang pemusnahan yang terparah dalam sejarah manusia



Hidayatullah.com-- Sosiolog agama José Casanova melihat adanya potensi antidemokratis dalam faham sekulerisme dan menyerukan diakhirinya pemisahan tegas antara keyakinan (agama) dan politik. Pandangan ini disampaikan Casanova dalam bukunya “Europas Angst vor der Religion” (Ketakutan Eropa terhadap Agama, red).



Dalam bukunya ini,  José Casanova  dinilai berhasil menemukan formula yang provokatif dan renyah bagi ide-idenya. Pakar sosiologi agama asal Spanyol yang bermukim dan mengajar di Amerika Serikat selama bertahun-tahun ini, mengalami sendiri bagaimana agama dapat mempraktikkan peran sentral dan berkesinambungan dalam masyarakat modern – tidak seperti di Eropa, yang mayoritas populasinya menganggap agama sebagai "intoleran", seperti yang ditulis Casanova dengan merujuk pada berbagai hasil penelitian.



Saat ini tidak seorang pun akan menyangkal bahwa pengaruh politik dan sosial gereja-gereja di Eropa telah terkikis dalam beberapa dekade terakhir ini. Perkembangan ini punya latar belakang yang panjang dan rumit, yang dapat dipaparkan José Casanova secara rinci.



"Syahdan, pada suatu ketika di Eropa abad pertengahan, terjadi fusi antara agama dan politik, sebagai ciri khas masyarakat pramodern. Namun, dengan adanya kondisi baru keragaman agama, sektarianisme ekstremis dan konflik yang dipicu oleh reformasi Protestan, peleburan ini menimbulkan perang agama yang terparah, brutal dan berkepanjangan dalam sejarah modern awal, yang mengakibatkan hancurnya masyarakat Eropa. Sekularisasi negara merupakan jawaban tepat bagi pengalaman terburuk ini, yang tampaknya telah meninggalkan kesan abadi dalam kenangan kolektif masyarakat Eropa," kutipnya.



Penulis mengungkapkan ketidaksetujuannya terhadap interpretasi sejarah dengan nada ironis. Sebaliknya, tujuan Casanova adalah menyanggah paradigma ini, yang menganggap sekularisasi merupakan prasyarat bagi masyarakat terbuka dan toleran dan secara otomatis menuju pada demokrasi.



Casanova memang merumuskan satu atau dua pengamatan akurat – misalnya menjelaskan bahwa perang religius dan perang 30 tahun bukan berarti mendorong proses sekularisasi, sebaliknya mengarah pada teritorialisasi denominasi agama dan negara feodal absolut versi modern. Namun, argumen yang diangkat Casanova yang menentang sekularisasi serta menentang pembagian negara dan agama, bukanlah hal baru atau pun disusun dengan baik.



Salah satu contohnya adalah, peringatan Casanova bahwa kefasikan Eropa akhirnya akan mengarah pada totalitarianisme dan mencapai puncaknya pada kebrutalan perang pemusnahan pada abad ke-20. "Semua konflik mengerikan ini," tulis Casanova, "merupakan… hasil ideologi sekuler modern."



Argumen Casanova lainnya mengenai potensi antidemokratis dari sekularisme adalah kebijakan antireligius yang dicanangkan Uni Soviet. Sebagaimana hal ini tidak terbantahkan dan benar, percampuran konsep-konsepnya yang berlainan di balik kedok ilmu pengetahuan merupakan hal yang tidak pantas.



Partai-partai Keagamaan



Tidak ada yang dapat menyangkal fakta bahwa ideologi tak bertuhan merupakan penyebab terpuruknya abad ke-20 ke dalam perang pemusnahan yang terparah dalam sejarah manusia.



Namun mencantumkan kejahatan-kejahatan terhadap kemanusiaan ini ke dalam prinsip pemisahan agama dan politik, tidak lebih dari proses penghilangan primitif, kesalahan yang lebih serius lagi dari sekedar kecerobohan akademis. Hitler dan Stalin hampir tidak pernah dituliskan dalam sejarah sebagai pemenang sekularisme.



Dengan memperkuat argumennya mengenai cara tidak sistematis dan selektif ini, penulis menyinggung kaitan antara ide-ide Era Pencerahan dan kekejaman fasisme dan Stalinisme.



Casanova bahkan menempatkan klaim bahwa gereja-gereja dan partai politik keagamaan secara efektif membawa Eropa menuju demokrasi.



“Sering kali, faktanya kelompok keagamaan dan kebijakan keagamaan --terkadang dengan cara yang paradoks dan tidak sengaja-- turut andil dalam demokratisasi dan sekularisasi politik di banyak negara Eropa. Bahkan partai-partai politik yang awalnya berkembang sebagai antiliberal dan setidaknya dalam pengertian politis sebagai anti demokratis, pada akhirnya memegang peranan sangat penting bagi demokratisasi masyarakat mereka."



Rumusan Casanova yang canggung dan bertentangan, mengurangi argumennya sendiri mengenai kemustahilan.



Prestasi Kenetralan Ideologis



Tak dapat disangkal lagi, Eropa memang menghadapi masalah dengan penolakan berlebihan terhadap agama, dan keyakinan dapat memainkan peranan yang lebih membangun dalam budaya dan masyarakat.



Aspek problematis buku Casanova, bagaimanapun, adalah ketika dia mempertanyakan dan mendiskreditkan prestasi-prestasi negara yang tercerahkan dan netral secara ideologis, yang menjamin kebebasan beragama warganya, sebagaimana halnya di Jerman, misalnya – dan bahkan belum mulai menjelaskan secara eksplisit peranan apa yang harus dimainkan oleh keyakinan (agama).



Cukup mudah menyanggah tesis Casanova bahwa agama dan politik seharusnya tidak dipisahkan. Ada banyak negara yang membuktikan bahwa peranan agama dalam politik merupakan perpaduan dahsyat. Pakistan, Iran, Nigeria, Malaysia, Palestina merupakan beberapa contoh di antaranya.



Bahkan Amerika Serikat, negara yang disebut Casanova sebagai alternatif positif dari model Eropa, pengaruh agama dalam politik dinilai agak meragukan. Misalnya, hanya memikirkan pembenaran (yang sebagiannya bermotif Kristen) pemerintahan Bush mengenai Perang Irak.



Dengan menilai bagaimana José Casanova menampilkan agama dan keyakinan dalam sejarah dunia, jawabannya hanya satu: Tuhan melindungi kita dari kembalinya agama!. [qtr/www.hidayatullah.com]

(read more ...)



 Paus Borgia atau yang lebih dikenal dengan sebutan Paus Alexander VI, dinilai Paus paling buruk dalam sejarah. Inilah riset Russell Aiuto


Hidayatullah.com-- Paus Borgia atau yang lebih dikenal dengan sebutan Paus Alexander VI, dinilai Paus paling buruk dalam sejarah. Dia dengan kontribusi anak-anaknya: Cesare dan Lucrezia dianggap telah menorehkan kerakusan akan harta, pembunuhan-pembunuhan, danincest, yang menjadikan dirinya dan kedua anaknya disebut oleh Russell Aiuto (penulis artikel ini) sebagai the First Crime Family, Keluarga Kriminal yang Pertama. Bayangkan, seorang Paus mendapat julukan semacam itu. Bagaimana, orang-orang yang merasa dirinya muslim?



Secara berkala, hidayatullah.com akan mempublikasikan hasil riset Russell Aiuto ini. Sumber utama artikel ini  adalah situs www.crimelibrary.com


***


 

Keluarga “Ganjil” Borgia



PARA
 penjaga kepausan mendorong para kriminal yang acak-acakan itu ke tengah alun-alun St. Peter. Mereka dibelenggu pada pergelangan tangannya dan dikumpulkan secara bergerombol di dekat pusat alun-alun. Para penjaga membentuk sebuah garis pada jalan masuk menuju alun-alun, menghalangi pelarian para tahanan. Para tahanan memandang ke atas, ke jendela-jendela Vatikan, di mana pada sebuah balkon kecil di sebuah jendela yang agak besar, Paus yang berusia 70 tahun Alexander VI (nama aslinya Rodrigo Borgia), berdiri bersama anak perempuannya yang berusia 20 tahun, Lucrezia Borgia. Keduanya tersenyum. Beberapa jendela di sebelahnya, dalam pakaian lengkap beludru hitam, adalah anak laki-laki Alexander, Cesare Borgia. Di sebelahnya berdiri seorang pembantu yang juga berpakaian hitam seluruhnya.



Di manakah para tahanan itu mendengar kata-kata belas kasih, sebuah keringanan dermawan atas perbuatan-perbuatan kriminal mereka, dari yang remeh sampai yang serius? Mungkin mereka terlalu berharap.



Tiba-tiba seorang tahanan jatuh, ditembak oleh Cesare. Para tahanan berhamburan seluruhnya di alun-alun, setelah tahu bahwa ada seseorang pada salah satu jendela itu yang menembak mereka. Setiap selesai sebuah tembakan, si pembantu memberi Cesare sepucuk senapan baru –terisi penuh dengan mesiu-, dan dia menembak lagi. Setiap tembakan diikuti oleh sebuah senapan baru dan tembakan lain. Dalam bilangan menit, seluruh tahanan itu mati.



Alexander melambaikan tangannya kepada sang anak. “Bidikan yang bagus, nak,” kata Paus. Cesare tersenyum dan balas melambai, lalu ia dan pembantunya meninggalkan jendela dan memasuki apartemen Vatikan. Empat orang pegawai, dengan menarik sebuah gerobak, mulai mengangkat mayat-mayat tersebut dan memasukkannya ke dalam karung goni. “Hasil panen” Cesare tersebut dibawa pergi, untuk ditenggelamkan ke dalam sungai Tiber.



Detil-detil gambaran di atas merupakan imajinasi, tetapi fakta-fakta dasar atas kejadian tersebut sepenuhnya benar. Johannes Burchard, kepala upacara kepausan, pembantu tuannya yang setia, Alexander VI, merekam gambaran di atas pada catatan hariannya.



Keluarga Borgia adalah sebuah keluarga yang ganjil dan amat membingungkan. Sebelas Kardinal Gereja Katolik Romawi Suci. Tiga orang Paus. Seorang Ratu Inggris. Seorang suci (Saint). Sebuah keluarga dengan tentakel-tentakel panjang yang bermula dari abad ke XIV di Spanyol, lalu merentang melalui sejarah abad XV dan XVI di Italia, Spanyol dan Perancis. Kerakusan, pembunuhan, incest, dan anehnya,……. juga saleh.



Warisan keluarga Borgia memperlihatkan dirinya sendiri dalam sebuah periode sejarah Italia yang paling gilang gemilang, dan karena itu dalam berbagai jalan, mendominasi Renaissance dengan kekuatan dan intrik selama lima puluh tahun. Melalui jalan-jalan tertentu, warisan itu terasa pengaruhnya pada gereja dan negara selama dua ratus tahun.



Dari keluarga yang terkenal karena nama buruknya ini, terdapat empat orang yang secara terpisah paling diingat secara samar-samar, sebagai contoh-contoh ketamakan dan kejahatan yang luar biasa. Dua di antaranya adalah Paus Callixtus III (Alonso Borgia) dan Alexander VI (Rodrigo Borgia). Lainnya, Cesare Borgia, sekali waktu menjadi seorang Kardinal yang naik ke posisi tersebut karena pengetahuan dan pengaruh sang ayah, Alexander VI.  Selanjutnya, setelah meninggalkan ordo-ordo suci, menjadi seorang Duke yang bengis dan kejam. Anggota keempat menjadi sebuah kiasan untuk wanita jahat: Lucrezia Borgia, adik perempuan Cesare.



Ketika anggota-anggota keluarga lainnya membuat pertunjukan-pertunjukan penting pada drama kekuatan keluarga, empat orang ini membentuk nukleus untuk mana keluarga ini akan diingat sejarah. Mereka ganteng, ramah, tetapi juga amoral. Seperti don  Mafia, mereka menginspirasikan kebanggaan dan loyalitas. Tetapi lebih dari segalanya, mereka menginspirasikan ketakutan:



“Aku berjumpa dengan Cesare kemarin di gedung di Trastevere; dia berpakaian berburu dengan kostum yang sepenuhnya duniawi: berpakaian sutra dan bersenjata. Ia hanya memakai sebuah tonsure kecil seperti seorang pendeta biasa. Aku berkuda ke arah yang berlawanan dengannya sebentar, kemudian berkuda bersama: aku berhubungan akrab dengannya. Ia memiliki tanda-tanda genius dan personalitas yang ramah, yang menampilkan dirinya bagaikan seorang pangeran. Ia terutama sekali bersemangat dan gembira serta amat menyukai keramaian. Archbishop ini tidak pernah punya keinginan untuk menjadi pendeta, tetapi para pendeta dermawan mengiriminya lebih dari 16.000 ducat setiap tahunnya.”



Andrea Boccaccio, tentang Cesare Borgia ketika menjadi pendeta, sebelum diangkat menjadi Kardinal.



Tidak seperti Caligula yang gila, yang membunuh untuk kesenangan, atau Nero dan para pendahulunya, yang membunuh untuk alasan dan pertimbangan politik; keluarga Borgia membunuh bukan hanya untuk kesenangan dan pertimbangan politik, tetapi juga untuk kekayaan pribadi. Mereka tidak dilambungkan bersama oleh ritual berdarah, tetapi oleh gen-gen pembawa sifat.



Paus-Paus Borgia



Siapa sebenarnya orang-orang ini? Darimana mereka datang, dan bagaimana caranya sehingga mereka naik menuju kekuasaan? Mereka mengawali dinasti mereka di Spanyol pada tahun-tahun terakhir di abad XIV, sebagai sebuah keluarga yang dikenal dengan nama de Borya.



Dua saudara sepupu Spanyol, Domingo de Borya dan Rodrigo de Borya menghasilkan anak-anak yang akan menggabungkan garis keturunannya ke dalam apa yang nantinya menjadi keluarga Borgia Italia. Anak perempuan Domingo, Isabella, menikah dengan anak laki-laki Rodrigo, Jofre.



Cerita dimulai oleh saudara Isabella, Alfonso de Borya, Paus Callixtus III. Sejarah keluarga mengenai ketamakan dan pengejaran kekuasaan politik di masa-masa sesudahnya, lahir bersama dia. Untuk memahami keluarga Borgia, sebagaimana terkenalnya keluarga de Borya di Italia, seseorang harus mengetahui tentang patriarch, yaitu orang-orang yang menjadi asal muasal sebuah keluarga yang melampaui kelebihan-kelebihan keluarga-keluarga lain pada suatu zaman, seperti misalnya keluarga Medici, Orsini, Sforza, dan keluarga della Rovere.



Keluarga Borgia mengawali sejarah mereka yang penuh warna dengan nepotisme dan akuisisi kekayaan pribadi, lalu beralih kepada agenda yang lebih rumit tentang pembunuhan-pembunuhan. 



a. CALLIXTUS III (1378-1458, Paus dari tahun 1455-1458).



Paus Spanyol pertama, Callixtus III, sudah berusia 77 tahun ketika naik singgasana Petrus di tahun 1455; seorang kandidat kompromistis di antara fraksi-fraksi yang bertikai. Tua, dikuatkan lagi dengan janggut, ia kelihatan sebagai pilihan yang aman dan sementara. Ia memerintah hanya selama tiga tahun, tetapi dalam waktu yang pendek itu ia mampu mengangkat dua kemenakan laki-lakinya menjadi kardinal. Seorang di antaranya, Rodrigo, anak dari adik perempuannya, akhirnya menjadi Paus Spanyol kedua dan terakhir, Alexander VI yang keji.



Callixtus, terlahir sebagai Alfonso de Borya, sudah menjadi Kardinal di Valencia ketika di tahun 1429 Paus Martin V mempromosikannya kepada Bishop Valencia. Kardinal Alfonso yang berhasil mendekati Paus Prancis yang memusuhi kepausan Roma, Clement VIII, untuk menerima otoritas Martin, sepatutnya menerima penghargaan untuk pertolongannya dalam mengakhiri the Great Schism(Perpecahan Akbar) pada Gereja Katolik, di mana dua orang Paus tersebut, satu di Prancis dan satu di Roma, memerintah Gereja.



Sebagai Paus, Callixtus segera mengorganisasi sebuah perang salib untuk membebaskan Constatinopel dari bangsa Turki. Untuk membiayai proyek ini, dia menjual karya-karya seni dari emas dan perak, buku-buku berharga, menjual keikutsertaan atau jabatan –jabatan-jabatan dalam urusan Kardinal, pembatalan-pembatalan dana untuk daerah-daerah kepausan-, dan pembebanan pajak. Dia hanya menuai sedikit sukses dari proyek tersebut, karena kebanyakan penguasa-penguasa Kristen Eropa tidak tertarik dengan alasan-alasan pelaksanaan perang salib itu dan menolak berpartisipasi. Para raja-raja Eropa mendukung perang salib secara prinsip, tetapi tidak dengan kekuatan yang nyata.



Tetapi cara-cara Callixtus yang tidak benar dalam memperoleh uang, nepotismenya yang arogan, dan keputusan-keputusannya yang cenderung kasar melawan orang-orang Yahudi, telah menciptakan oposisi di Perancis, Jerman dan negara asalnya, Spanyol. Ketika dia meninggal, orang-orang Italia mengalihkan kemarahannya kepada jenderal-jenderal dan administrator-administrator Callixtus, dan menceburkan Roma ke dalam teror. Orang-orang Spanyol –yang disebut Catalan- dicaci maki. Hanya kemenakan Callixtus yang pintar, Kardinal Rodrigo Borgia, lolos dari kemarahan massa.



Untuk menunjang keinginannya menciptakan seorang Paus masa depan dalam diri kemenakannya Rodrigo (terpisah dari masa kepausan Callixtus oleh empat orang Paus dan masa 34 tahun), Callixtus juga teringat untuk membatalkan hukuman terhadap Joan of Arc dan mengampuninya dari tuduhan bid’ah, di mana pembatalan itu merupakan konsesi politik untuk mengubah sikap terhadap Gadis dari Orleans (the Maid of Orleans) tersebut. 



Secara kebetulan, dia meninggal saat Pesta Transfigurasi (6 Agustus 1458), sebuah hari suci yang dia ciptakan setelah kekalahan bangsa Turki di luar Belgrado. Hari itu tetap merupakan hari suci dalam pandangan Gereja Katolik Roma modern dan the Anglican Communion (Komunitas Anglikan). Dia dimakamkan di Gereja Spanyol di Roma.



Callixtus mungkin bukan seorang pembunuh, tetapi secara politis ia zalim, kejam, tamak, dan dengan berbagai jalan mengatur agenda keturunan Borgia yang akan mengikuti jejaknya.



b. ALEXANDER VI (1431-1503, Paus dari tahun 1492-1503).



Alexander adalah Paus yang terkenal paling buruk dalam sejarah. Dia memimpin sebuah kepausan yang penuh dengan nepotisme, kerakusan, kekejaman, pembunuhan, dan sebagaimana Mc Brien menyebutnya, “unbridled sensuality” (“sensualitas yang tak terkendalikan”). Dia menjadi figur utama dalam saga keluarga Borgia, baik sebagai seorang pemelihara kejahatan, maupun sebagai fasilitator aktivitas-aktivitas kedua anaknya yang paling terkenal, Cesare dan Lucrezia.



Paus Spanyol yang kedua dan yang terakhir ini secara harfiah membeli kepausannya dengan penyuapan-penyuapan. Seperti “pembelian” pemilihan Paus yang disebut “simoniacal”, yang diselesaikan dengan mudah melalui pemungutan suara oleh tujuh belas orang dari dua puluh dua orang Kardinal yang tamak untuk Paus yang baru. [Basuki Effendi, dari First Crime Family,www.trutv.com/hidayatullah.com]

(read more ...)




Pemikiran destruktif dan dekonstruktif ini perlu diluruskan. Agar tidak menjadi virus liar



Oleh: Qosim Nursheha Dzulhadi*



AL-QURAN adalah firman Allah yang Mahasuci (al-Quddus). Ia dibawa turun oleh malaikat Jibril: malaikat yang menjadi kepercayaan Allah (al-ruh al-amin). (Qs. al-Syu’ara’ [26]: 193-194) lagi suci (ruh al-quds) (Qs. al-Baqarah [2]: 97-98). Dia diutus oleh Allah untuk membawa Al-Qur’an ke dalam qalb (hati) Rasulullah s.a.w. Oleh karenanya, siapa yang memusuhi Jibril, maka dia kafir dan Allah menjadi “musuhnya”. (Qs. al-Baqarah [2]: 96-97). Karena Al-Qur’an berasal dari Allah yang Maha Suci; dibawa turun oleh malaikat Jibril yang suci; kemudian diwahyukan kepada Nabi Muhammad yang suci, maka Al-Qur’an adalah “Kitab Allah yang Suci”.



Dan umat Islam seluruh dunia meyakini bahwa Al-Qur’an adalah “Kitab Suci”. Anehnya, masih saja ada sarjana Muslim yang tidak rela kaum Muslimin meyakini Al-Qur’an sebagai kitab suci agamanya (Islam). Dengan alasan bahwa Al-Qur’an harus diletakkan dalam “konteks kesejarahan” ketika wahyu ditulis, Al-Qur’an dilucuti dari kesuciannya. (Lihat, Abd Moqsith Ghazali, Luthfi Assyaukanie, dan Ulil Abshar-Abdalla, Metodologi Studi Al-Qur’an [MSA], (Jakarta: Gramedia, 2009, hlm. 3). Ini jelas merupakan satu ide asing (dakh’l) dan murni gaya orientalis dalam melucuri sakralitas Al-Qur’an. Karena mereka mengira bahwa yang menjadikan Al-Qur’an itu suci adalah “konteks sejarah”, bukan Allah ataupun Nabi Muhammad. Untuk itu, pemikiran destruktif dan dekonstruktif ini perlu diluruskan. Agar tidak menjadi virus liar yang menggerogoti keyakinan umat Islam yang sudah “berurat-berakar” dalam ‘nadi keimanan’ mereka. Berikut ini akan dijelaskan kekeliruan pandangan mereka mengenai sakralitas Al-Qur’an.



Masalah Kitab, Mushaf, dan Al-Qur’an



Salah satu nama Al-Qur’an yang ada adalah al-Kitab, karena ia merupakan kitab yang tertulis. Ini pun diakui oleh penulis MSA, karena menurut mereka Al-Qur’an menyebutkannya dalam banyak ayatnya. Meskipun jelas ayat-ayatnya yang menyatakan bahwa Al-Qur’an itu al-Kitab, mereka tetap “menolak”. Malah berdalih bahwa yang dimaksud oleh Al-Qur’an adalah “tulisan” secara umum. Menurut mereka, hal itu tidak merujuk kepada satu kesatuan kitab suci utuh. Alasan mereka: Karena pada masa Nabi hidup, “sangat tidak masuk akal” membayangkan sebuah kitab suci yang utuh, karena kelengkapan wahyu sangat bergantung kepada usia Nabi. (MSA, hlm. 9).



Apa yang mereka tulis di atas jelas sekali “kerancuannya”. Pertama, menolak firman Allah bahwa Al-Qur’an adalah al-Kitab. Padahal dalilnya sangat jelas. Misalnya dalam Qs. al-Baqarah [2]: 2. Karena kata al-Kitab dalam Qs. 2: 2 ini adalah Al-Qur’an. Karena menurut Sayyid Muhammad Rasyid Ridha, murid Muhammad Abduh (w. 1905), maksud dari al-Kitab adalah “satu kitab” yang dikenal oleh Nabi Muhammad. Dan kitab ini, tegas Ridha, mencakup segala hal yang dibutuhkan bagi para pencari kebenaran (Ïullab al-haqq), petunjuk (al-hidayah), dan bimbingan (al-irsyad) dalam setiap lini kehidupan dunia dan bekal akhirat. Maka Qs. 2: 2 mengisyaratkan itu semua.



Kedua, apakah tidak mungkin kitab itu ada pada zaman Nabi Muhammad? Atau, apakah kitab suci itu harus utuh dulu baru kemudian absah dan valid disebut al-kitab? Pertanyaan ini dijawab dengan tegas oleh Rasyid Ridha: “Tidak mengapa wujud kitab itu belum ada secara keseluruhan (belum lengkap) ketika waktu diturunkan!” Karena keberadaan sebagian kitab tersebut sudah menjadi bukti valid akan kebenarannya. Karena sebagian Al-Qur’an sudah turun sebelum ayat ini turun. Kemudian Nabi Muhammad diperintahkan untuk menuliskannya.



Bahkan, tambah Ridha, isyarat itu sudah cukup untuk menunjuk kepada surah al-Baqarah. Karena dia benar karena ayatnya diakhir dengan hudan li’l-muttaqan (cukup dan layak menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa). Dan isyarat kepada keseluruhan kandungan al-kitab tersebut ketika turun sebagiannya menegaskan bahwa Allah berjanji kepada Nabi akan melengkapi al-kitab tersebut. Jadi tidak mengapa ketika turun al-kitab tersebut belum ditulis secara utuh. Karena, Anda juga biasa mengatakan: “Saya sedang mendiktekan satu kitab. Atau, kemarilah, akan saya diktekan satu kitab kepadamu!” (Lihat, Rasyid Ridhah, Tafsir al-Manar, 12 Jilid, (Cairo: Dar al-Manar, 1366 H/1947 M, 1: 123). Artinya: buku atau kitab tersebut belum sempurna dituliskan, tapi sudah disebut sebagai kitab.



Jadi, Al-Qur’an adalah al-Kitab. Dan bagi siapa saja yang menelaah kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh para ulama kita, tidak akan merasa aneh – apalagi menganggap tak masuk akal – jika Al-Qur’an itu adalah al-kitab. Oleh karena itu, menurut Imam al-Kisa’i, ketika mengomentari kata al-kitab dalam Qs. 2: 2, maksudnya adalah: “Isyarat Al-Qur’an yang berada di langit dan belum turun.” (Lihat, Ibn ‘Athiyyah al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajiz, 6 Jilid, (Lebanon: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1422 H/2001 M, 1: 83). Artinya: menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah al-kitab.



Selain menolak kata al-kitab, penulis MSA juga menolak jika Al-Qur’an merupakan nama bagi Al-Qur’an itu sendiri. Alasan mereka: karena istilah “Al-Qur’an” melewati proses panjang sebelum kitab suci itu dinamakan demikian. (MSA, hlm. 9). Mereka kemudian mencari justifikasi dari kitab al-Itqan karya Imam Jalal al-Din al-Suyuti (w. 911 H). Dimana menurut mereka, sang Imam mencatat bahwa sepeninggal Nabi, para sahabat berbeda pendapat mengenai nama apa untuk menyebut “kitab suci” mereka. Apakah harus disebut “Injil” seperti kaum Kristen, atau “Sifr” seperti dalam tradisi Yahudi.



Padahal, jika kita rujuk langsung ke dalam al-Itqan ceritanya berbeda. Para sahabat berbeda pendapat dalam masalah penyebutan Al-Qur’an bukan sepeninggal Nabi, melainkan ketika Abu Bakr al-Shiddiq selesai melakukan kodifikasi. (Lihat, al-Suyuthi, al-Itqan, 7 Jilid, (al-Madinah al-Munawwarah: Mujamma’ al-Malik Fahd li Thiba’ah al-Mushaf al-Syarif, 1426, 2: 344). Jadi, mereka mengusulkan penyebutan untuk kodifikasi yang dilakukan oleh Abu Bakr, bukan untuk menyebut isi dan kandungan Al-Qur’an. Karena namanya Allah langsung yang menyebutkan, bukan buatan para sahabat. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya ayat yang menyebut kitab suci kaum Muslimin ini dengan “Al-Qur’an”. (Qs. 56: 77, 73: 20, dan 85: 21).



Jadi, meskipun cerita penyebutan Al-Qur’an dengan Muushaf seperti yang diusulkan oleh Abd Allah ibn Masud tidak serta-merta hal itu menjadi dalil dan dalih bahwa Al-Qur’an sebagai wahyu Allah menjadi tidak sakral. Juga tidak sebaliknya, bahwa kata Mushaf merupakan sakralisasi Al-Qur’an. Karena kitab suci yang agung ini sudah “sakral” sejak semula. Anehnya, istilah Muushaf pun dipermasalahkan. Hanya karena berasal dari bangsa Ethiopia (×abasyah), yang menurut mereka merupakan tradisi Kristen di sana untuk merujuk Injil yang dibukukan. (MSA, hlm. 10). Padahal, Al-Qur’an tidak disebut sebagai MuÎÍaf pun namanya sudah Al-Qur’an dan banyak lagi. Bahkan, menurut Ab al-MaÑÉlÊ ÑAzÊzÊ ibn Abd al-Malik yang dikenal dengan Syaidzalah dalam bukunya al-BurhÉn, Allah menamai Al-Qur’an dengan 55 jenis nama. (al-Suyuthi, al-Itqan, 2: 336).



Jadi, dalam hal ini penamaan Al-Qur’an tidak problem sama sekali. Mungkin karena gaya dan metodologi orientalis dalam melihat Al-Qur’an, maka kesimpulan para penulis MSA ini begitu semangat untuk menyatakan. [hidayatullah.com]



*)Penulis adalah mahasisawa program pascasarjana Institut Studi Isalam Darussalam (ISID), Gontor, Ponorogo, Jatim-Indonesia

 

(read more ...)



 Senin, 14/06/2010 14:51 WIB | email | print | share



Dalam tulisan terdahulu dijelaskan bagaimana Paus Benediktus XVI yang ketika itu masih menjabat sebagai Kardinal, dengan licinnya berhasil menutupi skandal seks gereja. Sikapnya tak berubah, ketika skandal seks itu kembali terbongkar dan menuai cibiran ke Gereja Katolik. Paus Benediktus XVI tetap melakukan pembelaan dan seolah skandal seks yang sudah berulang kali membuat geger dunia itu cuma masalah sepele. Tapi kali ini, mampukah Paus menyelamatkan citra Vatikan?


Dosa Gereja Atau Dosa Pelayan Gereja?


Kali ini, Paus jarang memberikan komentar atau wawancara terkait skandal seks gereja yang kembali terbongkar. Pernyataan-pernyataannya hanya dikutip dari khutbah-khutbahnya, doa-doa dan naskah deklarasinya yang dikutip dengan hati-hati. Para pengamat Vatikan memduga, Paus sudah menyiapkan pandangan-pandangannya atas skandal seks Gereja Katolik yang menjadi buah bibir masyarakat dunia itu, yang akan disampaikannya dalam perayaan Palm Sunday (perayaan atas masuknya Yesus ke Yerusalem sebelum kematian dan kebangkitannya kembali-red) tahun ini, dengan menyerukan agar umat Kristiani untuk tetap teguh dan tidak terintimidasi dengan apa yang disebutnya "chiacchiericcio"--gosip kecil-- yang "menodimasi opini-opini yang muncul."


Tapi sepanjang pekan suci dalam kalender Kritiani, sulit dipungkiri bahwa krisis yang ditimbulkan oleh skandal seks gereja telah mencoreng muka Paus. Sejumlah pejabat Vatikan menyebutnya sebagai sebuah "kepedihan" sama seperti kepedihan yang diderita Yesus saat disalib. Wajah Paus nampak lebih tua dan suram meski dibalut dengan kemegahan gereja St. Petrus, Basilica. Tak nampak wajah Paus yang penuh semangat seperti biasanya. Usai Paskah, ketika belum juga ada tanda-tanda pemberitaan skandal seks gereja yang dilakukan para pendeta terhadap anak-anak, akan berakhir, para "pengawal gereja" yang memilih untuk bersikap agresif; menyalahkan media massa, para penganut atheis, kelompok homo seksual dan para pengacara yang "rakus uang" karena dianggap telah mengeksploitasi skandal seks tersebut. Tapi itu semua tidak terlalu banyak mendapatkan simpati dari masyarakat atau mengubah opini yang terlanjur muncul bahwa kepausan Paus Benediktus XVI sudah hancur untuk selamanya.


Selama krisis itu pula, kepausan sudah mengambil langkah-langkah yang luar biasa--melakukan manuver cepat untuk kepentingan lembaga yang sudah berusia 2.000 tahun dan kini dipimpin oleh seorang teolog yang sedang merasa malu. Pada pertengahan April, Paus Benediktus--menurut sejumlah laporan--melakukan pertemuan tertutup dan "penuh derai air mata" dengan para korban pelecehan seks di Malta; dan pada saat yang hampir bersamaan, Paus menjadi "tukang bersih-bersih rumah" dengan menerima pengunduran diri sejumlah uskup--satu orang uskup karena terlibat pelecehan seks dan uskup lainnya yang merasa bersalah dalam menangani kasus-kasus pelecehan itu. Tahta Suci Vatikan juga mengumumkan bahwa Legiun Kristus kini langsung berada di bawah kontrol Vatikan. Banyak pejabat di Vatikan yang mengungkapkan pada para wartawan, tentang bagaimana "penderitaan" gereja akibat skandal seks tersebut.


Pada bulan Mei, dalam perjalanan ke tempat suci "Lady of Fatima" di Portugal, di atas pesawat, Paus menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan yang sudah lebih dulu ditulis dan diserahkan ke Paus. Meski ia bicara dengan gaya seorang gerejawi, dari pernyataannya jelas tertangkap apa yang ingin ditegaskan Paus.


"Penganiayaan terbesar pada gereja bukan berasal dari musuh-musuh di luar gereja, tapi lahir dari dosa-dosa di dalam gereja. Oleh sebab itu, gereja perlu melakukan pertobatan yang lebih dalam lagi, untuk menerima pemurnian," ujarnya, seraya menambahkan bahwa rasa keadilan tidak akan tergantikan dengan pemberian maaf bagi para pelaku, meski melupakan dosa-dosa adalah ajaran bagi umat Kristiani.


Pernyataan Paus yang menyinggung kata "keadilan" nampaknya mengindikasikan adanya perubahan sikap di Roma. Tapi apakah Paus Benediktus benar-benar akan memualai untuk membuat terobosan dalam hierarki gereja yang selama puluhan tahun selalu menutupi skandal-skandal seks gereja? atau pernyataannya itu hanya sebagai strategi public relation gereja?


Konsep keadilan dan penebusan dosa melibatkan jawaban pada Tuhan, manusia atau keduanya. Pada siapa Paus akan menjawab? Pada masa lalu, Ratzinger bersikap ambivalen terhadap tradisi penebusan dosa kepausan. Hari Pengampunan Dosa yang spektakuler pada tahun 2000 merupakan ide Paus Paulus II dan Ratzinger, sebagai prajurit harus mematuhinya. Jalannya ritual resmi pengampunan dosa--seluruh dokumennya hampir seluruhnya atas persetujuan Ratzinger--berusaha ditampilkan untuk menampilkan dua sisi; pengakuan dosa pada Tuhan yang dilakukan oleh Paus dan pengakuan dosa di hadapan manusia, dimana umat Kristiani tidak bisa bersembunyi dari tanggung jawab itu. Sejauh ini, terlihat seperti pertobatan. Tapi pernyataan Paus dalam perjalan ke tempat suci Fatima bulan Mei kemarin, menunjukkan seberapa jauh Paus mengekspos tanggung jawab institusinya. Paus membebankan kesalahan pada gereja dan bukan pada pelayan-pelayan (uskup, pendeta) gereja.


Di sinilah titik kritisnya. Dosa konsekuensinya menyangkut pada hal-hal Ilahiah, perbuatan kriminal berurusan dalam lingkup hakim-hakim manusia, hukum dan pengadilan, penjara, penghinaan publik dan hilangnya harta benda. Mungkin tidak jadi masalah jika kejahatannya terjadi jauh pada masa lalu dan korban-korbannya sudah meninggal. Tapi kasus-kasus pedofilia yang terbongkar baru-baru ini melibatkan orang-orang yang masih hidup dan menuntut ganti rugi. McDaid, salah satu korban pedofilia asal Massachusetts mengatakan, tidak seperti di masa lalu yang selalu bereaksi lambat, belakangan ini gereja bereaksi cukup cepat. "Tapi itu semua karena semua orang di gereja dalam ketakutan. Masalah ini tidak akan berlalu hanya dengan bantahan-bantahan," ujar McDaid.


Lalu, apa yang akan dikatatakan Paus Benediktus XVI selanjutnya? Sejumlah pejabat di Vatikan menyampaikan gagasannya bahwa Paus Paulus bisa memberikan mea culpa pada saat konvensi di Rome bulan awal Juni. "Harapan kembali muncul bahwa Paus akan mengatakan sesuatu, yang paling tidak bisa mengatasi semua persoalan ini," kata seorang sumber di Vatikan. Tapi kelihatannya Paus tidak memikirkan kemungkinan itu. Ada perbedaan suara dalam Gereja Vatikan


"Puluhan ribu imam suci yang baik, berusaha melakukan yang terbaik, akan datang ke Roma. Jika pesan konvensi itu tenga pelecehan seksual, maka seperti kata pepatah, bahwa ini pada akhirnya semua ini adalah kesalahan Anda (Paus). Tapi jika ia ingin menyatukan para uskup dunia dalam mea culpa, ini mungkin lebih masuk akal," kata seorang sumber di Vatikan.


Seorang yang mengaku loyal dengan Paus Benediktus mengakui bahwa ia ragu Paus bisa mempertahankan kekuasaan gereja di masa pemerintahannya sebagai Paus. Biar bagaimanapun juga, menuntut akuntabilitas dari sebuah budaya yang kerap menyembunyikan "kejahatan" sama artinya mengkhianati warisan pahlawan dan "sahabat besar" Paus Benediktus, Paus Paulus II meski ia cenderung cuma jadi penonton kasus-kasus pelecehan seksual dan mengabaikan para korban pelecehan hingga kasus ini meledak menjadi skandal memalukan pada tahun 2002.


Bahkan jika Paus Benediktus mendesak Kuria untuk lebih terbuka, ia kemungkinan tidak akan sejalan dengan banyak penganut Katolik. Meski gereja Vatikan dikelola dengan sistem atas ke bawah, gereja-gereja Katolik saat ini memiliki pengharapan akan sebuah umat yang taat dibandingkan sebuah kelompok penganut yang patuh. Ribuan korban pelecehan dan keluarga mareka rencananya akan berkumpul di Roma pada bulan Oktober untuk menghadiri apa yang mereka nyatakan sebagai "Hari Reformasi", sebuah tuntutan agar Vatikan segera bertindak atas kasus-kasus pelecehan seksual yang terjadi. Salah satu penggagas dan kordinator kegiatan itu adalah McDaid yang pernah bertemu Paus di Washington pada tahun 2008. Ia menyerukan aksi jalan kaki ke Gereja Santo Pterus di Roma dan sebuah gerakan demokrasi yang luas untuk mentransformasikan Roma. "Gereka ini gereja umat, kita harus merebutnya kembali," kata McDaid yang mengklaim gerakan reformasi gereja yang digagasnya akan lebih besar daripada gerakan reformasi yang dipimpin Martun Luther.


Refomasi Gereja Katolik, Mungkinkah?


Kata "reformasi" adalah kata yang sensitif bagi Gereja Katolik, karena sama artinya mengikis sejarah kejayaan gereja. Lalu, bisakah gereja benar-benar mereformasi institusinya? Profesor bidang teologi di Milltown Institute, Dublin, Pendeta Thomas Whelan menyatakan, reformasi gereja yang sangat sentralistik (sangat terikat dengan manajemen di Roma)ini sudah menjadi wacana sejak akhir abad ke-19. Skandal pedofilia para pendeta gereja menjadi pukulan keras bagi otokrasi gereja. Jika gereja tidak segera membersihkan diri, konsekuensinya akan mengerikan. Skandal ini, telah membuat gereja-gereja di Irlandia jadi sepi jamaah. Hal yang sama terjadi Jerman, Austria dan beberapa negara Eropa.


"Kenangan akan skandal seks ini akan terus menghantui sejarah gereja," ujar Whelan.


Bagi kalangan liberal, krisis gereja Katolik akibat skandal seks merupakan kesempatan untuk mempertanyakan kembali berbagai disiplin dan dogma Gereja Katolik, misalnya tentang aturan hidup membujang di kalangan agamawan Katolik dan pandanga-pandangan gereja tentang seks, peran kaum peremuan dan sikap gereja Katolik terhadap homoseksual. Kelompok lainnya berpendapat, otoritas keuskupan dan Paus harus dijalankan dengan penuh ketaatan. Tapi kalangan Konservatif melihat krisis yang dialami Gereja Katolik sebagai peluang untuk memperkuat kritik mereka terhadap kecabulan dan seks bebas budaya modern dan menekankan pentingnya kembali ke budaya tradisional dan ajaran agama Katolik seperti yang tertulis dalam Alkitab. (ln/time)


*eramuslim.com


(read more ...)



 Rabu, 09/06/2010 07:47 WIB | email | print | share



Dalam bagian pertama tulisan ini dijelaskan bagaimana Paus Benediktus XVI mencoba menyelamat citra Gereja Katolik yang tercoreng. lagi-lagi karena kasus kekerasan dan pedofilia yang dilakukan sejumlah pendeta di balik dinding gereja. Paus ternyata tidak mampu menunjukkan sikap tegasnya terhadap pendeta yang memiliki perilaku menyimpang, bahkan sejak ia masih menjadi kardinal di Munich, kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan para pendeta dianggapnya bukan masalah serius.


Ketika Gereja Menjadi Negara


Fakta bahwa skandal pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pendeta Katolik sudah berlangsung sejak berpuluh-puluh tahun lalu, tak terbantahkan. "Yang menyedihkan, banyak penyelesaian kasus-kasus pelecehan seksual yang memakan waktu lama," kata "orang dalam" Vatikan yang tidak mau disebut namanya. Pertanyaannya, mengapa Gereja Katolik tidak melaporkan saja para pendeta yang dituduh melakukan tindak kriminal itu ke aparat hukum sipil?


Tapi para pejabat Gereja membela diri dengan mengatakan bahwa semua kejahatan yang dituduhkan pada Gereja, sebenarnya adalah bagian dari persoalan sosial di masyarakat, dimana jarang sekali ada tuntutan terhadap kasus-kasus pelecehan seksual pada anak-anak.


Apapun pembelaan yang dilontarkan Gereja, realitas menunjukkan bahwa Gereja cenderung menutupi skandal-skandal seks yang terjadi di paroki-parokinya dan di panti-panti asuhan dimana anak-anak dipercayakan diasuh oleh Gereja. Dan tidak ada yang memiliki kecenderungan sistemik seperti itu, selain Gereja. Gereja betul-betul menghindari otoritas sipil, bahkan saat ini, ketika tekanan pada Vatikan begitu besar agar menyerahkan saja pendeta-pendeta bermasalah ke pengadilan sipil dan bukan pengadilan Gereja. Tapi sebagian pejabat Vatikan tetap bersikeras memegang teguh etos kuno Gereja Katolik.


Awal April kemarin, Uskup Agung yang dikenal eksentris, Dadeus Grings dari Porto Alegre, Brazil, pada surat kabar O Globo mengatakan, bahwa skandal seks para pendeta adalah masalah internal Gereja, bukan sesuatu yang harus dilaporkan ke polisi. "Akan terlihat aneh jika Gereja datang ke kantor polisi dan melaporkan anak sendiri," kata Grings memberi perumpamaan.


Pola pikir macam Grings sudah berurat akar dalam sejarah Gereja. Gereja memiliki hak prerogatif yang melampaui batas teritorialnya sejak berabad-abad yang lalu. Gereja Katolik mengklaim sebagai wakil Yesus Kristus di dunia, sebuah otoritas yang sangat berkuasa dan tidak mungkin berdosa, karena menjadi penerus Sang Juru Selamat. Para pejabat Gereja akan selalu memegang teguh doktrin, bahwa menjaga kekuasaan gereja, kesucian Paus tidak bisa hanya menciptakan "Kota Tuhan", tapi gereja juga harus punya kekuasaan di bumi, karenanya Gereja harus dilengkapi dengan divisi militer. Selanjutnya, Gereka paling tidak harus memegang kekuasaan pemerintahan sekuler. Gereja harus menjadi sebuah negara.


Ambisi Gereja itu menjadi begitu penting karena otoritas sekuler negara-negara yang berada di bawah kepausan di Italia, terus dilucuti oleh kerajaan Perancis dan Spanyol, Napoleon dan Garibaldi, Mussolini dan Hitler. Sejarawan bernama Melloni menyatakan bahwa Kepausan berhasil memanfaatkan situasi saat posisi Gereja lemah, untuk menarik simpati dari kalangan masyarakat yang masih beriman. Gereja menempatkan dirinya seolah-olah sebagai korban dan menyalahkan pihak lain yang dianggap telah menggerogoti kekuasaan Gereja.


"Taktik Gereja itulah yang menimbulkan kembali sikap penghormatan kepada Paus," kata Melloni.


Taktik itu merupakan warisan selama 32 tahun kekuasaan Giovanni Maria Mastai-Ferretti, Paus Pius IX, tokoh yang pertama kali menggelar Konsili Dewan Gereja Vatikan yang pertama pada tahun 1869, yang mengakui kegagalan Gereja dan para tersangka yang dianggap bersalah dalam kegagalan itu mayoritas adalah para uskup. Selanjutnya, kekuasaan Gereja menjadi lebih terpusat dan mendominasi, dengan mengatasnamakan ketataaan pada kekuasaan Ilahi yang mutlak, birokrasi Vatikan dan Kuria Romawi. Bahkan ketika Paus kehilangan para divisinya, kerajaan Kristus yang berbasis di Roma membangun sebuah pemerintahan untuk menyaingi otoritas sipil di negara-negara dimana para pemuka agamanya bekerja hanya untuk melayani umat penganut agamanya. Gereja dan Katedral menjadi wakil Tuhan dan "utusannya" yaitu Paus, di negara-negara sekuler.


Dalam sistem seperti ini, setiap kecurigaan tentang perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pendeta atau biarawati secara naluriah akan dilaporkan ke rantai komando gereja daripada dan bukan ke kantor kejaksaan-tindakan yang menurut Gereja dilarang oleh Tuhan. Kebijakan yang diberlakukan sampai ke tingkat paroki ini, dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan Gereja, menghindari skandal dan untuk menjaga nama baik Geereja dengan cara apapun-kecenderungan ini makin buruk oleh kenyataan bahwa lembaga tinggi Gereja dijalankan oleh kumpulan lelaki yang berpengalaman dalam melakukan kecurangan. Pada kasus pedofilia, itu artinya yang diutamakan adalah kepentingan gereja dan para pendetanya, bukan kesejahteraan anak-anak yang dipercayakan diasuh oleh Gereja.


Menurut sumber Vatikan yang mengaku loyal kepada Paus, sebagai Kardinal Ratzinger, Paus tahu bagaimana bertindak dalam lingkungan Kuria berbahasa Italia, Bizantium, begitu ia tiba dari Jerman ke Roma pada tahun 1981. Dalam situasi dimana Paus Yohanes Paulus II ketika itu, tidak tertarik dalam masalah administrasi dan sering jauh dari kantor pusatnya di Vatikan, Ratzinger menjadi salah satu dari sedikit Kardinal yang saling bersaing untuk memberikan pengaruh terhadap pengelolaan Gereja. Ia terus mencari reputasi dalam pengambil keputusan yang penting dan prinsipil terutama dalam doktrin Gereja yang menjadi bidangnya, meskipun ia kurang transparan ketika menyangkut laporan memalukan terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh oleh para pendeta dan uskup. Tapi, kata seorang pengamat kawakan Vatikan, Ratzinger "tahu tempatnya berada dengan baik dan melihat banyak pisau panjang" dan dia tampaknya memilih bertempur dengan hati-hati.


Pada tahun 1995, Ratzinger berhasil memaksa pemecatan Kardinal Hans Hermann GroËr sebagai sebagai Uskup Agung di Wina. Tapi menurut surat kabar New York Times, Ratzinger melakukan itu tanpa perjuangan misalnya dengan membentuk tim komisi pencari fakta untuk menyelidiki kasus penganiayaan anak-anak yang dituduhkan pada GroËr. Ratzinger mengambil keuntungan dari situasi itu, setelah kasus penganiayaan itu berhasil diblokir--sehingga tidak menjadi pemberitaan panas--oleh sekretaris pribadi Yohanes Paulus II, Stanislaw Dziwisz (sekarang Uskup Agung Krakow) dan Menteri Luar Negeri Vatikan yang sangat kuar pengaruhnya, Kardinal Angelo Sodano (sekarang dekan di College of Cardinals). Ratzinger, akhirnya bisa menyaksikan mahasiswa dan sekaligus temannya Christoph SchÖnborn berhasil menggantikan GroËr sebagai Uskup Agung Wina.


Dikenal sebagai orang yang efisien, Ratzinger ternyata berpandangan picik. Dalam satu hal, ia bertekad untuk mempertahankan sumber daya manusia, yaitu para kardinal yang jumlahnya makin sedikit daripada menegakkan keadilan. Dalam kasus yang diungkap Associated Press bulan April kemarin, seorang pendeta yang merupakan anak hasil selingkuh, minta dipecat . Uskup lokal di Oakland, California, berulang kali mengirimkan surat ke kantor Ratzinger di Roma untuk membereskan prosedur permintaan pemecatan itu. Kasus ini diproses sangat lama, sampai pada tahun 1985 datang surat yang ditandatangani Kardinal yang isinya mengingatkan keuskupan Oakland " untuk mempertimbangkan kepentingan Gereja Universal" dan menunda permintaan pemecatan pendeta dengan alasan pendeta yang minta dipecat itu "masih berusia muda."




Para pembela Benediktus XVI beranggapan, bagaimanapun juga tidak adil jika Paus Benediktus diseret ke tengah skandal yang dilakukan para pendeta dan uskup Gereka Katolik. Sebelum terpilih menjadi Paus, Ratzinger dinilai berjasa dalam mengatasi krisis yang dialami Gereja sementara rekan-rekannya sesama Kardinal masih berusaha membersihkan Gereja dari aneka tuduhan. Memang, kebijakan Ratzinger, terutama setelah kantornya ditugaskan untuk mengawasi kasus-kasus besar pada tahun 2001, telah memberikan kontribusi sehingga ada penurunan jumlah kasus-kasus baru pelecehan seksual oleh para pendeta. Beberapa saat sebelum ia terpilih sebagai Paus, dalam khotbah Jumat Agung tahun 2005, Kardinal menegaskan tentang kebutuhan untuk "membersihkan kotoran" di kalangan pejabat gereja.


Begitu resmi diangkat sebagai Paus, dengan cepat Benediktus mengasingkan Pendeta Marcial Maciel Degollado ke sebuah biara dan disana ia hidup dalam penebusan dosa. Degodallo adalah orang yang cukup berpengaruh dan salah satu pendiri Legiun Kristus di Meksiko. Pendeta itu sudah lama mendapat perlindungan dari para pejabat Gereja, termasuk Yohanes Paulus II, terkait dengan sejumlah tuduhan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Pendeta Degollado.


Tiindakan Paus yang paling diingat orang adalah, ketika ia berkunjung ke Amerika Serikat pada tahun 2008. Di AS Benediktus bertemu lima korban pelecehan seks yang dilakukan oleh pendeta di kedutaan besar Vatikan di Washington, sebuah pertemuan yang tak terduga dan lolos dari lpitan pers karena pertemuan dilakukan tanpa pemberitahuan, Peristiwa ini menunjukkan betapa berkuasanya Kepausan Benediktus, dan peristiwa itu terulang lagi dalam kunjungan Paus ke Australia dan Malta bulan April kemarin.


Tapi pada bulan Maret 2010, sejumlah wartawan Jerman berhasil mengungkap catatan yang mengancam reputasi Paus Benediktus. Catatan itu membeberkan bahwa pada tahun 1980 di Munich, Ratzinger--yang kemudian menjadi uskup agung--secara pribadi mengesahkan mutasi seorang pendeta yang berperilaku kejam, Peter Hullermann, dari Jerman ke keuskupannya dengan dalih untuk menjalani terapi. Tapi hanya beberapa hari setelah kedatangannya, pendeta itu diizinkan untuk melayani jamaah.


Hullermann sendiri, di kemudian hari, tepatnya tahun 1986, tersangkut sejumlah pelecehan seksual. Atas kasus Ratzinger-Hullermann, Vatikan menegaskan bahwa, seperti Uskup Agung lainnya, Ratzinger tidak bertanggung jawab atas penugasan para pendeta di paroki, termasuk para pendeta yang memiliki sejarah melakukan pelecehan dan penganiayaan terhadap anak-anak. Namun Ratzinger adalah bintang yang bersinar - seorang filsuf yang religius dan brilian - telah mengambil posisi di jalur administrasi dan tinggal selangkah lagi melangkah ke Vatikan. Akhirnya tahun 1981, Ratzinger ditugaskan kembali ke Roma untuk bekerja di Gereja Vatikan.


Reputasi Ratzinger sebagai orang yang detail, membuat banyak orang sulit percaya bahwa Ratzinger tidak tahu apa-apa tentang Hullermann yang melakukan pelayanan Gereja, padahal pendeta itu bermasalah.. Paus tidak pernah menjelaslkan kasus ini secara eksplisit selama masa tugasnya. Tapi kalau dia hruas memuaskan para korban dan keluarga korban, ia harus melakukannya satu hari nanti.. Namun kenyataannya, seorang korban pelecehan seksual bernama Home yang bertemu Benediktus di Washington tahun 2008, mengatakan bahwa Benediktus menampakkan sikap yang terkejut sama sekali mendengar pengakuan korban.


Pada kesempatan itu, Home menuntut pertanggungjawaban penuh Vatikan atas kasus-kasus pelecehan seksual di masa lalu. Ia menegaskan bahwa dirinya bersama para korban lainnya tidak punya kepentingan untuk menumbangkan kekuasaan Benediktus. "Kami sedang meminta tanggung jawab moral dari Gereja," ujar Home. (ln/Time)


(read more ...)



 Rabu, 09/06/2010 07:47 WIB | email | print | share



Dalam bagian pertama tulisan ini dijelaskan bagaimana Paus Benediktus XVI mencoba menyelamat citra Gereja Katolik yang tercoreng. lagi-lagi karena kasus kekerasan dan pedofilia yang dilakukan sejumlah pendeta di balik dinding gereja. Paus ternyata tidak mampu menunjukkan sikap tegasnya terhadap pendeta yang memiliki perilaku menyimpang, bahkan sejak ia masih menjadi kardinal di Munich, kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan para pendeta dianggapnya bukan masalah serius.


Ketika Gereja Menjadi Negara


Fakta bahwa skandal pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pendeta Katolik sudah berlangsung sejak berpuluh-puluh tahun lalu, tak terbantahkan. "Yang menyedihkan, banyak penyelesaian kasus-kasus pelecehan seksual yang memakan waktu lama," kata "orang dalam" Vatikan yang tidak mau disebut namanya. Pertanyaannya, mengapa Gereja Katolik tidak melaporkan saja para pendeta yang dituduh melakukan tindak kriminal itu ke aparat hukum sipil?


Tapi para pejabat Gereja membela diri dengan mengatakan bahwa semua kejahatan yang dituduhkan pada Gereja, sebenarnya adalah bagian dari persoalan sosial di masyarakat, dimana jarang sekali ada tuntutan terhadap kasus-kasus pelecehan seksual pada anak-anak.


Apapun pembelaan yang dilontarkan Gereja, realitas menunjukkan bahwa Gereja cenderung menutupi skandal-skandal seks yang terjadi di paroki-parokinya dan di panti-panti asuhan dimana anak-anak dipercayakan diasuh oleh Gereja. Dan tidak ada yang memiliki kecenderungan sistemik seperti itu, selain Gereja. Gereja betul-betul menghindari otoritas sipil, bahkan saat ini, ketika tekanan pada Vatikan begitu besar agar menyerahkan saja pendeta-pendeta bermasalah ke pengadilan sipil dan bukan pengadilan Gereja. Tapi sebagian pejabat Vatikan tetap bersikeras memegang teguh etos kuno Gereja Katolik.


Awal April kemarin, Uskup Agung yang dikenal eksentris, Dadeus Grings dari Porto Alegre, Brazil, pada surat kabar O Globo mengatakan, bahwa skandal seks para pendeta adalah masalah internal Gereja, bukan sesuatu yang harus dilaporkan ke polisi. "Akan terlihat aneh jika Gereja datang ke kantor polisi dan melaporkan anak sendiri," kata Grings memberi perumpamaan.


Pola pikir macam Grings sudah berurat akar dalam sejarah Gereja. Gereja memiliki hak prerogatif yang melampaui batas teritorialnya sejak berabad-abad yang lalu. Gereja Katolik mengklaim sebagai wakil Yesus Kristus di dunia, sebuah otoritas yang sangat berkuasa dan tidak mungkin berdosa, karena menjadi penerus Sang Juru Selamat. Para pejabat Gereja akan selalu memegang teguh doktrin, bahwa menjaga kekuasaan gereja, kesucian Paus tidak bisa hanya menciptakan "Kota Tuhan", tapi gereja juga harus punya kekuasaan di bumi, karenanya Gereja harus dilengkapi dengan divisi militer. Selanjutnya, Gereka paling tidak harus memegang kekuasaan pemerintahan sekuler. Gereja harus menjadi sebuah negara.


Ambisi Gereja itu menjadi begitu penting karena otoritas sekuler negara-negara yang berada di bawah kepausan di Italia, terus dilucuti oleh kerajaan Perancis dan Spanyol, Napoleon dan Garibaldi, Mussolini dan Hitler. Sejarawan bernama Melloni menyatakan bahwa Kepausan berhasil memanfaatkan situasi saat posisi Gereja lemah, untuk menarik simpati dari kalangan masyarakat yang masih beriman. Gereja menempatkan dirinya seolah-olah sebagai korban dan menyalahkan pihak lain yang dianggap telah menggerogoti kekuasaan Gereja.


"Taktik Gereja itulah yang menimbulkan kembali sikap penghormatan kepada Paus," kata Melloni.


Taktik itu merupakan warisan selama 32 tahun kekuasaan Giovanni Maria Mastai-Ferretti, Paus Pius IX, tokoh yang pertama kali menggelar Konsili Dewan Gereja Vatikan yang pertama pada tahun 1869, yang mengakui kegagalan Gereja dan para tersangka yang dianggap bersalah dalam kegagalan itu mayoritas adalah para uskup. Selanjutnya, kekuasaan Gereja menjadi lebih terpusat dan mendominasi, dengan mengatasnamakan ketataaan pada kekuasaan Ilahi yang mutlak, birokrasi Vatikan dan Kuria Romawi. Bahkan ketika Paus kehilangan para divisinya, kerajaan Kristus yang berbasis di Roma membangun sebuah pemerintahan untuk menyaingi otoritas sipil di negara-negara dimana para pemuka agamanya bekerja hanya untuk melayani umat penganut agamanya. Gereja dan Katedral menjadi wakil Tuhan dan "utusannya" yaitu Paus, di negara-negara sekuler.


Dalam sistem seperti ini, setiap kecurigaan tentang perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pendeta atau biarawati secara naluriah akan dilaporkan ke rantai komando gereja daripada dan bukan ke kantor kejaksaan-tindakan yang menurut Gereja dilarang oleh Tuhan. Kebijakan yang diberlakukan sampai ke tingkat paroki ini, dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan Gereja, menghindari skandal dan untuk menjaga nama baik Geereja dengan cara apapun-kecenderungan ini makin buruk oleh kenyataan bahwa lembaga tinggi Gereja dijalankan oleh kumpulan lelaki yang berpengalaman dalam melakukan kecurangan. Pada kasus pedofilia, itu artinya yang diutamakan adalah kepentingan gereja dan para pendetanya, bukan kesejahteraan anak-anak yang dipercayakan diasuh oleh Gereja.


Menurut sumber Vatikan yang mengaku loyal kepada Paus, sebagai Kardinal Ratzinger, Paus tahu bagaimana bertindak dalam lingkungan Kuria berbahasa Italia, Bizantium, begitu ia tiba dari Jerman ke Roma pada tahun 1981. Dalam situasi dimana Paus Yohanes Paulus II ketika itu, tidak tertarik dalam masalah administrasi dan sering jauh dari kantor pusatnya di Vatikan, Ratzinger menjadi salah satu dari sedikit Kardinal yang saling bersaing untuk memberikan pengaruh terhadap pengelolaan Gereja. Ia terus mencari reputasi dalam pengambil keputusan yang penting dan prinsipil terutama dalam doktrin Gereja yang menjadi bidangnya, meskipun ia kurang transparan ketika menyangkut laporan memalukan terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh oleh para pendeta dan uskup. Tapi, kata seorang pengamat kawakan Vatikan, Ratzinger "tahu tempatnya berada dengan baik dan melihat banyak pisau panjang" dan dia tampaknya memilih bertempur dengan hati-hati.


Pada tahun 1995, Ratzinger berhasil memaksa pemecatan Kardinal Hans Hermann GroËr sebagai sebagai Uskup Agung di Wina. Tapi menurut surat kabar New York Times, Ratzinger melakukan itu tanpa perjuangan misalnya dengan membentuk tim komisi pencari fakta untuk menyelidiki kasus penganiayaan anak-anak yang dituduhkan pada GroËr. Ratzinger mengambil keuntungan dari situasi itu, setelah kasus penganiayaan itu berhasil diblokir--sehingga tidak menjadi pemberitaan panas--oleh sekretaris pribadi Yohanes Paulus II, Stanislaw Dziwisz (sekarang Uskup Agung Krakow) dan Menteri Luar Negeri Vatikan yang sangat kuar pengaruhnya, Kardinal Angelo Sodano (sekarang dekan di College of Cardinals). Ratzinger, akhirnya bisa menyaksikan mahasiswa dan sekaligus temannya Christoph SchÖnborn berhasil menggantikan GroËr sebagai Uskup Agung Wina.


Dikenal sebagai orang yang efisien, Ratzinger ternyata berpandangan picik. Dalam satu hal, ia bertekad untuk mempertahankan sumber daya manusia, yaitu para kardinal yang jumlahnya makin sedikit daripada menegakkan keadilan. Dalam kasus yang diungkap Associated Press bulan April kemarin, seorang pendeta yang merupakan anak hasil selingkuh, minta dipecat . Uskup lokal di Oakland, California, berulang kali mengirimkan surat ke kantor Ratzinger di Roma untuk membereskan prosedur permintaan pemecatan itu. Kasus ini diproses sangat lama, sampai pada tahun 1985 datang surat yang ditandatangani Kardinal yang isinya mengingatkan keuskupan Oakland " untuk mempertimbangkan kepentingan Gereja Universal" dan menunda permintaan pemecatan pendeta dengan alasan pendeta yang minta dipecat itu "masih berusia muda."




Para pembela Benediktus XVI beranggapan, bagaimanapun juga tidak adil jika Paus Benediktus diseret ke tengah skandal yang dilakukan para pendeta dan uskup Gereka Katolik. Sebelum terpilih menjadi Paus, Ratzinger dinilai berjasa dalam mengatasi krisis yang dialami Gereja sementara rekan-rekannya sesama Kardinal masih berusaha membersihkan Gereja dari aneka tuduhan. Memang, kebijakan Ratzinger, terutama setelah kantornya ditugaskan untuk mengawasi kasus-kasus besar pada tahun 2001, telah memberikan kontribusi sehingga ada penurunan jumlah kasus-kasus baru pelecehan seksual oleh para pendeta. Beberapa saat sebelum ia terpilih sebagai Paus, dalam khotbah Jumat Agung tahun 2005, Kardinal menegaskan tentang kebutuhan untuk "membersihkan kotoran" di kalangan pejabat gereja.


Begitu resmi diangkat sebagai Paus, dengan cepat Benediktus mengasingkan Pendeta Marcial Maciel Degollado ke sebuah biara dan disana ia hidup dalam penebusan dosa. Degodallo adalah orang yang cukup berpengaruh dan salah satu pendiri Legiun Kristus di Meksiko. Pendeta itu sudah lama mendapat perlindungan dari para pejabat Gereja, termasuk Yohanes Paulus II, terkait dengan sejumlah tuduhan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Pendeta Degollado.


Tiindakan Paus yang paling diingat orang adalah, ketika ia berkunjung ke Amerika Serikat pada tahun 2008. Di AS Benediktus bertemu lima korban pelecehan seks yang dilakukan oleh pendeta di kedutaan besar Vatikan di Washington, sebuah pertemuan yang tak terduga dan lolos dari lpitan pers karena pertemuan dilakukan tanpa pemberitahuan, Peristiwa ini menunjukkan betapa berkuasanya Kepausan Benediktus, dan peristiwa itu terulang lagi dalam kunjungan Paus ke Australia dan Malta bulan April kemarin.


Tapi pada bulan Maret 2010, sejumlah wartawan Jerman berhasil mengungkap catatan yang mengancam reputasi Paus Benediktus. Catatan itu membeberkan bahwa pada tahun 1980 di Munich, Ratzinger--yang kemudian menjadi uskup agung--secara pribadi mengesahkan mutasi seorang pendeta yang berperilaku kejam, Peter Hullermann, dari Jerman ke keuskupannya dengan dalih untuk menjalani terapi. Tapi hanya beberapa hari setelah kedatangannya, pendeta itu diizinkan untuk melayani jamaah.


Hullermann sendiri, di kemudian hari, tepatnya tahun 1986, tersangkut sejumlah pelecehan seksual. Atas kasus Ratzinger-Hullermann, Vatikan menegaskan bahwa, seperti Uskup Agung lainnya, Ratzinger tidak bertanggung jawab atas penugasan para pendeta di paroki, termasuk para pendeta yang memiliki sejarah melakukan pelecehan dan penganiayaan terhadap anak-anak. Namun Ratzinger adalah bintang yang bersinar - seorang filsuf yang religius dan brilian - telah mengambil posisi di jalur administrasi dan tinggal selangkah lagi melangkah ke Vatikan. Akhirnya tahun 1981, Ratzinger ditugaskan kembali ke Roma untuk bekerja di Gereja Vatikan.


Reputasi Ratzinger sebagai orang yang detail, membuat banyak orang sulit percaya bahwa Ratzinger tidak tahu apa-apa tentang Hullermann yang melakukan pelayanan Gereja, padahal pendeta itu bermasalah.. Paus tidak pernah menjelaslkan kasus ini secara eksplisit selama masa tugasnya. Tapi kalau dia hruas memuaskan para korban dan keluarga korban, ia harus melakukannya satu hari nanti.. Namun kenyataannya, seorang korban pelecehan seksual bernama Home yang bertemu Benediktus di Washington tahun 2008, mengatakan bahwa Benediktus menampakkan sikap yang terkejut sama sekali mendengar pengakuan korban.


Pada kesempatan itu, Home menuntut pertanggungjawaban penuh Vatikan atas kasus-kasus pelecehan seksual di masa lalu. Ia menegaskan bahwa dirinya bersama para korban lainnya tidak punya kepentingan untuk menumbangkan kekuasaan Benediktus. "Kami sedang meminta tanggung jawab moral dari Gereja," ujar Home. (ln/Time)


(read more ...)



 Rabu, 09/06/2010 07:47 WIB | email | print | share



Dalam bagian pertama tulisan ini dijelaskan bagaimana Paus Benediktus XVI mencoba menyelamat citra Gereja Katolik yang tercoreng. lagi-lagi karena kasus kekerasan dan pedofilia yang dilakukan sejumlah pendeta di balik dinding gereja. Paus ternyata tidak mampu menunjukkan sikap tegasnya terhadap pendeta yang memiliki perilaku menyimpang, bahkan sejak ia masih menjadi kardinal di Munich, kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan para pendeta dianggapnya bukan masalah serius.


Ketika Gereja Menjadi Negara


Fakta bahwa skandal pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pendeta Katolik sudah berlangsung sejak berpuluh-puluh tahun lalu, tak terbantahkan. "Yang menyedihkan, banyak penyelesaian kasus-kasus pelecehan seksual yang memakan waktu lama," kata "orang dalam" Vatikan yang tidak mau disebut namanya. Pertanyaannya, mengapa Gereja Katolik tidak melaporkan saja para pendeta yang dituduh melakukan tindak kriminal itu ke aparat hukum sipil?


Tapi para pejabat Gereja membela diri dengan mengatakan bahwa semua kejahatan yang dituduhkan pada Gereja, sebenarnya adalah bagian dari persoalan sosial di masyarakat, dimana jarang sekali ada tuntutan terhadap kasus-kasus pelecehan seksual pada anak-anak.


Apapun pembelaan yang dilontarkan Gereja, realitas menunjukkan bahwa Gereja cenderung menutupi skandal-skandal seks yang terjadi di paroki-parokinya dan di panti-panti asuhan dimana anak-anak dipercayakan diasuh oleh Gereja. Dan tidak ada yang memiliki kecenderungan sistemik seperti itu, selain Gereja. Gereja betul-betul menghindari otoritas sipil, bahkan saat ini, ketika tekanan pada Vatikan begitu besar agar menyerahkan saja pendeta-pendeta bermasalah ke pengadilan sipil dan bukan pengadilan Gereja. Tapi sebagian pejabat Vatikan tetap bersikeras memegang teguh etos kuno Gereja Katolik.


Awal April kemarin, Uskup Agung yang dikenal eksentris, Dadeus Grings dari Porto Alegre, Brazil, pada surat kabar O Globo mengatakan, bahwa skandal seks para pendeta adalah masalah internal Gereja, bukan sesuatu yang harus dilaporkan ke polisi. "Akan terlihat aneh jika Gereja datang ke kantor polisi dan melaporkan anak sendiri," kata Grings memberi perumpamaan.


Pola pikir macam Grings sudah berurat akar dalam sejarah Gereja. Gereja memiliki hak prerogatif yang melampaui batas teritorialnya sejak berabad-abad yang lalu. Gereja Katolik mengklaim sebagai wakil Yesus Kristus di dunia, sebuah otoritas yang sangat berkuasa dan tidak mungkin berdosa, karena menjadi penerus Sang Juru Selamat. Para pejabat Gereja akan selalu memegang teguh doktrin, bahwa menjaga kekuasaan gereja, kesucian Paus tidak bisa hanya menciptakan "Kota Tuhan", tapi gereja juga harus punya kekuasaan di bumi, karenanya Gereja harus dilengkapi dengan divisi militer. Selanjutnya, Gereka paling tidak harus memegang kekuasaan pemerintahan sekuler. Gereja harus menjadi sebuah negara.


Ambisi Gereja itu menjadi begitu penting karena otoritas sekuler negara-negara yang berada di bawah kepausan di Italia, terus dilucuti oleh kerajaan Perancis dan Spanyol, Napoleon dan Garibaldi, Mussolini dan Hitler. Sejarawan bernama Melloni menyatakan bahwa Kepausan berhasil memanfaatkan situasi saat posisi Gereja lemah, untuk menarik simpati dari kalangan masyarakat yang masih beriman. Gereja menempatkan dirinya seolah-olah sebagai korban dan menyalahkan pihak lain yang dianggap telah menggerogoti kekuasaan Gereja.


"Taktik Gereja itulah yang menimbulkan kembali sikap penghormatan kepada Paus," kata Melloni.


Taktik itu merupakan warisan selama 32 tahun kekuasaan Giovanni Maria Mastai-Ferretti, Paus Pius IX, tokoh yang pertama kali menggelar Konsili Dewan Gereja Vatikan yang pertama pada tahun 1869, yang mengakui kegagalan Gereja dan para tersangka yang dianggap bersalah dalam kegagalan itu mayoritas adalah para uskup. Selanjutnya, kekuasaan Gereja menjadi lebih terpusat dan mendominasi, dengan mengatasnamakan ketataaan pada kekuasaan Ilahi yang mutlak, birokrasi Vatikan dan Kuria Romawi. Bahkan ketika Paus kehilangan para divisinya, kerajaan Kristus yang berbasis di Roma membangun sebuah pemerintahan untuk menyaingi otoritas sipil di negara-negara dimana para pemuka agamanya bekerja hanya untuk melayani umat penganut agamanya. Gereja dan Katedral menjadi wakil Tuhan dan "utusannya" yaitu Paus, di negara-negara sekuler.


Dalam sistem seperti ini, setiap kecurigaan tentang perilaku menyimpang yang dilakukan oleh pendeta atau biarawati secara naluriah akan dilaporkan ke rantai komando gereja daripada dan bukan ke kantor kejaksaan-tindakan yang menurut Gereja dilarang oleh Tuhan. Kebijakan yang diberlakukan sampai ke tingkat paroki ini, dimaksudkan untuk menjaga kerahasiaan Gereja, menghindari skandal dan untuk menjaga nama baik Geereja dengan cara apapun-kecenderungan ini makin buruk oleh kenyataan bahwa lembaga tinggi Gereja dijalankan oleh kumpulan lelaki yang berpengalaman dalam melakukan kecurangan. Pada kasus pedofilia, itu artinya yang diutamakan adalah kepentingan gereja dan para pendetanya, bukan kesejahteraan anak-anak yang dipercayakan diasuh oleh Gereja.


Menurut sumber Vatikan yang mengaku loyal kepada Paus, sebagai Kardinal Ratzinger, Paus tahu bagaimana bertindak dalam lingkungan Kuria berbahasa Italia, Bizantium, begitu ia tiba dari Jerman ke Roma pada tahun 1981. Dalam situasi dimana Paus Yohanes Paulus II ketika itu, tidak tertarik dalam masalah administrasi dan sering jauh dari kantor pusatnya di Vatikan, Ratzinger menjadi salah satu dari sedikit Kardinal yang saling bersaing untuk memberikan pengaruh terhadap pengelolaan Gereja. Ia terus mencari reputasi dalam pengambil keputusan yang penting dan prinsipil terutama dalam doktrin Gereja yang menjadi bidangnya, meskipun ia kurang transparan ketika menyangkut laporan memalukan terkait pelecehan seksual yang dilakukan oleh oleh para pendeta dan uskup. Tapi, kata seorang pengamat kawakan Vatikan, Ratzinger "tahu tempatnya berada dengan baik dan melihat banyak pisau panjang" dan dia tampaknya memilih bertempur dengan hati-hati.


Pada tahun 1995, Ratzinger berhasil memaksa pemecatan Kardinal Hans Hermann GroËr sebagai sebagai Uskup Agung di Wina. Tapi menurut surat kabar New York Times, Ratzinger melakukan itu tanpa perjuangan misalnya dengan membentuk tim komisi pencari fakta untuk menyelidiki kasus penganiayaan anak-anak yang dituduhkan pada GroËr. Ratzinger mengambil keuntungan dari situasi itu, setelah kasus penganiayaan itu berhasil diblokir--sehingga tidak menjadi pemberitaan panas--oleh sekretaris pribadi Yohanes Paulus II, Stanislaw Dziwisz (sekarang Uskup Agung Krakow) dan Menteri Luar Negeri Vatikan yang sangat kuar pengaruhnya, Kardinal Angelo Sodano (sekarang dekan di College of Cardinals). Ratzinger, akhirnya bisa menyaksikan mahasiswa dan sekaligus temannya Christoph SchÖnborn berhasil menggantikan GroËr sebagai Uskup Agung Wina.


Dikenal sebagai orang yang efisien, Ratzinger ternyata berpandangan picik. Dalam satu hal, ia bertekad untuk mempertahankan sumber daya manusia, yaitu para kardinal yang jumlahnya makin sedikit daripada menegakkan keadilan. Dalam kasus yang diungkap Associated Press bulan April kemarin, seorang pendeta yang merupakan anak hasil selingkuh, minta dipecat . Uskup lokal di Oakland, California, berulang kali mengirimkan surat ke kantor Ratzinger di Roma untuk membereskan prosedur permintaan pemecatan itu. Kasus ini diproses sangat lama, sampai pada tahun 1985 datang surat yang ditandatangani Kardinal yang isinya mengingatkan keuskupan Oakland " untuk mempertimbangkan kepentingan Gereja Universal" dan menunda permintaan pemecatan pendeta dengan alasan pendeta yang minta dipecat itu "masih berusia muda."




Para pembela Benediktus XVI beranggapan, bagaimanapun juga tidak adil jika Paus Benediktus diseret ke tengah skandal yang dilakukan para pendeta dan uskup Gereka Katolik. Sebelum terpilih menjadi Paus, Ratzinger dinilai berjasa dalam mengatasi krisis yang dialami Gereja sementara rekan-rekannya sesama Kardinal masih berusaha membersihkan Gereja dari aneka tuduhan. Memang, kebijakan Ratzinger, terutama setelah kantornya ditugaskan untuk mengawasi kasus-kasus besar pada tahun 2001, telah memberikan kontribusi sehingga ada penurunan jumlah kasus-kasus baru pelecehan seksual oleh para pendeta. Beberapa saat sebelum ia terpilih sebagai Paus, dalam khotbah Jumat Agung tahun 2005, Kardinal menegaskan tentang kebutuhan untuk "membersihkan kotoran" di kalangan pejabat gereja.


Begitu resmi diangkat sebagai Paus, dengan cepat Benediktus mengasingkan Pendeta Marcial Maciel Degollado ke sebuah biara dan disana ia hidup dalam penebusan dosa. Degodallo adalah orang yang cukup berpengaruh dan salah satu pendiri Legiun Kristus di Meksiko. Pendeta itu sudah lama mendapat perlindungan dari para pejabat Gereja, termasuk Yohanes Paulus II, terkait dengan sejumlah tuduhan pelecehan seksual yang dilakukan oleh Pendeta Degollado.


Tiindakan Paus yang paling diingat orang adalah, ketika ia berkunjung ke Amerika Serikat pada tahun 2008. Di AS Benediktus bertemu lima korban pelecehan seks yang dilakukan oleh pendeta di kedutaan besar Vatikan di Washington, sebuah pertemuan yang tak terduga dan lolos dari lpitan pers karena pertemuan dilakukan tanpa pemberitahuan, Peristiwa ini menunjukkan betapa berkuasanya Kepausan Benediktus, dan peristiwa itu terulang lagi dalam kunjungan Paus ke Australia dan Malta bulan April kemarin.


Tapi pada bulan Maret 2010, sejumlah wartawan Jerman berhasil mengungkap catatan yang mengancam reputasi Paus Benediktus. Catatan itu membeberkan bahwa pada tahun 1980 di Munich, Ratzinger--yang kemudian menjadi uskup agung--secara pribadi mengesahkan mutasi seorang pendeta yang berperilaku kejam, Peter Hullermann, dari Jerman ke keuskupannya dengan dalih untuk menjalani terapi. Tapi hanya beberapa hari setelah kedatangannya, pendeta itu diizinkan untuk melayani jamaah.


Hullermann sendiri, di kemudian hari, tepatnya tahun 1986, tersangkut sejumlah pelecehan seksual. Atas kasus Ratzinger-Hullermann, Vatikan menegaskan bahwa, seperti Uskup Agung lainnya, Ratzinger tidak bertanggung jawab atas penugasan para pendeta di paroki, termasuk para pendeta yang memiliki sejarah melakukan pelecehan dan penganiayaan terhadap anak-anak. Namun Ratzinger adalah bintang yang bersinar - seorang filsuf yang religius dan brilian - telah mengambil posisi di jalur administrasi dan tinggal selangkah lagi melangkah ke Vatikan. Akhirnya tahun 1981, Ratzinger ditugaskan kembali ke Roma untuk bekerja di Gereja Vatikan.


Reputasi Ratzinger sebagai orang yang detail, membuat banyak orang sulit percaya bahwa Ratzinger tidak tahu apa-apa tentang Hullermann yang melakukan pelayanan Gereja, padahal pendeta itu bermasalah.. Paus tidak pernah menjelaslkan kasus ini secara eksplisit selama masa tugasnya. Tapi kalau dia hruas memuaskan para korban dan keluarga korban, ia harus melakukannya satu hari nanti.. Namun kenyataannya, seorang korban pelecehan seksual bernama Home yang bertemu Benediktus di Washington tahun 2008, mengatakan bahwa Benediktus menampakkan sikap yang terkejut sama sekali mendengar pengakuan korban.


Pada kesempatan itu, Home menuntut pertanggungjawaban penuh Vatikan atas kasus-kasus pelecehan seksual di masa lalu. Ia menegaskan bahwa dirinya bersama para korban lainnya tidak punya kepentingan untuk menumbangkan kekuasaan Benediktus. "Kami sedang meminta tanggung jawab moral dari Gereja," ujar Home. (ln/Time)


(read more ...)



 Jumat, 04/06/2010 08:10 WIB | email | print | share




Mencuatnya skandal seks para pendeta Katolik, mencoreng muka Vatikan, sebagai instutusi keagamaan tertinggi umat Katolik. Sikap Paus Benediktus XVI atas skandal memalukan ini membuat umat Katolik kecewa dan membuat banyak orang makin tidak percaya dengan institusi gereja. Alih-alih menghukum pelakunya, Paus Benediktus malah menyelenggarakan pengakuan dan pengampunan dosa bagi para pelakunya. Inikah awal kehancuran Gereja Katolik Roma?


Sejak Awal Menolak Bertanggung Jawab


Bagaimana seseorang menebus dosa atas sesuatu hal yang mengerikan, seperti Inkuisisi (pengadilan oleh Gereja Katolik Roma)? Joseph Ratzinger, seorang Kardinal asal Jerman mencoba melakukan hal itu untuk Gereja Katolik Roma dalam upacara megah penebusan dosa yang digelar Vatikan, disebut Hari Pengampunan yang diselenggarakan pada tanggal 12 Maret 2000. Ritual yang dipimpin langsung oleh Paus Yohanes Paulus II bertujuan untuk memurnikan sejarah gereja dan kurun waktu dua milenium ini. Di hadapan sebuah salib kayu- salib keramat yang selalu berhasil diselamatkan dalam setiap peristiwa pengepungan Roma sejak abad ke-15- para Kardinal dan uskup berdiri untuk mengakui dosa-dosa yang pernah mereka lakukan terhadap berbagai etnis di masyarakat, pada kaum perempuan, orang-orang Yahudi, pada kebudayaan masyarakat minoritas, sesama orang Kristen lainnya dan pada agama. Ratzinger merupakan pilihan yang tepat untuk mewakili Kantor Kudus Inkuisisi yang mengerikan: Ia, ketika itu mengepalai kantor Kongregasi Doktrin Keimanan, yang bersejarah itu. Ketika gilirannya pengampunan dosanya tiba, Ratzinger yang dikenal sebagai teolog terkemuka gereja, mengucapkan sebuah doa pendek, "Bahkan orang-orang gereja, atas nama iman dan moral, kadang-kadang menggunakan metode tidak sesuai dengan Injil dalam tugas mulia membela kebenaran. "


Jika orang yang mendengarnya meraka adanya kata-kata yang bertentangan, maka ia akan memahami kesulitan yang sedang dihadapi Ratzinger-sekarang Paus Benediktus XVI-dalam memipin Gereja Katolik untuk benar-benar menghapus noda hitam dari sekian noda hitam yang pernah terjadi di Gereja Katolik yaitu kasus-kasus yang menyangkut perilaku yang tidak pantas yang dilakukan para pendeta pada anak-anak dan ditutup-tutupi oleh para uskup gereja. Dan ketika seorang Kardinal yang memiliki jabatan di gereja melontarkan spekulasi pada publik bahwa Benediktus akan menyampaikan "mea culpa" (pengakuan bahwa sesuatu yang buruk terjadi karena kesalahannya) pada awal Juni, menurutnya, kata-kata maaf yang akan disampaikan--jika memang hal yang buruk itu memang terbukti--akan sangat dibatasi oleh persoalan teologi, sejarah dan orang-orang yang sangat dekat dengan kantor kepausan. Pernyataan itu, masih kata sumber Kardinal tadi, kemungkinan tidak akan memuaskan para pengikut Benediktus yang menginginkan pertanggungjawaban yang lebih modern, bukan hanya sekedar pernyataan yang tidak ada gaungnya dengan berlindung dibalik filosofi agama yang misterius. Olan Home, 50, salah satu orang yang menjadi korban pelecehan yang dilakukan pendeta Kristen di Amerika pada masa anal-anak mengatakan, "Seseorang mengatakan pada saya, jika gereja selamat dari inkuisis, maka gereja akan tetap bertahan. Tapi masa lalu berbeda dengan masa sekarang. Saat ini ini, dunia modern menutup mata dan telinganya terkait persoalan-persoalan besar yang terjadi di Gereja Katolik."


Gereja mengalami krisis yang rumit oleh fakta bahwa pada tahun 1980, sebagai Uskup Agung Munich, Ratzinger namapkanya telah melakukan kesalahan dengan menugaskan seorang pendeta yang dicurigai terlibat kasus pedofilia, yang berada di bawah tanggung jawabnya. Terungkapnya kasus ini---yang menjadi pertanyaan bagaimana Ratzinger, sebagai pejabat Vatikan akan melakukan pengawasan selanjutnya--memicu pengalihan perhatian atas berbagai skandal nasional ke isu epik dan ujian eksistensi gereja yang universal, ujian bagi para pemimpinnya dan pada saat yang sama ujian bagi ajaran agama itu sendiri. Kenyataan ini mengandaskan ambisi Benediktus untuk megembalikan lagi kejayaan evangelis di kota-kota Eropa, sebuah imperium kekristenan seperti di masa lalu. Selama dua bulan terakhir, Paus telah menimbulkan pergeseran Tahta Suci, dari sikap diam dan pengingkaran menjadi terpanggil untuk menghadapi musuh dari dalam gereja. Meski demikian, rasanya tetap ada bagian yang hilang, terkait tudingan bahwa Bapa Suci terlibat dalam skandal itu. Mampukah Paus, sosok yang menjadi lambang masih hidupnya ajaran Injil kuno dan pemimpin spiritual 1,2 miliar umat Katolik dunia ini , menebus dosa-dosanya di hadapan publik tanpa harus kehilangan sifat kepausan yang tak terkalahkan dari sisi teologi?


Tanpa menyinggung krisis yang terjadi, di hadapan jamaahnya di Lapangan Santo Petrus pada tanggal 26 Mei, Benediktus mengatakan "Bahkan seorang Paus tidak dapat melakukan apa yang ia inginkan. Sebaliknya, Paus adalah penjaga ketaatan kepada Kristus, kepada firman-Nya."


Benediktus tampaknya sudah memahami apa taruhannya. Alberto Melloni, seorang sejarawan gereja di Universitas Modena mengatakan, para pemegang kekuasaan lainnya di Vatikan optimis gereja bisa menanggulangi "badai" yang menerpa gereja. "Mereka tidak menyadari kepahitan yang mendalam dari semua keyakinan yang ada, yaitu isolasi yang akan dialami para pemuka gereja. Kita tidak bisa memprediksi akhir dari semua krisis ini," ujar Melloni. Pada Time, seorang pejabat senior Vatikan memprediksi akan adanya konsekuensi besar bagi seluruh gereja. "Sejarah sudah sampai pada episode yang penting. Kami sedang menghadapi salah satu dari masa-masa itu, sekarang," ujar sumber tadi.


Lembaran Hitam Gereja


Pada akhirnya, ujian bagi gereja bukan tentang doktrin atau dogma, bahkan bukan tentang kata-kata yang akan diucapkan dalam "mea culpa" dan pengunduran diri atau tuntutan terhadap para wali gereja. Tapi ujian itu adalh suara tangisan anak-anak akhirnya terdengar keluar, lama setelah masa kecil mereka. Dengarlah penuturan Bernie McDaid yang membuat jamaah di Lapangan Santo Petrus bergetar.


"Dia meraih tubuh saya, menggelitik dan bergulat seperti yang saya lakukan dengan ayah saya, dan awalnya saya pikir ini menyenangkan," kata McDaid yang menurut imam parokinya, McDaid menghabiskan masa kecil dan remajanya di Salem.


"Tapi kemudian ada yang berubah ... Dia mulai memegang kemaluan saya. Saya merasa dia menggosok-gosokan dirinya ke tubuh saya dari belakang ... Saya sangat takut ... Aku tahu ini salah. Saya memandang keluar jendela. Aku mulai berdoa," tutur McDaid.


Menurutnya, kejadian itu terjadi lagi dan lagi selama tiga tahun. Ibu McDaid yang saleh, tidak tahu apa-apa dan selalu senang jika pendeta datang ke rumah untuk menjemput putranya untuk bergabung bersama anak-anak lelaki lainnya pergi tamasya ke pantai. McDaid baru berusia 11 tahun ketika pelecehan itu dalaminyai. McDaid, yang sekarang berusia 54 tahun ingat bahwa anak terakhir yang keluar dari mobil pendeta yang akan jadi korban pelecehan seksual. McDaid akhirnya bicara kepada ayahnya, yang kemudian membawanya kepada imam di kota tetangga untuk melaporkan apa yang terjadi.


"Kami menunggu selama berbulan-bulan. Lalu ada rotasi para pendeta. Dia (pendeta pelaku pelecehan) pergi,. Tapi gereja membuat pendeta itu tampak seperti orang penting. Kepindahannya dirayakan dengan kue dan es krim," ujar McDaid yang akhirnya dalam kebisuan, menyimpan sendiri rasa malu akibat perbuatan Pastor Joseph Birmingham yang setelah itu diketahui masih terus melakukan pelecehan seksual pada anak-anak di tiga paroki di wilayah Boston, sampai ia meninggal pada tahun 1989.


"Ada sistem yang diyakini," kata McDaid, "bahwa para pendeta, uskup dan Paus adalah orang-orang yang selalu benar. Manusia memberi mereka kekuasaan karena kekuasaan itu seharusnya menjadi sumber kebaikan .. sebuah kekuasaan Allah. Sekarang, banyak orang setengah napas ... Mereka tidak tahu di mana akan menempatkan iman mereka. Apa yang harus saya lakukan saat berdoa?"


Injil Markus menetapkan nasib mereka yang menganiaya anak-anak, "Dan siapa pun yang membahayakan anak-anak yang beriman kepadaku, adalah lebih baik bagi orang itu digantungkan batu pada lehernya dan dilemparkan ke dalam laut. " Namun peringatan keras dalam Injil itu tidak terlihat dalam respon gereja terhadap kejahatan seksual yang dilakukan para pendetanya. Selama bertahun-tahun, para pemuka gereja yang menyinggung masalah pelecehan seksual ini, hanya berakhir dalam kebisuan.


Saat ini Vatikan tampak menghimbau para uskup mulai dari dari India sampai Italia untuk segera melimphakan kasus-kasus baru kepada otoritas sipil. Tapi bagaimana dengan ketidakadilan yang terjadi pada masa lalu? Mea culpa akan dimulai dan Benediktus memiliki draft tentang apa saja yang harus dikerjakan; mulai dari menulis surat kepada umat Katolik di Irlandia pada tanggal 19 Maret, setelah terungkapnya skandal seks yang telah melemahkan institusi gereja di sana.


"Anda telah sangat menderita dan saya benar-benar menyesal," tulis Benediktus. "Saya tahu bahwa tidak ada yang kesalahan seperti yang kalian alami. Kepercayaan yang kalian berikan telah dikhianati dan martabat kalian telah dilanggar ... Banyak di antara kalian menyaksikan bahwa ketika kalian cukup berani untuk berbicara tentang apa yang terjadi pada kalian, tidak ada yang mau mendengarkan .. Bisa dimengerti jika kalian merasa sulit untuk memaafkan atau berdamai dengan gereja. Atas nama gereja , aku secara terbuka menyatakan rasa malu dan penyesalan atas semua kita semua rasakan. "


Kata-kata itu begitu menyentuh dan untuk beberapa umat Katolik, mungkin sudah cukup mendengar Paus menyatakan penyesalan dengan cara ini. Tapi Benediktus juga bicara tentang penebusan dosa. Dalam istilah gereja, sakramen pengampunan dosa melibatkan pengakuan dan kemudian memaafan seluruh dosa orang yang melakukan dosa. Tapi penebusan dosa macam apa yang akan dilakukan seorang Paus yang dengan tangannya telah menimbulkan kontroversi? Di sinilah letak persoalan teologi yang rumit.


Krisis Gereja Katolik terus memanas pada bulan Maret sampai April, banyak orang di Vatikan khawatir krisis itu akan membawa dampak buruk magisterium kepausan-yang menyangkut sejarah, otoritas kumulatif dan otoritas tertinggi pada sosok Paus untuk mengajarkan dan memberitakan firman-firman Allah. Para pejabat Vatikan khawatir bahwa "mea culpa" akan melemahkan institusi kepausan yang tak terpisahkan dengan kemampuan kepausan dalam merefleksikan kekuatannya pada dunia, di sepanjang sejarahnya. Mulai dari tindakan mempermalukan Kaisar Romawi yang Suci Henry IV di Canossa pada abad ke-11 sampai melecehkan kekuasaan Soviet di Polandia pada abad ke-20. Sikap itu memainkan peran penting dalam doktrin infalibilitas kepausan, yang menyatakan bahwa Paus tidak pernah membuat kesalahan saat ia memberikan ajaran-ajaran ex cathedra - yaitu, dogma dari tahta Santo Petrus, terikat dengan hak istimewa tradisional dari seorang "rasul", kepada siapa diberikan kekuasaan di surga dan di bumi "untuk mengikat dan mlonggarkan" atau dengan kata lain bahwa gereja memiliki kemampuan untuk membuka pintu-pintu langit dan neraka, karena "rasul" itu akan selalu suci daripada manusia biasa


.Pihak gereja berkeyakinan, dengan menggelar "mea cupla" terkait skandal pelecehan seksual, maka magsiterium gereja akan tetap terjaga. Di sisi lain, faktanya, Ratzinger ketika masih masih menjadi uskup lokal di Munich tahun 1877-1981 dan sebagai pengawas doktrin universal di Roma, merupakan bagian dari sistem yang sangat meremehkan kasus-kasus pelecehan yang dilakukan pemuka gereja. dalam setengah abad terakhir. (ln/Time)



 
(read more ...)




Diposting pada Rabu, 28-04-2010 | 19:49:08 WIB

 


Mbakku Putri Munawwaroh tidak tau apa-apa, satupun tamu tidak dikenal dan tidak dilihat wajahnya, karena tamu mutlak urusan suaminya [Mas Adib Susilo]...



Putri Munawwaroh harus melihat suaminya meninggal dihadapanya sendiri coba anda bayangkan..



Dalam keadaan hamil yg masih membutuhkan perhatian seorang suami....



Juga harus terkena reruntuhan dikepala sampai berdarah-darah....



Dan juga ditembak DENSUS 88 2 kali Laknatullah Alaih di bagian Paha dan sekitarnya...



INGAT kakakku adalah seorang wanita harus merasakan penderitaan dahsyat dalam satu malam dan sekarang di INTEROGASI di Brimob, JAUH dari Keluarga dan orang2 yg sayang dengan Mbakku...



Terus apakah Mbakku harus dipenjara....?



Haruskah mbakku berpisah dengan anak tercinta yg berusia 3 bulan....?



Dituduh menyembunyikan Teroris, tidakah cukup penderitaan yg dirasakan mbakku...?....?



Mohon sedianya untuk menerbitkan tulisan ini,,,



Jazzakumullah Khoiron Katsir


Dari : Samudin, Adik Putri Munawwaroh 


[muslimdaily.net]


(read more ...)



Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?


Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan‘ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.


Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita“. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.


Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.


Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita.


Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.


Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.


Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.


Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.


Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).


Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.


Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut, “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.


Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.


Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.


Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.


Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).


Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.


Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.


Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” begitu kata Rohana Kudus.


Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.


Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:


“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”


Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:


Salam, Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: ‘Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?‘ Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).


Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ‘menaklukkan Islam‘. Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.


Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ‘penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ‘ulama‘. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai “Mufti Hindia Belanda“. Juga ada yang memanggilnya “Syaikhul Islam Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: “Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.” (hal. 116).


Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah melakukan pembaratan kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).


Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).


Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ sudah berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan.


Oleh: Adian Husaini


(read more ...)



Uskup Agung Wina Christoph Schonborn menilai, selibasi salah satu penyebab skandal seks yang menghantam gereja Katolik



Hidayatullah.com--Tiga puluh tahun John J. Geoghan berkeliling bebas memangsa anak-anak di sekitarnya. Setidaknya 130 anak menjadi korban kebejatan rohaniwan Keuskupan Boston itu. Seorang ibu bahkan harus merana karena tiga putra dan seorang putrinya, semua menjadi korban Geoghan. Tidak cuma itu, tiga keponakannya juga mengalami hal serupa. Bukan main.



Memang bukan main-main, karena kasus pelanggaran seksual sengaja ditutupi oleh gereja. Bukan hanya oleh gereja lokal, tapi juga penguasa Tahta Suci Vatikan.



Bahkan di Irlandia, pihak gereja bekerja sama dengan polisi menutupi kasus-kasus yang terjadi.



Kepada majalah Jerman, Focus, Kepala Gereja Katolik Roma Jerman Uskup Agung Zollitsch, mengakui bahwa gereja sengaja menutupi kasus pelanggaran seksual. "Ya, kami melakukannya," katanya.



Zollitsch mengatakan, kasus yang terjadi di institusinya membuat dirinya malu dan ketakutan. "Setiap kasus, membuat wajah seluruh gereja semakin kelam."



Di Jerman, negara asal Paus Benediktus XVI, skandal seks yang bermunculan di mana-mana menimbulkan pertanyaan publik atas masa lalu Paus itu sendiri.



Tahun 1980, Paus Benediktus XVI, yang ketika itu masih dikenal sebagai Uskup Agung Joseph Alois Ratzinger, pernah mengirim seorang pastor ke Munich untuk melakukan terapi, karena melakukan pelanggaran seksual. Dokter jiwa yang merawat rohaniwan itu diingatkan agar tidak memperbolehkannya bekerja dengan anak-anak lagi. Tapi peringatan tinggal peringatan, karena Joseph Alois Ratzinger sendiri yang memperbolehkan lagi pastor itu menjalankan tugasnya dan berhubungan dengan anak-anak. Janggalnya, pekan lalu seorang pejabat di gereja Jerman yang harus menanggung resiko atas keputusan yang dibuat Benediktus XVI itu, ketika ia masih menjadi uskup agung.



Selibasi




Uskup Agung Wina Christoph Schonborn berpendapat bahwa selibasi menjadi salah satu penyebab skandal seks yang menghantam gereja Katolik.



Dalam sebuah artikel di majalah keuskupannya, Thema Kirche, ia menganjurkan agar dilakukan penyelidikan yang sungguh-sungguh atas penyebab terjadinya kasus pedofilia.



"Termasuk di dalamnya masalah pelatihan bagi para pastor, dan juga pertanyaan tentang apa yang disebut dengan revolusi seksual. Juga termasuk masalah selibasi pastor dan masalah pengembangan kepribadian. Semuanya itu menuntut kejujuran yang sangat, baik dari pihak gereja maupun masyarakat keseluruhan," tulisnya.



Schonborn bukan orang pertama yang menghubungkan selibasi dengan pedofilia. Seorang pakar teologi bernama Hans Kung pernah menyatakan pendapat yang sama.



Klaus Beier, salah seorang pakar kesehatan seksual terkemuka Jerman, yang sering menangani para pedofil, pernah menawarkan bantuan untuk menolong para rohaniwan di lingkungan gereja Katolik. Cukup mengejutkan, karena Vatikan membalas suratnya.



"Atas nama Tahta Suci, saya mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda kepada kesejahteraan anak-anak dan tawaran bantuan kepada penderita (pedofil)," tulis serorang pejabat Vatikan.



Mungkin surat Beier terselip dalam tumpukan surat lainnya di Vatikan. Karena hingga saat ini, belum ada realisasi dari balasan Vatikan atas tawaran Beier untuk menangani penyimpangan seksual para pastor.



Sejarah konyol



Bibel sama sekali tidak mengajarkan selibasi. Sebelum abad pertengahan, para rohaniwan Katolik bukan saja diperbolehkan memiliki banyak istri dan gundik, tapi hal itu merupakan perkara lumrah. Karena poligami adalah budaya yang sudah ada sebelum agama Kristen lahir.



Namun karena alasan harta duniawi, Paus Pelagius I berusaha mencegah harta kekayaan gereja habis. Maka ia pun berupaya membuat para pastor baru setuju agar keturunan mereka tidak bisa mewarisi kekayaan gereja.



Paus Gregory kemudian menindaklanjutinya dengan menetapkan bahwa seluruh putra rohaniwan adalah tidak sah. Hanya anak laki-laki, karena anak perempuan bisa mewarisi dengan cara lain dalam masyarakat.



Tahun 1022 Paus Benediktus VII melarang pernikahan dan gundik bagi rohaniwan. Kemudian di tahun 1139 Paus Innocent II membatalkan seluruh pernikahan rohaniwan, dan pastor baru harus menceraikan istri-istri mereka.



Tidak ada alasan moral sama sekali dalam penetapan aturan selibasi, seperti yang sering diklaim sebagian orang. Selibasi bukan dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada tuhan, tapi semata agar harta gereja tetap menjadi milik gereja.



Meskipun pernikahan dilarang, masih ada dispensasi hingga menjelang akhir tahun 1970an. Tahun 1966 Paus Paulus VI bahkan menetapkan dispensasi selibasi. Alasannya, gara-gara selibasi gereja kekurangan rohaniwan. Mana ada pria normal yang tahan hidup tanpa wanita?



Pada bagian awal surat pastorialnya "Sacerdotalis Caelibatus" tertanggal 24 Juni 1967, Paus menulis, "Di dunia pada masa sekarang ini, menjalankan selibasi menjadi sulit atau bahkan mustahil."



Namun penggantinya di tahun 1978, John Paul II atau lebih dikenal dengan Paus Yohanes Paulus II, mengeluarkan "Theology of the Body". Menurutnya, tubuh manusia--pria dan wanita--hanyalah obyek kesenangan atau mesin manipulasi semata. Dengan berdasarkan pemikiran dangkal seperti itu, Paus lalu menghapus semua dispensasi selibasi.



Kini, dampak buruk selibasi terlihat jelas. Kerusakan terjadi di mana-mana. Bukan sekedar menciptakan kebohongan di kalangan pelayan dan wakil tuhan, tapi juga merusak masa depan banyak anak manusia. [dija, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

(read more ...)





AP mencatat, sejak tahun 1990-an ada 15.000 pengaduan pelanggaran seks yang dilakukan oleh gereja di Irlandia


 

Hidayatullah.com--Beberapa bulan terakhir Eropa diguncang berita pelanggaran seksual oleh rohaniawan Katolik atas anak-anak. Kasusnya bukan baru saja terjadi, sebagian adalah kasus lama yang baru terungkap.



Membuat  senarai secara kronologis pelanggaran seksual tersebut bukan perkara mudah, selain pelaku dan korban jumlahnya banyak, sebagian besar baru terungkap puluhan tahun kemudian. Di samping itu, seorang anak tidak sekali dua mengalami pelanggaran seksual, ada di antara mereka mengalaminya selama bertahun-tahun.



"Seperti tsunami," kata Elke Huemmeler, Kepala Pencegahan Pelanggaran Seksual di Keuskupan Munich, Jerman, kepada Associated Press, mengomentari banyaknya kasus.



Sejak kapan pelanggaran keji ini terjadi juga tidak diketahui. Namun, karena pelakunya adalah para rohaniwan gereja, kemungkinan besar kasus terjadi sejak gereja itu sendiri berdiri.



Di dunia ini, Katolik Roma adalah denominasi Kristen terbesar. Tidak ada data pasti berapa jumlah pengikutnya. Tapi beberapa laporan menyebutkan, umat Katolik Roma mencapai 1,1 milyar di tahun 1990-an. Hingga kini masih menjadi agama dengan umat terbanyak.



Jika kita buat perkiraan kasar ada 5.000 gereja Katolik di seluruh dunia, dengan satu kasus pelanggaran di setiap gereja setiap tahunnya, maka bisa dibayangkan berapa jumlah kasus yang terjadi selama 10 tahun saja. Padahal, pelanggaran bukan hanya terjadi di gereja, tapi juga di sekolah, seminari dan institusi lain yang dikelola gereja. Pelaku tidak hanya meminta satu korban, di antara mereka bahkan ada yang menggarap 7 anak dari satu keluarga besar.



Kita mulai perjalanan senarai ini dari Irlandia, sebuah negeri di kawasan Eropa yang dikenal relijius, dan Paus Benediktus XVI meminta maaf atas skandal pedofilia secara khusus kepada umat Katolik di sana.



Irlandia



Kasus pedofilia di Irlandia mulai terkuak agak lebar setelah kasus serupa di AS mencuat. Tapi baru pertengahan tahun 2009 pemerintah membuat laporan seputar pelanggaran seks oleh rohaniwan Irlandia. Dalam laporan itu disebutkan, diduga ada 2.000 kasus pelanggaran seks selama lebih dari 60 tahun.



Agak sulit dipercaya, jika selama lebih dari setengah abad, hanya ada 2.000 kasus saja. Sementara Associated Press melaporkan, sejak pertengahan tahun 1990-an tercatat ada  15.000 pengaduan pelanggaran seks yang dilakukan oleh gereja di Irlandia.



Ada pengaduan, berarti ada data yang terungkap. Bagaimana dengan yang tidak mengadu dan tidak terungkap? Karena menurut penyelidikan pemerintah Irlandia yang dirilis Nopember 2009 lalu, diketahui ada kongkalikong antara gereja dengan kepolisian. Mereka sepakat menutupi skandal itu dari mata publik. Tidak tanggung-tanggung, disebutkan bahwa upaya menutupi kasus itu dilakukan secara sistematis. Bukan main, tindak amoral ditutupi oleh dua lembaga terhormat yang seharusnya mengawal moral masyarakat.



Alih-alih ingin mengecilkan ukuran skandal di Irlandia, pejabat Vatikan justru memberikan argumentasi yang memperkuat dugaan bahwa kasus itu bukan kasus kecil. September 2009 mereka pernah bilang, mengutip data statistik, hanya 1,5-5 persen saja dari rohaniwan di seluruh dunia yang terkait dengan kasus pedofilia. Kalau persentasi itu diangkakan, berarti setidaknya 20.000 pastor di seluruh dunia melakukan pelanggaran seksual terhadap anak-anak. Fantastis!



Belanda



Dari Irlandia kita menuju negara yang pernah menjajah Indonesia 350 tahun lamanya, Belanda. Februari lalu, Radio Netherlands mengungkap skandal di sekolah-sekolah Katolik berasrama. Kasus terjadi di tahun 1960an dan 1970an.



Sekolah Katolik berasrama di Belanda terakhir ditutup pada tahun 1981. Meskipun demikian, para alumni  yang juga korban tidak pernah lupa akan kejadian yang mereka alami.



Setelah laporan itu diturunkan, setidaknya ada 200 kasus lain yang muncul ke permukaan. Para korban menceritakan pastor yang menistakan mereka, bagaimana para wakil tuhan itu berupaya menutupi perbuatan dosanya, termasuk menghilangkan bukti-bukti.



Belajar dari kegagalan public relation Gereja Irlandia, Gereja Belanda cepat-cepat minta maaf pada 9 Maret 2010 dan memerintahkan penyelidikan. Vatikan memuji kesigapan Gereja Belanda. Tapi publik yang sudah tahu kebiasaan gereja mereka, menilai upaya itu hanyalah taktik, gaya Vatikan menutupi masalah.



Filipina



Di negara ini Katolik merupakan agama mayoritas. Tahun 2002, gereja meminta maaf atas tindak kriminal seksual yang dilakukan oleh ratusan pastornya. Satu tahun kemudian, muncul kasus baru, sehingga 34 pastor diberhentikan.



Australia




Dalam perjalananya ke Negeri Kangguru pada tahun 2008 silam, Paus Benediktus XVI mengecam pelanggaran seksual yang jumlahnya--meminjam istilah Betawi--bejibun, di Keuskupan Australia. Ia hanya bisa menyampaikan keprihatinan dan permintaan maaf.



Paus patut prihatin, karena setelah itu banyak kasus lain mencuat. Sejumlah pastor berubah menjadi pesakitan.



Kanada




Akhir tahun 1980an, ratusan kasus pelanggaran seksual di sebuah panti asuhan di Newfoundland terungkap. Sebuah komite dibentuk guna menyelidikinya, melakukan penuntutan, dan memaksa agar kompensasi bernilai jutaan dikucurkan untuk para korban.



Tahun 1999 James Jickey dari Keuskupan St. John dituntut dan dijatuhi hukuman penjara karena mencabuli bocah-bocah laki-laki. Entah karena tidak punya dana atau enggan membayar, gereja meminta waktu 10 tahun untuk melunasi kompensasi yang harus diberikan kepada korban.



Tahun 2009 akhirnya para hakim memutuskan bahwa gereja secara tidak langsung bertanggung jawab atas tindak kejahatan tersebut.



Amerika Serikat




Tahun 2002 John J. Geoghan diadili karena kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual lainnya atas 130 anak selama ia bertugas sebagai pelayan tuhan di Keuskupan Boston.



Tigapuluh tahun lamanya ia beraksi tanpa ada upaya gereja melaporkannya ke polisi sama sekali. Orangtua korban justru diancam agar menutupi kasus yang menimpa anaknya. Padahal keempat anak seorang ibu yang mengadu ke gereja, semuanya menjadi korban Geoghan selama beberapa tahun.



Gereja akhirnya diharuskan membayar kompensasi lebih dari 2 milyar dollar kepada para korban.



Upaya gereja menutupi skandal Geoghan selama puluhan tahun, merupakan gejala umum yang biasa dijumpai di banyak gereja lain.



Tahun 2008 ketika berkunjung ke Amerika, seperti biasa, Paus menyampaikan permintaan maaf.



Swiss




Di negara mini yang terkenal dengan banknya ini juga terjadi kasus yang sama. Setidaknya ada 60 orang menjadi korban dalam 15 tahun terakhir.



Austria




Maret 1995, seorang mantan siswa menuduh Ketua Konferensi Uskup Austria ketika itu, Kardinal Hans Hermann Groer, melakukan pelanggaran seksual. Vatikan tidak mengambil tindakan keras terhadap Groer. Mereka hanya mengabulkan permohonan pengunduran diri Groer dari jabatannya, yang telah diajukan sebelum kasus itu terungkap.



Meskipun telah menerima pengunduran diri Groer, Vatikan membiarkannya tetap bekerja hingga musim gugur tahun itu. Dengan setengah hati ia menyampaikan permintaan maaf, setelah empat uskup membuat sebuah pernyataan bahwa mereka yakin tuduhan atas Groer benar adanya.



Beberapa hari kemudian, dilaporkan ada seorang pastor yang melakukan pelanggaran seksual atas sekitar 20 anak di wilayah kekuasaannya.



Kasus serupa dikabarkan juga terjadi di sekolah berasrama di Mehrerau Abbey, dan atas anak-anak anggota paduan suara terkenal Vienna Boys Choir.



Swedia




Pertengahan Desember lalu, seorang pastor yang diajukan ke meja hijau atas pelanggaran seksual kepada dua bocah laki-laki selama perjanan keliling Eropa, dibebaskan dari segala tuduhan. Catatan pengabdian pastor itu selama 31 tahun dinilai bersih.



Namun anehnya, meskipun ia masih menempati posnya di Halland, pastor itu tidak lagi diizinkan berhubungan dengan anak-anak.



Jerman




"Puncak dari gunung es," begitu kata Direktur Canisius College, Klaus Mertes, yang mengungkap pelanggaran seksual atas para siswanya. Selama puluhan tahun para uskup di Jerman menutup mata atas kasus tersebut.



Menurut survei yang dilakukan Spiegel awal bulan Februari lalu atas 27 keuskupan yang ada di Jerman, sedikitnya 94 pastor dan anggota gereja lainnya diduga terlibat pelanggaran seksual anak-anak yang jumlahnya tidak terhitung, sejak tahun 1995.



Sebanyak 24 dari 27 keuskupan menanggapi pertanyaan Spiegel. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa juga menjadi korban.

Sebuah kelompok bernama Round Table for Care in Childrens Homes baru-baru ini menerbitkan laporan sementara yang memuat temuan-temuan mengejutkan. Mereka mendapati, banyak pelanggaran seksual atas anak-anak dan orang dewasa yang tinggal di rumah-rumah penampungan yang dikelola gereja sejak tahun 1950an. Separuh dari rumah penampungan itu milik gereja Katolik.



Menurut laporan itu, dalam beberapa bulan terakhir lebih dari 150 korban datang menceritakan pelanggaran seksual yang mereka alami. Salah seorang di antara mereka adalah remaja perempuan berusia 15 tahun. Ketika ia duduk di kursi pengakuan dosa, remaja itu melihat pastornya melakukan mastubasi. Saat dirinya berusaha pergi, seorang biarawati yang mengurus rumah penampungan  memukulinya. Hingga saat ini, belum ada penyelidikan yang sistematis atas sekolah, rumah penampungan, dan lainnya yang dikelola gereja Katolik di Jerman. [dija, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]



 

(read more ...)




Dalam sejarah Vatikan, baru kali ini seorang Paus menulis surat pastoral untuk meminta maaf kepada jemaatnya terkait skandal seks





 


Hidayatullah.com--"Secara terbuka, saya ungkapkan perasaan malu dan penyesalan mendalam atas apa yang kita semua rasakan." Demikian tulis Paus Benediktus XVI dalam surat pastoral yang ditujukan kepada korban dan keluarganya dalam kasus skandal pedofilia rohaniwan Katolik di Irlandia.



Bisa dibayangkan betapa malunya Sang Paus, harus meminta maaf atas kelakuan bejat para rohaniwan yang dianggap sebagai penghubung umat Katolik dengan tuhannya. Dalam sejarah Vatikan, baru kali ini seorang Paus menulis surat pastoral untuk meminta maaf kepada jemaatnya terkait skandal seks.



Sekitar 15.000 orang Irlandia yang bersekolah dan datang ke lembaga-lembaga pendidikan yang dikelola gereja ketika mereka masih kanak-kanak, mengaku mengalami pelanggaran seksual oleh para pastor dan guru mereka.



Pemerintah Irlandia telah memberikan kompensasi lebih dari 1 milyar euro kepada para korban. Dan jumlah itu pastinya akan terus bertambah, sebab hampir setiap pekan ada saja korban yang datang mengadu.



Surat Paus kepada umat Katolik Irlandia itu dirilis 19 Maret 2010, memuat 14 poin dan satu bagian penutup berupa doa untuk gereja di Irlandia. Secara garis besar, bagian-bagian dalam surat itu ditujukan kepada para korban dan keluarganya, rohaniwan pelaku pedofilia, para uskup dan rohaniwan Irlandia. Paus juga menyinggung penyebab tragedi itu, serta apa yang seharusnya dilakukan di masa depan.



"Kalian telah menderita dan saya sangat menyesal. Saya tahu, tidak ada yang dapat membatalkan kesalahan yang telah kalian alami. Kepercayaan kalian telah dikhianati dan martabat kalian telah dilanggar," tulis Paus kepada para korban dan keluarga.



"Banyak di antara kalian, ketika berani untuk menceritakan apa yang terjadi atas kalian, tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan."



Pastinya sangat meyeramkan bagi anak-anak yang tinggal di dalam asrama. Setiap hari, selama bertahun-tahun, mereka dihantui perilaku seksual menyimpang dari orang-orang yang dianggap dekat dengan  tuhan, yang mengajarkan kitab suci dan moral. Terlebih, rohaniwan dan guru memiliki kekuasaan atas para siswa.



Paus menuding rohaniwan pedofil sebagai pengkhianat. "Kalian mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh anak-anak muda tak berdosa dan keluarganya."



Dia hanya mengecam, menyebut para pedofil pembela Tahta Suci itu sebagai pengkhianat. Tidak ada ada sanksi bagi mereka. Hanya sekedar anjuran bertobat, sebelum nantinya dimintai pertanggungjawaban oleh tuhan.



Sama halnya kepada para uskup. Meskipun sebagian di antara mereka dan para uskup pendahulu dianggap gagal memimpin gereja, Paus masih maklum.



Menurutnya, memang tidak mudah mendapatkan informasi yang bisa diandalkan terkait kasus semacam itu, sebagai bahan untuk mengambil keputusan yang tepat.



Oleh karenanya, Paus meminta agar rohaniwan Irlandia bersabar dengan para pemimpin gereja mereka. Dan dianjurkan untuk bekerja sama dengan pihak-pihak berwenang.



Sebagian orang mungkin bertanya, mengapa rohaniwan yang dianggap wakil tuhan di bumi, bisa berlaku keji.



Dalam suratnya, Paus Benediktus XVI menyinggung penyebab tindak amoral rohaniwan Katolik. "Tentu saja, di antara faktor penyebabnya dapat kita simpulkan: tidak adanya prosedur yang memadai, dalam menentukan calon yang cocok untuk menjalani kepastoran dan kehidupan relijius; kurangnya pembentukan kemanusiaan, moral, intelektual dan spiritual di seminari-semnari dan sekolah calon biarawan/wati; kecenderungan dalam masyarakat untuk memuja rohaniwan dan tokoh berwenang lainnya; menempatkan secara salah kepedulian akan reputasi gereja dan menghindari skandal, sehingga sanksi kanonik yang ada tidak bisa diterapkan, guna menjaga kehormatan setiap orang."



Paus mendorong gereja Irlandia melakukan perbaikan. Dan "agar bisa pulih dari luka ini, pertama-tama gereja di Irlandia harus mengakui di hadapan tuhan dan yang lainnya, atas dosa serius yang telah dilakukan terhadap anak-anak tak berdaya."



Di luar harapan



Surat pastoral setebal delapan halaman yang khusus menyinggung masalah skandal dan krisis di gereja Irlandia itu menerobos tabu di lingkungan Vatikan. Selama ini, surat semacam itu dikategorikan sebagai surat rahasia, yang hanya boleh dilihat oleh mata para uskup.



Walaupun Paus menulis surat itu dengan setulus hati, namun banyak pihak--terutama korban dan keluarganya--merasa tidak puas. Banyak hal tidak disinggung dalam surat tersebut.



Paus jelas menyebut skandal di gereja Irlandia sebagai "perbuatan dosa dan kriminal." Tapi tidak menyinggung tentang sanksi bagi para pelakunya. Tidak juga sanksi bagi 28 uskup Irlandia yang memimpin gereja. Dan tidak pula melaporkan mereka kepada polisi.



Dia menyerukan pemulihan, perbaikan, dan pembaruan dalam gereja Irlandia. Tapi resep penyembuhannya, hanyalah lebih banyak berdoa.



Surat permintaan maaf Paus Benediktus XVI itu ditujukan khusus hanya kepada umat Katolik di Irlandia. Padahal, pelanggaran seks yang dilakukan oleh para rohaniwan bertebaran di seluruh dunia.



"Saya menilainya sebagai penipuan, karena kita tahu bahwa ini adalah masalah global dan sistemik yang terjadi di gereja seluruh dunia," kata Colm OGorman, salah seorang pendiri perkumpulan para korban, yang ketika remaja juga pernah mengalami pelecehan seksual oleh seorang pastor di Irlandia pada awal tahun 1980-an.



"Ini masalahnya adalah bagaimana melindungi institusi, dan yang paling penting, kekayaannya (gereja)," ujarnya.



"Kontribusi paling besar yang bisa dilakukan oleh Paus adalah menghentikan pelanggaran atas korban. Tapi, ia bahkan tidak melakukannya," imbuh OGorman kepada New York Times.



Yang lebih menyedihkan, "Ada kecenderungan kuat untuk menggiring masalah ini hanya sebagai masalah keimanan, padahal masalahnya adalah manajemen gereja dan kurangnya akuntabilitas," kata Terrence Mc Kiernan, pendiri dan Presiden Bishop Accountability yang melacak dan merekam jejak kasus pelanggaran yang dilakukan oleh rohaniwan gereja.



Namun, dalam jumpa pers Sabtu 20/3/2010, jurubicara Vatikan Federico Lombardi membela Paus, dengan mengatakan bahwa surat itu adalah sebuah surat pastoral, bukan dokumen yang merinci tindakan administratif dan judisial atas kasus dimaksud.



Kebijakan untuk menutup rapat perbincangan mengenai peraturan selibasi dan perkara-perkara terkait, sangat memungkinkan borok moral di bawah Tahta Suci Vatikan tidak mudah diungkap dan diketahui umum. Kardinal Sean Brady dari Gereja Irlandia mengaku pernah memaksa dua orang anak korban pedofilia untuk membuat sumpah rahasia, dan bersedia mundur jika Paus memintanya. Tapi  kenyataannya, Paus Benediktus XVI tidak menyuruhnya mundur dan tidak menyinggung masalah itu sama sekali. Maka tidak aneh, jika kemudian orang bisa membuat daftar panjang skandal seks rohaniwan yang dilindungi Tahta Suci Vatikan. [dija/www.hidayatullah.com]


(read more ...)




Skandal seks kembali mengguncang gereja Katolik. Selibasi menggiring gereja kepada skandal amoral yang ditutupi secara sistematis oleh Tahta Suci selama puluhan tahun




MANUSIA diciptakan berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan. Penciptaan kedua jenis kelamin ini bukan tanpa maksud. Selain untuk menjamin kelanggengan generasi manusia, juga agar saling bisa melengkapi kebutuhan fitrah masing-masing secara baik. Rasa suka seorang laki-laki kepada seorang perempuan adalah fitrah, karena Sang Maha Pencipta membekali mereka dengan rasa kasih dan sayang sejak penciptaannya. Oleh karena manusia adalah makhluk terhormat, maka Sang Pencipta memberikan panduan ilahiyah yang harus ditaati, agar jalinan rasa dan kasih sayang itu tetap menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.



Laki-laki dan perempuan bagai 2 sisi mata uang. Mustahil salah satunya dihilangkan. Jika ada yang mengatakan hidup tanpa wanita atau hidup tanpa pria, adalah jalan manusia untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, maka patut kita bertanya padanya. Mungkinkah Sang Pencipta yang menciptakan laki-laki dan perempuan serta melengkapinya dengan fitrah, akan menghalangi mereka dari fitrahnya?



Jika ada yang menjawab mungkin, pasti hasilnya adalah kerusakan, kekacauan, dan kehancuran. Kereta api yang seharusnya berjalan di atas rel, memang masih bisa berlari di jalan beraspal. Tapi bukan tujuan yang dicapai, melainkan maut dan kerusakan di mana-mana.



Demikian juga jika sekelompok orang membuat aturannya sendiri, menentang fitrah laki-laki dan perempuan, hidup membujang, menjauhkan diri dari lawan jenis, dan mengklaim selibasi sebagai tuntunan tuhan, maka logika awam mampu menerka, tidak ada manusia normal sanggup melakoninya. Penyimpangan mungkin menjadi jalan alternatif. Meski skandal dan penyimpangan berusaha ditutupi, toh akhirnya tabir teka-teki itu terkuak juga. Bagaimana kalangan gereja menangkis berbagai skandal memalukan ini? Simak cover story kali ini [dija/www.hidayatullah.com]Foto: Getty Images

(read more ...)




Di era reformasi, misionaris Kristen secara terbuka menyatakan tekad mengkristenkan Indonesia. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian ke-281


Oleh: Dr. Adian Husaini*



SEJAK ratusan tahun lalu, para misionaris Kristen di Indonesia sudah berusaha keras mengubah bangsa Indonesia –yang mayoritas Muslim– menjadi sebuah negeri Kristen.  Kini, sejumlah tokoh misi Kristen di Indonesia mendeklarasikan bahwa Indonesia merupakan sebuah negeri yang siap melakukan transformasi besar-besaran, menjadi negeri Kristen. Ibarat lahan, Indonesia sudah siap panen.



Sebuah buku berjudul Transformasi Indonesia: Pemikiran dan Proses Perubahan yang Dikaitkan dengan Kesatuan Tubuh Kristus (Jakarta: Metanoia, 2003), menggambarkan ambisi dan harapan besar kaum misionaris Kristen di Indonesia tersebut.



Buku ini hanya setebal 97 halaman. Isinya pun kumpulan artikel ringkas dari berbagai tokoh Kristen dan aktivis misionaris di Indonesia, seperti Pdt. Natan Setiabudi, Niko Njotorahardjo, Bambang Widjaja, Eddy Leo, Ery Prasadja, Iman Santoso,  Jeff Hammond, Rachmat T. Manulang, Jonathan Pattiasina, dan Daniel Pandji.  



Dalam tulisannya yang berjudul ”Transformasi dan Kesatuan Tubuh Kristus”, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) 2000-2005, Natan Setiabudi mendefinisikan Transformasi sebagai:  ”perubahan diri dari dalam diri seseorang, sekelompok orang, atau masyarakat yang meluap ke dalam perilaku. Transformasi terjadi ketika orang, organisasi, atau masyarakat berjumpa dengan Tuhan.”



Dan Indonesia kini dikatakan kaum misionaris telah siap melakukan transformasi menjadi Kristen. Kesempatan emas saat ini  tidak boleh disia-siakan, karena batas waktunya bisa lewat, sebagaimana pernah terjadi di masa Soeharto:


”Tuhan memberikan kesempatan yang luar biasa kepada orang Kristen dan China, karena pada waktu Suharto menjadi Presiden, ia begitu dekat dengan orang Kristen dan China. Kesempatan demi kesempatan diberikan kepada orang China dan Kristen untuk melakukan bisnis di berbagai bidang. Trio RMS (Radius, Mooy, Sumarlin) di bidang ekonomi beragama Kristen. Itu kesempatan yang diberikan kepada orang Kristen supaya bangsa ini menjadi bangsa yang mengenal Tuhan, tetapi orang Kristen dan gereja tidak siap, sehingga pada tahun 1990-an, waktu Suharto melirik kelompok lain, kelompok tersebut menuding bahwa dua kelompok (Kristen dan China) adalah biang keladi segala persoalan yang ada.” (hal. 45).


Sejak dulu, kaum misionaris Kristen selalu menggambarkan bahwa Indonesia adalah daerah yang diberkati Tuhan, yang siap menerima agama Kristen. Tahun 1962, Badan Penerbit Kristen (BPK), menerbitkan buku H. Berkhof dan I.H. Enklaar, berjudul Sedjarah Geredja, yang menggariskan urgensi dan strategi menjalankan misi Kristen di Indonesia: 


“Boleh kita simpulkan, bahwa Indonesia adalah suatu daerah Pekabaran Indjil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit Firman Tuhan. Djumlah orang Kristen Protestan sudah 13 juta lebih, akan tetapi jangan kita lupa.... di tengah-tengah 150 juta penduduk! Djadi tugas Sending gereja-gereja muda di benua ini masih amat luas dan berat. Bukan sadja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu, yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum Muslimin yang besar, yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan2 Indjil.


Tahun 1964, tokoh Kristen Indonesia, Dr. W.B. Sidjabat, dalam bukunya, Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini,  juga menyebutkan hambatan misi Kristen dari kaum Muslim Indonesia:


“Saudara2, kenjataan2 jang saja telah paparkan ini telah menundjukkan adanya suatu tantangan jang hebat sekali untuk ummat Kristen… Dalam hubungan ini saja hendak menundjukkan kepada ummat Kristen bahwa sekarang ini djumlah jang menunggu2 Indjil Kristus Jesus djauh lebih banyak daripada djumlah jang dihadapi oleh Rasul2 pada abad pertama tarich Masehi… Pekabaran Indjil di Indonesia, kalau demikian, masih akan terus menghadapi “challenge” Islam di negara gugusan ini… Seluruhnya ini menundjukkan bahwa pertemuan Indjil dengan Islam dalam bidang-tjakup jang lebih luas sudah “dimulai”. Saja bilang “dimulai”, bukan dengan melupakan Pekabaran Indjil kepada ummat Islam sedjak abad jang ketudjuh, melainkan karena kalau kita perhatikan dengan seksama maka “konfrontasi” Indjil dan Agama2 di dunia ini dalam bidang-tjakup jang seluas2nya, dan dalam hal ini dengan Islam, barulah “dimulai” dewasa ini setjara mendalam. Dan bagi orang2 jang berkejakinan atas kuasa Allah Bapa, jesus Kristus dan Roch Kudus, setiap konfrontasi seperti ini akan selalu dipandangnja sebagai undangan untuk turut mengerahkan djiwa dan raga memenuhi tugas demi kemuliaan Allah.”


Kini di era reformasi, kaum misionaris Kristen secara terbuka menyatakan tekad dan ambisinya untuk mengkristenkan Indonesia. Simaklah berbagai penggambaran dan optimisme kaum misionaris untuk Mengkristenkan Indonesia berikut ini. Ibaratnya, Indonesia adalah lahan yang sudah siap panen. Kaum Kristen diminta jangan sampai melewatkan kesempatan yang sangat berharga ini. 


”Indonesia merupakan sebuah ladang yang sedang menguning, yang besar tuaiannya! Ya, Indonesia siap mengalami transformasi yang besar. Hal ini bukan suatu kerinduan yang hampa, namun suatu pernyataan iman terhadap janji firman Tuhan. Ini juga bukan impian di siang bolong, tetapi suatu ekspresi keyakinan akan kasih dan kuasa Tuhan. Dengan memeriksa firman Tuhan, kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa Indonesia memiliki prakondisi yang sangat cocok bagi tuaian besar yang Ia rencanakan,” demikian ungkapan Dr. Bambang Widjaja, Gembala Sidang Gereja Kristen Perjanjian Baru, dalam tulisannya berjudul ”Indonesia Siap Mengalami Transformasi” yang dimuat dalam buku ini.




Mengutip pendapat Dr. Wilbur Smith, sang misionaris ini menyatakan, setiap revival, yaitu tindakan Tuhan yang mengakibatkan transformasi bangsa, senantiasa terjadi saat suatu bangsa berada dalam kegelapan moral yang pekat dan depresi ekonomi yang berat. ”Bukankah keadaan itu yang sedang dilewati oleh bangsa kita? Kegelapan moral dan depresi ekonomi yang berat? Masyarakat yang lelah dan terlantar? Ya, itulah sebabnya saya tidak merasa terlalu berlebihan untuk berkata bahwa Indonesia siap menghadapi tuaian yang besar. Indonesia siap mengalami transformasi!” tulis Bambang lagi.



Kaum Kristen, kata Bambang, tidak boleh melewatkan kesempatan besar ini. Sebab, kesempatan itu ada batas akhirnya. Apabila batas akhir itu terlampaui, maka gandum yang tidak tertuai akan membusuk di ladang.  Aktivis misi Kristen ini kemudian memprovokasi kaum Kristen: ”Petani yang bijaksana, saat melihat tuaian sudah di ambang pintu, ia akan merasa perlu menyiapkan tenaga penuai sebanyak-banyaknya karena ia tidak menginginkan hasil ladangnya sia-sia.”



Dalam tulisannya berjudul ”Transformasi-Kairos Bagi Indonesia”, Dr. Jeff Hammond, pemimpin Gerakan Sekota Berdoa, menceritakan sejumlah kesempatan emas bagi kaum Kristen yang dilewatkan begitu saja. Pada tahun 1271, katanya, Kublai Khan meminta didatangkan seratus orang misionaris ke wilayah kerajaannya. Tapi, misionaris yang datang Cuma dua orang, bahkan mereka kemudian lari ketakutan. Suatu kairos (kesempatan yang diberikan Tuhan) terlewatkan begitu saja.



Jeff Hammond berkisah lagi, setelah Perang Dunia II berakhir, Jenderal McArthur tiba di Jepang dan melihat bahwa kepercayaan masyarakat kepada agama Shinto dan Kaisar Hirohito sudah hancur. McArthur lalu mengirim pesan kepada pimpinan Gereja di Amerika yang berbunyi: ”Kirimkan seribu orang misionaris kepada saya, maka bangsa Jepang akan menjadi bangsa Kristen.”



Tetapi, permintaan McArthur itu tidak dipenuhi. ”Masa Kairos sekali lagi berlalu begitu saja dan kini bangsa Jepang menjadi salah satu bangsa yang paling sulit dijangkau dengan Injil,”  tulis Jeff Hammond.  Berikutnya simaklah paparan Jeff Hammond tentang kisah sukses misi Kristen yang selama ini sudah terjadi di Indonesia:


”Setelah peristiwa G30S/PKI, terjadi masa kairos di Indonesia sehingga dalam enam tahun (1965-1971) ada lebih dari tujuh juta orang di Pulau Jawa yang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Tuaian itu telah berjalan terus dan banyak gereja di mana-mana telah mengalami pertumbuhan yang luar biasa dan berbagai gerakan yang mulai lahir telah berdampak selama tahun 1970-1980-an. Pada tahun 1997, suatu masa kairos baru di Indonesia telah mulai dan sekarang sedang berjalan dan sedang menuju suatu klimaks dan ledakan besar kuasa Tuhan yang akan membawa transformasi besar bagi seluruh bangsa Indonesia.”


Membaca kisah-kisah sukses misi Kristen seperti ini, sebagai orang Muslim Indonesia, kita patut bertanya-tanya, mengapa selama ini masyarakat Indonesia dan dunia internasional dijejali dengan berbagai cerita tentang kesulitan kaum Kristen dalam membangun gereja dan mengekspresikan agama mereka. Bahkan, cerita-cerita sedih tentang kebebasan beragama kaum Kristen inilah yang senantiasa diekspose keluar negeri, sehingga memberikan kesan bahwa Indonesia adalah negeri muslim yang sangat tidak toleran dan menindas kaum minoritas Kristen. Kini, banyak kalangan Kristen dan juga kaum liberal yang menjadikan isu ”kebebasan beragama” sebagai komoditas untuk menarik perhatian -- dan mungkin juga dana -- dari dunia internasional.



Menurut Jeff Hammond, sejak Mei 1997, ada banyak nubuatan yang sangat signifikan tentang rencana Tuhan untuk membawa transformasi ke Indonesia. Ada lima nubuatan yang disebutnya, yaitu (1) Akan terjadi goncangan ekonomi di Indonesia, (2) Goncangan itu akan menyebabkan Presiden yang menjabat digulingkan, (3) Setelah itu akan muncul seorang presiden di dalam masa transisional, (4) Akan ada Presiden wanita, dan (5) Indonesia akan mengalami masa tuaian besar. Satu per satu nubuatan-nubuatan itu sedang digenapi.



Masih menurut Jeff Hammond, misi Kristen di Indonesia memandang tahun 2005 sebagai tahun tuaian dan tahun 2020 sebagai tahun penggenapan Amanat Agung di Indonesia. Maksudnya, pada tahun itu, Indonesia akan berangsur-angsur berubah dari impian menjadi kenyataan. Salah satu bentuk transformasi Indonesia adalah terjadinya petobatan sejati yang akan membawa berjuta-juta orang untuk mengenal dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi.



Jeff Hammond akhirnya mendesak kaum Kristen:


”Waktunya sudah hampir tiba. Jangan berlambat-lambat. Bergegaslah. Inilah waktu bagi Anda untuk terlibat dalam penciptaan Indonesia baru. Jangan hanya menjadi penonton atau pembaca sejarah, tetapi jadilah pencipta sejarah.” (hal. 29).


Misionaris Kristen lainnya, Ir. Rahmat T. Manullang mendesak kaum Kristen untuk segera berbuat, karena kondisinya sudah sangat genting dan kesabaran Tuhan hampir habis. Bangsa Indonesia harus segera menyembah Tuhan, sebagaimana yang dikonsepkan oleh kaum Kristen.


”Bangsa kita saat ini sedang dalam keadaan yang sangat genting, dan Tuhan ingin kita mengerti hal itu. Kesabaran Tuhan tinggallah sedikit, dan kita sebagai gereja harus peduli akan bangsa ini, jika tidak bangsa ini akan mengalami kehancuran. Dalam sisa waktu ini kita harus bergegas. Ada sesuatu yang Tuhan ingin agar kita lakukan. Yakinlah bahwa Tuhan tidak menginginkan bangsa Indonesia hancur. Namun, syaratnya hanyalah satu, yaitu Tuhan harus menemukan umat-Nya di negeri ini, yang percaya dan yang memberi hidupnya  bagi Indonesia. Alkitab mengungkapkan bahwa Tuhan mencintai semua bangsa dan ingin agar mereka semua menyembah-Nya.” (hal. 49).


Bahkan, Indonesia dipandang sebagai daerah yang mendapatkan janji khusus, sesuai dengan gambaran Kitab Yesaya 60:7-9. Sebab, katanya, Indonesia adalah keturunan kedar Nebayot. Indonesia adalah keturunan Ismael Rohani terbesar, lebih besar dibandingkan dengan seluruh penduduk Timur Tengah. Karena itu, kaum Kristen diseru:


 ”Umat Tuhan harus setia memberikan yang terbaik, baik uang, pikiran, daya, atau apa pun dan menyerahkannya kepada Tuhan agar Ia menjamahnya sehingga terjadi multiplikasi sumber daya yang luar biasa. Umat Tuhan, inilah waktunya. Inilah saatnya janji Tuhan digenapi di Indonesia.” (hal. 51)

Dalam upaya mengkristenkan Indonesia inilah, para misionaris sangat menekankan peran gereja: ”Tugas gereja sebagai satu organisme yang telah ditebus oleh darah Kristus adalah meneruskan karya salib bagi banyak manusia yang diciptakan dan dikasihi-Nya, yaitu mereka yang bukan saja belum menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi mereka, melainkan juga mereka yang tertindas dan diperlakukan tidak adil... Dalam hal ini, gereja adalah alat yang dipilih Tuhan untuk menjadi agen transformasi.”   (hal. 73-74).



Bagi kaum misionaris, gereja bukan sekedar tempat ibadah, tetapi ”gereja melihat penginjilan sebagai mandat yang paling utama di dalam misinya.” (hal. 74); ”gereja melihat keadilan sosial di dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat (”buah”) dari penginjilan... mandat/misi gereja yang paling utama dan satu-satunya adalah penginjilan.” (hal. 75). Bahkan, ”penginjilan menjadi sesuatu yang lebih suci dibandingkan dengan mandat sosial budaya.” (hal. 75).



Inilah tekad kaum misionaris Kristen untuk mengkristenkan Indonesia. Segala daya upaya mereka kerahkan. Gereja-gereja terus dibangun di mana-mana untuk memuluskan misi mereka. Gereja-gereja dan gerakan misi terus bergerak untuk meraih tujuan, yang ditegaskan pada sampul belakang buku ini: ”supaya semua gereja yang ada di Indonesia dapat bersatu sehingga Indonesia dapat mengalami transformasi dan dimenangkan bagi Kristus.”



Memang, sejak dulu, kaum misionaris Kristen sudah menyadari dan merasakan, bagaimana beratnya melaksanakan tugas misinya ke dunia Islam. Jurnal Misi Kristen The Moslem World edisi Oktober 1946 mengutip ungkapan J. Christy Wilson, seorang Misionaris Kristen: “Evangelism for Mohammedans is probably the most difficult of all missionary tasks.” Seperti disebut sebelumnya, Berkhof juga menyebut, bahwa “kaum Muslimin yang besar yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan2 Indjil”. Dr. Sidjabat  juga mengakui: “Pekabaran Indjil di Indonesia, kalau demikian, masih akan terus menghadapi “challenge” Islam di negara gugusan ini…”.



Itulah program, tekad, dan tantangan kaum misionaris Kristen? Lalu, apa jawaban umat Islam? Wallahu A’lam. (Depok/www.hidayatullah.com]

(read more ...)





My Name is Khan adalah sebuah film yang mengangkat isu sensitif yang masih berkembang hingga saat ini di mata dunia barat. Rizvan Khan, dibintangi Shahruk Khan, adalah seorang muslim India yang menetap di Amerika. Statusnya sebagai seorang muslim mebuatnya terus-terusan mendapat gelombang tekanan yang hebat. Terlebih pasca kejadian 9/11. Suatu ketika istrinya mengalami depresi berat akibat terbunuhnya anak mereka dalam sebuah insiden. Kematian itu terasa sangat membekas dan meninggalkan luka yang menganga bagi Mandira, istri Rizvan Khan. Mandira mempersalahkan keputusannya menikah dengan seorang muslim sehingga menyebabkan terbunuhnya Sam, anak mereka. Secara sadar sang istri meminta suaminya memberitahukan kepada seluruh rakyat Amerika bahwa Rizvan Khan adalah seorang muslim dan ia bukan teroris. Entah pernyataan Mandira hanyalah luapan kekesalan semata atau memang ia meminta untuk itu dengan sengaja.


Perjalanan panjang ditempuh Rizvan dalam kondisi tidak normalnya akibat gangguan mental yang dikenal dengan sindrom aspergus. Rizvan membulatkan tekadnya untuk menemui presiden amerika guna menyampaikan suatu sikap yakni “My Name is Khan, and I’m not a Terrorist”. Berbulan-bulan dan berbagai upaya dilakukan demi niatan tersebut. Hingga akhirnya ia berhasil menemui presiden amerika dan menyampaikan pesannya. Pesan ini ternyata menjadi sebuah kekuatan tersendiri bagi muslim yang hidup di Amerika. Setelah berbagai perlakuan tidak menyenangkan pasca tragedi World Trade Center, apa yang dilakukan Khan memberikan sebuah harapan bagi muslim Amerika dan dunia pada umumnya untuk bangkit dan memulihkan citra mereka dari segala stigma negatif yang melekat selama ini. Bahwa Islam adalah teroris, cinta kekerasan dan berbagai pandangan sinis lainnya adalah sebuah kesalahan besar.


My Name is Khan menghadirkan gambaran tentang nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang dicitrakan pada sesosok pria yang tidak normal secara mental. Namun di tengah keterbatasan tersebut justru Rizvan-lah yang mampu mengetuk pintu hati jutaan rakyat Amerika tentang bagaimana agama itu mengajarkan keindahan. Agama tidak pernah mengajarkan kebencian, dendam, dan pembunuhan atas nama jihad.


Di tengah kegemilangannya menceritakan tentang persamaan dari segenap perbedaan. Film ini menurut hemat saya haruslah mendapatkan filtrasi secara sehat dalam mencerna dan memilah nilai-nilai yang ditanamkan. Secara tidak langsung saya menangkap adanya sinyal yang menceritakan bahwa semua agama adalah sama. Tidak ada perbedaan antara umat Islam dan umat Hindu. Yang ada hanyalah manusia baik dan manusia tidak baik. Seperti itulah salah satu dialog dalam film tersebut. Memang benar adanya bahwa agama secara substansial mengajarkan kepada kebaikan. Karena memang itulah definisi agama secara harfiah. A itu tanpa, gama berarti kerusakan. Sehingga agama berarti tanpa kerusakan. Namun Islam bukanlah sekedar agama, Islam adalah diin yang maknanya jauh melampaui makna agama itu sendiri. Islam bukan sekedar agama ritual. Islam adalah bagian kehidupan yang melekat dalam diri setiap muslim. Tidak ada suatu hal pun yang islam tidak ada di dalamnya. Dengan demikian konsep bahwa tidak ada yang membedakan antara Islam dan Hindu tidak bisa secara mutlak diterima. Tanpa disadari bisa jadi para penikmat film tersebut langsung beranggapan bahwa semua agama adalah sama dan itu berarti tidak adanya batasan yang berarti antar setiap agama. Jika penonton tidak cerdas dalam menikmati film ini maka akan terjadi distorsi dalam menafsirkan substansi ceritanya.


Mengenai konsep bahwa hanya ada dua manusia yakni manusia baik dan manusia tidak baik adalah sebuah konsep pemikiran yang sangat dewasa. Karena kebaikan dan keburukan sifatnya general sehingga harus dikembalikan kepada apa nilai tersebut bersandar.


Mandira, istri Rizvan, adalah seorang Hindu. Akan tetapi Rizvan Khan tetap berkeras untuk menikahi mandira meskipun pernikahan mereka ditentang dengan sangat keras oleh adik Rizvan sendiri, Zakir. Zakir berkata bahwa adalah haram menikahi wanita yang memiliki beda keyakinan. Lagi-lagi Rizvan mengatakan bahwa tidak ada yang membedakan antara Islam dan Hindu, yang ada hanyalah manusia yang baik dan manusia yang buruk. Lalu sebenarnya seperti apa Islam itu diposisikan? Apakah agama tidak menjadi pondasi, prinsip, landasan berpikir umatnya. Bukankah Islam seharusnya dijadikan pegangan dalam mengarungi kehidupan dunia untuk meraih kebahagiaan akhirat. Dengan demikian sudah selayaknya seorang muslim mengikuti segala aturan yang ditetapkan agamanya. Bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin. Setiap jengkal perintah dan larangan yang dijelaskan dalam al-quran dan sunah serta ijtihad para ulama adalah sebuah hal yang mutlak untuk diikuti. Karena Islam berlandaskan pada keyakinan, pada keimanan bahwa tidak ada diin selain Islam. Dalam Al-Quran dinyatakan bahwa seorang muslim haruslah menikahi seorang muslim juga atau menikahi seorang ahli kitab. Lantas siapa ahli kitab? Ahli kitab adalah orang yang menjadikan kitabnya untuk memahami ayat-ayat Allah.


Lantas apakah seorang Hindu termasuk ahli kitab. Sementara agama mereka adalah agama ardi, buatan manusia. Lantas bagaimana seorang Hindu bisa memahami ayat-ayat Allah.


Liberalisme telah menjadi bagian dari kehidupan dunia barat. Semua bebas melakukan apa saja atas dasar pengakuan hak asasi manusia. Akan tetapi dalam keberjalanannya justru tidak jarang hak asasi manusia itu sendiri yang dilanggar. Seorang muslim tidak pernah dibenarkan untuk berdoa bersama dengan pemeluk agama lain. Setidaknya hal tersebut yang penulis pahami. Dalam salah satu bagian ceritanya, Rizvan Khan yang seorang muslim melakukan doa bersama dengan pemeluk agama Kristen di gereja. Fenomena yang terjadi seolah ingin menjelaskan bagaimana sebuah nilai kemanusiaan bisa melewati tembok keangkuhan yang sering terjadi antar pemeluk agama.


Islam sangat mengajarkan kasih sayang kepada umatnya. Tidak ada contoh yang lebih baik bagi umat manusia seperti apa yang ditunjukkan oleh Rasul Muhammad saw tentang arti kasih sayang sesama manusia. Akan tetapi untuk masalah akidah, Islam menggariskan bahwa untukku agamaku dan untukmu agamamu. Tidak ada toleransi kepada siapapun untuk masalah keyakinan. Bahkan untuk berdoa bersama dengan pemeluk agama lainnya.


Ini hanyalah pandangan pribadi saya sebagai seorang penikmat film My Name is Khan. Saya hanya ingin menawarkan sebuah sudut pandang lain dari film tersebut. Untuk mencoba mengubah arah distorsi yang mungkin terjadi untuk kembali pada sudut yang semestinya. Jangan sampai film ini menanamkan sebuah dogma yang salah ketika kita tidak bisa menangkap substansi film dengan bijak. Secara keseluruhan film ini cukup baik untuk ditonton karena cukup banyak hikmah yang bisa kita gali. Semoga kita menjadi penonton yang cerdas.


Andri


*eramuslim



(read more ...)



Atas nama ”Kebebasan Beragama”, sekelompok orang menuntut agar di Indonesia tak ada peraturan menghakimi aliran sesat atau tidak. Baca CAP Adian ke-280



Oleh: Dr. Adian Husaini




 

" Kesalahan Lia Aminuddin persis sama dengan kesalahan Kanjeng Nabi Muhammad, meyakini suatu ajaran dan berusaha menyebarluaskannya.”  




(Luthfi Assyaukanie)



PADA 26 Juni 2007, Harian Media Indonesia menurunkan artikel  Luthfi Assyaukani, salah satu aktivis Jaringan Islam Liberal, berjudul ”Salman Rushdie dan Citra Islam”. Melalui artikel ini, penulisnya mengecam gelombang protes kaum Muslimin atas penganugerahan gelar bangsawan Inggris untuk Salman Rushdie, pengarang novel Ayat-Ayat Setan yang sangat menyinggung perasaan kaum Muslim.



Menurut Luthfi, penulisan novel semacam Ayat-Ayat Setan adalah bagian dari kebebasan berekspresi yang seharusnya tidak perlu disikapi secara emosional. ”Reaksi kaum Muslim terhadap kebebasan berekspresi tampaknya memiliki pola yang sama: mengumbar kemarahan dan kekerasan.”



Lebih jauh ia membandingkan respon kaum Muslim itu dengan sikap kaum Kristen terhadap penodaan agama. ”Apalagi jika kita membandingkan respon kaum Muslim dengan respon serupa dalam dunia Kristen atau agama-agama lain, kelihatan betul bahwa kaum Muslim tampak sangat berlebihan,” tulisnya lagi.



Luthfi mengaku tidak nyaman melihat reaksi kaum Muslim  terhadap masalah kebebasan berekspresi. Dia katakan: ”Kita tidak ingin menjadi komunitas agama yang aneh sendirian di dunia ini. Agama-agama lain memiliki sikap yang jauh lebih elok dibandingkan reaksi-reaksi yang diperlihatkan kaum Muslim selama ini dalam setiap isu menyangkut kebebasan berekspresi atau kebebasan berpendapat.”



”Setiap ada kasus-kasus yang menyangkut kebebasan berekspresi yang menimpa Islam, saya selalu merasa waswas dengan reaksi yang akan muncul. Beberapa hari lalu saya benar-benar tersudut dan malu dengan pertanyaan seorang teman non-Muslim: ”Bukankah Islam agama pemaaf? Bukankah Tuhan Maha Pengasih? Kenapa setelah 20 tahun kaum Muslim masih terus saja membenci Rushdie?”



Demikian tulis Luthfi Assyaukanie.



*****

 

Siapakah Salman Rushdie? Nama Salman Rushdie mencuat ketika pada 26 November 1988, Viking Penguin menerbitkan novelnya berjudul The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan). Novel ini segera memicu kemarahan umat Islam yang luar biasa di seluruh dunia. Novel ini memang sungguh amat sangat biadab. Rushdie menulis tentang Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim, istri-istri Nabi (ummahatul mukminin) dan juga para sahabat Nabi dengan menggunakan kata-kata kotor yang sangat menjijikkan. Tahun 2008 lalu, saya membeli Novel ini dalam edisi bahasa Inggrisnya di sebuah toko buku di Jakarta.



Dalam novel setebal 547 halaman ini, Nabi Muhammad saw, misalnya, ditulis oleh Rushdie sebagai ”Mahound, most pragmatic of Prophets.”  Digambarkan sebuah lokasi pelacuran bernama The Curtain, Hijab, yang dihuni pelacur-pelacur yang tidak lain adalah istri-istri Nabi Muhammad saw. Istri Nabi yang mulia,  Aisyah r.a.,  misalnya, ditulis oleh Rushdie sebagai ”pelacur berusia 15 tahun.” (The fifteen-year-old whore ’Ayesha’ was the most popular with the paying public, just as her namesake was with Mahound). (hal. 381).



Banyak penulis Muslim menyatakan, tidak sanggup mengutip kata-kata kotor dan biadab yang digunakan Rushdie dalam melecehkan dan menghina Nabi Muhammad saw dan istri-istri beliau yang tidak lain adalah ummahatul mukminin.  Maka, reaksi pun tidak terhindarkan.  Fatwa Khomaini pada 14 Februari 1989 menyatakan: Salman Rushdie telah melecehkan Islam, Nabi Muhammad dan al-Quran. Semua pihak yang terlibat dalam publikasinya yang sadar akan isi novel tersebut, harus dihukum mati. Pada 26 Februari 1989, Rabithah Alam Islami dalam sidangnya di Mekkah, yang dipimpin oleh ulama terkemuka Arab Saudi, Abd Aziz bin Baz, mengeluarkan pernyataan, bahwa Rushdie adalah orang murtad dan harus diadili secara in absentia  di satu negara Islam dengan hukum Islam.



Pertemuan Menlu Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 13-16 Maret 1989 di Riyadh juga menyebut novel Rushdie sebagai bentuk penyimpangan terhadap Kebebasan Berekspresi. Prof. Alaeddin Kharufa, pakar syariah dari Muhammad Ibn Saud University,  menulis sebuah buku khusus berjudul Hukm Islam fi Jaraim Salman Rushdie. Ia mengupas panjang lebar pandangan berbagai mazhab terhadap pelaku tindak pelecehan terhadap Nabi Muhammad saw. Menurut Kharufa, jika Rushdie menolak bertobat, maka setiap Muslim wajib menangkapnya selama dia masih hidup.



Prof. Mohammad Hashim Kamali, dalam bukunya  Freedom of Expression in Islam, (Selangor: Ilmiah Publishers, 1998), menggambarkan cara Rushdie menggambarkan istri-istri Rasulullah saw sebagai “simply too outrageous and far below the standards of civilised discourse.”  Penghinaan Rushdie terhadap Allah dan al-Quran, tulis Hasim Kamali,  “are not only blasphemous but also flippant.”



Manusia yang tindakannya begitu biadab terhadap Nabi Muhammad saw dan istri-istri beliau itulah, yang kemudian dianugerahi gelar kebangsawanan oleh Inggris. Seorang yang dimata umat Islam dicap sebagai penjahat besar justru disanjung dan diberi penghargaan. Dan saat umat Islam bereaksi, membela kehormatan Nabi-nya yang mulia, umat Islam lalu dituduh reaksioner, emosional, yang dalam istilah Luthfi Assyaukani disebut: “kelihatan betul bahwa kaum Muslim tampak sangat berlebihan.”

       

*****



Di bulan Rabi’ulawwal 1431 Hijriah, bulan kelahiran Nabi Muhammad saw, seorang aktivis liberal membuat pernyataan yang mengherankan. Hari itu, Rabu (17/2/2010), sebagai saksi ahli pihak penggugat kasus UU Penodaan Agama, UU No. 1/PNPS/1965,  Luthfi Assyaukanie membuat pernyataan:



 

”Setiap pemunculan agama selalu diiringi dengan ketegangan dan tuduhan yang



sangat menyakitkan dan seringkali melukai rasa kemanusiaan kita. Ketika Rasulullah Muhammad SAW mengaku sebagai nabi, masyarakat Mekah tidak bisa menerimanya. Mereka menuduh nabi sebagai orang gila dan melempari beliau dengan kotoran unta. Para pengikut nabi dikejar-kejar, disiksa dan bahkan dibunuh seperti yang terjadi pada Bilal bin Rhabah sang muadzin dan keluarga Amar bin Yasar. Hal serupa juga terjadi pada Lia Aminuddin ketika dia mengaku sebagai nabi dan mengakui sebagai jibril. Orang menganggapnya telah gila dan sebagian mendesak pemerintah untuk menangkap dan memenjarakannya. Kesalahan Lia Aminuddin persis sama dengan kesalahan Kanjeng Nabi Muhammad, meyakini suatu ajaran dan berusaha menyebarluaskannya.” (Dikutip dari Risalah Sidang Mahkamah Konstitusi, www.mahkamahkonstitusi.go.id).



Di sejumlah media, saksi ahli yang juga dikenal sebagai pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL) ini diberitakan mengaku, menyampaikan ungkapannya dengan sadar. Bahkan, ia mengaku sempat merevisi draf untuk MK hingga beberapa kali.  Menurut dia, Islam pada awalnya adalah salah,  menurut orang Quraisy. Muhammad lalu dikejar-kejar oleh kelompok mayoritas kaum Quraisy itu. Lalu, hal yang sama terjadi sekarang pada kasus  Lia Eden. Itulah pendapat Luthfi Assyaukanie, yang juga doktor bidang studi Islam, lulusan Melbourne University.



Dalam keyakinan kaum Muslim, Nabi Muhammad saw adalah Nabi terakhir. Beliau seorang yang pintar, jujur, amanah, dan menyampaikan risalah Allah SWT kepada semua manusia. Beliau adalah uswah hasanah, suri tauladan yang baik. Beliau  diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. KaumMuslimin sangat mencintai Nabi Muhammad saw. Selama 24 jam, ratusan juga kaum Muslim di seluruh dunia tidak berhenti berdoa untuk Sang Nabi yang sangat mulia ini.  Bahkan, tidak sedikit kaum Muslim rela mati demi kehormatan Sang Nabi.



Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menulis sebuah kitab khusus berjudul ”Ash-Sharimul Maslul ’Ala Syatimir Rasul”. (Pedang Yang Terhunus untuk Penghujat Nabi). Kitab ini merekam pendapat semua mazhab tentang kedudukan orang yang melecehkan Nabi Muhammad saw. Sahabat-sahabat Nabi saw bersedia menjadi perisai bagi Sang Nabi demi melindunginya dari serangan panah kaum kafir di medan Perang Uhud. Shalawat untuk Sang Nabi, kekasih dan utusan Allah, menjadi rukun keabsahan shalat setiap Muslim.



Logikanya, menghina presiden atau raja saja ada sanksi hukumnya. Presiden SBY sempat marah karena diserupakan dengan kerbau oleh para demonstran. Sebab, SBY bukan kerbau, dan tidak patut disamakan dengan kerbau. Meskipun ada sejumlah persamaan antara SBY dengan kerbau. SBY memiliki dua mata. Kerbau juga bermata dua. SBY mulutnya satu. Kerbau juga bermulut satu. Tapi, menyamakan SBY dengan kerbau adalah tindakan yang sangat tidak patut.  Presiden SBY juga tidak terima dikatakan punya istri lagi dan sempat membawa kasus itu ke pengadilan. Jika menghina Presiden saja ada sanksi hukuknya, bagaimana dengan penghinaan kepada utusan Allah, Tuhan yang mencipta alam semesta?  Utusan Presiden saja harus dihormati; apalagi utusan Allah. Jika ada yang mengaku-aku sebagai utusan Presiden, padahal dia berbohong, maka patutlah ia diberi sanksi hukum. Bagaimana dengan orang yang mengaku sebagai utusan Allah, padahal dia adalah penipu?!



Bagi orang Muslim, persoalan mendasar semacam ini sudah jelas sejak awal. Seorang disebut Muslim karena dia membaca dan meyakini syahadat: bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika orang tidak mengakui Muhammad saw sebagai Nabi,  maka jelas dia bukan Muslim. Tentulah, mengimani Sang Nabi itu ada konsekuensinya. Kaum Yahudi dan Nasrani menolak mengakui kenabian Muhammad saw, setelah datang bukti-bukti yang jelas pada mereka.  Sebab, mengakui kenabian Muhammad saw memiliki konsekuensi yang berat bagi mereka.



Sebagian masyarakat Madinah ketika itu ada juga yang berpura-pura beriman, tetapi mereka sangat membenci Nabi Muhammad saw. Bahkan, mereka tak henti-hentinya mencerca, menfitnah, dan berusaha mencelakai Nabi Muhammad saw. Manusia-manusia yang mengaku Islam tetapi hatinya sangat membenci Islam itulah yang disebut kaum munafik, yang ciri-cirinya banyak disebutkan dalam al-Quran. Manusia pasti masuk dalam salah satu dari tiga kategori ini: Mukmin, kafir, dan munafik. (QS al-Baqarah: 2-20). Tentu, kita berharap, masuk kategori Mukmin, yang yakin akan kenabian Muhammad saw, mencintai beliau, menghormati beliau, dan berusaha sekuat tenaga kita menjadikan beliau sebagai suri tauladan kita sehari-hari.



Dalam perspektif inilah, wajar jika ada yang terbengong-bengong ketika menyimak pidato seorang yang mengaku Islam, tetapi berani menista Nabi Muhammad saw, menyamakan derajat Nabi yang mulia dengan Lia Eden. Padahal, untuk Sang Nabi saw, setiap saat umat Islam dan para Malaikat pun membacakan shalawat untuknya. Hinaan dan cercaan itu dilakukan atas nama ”Kebebasan Beragama”.  



Tahun 2007, Lia Eden mengaku sebagai Malaikat Jibril dan mengancam akan mencabut nyawa Ketua Mahkamah Agung RI, Prof. Bagir Manan. Dalam sebuah suratnya bertanggal 25 November 2007, Lia Eden, menulis: “Atas nama Tuhan Yang Maha Kuat. Aku Malaikat Jibril adalah hakim Allah di Mahkamah Agungnya... Akulah Malaikat Jibril sendiri yang akan mencabut nyawamu. Atas Penunjukan Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan dan kewenangan Mahkamah Agung Tuhan berada di tanganku.”



Tahun 2003, Lia Eden masih mengaku ”berkasih-kasihan dengan Melaikat Jibril”.   Dalam bukunya, Ruhul Kudus (2003), sub judul ‘’Seks di sorga’’, diceritakan kisah pacaran dan perkawinan antara Jibril dengan Lia Eden:  ‘’Lia kini telah mengubah namanya atas seizin Tuhannya, yaitu Lia Eden. Berkah atas namanya yang baru itu. Karena dialah simbol kebahagiaan surga Eden. Berkasih-kasihan dengan Malaikat Jibril secara nyata di hadapan semua orang. Semua orang akan melihat wajahnya yang merona karena rayuanku padanya. Aku membuatkannya lagu cinta dan puisi yang menawan. Surga suami istri pun dinikmatinya.’’



Manusia seperti Lia Eden inilah yang dikatakan telah melakukan kesalahan sama dengan yang dilakukan Nabi Muhammad saw. Bagaimana mungkin orang yang mengaku Islam bisa berkata seperti itu?  Lia Eden adalah pembohong. Sedangkan Nabi Muhammad tidak pernah berbohong sepanjang hidupnya. Lia ditolak oleh umat Islam. Nabi Muhammad saw ditolak oleh kaum kafir. Nabi Muhammad saw adalah Nabi sejati. Beliau tidak salah. Lia Eden adalah Nabi palsu. Dia jelas-jelas salah.  Bukan hanya itu, Lia Eden telah bersikap tidak beradab, karena mengaku mendapatkan wahyu dari Jibril dan bahkan akhirnya mengaku sebagai Malaikat Jibril.



Kini, atas nama ”Kebebasan Beragama”, sekelompok orang menuntut agar di Indonesia tidak ada lagi peraturan yang menghakimi satu aliran sesat atau tidak. Bahkan, Lia Eden disetarakan kedudukannya dengan Nabi Muhammad saw. Padahal, Nabi Muhammad saw adalah Nabi sejati. Menurut kaum pemuja paham Kebebasan, keyakinan keagamaan seseorang harus dilindungi, karena itu masuk dalam arena ”forum internum”.  Yang boleh dibatasi oleh negara hanyalah ”forum externum”.  Selama tidak mengganggu ketertiban umum, misalnya, maka hak untuk mengekspresikan keyakinan keagamaan seseorang harus dilindungi. Keyakinan dan hak kaum Ahmadiyah untuk mengekspresikan dan menyebarkan ajaran agamanya harus dilindungi, sebab mereka juga manusia yang punya hak yang sama dengan kaum beragama lainnya.



Di sinilah letak absurditas dan tidak masuk akalnya logika kaum pemuja paham Kebebasan ini. Mereka hendak memaksakan agar semua orang Muslim bersikap ”netral agama” dalam melihat segala sesuatu. Ketika melihat soal agama, meskipun secara formal mengaku Muslim, golongan ini melepaskan dirinya dari ke-islaman-nya sendiri. Dia berpikir dan bersikap netral. Dia tidak mau menentukan mana yang salah dan mana yang benar. Semuanya dianggap sama. Tidak ada istilah mukmin, kafir, muslim, sesat, dan sebagainya. Bagi mereka, semuanya sama. Yang penting agama. Maka, tidak aneh, jika mereka akan sampai pada kesimpulan, bahwa kedudukan Nabi Muhammad saw disamakan dengan Lia Eden, Mirza Ghulam Ahmad, Mosadeg, dan nabi-nabi palsu lainnya.



Bagi kelompok semacam ini, yang terpenting adalah ”Kebebasan”,  bukan Kebenaran.  Tentu saja, paham ini sangat merusak. Jika seorang kena paham semacam ini, bubarlah Islamic worldview atau pandangan-alam Islam-nya. Pandangan alam, menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah ”Islamic vision on truth and reality”. Seorang Muslim pasti memiliki pandangan-alam yang berbeda dengan orang kafir. Bagi seorang Muslim, Muhammad saw adalah seorang Nabi yang ma’shum. Maka, wahyu yang disampaikan oleh Allah kepada beliau (al-Quran) adalah benar. Bagi kaum Yahudi, Muhammad saw bukanlah Nabi, tetapi pembohong, karena mengaku menerima wahyu yang ditulisnya dari sumber kitab-kitab Yahudi. Karena itulah, Dr. Abraham Geiger, seorang tokoh Yahudi Liberal, menulis buku ”What did Muhammad Borrow from Judaism”.



Kaum Nasrani pasti juga tidak mengakui Muhammad saw sebagai Nabi dan al-Quran sebagai wahyu. Sebab, jika mereka mengakui itu, sama saja dengan menyatakan, bahwa agama mereka adalah salah.  Karena al-Quranlah, satu-satunya Kitab yang secara sangat terperinci menjelaskan kekeliruan paham keagamaan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya al-Quranlah satu-satunya Kitab Suci yang menegaskan posisi Nabi Isa a.s. sebagai Nabi dan Rasul Allah, bukan sebagai Tuhan, anak Tuhan, atau salah satu dari Tiga oknum dalam Trinitas.



Karena itu, dalam perspektif Islamic worldview ini, kita sering dibingungkan dengan posisi kaum Pemuja Kebebasan, dimanakah sebenarnya posisi mereka?  Islam bukan; Kristen bukan, Yahudi bukan; Hindu Budha juga bukan! Lalu dimana posisi mereka? Posisi mereka adalah netral agama. Posisi tidak beragama. Artinya, meskipun mereka mengaku beragama, tetapi mereka tidak mau menggunakan ajaran agamanya sebagai dasar untuk memandang atau menilai realitas kehidupan. Agama adalah urusan privat antara dirinya dengan Tuhan. Agama adalah laksana baju. Kapan saja bisa ditukar atau diganti. Ketika masuk Istana atau ruang sidang parlemen, agama harus ditaruh di luar ruangan. Jangan dibawa-bawa. Ketika mengajar filsafat, agama jangan dibawa-bawa. Sebab, filsafat adalah berfikir bebas, sebebas-bebasnya di luar batas agama. Ketika membahas masalah kebebasan, agama juga harus disingkirkan. Paham seperti inilah yang dipuja-puja dan dibanggakan, yang katanya melahirkan manusia hebat dan bermartabat.



Dalam perspektif Islam, paham netral agama jelas keliru.



*****



Syahdan, suatu malam, saat hujan turun dengan derasnya dan petir sambar menyambar, datang sebuah mimpi aneh. Mimpi ini benar-benar mimpi. Saya belum pernah bermimpi seperti ini. Tampak dalam mimpi saya, seorang anak kecil berlarian di pematang sawah di pelosok kampung daerah ujung Bekasi. Kulitnya dipenuhi dengan kudis dan kurap. Ingusnya hampir tak berhenti meleleh. Lidahnya sering menjulur-julur. Tampak ia kehausan dan kelaparan. Pakaiannya lusuh. “Bisa bantu saya, Mas. Saya Keni,” katanya, saat saya lewat dihadapannya.




Saya ulurkan tangan memberi uang sekedarnya. Belum sempat dia mengucapkan terimakasih,  saya terbangun! Tangis anak saya memotong mimpi. Pada hari lain, mimpi itu datang lagi.  ”Masih ingat saya Mas,” sapa seorang pemuda.  Tentu saja saya terkejut. Saya pandangi wajah anak muda itu.  Pemuda di hadapan saya ini seorang ”perlente”. Jasnya keren. Jamnya berkilau keemasan. Mukanya ”klimis”. Rambut keritingnya tersisir rapi. Wajahnya beberapa kali saya lihat di media massa. ”Saya Keni, Mas! Yang dulu Mas kasih bantuan. Terimakasih Mas, atas bantuannya,” ujarnya memperkenalkan.



Lho, kamu?” saya nyaris tak percaya. ”Kamu yang sekarang jadi penghujat Nabi Muhammad!?” masih dengan nada tak percaya. ”Memangnya kenapa Mas? Sekarang kan zaman kebebasan. Saya kan kerja untuk LSM Kebebasan!  Ini untuk kerja saja Mas. Itung-itung nebus masa kecil yang sengsara!” katanya, seperti tanpa beban.



”Kan kamu pernah ngaji di pesantren!” saya masih keheranan. Saya tatap wajah anak muda itu dalam-dalam. Ia agak salah tingkah.



”Ya, itu kan dulu! Sekarang zaman sudah beda Mas, yang penting uang; hidup enak. Saya dulu miskin, disepelekan orang. Sekarang saya bisa berbangga dan membantu orang tua. Saya tidak miskin lagi. Kalau pulang kampung, banyak yang bisa saya bantu,” ujar Keni lagi.



”Tapi, kan kamu jual iman, namanya. Apa kamu tidak takut pada Allah. Tidak kasihan sama orang tua kamu, yang mengharapkan agar kamu jadi anak shaleh?”



”Ah Mas ini, kayak tidak tahu saja! Orangtua saya juga tidak tahu aktivitas dan pemikiran saya yang sebenarnya.”



”Kamu keterlaluan, bertobatlah sebelum terlambat!”



”Bagaimana caranya bertobat Mas. Apa Mas mau ganti penghasilan saya yang puluhan juta rupiah sebulan? Saya sudah terlanjur Mas. Mungkin, ini sudah menjadi jalan hidup saya. Mungkin sudah takdir saya begini.”



”Masih ada kesempatan untuk bertobat! Kamu diperalat oleh hawa nafsu, oleh setan. Kamu menyangka memperjuangkan kebebasan, padahal itu kebebasan ala iblis! Itu bukan kebebasan dalam ajaran Islam.  Masak orang yang melecehkan Islam dan mengaku Nabi kamu belain. Kasihan kamu dan orang tua kamu. Kamu disekolahkan agama jauh-jauh ke luar negeri, tetapi hasilnya malah kamu jadi begini. Kamu jadi perusak agama. Sadar nggak sih kamu dengan apa yang kamu lakukan!”



”Terus terang Mas, kadangkala saya juga sempat terlintas pikiran seperti itu. Ingin juga ke pesantren kembali, berjuang bersama dengan para kyai saya dulu. Tetapi, pikiran seperti itu segera saya tepis, karena tidak realistis. Saya harus berperan seperti ini! Ini tuntutan Mas!”



”Tuntutan dari siapa?” saya mendesak Keni untuk mengaku.



”Tidak bisa saya sebutkan, Mas! Pokoknya saya harus menyampaikan, bahwa Islam itu sudah usang.  Islam harus dikecilkan. Islam tidak boleh tampil. Apalagi sampai diterapkan di tengah masyarakat dan tataran kenegaraan. Ini sangat berbahaya. Saya juga harus mengatakan bahwa Liberalisme dan Sekularisme itulah yang cocok bagi umat Islam dan bagi bangsa Indonesia, agar negara ini menjadi negara yang maju dan hebat seperti Amerika,” Keni mulai terbuka.



”Sepertinya, kamu tidak yakin dengan pikiranmu sendiri,” saya memancing agar Keni mau mengungkap lebih jauh lagi.



”Semula saya memang tidak yakin. Semula saya menjadi begini hanya karena pergaulan saja. Tapi, lama-lama saya merasakan sulit sekali keluar dari pemahaman seperti ini. Apalagi kebutuhan saya sudah dicukupi semua. Doakan saja Mas, siapa tahu, suatu ketika saya bisa berubah. Tapi, entahlah, apa bisa atau tidak,” ujarnya lirih, sambil menghela nafas.



”Tapi, kenapa kamu sampai berani menghina Nabi Muhammad?”



”Begini Mas cerita sebenarnya...”



Belum sempat Keni meneruskan kata-katanya, seorang wanita bule tiba-tiba muncul dan membentaknya: ”Keni!”  Aneh, Keni langsung diam. Tampak dia hanya menunduk.  Termangu, sambil menggosok-gosok tangan kanannya ke celana. Lalu, dia berujar pelan, sambil sesekali menengok ke arah saya:



“Sorry, Mam! Saya baru saja menyatakan pada Mas ini, bahwa sebenarnya Nabi Muhammad itu pelanggar HAM. Dia sebenarnya hanya ngaku-ngaku saja menjadi Nabi. Sama seperti Mirza Ghulam Ahmad dan Lia Eden. Kalau Muhammad boleh menyiarkan agamanya, mengapa Ghulam Ahmad dan Lia Eden tidak boleh?  Umat Islam bisanya hanya marah saja. Umat Islam tidak menghargai Kebebasan Beragama. Umat Islam bisanya mengumbar emosi. Tidak santun. Saya kadang kala malu jadi orang Islam. Tidak seperti orang-orang Kristen dan Yahudi dan agama-agama lain, yang lebih ramah dan sabar dalam menghadapi kasus penodaan agama. Ya kan, Mas!? Saya kan tadi ngomong seperti itu!”



Saya bengong dan nyaris tak percaya dengan apa yang saya lihat. Keni, pemuda kampung yang dulu kudisan, miskin, sekarang jadi pemuda ”keren”, pintar, disanjung sampai manca negara sebagai pejuang Kebebasan Beragama.  Bahkan, ada yang menjadikannya sebagai idola.  Saya mencoba merenungkan, sedalam-dalamnya. Benarkah hanya karena masalah uang, dia jadi begini? Atau, ada masalah lain?  Ah, peduli setan soal motif tindakan Keni. Juga, apakah yang disampaikan Keni itu bisa dipercaya atau tidak, itu tidaklah terlalu penting.



Saya pun mencoba merenung-renung, siapa wanita bule yang dipanggil ”Mam” dan begitu ditakuti Keni.  Wanita setengah baya itu matanya tajam mengawasi gerak-gerik dan ucapan Keni.  Pakaiannya menampakkan dia seorang terpelajar.  Wajahnya lumayan cantik, untuk ukuran rata-rata orang bule.



Tak tahan dengan segala keanehan dan kejengkelan di hadapan saya, tiba-tiba saya berteriak sekeras-kerasnya: ”Keniiii...., kamu pen..........!”


”Mas, mas.....bangun....bangun....!   Saya tersadar. Bangun. Lama saya duduk termangu; merenungkan mimpi ini.  Benarkah ini hanya mimpi? Alhamdulillah, ini benar-benar mimpi. Segera saya baca doa bangun tidur:


اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَحْيَانَا بَعْدَمَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ


(Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit Alhamdulillahilladzi ahyanaa ba’da maa amatanaa wa-ilaihin nusyuur). [PP Husnayain, Sukabumi, 22 Februari 2010/www.hidayatullah.com]

 

(read more ...)





Berulangnya penjajahan atas negara-negara Islam, termasuk runtuhnya Khilafah Otsmaniyah, tak lain akibat adanya pengkhianatan. Para pengkhianat itu menyebabkan musuh dapat menguasai negeri-negeri Islam, yang luas, dan kemudian terjajah.


Kemal At-Taturk, tokoh yang sekarang diagung-agungkan menjadi ‘bapak sekulerisme’, tak lain, adalah seorang pengkhianat, yang dengan sengaja ikut menghancurkan Islam dan sistem Islam. Turki yang dibawah kekuasaan Khilafah, berubah menjadi sistem republik, dan mengubah bentuk dan jati dirinya, yang sampai sekarang menjadi sistem sekuler, yang menolak Islam.


Pasukan Tartar berhasil masuk kota Bagdad, dan menghancurkan dan membakar Bagdad, karena adanya pengkhianatan, yang dilakukan seorang pengikut Syiah, dan bersedia berkolaborasi dengan pasukan Tartar, menghancurkan Daulah Abbasiyah. Bagdad, seperti yang ada dalam kisah ‘1001 malam’, yang menggambarkan kemasyhuran kekuasaan Islam, pengaruh peradabannya, dan nilai-nilai, yang sangat mulia, pupus oleh pengkhianatan dan perang, dan menghancurkan kekuasaan Islam.


Di Semanjung Arabia, Afrika, dan Asia Selatan, dan Tengah, kekuasaan Islam, runtuh bersamaan dengan adanya penjajahan baru, yang menghancurkan sistem Islam, dan masuknya para penjajah, yang menggantikan sistem Islam dengan sistem sekuler. Kedatangan para penjajah, yang hingga kini, bukan hanya menguasai sumber daya alam, tetapi juga menanamkan nilai-nilai sekulerisme, yang menjadi jangkar bagi penguasaan dan penjajahan.


Melalui nilai-nilai sekuler yang ditanamkan sebagai sebuah ideologi yang dicangkokkan ke negeri-negeri Muslim, dan menyebabkan mereka menjadi lumpuh, dan tidak memiliki lagi spirit, dan perlawanan terhadap para penjajah. Justru mereka menjadi pembela dan tulang pulung (backbone) penjajah, dan bersedia mati, membela para penjajah.


Nilai-nilai sekuler itu, tak lain, paham materialisme, yang sudah merasuk ke dalam jiwa-jiwa penduduk di negeri-negeri muslim. Sekulerisme melahirkan ketamakan terhadap materi, dan meninggalkan agama (akhirat). Maka, rakyat di negeri-negeri Islam, menjadi sangat permisive (longgar), terhadap sekulerisme (materialisme), yang merusak akal dan jiwa mereka.


Ini adalah senjata pemungkas bagi para penjajah terhadap umat Islam.


Penjajahan yang sifatnya permanen terus dijaga, dan dengan berbagai bentuk, dan diantaranya dengan menciptakan para pengkhianat yang bersedia membela kepentingan para penjajah. Politik divide at impera (memecah belah), dikalangan umat di negeri-negeri muslim, berlangsung dengan berbagai strategi, termasuk membuat propaganda, yang sistematis terhadap kelompok-kelompok yang menentang penjajah, seperti gelar ekstrim, fundamentalis, eksklusif, dan radikal. Pemberian lebel ini semakin kuat, saat usai peristiwa 11 September 2001, meledaknya gedung WTC.


AS sebagai negeri yang sekarang ini, secara terbuka menyatakan perang secara global terhadap terorisme, dan sekaligus perang terhadap kaum muslimin, yang ingin melawan penjajahan Barat dan Zionisme, seperti yang terjadi di Palestina, Irak, Kashmir, Afghanistan, Chechnya, Somalia, Sudan Selatan, telah mendapatkan lebel, sebagai musuh umat manusia, dan mendapatkan julukan ‘teroris’.


Padahal, Barat sebagai tuhannya sekulerisme, yang melakukan kejahatan, dan penjajahan, serta perbudakan, malah mendapatkan dukungan. Tindakan mereka yang sangat biadab, tak berperi kemanusiaan, tanpa mendapatkan sanksi apapun, dan bahkan mendapatkan pembenaran hanya dengan atas dasar perang melawan terorisme.


Tindakan AS yang menginvasi Irak, Afghanistan serta Palestina dengan menggunakan kekuatan militer, justru mendapatkan pembenaran dunia, yang mengatakan sebagai perang melawan terhadap terorisme. Zionis-Israel yang menginvasi Gaza mendapatkan dukungan internasional, karena memerangi teroris Hamas.


Jumlah kematian yang begitu besar dari penduduk Gaza, tak menyebabkan, Israel dapat dihukum, dan bertanggung jawab atas kejahatan yang dilakukannya. Sama seperti yang dilakukan AS terhadap Iraq dan Afghanistan. AS seakan berhak menginvasi negara lain hanya berdasarkan ‘tuduhan’ bukan bukti dan fakta.


Tapi para penjajah dapat berbuat semena-mena terhadap negeri-negeri muslim, tak lain, karena ada para pengkhianat yang bersedia menjadi kaki tangan para penjajah dan penjahat, yang kemudian tangan mereka berlumuran darah. AS dapat masuk Afghanistan, karena adanya pengkhiatan Jendral Rashid Dostum, yang bersedia menjadi kaki tangan AS. Jendral komunis yang dulunya menjadi sekutu Soviet itu, ikut menghancurkan Taliban di Afghanistan.


Di Irak ada Chalabi dan tokoh-tokoh lainnya, yang mereka mendukung invasi AS ke Irak, sampai hari ini, dan membiarkan tentara AS menjajah terhadap negeri ‘1001’ malam. Di Afghanistan, sekarang ada Hamid Karzai, yang sudah tidk populer di mata rakyatnya, tapi tetap dipelihara oleh AS. Di Palestina ada Mahmud Abbas, dan lainnya,  yang bersedia melakukan apa saja untuk Zionis-Israel. Seperti juga para pengkhianat lainnya di negeri-negeri muslim, yang bersedia menghancurkan Islam dan umat Islam, demi tuannya Barat, yang telah memberikan roti kepada mereka.


Inilah peranan para pengkhianat di negeri-negeri mulsim. Tangan mereka berlumuran darah saudaranya. Walllahu’alam.


*eramuslim.com



(read more ...)




Jumat, 19/02/2010 07:56 WIB | email | cetak | share


Lutfi Asy-Syaukani, foto: internetLutfi Asy-Syaukani, foto: internet

Hari Rabu (17/2) ruang sidang MK dikejutkan dengan pernyataan saksi ahli yang dihadirkan oleh pemohon uji materi UU 1/PNPS/1965, Lutfi as-Syaukani yang menyatakan, bahwa kesalahan Lia Eden, sama dengan kesalahan Nabi Muhammad saat awal kemunculan Islam (detik.com, 17/2/2010).


Pernyataan ini, sebenarnya tidak mengejutkan, jika kita membaca naskah permohonan uji materi UU 1/PNPS/1965 yang diajukan oleh tim advokasi kebebasan beragama, selaku pemohon, sebagai berikut:


“Jika logika penyimpangan agama ini terus dilanjutkan, maka sesungguhnya masing-masing agama merupakan penyimpangan terhadap yang lainnya. Kristen tentu menyimpang dari Yahudi dalam banyak kasus, misalnya bolehnya memakan daging babi atau tidak khitanan dalam Kristen, sementara Yahudi melarang memakan babi dan mengharuskan khitanan. Islam pasti dalam penyimpangan nyata dari agama Kristen yang menganggap Yesus sebagai Tuhan, sementara Islam hanya menganggap Yesus sebagai Nabi. Jika ditunjuk ke dalam sejarah, maka semua agama sebetulnya muncul sebagai bentuk penyimpangan terhadap doktrin-doktrin agama tradisional sebelumnya.” (hal. 21)


Bagi Lutfi, dkk tentu Islam dianggap sebagai agama sempalan dari Kristen dan Yahudi. Karena Nabi Muhammad SAW. yang membawa Islam, maka dengan demikian beliau SAW. pun dianggap sebagai orang yang melakukan penyimpangan. Nah, pada titik ini, beliau SAW. dianggap sama statusnya dengan Lia Eden, yang melakukan penyimpangan terhadap ajaran Islam.


Kesimpulan seperti ini bukan saja ngawur, tetapi menunjukkan kebodohan Lutfi, dkk yang luar biasa. Kalau kita telusuri, kesimpulan ini salah sejak presmis pertama, yang dibangun berdasarkan asumsi yang salah, yang menyatakan bahwa Islam adalah agama sempalan dari Kristen dan Yahudi. Pertanyaan sederhananya, apa buktinya bahwa Islam merupakan sempalan dari Kristen dan Yahudi? Jelas tidak ada. Kalaulah pada bagian tertentu ada persamaan, tetapi Islam tetaplah Islam; Kristen tetap Kristen dan Yahudi juga tetap Yahudi. Menyamakan ketiganya, karena sama-sama agama samawi juga tidak tepat. Karena secara faktual, ketiganya juga berbeda.


Selain itu, baik Kristen maupun Yahudi, sebagaimana sabda Nabi, diturunkan untuk kaum tertentu, bukan untuk seluruh umat manusia. Ini jelas berbeda dengan Islam, yang merupakan risalah universal. Karena itu, masing-masing mempunyai syariah yang berbeda satu sama lain. Satu-satunya persamaan di antara ketiganya, sebelum Yahudi dan Kristen diselewengkan, adalah pada doktrin monoteistiknya, dimana baik Islam, Kristen dan Yahudi, pada awalnya hanya mengakui bahwa hanya ada satu tuhan yang berhak disembah, yaitu Allah SWT. Inilah yang ditegaskan oleh al-Qur’an:


Katakanlah: “Hai ahli Kitab, Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara Kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”. (Q.s. Ali ‘Imran [03]: 64)


Melalui ayat ini, bisa dibuktikan, bahwa sesungguhnya Kristen dan Yahudi memang telah diselewengkan. Penyelewengan yang paling fatal adalah pada doktrin monoteistiknya, karena itu terhadap mereka al-Qur’an menyatakan Kafir: Pertama, terhadap orang Kristen yang dengan tegas menyatakan Nabi Isa –’alaihissalam—adalah Allah (Q.s. 5: 17); dan mereka yang menyatakan Allah adalah tiga dalam satu (trinitas) (Q.s. 5: 73). Juga menyatakan Kafir terhadap orang Yahudi yang menyatakan Uzair adalah anak Allah (Q.s. 9: 30). Dengan demikian, Yahudi dan Kristen jelas sama-sama telah diselewengkan.


Justru dalam konteks seperti inilah, Islam diturunkan oleh Allah kepada umat manusia, termasuk di dalamnya orang Kristen dan Yahudi. Di situlah, esensi seruan Allah dalam surat Ali ‘Imran: 64 di atas, yaitu seruan untuk mengajak mereka kembali ke pangkal jalan, dengan hanya menyembah kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, termasuk tidak menjadikan rahib dan pendeta sebagai tuhan-tuhan selain Allah. Seruan ini dipertegas di dalam nas al-Qur’an yang lain:


“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka.” (Q.s. al-Baqarah [02]: 62)


Dengan tegas nas ini menyatakan, bahwa orang Mukmin (Islam), Yahudi, Kristen dan Shabiah, jika mereka beriman kepada Allah, Hari Kiamat dan beramal shaleh, yaitu dengan melaksanakan syariat Islam, atau dengan kata lain menjadi pemeluk Islam, maka mereka berhak mendapatkan pahala di sisi tuhan mereka. Dengan demikian, Islam adalah agama yang berbeda, bukan sempalan Kristen atau Yahudi, yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad untuk seluruh umat manusia. Islam diturunkan justru untuk meluruskan penyimpangan yang dilakukan oleh para penganut Kristen dan Yahudi. Bukan dibalik, bahwa Nabi Muhammad dengan Islamnyalah yang menyimpang dari agama sebelumnya, yaitu Kristen dan Yahudi. Karena itu, tuduhan ini hanyalah ilusi Lutfi, dkk. Tuduhan ini juga tidak bisa dibuktikan, baik secara historis, normatif maupun empiris.


Lalu, dari mana logikanya Nabi Muhammad dengan Islam disamakan dengan Lia Eden dengan ajaran Salamullah-nya?


Pertama, Lia Eden, awalnya pemeluk Islam, kemudian menodai ajaran Islam, dengan sekte Salamullah-nya. Sementara Nabi Muhammad, sebelumnya bukan pemeluk Kristen atau Yahudi; beliau juga bukan membuat sekte baru, tetapi mendapatkan risalah baru, yang berbeda sama sekali dengan Kristen dan Yahudi, sebelumnya. Karena itu, beliau diyakini oleh umat Islam sebagai Nabi dan Rasul.


Kedua, Lia Eden, dengan sekte dan ajaran Salamullah-nya jelas untuk merusak Islam, bukan meluruskan Islam yang telah diselewengkan. Sementara Nabi Muhammad, dengan risalah Islam-nya diutus, di antaranya, untuk meluruskan penyelewengan yang dilakukan oleh kaum Kristen dan Yahudi. Bukan sebaliknya. Karena itu, pandangan Lutfi, dkk ini justru menunjukkan, bahwa mereka tidak meyakini Islam dan risalah Nabi Muhammad. Wallahu a’lam. (KH Hafidz Abdurrahman)


*www.hidayatullah.com



(read more ...)



Sementara negara-negara Eropa berbicara keras memaksakan sanksi ekonomi terhadap Iran, dokumen rahasia Departemen Luar Negeri Israel yang diperoleh oleh Ynet menunjukkan hubungan perdagangan yang sangat utuh antara Iran dengan Jerman, Italia, Spanyol, Belanda, Belgia, dan Prancis.

Selama ini Eropa membanggakan dari upaya menggagalkan program nuklir Iran, tetapi dalam kenyataannya telah terjadi perdagangan dengan republik itu dalam jumlah sekitar € 65 milyar (sekitar US $ 91 miliar) dalam tiga tahun terakhir.


Ini tentu saja tamparan buat Israel dan Amerika—kedua negara yang sudah sejak lama disebut-sebut akan memerangi Iran, namun tak sekalipun melakukannya. Angela Merkel, kanselir Jerman, pernah mendiskusikan hal ini dengan Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel. Prancis juga dengan tegas menuntut agar Iran menghentikan program nuklirnya, dan telah mengancam sanksi lebih keras jika gagal melakukannya.


Namun, dokumen yang beredar di Kementerian Luar Negeri menunjukkan bahwa negara-negara yang sama ini terus mempertahankan hubungan perdagangan yang luas dengan Teheran yang jumlahnya diperkirakan miliaran euro per tahun.


Ini berarti bahwa meskipun Eropa mencari sanksi terhadap Iran, mereka menghadapi perlawanan dari ratusan ribu karyawan perusahaan yang selama ini selama ini telah berkerjasama dengan perusahaan asal Iran.


Pada paruh pertama tahun 2009, Jerman berada di atas tabel dengan menghasilkan lebih dari € 2 milyar ($ 2,8 milyar) dalam perdagangan dengan Iran. Italia di posisi kedua dengan angka yang sama, dan Prancis berikutnya dengan € 1.46 milyar ($ 2 milyar). Berikutnya adalah Belanda, dengan € 1.3 milyar ($ 1,8 milyar), diikuti oleh Spanyol, dengan € 1.2 milyar ($ 1,7 milyar). (sa/ynet)


(read more ...)



Korban kekejaman Nazi bukan hanya Yahudi saja, tapi mereka memonopoli isu tersebut dengan menciptakan dongeng Holocaust dan menggunakannya sebagai alat propaganda



Hidayatullah.com--Seorang pensiunan uskup Polandia menuding Yahudi mengeksploitasi Holocaust untuk tujuan-tujuan propaganda. Pernyataan itu dimuat Senin (25/1) di sebuah situs Katolik Roma yang berpusat di kota Roma, Italia.



"Meskipun tidak dipungkiri kebanyakan yang mati di kamp konsentrasi adalah orang-orang Yahudi, tapi di sana juga ada orang-orang Gipsi, Italia dan Katolik," tulis Tadeusz Pieronek di situs Pontifex.



"Jadi, tidak boleh menggunakan tragedi ini untuk propaganda," katanya dalam tulisan yang diterbitkan 2 hari menjelang Hari Peringatan Holocaust Internasional ke-65.



"Banyak di antara korban adalah orang Polandia, tapi kebenaran itu sering tidak dipedulikan sekarang," tambah Pieronek, mantan uskup berusia 75 tahun.



"Holocaust seperti barang hasil penemuan Yahudi," kata mantan jurubicara Konferensi Uskup Polandia itu.



"Shoah [Yahudi senang menggunakan kata ini untuk menyebut bencana besar, antara lain Holocaust] digunakan sebagai senjata propaganda dan mengeruk untung yang seringkali dilakukan melalui cara-cara yang tidak dibenarkan," tandasnya.



Pieronek, yang merupakan sahabat Paus Paulus II asal Polandia itu, menambahkan, "Anda bisa saja bicara dan juga memaksakan, serta menggelar acara peringatan bagi para korban komunis, orang-orang Katolik dan Kristen yang teraniaya, dan lain-lain."



Menyebut Yahudi sebagai "tidak toleran dan arogan," ia mengatakan bahwa orang-orang Yahudi "menikmati pemberitaan pers yang baik, karena mereka didukung dengan kekuatan finansial, kekuasan besar dan dukungan penuh tanpa syarat dari Amerika Serikat."



Pieronek juga mengkritik Israel atas pembangunan tembok pemisah antara wilayah yang dikuasainya dengan Tepi Barat, yang ia sebut sebagai "ketidakadilan kolosal terhadap rakyat Palestina, yang diperlakukan oleh Israel seperti binatang dan hak-hak dasarnya dilanggar,"



Ia menyerukan agar ada satu hari untuk menghormati rakyat Palestina.



Pieronek mengeluh, "dengan adanya kerjamasama jahat lobi-lobi internasional, maka kita tidak bisa bicara banyak mengenai hal ini."



Tanggal 27 Januari ditandai sebagai hari pembebasan kamp Auschwitz di Polandia yang dikuasai Jerman pada tahun 1945.



"Namun tentu saja, semua ini tidak menyangkal perbuatan memalukan di kamp-kamp konsentrasi yang telah dilakukan Nazi," kata Pieronek. [di/yn/www.hidayatullah.com]

(read more ...)




Kedigdayaan militer sebuah bangsa tak otomatis menjadikannya mampu memberikan pengaruh jangka panjang terhadap bangsa-bangsa lainnya yang ditaklukkan




Oleh: Alwi Alatas*



Hidayatullah.com--Pada tulisan tentang “Mozarabic Christian” telah digambarkan betapa bangsa yang kalah, cenderung mengikuti bangsa yang menaklukkannya dalam hal cara berpakaian, berbahasa, dan dalam berbagai aspek kebudayaan lainnya. Namun, ada kalanya bangsa penakluk yang justru pada akhirnya terpengaruh oleh bangsa yang ditaklukkannya.



Fenomena semacam ini sebetulnya bisa dilihat pada kasus raja-raja Norman yang menguasai Sisilia. Mereka merebut dan menguasai pulau di Italia Selatan itu dari tangan kaum Muslimin, tapi kemudian mereka sendiri terpengaruh oleh kebudayaan kaum Muslimin di wilayah tersebut yang memang lebih maju dari kebudayaan Barat pada masa itu. Hanya saja, hal ini tidak berlangsung terus menerus, dan kaum Norman sendiri tidak pernah memeluk Islam sebagai agama mereka. Pada akhirnya, populasi Muslim di wilayah tersebut semakin menyusut dan ketika kendali gereja Katolik makin kuat, maka pengaruh Islam di wilayah tersebut bisa dikatakan lenyap sama sekali.



Tulisan kali ini akan membahas kisah penaklukkan besar-besaran oleh sebuah bangsa yang belakangan justru takluk dan tunduk pada kepercayaan dan kebudayaan bangsa yang ditaklukkannya. Ya, para penakluk tersebut adalah bangsa Mongol, dan yang ditaklukkannya adalah kaum Muslimin, di samping bangsa-bangsa lainnya. Ini terjadi pada abad ke-13. Fenomena ini memperlihatkan kepada kita bahwa kedigdayaan militer sebuah bangsa tidak otomatis menjadikan bangsa tersebut mampu memberikan pengaruh jangka panjang terhadap bangsa-bangsa lainnya yang berhasil ditaklukkannya. Kekuatan militer hanya memberikan kemampuan kontrol secara fisik saja. Pengaruh terbesar tidak datang dari kekuatan fisik semacam ini, melainkan dari sistem keyakinan dan penguasaan ilmu pengetahuan yang lebih unggul. Kedua hal yang terakhir ini tidak dimiliki secara baik oleh bangsa Mongol.



Dunia di abad ke-13 tidak pernah membayangkan akan lahir seorang seperti Temujin dan akan ada penaklukkan besar-besaran oleh bangsa Mongol. Hal semacam itu sudah lama berlalu sejak era Attila the Hun dan Alexander the Great. Temujin berhasil menyatukan suku-suku Mongolia di bawah kepemimpinnya dan mendapat gelar Genghis Khan pada tahun 1206. Penyatuan suku-suku Mongol ternyata tidak menjadi tujuan akhir Temujin, melainkan hanya permulaannya saja. Seperti dikatakan dalam sebuah ungkapan, “ketika kamu makan, nafsu makanmu bertambah.” Ini juga yang berlaku pada bangsa Mongol di bawah kepemimpinan Genghis Khan dan anak cucunya. Ketika sebuah wilayah berhasil ditaklukkan, nafsu untuk menaklukkan wilayah lainnya tidak berhenti, malah semakin kuat.



Bersatunya bangsa yang masih terbilang barbarik itu, menjadi suatu ledakan yang apinya menjalar cepat dan meruntuhkan peradaban-peradaban yang jauh lebih maju di sekitarnya. Satu per satu kerajaan-kerajaan di China dan Rusia, kesultanan-kesultanan Islam di Afghanistan, Asia Tengah, Persia, bahkan pusat kekhalifahan di Baghdad, hingga wilayah-wilayah  Eropa Timur, rontok dan tak mampu membendung laju kuda-kuda Mongol yang agak pendek dan gesit itu. Bagi dunia Islam, penaklukkan oleh Mongol ini mungkin dilihat sebagai suatu pendahuluan, sekaligus miniatur keluarnya Ya’juj Ma’juj pada akhir zaman.



Kengerian yang ditimbulkannya seolah belum hilang di tempat-tempat yang pernah diserbu oleh pasukan Genghis Khan. Saat berkunjung ke Herat, Afghanistan, Mike Edwards mendengar komentar masyarakat tentang peristiwa yang berlaku tujuh setengah abad yang lalu itu, seolah baru saja terjadi sehari sebelumnya. “Hanya sembilan saja! Seluruh yang masih bertahan hidup di sini – sembilan orang!” seru seorang warga tua saat menggambarkan serangan Mongol ke kota itu (National Geographic, Desember 1996). Dan Herat bukan satu-satunya kota yang menerima nasib buruk dari pasukan Mongol.



Wilayah China Utara diinvasi oleh Mongol pada tahun 1211. Cucu Genghis Khan, Kubilai Khan, menyempurnakan penaklukkan China pada tahun 1279, sekitar setengah abad setelah kakeknya meninggal. Dinasti Mongol di China dikenal sebagai Dinasti Yuan.



Pada tahun 1219, pasukan Mongol menyerang kesultanan Khawarizmi dan merebut kota-kota penting, seperti Bukhara dan Samarkand. Dari sana, pasukannya menyerbu ke Utara dan mengalahkan pasukan Rusia. Kemudian berbalik arah lagi dan menaklukkan wilayah-wilayah Afghanistan dan Iran. Setelah kematian Genghis Khan, proses penaklukkan sama sekali tidak berhenti, malah semakin kuat. Pada tahun 1258, Hulagu Khan bahkan menyerang ibukota Kekhalifahan Bani Abbasiyyah di Baghdad dan menyebabkan simbol utama kepemimpinan dunia Islam itu runtuh. Dari sana, pasukan Mongol terus menginvasi Syria dan Palestina, serta berusaha masuk ke Mesir, tapi tertahan oleh tentara-tentara Mamluk Mesir melalui pertempuran Ayn Jalut. Penaklukkan Mongol atas dunia Islam terhenti di situ. Sementara di Utara, tentara-tentaranya terus menginvasi Eropa Timur hingga ke Laut Adriatik, dan nyaris meneruskannya hingga ke Eropa Barat.



Terlepas dari kemampuan militernya yang hebat, Mongol tidak menonjol secara kebudayaan. Walaupun para pemimpin Mongol mengundang para ahli ke pusat pemerintahannya untuk membangun negeri itu, tetapi bangsa Mongol sendiri tidak tampil sebagai ilmuwan, sastrawan, atau arsitek. Mereka tetap memainkan peran yang sama sebagaimana sebelumnya, yaitu sebagai tentara dan penunggang kuda yang tangguh. Kekosongan di lapangan peradaban otomatis diisi oleh bangsa-bangsa lainnya, dan kaum Muslimin memiliki peranan yang besar dalam hal ini.



Sejak awal perkembangannya, Genghis Khan sendiri sudah mengambil aspek kebudayaan Muslim untuk diterapkan bagi kemajuan bangsanya. Ia mengadopasi aksara Uyghur ke dalam bahasa Mongol dan memercayakan pendidikan anak-anak lelakinya pada kalangan Uyghur juga. Kendati bersikap sangat kejam terhadap lawan-lawan yang ditaklukkannya, sikap para pemimpin Mongol di luar pertempuran terhadap para ulama dan agamawan serta tempat-tempat ibadah relatif toleran. Hampir sebagian besar aspek peradaban di wilayah-wilayah Muslim yang ditaklukkan tetap diisi dan dikembangkan oleh para ahli Muslim. Bahkan satu-persatu pemimpin Mongol sendiri akhirnya masuk Islam.



Berke Khan (kami akan menulis secara khusus tentang beliau dan wilayah Golden Horde yang dipimpinnya pada kesempatan lain), salah satu pemimpin Mongol di wilayah Golden Horde yang mencakup Rusia dan sebagian Asia Tengah, termasuk yang awal masuk Islam. Ia ikut berperan menghalangi Hulagu Khan yang masih terhitung familinya sendiri dari upayanya menguasai seluruh Syria serta dari keinginannya merebut Mesir. Berke marah dan memerangi Hulagu karena yang terakhir ini telah meruntuhkan kekhalifahan Islam di Baghdad. Dinasti Il-Khan yang didirikan Hulagu sendiri pada akhirnya berubah menjadi dinasti Muslim. Sejarah Mongol ditulis terutama oleh para sejarawan Persia Muslim seperti Ala al-Din Juwaini dan Rashid al-Din Hamadani yang bekerja pada pemerintahan Mongol.



Keadaan di China tidak kalah menarik. Di bawah Dinasti Yuan, banyak posisi penting pemerintahan dan ilmu pengetahuan diisi oleh orang-orang Islam. Ketika dinasti ini runtuh pada pertengahan abad ke-14, posisinya digantikan oleh Dinasti Ming yang dalam beberapa sumber dikatakan sebagai sebuah dinasti Muslim. Sejak masa Dinasti Yuan, kaum Muslimin di China sudah dikenal sebagai orang-orang yang terpelajar. Pada masa Dinasti Ming, peran mereka jadi lebih menonjol lagi. Cheng Ho, yang dikenal sebagai salah satu admiral terbesar sepanjang sejarah dan disebut-sebut telah tiba di benua Amerika tiga perempat abad lebih dulu dari Colombus, merupakan pelaut Muslim yang mengabdi pada masa awal keberadaan Dinasti Ming. Kaum Muslimin memang telah ditaklukkan oleh bangsa Mongol yang bersatu padu dan kuat secara militer. Namun pada akhirnya justru mereka yang menaklukkan bangsa Mongol melalui sistem keyakinan dan pengetahuan mereka yang lebih menonjol.



Pada hari ini, kaum Muslimin juga telah takluk oleh peradaban Barat yang lebih ungul dalam hal militer dan pengetahuan. Namun, di sela-sela kekalahan tersebut, kita masih dibuat heran dengan begitu banyaknya masyarakat Eropa dan Amerika yang masuk Islam. Umat Islam berada di posisi yang lemah dan tak berdaya. Tidak sedikit dari mereka yang terpengaruh kebudayaan Barat. Tetapi itu ternyata tidak menghalangi masyarakat Barat sekarang ini berbondong-bondong masuk Islam. Begitu juga tidak sedikit gereja-gereja di Eropa dan Amerika Serikat yang dijual dan kemudian berubah menjadi masjid. Akankah fenomena yang pernah terjadi pada bangsa Mongol akan terjadi juga pada bangsa Barat, walaupun yang terakhir ini memiliki keunggulan lebih banyak dibandingkan bangsa Mongol? Akankah pada akhirnya Barat akan menundukkan diri dan menerima Islam, agama dari peradaban yang telah mereka taklukkan? Wallahu a’lam bis showab.  [Jakarta, 6 Safar 1431/ 22 Januari 2010/www.hidayatullah.com]

(read more ...)




 Tokoh kita kali ini adalah seorang alim yang mumpuni keilmuannya. Ia memang tidak setenar Imam mazhab empat, Imam Nawawi, Imam Ghazali, atau Imam Ibnu Taimiyah. Namun kontribusinya terhadap dakwah, ilmu, dan jihad tercatat dengan tinta emas sejarah Islam.  Ia adalah Abdul Aziz bin Abdissalam bin Abi Al-Qasim bin Hasan bin Muhammad bin Muhadzdzab, bergelar Izzuddin (kemuliaan agama).Masyarakat pada masa itu memanggilnya dengan Abu Muhammad.


 Ia dilahirkan di Damaskus. Mengenai tahun kelahirannya, para sejarawan berbeda pendapat. Ada yang mengatakan, ia dilahirkan pada tahun 577 H. Sebagian mencatat bahwa ia lahir tahun 578 H. Namun pendapat pertama lebih kuat. Imam agung ini wafat pada tahun 660 H di Kairo.


 Gelar Izzuddin diberikan sesuai dengan adat pada masa itu. Setiap khalifah, sultan, pejabat, terlebih lagi para ulama diberi tambahan gelar pada namanya. Gelar ini nantinya lebih melekat dalam dirinya. Sehingga ia lebih dikenal dengan nama Izzuddin bin Abdussalam atau Al-Izz bin Abdussalam.


 Di samping itu, ia juga digelari Sulthan Al-Ulama (raja para ulama) oleh muridnya, Ibnu Daqiq Al-id. Ini sebagai legitimasi atas kerja keras beliau menjaga reputasi para ulama pada masanya. Usaha itu diimplementasikan dalam sikap-sikapnya yang tegas saat melawan tirani dan kediktatoran. Beliaulah yang mengomandani para ulama dalam beramar ma’ruf nahi mungkar.


                 Selama beberapa tahun ia menjabat qadhi di kota Damaskus. Namun, karena tidak sejalan dengan penguasa di kota itu, beliau hijrah menuju Mesir. Ia akhirnya bermukim di kota Kairo. Najmuddin Ayyub, penguasa kota saat itu, menyambut kedatangannya. Ia kemudian ditasbihkan sebagai khatib masjid Jami’ Amr bin Al-Ash dan Qadhi di Kairo.


 


Sanjungan Para Ulama Terhadapnya


                Tajudin As-Subki menyebutnya sebagai Syaikhul Islam wal Muslimin, salah satu imam terkemuka, sultanul ulama, imam pada masanya yang tidak ada duanya, penyeru kepada yang ma’ruf dan pencegah kemungkaran, orang yang memahami hakikat, rahasia, dan maqasid (tujuan) syariat.


                Ibnu Katsir menulis dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, “Al-Izzu adalah mahaguru mazhab dan pemberi mamfaat pada kelompoknya. Ia memiliki karya-karya yang fenomenal, menguasai mazhab, menghimpun banyak ilmu, memberi kontribusi yang berarti bagi murid-muridnya, aktif mengajar di madrasah-madrasah, berhenti kepadanya tongkat kepemimpinan As-Syafi’iyah, dan ia dimintai fatwa di berbagai daerah. Ia adalah orang yang lemah lembut, rupawan serta banyak mengutip syair.”


                Salah satu muridnya, Syaikh Sihabuddin Abu Syamah mengatakan,”Ia adalah orang yang lebih layak menyampaikan khutbah dan memimpin shalat. Ia telah menghilangkan bid’ah yang dilakukan oleh para khatib, seperti mengetukkan pedang pada mimpar. Ia juga mencegah orang-orang melakukan shalat Raghaib dan Nisfu Sya’ban.”


          


Ulama yang Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar


Di antara tugas ulama yang paling utama adalah beramar ma’ruf nahi mungkar. Dalam hal ini, Imam Al-Izzu berada di garda terdepan dalam mengaplikasikan tugas tersebut. Setiap kali melihat perbuatan ma’ruf ditinggalkan, ia menyeru umat untuk mengerjakannya. Sebaliknya bila perbuatan mungkar merajalela, ia tak segan-segan turun tangan mencegahnya.


                Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa sebaik-baik jihad adalah mengatakan yang haq di depan penguasa yang zalim. Bagi seorang Al-Izzu, hadits tersebut sebagai pelecut semangat. Sehingga tidak jarang ia harus mendatangi para penguasa untuk sekedar menyampaikan nasihat dan kritikan di depan mereka secara langsung.


 Pernah suatu ketika Imam Izzuddin Ibnu Abdus Salam menemui Sultan Najamudin Ayyub yang tengah duduk dalam istananya. Pada saat itu istananya yang megah tengah ramai. Imam Al-Izzu berkata,”Hai Ayyub, apa hujjahmu di depan Allah bila Dia bertanya padamu,’bukankah Aku telah memberikanmu kekuasaan di Mesir, lalu kenapa kamu menjual Khamar.’” 


Sultan menjawab,”Apa itu benar terjadi?”


“Benar, seorang wanita menjual khamer di kedainya sedang engkau asyik-asyik duduk di istanamu!” Jawab sang Imam.


“Tuanku, itu adalah kebijakan sultan sebelumnya yaitu ayahku.” Sultan membela diri.


“Berarti engkau termasuk di antara mereka yang mengatakan ‘inna wajadna aba’ana ala ummah’ (Sesungguhnya Kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan Sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk mereka).” Beliau lalu meminta sultan menutup kedai itu.


 Imam Al-Izzu ditanya apa ia tidak takut saat mengeritik sultan di majelis yang penuh dengan orang-orang yang culas. Beliau menjawab,”Anakku, aku menghadirkan ketakutan pada Allah, serta merta sultan bagaikan kucing di hadapanku.” Sultan akhirnya menutup kedai yang dimaksud dan sejak saat itu ia berkomitmen tidak akan membiarkan setiap kemunkaran yang ada.


 


Ulama yang Mujahid


Tatkala tentara musyrik Tartar memasuki kota Baghdad, ibu kota daulah Abbasiah, mereka berhasil melengserkan kekuasaan kaum muslimin yang sudah rapuh saat itu. Mulailah mereka membantai kaum Muslimin tanpa ampun, menodai kehormatan Muslimah, serta membakar jutaan lembar buku-buku Islam dan sains. Selanjutnya mereka mengincar negeri Islam lain seperti Mesir dan Syam.


                 Di tengah kondisi genting, penguasa Syam dan Mesir sepakat berdamai. Sebelumnya mereka nyaris berperang untuk berebut pengaruh seiring melemahnya kekuatan Pemerintahan Baghdad. Maka para umara dan ulama melakukan rapat merembukkan langkah-langkah penting yang hendak dipersiapkan. Selain persoalan militer, persoalan yang dibahas adalah pendanaan jihad mengingat kas Negara nyaris ludes.


 Majulah Imam Al-Izzu, dengan lantang beliau berkata, “Jika dana baitul mal nyaris habis, emas dan perak (bahan dasar mata uang dinar dan dirham) juga begitu, sedangkan kondisi para pejabat sama dengan kondisi rakyatnya, maka tidak masalah menarik pajak. Sebab pajak itu untuk melawan musuh, rakyat wajib memberikan hartanya, bahkan jiwanya.” Seketika mantaplah tekad para umara dan umara untuk memobilisasi kekuatan, baik harta dan pasukan. 


 Imam Al-Izzu turut serta menghadang tentara Tartar bersama kaum Muslimin. Bahkan, beliaulah tokoh intlektual di balik aksi jihad itu. Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 5 Ramadhan 658 H (1260 M) kaum Muslimin berhasil mematahkan serangan tentara Tartar di Ain Jaluth. Padahal pada masa itu, bangsa Tartar terkenal sebagai imperium yang begitu mendominasi. Namun, berkat persatuan dan semangat jihad yang digalang oleh Imam Al-Izzu, kaum Muslimin berjaya, bahkan berhasil merebut Irak, Uzbekistan, dan lain-lain.


 


Para Guru dan Muridnya


                Ia berguru kepada Syaikh Fahruddin bin Asakir, belajar ushul dari Syaikh Saifuddin Al-Amidi, belajar hadits dari Al-Hafizh Abu Muhammad Al-Qasim dan Al-Hafizh Al-Kabir Abu Al-Qasim bin Asakir. Ia juga menimba ilmu dari Barakat bin Ibrahim Al-Kasyu’I, Al-Qadhi Abdusshamad bin Muhammad Al-Harastani, dan lain-lain. Demikian menurut Imam As-Subki dalam Thabaqat Asy-Syafi’iyah.


                 Imam As-Subki juga menyebut sebagian murid-murid Imam Al-Izzu di antaranya: Ibnu Daqiq Al-Id, Imam Alaudin Abu Muhammad Ad-Dimyathi, dan Al-Hafizh Abu Bakar Muhammad bin Yusuf bin Masdi.


 


Karya-karyanya


                Izzuddin Al-Husaini menilai Imam Al-Izzu sebagai tokoh sentral ilmu pada masanya yang menguasai berbagai disiplin keilmuan. Adapun menurut ulama lainnya, Imam Al-Izzu adalah Sultanul Ulama dan Syaikhul Ulama. Ia bagaikan lautan ilmu dan pengetahuan. Ia termasuk orang yang disebut “ilmunya lebih banyak daripada karyanya”. Di antara karya-karya beliau adalah:



  1. Al-Qawaid Al-Kubro

  2. Al-Qawaid As-Shughra

  3. Qawaidhul Ahkam fi Masalihil Anam

  4. Al-Imamah fi Adillatil Ahkam

  5. Al-Fatawa Al-Misriyah

  6. Al-Fatawa Al-Maushuliyah

  7. Majaz Al-Qur’an

  8. Syajarah Al-Ma’arif

  9. At-Tafsir

  10. Al-Ghayah fi Ikhtishar An-Nihayah

  11. Mukhtasar Shahih Muslim dan lain-lain


Semoga Allah mensucikan ruhnya dan memberikan pahala yang sempurna kepada beliau atas amal dan jihadnya. Semoga kaum Muslimin memperoleh keberkahan ilmunya demi kejayaan Islam dan Muslimin.


 


Kitab Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam


 Imam Izzuddin bin Abdussalam, seorang ulama bermadzhab Syafii yang wafat pada tahun 660 H menulis sebuah kitab yang diberi judul Qawaidul Ahkam fii Mashalihil Anam. Kitab ini menjelaskan berbagai maslahat yang terkandung di dalam amal ibadah, muamalat, dan berbagai aktivitas seorang hamba.


 Ia memberikan penjelasan  berkenaan  dengan tujuan  penulisan  kitab ini,  "Tujuan  penulisan kitab ini ialah untuk  memberikan   penjelasan   tentang   pelbagai   maslahat dalam melakukan  ketaatan,  muamalah,  dan tingkah laku  supaya  para hamba berupaya   mencapainya; memberikan  penjelasan  mengenai mudharat menentang  ajaran Allah, agar mereka bisa menghindarinya; memberikan  penjelasan  mengenai  maslahat berbagai ibadah agar mereka  melakukannya;   penjelasan   mengenai   didahulukannya sebagian   kemaslahatan   atas   sebagian   yang   lain,   dan diakhirkannya sebagian mafsadat atas mafsadat  yang  lain; serta   penjelasan  mengenai  perbuatan  yang  dilakukan  oleh manusia yang dia tidak mempunyai kekuasaan untuk melakukannya.”


 Ia melanjutkan,”Syariah  agama  ini  secara  keseluruhan  mengandung berbagai macam kemaslahatan; baik berupa penolakan  terhadap  kerusakan atau  pengambilan  kemaslahatan. Jika Anda mendengarkan firman Allah: "Wahai orang-orang yang beriman," maka perhatikan pesan yang  datang  setelah  panggilan  ini,  pasti  Anda tidak akan menemukan  kecuali  kebaikan  yang  dianjurkan  olehnya,  atau keburukan  yang  Anda dilarang melakukannya, atau keduanya sekaligus. 


 Kelebihan kitab ini terletak pada kecermatan penulisnya dalam mengklasifikasi maslahat dan mafsadat sesuai dengan tingkatannya. Selanjutnya ia memaparkan secara lugas alasan-alasan pengklasifikasian itu berdasarkan nash-nash yang ada. Di sini, tampak sekali kualitas keilmuan penulis dalam memahami Maqasid As-syari’ah (tujuan penetapan syariat) secara mendalam dan komprehensif.


           Tokoh kita kali inilah termasuk peletak dasar fiqhul Aulawiyat (Fiqih Prioritas) di samping Imam Al-Ghazali. Demikianlah menurut penuturan Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. Ulama kontemporer ini pun sebelum menulis kitab Fiqhul Aulawiat harus mendalami kitab karya Imam Al-Izzu ini terlebih dahulu, sebagaimana ia mendalami kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali.


           Membaca kitab Qawaidul Ahkam fii Mashalihil Anam, mengajarkan bagaimana kita memahami posisi Maqasid As-Syariah terhadap nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kitab ini adalah jawaban bagi mereka yang mencoba membenturkan antara nash dengan maqasid dan mereka yang mengabaikan kandungan maqasid di dalam nash. Tampak sekali dalam kitab ini fleksibelitas syariat Islam berkat orisinalitas pemikiran Imam Izzuddin bin Abdussalam.


*muslimdaily.net


(read more ...)




 Tokoh kita kali ini adalah seorang alim yang mumpuni keilmuannya. Ia memang tidak setenar Imam mazhab empat, Imam Nawawi, Imam Ghazali, atau Imam Ibnu Taimiyah. Namun kontribusinya terhadap dakwah, ilmu, dan jihad tercatat dengan tinta emas sejarah Islam.  Ia adalah Abdul Aziz bin Abdissalam bin Abi Al-Qasim bin Hasan bin Muhammad bin Muhadzdzab, bergelar Izzuddin (kemuliaan agama).Masyarakat pada masa itu memanggilnya dengan Abu Muhammad.


 Ia dilahirkan di Damaskus. Mengenai tahun kelahirannya, para sejarawan berbeda pendapat. Ada yang mengatakan, ia dilahirkan pada tahun 577 H. Sebagian mencatat bahwa ia lahir tahun 578 H. Namun pendapat pertama lebih kuat. Imam agung ini wafat pada tahun 660 H di Kairo.


 Gelar Izzuddin diberikan sesuai dengan adat pada masa itu. Setiap khalifah, sultan, pejabat, terlebih lagi para ulama diberi tambahan gelar pada namanya. Gelar ini nantinya lebih melekat dalam dirinya. Sehingga ia lebih dikenal dengan nama Izzuddin bin Abdussalam atau Al-Izz bin Abdussalam.


 Di samping itu, ia juga digelari Sulthan Al-Ulama (raja para ulama) oleh muridnya, Ibnu Daqiq Al-id. Ini sebagai legitimasi atas kerja keras beliau menjaga reputasi para ulama pada masanya. Usaha itu diimplementasikan dalam sikap-sikapnya yang tegas saat melawan tirani dan kediktatoran. Beliaulah yang mengomandani para ulama dalam beramar ma’ruf nahi mungkar.


                 Selama beberapa tahun ia menjabat qadhi di kota Damaskus. Namun, karena tidak sejalan dengan penguasa di kota itu, beliau hijrah menuju Mesir. Ia akhirnya bermukim di kota Kairo. Najmuddin Ayyub, penguasa kota saat itu, menyambut kedatangannya. Ia kemudian ditasbihkan sebagai khatib masjid Jami’ Amr bin Al-Ash dan Qadhi di Kairo.


 


Sanjungan Para Ulama Terhadapnya


                Tajudin As-Subki menyebutnya sebagai Syaikhul Islam wal Muslimin, salah satu imam terkemuka, sultanul ulama, imam pada masanya yang tidak ada duanya, penyeru kepada yang ma’ruf dan pencegah kemungkaran, orang yang memahami hakikat, rahasia, dan maqasid (tujuan) syariat.


                Ibnu Katsir menulis dalam Al-Bidayah wa An-Nihayah, “Al-Izzu adalah mahaguru mazhab dan pemberi mamfaat pada kelompoknya. Ia memiliki karya-karya yang fenomenal, menguasai mazhab, menghimpun banyak ilmu, memberi kontribusi yang berarti bagi murid-muridnya, aktif mengajar di madrasah-madrasah, berhenti kepadanya tongkat kepemimpinan As-Syafi’iyah, dan ia dimintai fatwa di berbagai daerah. Ia adalah orang yang lemah lembut, rupawan serta banyak mengutip syair.”


                Salah satu muridnya, Syaikh Sihabuddin Abu Syamah mengatakan,”Ia adalah orang yang lebih layak menyampaikan khutbah dan memimpin shalat. Ia telah menghilangkan bid’ah yang dilakukan oleh para khatib, seperti mengetukkan pedang pada mimpar. Ia juga mencegah orang-orang melakukan shalat Raghaib dan Nisfu Sya’ban.”


          


Ulama yang Beramar Ma’ruf Nahi Mungkar


Di antara tugas ulama yang paling utama adalah beramar ma’ruf nahi mungkar. Dalam hal ini, Imam Al-Izzu berada di garda terdepan dalam mengaplikasikan tugas tersebut. Setiap kali melihat perbuatan ma’ruf ditinggalkan, ia menyeru umat untuk mengerjakannya. Sebaliknya bila perbuatan mungkar merajalela, ia tak segan-segan turun tangan mencegahnya.


                Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa sebaik-baik jihad adalah mengatakan yang haq di depan penguasa yang zalim. Bagi seorang Al-Izzu, hadits tersebut sebagai pelecut semangat. Sehingga tidak jarang ia harus mendatangi para penguasa untuk sekedar menyampaikan nasihat dan kritikan di depan mereka secara langsung.


 Pernah suatu ketika Imam Izzuddin Ibnu Abdus Salam menemui Sultan Najamudin Ayyub yang tengah duduk dalam istananya. Pada saat itu istananya yang megah tengah ramai. Imam Al-Izzu berkata,”Hai Ayyub, apa hujjahmu di depan Allah bila Dia bertanya padamu,’bukankah Aku telah memberikanmu kekuasaan di Mesir, lalu kenapa kamu menjual Khamar.’” 


Sultan menjawab,”Apa itu benar terjadi?”


“Benar, seorang wanita menjual khamer di kedainya sedang engkau asyik-asyik duduk di istanamu!” Jawab sang Imam.


“Tuanku, itu adalah kebijakan sultan sebelumnya yaitu ayahku.” Sultan membela diri.


“Berarti engkau termasuk di antara mereka yang mengatakan ‘inna wajadna aba’ana ala ummah’ (Sesungguhnya Kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan Sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk mereka).” Beliau lalu meminta sultan menutup kedai itu.


 Imam Al-Izzu ditanya apa ia tidak takut saat mengeritik sultan di majelis yang penuh dengan orang-orang yang culas. Beliau menjawab,”Anakku, aku menghadirkan ketakutan pada Allah, serta merta sultan bagaikan kucing di hadapanku.” Sultan akhirnya menutup kedai yang dimaksud dan sejak saat itu ia berkomitmen tidak akan membiarkan setiap kemunkaran yang ada.


 


Ulama yang Mujahid


Tatkala tentara musyrik Tartar memasuki kota Baghdad, ibu kota daulah Abbasiah, mereka berhasil melengserkan kekuasaan kaum muslimin yang sudah rapuh saat itu. Mulailah mereka membantai kaum Muslimin tanpa ampun, menodai kehormatan Muslimah, serta membakar jutaan lembar buku-buku Islam dan sains. Selanjutnya mereka mengincar negeri Islam lain seperti Mesir dan Syam.


                 Di tengah kondisi genting, penguasa Syam dan Mesir sepakat berdamai. Sebelumnya mereka nyaris berperang untuk berebut pengaruh seiring melemahnya kekuatan Pemerintahan Baghdad. Maka para umara dan ulama melakukan rapat merembukkan langkah-langkah penting yang hendak dipersiapkan. Selain persoalan militer, persoalan yang dibahas adalah pendanaan jihad mengingat kas Negara nyaris ludes.


 Majulah Imam Al-Izzu, dengan lantang beliau berkata, “Jika dana baitul mal nyaris habis, emas dan perak (bahan dasar mata uang dinar dan dirham) juga begitu, sedangkan kondisi para pejabat sama dengan kondisi rakyatnya, maka tidak masalah menarik pajak. Sebab pajak itu untuk melawan musuh, rakyat wajib memberikan hartanya, bahkan jiwanya.” Seketika mantaplah tekad para umara dan umara untuk memobilisasi kekuatan, baik harta dan pasukan. 


 Imam Al-Izzu turut serta menghadang tentara Tartar bersama kaum Muslimin. Bahkan, beliaulah tokoh intlektual di balik aksi jihad itu. Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 5 Ramadhan 658 H (1260 M) kaum Muslimin berhasil mematahkan serangan tentara Tartar di Ain Jaluth. Padahal pada masa itu, bangsa Tartar terkenal sebagai imperium yang begitu mendominasi. Namun, berkat persatuan dan semangat jihad yang digalang oleh Imam Al-Izzu, kaum Muslimin berjaya, bahkan berhasil merebut Irak, Uzbekistan, dan lain-lain.


 


Para Guru dan Muridnya


                Ia berguru kepada Syaikh Fahruddin bin Asakir, belajar ushul dari Syaikh Saifuddin Al-Amidi, belajar hadits dari Al-Hafizh Abu Muhammad Al-Qasim dan Al-Hafizh Al-Kabir Abu Al-Qasim bin Asakir. Ia juga menimba ilmu dari Barakat bin Ibrahim Al-Kasyu’I, Al-Qadhi Abdusshamad bin Muhammad Al-Harastani, dan lain-lain. Demikian menurut Imam As-Subki dalam Thabaqat Asy-Syafi’iyah.


                 Imam As-Subki juga menyebut sebagian murid-murid Imam Al-Izzu di antaranya: Ibnu Daqiq Al-Id, Imam Alaudin Abu Muhammad Ad-Dimyathi, dan Al-Hafizh Abu Bakar Muhammad bin Yusuf bin Masdi.


 


Karya-karyanya


                Izzuddin Al-Husaini menilai Imam Al-Izzu sebagai tokoh sentral ilmu pada masanya yang menguasai berbagai disiplin keilmuan. Adapun menurut ulama lainnya, Imam Al-Izzu adalah Sultanul Ulama dan Syaikhul Ulama. Ia bagaikan lautan ilmu dan pengetahuan. Ia termasuk orang yang disebut “ilmunya lebih banyak daripada karyanya”. Di antara karya-karya beliau adalah:



  1. Al-Qawaid Al-Kubro

  2. Al-Qawaid As-Shughra

  3. Qawaidhul Ahkam fi Masalihil Anam

  4. Al-Imamah fi Adillatil Ahkam

  5. Al-Fatawa Al-Misriyah

  6. Al-Fatawa Al-Maushuliyah

  7. Majaz Al-Qur’an

  8. Syajarah Al-Ma’arif

  9. At-Tafsir

  10. Al-Ghayah fi Ikhtishar An-Nihayah

  11. Mukhtasar Shahih Muslim dan lain-lain


Semoga Allah mensucikan ruhnya dan memberikan pahala yang sempurna kepada beliau atas amal dan jihadnya. Semoga kaum Muslimin memperoleh keberkahan ilmunya demi kejayaan Islam dan Muslimin.


 


Kitab Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam


 Imam Izzuddin bin Abdussalam, seorang ulama bermadzhab Syafii yang wafat pada tahun 660 H menulis sebuah kitab yang diberi judul Qawaidul Ahkam fii Mashalihil Anam. Kitab ini menjelaskan berbagai maslahat yang terkandung di dalam amal ibadah, muamalat, dan berbagai aktivitas seorang hamba.


 Ia memberikan penjelasan  berkenaan  dengan tujuan  penulisan  kitab ini,  "Tujuan  penulisan kitab ini ialah untuk  memberikan   penjelasan   tentang   pelbagai   maslahat dalam melakukan  ketaatan,  muamalah,  dan tingkah laku  supaya  para hamba berupaya   mencapainya; memberikan  penjelasan  mengenai mudharat menentang  ajaran Allah, agar mereka bisa menghindarinya; memberikan  penjelasan  mengenai  maslahat berbagai ibadah agar mereka  melakukannya;   penjelasan   mengenai   didahulukannya sebagian   kemaslahatan   atas   sebagian   yang   lain,   dan diakhirkannya sebagian mafsadat atas mafsadat  yang  lain; serta   penjelasan  mengenai  perbuatan  yang  dilakukan  oleh manusia yang dia tidak mempunyai kekuasaan untuk melakukannya.”


 Ia melanjutkan,”Syariah  agama  ini  secara  keseluruhan  mengandung berbagai macam kemaslahatan; baik berupa penolakan  terhadap  kerusakan atau  pengambilan  kemaslahatan. Jika Anda mendengarkan firman Allah: "Wahai orang-orang yang beriman," maka perhatikan pesan yang  datang  setelah  panggilan  ini,  pasti  Anda tidak akan menemukan  kecuali  kebaikan  yang  dianjurkan  olehnya,  atau keburukan  yang  Anda dilarang melakukannya, atau keduanya sekaligus. 


 Kelebihan kitab ini terletak pada kecermatan penulisnya dalam mengklasifikasi maslahat dan mafsadat sesuai dengan tingkatannya. Selanjutnya ia memaparkan secara lugas alasan-alasan pengklasifikasian itu berdasarkan nash-nash yang ada. Di sini, tampak sekali kualitas keilmuan penulis dalam memahami Maqasid As-syari’ah (tujuan penetapan syariat) secara mendalam dan komprehensif.


           Tokoh kita kali inilah termasuk peletak dasar fiqhul Aulawiyat (Fiqih Prioritas) di samping Imam Al-Ghazali. Demikianlah menurut penuturan Dr. Yusuf Al-Qaradhawi. Ulama kontemporer ini pun sebelum menulis kitab Fiqhul Aulawiat harus mendalami kitab karya Imam Al-Izzu ini terlebih dahulu, sebagaimana ia mendalami kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali.


           Membaca kitab Qawaidul Ahkam fii Mashalihil Anam, mengajarkan bagaimana kita memahami posisi Maqasid As-Syariah terhadap nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kitab ini adalah jawaban bagi mereka yang mencoba membenturkan antara nash dengan maqasid dan mereka yang mengabaikan kandungan maqasid di dalam nash. Tampak sekali dalam kitab ini fleksibelitas syariat Islam berkat orisinalitas pemikiran Imam Izzuddin bin Abdussalam.


*muslimdaily.net


(read more ...)




Diposting pada Senin, 25-01-2010 | 10:38:17 WIB

 


Tidak akan ada asap bila tidak ada api. Kalau benar pengucuran dana talangan (bail-out) atas Bank Century sebesar Rp 6,7 Triliun itu adalah keputusan yang benar, mestinya tidak perlu terjadi kehebohan seperti sekarang ini.


Saat ini di DPR sudah dibentuk panitia khusus (Pansus) untuk menyelidiki skandal Bank Century. Muncul pula sejumlah demonstrasi dan pernyataan para tokoh di mana-mana, yang menuntut Pemerintah menuntaskan Kasus Century.


Sebelumnya, Jusuf Kalla, saat masih menjabat sebagai Wapres, bahkan telah mengatakan bahwa kasus Century merupakan perampokan uang negara. Semua ini menunjukkan bahwa pasti ada yang tidak beres dari keputusan Pemerintah untuk mengeluarkan dana talangan tersebut.



Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy melihat bahwa penetapan bank Century sebagai Bank gagal berdampak sistemik oleh BI sehingga perlu ada kebijakan dana talangan untuk menyelamatkannya semata-mata hanya didasarkan pada analisis yang bersifat psikologi pasar dan mengesampingkan analisis kuantitatif terhadap kondisi Bank Century. Sebab, secara kuantitatif Bank Century semestinya langsung ditutup dan tidak berhak mendapatkan dana talangan.


Pengamat ekonomi lainnya, Drajad Wibowo mengungkapkan alasan mengenai dampak sistemik perbankan saat Bank Century kolaps pada 2008 lalu lemah. Pasalnya, dasar Bank Indonesia untuk menyelamatkan bank milik Robert Tantular itu dari sebuah paparan seminar perbankan (paper). Serta nota kesepahaman dari lembaga ekonomi Eropa. Tentu saja,ujar Drajad,keduanya tak bisa dijadikan dasar yang kuat karena belum punya pembuktian ilmiah.



Sebagai konsekuensi ditetapkannya Bank Century menjadi ‘bank gagal berdampak sistemik’ maka diberikanlah kucuran dana untuk menstabilkan kondisi CAR Bank Century dari negatif 3,53% agar menjadi posistif 8%. Berdasarkan perhitungan, dana untuk menaikkan CAR tersebut agar positif 8% adalah hanya sebesar Rp 632 milliar. Namun, nyatanya dana yang dicairkan untuk “penyelamatan” Bank Century tersebut adalah sebesar Rp 6,76 Triliun. Lalu ke mana larinya dana-dana tersebut; kepada siapa dan untuk keperluan apa? Ironisnya, pada saat yang sama, ribuan nasabah kecil dari Bank Century ini terus melakukan protes karena uang mereka tidak kunjung kembali.



Korupsi adalah tindakan yang diharamkan Islam dan menjadi kewajiban bagi setiap Muslim untuk mencegahnya. Dalam hal ini, penguasa menjadi pilar utamanya. Bahkan kewajiban utama ada di pundak penguasa untuk membersihkan seluruh tindak kriminal “korupsi” di jajaran dan struktur pemerintahannya, yang posisinya adalah pelayan rakyat. Pasalnya, selain haram secara syar’i, korupsi juga mengakibatkan hak-hak rakyat terabaikan. Karena “virus berbahaya” ini, pada akhirnya kekuasan tidak menjadi sarana untuk melayani rakyat, tetapi malah menjadi alat menipu dan menzalimi rakyat demi kemewahan pribadi atas nama rakyat. Karena itu, tidak salah jika sebagian pengamat menilai, seharusnya Presiden SBY hadir bergabung dengan masyarakat yang peduli pada pemberantasan korupsi, bukan malah mengeluarkan pernyataan yang seolah-oleh menghalangi gerakan antikorupsi.



Ketidakpuasaan sebagian pihak terhadap pemerintahan SBY mungkin menjadikan momentum yang dianggap tepat (missal: Hari Anti Korupsi, 9/12) sebagai pintu masuk untuk meloloskan kepentingan-kepentingan politik. Jika pernyataan SBY akan adanya gerakan sosial dengan motif menggulingkan kekuasaan itu benar (berdasarkan pasokan data intelijen) seperti yang diungkap dalam berbagai milis/situs, maka di sini rakyat harus waspada, jangan sampai gerakan tersebut hanya dijadikan sebagai alat untuk tawar-menawar kekuasaan pihak-pihak tertentu, yang tentu jauh dari kepentingan rakyat. Rakyat juga harus sadar, bahwa terkait dengan banyaknya kasus korupsi, akar masalah sekaligus solusinya harus segera ditemukan.



Skandal Bank Century adalah bukti kesekian kali dari rapuhnya sistem perbankan/keuangan nasional yang berbasis ribawi dan birokrat yang berjiwa korup. Sistem perbankan/keuangan ribawi adalah bagian dari sistem ekonomi Kapitalisme yang sayangnya tetap dipertahankan keberadaannya di negeri ini. Karena itu, Skandal Century ini seharusnya semakin meneguhkan keyakinan masyarakat akan kebobrokan sistem perbankan/keuangan ribawi khususnya dan sistem ekonomi Kapitalisme pada umumnya. Sebagai gantinya, masyarakat harus menuntut penerapan sistem ekonomi yang adil, yang bersumber dari Zat Yang Maha Adil. Itulah Sistem Ekonomi Islam.



Skandal ini juga menjadi momentum pembuktian untuk kesekian kalinya, bahwa sistem sekular dan rezim korup yang tengah berkuasa memang tidak bisa dipercaya. Karena itu, sistem dan rezim yang korup ini harus segera ditinggalkan.



Jika rakyat menghendaki perubahan, mereka harus memahami perubahan seperti apa yang hendak diwujudkan, dan bagaimana pula caranya agar perubahan tersebut bisa diwujudkan. Tentu saja rakyat negeri ini yang mayoritas Muslim sejatinya menghendaki perubahan ke arah Islam dan dengan cara-cara yang juga islami. Perubahan ke arah Islam tentu mensyaratkan dua hal:


(1) mengubur dalam-dalam sistem dan rezim korup, yang notabene sekular;


(2) menegakkan sistem dan pemerintahan Islam, yakni syariah dan Khilafah.



Masih belum cukupkah karut-marut negeri ini membuka matalahir dan matabatin kita tentang betapa bobroknya sistem dan rezim yang ada saat ni? Masih belum cukupkah berbagai skandal korupsi, mafia peradilan an kezaliman hukum saat ini menyentakkan kesadaran kita tentang betapa busuknya sistem Kapitalisme dan rezim sekular ini? Masih harus erapa banyak lagi kasus, skandal bahkan krisis dibutuhkan untuk embangkitkan kesadaran kita bahwa hanya syariah dan Khilafah saja yang benar-benar bisa menjadi satu-satunya jalan keluar dan solusi untuk menyelesaikan seluruh kasus, skandal bahkan berbagai krisis moral, sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dll) yang sudah tak erhitung lagi?



Lebih dari itu, masih harus berapa lama lagi kita bermaksiat dengan terus mencampakkan hukum-hukum Allah SWT dan malah tetap betah erkubang dalam hukum-hukum Jahiliah ini? Haruskah kita menunggu sampai ajal menjemput kita, atau sampai negeri dan bangsa ini benar-benar hancur, sehancur-hancurnya???





Sriana Nurfirman

Jl. Syariddin I No.39c Pasar Minggu Jakarta Selatan

*muslimdaily.net

(read more ...)




Mengapa Harus Bertahan Dengan Kata ”Allah”?


Oleh: Dr. Adian Husaini


Pada bagian sebelumnya telah dibahas sekilas persoalan nama Tuhan dalam agama Kristen. Kaum Kristen memang sudah beratus-ratus tahun lalu menggunakan kata ”Allah” di negeri-negeri Arab dan juga di wilayah Melayu-Indonesia. Tetapi, ada peraturan di Malaysia yang sejak tahun 1980-an sudah melarang kaum Kristen menggunakan kata Allah dan sejumlah istilah Islam lain. Selama itu sudah ada sejumlah tokoh Kristen yang protes tetapi tidak sampai membawa kasusnya ke pengadilan.  Kasus ini semakin merebak dan menyedot perhatian masyarakat internasional, setelah kaum Katolik membawa kasus ini ke Pengadilan.



Ketersinggungan dalam soal penggunaan istilah dan simbol-simbol agama bukan hal baru di kalangan umat beragama. Kaum Muslim di Malaysia memandang, kata Allah sudah menjadi bagian yang sah dari istilah dan simbol agama Islam. Saya pernah mendengar cerita dari seorang tokoh Hindu, bahwa kaum Hindu Bali pernah memprotes kaum Kristen yang mendirikan lembaga Pendidikan dengan menggunakan nama Om Swastiastu. Begitu juga kaum  Hindu berkeberatan dengan sebutan ”Sang Hyang Widhi Yesus”.



Bayangkan, bagaimana perasaan kaum Muslim, jika kaum Kristen di Indonesia dan Malaysia membangun gereja dengan nama ”Gereja At-Taqwa”, ”Gereja Muhammad”, ”Gereja Imam Syafii”, ”Gereja Hamba Allah” atau ”Gereja Nahdhatul-Ummah”?  Atau, bagaimana jika ada orang Kristen membangun Gereja dengan simbol ”Allah” dalam tulisan Arab di atas  atapnya?  Bukankah dalam Bibel berbahasa Arab saat ini juga digunakan kata Allah,  persis seperti dalam al-Quran? Meskipun secara juridis formal, masalah-masalah semacam ini belum diatur, tetapi ada masalah sensitivitas yang harus diperhatikan dalam hubungan antar umat beragama.



Berbeda dengan kaum Kristen yang sering mengakomodasi unsur-unsur budaya dan lokalitas dalam simbol dan ritual keagamaan, umat Islam memiliki tradisi penggunaan istilah yang ketat. Sulit dibayangkan, ada kaum Muslim di Indonesia atau di Malaysia akan mendirikan Masjid dengan nama ”Masjid Haleluya” atau ”Masjid Israel”.  Kita tidak dapat membayangkan -- bahkan untuk orang Islam yang mengaku liberal atau Pluralis sekalipun – akan membangun masjid dengan nama ”Masjid Hamba Yahweh”.



Lepas dari persoalan sensitivitas penggunaan istilah-istilah dan simbol-simbol keagamaan, soal penggonaan kata ”Allah”, ada perbedaan menarik antara di Malaysia dan di Indonesia. Berbeda dengan di Malaysia, di Indonesia gugatan penggunaan kata ”Allah” oleh kaum Kristen, justru muncul dari kalangan Kristen sendiri.  Kontroversi soal penggunaan kata ”Allah” belakangan semakin merebak ke permukaan menyusul merebaknya kelompok-kelompok Kristen yang menolak penggunaan nama Allah dan menggantinya dengan Yahweh.



Tahun 1999, muncul kelompok Kristen yang menamakan dirinya Iman Taqwa Kepada Shirathal Mustaqim (ITKSM)  yang melakukan kampanye agar kaum Kristen menghentikan penggunaan lafaz Allah. Kelompok ini kemudian mengganti nama menjadi Bet Yesua Hamasiah (BYH). Kelompok ini mengatakan: "Allah adalah nama Dewa Bangsa Arab yang mengairi bumi. Allah adalah nama Dewa yang disembah penduduk Mekah.  Kelompok ini juga menerbitkan Bibel sendiri dengan nama Kitab Suci Torat dan Injil yang pada halaman dalamnya ditulis Kitab Suci 2000.  Kitab Bibel versi BYH ini mengganti kata "Allah" menjadi "Eloim", kata "TUHAN" diganti menjadi "YAHWE"; kata "Yesus" diganti dengan "Yesua", dan "Yesus Kristus" diubah menjadi "Yesua Hamasiah". Berikutnya, muncul lagi kelompok Kristen yang menamakan dirinya "Jaringan   Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh" yang menerbitkan Bibel sendiri dengan nama "Kitab Suci Umat Perjanjian Tuhan ini".  Kelompok ini menegaskan, "Akhirnya nama "Allah" tidak dapat dipertahankan lagi."



Kelompok BYH mengedarkan brosur berjudul ”Siapakah Yang Bernama Allah Itu?” yang isinya mengecam penggunaan kata Allah dalam Kristen. Mereka menyebut penggunaan kata ”Allah” dalam Kristen sebagai satu bentuk penghujatan kepada Tuhan.  Kaum Kristen mereka seru dengan sungguh-sungguh untuk meninggalkan penggunaan kata ”Allah”:



”Stop! Stop! Stu-u-op! Jangan diteruskan hujatan Anda. Kalau Anda semula tidak tahu, pasti akan diampuni, tetapi sekarang melalui pembacaan traktat pelayanan ini, Anda menjadi tahu. Maka jangan diterus-teruskan! ... Maka, janganlah terlibat di dalam penghujatan Dia. (Hentikan hujatan Anda sekarang juga).” (dikutip dari buku Herlianto, Siapakah yang  Bernama Allah Itu?), hal. 4).



Gara-gara mencuatnya gugatan penggunaan kata ”Allah” oleh kaum Kristen, di Indonesia, banyak diterbitkan buku yang membahas tentang kontroversi penggunaan ”nama Allah” dalam Kristen, seperti buku: I.J. Satyabudi, Kontroversi Nama Allah, (Jakarta: Wacana Press, 2004); Bambang Noorsena, The History of Allah, (Yogya: PBMR Andi, 2005); Herlianto, Siapakah Yang Bernama Allah Itu? (Jakarta: BPK, 2005, cetakan ke-3), dan Pdt. A.H. Parhusip, Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh, (2003); juga Herlianto, Gerakan Nama Suci, Nama Allah yang Dipermasalahkan, (Jakarta: BPK, 2009); Samin Sitohang, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekutar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, (Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2003).  



Karena merebaknya kontroversi tentang nama Tuhan tersebut, dan juga tentang boleh tidaknya penggunaan kata ”Allah” dalam Bibel edisi bahasa Indonesia, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) -- sebagai lembaga resmi penerjemah Bibel edisi bahasa Indonesia – membuat penjelasan:



”el, elohim, aloah adalah nama pencipta alam semesta dalam bahasa Ibrani, bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama. Dalam bahasa Arab, allah (bentuk ringkas dari al ilah) merupakan istilah yang seasal (cognate) dengan kata Ibrani el, elohim, aloah. Jauh sebelum kehadiran agama Islam, orang Arab yang beragama Kristen sudah menggunakan (baca: menyebut) allah ketika mereka berdoa kepada el, elohim, aloah. Bahkan tulisan-tulisan kristiani dalam bahasa Arab pada masa itu sudah menggunakan allah sebagai padan kata untuk el, elohim, aloah.... Dari dahulu sampai sekarang, orang Kristen di Mesir, Libanon, Iraq, Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dan berbagai negara di Afrika yang dipengaruhi oleh bahasa Arab, terus menggunakan (baca: menyebut) kata allah – jika ditulis biasanya menggunakan huruf kapital ”Allah” untuk menyebut Pencipta Alam Semesta dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, baik dalam ibadah maupun dalam tulisan-tulisan. Dalam terjemahan-terjemahan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, kata ”Allah” sudah digunakan terus menerus sejak terbitan Injil Matius dalam bahasa Melayu yang pertama (terjemahan Albert Cornelis Ruyl, 1692), begitu juga dalam Alkitab Melayu yang kedua (terjemahan Hillebrandus Cornelius Klinkert, 1879 sampai saat ini.”



Penjelasan LAI, tertanggal 21 Januari 1999, ditandantangani oleh Sekretaris Umumnya, Supardan. Surat LAI ini dikutip dari buku Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh,  karya Pdt. A.H. Parhusip.  Sekte Pengagung Yahweh yang disebut di sini  memang membuat geram berbagai kalangan dalam Kristen, sampai-sampai Pdt. Parhusip menulis ungkapan yang sangat keras: ”Saya tahu kebusukan dan kejahatan Pengagung YAHWEH, yakni: Hanya untuk menghilangkan sebutan ”Allah” dari Alkitab, maka dibuatlah ’Kitab Suci’ yaitu Alkitab palsu yang di dalamnya sebutan ”Tuhan YAHWEH” (=Tuhan TUHAN) begitu mubazir. Bodoh! Untuk itulah saya serukan: Kalau mau bodoh, bodohlah; tetapi jangan terlalu bodohlah kawan!”



Meskipun LAI sudah mengeluarkan edaran resmi, para penggugat nama Allah dalam Kristen terus bermunculan. Mereka juga terus menerbitkan buku-buku, panflet, bahkan Bibel sendiri yang menggugat penggunaan kata  Allah untuk nama Tuhan mereka. Sebuah buku yang berjudul “Allah” dalam Kekristenan, Apakah Salah, karya Rev. Yakub Sulistyo, S.Th., M.A., (2009), menguraikan kekeliruan kaum Kristen di Indonesia yang menggunakan nama Allah untuk memanggil Tuhan mereka. Buku ini menulis imbauan kaum Kristen Indonesia untuk tidak lagi menggunakan kata Allah:



“Kamus Theologia Kristen sendiri sudah sangat jelas menulis bahwa: Allah itu berasal dari Arab yang artinya Keberadaan Tertinggi dalam agama Islam, jadi kalau Anda sebagai orang Kristen atau Katolik (Nasrani) yang baik, Anda seharusnya menghormati iman orang lain (umat Islam), dengan tidak mencampur-adukkan dengan iman Nasrani, sehingga menjadi Sinkretisme… Sebagai umat Nashrani, carilah KESELAMATAN sesuai kitab sucinya sendiri dengan tidak takut menghadapi institusi duniawi seperti Sinode, Pimpinan gereja yang tidak memahami Firman Tuhan, merk Gereja dan lain-lain. Jangan takut dipecat demi kebenaran hakiki. Tuhan Yahweh di dalam Nama Yeshua HaMashiakh memberkati Anda.”  (Yakub Sulistyo, “Allah” dalam Kekristenan, Apakah Salah, (2009), hal. 43. Buku ini tidak mencantumkan nama penerbit).



Bahkan, kaum Kristen penolak nama ”Allah” ini juga kemudian lagi-lagi menerbitkan Bibel versi mereka sendiri, yang membuang semua kata Allah di dalamnya. (Lihat: Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru – Indonesian Literal Translation (ILT), terbitan Yayasan Lentera Bangsa, Jakarta, 2008).  Sebagai contoh, pada Matius 4: 10, versi Kitab Suci ILT, tertulis: “Kemudian YESUS berkata kepadanya, “Enyahlah hai Satan! Sebab telah tertulis: Engkau harus menyembah YAHWEH, Elohimmu, dan kepada-Nya sajalah engkau harus beribadah.”  Sedangkan dalam Alkitab versi LAI (2007) tertulis: “Maka berkatalah Yesus kepadanya: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”   Contoh lain, dalam Alkitab ILT Kitab Ulangan 10:17, tertulis: “Sebab YAHWEH, Elohimmu, Dialah Elohim atas segala ilah dan Tuhan atas segala tuan, Elohim yang besar yang perkasa dan yang ditakuti, yang tidak memandang muka, juga tidak menerima suap.”   Sedangkan dalam versi LAI (2007), ayat itu ditulis: “Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu atau pun menerima suap.”



Jika kaum Kristen di Indonesia merujuk kepada Bibel versi Arab, maka persoalan nama dan penyebutan Tuhan juga menjadi rumit sebab huruf Arab – sebagaimana huruf Ibrani tidak mengenal huruf kapital atau huruf kecil.   Sebagai contoh, sebuah Bibel versi Arab-Inggris terbitan International Bible Society (1999), menulis Kitab Ulangan 10:17 sebagai berikut: “Li-anna al-rabba ilahukum huwa ilahu al-Aalihati wa rabbu al-arbaabi, al-ilahu al-‘adhiimu, al-jabbaaru al-mahiibu, al-ladziy laa yuhaabiy wajha ahadin, wa laa yastarsyiy.  (Dalam sebuah Bibel bahasa Arab terbitan London tahun 1866, ayat itu ditulis sebagai berikut: Min ajli anna al-rabba ilaahukum huwa ilaahu al-Aalihati wa rabbu al-arbaabi ilaahun ‘adhiimun… ). Dalam teks bahasa Inggris (versi New International Version) ayat itu ditulis sebagai berikut: “For the LORD your God is God of gods and Lords of  lords, the great God, mighty and awesome, who shows no partiality.”  



 Menyimak perdebatan seputar penggunaan nama Allah dalam Kristen, tampaknya, nama ”Allah” memang merupakan nama Tuhan yang sudah digunakan oleh kaum-kaum sebelum Islam, di kawasan Arab. Karena misteri penyebutan nama Tuhan dalam Perjanjian Lama (YHWH) tidak terpecahkan, maka kaum Kristen di Arab – tampaknya -- juga menyesuaikan diri dengan tradisi di situ dalam menyebut Tuhan, yaitu dengan menggunakan kata Allah. Tetapi, kaum Kristen tetap memberikan catatan, bahwa kata “Allah”  bukanlah sebuah nama diri, melainkan hanya sebutan untuk Tuhan di daerah Arab. Begitu juga dengan konsepnya, Allah adalah Tuhan Tritunggal.



Pandangan Kristen terhadap “Allah” semacam itu jelas berbeda dengan pandangan Islam terhadap Allah.  Sebab, dalam Islam, Allah adalah nama Tuhan, dan konsepnya pun bukan Tritunggal, tetapi  Allah yang SATU, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia. Dalam pandangan Islam, sesuai wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw, nama “Allah” inilah yang dipilih oleh Allah untuk memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, melalui utusan-Nya yang terakhir, yakni Nabi Muhammad saw. Melalui Nabi Muhammad saw juga, dikabarkan bahwa Isa a.s. adalah seorang Nabi, dan bukan Tuhan atau anak Tuhan. Nabi Isa a.s. juga ditegaskan tidak mati di tiang salib untuk menebus dosa manusia.



Jadi, meskipun nama ”Allah” sudah digunakan oleh kaum musyrik Arab sebelum kedatangan Islam, tetapi al-Quran tetap menggunakan nama ini. Hanya saja, nama Allah yang digunakan oleh al-Quran sudah dibersihkan konsepnya dari unsur-unsur syirik, seperti dipahami oleh kaum Kristen dan kaum musyrik Arab. Dengan kata lain, nama Allah itu sudah di-Islam-kan konsepnya. Nama bisa saja sama, tetapi konsepnya berbeda. Dan satu-satunya jalan untuk memahami kemurnian lafaz dan makna Allah tersebut, haruslah dilakukan melalui pemahaman terhadap wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi terakhir, yakni Muhammad saw. Karena itu, menurut pandangan Islam, bisa dipahami, untuk mengenal Allah secara murni (tauhid), maka tidak bisa tidak harus mengakui kenabian Muhammad saw. Sebab, Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah terakhir, yang bertugas menjelaskan siapa Allah, nama dan sifat-sifat-Nya, dan cara untuk beribadah kepada-Nya.



Itu konsepsi Islam tentang nama Tuhan, yang memang berbeda dengan konsepsi Kristen tentang nama Tuhan.  Dalam pandangan Islam, setelah diutusnya Nabi Muhammad saw kepada seluruh manusia, maka sebenarnya kaum Kristen mengakui dan mengimani kenabian Muhammad saw, sebagaimana dipesankan Nabi Isa a.s. (yang artinya):  ”Dan ingatlah ketika Isa ibn Maryam berkata, wahai anak keturunan Israel, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua, membenarkan apa yang telah ada pada kita, yaitu Taurat dan memberikan kabar gembira (akan datangnya) seorang Rasul yang bernama Ahmad.” (QS 61:6).



Jadi, dalam pandangan Islam, Isa a.s. adalah Nabi, utusan Allah, sebagaimana para nabi sebelumnya. Karena itulah, ketika kaum Kristen mengangkat Isa a.s. sebagai Tuhan, maka Allah murka (QS 19:88-91). Sebaliknya, bagi kaum Kristen,  Yesus dipandang sebagai juru selamat, dan satu-satunya jalan keselamatan menuju Tuhan. Karena itu, semua manusia harus diusahakan untuk mengenal Yesus dan dibaptis.



Kaum Kristen juga memiliki pandangan yang berbeda dengan Islam tentang nama Tuhan. Sebagian mereka memandang, bahwa nama Tuhan diserahkan kepada budaya setempat. Maka, di Barat,  kaum Kristen memanggil God atau Lord, di Arab lain lagi, dan di Indonesia juga berbeda. Konsepsi ini yang digugat sejumlah kelompok Kristen lain, seperti ”Jaringan Gereja Pengagung Nama Yahweh”, yang menyatakan, bahwa nama Tuhan sudah disebutkan dalam Bibel, yaitu Yahweh.



Demi Misi Kristen




Memang, pertanyaanya, mengapa kaum Kristen di wilayah Melayu-Indonesia menggunakan kata ”Allah”  untuk menyebut nama Tuhan mereka?  Padahal, Kristen yang datang ke Indonesia sesungguhnya berasal dari Barat, yang tidak mengenal kata Allah. Salah satu alasannya, seperti disebutkan oleh Samin Sitohang dalam bukunya, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekitar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, adalah “pertimbangan misiologis”. Jadi, karena penduduk di wilayah Melayu-Nusantara ini sudah terbiasa menyebut nama Tuhan dengan Allah, karena mayoritasnya Muslim, maka dipakailah kata Allah untuk menyebut Tuhan Kristen tersebut. Samin Sitohang menulis tentang hal ini:



“Jadi, jika Alkitab bahasa Indonesia menggunakan Allah untuk nama Sang Pencipta, itu berarti Roh Allah sedang menyiapkan umat-Nya yang berasal dari golongan lain untuk menerima Injil karena mereka tidak perlu harus membuang Allah untuk mendapatkan nama Sang Pencipta yang baru. Sebaliknya, jika Alkitab Indonesia memakai Elohim, nama ini akan sukar diterima. Memang secara teologis dan moral, nama itu tidak keberatan untuk dipakai. Tetapi dari sudut pandang misiologis, penggunaan nama itu akan menjadi sia-sia. Lebih jauh, jika Alkitab Indonesia menggunakan Elohim, maka dari sudut kesaksian Kristiani, nama itu akan merusak citra Injil. Sebab, semua orang sudah tahu bahwa nama Sang Pencipta bagi umat Kristen Indonesia adalah Allah, bahkan nama ini sudah dipakai umat Kristen di Arab zaman pra-Islam. Lalu jika berganti menjadi Elohim, orang luar akan berkata bahwa nama Allah umat Kristen tidak konsisten. Jika demikian halnya, bagaimana jadinya nilai Injil di mata orang asing, khususnya umat Islam? Mereka akan berkata, “Dahulu nama Allah kalian Allah, sekarang Elohim, dan besok siapa lagi? Bukankah hal ini akan menyesatkan pemikiran mereka dengan keyakinan bahwa ternyata tidak ada kepastian di dalam “agama” Kristen? Disamping itu, umat Kristen sendiri pun akan dan memang sudah banyak kebingungan atas sikap Kelompok Penggagas yang memaksakan penggunaan Elohim menggantikan Allah.” (Samin Sitohang, Siapakah Nama Sang Pencipta? Menjawab Kontroversi Sekutar Pemakaian Nama Allah dalam Alkitab, hal. 100-101).  



Menurut Samin Sitohang, meskipun nama Allah digunakan oleh penganut agama yang berbeda, maka akan memiliki akibat yang berbeda. Jika kaum Kristen yang menggunakan nama Allah, maka roh Kristus sendiri yang datang, sesuai dengan 1 Korintus 8:5,6, tidak ada lagi allah selain Allah yang dikenal dalam Yesus Kristus. “Tetapi, jika orang bukan Kristen memanggil nama itu, tentu Ia tidak ada di situ, alias kosong. Jika demikian halnya, ketika orang bukan Kristen memanggil Allah, bukan mustahil justru roh antikristus akan datang menyusup, seolah-olah doa mereka dijawab oleh Sang Pencipta, padahal Ia tidak mendengar doa-doa mereka. Lalu bukan mustahil kesempatan itu dimanfaatkan oleh Iblis, karena Iblis pun  bisa berpura-pura baik untuk menyamar sebagai malaikat terang (2 Kor. 11:13-15),” demikian tulis Samin Sitohang, seorang pendeta Gereja Metodis Injili dan dosen Institut Alkitab Tiranus.



Samin Sitohang juga berpendapat, bahwa “siapa pun nama yang diberikan oleh masyarakat budaya tertentu kepada Sang Pencipta, asalkan nama itu mencerminkan karakter-Nya sebagai Sang Pencipta, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Suci, dan Yang Mahabaik, dapat dipahami sebagai bagian dari rencana Sang Pencipta untuk meraih segala suku bangsa agar percaya kepada-Nya.”



Konsep Kristen tentang nama Tuhan ini sangat berbeda dengan Islam, yang mensyaratkan, nama Tuhan haruslah berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan tradisi atau kesepakatan suatu masyarakat. Nama Tuhan dalam Islam adalah masalah penting dan mendasar. Dalam ajaran Islam, dikenal nama-nama Tuhan yang semuanya berasal dari wahyu, sehingga umat Islam seluruh dunia dan sepanjang zaman, memanggil nama Tuhan dengan ungkapan yang sama, sebagaimana diajarkan dalam al-Quran, seperti “Ya Allah”, “Ya-Rahman”, “Ya-Rahim”, “Ya Ghafur”, dan dengan nama-nama lain yang dikenal sebagai Asmaul Husna. Karena itu, nama Tuhan dalam Islam bukanlah hal yang spekulatif, tetapi merupakan satu kepastian berdasarkan wahyu.



Sebaliknya, nama YAHWEH yang diajukan oleh kelompok-kelompok Kristen penolak kata ”Allah”, juga tak kurang kontroversialnya. I.J. Satyabudi, seorang penulis Kristen,  mengritik keras sejumlah kelompok Kristen yang mengklaim bahwa nama Tuhan orang Kristen adalah Yahweh. Ia menulis: ”Orang-orang Yahudi di seluruh dunia tertawa terbahak-bahak ketika menyaksikan orang-orang Kristen mengklaim dirinya lebih mengetahui cara pengucapan nama YHWH dibandingkan umat Yahudi.” (hal. 92).



Jadi, bagaimana seharusnya kaum Kristen memanggil Tuhan mereka. Jawabnya, seperti dikatakan Pendeta Parhusip:



”Lalu mungkin  ada yang bertanya: Siapakah Pencipta itu dan bagaimanakah kalau kita mau memanggil Pencipta itu? Jawabnya: Terserah pada Anda! Mau panggil; Pencipta! Boleh! Mau panggil: Perkasa! Silahkan! Mau panggil: Debata! Boleh! Mau panggil: Allah! Boleh! Mau panggil: Elohim atau Theos atau God atau Lowalangi atau Tetemanis...! Silakan! Mau memanggil bagaimana saja boleh, asalkan tujuannya memanggil Sang Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi... Ya, silakan menyebut dan memanggil Sang Pencipta itu menurut apa yang ditaruh oleh Pencipta itu di dalam hati Anda, di dalam hati kita masing-masing. Lihat Roma 2:14-15.”



Untuk kasus Malaysia, demi terciptanya kerukunan umat beragama, sebagai Muslim kita juga tentu boleh mengusulkan, agar kaum Kristen tidak lagi menggunakan kata ”Allah” untuk menyebut Tuhan mereka. Toh, memang tidak ada masalah bagi kaum Kristen untuk memanggil Tuhan dengan berbagai sebutan selain Allah. Jadi, mengapa harus bertahan dengan sebutan ”Allah”?  [Depok, 23 Januari 2010/www.hidayatullah.com]         



Penulis adalah Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama—Majelis Ulama Indonesia.

(read more ...)




Padahal Yahudi dan Kristen tidak menerima konsep kenabian Muhammad sebagai utusan Allah yang terakhir.  Baca Catatan Akhir Pekan ke-278



 

Oleh: Dr. Adian Husaini



Sebagaimana konsep Islamic worldview  (pandangan-alam Islam) yang ditandai dengan karakteristiknya yang otentik dan final, maka konsep Islam tentang Tuhan, menurut Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas,  juga bersifat otentik dan final. Itu disebabkan, konsep Tuhan dalam  Islam, dirumuskan berdasarkan wahyu dalam al-Quran yang juga bersifat otentik dan final. Konsep Tuhan dalam Islam memiliki sifat yang khas yang tidak sama dengan konsepsi Tuhan dalam agama-agama lain. Konsep Tuhan dalam Islam tidak sama dengan konsep Tuhan dalam tradisi filsafat Yunani; tidak sama dengan konsep Tuhan dalam filsafat Barat modern atau pun dalam tradisi mistik Barat dan Timur.



Bagi orang Barat modern, Tuhan tidak lagi dianggap penting kedudukannya dalam kehidupan sehari-hari mereka. Bahkan, sebagian filosof Barat menganggap ”kehadiran Tuhan” dapat mengganggu kebebasan mereka. Karen Armstrong, dalam bukunya, History of God, mengutip pendapat Jean-Paul Sartre (1905-1980), yang menyatakan: “… even if God existed, it will still necessary to reject him, since the idea of God negates our freedom.


Karena itulah, manusia modern merasa diri mereka bisa mengatur Tuhan dan berani mereka-reka Tuhan. Bukan Tuhan yang mengatur kehidupan mereka. Prof. Frans Magnis Suseno, tokoh Katolik, merangkum pandangan modernitas terhadap Tuhan:

 


"Modernitas sebagaimana menjadi kenyataan di Eropa sejak abad ke-17 mulai meragukan ketuhanan. Reformasi Protestan abad ke-16 sudah menolak banyak klaim Gereja. Dalam abad ke-17 empirisisme menuntut  agar segala pengetahuan mendasarkan diri pada pengalaman inderawi. Pada akhir abad ke-18 muncul filosof-filosof materialis pertama yang mengembalikan keanekaan bentuk kehidupan, termasuk manusia, pada materi dan menolak alam adi-duniawi. Dalam abad ke-19 dasar-dasar ateisme filosofis dirumuskan oleh Feurbach, Marx, Nietzsce, dan dari sudut psikologi, Freud. Pada saat yang sama ilmu-ilmu pengetahuan mencapai kemajuan demi kemajuan. Pengetahuan ilmiah dianggap harus menggantikan kepercayaan akan Tuhan. Akhirnya, di abad ke-20, filsafat untuk sebagian besar menyangkal kemungkinan mengetahui sesuatu tentang hal ketuhanan, sedangkan dalam masyarakat sendiri ketuhanan semakin tersingkir  oleh keasyikan budaya konsumistik. Sebagai akibat, manusia modern menjadi skeptis tentang ketuhanan kalau ia tidak menyangkalnya sama sekali. Maka apabila seseorang, atau sekelompok orang, tetap yakin akan adanya Tuhan, mereka mau tak mau harus menghadapi tantangan skeptisisme modernitas itu." (Lihat, Frans Magnis Suseno, Menalar Tuhan, (Yogyakarta: Kanisius, 2006)).




Sekedar perbandingan, dalam konsep agama Budha, misalnya, seorang Buddhis tidak menyebutkan nama Tuhannya. Dalam sebuah buku berjudul Be Buddhist Be Happy, misalnya, ditulis: "Seorang umat Buddha meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dikenal dengan sebutan: "Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkatam", yang artinya: Sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak dijelmakan, tidak diciptakan, Yang Mutlak. Tuhan Yang Maha Esa  di dalam agama Buddha adalah Anatman (Tanpa Aku), suatu yang tidak berpribadi, suatu yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. (Lihat, Jo Priastana, Be Buddhist Be Happy, (Jakarta: Yasodhara Puteri Jakarta, 2005)).



Dalam sebuah buku berjudul Kumpulan Ceramah Bhikkhu Uttamo Thera (Buku 5), Buddha Dhamma dalam Kehidupan Sehari-Hari, dijelaskan mengapa para dewa tidak mau turun dari sorga dan menemui manusia: ”Sang Buddha yang telah wafat hampir 3000 tahun lamanya itu sebenarnya baru sekejap saja untuk alam dewa. Hanya saja, diceritakan dalam Dhamma, alam manusia ini sungguh kotor dan busuk bagi para dewa. Para dewa tidak berminat mendekati manusia. Dari jarak jauh pun mereka sudah terganggu dengan bau manusia.” (hal. 21).



Agama Hindu juga mempunyai konsep Tuhan sendiri. Alain Danielou, menulis dalam bukunya, Gods of India: Hindu Polytheism, (New York: Inner Traditions International, 1985): "Hinduism, or rather the "eternal religion" (sanata dharma), as it calls irself, recognizes for each age and each country a new form of revelation and for each man, according to his stage of development, a different path of realization, a different of worship, a different morality, different rituals, different gods." (hal. x).



Dalam sebuah buku berjudul Sejarah Perkembangan Agama Hindu di Indonesia (Penerbit: Paramita, Surabaya), disebutkan bahwa:

 


“Agama Hindu berkembang pertama kali di lembah sungai suci Sindhu di Bhratawarsa (India). Di lembah sungai suci Sindhu inilah para maharsi menerima wahyu Brahman, Sang Hyang Widhi Wasa, dan kemudian diabadikan dalam bentuk pustaka suci Weda. Weda adalah kitab suci agama Hindu yang mengandung pengetahuan suci maha sempurna kekal abadi, mengenai Brahman, Sang Hyang Widhi. Gerakan keagamaan Arya Samaj yang didirikan di India pada tahun 1875 oleh Swammi Dayananda Saraswati (a824-1884), mengemukakan tiga inti ajarannya tentang Weda, yaitu:  1. Weda adalah wahyu Tuhan. Hal ini terbukti dari persesuaiannya dengan alam semesta. 2. Weda adalah satu-satunya wahyu Tuhan, sebab tiada kitab lain yang sepadan dengan Weda. 3. Weda adalah sumber pokok bagi ilmu agama segala manusia.” (hal. 1).


 

Hindu juga memiliki konsep Tuhan yang khas, yang berbeda dengan agama-agama lain. Misalnya, disebutkan dalam buku berjudul Hindu Agama terbesar di Dunia (Medi Hindu, 2006, cetakan ke-6),  adanya perbedaan konsep Tuhan Hindu dan Kristen:

 


”Tradisi Jahudi/Kristen memandang Tuhan sebagai Tuhan cemburu (”sebab Aku Tuan Tuhanmu adalah Tuhan yang cemburu ”for I the Lord thay God am a jealous God”, Keluaran/Exodus 20:5), dan pendendam dan ingin membalas dendam ... Secara kontras, dalam tradisi Veda Tuhan dipandang sebagai karuna-sindhu (lautan pengampunan dan kasih); patita-pavana (Sahabat yang berduka).” (hal. 88-89).


Jadi, masing-masing agama memang memiliki konsep Tuhan dan juga nama Tuhan sendiri-sendiri. Karena melihat fenomena agama-agama semacam itu, kaum Pluralis agama,  lalu dengan sederhana menyimpulkan, bahwa Tuhan memang punya banyak nama. Tuhan itu satu. Tetapi, cara memanggilnya tergantung persepsi dan tradisi masing-masing agama. Semuanya benar. Semua agama adalah jalan menuju kebenaran. Tokoh Pluralis John Hick dalam bukunya, God Has Many Names, mengatakan bahwa Tuhan adalah The Eternal One.  Bagi Hick, The Eternal One, menjadi dasar bersama dari semua tradisi agama besar. Lebih lanjut Hick mengungkapkan, bahwa Tuhan boleh dikenali dengan identitas apa saja oleh semua penganut agama. Brahma dan Allah adalah Tuhan yang sama. Cuma dilihat dan diucap dengan cara berlainan antara Hindu dan Islam. Nama Tuhan boleh berbeda menurut bahasa-bahasa manusia.



Kaum Pluralis, seperti John Hick, melihat agama-agama dari sudut fenomena saja. Dalam memandang agama – termasuk konsep Tuhan masing-masing agama – Hick berdiri pada posisi netral agama. Ia tidak berdiri pasa posisi Islam, Kristen, Hindu, Yahudi, dan sebagainya. Ia berdiri pada posisi di luar semua agama. Posisi inilah yang kini dibangga-banggakan oleh kaum Pluralis. Padahal, posisi netral agama dalam melihat Tuhan, ini jelas mengabaikan ajaran eksklusif tiap agama tentang Tuhan.



Konsepsi Hick tentang Tuhan berpijak pada asumsi bahwa Tuhan tidak memberitahu manusia tentang diri-Nya melalui wahyu. Namun, ia mengandaikan bahwa manusia merumuskan sendiri pandangannya tentang Tuhan. Karena manusia mempunyai keterbatasan, juga keragaman pikiran, pandangan manusia pun tentang Tuhan juga beragam. Karena itulah, dia menganggap semua pikiran tentang Tuhan adalah relatif, karena merupakan produk akal. Maka, jalan apa pun untuk menuju Tuhan, adalah dianggap sah. Hick sering menggambarkan teorinya ini dengan menukil perkataan Jalaluddin Rumi, “The lamps are different, but the Light is the same.” (Walaupun lampu-lampunya berbeda tapi Cahayanya sama). Dalam Bhagavad Gita, Hick juga menemukan kalimat “Whatever path men choose is mine” (Jalan apapun yang dipilih manusia adalah milik-Ku).


Tentu saja, kutipan Hick itu tidak tepat. Sebab, jalan yang dimaksud dalam Islam bukanlah bermakna “agama”. Begitu juga, kaum Hindu memaknai “jalan” dengan “yoga”, yakni jalan-jalan dalam agama Hindu.  Kaum Muslim jelas tidak dapat menerima posisi netral agama seperti itu dalam memahami Tuhan. Sebab, dalam pandangan Islam, konsep Tuhan dan nama Tuhan bukanlah merupakan hasil rekaan manusia. Tapi, konsep dan nama Tuhan dipahami berdasarkan wahyu, yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Tuhan, dalam Islam, dikenal dengan nama Allah. Lafaz  Allah dibaca dengan bacaan yang tertentu. Kata "Allah" tidak boleh diucapkan sembarangan, tetapi harus sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah saw, sebagaimana bacaan-bacaan ayat-ayat dalam al-Quran.



Karena adanya sanad – yang sampai pada Rasulullah saw – maka kaum Muslimin tidak menghadapi masalah dalam penyebutan nama Tuhan. Sepanjang sejarahnya, umat Islam juga tidak berbeda pendapat tentang nama Tuhan, bahwa nama Tuhan yang sebenarnya ialah Allah dan nama-nama lain (al-asmaul husna) yang juga disebutkan melalui wahyu. Dengan demikian, "nama Tuhan", yakni "Allah" juga bersifat otentik dan final, karena menemukan sandaran yang kuat, dari sanad mutawatir yang sampai kepada Rasulullah saw. Umat Islam tidak melakukan spekulasi filosofis untuk menyebut nama Allah, karena nama itu sudah dikenalkan langsung oleh Allah SWT – melalui al-Quran, dan diajarkan langsung cara melafalkannya oleh Nabi Muhammad saw.



Spekulasi tentang nama Tuhan, misalnya,  dilakukan oleh kaum Yahudi. Dalam konsep Judaism (agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti. Kaum Yahudi modern hanya menduga-duga, bahwa nama Tuhan mereka adalah Yahweh. The Concise Oxford Dictionary of World Religions menjelaskan Yahweh sebagai "The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy."  (Lihat, John Bowker (ed), The Concise Oxford Dictionary of World Religions, (Oxford University Press, 2000). Yahweh memang Tuhan dugaan. Harold Bloom dalam bukunya, Jesus and Yahweh, (New York: Berkley Publishing Groups, 2005), hal. 127, menulis “How the name was pronaunced we never will know: Yahweh is merely surmise.”



Berbeda dengan tradisi Yahudi, konsep dan nama Tuhan dalam Islam tidak bersifat spekulatif dan misterius. Nama Tuhan dalam Islam bersifat final dan universal. Sedangkan nama Tuhan dalam tradisi Yahudi dan Kristen bisa berubah dan menyesuaikan diri dengan kondisi dan situasi tertentu. Hingga kini, perdebatan soal nama Tuhan di kalangan Yahudi dan Kristen masih merupakan perdebatan yang berkelanjutan. Kaum Yahudi, hingga kini, masih belum menemukan dan berspekulasi tentang nama Tuhan mereka. Dalam konsep Judaism (agama Yahudi), nama Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti.



Jadi, ucapan “Yahweh” sebagaimana diucapkan sebagian kalangan Yahudi dan sebagian kalangan Kristen saat ini adalah sebuah bacaan yang bersifat dugaan terhadap empat huruf mati YHWH.  Empat huruf konsonan itu bisa dibaca dengan berbagai bacaan. Tetapi, diduga, dulunya nenek moyang kaum Yahudi membacanya Yahweh. Tentu saja, kondisi seperti ini berbeda dengan umat Islam sedunia, yang dengan pasti mengucapkan empat huruf mati, “ALLH” dengan bacaan Allah. Tidak mungkin empat huruf mati ALLH itu dibaca Alilahu atau Alaluhu, dan sebagainya. Huruf ALLH pasti dibaca umat Islam seluruh dunia sepanjang zaman dengan bacaan Allah, sebab bacaan seperti itulah yang diajarkan Rasulullah  saw kepada para sahabat, sampai turun-temurun, dari generasi ke generasi umat Islam, hingga saat ini. Umat Islam tidak salah dan tidak berselisih paham dalam membaca empat huruf mati tersebut. Hingga kini, para penghafal al-Quran masih banyak yang memiliki sanad (rangkaian transmisi) sampai Rasululllah saw.  Inilah bedanya, soal nama Tuhan, antara Islam dengan Yahudi dan Kristen.



Harold Bloom, dalam buku terkenalnya, Jesus and Yahweh (New York: Riverhead Books, 2005), menulis, bahwa YHWH adalah nama Tuhan Israel yang tidak pernah bisa diketahui bagaimana mengucapkannya: “The four-letter YHWH is God’s proper name in the Hebrew Bible, where it appears some six thousand times. How the name was pronounced we never will know.”   Dalam bukunya, The History of Allah, (Yogyakarta: Andi, 205), tokoh Kristen Ortodoks Syria, Bambang Noorsena menulis bab berjudul “Bolehkah Nama YHWH (TUHAN) diterjemahkan dalam Bahasa-bahasa Lain?”. Ia menulis:


“Sejak Kitab Suci Perjanjian Baru ditulis oleh para rasul Kristus, tetragram (keempat huruf suci YHWH, Yahwe) diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani, Kyrios (TUHAN). Cara ini mengikuti kebiasaan Yahudi, yang juga diikuti oleh Yesus dan para Rasul-Nya yang biasanya melafalkan Yahwe dengan Adonai (TUHAN) atau ha Shem (Nama segala nama).” 



I.J. Satyabudi, seorang penulis Kristen, dalam bukunya, Kontroversi nama Allah, (Pamulang: Wacana Press, 2004), menulis:



”Tetragrammaton YHWH hanyalah terdiri dari empat konsonan (huruf mati) saja. Tidak ada seorang Yahudi dan Kristen-pun di dunia saat ini yang sanggup meyakinkan orang lain mengenai bagaimana pelafalan yang benar dari Tetragrammaton.” (hal. 94).




Nama Tuhan: bukan prinsip



Karena tidak memiliki “tradisi sanad”  dan adanya problem otentisitas dan pembacaan Kitab Sucinya, maka kaum Yahudi tidak bisa memastikan bagaimana cara melafazkan nama Tuhannya yang semuanya tertulis dalam empat huruf mati YHWH. Juga, karena dilarang mengucapkan nama Tuhan sembarangan, maka akhirnya mereka menyatakan, bahwa “God’s name is never articulated” (nama Tuhan tidak pernah diucapkan).  Tradisi Yahudi ini kemudian diikuti oleh kaum Kristen, karena mereka mewarisi Kitab Yahudi (Perjanjian Lama).  Tradisi seperti ini jelas sangat berbeda dengan Islam. Sebab, dalam Islam, nama Tuhan adalah sebuah kepastian berdasarkan wahyu, yang sifatnya final dan universal.



Setelah membahas secara mendalam problematika nama Tuhan dalam Yahudi, Kristen, dan Islam, I.J. Satyabudi, dalam bukunya, Kontroversi Nama Allah, menyimpulkan:


”Oleh sebab itu, saya susah sekali untuk mengerti bahwa Dia Yang Penuh Misteri ini membutuhkan sebuah Nama layaknya kita manusia membutuhkan sebuah nama! Saya juga susah sekali untuk dapat mengerti bahwa nama Tuhan Yahudi adalah YHWH, dan nama Tuhan Kristen adalah Yesus, dan nama Tuhan Islam adalah Allah. Saya sepenuhnya percaya bahwa YHWH adalah Nama Diri Ilahi suku bangsa Israel, tetapi saya tidak percaya bahwa YHWH adalah memang nama Diri Ilahi dari Pribadi Dia Yang Mahatinggi itu. Saya harus memastikan bahwa Nama YHWH adalah bukan Nama Diri Dia Yang Mahatinggi,  tetapi hanyalah sebuah refleksi dari Musa saja terhadap makna dan arti dari EHYEH ASYER AHYEH. Begitu juga, nama Yesus bukanlah Nama Diri dari Pribadi Dia Yang Mahatinggi, tetapi Nama Yesus adalah Nama Kemanusiaan yang dikenalkan oleh Sang Logos yang menjadi Manusia.” (hal. 198).  


Kesimpulan I.J. Satyabudi ini tentu saja keluar dari visi seorang Kristen yang berangkat dari  problema internal agamanya. Jadi, sebenarnya, bagi kaum Kristen,  masalah nama Tuhan, bukanlah suatu hal yang mendasar. Kaum Kristen di mana pun menyebut nama Tuhannya dengan cara yang berbeda. Sebab, bagi sebagian besar mereka, nama Tuhan bukan secara tegas tercantum dalam Kitab mereka.  Mereka diperbolehkan menyebut Tuhan mereka dengan berbagai sebutan.  Dalam buku kecil yang berjudul Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh, Pdt. A.H. Parhusip, menulis tentang masalah ini:


”Lalu mungkin  ada yang bertanya: Siapakah Pencipta itu dan bagaimanakah kalau kita mau memanggil Pencipta itu? Jawabnya: Terserah pada Anda! Mau panggil; Pencipta! Boleh! Mau panggil: Perkasa! Silahkan! Mau panggil: Debata! Boleh! Mau panggil: Allah! Boleh! Mau panggil: Elohim atau Theos atau God atau Lowalangi atau Tetemanis...! Silakan! Mau memanggil bagaimana saja boleh, asalkan tujuannya memanggil Sang Pencipta, yang menciptakan langit dan bumi... Ya, silakan menyebut dan memanggil Sang Pencipta itu menurut apa yang ditaruh oleh Pencipta itu di dalam hati Anda, di dalam hati kita masing-masing. Lihat Roma 2:14-15.”  (Lihat, Parhusip, Waspadalah terhadap Sekte Baru, Sekte Pengagung Yahweh  (2003), hal. 40-41. Buku kecil Pdt. Parhusip ini tidak mencantumkan penerbit, tetapi hanya tahun dan alamat penulisnya di GSJA ”PEMENANG” jalan Tanah Lapang 19 Patane III – PORSEA 22384 Sumbagut.)


Jadi, berbeda dengan Islam yang memandang nama Tuhan sebagai sesuatu yang prinsip, kaum Kristen tidak memandang nama Tuhan sebagai hal yang final. Karena itulah, jika kaum Kristen mempertahankan sebutan tertentu untuk Tuhan mereka – seperti sebutan ”Allah”, sebagaimana yang terjadi di Malaysia -- sejatinya itu bukan untuk mempertahankan nama Allah. Sebab, bagi mereka, ”Allah” bukanlah nama Tuhan yang diakui oleh semua orang Kristen.  Sikap kaum Kristen di Malaysia yang tetap menolak mengganti nama Allah dengan yang lain, tentu dilakukan karena tujuan lain, terutama untuk tujuan misi Kristen. Sebab, andaikan kaum Krisren tidak menggunakan kata Allah bagi menyebut Tuhan mereka, itu pun tidak menjadi masalah bagi mereka, sebagaimana yang kini terjadi di berbagai beladan dunia lain.  



Kontroversi yang hebat di kalangan Kristen dan motivasi penggunaan kata ”Allah” oleh kaum Kristen di wilayah Melayu-Indonesia  sebagai bagian dari strategi Misi Kristen dapat disimak pada paparan berikutnya.  (Bersambung).



Penulis adalah Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama—Majelis Ulama Indonesia.

(read more ...)




Oleh: Dr. Adian Husaini*



Pengantar: Masalah penggunaan kata ”Allah” di Malaysia sekarang menyita banyak perhatian masyarakat internasional. Tidak hanya di Malaysia, di Indonesia pun sejumlah media massa menurunkan berita dan opini seputar masalah ini. Sejumlah pihak mengirimi saya beberapa berita dan opini melalui e-mail dan meminta tanggapan. Untuk sedikit menjernihkan masalah ini, berikut ini saya turunkan tulisan, yang – karena agak panjang – saya bagi menjadi tiga serial Catatan Akhir Pekan (CAP) ke-277, 278, dan 279). Sebagian data di sini sudah pernah kita sajikan dalam CAP-CAP sebelumnya. Untuk memudahkan pemahaman, data itu kita ungkapkan lagi, diramu dengan berbagai data baru yang penulis temukan.


***

Kasus “penggunaan kata Allah” di Malaysia rupanya masih belum berujung. Kasus yang sudah bermula tahun 2007 ini kembali memanas setelah Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur pada 31 Desember 2009 membenarkan penggunaan kata Allah, sebagai pengganti kata Tuhan, oleh surat kabar Katholik Herald-The Catholic Weekly terbitan Gereja Katolik Roma, Malaysia.



Alkisah, kaum Muslim di Malaysia, diwakili pemerintah Malaysia,  berkeberatan dengan keputusan tersebut dan mengajukan banding ke peradilan yang lebih tinggi. Di Malaysia, masalah ini memang sangat menyita perhatian publik. Pada 1 April 2009 lalu, saya sempat menghadiri sebuah seminar tentang kontroversi penggunaan kata Allah bagi Majalah Katolik ini di Kuala Lumpur. Bagi kaum Muslim dan pemerintah Malaysia, pelarangan penggunaan nama Allah bagi kaum non-Muslim memang memiliki dasar hukum yang kuat. Sebab, di hampir seluruh negara bagian di Malaysia, memang ada peraturan yang melarang kaum non-Muslim menggunakan sejumlah istilah khas dalam Islam, seperti Allah, Baitullah, Rasulullah, dan sebagainya.



Di Malaysia, Islam adalah “agama resmi negara” (agama Persekutuan). Kaum non-Muslim dilarang menyebarkan agama mereka kepada kaum Muslim. Sebab, sesuai konstitusi Malaysia, salah satu tugas pemerintah adalah melindungi akidah Islam.  Di Malaysia, istilah Melayu identik dengan Islam (sebaliknya, di Indonesia, banyak yang memahami istilah “Melayu” identik dengan “lagu dangdut”).  Kamus Dewan yang diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka, Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1989, juga menegaskan keidentikan antara Islam dengan Melayu. Disebutkan, bahwa istilah “masuk Melayu” mempunyai dua arti, yaitu (1) mengikut cara hidup orang-orang Melayu dan (2) masuk Islam.  Menyadari pentingnya kedudukan akidah Islam untuk menjaga ketahanan masyarakat Malaysia, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) – satu institusi Islam resmi di bawah pemerintah Melaysia --  menyatakan:


"Kerajaan tidak pernah bersikap sambil lewa dalam hal-hal yang berkaitan dengan akidah umat Islam. Segala pendekatan dan saluran digunakan secara bersepadu dan terancang bermula dari pendidikan hinggalah ke penguatkuasaan undang-undang semata-mata untuk melihat akidah umat Islam terpelihara di bumi Malaysia".  (Lihat, http://www.islam.gov.my/e-rujukan/islammas.html).


Jadi, dalam soal kenegaraan, Malaysia memang beda dengan Indonesia. Meskipun jumlah umat Muslim hanya sekitar 60 persen, Malaysia dengan tegas menyatakan dirinya sebagai kelanjutan Kerajaan-kerajaan Melayu Islam, dan Islam ditempatkan dalam konstitusi negara sebagai agama negara (agama Persekutuan).  Dalam kaitan inilah,  pemerintah Malaysia melarang penggunaan kata "Allah" untuk penerbitan buku dan referensi kaum non-Muslim di negara itu. Malaysia juga pernah menyita belasan ribu kitab suci umat Kristen, Alkitab, yang diimpor dari Indonesia yang menggunakan kata "Allah."



Majalah Katolik Herald edisi bahasa Inggris memang tidak menggunakan kata Allah. Tapi, kata Allah mereka gunakan untuk edisi bahasa Melayu. Karena itulah, kaum Muslim di Malaysia melihat, ini salah satu indikasi jelas, bahwa ada tujuan ”misi Kristen” di balik penggunaan kata Allah tersebut.  Tapi, kaum Katolik di Malaysia berkeberatan dengan larangan pemerintah atas penggunaan kata "Allah" di media mereka. Gugatan kaum Katolik ini kemudian dikabulkan oleh pengadilan. Hanya saja, pada 4 Januari 2010, pemerintah Malaysia mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tinggi itu. Pemerintah juga meminta agar putusan pengadilan itu ditangguhkan, sampai muncul putusan atas banding itu.



Masalah penggunaan kata ”Allah” di Malaysia  ini telah menyita perhatian dunia internasional. Pelarangan penggunaan kata ”Allah” di Malaysia sebenarnya sudah berlangsung sejak awal tahun 1980-an.  Sejumlah media di Indonesia –baik cetak maupun elektronik– pun ikut menyiarkan berita di Malaysia tersebut. Apalagi, menyusul keputusan Pengadilan Tinggi, terjadilah penyerangan terhadap sejumlah geraja di Malaysia. Ditengarai, serangan itu dilakukan akibat marahnya sebagian kaum Muslim atas keputusan tersebut.



Sikap umat Islam di Malaysia sendiri terbelah.  Jika pemerintah Malaysia –yang didominasi Partai UMNO-- melarang penggunaan kata Allah oleh kaum Kristen, sikap sebaliknya ditunjukkan oleh Partai Islam se-Malaysia (PAS). Partai yang sering dikategorikan sebagai ”partai Islam” ini justru  menyatakan tidak keberatan dengan penggunaan kata "Allah" sebagai alternatif kata Tuhan untuk kalangan non-Muslim. Menurut PAS, kata Allah bisa digunakan oleh para penganut agama keturunan Nabi Ibrahim -yang dikenal oleh umat Nasrani dan Yudaisme sebagai Abraham.



Harian yang terbit di Malaysia, The Star, melaporkan adanya pertemuan Dewan Pimpinan PAS, pada 4 Januari 2010, yang menghasilkan keputusan tersebut. Presiden PAS, Hadi Awang, menyatakan, bahwa penggunaan kata Allah di luar non-Muslim ada syaratnya, yakni kata ”Allah” tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan yang bisa mengganggu kerukunan beragama di Malaysia.



Bagi saya yang beberapa tahun tinggal di Malaysia dan pernah cukup intens mengikuti pergumulan politik di Malaysia melalui media massa, sikap PAS itu bisa dipahami sangat kental nuansa politisnya. Konflik PAS dan UMNO seperti  sudah mendarah daging. Bagi kita, kaum Musim Indonesia,  tentu sangat heran, mengapa kedua partai yang sama-sama berbasis Melayu ini tidak bisa bersatu dalam pandangan dan sikapnya dalam hal-hal yang bersifat keagamaan, dan melupakan pandangan politis mereka. Namun, kita juga bisa memahami, jika melihat kondisi serupa yang terjadi pada sejumlah partai Islam di Indonesia.  Kadangkala, sebagai orang yang berada di luar partai, kita mengharapkan, agar partai-partai Islam itu dapat bersatu untuk sama-sama memperjuangkan aspirasi Islam. Tapi, itulah realitasnya; baik di Malaysia ataupun di Indonesia.



Pernyataan PAS yang menyatakan bahwa agama Yahudi dan Kristen adalah pelanjut agama Ibrahim pun lebih bertendensi politis dan sosiologis.  Secara akidah, menurut Islam, jelas Islam menolak klaim Yahudi dan Kristen bahwa mereka adalah pelanjut agama Ibrahim a.s.  Seorang Muslim, yang berpikir dalam perspektif Islamic worldview, akan sangat yakin bahwa ’agama Ibrahim’ adalah agama Tauhid. Dan sebab itu, hanya Islamlah yang konsisten melanjutkan ajaran Tauhid Nabi Ibrahim.



Al-Quran menjelaskan: “Dan siapakah yang lebih baik din-nya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti millah Ibrahim yang hanif.” (QS 4:125).  “Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67).



Meskipun Yudaisme adalah agama yang ber-Tuhan satu (monoteis),  tetapi kaum Muslim meyakini bahwa telah terjadi penyimpangan (tahrif) yang serius pada Kitab Yahudi (juga Kristen). Menurut Al Quran, orang-orang Yahudi dan Nasrani telah mengubah-ubah kitab yang diturunkan Allah, menyembunyikan kebenaran, dan menulis kitab menurut keinginan dan hawa nafsu mereka sendiri.



"Sebagian dari orang-orang Yahudi mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya." (An Nisa: 46). "Maka apakah kamu ingin sekali supaya mereka beriman karena seruanmu, padahal sebagian mereka ada yang mendengar firman Allah, lalu mengubahnya sesudah mereka memahaminya, sedangkan mereka mengetahuinya." (al-Baqarah:75). "Sungguh celakalah orang-orang yang menulis al-kitab dengan tangan mereka, lalu mereka katakan: "Ini adalah dari Allah."  (mereka lakukan itu) untuk mencari keuntungan sedikit. Sungguh celakalah mereka karena aktivitas mereka menulis kitab-kitab (yang mereka katakan dari Allah itu), dan sungguh celakalah mereka akibat  tindakan mereka.” (al-Baqarah : 79)



Monoteisme memang mengakui Tuhan yang satu. Tetapi, monoteisme belum tentu sama dengan Tauhid. Dalam konsep Islam, Tauhid adalah pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan, disertai unsur ikhlas dan  rela diatur  oleh Allah SWT. Maka, syahadat Islam berbunyi “Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”. Syahadat Islam bukan berbunyi: “Tidak ada tuhan selain Tuhan”, juga bukan “Tidak ada tuhan selain Yahweh”. Karena itu, jika orang menyembah tuhan yang satu, tetapi yang ‘yang satu’ itu adalah Fir’aun, maka dia tidak bisa disebut ‘bertauhid’. Iblis pun tidak bisa dikatakan bertauhid, tetapi disebut kafir, karena menolak tunduk kepada Allah, meskipun dia tahu bahwa Allah sebagai satu-satunya Tuhan.



Dalam perspektif seorang Muslim yang memegang teguh Islamic worldview, memasukkan agama Yahudi sebagai pelanjut agama Ibrahim, adalah pernyataan yang sangat bermasalah. Kaum Yahudi memang menyembah Tuhan yang satu. Tetapi, hingga kini, mereka masih berselisih paham tentang siapa Tuhan yang satu itu? Sebagian menyebut-Nya sebagai ‘Yahweh’. Tetapi, dalam tradisi Yahudi, nama Tuhan tidak boleh diucapkan. Oxford Concise Dictionary of World Religions menulis: “Yahweh: The God of Judaism as the ‘tetragrammaton YHWH’, may have been pronounced. By orthodox and many other Jews, God’s name is never articulated, least of all in the Jewish liturgy.”



Karena menolak beriman kepada kenabian Muhammad saw, maka kaum Yahudi dan Kristen kehilangan jejak kenabian dan Tauhid. Dalam pandangan Islam, kaum Yahudi telah kehilangan data-data valid dalam Kitab mereka. Ini juga ditulis oleh Th.C.Vriezen, dalam buku ”Agama Israel Kuno”  (Jakarta: BPK, 2001):


“Ada beberapa kesulitan yang harus kita hadapi jika hendak membahas bahan sejarah Perjanjian Lama secara bertanggung jawab. Sebab yang utama ialah bahwa proses sejarah ada banyak sumber kuno yang diterbitkan ulang atau diredaksi (diolah kembali oleh penyadur)… Namun, ada kerugiannya yaitu adanya banyak penambahan dan perubahan yang secara bertahap dimasukkan ke dalam naskah, sehingga sekarang sulit sekali untuk menentukan bagian mana dalam naskah historis itu yang orisinal (asli) dan bagian mana yang merupakan sisipan.”



Jadi, dalam pandangan Islam, Yudaisme (agama Yahudi) bukanlah agama yang dibawa oleh Nabi Musa a.s. Tetapi, Yudaisme adalah agama yang menyeleweng dari agamanya  Musa a.s. CM Pilkington, dalam Judaism, menulis: “It was in the 1880’s that the term ‘Judaism’ became widely used and this bacause social and political emancipation then made it necessary for Jews to work out for non-Jews...”  Juga disebutkan, “Judaism is the religion of the Jewish people, upon whom its faith and obligations are binding. The relationship between God and the people of Israel is fundamental.”  Siapakah yang disebut Yahudi?  “According to Jewish Law, as codified in the Talmud and defined by rabbis from late antiquity to the present day, a Jew is a person who is born of a Jewish mother or has been converted to Judaism.”  Louis Jacobs, seorang teolog  Yahudi merumuskan: “A Judaism without God is no Judaism. A Judaism without Torah is no Judaism. A Judaism without Jews is no Judaism.”  (Pilkington, Judaism,  (London: Hodder Headline Ltd.,  2003)).



Bagi kaum Muslim, maka persoalan paling serius dalam Yudaism adalah penolakan mereka terhadap kenabian Muhammad saw. Nabi Isa a.s. pernah mengajak kaumnya (bangsa Yahudi) agar mengimani kenabian Muhammad saw:



“Dan ingatlah ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, membenarkan kitab yang turun sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad. Maka, tatkala Rasul itu datang kepada mereka, dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”
(QS ash-Shaf:6).



Berbeda dengan konsep Yahudi,  Islam sangat menekankan bahwa karunia Allah kepada bangsa Yahudi dikaitkan dengan ketaatan atas perjanjian mereka dengan Allah. Islam tidak mengakui sama sekali adanya konsep yang menyatakan Yahudi sebagai bangsa pilihan dan mendapat karunia sampai kapan pun, tanpa memandang, apakah mereka taat atau tidak kepada Allah. (QS 2:85).  Dalam sejumlah ayat Bible memang disebutkan Israel sebagai anak Tuhan “son of God”.  Kitab Keluaran 4:22-24 menyatakan: “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman Tuhan: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung. Tetapi di tengah jalan, di suatu tempat bermalam, Tuhan bertemu dengan Musa dan berikhtiar untuk membunuhnya.”



Tetapi, Al-Quran menyebutkan, kaum Yahudi adalah bangsa yang sangat rasialis. Allah SWT berfirman (yang terjemahnya): “Katakanlah: hai orang-orang Yahudi, jika kamu mengaku bahwa sesungguhnya kamu saja yang merupakan kekasih Allah, bukan manusia-manusia lainnya, maka harapkanlah kematian, jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS 62: 6).



Dengan klaim sebagai pelanjut keturunan Ibrahim yang sah itulah, kaum Yahudi menggunakan haknya untuk mengusir bangsa Palestina dari negeri mereka. Bahkan, sebagian kelompok, seperti pengikut Meir Kahane, memperbolehkan digunakannya tindak kekerasan untuk mengusir bangsa non-Yahudi dari Palestina. Salah seorang pengikut aliran ini, Yigal Amir, pernah membunuh Yitzak Rabin karena menegosiasikan Tanah yang dijanjikan Tuhan itu (the promised land) dengan bangsa non-Yahudi.



Sikap rasialis Yahudi yang mengklaim sebagai pewaris darah Ibrahim yang sah ini telah dikecam oleh dunia internasional. Resolusi Majelis Umum PBB, No 3379, 10-11- 1975 menyatakan: "Zionisme adalah sebentuk rasisme dan diskriminasi rasial."  Konferensi Asia-Afrika Bandung, Indonesia, 1955, menyebut Zionisme sebagai: “the last chapter in the book of old colonialism, and the one of the blackest and darkest chapter in human history".  Tokoh Partai Nasionalis Indonesia (PNI), Dr. Roeslan Abdulgani juga mencatat: "Zionisme boleh dikatakan sebagai kolonialisme yang paling jahat dalam zaman modern sekarang ini. Ia berbau rasialisme.”



Kritikan keras terhadap rasialis kaum Yahudi juga diberikan oleh cendekiawan terkenal Israel, Prof. Israel Shahak. Dalam bukunya, Jewish History, Jewish Religion, Shahak menulis: “In my view, Israel as a Jewish state constitutes a danger not only to itself and its inhabitants, but to all Jew and to all other peoples and states in the Middle East and beyond.”



Karena itulah, Islam mengecam keras klaim rasialis Yahudi. Kaum Muslim mengikatkan diri dengan Ibrahim a.s., hanya mendasarkan diri pada garis keimanan, bukan “garis darah”.  Maka, dalam perspektif keimanan Islam, hanya Islamlah agama yang menjadi pelanjut agama Ibrahim a.s. yang sah. Sebab, hanya Islam yang mengakui garis kenabian dari Ibrahim a.s. sampai kepada Nabi Muhammad saw.



Karena itu,  dalam pandangan Islam, agama Yahudi (Yudaisme) saat ini bukanlah pelanjut yang absah dari agama Ibrahim a.s. Begitu juga dengan agama Kristen. Dalam pandangan Islam, agama Kristen  saat ini adalah agama yang menyimpang dari agama Nabi Isa a.s. Sebab, sama dengan Yahudi, Kristen juga menolak kenabian Muhammad saw dan bahkan mengangkat status Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan. Al-Quran memberikan kritik-kritik yang sangat mendasar terhadap konsep ketuhanan Kristen ini. (QS 19:88-91, 5:72-75, dll.). Secara tegas, Al-Quran menyebutkan, bahwa Nabi Isa a.s. pernah menyeru Bani Israil agar mengakuinya sebagai Rasul, utusan Allah, dan mengabarkan kedatangan Nabi Muhammad saw.



Sebagai agama wahyu (agama samawi) yang bersumberkan pada wahyu yang bersifat universal dan final, posisi Islam terhadap agama lain bersifat final dan tidak mengikuti dinamika sejarah. Setelah wahyu Allah SWT sempurna diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, maka Allah menegaskan, bahwa ”Pada Hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu, dan Aku cukupkan bagimu nikmat-Ku, dan Aku ridhai Islam sebagai agamamu.” (QS 5:3).



Ayat tersebut secara tegas menyebutkan, bahwa ”Islam” adalah agama yang diridhai oleh Allah. Dan kata ”Islam” dalam ayat ini adalah menunjuk kepada nama agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Bahkan, secara tegas, nama agama ini diberi nama ”Islam” setelah sempurna diturunkan oleh Allah kepada Nabi-Nya yang terakhir, yakni Nabi Muhammad saw.  Para pengikut nabi-nabi sebelumnya diberi sebutan sebagai ”muslimun”, tetapi nama agama para nabi sebelumnya, tidak secara tegas diberi nama ”Islam”, sebagaimana agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Meskipun, semua agama yang dibawa oleh para nabi mengandung inti ajaran yang sama, yakni ajaran Tauhid.



Namun, agama-agama para nabi sebelumnya, saat ini sudah sulit dipastikan keotentikannya, karena kitab mereka sudah mengalami tahrif (perubahan-perubahan) dari pemeluknya. (QS 2:59, 75, 79).  Karena itulah, menurut Islam, harusnya pengikut para nabi sebelumnya, seperti kaum Yahudi dan Nasrani, juga mengimani Muhammad sebagai Nabi Allah SWT. Rasulullah saw bersabda: “Demi Dzat yang menguasai jiwa Muhammad, tidak ada seorang pun baik Yahudi maupun Nashrani yang mendengar tentang diriku dari Umat Islam ini, kemudian ia mati dan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali ia akan menjadi penghuni neraka.” (HR Muslim)



Karakter Islam



Karena Islam memelihara kontinuitas kenabian, maka dalam pandangan Islam, Islam  adalah satu-satunya agama yang memelihara kontinuitas wahyu. Karena itu, Islam bisa dikatakan sebagai satu-satunya agama wahyu, dan satu-satunya agama yang memiliki ritual yang universal, final, dan otentik. Ini disebabkan Islam memiliki teladan (model) yang final sepanjang zaman.  Sifat otentisitas dan universalitas Islam masih terpelihara hingga kini.  Meskipun zaman berganti, ritual dalam Islam tidak berubah. Shalatnya orang Islam di mana pun sama. Tidak pandang waktu dan tempat. (Tentang konsep Islam sebagai “true submission”, lihat disertasi Dr. Fatimah Bt. Abdillah di ISTAC, Kuala Lumpur,  yang berjudul An Analysis of the Concept of Islam as “True Submission” on the Basis of Al-Attas Approach, 1998).



Sebagai agama wahyu, Islam memiliki berbagai karakter khas. Pertama, di antara agama-agama yang ada, Islam adalah agama yang namanya secara khusus disebutkan dalam Kitab Sucinya. Nama agama-agama selain Islam diberikan oleh para pengamat keagamaan atau oleh manusia, seperti agama Yahudi (Judaisme), agama Katolik (Katolikisme), agama Protestan (Protestantisme), agama Budha (Budhisme), agama Hindu (Hinduisme), agama Konghucu (Konfusianisme), dan sebagainya.  Sedangkan Islam tidaklah demikian. Nama Islam, sebagai nama sebuah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhamamd saw,  sudah disebutkan ada dalam Al-Quran:



"Sesungguhnya agama yang diridhai oleh Allah adalah Islam." (QS 3:19). "Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka tidak akan akan diterima dan di akhirat nanti akan termasuk orang-orang yang merugi." (QS 3:85).



Tentang nama Islam sebagai nama agama, cendekiawan besar dari Malaysia Syed Muhammad Naquib al-Attas mencatat dalam bukunya, Prolegomena to The Metaphysics of Islam: “There is only one genuine revealed religion, and its name is given as Islam, and the people who follow this religion are praised by God as the best among mankind… Islam,  then, is not merely a verbal noun signifying ‘submission’;  it is also the name of particular religion descriptive of true submission, as well as the definition of religion: submission to God.”



Demikianlah posisi teologis Islam. Posisi ini tentu saja berbeda dengan posisi teologis Yahudi dan Kristen. Perbedaan ini harus diakui dan dihormati. Bagaimana pun, kaum Yahudi dan Kristen tidak menerima konsep kenabian Muhammad sebagai utusan Allah yang terakhir. Dengan kata lain, dalam pandangan Yahudi dan Kristen, Muhammad saw bukanlah seorang nabi, tetapi seorang pembohong. Dr. Abraham Geiger (m. 1871), salah satu tokoh Yahudi yang menjadi perintis studi Al-Quran di Barat, menulis sebuah buku berjudul What did Muhammad Borrow from Judaism?  Pada posisinya sebagai Yahudi, ia menuduh Nabi Muhammad saw telah menjiplak Bibel dan tradisi ritual Yahudi. Geiger menulis: “Muhammad like the rabbis prescribes the standing position for prayer.”



Kaum Muslim dilarang memaksakan keimanan dan keyakinan mereka kepada kaum Yahudi dan Kristen serta pemeluk agama mana pun. Sebab, telah jelas mana yang benar dan mana yang salah. (QS 2:256). Karena itu, sejak awal kehadirannya, Islam sudah diperintahkan mengakui dan menghormati keyakinan agama lain. Tetapi pada saat yang sama, kaum Muslim juga diperintahkan, agar memproklamasikan dirinya sebagai Muslim: Isyhaduu bi-anna Muslimun.  (Saksikanlah bahwa kami adalah Muslim). Seorang anak yang Muslim tetap wajib menghormati kedua orang tuanya, meskipun mereka belum memeluk Islam. Rasulullah juga membangun hubungan baik dengan tetangganya yang Yahudi.



Jadi, menurut Islam, sangatlah tidak benar, jika problem politik dan sosial sampai mengubah konsep teologis kaum Muslim terhadap agama lain.  Berbeda dengan kaum Pluralis agama yang berjuang untuk menggerus keyakinan tiap agama – digantikan dengan konsep global theology –, Islam memandang kerukunan umat beragama harus dibangun di atas dasar penghormatan kepada keyakinan masing-masing agama.  Karena ada perbedaan itulah, maka ada dialog dan diskusi. Karena ada perbedaan itulah, ada dinamika hidup dan upaya membangun saling pengertian dan kerukunan. Bukan justru merusak keyakinan masing-masing agama untuk dibawa kepada satu agama baru bernama ”Pluralisme Agama”. [Bersambung/www.hidayatullah.com].



Penulis adalah Wakil Ketua Komisi Kerukunan Umat Beragama—Majelis Ulama Indonesia.

(read more ...)




BANDUNG (Arrahmah.com) - Ayu Azhari serius untuk mencalonkan diri sebagai calon Wakil Bupati Sukabumi. Saat mendaftarkan secara resmi pencalonannya di DPD PDIP jabar kemarin, terungkap dia sudah siap dari segi pendanaan. Ayu sudah menyiapkan dana Rp10 miliar untuk kegiatan kampanyenya.


“Setelah melihat pemaparan tadi, Ayu cukup berkualitas. Termasuk, berpikir panjang menyiapkan dana untuk kampanye,” ujar Ketua Fraksi PDIP DPRD Jabar Agus Yulianto.



Kedatangan Ayu ke kantor DPD PDIP Jabar kemarin menepis keraguan publik mengenai serius tidaknya dia maju di pilkada Sukabumi. “Saya serius maju dan tidak main-main,” ujar Ayu yang mengenakan stelan jas hitam dibalut celana panjang yang juga hitam.



Ayu mengaku tidak peduli dengan anggapan sebagian kalangan yang mempertanyakan keputusannya maju dalam pilkada di Kabupaten Sukabumi. Pasalnya, kata dia, selain yang kontra Ayu mengklaim tidak sedikit juga yang mendukungnya untuk maju.



Kakak kandung Sarah Azhari itu  tiba di kantor DPD PDIP Jabar pukul 10.00 dengan mengendarai mobil Mercedes Benz Kompressor dengan Nopol B 600 ZUL berwarna hitam. Ayu disambut dan diterima berkas pendaftarannya oleh Ketua DPD PDIP Jabar Rudy Harsa Tanaya.



Ayu membantah bahwa keputusannya untuk maju untuk meraih popularitas atau kekayaan. Menurutnya, keputusan maju dalam pertarungan politik lebih disebabkan karena keinginannya membangun Sukabumi ke arah yang lebih baik lagi.



Dia pun mengaku sudah cukup mengenal daerah Sukabumi.  "Karena saat main film sering syuting di daerah ini.  Saya melihat Sukabumi memiliki potensi untuk bisa lebih maju lagi,” terang artis yang memiliki nama asli Khadijah Azhari ini.



Ayu mengaku sudah mendapat dukungan dari sebagian kalangan di Kabupaten Sukabumi. Termasuk, dari kalangan pesantren. “Motivasi saya murni untuk memberikan yang terbaik bagi warga Sukabumi,” jelasnya.



Mengenai pencalonannya sendiri, Ayu mengaku sudah berkonsultasi dengan suaminya Mike Tramp. Bahkan, suaminya sangat mendukung. Ditanya program yang akan dikerjakan jika menjadi orang nomor dua di Pemkab Sukabumi, dia menjawab, "Saya ingin memberdayakan potensi perempuan dan anak-anak."



Ketua DPD PDIP Jabar Rudy Harsa Tanaya menyatakan, Ayu memang sebelumnya tidak sempat diundang. Pasalnya tidak memenuhi undangan saat verifikasi di tingkat DPC Sukabumi. “Ayu memberi alasan karena ada kegiatan sosial yang tidak bisa ditinggalkan,” paparnya.



Dijelaskan, Ayu meminta waktu untuk mengikuti verifikasi terakhir sebelum semua berkas diserahkan pada DPP PDIP untuk mendapat keputusan. "Kita lihat potensinya besar, sayang kalau ditinggalkan," katanya.



Rudy menyatakan, Ayu mendaftarkan diri maju sebagai Calon Wakil Bupati Sukabumi. Menurutnya, Ayu memiliki kans yang sama dengan calon lainnya. “Selanjutnya semua calon yang mendaftar akan kita laporkan ke DPP PDIP untuk diputuskan,” katanya.



MUI:  Pilih pemimpin yang kuat agamanya sesuai kriteria Islam




Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, H. Amidhan menyayangkan adanya kepentingan pihak-pihak tertentu untuk  menangguk suara terbanyak dalam pencalonan pencalonan bomseks Ayu Azhari sebagai Wakil Bupati Sukabumi. Jika hanya berorientasi pada jumlah suara dalam pilkada, maka amat disayangkan bila terjadi kampanye yang kontraproduktif. Amidhan mengimbau umat Islam Sukabumi untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan karakter Sukabumi.



"Sukabumi itu kan kota yang kuat agamanya," jelasnya.



Amidhan juga mengimbau masyarakat Sukabumi untuk memilih pemimpin berdasarkan kriteria yang sesuai dengan syariat Islam.

"MUI memang punya kriteria atau syarat menjadi pemimpin yakni di antara sebagai pemimpin itu harus beriman, takwa, memperjuangkan kepentingan umat, integritasnya teruji dan memiliki visi misi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan," pungkas Amidhan.(voa-islam/arrahmah.com)


(read more ...)



AS—jika jadi, akan segera enyah dari bumi Iraq. Dan 7 Maret mendatang, Iraq akan mulai melaksanakan pemilu mereka. Namun tujuh tahun setelah Saddam Hussein dilengserkan, ancaman besar lainnya menanti rakyat Iraq: Syiah.

Konstalasi politik Iraq tidak berjalan dengan benar. Semua berjalan tak tentu arah; siapa yang mempunyai kesempatan dan back-up yang kuat, itulah yang tampil. Hanya dua bulan menjelang dilaksanakannya pemilu, 500 orang calon dari Sunni dikeluarkan dari daftar. Bukan tanpa tendensi tentu saja. Tampaknya AS sadar betul bagaimana menyusun skenario jika negeri yang sudah porak-poranda ini ditinggalkannya. Tentu, untuk memudahkan semua akses di masa yang akan datang, AS harus menimbang kekuatan-kekuatan yang lebih memungkinkan hal itu terjadi.



Jumlah kaum Syi’ah di Iraq sebenarnya sangat besar—mencapai sekitar 60 persen dari jumlah total 24 juta penduduknya. Sisanya adalah penganut Sunni yang menguasai politik Iraq.


Sejak masa Saddam berkuasa, acara-acara yang berhubungan dengan kaum Syi’ah dilarang. Seperti diketahui, pada waktu Saddam berkuasa, kaum Syiah sama sekali tidak diberi ruang dikarenakan penyimpangan aqidah mereka. Sudah sejak lama Saddam menyadari Syiah melenceng dari ajaran Islam. Ketika Saddam jatuh, maka kaum Syiah seolah-olah membalas dendam kepada kaum Sunni. Mereka sengaja membuat isyu yang meminggirkan kaum Sunni lebih dekat kepada Al Qaidah sebagai pelindung setelah kejatuhan Saddam.


Setelah masa kependudukan Arab, bahkan Iran mempunyai pengaruh lebih buruk lagi terhadap Iraq. Keberadaan kaum syiah yang ada di Iraq menjadi salah satu penyebabnya. Kaum Syi’ah Iraq dipercayai lebih loyal terhadap Iran daripada Iraq sendiri. Pada akhirnya sentimen golongan tidak bisa dipisahkan pada permasalahan Iraq sebenarnya. Namun walaupun sekarang Saddam sudah tidak ada, tetap saja rakyat Iraq menolak Syiah dengan tegas.


Sebelum Saddam jatuh, sebenarnya Syiah dari Iran sudah bersiap-siap masuk di pintu depan. Orang-orang Iran serta merta memperbaiki hubungan dengan Irak. Caranya? Selain ramai oleh invasi AS, jangan salah, di Iraq juga terjadi asimilasi kebudayaan, politik, dan ekonomi orang-orang Syiah. Sekarang, menjelang AS meninggalkan Iraq, kader-kader Syiah siap menduduki berbagai posisi penting di berbagai instansi penting pemerintahan. Bahkan, tidak mustahil, presiden Iraq berikutnya berasal dari kaum Syiah.



Lantas, apakah salah jika Iraq dikuasai oleh Syiah? Merunut sejarah Syiah sendiri yang dibentuk oleh seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba, tentu jelas, perlu diwaspadai. Selama berabad-abad lamanya Baghdad telah menjadi salah satu kota dengan peradaban Islam paling orisinil di dunia. Amerika telah meremukkan Fallujah, kota dengan seribu masjid dan juga menyimpan kekayaan sejarah Islam. Dan jika ini terjadi—Baghdad jatuh ke tangan kaum Syiah, maka semua peninggalan historis Islam akan dikikis habis berganti dengan nilai-nilai Syiah yang sementara waktu ini selalu dianggap sebagai budaya Islam.


Tidak pelak AS telah meninggalkan bom waktu di Iraq bernama Syiah. Kini, konflik antara pengikut Sunni dan Syiah di Iraq, tak dapat dielakkan. Kalangan Sunni, khawatir kelompok Syiah mendominasi angkatan bersenjata Iraq, sementara itu kelompok Syiah, mulai mengincar kekuasaan di Iraq.


Siapa yang akan keluar sebagai pemenang? 7 Maret 2010 akan menjawabnya. (sa/fp/berbagaisumber)


*eramuslim.com




 

(read more ...)




Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.


Apa Itu Syi’ah?


Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji)


Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm)


Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147, karya Asy-Syihristani)


Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.


Rafidhah , diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna , meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829). Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan ‘Umar c, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi . (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah Al-Jumaili)


Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar’.” (Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)

Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)


Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari berkata: “Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar, dan memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka:


“Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).

Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.

Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna ‘Asyariyyah.



Siapakah Pencetusnya?


Pencetus pertama bagi faham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4/435)


Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?

Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.


a. Tentang Al Qur’an

Di dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad  (ada) 17.000 ayat.”

Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian…’.”

(Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir).

Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.


b. Tentang shahabat Rasulullah

Diriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)

Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)

Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)

Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah , mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:


Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah)

(Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)

Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18)

Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah  lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)

Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi  namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad  ) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hal. 580)


c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)

Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)

Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib  dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah . Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)

Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.


d. Tentang Taqiyyah

Taqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)

Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami: “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196). Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata: “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)


e. Tentang Raj’ah

Raj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)


f. Tentang Al-Bada’

Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah . Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.

Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah , dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)


Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah


Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja.


1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata: “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)


2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)


3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.


4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)


5. Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)


6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah , maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah . Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)


Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran…Amin.


(read more ...)



oleh Kopri Nurzen 





Saat ini setidaknya ada tujuh orang perempuan yang saya kenal yang sedang mencari pendamping hidup. Sebagian sudah menampakkan rona keputusasaan dalam sikap dan pernyataannya menanti kekasih halal untuk berbagi suka dan duka. Kegigihan mereka menjaga ajaran agama tampak jelas, baik dari sikap maupun pakainnya.


Dari sisi rupa, sebenarnya mereka tidaklah jelek, justru cantik seperti perempuan Indonesia lainnya. Di antara mereka ada juga orang berada. Dan yang pasti mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan, bahkan ada yang sudah jadi guru dan dosen. Saya heran kenapa mereka belum menikah? Padahal ditanya keinginan, semua sudah sangat ingin menikah. Sebagian dengan bahasa sindiran minta dicarikan jodoh kepada saya dan istri. Ada juga yang secara terus terang, memohon dengan memelas karena merasa harapannya sudah hampir pupus. Beberapa calon yang selama ini menghampirinya kini sudah tak datang lagi. Padahal usianya sudah hampir sepertiga abad. Ada juga yang sudah mendaftar di biro jodoh tertentu dan biodata sudah diserahkan, tapi tetap saja tidak membawa hasil.


Diakui, sebagian dari mereka itu belum menikah karena keteledoran sendiri atau keluarga yang terlalu banyak kriteria. Namun, sebagian lagi belum menikah karena selama ini menjaga diri dan kehormatan, sehingga tidak mengenal seorang laki-laki pun secara dekat. Dia tidak pacaran, karena baginya pacaran itu haram tidak sesuai dengan aturan hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam.


Kampung halaman tempat mereka dibesarkan tidak lagi menjadi tempat yang nyaman seperti ketika kecil dulu. Pertanyaan, kapan menikah atau sindirin sudah saatnya menikah tapi kok belum juga, stigma tidak laku, gelar "perawan tua" atau sok suci karena gak mau pacaran, atau karena memakai jilbab membuat mereka tidak betah di hidup di sana. Makanya, banyak dari mereka memilih merantau agar jauh dari kampung, hanya untuk menghindari sindiran atau cemoohan orang kampung saja, sambil menunggu pendamping yang tak kunjung datang. Kenyataan semua teman-teman SD mereka yang tinggal di kampung dan tidak berpendidikan sudah menikah dan punya anak, membuat hati mereka bertambah pilu.


Hati siapa yang tak teiris melihat perempuan yang menjaga kehormatan menanggung sulit sebegitu rupa? Tapi itulah kenyataan yang mereka alami. Sebagian laki-laki mapan yang sanggup menaungi beberapa keluarga tidak berpikir untuk menyelamatkan mereka. Karena masyarakat pasti mengecapnya sebagai orang yang tak punya perasaan, atau bernafsu besar dan stigma buruk lainnya. Begitu juga dengan si perempuan tidak mau dimadu atau jadi istri kedua, karena statusnya sangat buruk di mata keluarga dan lingkungan sekitar. Pilihannya hanya menunggu dan menunggu. Sampai kapan? Entahlah.


Ironis sekali, umat Islam sudah meninggalkan sunnah Nabinya dalam menyelamatkan perempuan, bahkan menganggap sunah Nabi itu sebagai sesuatu yang tercela. Kenyataannya sesuai dengan yang digambarkan Nabi dalam sebuah hadisnya bahwa suatu saat umat ini akan mengikuti jalan orang Yahudi dan Nasrani. Sabdanya, "Kalian akan mengikuti jalan orang yang (diberi Al Kitab) sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, bahkan jika salah satu dari mereka masuk ke lubang biawak kalian pun akan mengikutinya." Para sahabat bertanya, " Wahai Rasulullah, apakah yang Engkau maksud itu orang Yahudi dan Nasrani,?" Nabi saw menjawab, "Siapa lagi kalau bukan mereka." (HR. Bukhari)


Informasi Nabi ini sudah merealisasi pada zaman kita. Umat, secara umum sudah mulai mengelupas satu persatu dari sunnah-sunnahnya yang sesuai dengan fitrah, memilih berjalan di balik logika yang sempit dan dikeruhi hawa nafsu. Akibatnya, banyak dari kalangan umat Islam sendiri yang teraniaya.


Menjaga kehormatan bagi mereka yang teraniaya itu bagai menggenggam bara api. Hati gelisah, lingkungan menekan dan hasrat ingin bahagia pun tak kunjung padam. Sampai kapankah mereka sabar menahan bara tersebut? Akankah bara itu mereka lepaskan dan bertindak nekad memasuki dunia kenistaan, seperti wanita yang ada di Negara-negara Yahudi dan Nasrani? Jawabannya tergantung kita.


Tulisan ini bukan ingin mempropagandakan agar setiap laki-laki muslim menikahi perempuan yang berbilang. Karena tidak semua laki-laki layak melakukannya secara sunnah. Namun stigma negatif yang disebarkan seputar orang-orang yang melakoni pernikahan ini baik laki-laki atau pun perempuan yang mesti ditepis, agar setiap wanita dari umat ini mendapatkan hak biologisnya secara halal dan juga haknya untuk hidup bahagia. Dan juga, agar umat ini tidak memasuki lubang biawak kenistaan seperti umat Yahudi dan Nasrani.


(Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri)


*eramuslim.com



(read more ...)




Diposting pada Rabu, 06-01-2010 | 12:59:57 WIB

Kota Manokwari saat ini menjadi perhatian umat Islam nusantara. Kota yang terletak di bagian kepala burung pulau paling timur Indonesia (Papua) itu menjadi pusat perhatian. Pasalnya, di kota itu akan diterapkan peraturan daerah yang berbasis pada Injil.



Bermula sekitar bulan Februari 2006, ketika Pemerintah Kabupaten dan DPRD Manokwari Provinsi Irian Jaya Barat (Irjabar) menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Kota Injil. Namun perkembangan Raperda tersebut, hingga kini masih belum jelas.



Adanya Raperda tersebut, mendapat respon yang beragam dari berbagai kalangan. Selain dinilai berpotensi merugikan salah satu kelompok agama tertentu, juga berpotensi menimbulkan konflik yang berbau SARA.



Untuk memuluskan pengesahan Perda Injil Manokwari, sebanyak 13 anggota DPRD Kabupaten Manokwari mengadakan studi banding di Aceh (27/7/2009). Dalam studi banding tersebut, DPRD Aceh berharap bila Perda Manokwari Kota Injil diberlakukan maka tidak boleh menghambat kerukunan beragama.



Pada periode 2009-2014 sekarang, dari 13 anggota DPRD itu hanya dua orang saja yang masih menjadi anggota DPRD. Kini, nasib Raperda Manokwari Kota Injil masih di tangan DPRD periode 2009-2014 itu.



Raperda Kota Injil dan Rencana Pembangunan Masjid Raya dan Islamic Centre Papua



Alasan yang sangat populer munculnya Raperda Kota Injil ini sebagai pengakuan terhadap sejarah bahwa Manokwari sebagai pintu bagi penyebaran Kristen di tanah Papua. Pada tangal 5 Februari 1855, dua misionaris Jerman, Carl Ottow dan Johan Gottleib Geissler (dikenal sebagai Rasul di Papua), tiba di pulau Mansinam, di pesisir Manokwari, dan menegaskan kawasan ini sebagai tanah suci. Sejak itu, Manokwari dikenal secara tak resmi sebagai “Kota Injil”, dan dalam tahun-tahun belakangan diadakan perayaan untuk memperingati peristiwa itu setiap tanggal 5 Februari. Dengan terbitnya Perda Kota Injil diharapkan tidak hanya masyarakat yang mengakui kekudusan kota Manokwari, namun juga pemerintah. Untuk selanjutnya ada konsuekensi-konsuekensi: menjadikan ajaran-ajaran Injil sebagai dasar-dasar kebijakan pemerintah.



Di balik alasan klasik tersebut, ada pertanyaan yang sangat menggelitik, mengapa tuntutan itu baru muncul pada awal tahun 2006? Apabila masyarakat Kristen di tanah Papua telah memberikan pengakuan Manokwari sebagai Kota Injil mengapa perlu ada pengesahan dari pemerintah? Benarkah alasan dari tuntutan itu hanya dari faktor sejarah? Inti dari pertanyaan di atas terletak pada, pengesahan itu dituntut pada lembaga politik, mengapa sejatinya tuntutan tersebut tidak bisa lepas dari pertimbangan politik pula.



Ada yang berpendapat bahwa alasan Raperda Kota Injil tidak merujuk pada peristiwa pada abad ke-19: masuknya Injil ke tanah Papua pada tahun 1855, namun pada peristiwa di abad ke-21 ini tepatnya tahun 2005, yaitu rencana pembangunan masjid raya dan Islamic Centre di Manokwari.



Konon luas area Islam Centre tersebut sampai empat hektar dan akan menjadi Islamic Centre terbesar di Asia Tenggara. Lokasinya juga menjadi sumber penolakan umat Kristen di Manokwari yang berada di dekat Bandara: setiap orang yang baru tiba di Manokwari dari atas pesawat akan melihat kubah masjid, bukan bangunan gereja. Sehingga citra Manokwari sebagai Kota Injil akan berubah menjadi Kota Muslim.



Rencana pembangunan Islamic Centre tersebut diakui oleh seorang tokoh Muslim Manokwari yang tidak mau dikutip namanya. Menurutnya, masjid raya dibutuhkan di Manokwari sebagai ibu kota provinsi Papua Barat dan di setiap ibu kota provinsi pasti ada masjid raya. Sedangkan kompleks Islamic Centre akan menjadi kantor-kantor dari ormas-ormas Islam yang ada di Manokwari, dan tidak hanya itu saja, di Islamic Centre akan dibangun fasilitas umum: rumah sakit, pelayanan sosial yang tidak hanya bisa dimanfaatkan oleh umat muslim saja, namun oleh umat non-muslim. Bagi tokoh ini, isu yang selama ini berkembang di Manokwari terlalu dilebih-lebihkan dan merupakan kekhawatiran yang tidak memiliki dasar. “Tidak ada niat umat Islam ingin menjadikan Manokwari sebagai kota Islam,” katanya.



Buktinya, gereja di Manokwari sangat banyak dan besar-besar, tidak mungkin bangunan masjid raya di sini akan mengubah citra Kota Manokwari, dan hal yang lumrah kalau Manokwari sebagai kota provinsi memiliki masjid raya, karena hingga saat ini Manokwari tidak memiliki masjid untuk ukuran masjid raya.



Pendapat tokoh Muslim Manokwari tersebut diaminkan oleh Haji Udin, tokoh masyarakat muslim di sana dan anggota DPRD dari Partai Bulan Bintang (PBB). Menurutnya, penolakan terhadap rencana pembangunan masjid itu sebenarnya menyakitkan hati umat Islam, namun dia tetap ingin terus membuka dialog dan pertemuan dengan tokoh-tokoh Kristen untuk menyampaikan informasi yang benar tentang rencana pembangunan masjid raya. Dan semangat umat Islam di Manokwari untuk membangun sebuah masjid raya tidak pernah luntur, namun masalahnya adalah bagaimana proses tersebut tidak memancing konflik. “Kami sangat berkepentingan menjaga keamanan di kota ini, karena kalau terjadi konflik umat Islam lah yang akan pertama kali menjadi korban,” katanya.



Umat Islam siap berjihad



Meski Perda Kota Injil ini masih dalam rancangan dan belum juga disahkan, jauh-jauh hari Ustadz Abu Bakar Ba’ayir sudah memberikan peringatan agar tidak ada kezaliman mayoritas terhadap minoritas di Papua. Amir Jama’ah Anshorut Tauhid ini bahkan bertekad akan mengirimkan laskar mujahidin ke Papua bila umat Islam dizalimi di Papua. Hal itu disampaikan di hadapan ribuan jamaah pengajian di Masjid Ramadhan Bekasi, Ahad (03/01).



“Kalau nanti (Manokwari) sudah jadi kota Injil, orang dilarang berjilbab, dilarang azan, dilarang bikin masjid, umat Islam harus menentang itu.  Kalau itu betul-betul terjadi, saya berpendapat mengirimkan mujahidin ke sana, seperti Poso kemarin!”



Ustad sepuh ini beralasan bahwa pelarangan hak asasi umat Islam berarti menantang umat Islam.



“Kalau azan dilarang, shalat dilarang, itu mengajak perang namanya. Kalau mampu, lawan itu. Kalau tidak mampu sabar saja. Kita mampu melawan di Manokwari, kita datang ke sana, kita perangi mereka. Karena itu berarti mengumumkan perang melawan Islam,” tegasnya.



“Kalau pemerintah tidak mampu melawan, kita yang akan datang ke sana untuk melawan,” pungkasnya.



[muslimdaily.net/voa-islam]


(read more ...)




Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.


Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?.


Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.


Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.


Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.


Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.


Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.


Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Quran mereka juga berbeda dengan Al-Quran kita (Ahlussunnah).


Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qurannya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.


Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.


Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).


 


1.      Ahlussunnah         : Rukun Islam kita ada 5 (lima)


a)      Syahadatain


b)      As-Sholah


c)      As-Shoum


d)      Az-Zakah


e)      Al-Haj


Syiah                     : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:


a)      As-Sholah


b)      As-Shoum


c)      Az-Zakah


d)      Al-Haj


e)      Al wilayah


 


2.      Ahlussunnah         : Rukun Iman ada 6 (enam) :


a)      Iman kepada Allah


b)      Iman kepada Malaikat-malaikat Nya


c)      Iman kepada Kitab-kitab Nya


d)      Iman kepada Rasul Nya


e)      Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat


f)       Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.


Syiah                     : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*


a)      At-Tauhid


b)      An Nubuwwah


c)      Al Imamah


d)      Al Adlu


e)      Al Ma’ad


 


3.      Ahlussunnah         : Dua kalimat syahadat


Syiah                     : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.


 


4.      Ahlussunnah         : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.


Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.


Syiah                     :  Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.


 


5.      Ahlussunnah         : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :


a)      Abu Bakar


b)      Umar


c)      Utsman


d)      Ali Radhiallahu anhum


Syiah                     : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membaiat dan mengakui kekhalifahan mereka).


(read more ...)




JAKARTA  - Uskup Agung Yulius Kardinal Darmaatmadja dalam pesan natalnya menyesalkan Gereja stasi Albertus di Bekasi yang dirusak oleh orang tidak bertanggung jawab. Pernyataan itu disampaikan pada acara misa Natal di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Jumat (25/12/2009) .


"Ketika Gereja stasi Albertus yang sedang dibangun, pada malam hari raya Muharam atau 1 syuro atau malam tanggal 18 Desember didatangi ratusan orang yang tidak bertanggungjawab merusak Gereja yang sedang dalam proses pembangunan," demikian pesan Romo Kardinal sebagaimana dilansir dalam detiknews.com berjutul "Uskup Agung Prihatin Gereja Bekasi Dirusak."


Berita yang sama juga diwartakan oleh portal berita okezone.com berjudul “Uskup Agung Sesalkan Pengrusakan Gereja di Bekasi” dan vivanews.com berjudul “Uskup Agung Prihatin Kasus Gereja di Bekasi.”


Bila portal detik.com, vivanews.com dan okezone.com tidak salah kutip, maka menurut hemat kami, pernyataan Uskup Agung bahwa gereja Santo Albertus dirusak orang tak bertanggungjawab itu patut dipertanyakan karena beraroma kebohongan.


..pernyataan Uskup Agung bahwa gereja Santo Albertus dirusak orang tak bertanggungjawab itu patut dipertanyakan karena beraroma kebohongan.. .


Pertama, Uskup Agung menyebut “Ratusan orang yang tidak bertanggungjawab merusak gereja.” Pernyataan ini tidak berdasar sama sekali dan cenderung provokatif. Faktanya, gereja yang sejak awal pendiriannya mendapat penentangan warga Bekasi itu hingga kini masih berdiri kokoh. Tak ada bagian gereja yang tergores, terjilat api apalagi mengalami kerusakan berat. Fakta ini penulis saksikan dengan mata kepala esok hari setelah insiden malam tahun baru terjadi.


Kedua, Pernyataan Romo Kardinal tentang adanya “gereja yang dirusak,” membuktikan bahwa Romo Kardinal belum melihat langsung ke gereja yang dimaksud, melainkan hanya mendengar berita yang tidak bisa dipertanggungjawabk an.


Selain itu, Romo Kardinal juga membesar-besarkan masalah dan menihilkan keberadaan Kapolres Metro Bekasi. Pascainsiden malam tahun baru, Kapolres Metro Bekasi AKBP Imam Sugianto membantah terjadi pembakaran gereja Katolik Santo Albertus di perumahan Harapan Indah, Bekasi. Menurutnya yang dibakar bukan gerejanya, tapi hanya bedeng pekerja kuli bangunan gereja itu.


"Saya tidak setuju kalau disebut pembakaran gereja. Karena bukan gereja yang dibakar, tapi bedeng tempat pekerja dan kantor pekerja konstruksi. Kalau gerejanya sudah 60 persen jadi, itu tidak dibakar," kata Imam dalam Tempo Interaktif, Ahad (20/12/2009) .


..Romo Kardinal juga membesar-besarkan masalah dan menihilkan keberadaan Kapolres Metro Bekasi..


Ketiga, Pernyataan Romo Kardinal tentang adanya “orang tidak bertanggung jawab” dalam insiden tersebut, jelas membuktikan bahwa Romo Kardinal tidak mengetahui permasalahan dengan jelas dan jernih. Faktanya, pasca insiden tahun baru itu, polisi mengamankan 33 orang yang dicurigai sebagai pelaku. Karena tak cukup bukti, ke-32 orang itu dilepaskan, dan hanya satu orang yang ditahan, yaitu Ahmad Rosidi alias Jagur, warga Babelan. Jagur hingga kini masih ditahan polisi karena mempertanggungjawab kan perbuatannya yang diduga melakukan tindak pidana.


Untuk itu, kami akan bersuka cita kepada Romo Kardinal Yulius Kardinal Darmaatmadja selaku Uskup Agung, bila beliau mempertimbangkan masak-masak segala pernyataan di hadapan jemaatnya. Janganlah memperkeruh suasana “konflik” antarumat beragama dengan pernyataan-pernyata an yang tidak sesuai dengan fakta dan data. Karena segala ucapan yang berbeda dengan realita adalah sebuah kedustaan. Dan kedustaan adalah sikap yang tidak terpuji menurut semua agama.


Janganlah memperkeruh suasana “konflik” antarumat beragama dengan pernyataan-pernyata an yang tidak sesuai dengan fakta dan data. Karena segala ucapan yang berbeda dengan realita adalah sebuah kedustaan...


Menurut Al-Qur’an, dusta adalah salah satu tanda orang munafik (Al-Munafiqun 1). Orang yang mengadakan kebohongan adalah pendusta yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (An Nahl 105) yang diancam dengan wail (kecelakaan) dan siksaan yang pedih (Al Baqarah 10, Al-Jatsiyah 7).


Mari kita jauhi segala dusta, karena tindakan dusta itu tidak akan memasyhurkan nama Tuhan. Bukankah Alkitab (Bibel) juga mengecam dusta sebagai tindakan yang harus dijauhi (Keluaran 23:7, Ulangan 5:20, Imamat 19:11) yang melanggar kekudusan nama Tuhan (Imamat 19:12) dan merupakan suatu dosa (Yesaya 5:18). Jika penginjil berdarah Madura ini tidak berhenti dari dustanya, maka Yesus akan mengecamnya sebagai “hamba iblis” (Yohanes 8: 44)? Bukankah kedustaan adalah kekejian dan dosa di mata Tuhan?


“Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi Tuhan” (Amsal 12:22).


“Celakalah mereka yang memancing kesalahan dengan tali kedustaan dan dosa” (Yesaya 5:18).

[Mulyadi Abdul Gani, Wakil Sekretaris Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, email: mulyadi.abdulgani@ gmail.com]


(read more ...)





Berjuanglah..…wahai saudaraku, berjuanglah…..! Musuh-musuhmu berjuang dan bergerak siang dan malam tanpa mengenal lelah. Mereka tidak mengharapkan apa-apa dari Allah, karena memang mereka tidak beriman kepada-Nya. Tetapi walaupun demikian mereka terus bergerak, berjuang dan berkorban demi tujuan-tujuan mereka yang batil. Engkau, wahai saudaraku, adalah seorang mukmin yang mengharapkan derajat yang tinggi di sisi Allah, di surga-Nya kelak. Berjuanglah, berjuanglah dan berkorbanlah semaksi-mal mungkin !  Bergeraklah tanpa mengenal lelah, berjuanglah tanpa takut dan berkorbanlah tanpa ragu-ragu.


 


Selama aqidahmu benar, selama manhajmu benar, ber-geraklah tanpa ragu. Jangan takut salah. Tak ada pejuang yang tidak bersalah. Hanya orang yang tidak berjuanglah yang tidak bersalah, karena dia sudah menjadi segumpal kesalahan. Berjuanglah, Rabbmu mencintai setiap pejuang Islami dan Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


 


Bergeraklah ya akhi…, jangan sampai terlambat menyenyamatkan saudara-saudaramu seagama yang sedang digiring ke pintu-pintu Jahannam. Usir semua bisikan yang menyuruh-mu untuk membeku, tekan semua perasaanmu yang berge-jolak untuk tidak mentaati pimpinanmu dalam hal ma`ruf, karena yang demikian adalah titik mula kegagalanmu. Jangan ikhlas pada dirimu sendiri, ikhlaslah hanya  kepada Allah.


 


Ketahuilah ya akhi…bahwa semua yang ada di sekelilingmupun bergerak. Bumi yang kau pijak berputar, waktu dan hari-hari pun berlari, usiamupun berlanjut dan musuh-musuhmupun bergerak bagaikan binatang jalang.


 


Engkau adalah harapan ummat setelah Allah. Jangan kau kecewakan mereka. Betapa malunya engkau, ketika menemui Allah kelak, jika engkau hanya membeku dan menjadi pe-nonton belaka. Betapa malunya jiwamu di hadapan tua renta yang tersesatkan sejak mudanya, kalau kau tidak berusaha menyelamatkan mereka dari Jahannam. Bagaimanakah nasib generasi anak-anakmu kelak kalau engkau meninggalkan perjuangan sekarang.


 


Tunjukan kepada Allah, bahwa dirimu adalah ksatria Islam yang gigih berusaha untuk mendirikan masyarakat Islami. Seorang pejuang yang berjuang untuk meninggikan kalimatullah dan bukan seorang insan yang hanya mengejar kenikmatan dunia belaka. (renungan haroki/www.hasmi.org)


 



(read more ...)



Freeport di Papua, telah mencetak keuntungan finansial yang sangat besar bagi perusahaan asing tersebut, namun belum memberikan manfaat optimal bagi negara, Papua, dan masyarakat lokal di sekitar wilayah pertambangan.


Berikut ini merupakan laporan khusus yang ditulis oleh Ketua KPK-N (Komite Penyelamat Kekayaan Negara), Marwan Batubara *). Laporan khusus ini tersaji dalam sebuah buku beliau yang berjudul Menggugat Pengelolaan Sumber Daya Alam, Menuju Negara Berdaulat.


Insya Allah, Eramuslim akan memuat tulisan ini dalam rubrik laporan khusus yang disajikan secara berseri.


***




Latar Belakang


Aktivitas pertambangan PT Freeport McMoran Indonesia (Freeport) di Papua yang dimulai sejak tahun 1967 hingga saat ini telah berlangsung selama 42 tahun. Selama ini, kegiatan bisnis dan ekonomi Freeport di Papua, telah mencetak keuntungan finansial yang sangat besar bagi perusahaan asing tersebut, namun belum memberikan manfaat optimal bagi negara, Papua, dan masyarakat lokal di sekitar wilayah pertambangan.


Dari tahun ke tahun Freeport terus mereguk keuntungan dari tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Para petinggi Freeport terus mendapatkan fasilitas, tunjangan dan keuntungan yang besarnya mencapai 1 juta kali lipat pendapatan tahunan penduduk Timika, Papua. Keuntungan Freeport tak serta merta melahirkan kesejahteraan bagi warga sekitar. Kondisi wilayah Timika bagai api dalam sekam, tidak ada kondisi stabil yang menjamin masa depan penduduk Papua.


Penandatanganan Kontrak Karya (KK) I pertambangan antara pemerintah Indonesia dengan Freeport pada 1967, menjadi landasan bagi perusahaan ini mulai melakukan aktivitas pertambangan. Tak hanya itu, KK ini juga menjadi dasar penyusunan UU Pertambangan Nomor 11/1967, yang disahkan pada Desember 1967 atau delapan bulan berselang setelah penandatanganan KK.


Pada Maret 1973, Freeport memulai pertambangan terbuka di Ertsberg, kawasan yang selesai ditambang pada tahun 1980-an dan menyisakan lubang sedalam 360 meter. Pada tahun 1988, Freeport mulai mengeruk cadangan raksasa lainnya, Grasberg, yang masih berlangsung saat ini. Dari eksploitasi kedua wilayah ini, sekitar 7,3 juta ton tembaga dan 724, 7 juta ton emas telah mereka keruk. Pada bulan Juli 2005, lubang tambang Grasberg telah mencapai diameter 2,4 kilometer pada daerah seluas 499 ha dengan kedalaman 800m. Diperkirakan terdapat 18 juta ton cadangan tembaga, dan 1.430 ton cadangan emas yang tersisa hingga rencana penutupan tambang pada 2041.


Aktivitas Freeport yang berlangsung dalam kurun waktu lama ini telah menimbulkan berbagai masalah, terutama dalam hal penerimaan negara yang tidak optimal, peran negara/BUMN untuk ikut mengelola tambang yang sangat minim dan dampak lingkungan yang sangat signifikan, berupa rusaknya bentang alam pegunungan Grasberg dan Erstberg. Kerusakan lingkungan telah mengubah bentang alam seluas 166 km persegi di daerah aliran sungai Ajkwa.


Permasalahan


Freeport mengelola tambang terbesar di dunia di berbagai negara, yang didalamnya termasuk 50% cadangan emas di kepulauan Indonesia. Namun, sebagai hasil eksploitasi potensi tambang tersebut, hanya sebagian kecil pendapatan yang yang masuk ke kas negara dibandingkan dengan miliaran US$ keuntungan yang diperoleh Freeport. Kehadiran Freeport pun tidak mampu menyejahterakan masyarakat di sekitar wilayah pertambangan, namun berkontribusi sangat besar pada perkembangan perusahaan asing tersebut.


Pada tahun 1995 Freeport baru secara’resmi mengakui menambang emas di Papua. Sebelumnya sejak tahun 1973 hingga tahun 1994, Freeport mengaku hanya sebagai penambang tembaga. Jumlah volume emas yang ditambang selama 21 tahun tersebut tidak pernah diketahui publik, bahkan oleh orang Papua sendiri. Panitia Kerja Freeport dan beberapa anggota DPR RI Komisi VII pun mencurigai telah terjadi manipulasi dana atas potensi produksi emas Freeport. Mereka mencurigai jumlahnya lebih dari yang diperkirakan sebesar 2,16 hingga 2,5 miliar ton emas. DPR juga tidak percaya atas data kandungan konsentrat yang diinformasikan sepihak oleh Freeport. Anggota DPR berkesimpulan bahwa negara telah dirugikan selama lebih dari 30 tahun akibat tidak adanya pengawasan yang serius. Bahkan Departemen Keuangan melalui Dirjen Pajak dan Bea Cukai mengaku tidak tahu pasti berapa produksi Freeport berikut penerimaannya.


Di sisi lain, pemiskinan juga berlangsung di wilayah Mimika, yang penghasilannya hanya sekitar $132/tahun, pada tahun 2005. Kesejahteraan penduduk Papua tak secara otomatis terkerek naik dengan kehadiran Freeport yang ada di wilayah mereka tinggal. Di wilayah operasi Freeport, sebagian besar penduduk asli berada di bawah garis kemiskinan dan terpaksa hidup mengais emas yang tersisa dari limbah Freeport. Selain permasalahan kesenjangan ekonomi, aktivitas pertambangan Freeport juga merusak lingkungan secara masif serta menimbulkan pelanggaran HAM.


Timika bahkan menjadi tempat berkembangnya penyakit mematikan seperti HIV/AIDS dan jumlah tertinggi penderita HIV/AIDS berada di Papua. Keberadaan Freeport juga menyisakan persoalan pelanggaran HAM yang terkait dengan tindakan aparat keamanan Indonesia di masa lalu dan kini. Ratusan orang telah menjadi korban pelanggaran HAM berat bahkan meninggal dunia tanpa kejelasan. Hingga kini, tidak ada satu pun pelanggaran HAM yang ditindaklanjuti serius oleh pemerintah bahkan terkesan diabaikan.


Pemiskinan di Papua


Kegiatan penambangan dan ekonomi Freeport telah mencetak keuntungan finansial bagi perusahaan tersebut namun tidak bagi masyarakat lokal di sekitar wilayah pertambangan. Dari tahun ke tahun Freeport terus mereguk keuntungan dari tambang emas, perak, dan tembaga terbesar di dunia. Pendapatan utama Freeport adalah dari operasi tambangnya di Indonesia (sekitar 60%, Investor Daily, 10 Agustus 2009). Setiap hari hampir 700 ribu ton material dibongkar untuk menghasilkan 225 ribu ton bijih emas. Jumlah ini bisa disamakan dengan 70 ribu truk kapasitas angkut 10 ton berjejer sepanjang Jakarta hingga Surabaya (sepanjang 700 km).


Para petinggi Freeport mendapatkan fasilitas, tunjangan dan keuntungan yang besarnya mencapai 1 juta kali lipat pendapatan tahunan penduduk Timika, Papua. Keuntungan Freeport tak serta merta melahirkan kesejahteraan bagi warga sekitar. Di sisi lain, negara pun mengalami kerugian karena keuntungan Freeport yang masuk ke kas negara sangatlah kecil jika dibandingkan keuntungan total yang dinikmati Freeport.


Keberadaan Freeport tidak banyak berkontribusi bagi masyarakat Papua, bahkan pembangunan di Papua dinilai gagal. Kegagalan pembangunan di Papua dapat dilihat dari buruknya angka kesejahteraan manusia di Kabupaten Mimika. Penduduk Kabupaten Mimika, lokasi di mana Freeport berada, terdiri dari 35% penduduk asli dan 65% pendatang. Pada tahun 2002, BPS mencatat sekitar 41 persen penduduk Papua dalam kondisi miskin, dengan komposisi 60% penduduk asli dan sisanya pendatang. Pada tahun 2005, Kemiskinan rakyat di Provinsi Papua, yang mencapai 80,07% atau 1,5 juta penduduk.


Hampir seluruh penduduk miskin Papua adalah warga asli Papua. Jadi penduduk asli Papua yang miskin adalah lebih dari 66% dan umumnya tinggal di pegunungan tengah, wilayah Kontrak Karya Frepoort. Kepala Biro Pusat Statistik propinsi Papua JA Djarot Soesanto, merelease data kemiskinan tahun 2006, bahwa setengah penduduk Papua miskin (47,99 %).


Di sisi lain, pendapatan pemerintah daerah Papua demikian bergantung pada sektor pertambangan. Sejak tahun 1975-2002 sebanyak 50% lebih PDRB Papua berasal dari pembayaran pajak, royalti dan bagi hasil sumberdaya alam tidak terbarukan, termasuk perusahaan migas. Artinya ketergantungan pendapatan daerah dari sektor ekstraktif akan menciptakan ketergantungan dan kerapuhan yang kronik bagi wilayah Papua.


Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Papua Barat memang menempati peringkat ke 3 dari 30 propinsi di Indonesi pada tahun 2005. Namun Indeks Pembangunan Manusi (IPM) Papua, yang diekspresikan dengan tingginya angka kematian ibu hamil dan balita karena masalah-masalah kekurangan gizi berada di urutan ke-29. Lebih parah lagi, kantong-kantong kemiskinan tersebut berada di kawasan konsesi pertambangan Freeport.


Selain itu, situs tambang Freeport di puncak gunung berada pada ketinggian 4.270 meter, suhu terendah mencapai 2 derajat Celcius. Kilang pemrosesan berada pada ketinggian 3.000 m, curah hujan tahuan di daerah tersebut 4.000-5.000 mm, sedangkan kaki bukit menerima curah hujan tahunan lebih tinggi, 12.100 mm dan suhu berkisar 18-30 derajat Celcius. Dengan kondisi alam seperti ini, kawasan di bawah areal pertambangan Freeport mempunyai tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana tanah longsor. Pada 9 Oktober 2003, terjadi longsor di bagian selatan area tambang terbuka Grasberg, menewaskan 13 orang karyawan Freeport. Walhi merelease longsor terjadi akibat lemahnya kepedulian Freeport terhadap lingkungan. Padahal, mereka mengetahui lokasi penambangan Grasberg adalah daerah rawan bencana akibat topografi wilayah serta tingginya curah hujan. Jebolnya dam penampungan tailing di Danau Wanagon pada tahun 2000, menyebabkan tewasnya empat pekerja sub-kontraktor Freeport. Terjadi longsor di lokasi pertambangan Grasberg pada Kamis, 9 Oktober 2003.


Kronologi Sosial-Ekonomi


Kegiatan bisnis dan ekonomi Freeport di Papua selama ini, tak hanya mencetak keuntungan finansial bagi perusahaan tersebut tetapi juga memantik munculnya masalah sosial. Belum ada solusi yang dianggap efektif dalam penyelesaian masalah yang muncul itu dan sewaktu-waktu berpotensi untuk meletup. Berikut disampaikan kronologi aspek sosial-ekonomi operasi Freeport:

16 Februari 1623.


Kapten Jan Carstensz, seorang pelaut Belanda, melihat puncak gunung tertinggi di Irian, lalu mencatat dalam log book-nya. Inilah catatan pertama orang asing tentang Puncak Carstenz dan kelak menjadi daerah operasi PT Freeport Indonesia.


23 November 1936.


Ekspedisi Colijn dan Jean Jacquez Dozy dari Belanda, berhasil mencapai Carstenz. Mereka kemudian mengumpulkan contoh batuan.


Tahun 1936.


Geolog Dr. C. Shouten menyimpulkan bahwa kawasan Carstenz mengandung tembaga dan emas. Sejak itu nama Ertsberg (gunung bijih) dipakai untuk menyebut kawasan tertinggi di New Guinea itu. Ekspedisi napak tilas dilakukan pada Juni 1960, dipimpin Forbes Wilson dan Del Flint–berdasar laporan Colijn–seiring dengan pemetaan geologi.


Maret 1966.


Soeharto dan pemerintah Orde Baru mulai menggenjot masuknya modal asing dengan berbagai deregulasi baru. Prof. M. Sadli, Menteri Pertambangan, mengumumkan pemberian konsesi kepada Freeport Mc Moran di Irian, dengan alasan merekalah satu-satunya yang lebih dulu meminta konsesi di kawasan itu.


Juni 1966.


Tim Freeport datang ke Jakarta untuk memprakarsai suatu pembicaraan untuk mewujudkan kontrak pertambangan di Ertsberg. Orang yang dipilih sebagai negosiator dan kelak menjadi presiden Freeport Indonesia (FI) adalah Ali Budiardjo, yakni mantan sekjen Hankam dan direktur Bappenas tahun 1950-an.


5 April 1967.


Kontrak kerja (KK) I ditandatangani dan membuat Freeport menjadi perusahaan satu-satunya yang ditunjuk untuk menangani kawasan Ertsberg seluas 10 kilometer persegi. KK I ini lamanya 30 tahun. Kontrak dinyatakan mulai berlaku saat perusahaan mulai beroperasi. Bulan Desember, eksplorasi Ertsberg dimulai.


Desember 1969.


Studi kelayakan proyek selesai dan disetujui. Mei 1970, konstruksi keseluruhan proyek mulai dikerjakan. Teknologi rekayasa FCX di remote area tertinggi di Asia Tenggara ini mengundang decak kagum tersendiri karena tingkat kesulitannya sangat tinggi.


Desember 1972.


Pengapalan 10.000 ton tembaga dari tambang Ertsberg dilakukan untuk pertama kalinya ke Jepang.


Maret 1973.


Presiden Soeharto meninjau daerah operasi Freeport dan memberikan nama Tembagapura untuk kota baru Freeport.


Tahun 1974.


Sepanjang 1972 sampai 1973 terjadi beberapa perkelahian yang mengakibatkan terbunuhnya karyawan Freeport, hingga memaksa mereka membuat ”January Agreement” dengan warga desa Wa-Amungme untuk membangun sekolah dan fasilitas umum lainnya.


Juli 1976


Pemerintah Indonesia mendapat bagian saham sebesar 8,5% dari saham Freeport. Angka ini hingga 1998 bertahan di level 10 persen dan royalti satu persen.


April 1981.


Ertsberg Timur mulai ditambang dan produksi FI mencapai 16.000 ton per hari sebelum cadangan Grasberg ditemukan.


28 Januari 1988.


Dugaan deposit emas di kawasan Grasberg menunjukkan hasil positif. Freeport Mc Moran Copper and Gold (FCX) akhirnya go public di lantai bursa New York. Menurut Yuli Ismartono–pejabat public relations FI–setiap hari dalam tahun 1988 kira-kira dua juta lembar saham FCX terjual.


Dengan tambahan cadangan emas di Grasberg dan cadangan lainnya, jumlah depositnya diperkirakan mencapai jumlah 200 juta ton. Dalam laporan studi evaluasi lingkungan (SEL) 160 K yang disetujui pada 1994, total deposit yang ada meningkat hingga dua miliar ton.


30 Desember 1991.


KK I berakhir dan Freeport memperoleh kembali KK II selama 30 tahun. Bagi banyak orang, KK II ini berlangsung tidak transparan, bahkan tertutup. Anehnya, pemerintah yang ditawari untuk memperbesar sahamnya menyatakan tidak berminat, padahal perusahaan ini jelas-jelas menguntungkan.


Mulai saat itu, masuklah pengusaha nasional Aburizal Bakrie (Bakrie Grup). ”Kami sudah menawarkan, tapi hanya Bakrie yang datang,” kata James Moffet, Preskom Freeport berbasa-basi. Preskom. Belakangan masuk Bob Hasan (Nusamba), yang dikenal sebagai kroni Soeharto, dan Menaker kabinet Soeharto, Abdul Latief (A Latief Corp.)


22 Agustus – 15 September 1995


Komnas HAM melakukan investigasi pelanggaran HAM yang terjadi di daerah Timika dan sekitarnya. Kesimpulan anggota tim investigasi Komnas HAM, mengungkapkan bahwa selama 1993-1995 telah terjadi 6 jenis pelanggaran HAM, yang mengakibatkan 16 penduduk terbunuh dan empat orang masih dinyatakan hilang. Pelanggaran ini dilakukan baik oleh aparat keamanan FI maupun pihak tentara Indonesia.


17 Januari 1996


Dalam selembar surat jawaban kepada editor American Statement, Ralph Haurwitz, Atase Penerangan Kedubes Amerika Serikat di Jakarta Craig J. Stromme menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti yang dapat dipercaya atas tuduhan pelanggaran HAM oleh Freeport di Irian Jaya.

29 April 1966


Gugatan Tom Beanal, Ketua Lembaga Adat Suku Amungme (Lemasa) terdaftar di pengadilan Louisiana, markas besar FCX, dengan kasus no.96-1474. Belakangan, gugatan ini ditolak dan pengadilan menyatakan Freeport tidak terbukti melakukan pelanggaran HAM.


29 Juni 1996


Lemasa menolak dana sebesar 1 persen keuntungan Freeport (US$ 15 juta) yang rencananya diberikan kepada suku di daerah operasi Freeport. Penolakan juga datang dari gereja setempat.

30 September 1997


Menteri Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja, melalui Bapedal, selesai memeriksa dan menyetujui laporan Amdal Regional untuk perluasan kegiatan penambangan dan peningkatan kapasitas produksi Freeport hingga 300.000 ton per hari.


Tetapi Walhi yang ikut dalam komisi itu menyatakan tidak setuju : “Atmosfer pertemuan itu kental dengan bau politis, sementara banyak anggota komisi sebenarnya tidak setuju dengan perluasan itu, tapi tak kuasa menolak,” kata Emmy Hafid, Direktur Walhi.


11 Maret 1998


Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dalam pemandangan umumnya pada Sidang Umum MPR 1998, secara terbuka menyebut pembagian keuntungan antara Freeport dan pemerintah Indonesia adalah salah satu kontrak yang sangat merugikan negara dan rakyat Indonesia.


5 November 1998


Direktur PT Freeport Indonesia, Jim “bob” Moffett datang ke Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk menjelaskan dugaan KKN di Freeport, termasuk perpanjangan KK II yang tertutup dan diduga sarat KKN. “Tidak ada KKN di Freeport, dan tidak adil kalau Anda menyuruh saya juga mengurusi masalah pembagian keuntungan. Saya bukan orang pemerintahan,“ kata Jim Moffet dalam jumpa persnya seusai menghadap Kejagung.


Tahun 2002


Keterlibatan salah seorang prajurit TNI dalam kasus penyerangan bus karyawan Freeport di Timika

September 2008


Freeport menciutkan target produksi tembaga dan emas tahun 2008 ini lantaran ada gangguan teknis di lokasi penambangan Grasberg, Papua. Awalnya, Freeport mematok produksi tembaga 1,2 miliar pounds dan emas 1,3 juta ounce. Karena gangguan ini, produksi dibuat lebih mini, tembaga 1,1 miliar pounds dan emas 1,1 juta ounc.


11 Desember 2008


Freeport memecat 75 karyawan, Freeport melakukan efisiensi dari sisi jumlah karyawan untuk mengurangi sedikit biaya operasional perusahaan, sebagai imbas dari resesi ekonomi dunia.

27 Juli 2009


Dua Karyawan Freeport menjadi tersangka kasus penembakan. Polisi menetapkan tujuh tersangka terkait kasus penembakan di Freeport, Timika, Provinsi Papua. Dua dari tujuh tersangka tersebut merupakan karyawan Freeport. (bersambung)


foto ilustrasi: welkis.wordpress


*) Tentang Penulis:


Marwan Batubara, lahir di Delitua, Sumatera Utara, 6 Juli 1955. Marwan adalah anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI periode 2004-2009, mewakili provinsi DKI Jakarta. Menamatkan S1 di Jurusan Tehnik Elektro Universitas Indonesia dan S2 bidang Computing di Monash University (Australia). Marwan adalah mantan karyawan Indosat 1977-2003 dengan jabatan terakhir sebagai General Manager di Indosat. Melalui wadah Komite Penyelamatan Kekayaan Negara (KPK-N), ke depan Marwan berharap bisa berperan untuk mengadvokasi kebijakan-kebijakan pengelolaan sumberdaya alam, agar dapat bermanfaat untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.



(read more ...)



Para misionaris, seperti van Lith, berkeinginan memisahkan orang Jawa dengan Islam. Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-275



Oleh: Dr. Adian Husaini



Pada 27 Desember 2009, saya sempat menonton acara Perayaan Natal Bersama melalui TVRI. Acara itu seperti sudah dianggap sebagai ritual tahunan kenegaraan. Biasanya pejabat tinggi banyak yang diundang. Malam itu, Presiden SBY juga datang. Ada juga Wapres Boediono, dan sejumlah pejabat tinggi negara lainnya. Menyimak rangkaian acaranya, Perayaan Natal Bersama itu jelas sebagai suatu bentuk Proklamasi agama Kristen dan realisasi konsep Misi Kristen di Indonesia.



Pesan utama yang ingin disampaikan  melalui acara tersebut sangat jelas bahwa  Jesus, Putra Tuhan, sang Juru Selamat sudah tiba untuk menebus dosa manusia. Berbagai lagu dan sendratari yang ditampilkan membawa pesan tersebut. Disamping lagu dan tari, ada pesan Natal dan juga Doa Syafaat dibawakan oleh pejabat KWI (Katolik) dan PGI (Protestan).



Menarik jika kita amati wajah Pak SBY dan pejabat muslim lainnya yang hadir acara itu. Kita juga mencoba menebak-nebak,  apa kira-kira perasaan Pak SBY dan orang Muslim di situ, ketika mendengar lagu-lagu dan seruan tentang kedatangan Jesus sebagai anak Allah dan Juru Selamat. Kita berprasangka baik, dan menduga-duga, hati Pak SBY yang Muslim itu pasti berkata: “Ini tidakbenar! Sebab, saya Muslim. Saya yakin benar, bahwa Nabi Isa tidak mati di tiang salib. Saya yakin, Nabi Isa adalah utusan Allah, rasul Allah; bukan Tuhan atau anak Tuhan.”



Pak SBY yang punya sebuah Majlis Zikir tentu sudah pernah mendengar ayat Al-Quran: “Dan ingatlah ketika Isa Ibn Maryam berkata, wahai Bani Israil sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian, yang membenarkan apa yang ada padaku, yaitu Taurat, dan menyampaikan kabar gembira akan datangnya seorang Rasul yang bernama Ahmad (Muhammad).” (Terjemah QS as-Shaff: 6).



Ada juga ayat Al-Quran yang menyatakan: “Dan mereka mengatakan, (Allah) Yang Maha Pemurah itu punya anak. Sungguh (kalian yang menyatakan bahwa Allah punya anak), telah melakukan tindakan yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah gara-gara ucapan itu dan bumi  terbelah dan gunung-gunung runtuh, karena mereka menuduh Allah Yang Maha Pemurah punya anak.” (Terjemah QS Maryam: 88-91).



Sebagai Muslim, Pak SBY tentu paham benar ayat-ayat Al-Quran tersebut. Dalam Perayaan Natal Bersama itu, orang-orang Muslim “dipaksa” mendengar cerita-cerita tentang Jesus yang bertentangan dengan keimanan mereka. Kata beberapa orang, praktik-praktik pencampuran Perayaan Hari Raya Agama seperti itu perlu dilakukan demi tujuan mulia, yaitu untuk membina Kerukunan Umat Beragama.  Malah, ada yang berpendapat, agar MUI mencabut fatwa tentang Haram-nya seorang Muslim merayakan Natal Bersama. Sebagai Muslim, dan juga sebagai Presiden, Pak SBY ketika itu “harus” duduk mendengarkan semua cerita tentang Jesus, yang sudah pasti tidak diyakininya. Pada kondisi seperti itulah, Pak SBY juga terpaksa tidak menyatakan secara terbuka, bahwa dia mempunyai kepercayaan dan keimanan yang berbeda dengan kaum Nasrani.



Sebenarnya, jika kita berpikir jernih, praktik-praktik semacam ini seharusnya dihentikan. Membangun kerukunan umat beragama tidak perlu dilakukan dengan cara-cara yang dapat menyuburkan kemunafikan seperti itu. Rasulullah saw, para sahabat, dan para ulama Islam – yang sejati – tidak pernah mengajarkan tindakan seperti itu. Untuk membangun kerukunan umat beragama, banyak cara lain yang bisa dilakukan. Sebenarnya, jika kaum Nasrani merayakan hari raya mereka, di kalangan mereka sendiri, itu juga tidak ada masalah dan tidak perlu mengundang kontroversi.



Berita tentang ke-Tuhanan Jesus tentu tidak mudah ditelan begitu saja oleh kaum Muslim. Sebab, Islam memiliki kitab suci Al-Quran yang dengan sangat gamblang menjelaskan kesalahan kepercayaan kaum Kristen tersebut. Al-Quran menyatakan, bahwa berita tentang penyaliban Jesus (Nabi Isa) adalah bohong belaka. Penyaliban Jesus, dalam pandangan Islam, tidak memiliki dasar yang kuat. “Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: “Allah mengambil seorang anak. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu. Begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.” (Terjemah QS al-Kahfi: 4-5).  



Ayat-ayat dalam kitab suci yang secara tegas membantah klaim-klaim kaum Kristen tentang ketuhanan Jesus seperti ini hanya dijumpai dalam Al-Quran. Ayat semacam itu tidak kita dijumpai pada Kitab Veda (Hindu), Tripitaka (Budha), atau Su Si (Konghucu). Karena itu, wajar, selama seorang mengaku dan meyakini keimanan Islam-nya, hatinya akan dengan tegas menolak semua pernyataan yang tidak benar tentang Nabi Isa. Kaum Ahlul Kitab yang hatinya  ikhlas dalam menerima kebenaran pasti akan mengakui kenabian Muhammad saw dan kebenaran Al-Quran (QS 3:199).



Keyakinan kaum Muslim tentang Nabi Isa seperti itu seharusnya dihormati oleh kaum Kristen. Sehingga, tidaklah etis jika “memaksa” seorang Muslim yang berpegang kepada iman Islam-nya untuk duduk mendengar cerita tentang Yesus dalam versi Kristen yang sama sekali berbeda versinya dengan cerita tentang Nabi Isa dalam versi Islam. Inilah sebenarnya hakekat saling hormat-menghormati antar pemeluk agama. Mereka bisa bekerjasama satu sama lain, dalam berbagai hal. Tetapi, bukan membiasakan diri bersikap “pura-pura” dalam soal keimanan. Sikap saling menghormati bisa ditumbuhkan dengan tetap berpegang kepada keimanan masing-masing.



Islam juga menghormati sikap pemimpin Katolik Paus Yohanes Paulus II, ketika menyatakan, bahwa Islam, bahwa Islam bukanlah agama penyelamatan:  “Islam is not a religion of redemption.” Paus juga menyatakan, dalam Islam tidak ada ruang bagi Salib dan Kebangkitah Yesus.  Yesus memang disebutkan, tetapi,  kata Paus, dia hanya sekedar seorang Nabi, yang menyiapkan kedatangan Nabi terakhir, yaitu Muhammad.  Karena itulah, Paus berkesimpulan: “For this reason, not only the theology but also the anthropology of Islam is very distant from Christianity.”   Jadi,menurut Paus, secara teologis dan antropologis, ada perbedaan yang mendasar antara Islam dan Kristen. (Lihat, John Cornwell, The Pope in Winter: The Dark Face of John Paul II’s Papacy, (London: Penguin Books Ltd., 2005).



Ada lagi yang sering tidak dipahami oleh pemeluk agama selain Islam atau bahkan kalangan Muslim sendiri. Yaitu, bahwasanya Islam adalah agama wahyu yang memiliki uswah hasanah (contoh teladan). Sebagai agama wahyu (agama langit), Islam mendasarkan keyakinan dan semua praktik ritualnya berdasarkan wahyu dan contoh dari Nabi Muhammad saw.  Karena itu, hanya orang Muslim yang kini memiliki bentuk ibadah yang satu. Orang Muslim membaca al-Fatihah yang sama dalam shalat; ruku’ dengan cara yang sana; sujud dengan cara yang sama, dan salam dengan cara yang sama pula. Semua itu ada contoh dari Nabi Muhammad saw. 



Bahkan, kaum Muslim berdebat tentang hal-hal yang “kecil” dalam ibadah shalat, seperti apakah dalam tahiyat, jari telunjuk digerakkan atau tidak. Sebab, memang ada riwayat yang berbeda dari Rasulullah saw tentang hal itu. Yang jelas, semua Muslim ingin mencontoh Sang Nabi sampai hal-hal yang “kecil” seperti itu diperdebatkan. Tapi, semua orang Muslim, saat melaksanakan tahiyat dalam shalat, pasti mengeluarkan jari telunjuk, bukan jari jempol atau jari kelingking.



Karena kuatnya berpegang pada keteladanan Nabi Muhammad saw dalam ibadah itulah, maka –misalnya -- orang Islam tidak mudah untuk diajak mengganti salam Islam dengan salam lainnya. Karena salam resmi orang Islam, sesuai ajaran Nabi saw adalah:  Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.”  Ucapan salam seperti ini berdasarkan contoh dari Nabi Muhammad, bukan berasal dari budaya atau hasil Kongres umat Islam pada saat tertentu. Di mana pun, kapan pun,  umat Islam akan mengucapkan salam seperti itu. Apa pun suku dan bangsanya. Upaya untuk “pribumisasi” salam Islam dan menggantinya dengan “Selamat pagi” dan sejenisnya, telah gagal dilakukan. Dulu, semasa menjabat sebagai Menteri P&K (1978-1982), Dr. Daoed Joesoef menolak mengucapkan salam Islam, dengan alasan, ia bukan hanya menterinya orang Islam.



Sekarang, cara berpikir Daoed Joesoef itu sudah out of date, sudah ketinggalan zaman.  Kini, Presiden SBY pun sangat fasih dalam mengucapkan salam. Bahkan, biasanya ia mendahului dengan ucapan basmalah. Sekarang sudah banyak tokoh non-Muslim yang dengan lancar mengucapkan salam Islam.  Saya pernah bertanya kepada seorang tokoh non-Muslim, apakah dia boleh mengucapkan salam Islam, seperti yang baru saja dia ucapkan. Dia menjawab: Boleh!



Kondisi seperti itu berbeda dengan umat Islam. Untuk urusan salam saja, Rasulullah saw memberikan contoh dan panduan yang sangat rinci. Bagaimana seharusnya seorang Muslim memberikan salam kepada sesama Muslim, bagaimana menjawab salam dari non-Muslim, dan sebagainya. Umat Islam secara ikhlas berusaha mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw tersebut. Sifat dan posisi ajaran Islam seperti ini seyogyanya dipahami. Termasuk dalam soal perayaan Hari Besar Agama. Panduan dalam soal ini juga sangat jelas. Karena itu, jika umat Islam menolak untuk mengikuti Perayaan Hari Besar agama lain, itu pun harusnya dipahami dan tidak dicap sebagai bentuk rasa permusuhan dengan agama lain. Pemahaman akan sifat dan karakter masing-masing agama itu perlu dipahami oleh masing-masing tokoh agama, agar tidak memaksakan pemahamannya kepada orang lain.

 

Budaya dan Misi



Aspek lain yang menonjol dalam Peraayaan Natal Bersama 27 Desember 2009 adalah upaya kaum Kristen untuk menampilkan citra adanya penyatuan Kristen dengan budaya Indonesia. Para penari mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah. Citra penyatuan Kristen dengan adat istiadat di Indonesia sudah lama diusahakan oleh para misionaris di Indonesia. Strategi budaya dijalankan agar misi Kristen lebih mudah diterima oleh rakyat Indonesia, dan agar citra Kristen sebagai agama penjajah dapat hilang di mata rakyat.



Penyebaran agama Kristen dengan strategi budaya Jawa pada dekade pertama abad XX, misalnya, terutama ditempuh oleh kalangan Yesuit dan juga misi Katolik pada umumnya. Misi Kristen ingin menggusur atau memisahkan citra penyatuan Islam dengan Jawa. Tokoh misionaris Katolik, misalnya, telah lama berusaha menggusur dominasi bahasa Melayu dan menggantinya dengan bahasa Jawa. Di sekolah Katolik di Muntilan, misalnya, penggunaan bahasa Melayu dihindari sejauh mungkin.  Sebab, bahasa Melayu identik dengan bahasa kaum Muslim. Penggunaan bahasa Melayu dikhawatirkan akan menyiratkan dukungan terhadap agama Islam.



J.D. Wolterbeek dalam bukunya,  Babad Zending di Pulau Jawa,  mengatakan: “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.” 



Senada dengan ini, tokoh Yesuit Frans van Lith (m. 1926) menyatakan: “Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. (Seperti dikutip oleh Karel A. Steenbrink, dalam bukunya, Orang-Orang Katolik di Indonesia).



Kiprah Pater van Lith dalam gerakan misi di Jawa digambarkan oleh Fl. Hasto Rosariyanto, SJ dalam bukunya, Van Lith, Pembuka Pendidikan Guru di Jawa, Sejarah 150 th Serikat Jesus di Indonesia (2009). Dalam buku ini diceritakan, bahwa dalam suatu Kongres bahasa Jawa, secara provokatif van Lith memperingatkan orang-orang Jawa untuk berbangga akan budaya mereka dan karena itu mereka harus menghapus bahasa Melayu dari sekolah. Van Lith lebih suka mempromosikan bahasa Belanda, karena dianggapnya sebagai bahasa kemajuan.



Upaya untuk menggusur bahasa Melayu dari kehidupan berbangsa di Indonesia, sebagaimana dipromosikan van Lith tidak berhasil dilakukan. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai suku bangsa justru mendeklarasikan: “Kami berbahasa satu,  bahasa Indonesia.”  Demi persatuan bangsa, para pemuda dari Jawa juga merelakan bahasa Jawa tidak dijadikan sebagai bahasa nasional Indonesia.



Van Lith, yang datang ke Indonesia pada 1896, menulis dalam sebuah suratnya: 



“Jika para misionaris ingin membawa orang non-Kristen kepada Kristus, mereka harus menemukan titik-awal bagi penginjilan. Di dalam agama merekalah terletak hati dari orang-orang ini. Kalau para misionaris mengabaikan ini, mereka juga akan kehilangan titik temu untuk menawarkan kabar gembira dalam hati mereka. Di Pulau Jawa, khususnya, di mana penduduk yang paling maju dari seluruh kepulauan ini tinggal, mempelajari Hinduisme, Budhisme, Islam, dan budaya Jawa adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditunda. Agama-agama ini telah berkembang, tetapi agama asli tidak pernah tercabut dari hati orang-orang ini.”



Dalam salah satu artikelnya yang ditemukan sesudah kematiannya, van Lith juga menyemangati teman-teman misionaris agar menempatkan diri sesama warga dengan orang Jawa:



“Kalau kita, orang Belanda, ingin tetap tinggal di Jawa dan hidup dalam damai dan menikmati keindahan serta kekayaan pulau tercinta ini, maka ada satu tuntutan, yaitu bahwa kita harus selalu belajar  memperlakukan orang Jawa sebagai saudara kita. Di tengah-tengah orang Jawa, kita tidak bisa berlagak seperti penguasa, atau sebagai majikan, atau sebagai komandan, tetapi seharusnya sebagai sesama warga. Kita harus belajar menyesuaikan diri, belajar menguasai bahasa orang-orang ini dan adat kebiasaan mereka; hanya dengan berlaku demikian kita bisa menjalin persahabatan dengan mereka ini.”



Demi pendekatan budaya, van Lith sampai bisa menerima orang Katolik Jawa melakukan sunat. Padahal, dalam suratnya, Paulus menyatakan: “Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu”. (Gal. 5,2).  Van Lith menerima sunat bagi orang Katolik Jawa, tetapi menolak tambahan doa Arab (Islam). Ia juga menentang sunat sebagai bentuk pertobatan menjadi Muslim.



Para misionaris, seperti van Lith, berkeinginan memisahkan orang Jawa dengan Islam. Sebab, orang Jawa memang sangat kokoh memegang identitasnya sebagai Muslim, meskipun mereka belum mengamalkan ajaran Islam sepenuhnya. Sulitnya orang Jawa ditembus misi Kristen digambarkan oleh tokoh misi Katolik, Pater van den Elzen, dalam sebuah suratnya bertanggal 19 Desember 1863:

“Orang Jawa menganggap diri mereka sebagai Muslim meskipun mereka tidak mempraktekkannya. Mereka tidak bertindak sebagai Muslim seperti dituntut oleh ajaran “Buku Suci” mereka. Saya tidak dapat mempercayai  bahwa tidak ada satu pun orang Jawa menjadi Katolik semenjak didirikannya missi pada tahun 1808. Dulunya Jawa ini sedikit lebih maju daripada sekarang ini. Sejak tahun 1382, ketika Islam masuk, Jawa terus mengalami kemunduran. Saya dapat mengerti sekarang, mengapa Santo Fransiskus Xaverius tidak pernah menginjakkan kakinya di Jawa. Tentulah ia mendapat informasi yang amat akurat tentang penduduk di wilayah ini, termasuk Jawa. Dan Portugis yang telah berhasil menduduki beberapa tempat disini menganjurkan agar ia pergi ke Maluku, Jepang, dan Cina,  karena tahu tak ada apa-apa yang bisa dibuat di Jawa. Akan tetapi, dalam pandanganku di pedalaman toh ada sesuatu yang dapat dilakukan.”



Demikianlah semangat misi Kristen untuk mengubah agama orang Jawa, dari Islam menjadi Kristen. Berbagai cara telah dan terus digunakan untuk menjalankan misi tersebut. Kaum Muslim memahami semangat kaum Kristen tersebut. Tapi, tentunya, tidak mudah bagi kaum Muslim untuk menerima begitu saja usaha kaum misionaris tersebut. Sebab, bagi orang Muslim, keimanan adalah harta yang paling berharga dalam kehidupan mereka. [Depok, 14 Muharram 1431 H/1 Januari 2010/www.hidayatullah.com]

(read more ...)




Sembilan fraksi di DPR mendukung usulan untuk memberikan penghargaan dan gelar pahlawan kepada Presiden ke 4 Abdurrahman Wahid. Usulan dukungan disampaikan oleh Ketua Fraksi Demokrat Anas Urbaningrum, Ketua Fraksi PKS Mustafa Kamal, Ketua FPDI Cahyo Kumulo, Sekretaris FPP Muhammad Romahurmuzi, Ketua Fraksi PAN Asman Abnur, Ketua Fraksi Hanura Abdilla Fauzi Ahmad, Sekretaris Partai Gerindra Ahmad Muzani, Ketua Fraksi Golkar Setya Novanto, dan Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa Marwan Ja’far.


Anas Urbaningrum mengatakan, “Gus Dur sebagai bapak pluralisme dan multikulturalisme, kepahlawanan Gus sangatlah nyata”, tandasnya. Muarar Sirait, tokoh muda PDIP, menyatakan Gus Dur telah konsisten memperjuangkan demokrasi sejak zaman Orde Baru. “Dia (Gus Dur) pemikir sekaligus pejuang pro demokrasi’, ucapnya. Ia juga menegaskan penetapan Gus Dur sebagai pahlawan telah didukung mantan presiden sekaligus Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Marwan Ja’far Ketua Fraksi PKB, menyatakan bahwa PKB telah melakukan langkah konkrit dengan mengirimkan surat kepada Presiden agar diangkat menjadi pahlawan nasional.


Sejarawan LIPI Asvi Warman Adam, mengatakan, ada persyaratan umum dan khusus seorang tokoh menjadi pahlawan nasional. Persyaratan umum, antara lain, warga negera Indonesia, tidak mempunyai catatan kriminal minimal lima tahun, sedangkan yang khusus, antara lain, berjasa terhadap bangsa dan negara. Pengangkatan seorang menjadi pahlawan nasional tergantung terhadap nilai yang akan dikembangkan pemerintah. “Jika pemerintah ingin mengembangkan nilai demokrasi dan hak asasi manusia, Gus Dur yang harus diangkat”, kata Asvi. Anhar Gonggong, juga mengatakan, “Penentuan pahlawan tergantungdari strategi pemerintah tentang nilai apa yang ingin dikembangkan dan disosialisasikan dalam masyarakat. Itu hak prerogatif Presiden”, ujar Anhar.


Tokoh muda PPP, Lukman Saefuddin, mengatakan, PPP mengusulkan kepada pemerintah agar memberikan gelar pahlawan kepada Gus Dur atas perannya yang sangat luar biasa. “Salah satu jasa Gus Dur terbesar bagi bangsa adalah perannya yang memberikan pemahaman yang utuh kepada warga Nahdatul Ulama, khusunya, dan umat Islam Indonesia, umumnya, tentang keberadaan Pancasila. Sehingga, bisa diterima bahwa Pancasila adalah final dalam konteks kehidupan kenegaraan dan kebangsaan”, kata Wakil Ketua MPR Lukman Saifuddin.


Tetapi, ketika Gus Dur terpilih menjadi Presiden suasananya penuh kontroversi. Dari seringnya terjadi reshuffle (pergantian) menteri di dalam kabinet, kebijakannya, sampai pandangan-pandangannya yang ‘nyleneh’.


Gus Dur mengangkat tokoh senior Singapura Lee Kuan Yew dan Henry Kissinger menjadi penasehatnya. Keinginannya membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Memberikan peluang yang lebih besar kelompok minoritas dalam berbagai aspek kehidupan, sebagai perwujudan pandangan ideologinya yang humanis dan pluralisme. Inilah yang menyebabkan Gus Dur mendapatkan pengakuan dari berbagai kalangan minoritas. Bahkan,kalangan penganut kelompok ‘Sosdem’ (Sosial Demokrat), Kiri, dan Humanis, Gus Dur dipandang sebagai sang ‘ideolog’.


Tentu, yang ironi justru, justru Gus Dur tidak dapat menyelesaikan kepemimpinannya, sebagai presiden sampai akhir masa jabatannya. Gus Dur ‘diempeacht’ (dijatuhkan) melalui Sidang Istimewa  MPR, yang saat itu dipimpin oleh Amin Rais, yang menjadi koleganya, dan digantikan oleh Megawati.


Berakhirnya pemerintahan Gus Dur, diawali dengan aksi-aksi demonstrasi dari berbagai kalangan, terutama kalangan mahasiswa, yang tak terlepas dari dinamika partai politik, yang ada di Senayan, yang merasa terancam dengan Gus Dur, di mana pada 23 Juli 2001, memberlakukan Dekrit antara lain, membekukan MPR/DPR, mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat Indonesia dan membentuk badan-badan yang yang diperlukan untuk mengadakan pemilu satu tahun, menyelematkan gerakan reformasi total dan membekukan Golkar sambil menunggu keputusan MA.


Pada 23 Juli 2001, mandat kuasaan Gus Dur dicabut melalui Rapat Paripurna Sidang Istimewa MPR. Dengan begitu kekuasaannya berakhir. Kolaborasi partai-partai politik, dan berbagai kalangan lainnya, yang tidak menyukai gaya kepimpinan Gus Dur, berhasil mengimpeachtnya, dan berakhirlah era kepemimpinan Gus Dur, yang merupakan satu-satunya tokoh Nahdiyin, yang berhasil mencapai puncak kekuasaan sebagai Presiden, dan kemudian dijatuhkan oleh MPR, yang dimulai dengan gerakan massa. Dan, sekarang ramai-ramai oleh Fraksi-Fraksi di DPR diusulkan menjadi pahlawan nasional.


+++


Kami mengharapkan pandangan,pendapat, dan sikap dalam rubrik dialog yang baru ini. Sebelumnya, kami menyampaikan terima kasih atas perhatian dan partisipasinya. Dengan ini rubrik dialog sebelumnya kami tutup.


*eramuslim.com


(read more ...)






KOMPAS.com — Gangguan fungsi kemih sebenarnya bisa dikurangi dengan berbagai cara. Salah satunya dengan mengurangi konsumsi minuman yang mengandung kafein, alkohol, serta obat-obatan.


"Kafein memiliki zat yang dapat memacu detak jantung serta meningkatkan produksi urine," kata Mulyadi Tedjapranata, dokter Klinik Medizone di Apartemen Taman Kemayoran, Jakarta Pusat.


Menurut Mulyadi, upaya pencegahan gangguan kemih sejatinya bisa dilakukan sedini mungkin. Beberapa cara yang bisa dilakukan adalah membiasakan untuk tidak menahan keinginan untuk buang air kecil. Bagi anak-anak, melakukan latihan buang air kecil atau toileting assistance bahkan sudah harus dilakukan sejak anak-anak berusia di bawah lima tahun atau balita.


Cara lain yang efektif adalah menghindari penggunaan kloset duduk. Penggunaan kloset duduk dalam jangka panjang akan memperbesar risiko terjadi infeksi saluran kencing yang bisa menyebabkan terjadinya gangguan berkemih. Pasalnya, permukaan toilet umumnya menjadi perantara penyebaran kuman. Penggunaan toilet jongkok justru lebih baik.


Pasalnya, ini akan membuat pengguna tidak bersentuhan langsung dengan permukaan toilet sehingga lebih higienis. "Apalagi, jika kerap memakai fasilitas toilet umum, toilet jongkok lebih baik," ujar dia.


Tak hanya itu, penggunaan kloset duduk juga membuat otot saluran kencing bekerja lebih keras saat mengejang atau mengeluarkan urine. Dalam tahap ringan, infeksi saluran kemih biasanya ditandai dengan anyang-anyangan atau keluarnya air seni yang tak tuntas, sakit perut bagian bawah, serta rasa sakit saat akhir buang air kecil.


Kondisi ini tentu mengganggu aktivitas kita. Bahkan, kalau dibiarkan berlarut, ini bisa menimbulkan infeksi pada saluran kencing, gangguan psikososial seperti depresi dan gangguan tidur. (KONTAN/Herlina Kartika Dewi)




(read more ...)



Intel jaman modern menggunakan cara penyiksaan guna mendapat pengakuan. Bolehkah itu dilakukan dalam Islam?



Hidayatullah.com--Hatib bin Abi Balta’ah termasuk golongan Muhajirin.  Bahkan beliau adalah salah satu ahlu Badar, dan sudah tinggal di Madinah selama beberapa tahun bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Suatu kali ia merasa risau atas rencana Rasulullah SAW mengirim pasukan ke Mekah karena takut terjadi apa-apa atas keluarganya yang masih tinggal di sana.



Hatib kemudian punya inisiatif mengabarkan kepada para keluarganya mengenai rencana Rasulullah SAW itu secara diam-diam. Caranya, dengan menitipkan sebuah surat kepada salah satu wanita budak Bani Abdul Muthalib untuk disampaikan kepada keluarganya itu. Tentu, yang dilakukan Hatib bisa membocorkan rahasia rencana penyerangan ke Mekah. Dan di sini keselamatan ribuan pasukan Muslim menjadi taruhannya.



Rasulullah SAW menerima ‘kabar langit’ tentang apa yang dilakukan Hatib. Beliau kemudian segera mengutus Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam, untuk mengejar wanita itu. Ternyata, wanita pembawa pesan itu sudah sampai di tempat persinggahan Al Khaliqah, yang berjarak 12 mil dari Madinah.



Setelah mendapatinya, kedua sahabat Rasulullah SAW tersebut meminta wanita itu turun dari kendaraan, dan memeriksa kendaraan yang ditungganginya. Akan tetapi mereka tidak menemui apa yang dicari. Mereka yakin bahwa yang dikatakan Rasulullah SAW pasti benar, hingga Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Tunjukkan tulisan itu! Atau kami akan memeriksamu!” Melihat keduanya tampak serius, wanita itu mengeluarkan tulisan yang diselipkan di sela-sela kain di kepalanya.



Setelah memperoleh bukti yang jelas, Rasulullah SAW memanggil Hatib bin Abi Balta’ah, guna mengetahui apa yang mendorongnya berbuat demikian. “Wahai Hatib, kenapa engkau melakukan hal ini?” Hatib menjawab, “Wahai Rasulullah, demi Allah saya benar-benar orang yang beriman terhadap Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak berubah dan menggantinya. Hanya saya tidak memiliki keluarga, sedangkan anak-anak saya berada dalam asuhan mereka (Quraish), maka saya melakukan itu untuk mereka.”



Saat itu, Umar bin Al Khaththab yang ikut serta bersama Rasulullah SAW kelihatan marah. “Wahai Rasulullah,” kata Umar,  “Izinkan saya untuk memenggal lehernya, sesungguhnya laki-laki ini telah melakukan nifaq (kebohongan).” Rasulullah SAW membalas perkataan Umar, “Tidak tahukah engkau wahai Umar, bahwa Allah telah memperhatikan ahlu Badar, dan berfirman, “Kerjakan semau kalian, Aku telah mengampuni kalian.” (As Sirah An Nabawiyah, 4/308).



Syeikh Said Ramadhan Al Buti menyebutkan dalam bukunya, Fiqh As Sirah, bahwa beberapa pihak berpendapat bolehnya menggunakan berbagai cara agar tersangka mengaku. Mereka mengambil argumen dari kisah Ali yang menghardik dan mengancam budak Bani Abdul Muthalib itu.



Ulama Suriah ini menjelaskan bahwa kisah di atas tidak bisa dijadikan argumen untuk menopang pendapat itu, karena beberapa sebab.



Pertama,  budak tersebut posisinya tidak lagi sebagai tersangka belaka, melainkan pelaku hakiki yang informasinya berasal dari wahyu. Dan ini bersifat qath’i, lebih kuat daripada iqrar (pengakuan) si pelaku sendiri. Sehingga praktik penyiksaan tersangka agar yang bersangkutan mengaku tidak bisa di-qiyas-kan dengan kasus di atas, karena hanya didasari dengan prasangka dan perkiraan, yang berasal dari manusia biasa yang tidak maksum. Sehingga kisah di atas tidak bisa dijadikan dasar untuk melegalkan praktik penyiksaan guna mengorek pengakuan seorang yang statusnya masih tersangka.



Kedua
, membuka baju untuk melakukan pemeriksaan tidak seperti penyiksaan dan penahanan, sehingga tidak pula bisa di-qiyas-kan. Yang pertama dibolehkan, yang kedua tidak dibolehkan.



Pengakuan Paksaan



Para ulama madzhab empat telah bersepakat bahwa pengakuan yang disebabkan paksaan  tidak bisa dijadikan dasar untuk menjatuhkan hukuman. Berikut, pendapat mereka:



Madzhab Hanafi




Al Kasani menyebutkan bahwa kerelaan adalah salah satu aspek yang menentukan bahwa sebuah pengakuan itu sah atau tidak. Dengan demikian, maka pengakuan orang yang dipaksa, tidak sah. (Bada’i As Shanai, 7/224).



Madzhab Maliki



Qadhi Sahnun menyebutkan masalah hukum pihak yang mengaku setelah diancam, baik dengan diikat, dipenjara serta dipukul, tidak berlaku hadd. Imam Malik mengatakan, “Tidak diberlakukan kepadanya hadd, kecuali ia mengakui hal itu dengan rasa aman dan tanpa rasa takut.” (Al Mudawwanah, 16/93).



Madzhab Syafi’i



Al Imrani mengatakan, “Tidak diterima pengakuan orang yang dipaksa. Sabda Rasulullah SAW,  dimaafkan untuk umatku kesalahan, lupa, dan apa yang dipaksakan kepadanya. Dan karena orang yang dipaksa tidak masuk dalam golongkan mukallaf. (Al Bayan, 13/418).



 Madzhab Hanbali




Ibnu Qudamah mengatakan, “Kalau seorang laki-laki dipukul agar ia mengaku berzina, tidak wajib atasnya hadd, dan tidak bisa ditetapkan bahwa ia berzina. Saya tidak mengetahui para ulama khilaf, bahwa seorang yang dipaksa mengaku tidak wajib atasnya hadd.” (Al Mughni, 9/7181). [Thoriq/www.hidayatullah.com]

(read more ...)




Para informan sama-sama melakukan peran mereka. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam (SAW) sendiri ikut ambil bagian dalam aktivitas ini



Hidayatullah.com--Madinah (pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) juga memiliki sejumlah  perangkat vital untuk melindungi diri, baik ancaman dari luar, maupun dalam. Dan intelijen adalah salah satu perangkat itu.



Terutama saat terjadi krisis antara Madinah dengan musuh-musuh dakwah, seperti Quraish, beberapa kabilah Yahudi, sampai imperium Romawi,  kekuatan intelijen Muslim telah melakukan perannya dengan sangat baik. Sehingga tak jarang, berbagai pertempuran dimenangkan berkat lihainya para informan, dalam memperoleh informasi mengenai kekuatan lawan. Sekalipun tidak bisa dipungkiri bahwa ada faktor lainnya yang juga ikut berperan, bantuan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).



Tidak hanya para sahabat Rasulullah SAW yang bergerak dalam sektor ini. Beliau sendiri pernah melakukan aktivitas intelijen di beberapa kesempatan.



Hanya saja, intel-intel zaman Nabi berbeda bumi dan langit dibanding intel-intel sekarang.



Alkisah, kala itu, Rasulullah (SAW) bertolak dari desa Dafiran,  untuk melakukan perjalanan menuju sebuah tempat dekat Badar. Tidak ada yang menemani perjalanan beliau, kecuali Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu anhu (RA). Di tempat itu, beliau bertemu dengar seorang laki-laki tua yang tinggal di pedalaman gurun (badui). Rasulullah SAW lalu  bertanya perihal kedatangan kaum Quraish, juga kedatangan pasukan beliau sendiri. Lelaki itu menolak memberikan informasi, kecuali setelah beliau berdua membuka identitas.



Rasulullah SAW tidak menyerah dengan jawaban itu, beliau membalas, “Jika engkau memberi tahu kami, maka kami memberi tahu kalian.” Memperoleh jawaban demikian, orang tua itu memastikan, ”Apakah dengan memberi tahu tentang mereka, kalian memberi tahu, siapa kalian?” Rasulullah SAW menjawab, “Iya.”



Akhirnya lelaki tua itu membuka mulut, “Telah sampai kepadaku berita bahwa Muhammad dan para sahabatnya keluar dari Madinah pada hari begini-begini. Jika yang memberitahuku jujur, maka mereka hari ini sudah sampai tempat begini-begini. Dan telah sampai kabar kepadaku bahwa Quraish keluar dari Mekah pada hari begini-begini, kalau yang memberitahuku jujur, maka pada hari ini mereka sudah sampai tempat begini-begini.”



Setelah lelaki itu memberikan informasinya, ia ganti bertanya kepada Rasulullah SAW, “Dari siapa kalian?” Rasulullah SAW menjawab sambil berlalu meninggalkan lelaki tua itu, “Kami dari air”.



Informasi yang diberikan laki-laki tua itu amatlah berharga bagi umat Islam. Karena dengan mengetahui kondisi musuh, maka pasukan Islam memiliki persiapan lebih matang dan informasi itu bisa dijadikan pijakan dalam menentukan strategi bertempur. Bahkan lebih dari itu, walau mendapat informasi lengkap, karahasiaan identitas kaum Muslimin tetap terjaga. Ini bisa terwujud karena  Rasulullah SAW  menyembunyikan identitas. Maka pihak Quraish pun tidak bisa mengorek keterangan dari laki-laki Badui tersebut mengenai kondisi pasukan Muslimin.



Rasulullah SAW tidak hanya menyembunyikan identitas, tapi beliau menutup kemungkinan laki-laki itu untuk berpikir bahwa beliau berdua begian dari kelompok Muslim, dengan menanyakan keadaan pasukan Muslim sekaligus pasukan Quraish kepadanya. Tentu cara yang ditempuh Rasulullah SAW ini adalah cara yang amat cerdik.



Peristiwa yang disebutkan oleh Ibnu Hisyam dalam As Sirah An Nabawiyah (2/459) itu menunjukkan bahwa praktik intelijen telah digunakan sejak masa Rasulullah SAW, juga menunjukkan bahwa beliau sendiri amat memperhatikan pentingnya aktivitas ini, guna melawan kekuatan Quraish.



Tidak hanya kaum Muslimin yang melakuan pengintaian, pihak Quraish juga memiliki orang-orang pilihan untuk melakukan spionase. Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa setelah berdekatan dengan lembah Badar, kaum Quraish mengutus Umair bin Wahb Al Jamhi, untuk mencari tahu kekuatan pasukan Muslimin.



Tidak membutuhkan waktu lama, laki-laki ini kembali dengan membawa kabar bahwa jumlah pasukan Muslimin sebanyak 300 laki-laki, dengan beberapa tambahan. Akan tetapi, “intel musyrikin” ini masih belum puas dengan informasi ini. Ia minta izin untuk kembali, guna memastikan apakah jumlah itu jebakan, atau masih ada bantuan pasukan lainnya. Dan setelah ia melakukan pengintaian lagi, ia begitu yakin, “Mereka tidak memiliki tempat berlindung, kecuali dengan pedang-pedang mereka,” katanya



Analisa Kekuatan  




Ada pula aktivitas intelijen lainnya. Rasulullah SAW kembali ke pasukan, tapi beliau masih perlu mengutus Ali bin Abi Thalib, Az Zubair bin Awam, dan Sa’ad bin Abi Waqash untuk mencari informasi mengenai kekuatan pasukan musuh. Sedangkan Rasulullah SAW menyusul kemudian.



Dikisahkan, setelah dekat sumur Badar, Ali bin Abi Thalib beserta Az Zubair bin Awam bertemu dengan dua orang budak. Setelah ditanya, mereka mengaku sebagai pemberi minum kaum Quraish. Namun, karena pengakuan itu, mereka berdua dipukuli oleh sekelompok orang yang juga berada di tempat itu. Hingga akhirnya, mereka mengatakan bahwa mereka pembantu Abu Sufyan, dan sekelompok orang tersebut berhenti memukul dan meninggalkan mereka berdua.



Rasulullah SAW yang saat itu berada di tempat itu menegaskan kepada para sahabat bahwa pemukulan terhadap kedua budak itu menunjukkan bahwa keduanya berkata benar, bahwa mereka memang dari kaum Quraish.



Akhirnya ganti Rasulullah SAW yang bertanya kepada kedua budak itu, “Berapa jumlah mereka?” Mereka menjawab, “Banyak.” Rasulullah SAW kemudian menanyakan jumlah hewan yang dipotong untuk mereka setiap harinya. “Kadang sembilan, kadang sepuluh ekor.”



Informasi sederhana itu amat cukup bagi Rasulullah SAW, hingga akhirnya beliau berkesimpulan bahwa jumlah mereka antara sembilan ratus hingga seribu.



Informasi mengenai pasukan musuh terus-menerus dikumpulkan. Tidak hanya oleh Rasulullah SAW sendiri, tapi para sahabat juga ikut berpartisipasi. Seperti yang dilakukan oleh Basbas bin Amru dan Adi bin Abi Az Zaghb. Mereka sama-sama bertolak menuju Badar. Setelah tiba di sumur Badar, mereka bertemu dua budak perempuan yang saling berebut mengambil air. “Besok atau lusa akan datang kafilah, bekerjalah untuk mereka.” Setelah itu, budak lainnya mengalah. Kedua sahabat Rasulullah SAW tersebut mendengar percakapan itu, akhirnya mereka kembali untuk memberi kabar kepada Rasulullah SAW mengenai kedatangan pasukan Quraish.



Itulah sekilas mengenai aktivitas intelijen menjelang meletusnya perang Badar, yang terjadi pada Jumat pagi, 17 Ramadhan tahun kedua setelah hijrah.



Ke Tengah Barisan  




Saat Yahudi dan Quraish melakukan koalisi untuk melakukan penyerangan terhadap Madinah, pihak Muslim berhasil mengetahui rancana itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) kemudian memerintahkan para sahabat membuat parit, guna membentengi Madinah, hingga terjadilah perang Khandaq di bulan Syawal tahun ke-5 setelah hijrah.



Tatkala pasukan Quraish tertahan di luar parit, dan berhadapan dengan angin yang berhembus amat kencang, Rasulullah SAW segera memerintahkan Hudzaifah bin Yaman menyusup ke dalam berisan musuh. Tanpa banyak kesulitan, beliau berhasil bergabung dengan kelompok Quraish, dan mendapatkan informasi bahwa Abu Sufyan, memerintahkan pasukannya untuk kembali ke Mekah, disebabkan cuaca buruk.



Lebih dari itu, saat itu Hudzaifah sebenarnya memiliki peluang membunuh Abu Sufyan, “Kalau seandainya Rasulullah SAW tidak berpesan kepadaku agar tidak ada yang terbunuh hingga aku kembali, maka aku akan membunuhnya dengan busur.” (As Sirah An Nabawiyah, 3/154,166)



Tertangkap



Diriwayatkan oleh Abu Ishaq, kaum Quraish telah mengirim 40 atau 50 mata-mata ke Madinah. Mereka sempat mengelilingi kamp pasukan Muslim untuk membunuh salah satu dari mereka. Akan tetapi mereka berhasil ditangkap, namun kemudian mereka dibebaskan oleh Rasulullah SAW, dan dibiarkan kembali ke Mekah. Peristiwa ini terjadi menjelang Baiat Ridhwan.



Berbeda lagi dengan kasus intel di Madinah. Kala itu, tiga ribu pasukan Muslim sudah berada di Syam (kini Damaskus) untuk melawan pasukan Heraklius. Pasukan Muslim berhasil memperoleh informasi bahwa kekuatan pasukan Romawi itu berjumlah 100 ribu orang dan mereka sudah berada di Mab, sebuah desa di Syam. Dengan bekal informasi itu, mereka hendak melaporkan kekuatan musuh ke Madinah, hingga Rasulullah SAW mengirim bantuan atau memerintahkan untuk tetap bertempur.



Tapi, Abdullah bin Rawahah selaku salah satu pemimpin terus memberi semangat agar mereka tetap bertempur, hingga pertempuran tidak dapat dielakkan. Peristiwa itu dikenal dengan Perang Mu’tah, yang terjadi pada bulan Jumadi Al Ula tahun ke-8 setelah hijrah.



Seperti hanya juga yang biasa berlaku dalam dunia intelijen dan militer modern, guna membedakan siapa kawan dan lawan, pasukan Muslim pada zaman Rasulullah SAW memiliki sandi khusus. Dalam berbagai peperangan berbagai macam sandi telah digunakan.  



Dalam pertempuran Khandaq dan Bani Quraidhah, pasukan Muslimin menggunakan sandi, “Haamiim, la yunsharun.” (Riwayat Abu Dawud), yang menurut salah satu penafsiran, bermakna bahwa Allah tidak bisa dikalahkan, karena Haamiim menurut penafsiran ini adalah salah satu dari nama Allah Ta’ala.



Dalam pertempuran melawan Bani Malmuh, yang dilakukan malam hari, digunakan sandi, “Amit..amit.” (As Sirah An Nabawiyah, 4/472), yang maknanya, “bunuhlah...bunuhlah”. [tho/www.hidayatullah.com]

 

(read more ...)




Intel di era Nabi jauh berbeda dengan intel di saat kasus Komji. Meski masa itu sudah berusia lebih dari 1400 tahu, intel Nabi jauh lebih berakhlak dan lebih manusiawi



Hidayatullah.com--Juni tahun 2002, sebuah peristiwa penting terjadi di Masjid Raya Bogor. Seorang pria keturunan Timur Tengah, ditangkap karena pelanggaran dokumen imigrasi. Pria bernama Umar al Faruq,  yang pernah tercatat sebagai penduduk Desa Cijambu, Kecamatan Cijeruk, Jawa Barat, disebut-sebut TIME , punya hubungan dengan petinggi Al-Qaidah untuk kawasan Asia Tenggara.



Ia bahkan ikut dikait-kaitkan dengan  rencana pembunuhan Megawati, dianggap terlibat dalam peledakan bom di sejumlah kota di Indonesia pada malam Natal tahun 2000, serta merencanakan peledakan sejumlah sarana milik AS di Singapura dan Indonesia.  Siapa sesungguhnya Umar al Faruq? Tidak jelas hingga sekarang.



Selain Umar al Faruq, dalam kasus penangkapan tujuh tahun silam itu, tersangkut pula nama Abdul Haris, yang kemudian ikut dibebaskan oleh pihak intelijen.



Kepada Majalah TEMPO, Haris mengaku bahkan sempat ikut mengurus paspor.  "Saya mengenal Faruq karena membantu menguruskan paspor isterinya, Mbak Mira," ujarnya.



Namun, penelusuran TEMPO menemukan indikasi kuat bahwa dia bukan sekadar "calo paspor": dia orang BIN yang ditanam dalam Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).



Siapa Abdul Haris? Haris tak lain adalah pengurus di Departemen Hubungan Antar-Mujahid, sebuah posisi strategis yang mengatur hubungan antar-organisasi Islam di dalam dan di luar negeri.



Sebagaimana dikutip TEMPO dalam Edisi 25 November-1 Desember 2002, menyebutkan, Muchyar Yara, Asisten Kepala BIN Bidang Hubungan Masyarakat, mengaku Haris tak lain adalah seorang agen BIN yang telah "ditanamkan" untuk mengawasi gerak-gerik berbagai jaringan Islam, termasuk MMI.



“Haris adalah teman lama Hendropriyono sejak masih menjadi Panglima Daerah Militer Jaya, bahkan mungkin sejak masih kolonel. Hubungan antara Haris dan Pak Hendro (Jenderal TNI (Purn) Abdullah Mahmud Hendropriyono, red) sebatas teman. Tapi, tidak benar Haris ikut ditangkap bersama Al-Faruq,” ujar Muchyar Yara kepada TEMPO.



Pria bernama lengkap Muhammad Abdul Haris adalah lulusan IAIN, pernah menempuh pendidikan di Madinah untuk meraih gelar Lc. Ia adalah perwira sebuah angkatan di lingkungan TNI dan melanjutkan studi ke Madinah, sebagai salah salah satu tugas yang harus ia jalankan.



Selama di MMI, Haris mengurusi pusat informasi. Ia kerap menyerahkan catatan yang disebutnya sebagai ‘info intelijen’ mengenai kasus Maluku dan Poso. Ia juga mengetahui aktivis Islam Indonesia yang pernah ikut berperang di Afghanistan. Meski aktif, anehnya, Haris selalu menghindar jika difoto. Karena itu, dalam dokumentasi MMI, gambar Haris tak pernah ada.



Soal Abdul Haris ini diakui pernah diakui Ketua Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Irfan S Awwas, suatu kali. Menurut Irfan, keberadaan Haris tiba-tiba hilang seiring ditangkapnya Umar al-Faruq dan dijebloskannya Ustad Abubakar Ba’asyir ke penjara.



"Sudah sekitar enam bulan Haris tidak aktif. Kami memang mendapat kabar bahwa dia seorang agen yang disusupkan, tapi kami tidak gegabah mempercayainya sebelum diklarifikasi," ujarnya.



Rekayasa




Sejarah hubungan intelijen Indonesia dengan kelompok-kelompok rekaan dalam Islam bukan sesuatu yang baru. Dan bukan hal baru kalangan intelijen menanam agennya ke organisasi Islam dengan tujuan melumpuhkannya. Pernyataan ini pernah disampaikan Profesor Emiritus dari Universitas Washington, AS,  Prof. Dr. Daniel S Lev.



"Sejak masa Orde Baru, kelompok Islam selalu dipermainkan," kata Daniel Lev. "Dari sudut pandang intelijen seperti BIN –dulu Bakin-- orang-orang radikal Islam berguna sekali karena gampang digerakkan dan dipakai," ujarnya dikutip TEMPO suatu ketika.



Dalam buku “Pangkopkamtib Jenderal Soemitro Dan Peristiwa 15 Januari 1974”, oleh Heru Cahyono, (Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1998),  secara rinci menjelaskan bagaimana peran-peran intelijen memainkan peran terhadap kaum Muslim.



Permainan intelijen terhadap kalangan Islam cukup terkemuka, ketika Opsus (Operasi Khusus) melalui Ali Moertopo melakukan rekayasa terhadap Parmusi (Partai Muslimin Indonesia), wadah aspirasi politik golongan Islam modernis yang berbasis masa  bekas partai Masjumi. Sementara terhadap Islam tradisional dilakukan penggalangan melalui organisasi massa GUPPI (Gabungan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam), yang mana selanjutnya secara efektif menggarap massa Islam tradisional untuk ditarik masuk Golkar.



Terhadap Islam, pemerintah Orde Baru dan Angkatan Darat khususnya, sejak awal menyadari mengenai kemungkinan naiknya pamor politik kekuatan Islam. Jatuhnya kekuatan ekstrim kiri PKI –yang kemudian secara formal diperkuat dengan keputusan pembubaran PKI—secara politis mengakibatkan naiknya pamor politik Islam sehingga terjadilah ketidakseimbangan (imbalance). Sayap Islam yang sedang mendapat angin, kemudian cenderung hendak memperkuat posisinya. Padahal disadari oleh Angtakan Darat ketika itu bahwa di dalam sayap Islam dinilai ada bibit-bibit “ekstrimisme” yang potensial.



Intelijen ketika itu berusaha ‘menghancurkan’ PKI, menekan sayap Soekarno, dan ‘mencegah’ naiknya pamor Islam. Tugas Opsus kala itu adalah menyelesaikan segala sesuatu dengan cara mendobrak dan “merekayasa”.  



Dalam buku “Konspirasi Intelijen dan Gerakan Islam Radikal”,  (penyunting Umar Abduh 2003), kebijakan intelijen yang berpijak pada prinsip "kooptasi, konspirasi dan kolaborasi (galang, rektrut, bina, tugaskan, dan binasakan)" telah mampu menjebak anggota NII. Intelijen juga berhasil melakukan ‘pembusukan’  Islam tahun 1977 dengan merekrut Danu Moh. Hasan dan Ateng Djaelani sebagai agen, yang akhirnya memunculkan kasus Komando Jihad (Komji). Danu yang semula divonis 10 tahun, dinyatakan bebas tahun 1979. Namun dikabarkan tewas diracun arsenikum. Intel juga dianggap menyusupkan Hasan Baw ke gerakan Warman tahun 1978-1979.



“Komando Jihad adalah hasil penggalangan Ali Moertopo melalui jaringan Hispran di Jatim. Tapi begitu keluar, langsung ditumpas oleh tentara, sehingga menjelang akhir 1970-an ditangkaplah sejumlah mantan DI/TII binaan Ali Moertopo seperti Hispran, Adah Djaelani Tirtapradja, Danu Mohammad Hasan, serta dua putra Kartosoewiryo, Dodo Muhammad Darda dan Tahmid Rahmat Basuki.



Kelak ketika pengadilan para mantan tokoh DI/TII itu digelar pada tahun 1980, terungkap beberapa keanehan. Pengadilan itu sendiri dicurigai sebagai upaya untuk memojokkan umat Islam. Dalam kasus persidangan Danu Mohammad Hassan [tds] umpamanya, dalam persidangan ia mengaku sebagai orang Bakin. “Saya bukan pedagang atau petani, saya pembantu Bakin.” [Pangkopkamtib Jenderal Soemitro Dan Peristiwa 15 Januari 1974, Tahun 1998].



Tahun 1981 Bakin (Sekarang BIN) sukses menyusupkan salah satu anggota kehormatan intelnya (berbasis Yon Armed) bernama Najammudien ke dalam gerakan Jamaah Imran yang dikenal kasus pembacajakan pesawat Woyla.



"Pancingan" intel juga dianggap melahirkan kasus pembunuhan massal umat Islam yang dikenal “Peristiwa Tanjung Priok”, 12 September 1984. Tahun 1986, intel kembali dinilai melakukan rekayasa dengan memasukkan agennya bernama Syhahroni dan Syafki, mantan preman Blok M, dalam gerakan Usrah NII pimpinan Ibnu Thayyib. Alhasil, gerakan-gerakan "rekayasa" yang dimunculkan itulah yang akhirnya melahirkan stigma kekerasan dan gerakan ekstrim di kalangan Islam.



Penyusupan




Intel di zaman Nabi juga mirip intel-intel zaman sekarang. Al kisah, setelah Kabilah Hauzan mendengar bahwa Mekah sudah dikuasai oleh kaum Muslimin, Malik bin Auf An Nashri, salah satu pemuka kabilah mengumpulkan para pemuka lainnya. Mereka sepakat melakukan penyerangan terhadap Rasulullah SAW dan kaum Muslimin. Seperti biasanya, sebelum berangkat mereka mengirim beberapa mata-mata. Akan tetapi, mata-mata itu gagal dan tercerai berai, karena berhadapan dengan seorang penunggang kuda yang tidak mereka kenal.



Sebaliknya, Rasulullah SAW telah mengirim Abdullah bin Abi Hadrad Al Aslami, untuk menyusup, dan bermukim di Hauzan. Selama tinggal di sana, beliau berhasil mendapatkan informasi yang berasal dari pembesar Hauzan, Malik bin Aufah An Nashri. Informasi itu menyangkut semua hal yang terjadi di sana, termasuk kesepakatan mereka untuk melakukan serangan kepada Rasulullah SAW.



Akhirnya, Rasulullah SAW memutuskan membawa 12 ribu pasukan menuju Hauzan. Sesampai di lembah Hunain, ternyata pasukan Musyrikin sudah menunggu terlebih dahulu, hingga berkecamuklah Perang Hunain pada tahun ke-8 setelah hijrah, pasca Fathu Mekah. Yang membedakan, intelijen di zaman Nabi tak pernah merekayasa untuk menjatuhkan reputasi seseorang –apalagi terhadap kelompok kaum Muslim— dibanding intelijen masa kini. Mungkin, itu adalah cerminan intel berakhlak dan tidak berakhlak. [cha/tho/www.hidayatullah.com]

 

(read more ...)



Rabu, 14/10/2009 06:07 WIB Cetak |  Kirim



Ternyata, sebelum melontarkan pernyataan miring tentang menentang cadar, Syekh Tantai, ulama besar dari Universitas Al Azhar sudah lebih dulu terkenal mempunyai beberapa catatan yang lainnya. Disarikan dari padlf, berikut kutipannya:


- Syeikh Tantawi pernah berkata Ana ragel dawlah fi muwadhaf (Saya seorang pegawai negeri ini). Itu berarti dia tidak independen dan hanya bekerja untuk negara. Dia adalah orang yang disebut masyarakat Mesir sebagai Sayyid beh Oke - orang yang mengatakan setuju untuk segala keinginan pemerintah.


- Ia setuju dengan Konferensi Wanita konferensi di Beijing, dan tak keberatan dengan keputusan konferensi nomor 7, tentang pernikahan sejenis. Komentarnya, "Apa yang salah dengan itu? Itu bagian dari kesehatan seksual!" menyetujui perkawinan sesama jenis.


- Dia berkata: "Menerapkan Syariah akan memakan waktu yang lama sampai semua orang yakin, dan puas." Perkataannya ini menyiratkan bahwa orang perlu untuk merasa puas (atau nyaman) terlebih dahulu akan Syariah sebelum Syariah dapat diterapkan sepenuhnya.


- Dia setuju dengan keputusan Hosni Mubarak (presiden Mesir) mengirim anggota partai politik Ikhwan ke pengadilan militer untuk persidangan.


- Ia dikenal sering mengunjungi Rotary Clubs Masonik Yahudi jaringan klub sosial di Mesir. Sementara ada fatwa dari al-Azhar Mei 1985 yang melarang umat Islam  bergabung dengan Rotary Club.


- Dia membuat riba / bunga menjadi halal. Ketika dia diberitahu bahwa para ahli tidak setuju dengan dia, ia menjawab "mereka bukan siapa-siapa.


- Dia menyatakan bom bunuh diri di Palestina tidak menjadi Syahid, sementara para ilmuwan dan sarjana di Al-Azhar menanggapi dengan mengatakan mereka adalah Syuhada, dan mereka orang Palestina berada dalam keadaan perang.


- Dia setuju dengan keputusan menteri Pendidikan untuk melarang jilbab di sekolah, sampai mereka mendapatkan persetujuan wali atau orangnya. Ini adalah keputusan yang aneh, karena di Mesir banyak gadis mengenakan jilbab dan datang dari keluarga non-praktisi (bahkan yang sekuler) atau mungkin sadar akan pentingnya .


- Satu kali Mubarak sedang sakit dan beberapa wartawan yang menulis tentang perubahan kepemimpinan dan Tantawi menyatakan bahwa hadd al-Qadhf (80 cambukan) harus diterapkan pada para wartawan yang dianggap lancang itu.


- Dia berkata wanita diperbolehkan untuk menjadi presiden dan bahwa mereka memenuhi syarat untuk posisi itu.


- Dia mengatakan bahwa Prancis memiliki hak untuk melarang jilbab.


- Dia pernah ditanya apakah itu halal atau haram untuk pergi ke pantai di mana perempuan berpakaian bikini dll, ia menjawab: "Apakah negara meminta Anda untuk pergi ke sana?". Sekali lagi ia menghindari pokok persoalan dan tidak berurusan dengan masalah.


- Dia pernah ditanya tentang penyelenggaran kontes kecantikan Miss Mesir, apakah itu halal atau haram, ia menjawab "Kami menyarankan pemerintah untuk tidak mengadakan kompetisi seperti itu. Sekali lagi ia menghindari memberikan fatwa atau membuat definisi yang jelas.


- Pada konferensi PBB Shimon Perez ia berjabat tangan dengan kedua tangannya (tanda kekaguman dan hormat)


- Dia setuju untuk mengizinkan pasukan atau tentara asing ditempatkan di Mesir, walaupun mereka mungkin menggunakannya untuk menyerang negara-negara tetangga, seperti Palestina.


- Wallohu alam bi shawwab. (sa/padlf)



(read more ...)




Video Pria Palestina Dilindas Mobil Yahudi Dilansir Israel





E-mail Print PDF



Laki-laki itu jatuh, lalu sebuah mobil sedan segara  melindasnya. Kurang puas, mobil itu mundur, lalu melindas untuk kedua kalinya




Hidayatullah.com--Sebuah cuplikan video memperlihatkan seorang laki-laki warga Palestina dilindas oleh sebuah mobil sedan jenis Mercedes yang dikemudikan oleh pemukim Yahudi di kota Khalil, Palestina. Pelindasan itu terlihat disengaja, karena dilakukan dua kali. Setelah berhasil melindas untuk pertama kalinya, mobil warna metalik itu mundur melakukan pelindasan untuk yang kedua kalinya.



Setelah peristiwa pelindasan itu, terlihat badan korban berada di kolong mobil. Sedangkan kedua kakinya yang masih lengkap dengan sepatu berwarna putih berselonjor ke luar kolong.



Cuplikan video ini dilansir oleh Channel 3, stasiun televisi milik Israel pada hari Rabu (2/12).



Pihak Israel mengklaim, tentara Israel melepaskan tembakkan kepada warga Palestina itu karena ia melakukan penikaman terhadap salah seorang penduduk Yahudi. Karena tembakan itu, laki-laki tersebut jatuh. Saat itulah sebuah mobil sedan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Laki-laki itu pun dilindasnya. [tho/arb/hidayatullah.com]

(read more ...)




24 Oktober merupakan peringatan hari kelahiran United Nations (UN / UNO) atau yang lebih kita kenal dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). UN atau kita sebut PBB (dalam bahasa Indonesia) merupakan sebuah organisasi internasional yang bertujuan memfasilitasi kerjasama antar negara dalam bidang hukum internasional, keamanan internasional, pengembangan ekonomi, kemajuan sosial, Hak Asasi Manusia (HAM), dan menciptakan perdamaian dunia. Sejarah berdirinya PBB bermula pada tahun 1945 setelah selesainya Perang Dunia (PD) II, menggantikan peran Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations / LN) untuk menghentikan perang diantara negara-negara di dunia. PBB memiliki banyak sub-sub lembaga di bawahnya untuk mewujudkan visi-nya.


PBB memiliki enam organ utama yaitu (SUMBER DI SINI)[1]


·        Majelis Umum PBB (General Assembly)


·        Dewan Keamanan PBB (Security Council)


·        Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (Economic and Social Council)


·        Dewan Perwalian PBB (Trusteeship Council) – sejak 1994 telah dibekukan


·        Sekretariat PBB (Secretariat)


·        Mahkamah Internasional  (International Court of Justice)


Untuk melihat “misi suci” PBB, kita bisa melihat di dalam isi Piagam PBB atau Charter of The United Nations. Namun, karena mustahil menuliskan semua isi charter-nya, penulis hanya akan tampilkan cuplikan dari Preamble / Pembukaan / Mukadimah Piagam PBB.


Preamble (telah diterjemahkan secara bebas dari bahasa Inggris)


"Kami anggota Perserikatan Bangsa Bangsa bersepakat":













   
   Gedung PBB


1. Untuk menyelamatkan generasi kedepan dari kesengsaraan akibat tragedi peperangan, yang telah dua kali melanda dalam kehidupan kami, dimana telah membawa kesedihan yang tiada terperi kepada sesama manusia.


2. Menjunjung hak-hak asasi manusia, nilai kemanusiaan, kesetaraan hak-hak lelaki dan perempuan, serta menjaga hak-hak negara-negara besar maupun kecil.


3. Mewujudkan rasa keadilan dan rasa hormat-menghormati terhadap kebebasan pelaksanaan undang-undang tiap negara.


4. Memajukan kesejahteraan sosial dan taraf hidup yang lebih baik dalam kebebasan yang lebih luas.


"Maka untuk Tujuan ini":


1. Akan menerapkan sikap toleransi dan hidup bersama-sama dan menjaga keamanan satu sama lain sebagai negeri-negeri bertetangga secara baik.


2. Akan menyatukan kekuatan kami untuk memelihara keamanan dan keselamatan antar bangsa.


3. Akan memastikan bahwa kekuatan senjata tidak akan digunakan, kecuali untuk kepentingan umum setelah melalui tahapan-tahapan pendekatan.


4. Akan menggunakan potensi antar bangsa bagi membangun kemajuan ekonomi dan sosial untuk semua manusia.


Membuat Keputusan Bersama Untuk Mencapai Tujuan Ini. (SUMBER DI SINI)[2]


Demikianlah ”misi suci” PBB dituliskan dalam piagamnya meskipun sampai hari ini, tidak ada misi tersebut yang terwujud dengan baik bahkan justru bertolak belakang dari misinya sendiri. Di dalam sebuah lembaga PBB, kedudukan tertinggi tidak jelas dipegang oleh siapa. Biasanya, dalam sistem demokrasi, pemegang kekuasaan tertinggi dipegang oleh rakyat. Dalam hal suatu lembaga, maka biasanya keputusan tertinggi akan berada di tangan seluruh peserta / anggota lembaga organisasi (sebut saja musyawarah anggota), namun mekanisme ini pun juga tidak ada dalam lembaga yang berisi 192 negara di seluruh dunia ini.


Dalam standar normal suatu lembaga, seharusnya keputusan tertinggi PBB dipegang oleh Majelis Umum yang berisi seluruh anggota PBB. Namun ternyata badan ini tidak memiliki kekuatan apapun untuk menetapkan resolusi dan tindakan nyata tanpa persetujuan 5 Anggota Tetap Dewan Keamanan. Karena Dewan Keamanan yang beranggotakan Cina, Rusia, Amerika, Inggris, dan Prancis memiliki Hak Veto untuk mengeliminasi keputusan Majelis Umum yang tidak sesuai selera mereka. Jadi, sebenarnya bisa dikatakan bahwa pemegang kekuasaan tertinggi PBB dipegang oleh kelima negara anggota tersebut. Tentunya, hal ini sama sekali tidak pas dan sesuai dengan sistem DEMOKRASI yang mereka dengung-dengungkan selama ini. Jadi kesimpulannya, Dewan Keamanan adalah kekuatan pokok dan pengendali bagi keputusan dan tindakan PBB.


Mekanisme yang aneh tentang PBB itu membuat gusar penulis untuk mencoba menelusuri sejarah PBB dan hidden mission yang diusungnya. Benarkah PBB benar-benar mewujudkan “misi suci” yang tertulis di dalam mukaddimah piagamnya itu? Bagaimana sejarah awal dan perkembangan PBB sebenarnya? Apa saja yang berada di balik PBB?













   
   Penandatanganan Piagam PBB

PBB didirikan di San Fransisco pada 24 Oktober 1945 setelah Konferensi Dumbarton Oaks di Washington, DC, namun Sidang Umum yang pertama – yang dihadiri wakil dari 51 negara – baru berlangsung pada 10 Januari 1946 di Church House, London. Sejak didirikan hingga tahun 2007, sudah tercatat ada 192 negara yang menjadi anggota PBB. Markas pertama PBB berada di San Francisco, namun sejak tahun 1946 sampai sekarang kantor pusatnya terletak di di New York.


Church House adalah adalah sebuah bangunan yang menjadi markas pusat dari perkumpulan gereja-gereja (Anglikan) di Inggris, terletak di sebelah selatan dari Deans Yard di sebelah Wesminter Abbey di kota London. Gereja ini pada saat itu diduga kuat menjadi salah satu tempat berkumpulnya tokoh-tokoh gereja yang menjadi seorang Freemason. (SUMBER DI SINI)[3]


Bangunan ini didisain oleh Sir Herbert Barker, sekitar tahun 1930-an, sebagai pengganti gedung yang terdahulu, yang diresmikan pada tahun 1902 oleh Coorperation of Church House yang berdiri sejak 1888. Bangunan ini dimaksudkan sebagai peringatan perayaan emas 50 tahun bertahtanya Ratu Victoria yang menjadi ratu sejak 1887. Batu pertama pembangunan bangunan ini diletakkan oleh Ratu Mary pada 26 Juni 1937 dan diresmikan oleh Raja George VI pada 10 Juni 1940.


King George VI merupakan pendukung utama dan anggota aktif Craft (Freemason) dan pada tahun 1953 Uskup Anglikan ke XVI juga seorang Freemason (Lihat buku Christianity and Freemasonry; Kirby). Uskup Agung Geoffrey Fisher juga seorang Freemason, termasuk pula Uskup Agung Canterbury (1945-1961). (SUMBER DI SINI)[4]. Untuk lebih lengkapnya, silakan membaca lebih













   
 Church House London

 

lanjut buku Church of England, Freemasonry and Christianity : Are They Compatible? dan buku Christianity and Freemasonry.


Selanjutnya, diketahui bahwa istilah "United Nations" dicetuskan pertama kali oleh Franklin D. Roosevelt sewaktu masih berlangsung Perang Dunia II. Sosok Franklin D. Roosevelt perlu diketahui ternyata selain sebagai Presiden Amerika Serikat, ia juga merupakan anggota penting dari Organisasi Yahudi Freemasonry- yang memiliki beberapa organisasi underbow berkedok gerakan sosial dan amal seperti Lions Club dan Rotary Club. Setidaknya terdapat dua catatan mengenai aktivitasnya di organisasi Mason tersebut. Satu sumber menyatakan Rosevelt bergabung dengan sebuah organisasi Lodge pada tanggal 11 Oktober 1911 (SUMBER DI SINI)[5]; sedangkan sumber lain menyatakan ia masuk pada 28 November 1911 (SUMBER DI SINI)[6].


Nama PBB/UNO digunakan secara resmi pertama kali pada 1 Januari 1942. Tujuannya untuk mengikat wakil-wakil Pihak Berseteru kepada prinsip-prinsip Piagam Atlantik serta untuk menerima sumpah dari mereka guna menjaga keamanan Kuasa Paksi. Setelah upaya itu, Pihak Berseteru terus memantapkannya dengan ditandatanganinya kesepakatan-kesepakatan dalam persidangan-persidangan di Moscow, Kaherah dan Taheran sewaktu masih berperang pada tahun 1943. Dari bulan agustus sampai Oktober 1944, wakil-wakil dari Perancis, Republik China, Inggris, Amerika Serikat dan Uni Soviet bertemu untuk memperincikan rancangan-rancangan di Estet Dumbarton Oaks, Washington, D.C..


Dari pertemuan-pertemuan selanjutnya dicapailah rancangan pokok mengenai tujuan, wakil-wakil anggota dari tiap negara, struktur, serta susunan dewan untuk memelihara keamanan dan keselamatan antarbangsa, kerjasama ekonomi dan sosial antarbangsa. Rancangan ini telah dibicarakan dan diperdebatkan oleh beberapa wakil negara dan utusan bangsa.


Pada 25 April 1945, persidangan PBB tentang penyatuan antar bangsa, dimulai di San Francisco. Selain dihadiri oleh wakil-wakil negara juga organisasi umum -termasuknya Lions Club yang diundang khusus untuk menggubah piagam PBB. Tak kurang 50 negara yang menghadiri persidangan ini menandatangani "Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa". Polandia yang tidak menghadiri persidangan itu diberi satu tempat khusus, baru dua bulan kemudian tepatnya pada 26 Juni wakilnya menandatangani piagam itu.


Selanjutnya, Perserikatan Bangsa Bangsa ditetapkan secara resmi pada 24 Oktober 1945, selepas piagamnya telah diratifikasi oleh lima anggota tetap Dewan Keamanan (DK), yaitu Amerika Serikat, Inggris, Uni Soviet, Perancis, Republik China serta diikuti anggota lainnya yang terdiri 46 negara di Church House, London, Inggris pada 10 Januari 1946 yang diikuti 51 negara.


Kantor Pusat PBB saat ini dibangun di sebelah Sungai East (East River), New York City pada tahun 1949 di atas tanah yang dibeli dari John D. Rockefeller, Jr. dengan dana bersama sebanyak 8.5 juta dollar AS jadi bukan milik Amerika Serikat. John D. Rockfeller pun juga diketahui merupakan anggota Freemason. Arsiteknya dari berbagai bangsa, termasuknya Le Corbusier (Perancis), Oscar Niemeyer (Brazil), dan wakil-wakil dari beberapa negara yang lain. Tim ini diketuai oleh Wallace K. Harrison, Pimpinan Harrison & Abramovitz (NYC). Kantornya dibuka secara resmi pada 9 Januari 1951. (SUMBER DI SINI)[7]


Tokoh-tokoh PBB juga banyak sekali diisi oleh tokoh-tokoh dan pentolan anggota-anggota Freemason dan cabang-cabangnya. Dalam sebuah artikel tercatat nama U Thant (UN Secretary General), Robert Strange McNamara (US Secretary of Defense 1961-1968; President World Bank 1968-1981).(SUMBER DI SINI)[8]













 
   Logo Bendera PBB


Lambang PBB yang menampakkan globe dengan garis lintang dan bujur membentuk 33 kolom. Tak hanya itu, di dalam logo nya pun, terdapat segmen coretan sebanyak 33 juga berupa tebaran ranting dan dedaunan Akasia. Apakah hanya sekedar kebetulan? Simbol nomor 33 adalah melambangkan 33 tingkatan dalam organsasi rahasia Freemasonry produk Yahudi. Pohon akasia, mungkin bisa diartikan dengan ” semak yang membakar” yang Moses (Nabi Musa) temukan di tengah padang pasir (Exodus 3:2), dan merupakan kayu yang oleh Tuhan diperintahkan kepada Moses untuk gunakan sebagai bahan Bahtera / Kapal, Meja, dan Tempat Beribadah (Exodus 25: 10, 23).


Ada banyak bukti, bahwa lahirnya PBB dan segala keputusan dan tindakannya adalah buah dari konsep organisasi bawah tanah Freemasonry produk Yahudi dan kaki tangannya untuk melindungi gerakan zionisme dan kepentingan Eropa Barat serta Amerika Serikat yang merupakan teman mesranya negara zionis Israel.


Pertama, pencetus PBB adalah Franklin D. Roosevelt, seorang masonic dan sekaligus Presiden Amerika Serikat (penjelasan di atas).


Kedua, konseptor Piagam PBB adalah Organisasi Yahudi Lions Club yang diundang secara khusus pada 25 April 1945 di San Francisco.


Ketiga, Lambang PBB berupa gambar bola dunia dengan garis lintang dan bujur membentuk 33 kolom adalah melambangkan 33 tingkatan dalam organsasi rahasia Freemasonry produk yahudi.


Keempat, slogan yang selalu diungkapkan oleh Freemasonry dan Lions Club adalah kebebasan, persaudaraan, dan kesetaraan (versi Yahudi) adalah sama dengan muatan Piagam PBB.


Kelima, adanya lembaga keuangan di bawah PBB seperti Bank Dunia dan IMF telah nyata-nyata menerapkan sistem ribawi yang mencekik negara berkembang dan menebalkan kantong negara-negara maju dengan program "pinjaman lunak" jangka panjang yang bunganya bisa naik sampai seratus persen setiap tahunnya karena menggunakan kurs mata uang Amerika dan Eropa. Sedangkan sistem perbankan pertama kali muncul pada abad ke-18 selepas Perang Salib, oleh para "Kesatria Templar" penganut faham Freemasonry. Mereka menumpuk uang dan emas dengan menerapkan sistem chek dan bunga bagi para penjiarah yang mengunjungi Kota Yerusalem (baca artikel: Tinggalkan Dollar, Gunakan Emas) Kemudian pada abad berikutnya baru muncul perbankan modern di Inggris milik seorang Yahudi bernama Rockefeller. Mereka memandang masa kejayaan agama telah berakhir dan digantikan Kekuatan Emas dan Penguasaan Informasi.













   
 Lions Club

 

Keenam, adanya "dominasi kekuatan" oleh lima Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB yang memiliki Hak Veto adalah bukti nyata kesombongan dan egoisme mereka. Sedangkan Majelis Umum yang secara "hukum" lebih tinggi dimana anggotanya seluruh negara tidak lebih sebagai "penonton" yang tak berdaya dalam setiap kebijakan akhir PBB. Mereka menindas bangsa lemah, memaksakan paket demokrasi dalam setiap negara untuk memudahkan campur tangannya, lalu secara curang melarang kepemilikan dan penggunaan senjata nuklir selain oleh 5 negara tadi dan negara Zionis Israel.


Begitu juga skandal Yahudi dengan PBB, juga sudah bukan rahasia lagi. Sebelum PBB lahir, Yahudi sudah menguasai lembaga dunia yang semisalnya ada waktu itu, LBB. Hal ini ditegaskan Nahom Sokolov, seorang pemimpin Zionis dalam muktamar Zionis tanggal 27 Agustus 1922. Dan peran terbesar yang telah dimainkan oleh LBB untuk kepentingan Zionis internasional adalah, keberhasilannya meletakkan batu pertama bagi berdirinya negara Israel di tanah Palestina. Setelah itu baru lahir PBB melanjutkan peran yang pernah dimainkan LBB sebelumnya.


Tidak diragukan lagi, bahwa PBB merupakan hasil pemikiran Yahudi sebagaimana pendahulunya LBB. Semenjak hari kelahirannya, Zionis internasional telah menancapkan kukunya di PBB, dimana 60 % dari keseluruhan pegawai PBB adalah Yahudi yang mayoritas memegang posisi penting dan strategis. Sementara jika dibandingkan dengan jumlah penduduk dunia secara keseluruhan, jumlah Yahudi tidak lebih dari 5 %.


Dengan demikian, jelaslah bagaimana pengaruh Zionis internasional di PBB untuk merealisasikan impian dan tujuan politik  jahat mereka. Maka ketika negara Yahudi (Israel) ini tidak mematuhi resolusi yang dikeluarkan PBB, lembaga dunia ini hanya bisa berpangku tangan tidak pernah mengambil tindakan tegas. Berbeda halnya bila yang tidak mematuhi resolusi PBB  adalah negara Islam, maka tidak pelak lagi seluruh kekuatan dunia akan dikerahkan untuk menghancurkannya.


Jadi, akankah PBB benar-benar akan mewujudkan misi sucinya atau justru akan mendirikan ”THE NEW WORLD ORDER”? Bertanyalah pada rumput yang bergoyang, demikian kata Ebiet G. Ade.


Ahmed Fikreatif


Penulis artikel dapat dihubungi melalui Redaksi Muslim Daily








[1] http://en.wikipedia.org/wiki/United_Nations




[2] http://www.un.org/en/documents/charter/preamble.shtml




[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Church_House_(Church_of_England)




[4] http://randlebond.blogspot.com/2009/10/freemasonry-and-anglican-church.html




[5] http://www.pagrandlodge.org/mlam/presidents/froosevelt.html




[6] http://www.calodges.org/no406/FAMASONS.HTM




[7] http://brianakira.wordpress.com/2009/04/16/lucifers-united-nations/



[8] http://brianakira.wordpress.com/2009/04/16/lucifers-united-nations/


 


(read more ...)



Bagaimana hakikat bank ribawi seperti Bank Century itu? Simak dialog yang pernah dimuat dalam majalah humor Inggrs, Punch, 3 April 1957.


Sebelumnya perkenankan kami memberi ilustrasi hakikat bank ribawi yang ada di seluruh dunia, seperti halnya Bank Century ini, agar kita semua memiliki gambaran yang sama tentang hakikat bank ribawi. Sebuah majalah humor Inggris, Punch, pada 3 April 1957 pernah memuat satu bagian tanya jawab tentang hakikat bank. Kami mengutipnya, dengan perbaikan di sana-sini, dari pendahuluan buku “The Federal Reserve, Monster dari Jekyll Island: Sebuah Studi Mendalam tentang The Federal Reserve” (Edward Griffin, 1994). Berikut tanya jawabnya:


T : Bank itu untuk apa, sih?


J : Untuk membuat uang.


T : Uang untuk nasabah?


J : Bukan, untuk bank.


T : Kok iklan-iklannya tidak bilang begitu?


J : Ya mungkin mereka kurang enak jika berkata jujur. Tapi bisa diketahui dengan melihat pada cadangan bank sekira US $249 juta. Itu uang yang bank buat.


T : Di luar nasabah?


J : Demikianlah.


T : Selain itu, bank juta menyebukan Akiva sekira US $500 juta. Apakah itu uang yang bank buat juga?


J : Tidak persis demikian. Itu adalah uang yang bank pakai untuk menciptakan uang kembali.


T : Oo, begitu. Dan bank menyimpan uang itu di tempat yang aman?


J : Tidak sama sekali. Tapi uang itu dipinjamkan kepada para nasabah.


T : Jika begitu uangnya sebenarnya belum ada dong?


J : Ya, belum.


T : Jadi, aktiva US $500 juta itu apa?


J : Lho, itu kan pasti akan jadi milik bank juga nantinya.


T : Tapi bank kan harus benar-benar punya uang yang disimpan di tempat yang aman?


J : Ya, biasanya lebih kurang US $500 juta. Ini disebut Pasiva.


T : Tapi, kalau sudah didapat, kenapa disebut lagi sebagai Pasiva?


J : Ya karena uang itu sebenarnya bukan milik bank.


T : Tapi kenapa uang itu ada di bank?


J : Karena uang itu dipinjam dari para nasabah bank.


T : Maksudnya, para nasabah meminjamkan uangnya kepada bank?


J : Tepat. Nilai uang itu dicatat di dalam buku rekening para nasabah sedangkan uangnya dipinjam bank.


T : Lalu apa yang diperbuat bank dengan uang itu?


J : Ya dipinjamkan kepada nasabah lain yang memerlukannya.


T : Hm, tadi Anda katakan uang yang dipinjamkan kepada orang lain itu adalah Aktiva?


J : Ya.


T : Jadi Aktiva dan Pasiva merupakan dua hal yang sama?


J : Ooo… tidak persis demikian.


T : Tadi Anda bilang begitu. Jika saya taruh US $100 ke dalam rekening saya di bank itu, bank wajib mengembalikannya kepada saya, maka itu disebut Pasiva. Bank itu lalu meminjamkan uang itu kepada orang lain, dan orang lain itu wajib mengembalikan kepada bank, maka uang itu disebut Aktiva. Itu kan uang Us $100 yang itu-itu juga?


J : Ya, benar itu. Tapi…


T : Kalau uang itu kita hapus, seluruh uang nasabah dihapus, berarti bank itu sebenarnya tidak punya uang sama sekali?


J : Ya, demikian secara teori…


T : Bailah jika secara teoritis. Tapi jika bank tidak punya uang, darimana bank mendapatkan cadangan sekira US $249 juta yang tadi itu?


J : Tadi kan sudah saya katakan, bank yang buat.


T : Caranya?


J : Ya, ketika bank itu meminjamkan US $100 uang Anda kepada nasabah lain, bank membebankan orang itu dengan bunga.


T : Berapa banyak?


J : Tergantung pada tingkat suku bunga. Katakanlah lima setengah persen. Itulah laba dari bank atau dikatakan sebagai bank membuat uangnya sendiri. Dari bunga.


T : Mengapa bunga itu bukan keuntungan saya? Bukankah itu uang saya sebenarnya?


J : Ya, begitulah cara kerja sebuah bank, bahwa….


T : Waktu saya pinjamkan kepada bank itu US $100 uang saya, kenapa tidak saya bebankan bunga kepada bank?


J : Lho, kan itu Anda lakukan…


T : Anda tidak bilang demikian. Berapa banyak?


J : Tergantung pada suku bunga bank itu. Katakanlah setengah persen.


T : Kok pelit sekali?


J : He he he… dan itu jika Anda tidak menarik uang Anda kembali.


T : Jika begitu lebih baik saya tarik seluruh uang saya, dan saya kubur di halaman rumah saya?


J : Jika Anda berbuat begitu, bank tidak akan senang.


T : Kok begitu? Bila saya biarkan uang saya di bank, kan jadinya Pasiva. Dengan begitu saya kan mengurangi beban kewajiban bank?


J : Bukan begitu. Kalau Anda tarik uang Anda, maka bank tidak punya Aktiva.


T : Tapi bukankah kalau kita ingin menarik uang kita kembali, bukankah bank harusnya mengizinkannya?


J : Pastilah…


T : Tapi, jika uang saya sedang dipinjamkan oleh bank ke nasabah lain bagaimana?


J : Bank akan mempersilakan Anda mengambil uang orang lainnya.


T : Tapi jika orang lain itu juga ingin mengambil uangnya? Semua nasabah serentak ingin mengambil uangnya sendiri, bagaimana?


J : Itu kan teori. Dalam kenyataannya tidak demikian.


T : Kalau itu terjadi juga dalam kehidupan nyata?


J : Ya, bank tidak akan mampu untuk mengembalikan uang seluruh nasabahnya…


T : Kalau begitu bank sebenarnya tidak punya komitmen dong.


J : Saya tidak bilang begitu.


T : Tentu saja Anda tidak akan jujur bilang demikian. Cukup atau masih ada keterangan lain?


J : Cukup sajalah. Anda kini boleh pergi ke bank dan membuka rekening.


T : Mm… sebenarnya masih ada satu lagi pertanyaan.


J : Boleh, apa itu?


T : Saya pikir, apa tidak sebaiknya saya membuka bank saja ya?


Demikianlah hakikat bank. Bank konvensional hanya bisa hidup dan bertahan karena mendapat kepercayaan (Trust) dari nasabahnya. Sedangkan kepercayaan nasabahnya tumbuh karena bank mendapat jaminan dari bank sentral. Setiap tahun bank mendapat rating dari bank sentral dan dari rating itulah kepercayaan nasabah bisa bertambah atau turun.


Bank Century, bertahun-tahun bank ini memiliki rating yang buruk. Namun dalam kasus Bank Century sekarang, adalah sangat ganjil ketika bank yang buruk ini “dipercaya” oleh nasabahnya sehingga nasabahnya mau menyimpan uangnya dalam jumlah yang sangat amat besar. Ini sungguh-sungguh aneh sehingga menimbulkan banyak tanda tanya. Salah satu dugaan yang mengemuka adalah, seperti yang dikatakan ekonom Ichsanudin Noorsi di berbagai forum, Apakah Bank Century yang rapuh ini telah dijadikan lembaga pencucian uang menjelang Pemilu 2009 kemarin, di mana dananya mengalir ke sebuah partai politik besar? (bersambung/ridyasmara)


(read more ...)



“Kasus Bank Century jika dibuka akan panjang dan melebar kemana-mana,” kata H.M. Jusuf Kalla kepada Said Agil Sirajd, saat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu bertemu Kalla di Jakarta (4/9).

“Kasus Bank Century jika dibuka akan panjang dan melebar kemana-mana,” kata H.M. Jusuf Kalla kepada Said Agil Sirajd, saat Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu bertemu Kalla di Jakarta (4/9). Ketika pernyataan itu dikejar, Jusuf Kalla mengelak dan hanya mengemukakan jiika dirinya sedari awal tidak setuju dengan bailout Bank Century karena yakin jika kasus yang menimpa bank tersebut merupakan perampokan pejabatnya sendiri.


Apa yang telah diduga Kalla sepertinya akan menjadi kenyataan. Hari-hari ini kita terus dibombardir perkembangan demi perkembangan kasus Kriminalisasi KPK yang entah bagaimana rupa ujungnya. Beririsan dengan kasus tersebut, sejumlah tokoh nasional dan eksponen pro-reformasi, dengan lebih kritis melihat jika keseluruhan kasus ini sesungguhnya bermuara dari kasus Bank Century.


Ketua Umum PP Muhammadiyah dan mantan presiden Abdurrahman Wahid dengan tegas menyatakan jika kasus penahanan Ketua KPK non-aktif Bibit Samad Ryanto dan Chandra Hamzah sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari pengusutan kasus pencairan dana pada Bank Century (Kompas, 1/11). ”Jauh-dekat, kasus itu ada kaitannya dengan Bank Century yang diduga melibatkan sejumlah pejabat tinggi negara,” ujar Din Syamsuddin. Sementara Gus Dur mengingatkan agar KPK tidak surut dan tetap fokus untuk mengusut kasus Bank Century.


Bahkan Tim-8 yang dibentuk Presiden Susuilo Bambang Yudhoyono pun dalam beberapa jumpa pers menyatakan jika kasus Bibit-Chandra memang terkait dengan kasus Century.


Perkembangan mutakhir kasus ini adalah dengan bergulirnya Hak Angket yang diajukan Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terhadap kasus ini yang sejak digulirkan hingga hari ini (13/11) telah mendapat dukungan 139 anggota DPR dari enam fraksi, kecuali Fraksi Partai Demokrat yang berkilah lebih memilih menunggu hasil akhir audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menurut Ketua BPK Hadi Purnomo di Jakarta kemarin (12/11), mengatakan, jika sampai saat ini BPK masih mengumpulkan data seputar Bank Century dan menganalisanya.


“Data yang telah dikumpulkan auditor BPK itu macam-macam, ada dalam bentuk wawancara, tertulis, dan ada laporan dari PPATK (Pusat Pelaporan Analisa Transaksi Keuangan),” katanya. Auditor BPK, ia berharap, bisa secepatnya menganalisa data tersebut dan menyusunnya menjadi laporan. Hadi Purnomo yang baru menjabat sebagai Ketua BPK menggantikan Anwar Nasution berharap, “Mudah-Mudahan bisa selesai, tapi jika belum selesai pada akhir Nopember, ya pada akhir Desember.”


Juru Bicara Inisiator Hak Angket Kasus Bank Century, Maruarar Sirait yang berasal dari PDIP sedikit kecewa dengan Ketua DPR Marzuki Alie yang sepertinya enggan ikut menandatangani pengajuan hak angket tersebut, walau para wakil ketua DPR lainnya telah setuju. Marzuki Alie yang berasal dari Partai Demokrat ini memang bukan sekali ini saja terkesan malas bersikap kritis terhadap pemerintahan SBY-Budiono. Ketika DPR hendak memanggil Menteri Kesehatan yang baru, Endang Sedyaningsih, yang penunjukkannya oleh SBY menimbulkan kontroversi karena dikenal sebagai orang yang akrab dengan Namru-II, Ketua DPR Marzuki Alie dengan keras menyatakan ketidaksetujuannya dan “memveto” acara rapat dengar pendapat dengan menteri baru ini dengan mengatakan jika acara-acara serupa tidak ada manfaatnya.


Pengajuan hak angket DPR sendiri sebenarnya jug amenimbulkan keraguan banyak pihak karena belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, hak angket ini biasanya hanya “panas” diawal namun dengan cepat menjadi tak jelas ujungnya atau terkesan hanya normatif. Salah satu contoh paling baik adalah ketika DPR lewat pansus hak angket Daftar Pemilih Tetap (DPT) mencoba untuk mengkritisi DPT Pemilu 2009 yang kisruh kemarin. Namun hasilnya benar-benar mengecewakan karena hanya menghasilkan keputusan normatif. Namun walau bagaimana pun, mau tidak mau rakyat harus tetap mengawasi jalannya proses hak angket terkait Century ini. Hanya saja, mungkin kita jangan terlalu berharap banyak pada parlemen negeri ini, yang bukan rahasia umum lagi sudah lama dikenal sebagai institusi yang NATO (Not Action Talk Only).


Lima Sasaran Hak Angket DPR


Juru Bicara inisiator Hak Angket Bank Century, Maruarar Sirait, dalam pernyataan tertlisnya yang dirilis Kamis (12/11) mengemukakan lima sasaran fokus penyelidikan DPR terhadap kasus ini, yakni: Pertama, "…mengetahui sejauh mana pemerintah melaksanakan peraturan-peraturan perundangan yang berlaku. Terkait keputusannya untuk mencairkan dana talangan (bailout) Rp 6,76 triliun untuk Bank Century."


Poin kedua adalah mengurai secara transparan komplikasi yang menyertai kasus pencairan dana talangan Bank Century. Termasuk mengapa bisa terjadi perubahan Peraturan Bank Indonesia secara mendadak. Juga keterlibatan Kabareskrim Polri Komjen Pol Susno Duadji dalam pencairan dana nasabah Bank Century sebesar Rp 2 triliun.


“Juga kemungkinan terjadinya konspirasi antara para pemegang sahan utama Bank Century dengan otoritas perbankan dan keuangan pemerintah,” ujar Maruarar.


Ketiga, menyelidiki ke mana saja aliran dana talangan Bank Century, mengingat sebagaian dana talangan tersebut oleh direksinya justru ditanamkan dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) dan dicairkan bagi nasabah besar (Budi Sampoerna). Sementara kepentingan nasabah kecil justru terabaikan.


“Adakah faktor kesengajaan melakukan pembobolan uang negara demi kepentingan tertentu, politik misalnya. Melakukan skenario bailout bagi Bank Century?" tambah Maruarar yang akrab disapa Bang Ara ini.


Keempat, menyelidiki mengapa bisa terjadi pengelembungan dana talangan menjadi Rp 6,76 triliun bagi Bank Century tanpa persetujuan DPR. Sementara Bank Century hanyalah sebuah bank swasta kecil yang sejak awal bermasalah. Padahal DPR hanya menyetujui dana talangan sebesar Rp 1,3 triliun.


Kelima, mengetahui seberapa besar kerugian negara yang ditimbulkan kasus bailout Bank Century. Serta sejauh mana kemungkinan penyelamatan uang negara bisa dilakukan. Hal ini sangat penting mengingat kondisi rakyat banyak yang masih sangat susah hidupnya dan demi memenuhi rasa keadilan rakyat.


Kronologis Kasus Century


Sebelum membahas lebih jauh tentang perkembangan kasus yang melibatkan sekurangnya dua petinggi negara kala itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia Budiono (sekarang sebagai Wakil Presiden RI), sebaiknya kita mengetahui kronologis kasus ini agar sedikit banyak mengetahui bagaimana proses bailout pemerintah yang mengorbankan uang rakyat sebesar minimal Rp 6,7 triliun demi menyelamatkan sebuah bank kecil bermasalah yang oleh Jusuf Kalla semasa masih menjabat Wakil Presiden RI dikatakan sebagai bank yang dirampok oleh dreksinya sendiri. Dan kita juga harus memahami apakah sebenarnya mahluk yang bernama “Bailout Game” itu? Agar semua pihak mengerti betapa jahatnya tindakan yang ditempuh pengambil kebijakan negara ini terhadap rakyatnya sendiri. (bersambung/ridyasmara)


(read more ...)




Di antara alasan kaum Syi’ah Rafidlah yang menganggap bahwa Ali radliyallahu ‘anhu lebih berhak menjadi khalifah adalah:

1. Mereka menganggap Ali radliyallahu ‘anhu lebih utama daripada Abu Bakar dan Umar radliyallahu ‘anhuma.

2. Ali radliyallahu ‘anhu termasuk keluarga Rasulullah (ahlul bait).

3. Wasiat Rasulullah di Ghadir Khum.

Kita jawab alasan mereka satu persatu:

Pertama pendapat mereka tentang keutamaan Ali radliyallahu ‘anhu di atas Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma.

Pendapat ini menyelisihi hadits Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan ijma’ kesepakatan para shahabat dan seluruh kaum muslimin. Bahkan menyelisihi ucapan Ali radhiallahu ‘anhu sendiri.

1. Diriwayatkan dengan sanadnya yang shahih dari Ibnu Umar:


كُنَّا نُخَيِّرُ بَيْنَ النَّاسِ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَنُخَيِّرُ أَبَا بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ثُمَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ. (رواه البخاري فتح الباري ج 7 ص 16)


Kami membanding-bandingkan di antara manusia di zaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Maka kami menganggap yang terbaik adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman bin Affan. (HR. Bukhari)

Dalam lafadh lain dikatakan:


كُنَّا نَقُوْلُ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيٌّ أَفْضَلُ أُمَّةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَهُ أَبُوْ بَكْرٍ ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِيْنَ. رواه أبو داود في كتاب السنة باب التفضيل انظر عون المعبود ج 8 صلى الله عليه و سلم 381 والترمذي وقال حديث حسن صحيح)


Kami mengatakan dan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam masih hidup bahwa yang paling utama dari umat nabi shallallahu `alaihi wa sallam setelah beliau adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Dan Tirmidzi berkata: Hadits hasan)

Dua hadits ini merupakan dalil yang qath’i (pasti) karena Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menyebutkan dua kalimat yang penting yang menunjukkan bahwa ucapannya tidak memiliki muatan subyektif. Pertama, kalimat tersebut adalah: “Kami membanding-bandingkan…”, atau “Kami mengatakan……”. Kedua kalimat tersebut menunjukkan bahwa ucapan itu adalah ucapan para shahabat seluruhnya dan tidak ada seorangpun dari mereka yang membantahnya.

Kalimat kedua adalah ucapan beliau: “Dan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam masih hidup…” atau dalam lafadh lain: “di zaman Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam…..”. Ucapan ini menunjukkan bahwa ucapan para shahabat tersebut didengar dan disaksikan oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, dan beliau shallallahu `alaihi wa sallam tidak membantahnya. Inilah yang dinamakan oleh ahlul hadits dengan hadits taqriri yang merupakan hujjah dan dalil yang qath’i.

2. Hadits yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu sendiri yang diriwayatkan secara mustafidlah dari Muhammad Ibnil Hanafiyah:


قُلْتُ ِلأَبِي: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ بَعْدَ رَسُوْلِ اللهَ ?؟ قَالَ: أَبُو بَكْرٍ. قَلْتُ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: عُمَرُ. وَخَشِيْتُ أَنْ يَقُوْلَ عُثْمَانُ. قُلْتُ: ثُمَّ أَنْْتَ؟ قَالَ: مَا أَنَا إِلاَّ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ. (رواه البخاري: كتاب فضائل الصحابة باب 4 وفتح البارى 7/20)


Aku bertanya kepada bapakku (yakni Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu): Siapakah manusia yang terbaik setelah Rasulullah ? ? Ia menjawab: “Abu Bakar”. Aku bertanya (lagi): “Kemudian siapa?”. Ia menjawab: “Umar”. Dan aku khwatir ia akan berkata Utsman, maka aku mengatakan: “Kemudian engkau?” Beliau menjawab: “Tidaklah aku kecuali seorang dari kalangan muslimin”. (HR. Bukhari, kitab Fadlailus Shahabah, bab 4 dan Fathul Bari juz 4/20)

Bahkan Ali bin Abi Thalib radhi-yallahu ‘anhu mengancam untuk mencambuk orang yang mengutamakan diri-nya di atas Abu Bakar dan Umar dengan cambukan seorang pendusta.


لاَ أُوْتِيَ بِأَحَدٍ يُفَضِّلُنِيْ عَلَى أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ إِلاَّ جَلَّدْتُهُ حَدَّ الْمُفْتَرِيْنَ.


Tidak didatangkan kepadaku seseorang yang mengutamakan aku diatas Abu Bakar dan Umar, kecuali akan aku cambuk dengan cambukan seorang pendusta.

Maka ketika itu seorang yang mengatakan beliau lebih utama dari Abu Bakar dan umar dicambuk delapan puluh kali cambukan. (Majmu’ Fatawa juz 4 hal. 422; Lihat Imamatul ‘Udhma, hal. 313).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan ucapan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai berikut:


إِني لَوَاقِفٌ فِي قَوْمٍ نَدْعُوا اللهَ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَقَدْ وُضِعَ عَلَى سَرِيْرِهِ، إِذَا رَجُلٌ مِنْ خَلْفِي قَدْ وَضَعَ مِرْفَقَيْهِ عَلَى مَنْكِبِي يَقُوْلُ: رَحِمَكَ اللهَ إِنْ كُنْتُ َلأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللهُ مَعَ صَاحِبَيْكَ ِلأَنِيْ كَثِيْرًا مَا كُنْتُ أَسْمَعُ رَسُوْلَ اللهِ ? يَقُوْلُ: كُنْتُ وَأَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَفَعَلْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَانْطَلَقْتُ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، فَإِنْ كُنْتُ َلأَرْجُو أَنْ يَجْعَلَكَ اللهُ مَعَهُمَا، فَالْتَفَتُّ فَإِذَا هُوَ عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ. (رواه البخاري في فضائل الصحابة، باب من فضائل عمر 3389 (4/1858))


Sungguh aku pernah berdiri di kerumunan orang yang sedang mendoakan Umar bin Khathab ketika telah diletakkan di atas pembaringannya. Tiba-tiba seseorang dari belakangku yang meletakkan kedua sikunya di kedua pundakku berkata: “Semoga Allah merahmatimu dan aku berharap agar Allah menggabungkan engkau bersama dua shahabatmu (Yakni Rasulullah dan Abu Bakar) karena aku sering mendengar Rasulullah ? bersabda: ‘Waktu itu aku bersama Abu Bakar dan Umar…’ ‘aku telah mengerjakan bersama Abu Bakar dan Umar…’, ‘aku pergi dengan Abu Bakar dan Umar…’. Maka sungguh aku berharap semoga Allah menggabungkan engkau dengan keduanya. Maka aku menengok ke belakangku ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib.

Hadits-hadits dari Ali bin Abi Thalib ini merupakan sebesar-besar dalil yang membuktikan kedustaan kaum Syi’ah Rafidlah yang mengutamakan Ali di atas Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma.

3. Bahkan ketika ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam siapa yang paling dicintainya, beliau shallallahu `alaihi wa sallam menjawab: “Abu Bakar”. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat dari ‘Amr bin ‘Ash radhiallahu ‘anhuma berikut:


أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السَّلاَسِلِ فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ قُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ قَالَ أَبُوهَا قُلْتُ ثُمَّ مَنْ قَالَ عُمَرُ فَعَدَّ رِجَالاً.


Bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam telah mengutus pasukan dalam perang dzatu tsalatsil. Maka aku mendatanginya, dan bertanya kepadanya: “Siapakah orang yang paling engkau cintai?” Beliau shallallahu `alaihi wa sallam menjawab: “Aisyah.” Aku berkata: “Dari kalangan laki-laki wahai Rasulllah?” Beliau menjawab: “Ayahnya”. Aku berkata: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Umar”. Kemudian beliau menyebutkan beberapa orang. (HR. Bukhari dalam Fadhailil A’mal, fathul Bari juz ke 7, hal. 18 dan Muslim dalam Fadhailus Shahabah juz ke-4 hal. 1856 no. 2384)

4. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah ibnul Yaman, Anas bin Malik dan Abdullah bin Umar:


ثُمَّ اقْتَدُوا بِاللَّذِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ مِنْ أَصْحَابِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ…


Kemudian ikutilah teladan orang-orang setelahku dari shahabatku yaitu Abu Bakar dan Umar…. (HR. Tirmidzi, Baihaqi dan Hakim; Lihat Silsilah Ash-Shahihah juz 3 hal. 233, hadits no. 1233)

5. Banyak isyarat dari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar dan sekaligus isyarat bahwa beliaulah yang pantas mewakili Rasulullah shalla-llahu `alaihi wa sallam.

Diriwayatkan dari Jubair ibni Muth’im, dia berkata:


أَتَتِ امْرَأَةُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهَا أَنَ تَرْجِعَ إِلَيْهِ قَالَتْ أَرَأَيْتَ إِنْ جِئْتُ وَلَمْ أَجِدْكَ كَأَنَّهَا تَقُوْلُ الْمَوْتَ قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنْ لَمْ تَجِدِيْنِيْ فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ.


Datang seorang wanita kepada Nabi shallallahu `alaihi wasallam, maka Rasulullah menyuruhnya untuk datang kembali. Maka wanita itu mengatakan: “Bagaimana jika aku tidak mendapatimu?” –seakan-akan wanita itu memaksudkan jika telah meninggalnya Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam. Beliau menjawab: “Jika engkau tidak mendapatiku, maka datangilah Abu Bakar”. (HR. Bukhari 2/419; Muslim, 7/110; lihat Zhilalul Jannah hal. 541-542, no. 1151)

Maka dengan riwayat-riwayat ini seluruh ulama ahlus sunnah sepakat bahwa manusia terbaik setelah rasulnya adalah Abu Bakar, kemudian Umar, ke-mudian Utsman kemudian Ali radhiyallahu ‘anhum.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tentang keutamaan Abu Bakar dan Umar di atas Utsman dan

Ali radhiallahu ‘anhum: “Yang demikian telah disepakati oleh para imam-imam kaum muslimin yang terkenal keilmuan dan keshalihannya dari kalangan shahabat, tabi’in, pengikut tabi’in, dan ini pula madzhab Imam Malik dan seluruh penduduk Madinah, Imam Al-Laits Ibnu Sa’ad dan seluruh ulama Mesir, al-Auzai dan seluruh penduduk Syam, Sufyan Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Hammad ibni Zaid, Hammad Ibni Salamah dan seluruh penduduk Iraq. Dan ini juga madzhabnya imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq Ibnu Rahuyah, Abu Ubaid dan lain-lain dari para imam-imam kaum muslimin”. (Maj-mu’ Fatawa juz IV hal. 421).

Imam Malik mengatakan bahwa itu adalah ijma’ penduduk Madinah dalam ucapannya:


مَا أَدْرَكْتُ أَحَدًا مِمَّنْ يَقْتَدِي بِهِ يَشُكُّ فِي تَقَدِّمِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرً.


Tidak kutemui satu orang pun dari ulama yang dijadikan teladan yang ragu terhadap diutamakannya Abu Bakar dan Umar di atas yang lainnya. (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 4/421; lihat Al-Imamatul ‘Udhma, Abdullah Ibnu Umar Ibnu Sulaiman ad-Damiji, hal. 311)

Sebaliknya barangsiapa yang menyelisihi pendapat ini, maka ia adalah orang yang lebih sesat dari keledai piaraannya.

Wallahu a’lam

(read more ...)



Darah Ahli Sunnah adalah halal di sisi Syi`ah

Di samping itu, Syi`ah menganggap halal darah dan harta Ahli Sunnah dan inilah yang difatwakan oleh ulama mereka. Syaikh Saduq menyebutkan di dalam kitabnya `Ilal al-Syara’i` halaman 601 cetakan Najaf:

Daripada Daud bin Farqad, katanya aku bertanya kepada Abu Abdullah a.s.: Apakah hukumnya membunuh al-Nasibi- maksudnya ahli sunnah? Jawabnya: Halal darahnya, tetapi aku ingatkan engkau jika dapat hempaskan dinding atasnya atau engkaubenaknannya di dalam air maka lakukanlah supaya tidak dilihat oleh orang lain. Aku bertanya lagi: Apa pendapatmu tentang hartanya. Jawabnya: Binasakanlah apa saja yang engkau dapat lakukan.

Apakah yang akan dilakukan oleh Syi`ah terhadap orang yang menyalahi mereka? Shaikh Taifah menyebutkan di dalam kitab fiqhnya, al-Nihayah halaman 302:

"Sesiapa yang memegang kekuasaan bagi pihak yang zalim dalam melaksanakan hukuman hudud atau melaksanakan sesuatu hukum hendaklah dia beritikad bahwa dia sebenarnya memegangnya bagi pihak berkuasa yang hak, maka hendaklah dia melaksanakan hukum mengikut ketentuan Syari`at Imam, dan selagi dia dapat melaksanakan hudud terhadap mukhalif (orang yang tidak mengikut Syi`ah) hendaklah dia laksanakan kerana itulah jihad yang paling agung."

Ni`matullah al-Jazairi menyebutkan dalam kitabnya al-Anwar al-Nu`maniyyah (2/307):

"Harus membunuh mereka (Ahli Sunnah) dan harta-harta mereka adalah halal."

Beginilah sikap permusuhan mereka terhadap orang yang tidak mempercayai imam dua belas.

Harta Ahli Sunnah adalah halal

Harta ahli sunnah menurut Syi`ah adalah halal dan boleh diambil tanpa ada halangan. Abu Ja`far al-Tusi meriwayatkan dalam kitabnya Tahzib al-Ahkam, jilid 4, halaman 122:

Daripada Abu Abdullah a.s. bahwa beliau berkata: Ambillah harta al-nasib di mana saja kamu temui dan berikan kepada kami satu perlimanya

Ahli Sunnah adalah najis menurut syiah

Khomeini di dalam Tahrir al-Wasilah (1/118) menghukumkan Ahli Sunnah sebagai najis, katanya:

Adapun Nawasib (Ahli Sunnah) dan Khawarij semoga dilaknati Allah tanpa ragu-ragu adalah najis."

Penghinaan Khomeini bukan sepakat kepada Ahli Sunnah dan Khawarij saja malah kepada golongan Syi`ah selain dari Imamiyah 12, katanya:

"Kumpulan-kumpulan Syi`ah selain dari Syi`ah Imam Dua Belas yang tidak mempercayai imamah 12 imam, jika tidak kelihatan pada mereka tanda-tanda nasb (mengikuti Ahli Sunnah), permusuhan dan mencela para imam maka ia suci tetapi jika kelihatan pada mereka perkara-perkara tersebut maka mereka seperti nawasib yang lain. (1/119)

Ni`matullah al-Jazairi menulis dalam kitabnya al-Anwar al-Nu`maniyyah 2/306:

"Penjelasan tentang al-Nasibi dan keadaannya dapat dijelaskan dengan dua perkara berikut: Pertama, maksud al-nasibi mengikut dalam hadis-hadis adalah najis, dia lebih jahat daripada Yahudi, Nasrani dan Majusi malah dia adalah kafir, najis mengikut ijmak ulama Imamiyyah."

Dalam kitabnya, Muhammad al-Saduq menunjukkan kebenciannya yang tidak terhingga terhadap ahli Sunnah: Sesungguhnya Nabi Nuh a.s. membawa dalam kapalnya anjing dan babi tetapi baginda tidak membawa anak zina, dan al-nasibi itu lebih jahat daripada anak zina"

Perhatikan lafaz nasb dan nawasib yang memberi arti permusuhan terhadap keluarga Rasulullah s.a.w. digunakan oleh Syi`ah untuk ahli Sunnah yang mengikuti Sunnah Rasulullah s.a.w. dan para sahabat.

Agama adalah menyalahi Ahli Sunnah

Antara tuduhan jahat Syi`ah terhadap orang lain kerana tidak mengikuti mereka ialah riwayat al-Majlisi daripada Imam al-Baqir di dalam Bihar al-Anwar 24/311, katanya: "Demi Allah wahai Abu Hamzah, sesungguhnya manusia itu, kesemuanya anak pelacur melainkan Syi`ah kita." Riwayat ini juga dinukilkan oleh al-Kulaini dalam al-Raudhah nombor 431.

(read more ...)



KOTORAN PARA IMAM PENYEBAB MASUK SURGA

Kotoran dan air kencing para imam bukan sesuatu yang menjijikan dan tidak berbau busuk, bahkan keduanya bagaikan misik yang semerbak. Barang siapa yang meminum kencing,darah dan memakan kotoran mereka maka haram masuk neraka dan wajib masuk surga (Anwarul Wilayat Liayatillah Al Akhun Mulla Zaenal Abiding Al Kalba Yakani : th 1419 halaman 440).

Kentut dari imam bagaikan bau misik.

Abu Jafar berkata : “ciri-ciri Imam ada 10:

- Dilahirkan sudah dalam keadaan berkhitan.

- Begitu menginjakkan kaki di bumi ia mengumandangkan dua kalimat syahadat.

- Tidak pernah junub.

- Matanya tidur hatinya terbangun.

- Tidak pernah menguap

- Melihat apa yang di belakangnya seperti melihat apa yang di depannya.

- Bau kentut dan kotorannya bagaikan misik.

(Al Kaafi 1/319) Kitabul Hujjah Bab Maulidul Aimmah)

Khumaini memperbolehkan menyodomi istri-istri.

Dalam kitab Tahrirul Wasilah hal 241- masalah ke 11. Khumaini berkata : “pendapat yang kuat dan terkenal adalah diperbolehkan menyetubuhi istrinya lewat lubang belakang walaupun hal itu sangat dibenci”, Rasulullah bersabda : terkutuklah orang yang menyetubuhi istrinya lewat belakang.”

Meminjamkan istri

Diriwayatkan oleh Thusi dari Muhamad bin Abi Jafar berkata dihalalkan bagi saudaranya Farji istri-istrinya ia berkata boleh-boleh saja boleh bagi temannya seperti bolehbagi suami terhadap istri sendiri. (Kitabul Istibhsor 3/136)

Diperbolehkan menyetubuhi bayi.

Khumaini berkata : “Semua bentuk menikmati, seperti meraba dengan penuh syahwat, memeluk , dan adu paha boleh walaupun dengan bayi yang sedang menyusui”. Tahrirul Wasilah 2/216.

Alkhui : ia memperbolehkan seorang laki-laki memegang-megang atau bermain dengan aurat laki-laki lain atau wanita bermain dengan alat kelamin wanita lain bila sebatas gurau dan canda sebatas tidak menimbulkan syahwat. Sirotunnajah fi Ajwibatil istifta’at jilid 3

Nasehat dari kami : hati-hati bergaul dengan para pengikut Khui yang suka bercanda

Diperbolehkan melihat sesuatu yang diharamkan dari kaca

Mereka memperbolehkan melihat kelamin banci mana yang lebih menonjol untuk kepentingan warisan, mereka berkata ia boleh melihat dengan kaca , yang dilihat adalah bayangan , bukan kemaluannya. (Al Kaafi 7-158).

Hamil dan melahirkan secara luar biasa

Imam Hasan Askari berkata : “sesungguhnya kami para penerima wasiat Imamah tidaklah dikandung didalam perut melainkan di pinggang dan tidak dilahirkan lewat rahim melainkan lewat paha sebelah kanan karena kami titisan cahaya Allah yang bersih dan tidak terkena kotoran sama sekali”. (Kamaluddin 390, 393 Biharul Anwar jilid 51 hal 2, 13,17, 26 , Itsbatul Hudat jilid 3 hal 409,414 I’lamul Wara hal 394 Dala’ilul Imamah 264).

Komentar: betapa mirip hal ini dengan keyakinan Nasrani tentang kehamilan yang suci.

Musa Al Kazim mencegah kemarahan Allah

Musa Al Kazim berkata : “ sesungguhnya Allah murka pada kaum Syiah. Kemudian Allah menyuruh saya memilih diri saya ataukah mereka, Maka demi Allah, aku selamatkan mereka dari kemurkaan Allah (Al Kafi 1/260).

Mereka adalah penyebab terciptanya langit dan bumi

Langit dan bumi diciptakan untuk Ali begitu juga Shiratal Mustaqim, pintunya dan tali penghubung antara Allah dan hamba-hambanya seperti para Rasul Nabi , para Haji dan para wali, (Al Wafi 8/224).

Allah telah menciptakan segala sesuatu di bumi ini dan menyerahkan pengelolaannya kepada Ali dan keluarganya. Mereka dapat menghalalkan dan mengharamkan apa saja yang mereka kehendaki, karena kehendak mereka adalah kehendak Allah (Al Kaafi /365).

Dunia dan akhirat itu milik imam, dia bebas memberikannya pada siapa saja, (Al Kaafi 1/337).

Mereka beranggapan bahwa para imam itu. Bahwasanya Allah memandangi para penziarah kuburan Husain pada sore hari Arafat sebelum melihat pada jamaah haji yang sedang wukuf. Abu Abdillah berkata : “karena di arafah terdapat anak haram sedangkan di kuburan Husein tidak ada anak haram di sana (karena selain syiah adalah anak haram ) Kitab Al Wafi jilid 2 - juz 8 hal 222. Maksud anak zina bagi syiah adalah kaum muslimin selain pengikut Syi’ah.

Bahkan dalam Al Kafi jilid 8 hal 285 : Setiap orang adalah anak zina kecuali Syiah. Dalam tafsir Ayyasyi jilid 2 hal 218 dan Al Burhan jilid 2 hal 139 : setiap anak yang lahir di tunggui oleh iblis ,bila yang lahir itu berasal dari kelompok Syiah maka terjaga dari iblis, bila bukan dari kelompok Syiah maka syetan meletakkan jari-jarinya pada lambung belakang anak laki-laki agar kelak menjadi orang tercela dan bila kelamin perempuan agar kelak menjadi pelacur.

Taat kepada Ali lebih penting dari pada taat kepada Allah.

Dalam mukadimah tafsir Al Burhan tercantum : bahwa Allah berfirman Ali bin Abi Tholib adalah hujjahKu di atas ciptaan-Ku. Saya tidak akan memasukkannya ke neraka siapa yang memberikan haknya walau dia mendurhakai-Ku dan tidak akan saya masukkan surga orang yang mengingkarinya walau ia taat pada-Ku (Al Burhan hal 23).

Tak ada yang mengumpulkan al quran kecuali para imam

Alquran diturunkan terdiri dari 17 ribu ayat (Al Kafi 2/463). Al Majlisi dalam Mir’atul Uqul mengatakan bahwa riwayat ini terpercaya.

Para imam itu lebih utama dari para Nabi Allah. Derajat mereka lebih tinggi daripada para Malaikat, Nabi, Rasul.

Para Imam memiliki kedudukan mulia dan kekuasaan atas makhluk, seluruh atom di alamini tunduk pada mereka. Posisi ini tidak dicapai oleh malaikat maupun para Nabi. Kitab Al Hukumah Al Islamiyah karangan Khomeini halaman 52.

Allah telah mengusapkan tangan kanannya pada keluarga Ali dan memberikan cahayanya pada mereka

Tak ada keselamatan kecuali kalian wahai keluarga ali, tidak ada tempat selain dari kalian wahai mata Allah yang melihat (Biharul Anwar : 94/37).

Kalian adalah kesembuhan utama dan obat yang menyembuhkan bagi yang meminta kesembuhan pada kalian. Biharul Anwar jilid 94 hal 33.

Para Nabi bertawasul pada para imam dalam berbagai doa dan permintaan mereka. Ketika nabi Nuh hendak tenggelam, ketika Nabi Ibrahim dilempar ke api, Nabi Musa hendak menyeberangi laut, Nabi Isa akan dibunuh oleh orang Yahudi semuanya bertawasul dengan para Ahlul Bait untuk keselamatan mereka (Biharal Anwar 26/325 Wasa’ilusyi’ah jilid 4 hal 1134).

Majlisi berkata : Allah hanya disembah, dikenal dan diesakan dengan perantaraan para Imam. Biharul Anwar jilid 23 hal 103.

Para sahabat sama merubah Al Qur’an dan melakukan konspirasi.

Hafshah dan Aisyah telah meracuni Rasulullah dan mengumpulkan uang lalu membagi-bagikan pada orang-orang yang membenci Ali. Penduduk Makah dengan terang-terangan menentang Allah. Penduduk Madinah lebih jelek dari penduduk Makah 70 kali (Al Kaafi 2/301).

Dikatakan juga bahwa bangsa Romawi itu lebih baik dari bangsa Syam karena orang Romawi kafir namun tidak memusuhi Ahlulbait sedang orang Syam kafir dan memusuhi kita (Al Kaafi 2/301).

» Ali terbang di atas mega awan

- Diriwayatkan oleh Hasyim Albahroni dari Ali As bahwa Ali pernah mengendarai awan terbang berputar mengelilingi tujuh bumi (Madinatul Maajiz 1/542).

- Kelompok Yazid bin Muawiyah mendatangi Ali bin Husein, mereka menemukan Ali sedang mengendarai awan (Madinatul Maajiz 4/256).

- Juga dari Thoba Thaba’i berkata : Allah telah menguasakan awan pada Ali maka ia berjalan dari dunia timur ke barat (Tafsir Al Mizan 13/372

Hasan berbicara dengan 70 juta bahasa

Dari Abi Abdillah, sesungguhnya Al hasan berkata, Allah punya dua kota satu di timur satunya di barat. Kota-kota itu memiliki 70 juta. Satu sama lain berbicara dengan bahasa yang tidak sama dan Saya memahami semua bahasa itu (Al Kaafi 1/384-385

Makan tanah/Debu kuburan Husein dapat menyembuhkan segala macam penyakit

Dari Abil Hasan ia berkata : Setiap tanah itu haram seperti bangkai, darah, daging babi, kecuali tanah kuburan Al Husein karena tanah itu dapat menyembuhkan segala penyakit, dapat memberikan rasa aman rasa yang menakutkan, asal jangan banyak-banyak (Al Kaafi : 3/378).

Nabi menyusu pada puting pamannya Abu Thalib

Dari Abi Abdullah berkata : ketika Nabi dilahirkan, berhari-hari Nabi tidak minum susu, maka Abu Thalib sendiri yang menyusui Nabi dengan susunya. Allah menurunkan air susu lewat Abu Thalib sampai kemudian dilanjutkan oleh Halimah Sa’diyah (Al Kaafi 1/373).

Fatimah terjaga dari menstruasi

Dari Abi Hasan berkata : sesungguhnya putri-putri para Nabi itu tidak pernah menstruasi (Al Kaafi 1/381).[1] Dari Abi Ja’far berkata: Ketika Fatimah dilahirkan, Allah mengutus malaikat untuk menggerakkan lisan Muhammad agar memberi nama Fatimah, kemudian berkata saya telah menyapihmu dengan ilmu dan membebaskanmu dari datang bulan. Abu Ja’far berkata : demi Allah, Allah telah membebaskan Fatimah dari datang bulan sejak Allah mengambil perjanjian dari semua makhluk (Al Kaafi 1 / 382).

(read more ...)




Sebuah sinetron baru telah membetot perhatian publik. Aktornya: Presiden, Pimpinan Polri, KPK, Kejagung, Tim 8 dan Anggodo. Lakonnya: Membantah setiap pernyataan yang dilontarkan lawan mainnya. Judulnya: Negeri Para Pendusta—terinspirasi judul puisi Adhie Massardi: Negeri Para Bedebah. Akting mereka sungguh memikat: ada yang menangis di hadapan Komisi III DPR sambil mengucap “Demi Allah”; ada yang bersumpah di bawah Al Qur’an; ada pula yang tetap tenang, menjaga wibawa atas nama “tidak ingin mengintervensi hukum”.


Kian hari, sinetron ini semakin memprihatinkan. Sepertinya tak cukup jika hanya diberi peringatan tayangan ini perlu “Bimbingan Orangtua”. Lebih dari itu, harus dihentikan karena membuat masyarakat bingung. Memang tak ada adegan pornoaksi dan pornografi; tapi ada lakon yang sama berbahayanya: mengajarkan dusta. Jika ada dua atau tiga orang yang sama-sama mengklaim dirinya benar dan bersumpah atas nama Allah, bukankah diantara mereka pasti berdusta? Dan, bagi mereka yang memiliki nurani, secara kasat mata bisa menyimpulkan siapa sesungguhnya pendusta itu.


Simak pernyataan-pernyataan berikut ini:


“Saya tak paham apa itu kriminalisasi KPK,” kata Presiden SBY menanggapi opini yang berkembang bahwa telah terjadi upaya kriminalisasi KPK. Seorang presiden bergelar S3 dan jenderal bintang empat sama sekali tak paham istilah kriminalisasi. Anda percaya atau tidak?


“Saya menemui Anggoro di Singapura difasilitasi KBRI,” ujar mantan Kabareskrim Susno Duadji. Belakangan, pihak KBRI membantahnya.


“Saya diperas oleh pimpinan KPK,” ucap Anggodo. Padahal, dalam rekaman yang diputar di Mahkamah Konstitusi jelas terdengar jika Anggodo mengambil inisiatif menyuap KPK.


Semakin hari, bantah-membantah itu tak terkendali. Kebohongan atau dusta bak cendawan di musim hujan. Dusta ditutupi dengan dusta, terus begitu tak berkesudahan. Dan mereka tak malu mempertontonkan itu kepada khalayak, bahkan di panggung terhormat seperti di DPR.


Saya jadi teringat dengan seorang psikolog asal University of Massachusetts, Robert Feldman, PhD. Secara khusus ia melakukan penelitian untukmembuktikan seberapa sering manusia berdusta dan untuk apa mereka berdusta. Tak tanggung-tanggung, penelitian itu dilakukan selama 25 tahun! Salah satu hasilnya sangat mengejutkan. Menurutnya, orang-orang sukses dan memiliki jabatan tinggi sebetulnya adalah pembohong ulung.


Feldman kemudian memaparkan hasil penelitiannnya itu dalam bukunya The Liar in Your Life: The Way to Truthful Relationships. Ia mengatakan, rata-rata orang mengatakan 3 kebohongan setiap 10 menitnya. Diketahui pula bahwa tingkat kebohongan para responden sangat tinggi, berbohong bagi mereka sudah menjadi sangat umum dan hal biasa sampai-sampai seseorang tidak menyadari bahwa ia melakukannya.


Menurut Feldman, berbohong sudah dilakukan sedari kecil, sekitar umur 2 atau 3 tahun. Semakin besar seseorang, keahlian berbohongnya pun semakin mantap. Sampai-sampai jika dilakukan tes dengan alat pendeteksi kebohongan mungkin bisa tidak terdeteksi.


Mengapa mereka berdusta? Pertama , mereka berbohong untuk bertahan hidup. Kedua, seseorang berbohong untuk mendapatkan apa yang ia mau. Contohnya, memuji seseorang untuk mendapat pujian balik atau keuntungan tertentu, meyakinkan orang lain untuk meyakini apa yang kita mau dan sebagainya.


Teknik berbohong sebenarnya tidak dilakukan oleh manusia saja, hampir seluruh makhluk hidup melakukannya, dan satu alasan yang sama untuk berbohong adalah untuk mempertahankan hidup.


Jika diperhatikan, hewan melakukan teknik kamuflase yang merupakan teknik berbohong sederhana. Kebanyakan hewan melakukan kamuflase untuk menarik lawan jenisnya atau mencari mangsa yang ujung-ujungnya bertujuan untuk mempertahankan hidup.


Lalu, bagaimana dengan manusia? Perlukah seseorang berbohong untuk mempertahankan hidupnya?


Dalam Islam, hanya ada tiga dusta yang diperbolehkan. Pertama, orang yang berbicara dengan maksud hendak mendamaikan. Kedua, orang yang berbicara bohong dalam peperangan. Ketiga, suami yang berbicara dengan istrinya serta istri yang berbicara dengan suaminya (mengharapkan kebaikan dan keselamatan atau keharmonisan rumah tangga)”. (HR. Muslim)


Dusta yang dilakukan oleh para pemimpin kita tak satu pun masuk dari tiga kategori di atas. Dusta mereka, justru membuat kita “Malu (Aku) jadi Orang Indonesia”, seperti judul puisi yang ditulis Taufiq Ismail.


...Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor satu,

Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi

berterang-terang curang susah dicari tandingan,


Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia

dan tidak rahasia dapat ditawar dalam bentuk jual-beli,

kabarnya dengan sepotong SK


Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada,

tapi dalam kehidupan sehari-hari bagai jarum hilang

menyelam di tumpukan jerami selepas menuai padi.


Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak

Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak,

Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

Berjalan aku di Dam, Champs Élysées dan Mesopotamia

Di sela khalayak aku berlindung di belakang hitam kacamata

Dan kubenamkan topi baret di kepala

Malu aku jadi orang Indonesia.


*Penulis :  Erwyn Kurniawan, S. IP. Editor Maghfiroh Pustaka, Alumni Universitas Nasional.

(read more ...)



Ternyata ada ulama syiah yang belum menelaah riwayat perubahan Al Quran, mungkinkah demikian? atau hanya kura-kura dalam perahu..."





Dari makalah bagian pertama, akhirnya kita ketahui bahwa perubahan Al Qur’an adalah salah satu aksioma [hal yang tidak bisa lagi ditawar-tawar] dalam mazhab syiah imamiyah. Ini merupakan konsekwensi logis dari keterangan di atas barusan. Di antara ulama syiah yang “konsekuen” pada konsekuensi logis di atas adalah:



Abu Hasan Al Amili

Dia mengatakan: bagi saya, perubahan Al Qur’an telah demikian jelasnya, karena saya telah mengkonfirmasi dan menelusuri seluruh riwayat, yang mana dapat dikatakan bahwa keyakinan terhadap perubahan Al Qur’an adalah salah satu keyakinan pokok [aksioma] dalam mazhab syiah dan salah satu tujuan perebutan khilafah [dari yang berhak].

Lihat Muqaddimah kedua pasal ke empat dari tafsir Miraatul Anwar wa Mishkatul Asrar, dicetak sebagai pengantar bagi Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani.



Ternyata demikian jelas, bahwa meyakini perubahan Al Qur’an adalah wajib bagi penganut syiah, jika masih ingin dianggap sebagai syiah. Karena riwayat yang begitu banyaknya –sampai derajat mutawatir bahkan lebih- harus diterima oleh penganut syiah yang katanya mengikuti ahlulbait Nabi. Bagaimana dia mau mengikuti Nabi dan tetap berada dalam mazhab syiah sementara dia menolak isi riwayat yang jelas mutawatir -bahkan lebih-? Bagaimana bisa menjadi syiah dengan menolak isi kitab literaturnya? Menolak meyakini perubahan Al Qur’an berarti menolak mazhab syiah.



Begitu juga Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani mengatakan:

Meyakini perubahan Al Qur’an adalah salah satu aksioma mazhab mereka [syiah]. Masyariq Syumus Ad Durriyah hal. 126



Karena banyaknya riwayat tentang perubahan Al Qur’an, akhirnya ulama syiah [yang konsekuen] menyimpulkan bahwa seseorang tidak bisa menjadi syiah jika masih meyakini keaslian Al Qur’an yang ada saat ini. Begitu juga ulama syiah menyatakan bahwa seluruh syi’ah bersepakat meyakini bahwa Al Qur’an telah diubah. Di antaranya:

 

Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani

Setelah menukilkan banyak riwayat yang menunjukkan perubahan Al Qur’an, Adnan mengatakan : riwayat telah begitu banyak tak terhitung jumlahnya, bahkan telah melebihi syarat mutawatir sehingga tidak berguna lagi untuk disampaikan setelah keyakinan tentang perubahan Al Qur’an tersebar luas di kalangan kedua kelompok, bahkan sudah dijadikan aksioma oleh sahabat dan tabi’in, dan ijma’ [kesepakatan] golongan yang benar [syiah imamiyah], dan keyakinan itu menjadi sebuah pokok mazhab mereka dan banyak riwayat dari kitab syiah yang menyatakan demikian. Lihat Masyariq Syumus Ad Durriyah fi Ahaqqiyyati Mazhabil Akhbariyyah hal 126.



Muhammad bin Nu’man [juga dijuluki dengan Al Mufid] mengatakan:

Penganut Imamiyah sepakat meyakini bahwa banyak orang yang sudah mati akan kembali hidup lagi di dunia sebelum hari kiamat, mereka juga bersepakat meyakini Allah bersifat bada’, imamiyah juga bersepakat meyakini bahwa pemimpin sesat telah menyelewengkan ayat Al Qur’an, mereka juga menyimpang dari ajaran Al Qur’an dan sunnah Nabi. Lihat Awa’ilul Maqalat hal. 48-49.



Semua ini menguatkan kesimpulan bahwa: seseorang tidak mungkin menjadi syiah tanpa meyakini perubahan Al Qur’an.

 

Mengapa?



Karena mengingkari perubahan Al Qur’an sama dengan mengingkari prinsip Imamah, karena hadits yang menyatakan perubahan Al Qur’an dan Imamah sama-sama banyak dan dimuat di kitab yang sama. Mengingkari prinsip imamah sama saja dengan keluar dari mazhab syiah imamiyah.



Di atas kita singgung ulama syiah yang konsekuen dengan mazhabnya, yaitu menyatakan bahwa Al Qur’an telah diubah. Jika ada ulama syiah yang konsekuen, ada juga ulama syiah yang tidak konsekuen karena mereka menolak meyakini perubahan Al Qur’an, padahal mereka juga meyakini imamah. Padahal semestinya mereka juga meyakini perubahan Al Qur’an.



Salah satu ulama yang “tidak konsekuen” adalah Muhammad Ridha Muzaffar. Dalam karyanya yang berjudul Aqaidul Imamiyah hal 59, Muzaffar mengatakan:

Kami meyakini bahwa Al Qur’an adalah wahyu ilahi yang diturunkan dari Allah ta’ala melalui lisan NabiNya yang mulia, memuat keterangan tentang segala sesuatu, Al Qur’an adalah mu’jizat yang kekal sepanjang masa, yang mana manusia tidak mampu meniru balaghah dan kefasihannya, juga tidak mampu meniru isinya yang mengandung hakekat dan ilmu yang tinggi, tidak mengalami perubahan dan penyelewengan.



Di sini Muzaffar menandaskan bahwa syi’ah meyakini bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini terjaga dari penyelewengan dan perubahan. Di atas telah kita lihat bahwa syiah imamiyah sepakat bahwa Al Qur’an telah diubah. Berarti ada dua kemungkinan, yang pertama Muzaffar memang tidak memiliki pengetahuan yang mendalam tentang syiah.



Dalam pengantar kitabnya itu “Aqaid Al Imamiyah” tertulis sekelumit biografi penulisnya “Muhammad Ridha Muzaffar” kita simak sedikit kutipannya:



.. dia mengikuti seluruh pelajaran yang harus ditempuh di tingkat “sutuh” [tingkatan pendidikan ala hauzah ilmiyah syiah di Najaf] syaikh[Muhammad Ridha Muzaffar] unggul dalam seluruh pelajaran tingkatan itu……Dia juga mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh kakaknya Muhammad Hasan dan Muhammad Husein, begitu juga mengikuti pelajaran syaikh Aqa Dhiya’uddin Al Iraqi yagn mengajarkan ushul fiqh, juga mengikuti pelajran syaikh mirza muhammad husein An Na’ini yang mengajarkan fiqh dan ushul fiqh, mengikuti pelajaran syaikh Muhammad Husein Al Asfahani secara privat dan intensif..



Artinya Syaikh Muhammad Ridha Muzaffar bukanlah seorang santri biasa atau syiah amatiran[seperti teman-teman syiah indonesia yang baru pulang dari iran]  yang asal menulis buku. Tak lupa kita nukilkan sedikit dari muqadimah “kata pengantar” bukunya “Aqaidul Imamiyah”:

Saya menuliskan keyakinan-keyakinan ini, saya hanya berniat untuk menuliskan seluruh pengetahuan saya tentang pemahaman Islam ala ahlulbait.



Tetapi pembaca telah melihat sendiri bahwa riwayat mutawatir, bahkan lebih dari mutawatir dari jalan periwayatan syiah imamiyah, telah menegaskan bahwa Al Qur’an telah diubah. Sedangkan Muhammad Ridha Muzaffar adalah seorang figur yang jelas tidak memiliki kredibilitas untuk “melawan” riwayat yang banyak itu.



Atau Muzaffar hanya “kura-kura dalam perahu” pura-pura tidak tahu?



Wallahu A’lam, hanya Allah yang tahu apa isi hati Muzaffar, tapi yang jelas pernyataannya dalam kitab itu harus kita teliti lagi validitasnya karena menyelisihi riwayat dari ahlulbait yang sudah jelas-jelas maksum, ditambah pula riwayat itu memiliki banyak jalur sehingga disebut mutawatir.



Masih ada lagi contoh dari ulama syiah yang “tidak mau konsekuen” terhadap keyakinan imamah, yaitu tidak mau menyatakan bahwa Al Qur’an yang ada saat telah diubah, seperti ditegaskan oleh riwayat syiah yang lebih dari mutawatir. Dialah Muhammad Husein Al Kasyiful Ghita, yang menulis kitab Ashel Syi’ah wa Ushuluha. Dia menyebutkan bahwa riwayat yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah riwayat yang lemah lagi menyimpang dari kebanyakan riwayat yang valid. Dalam kitabnya itu pada hal 220, terbitan Mu’assasah Imam Ali Alaihissalam, cet. Sitarah dia menyatakan:



Kitab Al Qur’an yang ada di tengah kaum muslimin hari ini adalah kitab yang diturunkan oleh Allah untuk membuktikan kebesaran allah dan menantang kaum kafir untuk membuat kitab seperti Al Qur’an, juga untuk mengajarkan hukum-hukum agama, menjelaskan yang halal dan yang haram, tidak pernah mengalami pengurangan, penyelewengan atau penambahan, pendapat ini adalah kesepakatan seluruh kaum muslimin. Kelompok mana saja di kalangan kaum muslimin yang beranggapan bahwa ada isi Al Qur’an hari ini telah mengalami penyelewengan dan pengurangan, maka pendapatnya itu adalah keliru, dibantah oleh ayat Al Qur’an: sungguh Kami telah menurunkan peringatan, dan Kami akan menjaganya. Seluruh riwayat dari kitab kami maupun mereka yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah menyimpang dan lemah, dan hadits ahad tidak dapat menjadi dasar ilmu maupun amal.



Ada beberapa hal yang harus dikomentari dari kutipan ini, yang paling mencolok adalah pernyataan bahwa riwayat-riwayat perubahan Al Qur’an dalam kitab syiah adalah dho’if dan menyimpang. Padahal pembaca sudah melihat sendiri pernyataan yang dikutip dari ulama-ulama besar syiah masa lampau bahwa riwayat perubahan Al Qur’an adalah mutawatir, sama seperti riwayat imamah. akhirnya kita bertanya-tanya, apakah Al Kasyiful Ghita bersikap pura-pura tidak tahu? Atau memang dia benar-benar tidak tahu? Jika kita lihat ajaran taqiyah di kalangan syiah, kita semakin yakin bahwa Al Kasyiful Ghita hanya berpura-pura tidak tahu, untuk menghibur kaum muslimin yang “intelek tapi bodoh” dan “bodoh tapi intelek (bergelar sarjana S2 dan S3)” bahwa syiah dan sunni tidaklah berbeda, dan tuduhan seperti itu hanyalah tuduhan yang tanpa bukti. Sayangnya para intelek-intelek itu mau saja ditipu. Bahkan ada seorang “intelek”  bergelar DOKTOR yang sering muncul di TV, menulis buku membela syiah dengan berdasar pada buku Kasyiful Ghita ini.



Mungkin pembaca heran, bagaimana mengingkari kenyataan begitu mudah bagi Kasyiful Ghita, atau jangan-jangan Kasyiful Ghita hanyalah seorang syiah “amatiran”?



Bagaimana dia bisa tidak tahu bahwa riwayat syiah yang menyatakan perubahan Al Qur’an adalah mutawatir seperti pernyataan ulama-ulama yang lebih senior?



Ini sungguh membuat malu mazhab syiah, karena bagaimana orang seperti itu bisa jadi ulama? Ini pertanyaan yang mungkin timbul dari pembaca yang awam.

 

Begitu juga katanya ada riwayat tahrif dalam buku sunni, tetapi kita tidak pernah melihat hal itu, kecuali riwayat yang menyatakan adanya nasakh tilawah, sedangkan nasakh tilawah boleh dan terjadi dalam Al Qur’an, dan nasakh tilawah adalah perubahan dari Allah semasa hidup Nabi, bukan perubahan dari tangan-tangan sahabat Nabi, seperti dalam riwayat syiah. Apakah kita menyamakan nasakh tilawah dan tahrif/perubahan versi syiah? Nyatanya banyak tokoh “intelek” menyamakannya.

 

Akhirnya orang awam yang tidak tahu terpengaruh, tapi insya Allah setelah membaca makalah ini anda tidak lagi terpengaruh.

 

Juga orang awam akan bertanya-tanya, apakah setiap pernyataan ulama syiah masa kini harus dicek dulu agar kita tahu apakah pernyataan itu sesuai dengan literatur syiah atau tidak. Lebih jauh lagi, sebuah pertanyaan "berbahaya" akan muncul;

 

Kalau begitu, apakah kita layak mempercayai ucapan ulama syiah? Siapa yang menjamin bahwa mereka tidak akan mengatakan hal yang berbeda dengan isi kitab literatur syiah?[contoh kasus, masalah perubahan Al Quran yang sedang kita bahas]



Bersambung ke: Al Quran di mata Syiah [3]

(read more ...)



Setiap Syiah harus, sekali lagi harus percaya bahwa Al Quran yang ada saat ini tidak otentik dan mengalami perubahan. Tidak percaya? Jangan terburu marah, baca dulu selengkapnya

Jika kita menelaah literatur-literatur syiah, maka akan anda temui banyak riwayat juga pernyataan para ulama syiah yang menegaskan bahwa Al Qur’an yang dijadikan pedoman umat islam saat ini sudah bukan asli lagi, alias sudah dirubah. Jadi kitab suci yang ada pada umat islam sejak dulu sampai hari ini menurut syiah sudah bukan otentik lagi, alias ada ayat-ayat yang bukan lagi wahyu Allah, tetapi ada juga hasil tulisan tangan manusia. Selain diubah, nukilan-nukilan itu juga menyatakan bahwa ada ayat-ayat dalam Al Qur’an yang dihapus. Intinya, Al Qur’an yang ada sekarang ini tidak seperti yang diturunkan oleh Allah pada Nabi Muhammad SAAW.



Sampai di sini para pembaca mungkin merasa heran dan bertanya-tanya, apakah benar syiah menganggap demikian? Mungkin anda pernah mendengar hal ini sebelumnya dan mengklarifikasi kepada teman atau tetangga anda yang syiah, dan dijawab oleh mereka bahwa hal itu semata-mata adalah fitnah dan tuduhan yang dihembuskan oleh musuh-musuh syiah, dari mereka yang ingin memecah belah umat Islam. Lebih jauh lagi, mereka akan menuduh orang yang menebarkan hal itu sebagai antek zionis yahudi. Astaghfirullah



Mengklarifikasikan sebuah tuduhan adalah sikap yang benar, dan seharusnya dilakukan oleh setiap muslim yang objektif, tetapi hendaknya kita tidak salah alamat dalam mengklarifikasi sebuah berita. Seperti kasus kita kali ini, mestinya kita mengklarifikasi tuduhan ini dengan melihat langsung ke literatur syiah untuk mengecek kebenaran berita ini, mengecek apakah benar ada kitab-kitab syiah yang menyatakan demikian atau tidak ada. Mengapa klarifikasi ke tetangga, teman atau dosen anda yang syiah adalah salah alamat? Ada beberapa sebab; bisa jadi teman, tetangga dan dosen anda belum pernah mendapat akses ke literatur itu, bisa jadi dia memang sudah mengakses tetapi dia mengingkari hal itu. bisa jadi dia adalah “anggota biasa” yang tidak tahu apa-apa, banyak kemungkinan. Tetapi semua itu tidak akan mengubah apa yang tercantum dalam kitab-kitab syiah. Di antaranya:



Abu Abdillah berkata: “Al Qur’an yang diturunkan Jibril kepada Muhammad adalah 17 ribu ayat”. Al Kafi jilid 2 hal 463. Muhammad Baqir Al Majlisi berkata bahwa riwayat ini adalah muwathaqoh. Lihat di Mir’atul Uqul jilid 2 hal 525.



Jika kita telaah lagi pernyataan-pernyataan ulama syiah mengenai ingkarnya mereka pada Al Qur’an hari ini, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan berbahaya, yang mungkin tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kesimpulan ini berbunyi:

Setiap syiah harus mengingkari keaslian Al Qur’an, jika masih beriman bahwa AL Qur’an sekarang ini adalah asli otentik seperti yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAAW, maka dia bukan syiah.



Ada kalimat lain untuk kesimpulan di atas, yaitu setiap syiah harus meyakini bahwa al qur’an telah dirubah, ditambah dan dikurangi. Seseorang tidak bisa menjadi syiah jika tidak meyakini hal itu. Sehingga dapat kita katakan bahwa seorang syiah terpaksa meyakini hal itu jika masih ingin menjadi syiah. Di sini meyakini adanya penambahan, pengurangan dan perubahan terhadap ayat Al Qur’an menjadi sebuah konsekwensi yang melekat, dan tidak pernah akan lepas, bagi seorang penganut syiah.



Bisa dikatakan juga, mereka yang meyakini bahwa Al Qur’an masih asli tidak pernah akan menjadi syiah.



Saya mohon maaf pada pembaca karena barangkali telah membuat pembaca agak sedikit bingung –plus terkejut-. Tetapi ini adalah kenyataan yang harus kita ketahui. Barangkali anda akan bertanya mengenai hal-hal yang mendasari kesimpulan saya di atas, ini adalah pertanyaan wajar, dan memang saya akan mengetengahkan bukti-bukti dari pernyataan di atas. Saya katakan di atas bahwa yang akan mencapai kesimpulan seperti itu bukanlah saya pribadi, tetapi kita semua, seluruh pembaca makalah ini. Saya mengajak diri saya sendiri dan pembaca yang budiman untuk merasa tidak puas dengan omongan orang tentang sesuatu, sebelum merujuk pada sumber otentik dari sesuatu itu. anda jangan puas hanya dengan mendengar omongan dan –mungkin- bualan dari teman anda, tapi hendaknya kita melangkah jauh untuk memberanikan diri menelaah sumber-sumber otentik mazhab syiah. Pembaca akan mendapatkan apa yang tersembunyi dari mazhab syiah imamiyah, dan kami –team hakekat- berusaha untuk menampilkan sumber otentik lengkap dengan nomor jilid dan halaman.



Telah kita bahas di atas bahwa keyakinan terhadap diubahnya Al Qur’an adalah konsekwensi dari mazhab syiah imamiyah. Ulama syiah klasik benar-benar menyadari hal ini, maka keyakinan tentang perubahan Al Qur’an menjadi sebuah aksioma dalam mazhab syiah –yang tidak bisa diganggu gugat-. Apa yang mendorong para ulama syiah klasik memasukkan keyakinan ini sebagai aksioma? Karena mereka sadar bahwa menolak hal itu sama dengan menolak mazhab syiah. Mari kita simak nukilan dari ulama klasik syiah.



Pertama-tama, mari kita sadari bahwa riwayat dalam kitab literatur syiah yang menggugat keotentikan Al Qur’an hari ini mutawatir dan sangat banyak, sekali lagi, menurut ulama syiah sendiri. Sebuah kenyataan yang membuat setiap muslim bersedih.



1.Al Mufid –Muhammad bin Nu’man- mengatakan:

Banyak sekali hadits-hadits dari para imam yang membawa petunjuk – a’immatil huda- dari keluarga Nabi Muhammad SAAW bahwa Al Qur’an yang ada bukan lagi asli, juga memuat berita tentang orang-orang zhalim yang menambah dan mengurangi isi Al Qur’an. Lihat Awa’ilul Maqalat hal 91.



2.Abul Hasan Al Amili mengatakan:

Ketahuilah, kebenaran yang disimpulkan dari riwayat mutawatir yang akan dipaparkan kemudian, dan riwayat lain yang tidak kami jelaskan di sini, bahwa Al Qur’an yang ada di tangan kita saat itu, telah mengalami perubahan sepeninggal Rasulullah SAAW. Para penulis Al Qur’an sepeninggal Nabi SAAW telah menghapus banyak ayat dan kata dari ayat Al Qur’an.

Muqaddimah kedua dari tafsir Miraatul Anwar wa Mishkatul Asrar hal 36, dicetak sebagai pengantar bagi Tafsir Al Burhan karya Al Bahrani.



Nyata-nyata menuduh para sahabat telah menghapus banyak ayat Al Qur’an. Nampak sekali bahwa yang tertuduh dalam hal ini adalah Usman bin Affan, yang dikenal sebagai pemrakarsa penulisan Al Qur’an, dan penyatuan bacaan Al Qur’an bagi seluruh kaum muslimin. Ini adalah kesimpulan ulama dari riwayat-riwayat yang dianggapnya mutawatir, jadi tidak lagi mengenal adanya “shahih” atau “dhaif”, karena sebuah kesimpulan hanya mewakili person penyimpulnya. Dengan pernyataan ini kita dapat mengambil kesimpulan juga, bahwa Abu Hasan Al Amili tidak beriman pada Al Qur’an yang ada saat ini. Dia telah kehilangan salah satu rukun iman. [Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un]



3.Ni’matullah Al Jaza’iri

Figur yang satu ini lebih memilih untuk percaya riwayat-riwayat mutawatir menurut versinya daripada Kalam Ilahi yang terhimpun dalam Al Qur’an. Katanya:

Dengan menganggap Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah mutawatir dari wahyu ilahi, [artinya diriwayatkan secara mutawatir berasal dari Nabi yang menerima wahyu dari Allah], dan meyakini bahwa Al Qur’an yang ada sekarang ini adalah Al Qur’an yang diturunkan oleh Ruhul Amin [Malaikat Jibril] mengandung konsekwensi penolakan terhadap riwayat yang banyak sekali, bahkan mencapai derajat mutawatir, yang menyatakan bahwa Al Qur’an telah dirubah, isinya, kalimatnya dan I’rabnya. Padahal ulama mazhab kami telah sepakat bahwa riwayat itu valid adanya dan mereka yakin pada isi riwayat itu. Al Anwar An Nu’maniyah jilid 2 hal 357.



Kita lihat seluruh ulama syiah sepakat menerima riwayat yang menggugat Al Qur’an, yang menuduh Al Qur’an kaum muslimin saat ini telah dirubah, dan bukan asli lagi. Ini bukan lagi tuduhan, tetapi pernyataan dari ulama syiah sendiri.

keyakinan di atas mengandung sekian banyak konsekwensi, di antaranya, menganggap kaum muslimin yang berpegang pada Al Qur’an yang ada saat ini adalah sesat, karena berpedoman pada kitab suci yang sudah dirubah oleh “tangan-tangan kotor”.



4. Al Allamah Al Hujjah Sayyid Adnan Al Bahrani

riwayat tak terhitung banyaknya, yang menerangkan bahwa Al Qur’an telah dirubah, sungguh banyak, melebihi derajat mutawatir. Masyariq Asy Syumus Ad Durriyah, hal 126.



5.Sulthan Muhammad Al Khurasani

Mengatakan dalam kitabnya, Tafsir Bayanus Sa’adah fi Maqamatil Ibadah, cet. Muassasah Al A’lami hal 19



6.Begitu juga Husein Nuri Thabrasi, yang getol menyatakan Al Qur’an telah dirubah, sampai-sampai dia menulis sebuah kitab yang diberi judul Fashlul Khitab fi Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbabi [pemutus ucapan, pembuktian bahwa kitab Allah telah dirubah]. Kita simak ucapannya dalam kitab di atas hal. 227 :

Hadits yang memuat hal itu [perubahan Al Qur’an] berjumlah lebih dari 2000 hadits, sejumlah ulama besar menyatakan banyaknya riwayat yang menyatakan hal itu, seperti Al Mufid, Al Muhaqqiq Ad Damad, Majlisi dan lainnya.



7. Muhammad Baqir Al Majlisi

ketika membahas hadits riwayat Hisyam bin Salim dari Abu Abdillah Alaihissalam; Sesungguhnya Al Qur’an yang diturunkan oleh Jibril Alihissalam kepada Muhammad SAAW ada 17000 ayat. Majlisi mengomentari riwayat ini: [riwayat ini] dipercaya, dalam cetakan lain tertulis Hisyam bin Salim di posisi Harun bin Salim. Riwayat ini shahih, seperti sudah diketahui bahwa riwayat ini juga banyak riwayat shahih yang menerangkan dengan jelas bahwa Al Qur’an yang ada saat ini telah dikurangi dan diubah, bagi saya hadits-hadits yang menyatakan perubahan Al Qur’an mencapai derajat mutawatir ma’nawi. Menolak riwayat ini mengharuskan kita untuk menolak seluruh riwayat [hadits Ahlulbait]. Saya kira hadits yang mengatakan hal ini[perubahan Al Qur’an] tidak kalah banyak dari riwayat hadits yang membahas imamah, bagaimana masalah imamah bisa dibuktikan dengan riwayat? Mir’atul Uqul, jilid 12 hal 525.



Maksudnya, bagaimana masalah imamah bisa didasarkan dari dalil riwayat ahlulbait jika riwayat mengenai perubahan Al Qur’an ditolak? Karena kitab-kitab yang memuat riwayat dari para imam Ahlulbait, yang dijadikan rujukan bagi mazhab imamiyah [tentang imamah dan nash] juga memuat riwayat tentang perubahan AL Qur’an. Maka Syiah tidak dapat mengingkari riwayat tentang perubahan Al Qur’an, karena mengingkari riwayat perubahan Al Qur’an berarti menolak riwayat tentang imamah dan penunjukan para imam, menolak riwayat mengenai imamah berarti menggugurkan mazhab syiah, karena mazhab syiah imamiyah hanya bersandar pada riwayat-riwayat dari ahlulbait mengenai imamah. Berarti konsekwensi dari mengimani prinsip imamah dalam syiah adalah percaya terhadap perubahan Al Qur’an. Ini berarti seluruh umat syiah wajib meyakini perubahan dan pengurangan Al Qur’an, jika masih ingin meyakini imamah.



Perhatikan lagi pernyataan Majlisi, yang menjelaskan bahwa menolak riwayat perubahan Al Qur’an berarti menolak seluruh hadits dan riwayat syiah.



Bersambung ke:  Al Quran di mata Syiah [2]

(read more ...)



Tokoh ‘pembantai’ Muslim Gujarat yang juga anggota Partai Bharatiya Janata (BJP), Narendra Modi akan diundang ke Indonesia. Pantaskah?



Hidayatullah.com--Menteri Besar Negara Bagian Gujarat, India, Narendra Modi, dalam waktu dekat dikabarkan akan berkunjung ke Sulawesi Selatan (Sulsel). Narendra selama ini dikenal sebagai tokoh di balik pembantaian ribuan Muslim di India.



Dalam situs resmi Narendra, http://narendramodi.in, disebutkan, pihak Indonesia (sebagai pengundang) mempersilahkan Shri Narendra Modi  datang guna bertukar bidang pertanian dan energy biomass.



Dalam laporan Komisi HAM PBB mengecam India yang menutup kasus kerusuhan Gujarat 2002 yang menelan korban jiwa 2000 warga Muslim. Bahkan, hingga kini Muslim di Gujarat dikabarkan masih hidup dalam ketakutan.



Sebagaimana diketahui, pada bulan Februari 2002, peristiwa mengerikan terhadap kaum Muslim di Gujarat. Di mana kekerasan ekstrim terhadap kaum Muslim. Lebih dari 2000 orang, termasuk orang Asia Inggris, dibantai tanpa ampun, lebih dari 200.000 orang terlantar di bawah kamp-kamp pengungsi. Rumah dijarah, bisnis dibakar, ratusan wanita diperkosa dan banyak anak-anak dibunuh dalam cara yang paling mengerikan. Semua bukti menunjukkan bahwa Pemerintah Negara Bagian Gujarat, yang dipimpin oleh Ketua Menteri saat ini, Narendra Modi, dibantu oleh aparat terlibat kekerasan dan pembantaian.



Dalam situs resmin Modi, disebut-sebut pula nama Syawral Yasin Limpo dan AM Ghalib sebagai si pengundang. Tak jelas, apakah yang dimaksud Syawral Yasin Limpo itu adalah Syahrul Yasin, Gubernur terpilih Sulsel. Modi sendiri mengaku telah menerima undangan dan telah mengungkapkan kesungguhan dalam bekerja sama dengan Indonesia.



Sebelum ini, diberitakan Kantor Berita Antara, Gubernur Sulawesi Selatan Dr Syahrul Yasin Limpo, MH, MSi, telah mengunjungi industri pertanian dan home industri Gujarat, New Delhi, India.



Selama berada di India, Gubernur Sulsel bersama rombongan akan bertemu Narendra Modi yang di fasilitasi Duta Besar Indonesia untuk India, H.A.M. Ghalib.



Rombongan Gubernur juga dikabarkan mengunjungi obyek pertanian di kota Rajkot, Provinsi Gujarat untuk melihat secara langsung proses pengembangan komoditi Bawang Merah (bawang bombay) dan area pengembangan jagung hibrida.



Kunjungan yang dilakukan bersama dengan sejumlah Bupati se-Sulsel itu diakui akan dapat membawa kerjasama-kerjasama yang dapat menguntungkan masyarakat Sulsel dan India.



Rencananya, pola tersebut akan dikembangkan di sejumlah daerah pengembangan yakni Kabupaten Enrekang, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Bone, Wajo dan Barru.



Baru-baru ini, Tim Investigasi Khusus (SIT) yang dibentuk oleh Mahkamah Agung India sedang menyelidiki meterlibatan Modi dan 61 orang lain termasuk anggota kabinet pemerintah, polisi dan pegawai negeri sipil, karena peran mereka dalam pembantaian Muslim Gujarat.



Sebelum ini, Inggris, Amerika Serikat (AS) dan banyak negara Eropa telah menolak visa untuk Modi 



Kedatangan anggota Partai Bharatiya Janata (BJP) ke Indonesia ini dinilai akan menjadi preseden buruk umat Islam dan dapat melukai perasaan kaum Muslim Gujarat.



Abd. Azis Kahar Muzakkar, anggota DPD asal Sulsel mengaku tak tahu persis apa dan bagaimana keterlibatan Modi terhadap kaum Muslim. Menurutnya, jika benar sebagaimana disebutkan lembaga-lembaga HAM Internasional bahwa Narendra Modi terlibat pembantaian kaum Muslim Gujarat, maka, lebih baik kedatangannya ditolak.



“Saya baru dengar beritanya dari Anda, namun jika benar sebagaimana yang disebutkan itu, akan lebih baik jika kehadirannya ditolak, “ ujarnya kepada www.hidayatullah.com. [ihrc/nrdin/cha/www.hidayatullah.com]

(read more ...)



Inilah DOKUMEN RAHASIA sekte agama Syiah, tentang misi jangka panjang mereka (50 th), untuk menegakkan kembali dinasti Persia yang telah runtuh oleh Islam berabad-abad lamanya, sekaligus membumi-hanguskan negara-negara Ahlus Sunnah, musuh bebuyutan mereka. Dokumen ini disebarkan oleh Ikatan Ahlus Sunnah di Iran, begitu pula majalah-majalah di berbagai negara Ahlus Sunnah (ISLAM), termasuk diantaranya Majalah al-Bayan, edisi 123, Maret 1998.

Karena naskah yang tersebar adalah naskah dalam bahasa arab, maka kami terjemahkan ke dalam bahasa indonesia, agar orang yang tidak mampu berbahasa arab pun bisa memahami isi naskah tersebut.


Sekarang kami persilahkan Anda membaca terjemahannya:


((Bila kita tidak mampu untuk mengusung revolusi ini ke negara-negara tetangga yang muslim, tidak diragukan lagi yang terjadi adalah sebaliknya, peradaban mereka -yang telah tercemar budaya barat- akan menyerang dan menguasai kita.


Alhamdulillah, -berkat anugerah Allah dan pengorbanan para pengikut imam yang pemberani- berdirilah sekarang di Iran, Negara Syiah Itsna Asyariyyah (syiah pengikut 12 imam), setelah perjuangan berabad-abad lamanya. Oleh karena itu, -atas dasar petunjuk para pimpinan syi’ah yang mulia- kita mengemban amanat yang berat dan bahaya, yakni: menggulirkan revolusi.


Kita harus akui, bahwa pemerintahan kita adalah pemerintahan yang berasaskan madzhab syi’ah, disamping tugasnya melindungi kemerdekaan negara dan hak-hak rakyatnya. Maka wajib bagi kita untuk menjadikan pengguliran revolusi sebagai target yang paling utama.


Akan tetapi, karena melihat perkembangan dunia saat ini dengan aturan UU antar negaranya, tidak mungkin bagi kita, untuk menggulirkan revolusi ini, bahkan bisa jadi hal itu mendatangkan resiko besar yang bisa membahayakan kelangsungan kita.


Karena alasan ini, maka -setelah mengadakan tiga pertemuan, dan menghasilkan keputusan, yang disepakati oleh hampir seluruh anggota-, kami menyusun strategi jangka panjang 50 tahun, yang terdiri dari 5 tahapan, setiap tahapan berjangka 10 tahun, yang bertujuan untuk menggulirkan revolusi islam ini, ke seluruh negara-negara tetangga, dan menyatukan kembali dunia Islam (dengan men-syi’ah-kannya).


Karena bahaya yang kita hadapi dari para pemimpin Wahabiah dan mereka yang berpaham ahlus sunnah, jauh lebih besar dibandingkan bahaya yang datang dari manapun juga, baik dari timur maupun barat, karena orang-orang Wahabi dan Ahlus Sunnah selalu menentang pergerakan kita. Merekalah musuh utama Wilayatul Fakih dan para imam yang ma’shum, bahkan mereka beranggapan bahwa menjadikan faham syi’ah sebagai landasan negara, adalah hal yang bertentangan dengan agama dan adat, dengan begitu berarti mereka telah memecah dunia Islam menjadi dua kubu yang saling bermusuhan.


Atas dasar ini:


Kita harus menambah kekuatan di daerah-daerah berpenduduk Ahlus Sunnah di Iran, khususnya kota-kota perbatasan. Kita harus menambah masjid-masjid dan husainiyyat kita di sana, disamping menambah volume dan keseriusan dalam pengadaan acara-acara peringatan ritual syi’ah.


Kita juga harus menciptakan iklim yang kondusif, di kota-kota yang dihuni oleh 90-100 persen penduduk Ahlus Sunnah, agar kita bisa mengirim dalam jumlah besar kader-kader syi’ah dari berbagai kota dan desa pedalaman, ke daerah-daerah tersebut, untuk selamanya tinggal, kerja, dan bisnis di sana.


Dan merupakan kewajiban negara dan instansinya, untuk memberikan perlindungan langsung kepada mereka yang diutus untuk menempati daerah itu, dengan tujuan agar dengan berlalunya waktu, mereka bisa merebut jabatan pegawai di berbagai kantor, pusat pendidikan dan layanan umum, yang masih di pegang oleh kaum Ahlus Sunnah.


Strategi yang kami buat untuk pengguliran revolusi ini, -tidak seperti anggapan banyak kalangan- akan membuahkan hasil, tanpa adanya kericuhan, pertumpahan darah, atau bahkan perlawanan dari kekuatan terbesar dunia. Sungguh dana besar yang kita habiskan untuk mendanai misi ini, tak akan hilang tanpa timbal-balik.


Teori Memperkuat Pilar-pilar Negara:


Kita tahu, bahwa kunci utama untuk menguatkan pilar-pilar setiap negara, dan perlindungan terhadap rakyatnya, berada pada tiga asas utama:


Pertama: Kekuatan yang dimiliki oleh pemerintahan yang sedang berkuasa.


Kedua: Ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh para ulama dan penelitinya.


Ketiga: Ekonomi yang terfokus pada kelompok pengusaha pemilik modal.


Apabila kita mampu menggoncang pemerintahan, dengan cara memunculkan perseteruan antara ulama dan penguasanya, atau memecah konsentrasi para pemilik modal di negara itu, dengan menarik modalnya ke negara kita atau negara lain, tak diragukan lagi, kita telah menciptakan keberhasilan yang gemilang dan menarik perhatian dunia, karena kita telah meruntuhkan tiga pilar tersebut.


Adapun rakyat jelata setiap negara, yang berjumlah rata-rata 70-80 persen, mereka hanyalah pengikut hukum dan kekuatan yang menguasainya. Mereka disibukkan oleh tuntutan hidupnya, untuk mencari rizki, makan dan tempat tinggalnya. Oleh karena itu, mereka akan membela siapa pun yang sedang berkuasa. Dan untuk mencapai atap setiap rumah, kita harus menaiki tangga utamanya.


Tetangga-tetangga kita dari kaum Ahlus Sunnah dan Wahabi adalah: Turki, Irak, Afganistan, Pakistan, dan banyak negara kecil di pinggiran selatan, serta gerbangnya negara teluk persia, yang tampak seakan negara-negara yang bersatu, padahal sebenarnya berpecah-belah. Daerah-daerah ini, adalah kawasan yang sangat penting sekali, baik di masa lalu, maupun di masa-masa yang akan datang. Ia juga ibarat kerongkongan dunia di bidang minyak bumi. Tidak ada di muka bumi ini kawasan yang lebih sensitif melebihinya. Para penguasa di kawasan ini memiliki taraf hidup yang tinggi, karena penjualan minyak buminya.


Kategori Penduduk di Kawasan Ini


Penduduk di kawasan ini terbagi dalam tiga golongan:


Pertama: Penduduk baduwi dan padang pasir, yang telah ada sejak beratus-ratus tahun lalu.


Kedua: Pendatang yang hijrah dari berbagai pulau dan pelabuhan, yang telah hijrah sejak zaman pemerintahan Syah Isma’il as-Shofawi, dan terus berlangsung hingga zamannya Nadirsyah Afsyar, Karim Khan Zind, Raja al-Qojar, dan keluarga al-Bahlawi. Dan telah banyak perjalanan hijrah dari waktu ke waktu, sejak mulainya revolusi Islam.


Ketiga: Mereka yang berasal dari negara arab lainnya, dan kota-kota pedalaman Iran.


Adapun lahan bisnis, perusahaan ekspor impor dan kontraktor, biasanya dikuasai oleh selain penduduk asli. Sedangkan penduduk asli, kebanyakan mereka hidup dari menyewakan lahan dan jual-beli tanah. Mengenai para keluarga penguasa, biasanya mereka hidup dari gaji pokok penjualan minyak buminya.


Adapun kerusakan masyarakat, budaya, banyaknya praktik yang menyimpang dari islam, itu sangat jelas terlihat. Karena mayoritas penduduk negara-negara ini, telah larut dalam kenikmatan dunia, kefasikan dan perbuatan keji. Banyak dari mereka yang mulai membeli perumahan, saham perusahaan, dan menyimpan modal usahanya di Eropa dan Amerika, khususnya di Jepang, Inggris, Swedia, dan Swiss, karena kekhawatiran mereka akan runtuhnya negara mereka di masa-masa mendatang. Sesungguhnya dengan menguasai negara-negara ini, berarti kita telah menguasai setengah dunia.


Beberapa Tahapan Dalam Menggulirkan Revolusi Ini


Untuk menjalankan misi panjang 50 tahun ini, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah: memperbaiki hubungan kita dengan negara-negara tetangga, dan harus ada hubungan yang kuat dan sikap saling menghormati, antara kita dengan mereka. Bahkan kita juga harus memperbaiki hubungan kita dengan Irak, setelah perang berakhir dan Sadam Husein jatuh, karena menjatuhkan seribu kawan itu lebih ringan, dibanding menjatuhkan satu lawan.


Dengan adanya hubungan politik, ekonomi dan budaya antara kita dengan mereka, tentunya akan masuk sekelompok kader dari Iran ke negara-negara ini, sehingga memungkinkan kita untuk mengirim para duta secara resmi, yang pada hakekatnya adalah pelaksana program revolusi ini, selanjutnya kita akan tentukan misi khusus mereka saat menugaskan dan mengirimkannya.


Janganlah kita beranggapan bahwa 50 tahun adalah waktu yang panjang, karena kesuksesan langkah kita ini benar-benar membutuhkan perencanaan yang berkelanjutan hingga 20 tahun. Sungguh tersebarnya paham syi’ah, yang kita rasakan di banyak negara saat ini, bukanlah buah dari perencanaan 1 atau 2 hari.


Dulunya kita tidak memiliki seorang pun pegawai di negara manapun, apalagi kader dengan jabatan menteri, wakil negara dan presiden. Bahkan dulunya banyak kelompok, seperti Wahabiah, Syafi’iah, Hanafiah, Malikiah, dan Hanbaliah, memandang kita sebagai kelompok yang murtad dari Islam, sehingga pengikut mereka telah berkali-kali mengadakan pemusnahan kaum syi’ah secara massal. Memang benar kita tidak merasakan pahitnya hari-hari itu, tetapi nenek moyang kita pernah merasakannya. Kehidupan kita hari ini adalah buah dari gagasan, pemikiran dan langkah mereka. Mungkin juga kita tidak akan hidup di masa depan, akan tetapi revolusi dan madzhab kita akan tetap ada.


Untuk menunaikan misi ini, tidaklah cukup hanya dengan mengorbankan hidup, atau apapun yang paling berharga sekalipun, akan tetapi juga membutuhkan pemrograman yang telah matang dikaji.


Harus ada perencanaan untuk masa depan, walaupun untuk 500 tahun ke depan, apalagi hanya 50 tahun saja. Karena kita adalah pewaris berjuta-juta syuhada’, yang gugur di tangan setan-setan yang mengaku muslim, darah mereka terus mengalir dalam sejarah, sejak meninggalnya Rasul hingga hari ini. Dan cucuran darah itu tidak akan kering, sehingga setiap orang yang mengaku muslim, meyakini hak Ali dan keluarga Rasulullah, mengakui kesalahan nenek moyang mereka, dan mengakui syi’ah sebagai pewaris utama ajaran Islam.


Beberapa Tahapan Penting Dalam Perjalanan Misi Ini


Tahap Pertama (sepuluh tahun pertama):


Kita tidak ada masalah dalam menyebarkan madzhab syi’ah di Afganistan, Pakistan, Turki, Iran dan Bahrain. Karena itu, kita akan menjadikan tahapan sepuluh tahun kedua, sebagai tahapan pertama di 5 negara ini.


Sedangkan tugas para duta kita di belahan negara lain adalah tiga hal:


Pertama: Membeli lahan tanah, perumahan dan perhotelan.


Kedua: Menyediakan lapangan pekerjaan, kebutuhan hidup dan fasilitasnya kepada para pengikut paham syi’ah, agar mereka mau hidup di rumah yang dibeli, sehingga bertambah banyak jumlah penduduk yang sepaham dengan kita.


Ketiga: Membangun jaringan dan relasi yang kuat dengan para pemodal di pasar dagang, dengan para pegawai kantor, khususnya mereka yang menjabat sebagai kepala tinggi, dengan tokoh publik dan dengan siapapun yang memiliki hak keputusan penuh di berbagai instansi negara.


Di sebagian negara-negara ini, ada beberapa daerah, yang sedang dalam proyek pengembangan, bahkan di sana ada rencana proyek pengembangan untuk puluhan desa, kampung, dan kota kecil lainnya. Tugas wajib para duta yang kita kirim adalah membeli sebanyak mungkin rumah di desa itu, untuk kemudian dijual dengan harga yang pantas kepada orang yang mau menjual hak miliknya di pusat kota. Sehingga dengan langkah ini, kota yang padat penduduknya bisa kita rebut dari tangan mereka.


Tahap Kedua (sepuluh tahun kedua):


Kita harus mendorong masyarakat syi’ah untuk menghormati UU, taat kepada para pelaksana UU dan pegawai negara, serta berusaha mendapatkan surat ijin resmi untuk berbagai acara ritual syi’ah, pendirian masjid, dan husainiyyat. Karena surat ijin resmi tersebut, akan kita ajukan sebagai tanda bukti resmi di masa-masa mendatang untuk mengadakan berbagai acara dengan bebas.


Kita juga harus berkonsentrasi pada kawasan yang tinggi tingkat kepadatan penduduknya, untuk kita jadikan sebagai tempat diskusi tentang masalah-masalah (syiah) yang sangat sensitif.


Para duta syi’ah, -pada dua tahapan ini- diharuskan untuk mendapatkan kewarganegaraan dari negara yang ditempatinya, dengan memanfaatkan relasi atau hadiah yang sangat berharga sekalipun. Mereka juga harus mendorong para kadernya agar menjadi pegawai negeri, dan segera masuk -khususnya- dalam barisan militer negara.


Pada pertengahan tahap kedua: Harus dihembuskan -secara rahasia dan tidak langsung- isu bahwa ulama Ahlus Sunnah dan Wahabiah adalah penyebab kerusakan di masyarakat, dan berbagai praktek menyimpang syariat yang banyak terjadi di negara itu. Yaitu melalui selebaran-selebaran yang berisi kritikan, dengan mengatas-namakan sebagian badan keagamaan atau tokoh Ahlus Sunnah dari negara lain. Tak diragukan lagi, ini akan memprovokasi sejumlah besar rakyat negara itu, sehingga pada akhirnya mereka akan menangkap pimpinan agama atau figur Ahlus Sunnah yang dituduh itu, atau kemungkinan lain; rakyat negara itu akan menolak isi selebaran itu, dan para ulamanya akan membantahnya dengan sekuat tenaga. Dan setelah itu kita munculkan banyak huru hara, yang akan berakibat pada diberhentikannya penanggung jawab masalah itu, atau digantikannya dengan staf yang baru.


Langkah ini, akan menyebabkan buruknya kepercayaan pemerintah kepada seluruh ulama di negaranya, sehingga menjadikan mereka tidak bisa menyebarkan agama, membangun masjid dan pusat pendidikan agama. Selanjutnya pemerintah akan menganggap seluruh ajakan yang berbau agama sebagai bentuk pelanggaran terhadap peraturan negara.


Ditambah lagi, akan berkembang rasa benci dan saling menjauh antara penguasa dengan ulama di negara itu, sehingga Ahlus Sunnah dan Wahabiyah akan kehilangan pelindung mereka dari dalam, padahal tidak mungkin ada orang yang melindungi mereka dari luar.


Tahap Ketiga (sepuluh tahun ketiga):


Pada tahap ini, telah terbangun jaringan yang kuat, antara duta-duta kita dengan para pemilik modal dan pegawai atasan, diantara mereka juga banyak yang telah masuk dalam barisan militer dan jajaran pemerintahan, yang bekerja dengan penuh ketenangan dan hati-hati, tanpa ikut campur dalam urusan agama, sehingga kepercayaan penguasa lebih meningkat lagi dari sebelumnya.


Pada tahapan ini, di saat berkembangnya perseteruan, perpecahan, dan iklim yang memanas antara penguasa dengan ulama, maka diharuskan kepada sebagian ulama terkemuka syiah yang telah menjadi penduduk negara itu, untuk mensosialisasikan keberpihakan mereka kepada penguasa negara itu, khususnya pada musim-musim ritual keagamaan (syi’ah), sekaligus menampakkan bahwa syi’ah adalah aliran yang tak membahayakan pemerintahan mereka. Apabila situasi memungkinkan mereka untuk bersosialisasi melalui media informasi yang ada, maka janganlah ragu-ragu memanfaatkannya untuk menarik perhatian para penguasa, sehingga mereka senang dan menempatkan kader kita pada jabatan pemerintahan, dengan tanpa ada rasa takut atau cemas dari mereka.


Pada tahapan ini, dengan adanya perubahan yang terjadi di banyak pelabuhan, pulau, dan kota lainnya di negara kita, ditambah dengan devisa perbankan kita yang terus meningkat, kita akan merencanakan langkah-langkah untuk menjatuhkan perekonomian negara-negara tetangga. Tentu saja para pemilik modal dengan alasan keuntungan, keamanan dan stabilitas ekonomi, akan mengirimkan seluruh rekening mereka ke negara kita; dan ketika kita memberikan kebebasan kepada semua orang, dalam menjalankan seluruh kegiatan ekonominya, dan pengelolaan rekening banknya di negara kita, tentunya negara mereka akan menyambut rakyat kita, atau bahkan memberikan kemudahan dalam kerjasama ekonomi.


Tahap Keempat (sepuluh tahun keempat):


Pada tahap ini, telah terhampar di depan kita fenomena; dimana banyak negara yang para penguasa dan ulamanya saling bermusuhan, pebisnis yang hampir bangkrut dan lari, serta masyarakat yang tak aman, sehingga siap menjual hak miliknya dengan separo harga sekalipun, agar mereka bisa pindah ke daerah yang aman.


Di saat terjadinya kegentingan inilah, para duta kita akan menjadi pelindung bagi hukum dan para penguasanya. Apabila para duta itu bekerja dengan sungguh-sungguh, tentunya mereka akan mendapatkan jabatan terpenting dalam pemerintahan dan kemiliteran, sehingga dapat mempersempit jurang pemisah antara para pemilik perusahaan yang ada dengan para penguasa.


Keadaan seperti ini, memungkinkan kita untuk menuduh mereka yang bekerja dengan tulus untuk penguasa sebagai para penghianat negara, dan ini akan menyebabkan diberhentikannya mereka atau bahkan diusir dan diganti dengan kader kita.


Langkah ini akan membuahkan dua keuntungan, pertama: Pengikut kita akan mendapat kepercayaan yang lebih baik dari sebelumnya. Kedua: Kebencian ahlus sunnah akan semakin meningkat, karena meningkatnya kekuatan syi’ah di berbagai instansi negara. Ini akan mendorong ahlus sunnah untuk meningkatkan langkah menentang penguasa. Di saat seperti itu, kader-kader kita harus bersanding membela penguasa, dan mengajak masyarakat untuk berdamai dan tetap tenang. Dan pada saat yang bersamaan, mereka akan membeli kembali rumah dan barang yang semula akan mereka tinggalkan.


Tahap Kelima (sepuluh tahun terakhir):


Pada sepuluh tahun kelima, tentunya iklim dunia telah siap menerima revolusi, karena kita telah mengambil tiga pilar utama dari mereka, yang meliputi: keamanan dan ketenangan dan kenyamanan. Sedangkan pemerintahan yang berkuasa, akan menjadi seperti kapal ditengah badai dan nyaris tenggelam, sehingga menerima semua masukan yang akan menyelamatkan jiwanya.


Di saat seperti ini, kita akan memberikan masukan melalui beberapa tokoh penting dan terkenal, untuk membentuk himpunan rakyat dalam rangka memperbaiki keadaan negara, dan kita akan membantu penguasa untuk mengawasi berbagai instansi dan mengamankan negara. Tak diragukan lagi, tentunya mereka akan menerima usulan itu, sehingga para kader pilihan kita akan mendapatkan hampir keseluruhan kursi di dalamnya. Kenyataan ini tentu akan menyebabkan larinya para pengusaha, ulama dan pegawai setia pemerintahan, sehingga kita akan dapat menggulirkan revolusi islam kita, ke berbagai negara, tanpa menimbulkan peperangan atau pertumpahan darah.


Seandainya, pada sepuluh tahun terakhir, rencana ini tidak membuahkan hasil, kita tetap bisa mengadakan revolusi rakyat dan merebut kekuasaan dari tangan penguasa.


Apabila penganut syi’ah adalah penduduk, penghuni dan rakyat negara itu, maka berarti kita telah menunaikan kewajiban, yang bisa kita pertanggung-jawabkan di depan Allah, agama, dan madzhab kita. Bukan tujuan kita untuk mengantarkan seseorang kepada tampuk pimpinan, tetapi tujuan kita hanyalah menggulirkan revolusi, sehingga kita mampu mengangkat bendera kemenangan agama tuhan ini, dan menampakkan nilai-nilai kita di seluruh negara. Selanjutnya kita mampu maju melawan dunia kafir dengan kekuatan yang lebih besar, dan menghias alam dengan cahaya Islam dan ajaran syi’ah, sampai datangnya imam Mahdi yang dinantikan))


–selesai sudah naskah misi revolusi itu–


Lihatlah wahai para pembaca… betapa busuknya rencana mereka… betapa besarnya kebencian mereka terhadap Ahlus Sunnah… Kita sekarang tahu bahwa Syi’ah bukanlah sekedar aliran paham biasa, akan tetapi ia sekarang berubah menjadi aliran pergerakan politik yang bisa merongrong eksistensi negara.. Lihatlah bagaimana mereka merencanakan pengguliran revolusi sedikit demi sedikit, bagaimana mereka menjadikan dutanya sebagai alat penyebar aliran, sekaligus alat politiknya.


Subhanallah… semoga Allah menyelamatkan kita Ahlus Sunnah wal Jama’ah (ISLAM) dari tipu daya mereka.


Allah berfirman (yang artinya): “Mereka membuat tipu daya, maka Allah pun membalas dengan tipu daya. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya…” (Qs Ali Imron: 54)


Semoga tulisan ini bisa menyadarkan mereka yang menyuarakan, perlunya pendekatan antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah.


Sungguh mengherankan, adakah yang masih mengharapkan kebaikan dari kaum yang selalu berbohong atas Allah dan Rasul-Nya… Adakah yang masih ingin membangun kerukunan dengan kaum yang meyakini bahwa Al-Qur’an sudah tidak orisinil lagi… Adakah yang masih mengharapkan bersanding dengan kaum yang mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, bahkan seluruh Sahabat Rasul, kecuali tiga saja (Salman al-Farisy, Miqdad dan Abu Dzar)… Adakah yang masih berprasangka baik kepada kaum yang menuduh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam selama hidupnya telah berzina dengan Aisyah… Adakah Ahlus Sunnah yang masih menganggap baik kaum yang telah membunuh ratusan bahkan ribuan ulama Ahlus Sunnah di Iran dan negara lainnya… Adakah Ahlus Sunnah yang masih toleran dengan kaum yang tidak mengizinkan satu pun  masjid Ahlus Sunnah di Teheran Ibu kota Iran…. Sungguh tidak pernah habis rasa heran ini melihat kenyataan yang ada di lapangan…


Mungkin banyak diantara kita yang tidak melihat bukti nyata dari omongan diatas… mungkin ada yang mengatakan bahwa fakta di atas adalah sebatas tuduhan yang tak beralasan… tapi ingatlah bahwa diantara inti ajaran kaum Syi’ah adalah TAKIYAH, yakni: membohongi publik untuk keselamatan diri… ingatlah bahwa bohong semacam itu dalam akidah mereka adalah amalan ibadah yang berpahala… Ingatlah hadits palsu yang selalu mereka gembar-gemborkan: “Tidak punya agama, siapa pun yang tidak menerapkan takyiah.”


Ternyata selama ini, kita tidak melihat kejanggalan yang ada pada mereka, disebabkan takiyah (baca: kebohongan) mereka kepada kita… Ternyata selama ini tidak terlihat perbedaan yang mendasar antara kita dan mereka, karena tabir tebal yang mereka gunakan untuk menutupi kebusukan batin… Tapi itulah, sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga… Selincah-lincah kuda berlari pasti akan terpeleset juga… Inilah diantara bukti semerbaknya bau busuk mereka… Alhamdulillah.. awwalan wa aakhiron berkat Allah azza wa jall terbuka juga misi rahasia jangka panjang mereka…


Subhanakallahumma wa bihamdika… wa tabaarakasmuk wa ta’ala jadduk… wa laa ilaaha ghoiruk…


***


Sumber artikel: http://www.albayan-magazine.com/sereah.htm

Penerjemah: Addariny

Dipublikasi ulang oleh muslim.or.id dengan beberapa editing

(read more ...)




AS yang telah membunuhi rakyat Afganistan dan Iraq tak disebut teroris. Demikian juga, Israel yang membunuhi rakyat Palestina tidak disebut teroris



Hidayatullah.com--Terjadinya global war and terrorism diawali dengan tragedi serangan pada gedung WTC dan Pentagon.  Saat itu Presiden AS George W Bush mengultimatum pihak yang dituduhnya melakukan hal tersebut, yakni jaringan Al-Qaidah.



Ancaman Bush tersebut sebenarnya bertujuan jangka panjang. Sebab Barat menilai, setelah usai perang dingin melawan Komunis, yang menjadi ancaman Barat berikutnya adalah dunia Islam. Demikian salah satu kesimpulan Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Ismail Yusanto dalam seminar bertajuk, “International Security Facing the Challenge of Terrorism: International Cooperation and Domestic Support”  di Fakultas Hubungan Internasional (HI) Unair di Gedung C FISIP Unair, Selasa (10/9).



Menurut Ismail, indikasi tersebut telah dibaca oleh para ilmuwan dan pakar. Contoh Samuel P Huntinton dengan perspektifanya yang tertuang dalam buku Clash of Civilization. Oleh karena itu, pascahancurnya WTC dan Pentagon, AS berusaha memberikan efek global dengan istilah war on terrorism (perang terhadap teroris), dan itu berarti perang terhadap Islam. Karena bagi mereka, “teroris” adalah Islam.



Hal itu tak mengherankan. Sesaat setelah itu, FBI merilis daftar jaringan “teroris”, 90 persen adalah jaringan dan sel-sel Islam.



Anehnya, menurut Ismail Yusanto,  kampanye ‘perang melawan teror’ yang dikampanyekan Amerika itu bertolak belakang dengan tindakan AS sendiri yang juga melakukan “teror”.



AS sendiri yang telah membunuh rakyat Afganistan dan Iraq tak disebut teroris. Bahkan, Israel yang telah membunuh,  mengintimidasi, dan merebut tanah rakyat Palestina tak disebut sebagai teroris.



“Seharusnya mereka ini disebut mbahnya teroris,” ujar Ismail yang disambut tawa para peserta.



Dia menegaskan, seharusnya AS dan Israel-lah yang harus disebut teroris internasional. Seperti Obama, Presiden AS sekarang, hanya diam saja ketika Israel melancarkan agresinya terhadap warga di Gaza. Seolah-olah Obama tidak tahu hal tersebut.



Terkait masalah pengeboman di tanah air, Ismail juga sempat mempertanyakan motif  serta sejumlah kejanggalan yang terjadi.  Dari sejumlah kasus pengeboman yang ada, ternyata bukan ditujukan ke tempat sasaran perwakilan AS ataupun Australia secara langsung, seperti Bom Bali 1 dan 2. Padahal target yang dibidik adalah AS dan Australia.



Yang tak kalah menarik, kaum Muslim yang  terkait kasus peledakan, tiba-tiba dikait-kaitkan dengan simbol-simbol Islam dan institusi pendidikan: apakah sang pelaku lulusan pesantren atau lulusan kampus tertentu. Sehingga secara tidak langsung menstigmatisasi, tidak hanya pelaku, namun juga institusinya.



Ini sangat berbeda dengan kasus korupsi. “Seharusnya, para koruptor harus diusut, lulusan dari mana? Sehingga jelas, kampus mana yang melahirkan koruptor,” tegasnya. [ans/www.hidayatullah.com]

 

(read more ...)




Diposting pada Selasa, 10-11-2009 | 05:30:40 WIB

 


Seorang rabi Yahudi kontroversial menulis buku yang memberikan ijin bagi orang Yahudi untuk membunuh orang-orang non Yahudi, termasuk bayi dan anak-anak, yang memiliki potensi ancaman bagi Yahudi atau Israel.


"Diperbolehkan untuk membunuh dengan benar bagi orang-orang Yahudi meskipun mereka tidak bertanggungjawab dalam situasi yang mengancam," tulis Rabi Yitzhak Shapiro yang memimpin Od Yosef Chai Yeshiva (sekolah Talmud) di pemukiman Yitzhak di Tepi Barat yang terjajah di bukunya yang berjudul "The Kings Torah."


Dia berpendapat bahwa goyem (julukan hina bagi orang non Yahudi) dapat dibunuh jika mereka mengancam Israel.


"Jika kami membunuh orang kafir yang berdosa atau melanggar 7 perintah , karena kami peduli pada perintah, tidak ada sesuatu yang salah terhadap pembunuhan itu."


Shapiro mengklaim bahwa fatwanya itu sudah sesuai dengan taurat dan talmud. Fatwa ini juga sebagai respon atas penahanan polisi Israel terhadap seorang teroris Yahudi yang telah mengaku membunuh 2 penggembala Palestina di Tepi Barat.


Teroris kelahiran Amerika yang bernama Yaakov Teitel tersebut juga mengaku telah melakukan upaya percobaan pembunuhan terhadap tokoh sayap kiri Yahudi.


Polisi Israel menganggap penahanan ini merupakan senuah prestasi dalam mennghadapi terorisme Yahudi yang tumbuh dengan fatwa rabi-rabi yang berafiliasi dengan camp Zionist.


Bukan Manusia


16 Tahun silam, seorang teroris yahudi bernama Yigal Amir membunuh perdana mentri Israel Yitzhak Rabin.


Lebih dari itu, puluhan bahkan mungkin ratusan penduduk Palestina juga telah dibunuh oleh pembunuh berdarah dingin teroris Yahudi.


Pada tahun 1994, Baruch Goldstein, teroris Yahudi yang sangat terkenal, membunuh 29 muslimin yang tengah bersembahyang di masjid Al-Ibrahimi, kota Al Khalil, Tepi Barat dengan berondongan senapan mesin.


Fatwa kontroversial ini didukung oleh sejumlah rabi yang berafiliasi  dengan seminari Talmud di Yerusalem Barat, yang dikenal dengan Merkaz Ha’rav. Diantaranya Yitzhak Ginsburg and Ya’akov Yosef.


Ginsburb dikenal sebagai rabi yang mendukung Goldstein bahkan telah menulis sebuah leaflet dukungan dan menyebutnya sebagai tokoh suci.


Pandangan shapiro yang berdasar pada hukum agama Yahudi /Halacha ini sejatinya juga merupakan representasi dari pandangan mainstream Yahudi.


Selama gempuran tidak manusiawi zionis Israel terhadap Gaza awal tahun ini, Mordecahi Elyahu, salah satu tokoh rabi terkemuka juga mengelaurkan fatwa untuk membunuh siapa saja termasuk anak-anak jika dianggap membahayakan hidup tentara Israel.


Dia juga telah memberikan petisi pada pemerintah Israel terhadap serangan di Gaza.

Menurut Israel Shahak penulis buku  "Jewish History, Jewish Religion: the Weight of Three Thousand years", istulah manusia dalam hukum agama Yahudi disematkan semata-mata hanya untuk Yahudi.


Di tahun 2006, dewan rabi di Tepi Barat bahkan menyerukan kepada militer Yahudi untuk tidak mempedulikan orang-orang kristen [Libanon] dan Islam [Palestina] dalam perang yang mereka jalani, siapapun mereka.


[muslimdaily.net/IOL]


(read more ...)



“Toleransi Beragama di Ambang Bahaya” demikian wacana yang dikembangkan oleh Tabloid Kristiani Reformata edisi 116 Tahun VII/1-15 Oktober 2009. Tabloid Kristiani tersebut menurunkan sebuah laporan utama tentang penghentian acara buka bersama yang dilakuan di Gereja Kristen Jawa di Manahan, Surakarta oleh aparat keamanan pada bulan Ramadhan kemarin. Peristiwa ini kemudian diarahkan oleh media itu untuk menjustifikasi bahwa toleransi beragama berada di ujung tanduk akibat ketersumbatan sarana aktualisasinya. Pada akhirnya juga mengarahkan, meski tidak terlalu nampak, bahwa umat Islam kurang menghargai toleransi.



Toleransi agama merupakan salah satu isu yang sering menguat dalam hubungan antar agama. Boleh dikata toleransi agama merupakan wilayah pembicaraan yang cukup sensitif untuk dibicarakan. Tidak jarang permasalahan sepele sekali pun bisa memantik problem besar akibat politisasi terhadap isu ini. Salah satu akar konflik yang terjadi dalam ranah isu ini, jika diamati secara cermat sebenarnya lebih banyak terjadi akibat kurang mampunya setiap warga negara pemeluk agama memahami adanya realitas ajaran agama di luar dirinya. Dalam beberapa kasus juga terjadi akibat seorang pemeluk agama kurang mampu menempatkan diri sebagai seorang penganut agama sekaligus seorang warga negara. Seringkali tidak disadari bahwa bahasa toleransi sangat berbeda dengan bahasa kepentingan. Oleh karena itu toleransi tidak bisa tidak harus dipandang dari berbagai aspek dan sudut pandang.



Jika dipandang dari satu sisi hal ini memang seakan terlihat menjadi pemantik ketegangan bernuansa SARA.  Sehingga seolah arah isu yang hendak dikembangkan dalam tabloid Reformata tersebut menemukan kebenarannya. Namun jika wacana yang dihasung bukan bermaksud untuk memperagakan sebuah kepentingan, maka sudut pandang Reformata ini justru tidak mencerminkan sebuah sudut pandang yang komprehensif. Bagaimana tidak, maksud baik umat Kristiani dalam “aksi peduli kasih” tersebut rupanya kurang memperhatikan pandangan umat Islam terhadap ajaran agamanya. Guna meluruskan masalah mungkin perlu dikemukakan beberapa hal yang bisa membantu untuk menjernihkan persoalan yang terjadi.



Bagi kaum muslimin, berbuka puasa merupakan sebuah ibadah tersendiri dalam rangkaian ibadah puasa. Demikian juga makan sahur dan shalat tarawihnya memiliki nilai ibadah pula. Hal ini rupanya belum dipahami oleh umat Kristiani, sehingga dengan memberikan makanan berbuka maka persolan toleransi antar umat beragama terjembatani. Persoalannya tentu saja tidak sesederhana itu. Ibadah dalam Islam memiliki syarat dan rukun tersendiri. Memberikan “fasilitas” bagi muslim untuk beribadah tidak selalu menyelesaikan suatu persoalan. Sebab persoalan ibadah merupakan esensi ajaran Islam yang tidak boleh bercampur dengan anasir yang meragukan. Juga dalam beberapa kasus tidak boleh dicampuri oleh umat beragama lain.



Termasuk dalam urusan makan sekalipun umat Islam menempatkannya sebagai tindakan yang bernilai ibadah, apalagi makan berbuka puasa. Sebelum makan perlu berdoa sebagai tanda kesyukuran kepada Allah yang memberikan kelimpahan rizki. Makanan yang boleh dimakan juga tidak sembarangan. Dalam tabloid Reformata, diungkapkan bahwa umat Kristiani telah memberikan santapan yang lezat dan bergizi untuk berbuka. Tetapi hal ini baru memenuhi satu indikator makanan layak konsumsi dalam Islam. Makanan yang baik termasuk dalam kecukupan gizinya ini baru masuk dalam kategori thayyib. Ada indikator yang lain yang tidak kalah pentingnya berupa halal. Terkait dengan persoalan kehalalan ini maka tentunya umat Kristiani mestinya memperhatikan betul.

 

Dalam konsepsi halal ini, memiliki kriteria yang perlu diperhatikan  antara lain makanan tersebut tidak termasuk dalam daftar makanan yang diharamkan menurut Allah dan Rasul-Nya. Selain itu makanan juga mesti ditinjau dari sudut asalnya. Harta yang digunakan untuk membeli makanan harus merupakan harta yang diperoleh dari jalan halal pula. Dalam dimensi ini, Islam tidak membenarkan memakan harta dari hasil tindakan illegal. Sebagaimana Islam tidak respek terhadap bercampurnya harta yang halal dan haram.  Untuk jenis makanan tertentu seperti makanan hewani berupa daging juga ada persyaratan tersendiri yang mesti dipenuhi yaitu berasal dari sembelihan yang dibacakan ke atasnya nama Allah menurut konsepsi Islam, bukan konsepsi yang lain. Dilihat dari sisi ini ada semacam kesulitan dari pihak umat Islam untuk bisa menerima acara buka bersama yang dilakukan oleh umat Kristiani secara legawa. Penyebab utamanya jelas, ajaran Kristen tidak memiliki konsep serupa tentang makanan atau pun harta halal sebagaimana dalam ajaran Islam. Paulus, salah satu rasul Kristen, bahkan mengajarkan bahwa “apa yang haram itu bukan yang masuk ke mulut melainkan apa yang keluar darinya.”



Nah, ditinjau dari sudut pandang ini maka timbul sebuah pertanyaan besar bagi kita bersama apakah gereja dalam hal ini mampu menjamin bahwa makanan yang disajikan untuk berbuka puasa telah memenuhi standar halal ini serta mampu dipertanggungjawabkan secara Islami dalam beberapa aspeknya? Belum lagi jika harus mempertimbangkan perasaan umat islam yang lain. Memang salah satu kesulitan bersama dalam menjalin toleransi adalah rasa saling pengertian di antara umat beragama itu sendiri. Memaksakan diri untuk mencampuri urusan ibadah umat beragama lain bukan merupakan tindakan yang bijak dalam mewujudkan kebersamaan. Pewacanaan dengan mengarahkan suatu motif terselubung juga bukan tindakan baik dalam kategori ini. Jalan panjang masih terbuka bagi kerukunan umat beragama dengan saling memahami, salah satu cita-cita utama umat Islam. Lantas, siapa yang tidak toleran dalam hal ini?

 

[muslimdaily.net]

 


(read more ...)




Bantuan dari lembaga-lembaga internasional untuk korban bencana di Indonesia ada yang langsung, namun ada yang menggunakan rekanan kerja di wilayah Indonesia



Hidayatullah.com—Sejak gempa melanda Sumatera Barat (Sumbar), pemerintah mempermudah bantuan asing. Direktur Jenderal Bea Cukai Anwar Suprijadi mempermudah proses izin masuknya bantuan dari luar negeri bagi korban gempa bumi di Sumatera Barat.



“Saya sudah kirim surat edaran agar (prosesnya) tidak rumit-rumit,” katanya, tanggal 2 Oktober 2009 di sebuah media.



Izin mempermudah itu, menurut Suprijadi, sudah diedarkan dan dikirimkan ke sejumlah bandara dan pelabuhan, seperti Kantor Bea dan Cukai Bandara Soekarno–Hatta dan Bandara Halim Perdanakusumah, Bandara Minangkabau, Bandara Polonia Medan, dan Pelabuhan Tanjung Priok.



Menurut Anwar, pemberi bantuan dari negara mana pun cukup mengantongi surat rekomendasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).



Seiring izin dari pemerintah, secepat kilat lembaga-lembaga internasional menyalurkan bantuan untuk korban bencana di Indonesia. Ada yang langsung, namun ada yang menggunakan rekanan kerja yang ada di Indonesia.



Christian Aid asal Inggris dan Church World Service asal Amerika Serikat, keduanya adalah anggota dari Action by Churches Together International (ACT International). Di Indonesia mereka memiliki rekan yang juga anggota ACT yaitu, Yakkum Emergency Unit dan Yayasan Tanggul Bencana Indonesia (YTBI).



Pada penanggulangan bencana Padang, YTBI bekerjasama dengan Dewan Gereja Sumatera Barat, Gereja Protestan Sumatera Barat (GPIB), Gereja Kristen Protestan Batak (HKBP), Gereja Kristen Protestan Mentawai (GKPM), Gereja Kristen Protestan Nias (BNKP), Gereja Kristen Protestan Batak Karo (BGKP), dan Gereja Methodis.



Caritas Internasionalist yang berpusat di Roma, mendirikan cabangnya di Indonesia pada tahun 2006. Yayasan Karina yang menjalankannya, bekerja sama dengan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI). Proyek tanggap bencana mereka yang pertama adalah tsunami Aceh.



World Vision sudah pasti sangat mengenal Indonesia, sebab organisasi bantuan Kristen yang beroperasi di 100 negara dunia ini ada di Indonesia sejak tahun 1960. Itu mengapa ketika bencana tsunami terjadi di Aceh, dua hari kemudian mereka sudah bergerak memberikan bantuan. Demikian pula ketika gempa Padang terjadi.



Kampanye dan Misi  



Berabad-abad lalu bangsa Eropa rela menyeberangi samudra demi menjajah Indonesia karena tiga alasan; gold, glory dan gospel. Mereka mencari harta, kejayaan, dan menyebarkan agama Kristen.



Kiranya apakah yang dicari oleh badan-badan amal Kristen itu di lokasi-lokasi bencana sekarang ini?



Valerie Tarico menulis di ExChistian (2/10). “Banyak yang tidak tahu bahwa World Vision membawa misi Kristen,” begitu komentarnya, setelah membaca sebuah laporan dari AP mengenai bencana gempa Padang yang memuat nama World Vision dalam daftar teratas lembaga tempat menyalurkan bantuan.



“Apa yang tidak disebutkan (dalam berita) dan banyak tidak disadari pendonor, adalah bahwa World Vision merupakan sebuah organisasi Evangelis Kristen.”



“Sebagai seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi Evangelis, saya mensponsori seorang anak di India. Saya bahkan mendapat surat dan mengirim beberapa surat kepadanya. Dan saya merasa senang, karena saya ia bisa belajar di sekolah Kristen di sana,” tulisnya lebih lanjut.



Philanthropy Today pernah merangkum berita dari The Seattle Times (25/07) mengenai Richard Stearns, pemimpin World Vision. Dikatakan bahwa ia mendorong agar gereja-gereja berperan dalam memerangi kemiskinan. Strearns membuat sebuah program kampanye nasional agar gereja aktif terlibat dalam gerakan melawan kemiskinan dunia.



Stearns mengajak gereja karena dari sanalah ia berhasil melipatgandakan jumlah donatur dan melipattigakan pendapatan World Vision menjadi USD 1,1 milyar tahun lalu.



Namun, V. K. Shashikumar, seorang jurnalis investigatif Tehelka, telah lebih dulu membuka kedok World Vision di India.



Dalam tulisannya yang dimuat di Hindu Voice, bulan  Desember 2008, sebagaimana dikutip situs Hamsa, ia mengatakan, “Namun, apa yang tidak disadari oleh pemerintah dan dunia usaha adalah World Vision India membawa misi Evangelis dalam pembangunan. Pemurtadan adalah bagian integral dari pelaksanaan pembangunan di bawah program pembangunan daerah, yang sering mendapat pujian. Meskipun tidak ada bahan tulisan yang diterbitkan World Vision India yang menyebutkan misi Evangelisnya, namun pada publikasi World Vision di luar negeri, lembaga itu membanggakan komponen “spiritualitasnya.”



Shashikumar memberikan contoh, dari sebuah laporan World Vision New Zealand (4/9/02) mengenai pendanaan program pembangunan daerah di Dahod, Gujarat. Di kepala laporannya tertulis, “Menyelenggarakan sekolah Bibel pada waktu liburan untuk 150 anak-anak dari berbagai desa. Anak-anak berpartisipasi dalam permainan, kuis Bibel, drama, dan kegiatan lain. Menyelenggarakan retreat satu hari untuk 40 orang pemuda dan pesta Natal untuk anak-anak. Setiap desa di Dahod—yang berjumlah 45—memilih 5 orang anak miskin untuk diajak ke pesta. Di Dumaria, distrik Banka, sebelah timur Bihar, program pembangunan daerah memberikan pelatihan kepemimpinan bagi para pastur dan pemimpin gereja.”



Dalam tulisan yang sama ditampilkan komentar dari Dr. Hilda Raja, seorang profesor ilmu sosial yang sudah pensiun dari Stella Maris College di Madras. Ia seorang Katolik, dan sangat vokal dalam menentang pemurtadan oleh misonaris Kristen di India.



“Saya tahu World Vision secara pribadi karena banyak mahasiswa saya yang direkrut untuk bekerja di sana. Tapi saat wawancara, pertanyaan yang mereka ajukan selalu tentang Evangelisasi. Bahkan seorang teman saya yang melamar sebagai akuntan --yang informasinya didapat dari iklan--, tidak ditanya mengenai profesi dan keterampilan yang dimilikinya. Malah ditanya tentang Evangelisasi. Ia menceritakannya kepada saya dan ingin tahu apakah World Vision murni sebuah organisasi pembangunan atau salah satu dari Evangelis. Kasihan dia, karena tidak tahu bahwa pembangunan yang dilakukan hanyalah sebuah kedok untuk menutupi misi Evangelis.”



“Mereka pernah menawari seorang murid Katolik saya sebuah pekerjaan dan mengharuskannya meninggalkan gereja Katolik dan pindah ke gereja Protestan. Ia akhirnya pindah agama, karena sangat membutuhkan pekerjaan.”



“Dua orang Brahmana pindah memilih gereja Protestan, dan mereka kemudian diberi jabatan tinggi.”



World Vision memiliki pandangan picik dan rabun atas dunia, di mana agenda utama mereka hanyalah Evangelisasi. Pemerintah India harus diperingatkan. Saya selalu menyarankan agar bantuan-bantuan asing dilarang. China, Prancis, dan banyak negara lainnya tidak akan mentoleransi, India malah mendukungnya. Perang melawan terorisme akan sia-sia, kecuali dana asing untuk pembangunan dipantau dan dilarang,” kata Hilda Raja mengomentari program bantuan World Vision di negaranya yang dijadikan kedok kristensasi.



Apa yang terjadi di India sepertinya tidak berbeda dengan di Indonesia. Pekan lalu Polresta Pariaman menyita 24 buah Bibel, selebaran, dan komik anak-anak berjudul “Si Bodoh” dan “Bagaimana Caranya Menjadi Kaya” yang diduga disebarkan ke sekolah-sekolah.



Pelaku pemurtadan datang dengan membawa uang dan membagikannya, masing-masing Rp 10. 000 untuk orang dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak. Untungnya, aksi ini tercium setelah video berdurasi 48 menit hasil rekaman ponsel ajakan pemurtadan beredar di Kabupaten Padang Pariaman. [dija dari berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

 

(read more ...)




Jika misionaris Kristen telah lebih dulu beroperasi di Indonesia, maka Yahudi baru kelihatan masuk secara terang-terangan sejak peristiwa tsunami Aceh



Hidayatullah.com--Dari Kolombo Srilanka, pesawat Israel terus ke Indonesia, dan mendarat pada 12 Januari 2005 di dekat daerah yang terkena dampak tsunami di Aceh, Sumatera. 75 ton bahan-bahan kebutuhan darurat senilai USD 450.000 diturunkan.



Kargo yang di dalamnya termasuk 16 ton makanan bayi, disumbangkan oleh Remedia dan MATERNA. 30 ton beras, tepung, air, gula, dan biji-bijian disumbangkan oleh Koach Latet, Sugat, dan Osem produsen makanan Israel. Lima ton plastik disumbangkan oleh Hovav Plastica dan Haogenplast, dan 20 ton obat-obatan yang diproduksi oleh Teva Pharmaceuticals, disumbangkan melalui Latet. Selain itu, Shari Arison Glazer dan jemaat Shira Hadasha di Yerusalem menyumbangkan sistem pemurnian air yang diproduksi oleh Netafim Israel, yang dengan sendirinya menyumbangkan sistem kedua.



Sebuah kontribusi senilai USD 300.000 dari Yayasan Sacta-Rashi, Mark Solomon dan Friends of Yemin Orde Wingate Youth Village menutup biaya penerbangan. Sumbangan itu, bersama dengan Koach Latet, juga menyediakan sepuluh jaringan komunikasi satelit yang dibuat oleh Gilat Networks, yang menyumbangkan dua jaringan tambahan. El Al menyediakan pesawat dengan biaya rendah. Departemen Pertahanan dan Maman berhasil memberikan layanan yang cepat, efisien, dan gratis di bandara.



Direktur Jenderal Ron Prosor diterima di Indonesia oleh para pejabat senior, yang menyatakan terima kasih atas bantuan Israel, yang baru pertama kalinya diberikan itu.



Prosor menyampaikan surat belasungkawa dari Menteri Luar Negeri Silvan Shalom kepada mitranya di Indonesia. Mereka juga membahas kelangsungan bantuan Israel untuk jangka menengah-panjang.



Sampai tahun 2009 ini masih belum ada hubungan diplomatik antara Israel dan Indonesia. Tapi mengapa HMI tiba-tiba bisa menyalurkan bantuan senilai USD 500.000 dari Israel untuk korban gempa Padang?



Negara Zionis Yahudi ini mungkin masuk melalui Magen David Adom (Palang Merah Israel). Itu mengapa Beth Am mengumpulkan bantuan mereka ke JDC. Sebab sebagaimana yang mereka tulis di situsnya, JDC adalah rekanan Magen David Adom (MDA).



MDA sendiri disamping memiliki hubungan dengan Ambulan Indonesia, juga memiliki hubungan kerjasama dengan Pusat Penanggulangan Bencana Muhammadiyah.



Rabu malam tanggal 29 Oktober 2008, MDA menandatangani sebuah perjanjian kerjasama diwakili oleh Dr. Sudibyo Markus, seorang pengurus sebuah ormas Islam besar di Indonesia.



Pada acara perayaan penandatanganan kerjasama itu Markus memberikan komentar, “Saya berusia 76 tahun. Dan saya senang karena berhasil memenuhi impian masa kecil saya, yaitu pergi ke Israel.” Sebagaimana diberitakan oleh CN Publications (30/10/2008).



Indonesia adalah negara Islam terbesar yang mempunyai pengaruh politik cukup kuat di antara negara-negara Islam. Tentunya Israel sangat paham akan hal ini, sebuah peluang yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan negara mereka.



Jauh di daerah Timur Tengah sana, saudara seiman kita di Palestina masih merasakan penderitaan pedih akibat penjajahan Israel yang telah berlangsung puluhan tahun lamanya. Tidak sedikit pun tentara Zionis bersikap lunak kepada mereka. Bahkan orang-orang di Gaza dibiarkan kelaparan dan harus merangkak dan mempertaruhkan nyawa di terowongan sempit demi mendapatkan bahan makanan seadanya. Tapi mengapa, bangsa yang merdeka ini, yang hanya terkena goncangan gempa 2-3 menit saja, mau menerima pemberian dari bangsa yang menjajah saudaranya, yang tangannya berlumuran darah orang tak berdosa? [dija berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

 

(read more ...)



Tidak ada pemberian besar yang tanpa pamrih, maka sudah sewajarnya jika umat Muslim yang terkena bencana selalu waspada atas setiap bantuan yang diterimanya



Hidayatullah.com--Tanggal 30 September 2009 pukul 17:16:09 WIB gempa berkekuatan 7,6 skala Richter mengguncang Kota Pariaman dan sekitarnya. Gempa tektonik 7.6 SR ini terjadi pada pukul 17.16.09 WIB pada episentrum 0,84 Lintang selatan (LS) dan 99,65 bujur timur (BT), kedalaman 71 kilometer, sekitar 57 km barat laut Pariaman Provinsi Sumbar.



Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya lebih dari 500 bangunan hancur akibat gempa tersebut. Sekitar 200.000 warga rumahnya rusak berat dan menjadi pengungsi, dan lebih dari 1000 orang meninggal dunia.



Bantuan dari luar negeri datang silih berganti. Dari Australia, Inggris, Tiongkok, Jerman, Jepang, Uni Eropa, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Swiss, Denmark, dan AS. Selain membawa tim kesehatan dan penyelamat ke lokasi, negara-negara itu memberikan bantuan finansial. Meski belum menyebut angka secara persis, pejabat Indonesia menyatakan bahwa sumbangan tersebut mencapai jutaan dolar AS.



Sebanyak 20 petugas medis dan pakar logistik dari Estonia juga terbang ke Indonesia, Jumat (2/10). Mereka bergabung dengan misi kemanusiaan lain untuk membantu para korban gempa. Tim dari negara bekas pecahan Uni Soviet tersebut terdiri atas perawat, ahli bedah, dan pakar anestesi. Fokus pada operasi pasca-trauma. Tim itu berada di Padang selama tiga pekan.



Itu tim medis kedua dari Estonia yang membantu korban bencana di Indonesia. Sebelumnya, Estonia mengirimkan tim penyelamat ke Aceh saat musibah gempa dan tsunami pada akhir 2004.



Nun jauh di daratan Eropa, Christian Today (3/10) melaporkan bahwa Christian Aid Inggris telah mengirimkan bantuan senilai 100.000 pound. Bersama partnernya di Indonesia, Yakkum Emergency Unit, mereka telah mengirimkan tim ahli medis dan logistik sebanyak delapan orang ke daerah Pariaman. Christian Today, adalah salah satu media milik organisasi Kristen di Amerika. Tim itu memberikan bantuan kepada sekitar 1.500 orang dengan membagikan selimut, keperluan hieginis pribadi dan bayi, serta terpal.



Mereka juga mencari tahu tentang trauma yang diderita anak-anak, serta menyiapkan sistem penjernihan air.



Tak hanya organisasi gereja luar negeri, Gereja Protestan Mentawai dan Dewan Gereja Sumatera Barat, --yang pernah mendapatkan pelatihan manajemen bencana dari Yayasan Tanggul Bencana (YTB), rekanan dari Christian Aid di Indonesia—ikut bergerak mencari tahu apa saja kebutuhan yang diperlukan korban yang selamat serta menyalurkan bantuan.



YTB mengirimkan makanan, susu untuk anak-anak dan wanita hamil, obat-obatan, generator listrik darurat, dan peralatan komunikasi satelit ke beberapa wilayah bencana.



Church World Service menyediakan empat perlindungan sementara beserta perlengkapannya, seperti tikar plastik, selimut, dan keperluan bayi di wilayah Pariaman.



Kantor Berita Antara (3/10) melaporkan bahwa World Vison berkomitmen memberikan bantuan senilai USD 2 juta dalam jangka waktu 90 hari dalam bentuk paket kepada keluarga korban gempa.



Dalam situs organisasi internasional yang mengumpulkan bantuan dari berbagai gereja dan umat Kristen di seluruh dunia ini, disebutkan bahwa mereka memberikan paket bantuan sebanyak 12.000 paket, yang didistribusikan oleh 17 orang stafnya secara langsung kepada korban. Di samping itu mereka juga memberikan bantuan pendampingan terhadap anak-anak yang trauma dengan mendirikan 13 Ruang Sahabat Anak World Vision di Padang dan Pariaman.



World Vision, yang salah satu misinya selalu berusaha untuk merefleksikan Yesus di setiap komunitas, juga memberikan layanan klinik bergerak gratis, dengan mengunjungi beberapa tempat di wilayah bencana.



Lembaga bantuan internasional umat Katolik, Caritas, melalui Karina --cabangnya di Indonesia--, juga terjun ke wilayah bencana. Pekan pertama saja Caritas telah menyalurkan 700 tenda dan makanan.



Tidak hanya dari organisasi bantuan Kristen dan Katolik, Israel yang negaranya senang menyengsarakan bangsa Palestina, ternyata tertarik juga memberikan bantuan kepada bangsa Indonesia. Dana sebesar USD 500.000 disiapkan untuk korban gempa Padang.



Beth Am, organisasi Yahudi di AS menyediakan kotak amal Beth Ams Tzedekah, yang pada bulan Oktober dikhususkan untuk memberi bantuan kepada korban gempa Padang. Sumbangan mereka disalurkan melalui American Jewish Joint Distribution Committee (JDC).



Bantuan korban bencana terus mengalir dari berbagai pihak. Tak terkecuali dari Obor Berkat Indonesia (OBI) Jakarta. Bantuan sejumlah logistik OBI tiba di posko kepolisian udara di Jl. Imam Bonjol, Padang, beberapa saat setelah bencana terjadi.



OBI menerjunkan sekitar 60 tim medis dan 20 dokter dari Jakarta. Mereka juga membawa obat-obatan. Mereka berada di Padang hingga masyarakat korban gempa betul-betul pulih.



Obor Berkat Indonesia (OBI) merupakan LSM yang mendapat dukungan penuh MAF (Mission Aviation Fellowship). Menurut pantauan reporter www.hidayatullah.com biro Padang, sehari setelah gempa, tim medis OBI sudah tiba di Padang dengan penerbangan MAF.  



Gempa Akidah



Sejumlah wilayah di Indonesia berulang kali memang dilanda gempa bumi. Dalam rentang waktu yang terbilang singkat, gempa mengguncang Tasikmalaya, Yogyakarta, Aceh, Nusa Tenggara Barat, Toli-Toli, dan Sulawesi Tengah. Akibat gempa tidak hanya merusakan bangunan, namun banyak menelan korban jiwa.  



Menurut Kepala Badan Geologi Departemen ESDM R Sukhyar, potensi gempa di Indonesia memang terbilang besar, sebab berada dalam pertemuan sejumlah lempeng tektonik besar yang aktif bergerak. Daerah rawan gempa tersebut membentang di sepanjang batas lempeng tektonik Australia dengan Asia, lempeng Asia dengan Pasifik dari timur hingga barat Sumatera sampai selatan Jawa, Nusa Tenggara, serta Banda.



Kemudian interaksi lempeng India-Australia, Eurasia, dan Pasifik yang bertemu di Banda serta pertemuan lempeng Pasifik-Asia di Sulawesi dan Halmahera.



Kata Sukhyar, terjadinya gempa juga berkaitan dengan sesar aktif. Di antaranya sesar Sumatera, sesar Palu, atau sesar di yang berada di Papua. Ada juga sesar yang lebih kecil di Jawa, seperti sesar Cimandiri, Jawa Barat.



Masalahnya, kondisi seperti, diakui Sukhyar, belum ada teknologi yang dapat memprediksi baik waktu, tempat dan intensitas gempa di Indonesia, maka zona-zona yang masuk rawan gempa harus mendapat perhatian.



Keterbatasan alat, teknologi, dan ilmu ini, barangkali membuat pihak-pihak asing lebih cepat dibanding orang Indonesia dalam menangani gempa yang sering terjadi di Indonesia. Lebih dari itu, masalah yang dikhawatirkan adalah hadirnya ‘misi” lain di luar bantuan kemanusiaan.



Contoh terbaru adalah dugaan “pemurtadan” berkedok bantuan. Kasus ini terjadi tanggal 28 Oktober lalu, ketika ketika aparat menyita 24 buah Injil.



Dugaan kasus pemurtadan di kawasan Patamuan, Padang Alai, Kabupaten Padang Pariaman, tercium pihak Polresta Pariaman. Polresta berhasil menyita 24 buah Injil. Selain itu, juga menyita selebaran dan komik anak-anak dengan judul "Si Bodoh" dan "Bagaimana Caranya Jadi Kaya", yang diduga disebarkan ke sekolah-sekolah.



Pelaku pemurtadan itu tiga orang, mereka juga memberikan bantuan uang. Bagi orang dewasa Rp10 ribu/orang, anak-anak Rp5.000/orang.



Kasat Reskrim Polresta Pariaman, AKP Hendri Yahya, menyebutkan, pelaku St dan RG berasal dari California, AS, didampingi penerjemah mereka, Doni, dari Jakarta.



"Kita sudah mengkopi paspor dan identitas mereka, kini tengah dilacak organisasi mereka," katanya.



Ia menambahkan, pihaknya belum bisa menetapkan tindakan atas kasus tersebut. Bila sudah, Mabes Polri yang akan menangani, ujarnya, dikutip TV One.



Untuk upaya pemurtadan itu, aparat memiliki bukti video rekaman ponsel berisi ajakan murtad berdurasi 48 detik di Kabupaten Padang Pariaman.



Atas bukti-bukti kecil itu, telah membuat sebagian kalangan Islam tersengat.  Ulama Sumbar, Buya Mas’oed Abidin, segera mengajak masyarakat mewaspadai “pemurtadan”  berkedok bantuan kemanusiaan



Mantan Ketua Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) itu, Buya H. Mas`oed Abidin mengingatkan masyarakat daerah itu, terutama yang terkena bencana gempa bumi,  jangan sampai berubah akidah karena berharap bantuan.



Lebih jauh, ia menyayangkan adanya relawan yang berkedok menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk memurtadkan (mengkafirkan) masyarakat yang memeluk Islam.



"Betul sejumlah masyarakat Sumbar pascagempa tengah berada dalam keadaan susah, lapar, dan rumah rusak. Namun, bukan berharap bantuan untuk mengubah akidah (agama) mereka," kata Buya menyesalkan ulah oknum tak bertanggung jawab tersebut.



Jadi, relawan yang ingin merusak akidah masyarakat Minang, kembali sadar dan sebaiknya  membawa pulang kembali misi tersebut jauh-jauh.



"Masyarakat korban berharap benar bantuan yang disalurkan dengan ikhlas tanpa ada iming-iming mengkafirkan," katanya.



Ia menambahkan, kalau ada "udang di balik batu", sebaiknya tak salurkan bantuan. Untuk itu, masyarakat Sumbar yang berada di daerah terkena bencana gempa beberapa waktu lalu, diminta tak terpengaruh dengan bantuan yang sampai mengubah akidah.



"Harga Islam bukanlah sebungkus mie instan. Lebih baik masyarakat makan tanah dan berlindung di bawah langit daripada akidah berubah," katanya mengingatkan masyarakat.



Masalahnya, ketika kita semua mengeluhkan adanya “gempa akidah”, mengapa organisasi Islam selalu lebih lambat datangnya? [dija/anshor/cha/www.hidayatullah.com]

(read more ...)




Ada cerita menarik dari Karbala yang sengaja dirahasiakan oleh syiah, mau tahu? baca selengkapnya...

Ada bagian penting yang sering tertinggal dari sejarah Imam Husein, nampaknya bagian yang penting ini sangat jarang sekali dibahas, sehingga pembaca yang ditakdirkan melewatkan pandangannya pada tulisan kali ini sangat beruntung, karena menemukan pembahasan yang hampir belum pernah dibahas.


 

Kali ini pembaca akan menikmati uraian tentang anak-anak Imam Husein. Sebagaimana kita ketahui bersama, Imam Husein adalah seorang cucu Nabi, manusia yang dicintai oleh Nabi sebagaimana kita mencintai cucunya. Bahkan konon seorang kakek lebih mencintai cucunya dari ayah si cucu yang merupakan anaknya sendiri. Kecintaan nabi kepada Imam Husein begitu besar,begitu juga kepada kakaknya yaitu Imam Hasan. Kita sebagai orang beriman yang mencintai Nabi wajib mencintai mereka yang dicintai Nabi, termasuk cucundanya yang satu ini, sebagai bukti kecintaan kita kepada Kakeknya. Namun kecintaan kita kepada sang Kakek haruslah lebih besar.


 

Waktu kemudian berlalu sehingga Muawiyah Ra mangkat dan mengangkat Yazid sebagai khalifah. Imam Husein yang enggan berbaiat kepada Yazid segera melarikan diri ke mekkah. Sesampai di mekkah penduduk kota Kufah mengirimkan surat yang jumlahnya mencapai 12000 pucuk surat, yang isinya meminta sang Imam untuk berangkat ke Kufah, di mana penduduknya sudah bersiap sedia untuk membaiat Imam Husein sebagai khalifah. Di antara isi surat itu adalah memberitahu sang Imam bahwa di Kufah terdapat 100000 pasukan yang siap berdiri di belakangnya untuk melawan Bani Umayyah (Lihat kitab Fajiatu Thaff hal 6, karangan Muhammad Kazhim Al Qazweini) Membaca surat itu, sang Imam yakin akan kesiapan 100000 penduduk kufah yang telah siap dengan pedang terhunus untuk melawan dan "kezhaliman bani Umayah", Imam Husein akhirnya berangkat menuju kufah bersama keluarganya. Namun kali ini imam tertipu. Sebelum sampai ke kota Kufah rombongan beliau dicegat oleh tentara suruhan Ibnu Ziyad yang dipimpin oleh Umar bin Saad. Ketika rombongan sang Imam dicegat, kita tidak mendengar 100000 pasukan yang konon siap membela Imam Husein itu ikut membela dan berperang melawan musuhnya, kita tidak tahu kemana perginya mereka, begitu juga 12000 orang yang menuliskan surat ketika sang Imam berada di mekkah. Jika 100000 orang yang mengaku pembela Imam itu ikut berada di padang Karbala, pasti "tentara bani umayah" dapat dengan mudah dikalahkan. Mereka yang memanggil sang Imam begitu saja lari dari tanggungjawab. Mereka tega membiarkan cucu sang Nabi terakhir dijadikan bulan-bulanan, mereka tega darah suci keluarga nabi tumpah akibat larinya mereka dari tanggungjawab. Di dunia mereka bisa lari, namun di akhreat kelak tidak. Sang Imam beserta rombongannya dibiarkan begitu saja menjadi korban pengkhianatan mereka yang mengaku sebagai pengikut dan pembelanya. Rupanya inilah karakter mereka yang mengaku-aku dan sok menjadi pembela ahlulbait sejak zaman para imam.


 

Akhirnya sang Imam pun Syahid menjadi korban pengkhianatan mereka yang mengaku menjadi pembelanya. Sang Imam Syahid beserta para keluarganya, di antaranya adalah : saudara sang Imam, putra Ali bin Abi Thalib : Abubakar, Umar, Utsman. Bisa dilihat di kitab Maalimul Madrasatain karangan Murtadha Al Askari, jilid 3 hal 127. juga dalam kitab Al Irsyad karangan Muhammad  bin Nukman Al Mufid hal. 197, Ilamul Wara karangan Thabrasi hal 112, juga kitab Kasyful Ghummah karangan Al Arbali jilid 1 hal 440. ini adalah sebagian referensi saja, yang lainnya sengaja tidak kami sebutkan karena terlalu banyak. Sementara putra Imam Husein di antaranya : Abubakar bin Husain dan Umar.


 

Sampai di sini mungkin pembaca belum tersadar akan sebuah fenomena yang menarik. Kita lihat di sini Imam Ali dan Imam Husein menamakan anaknya dengan nama para perampas haknya. Kita ketahui bahwa syiah meyakini bahwa khilafah bagi Ali telah ternashkan dari ketentuan Allah dan RasulNya, sedangkan mereka yang tidak mengakui adanya nash dianggap merasa lebih pandai dari Nabi. Dalam sejarah diyakini oleh syiah bahwa Abubakar telah merampas hak yang semestinya menjadi milik Ali. Di antara bentuk protes Ali adalah khotbah syaqsyaqiyyah yang tercantum dalam sebuah literatur penting syiah yaitu kitab Nahjul Balaghah. Namun yang aneh di sini adalah Ali yang memberi nama anaknya dengan nama si perampas hak yang sudah tentu bagi syiah adalah dibenci Allah.


 

Begitu juga menamai anaknya dengan nama Umar, sang penakluk yang telah mengubur kerajaan persia untuk selamanya, dan orang yang konon memukul bunda Fatimah hingga keguguran. Sering kita dengar bahwa Umar telah memukul Fatimah, perempuan suci putri Nabi dan istri Ali hingga janin yang dikandungnya gugur, sungguh nekad orang yang berani memukul putri Nabi. Namun dalam sejarah tidak disebutkan pembelaan Ali terhadap istrinya yang dipukul, malah memberi nama anaknya dengan nama orang yang memukul putri Nabi yang sekaligus adalah istrinya. Sementara di sisi lain kita tidak pernah menemukan bahwa Ali memberi nama anaknya dengan nama ayahnya yang "tercinta" yaitu Abu Thalib. Begitu juga para imam ahlulbait tidak pernah tercantum bahwa mereka memberi nama anak mereka dengan nama Abu Thalib. Apakah para imam ahlulbait lebih mencintai Abubakar dibanding cinta mereka pada Abu Thalib, kakek mereka sendiri? Ternyata fakta berbicara demikian. Mengapa tidak ada seorang imam maksum –terbebas dari kesalahan dan dosa- yang memberi nama anaknya dengan nama Abu Thalib? Jika ada yang mengatakan bahwa para Imam Ahlulbait memberi nama anak mereka dengan nama-nama musuh karena basa basi, apakah para imam begitu penakut sehingga harus berbasa basi dalam hal nama anak?


Ataukah para imam begitu hina mau dipaksa orang lain untuk memberi nama anaknya sendiri?


 

(read more ...)




Taqiyyah adalah ajaran penting dalam mazhab syiah, penting untuk anda ketahui.


Setiap ajaran pasti memiliki keyakinan-keyakinan dan ajaran tertentu, dan lazimnya sebuah ajaran yang diinginkan untuk berkembang, keyakinan itu ditulis dalam buku. Kita lihat prakteknya agama Islam sendiri memiliki kitab yang memuat ajaran yang harus diyakini oleh seorang muslim yaitu Al Quran, yang mengandung perintah untuk bertanya kepada yang tahu ketika tidak mengerti tentang segala sesuatu. Begitu juga Al Quran memuat sumpah Allah dengan pena, yang dipahami oleh ummat Islam sebagai perintah untuk menulis dan membaca. Sehingga keterangan dari ulama dituangkan dalam kitab-kitab yang dapat dibaca hingga kini. Mazhab-mazhab fiqih dalam islam pun memiliki kitab-kitab rujukan yang memuat pendapat mazhab itu. "Mazhab syiah" pun demikian pula memiliki kitab-kitab rujukan yang memuat keyakinan-keyakinan syiah, kitab ini berisi ucapan-ucapan ahlulbait, 11 imam yang konon harus diikuti. Konon lagi, 11 imam itu disebut juga sebagai salah satu dari tsaqalain (dua pusaka) yang harus diikuti oleh orang muslim. Pusaka satu lagi adalah Al Quran. Selain ucapan ahlulbait, kitab-kitab itu juga memuat penjelasan-penjelasan ulama syiah, yang juga harus diikuti karena status ulama menjelaskan ayat-ayat Al Quran dan ucapan ahlulbait di atas. Tapi belakangan ulama syiah naik pangkat menjadi wakil imam masum (yang juga madum = tidak ada) untuk mengatur kehidupan keberagaamaan para penganut syiah.


Tetapi buku-buku yang memuat ajaran syiah itu hampir seluruhnya susah diakses. Terutama buku-buku yang memuat ucapan-ucapan ahlulbait, sumber legalitas bagi syiah selain Al Quran, sehingga kita hanya mengetahui ajaran syiah dari mulut-mulut pengikutnya atau dari buku-buku yang ditulis oleh ulama masa kini dan tidak memuat langsung ucapan ahlulbait. Ini menimbulkan kerancuan, di satu sisi orang akan mengira bahwa itulah sebenarnya mazhab syiah, tetapi ada golongan lain dari umat Islam yang berkesempatan untuk mengakses ke kitab-kitab induk syiah dan mendapati ternyata ucapan dari penganut syiah tentang mazhabnya ternyata tidak sesuai dengan isi kitab-kitab itu. Perlu diketahui bahwa kitab-kitab syiah itu memuat ajaran-ajaran yang tidak pernah didapat dalam Al Quran serta sabda Nabi SAW. Di sini umat dibuat bingung, akhirnya diadu domba. Ini karena adanya sebagian umat yang celakanya mereka adalah kaum intelektual tetapi terjangkit penyakit lugu dan polos. Mereka begitu saja percaya dengan ucapan-ucapan penganut syiah yang berpropaganda tentang ajarannya tanpa ingin mengecek ke sumber asli. Mereka berbenturan dengan orang-orang yang ikhlas ingin mengingatkan umat akan ajaran yang tidak sesuai dengan Al Quran dan sabda Nabi SAW. Akhirnya umat pun diadu domba. Lebih berbahaya lagi bahwa mereka adalah kaum intelektual yang didengar suaranya di masyarakat. Kasihan masyarakat yang terbius oleh "angin surga" baik yang dilontarkan oleh penganut syiah maupun dari intelektual yang lugu lagi polos –tapi intelek-.


 

Tidak ada yang aneh jika kita melihat fenomena "intelek tapi lugu",  karena sikap lugu mereka tertipu oleh angin surga dari dai-dai syiah. Tetapi yang patut dicermati adalah penganut atau ustadz-ustadz syiah, mengapa mereka terkesan menutupi isi riwayat-riwayat dari ahlulbait? Mengapa ucapan mereka berbeda dengan apa yang tercantum dalam buku-buku riwayat-riwayat ahlulbait? Apakah mereka sengaja ingin menyembunyikan riwayat ahlulbait atau mengapa? Ini yang barangkali terlintas pada benak kita. Ataukah riwayat itu hanya diperuntukkan bagi kalangan khusus yang sudah dianggap layak untuk mengaksesnya? Apa pun jawabannya, kitab-kitab syiah sudah bukan barang langka lagi, mereka yang benar-benar ingin pasti akan dapat menemukan dan mengaksesnya, meskipun para ustadz syiah mencoba sekuat tenaga untuk menyembunyikan.


 

Sebagai misal, anda tidak akan mendengar penganut atau ustadz syiah menukil riwayat di bawah ini:


 

Dari Abu Abdillah –Jafar Ash Shadiq- mengatakan: Ambillah harta orang nashibi di mana saja kamu dapatkan, lalu bayar seperlimanya pada kami.


 

Riwayat ini terdapat dalam kitab Tahdzibul Ahkam jilid 4 hal 122, Al Wafi jilid6 hal 43, begitu juga dinukil oleh Al Bahrani dalam Al Mahasin An Nifsaniyah, Al Bahrani mengatakan riwayat ini diriwayatkan dari banyak jalur.


 

Siapakah yang disebut dengan nashibi? Nashibi adalah orang yang memusuhi ahlulbait. Tetapi syiah memiliki terminologi yang berbeda atas kata memusuhi ahlulbait. yang dimaksud memusuhi ahlulbait bukanlah memusuhi alias lawan kata cinta, seperti orang yang memusuhi Ali atau membenci Fatimah, anda tidak akan menemui sikap demikian kecuali pada sebagian orang khawarij yang memang sesat. Tetapi nashibi di sini bermakna mereka yang mendahulukan selain Ali dalam khilafah, alias mereka yang berkeyakinan bahwa Ali bukanlah yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Kita lihat Al Bahrani di atas –nama lengkapnya Husain bin Muhammad Al Ashfur Ad Darazi Al Bahrani- dalam kitab yang sama pada hal 157 memberikan definisi bagi kata nashibi:


 

Ini karena kamu telah tahu bahwa nashibi adalah mereka yang mendahulukan selain Ali…


 

Maka kata nashibi meliputi seluruh penganut ahlussunnah wal jamaah yang meyakini fakta dan kenyataan yang ada bahwa khalifah setelah Nabi adalah Abu Bakar. Riwayat di atas adalah ajakan untuk merampok, mencuri, mencopet dan merampas harta ahlussunnah. Ini jelas dari riwayat di atas yang menjelaskan ambillah harta nashibi –sunni-  di mana saja, di jalan, di rumahnya, di kantor, pokoknya di mana saja terdapat harta itu. Barangkali situasi di Indonesia belum kondusif untuk melaksanakan riwayat itu, tetapi riwayat di atas dipraktekkan di Irak hari ini, di mana milisi syiah melakukan perbuatan seperti yang dilakukan oleh pasukan ortodok Serbia kepada muslimin Bosnia.


 

Anda tidak akan mendengar riwayat ini dari ustadz syiah. Mengapa demikian? Ternyata ajaran syiah terdapat sebuah ajaran yang membolehkan bagi penganut syiah untuk menyembunyikan keyakinannya di depan non syiah, keyakinan itu disebut dengna taqiyyah. Lagi-lagi menurut keterangan ulama syiah sendiri bahwa taqiyah hukumnya wajib hingga imam ke 12 bangkit dari "tidur panjangnya". Ibnu Babawaih Al Qummi yang dijuluki Ash Shaduq –yang selalu berkata benar- mengatakan:


 

Keyakinan kami bahwa taqiyah adalah wajib, meninggalkan taqiyah sama seperti meninggalkan shalat, tidak boleh ditinggalkan hingga keluarnya Imam Mahdi siapa yang meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya Imam Mahdi maka telah keluar dari agama Allah (Islam), keluar dari agama Imamiyah dan menyelisihi Allah, Rasul dan para imam. Bisa dilihat dalam kitab Al Itiqadat  hal 114. Pada cetakan Darul Mufid tex di atas ada pada hal 108.


 

Ucapan ini tentunya tidak berasal dari omong kosong maupun pendapat sendiri, karena dalam ucapan di atas kita lihat ada kata: Keyakinan kami, berarti adalah keyakinan mazhab syiah menurut As Shaduq. Juga ini bukan satu-satunya ucapan ulama syiah tentang wajibnya taqiyah. Ucapan di atas berdasar pada riwayat Jafar Ash Shadiq yang bersabda:


 

Jika kamu katakan bahwa orang yang meninggalkan taqiyah sama dengan orang yang meninggalkan shalat maka kamu telah berkata benar.


 

Bisa dilihat di kitab Biharul Anwar jilid 50 hal 181, jilid 75 hal 414, hal 421, As Sarair hal 476 Kasyful Ghummah jilid 3 hal 252, Man Laa Yahdhuruhul Faqih jilid 2 hal 127 dan beberapa sumber lain.


 

Juga terdapat riwayat yang mengatakan: Orang yang meninggalkan taqiyah adalah kafir. Bisa dilihat  di kitab Biharul Anwar 87 347 Fiqhur Ridha 338.


 

Dari sini saja kita sudah bisa mengetahui bahwa tidak ada orang syiah yang tidak bertaqiyah, tetapi sepandai-pandai tupai melompat pasti jatuh juga, sepandai-pandai syiah bertaqiyah akhirnya terbongkar juga –bagi mereka yang tidak lugu-. Perkataan As Shaduq di atas memberi jawaban bagi kebingungan kita tentang mengapa ucapan ustadz syiah berbeda dengan isi kitab mereka sendiri. Di samping itu kita jadi tahu dan akhirnya berhati-hati dalam mendengar ucapan penganut syiah, karena apa yang diucapkan di mulutnya tidak sesuai dengan keyakinan hatinya. Ini dilakukan agar keyakinan yang sebenarnya diyakini tidak diketahui orang, akhirnya dia selamat dan tidak dijauhi teman-temannya. Karena kaum muslimin masih memiliki tingkat resistensi yang tinggi pada mereka yang beraliran sesat, sehingga orang yang beraliran sesat bisa dijauhi dan dimusuhi. Jika saja penganut syiah menampakkan keyakinan aslinya pasti dia dimusuhi dan dijauhi. Kondisi demikian kurang menguntungkan karena gerak penganut syiah untuk menyebarkan ajarannya menjadi sempit karena dia ditolak di mana-mana.

Praktek menyembunyikan keyakinan agar tidak dibenci orang ini mirip dengan yang disebutkan dalam surat An Nisa 41:


 

Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati mereka belum beriman.


 

Juga dalam surat A Fath ayat 11:


 

mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya.



Juga dalam surat Ali Imran ayat 167:



Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya.



Repotnya, kita tidak memiliki indikator yang membuat kita tahu apakah penganut syiah yang sedang berbicara dengan kita sedang bertaqiyah atau tidak. Kita mengusulkan pada mereka yang berkompeten untuk menciptakan penemuan baru berupa indikator taqiyah, yang mungkin berupa lampu yang menyala bila seorang syiah sedang bertaqiyah. Jika tidak bisa lampu maka apa saja, seperti kerlingan mata atau tanda di kepala atau apa saja, yang penting orang lain di sekitarnya bisa tahu apakah dia sedang bertaqiyah atau tidak. Penemuan ini begitu mendesak supaya kaum muslimin tidak tertaqiyahi –baca: Tertipu- oleh penganut syiah yang menyembunyikan keyakinannya ketika tidak dalam keadaan bahaya. Lalu apakah para imam juga bertaqiyah? Sudah semestinya demikian, karena bagaimana sang imam menyuruh orang untuk bertaqiyah tapi diri mereka sendiri tidak bertaqiyah.



Di sini terdetik pertanyaan besar, yaitu bagaimana kita tahu para imam sedang bertaqiyah atau tidak? Jika kita membaca sebuah riwayat dari salah seorang imam, maka kita tidak tahu apakah sang imam mengucapkan sabdanya dalam keadaan taqiyah atau tidak hal ini penting untuk diketahui karena seperti di atas, taqiyah adalah menyembunyikan keyakinan sebenarnya dalam hati dan mengucapkan hal yang berbeda dengan apa yang diyakininya dalam hati. Maka penganut syiah tidak tahu apakah riwayat yang ada adalah benar-benar ajaran imam yang sebenarnya atau hanya taqiyah? Ini adalah masalah yang harus diselesaikan oleh syiah. Jika ada syiah yang berani menyanggah dengan mengatakan bahwa penerapan taqiyah dimulai dari era ghaibah –hilangnya imam- sughra maupun kubra, maka dengan mudah kita jawab: Jika memang demikian maka perintah taqiyah akan muncul tepat sebelum masa ghaibah, yaitu pada era imam Hasan Al Askari, bukannya muncul dari Imam Jafar As Shadiq yang hidup jauh sebelum era ghaibah. Maka tidak ada yang menjamin bahwa sabda imam adalah benar-benar ajaran Allah, karena imam juga melakukan taqiyah. Di sini syiah terjebak dalam taqiyah, di mana dia tidak bisa membedakan ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang disampaikan saat bertaqiyah, yang sudah tentu berbeda dengan ajaran imam yang sebenarnya. Dari mana kita mengetahui ajaran imam yang sebenarnya dan ajaran imam yang bertaqiyah? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban pasti. Jadi ajaran syiah tidak diketahui mana yang benar-benar ajaran syiah yang dari Allah dan mana yang taqiyah. Mestinya penganut syiah hari ini berhati-hati, jangan-jangan ajaran yang mereka anut saat ini bukanlah ajaran syiah sebenarnya, tetapi adalah ajaran dari para imam yang sedang bertaqiyah?!



Mari kita simak ucapan Al Bahrani dalam kitab Al Hadaiq An Nadhirah jilid 1 hal 89:



Banyak riwayat-riwayat syiah yang diucapkan ketika sedang bertaqiyah yang tidak sesuai dengan hukum sebenarnya.



Ini pengakuan yang berbahaya, yaitu banyak riwayat syiah yang memuat keterangan kebalikan dari keterangan sebenarnya. Pengakuan ini juga masih bisa kita ragukan, yaitu dari mana diketahui bahwa imam sedang bertaqiyah? Juga ini adalah riwayat yang diketahui bahwa imam mengucapkannya dalam keadaan bertaqiyah, lalu bagaimana dengan riwayat lain? Lagipula bagaimana imam bisa ketahuan sedang bertaqiyah? Apakah taqiyah imam bisa diketahui?


 

Dan banyak lagi pertanyaan yang susah didapat jawabannya.


(read more ...)




Pembuat Pin Nabi Muhammad akhirnya dicokop polisi. Pembuatnya bisa dianggap melanggar pasal penistaan agama


Hidayatullah.com--Dua orang alumuns pelajar dari Iran diinterogasi oleh aparat kepolisian Polresta Makassar Timur, diduga sebagai pengendar Pin beserta stiker bergambar wajah nabi Muhammad SAW di Makassar. Kamis.



"Saat ini kami sedang menginterogasi dua orang mantan mahasiswa Iran yang telah mengedarkan pin dan stiker yang bergambarkan wajah Nabi Muhammad SAW. Mereka saat ini masih berstatus saksi dan belum bisa dikategorikan sebagai kegiatan penistaan agama, " kata Kepala Polisi Resor Kota (Polresta) Makassar Timur, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Mansyur, Kamis di Makassar.



Mereka adalah Bahanda (31) warga Dusun Romang Polong Kec Samata Kab Gowa dan Herianto (35) warga Jalan Andi Tonro III Kecamatan Tamalate Makassar, masing-masing dijemput rumahnya beserta sejumlah benda berbentuk pin yang bergambar wajah pria yang diduga sebagai Nabi Muhammad SAW. Rabu (14/10) malam.



Dari pemeriksaan ini, Mansyur belum bisa menyimpulkan jika pengedaran pin dan stiker yang bergambar wajah Nabi Muhammad SAW, yang konon masih berusia 17 tahun itu sebagai kasus penistaan agama.



"Hingga kini kami masih memeriksanya dan belum bisa mengatakan jika perbuatan mereka adalah perbuatan yang telah menistakan agama, " sambungnya.



Untuk itu, pihaknya akan koordinasi kepada pihak Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) dan terutama pihak Majelis UIama Indonesia (MUI) yang berkompeten menilai pengedaran Nabi terakhir beserta para sahabatnya.



"Kami menunggu keputusan dari MUI, jika MUI mengatakan itu sebagai penistaan agama maka kami akan melanjutkan kasus ini hingga ke pengadilan, " tegasnya



Jeratan hukum yang menunggu mereka termaktub dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), pasal 156 dan Pasal 157, tentang penistaan agama dengan diancam hukuman 2,5 tahun penjara.



Dia menjelaskan pin dan stiker tersebut dibawa Bahanda dan Anto dari Iran. Sekitar 100 jumlahnya dan tidak hanya bergambar wajah Nabi Muhammad, tapi para sahabatnya seperti Imam Ali Bin Abi Thalib.

--

"Pin dan stiker ini hanya akan dijual kepada anggota-anggota komunitas, " ujarnya



Kini Pin dan stiker itu menjadi barang bukti pihak kepolisian, sebelumnya barang tersebut dijual seharga Rp10.000 per lembar. Namun hanya kepada rekan-rekannya di lingkungan komunitas Syiah di Makassar.  [ant/hidayatullah.com]

(read more ...)



Agar hakikat kesesatan akidah Syiah dapat diketahui dan difahami oleh masyarakat Islam Ahli Sunnah wal-Jamaah, maka penulis menyiapkan kertas kerja tentang penyelewengan dan bahayanya fahaman serta akidah Syiah.  Kertas kerja yang ringkas ini akan dibentangkan sebagai siri kulliah akidah terutamanya di beberapa masjid di sekitar Perlis, Pulau Pinang dan Selangor insya-Allah.

            Semoga Allah membantu kita sekalian menghapuskan fahaman yang sesat ini dari terus merebak  dan sentiasa memelihara akidah Ahli Sunnah wal-Jamaah, kedaulatan agama, negara, kerajaan, masyarakat dan perpaduan Ummah Islamiyah.  Amin Ya Rabbal Alamin.




Definisi (شِيْعَة) Syiah Dan Tasyayyu (تَشَيُّع)


            Dari segi etimologis (bahasa), Syiah bererti "Para Pengikut, Penyokong, Pendukung atau Pembela".  Contohnya:  Syiah Ali, bermaksud satu kelompok yang berupa "Penyokong, pendokong atau pembela Ali".  Menurut Terminologi (istilah) syara, Syiah bermaksud "Sesiapa yang mengangkat kepimpinan Ali radiallahu anhu dan anak-anaknya".  Dan apabila disebut si Fulan itu Syiah maka dia menganut atau berfahaman Syiah.


            Tasyayyu (التشيع) pula menurut keterangan Syeikh al-Mufid ialah[1]:


التشيع لغة : هوالاتباع على وجه التدين والولاء للمتبوع علىالاخلاص.


 


"Tasyayyu menurut etimologi adalah sikap mengikut yang didasari agama dan mengangkat orang yang diikuti dengan ikhlas".[2]


            Pada zaman pemerintahan Khalifah Abu Bakar, Umar dan Uthman kalimah syiah dalam erti faktual suatu kelompok atau fahaman belum wujud dan belum terbentuk.  Tetapi kelompok ini lahir ketika terjadinya pertikaian dan peperangan antara Syiah (penyokong) Ali dan Syiah Muawiyah.  Hanya kelompok Syiah di waktu itu kesemua mereka berfahaman Ahli Sunnah wal-Jamaah. 




Abdullah Bin Saba (Si Munafik)


            Abdulah bin Saba adalah seorang pendita Yahudi dari Yaman.  Berpura-pura masuk Islam (secara nifak) di zaman Khalifah Uthman bin Affan radiallahu anhu.  Dialah pereka ajaran Syiah yang ekstrem yang menjadi punca bersemaraknya perpecahan dalam kalangan masyarakat Islam terutama dalam kelompok Syiah itu sendiri.  Abdullah bin Saba pernah berkata yang ditujukan kepada Khalifah Ali radiallahu anhu:  "Engkaulah Allah".[3]  Maka Ali mengisytiharkan bunuh terhadap Abdullah bin Saba tetapi ditegah oleh Ibn Abbas.  Penyokong Ali membuangnya ke Madain (Ibu Negeri Iran lama).


            Abdullah bin Saba orang pertama mengkafirkan Abu Bakar, Umar dan Uthman dan tidak mengiktiraf kekhalifahan kecuali hanya dari kalangan Ahli Bait".[4]  Seorang ulama Syiah Muhammad Husin al-Zain pernah memperkatakan tentang Abdullah bin Saba:


"Abdullah bin Saba mengeluarkan qaul (yang sesat), mengajarkan fahaman yang ghalu (keterlaluan)..... dan perbuatannya sangat melampaui batas".[5]


            Saad bin Abdullah al-Qumy seorang ulama, pemimpin serta ahli hukum Syiah yang lahir pada 229H mengakui wujudnya Abdullah bin Saba.  Beliau menyebut beberapa nama orang yang berkonspirasi yang digelar sebagai Sabaiyah.  Menurut beliau lagi bahawa komplot Sabaiyah adalah firqah pertama dalam Islam yang mengeluarkan perkatan-perkataan yang ghalu (keterlaluan).


Saad bin Abdullah al-Qumy ulama besar Syiah yang masyhur ini telah memastikan bahawa Abdullah bin Saba adalah orang yang mengeluarkan perkataan dan menampakkan dirinya mengecam dan menentang Abu Bakar, Umar dan Uthman radiallahu anhum serta tidak mengiktiraf kekhalifahan mereka.[6]


            Pegangan Syiah Imamiyah yang ada sekarang adalah berasaskan ideologi dan doktrin sesat Abdullah bin Saba. Fahaman ini disampaikan (dipelihara) dalam bentuk riwayat hadis yang dinasabkan kepada keluarga Nabi (Ahli Bait) dengan penuh kebohongan tetapi diterima oleh mereka yang jahil.[7]




Syiah Mengkafirkan Para Sahabat


            Agama Syiah mengkafirkan para pembesar sahabat secara umum.  Pengkafiran ini boleh dilihat dalam kitab-kitab besar Syiah yang ditulis oleh ulama mereka, contohnya ialah wasiat para ulama mereka:


1.     Abu Jafar berkata:


"Semua manusia (kaum muslimin Ahli Sunnah wal-Jamaah) menjadi Ahli Jahiliyah (kafir/murtad setelah kewafatan Rasulullah) kecuali empat orang, Ali, Miqdad, Salman dan Abu Dzar".[8]


2.     Al-Kulaini[9] mensifatkan Abu Bakar, Umar dan Uthman telah terkeluar dari kalangan orang yang beriman (murtad/kafir) lantaran tidak melantik Ali sebagai khalifah setelah Rasulullah sallallahu alaihi wa-sallam wafat.[10]  Malah al-Kulaini mengkafirkan seluruh penduduk Mekkah dan Madinah.  Menurut Kulaini: 


"Penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekkah dan penduduk Mekkah telah kufur kepada Allah dengan terang-terang".[11]


         Al-Kulaini juga menetapkan dalam kitabnya al-Kafi:


"Sesiapa yang tidak beriman kepada Imam Dua Belas maka dia adalah kafir walaupun dia keturunan Ali atau Fatimah".[12]


3.     Al-Majlisi  seorang ulama besar Syiah menegaskan:


“Bahawa mereka (Abu Bakar, Umar dan Uthman) adalah pencuri yang khianat dan murtad, keluar dari agama, semoga Allah melaknat mereka dan semua orang yang mengikut mereka dalam kejahatan mereka, sama ada orang dahulu atau orang-orang kemudian".[13]


 


Budak Ali bin Husin berkata:


 


"Saya pernah bertanya kepada Ali bin Husin tentang Abu Bakar dan Umar.  Maka dia menjawab:  Keduanya kafir dan sesiapa yang mencintainya juga kafir".[14]


4.     Abu Basir (ulama Syiah) menegaskan:


"Sesungguhnya penduduk Mekkah telah kufur kepada Allah secara terang-terang dan penduduk Madinah lebih buruk dari penduduk Mekkah, lebih buruk tujuh puluh kali dari penduduk Mekkah".[15]


            Demikianlah kenyataan, fatwa, kepercayaan, pandangan dan tuduhan jahat para ulama Syiah terhadap Ahli Sunnah wal-Jamaah sama ada terhadap ulama atau orang awamnya.




Al-Quran Menurut Syiah


            Menurut kepercayaan penganut Syiah al-Quran yang ada sekarang sudah diubah-suai, ditambah dan dikurangi oleh para sahabat dan tidak asli.  Al-Quran yang asli berada di tangan Ali yang kemudian diwariskan kepada putera-puteranya.  Menurut Syiah lagi bahawa pada masa sekarang ini al-Quran yang asli berada di tangan Imam Mahadi al-Muntazar.


Al-Kusyi pula berkata:


"Tidak sedikitpun isi kandungan di dalam al-Quran (yang digunakan oleh Ahli Sunnah wal-Jamaah sekarang,  Pent.) yang boleh kita jadikan pegangan".[16]


            Menurut para ulama Syiah:


“Seseorang itu akan dianggap kafir dan masuk neraka kerana tidak mengikut Imam Dua Belas Syiah atau kafir terhadap Syiah”.


Syiah banyak merubah ayat-ayat al-Quran dan tafsirannya.  Contohnya ayat:


مَاسَلَكَكُمْ فِى سَقَرٍ


"Mengapa kamu masuk neraka?"


             (Menurut penafsiran ulama Syiah):


  قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْن


"Orang-orang kafir menjawab, Kami tidak solat".


            Ulama Syiah merubah tafsirannya yang sebenarnya kepada maksud dan tafsiran:


"Kami (masuk neraka kerana) tidak mengikut Imam (Syiah)".[17]


            Begitulah kekarutan, khurafat dan batilnya kepercayaan penganut syiah yang telah disepakati oleh para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah sebagai akidah yang sesat lagi menyesatkan.




Hadis Menurut Syiah


            Syiah menolak hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh muhaddis Ahli Sunnah wal Jamaah, seperti Imam Bukhari, Muslim, Turmizi dan yang lainnya.  Syiah hanya menerima hadis yang diriwayatkan oleh perawi Ahli Bait.  Menurut Syiah hadis bukan semata-mata dari Nabi tetapi dari Imam Dua Belas yang maksum.  Nilai perkataan imam yang maksum senilai dengan wahyu dan sabda nabi.[18]




Syiah Mengkafirkan Ahli Sunnah Wal-Jamaah


1.     Syiah menggelar golongan Ahli Sunnah wal-Jamaah sebagai Nasibi(نَاصِبِي)  "Penipu, Pembangkang atau penentang Ali bin Abi Talib" kerana mereka mendahulukan Abu Bakar, Umar dan Uthman sebagai khalifah.


         Begitu juga ulama Syiah mengkafirkan pengikut mazhab Syafie, Hambali, Maliki dan Hanafi kerana mereka digolongkan sebagai an-Nasibi.  Menurut ulama Syiah lagi:


"Dalam kalangan ulama (Ahli Sunnah) dari Malik, Abi Hanifah, Syafie, Ahmad dan Bukhari semua mereka kafir dan terlaknat".[19]


         Keyakinan Syiah yang sesat ini diambil dari keterangan ulama mereka Syeikh Husin al-Usfur ad-Darazi al-Bahrani.  Beliau menegaskan:


"Riwayat-riwayat para imam menyebutkan bahawa an-Nasibi (si Kafir) adalah mereka yang digelar Ahli Sunnah wal-Jamaah".[20]


2.     Syiah menganggap seluruh Ahli Sunnah wal-Jamaah kafir yang setara dengan orang-orang kafir musyrikin dan najis.  Berkata Abu Qasim al-Musawi al-Khuri (ulama besar Syiah):


         "Najis ada sepuluh jenis, yang ke sepuluh adalah orang kafir, iaitu yang tidak beragama atau yang beragama bukan Islam atau beragama Islam menolak yang datang dari Islam.  Dalam hal ini tidak ada perbezaan antara murtad, kafir asli, kafir zimmi, Khawarij yang ghalu atau an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)".[21]


         Berkata Ruhullah al-Musawi (ulama Syiah):


         "Sesungguhnya an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dan Khawarij dilaknati Allah Subhanahu wa-Taala.  Keduanya adalah najis tanpa diragukan lagi".[22]


3.     Syiah mengkafirkan Ahli Sunnah kerana tidak mengiktiraf (tidak mengimani) Imam Dua Belas.  Berkata Yusuf al-Bahrani (ulama Syiah):


         "Tidak ada perbezaan antara orang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa-Taala, RasulNya dan yang kafir kepada para Imam Dua Belas".[23] 


 


         Dan berkata Kamil Sulaiman (ulama Syiah): 


         "Sesiapa yang meyakini para Imam Dua Belas maka dia adalah orang yang beriman dan sesiapa yang mengingkarinya dia adalah kafir".[24]


Syiah menghalalkan darah dan harta Ahli Sunnah.  Berkata Muhammad bin Ali Babawaihi al-Qummi, dia meriwayatkan dari Daud bin Farqad:


         "Aku bertanya kepada Abu Abdullah alaihis salam:  Bagaimana pendapat engkau membunuh an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah)?  Dia menjawab:  Halal darahnya akan tetapi lebih selamat bila engkau sanggup menimpakan dengan tembok atau menenggelamkan (mati lemas) ke dalam air supaya tidak ada buktinya.  Aku bertanya lagi:  Bagaimana dengan hartanya?  Dia menjawab:  Rampas sahaja semampu mungkin".[25]


         Berkata Abu Jafar ath-Thusi (ulama Syiah): 


        


         "Berkata Abu Abdullah alaihis salam (Imam as-Sadiq):  Ambillah harta an-Nasibi (Ahli Sunnah wal-Jamaah) dari jalan apapun kamu mendapatkannya dan berikan kepada kami seperlima".[26]


 


         Yusuf al-Bahrani berkata (ulama Syiah):


         "Dari dahulu sehinggalah sekarang, bahawa an-Nasibi kafir dan najis secara hukum, dibolehkan mengambil segala harta benda mereka bahkan dihalalkan membunuhnya".[27]


            Begitulah sikap golongan Syiah terhadap Ahli Sunnah wal-Jamaah yang mereka gelar sebagai an-Nasibi.  Mereka bukan sahaja memusuhi Ahli Sunnah malah mengistiharkan bunuh dan rampas harta benda Ahli Sunnah wal-Jamaah.  Dan rampasan tersebut dianggap oleh mereka sebagai ganimah (harta rampasan perang).




Agama Syiah Mewajibkan Taqiyah


            Taqiyah (dissimulation) adalah satu prinsip yang diyakini oleh syiah Imamiyah.  Berpegang kepada taqiyah adalah wajib bagi setiap penganut Syiah.  Ianya adalah satu sikap yang menyembunyikan kebenaran yang (kononnya) jika didedahkan akan membawa kemusnahan diri atau agama seseorang Syiah.[28]  Pada mulanya taqiyah dilakukan kerana takut terjadinya penindasan dari pihak pemerintah.  Tetapi selanjutnya diamalkan untuk menipu, berbohong dan seterusnya untuk menghalalkan sesuatu yang haram atau sebaliknya.


Orang-orang Syiah akan menyamar sebagai Ahli Sunnah secara taqiyyah untuk memerangkap Ahli Sunnah yang kurang faham akan agama mereka.  Tujuannya supaya dapat dirosakkan fahaman, akidah dan amal ibadahnya.


Abu Jafar berkata:


"Taqiyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku.  Dan tidak beragama bagi sesiapa yang tidak bertaqiyah".[29]


 


Abdullah berkata:


 


"Wahai Abu Umar!  Sesungguhnya sembilan persepuluh dari agama terletak pada taqiyyah, tidak beragama bagi sesiapa yang tidak bertaqiyyah pada segala sesuatu, kecuali arak dan menyapu sepatu".[30]


 


Diriwayatkan dari Ali bin Muhammad:


 


"Wahai Daud!  Sekiranya kamu mengatakan bahawa orang yang meninggalkan taqiyah sama seperti orang yang meninggalkan solat, maka sesungguhnya betullah kata-katamu itu".[31]


          Sebenarnya taqiyyah dalam agama Syiah adalah perbuatan nifak, pembuat nifak adalah seorang munafik.  Tidak ada hadis sahih yang menghalalkan taqiyah sebagaimana yang dilakukan oleh golongan Syiah.  Si Munafik pula dilaknat Allah dan ditempat di neraka yang paling bawah (kerak neraka), maka Ahli Sunnah wal-Jamaah diharamkan dari bertaqiyah.




Syariat Syiah Yang Menyesatkan


            Syariat Syiah yang sebenar amat bertentangan dengan syariat Ahli Sunnah wal-Jamaah.  Syiah digolongkan oleh Imam Syahrastani di dalam bukunya “Al-Milal Wan-Nihal” dan al-Bagdadi dalam bukunya “Al-Faraq Bain al-Firaq” segabai golongan 72 yang ke neraka, kerana penganut Syiah selain mengkafirkan Amirul Mukminin Abu Bakar, ‘Umar al-Khatab, Uthman radiallahu anhum dan para sahabat yang lain, mereka juga lebih meyakini syariat Daud alaihis salam  daripada syariat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa-sallam.  Abu Jafar berkata:


"Apabila Imam ghaib (Imam Mahdi) datang, ia akan memerintah dengan hukum syariat Daud (bukan syariat Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam, pent)".[32]


 




Nikah Mutah


            Syiah menghalalkan nikah mutah seberapa banyak, beberapa kali yang diinginkan dan yang semampu.  Mereka menghalalkan nikah mutah sehingga ke Hari Kiamat.  Sebaliknya Ahli Sunnah wal-Jamaah telah mengharamkan nikah mutah sehinggalah ke Hari Kiamat.  Antara hadis (hadis-hadis sahih) dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wa-sallam yang mengharamkan nikah mut’ah ialah:


عَنْ عَلِيِّ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ نِكَاحِ الْمُتْعَةِ يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُوْمِ الْحُمُرِ اْلاَهْلِيَّةِ.


 


"Dari Ali (Bin Abi Talib):  Sesungguhnya Nabi Sallallahu alaihi wa-sallam telah melarang nikah mutah pada hari peperangan Khaibar dan baginda mengharamkan makan daging keldai kampung".[33]


 


اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى يَوْمِ الْفَتْحِ عَنْ مُتْعَةِ النِّسَاءِ.


 


"Sesungguhnya Rasulullah sallallahu alaihi wa-sallam melarang nikah mutah pada hari futuh (pembukaan) Mekkah".[34]


            Antara tanda-tanda penganut agama Syiah ialah menghalalkan nikah mut’ah walaupun telah diharamkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa-sallam.  Golongan Syiah telah menyelewengkan hadis-hadis sahih yang mengharamkan mut’ah.  Oleh itu, orang-orang beriman yang mengakui sebagai Ahli Sunnah wal-Jamaah perlu membenteras fahaman dan ajaran Syiah kerana Syiah adalah golongan yang sesat lagi menyesatkan.




RUKUN IMAN AGAMA SYIAH


            Rukun iman Agama Syiah berbeza dengan rukum iman Ahli Sunnah wal-Jamaah, kerana rukun iman Syiah hanya lima perkara, iaitu:


1.     Beriman kepada keEsaan Allah    -             (التوحيد)


2.     Beriman kepada Keadilan         -                  (العدل)


3.     Beriman kepada Kenabian      -                    (النبوة)


4.     Beriman kepada Imam          -                       (الامانة)


5.     Beriman kepada Hari Kiamat    -                 (المعاه)


            Imam Malik secara terang-terangan telah mengkafirkan golongan Syiah kerana golongan ini membenci para sahabat Nabi dan sesiapa yang membenci sahabat Nabi adalah kafir.  Hal ini telah disepakati oleh sebahagian besar ulama.[35]


Imam Malik rahimahullah juga pernah menjelaskan tentang Syiah:


"Mereka (Syiah) jangan diajak berbual dan jangan pula diberi perhatian, mereka adalah golongan pembohong".[36]


 


Imam Syafie rahimahullah pula berwasiat:


 


"Belum pernah aku saksikan di kalangan manapun manusia yang begitu berani menjadi pendusta dan sebagai saksi-saksi palsu seperti golongan Syiah".[37]


             Begitulah fatwa-fatwa para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah terhadap golongan Syiah.  Tidak terdapat seorangpun dari kalangan mereka yang menerima Syiah sama ada fahaman atau akidah mereka.  Oleh itu, berwaspadalah terhadap gerakan, doktrin dan di’ayah Siyah, kerana pada hakikatnya mereka adalah pembohong yang hanya mengajak kepada kesesatan, pecah-belah dan kehancuran umat Islam.  Wallahua’lam.  Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.







[1].  Syeikh al-Mufid adalah seorang ulama Syiah abad (414 H/ 1022M).




[2].  Lihat:  Awaailul Maqalat. hlm. 2.  Syeikh al-Mufid. 




[3].  Lihat:  Rijal al-Kusyi. Hlm. 106-108.  (Kitab ini "Rijal al-Kusyi") adalah kitab tertua menjadi rujukan dan pegangan golongan Syiah.




[4].  Lihat:  Usul Mazhabi asy-Syiah al-Imamiyah al-Ithna Asyariah.  (1/74).




[5].  Lihat:  الشيعة فى التاريخ  Hlm. 213.  Muhammad Husin al-Zain.




[6].  Lihat:  Usul Mazhabi asy-Syiah al-Imamiyah al-Ithna Asariyah. (1/74).




[7].  Lihat:  Usul Mazhabi asy-Syiah al-Imamiyah al-Ithan Asariyah. (1/77).




[8].  Lihat:  Tafsir as-Safi.  (1/389).




[9].  Al-Kulaini, nama penuhnya Muhammad bin Yakub al-Kulaini. Meninggal dunia pada 328H




[10]. Lihat:  Usul al-Kafi. (1/488).


(read more ...)




Syirik adalah perbuatan yang amat dimurkai oleh Allah SWT



Hidayatullah.com--Banyak kisah mencatat, Allah Subhanahu wa Taala (SWT) sangat murka dengan kaum yang memelihara praktek syirik. Kaum Nabi Nuh, misalnya, menolak untuk menyembah Allah SWT dan terus menerus menyekutukan-Nya dengan berhala-berhala.



Hampir satu milenium lamanya Nabi Nuh berdakwah, namun tetap tak digubris. Allah SWT pun murka dan mengirimkan bencana banjir yang dahsyat kepada mereka. Demikian besar bencana itu, sehingga mereka yang berusaha menyelamatkan diri ke gunung pun tetap tersapu banjir.



Pun demikian dengan kaum Ad. Mereka terus menyekutukan Allah SWT dan menentang dakwah yang dilakukan Nabi Hud. Allah SWT kemudian menurunkan azab. Tiga tahun lamanya hujan tidak turun. Tanah-tanah mengering dan kebun merangas. Air pun langka.



Namun, kaum Ad tetap ingkar. Allah SWT menuntaskan azab-Nya dengan mengirimkan angin puyuh selama tujuh malam delapan hari. Porak porandalah kota itu. Tenggelam dalam lautan pasir sedalam 12 meter.



Syirik adalah perbuatan yang amat dimurkai oleh Allah SWT. Dua kisah tadi menjadi bukti. Namun, tanpa disadari di Indonesia, negeri di mana kita bermukim, telah muncul bibit-bibit syirik. Celakanya, bibit-bibit ini malah ”disiram” dan dipelihara. Akankah kita membiarkan saja bibit-bibit itu berkembang dan bermekaran hingga azab Allah akan turun kepada kita? Nauzubillah summa nauzubillah! (*

Last Updated ( Monday, 26 October 2009 20:46 ) 

(read more ...)



Selasa, 27/10/2009 05:57 WIB Cetak |  Kirim |  RSS


Dunia pertama kali menyadari kehadiran Taliban pada tahun 1994, ketika mereka ditunjuk oleh Islamabad untuk melindungi sebuah konvoi yang mencoba membuka rute perdagangan antara Pakistan dan Asia Tengah.


Kelompok yang terdiri dari orang-orang Afganistan yang dilatih di sekolah-sekolah agama di Pakistan bersama dengan mantan pejuang atau mujahidin Islam ini terbukti efektif mengawal, dan mengendalikan kelompok-kelompok lain yang hendak menyerang dan menjarah konvoi tersebut.


Pada awalnya, pejuang Taliba hanya berpusat di Kandahar saja. Namun, seiring dengan diterimanya mereka oleh masyarakat Afghanistan, mereka pun merambah ke ibukota, Kabul, tepatnya pada bulan September 1996.


Antikorupsi


Popularitas Taliban yang menanjak dengan banyak orang Afghan itu awalnya mengejutkan semua faksi yang ada.



Etnis Pashtun, sebagian besar dukungan mereka berasal dari masyarakat Pashtun Afghanistan, kecewa dengan etnis yang ada Tajik dan Uzbek pemimpin. Walau hal ini bukan semata-mata masalah etnis, lebih dikarenakan rakyat Afghan sudah sangat lelah dan muak akan pelanggaran hukum yang berlaku di banyak bagian negara itu. Mereka menyenangi Taliban karena Taliban berhasil memberantas korupsi, memulihkan perdamaian dan perdagangan yang memungkinkan rakyat Afghanistan untuk berkembang lagi.


Taliban terkenal dengan penolakannya untuk berkerjam sama dengan pemerintah dan orang-orang kaya di negerinya. Hal itu membuat mereka semakin dihormati.


Negara Islam


Taliban mengatakan tujuan mereka adalah untuk mendirikan negara Islam, melarang hal-hal yang mubadzir seperti menonton televise dan bioskop dan atau musik. Banyak media Barat yang membesar-besarkan bahwa kebijakan Taliban ini picik dan konservatif, namun seharusnya, dengan segala sejarah yang panjang tentang Islam, keputusan Taliban itu merupakan sebuah pilihan yang harus dihormati. Mengapa media Barat tidak bereaksi terhadap para biksu agama Hindu dan Budha yang mengisolasi diri lebih daripada Taliban?



Usaha Taliban untuk memberantas kejahatan sangat efektif karena mengenalkan hukum Islam termasuk eksekusi publik dan hukum potong tangan. Tentu saja, dalam melaksanakan hikum ini tidak sembarangan dan asal-asalan, karena ada berbagai macam prosedur yang memang telah digariskan dalam Islam sendiri. Sayang, lagi-lagi, dalam hal ini Barat menyorot dan membesar-besarkan secara tidak proporsional. Disebutkan bahwa Taliban melarang anak-anak perempuan pergi kes ekolah, padahal kenyataannya, siapa gerangan yang membuka sekolah-sekolah untuk anak perempuan di Pakistan dan Afghanistan? Tiada lagi tiada bukan, Taliban sendiri.


Memperluas kendali


Taliban sekarang mengendalikan hampir semua wilayah Afghanistan. Di sebelah utara negara itu, adalah benteng terakhir dari komandan etnik Tajik Ahmed Shah Masood.



Dengan 90% negara di bawah kendali mereka, Taliban terus menekan klaim bagi pengakuan internasional akan keberadaan mereka dan hokum Islamnya. Namun sanksi PBB yang kini diberlakukan pada Afghanistan membuatnya semakin tidak mungkin bahwa Taliban akan mendapatkan pengakuan.


Sanksi ini dimaksudkan untuk memaksa Taliban menyerahkan militan kelahiran Saudi Osama bin Laden, yang dituduh oleh Amerika Serikat pada tahun 1998 merencanakan pengeboman kedutaan besar AS di Kenya dan Tanzania, yang menewaskan lebih dari 250 orang.


Afghanistan telah mengalami 20 tahun perang, dan tahun ini telah membawa keburukan terburuk dalam beberapa dasawarsa. Taliban, terlatih sejak zaman negeri mereka diperangi Russia pada tahun 1980-an, dan kini oleh AS dan sekutunya, terus berdiri di atas kaki mereka. “Ini tanah kami. Meski luka dan mati tertanam di sini.” (sa/bbc)

*eramuslim.com

 

(read more ...)



Prof. Dr Huzaimah Tahido Yanggo MA, ia dikenal sebagai tokoh ilmu perbandingan fiqih dan gigih menentang pemikiran-pemikiran kelompok Islam liberal dan masih banyak lagi kiprahnya untuk menjaga kemurnian ajaran Islam.



Bagi mereka yang belum mengenalnya lebih dekat, orang akan mengira dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang satu ini adalah orang Batak. Padahal ia adalah perempuan kelahiran Palu, Sulawesi Tengah. Seorang tokoh perempuan yang sangat gigih dan konsisten terhadap syari’ah Islam.



Oleh karena itu, ketika berbagai pihak menyerang Islam, peraih doktor bidang Fiqh dari Universitas Al-Azhar, Kairo, ini angkat bicara. Tak hanya itu, ia pun menulis buku “gugatan” balik atas serangan itu.



Begitu juga ketika Jaringan Islam Liberal (JIL) dan kolega-koleganya di UIN menebarkan virus persamaan gender, revisi Kompilasi Hukum Islam, gerakan antipoligami dan lainya, mantan Ketua PSW (Pusat Studi Wanita) UIN (ketika itu masih IAIN, red.), membuat jantung perempuan ini berdetak lebih keras.



“Kita menghargai orang berijtihad. Silakan saja berijtihad. Tapi, bila kita berijtihad jangan menyalahi aturan-aturan yang telah ada, bahkan yang telah dikenal oleh ulama-ulama Islam sedunia,” ujarnya kala itu.



Menurutnya, Islam adalah agama yang sangat menjunjung dan menghargai harkat dan martabat perempuan. Persamaan hak itu tidak selalu menguntungkan, bisa merugikan perempuan sendiri.



"Saya tidak sependapat dengan itu (persamaan gender-red), apalagi sampai bertentangan dengan al-Qur’an dan Sunnah,” tegasnya.



Oleh karena itu, dirinya tak yakin bila gerakan liberal itu berjuang untuk kaum perempuan. Apalagi membela Islam. Tapi, gerakan liberal justru menjadi kaki tangan kepentingan Barat dan Amerika Serikat.



“Barat menuduh orang Islam itu teroris. Padahal tidak ada ajaran Islam yang menghendaki seperti itu. Nabi saja kalau mengirim sahabat untuk peperangan selalu menasihatkan: Jangan kalian memerangi orang tua, perempuan, jangan menebang pohon-pohon,” tegas Huzaimah.



Ibu satu anak ini memang tergolong perempuan ‘langka’. Dari 140 juta penduduk perempuan Indonesia, ia satu-satunya perempuan yang bergelar Guru Besar di bidang Fiqh Perbandingan.



Wajar saja jika pikiran dan tenaganya banyak digunakan dan diharapkan oleh banyak lembaga pemerintah maupun swasta. Selain menjadi dosen, ia juga tercatat sebagai anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI), Direktur Pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur’an, Dewan Pengawas Syari’ah Bank Niaga, Pengurus Muslimat Nahdaltul Ulama, dan dosen terbang di beberapa perguruan tinggi.



“Saya memang lebih mengutamakan mengajar,” tutur isteri dari A. Muhaimin.



Di dunia pendidikan, Huzaimah juga tercatat sebagai perintis berdirinya Fakultas Dirasat Islamiyah, program studi internasional berbahasa Arab kerjsama UIN Jakarta dengan Al-Azhar, Kairo.



Atas kiprah dan jasanya itulah, ia pernah memperolah penghargaan dari Eramuslim Award dalam suatu kesempatan.

Semoga atas jasa dan pengabdiaanya, Allah Swt membalasnya dengan segala kebajikan.


Andakah salah satu kader penerus beliau?


(muslimdaily/era)


(read more ...)



Marilah kita buka satu persoalan yang di negara-negara Barat dianggap sebagai simbol dari penindasan dan perbudakan wanita, yaitu jilbab atau tudung kepala. Apakah betul tidak terdapat pembahasan mengenai jilbab di dalam tradisi Jahudi-Kristen ? Mari kita lihat bukti catatan yang ada. Menurut Rabbi Dr. Menachem M. Brayer, Professor Literatur Injil pada Universitas Yeshiva dalam bukunya, The Jewish woman in Rabbinic Literature, menulis bahwa baju bagi wanita Yahudi saat bepergian keluar rumah yaitu mengenakan penutup kepala yang terkadang bahkan harus menutup hampir seluruh muka dan hanya meninggalkan sebelah mata saja. Beliau disana mengutip pernyataan beberapa Rabbi (pendeta Yahudi) kuno yang terkenal: "Bukanlah layaknya anak-anak perempuan Israel yang berjalan keluar tanpa penutup kepala" dan "Terkutuklah laki-laki yang membiarkan rambut isterinya terlihat," dan "Wanita yang membiarkan rambutnya terbuka untuk berdandan membawa kemelaratan."



Hukum Rabbi melarang pemberian berkat dan doa kepada wanita menikah yang tidak menutup kepalanya karena rambut yang tidak tertutup dianggap "telanjang". Dr. Brayer juga mengatakan bahwa "Selama masa Tannaitic, wanita Yahudi yang tidak menggunakan penutup kepala dianggap penghinaan terhadap kesopanannya. Jika kepalanya tidak tertutup dia bisa dikenai denda sebanyak empat ratus zuzim untuk pelanggaran tersebut."



Dr. Brayer juga menerangkan bahwa jilbab bagi wanita Yahudi bukanlah selalu sebagai simbol dari kesopanan. Kadang-kadang, jilbab justru menyimbolkan kondisi yang membedakan status dan kemewahan yang dimiliki wanita yang mengenakannya ketimbang ukuran kesopanan. Jilbab atau tudung kepala menandakan martabat dan keagungan seorang wanita bangsawan Yahudi. Jilbab juga diartikan sebagai penjagaan terhadap hak milik suami.



Jilbab menunjukkan suatu penghormatan dan status sosial dari seorang wanita. Seorang wanita dari golongan bawah mencoba menggunakan jilbab untuk memberikan kesan status yang lebih tinggi. Jilbab merupakan tanda kehormatan. Oleh karena itu di masyarakat Yahudi kuno, pelacur-pelacur tidak diperbolehkan menutup kepalanya. Tetapi pelacur-pelacur sering memakai penutup kepala agar mereka lebih dihormati (S.W.Schneider, 1984, hal 237). Wanita-wanita Yahudi di Eropa melanjutkan menggunakan jilbab sampai abad ke sembilan belas hingga mereka bercampur baur dengan budaya sekuler. Tekanan eksternal dari kehidupan di Eropa pada abad sembilan belas memaksa banyak dari mereka pergi keluar tanpa penutup kepala.



Beberapa wanita Yahudi kemudian lebih cenderung menggantikan penutup tradisional mereka dengan rambut palsu sebagai bentuk lain dari penutup kepala. Dewasa ini, wanita-wanita Yahudi yang saleh tidak pernah memakai penutup kepala kecuali bila mereka mengunjungi sinagog (gereja Yahudi) (S.W.Schneider, 1984, hal. 238-239). Sementara beberapa dari mereka. seperti sekte Hasidic, masih menggunakan rambut palsu (Alexandra Wright, 19??, hal 128-129).



Bagaimanakah jilbab menurut tradisi Kristen?

Kita sendiri menyaksikan sampai hari ini bahwa para Biarawati Katolik menutup kepalanya yang suruhannya sebetulnya telah ada semenjak empat ratus tahun yang lalu. Tetapi bukan hanya itu, St. Paul (atau Paulus) dalam Perjanjian Baru, I Korintus 11:3-10, membuat pernyataan-pernyataan yang menarik tentang jilbab sebagai berikut: "Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala Kristus adalah Allah. Tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga mengguting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya: ia menyinarkan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan dicipt akan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena malaikat". (I Korintus 11:3-10).



St. Paul memberikan penalaran tentang wanita yang berjilbab atau berkerudung adalah bahwa jilbab memberikan tanda kekuasaan pada laki-laki, yang merupakan gambaran kebesaran Tuhan, atas wanita yang diciptakan dari dan untuk laki-laki. St. Tertulian di dalam risalahnya "On The Veiling Of Virgins" menulis: "Wanita muda hendaklah engkau mengenakan kerudung saat berada di jalan, demikian pula hendaknya engkau mengenakan di dalam gereja, mengenakannya saat berada di antara orang asing dan mengenakannya juga saat berada di antara saudara laki-lakimu."



Di antara hukum-hukum Canon pada Gereja Katolik dewasa ini, ada hukum yang memerintahkan wanita menutup kepalanya di dalam gereja (Clara M Henning, 1974, hal 272). Beberapa golongan Kristen, seperti Amish dan Mennoties contohnya, mereka hingga hari ini tetap mengenakan tutup kepala. Alasan mereka mengenakan tutup kepala, seperti yang dikemukakan pemimpin gerejanya adalah: "Penutup kepala adalah simbol dari kepatuhan wanita kepada laki-laki dan Tuhan," logika yang sama seperti yang ditulis oleh St. Paul dalam Perjanjian Baru (D. Kraybill, 1960, hal 56).



Dari semua bukti-bukti di atas, nyata bahwa Islam bukanlah agama yang mengada-adakan dan mewajibkan penutup kepala, tetapi Islam telah mendukung hukum tersebut. Al Quran memerintahkan kepada laki-laki dan perempuan yang beriman untuk menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Juga memerintahkan wanita beriman agar memanjangkan penutup kepalanya sampai menutupi leher dan dadanya.



"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat..... Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutup kain kerudung ke dadanya..." (An Nuur:30,31)



Di dalam Al Quran jelas tertulis bahwa kerudung sangat penting untuk menutup aurat. Mengapa aurat itu penting ? Hal itu dijelaskan dalam Al Quran surat Al Ahzab 59: "Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mumin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu." (Al Ahzab:59)



Pada intinya, kesederhanaan digambarkan untuk melindungi wanita dari gangguan atau mudahnya, kesederhanaan adalah perlindungan.



Jadi, tujuan utama dari jilbab atau kerudung di dalam Islam adalah perlindungan. Kerudung di dalam Islam tidak sama seperti di dalam tradisi Kristen dimana merupakan tanda bahwa martabat laki-laki berada di atas wanita dan merupakan simbolisasi tunduknya wanita terhadap laki-laki. Kerudung di dalam Islam juga bukan seperti di dalam tradisi Yahudi dimana kerudung merupakan tanda keagungan dan tanda pembeda sebagai wanita bangsawan yang menikah. Kerudung di dalam Islam hanya sebagai tanda kesederhanaan dengan tujuan melindungi wanita, tepatnya semua wanita. Pada falsafah Islam dikenali prinsip bahwa selalu lebih baik menjaga daripada menyesal kemudian. Al Quran sangat

memperhatikan wanita dengan menjaga tubuh mereka dan kehormatan mereka atas pernyataan laki-laki yang berani menuduh ketidaksucian seorang wanita, mereka akan mendapat balasan;



"Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah (mereka yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. An Nuur 4)



Bandingkan sikap Al Quran yang sangat tegas, dengan hukuman yang sangat longgar bagi pemerkosa di dalam Injil:



"If a man find a damsel that is a virgin, which is not betrothed, and there was none to save her. Then the man that lay with her shall give unto the damsels father fifty shekels of silver, and she shall be his wife; because he hath humbled her, he may not put her away all his days" (Deut. 22:28-29).



Terjemahannya:

"Jika seorang laki-laki menemui seorang gadis yang tidak dijanjikan untuk dinikahkan kemudian memperkosanya, dia harus membayar sebesar lima puluh shekels perak kepada ayah gadis itu. Laki-laki itu harus menikahi gadis tersebut karena perbuatannya dan dia tidak boleh menceraikannya selama hidupnya" (Ulangan. 22:28-29).



Patut ditanyakan, siapa yang sebenarnya dihukum dalam hal ini? Orang yang membayar denda karena telah memperkosa ataukah gadis yang dipaksa untuk menikah dengan laki-laki yang memperkosanya dan harus tinggal bersamanya sampai dia mati ? Pertanyaan lainnya: Mana yang lebih melindung seorang wanita sikap tegas Al Quran atau sikap kendor moral (lax) daripada Injil ?



Beberapa kalangan, terutama di belahan negara-negara Barat, mungkin cenderung untuk menertawakan bahwa kesederhanaan (modesty) berguna untuk perlindungan. Alasan mereka adalah perlindungan yang terbaik yaitu memperluaskan pendidikan, berperilaku yang sopan, dan pengendalian diri. Kami akan mengatakan: semua itu baik tapi tidak cukup.



Jika tindakan yang ada dipandang perlindungan yang sudah cukup, lalu mengapa wanita-wanita di Amerika Utara saat ini tidak berani berjalan sendirian di kegelapan atau bahkan cemas melewati tempat parkir yang sepi ?. Jika pendidikan adalah suatu penyelesaian lalu mengapa Universitas Queen yang terkenal pelayanan pendidikannya terpaksa harus mengantar pulang para mahasiswi di dalam kampus ?. Jika pengendalian diri adalah jawabannya, lalu mengapa kasus pelecehan sex di tempat kerja diberitakan di media masa nyaris setiap hari ?. Contohnya, yang tertuduh melakukan pelecehan sex dalam beberapa tahun terakhir: para perwira Angkatan Laut, Manager-manager,

Professor-professor, Senators, Pengadilan Tinggi (Supreme Court Justices), dan bahkan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton sendiri !



Saya tercengang saat saya membaca statistik yang ditulis dalam sebuah pamflet yang dikeluarkan oleh Dean of womens office di Universitas Queen berikut :



* Di Canada, setiap 6 menit ada seorang wanita yang mengalami pelanggaran sexual.



* 1 dari 3 wanita di Canada akan mengalami pelanggaran sexual pada suatu saat dalam kehidupannya.



* 1 dari 4 wanita berada dalam resiko diperkosa atau usaha pemerkosaan dalam kehidupannya.



* 1 dari 8 wanita akan mengalami pelanggaran sexual saat menjadi mahasiswi unitersitas.



* Sebuah penelitian menemukan bahwa 60% dari mahasiswa laki-laki mengatakan mereka akan berbuat pelanggaran seksual jika mereka yakin mereka tidak ditangkap.



Ada sesuatu yang secara fundamental amat sangat keliru di masyarakat kita ini [negara Barat, penerjemah] Suatu perubahan yang radikal sangat perlu dilakukan di dalam gaya hidup dan budaya kita ini. Budaya hidup sederhana (modesty) teramat sangat dibutuhkan.Sederhana dalam berpakaian, dalam bertutur kata, dan dalam sopan santun berhubungan antara pria dan wanita. Kalau perubahan tidak dilakukan, maka angka-angka statistik yang kelabu di atas akan makin suram dari hari ke hari hingga benar-benar semuanya terjerembab dalam kegelapan. Dan sialnya, penanggung beban masyarakat yang paling berat adalah para wanita.



Sesungguhnya kita semua menderita sebagaimana Khalil Gibran (sastrawan nasrani dari Libanon, penerjemah) pernah mengatakan: "...for the person who receives the blows is not like the one who counts them." (Khalil Gibran, 1960, hal 56). Oleh sebab itu, sebuah masyarakat seperti Perancis yang pernah mengusir seorang gadis dari sekolahnya lantaran si gadis menampilkan kesederhaan dengan mengenakan tudung, sesungguhnya hanyalah tindakan yang mencelakakan masyarakat itu sendiri.



Adalah sebuah ironi maha besar di dalam dunia yang kita tinggali saat ini. Secarik tudung penutup kepala mereka katakan sebagai simbol kesucian saat dikenakan oleh seorang biarawati Katolik, padahal dalam ajaran Kristiani hal itu untuk menunjukkan kekuasaan pria. Namun apabila secarik tudung kepala tersebut dikenakan oleh seorang muslimah untuk keperluan melindungi diri, justru dituduh sebagai simbol penindasan pria atas wanita! []



Catatan Redaksi: Artikel berikut adalah salah satu bab dari buku kecil karangan Dr. Sherif Abdel Azeem, seorang professor di Queen University, Ontario, Canada. Judul bukunya (terbitan 1996) adalah Women in Islam versus Women in the Judaeo-Christian Tradition; The Myth and The Reality. Hak Cipta ada pada pengarang dimana beliau mengijinkan untuk penyalinan dan terjemahan sepanjang tidak mengurangi isinya.



Terjemahan

ke bahasa Indonesia dilakukan oleh Ria Amirul. Saat diterjemahkan, naskah asli bisa di-download dari situs http://www.stanford.edu/group/issu.


*www.Muslimdaily.net

(read more ...)



Written by Adian Husaini

Monday, 13 February 2006

Saat ini, liberalisasi nilai-nilai dan ajaran Islam di Indonesia benar-benar sudah sampai pada taraf yang sangat ajaib dan menjijikkan. Orang-orang yang bergelut dalam bidang studi Islam tidak segan-segan lagi menghancurkan ajaran agama yang sudah jelas dan qath’iy. Sementara, institusi pendidikan tinggi Islam seperti tidak berdaya, membiarkan semua kemungkaran itu terjadi di lingkungannya. Pekan lalu, saya menerima kiriman buku dari Semarang berjudul Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual, (Semarang:Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2005). Buku ini adalah kumpulan artikel di Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN Semarang edisi 25, Th XI, 2004.

Buku ini secara terang-terangan mendukung, dan mengajak masyarakat untuk mengakui dan mendukung legalisisasi perkawinan homoseksual. Bahkan, dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia, yaitu (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara, (2) memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fithrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkannya bahkan sebaliknya, masyarakat ikut terlibat mendukung setiap gerakan kaum homoseksual dalam menuntut hak-haknya, (3) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, (4) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.” (hal. 15)

Kita tidak tahu, apakah para penulis yang merupakan mahasiswa-mahasiswa fakultas Syariah IAIN Semarang itu merupakan kaum homo atau tidak. Tetapi, umat Islam tentu saja dibuat terbelalak dan terperangah dengan berbagai tulisan yang ada di buku ini. Betapa tidak, anak-anak ini dengan beraninya melakukan ijtihad dan merumuskan hukum baru dalam Islam, bahwa aktivitas homoseks dan lesbian adalah normal dan halal, sehingga perlu disahkan dalam satu bentuk perkawinan.

Masalah perkawinan memang senantiasa menjadi sasaran liberalisasi agama. Ketika hukum-hukum yang sudah pasti – seperti haramnya muslimah menikah dengan laki-laki non-Muslim – dirombak oleh sejumlah dosen IAIN/UIN, seperti Zainun Kamal dan Musdah Mulia – maka logika yang sama bisa digunakan untuk merombak hukum-hukum lain di bidang perkawinan, dengan alasan perlindungan Hak Asasi Manusia kaum homoseks. Bahkan, mereka berani membuat tafsir baru atas ayat-ayat Al-Quran, dengan membuat tuduhan-tuduhan keji terhadap Nabi Luth.

Seorang penulis dalam buku ini, misalnya, menyatakan, bahwa pengharaman nikah sejenis adalah bentuk kebodohan umat Islam generasi sekarang karena ia hanya memahami doktrin agamanya secara given, taken for granted, tanpa ada pembacaan ulang secara kritis atas doktrin tersebut. Si penulis kemudian mengaku bersikap kritis dan curiga terhadap motif Nabi Luth dalam mengharamkan homoseksual, sebagaimana diceritakan dalam Al-Quran surat al-A’raf :80-84 dan Hud :77-82). Semua itu, katanya, tidak lepas dari faktor kepentingan Luth itu sendiri, yang gagal menikahkan anaknya dengan dua laki-laki, yang kebetulan homoseks.

Ditulis dalam buku ini sebagai berikut:

‘’Karena keinginan untuk menikahkan putrinya tidak kesampaian, tentu Luth amat kecewa. Luth kemudian menganggap kedua laki-laki tadi tidak normal. Istri Luth bisa memahami keadaan laki-laki tersebut dan berusaha menyadarkan Luth. Tapi, oleh Luth, malah dianggap istri yang melawan suami dan dianggap mendukung kedua laki-laki yang dinilai Luth tidak normal. Kenapa Luth menilai buruk terhadap kedua laki-laki yang kebetulan homo tersebut? Sejauh yang saya tahu, al-Quran tidak memberi jawaban yang jelas. Tetapi kebencian Luth terhadap kaum homo disamping karena faktor kecewa karena tidak berhasil menikahkan kedua putrinya juga karena anggapan Luth yang salah terhadap kaum homo.” (hal. 39)

Sejak kecil, anak-anak kita sudah diajarkan untuk menghafal dan memahami rukun iman. Salah satunya, adalah beriman kepada Nabi dan Rasul, termasuk sifat-sifat wajib yang dimiliki oleh para Nabi. Yaitu, bahwa para Nabi itu merupakan orang yang jujur, amanah, cerdas, dan menyampaikan risalah kenabian. Mereka juga berifat ma’shum, terjaga dari kesalahan. Tetapi, dengan metode pemahaman historis-kritis ala hermeneutika modern, semua itu bisa dibalik. Kisah Nabi Luth, misalnya, dianalisis secara asal-asalan oleh anak IAIN ini. Dan hasilnya, Nabi Luth digambarkan sebagai sosok yang emosional dan tolol.

Dikatakannya dalam buku ini:

“Luth yang mengecam orientasi seksual sesama jenis mengajak orang-orang di kampungnya untuk tidak mencintai sesama jenis. Tetapi ajakan Luth ini tak digubris mereka. Berangkat dari kekecewaan inilah kemudian kisah bencana alam itu direkayasa. Istri Luth, seperti cerita Al-Quran, ikut jadi korban. Dalam Al-Quran maupun Injil, homoseksual dianggap sebagai faktor utama penyebab dihancurkannya kaum Luth, tapi ini perlu dikritisi… saya menilai bencana alam tersebut ya bencana alam biasa sebagaimana gempa yang terjadi di beberapa wilayah sekarang. Namun karena pola pikir masyarakat dulu sangat tradisional dan mistis lantas bencana alam tadi dihubung-hubungkan dengan kaum Luth…. ini tidak rasional dan terkesan mengada-ada. Masa’, hanya faktor ada orang yang homo, kemudian terjadi bencana alam. Sementara kita lihat sekarang, di Belanda dan Belgia misalnya, banyak orang homo nikah formal… tapi kok tidak ada bencana apa-apa.” (hal. 41-42).

Tentu saja, penafsiran anak IAIN ini sangat liar, karena ia tidak menggunakan metodologi tafsir yang benar. Disamping ayat-ayat Al-Quran, seharusnya, dia juga menyimak berbagai hadits Nabi Muhammad saw tentang homoseksual ini. Begitu juga para sahabat dan para ulama Islam terkemuka. Tapi, bisa jadi, si anak ini sudah terlalu kurang ajar dan tidak lagi mempunyai adab dalam mengakui kesalehan dan kecerdasan para Nabi, termasuk para sahabat Nabi. Pada catatan yang lalu, kita sudah memahami, bagaimana mereka mencaci-maki sahabat Nabi seenak perutnya sendiri.

Dengan sedikit bekal ilmu syariah yang dimilikinya, si penulis berani ‘berijtihad’ membuat hukum baru dalam Islam, dengan terang-terangan menghalalkan perkawinan homoseksual. Menurutnya, karena tidak ada larangan perkawinan homoseksual dalam Al-Quran, maka berarti perkawinan itu dibolehkan. Katanya, ia berpedoman pada kaedah fiqhiyyah, “’adamul hukmi huwa al-hukm” (tidak adanya hukum menunjukkan hukum itu sendiri).

Logika anak IAIN ini jelas sangat tidak beralasan dan berantakan. Di dalam Al-Quran juga tidak ada larangan kawin dengan anjing, babi, atau monyet. Dengan logika yang sama, berarti anak-anak Fakultas Syariah IAIN Semarang itu juga dibolehkan menikah dengan anjing, babi, atau monyet. Kita tunggu saja, mungkin sebentar lagi, mereka akan meluncurkan buku “Indahnya Menikah dengan Monyet”. Bukankah monyet juga mempunyai Hak Asasi untuk menikah dengan mahasiswa Syariah IAIN Semarang itu?

Tentang Kisah Luth sendiri, Al-Quran sudah memberikan gambaran jelas bagaimana terkutuknya kaum Nabi Luth yang merupakan pelaku homoseksual ini.

“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan fahisyah itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kalian. Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan syahwat, bukan kepada wanita; malah kalian ini kaum yang melampaui batas. Jawab kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Usirlah mereka dari kotamu ini, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura mensucikan diri. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS Al-A’raf:80-84).

Para mufassir Al-Quran selama ratusan tahun tidak ada yang berpendapat seperti anak-anak ‘kemarin sore’ yang berlagak menjadi mujtahid besar di abad ini, meskipun baru mengecap bangku kuliah S-1 di Fakultas Syariah IAIN Semarang itu. Orang yang memahami bahasa Arab pun tidak akan keliru dalam menafsirkan ayat tersebut. Bahwa memang kaum Nabi Luth adalah kaum yang berdosa karena mempraktikkan perilaku homoseksual. Hukuman yang diberikan kepada mereka, pun dijelaskan, sebagai bentuk siksaan Allah, bukan sebagai bencana alam biasa. Tidak ada sama sekali penjelasan bahwa Nabi Luth dendam pada kaumnya karena tidak mau mengawini kedua putrinya. Tafsir homo ala anak IAIN Semarang yang menghina Nabi Luth itu benar-benar sebuah fantasi intelektual untuk memaksakan pehamamannya yang pro-homoseksual.

Dalam Islam maupun Kristen, hingga kini, praktik homoseksual tetap dipandang sebagai tindakan bejat. Nabi Muhammad saw bersabda, “Siapa saja yang menemukan pria pelaku homoseks, maka bunuhlah pelakunya tersebut.” (HR Abu Dawud, at-Tirmizi, an-Nasai, Ibnu Majah, al-Hakim, dan al-Baihaki). Imam Syafii berpendapat, bahwa pelaku homoseksual harus dirajam (dilempari batu sampai mati) tanpa membedakan apakah pelakunya masih bujangan atau sudah menikah. Dalam Pidatonya pada malam Tahun Baru 2006, Paus Benediktus XVI juga menegaskan kembali tentang terkutuknya perilaku homoseksual.

Gerakan legalisasi homoseksual yang dilakukan para mahasiswa Fakultas Syariah IAIN Semarang – dan mendapatkan legalisasi dari Institusinya – merupakan fenomena baru dalam gerakan legalisasi homoseksual di Indonesia. Di dunia Islam pun, gerakan semacam ini, belum ditemukan. Hal semacam ini merupakan sesuatu yang “unthought”, yang tidak terpikirkan selama ini; bahwa dari lingkungan Fakultas Syariah Perguruan Tinggi Islam justru muncul gerakan untuk melegalkan satu tindakan bejat yang selama ribuan tahun dikutuk oleh agama.

Tentulah, gerakan homoseksual dari lingkungan kampus Islam, merupakan tindakan kemungkaran yang jauh lebih bahaya dari gerakan legalisasi homoseks yang selama ini sudah gencar dilakukan kaum homoseksual sendiri.

Dalam catatan penutup buku ini dimuat tulisan berjudul “Homoseksualitas dan Pernikahan Gay: Suara dari IAIN”. Penulisnya, mengaku bernama Mumu, mencatat, “Ya, kita tentu menyambut gembira upaya yang dilakukan oleh Fakultas Syariah IAIN Walisongo tersebut.”

Juga dikatakan: “Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan.”

Membaca buku ini, kita jadi bertanya-tanya, sudah begitu bobrokkah institusi pendidikan tinggi Islam kita? Sampai-sampai sebuah Fakultas Syariah IAIN menjadi sarang gerakan legalisasi tindakan amoral yang jelas-jelas bejat dan bertentangan dengan ajaran agama? Wallahu a’lam.

(read more ...)



Serupa tapi tak sama. Barangkali ungkapan ini tepat untuk menggambarkan Islam dan kelompok Syi’ah. Secara fisik, memang sulit dibedakan antara penganut Islam dengan Syi’ah. Namun jika ditelusuri -terutama dari sisi aqidah- perbedaan di antara keduanya ibarat minyak dan air. Sehingga, tidak mungkin disatukan.Apa Itu Syi’ah?Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara. (Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji)Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abu Thalib lebih utama dari seluruh shahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucu sepeninggal beliau. (Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm)Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, kelompok ini terpecah menjadi lima sekte yaitu Kaisaniyyah, Imamiyyah (Rafidhah), Zaidiyyah, Ghulat, dan Isma’iliyyah. Dari kelimanya, lahir sekian banyak cabang-cabangnya. (Al-Milal Wan Nihal, hal. 147, karya Asy-Syihristani)Dan tampaknya yang terpenting untuk diangkat pada edisi kali ini adalah sekte Imamiyyah atau Rafidhah, yang sejak dahulu hingga kini berjuang keras untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin. Dengan segala cara, kelompok sempalan ini terus menerus menebarkan berbagai macam kesesatannya. Terlebih lagi kini didukung dengan negara Iran-nya.Rafidhah , diambil dari yang menurut etimologi bahasa Arab bermakna , meninggalkan (Al-Qamus Al-Muhith, hal. 829). Sedangkan dalam terminologi syariat bermakna: Mereka yang menolak imamah (kepemimpinan) Abu Bakr dan ‘Umar c, berlepas diri dari keduanya, dan mencela lagi menghina para shahabat Nabi . (Badzlul Majhud fi Itsbati Musyabahatir Rafidhati lil Yahud, 1/85, karya Abdullah Al-Jumaili)Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku telah bertanya kepada ayahku, siapa Rafidhah itu? Maka beliau menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar’.” (Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah)Sebutan “Rafidhah” ini erat kaitannya dengan Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib dan para pengikutnya ketika memberontak kepada Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan di tahun 121 H. (Badzlul Majhud, 1/86)Asy-Syaikh Abul Hasan Al-Asy’ari berkata: “Zaid bin ‘Ali adalah seorang yang melebihkan ‘Ali bin Abu Thalib atas seluruh shahabat Rasulullah, mencintai Abu Bakr dan ‘Umar, dan memandang bolehnya memberontak1 terhadap para pemimpin yang jahat. Maka ketika ia muncul di Kufah, di tengah-tengah para pengikut yang membai’atnya, ia mendengar dari sebagian mereka celaan terhadap Abu Bakr dan ‘Umar. Ia pun mengingkarinya, hingga akhirnya mereka (para pengikutnya) meninggalkannya. Maka ia katakan kepada mereka: “Kalian tinggalkan aku?” Maka dikatakanlah bahwa penamaan mereka dengan Rafidhah dikarenakan perkataan Zaid kepada mereka “Rafadhtumuunii.” (Maqalatul Islamiyyin, 1/137). Demikian pula yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Fatawa (13/36).Rafidhah pasti Syi’ah, sedangkan Syi’ah belum tentu Rafidhah. Karena tidak semua Syi’ah membenci Abu Bakr dan ‘Umar sebagaimana keadaan Syi’ah Zaidiyyah.Rafidhah ini terpecah menjadi beberapa cabang, namun yang lebih ditonjolkan dalam pembahasan kali ini adalah Al-Itsna ‘Asyariyyah.Siapakah Pencetusnya?Pencetus pertama bagi faham Syi’ah Rafidhah ini adalah seorang Yahudi dari negeri Yaman (Shan’a) yang bernama Abdullah bin Saba’ Al-Himyari, yang menampakkan keislaman di masa kekhalifahan ‘Utsman bin Affan.2Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Asal Ar-Rafdh ini dari munafiqin dan zanadiqah (orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, pen). Pencetusnya adalah Abdullah bin Saba’ Az-Zindiq. Ia tampakkan sikap ekstrim di dalam memuliakan ‘Ali, dengan suatu slogan bahwa ‘Ali yang berhak menjadi imam (khalifah) dan ia adalah seorang yang ma’shum (terjaga dari segala dosa, pen).” (Majmu’ Fatawa, 4/435)Sesatkah Syi’ah Rafidhah ?Berikut ini akan dipaparkan prinsip (aqidah) mereka dari kitab-kitab mereka yang ternama, untuk kemudian para pembaca bisa menilai sejauh mana kesesatan mereka.a. Tentang Al Qur’anDi dalam kitab Al-Kaafi (yang kedudukannya di sisi mereka seperti Shahih Al-Bukhari di sisi kaum muslimin), karya Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini (2/634), dari Abu Abdullah (Ja’far Ash-Shadiq), ia berkata : “Sesungguhnya Al Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad  (ada) 17.000 ayat.”Di dalam Juz 1, hal 239-240, dari Abu Abdillah ia berkata: “…Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihas salam, mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata: ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata: ‘Mushaf 3 kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari Al Qur’an kalian…’.”(Dinukil dari kitab Asy-Syi’ah Wal Qur’an, hal. 31-32, karya Ihsan Ilahi Dzahir).Bahkan salah seorang “ahli hadits” mereka yang bernama Husain bin Muhammad At-Taqi An-Nuri Ath-Thabrisi telah mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang ma’shum (menurut mereka), di dalam kitabnya Fashlul Khithab Fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab, yang menjelaskan bahwa Al Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.b. Tentang shahabat RasulullahDiriwayatkan oleh Imam Al-Jarh Wat Ta’dil mereka (Al-Kisysyi) di dalam kitabnya Rijalul Kisysyi (hal. 12-13) dari Abu Ja’far (Muhammad Al-Baqir) bahwa ia berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi, dalam keadaan murtad kecuali tiga orang,” maka aku (rawi) berkata: “Siapa tiga orang itu?” Ia (Abu Ja’far) berkata: “Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi…” kemudian menyebutkan surat Ali Imran ayat 144. (Dinukil dari Asy-Syi’ah Al-Imamiyyah Al-Itsna ‘Asyariyyah Fi Mizanil Islam, hal. 89)Ahli hadits mereka, Muhammad bin Ya’qub Al-Kulaini berkata: “Manusia (para shahabat) sepeninggal Nabi dalam keadaan murtad kecuali tiga orang: Al-Miqdad bin Al-Aswad, Abu Dzar Al-Ghifari, dan Salman Al-Farisi.” (Al-Kafi, 8/248, dinukil dari Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 45, karya Ihsan Ilahi Dzahir)Demikian pula yang dinyatakan oleh Muhammad Baqir Al-Husaini Al-Majlisi di dalam kitabnya Hayatul Qulub, 3/640. (Lihat kitab Asy-Syi’ah Wa Ahlil Bait, hal. 46)Adapun shahabat Abu Bakr dan ‘Umar, dua manusia terbaik setelah Rasulullah , mereka cela dan laknat. Bahkan berlepas diri dari keduanya merupakan bagian dari prinsip agama mereka. Oleh karena itu, didapati dalam kitab bimbingan do’a mereka (Miftahul Jinan, hal. 114), wirid laknat untuk keduanya:Ya Allah, semoga shalawat selalu tercurahkan kepada Muhammad dan keluarganya, laknatlah kedua berhala Quraisy (Abu Bakr dan Umar), setan dan thaghut keduanya, serta kedua putri mereka…(yang dimaksud dengan kedua putri mereka adalah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Hafshah)(Dinukil dari kitab Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18, karya As-Sayyid Muhibbuddin Al-Khatib)Mereka juga berkeyakinan bahwa Abu Lu’lu’ Al-Majusi, si pembunuh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab, adalah seorang pahlawan yang bergelar “Baba Syuja’uddin” (seorang pemberani dalam membela agama). Dan hari kematian ‘Umar dijadikan sebagai hari “Iedul Akbar”, hari kebanggaan, hari kemuliaan dan kesucian, hari barakah, serta hari suka ria. (Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 18) Adapun ‘Aisyah dan para istri Rasulullah  lainnya, mereka yakini sebagai pelacur -na’udzu billah min dzalik-. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab mereka Ikhtiyar Ma’rifatir Rijal (hal. 57-60) karya Ath-Thusi, dengan menukilkan (secara dusta) perkataan shahabat Abdullah bin ‘Abbas terhadap ‘Aisyah: “Kamu tidak lain hanyalah seorang pelacur dari sembilan pelacur yang ditinggalkan oleh Rasulullah…” (Dinukil dari kitab Daf’ul Kadzibil Mubin Al-Muftara Minarrafidhati ‘ala Ummahatil Mukminin, hal. 11, karya Dr. Abdul Qadir Muhammad ‘Atha)Demikianlah, betapa keji dan kotornya mulut mereka. Oleh karena itu, Al-Imam Malik bin Anas berkata: “Mereka itu adalah suatu kaum yang berambisi untuk menghabisi Nabi  namun tidak mampu. Maka akhirnya mereka cela para shahabatnya agar kemudian dikatakan bahwa ia (Nabi Muhammad  ) adalah seorang yang jahat, karena kalau memang ia orang shalih, niscaya para shahabatnya adalah orang-orang shalih.” (Ash-Sharimul Maslul ‘ala Syatimirrasul, hal. 580)c. Tentang Imamah (Kepemimpinan Umat)Imamah menurut mereka merupakan rukun Islam yang paling utama3. Diriwayatkan dari Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (2/18) dari Zurarah dari Abu Ja’far, ia berkata: “Islam dibangun di atas lima perkara:… shalat, zakat, haji, shaum dan wilayah (imamah)…” Zurarah berkata: “Aku katakan, mana yang paling utama?” Ia berkata: “Yang paling utama adalah wilayah.” (Dinukil dari Badzlul Majhud, 1/174)Imamah ini (menurut mereka -red) adalah hak ‘Ali bin Abu Thalib  dan keturunannya sesuai dengan nash wasiat Rasulullah . Adapun selain mereka (Ahlul Bait) yang telah memimpin kaum muslimin dari Abu Bakr, ‘Umar dan yang sesudah mereka hingga hari ini, walaupun telah berjuang untuk Islam, menyebarkan dakwah dan meninggikan kalimatullah di muka bumi, serta memperluas dunia Islam, maka sesungguhnya mereka hingga hari kiamat adalah para perampas (kekuasaan). (Lihat Al-Khuthuth Al-‘Aridhah, hal. 16-17)Mereka pun berkeyakinan bahwa para imam ini ma’shum (terjaga dari segala dosa) dan mengetahui hal-hal yang ghaib. Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Kami bangga bahwa para imam kami adalah para imam yang ma’shum, mulai ‘Ali bin Abu Thalib hingga Penyelamat Umat manusia Al-Imam Al-Mahdi, sang penguasa zaman -baginya dan bagi nenek moyangnya beribu-ribu penghormatan dan salam- yang dengan kehendak Allah Yang Maha Kuasa, ia hidup (pada saat ini) seraya mengawasi perkara-perkara yang ada.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 5, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/192)Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Minhajus Sunnah, benar-benar secara rinci membantah satu persatu kesesatan-kesesatan mereka, terkhusus masalah imamah yang selalu mereka tonjolkan ini.d. Tentang TaqiyyahTaqiyyah adalah berkata atau berbuat sesuatu yang berbeda dengan keyakinan, dalam rangka nifaq, dusta, dan menipu umat manusia. (Lihat Firaq Mu’ashirah, 1/195 dan Asy-Syi’ah Al-Itsna ‘Asyariyyah, hal. 80)Mereka berkeyakinan bahwa taqiyyah ini bagian dari agama. Bahkan sembilan per sepuluh agama. Al-Kulaini meriwayatkan dalam Al-Kaafi (2/175) dari Abu Abdillah, ia berkata kepada Abu Umar Al-A’jami: “Wahai Abu ‘Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh dari agama ini adalah taqiyyah, dan tidak ada agama bagi siapa saja yang tidak ber-taqiyyah.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/196). Oleh karena itu Al-Imam Malik ketika ditanya tentang mereka beliau berkata: “Jangan kamu berbincang dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan dari mereka, karena sungguh mereka itu selalu berdusta.” Demikian pula Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Aku belum pernah tahu ada yang melebihi Rafidhah dalam persaksian palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/27-28, karya Al-Imam Adz-Dzahabi)e. Tentang Raj’ahRaj’ah adalah keyakinan hidupnya kembali orang yang telah meninggal. ‘Ahli tafsir’ mereka, Al-Qummi ketika menafsirkan surat An-Nahl ayat 85, berkata: “Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah raj’ah, kemudian menukil dari Husain bin ‘Ali bahwa ia berkata tentang ayat ini: ‘Nabi kalian dan Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) serta para imam ‘alaihimus salam akan kembali kepada kalian’.” (Dinukil dari kitab Atsarut Tasyayyu’ ‘Alar Riwayatit Tarikhiyyah, hal. 32, karya Dr. Abdul ‘Aziz Nurwali)f. Tentang Al-Bada’Al-Bada’ adalah mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui. Mereka berkeyakinan bahwa Al-Bada’ ini terjadi pada Allah . Bahkan mereka berlebihan dalam hal ini. Al-Kulaini dalam Al-Kaafi (1/111), meriwayatkan dari Abu Abdullah (ia berkata): “Tidak ada pengagungan kepada Allah yang melebihi Al-Bada’.” (Dinukil dari Firaq Mu’ashirah, 1/252). Suatu keyakinan kafir yang sebelumnya diyakini oleh Yahudi4.Demikianlah beberapa dari sekian banyak prinsip Syi’ah Rafidhah, yang darinya saja sudah sangat jelas kesesatan dan penyimpangannya. Namun sayang, tanpa rasa malu Al-Khumaini (Khomeini) berkata: “Sesungguhnya dengan penuh keberanian aku katakan bahwa jutaan masyarakat Iran di masa sekarang lebih utama dari masyarakat Hijaz (Makkah dan Madinah, pen) di masa Rasulullah , dan lebih utama dari masyarakat Kufah dan Iraq di masa Amirul Mukminin (‘Ali bin Abu Thalib) dan Husein bin ‘Ali.” (Al-Washiyyah Al-Ilahiyyah, hal. 16, dinukil dari Firaq Mu’ashirah, hal. 192)Perkataan Ulama tentang Syi’ah Rafidhah Asy-Syaikh Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili di dalam kitabnya Al-Intishar Lish Shahbi Wal Aal (hal. 100-153) menukilkan sekian banyak perkataan para ulama tentang mereka. Namun dikarenakan sangat sempitnya ruang rubrik ini, maka hanya bisa ternukil sebagiannya saja. 1. Al-Imam ‘Amir Asy-Sya’bi berkata: “Aku tidak pernah melihat kaum yang lebih dungu dari Syi’ah.” (As-Sunnah, 2/549, karya Abdullah bin Al-Imam Ahmad)2. Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri ketika ditanya tentang seorang yang mencela Abu Bakr dan ‘Umar, beliau berkata: “Ia telah kafir kepada Allah.” Kemudian ditanya: “Apakah kita menshalatinya (bila meninggal dunia)?” Beliau berkata: “Tidak, tiada kehormatan (baginya)….” (Siyar A’lamin Nubala, 7/253)3. Al-Imam Malik dan Al-Imam Asy-Syafi’i, telah disebut di atas.4. Al-Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku tidak melihat dia (orang yang mencela Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Aisyah) itu orang Islam.” (As-Sunnah, 1/493, karya Al-Khallal)5. Al-Imam Al-Bukhari berkata: “Bagiku sama saja apakah aku shalat di belakang Jahmi, dan Rafidhi atau di belakang Yahudi dan Nashara (yakni sama-sama tidak boleh -red). Mereka tidak boleh diberi salam, tidak dikunjungi ketika sakit, tidak dinikahkan, tidak dijadikan saksi, dan tidak dimakan sembelihan mereka.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad, hal. 125)6. Al-Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika engkau melihat orang yang mencela salah satu dari shahabat Rasulullah , maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq. Yang demikian itu karena Rasul bagi kita haq, dan Al Qur’an haq, dan sesungguhnya yang menyampaikan Al Qur’an dan As Sunnah adalah para shahabat Rasulullah . Sungguh mereka mencela para saksi kita (para shahabat) dengan tujuan untuk meniadakan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka (Rafidhah) lebih pantas untuk dicela dan mereka adalah zanadiqah.” (Al-Kifayah, hal. 49, karya Al-Khathib Al-Baghdadi)Demikianlah selayang pandang tentang Syi’ah Rafidhah, mudah-mudahan bisa menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran…AminPenulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari

Cakfaris.Blogspot.com

(read more ...)



Pejabat Penasihat  tentera pengawal revolusi yang dipimpin oleh Ali Khamene’i (Pemimpin Agung Iran), Ali Saeedi menyeru supaya negara-negara yang berjiran dengan Iran membuat perubahan besar sebagai langkah awal menyambut kedatangan Imam Mahdi Syiah yang sudah lama ditunggu-tunggu.



Dalam sebuah sumber agensi berita Iran, Ali Saeedi tidak menjelaskan bentuk perubahan besar berkenaan tetapi menyebutkan nama-nama jiran Iran seperti Turkey, Iraq, Lebanon, Pakistan dan Afghanistan.



Saeedi menyeru rakyat di negara-negara berkenaan bangkit dengan segala kekuatan untuk melakukan perubahan besar bagi menghadapi Revolusi Mahdi Sedunia kerana negara-negara jiran berkenaan merupakan askar tambahan untuk menyokong kerajaan dan bangsa Iran yang merupakan pusat kepada Gerakan Revolusi Mahdi Sedunia nanti.



Israel dan Amerika Merupakan Penghalang Kemunculan Imam Mahdi.



Saeedi menambah : "kami telah menunggu begitu lama untuk mencapainya, dan pada waktu sekarang mesti digunakankan untuk melengkapkan pasukan tentera kepada asas pengenalan sebab-sebab kemunculan Mahdi al-Muntazar dan cara-cara menghalang rintangan daripada Amerika dan Israel."



Selanjutnya beliau menjelaskan, majoriti rakyat pada masa kini khususnya di Timur Tengah memiliki persediaan yang diperlukan untuk berhadapan dengan Amerika dan Israel.



Mentaati Perintah Khamenei Bererti Taat Kepada Perintah Mahdi.



Saeedi menyamakan ketaatan kepada perintah wali al-faqih dengan taat kepada perintah Mahdi Muntazar. Tambah beliau,” tentera bersenjata menyerah ketaatan mereka kepada perintah-perintah wali al-faqih, hakikat sebenarnya ialah mereka melaksanakan perintah-perintah Mahdi al-Muntazar.



Katanya lagi, tentera pengawal revolusi dan seluruh pasukan bersenjata di Iran menjaga pemerintahan bercorak agama di Iran sebagai langkah awal kepada munculnya Mahdi Muntazar.



Merujuk kepada peristiwa di Iran kebelakangan ini, Saeedi berkata, kebanyakan revolusi di dunia berhadapan dengan pelbagai ancaman dan revolusi Iran juga berhadapan dengan ancaman yang sukar seperti perang ketenteraan, krisis yang pelbagai, isu-isu keselamatan serta ancaman-ancaman yang lemah.



http://islammemo.cc/akhbar/arab/2009/08/17/86616.html

(read more ...)





VIVanews - Foto Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad saat sedang menunjukkan kartu identitas dalam pemilihan umum Maret 2008 memperlihatkan bahwa keluarganya memiliki keturunan Yahudi. Dalam dokumen yang diperbesar bisa terbaca bahwa Ahmadinejad pernah dipanggil "Sabourjian", nama Yahudi yang berarti penenun pakaian. Bukt-bukti ini pertama kali diungkap oleh harian The Daily Telegraph.


Seperti dikutip dari laman harian The Telegraph, Minggu 4 Oktober 2009, catatan pendek di dalam kartu identitas itu menjelaskan kalau keluarga presiden yang kerap mengecam Israel ini mengganti nama keluarga menjadi Ahmadinejad saat mereka memeluk Islam pasca kelahiran Ahmadinejad.


Keluarga Sabourjian berasal dari Aradan, tempat kelahiran Ahmadinejad. Nama Sabourjian diperoleh dari "tukang tenun Sabour," nama selendang Yahudi Tallit di Persia. Nama tersebut juga masuk dalam daftar nama orang-orang Yahudi Iran yang dikumpulkan oleh Departemen Dalam Negeri Iran.


Para ahli tadi malam menyebutkan bahwa track record Ahmadinejad yang kerap mengeluarkan kritik pedas terhadap kaum Yahudi bisa jadi dilakukan untuk menutupi masa lalunya. "Setiap keluarga yang pindah agama membuat identitas baru dengan mengecam kepercayaan mereka sebelumnya," kata Ali Nourizadeh dari Pusat Studi Arab dan Iran. "Aspek latar belakang Ahmadinejad menjelaskan banyak hal tentang dia.


Dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan anti-Israel, dia mencoba menghilangkan kecurigaan tentang keterkaitan dirinya dengan Yahudi. Dia merasa tak berdaya di tengah masyarakat radikal Syiah," terang Nourizadeh.


Juru bicara kedutaan Israel di London, Ron Gidor, mengatakan tidak akan terpengaruh dengan masa lalu Ahmadinejad. "Itu bukan sesuatu yang perlu kami bahas," kata Gidor.


Ahmadinejad memang tidak pernah menyangkal bahwa namanya diganti saat keluarganya pindah ke Teheran pada tahun 1950-an. Namun dia tidak pernah mengungkapkan nama sebelumnya dan tidak menjelaskan alasan penggantian nama tersebut.


Ahmadinejad adalah insinyur berkualitas dengan gelar doktor dalam bidang traffic management. Dia menjadi milisi Garda Revolusioner sebelum namanya dikenal sebagai politisi garis keras di Teheran.



*Vivanews.com

(read more ...)







Seorang mantan mata-mata dari Pengawal Revolusi Iran Senin kemarin mengungkapkan bahwa adanya ribuan sel intelijen yang bekerja untuk Republik Syiah Iran di sebagian besar negara-negara Arab, terutama di Teluk Arab.


Mantan agen rahasia, yang tidak disebutkan namanya tersebut dengan alasan keamanan, mengatakan ada 40.000 mata-mata Iran di negara-negara Teluk Arab, 3.000 di antaranya berada di Kuwait. Dia menambahkan bahwa banyak diantara agen mata-mata itu adalah tentara bayaran yang dibayar untuk layanan terbatas - sementara yang lain merupakan pegawai tetap di pasukan Pengawal Revolusi.


Mantan mata-mata Iran itu juga membantah bahwa sel intelijen Iran di negara-negara Arab adalah sel tidur namun dirinya mengatakan bahwa mereka bekerja secara teratur untuk mengumpulkan informasi mengenai negara-negara Teluk terkait dengan kemampuan militer, infrastruktur dan lembaga-lembaga ekonomi utama.


"Sel-sel ini ditenun dengan keterampilan menenun mirip dengan sebuah karpet Persia, mereka sering berjumlah empat anggota setiap selnya ditambah dengan seorang komandan dan tiap orang dari mereka tidak menyadari tugas-tugas dan misi dari anggota yang lain," katanya, seraya menambahkan bahwa Iran telah menghabiskan "sejumlah besar uang" untuk membiayai intelijen asing mereka.


Mantan agen mata-mata tersebut, juga mengatakan bahwa dirinya memulai pekerjaannya sebagai seorang agen yang menyamar untuk pasukan elit Pengawal Revolusi dua tahun sebelum perang Iran-Irak berakhir pada tahun 1988.


"Saya tertipu pada awalnya dengan slogan-slogan bahwa Republik Syiah Iran membela Islam," katanya menjelaskan alasan untuk bergabung dengan intelijen Iran.


Sementara dalam pelayanan tugas utamanya adalah untuk memantau dan penyedia informasi kepada para pemimpin oposisi Iran di negara-negara Teluk Arab, katanya.


Mantan agen rahasia yang berasal dari kota Ahwaz yang mayotitas Arab, ibukota provinsi barat daya Iran Khuzestan, merupakan tempat dari partai yang berbasis di Kanada Partai Renaisans Arab Ahwaz (AARP) yang bertujuan Advokasi perlawanan terhadap pemerintah Iran.


Dia mengatakan bahwa dirinya telah memutuskan untuk melepaskan dari pekerjaan sebagai mata-mata ketika ia menyadari bagaimana pihak berwenang Iran melakukan didiskriminasi terhadap prajurit yang berasal dari Ahwazi yang telah berjuang untuk Iran dalam perang melawan Irak," sambil menambahkan bahwa "Tentara Ahwazi Arab yang terluka sering diberikan pengobatan di tanah, sedangkan tentara yang asal Iran dari Persia yang dirawat di rumah sakit dengan tempat tidur lengkap. "


Ketika ia mencoba mengajukan surat pengunduran diri kepada Otoritas intelijen Iran, ia ditolak berkali-kali dan terus diawasi selama lima tahun sebelum akhirnya dibuang dan dibiarkan tinggal di sebuah negara asing, katanya Alarabiya.net.


Mantan agen tersebut juga menguraikan dokumen yang menunjukkan sebagian dari misi intelijen dan perintah dari Pengawal Revolusi Iran tapi meminta dokumen-dokumen tidak dipublikasikan untuk keamanan pribadinya.(fq/aby)


*eramuslim.com



(read more ...)









Telegraph.co.uk—harian berita dari Inggris—menurunkan berita yang cukup mengejutkan. Sebuah foto Presiden Iran Ahmadinejad sambil mengangkat kartu identitasnya selama pemilihan umum Maret 2008 dengan jelas menunjukkan keluarganya memiliki akar Yahudi. Dokumen close-up itu mengungkapkan dia sebelumnya dikenal sebagai Sabourjian – atau kain tenun dalam arti nama bahasa Yahudi.


Sebuah catatan pendek yang tertulis di kartu itu menunjukkan keluarganya berubah nama menjadi Ahmadinejad, ketika mereka dikonversi untuk memeluk Islam setelah kelahirannya. Sabourjian berasal dari Aradan, tempat kelahiran Ahmadinejad, dan nama itu diturunkan dari "penenun dari Sabour", nama untuk selendang Tallit Yahudi di Persia. Nama ini, ada dalam daftar nama cipta untuk orang Yahudi di Iran, menurut Departmen Dalam Negeri Iran.


Ali Nourizadeh, dari Pusat Studi Arab dan Iran, mengatakan: "Aspek latar belakang Ahmadinejad menjelaskan banyak tentang dirinya. Dengan membuat pernyataan-pernyataan anti-Israel, ia sedang mencoba untuk menumpahkan kecurigaan tentang hubungannya dengan Yahudi. Ia merasa rentan dalam masyarakat Syiah yang radikal."


Seorang ahli yang berpusat di London Yahudi Iran mengatakan, "Dia telah mengubah namanya karena alasan agama, atau setidaknya orangtuanya," kata kelahiran Yahudi Iran yang tinggal di London itu . "Sabourjian dikenal sebagai nama Yahudi di Iran."


Seorang jurubicara kedutaan Israel di London, Ron Gidor, mengatakan bahwa, "Ini bukan sesuatu yang akan kami bicarakan."


Ahmadinejad tidak menyangkal namanya berubah ketika keluarganya pindah ke Teheran pada tahun 1950-an. Tapi dia tidak pernah mengungkapkan perubahan berhubungan dengan pergantian keyakinan. Ahmadinejad tumbuh menjadi insinyur yang memenuhi syarat dengan gelar doktor dalam manajemen. Sebelum terjun jadi politisi, Ahmadinejad bertugas sebagai tentara pada Pengawal Revolusi.


Selama debat presiden di televisi tahun ini, ia dipancing untuk mengakui bahwa namanya telah berubah tapi ia mengabaikannya. Mehdi Khazali, seorang blogger internet, yang menyerukan penyelidikan akar nama Presiden Ahmadinejad ditangkap musim panas ini.


Ahmadinejad sendiri, seperti diketahui, secara teratur mengeluarkan kritik yang ditujukan pada Israel, mempertanyakan hak Israel untuk eksis dan menolak Holocaust. Banyak yang kagum dengan keberanian Ahmadinejad ini. Tapi dengan adanya berita ini, bagaimana respon dunia internasional—terutama umat Islam? Wallohu alam bi shawab. (sa/telegraph)


*eramuslim.com



(read more ...)





Bila anda adalah seorang sarjana, master, doktor atau bahkan profesor, suatu saat sedang menikmati liburan sendiri di atas sebuah perahu kecil di tengah sebuah sungai besar yang deras dan hanya ditemani si pemilik perahu yang tak bisa baca tulis. Bila anda tidak bisa berenang, lalu apa sikap anda terhadap si pemilik perahu bila saat itu perahu anda rusak dan akan segera tenggelam? Masihkah anda membanggakan pada si buta huruf ilmu geografi yang anda ketahui tentang pegunungan, ilmu botani anda tentang pepohonan sepanjang sungai, atau ilmu fluid dynamic yang begitu menarik terefleksi pada aliran sungai, kepada si buta huruf tapi pandai berenang? Tentu saja, anda tahu jawabannya agar diri anda beserta segenap kebesaran ilmu yang anda miliki selamat pada saat itu. Ya, Anda harus minta si buta huruf yang bisa berenang menolong anda hingga akhirnya mencapai tepi sungai.


Inilah salah satu hikmah yang bisa aku tangkap dari sholat idul fitri di aula Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Berlin, 1 Syawal 1430 H lalu. Idul fitri yang spesial, fikirku. Jamaah membludak tidak seperti biasanya, maklum hari ini hari minggu, hari libur. Seluruh ruangan di dua lantai yang disediakan tidak mampu menampung jamaah yang akhirnya berdempetan dan rela melebar ke lorong-lorong KBRI Berlin. Diperkirakan, lebih dari 600 muslim Indonesia di Berlin dan sekitaranya hadir merayakan hari suci ini.


Lalu kelanjutan dari hikmah itu adalah, apakah kita semua mampu mengikuti derasnya gelombang zaman, melepas ego pribadi kita, atau terjebak dalam arus bawah yang mematikan karena terbuai kehebatan pribadi kita yang sebenarnya tidak seberapa? Dan apakah kita semua memiliki perangkat untuk berenang di sungai kehidupan yang berubah secara drastis ini? Padahal secara hukum alam, dunia begitu cepat berubah. Sesuatu yang dulu memerlukan waktu beberapa dekade untuk berubah, sekarang dapat berubah hanya dalam waktu beberapa bulan. Dulu, riset dan pembuatan pita kaset untuk merekam perlu waktu 50 tahun. Datang kemudian era MP-player yang akhirnya membuat teknologi pita kaset menjadi barang kuno dalam waktu beberapa tahun saja.


Anda kenal Bill Gates (Microsoft) yang DO dari kuliah? Tentu, karena dari sejarahnya kita bisa belajar bahwa walalaupun kualifikasi akademik itu penting, namun tidak mencukupi bagi Anda jika Anda ingin berhasil di zaman yang bergolak ini. Orang-orang sukses saat ini ternyata bukan hanya yang ber-IQ tinggi dengan gelar berderet di depan atau di belakang nama mereka.

Atau kenalkah Anda Mark Zuckerberg, anak muda 24 tahun yang telah menjadi miliuner dengan mendirikan Facebook yang menghubungkan 300 juta pengguna aktif di seluruh belahan dunia? Tentu, karena dari kisahnya kita bisa belajar, bahwa untuk menjadi miliuner saat ini, anda tidak perlu harus menjadi tua terlebih dahulu seperti yang terjadi pada beberapa dekade sebelumnya. Keuletan dan kerja keras, itu kuncinya.


Oleh karena itu, di zaman yang serba cepat berubah ini, pak ustadz kemudian menekankan akan pentingnya memiliki keahlian melengkapi diri kita dengan pola fikir, keahlian dan pola perilaku yang pada satu sisi bisa menundukkan bahaya yang mengancam kehidupan kita, mengancam iman kita dan mengancam fitrah suci kita sebagai manusia, dan pada sisi lainnya mampu mencuatkan potensi-potensi keunggulan pribadi kita. Dan ternyata, banyak dari kita tidak sadar bahwa potensi kita banyak yang tertimbun dengan kedhoifan kita, tidak terpakai dengan optimal, atau sia-sia tidak membuat kita menjadi muslim-muslim yang unggul di tengah masyarakat kita.


Kemudian Pak Ustadz membacakan ayat:

“Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak-anak Adam dan Kami telah benarkan mereka menggunakan berbagai kenderaan di darat dan di lautan dan Kami telah memberi rezeki kepada mereka dari yang baik-baik serta Kami telah lebihkan mereka dengan selebih-lebihnya atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” [Al-Isra’ (17):70]


Dalam ayat itu, Allah berfirman bahwa Allah menciptakan manusia dalam kemuliaan (wa laqod karramnaa banii aadam/ sungguh aku muliakan anak keturunan Nabi Adam).

Tapi harus diingat, kemuliaan pada manusia sifatnya adalah pemberiaan Allah, Al karimah bittakrim, mulia karena dihadiahi kemuliaan oleh Allah, bukan mulia karena built-in, bukan karena melekat otomatis pada diri manusia.


Dengan kemuliaan ini Allah memberikan kemampuan manusia kemampuan menundukkan alam. Lalu pada rangkain berikut Allah berfirman”wa fadhdholnaahum”, Kami berikan manusia keutamaan (tafdhil). Manusia diberikan ”tafdhil”, diberikan keutamaan yang berbeda dengan makhluk lainnya, yakni memiliki akal, memiliki tubuh yang sempurna dan dikaruniai pula hawa nafsu. Dengan semua karunia tersebut manusia mampu menguasai berbagai macam teknologi untuk misi penundukkan universe.


Lihatlah bukti penundukan universe oleh manusia. Zaman sekarang tua muda di seluruh pelosok dunia sudah bisa dijangkau oleh teknologi informasi, bisa chatting, buka email dan online lewat blakcberry, dan lain-lain. Itulah makna ”wa sakkharnaa”, yang maknanya adalah semua yang di langit dan di bumi ditundukkan oleh Allah untuk manusia. Lalu diikuti ”wa hamalnaahum fil barri wal bahri”, sebagai simbol kemampuan manusia merekayasa alam semensta untuk keperluan hidupnya.


Bahkan segala yang ditundukkan manusia dalam bentuk teknologi itu sering pula menjadi simbol prestise. Manusia bisa mengendarai mobil lalu menundukkan jarak yang terbentang luas, sebagai salah satu tanda penundukkan manusia pada alam raya. Dan sering upaya penundukan alam ini diembel-embeli prestise. Beda merek, maka beda kenyamanan dan kecepatan, dan akan beda prestise pula.


Sementara makhluk lain kalau naik kendaraan, misal gajah atau kera naik motor, itu sifatnya artifisial, hanya ada di dunia sirkus. Silahkan anda buktikan. Kalau berani, cobalah kera yang sudah dilatih naik kendaraan di sirkus lalu disuruh mengendarai bus way di Jakarta, lalu naiklah anda beserta kera yang sudah terlatih tadi. Secara statistik, di kendarai orang saja sering nabrak, sering remnya blong, banyak sepeda motor tidak disiplin, apalagi dikendarai oleh makhluk yang secara fitrah memang tidak dipilih oleh Allah untuk menundukkan alam ini.


Namun, bila manusia tidak mengoptimalkan ”takrim dan tafdhil” atau kemuliaan dan keutamaan dari Allah, bahkan dengan memperturutkan hawa nafsunya, maka ia akan meluncur jauh ke bawah ke derajat lebih hina dari kera yang mampu mengendarai kendaraan tadi. Allah berfirman: ”Ulaaika kal an’am, bal hum adhol”. Manusia yang lupa kemulian dan keutamaan dari Allah itu, ibarat binatang peliharaan, bahkan lebih buruk dari itu. Oleh karena itu, kita tidak mungkin memperoleh ”takrim dan tafdhil” dari Allah tanpa memiliki dan memaknai akhlaqul karimah yang harusnya menjadi merek,brand image dan perilaku kita.


Kemudian ustadz melanjutkan ceramah Iednya yang menarik...

”Saya sempat menerima email dari sahabat saya. Sekali lagi ini hanya sekedar email dan sebenarnya TIDAK BENAR dan tidak perlu kita percayai. Tapi, terus terang, isinya membuat saya terenyeuh, dan oleh karena itu ada baiknya kita renungi”.


”Karena email ini boleh jadi adalah cermin dari akhlak masyarakat kita saat ini”.

“ Karena apabila orang itu pejabat, yang seharunya jadi tokoh panutan, dan bila ia tidak memiliki akhlaqul karimah, maka keburukannya berpotensi menggurita dan berpotensi berbahaya menggerogoti sendi-sendi kehidupan bermasyarakat”.


”Akhlaq yang fitrah, moral yang suci, yang melahirkan sifat-sifat terpuji, jauh dari sikap hina dan tercela, menghadirkan kejujuran dan membuang jauh kedustaan, menghadirkan amanah, menjauhkan penghianatan, menghadirkan kesejahteraan, kesantunan dan menjauhkan kesewenang-wenangan. Dan kita digembleng saat ramadhan. Ia harusnya menghadirkan ketenangan, bukan hanya untuk si pelaku, tapi juga bagi orang-orang di sekeitarnya. ”Wa innaka la’ala khuluqin ’azhiiim....”, sesungguhnya misi rasul adalah mengajarkan kita akhlak yang mulia.


Kemudian ustadz mulai mendongeng tentang email sahabatnya...


”Begini....Email dari sahabat saya itu bercerita, bahwa konon iblis meghadap Allah, lalu menyerahkan surat berisikan pengajuan pensiun dini.”


Kami tentu tersenyum mendengar awal cerita dari pak Ustadz. Di sebuah sholat ied yang sakral ada cerita lain dari biasanya.


Ustadz lalu meneruskan....Lalu iblis mengatakan: “Hamba sudah tak sanggup lagi menggoda manusia, duh Gusti Yang Mulia ...”


Allah kemudian bertanya...

“Hai iblis kenapa engkau lakukan ini?Apa alasanmu sadar untuk pensiun dini?”


Iblis menahan nafas panjang....sebelum akhirnya menjawab...

”Hamba sudah tidak tahan Yang Mulia”...

Iblis mengatur nafasnya yang tidak karuan, seperti frustasi ingin meledakkan kedongkolan yang akut ribuan tahun lamanya. Lalu iblis melanjutkan...

”..perasaan hamba sudah tidak karuan, fisik dan mental terkuras habis dengan ulah manusia-manusia zaman sekarang, Padukaku....”


Iblis kemudian terlihat mulai menenangkan dirinya...


”Bagaimana hamba tidak habis fikir Padukaku Yang Mulia...” kali ini mimiknya serius.

” Ada jaksa yang harusnya menegakkan hukum, eee ...malah terlibat korupsi miliaran”

” Ada menteri yang aji mumpung menghabiskan uang rakyat, mantan menteri foya-foya duit korupsi...”

”Pejabat yang bawa lari istri orang...”

” Anggota Mahkamah Agung disuap kasus korupsi”

” Kalo anggota DPR, nggak usah ditanya Paduka... sebagian mereka masih hobi korupsi, juga hobi plesir keluar negeri pakai uang rakyat dengan dalih studi banding. Sebagian mereka kok masih hobi selingkuh dan sebagian lain hobi memeras pengusaha ...”

” Ada lagi oknum tokoh, sebagian mereka juga dikenal seorang ustadz, yang semestinya jadi panutan, lah kok malah melakukan pelanggaran....”

Iblis menggeretukkan geliginya, geleng-geleng kepala pertanda memendam muak luar biasa.

”Hamba khawatir Padukaku Yang Mulia.... ”

” Hamba kapok...khawatir justru hamba yang tergoda oleh manusia...”


Berlin, 1 Syawal 1430 H

(untuk sobatku: aku hanya bisa mengatakan: keep moving, uhibbuk fillah)


*eramuslim.com



(read more ...)




Mencari kebenaran letak Gua Al Kahfi, membuat para ilmuwan kontemporer tertarik untuk meneliti, tapi sebenarnya para ulama klasik sudah melakukannya



Hidayatullah.com--Kisah Ashab Al Kahfi yang ditidurkan Allah dalam gua selama 309 tahun, tertulis dalam Al-Quran. Bahkan peristiwa itu diabadikan menjadi sebuah surat secara khusus, yakni surat ke-18, surat Al Kahfi.



Saat ini ada 33 lokasi yang diklaim sebagai gua Ashab Al Kahfi. Yang paling banyak disoroti, situs gua yang berada di Yordan. Tepatnya di wilayah Ar Rahib, berada di 1,5 km timur kota Abu Alanda. Situs bersejarah ini sendiri dikenal dengan nama Ar Raqim.



Tentu teka-teki tempat Ashab Al Kahfi bersembunyi, menarik para ilmuwan untuk melakukan penelitian. Hingga saat ini sudah ada 104 penelitian mengenai masalah ini.



Dari hasil penelitian itu, Dr. Muhammad Wahib, yang memperoleh gelar doktoral dalam bidang arkeologi dan manuskrip, berkesimpulan bahwa gua yang berada di situs bersejarah Ar Raqim adalah gua tempat Ashab Al Kahfi bersembunyi.



Beberapa bukti yang mendukung situs Ar Raqim ini tempat persembunyian Ashab Al Kahfi, antara lain merujuk kepada beberapa periwayatan yang menyebutkan bahwa beberapa sahabat Rasulullah Shalallallahu Alaihi Wasallam (SAW), seperti Ubadah bin Shamid, Muawiyah bin Abi Sufyan, Habib bin Maslamah dan Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhum (RA), pernah melintasi tempat itu di masa kekhalifahan Umar bin Al Khattab, kemudian memasuki gua tersebut dan menyaksikan tulang belulang Ashab Al Kahfi.



Beberapa bukti arkeologis menguatkan kesimpulan itu. Sebagaimana diketahui bahwa Allah telah berfirman dalam Al-Quran, yang maknanya, ”…Dan mereka mengatakan, ‘dirikanlah bangunan di atas (gua) mereka. Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka. ’ Dan orang-orang yang berkuasa atas mereka mengatakan, ’Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya.’” (Al Kahfi [18] : 21).



Setelah dilakukan penggalian, ditemukan sebuah bangunan yang berada tepat di atas gua tersebut. Pada awalnya berupa gereja, kemudian tempat ibadah itu berubah menjadi masjid saat Islam datang. Dan telah dilakukan pemugaran terhadap bangunan ini beberapa kali, sebagaimana tertulis di beberapa batu yang berada di lokasi itu, yakni pada tahun 117, 277, dan 900 hijriah.



Tak jauh di lokasi, tepatnya di arah kiblat dari gua, dibangun pula sebuah masjid, yang hingga kini mimbarnya masih utuh, yang tertulis di lantainya bahwa Khalifah Al Muwaffaq di masa kekhalifahan Abasiyah telah memerintahkan perbaikan masjid ini.



Bukan hanya para ahli kontemporer yang melakukan penelitian, para ulama Muslim klasik sebenarnya telah melakukan penelitian, di mana lokasi gua itu sebenarnya. Dan –yang selama ini diketahui- mereka menilai bahwa gua Kahfi berada di Yordan. Dan penelitian mereka juga menjadi rujukan para ilmuwan saat ini.



Beberapa ulama klasik telah berkali-kali mengunjungi gua untuk melakukan hal yang sama, dengan berpatokan terhadap gerakan matahari di atas gua. Mereka menilai bahwa kondisi gua Yordan sesuai dengan ciri-ciri gua Ashab Al Kahfi yang digambarkan Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman, yang maknanya, ”Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri…” (Al Kahfi [18]: 17).



Imam Al Waqidi juga menilai bahwa di tempat inilah Ashab Al Kahfi bersembunyi. Beliau mengatakan dalam kitabnya Futuhat As Syam, ”Dan kami telah sampai di gua Kahfi pada sore hari, dan saat itu di dekat gua ada mata air, dan di situlah kami berwudhu, lalu melakukan shalat dan bermalam, dan di pagi harinya kami menuju negeri Al Jinan yang berada di dekat Amman.” Hingga kini, lokasi air mengalir itu masih ada di situs Al Kahfi Yordan.



Imam Al Qurthubi, dalam Jami’ li Ahkam Al-Quran, juga menyebutkan bahwa beliau telah mendatangi situs yang terdapat di Yordan ini, dan beliau juga telah mendatangi situs Turki, yang kedua-duanya diklaim sebagai gua Ashab Al Kahfi. Menurut beliau, jika dibandingkan dengan situs di Turki yang berada di wilayah Tharsus, situs Yordan ini lebih tepat dengan gambaran Al-Quran yang telah menunjukkan beberapa ciri-ciri gua yang ditempati Ashab Al Kahfi. [tho/hid/www.hidayatullah.com]

 

(read more ...)



Bukti lainnya yang tidak bisa dibantah adalah keterkaitan asal-muasal sihir Harry Potter dengan Mesir Kuno, tempat di mana Kabbalah sebagai ilmu sihir Mesir Kuno yang melahirkan berbagai kelompok okultis berasal.

Serial pertama Harry Potter, The Philosopher Stone’s (dalam versi yang terbit di Amerika diubah menjadi The Sorcerer Stone’s), mendulang sukses yang luar biasa. Jutaan anak-anak langsung terpikat dengan dunia sihir Harry Potter yang dianggap ajaib. Anak-anak tentu cepat takjub dengan hal-hal yang bisa dengan seketika seperti halnya “magic”. Namun tanpa disadari, jutaan anak-anak lewat novel tersebut menjadi begitu dekat dengan dunia sihir yang sebenarnya dalam pandangan agama apa pun dianggap mewakili “Kuasa Kegelapan” atau “Ajaran Iblis”. Tidak ada sihir putih atau sihir hitam, seperti yang JK. Rowling tulis dan katakan dalam berbagai wawancaranya.


Serial pertama dengan cepat disusul oleh serial-serial berikutnya hingga yang terakhir, Harry Potter and The Deathly Gallows. Berikut adalah serial Harry Potter lengkapnya:



  • Harry Potter and The Sorcerers Stone

  • Harry Potter and the Chamber of Secrets

  • Harry Potter and the Prisoner of Azkaban

  • Harry Potter and the Goblet of Fire

  • Harry Potter and The Order of the Phoenix

  • Harry Potter and the Half-Blood Prince

  • Harry Potter and the Deathly Gallows


Harry Potter dan Madame Blavatsky


Bukti lain yang sangat jelas dan tak terbantahkan adalah dipakainya nama salah seorang tokoh dunia Freemasonry, pendiri gerakan Theosofie Internasional, yakni Madame Blavatsky. Dalam serial Harry Potternya, JK. Rowling memberi nama seorang pengarang perempuan yang menulis buku pelajaran ramalan yang dipakai murid-murid sekolah sihir Hogwarts, berjudul “Menyingkap Kabut Masa Depan”, dengan nama Cassandra Vablastky. Siapa sebenarnya orang ini?


JK. Rowling lagi-lagi menggunakan anagram, bentuk penyandian kegemaran Templar dan Mason, dengan menuliskan “Vablatsky” untuk nama Blavatsky.


Madame Blavatsky sangat dekat dengan sejarah Freemasonry di Indonesia. Perempuan Yahudi Rusia bertubuh cebol dengan tatapan mata yang seperti burung hantu ini di zaman penjajahan Belanda memiliki sebuah kediaman dengan tanah yang cukup luas di pusat Jakarta, tepatnya di seberang Gedung Bank Indonesia sekarang. Sekarang, tanah tempat rumah Blavatsky dipakai untuk membangun gedung Depertemen Pos dan Telekomunikasi di Jalan Medan Merdeka Timur. Dahulu, ruas jalan ini sering di sebut Blavatsky Weg atau Jalan Blavatsky. Blavatsky inilah Mbah-nya ajaran pluralisme yang sekarang digembar-gemboran kaum Liberal, apakah itu yang bernama Jaringan Islam Liberal (JIL) maupun para pendukung Liberalis lainnya.  


Harry Potter dan Mesir Kuno


Bukti lainnya yang tidak bisa dibantah adalah keterkaitan asal-muasal sihir Harry Potter dengan Mesir Kuno, tempat di mana Kabbalah sebagai ilmu sihir Mesir Kuno yang melahirkan berbagai kelompok okultis berasal.


Dalam serial Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, diceritakan ketika keluarga Ron Weasley berlibur ke Mesir, Hermione mengaku jika dirinya begitu takjub dengan para penyihir Mesir yang dianggapnya sebagai sumber segala sumber ilmu sihir dunia. Apa yang ditulis JK. Rowling ini merupakan petunjuk kuat jika Dunia Sihir Harry Potter memang berasal dari sihir Mesir Kuno. Dan para ahli sejarah tidak ada yang membantah jika ilmu sihir Mesir kuno memiliki satu istilah: KABBALAH.


Kabbalah ini sampai sekarang masih eksis. Bahkan banyak selebritis Hollywood merupakan anggota dari Kabbalah Center of Los Angeles. Madonna merupakan ikon Kabbalah Hollywood. Dan sepertinya bukan kebetulan jika JK. Rowling memilih Daniel Radclife sebagai pemeran Harry Potter, di mana Radclife merupakan seorang anak Yahudi Inggris.


Sihir dan Islam


Harry Potter jelas telah menegaskan kepada jutaan anak-anak dunia jika sihir itu ada yang baik (White Magic) dan ada yang jahat (Black Magic). Ini merupakan salah satu racun yang dibenamkan JK. Rowling kepada jutaan anak-anak dunia dengan cara yang sangat halus dan lihai. Islam telah dengan sangat jelas menegaskan jika sihir itu merupakan bentuk kekufuran dan tentu saja dilarang keras.


Allah Swt telah berfirman dalam kitabullah: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu jangnalah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (al-Baqarah: 102)


Dari ayat itu bisa disimpulkan jika mengajarkan sihir adalah bentuk kekufuran, mempelajari sihir juga termasuk kekufuran dan dari bagian kedua disebutkan bahwa sihir itu adalah ujian.


Dalam hadits shahih Bukhary-Muslim, Rasulullah Saw bersabda, “Jauhilah tujuh perkara yang akan membinasakan.” Para shahabat bertanya: “Apa itu?” Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa tanpa alasan yang haq, makan riba, memakan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh orang-orang yang beriman yang menjaga diri dari lalai.”


Dalam riwayat Tirmidzi, Jundub bin Ka’ab AsSa’di meriwayatkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa dalam hukum Islam hukuman dari pelaku sihir adalah dipenggal dengan pedang. Tentu saja, hal ini hanya boleh dilakukan oleh suatu pemerintahan Muslim, bukan suatu kewajiban individuil.


Sikap Kita


Serial Harry Potter jelas mengajarkan sihir. Bahkan para peneliti Barat sendiri menyatakan jika Harry Potter merupakan Handbook of Occult, Buku Pegangan Okultisme. Sebelum para ulama meributkan Harry Potter, para pendeta di banyak gereja di Barat, juga di kalangan pendidiknya, telah menyatakan jika serial fiksi ini memang mengandung suatu muatan yang berbahaya bagi anak-anak.


Nah, bagi mereka yang sudah kadung kagum dan menyukai serial Harry Potter, hendaknya mengetahui hal ini semua agar kita bisa membaca secara kritis, bukan mentah-mentah memasukkan semua hal yang ada di dalam serial tersebut tanpa memamahnya terlebih dahulu. Apalagi jika kita ikut-ikutan bermain seperti para karakter yang ada di dalam serial tersebut.


Di sisi lain, hal ini juga merupakan tantangan tersendiri bagi para penulis dan sineas Muslim dan yang perduli terhadap hiburan yang sehat bagi anak-anak, untuk bisa berkarya dengan baik sehingga anak-anak seluruh dunia bisa memperoleh hiburan yang bermanfaat namun benar-benar menyenangkan.


Dan bagaimana dengan Anda semua? Semuanya kini berpulang kepada diri kita masing-masing. You Decide! (Tamat/ridyasmara)    


*eramuslim.com


 


(read more ...)



JK. Rowling menggunakan anagram dengan menuliskan “Desire” sebagai “Erised”. Anagram merupakan penyandian kata atau kalimat yang sering digunakan Ksatria Templar dan kelompok-kelompok okultis lainnya.

Sekarang, kita akan mengulas satu demi satu simbol, benda, istilah, dan segala hal yang terkait dengan sihir. Tentu tidak semuanya karena hal itu teramat banyak terdapat di dalam buku maupun film pertamanya. Beberapa di antaranya adalah:


Burung Hantu (The Owl)   


Burung Hantu sekarang sering diidentikkan sebagai simbol kebijaksanaan dan pengetahuan. Ini sebenarnya pengertian yang salah dan sudah dimanipulasi. Simbol Burung Hantu (The Owl) bersumber dari akar kabbalah dalam ritus Osirian Mesir Kuno yang mewakili sosok Dewi Iblis bernama Lilith. Burung ini sejak lama menjadi simbol bagi okultisme, shamanisme, dan sejumlah ritus Luciferian (penyembahan setan).


Dalam mitologi okultisme, Dewi Iblis Lilith diyakini sebagai isteri pertama Adam sebelum Eva. Disebabkan Lilith ingin menguasai semuanya, termasuk menguasai Adam, maka dia dibuang ke bumi dan kemudian menikah dengan Lucifer, The Fallen Angel, yang juga dibuang dari surga ke bumi.  Perkawinannya dengan Lucifer menghasilkan Baphomet, mahluk setengah manusia setengah binatang dan juga mahluk androgini (berkelamin ganda). Atau yang lebih dikenal sebagai Kambing Iblis atau Goat Mendez. Ini merupakan simbol utama Gereja Setan. Simbol kepala Baphomet ini ada dalam arsitektur tata ruang Menteng, wilayah elit yang dibangun Freemasonry Belanda di awal abad ke-20 sebagai pusat kekuasaan Jakarta dan juga Indonesia.


Illuminati dan Bohemian Groove merupakan dua kelompok rahasia Luciferian yang mengambil The Owl sebagai salah satu simbol utamanya.


Orang-Orang Berjubah Hitam


Jubah hitam merupakan pakaian ritual kaum Luciferian atau penyembah setan. Gereja setan, seperti halnya Illuminati, Freemasonry, Rosikrusian, juga mengenakan jubah hitam dalam menyelenggarakan ritualnya.


Kucing


Kucing merupakan hewan kesayangan Firaun dan seekor binatang yang dekat dengan kultur sihir Osirian Mesir. Kucing hitam dalam mitologi Barat dan Okultisme dikenal sebagai The Devil Cat atau Kucing Setan. Dalam kepercayaan tahayul sebagian masyarakat kita pun dulu dikenal jika orang mati dilompati kucing hitam maka dia akan bisa hidup kembali atau arwahnya menjadi penasaran.


Tanda Kilat (Lightning atau Thunderbolt)


Voldemort membunuh kedua orangtua Harry Potter namun gagal menghabisi Harry Potter yang masih bayi. Voldemort hanya berhasil membuat luka gores di jidat Harry Potter dimana luka gores itu (Scarface) berbentuk kilatan halilintar atau yang dikenal juga sebagai Thunderbolt. Kilatan halilintar itu mirip dengan simbol kilat menyerupai huruf S. Ini pun merupakan simbol iblis. Dan simbol ini masih membekas dengan cukup nyata di kening Harry Potter hingga dia dewasa.


Tahukah Anda jika simbol kilat yang sama juga dipakai oleh Anton Szandor La Vey, pendiri Gereja Setan, sebagai salah satu simbol medalion Gereja Setannya, di mana simbol kilat diletakkan di tengah simbol Pentagram terbalik (Baphomet).


Selain itu, simbol kilat serupa juga dipakai sebagai simbol pasukan elit Nazi Hitler, SS-Waffen, yang juga merupakan pasukan rahasia okultis Hitler di bawah komando Heinrich Himler. Kekristenan menganggap simbol kilat ini sebagai perwujudan setan. Dalam Injil Lukas 10: 18, Yesus disebutkan mengatakan, “Aku melihat setan jatuh dari surga bagaikan kilat.” Kemudian, “Dan kalian akan melihat, namanya akan tergores di bagian depan wajahnya.” (Rev 22:4)


Ular (The Snake)


Serial Harry Potter sangat banyak menggunakan binatang yang satu ini. Paham okultisme meyakini jika ular merupakan simbol kebijaksanaan. Ketika turun ke bumi mengikuti Adam, Lucifer juga diyakini mengambil perwujudan seekor ular. Dalam kepercayaan sihir bangsa-bangsa purba, ular memang dikenal dekat dengan kepercayaan satanic. Hal ini berlaku sampai sekarang.


Mirror of Erised


Dalam serial pertamana, terdapat sebuah cermin yang bisa mewujudkan keinginan Harry Potter, disebut sebagai The Mirror of Erised (Bab 12). Disini JK. Rowling menggunakan sebuah anagram dengan menuliskan “Desire” sebagai “Erised”. Anagram merupakan salah satu bentuk penyandian kata atau kalimat yang sering digunakan Ksatria Templar dan kelompok-kelompok okultis lainnya untuk menyembunyikan pesan rahasia mereka. Salah satu keinginan Harry Potter adalah melihat sosok kedua orangtuanya yang diwujudkan oleh cermin tersebut.


Siapa pun tahu, cermin merupakan perangkat utama okultisme dalam melihat masa lalu dan masa depan (meramal). Dalam buku “A-Z of Wicca” (Gernina Dunwich, hal.114) disebutkan, “Praktik peramalan yang merpakan praktik sihir untuk mengetahui masa lalu, sekarang, atau masa depan selalu menggunakan media cermin atau kaca, bola kristal, lilin, bayangan air, dan sebagainya.”


Ensiklopedia Okultisme juga menyinggung tentang benda yang satu ini. Dikatakna, “Orang-orang yang mempelajari okultisme selalu menggunakan cermin untuk bisa melihat dunia roh…” (Gerald & Grosset, Dictionary of the Occult, p. 153)


Dalam serial pertama Harry Potter, cermin tersebut memang digunakan Harry untuk bisa bertemu dengan roh kedua orangtuanya. Orang-orang Kristen Barat menuding JK. Rowling mengajarkan sesuatu yang dilarang oleh agama mereka, sebab Alkitab jelas-jelas melarang praktek-praktek menghubungi atau menghadirkan roh orang mati (Deuteronomy 18:11). Alitab juga dengan tegas juga menyatakan jika orang yang masih hidup tidak akan bisa berhubungan dengan orang yang sudah mati (Lukas 16:19-31).


Alkemi dan Nicholas Flamel


Alkemi merupakan ilmi kimia abad pertengahan di Eropa yang konon mampu mengubah logam biasa menjadi emas. “Secara simbolis, ilmu kimia abad pertengahan adalah suatu seni yang kebatinan untuk mengubah bentuk manusia yang rohani ke dalam suatu format yang lebih tinggi dan abadi." (Geddes& Grosset, Dictionary of the Occult, hal. 15-17).


Sejarah dunia mengenal salah seorang tokoh Alkemi utama bernama Nicholas Flamel, di mana nama ini dengan jelas telah dipakai JK. Rowling sebagai salah satu karakter serial pertama Harry Potter yang menjaga batu bertuah. Salah satu Ritual Masonic memang dekat dengan penggunaan batu-batu yang setelah melalui prosesi sihir tertentu dianggap memiliki tuah atau keajaiban.


Selain yang sudah dipaparkan di atas, ada banyak simbol-simbol atau mahluk Okultis lainnya yang dipaparkan dalam Harry Potter serial pertamanya, antara lain: Quidditch, Sapu Terbang, Nimbus, Anjing Berkepala Tiga, Quirell, dan Catur.


Yang belakangan, Catur (The Checkered) jelas-jelas merupakan simbol Freemasonry. Hampir seluruh loji Freemasonry di seluruh dunia memiliki lantai kotak-kotak hitam putih yang disebut The Checkered Floor, yang digunakan dalam ritual inisiasi calon Mason baru atau kenaikan derajat keanggotaan.


Inisiasi Lindsay Lohan sebagai anggota The Kabbalah Center of Los Angeles dilakukan Madonna di atas panggung pembukaan MTV Award di tahun 2003 di mana lantai panggung didesain berbentuk papan catur. (bersambung/ridyasmara)


*eramuslim.com


 


(read more ...)



Sebagai seorang yang telah mendalami sihir dan okultisme di Exeter University, Rowling tidak sembarangan mencomot nama bagai karakter-karakternya. Semua nama karakternya memiliki simbolisme atau terkait dengan nama-nama atau istilah okultisme.

Tidak salah jika banyak orang menganggap serial pertama Harry Potter sebagai sejenis buku pengantar ke dalam dunia sihir. Dalam serial pertamanya, Harry kecil, anak seorang Muggle (kaum yang tidak suka pada sihir), diperkenalkan dengan dunia sihir. Hal itu mengubahnya menjadi seorang anak yang sangat gandrung dengan sihir. Hal yang sama, mungkin tanpa disadari, juga dialami jutaan anak kecil yang membaca dan melihat film pertamanya. Jutaan anak-anak di dunia yang tadinya awam dengan dunia sihir, bisa diubah seratus delapan puluh derajat. Apa yang dialami Harry Potter, juga dialami jutaan anak-anak tersebut.


J.K. Rowling sangat paham jika nama-nama karakter di dalam novel (juga di dalam film) sangat besar pengaruhnya bagi orang yang membaca atau memirsanya. Sebagai seorang yang telah mendalami sihir dan okultisme di Exeter University, Rowling tidak sembarangan mencomot nama bagai karakter-karakternya. Semua nama karakternya memiliki simbolisme atau keterkaitan dengan nama-nama atau istilah okultisme. Inilah beberapa di antaranya:  


Harry Potter


Harry adalah sebutan akrab untuk “Harold” yang memiliki arti sebagai “Panglima Perang”. Konon, nama ini diambil oleh Rowling dari nama seorang sahabatnya sewaktu masih anak-anak.


Ron Weasley


Dia merupakan sahabat dekat Harry Potter bersama Hermione Granger. Ron Weasley bisa diterjemahkan sebagai "Running Weasel" dalam bahasa yang lain. Hal ini terkait dengan mitologi tentang jagoan main catur Dinasti Keenam. Ron juga berarti “Penasihat Sang Raja.”


Hermione Granger


Hermione Granger adalah gadis cantik yang bersama Ron Weasley merupakan sahabat dekat Harry Potter. Hermione memiliki arti sebagai “Sang pembawa pesan”. Dalam mitologi Yunani, Hermione disamakan dengan Hermes, The Messenger of the Gods. Hermione juga dipakai oleh Shakespeare sebagai nama seorang ratu dalam “The Winter Tale”.  


Albus Dumbledore


Albus Dumbledore merupakan Kepala Sekolah Hogwarts. Albus merupakan istilah latin untuk “Putih”, sedangkan Dumbledore sebuah istilah Inggris kuno yang berarti “lebah besar yang berbulu”. Untuk istilah yang terakhir, Rowling menyatakan jika dia menamakan karakter ini karena orangua berjanggut putih panjang ini suaranya seperti bergumam, mirip dengan dengungan lebah. Hanya saja, istilah “Albus” sebenarnya nama figur Geomancy (sejenis Feng Shui) yang memiliki arti sebagai Yang Bijak, Pemecah Masalah Yang Baik, dan juga merujuk pada Yang Tercerahkan. Arti yang terakhir ini sama artinya dengan istilah Illuminatrix atau Iluminaty.


Minerva McGonagall


Dia adalah wakil dari Albus Dumbledore. Minerva adalah nama Dewi Kebijaksanaan dan Dewi Kesenian bangsa Romawi, juga Dewi Perdagangan dan Seni Perang. Sedangkan “McGonagall” merupakan nama Skotlandia yang berarti Pemberani.


Argus Filch


Argus Filch merupakan salah seorang pejabat di Hogwarts. “Argus” adalah nama sebuah monster dalam mitologi Yunani yang memiliki ribuan mata. Sedangkan “Steal” artinya “Pencuri”.


Sirius Black


Sirius Black merupakan bapak baptis dari Harry Potter. Sirius merupakan nama sebuah rasi bintang berbentuk seekor anjing, sebab itu Sirius juga disebut sebagai “Bintang Anjing”. Ini merupakan bintang paling terang di angkasa. Dalam bahasa Yunani, Sirius ditulis sebagai “Seirios” yang artinya “Membara”. Namun Rowling menggandengkannya dengan kata “Black” yang tidak ada arti lain selain kegelapan. Rowling jelas tengah memainkan lakon “Seni Manipulasi Illuminaty” yang memang sering memainkan logika manusia dengan dua hal yang saling bertolak-belakang.


Hampir semua keluarga Sirius Black diberi nama bintang: Bellatrix, Regulus, Andromeda dan Draco. Ritual Mesir kuno, Kabbalah, memang gemar dengan perhitungan perbintangan.


Rubeus Hagrid


Dia merupakan satu-satunya sahabat dan pelindung Harry Potter yang bertubuh raksasa. Hagrid sendiri bisa berarti Raksasa, namun juga memiliki arti sebagai Peminum. Rubeus Hagrid merupakan dewa yang paling ramah. Walau demikian, Hagrid dituduh oleh Hades untuk ikut bertanggungjawab atas terbunuhnya anak Perseus yang telah membunuh Medussa, sebab itu dia dilarang ke Olympus. Oleh Zeus, Dewa Tertinggi, Hagrid dikasihani dan dia memberikan Hagrid suatu tugas untuk menjaga seekor monster yang baik (suatu kontradiksi lagi seperti halnya Sirius Black) yang berada di Olympus.    


Draco Malfoy


Musuh Harry Potter, penghuni asrama Slytherin. Draco dalam bahasa latin berarti Naga. Dalam legenda latin kuno, merujuk pada monster naga. Sedangkan “Malfoy” sesungguhnya dua nama yang disatukan: Mal dan Foy. “Mal” dalam bahasa latin dan Spanyol berarti “Yang jelek” yang biasanay merujuk pada sosok Setan. Sedangkan “Foy” dalam bahasa latin berarti “Kepercayaan”. Sebab itu, Malfoy bisa diartikan sebagai “Kepercayaan kepada Setan”.   


Lucius Malfoy


Ini nama ayah dari Draco Malfoy. Lucius adalah istilah lain untuk Lucifer, yang diyakini sebagai nama Dajjal. Namun bagi kalangan okultis, Lucius atau Lucifer diartikan sebagai Sang Cahaya (Luciferis), sama artinya dengan istilah “Illuminaty” (Cahaya). Nama Lucius juga dipakai oleh salah seorang penguasa Roma, bernama Seneca yang memiliki nama lengkap Lucius Annaeus Seneca, seorang negarawan ternama, filsuf, dan orator. Tiga Paus juga dilahirkan dengan nama Lucius. Walau demikian, sekarang ini sepertinya nama Lucius sudah dianggap menjadi nama banyak orang-orang penting dunia.


Narcissa Malfoy


Isteri dari Lucius Malfoy dan ibu dari Draco Malfoy. Dalam mitologi Yunani Kuno, nama Narcissa merujuk pada seorang tokoh yang mencintai dirinya sendiri saat dia melihat bayangan dirinya di danau yang jernih. Istilah “Narsis” sekarang ini berasal dari mitologi Narcissa.


Severus Snape


Dia adalah Kepala Asrama Slytherin. Severus adalah nama lain dari “Severe” yang memiliki arti sebagai Kasar, Berbahaya, Tidak disukai banyak orang karena kehadirannya selalu menimbulkan kegelisahan, Memiliki ego yang besar, dan sebagainya. Sedangkan “Snape” merupakan nama seekor ular di Slytherin.


The Grey Lady


Dia adalah nama hantu yang menghuni sekolah Hogwarts. Sosok yang satu konon benar-benar nyata dan menjadi satu legenda di Benteng Chilingham di Alnwick, Northumberland. Benteng atau Kastil tersebut terkenal angker karena pernah dalam sejarahnya banyak orang disiksa hingga mati di salah satu kamarnya. Salah satu hantu yang paling terkenal, bernama The Grey Lady, yang sering menganggu orang dengan rintihan dan bunyi tapak kaki di gang-gang dan tangga. Entah disengaja atau tidak, film Harry Potter juga mengambil lokasi di kastil angker tersebut. (bersambung/ridyasmara)


*eramuslim.com


 


(read more ...)



Selama kuliah di Universitas Exeter-Inggris, JK. Rowling juga mendalami okultisme dan ritual-ritual sihir secara resmi. Ini dikatakan Mastrisciana.

Dalam video berjudul “Harry Potter: Witchcraft Repackaged video” yang banyak disertakan dalam diskusi para pendidik dan gereja di Amerika dan juga Inggris, salah seorang narasumber bernama Mastrisciana menyatakan jika JK. Rowling selama di Universitas Exeter tidak hanya mempelajari bahasa Perancis, namun juga mendalami okultisme di sana.” (Martha Kleder for Concerned Women for America-WMA, “Harry Potter: Seduction of the Occult”, Dec 2001).


Apa yang dikatakan Mastrisciana memang sangat beralasan karena Universitas Exeter secara resmi mengajarkan okultisme dan paganisme dengan segala pernak-perniknya kepada para mahasiswanya. Universitas Exeter memiliki jurusan tersendiri untuk pendidikan okultisme, yang terdapat dalam spesifikasi program “Western Esotericism” di bawah HuSS (School of Humanities and Social Sciences).


Program bergelar Master of Arts Western Esotericism (MA-Western Esotericism) ini mempunyai modul-modul pembelajaran, antara lain:



  • Alexandrian Hermetism, Neo-Platonism, dan Astrology (15 satuan kredit)

  • The Hermetic Art of Alchemy (15 satuan kredit)

  • Pencerahan Kabbalah dan Pengaruhnya (15 satuan kredit)

  • Rosicrucianism dan Freemasonry (15 satuan kredit)

  • Theosophy dan Esotericism Global (30 satuan kredit)

  • Tradisi Esoteric dalam Literatur dan Masyarakat Inggris 1550 - 1670 (15 satuan kredit)

  • The Esoteric Body (15 satuan kredit)

  • Sufism and Islamic Devotional Life (15 satuan kredit)

  • Heretics and Mystics: Language, Society and the Divine 1300-1500

  • Witchcraft in History (30 satuan kredit)

  • The Disenchantment of the World? Society and the Supernatural in Early Modern Europe (30 satuan kredit), dan sebagainya.


Mengingat program ini merupakan program paruh waktu (part-time programme) yang bisa diikuti selama 23 bulan dengan keseluruhan 180 satuan kredit, maka pertanyaannya: “Adakah JK. Rowling telah mengikuti program ini?” Berbagai buku dan literatur yang ada mengenai Harry Potter belum ada yang menerangkan soal yang satu ini.


Walau demikian, faktanya adalah jika JK. Rowling sangat memahami dan menguasai pengetahuan tentang sihir dan praktek-praktek ritualnya, yang secara jelas bisa dibaca siapa saja dalam ketujuh serial Harry Potter. JK. Rowling bukanlah seorang ibu biasa.


Harry Potter and The Sorcerer Stones


Kepada penerbitnya, JK. Rowling pernah bercerita jika sejak dia menggarap novel pertama Harry Potter, maka di benaknya sesungguhnya telah tersimpan serial Harry Potter secara lengkap, hingga seri ketujuh di mana Rowling menyatakan salah seorang tokoh penting akan menemui kematian.


Serial pertama berjudul “Harry Potter and The Philosopher Sone’s” yang setahun kemudian di Amerika diganti menjadi “Harry Potter and The Sorcerer Stone’s” mengisahkan tentang awal perkenalan Harry Potter yang sesungguhnya dari kaum Muggle—kaum yang tidak menyukai dunia sihir—dengan ilmu sihir.


Sinopsis singkatnya adalah: Pada suatu pagi dalam perjalanannya ke kantornya, Uncle Vernon Dursley melihat banyak hal-hal aneh terjadi. Ia menemui kucing yang dapat membaca peta di sudut jalan Privet Drive, orang-orang berjubah hitam, dan burung hantu yang terbang di siang hari. Padahal burung hantu diketahuinya hanya terbang di malam hari. 


Paman Dursley berfikir bahwa kejadian aneh tersebut ada hubungannya dengan saudara iparnya yang bernama Lily dan Potter. Paman Dursley adalah orang yang tidak percaya pada mistik atau sihir.  Sebab itu, dia dan istrinya (Petunia) tidak mau jika mereka berdua dihubungkan dengan Lily dan Potter sebagai penyihir. Paman Dursley dan bibi Petunia tinggal Privet Drive no. 4 Inggris bersama dengan anak mereka yang bernama Dudley dan seorang keponakan yang masih kecil bernama Harry Potter.


Sementara itu, Kepala Sekolah Hogwarts, penyihir Albus Dumbledore bertemu Profesor Minerva McGonagall, bawahannya di Hogwarts, serta seorang manusia raksasa yang bernama Hagrid di luar rumah keluarga Dursley. Dumbledore bercerita jika Voldemort telah membunuh Lily dan Potter, tetapi dia tidak berhasil membunuh bayi mereka yang bernama Harry. Voldemort hanya bisa menorehkan tanda kilat di kening Harry Potter, satu simbol yang terus membekas hingga Harry besarnanti. Dumbledore menyelamatkan Harry dan menaruhnya di depan pintu rumah keluarga Dursley yang mempunyai hubungan keluarga dengan Harry. Dumbledore ingin mengajak Harry untuk bersekolah di Hogwarts.


Saat ulang tahun Dudley yang ke-10 Harry diajak ke kebun binatang. Di sinilah seekor ular Boa dari Brazil tiba-tiba ular membuka matanya dan berkata kepada Harry jika dia bosan tinggal di situ. Tiba-tiba kaca bagian depan kandang ular lenyap dan ular itu meluncur keluar. Paman Dursley pun  menghukum Harry.


Surat misterius yang ditujukan untuk Harry datang ke rumah keluarga Dursley. Surat itu datang terus dan jumlahnya semakin banyak. Dursley marah ketika Harry meminta surat tersebut. Akhirnya Dursley membawa keluarganya mengungsi ke gubuk kecil diatas karang besar yang menjorok ke laut. Tepat jam dua belas malam saat ulang tahun Harry yang ke-11, Hagrid datang ke gubuk itu bersamaan dengan badai dan ombak besar yang menghantam batu karang. Hagrid membawa surat dari Prof. McGonagall untuk membawa Harry ke Hogwarts. Hagrid juga bercerita jika ayah ibu Harry sebenarnya meninggal dibunuh Voldemort. Harry kaget, apalagi ketika mengetahui jika ayah dan ibunya merupakan penyihir terkenal.


Hagrid membawa Harry ke London, berbelanja berbagai keperluan sekolahnya. Sebelum belanja, Hagrid mengajak Harry ke Gringotts untuk mengambil uang. Gringotts adalah nama bank tempat penyihir menyimpan uang. Di toko Madam Malkin, Harry bertemu Darco Malfoy yang sombong dan arogan. Ia memamerkan berbagai benda dan hal-hal yang berkaitan dengan dunia sihir hingga membuat Harry muak padanya. Namun di situlah Harry berkenalan dengan benda-benda sihir.


Pada 1 September, Dursley mengantarkan Harry ke stasiun King’s Cross. Harry harus mencari peron sembilan tiga perempat untuk menemukan kereta “Hogwarts Ekspres” yang akan membawanya ke Hogwarts. Harry duduk bersama Ron. Ron banyak bercerita mengenai dunia sihir yang belum dikenal Harry. Harry dan Ron kemudian berkenalan dengan Hermione.


Harry harus melewati seleksi karakter untuk masuk ke kelompok Gryffindor. Saat pelajaran ramuan yang diajar Prof Severus Snape, Harry dicecar pertanyaan yang semuanya tidak dapat dijawabnya. Terlihat kebencian dari pandangan Prof. Snape kepada Harry. Harry menceritakan perlakuan Snape kepada Hagrid saat Hagrid mengundangnya minum teh di rumahnya. Di rumah Hagrid, Harry membaca artikel yang memuat berita pencurian yang gagal di ruangan besi no. 713 di Gringotts.


Singkat cerita Harry bisa bergabung dengan kelompok Gryffindor dan mengikyti pertandingan Quidditch pertamanya. Namun sapu Harry menjadi tak terkontrol. Hermione melihat Snape sedang membaca mantra dan membuat sapu Harry tak terkontrol. Hermione menghentikan mantra Snape dengan membakar jubah Snape dan kemudian memadamkannya sebelum Snape tahu jika Hermione yang melakukannya. Sapu terbang Harry kembali terkontrol dan Gryffindor berhasil memenangkan pertandingan. Sebuah akhir yang membahagiakan.


Di hari Natal, Harry mendapat bingkisan dari ayahnya yang dititipkan pada Prof. Dumbledore berupa jubah gaib. Siapapun yang menggunakan jubah itu, ia tidak akan terlihat. Harry memakainya untuk mengelilingi ruangan di Hogwarts hingga akhirnya ia menemukan Mirror of Erised. Saat Harry melihat cermin itu, ia dapat melihat kehidupan ayah ibunya.


Setelah natal berlalu, Harry, Ron, dan Hermione mulai memecahkan misteri hubungan antara kejadian perampokan di Gringotts dengan sebuah barang yang dijaga anjing berkepala tiga. Dari buku yang dibaca di perpustakaan mereka akhirnya mengetahui bahwa yang dijaga anjing berkepala tiga adalah sebuah batu bertuah yang pernah dibuat oleh Nicolas Flamel dan Dumbledore serta menjanjikan kehidupan abadi bagi yang berhasil mendapatkannya. Harry melihat sosok berkerudung meminum darah unicorn. Unicorn adalah makhluk berkepala manusia tetapi berkaki kuda dan dapat berbicara. Sosok berkerudung itu mencoba menyerang Harry, namun Harry berhasil diselamatkan oleh Centaurus yang mengatakan bahwa sosok itu adalah Voldemort. Harry juga telah mengetahui Voldemort mencoba mencuri batu bertuah.


Harry memutuskan bahwa ia harus mendapatkan batu bertuah sebelum Voldemort mendapatkannya. Malam harinya Harry, Ron, dan Hermione mnyelinap masuk ke koridor terlarang di lantai tiga. Harry harus melewati beberapa rintangan untuk mencapai ruangan tempat batu bertuah di simpan.


Di rintangan pertama Harry berhasil mengalahkan anjing berkepala tiga dengan memainkan seruling. Harry mendapatkan cara tersebut dari Hagrid karena anjing itu kepunyaan Hagrid. Permainan catur berhasil di taklukkan Ron walaupun ia harus terluka dan meminta Harry serta Hermione melanjutkan rintangan berikutnya.


Rintangan selanjutnya, Harry dan Hermione harus menentukkan ramuan mana yang dapat digunakan untuk membuka pintu. Hermione berhasil memecahkan teka-teki tersebut. Namun hanya satu orang yang bisa masuk ke dalam ruang berikutnya untuk melanjutkan permainan. Harry masuk dan menghadapi rintangan berikutnya. Harry bertemu dengan Quirell pada rintangan berikutnya dan Quirell ingin membunuh Harry.


Mengetahui Harry berniat mengambil batu bertuah, maka Quirell menyuruh Harry berdiri di depan Mirror of Erised melihat apa yang terjadi dan mengatakannya pada Quirell. Harry melihat dirinya mendapatkan batu bertuah dan menyimpannya di saku. Pada saat yang sama ia merasakan batu itu telah berada di dalam sakunya. Harry berbohong pada Quirell mengenai apa yang dilihatnya. Tiba-tiba Quirell mengurai surbannya dan dari belakang kepala tampak sepotong wajah mengerikan. Voldemort telah masuk ke tubuh Quirell dan menyerang Harry hingga pingsan.


Saat sadar, Harry berada di rumah sakit ditemani Prof Dumbledore. Dumbledore datang menyelamatkan Harry pada saat yang tepat. Ia juga mengatakan telah menghancurkan batu bertuah bersama Nicholas Flamel.Setelah kondisinya pulih, Harry, Ron, Dan Hermione mendapat poin atas apa yang telah mereka lakukan sehingga Gryffindor memenangkan piala asrama. Liburan musim panas tiba dan Harry memilih pulang untuk menghabiskan liburannya bersama keluarga Dursley. Serial pertama pun tamat.


Di kisah pertamanya ini, kita akan banyak mendapati benda-benda mistik, simbol-simbol okultis, dan hewan-hewan yang terdapat dalam berbagai legenda sihir yang sebenarnya memang diyakini dalam dunia gelap hingga sekarang. Tulisan berikutnya insya Allah akan memaparkan satu-persatu semua itu berikut gambar dan fotonya. (bersambung/ridyasmara)


*eramuslim.com


(read more ...)



Wawasan JK. Rowling yang begitu dalam mengenai ritual dan simbol pagan-okultisme diyakini berasal dari dua latar belakang kehidupannya: Edinburgh dan Universitas Exeter.

Wawasan JK. Rowling yang begitu dalam mengenai ritual dan simbol pagan-okultisme diyakini berasal dari dua latar belakang kehidupannya: Pertama, dari sejarah masa lalu kota Edinburgh di mana JK. Rowling menggarap novel Harry Potter pertamanya, dan kedua, dari Universitas Exeter yang memang dikenal sebagai lembaga pendidikan yang sarat dengan pengajaran okultisme. Inilah penjabarannya :


Edinburgh


Kota Edinburgh berada di Teluk Fort yang berhadapan langsung dengan Laut Utara. Ia berada di Barat Skotlandia, berbatasan dengan kota Berwick on Tweed di Utara Great Britain. Sebelah timur Edinburgh berdiri kota Glasgow yang juga berada di dataran rendah.


Sejarah dunia mengenal kota kelahiran Harry Potter, Edinburgh, sebagai tempat pelarian utama para Ksatria Templar ketika Paus Clement V dan Raja Philip le Bel dari Perancis menumpasnya dari daratan Eropa di tahun 1307.


Kala itu, Skotlandia merupakan satu-satunya wilayah di Eropa yang bebas dari pengaruh Vatikan karena tengah diekskomunikasikan. Para Templar diterima dengan tangan terbuka oleh Raja Skotlandia, Robert de Bruce, dan mereka akhirnya menguasai serikat tukang batu bernama Mason yang kemudian dari nama ini para Templar mendirikan organisasi rahasia mereka yang baru: Freemasonry.


Sampai sekarang, markas para Freemason di seluruh dunia dinamakan “Loji”, “Loge”, atau “Lodge”, yang berasal dari sebutan gilda atau asrama tukang batu Skotlandia yang memang bernama Loji. Gedung Bappenas sekarang yang ada di Menteng, Jakarta Pusat, merupakan salah satu dari banyak Loji Freemasonry yang masih aktif sampai dengan tahun 1962.


Di Edinburgh inilah, para Mason Bebas mempraktekkan ilmu sihir Kabbalah dan menyelenggarakan ritual Luciferianistiknya. Di atas sebuah bukit, dekat Edinburgh dan hanya berjarak 15 kilometer dari pusat Templar kuno di Balantrodoch, para Templar mendirikan sebuah kapel yang awalnya diakui sebagai kapel keluarga, walau setelah pembangunannya selesai, kapel yang ada sama sekali tidak bisa disebut sebagai kapel keluarga karena terlalu mewah, besar, dan bernilai jika hanya dipakai oleh keluarga. Namun kalau yang dimaksud dengan istilah ‘keluarga’ adalah “Keluarga Besar Templar” atau “Persaudaraan para Templar” maka ini bisa saja. Pembangunan kapel ini dipimpin langsung oleh William St Clair.


Para Mason dan Rosicrusian terpilih didatangkan dari sejumlah negara Eropa untuk membangun kapel yang dinamakan Rosslyn Chapel. Selain didedikasikan kepada para Templar dan para leluhurnya, juga sebagai bentuk penghormatan pada para dewa-dewi, Kapel Rosslyn dipercaya didirikan sebagai bentuk tantangan kepada Gereja Katolik dan Paus. “Kami masih ada dan berdiri tegak setelah 150 tahun engkau menumpas kami!” mungkin seperti ini pesan para Templar terhadap Gereja.


Tidak seperti gereja pada umumnya, pembangunan dan arsitektur Kapel Rosslyn yang diselesaikan pada tahun 1450 sungguh-sungguh kental dengan segala ornamen dan simbol yang merepresentasikan keyakinan para Mason. Selain gereja, di sekeliling daerah itu juga dibuka sebuah perkampungan guna dijadikan tempat penampungan para Mason dan Rosicrusian yang bekerja membangun gereja ini.   


Arsitektural kapel tersebut sungguh unik dan tiada duanya di seluruh daratan Eropa, bahkan dunia. Mungkin hanya Kuil Herod (Haikal Sulaiman) yang mampu menyamai kerumitan dan keindahan, sekaligus keseraman, arsitektural Rosslyn. Kapel ini dengan sangat tepat menangkap atmosfir Kuil Herod. Nyaris seluruh bagian dari kapel ini dihiasi dengan simbol-simbol Masonik. Di antara simbol itu adalah relief di dinding-dinding dan lengkungan-lengkungan yang menggambarkan kepala Hiram Abiff dan pembunuhnya, sebuah relief dari suatu upacara pembaiatan, dasar-dasar dari lengkungan, dan kompas-kompas.


Kapel ini diwarnai oleh warna paganisme dan okultisme yang kental, di mana di dalamnya bercampur elemen arsitektural gaya Mesir, Yahudi, Gothik, Norman, Celtik, Skandinavia, Templar, dan Masonik. Inilah puncak dan maha karya dari para tukang batu (Mason) saat itu. Salah satu aspek yang paling unik adalah puncak-puncak tiangnya yang didekor dengan motif bunga lili, kaktus, dan jagung, di samping bermacam-macam bentuk tanaman lainnya.


Dikarenakan banyaknya elemen dekoratif pagan di dalam kapel ini, sehingga seorang pendeta, yang menuliskan kisah tentang pembaptisan yang dilakukan oleh Baron Rosslyn,  tahun 1589 mengeluh, “Karena kapel dipenuhi oleh patung-patung pagan, tidak ada tempat yang sesuai untuk menyelenggarakan Sakramen”. Ini artinya tiada tempat yang bersih dari simbol-simbol paganisme. Namun pada tanggal 31 Agustus 1592, berkat tekanan yang dilakukan terhadap Baron Oliver St. Claire dari Rosslyn, altar kapel yang bergaya pagan dihancurkan.


Rosslyn sendiri dalam bahasa Gaelik memiliki arti sebagai “Pengetahuan kuno yang diwariskan dari generasi ke generasi”, ini memiliki arti yang sama dengan Kabbalah yakni “Pengetahuan Rahasia kuno yang diturunkan secara turun-temurun lewat lisan”.


Adik kandung JK. Rowling, Diana, tinggal di kota ini. Dan ketika menggarap novel pertamanya, entah novel-novel berikutnya, Rowling menumpang di rumah Diana tersebut. Rowling biasa menulis di kafe-kafe di sekitar rumahnya itu. Tidak disebutkan apakah dia bepergian juga atau melakukan riset dengan mengunjungi Rosslyn Chapel, dan atau melakukan wawancara atau bersahabat erat dengan sejumlah tokoh Mason di sana. Namun warna Okultisme yang memang banyak di Edinburgh, memang menjadi “darah” bagi serial Harry Potter-nya.


Universitas Exeter


Motto Universitas Exeter adalah “Lucem sequimur” yang berarti “Kami Mengikuti Cahaya”. Mungkin bagi orang awam, istilah “Cahaya” di sini dipersepsikan sebagai ilmu pengetahuan. Namun dalam paganism-codex, “Light” atau “Cahaya” merupakan nama lain daripada “Lucifer”.


Wikipedia menyebut Exeter, Inggris, dengan kalimat, “Exeter ialah sebuah kota di Inggris. Merupakan ibukota Devon. Penduduknya berjumlah 100.000. Di kota ini ada sebuah katedral, reruntuhan kastil, dan sejumlah dinding peninggalan Kekaisaran Romawi. Exeter dibangun oleh bangsa Romawi, yang menyebutnya Isca Dumnoniorum. Setelah mereka meninggalkannya dan bangsa Anglo-Sakson pindah di abad ke-7, nama ini diubah menjadi Exeter. Kemudian Exeter menjadi pusat perlawanan dalam penaklukan Normandia. Sekarang kota ini menjadi tempat kedudukan Meteorological Office, yang memperkirakan cuaca di negeri ini.


Yang menarik, di bawah keterangan ini ada sub judul “Kota Kembar” yang menyebutkan: Rennes, Perancis. Itu berarti Exeter banyak persamaan dengan wilayah di selatan Perancis yang sejak dulu memang sarat dengan kepercayaan Kabbalah. Sekurangnya ada tiga tempat di sini yang menggunakan istilah “Rennes” yakni Rennes Le Chateau (legenda Grail dengan Pastor Berenger Sauniere, dipaparkan secara panjang lebar dalam buku “The Holy Blood, Holy Grail”), Rennes Le Bans, Coustassa (misteri kematian Abbe Antione Gelis yang sampai kini tidak terpecahkan), dan Pyrennes, nama pegunungan di mana banyak kota-kota kecil ada di sekitarnya.


Di wilayah ini juga ada kota kecil bernama Provence, di mana untuk pertama kalinya ajaran Kabbalah yang biasanya diwariskan dengan lisan, dibukukan. Tahta Suci Vatikan mengenal daerah ini sebagai  sarang Heresy. Sebab itu, selatan Perancis sampai saat ini merupakan daerah yang tertinggal dalam pembangunan fisik (ditelantarkan?) dan dibiarkan tumbuh dengan sendirinya.


Orang-orang di sini percaya, jasad Maria Magdalena—sosok yang sangat dipuja oleh persaudaraan-persaudaraan rahasia okultisme seperti Illuminaty, Templar, Rosikrusian, dan Freemasonry, sebab itu Maria Magdalena dianugerahi julukan ‘Iluminatrix’ yang berarti “Cahaya di atas Cahaya”, serupa dengan arti nama Lucifer—dikubur di dalam tanahnya. Sebab itu, ada larangan resmi untuk menggali tanah di sekitar daerah ini bahkan untuk menanam sebatang pohon pun!


Selatan Perancis merupakan daerah kuno yang sudah ditinggali dan sudah memiliki kepercayaan jauh sebelum agama Kristen lahir. Terdapat banyak terowongan di bawahnya yang saling terhubung satu dengan yang lainnya. Banyak rahasia dan mitos di sini, antara lain harta karun Templar dipercaya juga dipendam di dalam tanahnya. Konon, Yoseph Arimatea menyelamatkan Maria Magdalena dari Yerusalem ke Perancis Selatan ini dan Maria meninggal dunia di sini. Setiap tahun, tiap 22 Juli diselenggarakan Festival Magdalena di selatan Perancis.


Universitas Exeter, tempat dimana selama empat tahun JK. Rowling kuliah bahasa Perancis, memang dikenal sebagai lembaga pendidikan yang banyak bersentuhan dengan ritus-ritus pagan-okultisme seperti Druid, Celtics, dan Kabbalah. Hal ini tidak aneh karena kota ini memang dibangun oleh bangsa Romawi yang memang akrab dengan ritual-ritual seperti itu. Bahkan walau mereka kemudian menerima kekristenan, namun banyak simbol-simbol pagan-okultis tetap dipertahankan walau di dalam Vatikan City sekalipun, dan banyak juga yang diambil sebagai bagian dari ritual Gereja. (bersambung/ridyasmara)


*eramuslim.com


 


(read more ...)



Para politisi Muslimah dari partai-partai Islam sepertinya harus banyak belajar dari keistiqomahan politisi muslimah asal Denmark ini, meskipun menjadi seorang politisi - dirinya tetap teguh memegang prinsip bahwa berjabat tangan dengan laki-laki yang bukan mahram adalah Haram.

Bandingkan dengan beberapa politisi Muslimah dari partai Islam yang mungkin kita kenal yang dahulunya sebelum menjadi anggota dewan begitu keras untuk urusan yang seperti ini, namun seiring perjalanan waktu sikap keras mereka pun semakin lama semakin melunak dengan alasan tuntutan dakwah.


Seorang politikus Denmark keturunan Palestina telah menjadi wanita pertama yang menghadiri pertemuan dewan setempat dengan mengenakan busanah Muslimah berupa jilbab.


Asmaa Abdul Hamid (27 tahun),ambil bagian dalam sebuah pertemuan di kota Odense sebagai pengganti anggota "unity List", sebuah kelompok sayap kiri.


Asmaa telah menarik banyak perhatian orang karena dengan percaya diri - dirinya memilih untuk mengenakan jilbab dan menolak berjabat tangan dengan laki-laki yang bukan mahram. Dia memimpin daftar voting untuk partainya pada pemilu lokal tahun 2005.


"Saya ingin dinilai berdasarkan apa yang ada dalam kepala saya, bukan apa yang ada di atasnya, untuk politik yang saya bela, lihat pendapat saya dan bukan apa yang saya pakai atau bagaimana saya menyambut orang-orang," katanya kepada media besar yang berkesempatan mewawancarainya.(fq/pt)


*eramuslim.com


 

(read more ...)



 




20 Dollar Bill


Iseng-iseng masukin cerita ini silahkan dilihat emang ini aga lucu bisa saja di buat-buat cuman seru juga buat bahan cerita misteri, soal ini masuk akal atau tidak andalah yang menentukan.



Sekarang kita kembali ke tragedi 911 (September 11) dimana gedung kembar WTC di New York runtuh ditabrak oleh dua buah pesawat, dan markas pertahanan keamanan militer Amerika, Pentagon juga rusak ditabrak pesawat. Tapi benarkah begitu?



Begitu mudahnya bangunan kokoh berkonstruksi baja itu dapat tumbang? Memang ada perhitungan teori fisika yang membuat hal itu mustahil terjadi. Tapi saya tidak akan menjelaskan hal itu saat ini.



Sekarang kita bahas saja hal yang lebih tidak masuk akal daripada itu. Amerika Serikat berdiri kurang lebih 450 tahun yang lalu.



Dimana saat itu ditetapkannya pula mata uang Amerika Serikat yang berwarna hijau itu. Dan sejak 450 tahun yang lalu pula mata uang Amerika tidak pernah direvisi.



Sekarang coba kita telaah mata uang yang sejak 450 tahun yang lalu itu belum berubah bentuknya.



Dimulai dari uang 20 Dolar.



Ini uang 20 Dolar Amerika.



Sekarang kita coba lipat. (Ingat bahwa mata uang ini belum pernah dirubah sejak 450 tahun yang lalu)





(Kalau ada yang membawa uang 20 Dolar Amerika, boleh dicoba.) Sekarang kita coba lipat lagi. (Sekali lagi saya ingatkan bahwa mata uang ini belum pernah dirubah sejak 450 tahun yang lalu.)





Sekarang kita lipat lagi seperti ini. (Kita bukan sedang belajar membuat origami ya!) Kalau sudah…sekarang lipat lagi seperti dibawah ini, dan lihat hasilnya..maksudnya lihat gambar yang dilingkari ini.





Nah loh! Apakah itu???



Itu adalah gambar Pentagon setelah ditabrak pesawat. Lihat gambar gedung yang berasap itu!



Kalau masih belum percaya, akan saya perjelas lagi.





Nah! Sama kan??



Untuk kali ini terbukti bahwa uang 20 Dolar Amerika menyimpan rahasia tentang konspirasi penghancuran Pentagon. (oleh siapa? Mata uang ini kan punya Amerika sendiri??) (Sekali lagi saya ingatkan bahwa mata uang ini belum pernah dirubah sejak 450 tahun yang lalu)



Cukup untuk pesan terselubung Pentagonnya. Sekarang kita ke New York dengan 20 Dolar yang setengah kusut ini, untuk melihat ada apa di sana.



Masih di 20 Dolar Amerika yang belum pernah dirubah sejak 450 tahun yang lalu.

Sekarang kita pakai sisi lain dari uang 20 Dolar ini



Langsung saja lipat seperti gambar di bawah ya! (Ikuti instruksi!)







Langsung saja kita lihat hasil karya lipatan kita…

Nah loh! Kok begini???







Sepertinya saya kenal gedung itu!

Ya, benar sekali…itu adalah gedung kembar WTC New York yang sekarang tinggal kenangan itu. Masih belum percaya?? Lihat ini!







(Ingat bahwa mata uang ini belum pernah dirubah sejak 450 tahun yang lalu)

Bagian sebelah kiri ditabrak oleh Flight 175 dari United Airlines yang meluncur dari sebelah kanan gedung. Sementara bagian sebelah kanan ditabrak oleh Flight 11 yang dimiliki American Airlines yang meluncur dari sebelah kiri.



Lihat tulisan di kanan dan di kiri uang, yang lengkapnya adalah The United State of America. (Lho? Memangnya 450 tahun yang lalu kedua perusahaan penerbangan itu sudah ada? Jawabannya, tentu saja belum. Bahkan ke 2 gedung itu -pentagon dan WTC- bahkan belum dibangun.)



Sekarang kita bahas bagian yang paling aneh dari 20 Dolar kita ini.

Lihat baik-baik gambar ini!








Nah loh! Sudahkan 450 tahun yang lalu OSAMA BIN LADEN lahir??

(Jangankan OSAMA, Buyutnya Kakek Buyutnya saja belum lahir.)



Untuk rahasia dibalik 20 Dolar ini, bisa ditemukannya dari kode :

911 (September 11) >> 9 + 11 = 20

Jadinya 20 Dolar!



Cukup untuk 20 Dolar, karena sudah kusut kita lipat-lipat sekarang kita tukarkan uangnya dengan sebuah 5 Dolar dan sebuah 10 Dolar. Lihat ini!





Dalam 5 Dolar Amerika yang belum pernah dirubah sejak 450 tahun yang lalu juga terdapat rahasia penghancuran WTC New York.



Sekarang kita lihat uang 10 Dolar kita!





Gedung pertama WTC yang sudah berasap.

Belum puas?? Lagi??



Sekarang kita pinjam uang 50 Dolar dari tetangga saya.





Ini WTC saat bangunannya runtuh.

Mau lagi?? Kita pinjam lagi 100 Dolar sama tetangga saya yang tadi.





Lho?? Apa ini??

Ini asap gambar asap dari WTC yang telah runtuh.

Detail sekali mereka membuat pesan terselubung ini! Sampai-sampai gambar asapnya saja tidak lupa dibuat. Sudah cukup melipat-lipatnya, kalau terlalu kusut nilai dolar yang kita punya jatuh.



Tahukah kamu siapa yang membuat pesan terselubung ini???

Jawabannya ada di uang 1 Dolar! (Lagi-lagi uang!)

Lihat ini!!







Coba lihat 2 lambang yang ada di dalam 2 lingkaran itu!!





Nah loh!!! Ini lambang ILLUMINATI, yaitu organisasi super rahasia milik YAHUDI.

Lihat lambang MATA HORUS dan TULISAN “NOVUS ORDO SECLOHUM” yang artinya “NEW WORLD ORDER” atau “TATA DUNIA BARU”



Nah loh!! Mau di jadikan apa kita sama orang-orang ZIONIS Yahudi itu??

Terus lihat yang ini!! Lambang bintang-bintang yang ada di atas kepala burung itu!





Bintang-bintang itu membentuk suatu lambang, yaitu lambang “DAVID STAR” lambangkebanggaan YAHUDI.

Oh iya, untuk diketahui nomor pesawat Flight 11 yang menabrak WTC adalah:

Q33NY



Coba di copy paste nomor ini ke OFFICE WORD dan diblok lalu ubah font-nya ke wingdings.

Nanti hasilnya seperti ini…





Artinya PESAWAT >> MENABRAK 2 GEDUNG >> KORBAN BERJATUHAN >>> DAN PELAKUNYA ADALAH...

(Kalian pasti tidak asing dengan lambang ini)



sumber : http://rykers.blogspot.com

(read more ...)




Terorisme yang merebak secara global, berakar dari tindakan Amerika untuk menjatuhkan Uni Soviet. Anehnya, di mata pers kita terorisme tanpa negara superpower itu



Oleh: Amran Nasution*



Hidayatullah.com--Selama 17 jam kekuatan polisi dikerahkan menangkap gembong teroris nomor satu, Noordin Mohamad Top, yang dikabarkan bersembunyi di sebuah rumah desa di Dusun Beji, Desa Kedu, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, 7 Agustus lalu. Noordin yang asal Malaysia itu telah menjadi musuh negara nomor satu karena sebelumnya ia diberitakan merencanakan pembunuhan terhadap Presiden dengan meledakkan bom di rumah SBY di Cikeas.



Terkepung seperti itu, Noordin yang  selama ini dikabarkan amat licin dan lihai, kali ini tak mungkin lepas. Jangankan manusia, lalat pun tak mungkin lolos dari kepungan pasukan elite anti-teror Detasemen Khusus 88 Polri yang begitu ketat. Maka di layar televisi, pengepungan ini menjelma menjadi sebuah reality show.



Acara ini tentu ditunggu-tunggu pemirsa. Semua yang diinginkan untuk menjadi reality show yang menarik tersedia. Ada ketegangan (suspense), ada drama, ada desingan peluru dar….der…..dor, ada tokohnya, yaitu Noordin Top, dan tentu ada pula darah.  Semua terjadi, agaknya, berkat kerja sama yang baik antara polisi dan televisi: polisi dapat publikasi gratis, televisi dapat berita untuk mendongkrak rating – dan kemudian banjir iklan. Klop. Karenanya kian lama pengepungan dilakukan, kian bagus. Iklan kian mengalir.



Maka wartawan tak perlu lagi kritis pada polisi.  Yang penting rating melonjak, iklan masuk, pemilik modal senang. Oleh sebab itu tak ada wartawan mempertanyakan, apakah benar orang di dalam rumah adalah Noordin M.Top?  Mengapa gembong teroris yang selama ini sudah terbukti lihai, kok ngumpet di rumah desa terpencil yang gampang dikepung? Bukankah dari pengalaman selama ini Noordin selalu bersembunyi di kawasan ramai sehingga mudah melarikan diri? Mengapa pula pengepungan begitu lama? Pendek kata tak ada pertanyaan kritis dari wartawan, padahal tugas utama wartawan adalah bertanya.



Belakangan ketahuan kalau pengepungan yang begitu spektakuler salah sasaran. Tak ada Noordin M.Top di dalam rumah. Yang dikepung pasukan elite dan wartawan selama 17 jam (kata polisi) adalah Ibrohim, petugas perangkai bunga Hotel J.W.Marriott, Mega Kuningan, Jakarta. Menurut polisi, Ibrohim terlibat dalam serangan bom bunuh diri di J.W. Marriott dan Ritz Carlton, dua hotel berbau Amerika. Wajar saja kalau ‘’dikeroyok’’ polisi seperti itu. Tubuh sang perangkai bunga remuk-redam oleh peluru dan lemparan bom.



Maka sempurnalah peristiwa ini sebagai hal yang memalukan, yang disaksikan jutaan pemirsa televisi. Ratusan polisi dan pasukan elite Anti-Teror dikerahkan dengan segala peralatan canggih selama 17 jam, hanya untuk menembak mati seorang perangkai bunga. Lalu bagaimana pertanggungjawaban profesional wartawan yang dengan yakin menyebarkan  berita kepada masyarakat seolah-olah yang dikepung itu adalah gembong teroris Noordin M.Top?



Celakanya lagi, setelah ternyata yang dikepung adalah Ibrohim, wartawan pun ramai-ramai mengkreasi Ibrohim seakan teroris hebat yang kalibernya tak kalah dari Noordin M.Top. Ada yang memberitakan Ibrohim disiapkan untuk menubrukkan truk bermuatan bom ke rumah kediaman Presiden SBY di Cikeas.



Bermula dari Afghanistan



Terus-terang Noordin M.Top pantas menjadi buron nomor satu bila dilihat dari rekam jejaknya selama ini. Tapi ketika disebutkan bahwa ia juga akan mengebom rumah Presiden SBY, untuk balas dendam atas dieksekusinya tiga pelaku bom Bali, mulai muncul tanda tanya kalau aksi-aksi terorisme yang terjadi agaknya akan dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis demi kekuasaan. Coba ingat pernyataan pers Presiden SBY sebelumnya bahwa terorisme ada hubungannya dengan Pemilihan Presiden (Pilpres), terorisme akan menggagalkan pelantikan presiden terpilih, kantor KPU akan diduduki, dan sebagainya, dan sebagainya. Ternyata tak satu pun informasi yang kata presiden berasal dari intelijen  itu, yang menjadi kenyataan.



Kalau saja berbagai teror di sini diamati sedikit seksama, akan jelas bahwa peristiwa yang terjadi selalu berkaitan dengan peristiwa global. Kaum teroris di sini selalu menjadikan kepentingan Amerika Serikat, Israel, dan negara Barat sekutunya sebagai target. Dan memang kasus terorisme di dunia ini selalu ada hubungannya dengan penjajahan Afghanistan dan Irak oleh Amerika Serikat dan NATO, atau penindasan Palestina oleh Israel.



Jadi seandainya benar Presiden SBY menjadi target teror, mungkin lebih masuk akal itu disebabkan kedekatannya dengan Amerika Serikat, atau mungkin karena pernyataan SBY sendiri yang pernah menyebut Amerika Serikat sebagai negerinya kedua. Jadi adalah amat naïf, mengulas habis terorisme di sini tanpa mengaitkannya dengan Amerika Serikat – seperti yang hari-hari ini dilakukan para wartawan di sini – terutama wartawan televisi.



Pers tampaknya seakan ingin mengamputasi hubungan terorisme di Indonesia dengan Amerika Serikat atau Israel.  Seolah-olah terorisme terjadi di Indonesia karena keinginan sekelompok orang di Indonesia yang ingin menjadikan Indonesia negara Islam. Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa suburnya terorisme setelah terjadi serangan oleh Amerika Serikat ke Afghanistan, 2001, dan terutama ke Irak, 2003.    



Profesor Mahmood Mamdani, Direktur Studi Afrika Columbia University, di dalam bukunya yang amat terkenal Good Muslim, Bad Muslim (Three Leaves Press, Doubleday, New York, 2005) mengungkap bagaimana peran Amerika Serikat dikaitkan dengan terorisme sekarang. Itu dimulai dari terpuruknya Amerika Serikat setelah kalah dalam perang Vietnam, pada 1975. Perang itu menyebabkan sekitar 50 ribu tentara Amerika Serikat terbunuh.



Kekalahan itu menyebabkan trauma. Kongres, misalnya, mengeluarkan keputusan yang menyebabkan pemerintah kesulitan melibatkan pasukan Amerika di luar negeri. Keterpurukan itu ditambah lagi berbagai peristiwa lain.



Pada 1979, meletus revolusi Islam di Iran dipimpin Ayatullah Khomenei, menggusur Shah Iran dari singgasana kekuasaan. Shah Iran selama ini adalah teman baik dan rela menyerahkan tambang minyaknya kepada Amerika Serikat. Dalam revolusi ini, bukan saja hubungan Amerika – Iran memburuk, tapi Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran diduduki dan 50-an stafnya disandera oleh sejumlah mahasiswa Iran. Wibawa Amerika di mata internasional tambah terpuruk. Apalagi setelah operasi pasukan khusus yang dikirimkan Washington  guna membebaskan sandera gagal total dengan amat memalukan.



Lalu di tahun yang sama, Uni Soviet, musuh utama Amerika Serikat dalam Perang Dingin, menduduki Afghanistan. Amerika Serikat tak bisa berbuat apa-apa. Berbagai peristiwa itu menjadi penyebab Presiden Jimmy Carter dari Partai Demokrat dikalahkan calon Partai Republik, Ronald Reagan, dalam Pilpres waktu itu. Sebagai bekas bintang film Cowboy, Reagan dianggap lebih galak dan berani sehingga lebih tepat memimpin Amerika yang sedang terpuruk dibanding Carter yang mengutamakan perdamaian. Apalagi Reagan didampingi George H.W.Bush sebagai calon Wakil Presiden. Bush, ayah kandung George W. Bush, Presiden Amerika Serikat yang digantikan Barack Obama. Dia adalah bekas Direktur CIA.



Pilihan itu tampaknya tepat. Presiden Reagan pun melibatkan diri di Afghanistan dengan Wapres George H.W.Bush sebagai operatornya. Wartawan senior Craigh Unger dalam bukunya House of Bush, House of Saud (Scribner, 2004), mengungkapkan bahwa dalam perang antara pasukan Uni Soviet dengan pejuang Mujahidin di Afghanistan tahun 1980-an, Amerika membantu Mujahidin.



Ketika itu ditaksir sekitar 80.000 pasukan jihad dari berbagai pelosok dunia – termasuk dari Indonesia – datang ke Afghanistan untuk mengusir Uni Soviet. Di antara para pejuang itu terdapat Usamah Bin Ladin, putra konglomerat Arab Saudi, Muhammad Awad Bin Ladin, pendiri Saudi Binladin Group (SBG), perusahaan kontraktor paling terkemuka di Arab Saudi. Unger mengungkap di bukunya bahwa keluarga Wapres George H.W.Bush mengenal baik keluarga Bin Ladin, terutama dengan Salem Bin Ladin, anak tertua keluarga Bin Ladin yang menetap dan berbisnis di Houston, Texas.



Usamah bekerja sama dengan badan intelijen Amerika, CIA. Namanya cepat menjadi buah-bibir para pejuang, sebagai anak orang kaya-raya tapi bersedia berjihad melawan komunisme Uni Soviet.  Amerika dengan menggunakan para operator CIA, menurut buku itu, membantu para pejuang Mujahidin dana 3 milyar dollar.  Amerika pula yang mengirimkan rudal jinjing Stinger yang banyak digunakan Mujahidin merontokkan helikopter tempur Uni Soviet.



Perang Pakai Perwakilan



Presiden Reagan juga bekerja sama dengan Presiden Pakistan Zia Ulhaq. Bagi mereka berdua melawan Uni Soviet di Afghanistan adalah perang ideologi, yaitu melawan setan komunisme yang tak percaya Tuhan. Maka dari sekolah-sekolah agama dan pesantren di Pakistan, anak-anak muda direkrut untuk disiapkan menjadi tentara jihad melawan setan di Afghanistan. Anak-anak muda dari Indonesia, seperti Imam Samudera – sudah dieksekusi karena kasus Bom Bali – tertarik berjihad ke Afghanistan, dengan berlatih di kawasan Filipina Selatan. Dari sana Imam Samudera dan kawan-kawan diberangkatkan ke Afghanistan.



Kalau dibaca buku Craig Unger, House of Bush, House of Saud, maupun Good Muslim, Bad Muslim oleh Profesor Mahmood Mamdani, akan sangat jelas bahwa perang yang dilakukan Imam Samudra, atau Usamah Bin Ladin, untuk mengusir Uni Soviet dari Afghanistan, ternyata dimanfaatkan betul-betul oleh Presiden Reagan dan wakilnya, George H.W.Bush, untuk menghancurkan Uni Soviet sebagai musuh utama Amerika Serikat. ‘’Dalam perang ini, tak satu pun tentara Amerika yang gugur, meski perang ini sangat banyak memakan korban,’’ tulis Unger. ‘’Rakyat Amerika,’’ lanjutnya, ‘’tak mengenal Usamah Bin Ladin, kecuali segelintir yang mengikuti perang ini dengan serius. Mereka tahu bahwa Usamah dianggap hero oleh kalangan Islam militan.’’



Maka bagi Amerika Serikat, inilah yang disebut perang by proxy, perang dengan perwakilan, yang ternyata berhasil mengalahkan dan mengusir Uni Soviet dari Afghanistan. Kekalahan itu, menurut Patrick Buchanan, kolomnis dan intelektual konservatif yang pernah mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat, menyebabkan Uni Soviet sebagai negara super-power akhirnya bubar dan terpecah-pecah. Buchanan berpendapat, banyak negara besar ambruk dimulai dengan kekalahan perang (Patrick J. Buchanan dalam Day of Reckoning, Thomas Dunne Books, 2008). Dengan bubarnya Uni Soviet, Amerika Serikat muncul sebagai super-power dunia satu-satunya.



Bila Buchanan benar, maka sesungguhnya keruntuhan Uni Soviet disebabkan kegigihan kaum Mujahidin, termasuk Usama Bin Ladin. Bukan karena kehebatan sistem kapitalisme Barat yang selama ini digembar-gemborkan berhasil mengalahkan sistem komunisme. Tapi yang memetik keuntungan adalah Amerika Serikat, walau tak seorang pun tentaranya turut bertempur di Afghanistan. Buat Amerika, apa yang terjadi di Afghanistan merupakan paradoks dari Perang Vietnam. Di Vietnam tentara Amerika terlibat langsung dengan korban yang tak sedikit, tapi perang itu tak bisa mereka menangkan.



Bagi kelompok Usamah Bin Ladin, kemenangan di Afghanistan, bukan saja menaikkan semangat dan kepercayaan diri, tapi memberi pengalaman penting tentang taktik dan strategi bertempur dengan bergerilya, kemahiran menggunakan senjata, membuat dan meledakkan bom, dan berbagai hal lain. Maka berbagai pembuatan bom untuk teror di Indonesia sekarang, misalnya, berasal dari pengalaman di Afghanistan.



Pola rekrutmen para pejuang jihad global ketika menghadapi Uni Soviet, kini menginspirasi para pejuang di Iraq atau Afghanistan yang berdatangan dari seluruh dunia. Bedanya: kini para pejuang global di Iraq atau Afghanistan adalah musuh – dan digelari teroris --, bukan teman Amerika Serikat seperti pejuang Afghanistan dulu. Walau mungkin saja orangnya masih sama.



Sebagai contoh, Gulbuddin Hekmatyar, salah satu pemimpin Mujahidin itu. Dulu dia dianggap Amerika sebagai pejuang kemerdekaan Afghanistan. Kini Gulbuddin dituduh  teroris, karena dia bergabung dengan Taliban melawan pasukan Amerika dan NATO. Begitu pula Usamah Bin Ladin. Dulu dia teman dekat CIA melawan pasukan Uni Soviet, karenanya dia pejuang. Kini dia adalah teroris nomor satu dunia yang paling diburu Amerika Serikat dan kawan-kawannya, karena dia musuh Amerika Serikat. Pemimpin puncak Al-Qaeda itu dianggap bertanggung-jawab merubuhkan Menara Kembar WTC New York. Kesimpulannya: teman Amerika Serikat adalah pejuang dan semua musuh Amerika Serikat adalah teroris, sekalipun mereka berjuang untuk memerdekakan negerinya, seperti yang sekarang terjadi di Iraq atau Afghanistan.



Tapi karena Amerika adalah super-power, maka dia adalah kebenaran. Semua tindakannya benar, semua lawannya salah. Membunuh, menyiksa tahanan, atau berdagang Narkoba adalah salah, kecuali itu dilakukan Amerika Serikat. Akibat serbuan pasukan Amerika ke Iraq, hampir 1 juta penduduk Irak terbunuh, tapi mantan Presiden Bush yang memerintahkan penyerbuan sampai sekarang tak pernah diadili.



Perang Vietnam 1964 – 1975, menyebabkan 4 juta penduduk Vietnam dan Indochina terbunuh. Jutaan lainnya luka-luka. Belum dihitung kerugian material dan moril. Amerika melakukan produksi dan perdagangan Narkoba di Laos dan sekitarnya dengan melibatkan badan intelijen CIA dan badan bantuan pemerintah Amerika Serikat, USAID. Mereka bekerjasama dengan raja-raja opium di daerah itu yang kemudian terkenal sebagai kawasan Segi Tiga Emas, produsen Narkoba terbesar di dunia pada masanya.



Amerika kemudian melakukan hal sama di Afghanistan, di tahun 1980-an. Melalui perdagangan Narkoba, CIA mempersenjatai dan membiayai pasukan Mujahidin di Afghanistan untuk melawan tentara pendudukan Uni Soviet (lihat Craig Unger dalam House of Bush, House of Saud, Scribner 2004). Sekarang Afghanistan merupakan penghasil opium terbesar dunia.



Kekejaman Amerika juga terjadi di berbagai negara Amerika Latin seperti Panama, Haiti, Guatemala, dan Cile. Tak aneh kalau selain di kawan Timur Tengah, Amerika paling dibenci di Amerika Latin.



Setelah terjadi serangan teror terhadap Menara Kembar WTC di New York dan Pentagon, 11 September 2001, Presiden Bush menuntut Pemerintah Afghanistan pimpinan Mullah Omar menyerahkan Usamah Bin Ladin yang katanya bersembunyi di Afghanistan. Mereka menuduh Mullah Omar melindungi Usamah, orang yang bertanggung jawab atas serangan teror itu.  Ketika Mullah Omar menolak, pesawat-pesawat tempur Amerika segera mengebom Afghanistan. Perang yang tak seimbang itu dimulai.



Sampai kini sudah 7 tahun operasi militer dilakukan Amerika Serikat dan sekutu NATO-nya. Sekitar 50.000 pasukan dikerahkan, 33.000 di antaranya dari Amerika. Kini di bawah Presiden Obama, Amerika malah berusaha menambah lagi pasukannya.



Seth Jones analis dari Rand Corporation yang telah beberapa tahun membuat studi tentang Taliban, mengatakan wajar kemampuan Taliban meningkat setelah 7 tahun terlatih bertempur menghadapi pasukan Amerika Serikat dan NATO.



Menurut Jones, pimpinan puncak Taliban seperti Mullah Omar, Siraj Haqqani, dan Gulbuddin Hekmatyar, masih aktif dan belum berhasil ditangkap. Begitu pula Usamah Bin Ladin, pemimpin tertinggi Al-Qaeda, musuh nomor satu Amerika.



Profesor Bryan Glyn William, ahli sejarah Islam dari University of Massachusetts, Dartmouth, berpendapat sejak pertengahan 2007, Al-Qaeda di Iraq (AQI) melemah. Bersamaan dengan itu Al-Qaeda di Afghanistan menguat.



Menurut Profesor itu, sejak 2007 website jihad di seluruh dunia, dari Chechnya, Turki, sampai Timur Tengah, mulai memuat advertensi menyerukan lions of Islam (para singa Islam) di seluruh dunia untuk berjuang di Afghanistan. Baik juga bila seruan itu sampai ke Indonesia sehingga lions of Islam di sini berangkat dan berperang ke Afghanistan atau Irak, menghadapi langsung tentara Amerika dan sekutunya. Itu mungkin lebih baik daripada mengebom kepentingan dan bau Amerika di sini, tapi dampaknya sangat merugikan bangsa sendiri.



Yang ingin disimpulkan: akar semua terorisme sekarang ini adalah Amerika Serikat dan sekutunya. Indonesia dan banyak negara lain hanya korban. Jadi adalah aneh kalau kita mau membahas dan memberantas terorisme tanpa membicarakan – atau malah menyembunyikan -- keterlibatan Amerika Serikat. Tapi itulah yang terjadi sekarang. [AS/www.hidayatullah.com]



Penulis adalah Direktur Institute For Policy Studies (IPS) dan kolumis www.hidayatullah.com

 

(read more ...)






Perang di Irak menyisakan masa depan yang suram bagi anak-anak di Negeri 1001 Malam itu. Sisa-sisa bahan kimia dari persenjataan perang yang digunakan pasukan AS di Irak menyebabkan bayi-bayi di Irak lahir dalam kondisi cacat dan dipekirakan jumlah bayi-bayi yang cacat ini akan terus bertambah.


Kementerian Kesehatan Irak beberapa waktu lalu sudah mengingatkan adanya bahaya ini. Mereka menyatakan kekurangan dana untuk melakukan pembersihan terhadap sis-sisa zat kimia beracun yang berasal dari persenjataan pasukan AS.


Sky News sejak setahun yang lalu melakukan investigasi terhadap banyaknya jumlah anak-anak yang lahir cacat, terutama di kota Fallujah, salah satu kota yang kerap menjadi pusat pertempuran antara pasukan koalisi AS dan para pejuang Irak. Bayi-bayi yang lahir cacat diduga sebagai dampak dari kandungan zat kimia berbahaya yang berasal dari persenjataan pasukan AS.


Bulan Mei tahun 2008, jaringan berita ini mendokumentasikan sosok Fatima Ahmed, seorang anak perempuan Irak berusia tiga tahun yang lahir dengan benjolan di kepalanya, sehingga terlihat seperti memiliki dua kepala. Kondisi Fatima saat itu sungguh memprihatinkan, ia sulit bernapas dan tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Fatima tidak mampu bertahan hidup, ia meninggal dunia sebelum mencapai usia empat tahun.


Menurut cerita ibu Fatima, Shukriya, malam itu ia menidurkan anaknya seperti biasa. Ketika terbangun, ia merasa ada yang tidak beres dengan Fatima. Ketika digendong ayahnya, tubuh Fatima sudah dingin dan mereka tahu bahwa puterinya sudah tiada.


Anak perempuan lainnya yang juga lahir cacat adalah Tiba Aftan. Aftan lahir dengan benjolan yang tumbuh di bagian mukanya dan hampir menutupi sebagian kening dan matanya. Semakin usia Aftan bertambah, benjolan itu makin membesar dan melebar. Tapi ia masih beruntung, karena bisa melaksanakan operasi di Yordania. Meski saat ini, Aftan masih harus menjalani operasi lanjutan yang membutuhkan biaya besar.


Menurut Sky News, dalam delapan bulan terakhir mereka menemukan kasus-kasus baru bayi yang lahir cacat di kota Fallujah. Sejauh ini memang belum ada kepastian yang bisa menjelaskan apa penyebab dari kecacatan bayi-bayi itu. Tapi banyak warga Irak berkeyakinan bahwa hal itu disebabkan karena zat-zat kimia yang berasal dari bom-bom pasukan AS yang membombardir kota Fallujah pada tahun 2004.


Dokter spesialis anak di Fallujah, Dr Ahmed Uraibi mengakui makin banyak menemui kasus-kasus bayi yang lahir dalam kondisi cacat setahun belakangan ini. Rakyat Irak mendesak pemerintah untuk segera menyelidiki masalah ini dan mengambil langkah untuk mencegah makin bertambahnya bayi-bayi Irak yang lahir dalam kondisi cacat. (ln/isc/ich)


(read more ...)



Sudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin “anti-Pancasila”.  Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-264



Oleh: Dr. Adian Husaini*



hidayatullah.com--Tanggal 22 Juni biasanya dikenang oleh umat Muslim Indonesia sebagai hari kelahiran Piagam Jakarta. Tetapi, tampaknya, kaum Kristen di Indonesia masih tetap menjadikan Piagam Jakarta sebagai momok yang menakutkan. Padahal, Piagam Jakarta bukanlah barang haram di negara ini. Bahkan, dalam Dekritnya pada 5 Juli 1959, Presiden Soekarno dengan tegas mencantumkan, bahwa  “Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.”



Tapi, entah kenapa, kaum Kristen di Indonesia begitu alergi dan ketakutan dengan Piagam Jakarta. Sebagai contoh,  Tabloid Kristen REFORMATA edisi 103/Tahun VI/16-31 Maret  2009 menurunkan laporan utama berjudul “RUU Halal dan Zakat: Piagam Jakarta Resmi Diberlakukan?”  Dalam pengantar redaksinya, tabloid Kristen yang terbit di Jakarta ini menulis bahwa dia mengemban tugas mulia untuk mengamankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang pluralis, sebagaimana diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa.



“Hal ini perlu terus kita  ingatkan sebab akhir-akhir ini kelihatannya makin gencar saja upaya orang-orang yang ingin merongrong negara kita yang berfalsafah Pancasila, demi memaksakan diberlakukannya syariat agama tertentu dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagaimana kita saksikan, sudah banyak produk perundang-undangan maupun peraturan daerah (perda) yang diberlakukan di berbagai tempat, sekalipun banyak rakyat yang menentangnya. Para pihak yang memaksakan kehendaknya ini, dengan dalih membawa aspirasi kelompok mayoritas, saat ini telah berpesta pora di atas kesedihan kelompok masyarakat lain, karena ambisi mereka, satu demi satu berhasil dipaksakan. Entah apa jadinya negara ini nanti, hanya Tuhan yang tahu,” demikian kutipan sikap Redaksi Tabloid Kristen tersebut.



Cornelius D. Ronowidjojo, Ketua Umum DPP PIKI (Persekutuan Inteligensia Kristen Indonesia), seperti dikutip tabloid Reformata menyatakan, bahwa Piagam Jakarta sekarang sudah dilaksanakan dalam realitas ke-Indonesian melalui Perda dan UU. “Sekarang tujuh kata yang telah dihapus itu, bukan hanya tertulis, tapi sungguh nyata sekarang,” tegasnya. Yang menggemaskan, demikian Cornelius, yang melakukan hal itu, bukan lagi para pejuang ekstrim kanan, tapi oknum-oknum di pemerintahan dan DPR. “Ini kecelakaan sejarah. Harusnya penyelenggara negara itu bertobat, dalam arti kembali ke Pancasila secara murni dan konsekuen,” kata Cornelius lagi. Bahkan, tegasnya, “Saya mengatakan bahwa mereka sekarang sedang berpesta di tengah puing-puing keruntuhan NKRI.”



Bagi umat Islam Indonesia, sikap antipati kaum Kristen terhadap syariat Islam tentulah bukan hal baru. Mereka – sebagaimana sebagian kaum sekular – berpendapat, bahwa penerapan syariat Islam di Indonesia bertentangan dengan Pancasila. Pada era 1970-1980-an, logika semacam ini sering kita jumpai. Para siswi yang berjilbab di sekolahnya, dikatakan anti Pancasila. Pegawai negeri yang tidak mau menghadiri perayaan Natal Bersama, juga bisa dicap anti Pancasila. Pejabat yang enggan menjawab tes mental, bahwa ia tidak setuju untuk menikahkan anaknya dengan orang yang berbeda, juga bisa dicap anti-Pancasila. Kini, di era reformasi, sebagian kalangan juga kembali menggunakan senjata Pancasila untuk membungkam aspirasi keagamaan kaum Muslim.



Rumusan Pancasila yang sekarang adalah: 1. Ketuhanan Yang Maha Esa, 2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, 3. Persatuan Indonesia, 4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Rumusan Pancasila tersebut adalah yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang merupakan hasil dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang dengan tegas menyatakan: “Bahwa kami berkeyakinan  bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.”



Jadi, Dekrit Presiden Soekarno itulah yang menempatkan Piagam Jakarta sebagai bagian yang sah dan tak terpisahkan dari Konstitusi Negara NKRI, UUD 1945. Dekrit itulah yang kembali memberlakukan Pancasila yang sekarang. Prof. Kasman Singodimedjo, yang terlibat dalam lobi-lobi tanggal 18 Agustus 1945 di PPKI, menyatakan, bahwa Dekrit 5 Juli 1959 bersifat “einmalig”, artinya berlaku untuk selama-lamanya (tidak dapat dicabut). “Maka, Piagam Jakarta sejak tanggal 5 Juli 1959 menjadi sehidup semati dengan Undang-undang Dasar 1945 itu, bahkan merupakan jiwa yang menjiwai Undang-undang Dasar 1945 tersebut,” tulis Kasman dalam bukunya, Hidup Itu Berjuang, Kasman Singodimedjo 75 Tahun (Jakarta: Bulan Bintang, 1982).



Karena itu, adalah sangat aneh jika masih saja ada pihak-pihak tertentu di Indonesia yang alergi dengan Piagam Jakarta. Dr. Roeslan Abdulgani, tokoh utama PNI, selaku Wakil Ketua DPA dan Ketua Pembina Jiwa Revolusi, menulis: “Tegas-tegas di dalam Dekrit ini ditempatkan secara wajar dan secara histories-jujur posisi dan fungsi Jakarta Charter tersebut dalam hubungannya dengan UUD Proklamasi dan Revolusi kita yakni: Jakarta Charter sebagai menjiwai UUD ’45 dan Jakarta Charter sebagai merupakan rangkaian  kesatuan dengan UUD ’45.” (Dikutip dari Endang Saifuddin Anshari, Piagam Jakarta 22 Juni 1945: Sebuah Konsensus Nasional Tentang Dasar Negara Republik Indonesia (1945-1949), (Jakarta: GIP, 1997), hal. 130).



Dalam pidatonya pada hari peringatan Piagam Jakarta tanggal 29 Juni 1968 di Gedung Pola Jakarta, KHM Dahlan, tokoh Muhammadiyah, yang juga Menteri Agama ketika itu mengatakan: “Bahwa di atas segala-galanya, memang syariat Islam di Indonesia telah berabad-abad dilaksanakan secra konsekuen oleh rakyat Indonesia, sehingga ia bukan hanya sumber hukum, malahan ia telah menjadi kenyataan, di dalam kehidupan rakyat Indonesia sehari-hari yang telah menjadi adat yang mendarah daging. Hanya pemerintah kolonial Belandalah yang tidak mau menformilkan segala hukum yang berlaku di kalangan rakyat kita itu, walaupun ia telah menjadi ikatan-ikatan hukum dalam kehidupan mereka sehari-hari.” (Ibid, hal. 135).



Meskipun Piagam Jakarta adalah bagian yang sah dan tidak terpisahkan dari UUD 1945, tetapi dalam sejarah perjalanan bangsa, senantiasa ada usaha keras untuk menutup-nutupi hal ini. Di zaman Orde Lama, sebelum G-30S/PKI, kalangan komunis sangat aktif dalam upaya memanipulasi kedudukan Piagam Jakarta. Ajip Rosidi, sastrawan terkenal menulis dalam buku, Beberapa Masalah Umat Islam Indonesia (1970): “Pada zaman pra-Gestapu, PKI beserta antek-anteknyalah yang paling takut kalau mendengar perkataan Piagam Jakarta… Tetapi agaknya ketakutan akan Piagam Jakarta, terutama ke-7 patah kata itu bukan hanya monopoli PKI dan antek-anteknya saja. Sekarang pun setelah  PKI beserta antek-anteknya dinyatakan bubar, masih ada kita dengar tanggapan yang aneh terhadapnya.” (Ibid, hal. 138).



Jadi, sikap alergi terhadap Piagam Jakarta jelas-jelas bertentangan dengan Konstitusi Negara RI, UUD 1945. Meskipun secara verbal “tujuh kata” (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) telah terhapus dari naskah Pembukaan UUD 1945, tetapi kedudukan Piagam Jakarta sangatlah jelas, sebagaimana ditegaskan dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Setelah itu, Piagam Jakarta juga merupakan sumber hukum yang hidup. Sejumlah peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan setelah tahun 1959 merujuk atau menjadikan Piagam Jakarta sebagai konsideran.



Sebagai contoh, penjelasan atas Penpres 1/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama, dibuka dengan ungkapan: “Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 yang menetapkan Undang-undang Dasar 1945 berlaku lagi bagi segenap bangsa Indonesia ia telah menyatakan bahwa Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai dan merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.”



Dalam Peraturan Presiden No 11 tahun 1960 tentang Pembentukan Institut Agama Islam Negeri (IAIN), juga dicantumkan pertimbangan pertama: “bahwa sesuai dengan Piagam Djakarta tertanggal 22 Djuni 1945, yang mendjiwai Undang-undang Dasar 1945 dan merupakan rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut…”.



Sebuah buku yang cukup komprehensif tentang Piagam Jakarta ditulis oleh sejarawan Ridwan Saidi, berjudul Status Piagam Jakarta: Tinjauan Hukum dan Sejarah (Jakarta: Mahmilub, 2007). Ridwan menulis, bahwa hukum Islam adalah hukum yang hidup di tengah masyarakat Muslim. Tanpa UUD atau tanpa negara pun, umat Islam akan menjalankan syariat Islam. Karena itu, Piagam Jakarta, sebenarnya mengakui hak orang Islam untuk menjalankan syariatnya. Dan itu telah diatur dalam Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dituangkan dalam Keppres No. 150/tahun 1959 sebagaimana ditempatkan dalam Lembaran Negara No. 75/tahun 1959.



Hukum Islam telah diterapkan di bumi Indonesia ini selama ratusan tahun, jauh sebelum kauh penjajah Kristen datang ke negeri ini. Selama beratus-ratus tahun pula, penjajah Kristen Belanda berusaha menggusur hukum Islam dari bumi Indonesia. C. van Vollenhoven dan Christian Snouck Hurgronje, misalnya, tercatat sebagai sarjana Belanda yang sangat gigih dalam menggusur hukum Islam.  Tapi, usaha mereka tidak berhasil sepenuhnya. Hukum Islam akhirnya tetap diakui sebagai bagian dari sistem hukum di wilayah Hindia Belanda. Melalui RegeeringsReglement, disingkat RR, biasa diterjemahkan sebagai Atoeran Pemerintahan Hindia Belanda (APH), pasal 173 ditentukan bahwa: “Tiap-tiap orang boleh mengakui hukum dan aturan agamanya dengan semerdeka-merdekanya, asal pergaulan umum (maatschappij) dan anggotanya diperlindungi dari pelanggaran undang-undang umum tentang hukum hukuman (strafstrecht).” (Ridwan Saidi, Status Piagam Jakarta hal. 96).



Jadi, meskipun sudah berusaha sekuat tenaga,  Belanda akhirnya tidak berhasil sepenuhnya menggusur syariat Islam dari bumi Indonesia. Ridwan menulis: “Sampai dengan berakhirnya masa VOC tahun 1799, VOC terus berkutat untuk melakukan unifikasi hukum dengan sedapat mungkin menyingkirkan hukum Islam, tetapi sampai munculnya Pemerintah Hindia Belanda usaha itu sia-sia belaka.”  (Ibid, hal. 94).



Kegagalan penjajah Kristen Belanda untuk menggusur syariat Islam, harusnya menjadi pelajaran berharga bagi kaum Kristen di Indonesia. Mereka harusnya menyadari bahwa kedudukan syariat Islam bagi kaum Muslim sangat berbeda dengan kedudukan hukum Taurat bagi Kristen. Dengan mengikuti ajaran Paulus, kaum Kristen memang kemudian berlepas diri dari hukum Taurat dengan berbagai pertimbangan.



Dalam bukunya yang berjudul Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil? (Mitra Pustaka, 2008), Pendeta Herlianto menguraikan bagaimana kedudukan hukum Taurat bagi kaum Kristen saat ini. Dalam konsep Kristen, menurut Herlianto, keselamatan dan kebenaran bukanlah tergantung dari melakukan perbuatan hukum-hukum Taurat, melainkan karena Iman dan Kasih Karunia dengan menjalankan hukum Kasih.  Jadi, hukum Kasih itulah yang kemudian dipegang kaum Kristen. Hukum sunat (khitan), misalnya, meskipun jelas-jelas disyariatkan dalam Taurat, tetapi tidak lagi diwajibkan bagi kaum Kristen. ‘Sunat’ yang dimaksud, bukan lagi syariat sunat sebagaimana dipahami umat-umat para Nabi sebelumnya, tetapi ditafsirkan sebagai “sunat rohani”. (Rm. 2:29). (Herlianto, Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil? Hal. 16-17).



Babi, misalnya, juga secara tegas diharamkan dalam Kitab Imamat, 11:7-8. Tetapi, teks Bibel versi Indonesia tentang babi itu sendiri memang sangat beragam, meskipun diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Dalam Alkitab versi LAI, tahun 1968 ditulis: “dan lagi babi, karena sungguh pun kukunya terbelah dua, ia itu  bersiratan kukunya, tetapi dia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu. Djanganlah kamu makan daripada dagingnya dan djangan pula kamu mendjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu.”  (Dalam Alkitab versi LAI tahun 2007, kata babi berubah menjadi babi hutan: “Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak, haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.”). Pada tahun yang sama, 2007, LAI juga menerbitkan Alkitab dalam Bahasa Indonesia Masa Kini, yang menulis ayat tersebut: “Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.”



Jika dibaca secara literal, maka jelaslah, harusnya babi memang diharamkan. Tetapi, kaum Kristen mempunyai cara tersendiri dalam memahami kitabnya. Menurut Herlianto, Rasul Paulus telah memberikan pengertian hukum Taurat dengan jelas: “Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat, sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita, sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru dan bukan dalam keadaan lama menurut hukum-hukum Taurat.” (Rm. 7:6). (Herlianto, Syariat Taurat atau Kemerdekaan Injil?  Hal. 20).



Pandangan kaum Kristen terhadap hukum Taurat tentu saja sangat berbeda dengan pandangan dan sikap umat Islam  terhadap syariat Islam. Sampai kiamat, umat Islam tetap menyatakan, bahwa babi adalah haram. Teks al-Quran yang mengharamkan babi juga tidak pernah berubah sepanjang zaman, sampai kiamat. Hingga kini, tidak ada satu pun umat Islam yang menolak syariat khitan, dan menggantikannya dengan “khitan ruhani”. Sebab, umat Islam bukan hanya menerima ajaran, tetapi juga mempunyai contoh dalam pelaksanaan syariat, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena sifatnya yang final dan universal, maka syariat Islam berlaku sepanjang zaman dan untuk semua umat manusia. Apa pun latar belakang budayanya, umat Islam pasti mengharamkan babi dan mewajibkan shalat lima waktu. Apalagi, dalam pandangan Islam, syariat Islam itu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia; mulai tata cara mandi sampai mengatur perekonomian.



Pandangan dan sikap umat Islam terhadap syariat Islam semacam ini harusnya dipahami dan dihormati oleh kaum Kristen. Sangat disayangkan, tampaknya, kaum Kristen di Indonesia masih saja melihat syariat Islam dalam perspektif yang sama dengan penjajah Kristen Belanda, dahulu. Padahal. sudah bukan zamannya lagi menuduh kaum Muslimin yang melaksanakan ajaran Islam sebagai “anti-Pancasila”, “anti-NKRI”, dan sebagainya. [Depok, 16 Juni 2009/www.hidayatullah.com]



Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta dan www.hidayatullah.com

(read more ...)





Oleh: Dr. Shalih bin Abdul Qawi as-Sanabani (Ketua Jurusan Mukjizat Ilmiah, Universitas al-Iman)


Mukjizat Kelima: Pantang terhadap Makan, Minum  dan Persetubuhan Menjaga dari Berbagai Bahaya Kesehatan




Berbagai penelitian ilmiah membuktikan bahwa berpantang terhadap makanan saja terkadang menimbulkan sejumlah resiko. Resiko terpenting adalah turunnya kadar garam dan cairan dalam tubuh, sehingga mengakibatkan berbagai macam penyakit, dan terkadang sampai kepada kematian. Persetubuhan mengakibatkan seseorang kehilangan 76 kkal, dan itu membahayakan seseorang jika dilakukan dalam keadaan berpuasa.


Mukjizat Keenam: Keringanan untuk Orang Sakit dan Musafir


Alain Saury menjelaskan bahwa nilai puasa dalam menentukan vitalitas dan semangat tubuh, meskipun dalam kondisi sakit. Ia mengajukan beberapa kasus beberapa orang yang usianya lebih dari tujuh puluh tahun. Dengan puasa mereka bisa mengembalikan vitalitas tubuh dan psikologis mereka sehingga sejumlah orang di antara mereka mampu kembali bekerja di pabrik atau di ladang.


Jadi, keringanan dalam puasa bagi orang yang sakit dan musafir itu terkait dengan beban berat. Allah berfirman, ‘Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.’ (al-Baqarah: 185)


Mukjizat Ketujuh: Urgensi Puasa Enam Hari pada Bulan Syawwal dan Tiga Hari pada Setiap Bulan


Puasa adalah sarana satu-satunya yang efektif untuk detoksinasi racun yang menumpuk di dalam tubuh. Puasa membersihkan saluran pencernaan secara sempurna dari bakteri-bakteri selaam satu minggu puasa. Proses detoksinasi untuk mengeluarkan sisa-sisa makanan dan racun yang menumpuk pada jaringan tubuh melalui air liur, getah lambung, getah kuning, dan getah pankreas, usus, mucus, air seni, dan keringat. Kadar getah dan tingkat keasamannya jauh berkurang dengan berpuasa.


Dr. Muhammad Said al-Buthi mengatakan, ‘Puasa dapat mencegah penumpukan zat-zat beracun yang berbahaya seperti asam pada air seni, serta fosfat amoniak dan magnesia pada darah, serta dampak-dampanya, yaitu penumpukan racun pada sedi dan kandung kemih, dan mencegah penyakit rematik.


Berbagai penelitian medis membuktikan bahwa puasa sehari itu dapat menghilangkan ampas dan racun yang mengendap selama sepuluh hari. Maksudnya, seseorang itu perlu berpuasa 36 hari selama setahun. Dari sini kita memahami hikmah perintah Nabi saw untuk berpuasa selama enam hari bulan Syawwal, agar proses detoksinasi itu sempurna.


Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, bahwa Nabi saw bersabda, ‘Barangsiapa berpuasa bulan Ramadhan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari bulan puasa, maka itu seperti puasa setahun.’


Mengenai perintah Nabi saw untuk puasa tiga hari setiap bulan (Ayyumul Bidh), pengetahuan modern pada tahun-tahun terakhir menemukan bahwa bulan pada hari ke-13, 14, dan 15 itu mengakibatkan peningkatan sensitifitas syaraf dan ketegangan psikologis hingga tingkat yang dapat membuat seseorang gila.


Mukjizat Kedelapan: Berbuka dengan Kurma


Rasulullah saw sering berbuka dengan kurma basah. Kalau tidak ada, maka beliau berbuka dengan kurma kering. Kalau tidak ada, maka beliau berbuka dengan air putih. Ini adalah petunjuk terbaik bagi orang yang berpantang makan selama berjam-jam. Karena gula dalam kurma itu membuat orang merasa kenyang, karena ia dicerna dengan cepat dan sampai ke darah dalam beberapa menit, serta memberi tubuh kekuatan yang diperlukan untuk menjalankan aktivitas rutinnya. Tetapi seandainya seseorang berbuka dengan makan daging, dan roti, maka dibutuhkan waktu yang lama untuk mencernanya dan mengubahnya menjadi gula, seseorang tidak merasa kenyang.


Hikmah yang terkandung di dalam penetapan syariat ini mustahil diketahui oleh manusia pada waktu al-Qur’an ini diturunkan, dan hal itu menunjukkan bahwa al-Qur’an itu bersumber dari Allah, sebagaimana Allah berfirman, ‘Katakanlah, ‘Al-Qur’an itu diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (al-Furqan: 6)



(read more ...)





Oleh: Dr. Shalih bin Abdul Qawi as-Sanabani

(Ketua Jurusan Mukjizat Ilmiah, Universitas al-Iman)


Allah berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.’ (al-Baqarah: 183)


Mukjiat Pertama: Keharusan Puasa bagi Setiap Orang


Para ilmuwan hari ini menganggap puasa sebagai fenomena yang vital dan fitri, dimana kehidupan yang sempurna dan kesehatan yang baik tidak bisa diperoleh tanpanya. Apabial seseorang atau bahkan seekor binatang tidak berpuasa, maka ia akan terjangkit berbagai macam penyakit. McFadon, seorang ahli kesehatan Amerika, mengatakan, ‘Setiap orang perlu puasa, karena kalau tidak maka ia akan sakit. Karena racun makanan berkumpul dalam tubuh dan membuatnya seperti orang sakit, memberatkan tubuhnya, dan mengurangi vitalitasnya. Apabila ia berpuasa, maka berat badannya menurun, dan racun-racun ini terurai daritubuhnya dan keluar, sehingga tubuhnya menjadi bersih secara sempurna, lalu bobot tubuhnya akan kembali naik, dan sel-selnya kembali baru dalam waktu tidak lebih dari 20 hari setelah berhenti puasa. Pada saat itu ia merasakan vitalitas dan kekuatan yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya.’


Di antara manfaat kesehatan dari puasa adalah:


1. Merilekskan tubuh dan memperbaiki syarafnya.

2. Menyerap zat-zat yang mengendap di usus. Pengendapan dalam jangka waktu yang lama mengakibatkan perubahan endapan itu menjadi kotoran yang beracun.

3. Memperbaiki fungsi pencernaan dan penyerapan.

4. Mengembalikan vitalitas organ pembuangan, dan memperbaiki fungsinya untuk membersihkan tubuh, yang mengakibatkan terkontrolnya stabilitas dalam darah dan berbagai cairan dalam tubuh.

5. Mengurai zat-zat yang berlebihan dan endapan-endapan di dalam jaringan yang sakit.

6. Mengembalikan keremajaan dan vitalitas sel-sel dan berbagai jaringan dalam tubuh.

7. Menguatkan indera dan meningkatkan IQ.

8. Memperbagus dan membersihkan Kulit.


Alexis Carrel, pemenang hadiah Nobel di bidang kedokteran, dalam bukunya Man the Unknown mengatakan, ‘Banyaknya porsi makanan dapat melemahkan fungsi organ, dan itu merupakan faktor yang besar bagi berdiamnya jenis-jenis kuman dalam tubuh. Fungsi tersebut adalah fungsi adaptasi terhadap porsi makanan yang sedikit…Gula pada jantung bergerak, dan bergerak pula lemak yang tersimpan dalam kulit. Semua organ tubuh mengeluarkan zat khususnya untuk mempertahankan keseimbangan internal dan kesehatan jantung. Puasa benar-benar membersingkan dan pengganti jaringan tubuh kita.’


Mukjizat Kedua: Minimal Puasa Satu Bulan dalam Setahun


Allah berfirman, ‘Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.’ (al-Baqarah: 185)

Prof. Nicko Lev dalam bukunya Hungry for Healthy mengatakan, ‘Setiap orang harus berpuasa dengan berpantang makan selama empat minggu setiap tahun, agar ia memperoleh kesehatan yang sempurna sepanjang hidupnya.’


Mukjizat Ketiga: Mengenai Penetapan Waktu Puasa dari Matahari Terbit hingga Matahari Terbenam


Waktu puasa syar‘i adalah dari terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari, dengan tidak berlebihan saat berbuka puasa. Penelitian ilmiah membuktikan bahwa jarak waktu yang tepat untuk puasa adalah antara 12 hingga 18 jam. Sesudah itu, simpanan gula dalam tubuh mulai terurai. Dreanik dkk. pada tahun 1964 mencatat sejumlah penyakit komplikasi kritis akibat berpuasa lebih dari 31 hari (wishal). Di sini tampak jelas mukjizat Nabawi dalam larangan puasa wishal atau bersambung.

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw bersabda, ‘Janganlah kalian puasa wishal.’ Para sahabat bertanya, ‘Tetapi engkau berpuasa wishal, ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Kalian tidak sepertiku. Sesungguhnya Tuhanku memberiku makan dan minum saat aku tidur malam.’


Mukjizat Keempat:


Penelitian ilmiah membuktikan urgensi makan sahur dan berbuka untuk mensuplai tubuh dengan asam lemak dan amino. Tanpa kedua zat ini, lemak dalam tubuh akan terurai dalam jumlah besar, sehingga mengakibatkan sirosis pada hati, dan menimbulkan berbagai bahaya besar bagi tubuh. Nabi saw bersabda, ‘Umatku akan tetap dalam keadaan baik selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur.’



(read more ...)



(read more ...)



Kamis, 27/08/2009 11:26 WIB

"Ilmu pengetahuan bisa membuat seorang budak menjadi seorang raja," itulah nasehat yang disampaikan oleh Mahmoud Abdul Rauf, mantan bintang National Basketball Association (NBA) yang kini menjadi imam masjid yang dibangunnya sendiri di Gulport, Mississipi.


Malam itu, di lantai dua masjidnya, Abdul Rauf memberikan ceramah di hadapan para jamaah yang kebanyakan remaja dalam acara makan malam dan penggalangan dana untuk sekolah Islam masjid tersebut. Dalam ceramahnya, ia berpesan pada anak-anak muda Muslim untuk menegakkan Islam dimanapun mereka berada dan menuntut ilmu sebanyak mungkin.


"Kita senantiasa melihat pendidikan sebagai bekal untuk mencari kerja demi keamanan finansial. Tapi kita melupakan tujuan utama pendidikan yang seharusnya menjadi bekal bagi seseorang agar bisa bertahan dalam kehidupan," kata Abdul Rauf.


Ia membandingkan pendidikan Barat yang berbasis sekularisme, memisahkan antara negara dengan agama. Menurutnya, pendidikan dalam Islam harus mencakup segala aspek kehidupan. "Umat Islam tidak bisa menyingkirkan agamanya ke dalam kloset," ujar Abdul Rauf.


Pada kesempatan itu, ia menguraikan hasil studi yang dilakukan oleh para profesor di Universitas Harvard dan Universitas Yale. Hasil studi itu menunjukkan bahwa anak-anak Afrika memiliki bakat lebih cepat menangkap pelajaran. "Sejarah membuktikan bahwa orang-orang Afrika dan Muslim adalah para penemu disiplin ilmu modern seperti aljabar dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya," tutur Abdul Rauf.


Ketika masih menjadi bintang di NBA, Abdul Rauf pernah menimbulkan kontroversi karena menolak berdiri saat dipedengarkan lagu kebangsaan. Menurutnya, sikap itu adalah pengejewantahan dari agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari. "Saya memanfaatkan kontroversi itu sebagai alat untuk menjelaskan pada orang lain tentang agama saya," tukas Rauf.


Pada akhirnya, ia berhasil meyakinkan banyak orang untuk menghormati nilai-nilai dan prinsip yang dianutnya. Mereka menghormati Rauf dan bahkan dalam banyak hal mengikuti langkah yang dilakukan Rauf. Secara khusus, ia berpesan pada anak-anak Muslim yang bersekolah di sekolah publik dan bukan sekolah Islam, agar bisa mengambil posisi sebagai pemimpin agar melakukan pendekatan seperti yang dilakukannya, terutama bagi mereka yang non-Muslim.


"Kita harus belajar tentang sejarah kita, memahami masa yang sedang kita jalani dan menyiapkan masa depan kita," pesan Rauf.


Abdul Rauf adalah mantan bintang NBA yang bermain untuk klub basket Denver Nugget dari tahun 1990-1995. Ia adalah bintang lapangan bagi timnya dan memenangkan penghargaan sebagai pemain yang paling kaya improvisasinya pada tahun 1993.


Rauf kemudian pindah ke klub basket Sacramento Kings lalu ke klub Vancouver Grizzlies. Ia membawa kemenangan bagi timnya tahun 1994 dan 1996. Setelah itu, Rauf memutuskan untuk meninggalkan lapangan basket dan mulai giat berdakwah. Ia membangun masjiddi kota kelahirannya di Gulport, Mississipi dan menjadi imam di masjidnya. (ln/tsm.media)


(read more ...)







Tidak salah lagi, kurma sudah pasti jadi makanan favorit khas Ramadhan. Sebagai makanan pembuka, kurma memang berada di urutan paling atas yang dianjurkan oleh Rasulullah saw. Tapi kita mungkin belum begitu mengetahui ada apa di balik buah kurma itu sebenarnya. Manfaat apa saja yang ada dalam buah kurma sehingga Rasul yang menganjurkan kurma sebagai salah satu menu buka puasa kita?


Sejarah kurma


Kurma berasal dari jazirah Arab (Timur Tengah), dan nama latinnya adalah Phoenix dactilyfera. Dinamakan begitu konon karena memang ada hubungannya dengan burung Phoenix yang bisa bereinkarnasi setiap kali ingin mati—Ini kepercayaan orang Mesir dan Yunani kuno.


Beberapa tahun ini, beberapa peneliti Israel mulai melirik untuk membudidayakan pohon kurma (seperti dilansir LiveScience.com). Israel menanam biji kurma yang usianya sampai 2000 tahun. Sampai sekarang, nih pohon baru setinggi 30 cm. Rencananya sih mereka bakal meneliti DNA pohon itu biar tahu bisa tidak pohon zaman purba memberikan manfaat buat kehidupan modern.


Manfaat kurma


Banyak manfaat kurma yang baru terkuak di zaman ini, khususnya buat kesehatan. Dari Salman ibn Aamir, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Jika salah seorang di antara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada, maka dengan air karena air itu bersih dan suci.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)


Kenapa mesti kurma? Jika kita berbuka puasa, organ pencernaan kita (khususnya lambung) butuh sesuatu yang lembut biar bisa bekerja lagi dengan baik. Jadi makanannya harus yang mudah dicerna dan juga mengandung gula dan air dalam satu makanan. Tidak ada makanan yang mengandung gula dan air yang lebih baik daripada yang disebutkan oleh hadits Rasul. Nutrisi makanan yang paling cepat bisa dicerna dan sampai ke darah itu adalah zat gula, terlebih makanan yang mengandung satu atawa dua zat gula (kalau tidak glukosa, ya sukrosa).


Nah, untuk hal ini kurma adalah makanan yang paling baik. Kurma mengandung zat gula yang tinggi yaitu antara 75-87% dan glukosanya sebanyak 55%, fructose (fraktosa) 45% lebih tinggi dari jumlah protein, minyak dan beberapa vitamin (seperti vitamin A, B2, B12), dan sejumlah zat penting laen kayak kalsium, phosphor, potassium, sulfur, sodium, magnesium, cobalt, seng (zinc), florin, nuhas (tembaga), salyolosa, dan sebagainya. Fraktosa bakal diubah jadi glukosa dengan cepat dan langsung diserap oleh organ pencernaan, lantas dikirim ke seluruh tubuh, khususnya ke organ-organ inti seperti otak, syaraf, sel darah merah, dan sel pembersih tulang.


Seperti yang kita ketahui, di ujung puasa kita setiap harinya, glukosa dan insulin dalam darah yang datang ke katup hati akan bergetar. Artinya proses buka puasa kita bakal meminimalisir pemakaian glukosa yang diambil dari organ hati dan sel-sel ujung (seperti otot-otot en sel syaraf) jadi sesuatu yang bisa menghilangkan setiap zat yang terkandung dalam gelokogen hati. Saat-saat seperti ini, organ-organ sangat bergantung untuk mendapatkan energi dari CO2 (karbondioksida) kimiawi dan oksida glukosa yang terbentuk dalam hati dari asam amino dan gleserol.


Jadi, melentur dan memanjangnya organ penyerap makanan jadi sangat berarti. Maksudnya, penyerapan glukosa yang cepat di dalam katup pembuluh darah vena di hati akan masuk ke dalam organ hati untuk pertama kalinya, kemudian masuk ke sel otak, organ pencernaan, otot-otot, dan seluruh jaringan tubuh yang laen. Makanya, zat gula itu makanan terbaik buat tubuh karena bisa menghentikan oksidasi karbon kimiawi, memangkas zat-zat berbahaya dalam tubuh, dan bisa meminimalisir lemahnya serta gemetarnya organ pencernaan. Cukup rumit ya?


Dr. Hissam Syamsi Basya dalam tulisannya menjelaskan berdasarkan penelitian biokimia, satu kurma yang kita makan itu mengandung air 20-24%, gula 70-75%, 2-3% protein, 8,5% serat, dab sedikit sekali kandungan lemak jenuhnya (lecithine). Lain lagi dengan kurma mengkel (atau Ruthab) yang mengandung 65-70% air, 24-58% zatgula, 1,2-2% protein, 2,5% serat, dan sedikit mengandung lemak jenuh. Dr. Ahmad Abdul Ra’ouf en Dr. Ali Ahmad Syahhat pernah melakukan penelitian kimiawi dan fisiologi terhadap kurma, hasilnya? Menakjubkan! Coba lihat:



  1. Jika kita buka puasa dengan kurma ruthab atawa tamar, persentase kandungan zat gula kita akan naik, artinya bisa membantu mengilangkan penyakit anemia (kurang darah). Oya, ruthab itu artinya kurma yang mengkel, yang masih segar, dan juga matang di pohon. Nah, kalo tamar itu kurma matang kering yang banyak terdapat di Indonesia (misalnya yang banyak dijual di Pasar Tanah Abang, Jakarta).

  2. Waktu lambung kosong karena tidak makan seharian, pas buka, lambung, akan lebih gampang mencerna dan menyerap makanan kecil yang mengandung gula, malah lebih cepat dan maksimal lagi.

  3. Kandungan zat gula dalam ruthab dan tamar (tentunya dalam bentuk kimia sederhana) menjadikan proses pencernaan di lambung jadi sangat mudah, soalnya 2/3 zat gula yang ada dalam tamar dan ruthab bisa meningkatkan kadar gula dalam darah dalam waktu yang singkat.

  4. Selain itu, kita juga tidak perlu minum banyak-banyak lagi sewaktu buka jika kita makan ruthab atau tamar, karena sudah mengandung air 65-70%?! Tetapi sangat tidak dilarang untuk minum pun.


Subhanallah. Tidak heran jika Rasulullah menganjurkan kurma sebagai salah satu makanan pembuka puasa kita yang utama. (in/sa/berbagaisumber)



*www.eramuslim.com

(read more ...)




The Wahid Institute, LSM berhaluan liberal Indonesia menganggap suburnya ideologi teror dengan mengaitkan dengan beberapa perda syariah



Hidayatullah.com—Wahid Institute Jumat (21/8) mengeluarkan Monthly Report on Religious Issues (MRORI 21 Agustus 2009). Dalam laporannya, LSM berhaluan liberal ini mengangkat peristiwa bom di Hotel JW Marriott – Ritz Carlton sebagai topik utama dalam laporan bulan Agustus 2009.



Di samping bom, beberapa peristiwa akhir-akhir ini juga menunjukkan tren lanjutan, yang juga patut dikritik. Jika selama setengah tahun terakhir, dinamika keberagamaan sepi dari peraturan diskriminatif, namun nampaknya saat ini mulai merebak dan menjamur di berbagai daerah di Indonesia.



Beberapa di antaranya, DPRD Tasikmalaya yang saat ini tengah membahas perda bernuansa syariah, sementara Cianjur telah lebih dulu, bahkan telah merancang Gerbang Marhamah (Gerakan Pembangunan Berakhlakul Karimah) empat tahun lalu.



Di Konawe, Kendari (Sultra) melakukan pembahasan mengenai raperda zakat, sedangkan Kabupaten Bulukumba (Sulsel) bahkan telah merancang perda zakat enam tahun lalu. Demikian juga soal usulan memasukkan kewajiban memakai busana muslimah untuk siswa di Bangkalan, terkait raperda soal pendidikan yang sedang dibahas DPRD setempat.



Di Aceh, Qanun Jinayat akan menjadikan hukum pidana Islam sebagai hukum positif. Sementara pada beberapa bulan lalu Bogor berencana mencanangkan kota Bogor sebagai Kota Halal, dengan alasan selaras dengan semboyan kota tersebut sebagai kota beriman.



Dari serangkaian peristiwa yang terjadi belakangan, yang berhasil dicermati dan dihimpun Wahid Institute dalam laporan bulanannya dapat ditarik beberapa analisa antara lain; bahwa serangan teror di Hotel JW Marriott dan Ritz­Carlton, Kuningan, Jakarta, jelas menunjukan Indonesia masih belum sepi dari gerakan terorisme.



Yang lebih jelas lagi adalah, ideologi teror ternyata masih terus tumbuh dan bisa diterima segelintir orang di negeri ini. Lebih daripada itu, yang paling berbahaya adalah jika orang masih percaya bahwa terorisme itu dibenarkan agama. Oleh karena itu seluruh elemen bangsa ini harus mewaspadai ancaman ini.



Di lain pihak, gerakan formalisasi keagamaan yang meminjam tangan negara agaknya masih akan belum surut. Bentuknya bisa rancangan peraturan daerah bernuansa agama atau sekadar imbauan dari pejabat terkait, seperti Perda Larangan Miras di Subang, Perda Miras Parepare, Raperda Zakat di Konawe Kendari, dan Raperda yang mengatur soal perjudian minuman keras, dan adab berpakaian di Tasikmalaya.



Dengan status kekhususannya, DPRA juga tengah memperjuangkan pengesahan rancangan Qanun Hukum Acara Jinayat, yang juga mengatur soal minuman, judi, dan khalwat (bersunyi­-sunyi), dan zina. Pelaku zina, misalnya, dalam rancangan qanun tersebut yang belum menikah akan diganjar seratus cambukan dan rajam.



Selain konteks Aceh, problem formalisasi sebetulnya terletak pada campur tangan negara terhadap kehidupan kelompok keagamaan tertentu, termasuk hasrat kelompok tertentu untuk meminjam tangan negara yang berpotensi mendiskriminasi kelompok keagamaan lain.



Dari beberapa analisa tersebut, Wahid Institute merekomendasikan beberapa hal.  Pertama, dalam kasus terorisme, selain terus memburu pelaku dan otak intelektualnya, sebaiknya pula dibarengi dengan upaya meminimalisir pencitraan dan pandangan jika teror itu identik dengan agama.



Kedua, citra masyarakat internasional yang masih saja memberi stigma buruk atas Islam dengan teror, tentu saja akan memperburuk situasi. Karena itu usaha untuk terus menyebarkan doktrin agama yang toleran, menolak kekerasan, harus terus dikembangkan. Sebab jika masih banyak orang yang sangat percaya jika teror dibenarkan agama, sesungguhnya benih­-benih terorisme itu masih sangat potensial dan sewaktu­-waktu siap meledak.



Ketiga, pemerintah, khususnya Kementerian Dalam Negeri hendaknya lebih memberikan perhatian terhadap Perda dan Raperda, khususnya dalam upaya mengefektifkan proses harmonisasi hukum, apakah peraturan tersebut bertentangan dengan peraturan yang lebih tinggi atau tidak. “Ini adalah amanat UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-­Undangan yang perlu dijalankan. Perlu juga diingat bahwa perda-­perda bernuansa agama bisa problematik untuk membangun kehidupan masyarakat yang majemuk dengan beragam agama dan keyakinan.”



Dicatut



Wahid Institute adalah organisasi LSM yang didirikan oleh Abdurahman Wahid dan  Direktur Eksekutifnya dipegang anaknya sendiri, Yenny Zannuba Wahid juga.



Dengan sponsop LibforAll, sebuah LSM yang ditengarai milik Yahudi di Indonesia, Wahid Institute berada di balik peluncuran “Buku Ilusi Negara Islam”,  yang kelak menui kontroversi karena beberapa nama yang dicantumkan mengaku telah dicatut seolah-olah pernah melakukan penelitian.  Di antara nama yang dicatut adalah dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Abdur Rozaki. Dosen UIN ini merasa, tidak pernah menjadi peneliti buku tersebut, tapi namanya tercantum dalam buku yang memunculkan polemik tersebut.



Rozak mengaku, ia bersama 2 temannya, Nur Kholik Ridwan, dan Supardi pernah diajak untuk menjadi peneliti buku tersebut. Namun ia membatalkan kontrak karena Yayasan Fatsuna, yang menerbitkan buku itu menolak diajak debat tentang metodologi penelitian.



"Kami bertiga, saya, Nur Kholik Ridwan, dan Supardi mundur. Mereka katanya hendak melakukan riset perkembangan agama di Indoenesia, tapi diajak debat metodologi tidak mau. Ini aneh," jelas Rozak dikutip detik suatu hari.



Menariknya, dua tahun setelah penolakan tersebut,  buku Ilusi Negara Islam diterbitkan Wahid Institute pada 2009 dan nama Rozak beserta kawan-kawan tetap dicantumkan. [cha/chtp/berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

 

 

(read more ...)



Wawasan JK. Rowling yang begitu dalam mengenai ritual dan simbol pagan-okultisme diyakini berasal dari dua latar belakang kehidupannya: Edinburgh dan Universitas Exeter.

Wawasan JK. Rowling yang begitu dalam mengenai ritual dan simbol pagan-okultisme diyakini berasal dari dua latar belakang kehidupannya: Pertama, dari sejarah masa lalu kota Edinburgh di mana JK. Rowling menggarap novel Harry Potter pertamanya, dan kedua, dari Universitas Exeter yang memang dikenal sebagai lembaga pendidikan yang sarat dengan pengajaran okultisme. Inilah penjabarannya :


Edinburgh


Kota Edinburgh berada di Teluk Fort yang berhadapan langsung dengan Laut Utara. Ia berada di Barat Skotlandia, berbatasan dengan kota Berwick on Tweed di Utara Great Britain. Sebelah timur Edinburgh berdiri kota Glasgow yang juga berada di dataran rendah.


Sejarah dunia mengenal kota kelahiran Harry Potter, Edinburgh, sebagai tempat pelarian utama para Ksatria Templar ketika Paus Clement V dan Raja Philip le Bel dari Perancis menumpasnya dari daratan Eropa di tahun 1307.


Kala itu, Skotlandia merupakan satu-satunya wilayah di Eropa yang bebas dari pengaruh Vatikan karena tengah diekskomunikasikan. Para Templar diterima dengan tangan terbuka oleh Raja Skotlandia, Robert de Bruce, dan mereka akhirnya menguasai serikat tukang batu bernama Mason yang kemudian dari nama ini para Templar mendirikan organisasi rahasia mereka yang baru: Freemasonry.


Sampai sekarang, markas para Freemason di seluruh dunia dinamakan “Loji”, “Loge”, atau “Lodge”, yang berasal dari sebutan gilda atau asrama tukang batu Skotlandia yang memang bernama Loji. Gedung Bappenas sekarang yang ada di Menteng, Jakarta Pusat, merupakan salah satu dari banyak Loji Freemasonry yang masih aktif sampai dengan tahun 1962.


Di Edinburgh inilah, para Mason Bebas mempraktekkan ilmu sihir Kabbalah dan menyelenggarakan ritual Luciferianistiknya. Di atas sebuah bukit, dekat Edinburgh dan hanya berjarak 15 kilometer dari pusat Templar kuno di Balantrodoch, para Templar mendirikan sebuah kapel yang awalnya diakui sebagai kapel keluarga, walau setelah pembangunannya selesai, kapel yang ada sama sekali tidak bisa disebut sebagai kapel keluarga karena terlalu mewah, besar, dan bernilai jika hanya dipakai oleh keluarga. Namun kalau yang dimaksud dengan istilah ‘keluarga’ adalah “Keluarga Besar Templar” atau “Persaudaraan para Templar” maka ini bisa saja. Pembangunan kapel ini dipimpin langsung oleh William St Clair.


Para Mason dan Rosicrusian terpilih didatangkan dari sejumlah negara Eropa untuk membangun kapel yang dinamakan Rosslyn Chapel. Selain didedikasikan kepada para Templar dan para leluhurnya, juga sebagai bentuk penghormatan pada para dewa-dewi, Kapel Rosslyn dipercaya didirikan sebagai bentuk tantangan kepada Gereja Katolik dan Paus. “Kami masih ada dan berdiri tegak setelah 150 tahun engkau menumpas kami!” mungkin seperti ini pesan para Templar terhadap Gereja.


Tidak seperti gereja pada umumnya, pembangunan dan arsitektur Kapel Rosslyn yang diselesaikan pada tahun 1450 sungguh-sungguh kental dengan segala ornamen dan simbol yang merepresentasikan keyakinan para Mason. Selain gereja, di sekeliling daerah itu juga dibuka sebuah perkampungan guna dijadikan tempat penampungan para Mason dan Rosicrusian yang bekerja membangun gereja ini.   


Arsitektural kapel tersebut sungguh unik dan tiada duanya di seluruh daratan Eropa, bahkan dunia. Mungkin hanya Kuil Herod (Haikal Sulaiman) yang mampu menyamai kerumitan dan keindahan, sekaligus keseraman, arsitektural Rosslyn. Kapel ini dengan sangat tepat menangkap atmosfir Kuil Herod. Nyaris seluruh bagian dari kapel ini dihiasi dengan simbol-simbol Masonik. Di antara simbol itu adalah relief di dinding-dinding dan lengkungan-lengkungan yang menggambarkan kepala Hiram Abiff dan pembunuhnya, sebuah relief dari suatu upacara pembaiatan, dasar-dasar dari lengkungan, dan kompas-kompas.


Kapel ini diwarnai oleh warna paganisme dan okultisme yang kental, di mana di dalamnya bercampur elemen arsitektural gaya Mesir, Yahudi, Gothik, Norman, Celtik, Skandinavia, Templar, dan Masonik. Inilah puncak dan maha karya dari para tukang batu (Mason) saat itu. Salah satu aspek yang paling unik adalah puncak-puncak tiangnya yang didekor dengan motif bunga lili, kaktus, dan jagung, di samping bermacam-macam bentuk tanaman lainnya.


Dikarenakan banyaknya elemen dekoratif pagan di dalam kapel ini, sehingga seorang pendeta, yang menuliskan kisah tentang pembaptisan yang dilakukan oleh Baron Rosslyn,  tahun 1589 mengeluh, “Karena kapel dipenuhi oleh patung-patung pagan, tidak ada tempat yang sesuai untuk menyelenggarakan Sakramen”. Ini artinya tiada tempat yang bersih dari simbol-simbol paganisme. Namun pada tanggal 31 Agustus 1592, berkat tekanan yang dilakukan terhadap Baron Oliver St. Claire dari Rosslyn, altar kapel yang bergaya pagan dihancurkan.


Rosslyn sendiri dalam bahasa Gaelik memiliki arti sebagai “Pengetahuan kuno yang diwariskan dari generasi ke generasi”, ini memiliki arti yang sama dengan Kabbalah yakni “Pengetahuan Rahasia kuno yang diturunkan secara turun-temurun lewat lisan”.


Adik kandung JK. Rowling, Diana, tinggal di kota ini. Dan ketika menggarap novel pertamanya, entah novel-novel berikutnya, Rowling menumpang di rumah Diana tersebut. Rowling biasa menulis di kafe-kafe di sekitar rumahnya itu. Tidak disebutkan apakah dia bepergian juga atau melakukan riset dengan mengunjungi Rosslyn Chapel, dan atau melakukan wawancara atau bersahabat erat dengan sejumlah tokoh Mason di sana. Namun warna Okultisme yang memang banyak di Edinburgh, memang menjadi “darah” bagi serial Harry Potter-nya.


Universitas Exeter


Motto Universitas Exeter adalah “Lucem sequimur” yang berarti “Kami Mengikuti Cahaya”. Mungkin bagi orang awam, istilah “Cahaya” di sini dipersepsikan sebagai ilmu pengetahuan. Namun dalam paganism-codex, “Light” atau “Cahaya” merupakan nama lain daripada “Lucifer”.


Wikipedia menyebut Exeter, Inggris, dengan kalimat, “Exeter ialah sebuah kota di Inggris. Merupakan ibukota Devon. Penduduknya berjumlah 100.000. Di kota ini ada sebuah katedral, reruntuhan kastil, dan sejumlah dinding peninggalan Kekaisaran Romawi. Exeter dibangun oleh bangsa Romawi, yang menyebutnya Isca Dumnoniorum. Setelah mereka meninggalkannya dan bangsa Anglo-Sakson pindah di abad ke-7, nama ini diubah menjadi Exeter. Kemudian Exeter menjadi pusat perlawanan dalam penaklukan Normandia. Sekarang kota ini menjadi tempat kedudukan Meteorological Office, yang memperkirakan cuaca di negeri ini.


Yang menarik, di bawah keterangan ini ada sub judul “Kota Kembar” yang menyebutkan: Rennes, Perancis. Itu berarti Exeter banyak persamaan dengan wilayah di selatan Perancis yang sejak dulu memang sarat dengan kepercayaan Kabbalah. Sekurangnya ada tiga tempat di sini yang menggunakan istilah “Rennes” yakni Rennes Le Chateau (legenda Grail dengan Pastor Berenger Sauniere, dipaparkan secara panjang lebar dalam buku “The Holy Blood, Holy Grail”), Rennes Le Bans (misteri kematian Pastor Henry Boudet yang sampai kini tidak terpecahkan), dan Pyrennes, nama pegunungan di mana banyak kota-kota kecil ada di sekitarnya.


Di wilayah ini juga ada kota kecil bernama Provence, di mana untuk pertama kalinya ajaran Kabbalah yang biasanya diwariskan dengan lisan, dibukukan. Tahta Suci Vatikan mengenal daerah ini sebagai  sarang Heresy. Sebab itu, selatan Perancis sampai saat ini merupakan daerah yang tertinggal dalam pembangunan fisik (ditelantarkan?) dan dibiarkan tumbuh dengan sendirinya.


Orang-orang di sini percaya, jasad Maria Magdalena—sosok yang sangat dipuja oleh persaudaraan-persaudaraan rahasia okultisme seperti Illuminaty, Templar, Rosikrusian, dan Freemasonry, sebab itu Maria Magdalena dianugerahi julukan ‘Iluminatrix’ yang berarti “Cahaya di atas Cahaya”, serupa dengan arti nama Lucifer—dikubur di dalam tanahnya. Sebab itu, ada larangan resmi untuk menggali tanah di sekitar daerah ini bahkan untuk menanam sebatang pohon pun!


Selatan Perancis merupakan daerah kuno yang sudah ditinggali dan sudah memiliki kepercayaan jauh sebelum agama Kristen lahir. Terdapat banyak terowongan di bawahnya yang saling terhubung satu dengan yang lainnya. Banyak rahasia dan mitos di sini, antara lain harta karun Templar dipercaya juga dipendam di dalam tanahnya. Konon, Yoseph Arimatea menyelamatkan Maria Magdalena dari Yerusalem ke Perancis Selatan ini dan Maria meninggal dunia di sini. Setiap tahun, tiap 22 Juli diselenggarakan Festival Magdalena di selatan Perancis.


Universitas Exeter, tempat dimana selama empat tahun JK. Rowling kuliah bahasa Perancis, memang dikenal sebagai lembaga pendidikan yang banyak bersentuhan dengan ritus-ritus pagan-okultisme seperti Druid, Celtics, dan Kabbalah. Hal ini tidak aneh karena kota ini memang dibangun oleh bangsa Romawi yang memang akrab dengan ritual-ritual seperti itu. Bahkan walau mereka kemudian menerima kekristenan, namun banyak simbol-simbol pagan-okultis tetap dipertahankan walau di dalam Vatikan City sekalipun, dan banyak juga yang diambil sebagai bagian dari ritual Gereja. (bersambung/ridyasmara)


(read more ...)



Harry Potter adalah fenomena dunia sastra. Banyak kontroversi di sana. Sebagian kalangan menyebut tujuh serialnya sebagai "The Handbook of Occult". Mengapa?

Dalam suatu acara di Bogor dua pekan lalu, beberapa orang ibu meminta agar rubrik ini tidak melulu menyorot “persoalan orang dewasa” seperti politik dan sebagainya. Mereka minta agar “persoalan anak-anak” juga dikupas, khususnya bahaya fenomena Harry Potter dilihat dari akidah Islam. “Persoalan akidah sekecil apa pun bukan masalah yang bisa dianggap remeh kan, apalagi ini menyangkut jutaan anak-anak yang tersihir Harry Potter!” ujar mereka. Benar juga.


Saya sendiri jauh-jauh hari yakin jika Harry Potter bukan sekadar ceritera anak-anak biasa, namun lebih tepat sebagai “Handbook of Magic and Occult”. Apa yang “diajarkan” sekolah Hogwarts banyak persamaan dengan naskah ritual pemanggilan Dewi Iblis Lilith, isteri Lucifer dan ibu dari Baphomet, yang saya miliki. Belum lagi berbagai simbolnya dan karakternya.


Saya berusaha mengembalikan memori atas sejumlah novelnya yang telah dibaca, dan juga meneliti ke-enam filmnya secara berulang-ulang. Hasilnya, “Ini memang bukan sekadar novel!”. Para pendidik di Inggris, Amerika Serikat, dan sejumlah negara dunia, termasuk sejumlah pemuka Gerejanya, bahkan melarang anak-anak didiknya membaca atau pun menonton filmnya. Jika non-Muslim saja demikian, apalagi bagi seorang Muslim. Nah, di bulan yang penuh berkah dan ampunan ini, kami akan paparkan sisi gelap Harry Potter yang insya Allah akan menambah wawasan kita semua. Semoga menjadikan kita semua lebih aware terhadap hal-hal yang kelihatan sepele, namun sesungguhnya amat berbahaya dari sisi akidah. Selamat menyimak.


***


Maret 2000, Carol Rookwood, Kepala Sekolah Gereja St Marys Island di Catham, Inggris, telah mendengar jika rekan-rekan sejawatnya di Amerika Serikat telah melarang seluruh anak didiknya untuk membaca semua novel Harry Potter (saat itu film pertama Harry Potter belum rilis). Akhirnya Carol Rookwood pun mengikti jejak mereka. Dia dengan tegas melarang seluruh anak didiknya untk membaca novel Hary Potter.


“Semua novel yang dikarang perempuan penulis dari Edinburg itu bertentangan dengan apa yang diajarkan Alkitab. …tukang sihir, setan, dan iblis semuanya jahat. Tidak ada sihir yang baik!” tandas Rookwood. (BBC, “School Bans Harry Potter”, 29/3/2000).


Sikap Rookwood dikecam The National Secular Society. Ketua “Masyarakat Sekular Inggris”, Keith Porteous Wood menyatakan, “Selama berabad-abad, imajinasi anak-anak telah tumbuh bersama kisah-kisah dongeng tentang tukang sihir dan peri. Sikap melarang membaca buku yang sangat populer itu akan sangat merugikan (anak-anak).”


JK. Rowling sendiri menjawab, “Saya tidak terlalu merisaukan kontroversi yang ada mengenai buku saya. Saya hanya menulis sesuatu hal yang sudah ada berabad lalu, pertempuran antara kekuatan kebaikan melawan kekuatan jahat. Pertempuran antara Tuhan dan Setan.”


Di Indonesia, kontroversi seperti itu juga terjadi walau tidak segencar di Inggris dan Amerika. Ada dua kemungkinan: Pertama, masyarakat di sini merasa akidahnya sudah sedemikian kuat sehingga tidak merasa cemas dengan segala dampak negatif yang ada. (Mungkin mereka ini beranggapan, “Jangankan Harry Potter, majalah Playboy saja direstui pemerintah dan dijual bebas di mana-mana, toh tidak apa-apa”). Dan yang kedua, masyarakat di sini masih minim pengetahuannya tentang akidah, sehingga demikian permisif dengan simbol dan ritual satanic yang memang banyak dipaparkan dalam novel-novel Harry Potter tersebut. Atau bisa jadi, The Mind Control yang dilancarkan kelompok “Dia yang tidak boleh disebut namanya” sudah berhasil di negeri ini sehingga apa pun boleh-boleh saja.


JK. Rowling, Exeter, dan Warisan Templar


Sebelum mengupas satu-persatu sisi gelap serial Harry Potter, kita sebaiknya mengetahui siapa orang yang berada di belakang semua ini. Nama asli pengarang serial Harry Potter adalah Joanne Rowling, tanpa huruf “K” di tengahnya. Namun penerbitnya menyarankan agar Rowling menambahkan huruf depan dan disingkat agar terkesan sebagai laki-laki. Mereka beranggapan jika nama perempuan saat itu belum menjamin pemasaran yang baik bagi karya novel seperti Harry Potter.


Akhirnya Rowling memilih nama “Kathleen” yang ditempatkannya di tengah. Dalam cover novel ditulis “J.K. Rowling”. Namun dalam hukum di negaranya, sisipan nama “Kathleen” tetap tidak diakui.


Rowling lahir sebagai anak pertama pasangan Peter dan Ann, keduanya mantan tentara Angkatan Laut Inggris, pada 31 Juli 1965 di Chipping Sodbury, 12 mil timur laut Bristol, Inggris. Adiknya, Diana, lahir ketika Rowling berusia satu tahun 11 bulan. Sejak kecil Rowling sudah terobsesi dengan banyak bahan bacaan. Bahkan sudah mulai menuliskan cerita pendek sederhana sejak usia 5 tahun dengan karya perdananya berjudul “Rabbit”.


Dari Chipping Sodburry, keluarganya pindah ke daerah Winterbourne saat Rowling berusia empat tahun. Di tempat yang baru ini, Rowling punya tetangga bernama Potter dan mereka bersekolah di Sekolah Dasar St. Michael. Ketika Rowling baru 9 tahun, keluarganya pindah lagi ke Tutshill, South Wales. Rowling masuk Sekolah Menengah Wyedean Comprehensive. Lulus dari Wydean, Rowling ingin melanjutkan ke Oxford University namun gagal. Dia kemudian masuk  ke Universitas Exeter di Inggris mengambil jurusan bahasa Perancis selama empat tahun, termasuk mengajar bahasa Inggris di Paris selama setahun di tahun terakhir perkuliahan. Tahun 1990 Rowling lulus dan kembali ke Inggris.


Menurut beberapa artikel kisah hidupnya, ide awal dan bab-bab pertama tentang novel Harry Potter timbul begitu saja saat Rowling tengah berada di dalam kereta api dari Machester menuju London, ketika dia masih gadis di tahun 1990. Karena tidak membawa alat tulis, Rowling menyimpan ide tentang seorang anak lelaki berkacamata bundar tersebut di dalam otaknya. Kalimat-kalimat awal novel perdana Harry Potter ditulisnya di dalam flat di Manchester namun baru diselesaikan beberapa tahun kemudian, saat dia telah berpisah dengan suami pertamanya yang seorang wartawan Portugal dan membawa seorang anak perempuan yang masih sangat kecil bernama Jessica. Bersama Jessica, Rowling menjadi Single-Parent dan menumpang hidup di rumah adiknya, Diana, di Edinburg, Skotlandia.


Di Edinburg-lah Rowling menyelesaikan novel Harry Potter pertamanya. Novel itu diberi judul “Harry Poter and The Philosopher’s Stone”, diselesaikan dengan sebuah mesin ketik tua di tahun 1995. Setelah ditolak 12 penerbit, Bloomsbury akhirnya mau menerbitkannya. Namun novel ini baru meledak di Inggris tahun 1997 dan di Amerika diubah judulnya menjadi “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” setahun kemudian. Benarkah demikian? Bisa ya, bisa pula tidak. Mengapa demikian?


Menelisik novel perdana Harry Potter yang begitu banyak istilah sihir, simbol, binatang, dan ritual okultisme purba—seperti Black-Cat, Owl, Jubah Hitam, ‘Minerva’ McGoganall, Bolt of Lightning, Ular, Sapu Terbang, Quidditch, Mirror of Erised, Nicholas Flamel “Sang Grandmaster Illuminati”, Unicorn, Batu Bertuah—yang terjalin dengan begitu cermat dalam kisah dan intrik yang dialami Harry Potter di masa awal bersekolah di Hogwarts, sulit untuk membayangkan hal itu bisa dihasilkan dari seorang ibu rumah tangga biasa yang selama ini disematkan pada sosok JK. Rowling.


Sudah bukan rahasia umum jika sebuah novel sering berlatar belakang kehidupan penulisnya. Misal, John Grisham yang seorang lawyer dikenal sebagai penulis novel-novel ber-setting peristiwa hukum (The Firm), Mario Puzo yang sarat pengalaman dengan intrik dan konflik selama Perang Dunia II dikenal sebagai penulis kisah-kisah mafia (The Godfather), Michael Chrichton yang tenaga medis dan ahli biologi dikenal sebagai penulis novel-novel bersetting yang sama (A Case of Need, Five Patients), dan sebagainya.


Dan seorang JK. Rowling yang mampu menulis tujuh novel sangat tebal, yang sarat dengan ritual dan benda sihir, okultisme, simbol-simbol paganis seperti Celtics, Druids, bahkan Kabbalah, yang dijalin sedemikian rupa dengan apik dan mengalir, bahkan tujuh serial novelnya ini disebut oleh banyak kalangan sebagai “The Handbook of Magic” atau “The Handbook of Occult”—karena secara rinci memaparkan segala pernik tentang ritual sihir, termasuk mantera-manteranya—tentulah seseorang yang menguasai apa yang ditulisnya, minimal banyak tahu tentang hal tersebut. Darmana JK. Rowling mengasai seluk-beluk sihir tersebut? Jawabannya, sementara ini, ada dua latar belakang kehidupanya. Pertama, kota Edinburg tempat dimana dia tinggal, dan kedua, Universitas Exeter tempat dia menimba ilmu. Kedua tempat itu memang dikenal dekat dengan ilmu sihir, di mana Kabbalah—ritual Osirian Mesir Kuno—menjadi sumber utamanya.(bersambung/ridyasmara


(read more ...)




Arrahmah.Com - Mencermati pengumuman resmi Polri, 12 Agustus 2009, yang menyatakan, ‘teroris yang tewas dalam penggerebegan di Jati Asih Bekasi adalah Air (Ari?) Setyawan dan Eko. Sedangkan korban yang tewas di rumah Muzahri di desa Beji Temanggung, Jawa Tengah, bukan Noordin M. Top, melainkan si peñata bunga Ibrohim.


Lalu, siapa pelaku bom di Hotel JW Marriott dan Ristz Carlton, 17 Juli 2009, yang menewaskan 9 orang, dan 41 orang luka-luka itu? Sampai sekarang, tidak seorang pun tahu, tidak ada pula yang dapat memberi klarifikasi. Ibrahim yang dicurigai sebagai arsitek bomber dalam ledakan di JW Marriot, justru menjadi korban salah bunuh pada 8/8/09, persis nomor Densus 88 antiteror. Sedangkan Noordin M. Top belum tertangkap.



Sejak perburuan teroris dilakukan polisi, sudah banyak anggota masyarakat yang menjadi korban salah tangkap, salah tembak, dan salah bunuh, hanya karena dicurigai menjadi bagian dari jaringan teroris. Bagi polisi, ‘Teroris itu orang jahat, maka tidak salah membunuh mereka kapan saja dan dimana saja’. Hal ini, tentu saja mengundang keprihatinan dan menimbulkan ketakutan di tengah-tengah masyarakat. Padahal, mereka yang dibunuh itu, hampir pasti belum terbukti berbuat teror. Baru ‘diduga’ sebagai jaringan teroris.

 

Bahwa terorisme harus dibasmi, iya. Tetapi tindakan pembunuhan tanpa melalui proses pengadilan, jelas melanggar hukum. Ada pihak yang mengatakan, ‘bila tidak didahului maka teroris akan mendahului membunuh polisi.’ Jika logika ini digunakan, lalu apa bedanya polisi dengan teroris?



Distorsi Agama



Dalam kondisi panik dan kebingungan, muncullah berbagai spekulasi intelijen, termasuk menggunakan tafsir safsathah (semau gue) untuk mendiskreditkan ayat-ayat Al Qur’an sebagai postulat terorisme. Akibatnya, arah pemberantasan terorisme mengalami disorientasi. Pada awalnya adalah perang global Amerika melawan mujahidin Al Qaidah, kini berubah menjadi isu lokal yang diklaim mengancam keselamatan kepala Negara. Semula hendak memberantas teroris, malah kini menyerang pemikiran dan faham keagamaan.

 

Brigjen Anton Tabah, staf Ahli Kapolri, adalah salah seorang yang melakukan generalisasi menggunakan tafsir safsathah itu. Dalam tulisan berjudul ‘Terorisme Sembunyi di Bungker-bungker’ yang dimuat Harian Kedaulatan Rakyat, 15 Agustus 2009, Anton Tabah mengopinikan bahwa pengetahuan dan pemahaman agama yang dangkal menjadi aspek religius pemicu terorisme. Sebab, kata Anton, orang akan mudah menokohkan seseorang yang dipandang pandai di bidang agama dan menerima ajaran-ajaran dari kitab suci secara hitam putih.



Menurut Anton Tabah: “Biasanya yang membuat orang ekstrem dan radikal adalah firman Allah (Quran) Surat V ayat 44, 45 dan 47, yang artinya, “Barangsiapa tidak memakai hukum Allah maka ia Kafir, Dhalim, dan Fasik.” Dimana Kafir, Dhalim, dan Fasek adalah golongan ahli neraka. Jika seseorang terkunci pemahamannya pada ayat-ayat ini secara hitam putih maka ia akan menjadi ekstrem radikal. Dari sinilah biasanya “ustadz perekrut” calon-calon anggota teroris memanfaatkan kedangkalan masyarakat terhadap agamanya. Inilah antara lain jawaban kenapa jaringan teroris di Indonesia mampu merekrut anggota-anggota baru.” (KR 14/8, hal 14).



Ayat tersebut di atas merupakan koreksi terhadap sikap orang-orang yang enggan menaati tuntunan Allah dan Rasul-Nya, yang mengutamakan pendapat dan dorongan nafsunya daripada syariat Allah Swt. Para mufassir memahami ayat ini sebagai kewajiban penguasa menjalankan syariat Islam.



Mereka yang mengingkari dan menolaknya dinyatakan kafir, bila penolakan tersebut dilandasi keyakinan bahwa Syariat Islam tidak layak untuk mengatur umat manusia. Label dzalim dikenakan, misalnya pada seorang hakim yang menangani suatu perkara, dia lebih memilih hukum lain padahal syariat Allah mengatur perkara yang ditangani. Demikian pula, seseorang disebut fasek karena durhaka pada Allah. Menyakini kebenaran dan keadilan hukum Allah, tapi menolak mengamalkannya, malah memilih hukum sekuler.



Jadi, ketiga ayat tersebut di atas tidak ada kaitannya dengan tujuan maupun motivasi terorisme. Tidak ada seorang mufassir pun, sejak zaman para shahabat hingga mufassir muta’akhirin yang menafsirkan ayat tersebut seperti difahami Anton Tabah. Terorisme, siapapun pelaku dan apapun motivasinya, ayat tersebut tidak bisa dijadikan justifikasi. Apakah tindakan Densus yang menganiaya dan membunuh tersangka teroris tanpa alasan yang dapat dibenarkan secara hukum, merupakan justifikasi Pancasila dan UUD 1945?



Oleh karena itu, mengaitkan ayat di atas dengan terorisme jelas fitnah, sekaligus penistaan terhadap agama Islam. Begitupun, menganggap para mujahid yang berjuang menegakkan syariat Islam sebagai teroris atau sebaliknya memosisikan teroris sebagai mujahid, jelas provokasi negative. Kita khawatir, anggapan demikian dapat mengundang konflik baru yang konsekuensi politisnya sulit diprediksi.



Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam pidato kenegaraan menyambut delapan windu (64 tahun) kemerdekaan RI, 16 Agustus 2009, menyatakan bahwa sumber terorisme adalah keterbelakangan, ketidakadilan, dan kemiskinan. Presiden SBY sama sekali tidak menyinggung keterlibatan kelompok atau ajaran agama tertentu sebagai pemicu terorisme di Indonesia. Sekalipun terkesan menghindar dan berhati-hati, untuk tidak mengaitkan agama dengan terorisme, tapi kita dapat memahami arah pidato SBY. Yaitu, adanya keinginan pemerintahan SBY lima tahun ke depan, untuk menjalankan politik yang lebih bersahabat dengan seluruh komunitas agama di Indonesia, sekalipun terhadap komunitas agama yang dinilai fundamentalis.



Namun, berbeda dengan SBY, adalah komentar aparat intelijen, termasuk komentar tokoh-tokoh Islam ambivalen. Munculnya para jawara intelijen akhir-akhir ini, seperti Amsyad Mbai, Hendropriyono, Suryadarma, termasuk Anton Tabah, yang menuding pemahaman keagamaan sebagai ideologi terorisme, bukannya membantu menyelesaikan masalah terorisme. Sebaliknya, patut dicurigai mereka sedang menjalankan agenda global sebagai kaki tangan imprialisme asing.



Bukan mustahil, dengan menggunakan momentum pemberantasan terorisme, mereka berupaya menutupi ‘aib masa lalunya’ yang kejam terhadap gerakan Islam dengan cara menyisipkan fitnah. Akibatnya, apa yang selama ini dianggap bahaya jalan sesat para teroris, karena menggunakan ajaran agama sebagai justifikasi tindakannya, justru aparat keamanan melakukan kesesatan yang sama.



Sebagai Staf Ahli Kapolri, tentu tidaklah bijaksana bila Brigjen Anton Tabah berbicara tentang pemberantasan terorisme menggunakan pendekatan SARA. Akan lebih baik, bila penyelesaian masalah terorisme tanpa distorsi agama, melainkan dengan cara meningkatkan kesejahteraan rakyat, memajukan pendidikan, dan menegakkan keadilan hukum seperti dijanjikan presiden SBY.





Jogjakarta, 17 Agustus 2009

Penulis : Irfan S Awwas,

Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

Jl. Karanglo No. 94 Kotagede, Jogjakarta

Telp./Hp 0274 – 451665/ 08122761569.


 


(read more ...)



Bagian yang paling penting dalam konsumsi madu adalah memilih madu yang berkualitas. Pada dasarnya semua madu adalah asli, tapi untuk menentukan kualitas madu, harus dilakukan penelitian di laboratorium.



Kebanyakan orang salah kaprah dengan mitos-mitos yang beredar di masyarakat tentang cara memilih madu. Misalnya tentang semut tidak suka madu. Mitos ini salah, karena ada gula ada semut. Semut tidak akan suka dengan madu apabila madu tersebut sudah menjadi asam atau terfermentasi.



Berikut ini beberapa tips yang benar dalam memilih madu:



1. Kental, tidak berbuih, dan rasanya manis.



Tingkat kekentalan madu tergantung pada kadar air dalam madu. Menurut FAO ( organisasi pangan PBB ), kandungan air dalam madu yang bagus maximum 20%. Jika madu tersebut berbuih, artinya madu tersebut terlalu lama dibiarkan di wadah terbuka dan mengalami fermentasi. Dan seringkali rasanya menjadi sedikit asam.



2. Tidak tembus ketika ditetesi ke atas kertas Koran



Madu yang bagus memiliki kekentalan yang tinggi dan kandungan air yang sedikit. Sehingga madu tidak akan menembus kertas koran. Tapi gula aren yang dipanaskan juga memiliki kekentalan seperti madu.



3. Menggelembung jika dipanaskan



Coba bandingkan gula dan madu yang dipanaskan. Larutan gula akan berbuih banyak seperti air mendidih jika dipanaskan. Sedangkan madu menghasilkan gelembung-gelembung udara yang membesar lalu meletus jika dipanaskan.



4. Madu tidak mengering jika dijemur



Oleskan sedikit madu pada tangan, lalu jemur di terik matahari. Madu asli yang tidak bercampur larutan gula tidak akan menjadi kering. Sedangkan madu campuran akan membentuk lapisan kerak gula yang menempel di tangan

[muslimdaily.net/cintaherbal]


(read more ...)



dakwatuna.com – “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar”. (Fusshilat: 53)

Dr. Muhammad Abdullah As-Syarqawi mengomentari ayat di atas dengan mengatakan bahwa sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, di dalam Al-Qur’an telah mendorong akal manusia agar senantiasa memperhatikan, berpikir, serta merenung agar akal dan kalbunya merasa puas terhadap aspek ketuhanan, risalah dan kebangkitan.


Sungguh anugerah terbesar Allah kepada umat manusia adalah akal. Jika potensi ini tidak difungsikan atau difungsikan tidak maksimal, maka akan melahirkan sikap jumud yang membawa kepada taklid dan fanatisme buta. Justru Islam datang membawa prinsip keseimbangan (washathiyyah) setelah ideologi sebelumnya sangat kental dengan jumud dan fanatisme. “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasath (adil, pilihan, seimbang)”. (Al-Baqarah: 143)


Tindakan mengabaikan anugerah akal bisa menjerumuskan seseorang ke dalam siksa Allah seperti yang disaksikan sendiri oleh para penghuni neraka ketika mereka menyesali sikapnya dengan mengatakan, “Sekiranya kami mau mendengarkan atau menggunakan akal pikiran, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Al-Mulk: 10)


Untuk keluar dari jebakan taklid buta, umat Islam dituntut untuk berani melakukan “ijtihad” sebagai salah satu pilar tegaknya syariat dalam kehidupan manusia. Ketertinggalan umat Islam dari hakikat agama dan persoalan dunia, tiada lain karena ketertutupan akal mereka yang hanya cukup dengan apa yang mereka terima secara turun temurun (taklid buta). “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami, walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun dan tidak mendapat petunjuk”. (Al-Baqarah: 170)


Di dalam ayat lain, Allah mencela sikap taklid buta dengan menjelaskan keterlibatan syaitan yang membelenggu manusia untuk tetap bersikap jumud dan mengedepankan fanatisme. ““Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa apai yang menyala-nyala”. (Luqman: 21)


Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi mengingatkan bahwa jati diri umat Islam sekarang ini telah hilang; ciri-ciri peradabannya telah cerai berai dan terlupakan. Saat ini  umat Islam hidup di bawah kekuasaan peradaban asing dengan segala aspek negatif dan penyimpangannya. Bahkan, justru kita menemukan bahwa ketundukan umat Islam terhadap kekuasaan peradaban asing adalah lebih besar daripada ketundukan orang-orang Barat sendiri selaku pemilik sekaligus pewaris peradaban tersebut. Ini berarti, bangunan masyarakat Islam saat ini telah miring, pilar-pilarnya telah condong ke bawah dan tidak mampu lagi berdiri tegak. Dalam kondisi labil seperti ini, umat Islam dituntut untuk melepaskan belenggu taklid buta dan sikap ikut-ikutan.


Dengan ijtihad, Allah hendak memberikan karunia kepada hamba-Nya, agar aktifitas ibadah yang mereka lakukan didasarkan kepada pemahaman (ijtihad), sebagaimana Allah mewajibkan jihad agar para hambanya yang shalih menjadi para syuhada. Apabila keutamaan mujahid adalah karena darah yang tercurah di medan perang, maka keutamaan para mujtahid adalah karena mereka mengerahkan segenap kesungguhan di dalam menggali hukum dalam rangka meninggikan kalimatullah.


Di sini, Allah telah mewajibkan kepada hamba-Nya untuk berijtihad (dalam pengertian secara bahasa yakni bersungguh-sungguh) dan menguji ketaatan mereka di dalam lingkup persoalan ijtihad, sebagaimana ketaatan mereka diuji dalam persoalan-persoalan lainnya. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akam menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”. (Muhammad: 31)


Dalam pandangan Dr. Wahbah Zuhaili, ijtihadlah yang akan menghidupkan kembali syariat di atas muka bumi Allah ini. Syariat tidak akan bisa bertahan selama aktifitas ijtihad tidak hidup, tidak memiliki daya kerja dan daya gerak. Sebab berbagai faktor pertumbuhan dan perkembangan kehidupan serta pentingnya penyebaran syariat Islam ke seluruh pelosok dunia meniscayakan kebutuhan akan ijtihad, terutama di masa kita sekarang ini, masa yang serba instan, komplek, serta penuh dengan tantangan peristiwa dan permasalahan baru. Sehingga tanpa ijtihad dan melepaskan belenggu taklid buta, syariat Islam akan kehilangan relevansinya di setiap zaman dan tempat. Ia akan membuat manusia merasa sempit dengan kehadirannya dan akan menimbulkan kekeliruan di dalam memandang agamanya. Padahal ijtihad merupakan salah satu karakteristik syariat Islam yang tidak akan tertutup pintunya sampai hari kiamat. Di sinilah bukti rahmat Islam yang akan membebaskan umatnya dari kesempitan. Allah menegaskan, “Dia tidak menjadikan di dalam agama ini suatu kesempitan bagi kalian”.(Al-Hajj: 78)


Mencermati realitas umat Islam dewasa ini yang semakin terpuruk dan tertinggal, maka karya nyata, kreativitas, ijtihad yang segar sangat ditunggu-tunggu untuk mengembalikan umat kepada kejayaannya yang gilang-gemilang dengan tetap komitmen dengan ajaran Islam yang komprehensif. Wallahu A’lam


*www.dakwatuna.com

(read more ...)




Pamulang (Arrahmah.Com) - Perang melawan terorisme arahan Amerika (the war against terrorism) yang pada hakikatnya adalah perang melawan Islam dan kaum Muslimin mulai menampakkan wajah aslinya. Setelah teror dan tindakan tidak mengenakkan dilancarkan kepada akhwat (wanita muslimah) bercadar, pria berjenggot dan bercelana ngantung, kini, masjid diteror dan ustadz pun difitnah.


Kamis malam (20/8) masjid Al Munawaroh yang sedang mengadakan pengajian rutin, diteror sekelompok massa. Ratusan polisi, petugas dalmas bersenjata lengkap ikut diturunkan. Ustadz Abu Jibril yang selama ini aktif mengajar di masjid Al Munawaroh pun difitnah. Gejala apa ini ?



Kronologis Persitiwa




Sebuah surat berkop Majelis Ta’lim “Nurul Munawwar”, yang beralamat di Jalan Arjuna, no: 70, Komplek Witana Harja Blok C, Pamulang, disebarkan kepada masyarakat, terutama pengurus masjid, musholla & Majlis Ta’lim, di komplek Witana Harja. Dalam surat undangan tersebut tercantum bahwa acaranya adalah Undangan Silaturahmi dalam Rangka Mencegah Berkembangnya Faham Wahabi Radikal sebagai Antisipasi Terorisme. 



Menurut sumber Arrahmah.com yang mengikuti acara yang dilaksanakan pada Selasa Malam (18/8) tersebut, Ustadz Abdurrahmah Assegaf (yang namanya mencuat karena menunjuk Nur Hasbi, alumni Pesantren Ngruki, sebagai orang yang melakukan peledakan di Hotel JW Marriot & Ritz Carlton, Jum’at, 17 Juli 2009, dan teryata tidak terbukti) banyak memfitnah Ustadz Abu Jibril. Bukan silaturahmi yang dikedepankan melainkan luapan kebencian dan dendam pribadi tendensius yang dialamatkan ke Ustad Abu Jibril




Abdurrahman Segaf sedang Ngotot didepan Polisi


Menurut sumber Arrahmah.com, Ustadz Abdurrahman Assegaf, di dalam forum pertemuan tersebut sudah mengancam akan menyerbu masjid Al Munawaroh untuk kemudian mengambil alih. Dia juga mengerahkan para peserta yang hadir untuk mempersiapkan diri. “Ane udah engga sabar nih mau yasinan di masjid Al Munawaroh. Ente-ente semua siap-siap deh, kita mau nyerang Munawaroh.” Begitu ungkapnya.



Ustadz Abdurrahman Assegaf yang mengaku dan sering dipanggil habib ini juga secara khusus mendiskriditkan dan menfitnah Ustad Abu Jibril. Mulai dari asal usul beliau yang bukan asli Pamulang, menyuruh lurah untuk mencabut KTP beliau, hingga menghina jenggot beliau yang katanya Cuma 7 lembar itu. Ustdadz Abdurrahman ini juga memfitnah Pesantren Ngruki sebagai pesantren yang lulusannya adalah ahli bom, lalu mengatakan bahwa cadar itu harusnya hanya untuk wanita-wanita di Arab saja, bukan di sini, karena untuk menutup dari debu. Singkatnya dalam forum tersebut Ustadz Abdurrahman Assegaf hanya berbuat kebohongan dan memfitnah Ustdaz Abu Jibril.



Ustad Abu Jibril : Itu Kebohongan & Fitnah



Hari Ini, Jum’at (21/8), Arrahmah.com mengklarifikasi masalah ini langsung ke Ustadz Abu Jibril. Beliau yang baru pulang dari berdakwah ke Padang mengatakan bahwa semua ucapan Ustadz Abdurrahman Assegaf adalah kebohongan dan fitnah. Kita tidak pernah mencerca tahlil dan yasin. Kalau ada yang mau tahlil dan yasin, silahkan dia menjalankannya, kalau dia menyakininya. Maka isu yang dilemparkan ini adalah fitnah dan kebohongan.





Ustaz Abu Jibriel (hafizahullah)



Perlu juga diketahui, sambung Ustadz Abu Jibril, masalah ini tidak pernah muncul sebelumnya. Pengurus masjid Al Munawaroh pernah duduk bersama dia (Ustadz Abdurrahman) dan dia berjanji untuk menjaga terlaksananya ibadah di masjid Al Munawaroh, mengikuti sunnah Rosul di dalam masjid. Tetapi dia sengaja mencari dan memanfaatkan isu terorisme, dengan mengatakan atau beralasan mau membasmi teroris yang sudah mulai bersarang di witana harja, sebagaimana yang dia ungkapkan sehari sesudah ledakan di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton. Jadi isu tahlil  dan yasinan, sebagaimana yang beredar, hanya merupakan kedok untuk memojokkan kita.



Ustad Abu Jibril melanjutkan, mungkin juga ada demdam atau kebencian pribadi kepada masjid Al Munawaroh, atau kepada Ustad Abu Jibril. Menurut pengurus masjid, sudah lama Ustadz Abdurrahman ini berkehendak untuk ‘masuk’ ke masjid Al Munawaroh, tetapi ditolak oleh pengurus masjid. Sementara itu, Ustadz Abu Jibril yang memang merupakan pendatang di Witana Harja malah dapat diterima pengurus masjid dan warga.



Jadi, apa yang dilakukan ini, adalah satu bentuk rekayasa untuk menyingkirkan kita dari masjid, agar dia leluasa untuk menyampaikan bid’ahnya di masjid. Hubungan kita selama ini baik, di hari raya, kita silaturrahim, ke rumah dia, namun nampaknya dia memanfaatkan momentum, di saat ini, untuk kembali menguasai masjid, lanjut Ustadz Abu Jibril.



Disamping itu, Arrahmah.com juga memiliki rekaman ceramah Ustadz Abdurrahman Assegaf ketika menemui gerombolan dari BMB (Barisan Muda Betawi) persis di samping Masjid Al Munawaroh. Dalam ceramah singkat itu, terlihat banyak fitnah dan juga kebohongan yang direkayasa dengan memanfaatkan momen perang melawan terorisme, yang akhirnya malah terror kepada masjid dan fitnah kepada Ustad Abu Jibril. Ironis! (M.Fachry/POJ/arrahmah.com)



*Gambar: Abdurrahmah Asegaf bersama Grombolan BMB di cegah Polisi dari Membuat Anarkis Di Masjid Al Munawwarah


(read more ...)



Satu lagi hasil penelitian menegaskan bahwa syariat Islam benar-benar yang terbaik bagi kehidupan manusia, termasuk bagi mereka penderita gangguan kesehatan



Hidayatullah.com— Kewajipan shalat lima kali sehari semalam ke atas semua umat Islam bermula sejak Rasulullah diangkat ke langit saat peristiwa Isra’ dan Mi’raj.



Begitu istimewa sekali ibadah shalat sehingga Rasulullah SAW naik ke langit bagi menerima Rukun Islam yang kedua ini, tidak seperti ibadah-ibadah lain.

 

Keistimewaan shalat menarik minat peneliti Universiti Malaya (UM). Minat penelitian ini timbul karena dipandang masih teramat sedikitnya kajian yang komprehensif mengenai shalat dari segi saintifik.

 

Sebuah studi ilmiah di Malaysia mengungkap manfaat dari ibadah shalat, tidak hanya meningkatkan iman seseorang, tapi melakukannya dengan gerakan yang benar juga bermanfaat untuk kesehatan mental dan fisik, termasuk menyembuhkan disfungsi ereksi.

Manfaat lain yang diungkap dari penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti biomedis di Universitas Malaya adalah, shalat bisa mengurangi detak jantung yang cepat, mengurangi sakit punggung, dan menguatkan otot bawah panggul.

 

Penelitian ini dikethuai Kepala Biomedical Engineering Department di Universitas Malaya, Prof Madya Dr Fatimah Ibrahim beranggotakan Prof. Dr. Wan Abu Bakar Wan Abas dan Ng Siew Cheok. Menurut Fatimah Ibrahim,  berdasarkan hasil studi mereka menemukan shalat dapat membantu pasien penderita disfungsi ereksi.

 

Mengutip hasil studi peneliti sebelumnya Marijke Van Kampen, Dr. Fatimah mengatakan olahraga untuk otot bawah panggul bisa memperlancar sirkulasi darah dan mengurangi gejala penyakit disfungsi ereksi.

 

"Percobaan yang kami lakukan terhadap dua orang pasien penderita disfungsi ereksi, menunjukkan adanya perbaikan yang cepat (dalam hal kesehatan seksual mereka),  setelah menjalani "terapi shalat" selama satu bulan," katanya kepada para wartawan setelah pembukaan seminar nasional "Shalat Science" di Masjid Wilayah Persekutuan, Malaysia (5/8). Seminar dibuka oleh mantan perdana menteri Malaysia  Tun Abdullah Ahmad Badawi.

 

Dr. Fatimah mengatakan, gerakan shalat juga bisa mengurangi derita sakit punggung, terutama bagi ibu hamil. Studi itu dilakukan dengan melibatkan pasien penderita sakit punggung biasa dan ibu hamil dari komunitas Melayu, India dan China.

 

Posisi Rukuk

 

Menurut Ng Siew Chok yang menjalankan kajian otak dalam dalam penelitian ini mengatakan, setiap pergerakan manusia menghasilkan corak gelombang otak yang tertentu dan unik.

 

Gelombang otak yang dihasilkan ketika pergerakan meliputi gelombang alfa, beta dan gamma.

 

Kajian akan dilakukan atas gelombang otak yang dihasilkan ketika bersslat pada setiap posisi seperti rukuk, sujud, I’tidal dan duduk saat tahiyat.

"Shalat jelas secara umumnya melibatkan bacaan serta penghayatan ayat suci Al-Quran, doa-doa serta pergerakan yang didapati menyamai meditasi.

 

"Semasa solat, berhenti seketika sebelum berganti posisi atau tuma’ninah dapat dikatakan seseorang berada dalam masa ketenangan," katanya.

Dalam kajian ini isyarat otak subjek Muslim yang bershalat direkam dan dianalisis, di mana dua kajian saintifik dilakukan yaitu pada perobahan isyarat otak saat tuma’ninah dan kesan shalat kepada isyarat otak.

 

Hasilnya, kata Siew Cheok, didapati shalat menghasilkan keadaan tenang kepada otak manusia dan menunaikan shalat amat baik dalam mengekalkan tahap kestabilan mental dan emosi seseorang.

 

Posisi rukuk dan sujud  bisa digunakan sebagai terapi, karena gerakan itu membuat tulang belakang menjadi rileks dan mengurangi tekanan pada syaraf tulang belakang.

 

"Ibu-ibu non-Muslim hanya melakukan gerakan posisi itu selama terapi berlangsung. Mereka menunjukkan kemajuan hanya dalam waktu satu bulan," katanya.

 

Dalam penelitian Prof Dr Wan Azman Wan Ahmad, konsultan spesialis jantung di UM Medical Centre, menemukan bahwa detak jantung dapat berkurang kecepatannya hingga 10 kali dalam satu menit pada posisi sujud, di mana kening, hidung, tangan dan lutut kaki menyentuh tanah.

Ia mengatakan, 12 rakaat shalat sama dengan 30 menit olahraga ringan setiap hari seperti yang dianjurkan oleh ahli-ahli kesehatan.

 

Tahajjud

 

Sebelum temuan ini, Dr. Mohammad Sholeh asal Indonesia melakukan penelitian hubungan shalat tahajjud dan dampaknya bagi kesehatan. Penelitian menunjukkan, shalat tahajjud yang dilakukan secara ikhlas dan kontinyu, ternyata mengandung aspek meditasi dan relaksasi sehingga dapat digunakan sebagai coping mechanism atau pereda stres yang akan meningkatkan ketahanan tubuh seseorang secara natural. Penelitian  berupa disertasi berjudul Pengaruh Shalat Tahajjud Terhadap Peningkatan Perubahan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik, juga menunjukkan, bahwa shalat tahajjud bisa menjadi penyembuh penderita kanker ganas.

[di/cha/bnm/www.hidayatullah.com]

 

(read more ...)



 dakwatuna.com – Medan, Para remaja diimbau untuk tidak mudah terprovokasi untuk mencari jalan menuju surga secara pintas yang memang merupakan idaman seluruh umat Islam.


Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Sumatera Utara, Prof. Dr. H Abdullah Syah, kepada ANTARA di Medan, Jumat, mengatakan, dalam menjalankan ketaatan dalam menunaikan ajaran-ajaran agama Islam sesuai yang diperintahkan agama, harus sesuai tuntunan yang sebenarnya.


Hal tersebut penting untuk diperhatikan, agar mereka tidak terjerumus pada paham-paham yang menyesatkan remaja dengan berbagai iming-iming surga dengan cara yang sesat.


Menurut Abdullah, remaja disarankan untuk banyak belajar ilmu agama secara serius, agar dengan pengetahuan agama yang baik tersebut tidak mudah terpengaruhi oleh paham-paham aliran sesat.


Permasalahan masuk surga atau tidak, lebih baik diserahkan kepada Tuhan. Ganjaran masuk surga pasti diberikan kepada hambaNya yang benar-benar taat menjalankan perinta Tuhan.


Untuk itu, para remaja harus menuntut ilmu agama dari seorang yang memang memiliki ilmu agama dan pemahaman islam yang baik.


Upaya tersebut penting dilakukan, agar para remaja tidak mudah terpengaruhi dengan ide-ide liar dari pihak menyesatkan, termasuk provokasi untuk melakukan bom bunuh diri agar cepat masuk surga.


Dekan Psikologi Universitas Medan Area, Irna Minauli,M.Psi mengataan, kecenderungan remaja yang memiliki idealis yang tinggi sangat berpotensi menjadi “target” perekrutan anggota baru untuk menjadi bagian dari golongan teroris.


Hali itu disebabkan faktor “sense of belonging” mereka yang sangat tinggi terhadap sebuah golongan tertentu yang mereka masuki.


Selain itu, keinginan menjadi pahlawan di golongan tertentu menjadi pendorong mereka untuk melakukan apa saja sesuai paham yang ditanamkan di golongan tersebut. Untuk itu, remaja perlu berdiskusi dengan banyak pihak dan sudut pandang yang berbeda, agar pemikiran mereka lebih luas dan tidak melihat dari satu sudut pandang hitam atau putih. ant/taq/rep


*www.dakwatuna.com
(read more ...)





Sistem pendidikan yang berlaku sejak tahun 1967 di Indonesia adalah sistem pendidikan untuk kian memperbodoh rakyat Indonesia dan menjadikannya apolitis.

Kapitalisme Birokrat yang dalam bahasa seorang Yoshihara disebut “Ersatz-Capitalism”, bekerja layaknya sebuah mesin besar yang mengerahkan semua kemampuannya untuk menjaga status-quo. “Ali” dan “Baba” selalu mengadakan kolusi, bergotong-royong, saling menutupi, saling tahu diri, untuk dalam waktu bersamaan menipu rakyat dan merampok rakyat sekaligus. Bagi “Ali” dan “Baba” berlaku hukum tidak tertulis: “Sesama perampok rakyat dilarang saling merugikan.”


Untuk itu diciptakanlah berbagai istilah yang indah-indah agar rakyat terus-menerus tertipu, seperti “Stabilitas Nasional”, “Pesta Demokrasi”, “Pesta Rakyat”, dan berbagai angka statistik yang kian hari kian menunjukkan menunjukkan jika kehidupan rakyat membaik, walau dalam kenyataannya kian hari kian banyak rakyat yang gantung diri dan putus sekolah.


Salah satu contoh paling sederhana dan konyol adalah apa yang terjadi dalam kasus “Iklan Sesat” bertema Pendidikan Gratis. Dalam iklan yang disiarkan berulang-ulang di berbagai media nasional, tentu menguras dana APBN dari uang rakyat, Mendiknas ingin menekankan bahwa pendidikan di negeri ini sudah gratis sehingga semua anak bangsa bisa menyekolahkan anaknya tanpa harus pusing memikirkan biaya.


Namun pada kenyataannya, pendidikan gratis itu hanya ada di dalam iklan, sedang pada kenyataannya tidak gratis. Malah banyak orangtua yang menangis sedih karena anaknya lulus SMPTN dengan nilai tinggi namun tidak bisa memasukkan anaknya kuliah karena tidak punya uang berjuta-juta.


Di berbagai media teve, Mendiknas Bambang Sudibyo mengelak serangan yang mengatakan iklan departemennya sesat dengan berkilah, “Gratis di sini dalam definisi pemerintah, hanya SPP saja, bukan menurut definisi rakyat. Kalau menurut definisi rakyat, untuk makan saja rakyat ya maunya semuanya gratis!” Inilah jawaban dari seorang profesor.


Kita tentu hanya bisa mengurut dada mendengar jawaban yang sama sekali ngawur seperti itu. Kata pepatah, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”, dan ternyata itu betul. “Iklan Ngawur” ternyata memang lahir dari pejabat yang juga nga**r!


Sistem Pendidikan Yang Apolitis


Jenderal Suharto dengan Mafia Berkeley-nya sudah berjasa besar mengembalikan Indonesia dari satu negara mandiri dan berdaulat, menjadi suatu negara-bangsa yang sangat tergantung pada blok imperialisme asing. Untuk mempertahankan status-quo ini, maka rezim Jenderal Harto menggunakan kekuatan militer dan intelektual yang berkhianat (The Betrayal Intellectual, isilah Julien Benda) untuk menindas rakyat dalam segala bidang kehidupan.


Selain menghegemoni bidang perekonomian, maka bidang yang sangat vital bagi “penjinakkan” rakyat adalah bidang pendidikan. Mereka merancang sistem pendidikan bukan untuk membuat rakyat Indonesia menjadi cerdas, kritis, dan pandai, namun untuk menciptakan manusia-manusia Indonesia yang apolitis yang siap menjual dirinya sebagai sekrup bagi mesin besar bernama industri.


Filsuf Bertrand Russel di dalam “The Functions of a Teacher” (Unpopular Essays, h.112-123) secara tajam dan keras mengkritik penyesatan fungsi mulia pendidikan dan seorang guru di dalam rezim yang korup dan tentu saja menindas.


Menurut Russel, ada cara paling sederhana dan jitu untuk melihat sejauhmana pemerintah sungguh-sungguh ingin mencerdaskan rakyatnya, yakni lihatlah kehidupan real seorang guru. Apakah pemerintah sudah menghargai guru hingga kehidupannya sejahtera, atau sebaliknya. Tingginya alokasi dana APBN untuk sektor pendidikan yang mencapai 20% sekarang sama sekali tidak menjamin sistem pendidikan di negara ini baik dan kehidupan guru akan lebih sejahtera. Dalam rezim korup, naiknya anggaran juga akan diikuti oleh naiknya angka korupsi yang dilakukan para birokratnya, naiknya mark-up anggaran, naiknya proyek fiktif, dan sebagainya sehingga yang sudah kaya akan kian kaya dan yang miskin kian miskin. Tingginya angka Disclaimer anggaran pemerintah oleh BPK baru-baru ini membuktikan hal itu.


Russel menulis, “Tiap guru di zamannya, yang diilhami oleh cita-cita luhur para pendahulunya, sekarang cenderung dikejutkan oleh kenyataan jika fungsinya bukan lagi untuk mengajarkan apa yang diyakininya, melainkan untuk menanamkan keyakinan-keyakinan serta kebodohan-kebodohan yang dipandang berguna oleh mereka yang memerintahkannya.”


Russel memberi contoh sistem pendidikan di Amerika, “Di sana terdapat mata pelajaran kewarganegaraan (Civics), dimana murid-murid diajari semacam pandangan palsu tentang bagaimana masalah masyarakat ditangani, dan secara seksama anak-anak ditutup-tutupi dari praktek-praktek yang sesungguhnya sedang berlangsung.” Di Indonesia, di zaman Harto pelajaran ini bernama PMP (Pendidikan Moral Pancasila), dan kini diberi nama PKN (Pendidikan Kewarganegaraan), esensinya sama.


Anak-anak diajari bagaimana caranya untuk melestarikan bumi dan tanah air, namun dalam kenyataannya negara sendiri yang melindungi pengrusakkan lingkungan seperti dalam kasus Freeport, Newmont, Lapindo, dan lainnya.


Anak-anak diajari untuk bersikap sopan santun terhadap orangtua, namun negara sendiri yang mengajarkan agar berbuat kurang ajar pada orangtua, salah satunya dalam kasus pengambil-paksaan Ustadz Ba’asyir dari RS PKU Muhammadiyah Solo beberapa tahun silam, bagaimana seorang ustadz yang sudah uzur dan sakit harus diseret untuk ditahan.


Anak-anak diajari agar hidup sederhana dan tidak boros, namun negara  sendiri yang mengkhianatinya denan salah satunya merestui anggaran 28 miliar rupiah untuk rumah dinas seorang wakil gubernur Jakarta, sedangkan harga satu rusunami hanya 9 miliar rupiah untuk 96 kepala keluarga; dan lain-lain. Sikap hipokrit ternyata telah diajarkan sendiri oleh negara sejak dini kepada anak-anak kita. Sikap munafik sudah diajarkan negara kepada generasi muda bangsa ini.


Francois Raillon dalam “Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia: Pembentukan dan Konsolidasi Orde Baru 1966-1974” (1985) menulis, “…bila rakyat diharuskan bermental Pancasila tetapi melihat dengan mata kepala sendiri bahwa justeru bapak-bapak yang diharapkan rakyat bermental demikian, di tengah-tengah kemiskian rakyat membangun rumah-rumah mentereng, berkeliaran dengan mobil-mobil mewah, memamerkan segala kekayaan kebendaan, tanpa menghiraukan keadaan rakyat di sekelilingnya yang berada dalam dunia neraka itu.. dalam zaman seperti sekarang ini, di mana bangsa Indonesia seakan-akan hidup di atas gunung berapi yang pada tiap saat daat meletus, maka mereka dengan sikap pamer itu ibarat tengah menandatangani hukuman matinya sendiri. Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa di dunia ini ada semacam hukum karma.” (h.303-304).


“Kita berhadapan dengan kenyataan paradoksal bahwa pendidikan ternyata telah menjadi salah satu hambatan utama terhadap kecerdasan dan kebebasan pikiran. Ini disebabkan negara mengklaim memonopoli bidang pendidikan. Pendidikan dirancang bukan untuk memberikan pengetahuan sejati, namun lebih untuk membuat banyak orang mudah tunduk pada penguasa,” ujar Russel.


Sistem pendidikan seperti inilah yang telah berjalan di negeri ini sejak imperialis asing menguasai seluruh sumber daya dan kekayaan alam Indonesia, sehingga walau kian banyak anak bangsa kita meraih gelar sarjana, namun hasil dari kesarjanaan mereka ini ternyata tidak menghasilkan apa-apa bagi bangsanya. Seorang sarjana di negeri ini belumlah tentu seorang intelektual. Semuanya memang telah dirancang agar bangsa ini tetap dalam kebodohan dan kejahilannya terhadap realitas yang ada. Dalam tulisan berikut akan dipaparkan bagaimana sistem kapitalis semu menciptakan manipulasi akal budi manusia, sehingga menghilangkan sifat dasar manusia yang sesungguhnya bebas dan mandiri, menjadi semacam hewan yang mudah digiring ke sana kemari. (bersambung/ridyasmara)


*www.eramuslim.com


 


(read more ...)





Al-Hambulillah. Syaikh Abdurrahman Ad-Dusiri -Rahimahullah-- pernah ditanya tentang ungkapan semacam itu. Beliau menjawab:

"Ini jelas dusta besar, sikap nekat herhadap Allah yang dilakukan sebagian Ahli Filsafat pada sebagian madzhab serta mereka yang terpengaruh pemikiran tersebut. Sebuah sikap nekat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dalam segala bentuk kekafiran di sepanjang jaman. Karena paling banter yang diceritakan oleh Allah tentang kekafiran adalah kebergantungan kaum kafir dengan kehendak Allah, melalui ucapan mereka:


"Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun". (Al-Anaam : 148)


Allah mendustakan mereka. Sekarang mereka menjadi mes yarakan -dalam anggapan mereka-- sebagai kata putus, untuk melegitiminasi program yang mereka terapkan. Kebohongan ini menunjukkan juga kerusakan berbagai prasarana program tersebut yang menjadi motivasi mereka melontarkan ucapan tersebut. Karena berdasarkan pendapat mereka yang rusak itu, masyarakat berhak mengatakan dan berbuat apa saja dalam hidup mereka, dalam kondisi yang tidak terikat lagi oleh syariat dan Kitab Allah, namun dengan memeperturutkan hawa nafsu mereka, berdasarkan tuntutan materi dan syahwat serta kekuatan sendiri, tak ubahnya dengan bangsa-bangsa kafir yang memang tidak memeluk agama yang diterima oleh Allah, tidak memperdulikan etika moral dan sikap-sikap kemuliaan.

Itu adalah kebohongan besar yang orang semacam Abu Jahal dan sejenisnya saja tidak nekat mengatakannya meski mereka demikian busuk dan jahat. Karena kebusukan ucapan tersebut secara aksiomatik dapat diterka oleh akal sehat. Perasaan dan tabiat dasar masyarakat sendiri itu berbeda-beda. Kalau kehendak masyarakat itu dianggap sebagai kehendak Allah, maka segala kecenderungan Wihdatul Wujud, Komunisme, Nazisme, Zionisme, Kanibalisme dan lain-lain adalah kehendak Allah yang Allah perintahkan. Segala yang dikehendaki oleh hawa nafsu manusia yang jahat, kenistaan yang dirindukan oleh penyakit hati, kebebasan absolut, biusan minuman keras, gelitikan kehendaki hati, sekedar kehendak pemuas nafsu dengan mengorbankan orang lain, menjadi perintah Allah itu sendiri.

Maka atas dasar apakah mereka berani mengkritik orang lain dan menggugatnya habis-habisan apabila kehendak rakyat dan keinginan mereka itu berasal dari kehendak Allah dalam keputusan yang pasti diridhai oleh Allah juga? Untuk apa pula Allah mengutus para rasul, menurunkan kitab, mensyariatkan jihad, menyuruh amar maruf nahi mungkar kepada umat manusia, kalau kehendak mereka toh kehendak Allah juga yang diridhai-Nya?

Itu adalah sebuah kemustahilan semata, puncak dari segala kefasikan dan kesesatan, kebohongan yang selalu mereka klaim tetapi tidak mereka terapkan pada diri mereka sendiri. Bahkan demi kebohongan itu, mereka memerangi bangsa yang tidak tunduk kepada kekuasaan mereka dan tidak berjalan di atas tujuan-tujuan mereka. Seolah olah bangsa yang mereka perintah dengan kekuatan senjata dan tangan besi adalah bangsa yang merupakan pusat kehendak Allah, merupakan Tuhan yang diibadahi dengan kehendak Allah sendiri.

Kebatilan itu pasti akan saling bertentangan dan meneriakan kebatilan bagi mereka sendiri. Mereka telah melakukan syirik yang besar sekali terhadap Allah, karena mereka menjadi masyarakat itu sebagai tandingan bagi Allah, menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tandingan bagi Allah pula dan bagi syariat dan hukum-Nya, sebagai ganti dari pengambilan keputusan dari Allah, dari berpegangteguh pada hukum-hukum dan syariatnya dan pelaksanaan seluruh perintah-Nya.



Al-Ajwibah Al-Mufidah Li Muhimmatil Aqidah hal. 77-78





*www.majalahummatie.wordpress.com

(read more ...)




Hidayatullah.com—Nama lengkapnya, Christian Snouck Hurgronje, lahir di pada 8 Februari 1857 di Tholen, Oosterhout, Belanda. Seperti ayah, kakek, dan kakek buyutnya yang betah menjadi pendeta Protestan, Snouck pun sedari kecil sudah diarahkan pada bidang teologi.  


Tamat sekolah menengah, dia melanjutkan ke Universitas Leiden untuk mata kuliah Ilmu Teologi dan Sastra Arab, 1875. Lima tahun kemudian, dia tamat dengan predikat cum laude dengan disertasi Het Mekaansche Feest (Perayaan di Mekah).


Tak cukup bangga dengan kemampuan bahasa Arab-nya, Snouck kemudian melanjutkan pendidiklan ke Mekah, 1884. Di Mekah, keramahannya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dan untuk kian merebut hati ulama Mekah, Snouck memeluk Islam dan berganti nama menjadi Abdul Ghaffar. 


Snouck Hurgronje adalah sosok kontroversial khususnya bagi kaum Muslimin Indonesia, terutama kaum muslimin Aceh.  Bagi penjajah Belanda, dia adalah pahlawan yang berhasil memetakan struktur perlawanan rakyat Aceh. Bagi kaum orientalis, dia sarjana yang berhasil. Tapi bagi rakyat Aceh, dia adalah pengkhianat tanpa tanding.  


Namun, penelitian terbaru menunjukkan peran Snouck sebagai orientalis ternyata hanya kedok untuk menyusup dalam kekuatan rakyat Aceh. Dia dinilai memanipulasi tugas keilmuan untuk kepentingan politik. 


Seorang peneliti Belanda kontemporer Koningsveld, menjelaskan bahwa realitas budaya di negerinya membawa pengaruh besar terhadap kejiwaan dan sikap Snouck para perkembanagan selanjutnya.


Snouck berpendapat bahwa Al-Quran bukanlah wahyu dari Allah, melainkan adalah karya Muhammad yang mengandung ajaran agama.  Pada saat itu, para ahli perbandingan agama dan ahli perbandingan sejarah sangat dipengaruhi oleh teori "Evolusi" Darwin. Hal ini membawa konsekuensi khusus dalam teori peradaban di kalangan cendikiawan Barat, bahwa peradaban Eropa dan Kristen adalah puncak peradaban dunia.


Sementara, Islam yang datang belakangan, menurut mereka, adalah upaya untuk memutus perkembangan peradaban ini. Bagi kalangan Nasrani, kenyataan ini dianggap hukuman atas dosa-dosa mereka.  Ringkasnya, agama dan peradaban Eropa adalah lebih tinggi dan lebih baik dibanding agama dan peradaban Timur. Teori peradaban ini berpengaruh besar terhadap sikap dan pemikiran Snouck selanjutnya.  


Pada tahun 1876, saat menjadi mahasiswa di Leiden, Snouck pernah mengatakan, "Adalah kewajiban kita untuk membantu penduduk negeri jajahan -maksudnya warga Muslim Indonesia- agar terbebas dari Islam". Sejak itu, sikap dan pandangan Snouck terhadap Islam tidak pernah berubah.  


Snouck pernah mengajar di Institut Leiden dan Delf, yaitu lembaga yang memberikan pelatihan bagi warga Belanda sebelum ditugaskan di Indonesia. Saat itu, Snouck belum pernah datang ke Indonesia, namun ia mulai aktif dalam masalah-masalah penjajahan Belanda.


Pada saat yang sama perang Aceh mulai bergolak.  Saat tinggal di Jedah, ia berkenalan dengan dua orang Indonesia yaitu Raden Abu Bakar Jayadiningrat dan Haji Hasan Musthafa. Dari keduanya Snouck belajar bahasa Melayu dan mulai bergaul dengan para haji jemaah Dari Indonesia untuk mendapatkan informasi yang ia butuhkan.  


Pada saat itu pula, ia menyatakan ke-Islam-annya dan mengucapkan Syahadat di depan khalayak dengan memakai nama "Abdul Ghaffar."


Seorang Indonesia berkirim surat kepada Snouck yang isinya menyebutkan "Karena Anda telah menyatakan masuk Islam di hadapan orang banyak, dan ulama- ulama Mekah telah mengakui ke-Islaman Anda". Seluruh aktivitas Snouck selama di Saudi ini tercatat dalam dokumen-dokumen di Universitas Leiden, Belanda.  


Snouck menetap di Mekah selama enam bulan dan disambut hangat oleh seorang Ulama besar Mekah, yaitu Waliyul Hijaz. Ia lalu kembali ke negaranya pada tahun 1885. Selama di Saudi Snouck memperoleh data-data penting dan strategis bagi kepentingan pemerintah penjajah. Informasi itu ia dapatkan dengan mudah karena tokoh-tokoh Indonesia yang ada di sana sudah menganggapnya sebagai saudara seagama.


Kesempatan ini digunakan oleh Snouck untuk memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh yang berasal dari Aceh yang menetap di negeri Hijaz saat itu.  Snouck kemudian menawarkan diri pada pemerintah penjajah Belanda untuk ditugaskan di Aceh. Saat itu perang Aceh dan Belanda mulai berkecamuk. Snouck masih terus melakukan surat menyurat dengan Ulama asal Aceh di Mekah.  Snouck tiba di Jakarta pada tahun 1889. Jendral Benaker Hourdec menyiapkan asisten-asisten untuk menjadi pembantunya. Seorang di antaranya adalah warga keturunan Arab Pekojan, yaitu Sayyid Utsman Yahya Ibn Aqil al Alawi. Ia adalah penasehat pemerintah Belanda dalam urusan Islam dan kaum Muslim atau asisten honorair.  


Dalam buku ”Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa”,  Utsman bin Abdullah Al-’Alawi dikenal seorang pengabdi Pemerintah Kolonial Belanda yang amat setia. Untuk kesetiaannya yang luarbiasa itu, ia dianugerahi “Bintang Salib Singa Belanda” tanggal 5 Desember 1899 tanpa upacara resmi. Ia bahkan pernah mengarang khotbah jum’at yang mengandung do’a dalam bahasa Arab untuk kesejahteraan Ratu Belanda Wilhelmina.  Khotbah dan do’a itu kemudian dikenal di kalangan umat Islam sebagai “Khotbah Penjilat”….


Dalam upaya memadamkan pemberontakan Islam, Sayyid Utsman Al-’Alawi ini dikenal pula dengan fatwanya yang menyatakan bahwa jihad itu bukanlah perang melawan orang kafir, melainkan perang melawan nafsu-nafsu jahat yang bersarang pada diri pribadi setiap orang.   Selain Al-’Alawi, Snouck juga dibantu sahabat lamanya ketika di Mekah, Haji Hasan Musthafa  yang diberi posisi sebagai penasehat untuk wilayah Jawa Barat. Snouck sendiri memegang jabatan sebagai penasehat resmi pemerintah penjajah Belanda dalam bidang bahasa Timur dan Fiqh Islam. Jabatan ini masih dipegangnya hingga setelah kembali ke Belanda pada tahun 1906.  


Pembersihan Aceh  


Misi utama Snouck adalah "membersihkan" Aceh. Setelah melakukan studi mendalam tentang semua yang terkait dengan masyarakat ini, Snouck menulis laporan panjang yang berjudul kejahatan-kejahatan Aceh. Laporan ini kemudian jadi acuan dan dasar kebijakan politik dan militer Belanda dalam menghadapai masalah Aceh.  


Pada bagian pertama, Snouck menjelaskan tentang kultur masyarakat Aceh, peran Islam, Ulama, dan peran tokoh pimpinannya. Ia menegaskan pada bagian ini, bahwa yang berada di belakang perang dahsyat Aceh dengan Belanda adalah para Ulama.


Sedangkan tokoh-tokoh formalnya bisa diajak damai dan dijadikan sekutu, karena mereka hanya memikirkan bisnisnya.  Snouck menegaskan bahwa Islam harus dianggap sebagai faktor negatif, karena dialah yang menimbulkan semangat fanatisme agama di kalangan muslimin. Pada saat yang sarna, Islam membangkitkan rasa kebencian dan permusuhan rakyat Aceh terhadap Belanda. Jika dimungkinkan "pembersihan" Ulama dari tengah masyarakat, maka Islam takkan lagi punya kekuatan di Aceh. Setelah itu, para tokoh-tokoh adat bisa menguasai dengan mudah.  


Bagian kedua laporan ini adalah usulan strategis soal militer. Snouck mengusulkan dilakukannya operasi militer di desa-desa di Aceh untuk melumpuhkan perlawanan rakyat yang menjadi sumber kekuatan Ulama. Bila ini berhasil, terbuka peluang untuk membangun kerjasama dengan pemimpin lokal. Perlu disebut di sini, bahwa Snouck didukung oleh jaringan intelijen mata-mata dari kalangan pribumi.  


Cara yang ditempuh sama dengan yang dilakukannya di Saudi dulu, yaitu membangun hubungan dan melakukan kontak dengan warga setempat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Orang-orang yang membantunya berasumsi bahwa Snouck adalah seorang saudara semuslim. Dalam suatu korespondensinya dengan Ulama Jawa, Snouck menerima surat yang bertuliskan "Wahai Fadhilah Syekh AIlamah Maulana Abdul Ghaffar, sang mufti negeri Jawa. "  


Lebih aneh lagi, Snouck menikah dengan putri seorang kepala daerah Ciamis, Jawa Barat pada tahun 1890. dari pernikahan ini ia peroleh empat anak: Salamah, Umar, Aminah dan Ibrahim. Akhir abad 19 ia menikah lagi dengan Siti Sadijah, putri khalifah Apo, seorang Ulama besar di Bandung. Anak dari pernikahan ini bernama Raden Yusuf. 


Snouck juga melakukan surat menyurat dengan gurunya Theodor Nöldeke, seorang orientalis Jerman terkenal. Sekedar catatan,   Nöldeke adalah orientalis dan pakar Kearaban dari Jerman. Tahun 1860 aia menerbitkan bukunya, Geschichte des Qurans (Sejarah al-Quran).  Karyanya ini dikembangkan bersama Schwally, Bergsträsser, dan Otto Pretzl, dan ditulis selama 68 tahun sejak edisi pertama. 


Sampai saat ini, Geschichte des Qorans menjadi karya standar bagi para orientalis khususnya dalam sejarah kritis penyusunan Al-Quran. Musthafa A’zhami, dalam bukunya, The History of The Qur’anic Text, mengutip satu artikel di Encyclopedia Britannica (1891), dimana Nöldeke menyebutkan banyaknya kekeliruan dalam Al-Quran karena, kata Nöldeke, “Kejahilan Muhammad” tentang sejarah awal agama Yahudi – kecerobohan nama-nama dan perincian yang lain yang ia curi dari sumber-sumber Yahudi.’’ 


Sebagaimana dikutip dalam bukunya, Musthafa A’zhami, The History of The Qur’anic Text, Nöldeke, telah menuduh Nabi Muhammad sebagai penulis Al-Quran dan orang jahil. Selanjutnya, dalam suratnya, Snouck menegaskan bahwa keIslaman dan semua tindakannya adalah permainan untuk menipu orang Indonesia demi mendapatkan informasi.  


Ia menulis "Saya masuk Islam hanya pura-pura. Inilah satu-satulnya jalan agar saya bisa diterima masyarakat Indonesia yang fanatik. "  Temuan lain Koningsveld dalam surat Snouck mengungkap bahwa ia meragukan adanya Tuhan. Ini terungkap dari surat yang ia tulis pada pendeta Protestan terkenal Herman Parfink yang berisi, Anda termasuk orang yang percaya pada Tuhan. Saya sendiri ragu pada segala sesuatu. "  


Devide et impera 


Yang jelas, selama tujuh bulan Snouck berada si Aceh, sejak 8 Juli 1891, baru pada 23 Mei 1892, ia mengajukan Atjeh Verslag, laporannya kepada pemerintah Belanda tentang pendahuluan budaya dan keagamaan, dalam lingkup nasehat strategi kemiliteran Snouck.  


Sebagian besar Atjeh Verslag kemudian diterbitkan dalam De Atjeher dalam dua jilid yang terbit 1893 dan 1894. Dalam Atjeh Verslag-lah pertama disampaikan agar kotak kekuasaan di Aceh dipecah-pecah. Itu berlangsung lama, karena sampai 1898, Snouck masih saja berkutat pada perang kontra-gerilya. 


Nasehat Snouck mematahkan perlawanan para ulama, karena awalnya Snouck sudah melemparkan isu bahwa yang berhak memimpin Aceh bukanlah uleebalang, tapi ulama yang dekat dengan rakyat kecil. Komponen paling menentukan sudah pecah, rakyat berdiri di belakang ulama, lalu Belanda mengerasi ulama dengan harapan rakyat yang sudah berposisi di sana menjadi takut. Untuk waktu yang singkat, metode yang dipakai berhasil. Snouck mendekati ulama untuk bisa memberi fatwa agama. Tapi fatwa-fatwa itu berdasarkan politik devide et impera.


Demi kepentingan keagamaan, ia berkotbah untuk menjauhkan agama dan politik. Selama di Aceh Snouck meneliti cara berpikir orang-orang secara langsung.


Dalam suratnya kepada Van der Maaten (29 Juni 1933), Snouck mengatakan bahwa ia bergaul dengan orang-orang Aceh yang menyingkir ke Penang. Van Heutsz adalah seorang petempur murni. Sebagai lambang morsose, keinginannya tentu menerapkan nasihat pertama Snouck; mematahkan perlawanan secara keras.


Tapi Van Heutsz ternyata harus melaksanakan nasihat lain dari Snouck, yang kemudian beranggapan pelumpuhan perlawanan dengan kekerasan akan melahirkan implikasi yang tambah sulit diredam. Akhirnya taktik militer Snouck memang diubah. Memang pada 1903, kesultanan Aceh takluk. Tapi persoalan Aceh tetap tak selesai. Sehingga Snouck terpaksa membalikkan metode, dengan mengusulkan agar di Aceh diterapkan kebijakan praktis yang dapat mendorong hilangnya rasa benci masyarakat Aceh karena tindakan penaklukkan secara bersenjata.


Inilah yang menyebabkan sejarah panjang ambivalensi dialami dalam menyelesaikan Aceh.  


Sepionase?  


Dr. P. Sj. Van Koningsveld, penulis Belanda yang gemar mengumpulkan tulisan-tulisannya bertalian kegiatan kontroversial Snouk mencatat beberapa perilaku Snouck Hurgronje. Kumpulan tulisan Van Koningsveld ini banyak mendapat pertentantangan dikalangan akademisi yang masih menjadi almamaternya di Leiden. 


Dalam bukunya Snouck Hurgronje dan Islam (Girimukti Pasaka, Jakarta, 1989), Koningsveld menggambarkan kemungkinan Snouck masuk Islam oleh Qadi Jeddah dengan dua orang saksi setelah Snouck pindah tinggal bersama-sama dengan Aboebakar Djajadiningrat (1989: 95-107). 


Van Koningsveld juga memberikan petunjuk-petunjuk yang memberikan kesan ketidaktulusan Snouck Hurgronje masuk Islam. Dia masuk Islam hanyalah untuk melancarkan tugasnya atau tujuannya yang hendak mengukuhkan kekuasaan Belanda di Indonesia, jadi bersifat politik–bukan ilmiah murni. 


Veld berkomentar tentang aktivitas Snouck: "Ia berlindung di balik nama "penelitian Ilmiah" dalam melakukan aktifitas spionase, demi kepentingan penjajah".


Veld yang merupakan peneliti Belanda yang secara khusus mengkaji biografi Snouck menegaskan, bahwa dalam studinya terhadap masyarakat Aceh, Snouck menulis laporan ganda. Ia menuliskan dua buku tentang Aceh dengan satu judul, namun dengan isi yang bertolak belakang. Dari laporan ini, Snouck hidup di tengah masyarakat Aceh selama tiga puluh tiga bulan dan ia pura-pura masuk Islam.  


Selain tugas memata-matai Aceh, Snouck juga terlibat sebagai peletak dasar segala kebijakan kolonial Belanda menyangkut kepentingan umat Islam. Atas sarannya, Belanda mencoba memikat ulama untuk tak menentang dengan melibatkan massa. Tak heran, setelah Aceh, Snouck pun memberi masukan bagaimana menguasai beberapa bagian Jawa dengan memanjakan ulama. 


Dalam rentang waktu itu, ia menyaksikan budaya dan watak masyarakat Aceh sekaligus memantau perisriwa yang terjadi. Semua aktivitasnya tak lebih dari pekerjaan spionase dengan mengamati dan mencatat. Sebagai hasilnya ia menulis dua buku. Pertama berjudul "Aceh," memuat laporan ilmiah tentang karakteristik masyarakat Aceh dan buku ini diterbitkan. Tapi pada saat yang sama, ia juga menulis laporan untuk pemerintah Belanda berjudul "Kejahatan Aceh.” Buku ini memuat alasan-alasan memerangi rakyat Aceh.  


Dua buku ini bertolak belakang dari sisi materi dan prinsipnya. Buku ini menggambarkan sikap Snouck yang sebenarnya. Di dalamnya Snouck mencela dan merendahkan masyarakat dan agama rakyat Aceh. Laporan ini bisa disebut hanya berisi cacian dan celaan sebagai provokasi penjajah untuk memerangi rakyat Aceh. [Ditulis Indra Yogi. Tulisan ini disadur dari tulisan Dr. Daud Rasyid, MA,  Fenomena Sunnah di Indonesia, Potret Pergulatan Melawan Konspirasi”  dan beberapa sumber lain/www.hidayatullah.com] 


(read more ...)




SRINAGAR (Arrahmah.com) - Seorang muslimah Kashmir yang juga merupakan kalangan penting dalam Dukhtaran-e-Millat, Aasiya Andrabi, mengatakan bahwa dirinya mengalami penyiksaan selama ditahan di penjara Jammu.


Aasiya Andrabi berbicara di hadapan para wartawan mengenai kesaksiannya di Pengadilan Tinggi di Srinagar.



Aasiya mengatakan, "Saya ada di satu ruangan yang sangat sempit bersama dengan 40 orang penjahat dan dilarang shalat di ruangan tersebut," sambil menambahkan bahkan untuk membaca al Quran pun ia tidak diperbolehkan.



Penasihat hukumnya memberi tahu pengadilan bahwa kliennya sedang tidak ada dalam kondisi yang baik-baik saja, karena dia mengalami penyiksaan di dalam penjara. Dalam kesempatan ini, Aasiya mengemukakan keluhannya, “Saya disiksa dan tidak boleh bersembahyang di dalam penjara."



Setelah mendengar argumen pembelaan dan tuntutan, pengadilan memerintahkan yang berwewenang untuk memeriksakan Aasiya oleh seorang dokter ahli di Rumah Sakit Soura. Pengadilan juga memerintahkan yang berwewenang memindahkannya ke Pusat Penahanan Srinagar.



Pimpinan kelompok muslimah militan ini ditangkap dari Soura pada 10 Juni 2009 lalu. Pada 11 Juni, PSA melawannya dan mendesak pemerintah agar dia dipindah ke Penjara Amphala di Jammu. (Althaf/arrahmah.com)


(read more ...)




Bersama Amir Diriyyah Muhammad bin Saud saling beramal dalam upaya menegakkan dakwah Islamiyah. Nantinya sebagai asas dan pondasi berdirinya Daulah Jadidah (Saudi Arabia)




Hidayatullah.com--Pada abad 12 H/17 M keadaan umat di jazirah Arab sangat jauh menyimpang dari ajaran Islam, terutama dalam aspek akidah. Di sana-sini banyak praktik syirik dan bid’ah. Para ulama sulit mengatasi. Usaha mereka hanya sebatas di lingkungan saja dan tidak berpengaruh secara luas, atau hilang ditelan oleh arus gelombang yang begitu kuat dari pihak yang menentang.



Jumlah pelaku syirik dan bi’dah begitu banyak, di samping pengaruh kuat dari tokoh-tokoh masyarakat yang mendukung praktik-praktik tersebut demi kelanggengan pengaruh mereka atau karena mencari kepentingan duniawi di belakang itu, sebagaimana masih kita saksikan di tengah-tengah sebagian umat Islam sekarang ini.



Dari segi aspek politik, di jazirah Arab berada di bawah kekuasaan yang terpecah-pecah. Terlebih khusus di daerah Nejd. Perebutan kekuasaan selalu terjadi di sepanjang waktu, sehingga hal tersebut sangat berdampak negatif untuk kemajuan ekonomi dan pendidikan agama.



Para penguasa makmur dengan memungut upeti dari rakyat jelata. Mereka sangat marah bila ada kekuatan atau dakwah yang dapat menggoyang kekuasaan mereka. Para tokoh adat dan agama yang biasa memungut iuran dari pengikut mereka, akan kehilangan objek jika pengikut mereka mengerti tentang akidah dan agama dengan benar. Dari sini mereka sangat hati-hati bila ada seseorang yang mencoba memberi pengertian kepada umat tentang akidah atau agama yang benar.



Pada saat itu di Nejd lahir sang pengibar bendera tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Disebutkan oleh penulis sejarah dan penulis biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, di masa itu pengaruh keagamaan melemah di dalam tubuh kaum muslimin sehingga tersebarlah berbagai bentuk maksiat, khurafat, syirik, bid’ah, dan sebagainya. Ilmu agama mulai minim di kalangan kebanyakan kaum muslimin, sehingga praktik-praktik syirik terjadi di sana-sini, seperti meminta ke kuburan wali-wali, atau meminta ke batu-batu dan pepohonan dengan memberikan sesajian, atau mempercayai dukun, tukang tenung, dan peramal.



Di Nejd terdapat kampung bernama Jubailiyah. Di situ terdapat kuburan sahabat Zaid bin Khaththab (saudara Umar bin Khaththab) yang syahid dalam perperangan melawan Musailamah Al Kadzab. Manusia berbondong-bondong ke sana untuk meminta berkah dan meminta berbagai hajat. Begitu pula di kampung ‘Uyainah, terdapat sebuah pohon yang diagungkan. Banyak orang mencari berkah ke situ, termasuk para kaum wanita yang belum mendapatkan pasangan hidup.



Penyimpangan bahkan juga terjadi di Hijaz (Mekkah dan Madinah), walaupun penyebaran ilmu agama berada di dua kota suci ini. Di sini tersebar kebiasaan bersumpah dengan selain Allah. Juga kebiasaan menembok serta membangun kubah-kubah di atas kuburan, serta berdoa di sana untuk mendapatkan kebaikan atau untuk menolak mara bahaya. Jika di dua kota suci itu saja kesyirikan sudah begitu menyebar, apalagi di kota-kota sekitarnya, ditambah lagi dengan kurangnya ulama. Pasti lebih memprihatinkan.



Hal tersebut kemudian disebut oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya al-Qawa’id Arba’, “Sesungguhnya kesyirikan pada zaman kita sekarang melebihi kesyirikan umat yang lalu. Kesyirikan umat yang lalu hanya pada waktu senang saja, akan tetapi mereka ikhlas pada saat menghadapi bahaya. Sedangkan kesyirikan pada zaman kita senantiasa pada setiap waktu, baik di saat aman apalagi saat mendapat bahaya”. Dalilnya firman Allah,



“Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama padanya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, seketika mereka kembali berbuat syirik.” (QS. al-Ankabut: 65)


Dalam ayat ini Allah terangkan bahwa ketika mereka berada dalam ancaman tenggelam dalam lautan, mereka berdoa hanya semata kepada Allah dan melupakan berhala atau sesembahan mereka. Namun saat mereka telah selamat sampai di daratan, mereka kembali berbuat syirik. Tetapi pada zaman sekarang orang melakukan syirik setiap saat dalam kondisi apa pun.



Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab lahir tahun 1115 H di ‘Uyainah, salah satu perkampungan daerah Riyadh. Ia hidup di tengah-tengah keluarga yang dikenal dengan nama keluarga Musyarraf (Ali Musyarraf). Ali Musyarraf ini cabang atau bagian dari Kabilah Tamim yang terkenal. Sedangkan Musyarraf, kakek beliau ke-9 menurut riwayat yang rajih. Dengan demikian nasab beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin Musyarraf.



Muhammad bin Abdul Wahab telah menampakkan semangat thalabul-ilmi sejak usia belia. Beliau memiliki kebiasaan yang sangat berbeda dengan anak-anak sebayanya. Beliau tidak suka dengan main-main dan perbuatan yang sia-sia. Beliau mulai thalabul-ilmi dengan mendalami al-Quranul Karim, sehingga tidak aneh kalau sudah hafal ketika umur 10 tahun.



Yang demikian itu terjadi karena banyak faktor mendukungnya. Di antaranya semangat yang sangat menggebu-gebu dalam menuntut ilmu, serta keadaan lingkungan keluarga yang benar-benar mendorong dan memicu beliau untuk terus-menerus menuntut ilmu. Dan Syaikh Abdul Wahab-lah guru dan sekaligus orang tua beliau yang pertama-tama mencetak kepribadian beliau.



Dalam satu suratnya kepada temannya, Syaikh Abdul Wahab berkata, "Sesungguhnya dia (Muhammad bin Abdul Wahab) memiliki pemahaman yang bagus. Kalau seandainya dia belajar selama satu tahun niscaya dia akan hafal, mapan serta, menguasai apa yang dia pelajari. Aku tahu bahwasanya dia telah ihtilam (baligh) pada usia dua belas tahun. Dan aku melihatnya sudah pantas menjadi imam, maka aku jadikan dia sebagai imam shalat berjamaah karena marifah dan ilmunya tentang ahkam. Dan pada usia balighnya itulah aku nikahkan dia. Kemudian setelah nikah, dia meminta izin kepadaku untuk berhaji, maka aku penuhi permintaannya dan aku berikan segala bantuan demi tercapai tujuannya tersebut. Lalu berangkatlah dia menunaikan ibadah haji, salah satu rukun dari rukun-rukun Islam."



Berguru pada Ulama Haramain



Setelah berhaji beliau belajar pada para ulama Haramain (Makkah dan Madinah) selama lebih kurang dua bulan. Kemudian setelah itu kembali lagi ke daerah Uyainah. Setelah pulang dari haji beliau terus memacu belajar. Beliau belajar dari ayah yang sekaligus guru pelajaran Fiqih Hambali, tafsir, hadits, dan tauhid.



Tidak berapa lama kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menunaikan ibadah haji kedua kalinya. Kemudian menuntut ilmu pada para ulama Madinah Al-Munawarah. Di Madinah beliau belajar dengan serius, dan Madinah saat itu adalah tempat berkumpulnya ulama dunia. Di antara guru beliau yang paling beliau kagumi dan senangi adalah Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an-Najdi dan Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi. Setelah beliau merasa cukup menuntut ilmu dari para ulama Madinah al-Munawwarah, maka beliau kembali lagi ke kampung halaman, Uyainah.



Setahun kemudian beliau memulai berkelana thalabul-ilmi. Negeri yang dicita-citakan untuk menuntut ilmu adalah Syam. Kota Damaskus saat itu sebuah kota yang sarat akan kegiatan keislaman. Di sana terdapat sebuah madrasah yang memberikan keilmuan tentang madzhab Hambali, dan kegiatan-kegiatan yang menunjang keilmuan tersebut. Namun karena perjalanan dari Najd menuju Damaskus secara langsung sangat sulit, maka Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab pergi menuju Bashrah (Irak). Pada saat itu beliau berkeyakinan bahwa perjalanan dari Bashrah menuju Damaskus sangatlah mudah.



Setelah di Bashrah, ternyata apa yang beliau yakini sementara itu tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Perjalanan dari Basrah menuju Damaskus yang semula dianggap mudah, ternyata sulit. Maka bertekadlah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tinggal di Bashrah. Beliau belajar fiqih dan hadits pada sejumlah ulama, di antaranya bernama Syaikh Muhammad al-Majmui. Di samping ilmu fiqih dan hadits beliau juga mendalami ilmu Qawaidul-Arabiyyah, sehingga beliau betul-betul menguasainya. Bahkan selama tinggal di Bashrah beliau sempat mengarang beberapa kitab yang berkenaan dengan Qawaidul Lughah al-Arabiyyah.



Ternyata tidak semua orang yang ada di Bashrah senang terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan ulama-ulama yang sepemikiran dengan beliau, khususnya para ulama suu. Karena ulah dan permusuhan mereka terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab itulah, akhirnya beliau dengan berat hati meninggalkan negeri Bashrah.



Kemudian beliau pergi menuju suatu tempat bernama az-Zubair. Setelah perjalanan beberapa saat di sana, beliau melanjutkan perjalanan menuju al-Ahsaa. Di daerah tersebut beliau melanjutkan studinya dengan belajar ilmu agama pada para ulama al-Ahsaa. Di antara guru-guru beliau yang ada di al-Ahsaa tersebut adalah Syaikh Abdullah bin Fairuz, Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif, serta Syaikh Muhammad bin Afaliq. Dan memang Ahsaa saat itu merupakan gudangnya ilmu sehingga orang-orang Najd dan orang-orang sebelah timur jazirah Arab berdatangan ke Ahsaa untuk menuntut ilmu.



Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab melanjutkan kelana thalabul-ilmi ke daerah Haryamala dan tiba di sana pada tahun 1115H. Kebetulan ayah beliau yang tadinya menjadi qadhi di Uyainah, telah pindah ke daerah tersebut. Maka berkumpullah beliau dengan ayahnya di sana.



Tapi baru dua tahun bertemu dan berkumpul dengan orang tua, Syaikh Abdul Wahab bin Sulaiman meninggal dunia, tepatnya pada tahun 1153H. Sepeninggal ayahnya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menggantikan ayahnya dalam melaksanakan segala aktivitasnya di negeri Haryamala tersebut. Dalam waktu yang cukup singkat nama beliau mulai tersohor. Sehingga orang-orang pun berdatangan ke Haryamala menuntut ilmu pada beliau. Bahkan para pemimpin negeri di sekitar Haryamala pun menerima ajakan dan dakwah beliau. Sehingga tidak aneh kalau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hanya dua tahun tinggal di Haryamala (sepeninggal ayahnya) demi menyambut ajakan dan tawaran Amir negeri Uyainah, Utsman bin Mamar untuk tinggal di negeri Uyainah, negeri kelahiran beliau.



Amir Uyainah, Utsman bin Muhammad bin Mamar sangat gembira dengan kedatangan beliau. Bahkan dia berkata kepada Syaikh, "Tegakkanlah dakwah di jalan Allah dan kami senantiasa akan membantumu." Maka mulailah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sibuk dengan urusan dakwah, talim, serta mengajak manusia kepada kebaikan dan saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Taala. Sehingga dalam waktu yang cukup singkat nama beliau sudah masyhur di kalangan penduduk Uyainah. Mereka datang ke tempat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab untuk thallabul ilmi, bahkan penduduk negeri sebelah pun datang ke Uyainah untuk belajar kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.



Pada suatu hari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menemui Amir Uyainah. Beliau berkata, "Wahai Amir (Utsman bin Muhammad bin Mamar), izinkanlah saya untuk menghancurkan kubah Zaid bin Khathab, karena sungguh kubah tersebut dibangun dalam rangka menentang syariat Allah Subhanahu wa Taala dan Allah Taala tidak akan ridha selama-lamanya dengan amalan tersebut. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun telah melarang dijadikannya kuburan sebagai masjid. Kubah Zaid ini telah menjadi fitnah bagi manusia dan mengubah aqidah mereka. Oleh karena itu wajib bagi kita menghancurkannya."



Kemudian Amir Uyainah menjawab, "Silakan kalau engkau memang menghendaki yang demikian itu." Lalu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memohon kepada Amir Uyainah agar beliau dibantu oleh tentara Uyainah, karena ditakutkan akan adanya perlawanan dari penduduk desa Jabaliyah, desa terdekat dari kubah Zaid bin Khathab.



Maka keluarlah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bersama 600 tentara Uyainah, dan di tengah-tengah mereka ada Utsman bin Muhammad bin Mamar. Setelah penduduk Jabaliyah mendengar kabar bahwa Kubah Zaid bin Khathab akan dihancurkan, maka serempak mereka berniat mempertahankan kubah tersebut. Tapi kubah Zaid bin Khathab yang sudah lama mereka agung-agungkan dan sembah, berhasil dihancurkan. Demikian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, beliau selalu memberantas hal-hal yang berbau syirik dan hal-hal yang mengarah kepada kesyirikan.



Beliau pun menegakkan hukuman had (hukuman cambuk, rajam, atau potong tangan bagi yang berhak). Sehingga, sampailah berita tentang beliau ini ke telinga Amir Al-Ahsaa, yakni Sulaiman bin Uraiir al-Khalidi, dan para pengikutnya dari bani Khalid. Kabar yang dipahami oleh mereka bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah orang yang suka menghancurkan kubah dan suka merajam wanita. Akhirnya dia berkirim surat kepada Amir Uyainah agar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dibunuh. Kalau tidak, maka dia tidak akan menyerahkan pajak emas yang biasa diberikan kepada Amir Uyainah dan dia pun akan menyerang negeri Uyainah.



Rasa cemas pun menghantui diri Amir Uyainah. Akhirnya dia menemui Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab seraya berkata,  "Wahai Syaikh sesungguhnya Amir Al-Ahsaa telah menulis surat kepadaku begini dan begini. Dia menginginkan agar kami membunuhmu. Kami tidak ingin membunuhmu! Dan kami pun tidak berani dengan dia. Tiada daya dan upaya pada kami untuk menentangnya. Oleh karena itu kami berul-betul mengharap Syaikh agar sudi meninggalkan negeri Uyainah ini."



Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata, "Wahai Amir, sesungguhnya apa yang aku dakwahkan ini adalah agama Allah dan realisasi kalimat La ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Maka barangsiapa yang berpegang teguh dengan agama ini serta menegakkannya di bumi Allah ini, niscaya Allah Subhanahu wa Taala akan menolongnya dan memberinya kekuatan serta menjadikan dia sebagai penguasa di negeri para musuhnya. Jika engkau bersabar dan beristiqamah serta mau menerima ajaran ini, niscaya Allah Subhanahu wa Taala akan menolongmu, menjagamu dari Amir Al-Ahsaa, dan yang lainnya dari musuh-musuhmu, serta Allah Taala akan menjadikanmu sebagai penguasa atas negerinya dan keluarganya."



Kemudian Amir Uyainah berkata lagi, "Wahai Syaikh, sesungguhnya kami tiada daya dan upaya untuk memeranginya dan kami tiada mempunyai kesabaran untuk menentangnya." Maka tiada pilihan lain bagi Syaikh Muhamamd bin Abdul Wahab, kecuali harus keluar dan meninggalkan negeri Uyainah, kampung halaman beliau sendiri.



Tempat yang paling cocok dan sesuai bagi kelancaran dakwah beliau selanjutnya adalah negeri Diriyyah. Hal ini karena negeri Diriyyah semakin hari semakin kuat dalam hal ketentaraan. Terbukti dengan direbutnya kembali kekuasaan yang selalu dirongrong oleh Sad bin Muhammad, pemimpin Bani Khalid.  Di sisi lain, hubungan antara para pemimpin Diriyyah dengan pemimpin Bani Khalid kurang harmonis. Maka di saat pemimpin Bani Khalid bersekongkol dengan Amir Uyainah untuk mengeluarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, di saat itu pula Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ingin bergabung dengan para pemimpin Diriyyah.



Tapi sebab yang terpenting kepergian beliau menuju negeri Diriyyah adalah karena dakwah yang beliau sebarkan selama ini mendapat sambutan yang hangat dari para pemimpin negeri tersebut. Di antara mereka adalah keluarga Suwailin, kedua saudara Amir Diriyyah (Tsinyan dan Musyairi), dan juga anaknya yang bernama Abdul Aziz.



Di saat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berada di rumah keluarga Suwailin, datanglah Amir Diriyyah Muhammad bin Saud atas anjuran istrinya untuk menyambut kedatangan Syaikh Muhammad. Akhirnya terwujud suatu kesepakatan bersama untuk saling beramal dalam upaya menegakkan dakwah Islamiyah semaksimal mungkin. Dan kesepakatan inilah yang nantinya sebagai asas dan pondasi bagi berdirinya Daulah Jadidah (Saudi Arabia).



Sebagian dari para penulis ada yang berpendapat bahwa dari kesepakatan itu pula tercetuslah suatu pernyataan, urusan pemerintahan dipikul oleh Muhammad bin Saud dan keturunannya, sedang urusan agama (diniyyah) di bawah pengawasan dan bimbingan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab beserta keturunannya. Namun nampaknya pernyataan yang seperti ini belum pernah ada, hanya saja kebetulan keturunan Muhammad bin Saud sangat berbakat dalam mengendalikan urusan pemerintahan, demikian juga keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sangat mumpuni untuk melanjutkan perjuangan beliau, sehingga hal ini terkesan sudah diatur sebelumnya, padahal hanya kebetulan saja.



Demikianlah, Syaikh Muhamamd bin Abdul Wahab dan Amir Diriyyah berada di atas kesepakatan yang telah mereka sepakati bersama sampai mereka pergi ke Rahmatullah. Dan selanjutnya diteruskan oleh keturunan mereka masing-masing di kemudian hari. [berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

(read more ...)



Agu

05


Bersama Amir Diriyyah Muhammad bin Saud saling beramal dalam upaya menegakkan dakwah Islamiyah. Nantinya sebagai asas dan pondasi berdirinya Daulah Jadidah (Saudi Arabia)




Hidayatullah.com--Pada abad 12 H/17 M keadaan umat di jazirah Arab sangat jauh menyimpang dari ajaran Islam, terutama dalam aspek akidah. Di sana-sini banyak praktik syirik dan bid’ah. Para ulama sulit mengatasi. Usaha mereka hanya sebatas di lingkungan saja dan tidak berpengaruh secara luas, atau hilang ditelan oleh arus gelombang yang begitu kuat dari pihak yang menentang.



Jumlah pelaku syirik dan bi’dah begitu banyak, di samping pengaruh kuat dari tokoh-tokoh masyarakat yang mendukung praktik-praktik tersebut demi kelanggengan pengaruh mereka atau karena mencari kepentingan duniawi di belakang itu, sebagaimana masih kita saksikan di tengah-tengah sebagian umat Islam sekarang ini.



Dari segi aspek politik, di jazirah Arab berada di bawah kekuasaan yang terpecah-pecah. Terlebih khusus di daerah Nejd. Perebutan kekuasaan selalu terjadi di sepanjang waktu, sehingga hal tersebut sangat berdampak negatif untuk kemajuan ekonomi dan pendidikan agama.



Para penguasa makmur dengan memungut upeti dari rakyat jelata. Mereka sangat marah bila ada kekuatan atau dakwah yang dapat menggoyang kekuasaan mereka. Para tokoh adat dan agama yang biasa memungut iuran dari pengikut mereka, akan kehilangan objek jika pengikut mereka mengerti tentang akidah dan agama dengan benar. Dari sini mereka sangat hati-hati bila ada seseorang yang mencoba memberi pengertian kepada umat tentang akidah atau agama yang benar.



Pada saat itu di Nejd lahir sang pengibar bendera tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Disebutkan oleh penulis sejarah dan penulis biografi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, di masa itu pengaruh keagamaan melemah di dalam tubuh kaum muslimin sehingga tersebarlah berbagai bentuk maksiat, khurafat, syirik, bid’ah, dan sebagainya. Ilmu agama mulai minim di kalangan kebanyakan kaum muslimin, sehingga praktik-praktik syirik terjadi di sana-sini, seperti meminta ke kuburan wali-wali, atau meminta ke batu-batu dan pepohonan dengan memberikan sesajian, atau mempercayai dukun, tukang tenung, dan peramal.



Di Nejd terdapat kampung bernama Jubailiyah. Di situ terdapat kuburan sahabat Zaid bin Khaththab (saudara Umar bin Khaththab) yang syahid dalam perperangan melawan Musailamah Al Kadzab. Manusia berbondong-bondong ke sana untuk meminta berkah dan meminta berbagai hajat. Begitu pula di kampung ‘Uyainah, terdapat sebuah pohon yang diagungkan. Banyak orang mencari berkah ke situ, termasuk para kaum wanita yang belum mendapatkan pasangan hidup.



Penyimpangan bahkan juga terjadi di Hijaz (Mekkah dan Madinah), walaupun penyebaran ilmu agama berada di dua kota suci ini. Di sini tersebar kebiasaan bersumpah dengan selain Allah. Juga kebiasaan menembok serta membangun kubah-kubah di atas kuburan, serta berdoa di sana untuk mendapatkan kebaikan atau untuk menolak mara bahaya. Jika di dua kota suci itu saja kesyirikan sudah begitu menyebar, apalagi di kota-kota sekitarnya, ditambah lagi dengan kurangnya ulama. Pasti lebih memprihatinkan.



Hal tersebut kemudian disebut oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitabnya al-Qawa’id Arba’, “Sesungguhnya kesyirikan pada zaman kita sekarang melebihi kesyirikan umat yang lalu. Kesyirikan umat yang lalu hanya pada waktu senang saja, akan tetapi mereka ikhlas pada saat menghadapi bahaya. Sedangkan kesyirikan pada zaman kita senantiasa pada setiap waktu, baik di saat aman apalagi saat mendapat bahaya”. Dalilnya firman Allah,



“Maka apabila mereka menaiki kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan agama padanya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke daratan, seketika mereka kembali berbuat syirik.” (QS. al-Ankabut: 65)


Dalam ayat ini Allah terangkan bahwa ketika mereka berada dalam ancaman tenggelam dalam lautan, mereka berdoa hanya semata kepada Allah dan melupakan berhala atau sesembahan mereka. Namun saat mereka telah selamat sampai di daratan, mereka kembali berbuat syirik. Tetapi pada zaman sekarang orang melakukan syirik setiap saat dalam kondisi apa pun.



Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab lahir tahun 1115 H di ‘Uyainah, salah satu perkampungan daerah Riyadh. Ia hidup di tengah-tengah keluarga yang dikenal dengan nama keluarga Musyarraf (Ali Musyarraf). Ali Musyarraf ini cabang atau bagian dari Kabilah Tamim yang terkenal. Sedangkan Musyarraf, kakek beliau ke-9 menurut riwayat yang rajih. Dengan demikian nasab beliau adalah Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin Musyarraf.



Muhammad bin Abdul Wahab telah menampakkan semangat thalabul-ilmi sejak usia belia. Beliau memiliki kebiasaan yang sangat berbeda dengan anak-anak sebayanya. Beliau tidak suka dengan main-main dan perbuatan yang sia-sia. Beliau mulai thalabul-ilmi dengan mendalami al-Quranul Karim, sehingga tidak aneh kalau sudah hafal ketika umur 10 tahun.



Yang demikian itu terjadi karena banyak faktor mendukungnya. Di antaranya semangat yang sangat menggebu-gebu dalam menuntut ilmu, serta keadaan lingkungan keluarga yang benar-benar mendorong dan memicu beliau untuk terus-menerus menuntut ilmu. Dan Syaikh Abdul Wahab-lah guru dan sekaligus orang tua beliau yang pertama-tama mencetak kepribadian beliau.



Dalam satu suratnya kepada temannya, Syaikh Abdul Wahab berkata, "Sesungguhnya dia (Muhammad bin Abdul Wahab) memiliki pemahaman yang bagus. Kalau seandainya dia belajar selama satu tahun niscaya dia akan hafal, mapan serta, menguasai apa yang dia pelajari. Aku tahu bahwasanya dia telah ihtilam (baligh) pada usia dua belas tahun. Dan aku melihatnya sudah pantas menjadi imam, maka aku jadikan dia sebagai imam shalat berjamaah karena marifah dan ilmunya tentang ahkam. Dan pada usia balighnya itulah aku nikahkan dia. Kemudian setelah nikah, dia meminta izin kepadaku untuk berhaji, maka aku penuhi permintaannya dan aku berikan segala bantuan demi tercapai tujuannya tersebut. Lalu berangkatlah dia menunaikan ibadah haji, salah satu rukun dari rukun-rukun Islam."



Berguru pada Ulama Haramain



Setelah berhaji beliau belajar pada para ulama Haramain (Makkah dan Madinah) selama lebih kurang dua bulan. Kemudian setelah itu kembali lagi ke daerah Uyainah. Setelah pulang dari haji beliau terus memacu belajar. Beliau belajar dari ayah yang sekaligus guru pelajaran Fiqih Hambali, tafsir, hadits, dan tauhid.



Tidak berapa lama kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menunaikan ibadah haji kedua kalinya. Kemudian menuntut ilmu pada para ulama Madinah Al-Munawarah. Di Madinah beliau belajar dengan serius, dan Madinah saat itu adalah tempat berkumpulnya ulama dunia. Di antara guru beliau yang paling beliau kagumi dan senangi adalah Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif an-Najdi dan Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi. Setelah beliau merasa cukup menuntut ilmu dari para ulama Madinah al-Munawwarah, maka beliau kembali lagi ke kampung halaman, Uyainah.



Setahun kemudian beliau memulai berkelana thalabul-ilmi. Negeri yang dicita-citakan untuk menuntut ilmu adalah Syam. Kota Damaskus saat itu sebuah kota yang sarat akan kegiatan keislaman. Di sana terdapat sebuah madrasah yang memberikan keilmuan tentang madzhab Hambali, dan kegiatan-kegiatan yang menunjang keilmuan tersebut. Namun karena perjalanan dari Najd menuju Damaskus secara langsung sangat sulit, maka Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab pergi menuju Bashrah (Irak). Pada saat itu beliau berkeyakinan bahwa perjalanan dari Bashrah menuju Damaskus sangatlah mudah.



Setelah di Bashrah, ternyata apa yang beliau yakini sementara itu tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Perjalanan dari Basrah menuju Damaskus yang semula dianggap mudah, ternyata sulit. Maka bertekadlah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab tinggal di Bashrah. Beliau belajar fiqih dan hadits pada sejumlah ulama, di antaranya bernama Syaikh Muhammad al-Majmui. Di samping ilmu fiqih dan hadits beliau juga mendalami ilmu Qawaidul-Arabiyyah, sehingga beliau betul-betul menguasainya. Bahkan selama tinggal di Bashrah beliau sempat mengarang beberapa kitab yang berkenaan dengan Qawaidul Lughah al-Arabiyyah.



Ternyata tidak semua orang yang ada di Bashrah senang terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan ulama-ulama yang sepemikiran dengan beliau, khususnya para ulama suu. Karena ulah dan permusuhan mereka terhadap Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab itulah, akhirnya beliau dengan berat hati meninggalkan negeri Bashrah.



Kemudian beliau pergi menuju suatu tempat bernama az-Zubair. Setelah perjalanan beberapa saat di sana, beliau melanjutkan perjalanan menuju al-Ahsaa. Di daerah tersebut beliau melanjutkan studinya dengan belajar ilmu agama pada para ulama al-Ahsaa. Di antara guru-guru beliau yang ada di al-Ahsaa tersebut adalah Syaikh Abdullah bin Fairuz, Syaikh Abdullah bin Abdul Lathif, serta Syaikh Muhammad bin Afaliq. Dan memang Ahsaa saat itu merupakan gudangnya ilmu sehingga orang-orang Najd dan orang-orang sebelah timur jazirah Arab berdatangan ke Ahsaa untuk menuntut ilmu.



Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab melanjutkan kelana thalabul-ilmi ke daerah Haryamala dan tiba di sana pada tahun 1115H. Kebetulan ayah beliau yang tadinya menjadi qadhi di Uyainah, telah pindah ke daerah tersebut. Maka berkumpullah beliau dengan ayahnya di sana.



Tapi baru dua tahun bertemu dan berkumpul dengan orang tua, Syaikh Abdul Wahab bin Sulaiman meninggal dunia, tepatnya pada tahun 1153H. Sepeninggal ayahnya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menggantikan ayahnya dalam melaksanakan segala aktivitasnya di negeri Haryamala tersebut. Dalam waktu yang cukup singkat nama beliau mulai tersohor. Sehingga orang-orang pun berdatangan ke Haryamala menuntut ilmu pada beliau. Bahkan para pemimpin negeri di sekitar Haryamala pun menerima ajakan dan dakwah beliau. Sehingga tidak aneh kalau Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hanya dua tahun tinggal di Haryamala (sepeninggal ayahnya) demi menyambut ajakan dan tawaran Amir negeri Uyainah, Utsman bin Mamar untuk tinggal di negeri Uyainah, negeri kelahiran beliau.



Amir Uyainah, Utsman bin Muhammad bin Mamar sangat gembira dengan kedatangan beliau. Bahkan dia berkata kepada Syaikh, "Tegakkanlah dakwah di jalan Allah dan kami senantiasa akan membantumu." Maka mulailah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sibuk dengan urusan dakwah, talim, serta mengajak manusia kepada kebaikan dan saling mencintai karena Allah Subhanahu wa Taala. Sehingga dalam waktu yang cukup singkat nama beliau sudah masyhur di kalangan penduduk Uyainah. Mereka datang ke tempat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab untuk thallabul ilmi, bahkan penduduk negeri sebelah pun datang ke Uyainah untuk belajar kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.



Pada suatu hari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menemui Amir Uyainah. Beliau berkata, "Wahai Amir (Utsman bin Muhammad bin Mamar), izinkanlah saya untuk menghancurkan kubah Zaid bin Khathab, karena sungguh kubah tersebut dibangun dalam rangka menentang syariat Allah Subhanahu wa Taala dan Allah Taala tidak akan ridha selama-lamanya dengan amalan tersebut. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pun telah melarang dijadikannya kuburan sebagai masjid. Kubah Zaid ini telah menjadi fitnah bagi manusia dan mengubah aqidah mereka. Oleh karena itu wajib bagi kita menghancurkannya."



Kemudian Amir Uyainah menjawab, "Silakan kalau engkau memang menghendaki yang demikian itu." Lalu Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab memohon kepada Amir Uyainah agar beliau dibantu oleh tentara Uyainah, karena ditakutkan akan adanya perlawanan dari penduduk desa Jabaliyah, desa terdekat dari kubah Zaid bin Khathab.



Maka keluarlah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bersama 600 tentara Uyainah, dan di tengah-tengah mereka ada Utsman bin Muhammad bin Mamar. Setelah penduduk Jabaliyah mendengar kabar bahwa Kubah Zaid bin Khathab akan dihancurkan, maka serempak mereka berniat mempertahankan kubah tersebut. Tapi kubah Zaid bin Khathab yang sudah lama mereka agung-agungkan dan sembah, berhasil dihancurkan. Demikian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, beliau selalu memberantas hal-hal yang berbau syirik dan hal-hal yang mengarah kepada kesyirikan.



Beliau pun menegakkan hukuman had (hukuman cambuk, rajam, atau potong tangan bagi yang berhak). Sehingga, sampailah berita tentang beliau ini ke telinga Amir Al-Ahsaa, yakni Sulaiman bin Uraiir al-Khalidi, dan para pengikutnya dari bani Khalid. Kabar yang dipahami oleh mereka bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah orang yang suka menghancurkan kubah dan suka merajam wanita. Akhirnya dia berkirim surat kepada Amir Uyainah agar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dibunuh. Kalau tidak, maka dia tidak akan menyerahkan pajak emas yang biasa diberikan kepada Amir Uyainah dan dia pun akan menyerang negeri Uyainah.



Rasa cemas pun menghantui diri Amir Uyainah. Akhirnya dia menemui Syaikh Muhamad bin Abdul Wahab seraya berkata,  "Wahai Syaikh sesungguhnya Amir Al-Ahsaa telah menulis surat kepadaku begini dan begini. Dia menginginkan agar kami membunuhmu. Kami tidak ingin membunuhmu! Dan kami pun tidak berani dengan dia. Tiada daya dan upaya pada kami untuk menentangnya. Oleh karena itu kami berul-betul mengharap Syaikh agar sudi meninggalkan negeri Uyainah ini."



Kemudian Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berkata, "Wahai Amir, sesungguhnya apa yang aku dakwahkan ini adalah agama Allah dan realisasi kalimat La ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah. Maka barangsiapa yang berpegang teguh dengan agama ini serta menegakkannya di bumi Allah ini, niscaya Allah Subhanahu wa Taala akan menolongnya dan memberinya kekuatan serta menjadikan dia sebagai penguasa di negeri para musuhnya. Jika engkau bersabar dan beristiqamah serta mau menerima ajaran ini, niscaya Allah Subhanahu wa Taala akan menolongmu, menjagamu dari Amir Al-Ahsaa, dan yang lainnya dari musuh-musuhmu, serta Allah Taala akan menjadikanmu sebagai penguasa atas negerinya dan keluarganya."



Kemudian Amir Uyainah berkata lagi, "Wahai Syaikh, sesungguhnya kami tiada daya dan upaya untuk memeranginya dan kami tiada mempunyai kesabaran untuk menentangnya." Maka tiada pilihan lain bagi Syaikh Muhamamd bin Abdul Wahab, kecuali harus keluar dan meninggalkan negeri Uyainah, kampung halaman beliau sendiri.



Tempat yang paling cocok dan sesuai bagi kelancaran dakwah beliau selanjutnya adalah negeri Diriyyah. Hal ini karena negeri Diriyyah semakin hari semakin kuat dalam hal ketentaraan. Terbukti dengan direbutnya kembali kekuasaan yang selalu dirongrong oleh Sad bin Muhammad, pemimpin Bani Khalid.  Di sisi lain, hubungan antara para pemimpin Diriyyah dengan pemimpin Bani Khalid kurang harmonis. Maka di saat pemimpin Bani Khalid bersekongkol dengan Amir Uyainah untuk mengeluarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, di saat itu pula Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ingin bergabung dengan para pemimpin Diriyyah.



Tapi sebab yang terpenting kepergian beliau menuju negeri Diriyyah adalah karena dakwah yang beliau sebarkan selama ini mendapat sambutan yang hangat dari para pemimpin negeri tersebut. Di antara mereka adalah keluarga Suwailin, kedua saudara Amir Diriyyah (Tsinyan dan Musyairi), dan juga anaknya yang bernama Abdul Aziz.



Di saat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab berada di rumah keluarga Suwailin, datanglah Amir Diriyyah Muhammad bin Saud atas anjuran istrinya untuk menyambut kedatangan Syaikh Muhammad. Akhirnya terwujud suatu kesepakatan bersama untuk saling beramal dalam upaya menegakkan dakwah Islamiyah semaksimal mungkin. Dan kesepakatan inilah yang nantinya sebagai asas dan pondasi bagi berdirinya Daulah Jadidah (Saudi Arabia).



Sebagian dari para penulis ada yang berpendapat bahwa dari kesepakatan itu pula tercetuslah suatu pernyataan, urusan pemerintahan dipikul oleh Muhammad bin Saud dan keturunannya, sedang urusan agama (diniyyah) di bawah pengawasan dan bimbingan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab beserta keturunannya. Namun nampaknya pernyataan yang seperti ini belum pernah ada, hanya saja kebetulan keturunan Muhammad bin Saud sangat berbakat dalam mengendalikan urusan pemerintahan, demikian juga keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sangat mumpuni untuk melanjutkan perjuangan beliau, sehingga hal ini terkesan sudah diatur sebelumnya, padahal hanya kebetulan saja.



Demikianlah, Syaikh Muhamamd bin Abdul Wahab dan Amir Diriyyah berada di atas kesepakatan yang telah mereka sepakati bersama sampai mereka pergi ke Rahmatullah. Dan selanjutnya diteruskan oleh keturunan mereka masing-masing di kemudian hari. [berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

(read more ...)



Wahabi menjadi kambing hitam untuk suatu peristiwa yang terjadi di tanah air. Selalu menjadi sasaran tembak paling mudah

Hidayatullah.com--Lagi-lagi Wahabi menjadi kambing hitam untuk suatu peristiwa yang terjadi di tanah air. Selalu menjadi sasaran tembak paling mudah. Bahkan Wahabi juga menjadi suatu predikat yang ditempelkan pada seseorang bila yang bersangkutan dipandang “agak lain” dari kebiasaan umumnya.


Tudingan terdekat terhadap Wahabi disampaikan mantan Kepala Badan Intelijen Negaral (BIN) Abdullah Mahmud Hendropriyono ketika peristiwa bom di Hotel Marriot dan Ritz Charlton di Jakarta terjadi pada Jumat pagi (17/7). Saat diwawancarai sebuah TV swasta  via sambungan telepon Jumat malam, ia mengatakan, pemerintah hendaknya lebih mengantisipasi gerakan Wahabi di Indonesia. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa gerakan organisasi Islam transnasional seperti Ikhwanul Muslimin, mestinya menjadi perhatian serius.


Sebelumnya yang terkena tudingan sebagai bagian dari kelompok Wahabi adalah Ketua MPR Hidayat Nur Wahid. Tudingan itu ditujukan pada dirinya sesaat setelah dicalonkan PKS sebagai Wakil Presiden untuk mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan Hidayat pun dituding anti-NKRI. “Saya difitnah sebagai Wahabi dan anti-NKRI. Saya mendapat SMS dari kawan-kawan (Partai) Demokrat untuk minta tolong agar diklarifikasi,” kata Hidayat Nur Wahid, Rabu (29/4), sebagaimana dimuat harian Kompas (30/4).


Hidayat Nur Wahid pun lantas membantah dirinya bagian dari kelompok Wahabi. Ia mengatakan, Wahabi adalah kelompok di Timur Tengah yang membid’ahkan dan mengharamkan politik. Adapun dirinya pendiri partai politik, bahkan pernah menjadi pimpinan partai politik. “Di situ saja fitnah itu mengada-ada,” katanya tegas.


Tentang disebut anti-NKRI, ia menyebut, saat memimpin partai pernah melakukan kontrak politik dengan Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2004. Salah satu butir kontrak politik adalah mempertahankan NKRI. Kemudian sebagai Ketua MPR saat ini, Hidayat mensosialisasikan UUD 1945, yang di antaranya menegaskan bahwa bentuk negara sebagai hal yang tidak bisa diubah.


Pada saat pembahasan RUU Anti-Pornografi, kata Wahabi juga muncul dari sebagian elemen masyarakat yang menolak RUU Anti-Pornografi. Mereka menyebut pihak-pihak yang mendukung RUU Anti-Pornografi berasal dari kelompok Wahabi.


Ungkapan yang lebih lebar disampaikan salah satu tokoh ormas keagamaan belum lama ini. Ia meminta kepada pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono yang akan datang tidak memilih Menteri Agama dari kelompok Wahabi. Ia khawatir, jika nanti Menteri Agama dari kelompok Wahabi, kegiatan tahlil dan ziarah kubur akan dilarang. Padahal ziarah kubur menunjukkan kesalehan seseorang.


Dari sini tampak cakupan penyebutan Wahabi sangat luas sekali. Pengistilahan Wahabi tidak dibatasi suatu definisi pasti. Ia bisa melebar kemana-mana sesuai kebutuhan. Begitu pula penyebutan Wahabi secara tidak langsung distigmatisasi ke arah yang yang buruk. Seseorang bisa dituding Wahabi mulai dari sekadar karena perbedaan cara ibadah sampai tudingan ke arah praktik ekstremitas.


Menurut Asep Sobari, peneliti sejarah peradaban Islam INSIST (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations), istilah Wahabi selalu dikaitkan dengan gerakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, sebuah gerakan di  Arab Saudi. Menurutnya, istilah ini sebenarnya berasal bukan dari ia sendiri ataupun pengikut gerakannya, melainkan dari pihak luar. Masalahnya, mengapa orang luar yang mengatakan aktivitas Muhammad bin Abdul Wahab sebagai gerakan Wahabi, sementara ia sendiri tidak mengatakan demikian. “Sehingga patut dikatakan, Wahabi itu sebenarnya apa? Gerakan atau gagasan? Itu semua bisa kita diskusikan secara ilmiah dan melalui jalur akademis,” katanya.


Alumnus pesantren Gontor ini menjelaskan, banyak literatur  yang membahas gagasan serta pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab. Setidaknya dari situ kita bisa mengetahui, apa benar Wahabi itu menebarkan aroma teror dan tindakan ekstremisme. Sebab, beliau sendiri tidak memiliki gagasan maupun pemikiran seperti itu.


“Beliau tidak pernah membolehkan pembunuhan. Jangankan pembunuhan terhadap muslim, di luar muslim juga diharamkan untuk dibunuh. Jadi tidak ada pandangan beliau yang teridentifikasi sebagai gerakan ektremisme.  Adapun sejarah perang, praktis semua punya sejarah perang. Tidak bisa dikaitkan sejarah dulu dengan kasus terorisme. Tidak ada kaitannya terorisme dengan Muhammad bin Abdul Wahab,” katanya.


Yang membuat istilah Wahabi sebenarnya orang ataupun golongan di luar kelompok Muhammad bin Abdul Wahab yang tidak senang dengan gerakannya. Golongan itu berkaitan dengan dinasti Ustmaniyah, pemerintahan di Hijaz, dan sejumlah perbedaan paham antara mazhab Abdul Wahab dengan ulama Hijaz. Muncullah stigma-stigma untuk mendeskriditkan Abdul Wahab. Namun hal itu kemudian diluruskan oleh beliau. “Orang memberikan stigma gerakan Abdul Wahab dengan gerakan Wahabisme, yang justru tidak memiliki keterkaitan dengan Abdul Wahab di Arab Saudi,” jelasnya. 


Lebih lanjut, Asep menjelaskan, dari segi mazhab sebenarnya Abdul Wahab menganut mazhab Hambali. Mazhab ini adalah salah satu dari empat mazhab yang dipedomani oleh banyak negara. Jadi mengapa hal ini menjadi sorotan? Sebab, dalam masalah akidah tidak ada sesuatu yang baru ataupun melenceng. Ia hanya melakukan penyegaran dalam hal akidah dari  Ibnu Taymiyyah. Selain itu, ia juga belajar kepada Abu Ja’far At Thahawi yang merupakan ulama bermazhab Hanafi.


“Jadi sebenarnya secara wacana Abdul Wahab jauh lebih maju. Kalau begitu, sisi ekstrim dan kakunya di mana?” ucap Asep.


Asep menjelaskan, selain istilah Wahabi, juga ada “campur tangan” asing. Persoalan itu telah terjadi berkaitan sejarah yang panjang, yaitu sekitar 3 abad silam. Seperti diketahui, menurut Asep, dalam setiap masa, pasti ada yang memiliki pemikiran dan fatwa berbeda. Fenomena yang muncul juga berbeda. Masalahnya, di sini perbedaan justru dinilai negatif dan salah. Padahal tidak demikian. Apalagi perbedaan pasti terjadi dimana pun. Jangan sampai, anggapan salah dan negatif terhadap perbedaan itu disebut penyimpangan.  


Distorsi Sejarah


Menurut Asep, selama ini telah terjadi distorsi fakta sejarah tentang Wahabi. Wahabi diidentikkan dengan gerakan-gerakan Islam yang sudah eksis di tanah air. Padahal, belum tentu gerakan-gerakan tersebut mewakili orisinalitas pemikiran Muhammad bin Abdul Wahab. “Gerakan-gerakan tersebut belum tentu merepresentasikan Wahabi,” ujar alumnus Universitas Islam Madinah Munawwaroh, Saudi Arabia ini.


Terkait gerakan Islam transnasioanal yang dikait-kaitkan dengan Wahabi, menurut Asep, sangat dangkal. Gerakan Islam transnasional yang dimaksudkan oleh sejumlah tokoh, yang katanya ada keterkaitan pola-pola luar negeri dengan Indonesia itu, tidak berdasar. Sebab Islam tidak menganut lokalitas, atau dengan artian semuanya adalah transnasional (lintas Negara). “Islam tidak mengenal teritorial dan negara. Semua sama dan transnasional,” pungkas Asep. Buktinya, mereka yang mengatakan demikian juga belajar di Timur Tengah. Istilah Islam rahmatan lilalamin itu juga berarti adalah Islam transnasional.


Menurutnya, hal itu disebabkan karena ada pembajakan terminologi. Kemudian terminologi buatan itu diredefiniskan untuk kepentingan tertentu. “Kita ini Islam rahmatan lil’alamin, bukan Islam lokalitas. NU dan Muhammadiyah juga seperti itu. Justru kalau ada Islam lokalitas itu nggak jelas dan bid’ah. Shalat kan satu dan dasar pemikirannya kan satu,” jelasnya.   


Sebagaimana terdapat dalam buku “Ilusi Negara Islam”, menurut Asep, buku itu tidak layak menjadi rujukan. Karena sumber-sumbernya sendiri ada polemik dengan para penulisnya. “Bukan saja karena Gus Dur (Abdurrahman Wahid) dan Syafi’i Ma’arif, tapi juga keberadaan Libforall. Bukti tersebutlah seharusnya yang paling nyata bahwa buku “Ilusi Negara Islam” sebagai buku transnasional paling nyata,” ujarnya.


Ia mengatakan, gerakan Islam itu pasti transnasional. Tak kecuali NU (Nahdhatul Ulama) dan Muhammadiyah. Pendiri NU ada pengaruhnya dengan transnasional. Lihat saja, pendiri atau kiainya ada hubungan dengan ulama di Mekkah, Hijaz, dan lainnya. Dari situ diketahui bahwa tidak ada mazhab lokal.


Asep juga mengatakan, Imam Syafi’i yang madzhab Safi’iyahnya dipakai di Indonesia, berasal dari luar negeri. Beliau lahir di Gaza , besar di Makkah, pernah juga belajar di Mesir, dan kemudian madzhabnya dipakai di Indonesia . “Ini tidak dipermasalahkan  sebagai gerakan transnasional,” ujarnya.


 Asep mengakui, dirinya tak menafikan jika ada orang yang berfikir terorisme. Namun, menurutnya, terorisme itu dipicu bukan hanya karena satu faktor saja. “Bisa saja memang, orang menjadi teroris menggunakan ciri-ciri itu. Tapi jangan hanya dibahas dan berfikir ciri-cirinya saja. Ini tidak arif. Bisa jadi, ini merupakan stigmatisasi dan kesalahan besar dalam memandang terorisme,” ucapnya.  “Seperti celana di atas mata kaki, berjenggot, dan lainnya,” imbuhnya.


Ia menilai, hal tersebut setidaknya karena ada kepentingan dan  target dari pihak lain.  “Stigmatisasi dijadikan konsumsi pulbik yang dimanfaatkan oleh kaum tertentu. Sehingga, kaum muslimin akan kehilangan identities kemuslimannya,” ungkapnya.


Tak hanya itu, posisi umat Islam juga tersudutkan. Takut menunjukkan keislaman, takut dan menjadi inferior. “Padahal menghidupkan sunnah kan mulia. Apa masalahnya dengan jenggot dan celana di atas mata  kaki,” tegasnya.


Namun karena teroris menggunakan itu, maka hal itu dipermasalahkan. Hal ini merupakan upaya untuk menjauhkan umat Islam dari identitias keislaman. “Masyarakat sedang digiring untuk menjadi inferior,” ungkapnya.


Terkait stigmatisasi, hal itu muncul bisanya karena adanya benturan dua kekuatan. Kekuatan yang dominan dan kuat secara argumentasi, maka dilawan dengan stigma. Sebagaimana dalam sejarah perjuangan Nabi, yang sering digunakan oleh kafir Quraisy. Mereka tahu Rasulullah seorang Al-Amin dan shiddiq, Tapi ketika beliau mulai menyebarkan ajaran Islam, baru kemudian muncul stigma kepadanya, bahwa Nabi adalah dukun, tukang sihir, plagiator kitab suci, dan stigmatisasi lainnya.


Cara-cara seperti itu sudah lama dan sunnatullah. Islam sudah dikaji ratusan tahun oleh para orientalis Barat. Mereka tahu betul seperti apa Islam dan umat Islam sebenarnya. Mereka tahu, menghancurkan Islam bukan dengan jalan perang, melainkan dengan stigmatisasi. Karena, mereka tahu, umat Islam memiliki satu kekuatan yang ketika bangkit dan sadar, bisa menjadi kekuatan yang tak terkalahkan. Jadi stigma itu membuat umat Islam tidak pede atau inferior dan tidak memiliki imunitas lagi.


“Oleh karena itu, terkait dengan tudingan bahwa pelaku terorisme adalah golongan Wahabi, maka seharusnya harus jelas, yang dimaksud Wahabi di sini apa? Perlu didefinisikan agar tidak ambiguitas,“ ujar Asep. Tudingan bahwa Wahabi ingin mendirikan negara islam juga perlu dipertanyakan. Sebab, golongan di Arab Saudi sendiri, tidak ada satu pun wacana untuk menggulingkan negara yang eksis selama tidak benar-benar seratus persen kafir.


“ Wahabi di Arab Saudi tidak pernah berupaya menggulingkan negara yang sah. Demonstrasi saja haram. Karena dianggap suatu tindakan yang menjurus ke pemberontakan. Oleh sebab itu, aneh jika gerakan Wahabi dikaitkan dengan pendirian negara islam,” ujarnya. [ans/www.hidayatullah.com]


(read more ...)





Di malam akhir tahun dan sekaligus malam untuk menyambut tahun baru, biasanya hingar bingar musik dan hiruk pikuk hiburan berpadu dengan gegap gempitanya maksiat. Apakah statement ini terlalu berlebihan atau bahkan salah?


Dalam Islam, sesungguhnya tidak dikenal adanya perayaan akhir tahun dan malam tahun baru, walaupun berdasarkan kalender hijiriyah, apalagi patokan standarnya adalah tahun Masehi yang berarti tahun kelahiran Tuhan. Ini adalah budaya non Islam yang bahkan berasal dari budaya paganisme atau penyembah berhala untuk merayakan hari Tuhan mereka. Namun sayang seribu sayang, hal ini ternyata banyak yang tidak disadari sepenuhnya oleh ma-yoritas kaum muslimin.


Saat perayaan tersebut, akhir-akhir ini dengan sangat jelas dan kentara bahkan sudah diekspos luas dengan tanpa malu, adalah munculnya beragam simbol setan dan iblis. Selain berbagai bentuk kemaksiatan dan perilaku kesetanan yang marak, simbol setan yang terlihat adalah laku kerasnya aksesoris setan, seperti pakai-an ala setan atau vampire, topi tanduk setan dan lain sebagainya.


Pertanda apakah ini?



Itu adalah gambaran sebuah shira’ (pertarungan), atau clash (benturan) dalam istilah orang-orang Barat, antara yang haqq (benar) dengan yang batil, antara Islam dengan budaya jahiliyah dan kufur, antara tentara Allah swt dan tentara setan, antara dua generasi yang berbeda kutub dan ideologi!


Dalam paparan dan penjelasan al-Qur’an dan as-Sunnah, ada dua profil generasi yang saling berlawanan satu sama lain, yaitu generasi Rabbani (Qur’ani) dengan generasi setan.


Generasi Qur’ani merupakan generasi shalih yang secara ikhlas menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai landasan hidup dan ‘pewarna’ bagi kehidupannya. Gerak dan bersitan hati, tingkah laku, dan bahkan seluruh sikap hidup mereka senantiasa mengikuti ajaran agama Allah swt yang haqq.


Sebaliknya, generasi setan merupakan profil generasi sesat lagi menyesatkan yang kehidupannya selalu diwarnai dengan pelanggaran, penyimpangan, dan kemaksiatan terhadap Allah swt, Rabb yang telah menciptakan mereka. Setan menjadi ‘panglima kehidupan’ yang selalu membenamkan diri mereka ke dalam samudera dosa dan kemaksiatan. Akhirnya, hidup mereka dipersembahkan untuk selalu mengabdi kepada setan dan untuk senantiasa bermaksiat kepada Allah swt. Na’uudzu billah.


Di antara generasi setan tersebut banyak yang sadar bahwa mereka adalah budak-budak setan, namun banyak pula yang tidak sadar –mudah-mudahan ini yang terbanyak– ter-utama kaum muslimin yang berpe-rilaku sebagai potret generasi setan.


Tidak ada satu orang tua pun di mana saja mereka berada yang menghendaki anaknya menjadi generasi setan. Semua orang tua bahkan mencita-citakan agar anaknya menjadi generasi shalih yang memiliki budi pekerti yang mulia dan menyejukkan mata. Namun, membentuk generasi Rabbani bukanlah hal yang mudah. Kesungguhan tekad para orang tua dan pendidik, serta keikhlasan dan kesabaran mendidik anak dengan agama, menjadi tiang penyangga yang kokoh bagi terwujudnya generasi Rabbani tersebut. Ditambah doa kepasrahan kepada Allah swt agar Dia senantiasa memayungi kehidupan anak-anak kita dengan hidayah-Nya. Bila demikian keadaannya, niscaya generasi Rabbani akan betul-betul nyata di depan mata, yang akan menghembuskan bau surga yang semerbak di dalam keluarga dan menjadikan dunia merekah indah laksana indahnya surga.


Namun, ingatlah wahai para orang tua dan para pendidik generasi!


Setan tidak akan pernah rela dunia ini dikuasai oleh generasi Rabbani!


Setan tidak pernah menginginkan generasi Rabbani berkembang dan terus bertambah!


Ia akan terus menggoda dengan berbagai upaya agar anak-anak kita menjadi barisan generasi sesat yang dipimpinnya. Menjauhkan anak-anak kita dari agama merupakan trik-trik setan untuk memadamkan cahaya keimanan dari dalam diri anak-anak kita. Dan, langkah setan ini sungguh memperlihatkan hasil yang luar biasa. Bukti nyata terkini adalah bila kita mencermati keadaan dunia akhir-akhir ini, atau dengan merenungi kejadian di akhir tahun dan awal tahun. Hanya kepada Allahlah kita memohon pertolongan dan perlindungan!


Karakteristik Generasi Setan


Berkaitan dengan generasi setan, Allah swt berfirman:


“Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kerugian.” [QS. Maryam: 59]


Di dalam ayat ini, Allah swt memberikan gambaran karakteristik generasi setan yang kini semakin merajalela.


Pertama, adhaa’u ash-shalaah (menyia-nyiakan shalat).


Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan adhaa’u ash-shalaah adalah tarkuhu bi al-kulliyyah (meninggalkan shalat secara keseluruhan, tidak shalat sama sekali), atau juga adhaa’u al-mawaaqiit (lalai dalam hal waktu, menjalankan shalat namun tidak tepat waktu).


Generasi setan sangat melalaikan shalat. Padahal, shalat adalah ibadah sangat penting yang jika telah hilang dari dalam diri seseorang, maka hilang pula keislamannya.


Rasulullah saw bersabda:


(( لَتُنْقَضَنَّ عُرَى الإِِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِي تَلِيهَا، وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ ))


“Sungguh tali-temali Islam akan terle-pas satu utas demi satu utas. Setiap kali satu utas tali terlepas, orang-orang akan berpegang kepada tali sesudahnya. Yang pertama kali akan terlepas adalah hukum dan yang terakhir terlepas adalah shalat.” (HR. Ahmad)


‘Umar bin al-Khaththab menegaskan: “Jika kamu melihat seseorang yang menyia-nyiakan shalat, demi Allah kepada selain itu ia akan lebih menyia-nyiakan lagi.”


Kedua, ittiba’u asy-syahawaat (mengikuti hawa nafsu).


Setelah seseorang menyia-nyiakan shalat, maka sudah dapat dipastikan bahwa hawa nafsu akan menguasai dirinya. Ia tidak lagi mengindahkan hukum halal-haram, pahala-dosa, karena ‘tali hukum’ telah terlepas dari dalam dirinya. Ketika ‘tali shalat’ telah lepas, maka ‘tali’ setan dan hawa nafsulah yang akan menjerat jiwanya. Setan adalah musuh yang amat nyata, dan hawa nafsu akan selalu membawa kepada kesesatan.


Allah swt telah menegaskan:


“…Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku….” [QS. Yusuf (12): 53]


Ketika setan dan hawa nafsu telah menjadi raja; maka dosa, kemaksiatan dan pelanggaran adalah para prajurit pembawa panji-panji kesesatan. Para prajurit setan dan hawa nafsu itu bisa menjelma dalam wajah narkoba, free sex (seks bebas), judi, meninggalkan shalat, membuka aurat, pacaran, nonton VCD porno, durhaka kepada orang tua, dan lain sebagainya.


Di akhir ayat 59 dalam surat Maryam tersebut ditegaskan bahwa generasi setan yang jelek yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya kelak akan menemui al-ghayy.


Yang dimaksud al-ghayy adalah khusraan (kerugian) dan syarr (keburukan). Al-Ghayy juga merupakan sebuah lembah di neraka Jahannam yang menjijikkan dan sangat dalam.


Itulah balasan menyeramkan yang akan ‘dihadiahkan’ kepada generasi setan. Na’uudzu billahi min dzaalik.


Tiga Pilar Pendidikan Generasi


Setelah kita memahami agama dengan baik, kemudian bila kita mendalami kehidupan dengan cermat, niscaya kita menyadari akan bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan oleh generasi setan. Solusinya, selain dengan mewaspadai generasi setan adalah dengan mendidik generasi Rabbani dan memperbanyaknya!


Seorang ahli pendidikan berkata:


“Bergegaslah untuk mendidik anak-anakmu, sebelum kesibukanmu bertumpuk-tumpuk. Jika ia telah menjadi dewasa dan tidak berakhlak, maka ia justru akan lebih memusingkan pikiranmu!”


Kesungguhan dan perjuangan sejati dalam memberikan pendidikan secara baik menjadi kekuatan amat dahsyat yang akan membebaskan anak dari cengkeraman jahat generasi setan. Setidaknya ada tiga pilar pendidikan yang amat vital untuk meneguhkan benteng keagamaan anak-anak kita, sehingga mereka tangguh menghadapi godaan setan dan hawa nafsu.


Pilar pertama, shalat.


Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:


(( حَافِظُوْا عَلَى أَبْنَائِكُمْ فِي الصَّلاَةِ، وَعَوِّدُوْهُمُ الْخَيْرَ، فَإِنَّ الْخَيْرَ عَادَةٌ ))


“Jagalah anak-anak kalian untuk selalu melaksanakan shalat, dan biasakanlah mereka untuk berbuat baik, karena berbuat baik itu harus menjadi kebiasaan.” (HR. al-Thabrani)


Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Hisyam bin Sa’id berkata, “Kami pernah datang kepada Mu’adz bin ‘Abdillah bin Khubaib al-Juhni. Mu’adz berkata kepada istrinya, ‘Kapankah anak harus shalat?’ Istrinya menjawab, ‘Seseorang dari keluargaku pernah menyebutkan hadits dari Rasulullah saw bahwa beliau pernah ditanya tentang itu. Lalu, beliau menjawab:


(( إِذَا عَرَفَ يَمِيْنَهُ مِنْ شِمَالِهِ، فَمُرُوْهُ بِالصَّلاَةِ ))


Jika anak sudah bisa membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahlah anak untuk shalat.” (HR. Abu Dawud)


Bahkan akan sangat positif bila anak dibiasakan mengerjakan shalat tahajjud sejak dini.


Pilar kedua, masjid.


Melekatkan anak dengan masjid merupakan usaha yang cerdas, tepat, dan bahkan tidak ada tandingannya untuk menyelamatkan generasi ini dari kerusakan.


Pilar ketiga, puasa.


Puasa Ramadhan dan puasa-puasa sunnah merupakan pilar yang kokoh untuk membentengi hati anak dari gempuran nafsu yang merusak.


Shalat dan masjid merupakan pilar pembebas dari sikap ‘menyia-nyiakan shalat’ (adhaa’ush shalaah), dan puasa menjadi pilar pembebas dari sikap ‘memperturutkan hawa nafsu’ (ittiba’u asy-syahawaat).


Jadi, shalat, masjid dan puasa merupakan senjata yang ampuh untuk menghancurkan jiwa setaniyyah dalam diri generasi kita.


Semoga Allah swt menjauhkan kita dan keturunan kita dari cengkeraman generasi setan.


Dan semoga Allah swt menjadikan kita dan keturunan kita, baik laki-laki maupun perempuan, menjadi generasi Rabbani (Qur’ani). Amin.


red.ummatie



(read more ...)








Pasukan militer Zionis Israel mengatakan bahwa mereka telah menahan seorang perempuan muda Palestina di dekat masjid Ibrahimi di kota Hebron tepi barat - karena memiliki sebuah pisau.

Sumber dari warga Palestina menyebutkan bahwa perempuan muda yang bernama Wuroud Jawad Abu Sneineh sedang mencoba melintasi salah satu pos pemeriksaan militer Israel dalam perjalanannya menuju rumahnya.


Namun belum diketahui lokasi tempat perempuan tersebut ditahan oleh militer Zionis Israel.


Militer Israel sendiri sering menangkap para perempuan muda dekat masjid atas dasar membawa sebuah pisau.(fq/mna)



(read more ...)



Setiap muslim meyakini bahwa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan sosok manusia paripurna. Beliau memiliki akhlak agung yang tiada tandingannya. Karena akhlaknya, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dicintai dan dihormati segenap kalangan. Tua-muda, laki-perempuan semua sangat terkesan dengan pribadi agungnya.  Kemuliaan kepribadian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bukan baru hadir setelah beliau diangkat Allah menjadi Nabi. Bahkan sejak masa jahiliyah masyarakat musyrik Quraisy Mekkah menjuluki beliau dengan ”Al-Amin” (laki-laki terpercaya). Hal ini bahkan diabadikan di dalam firman Allah:

 


وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ


 


’Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qolam ayat 4)


 


Namun siapapun yang mengenal sejarah hidup Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pasti tahu bahwa dalam hidupnya beliau juga memiliki musuh. Dan tidak sedikit di antaranya yang sedemikian benci kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sehingga berniat membunuh manusia mulia ini. Sehingga muncullah suatu pertanyaan di dalam benak fikiran kita. Jika akhlak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam diakui sedemikian mulia, lalu mengapa beliau masih mempunyai musuh? Mengapa masih ada manusia yang berniat membunuhnya jika semua orang sepakat bahwa akhlak beliau sedemikian mengagumkan?


 


Saudaraku, hal ini hanya menggambarkan kepada kita bahwa sesungguhnya ada hal lain yang jauh lebih utama daripada perkara akhlak yang menyebabkan manusia menjadi siap bermusuhan dengan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Hal itulah yang dinamakan dengan ”Al-Aqidah” atau keimanan. Siapapun orang yang memusuhi Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pastilah orang yang tidak suka dengan ajaran aqidah atau keimanan yang dibawakannya. Mereka tidak bisa memungkiri kemuliaan akhlak Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, namun mereka sangat tidak suka dengan ajaran aqidah Tauhid yang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam da’wahkan kesana-kemari. Sebab menurut mereka, ajaran Tauhid mengancam eksistensi ajaran mereka.    Ajaran mereka, yaitu kemusyrikan,  menyuarakan eksistensi banyak ilah (tuhan), sedangkan ajaran aqidah Tauhid menegaskan hanya ada satu ilah di muka bumi yaitu Allah Subhaanahu wa Ta’aala. Lalu seseorang yang berikrar syahadat Tauhid diharuskan mengingkari eksistensi berbagai ilah lainnya untuk hanya menerima dan mengakui Satu ilah saja.


 


Sehingga dalam catatan Siroh Nabawiyyah (sejarah perjuangan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam) kita sempat menemukan bagaimana paman Nabi, yakni Abu Tholib, diminta oleh para pemuka Musyrik Quraisy untuk melobi Nabi shollallahu ’alaih wa sallam agar mau menghentikan seruan da’wah Tauhid-nya dengan imbalan apapun yang diinginkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Tetapi apa jawaban Nabi shollallahu ’alaih wa sallam terhadap permintaan mereka?


 


”Demi Allah, hai Pamanku...! Jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud agar aku meninggalkan urusan ini, maka saya tidak akan melakukannya, sampai Allah memenangkannya atau aku hancur dalam melaksanankannya...!” 


 


Pada dasarnya seruan Tauhid inilah seruan abadi para Nabi dan Rasul utusan Allah. Umat manusia sepanjang zaman didatangi oleh para Nabi dan Rasul secara bergantian dengan membawa misi mengajak manusia agar menghamba semata kepada Allah dan menjauhi Thoghut.


 


وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ


 


’Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". (QS An-Nahl ayat 36)


 


Sebelum para Nabi dan Rasul mengajarkan apapun, mereka senantiasa mendahulukan pengajaran akan hakikat fundamental pengesaan Allah. Tiada gunanya segenap amal-sholeh dan amal-ibadah diajarkan kepada manusia jika tidak dilandasi sebuah pemahaman sekaligus keyakinan mendasar akan keesaan Allah. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan bahwa hakikat kebencian kaum kafir hingga tega menyiksa sesama manusia lainnya ialah dikarenakan manusia lain itu memiliki keimanan akan keesaan Allah semata.


 


وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ


 الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ


 


”Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mumin itu melainkan karena orang-orang mumin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS Al-Buruuj ayat 8-9)


 


Inilah hakikat permusuhan dan konfrontasi di dunia. Permusuhan yang sesungguhnya ialah permusuhan karena pertentangan aqidah bukan yang lainnya. Seorang mu’min sepatutnya menyadari bahwa Nabi kita yang mulia akhlaknya itu tidak pernah dibenci lantaran akhlaknya. Namun setiap bentuk kebencian dan permusuhan yang diarahkan kepada beliau senantiasa bertolak dari ketidak-relaan manusia untuk menerima sekurang-kurangnya mentolerir keberadaan aqidah Tauhid yang diajarkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam.


Maka sudah sepantasnya kita selalu introspeksi dan evaluasi diri. Jika dalam kehidupan ini kita ternyata dimusuhi manusia, maka jangan bersedih dulu. Sebab Nabipun pernah dimusuhi. Namun selanjutnya kita perlu lihat, apakah manusia memusuhi kita lantaran akhlak kita atau aqidah kita. Jika ternyata kita dibenci lantaran akhlak kita, maka sudah sepatutnya kita ber-istighfar dan memperbaiki diri. Karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam tidak pernah dibenci manusia lantaran akhlaknya. Namun jika kita dibenci lantaran aqidah kita, maka sepatutnya kita bersyukur dan bersabar. Sebab Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabatnya-pun dibenci karena aqidahnya. Itupun dengan satu catatan, yaitu kita selama ini memang sudah terus-menerus  berusaha meluruskan dan mengokohkan aqidah Tauhid kita setiap hari. Semoga saudaraku...


 


وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ


 


”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran ayat 139)


*www.eramuslim.com

(read more ...)



Jumat, 22/05/2009 07:36 WIB 




Sekitar 80 akademisi dari Spanyol, Tunisia, Aljazair, Maroko, Prancis, dan beberapa negara lainnya berdiskusi dalam sebuah forum internasional tentang umat Islam yang secara kolektif diasingkan dari Granada 400 tahun lalu.

Pada 1492, setelah jatuhnya Kota Granada-Andalusia, sebagian besar umat Islam diasingkan dari bumi Islam, Andalusia (Spanyol). Sementara itu sisanya dipaksa masuk agama Kristen. Tidak cukup dengan hal demikian, umat Islam pun mengalami siksaan yang memilukan setiap tahunnya, yaitu dibakar hidup-hidup.


Saat ini, banyak umat Islam Spanyol yang menyadari bahwa leluhur mereka merupakan muslim Andalusia.


9 April 2009 lalu genap sudah 400 tahun terjadinya salah satu gerakan pengusiran terbesar sepanjang sejarah, yang mengeluarkan muslim Andalus yang telah hidup di bumi tumpah darahnya selama 8 abad, sekaligus juga membangun peradaban Islam yang gemilang dan menjadi salah satu peradaban yang paling penting.


Para sejarawan memperkirakan jumlah umat Islam yang diusir ada sekitar 250 ribu--350 ribu jiwa. Hal itu mengindikasikan bahwa sebagian mereka pergi ke pantai utara Maroko dan sisanya pergi ke Tunisia.


Seorang penulis kenamaan Spanyol Juan Guytesillo menyatakan peristiwa tersebut sebagai pengusiran sekaligus pemusnahan etnis dan agama yang pertama kali terjadi di Eropa.


Penulis Spanyol lainnya, Emilio Paistorius mengatakan bahwa pengusiran bangsa Moor (muslim) dari Andalusia merupakan kejahatan terbesar kedua. Sedangkan kejahatan terbesar yang pertama adalah pencurian buku-buku milik kaum muslimin oleh Ratu Isabella, yang kemudian dibakar di depan pintu gerbang ar-Raml (Bab al-Raml), Granada, kecuali buku-buku kedokteran Islam.


Islam bercokol di semenanjung Iberia (Andalusia, kini Spanyol, Portugal dan Andorra) selama kurang lebih 8 abad (8--16 M). Selama rentan waktu itu pula, Islam mampu menyulap semenanjung yang semula daerah pinggiran itu menjadi salah satu pusat peradaban dunia dan sentral ilmu pengetahuan sejagat. Ribuan cendikiawan, jutaan jilid buku, dan ratusan bangunan bersejarah Arab-Islami mengabadikan kisah kegemilangan peradaban Islam di bumi Andalusia itu.


Dan dari Islam-Andalusia pula, bangsa Eropa (kembali) mengenal ilmu pengetahuan hingga akhirnya mengilhami abad pencerahan, aufklarung, renaissance, dan kebangkitan di benua itu.


Transmisi ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang beralur dari Andalusia ke kota-kota Eropa lainnya. Filsuf Inggris abad pertengahan Roger Bacon menyatakan, kebangkitan Eropa sangat berhutang kepada peradaban Islam Andalusia. (wb/L2-AGS, Kairo)



*www.eramuslim.com

(read more ...)



Ditemukannya kandungan zat berbahaya dalam jajanan anak yang dijual di sejumlah sekolah Dasar di Depok, tentu membuat para ibu resah. 

Hasil uji sampling menunjukkan 30 persen jajanan mengandung borak, 3 persen mengandung formalin, serta 6 persen mengandung rodamin dan siklamat. Sampel diuji berdasar enam parameter yakni formalin, borak, rodamin, metamin yellow, siklamat dan bakteri.



Jajanan dengan berbagai jenis bentuk dan warna memang dikemas secara menarik untuk memikat anak-anak. Akibatnya, mereka tak kandungan gizi atau bahkan jajanan itu berbahaya bagi kesehatan.



Bagi Anda, orang tua yang selalu memberi uang jajan kepada buah hati, sebaiknya mulai mengerem kebiasaan ini.  Dari pada memberikan uang jajan kepada anak, Anda dapat memberikan penggantinya dalam bentuk bekal makanan sebab jajanan yang belum tentu terjamin nutrisi dan kebersihannya.



Tahukah Anda, berdasarkan hasil survei Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada 2007, dari 4.500 sekolah di Indonesia ada 45 persen jajanan yang dijual di sekitar sekolah tercemar bahaya pangan mikrobiologis dan kimia.



Bahaya utama berasal dari cemaran fisik mikrobiologi dan kimia seperti pewarna tekstil. Jenis jajanan berbahaya ini meliputi makanan utama, makanan ringan, dan minuman.



Untuk mencegah kebiasaan jajan anak harus dimulai dari pola makan keluarga, antara lain:

- Membuat bekal makanan yang tidak kalah enak dari jajanan yang dapat dibeli di luar rumah.

- Biasakan anak untuk sarapan pagi sebelum sekolah.



- Sebagai upaya preventif, anak harus dikenalkan pada pola makan sehat dan orangtua harus dapat dijadikan contoh atau panutan. Tidak ada gunanya melarang anak jajan kalau orangtuanya juga sering jajan dengan alasan tidak sempat memasak karena kesibukannya.



- Ajak buah hati membuat penganan di rumah. Dari sini Anda akan tahu makanan apa yang menjadi favoritnya, dan cocok untuk bekalnya ke sekolah.



- Tegas membatasi permintaan anak untuk jajan. Caranya, membatasi uang jajan mereka dan frekuensi jajan. Misalnya anak-anak hanya boleh jajan hari Sabtu atau Minggu. (muslimdaily.net/dkr/vvnws)


(read more ...)



Ada kalanya seorang bayi akan menolak saat ibunya memberinya ASI. Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal itu terjadi, antara lain: 1. Kurang sehat. Kondisi tubuh bayi yang kurang sehat bisa membuat bayi kesulitan mengisap dengan baik, sehingga ASI yang didapat sedikit. Akhirnya bayi jadi capek atau frustrasi, dan menolak menyusu. 2. Kesakitan. Bayi yang mengalami memar akibat lahir dengan alat bantu (misalnya: vakum) mungkin menolak menyusu jika bagian yang memar ini terpencet tiap kali ia menyusu. 3. Tersumbat hidungnya. Bayi yang hidungnya tersumbat (karena pilek) mungkin menolak menyusu karena kesulitan bernafas. 4. Sariawan. Bayi yang sedang sariawan, atau mulutnya terinfeksi jamur Candida mungkin hanya mau mengisap beberapa kali saat menyusu, lalu berhenti dan menangis. 5. Sedang tumbuh gigi. Bayi yang sedang tumbuh gigi mungkin merasa gusinya nyeri, atau air liurnya berlebihan, atau agak demam, sehingga menolak menyusu karena merasa tidak nyaman. 6. Mengantuk. Bayi yang terpengaruh efek sedatif (bius) obat-obatan mungkin menolak menyusui karena mengantuk. 7. Bingung puting. Bayi yang diberi susu botol atau empeng terlalu dini (sebelum 2 minggu) mungkin menolak menyusu karena kesulitan menguasai teknik mengisap payudara – yang sangat berbeda dengan mengisap dot. 8. Tidak mampu `mengambil cukup ASI untuk memenuhi kebutuhannya. Bayi yang belum menguasai teknik menyusu mungkin hanya mampu mengisap ASI sedikit sehingga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengisap lebih lama atau lebih dalam. Akibatnya ia jadi capek atau frustasi, lalu menolak menyusu. 9. Ingin `melawan perlakuan yang tidak menyenangkan. Jika ibu atau pengasuh kurang menguasai teknik mengatur posisi bayi saat akan menyusu, bayi bisa saja merasa diperlakukan kasar atau disakiti. Sebagai upaya `perlawanan , ia pun menolak menyusu. 10. Terganggu isapannya. Jika ibu sering memegangi atau mengguncang payudara saat menyusui, posisi mulut bayi terhadap payudara bisa terganggu. Akibatnya bayi merasa tidak nyaman dan menolak menyusu. 11 Dibatasi jadwal menyusunya. Jika ibu menyusui hanya pada jam-jam tertentu dan bukan menurut keinginan bayi, bayi bisa frustrasi karena kelaparan dan malah menolak menyusu. 12 Terganggu semburan ASI. Aliran ASI yang terlalu cepat dan deras saat bayi mulai mengisap bisa membuat bayi tersedak. Jika terjadi berulang kali selama menyusu, bayi mungkin jadi frustrasi dan menolak menyusu. 13. Merasa terganggu oleh suatu perubahan. Bayi usia 3-12 bulan mudah terganggu oleh berbagai perubahan: berpisah dengan ibunya, ada pengasuh baru, pindah rumah, kedatangan tamu, ibunya sakit (atau sedang menstruasi), payudara ibu terinfeksi, bau tubuh ibu berubah, dsb. Ketika suatu perubahan dirasa mengganggu, bayi bisa jadi tidak menangis melainkan langsung `mogok menyusu. Cobalah dicek alasan alasan diatas, mana yang paling sesuai dengan kondisi ibu dan anaknya. Tetapi yang jelas, teruslah berusaha, dan berikan ketenangan pada ibunya, karena ibu yang gelisah juga akan mempengaruhi bayinya, mungkin baik juga mengajaknya si anak bermain-main dulu. Mengenai cara memperlancar produksi ASI. cara utama sebenarnya dengan terus memberinya ASI, karena dengan jarang memberikan ASI maka produksi ASIpun akan menurun, maka jika si BAYI tidak mau menyusui sebaiknya ASI tetap di pompa keluar. Mengenai makanan banyak ibu ibu mengatakan memakan daun katuk atau buah pepaya muda yang direbut akan meningkatkan ASI, dan tentu harus ditambah dengan makanan bergizi lainnya. Sementara untuk obat-obat modern, bisa menghubungi dokter kandungan untuk meminta resep penambah ASI. (muslimdaily.net/dkr/dchcr)

(read more ...)



Cerita atau bacaan yang dibaca oleh anak kita saat ini akan memengaruhi karakternya 25 tahun kemudian, apakah si anak itu cerdik, jujur, licik, serta berbagai karakter lain yang baik atau buruk dalam dirinya.



Untuk itulah, orang tua perlu pandai-pandai dan bijaksana memilihkan bacaan untuk anaknya. Demikian teori David McClelland tersebut dilontarkan oleh Renny Yaniar, Pemimpin Redaksi Majalah Anak Mombi, dalam diskusi Cerita Rakyat Memperkaya Dunia Dongeng Anak, Sabtu (21/6), di Jakarta.



Renny menambahkan, untuk teorinya itu McClelland mengambil sampel Inggris dan Spanyol, dua negara raksasa di awal abad ke-16. Dalam perkembangan selanjutnya, ujar Renny, Inggris terus menjadi negara maju, sebaliknya Spanyol malah mengalami kemunduran.



"Mengapa bisa begitu ternyata McClelland, psikolog asal Universitas Harvard, itu mendasari penyebabnya bahwa persoalan karakter anak-anak sebagai generasi penerus bangsanya adalah berlatar dari apa yang mereka baca," ujar Renny.



Menurut McClelland, lanjut Renny, cerita dan dongeng-dongeng yang berkembang di Inggris pada masa-masa itu mengandung nilai-nilai optimisme yang tinggi (need for achievement), keberanian untuk mengubah nasib, serta sikap tidak gampang menyerah.



"Dongeng-dongeng itu ternyata telah menjadi virus yang mampu membuat anak-anak sebagai penikmatnya dipengaruhi sindroma ingin terus maju dan terus berprestasi tanpa kenal menyerah," ujar Renny. "Sebaliknya, umumnya dongeng di Spanyol kebanyakan mengandung nilai-nilai komedi berunsur kecerdikan yang licik dan penuh tipu daya, seperti kisah si Kancil," tambahnya.



Untuk itulah, Renny mengisyarakatkan perlunya orang tua zaman sekarang memilih bacaan yang baik untuk putra-putrinya, khususnya yang masih berusia dini. Cerita Rakyat, lanjut Renny, merupakan satu dari sekian banyak bacaan yang perlu menjadi pilihan bagi orang tua.



"Cerita rakyat itu imajinatif sehingga sangat baik untuk mengembangkan daya berpikir si anak, apalagi di dalamnya penuh mengandung pesan yang baik soal kejujuran, pantang menyerah, hormat kepada orang dan lain-lain yang selalu bersifat positif," ujar Renny.

Tentunya sebagai keluarga muslim, akan sangat indah bila kita memperkenalkan kisah-kisah perjuangan Rasulullah dan para shahabatnya. Suatu suri tauladan terbaik bagi umat manusia. Atau juga kisah-kisah para pendahulu umat yang sholeh. Sehingga sedari kecil putra-putri kita mendapat asupan motivasi dari cerita tersebut yang nantinya menjadi pelecut di masa depannya(muslimdaily.net/dkr/kmps)


(read more ...)




Dahulukan Akhlak di atas Fikih! itu kata Kang Jalal dalam bukunya, tetapi apakah Kang Jalal sudah melakukannya sebelum mengajak orang lain?

Beberapa waktu yang lalu masyarakat berpeluang menyaksikan dialog Nasional Sunni Syiah di layar TV. Menurut informasi yang beredar, penganut sunni yang akan berdialog adalah Fauzan Anshari, sementara penganut syiah yang akan memaparkan dalil-dalil syari kebenaran mazhab syiah adalah Jalaluddin Rahmat. Semua menunggu hari dialog dengan penuh penantian.



Lagi-lagi dari informasi yang beredar, Fauzan berniat mengajak kang Jalal untuk bermubahalah, memohon azab Allah yang disegerakan untuk mengetahui mana yang benar, antara mazhab Fauzan dan mazhab kang Jalal. Tapi ternyata masyarakat belum dapat menyaksikan langsung bukti kebenaran masing-masing mazhab, karena jika terjadi mubahalah, selang beberapa waktu akan terjadi sebuah peristiwa buruk, atau siksa, atau kematian dengan kecelakaan pada pihak yang mazhabnya salah, akhirnya masyarakat akan mengerti dengan jelas. Seperti dikutip oleh majalah Sabili, karena merasa ditipu dan dipermainkan, Fauzan membatalkan keikutsertaannya dalam dialog, lalu panitia menghubungi Nabhan Husein yang akhirnya menggantikan Fauzan.



Pada awal sesi Kang Jalal (biasanya Jalaludin dipanggil dengan panggilan ini) membacakan riwayat dari kitab tafsir Qurtubi tentang sebab turunnya surat Al Maarij.



Sudah menjadi kebiasaan kawan-kawan syiah, ketika dihadapkan dengan nukilan dari literatur induk syiah yang menerangkan hakekat mazhabnya, maka mereka segera menasehati lawan dialognya agar tidak membaca nukilan sepotong-sepotong, hendaknya membaca kitab seluruhnya supaya faham maksud perkataan itu dengan jelas, serta jangan percaya pada antek musuh Islam yang menebar fitnah untuk memecah belah ummat,  mari kita lupakan perbedaan sepele yang ada antara sunni dan syiah untuk menghadapi musuh utama kita, yaitu kaum yahudi. Padahal nukilan tadi jelas jelas dari kitab induk yang menjadi pedoman syiah. Akhirnya sunni yang kebetulan polos percaya saja dengan jawaban kawan syiah tadi. Padahal belum tentu kawan syiah tadi sudah pernah melihat langsung nukilan itu di kitab mereka. Karena kitab-kitab literatur induk syiah yang memuat salah satu "pusaka"  yang harus diikuti oleh ummat Islam, yaitu ajaran ahlulbait, seperti kitab al kafi, biharul anwar, al istibshar dan tahzibul ahkam tidak bisa ditemukan dengan mudah, tidak seperti kitab-kitab hadits ahlussunah yang mudah didapat.  Jika memang kita harus mengikuti ahlulbait, mengapa kitab-kitab yang memuat riwayat-riwayat ahlubait tidak diterjemahkan supaya diketahui kaum muslimin secara luas?



Kang Jalal menukil dari tafsir Qurtubi yang merupakan salah satu literatur induk tafsir ahlussunnah wal jamaah, bukannya dari kitab syiah. Pemirsa pasti akan menganggap bahwa nukilan itu adalah pendapat ahlussunah, karena berasal dari salah satu kitab literatur tafsir ahlussunnah.



Menurut riwayat yang dibaca oleh kang Jalal , bahwa sebab turunnya surat Al Maarij yang ayat pertamanya berbunyi : saala saailun bi azaabin waaqi, artinya seorang telah meminta azab yang pasti akan menimpanya, orang itu adalah Numan bin Harits Al Fihri, ketika mendengar bahwa Nabi bersabda pada Ali bahwa " barang siapa aku(Nabi) menjadi walinya, maka Ali harus menjadi walinya" langsung mengndarai ontanya. Ketika sampai di Abtah (sebuah tempat di kota mekah), dia turun dan menambatkan ontanya, lalu menghadap Nabi dan berkata : wahai Muhammad, kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk bersaksi tiada tuhan selain Allah dan kamu adalah Rasulullah maka kami terima perintah itu, dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah sholat lima waktu dan ini juga telah kami terima. Dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berzakat dan kami pun tidak menolaknya, juga dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berpuasa pada bulan ramadhan setiap tahun, kami terima itu. Dan kamu memerintahkan kami untuk melaksanakan perintah Allah untuk berhaji dan kami terima, tapi kamu masih kurang dengan semua ini lalu kamu lebihkan anak pamanmu di atas kami? Apakah hal ini dari Allah atau dari dirimu sendiri? Lalu Nabi menjawab : demi Allah yang tiada tuhan selain dia, perintah ini tidak datang kecuali dari Allah. Lalu Harits berpaling sambil mengucapkan doa: "ya Allah jika memang ucapan Muhammad adalah benar, turunkanlah hujan batu dari langit, atau datangkanlah siksa yang pedih kepadaku". Demi Allah, dia tidak sampe ke ontanya sampai dia dilempar oleh Allah dengan batu mengenai kepala dan menembus duburnya dan dia pun mati. Lalu turunlah ayat pertama surat Al Maarij.



Dalam riwayat ini terdapat beberapa point penting yang akan ditangkap oleh permirsa yang menyaksikan siaran dialog:

•Yang dimaksud dengan orang kafir yang meminta azab adalah mereka yang kafir dengan pengangkatan Ali.

•Seolah pengangkatan Ali adalah resmi dari Allah, yang mana menolak pengangkatan Ali sebagai khalifah dihukumi kafir. Karena dengan riwayat ini, orang kafir yang dimaksud adalah mereka yang menolak pengangkatan Ali.

•Percaya pada pengangkatan Ali adalah termasuk pembeda antara mukmin dan kafir, berarti termasuk pokok agama yang penting.

•Apakah ahlussunnah yang menolak pengangkatan Ali adalah kafir? Jika  kita kembali pada riwayat di atas maka jawabnya "ya".

•Menurut riwayat ini surat Al Maarij adalah madaniyah, yaitu turun setelah hijrah, karena sabda Nabi pada Ali tersebut diucapkan setelah haji wada.

•Riwayat ini adalah dari sumber ahlussunnah, jadi dianggap pendapat ahlussunnah. Seolah Qurtubi dan Ahlussunnah berpendapat seperti itu.

•Pendapat ahlussunnah yang tidak sesuai dengan syiah dalam masalah pengangkatan Ali sebagai khalifah seolah menyelisihi ajaran ahlussunnah sendiri.



Setelah dilihat kembali dalam tafsir Qurtubi, ternyata kang Jalal sengaja membaca kutipan yang memperkuat pendapatnya dan tidak membaca keterangan dari tafsir Qurtubi  sebelum dan sesudah riwayat yang dibaca itu,  alias dia tidak menerapkan nasehat yang biasanya diucapkan oleh seorang syiah pada setiap sunni yang ingin menghujat syiah dengan nukilan dari literatur syiah sendiri. Yaitu memotong nukilan yang sesuai dengan tujuan dan kepentingannya dan menyembunyikan nukilan yang tidak sesuai dengan kepentingan.



Pada setiap awal tafsir surat, biasanya Qurtubi menjelaskan status surat, apakah surat itu makiyah atau madaniyah. Di awal tafsir surat maarij, imam Qurtubi menerangkan  bahwa surat Al Maarij adalah makkiyyah, dan tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Suurotul maaarij, makkiyyatun bittifaq. Saya kira kang jalal yang bisa membaca riwayat di tafsir Qurtubi dengan baik dan menterjemahkan dengan bahasa yang "menggerakkan"  pasti memahami arti perkataan Qurtubi mengenai waktu turunnya surat ini. Arti kalimat bittifaq adalah dengan kesepakatan seluruh mufassirin. Memang benar, seluruh mufassirin ahlussunnah sepakat bahwa surat Al Maarij turun di Makkah, sebelum Nabi hijrah ke Madinah. Atau jika ada yang tidak setuju dengan statement bahwa seluruh mufassirin ahlussunnah berpendapat demikian, paling tidak Qurtubi sendiri berpendapat demikian. Tapi merupakan metode Qurtubi dalam penulisan tafsir, beliau menyebutkan perbedaan pendapat dalam waktu turun sebuah surat jika ada perbedaan dalam hal itu. Bisa dilihat dalam tafsir surat Shaff di mana ada perbedaan mengenai waktu turunnya. Madaniyyatun fi qaulil jami, fii maa dzakarohul maawardi. Wa qiila innaha makkiyyatun, dzakarohu Annahhas an ibni Abbas.  Sementara dalam surat Taghabun Qurtubi membeberkan perbedaan pendapat yang ada mengenai masa turunnya surat ini. Madaniyyatun fi qaulil aktsarin. Wa qala adhahhaku makkiyyatun wa qala alkalbiyyu hiya makkiyyatu wa madaniyyatun.. wa an ibni Abbas anna surata taghabun nazalat bimakkah, illa ayaatun min akhiriha nazalat bil madinah. Ini jika memang ada perbedaan pendapat mengenai masa turunnya sebuah surat.



Jika memang kesepakatan ulama adalah surat Al Maarij turun di mekkah, lalu mengapa Qurtubi sendiri menukil riwayat yang dibacakan oleh kang Jalal? Qurtubi menukilkan riwayat itu untuk sekedar pengetahuan pembaca bahwa ada riwayat yang mengatakan demikian, tapi riwayat ini tidak digubris oleh Qurtubi karena lemah sehingga tidak mempengaruhi kesepakatan ulama yang menerangkan bahwa surat Al Maarij turun di Makkah.



Dari awal tafsir surat ini amatlah jelas lemahnya pendapat kang Jalal, yang sengaja melewatkan kalimat ini karena jika dibaca akan mementahkan apa yang ingin disampaikan pada pemirsa..

Kita tidak mudah untuk menerima kenyataan bahwa pelaku hal ini adalah kang Jalal, salah satu "cendikiawan" muslim indonesia yang susah dicari tandingannya karena memiliki skill mengungkapkan pikiran dengan bahasa yang enak, menggerakkan dan ditambah dengan reasoning yang kuat. Akhirnya orang pun "tergerakkan" ketika membaca tulisannya dan mendengar ceramahnya.



Lalu siapa yang dimaksud dalam surat ini? Siapa yang menantang Allah untuk mendatangkan siksanya? Qurtubi telah menjelaskannya tapi sengaja tidak dibaca oleh kang Jalal. orang itu adalah Nadhr bin Harits, yang mengatakan : Ya Allah jika memang hal ini(ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad)adalah benar maka turunkanlah hujan batu dari langit atau siksalah kami dengan siksa yang pedih". Perkataan ini dikisahkan Allah pada kita di surat Al Anfal ayat 32. Nadhr bin Harits mati dibunuh setelah perang badar. Imam Bukhari  menerangkan bahwa yang mengatakan adalah Abu Jahal. Dalam sohih Muslim juga dicantumkan riwayat demikian.  Ini semakin memperkuat pendapat Qurtubi, bahwa surat Al Maarij turun di mekkah sebelum hijrah.  Sementara sabda Nabi yang difahami syiah sebagai pelantikan Ali sebagai khalifah terucap setelah haji wada, di ghadir khum, dalam perjalanan pulang ke Medinah.



Di sisi lain ada kejanggalan fatal dalam riwayat ini. Riwayat peristiwa ghadir khum tercantum dalam kitab-kitab hadits ahlussunnah, di antaranya adalah shahih muslim, Turmuzi, Nasai, Ahmad dan Thabrani. Seluruh riwayat itu mengatakan bahwa Nabi mensabdakan sabdanya di atas saat rombongan haji Rasulullah singgah di Ghadir Khum  sepulang dari haji wada. Tapi riwayat yang dibaca oleh kang Jalal di tafsir Qurtubi menerangkan bahwa Nabi ditanya oleh Harits bin Numan Al Fihri di Mekah, yaitu di Abtah . Sementara itu kita ketahui bersama bahwa setelah haji wada, Nabi tidak pernah pergi lagi ke Mekah hingga beliau wafat sekitar tiga bulan setelah haji wada.  Jadi peristiwa dalam riwayat yang dibaca oleh kang Jalal adalah fiktif.



Kang Jalal memang aktif menulis buku, salah satu buku terakhir kang Jalal berjudul Belajar Cerdas, membahas mengenai otak manusia. Pada pengantar buku kang Jalal menuliskan sebuah "promosi" bagi SMU Plus Muthahhari Bandung. Perlu anda tahu bahwa kang Jalal adalah kepala SMU Plus Muthahhari. Kang Jalal sering merasa terharu ketika mendengar seorang murid SMU Plus Muthahhari mengucapkan doa dan diikuti oleh murid-murid lainnya :



Ya Allah

Sehatkan tubuhku

Cerdaskan otakku

Bersihkan hatiku

Indahkan akhlaqku



Saya yakin pembaca sepakat dengan saya bahwa perbuatan yang dilakukan kang Jalal saat dialog bukanlah akhlaq  terpuji. Ironis memang.

 

 

Untuk melihat bukti lengkap silahkan download artikel Akhlak Jalaludin Rahmat di menu download situs ini.

(read more ...)




SEMARANG (Arrahmah.com) - Ustad Abu Bakar Baasyir menyebut Ketua Umum Gerakan Umat Islam Indonesia (GUII), Abdurrahman Assegaf, sebagai preman terkait pernyataannya bahwa pelaku pemboman di Jakarta adalah alumnus Pondok Pesantren Ngruki, Sukoharjo, Jateng.


"Abdurrahman Assegaf itu bukan habib, dia itu preman. Semua habib sudah bilang kepada saya kalau dia bukan seorang habib," kata Baasyir usai mengisi pengajian di Masjid Al Ikhlas di Semarang, Sabtu (25/7) malam.



Selain menyebut Abdurrahman Assegaf sebagai preman, Baasyir juga mengatkan bahwa yang bersangkutan diduga seorang informan yang diperalat oleh polisi.





Abdulrahman Segaf



"Berdasarkan informasi yang saya terima, dia itu (Abdurrahman Assegaf, red) juga diduga sebagai informan yang diperalat oleh polisi," kata dia.



Mengenai hasil test doxyribonucleic acid (DNA) keluarga Nur Sahid dan Ibrahim yang tidak cocok dengan dua mayat di lokasi pengeboman, Baasyir mengatakan hal itu wajar.



"Yang namanya orang keliru itu wajar, asal yang penting dia itu jujur. Keliru tidak bisa kita salahkan," katanya.



Ketika ditanya mengenai peledakan bom di Hotel JW Marriot dan Hotel Ritz Carlton di Kawasan Mega kuningan Jakarta beberapa yang lalu, Baasyir mengatakan aksi itu jihad atau teroris tergantung tujuannya.



"Kalau memang yang melakukan peledakan bom itu bertujuan untuk membela Islam dan kaum muslimin, itu jelas jihad. Hanya mungkin caranya saja yang perlu dipersoalkan dan keliru," ujarnya.



Dia menambahkan, di kalangan pemuda Islam tidak ada yang namanya teroris. "Yang teroris itu adalah negara Amerika Serikat," katanya.



Dia juga mengaku sama sekali tidak mengenal Maruto (25), yang disebut-sebut sebagai orang yang pernah merawat buronan polisi, Noordin M Top, selama dalam pelarian. (antara/arrahmah.com)


(read more ...)



 

Menguatkan Sistem Kekebalan Tubuh



Jintan hitam (Habbatussauda’) dapat meningkatkan jumlah sel-sel T yang baik untuk meningkatkan sel-sel pembunuh alami. Efektivitasnya hingga 72% jika dibandingkan dengan plasebo hanya 7%. Dengan demikian, mengkonsumsi habbatussauda’ dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Pada tahun 1993, DR. Basil Ali dengan koleganya dari College of Medicine, di Universitas King Faisal mempublikasikannya dalam jurnal Pharmasetik Saud. Kemampuan ekstrak Habbatussauda’ diakui Prof . G Reitmuller, Direktur Institut Immonologi dari Universitas Munich, dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan dapat digunakan bioregulator. Dengan demikian, Habbatussauda’ dapat dijadikan obat untuk penyakit yang menyerang kekebalan tubuh, seperti kanker dan AIDS.



Meningkatkan daya ingat, konsentrasi, dan kewaspadaan




Dengan kandungan asam linoleat (omega 6) dan asam linoleat (omega 3), Habbatussauda merupakan nutrisi bagi sel otak untuk meningkatkan daya ingat dan kecerdasan. Habbatussauda’ juga memperbaiki mikro (peredaran darah) ke otak dan sangat cocok diberikan kepada anak usia pertumbuhan dan lansia.



Meningkatkan bioaktivitas hormon



Hormon adalah zat aktif yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin yang masuk dalam peredaran darah. Dalam tubuh manusia terdapat berbagai jenis hormon di ataranya hormon reproduksi yang berhubungan dengan gairah seksual. Salah satu kandungan Habbatussauda adalah setrol yang berfungsi sebagai sintesa dan bioaktivitas hormon.



Menetralkan racun dalam tubuh



Racun dapat menganggu metabolisme dan menurunkan fungsi organ penting seperti hati, paru-paru dan otak. Gejala ringan keracunan dapat berupa diare, muntah, pusing, gangguan pernapasan dan menurunkan daya konsentrasi. Habbatussauda’ mengandung saponin yang dapat menetralkan dan membersihkan racun dalam tubuh.



Mengatasi gangguan tidur dan stress



Sapion yang terdapat pada Habbatussauda’ mempunyai fungsi seperti kortikosteroid yang dapat mempengaruhi karbohidrat, protein dan lemak serta mempengaruhi fungsi jantung, ginjal, otot tubuh dan syaraf. Sapion berfungsi untuk mempertahankan diri dari perubahan lingkungan, gangguan tidur dan dapat menghilangkan stress.



Anti histamin. Histamin adalah sebuah zat yang dilepaskan oleh jaringan tubuh yang memberikan reaksi alergi seperti pada asthma bronkial. Minyak yang dibuat dari Habbatussauda’ dapat mengisolasi dithimoquinone. Minyak ini sering disebut nigellone yang berasal dari volatile nigella. Pemberian minyak ini berdampak positif terhadap penderta asthma bronkial.



Penelitian yang dilakukan oleh Nirmal Chakravaty MD pada tahun 1993 membuktikan kristal dari negelone memberi efek suppresive. Kristal-kristal ini dapat menghambat protemkinasi C, sebuah zat yang memicu pelepasan histamin.



Penelitian lain juga membuktikan hal serupa. Kali ini dilakukan oleh Dr. Med. Peter Schleincher, ahli immonologi dari Universitas Munich. Yang melakukan pengujian terhadap 600 orang yang menderita alergi. Hasilnya cukup meyakinkan, 70 % yang menderita alergi debu, serbuk, jerawat dan asthma sembuh setelah diberi minyak nigella (Habbatussauda’). Dalam prakteknya Dr. Schleincher memberi resep Habbatussauda’ ke pasiennya yang menderita influenza.



Memperbaiki saluran pencernaan dan anti bakteri



Habbatussauda’ mengandung minyak atsiri dari minyak volatif yang telah diketahui manfaatnya untuk memperbaiki pencernaan. Secara tradisional minyak atsiri digunakan untuk obat diare. Pada tahun 1992, Jurnal Farmasi Pakistan membuat hasil penelitian yang membuktikan minyak volatile lebih ampuh membunuh strain bakteri V Cholera dan E Coli dibandingkan dengan antibiotik seperti ampicilin dan tetrasiklin.



Melancarkan air susu ibu



Kombinasi bagian lemak tidak jenuh dan struktur hormonoal yang terdapat dalam minyak Habbatussauda’ dapat melancarkan air susu ibu. Penelitian ini kemudian dimuat dalam literatur penelitian Universitas Potchetstroom tahun 1989.



Tambahan nutrisi pada ibu hamil dan balita



Pada masa pertumbuhan, anak membutuhkan nutrusi untuk meningkatkan isstem kekebalan tubuh secara alami, terutama pada musim hujan anak sangat mudah terkena flu dan pilek. Kandungan Omega 3, Omega 6 dan Omega 9 yang terdapat pada Habbatussauda’merupakan nutrisi yang membantu perkembangan jaringan otak.



Meremajakan sel-sel kulit dan menunda proses penuaan



Kulit merupakan salah satu organ tubuh terluar yang penting. Fungsinya melindungi tubuh dari benturan fisik, kuman dan jamur. Habbatussauda’ sangat baik untuk menjaga kelembaban, kehalusan dan keremajaan kulit.



Nutrisi bagi lansia dan food suplement



Kaya akan kandungan nutrisi sebagai tambahan energi sangat ideal untuk orang yang berusia lanjut, terutama untuk menjaga daya tahan tubuh dan revitalitas sel otak agar tidak cepat pikun. Habbatussauda’ mengandung 15 macam asam animo penyusun isi protein termasuk di dalamnya 9 asam amino esensial. Asam amino tidak dapat diproduksi oleh tubuh dalam jumlah yang cukup, oleh karena itu harus diperoleh dari makanan.



Prinsip-prinsip anti tumor pada Kongres Kanker Internasional di New Delhi pada musim gugur yang lalu, minyak Habbatussauda’ diperkenalkan ilmuan kanker Immonobiologi Laboratory dari Carolina Selatan. Habbatussauda’ dapat merangsang sumsum tulang dan sel-sel kekebalan. Interferonnya menghasilkan sel-sel normal terhadap virus yang merusak sekaligus menghancurkan sel-sel tumor dan meningkatkan antibodi.



[muslimdaily.net/cintaherbal]

(read more ...)



Dua anak laki-laki dan perempuan dikubur setengah badannya hingga ke leher ditepi sungai Indus, selatan kota Hyderabad. Orang tua anak-anak tersebut berharap gerhana matahari dapat menyembuhkan kaki anak-anak tersebut yang lumpuh.

Mereka didiamkan disana selama 90 menit, sementara seorang pemimpin "spiritual" mengutip isi-isi Quran.


Tanggal 22 Juli 2009, terjadi gerhana matahari terlama pada abad ke 21 ini. Gerhana yang jatuh pada hari Rabu tersebut menjadikan sebagian besar wilayah Asia gelap gulita selama beberapa saat.


Fenomena kebesaran Allah ini memicu berbagai ketakutan, penasaran bahkan takhayul dan syrik di kalangan warga China dan India.


"Dimana terjadi gerhana matahari maka aku akan pergi ke Hyderabad untuk membantu menyembuhkan penderitaan manusia", kata Arif Shah, seorang dukun yang mengutip isi-isi Quran.


"Allah memberikan kekuatan pada saat gerhana matahari kepada orang-orang yang lumpuh dan akan menyembuhkan mereka", kata Arif.


Nadeem, ayah dari seorang bocah perempuan berusia empat tahun bernama Palwasha yang kaki kirinya lumpuh mengatakan, ia mempunyai harapan besar jika putrinya bisa sehat melalui cara ini.


"Saya tidak keberatan jika putriku tidak sembuh total, namun jika ia mempunyai kemajuan dari keadaannya saat ini, itu sudah membuat kami bahagia", kata Nadeem.


Orang-orang di selatan propinsi Sindh percaya jika gerhana matahari memberikan perawatan spesial terhadap orang-orang yang sedang menderita berbagai penyakit.


"Masyarakat kami percaya mitos ini, semua ini hanya mitos belaka dan tidak ada kaitannya dengan ilmu kesehatan", kata seorang psikiater Syed Ali Wasif.


Mitos, takhayul, syirik dan khurafat seperti ini juga terjadi di Indonesia. Mirip-mirip dengan yang ada di India, seperti : pada saat gerhana matahari para wanita hamil dihimbau untuk tetap berada didalam rumah, dengan tujuan mencegah janin mereka mengalami kelainan. Ada juga himbuan yang berasal dari takhayul turun temurun, pada saat gerhana matahari untuk dilakukan acara-acara seperti doa, puasa, ritual-ritual yang dianggap suci. Sayangnya ritual seperti itu dianggap bagian dari Islam.


Dalam Islam, menurut Hadist Shahih hal-hal yang dilakukan pada saat terjadi gerhana adalah :

1.Bertakbir.

2.Membebaskan budak.

3.Berdzikir.

4.Sholat gerhana.

5.Shadaqah, dll


Hal-hal tersebut merupakan sunnah-sunnah yang tuntunannya terdapat dalam hadist. Namun untuk sholat gerhana, pendapat yang paling kuat hukumnya adalah fardhu kifayah.


Wallahualam.


[muslimdaily.net/sky/bbs]

(read more ...)



akarta - Mantan Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Badan Intelejen Strategis (BAIS) Mayjen (purn) Abdul Salam mengaku siap menjadi relawan bagi aparat untuk mengungkap kasus pemboman JW Marriot dan Ritz Charlton yang terjadi pada Jumat pekan lalu.



"Saya jadi relawan membantu aparat," ujar Abdul Salam di Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (23/7/2009).



Salam memperkirakan, pada bulan Juli, Agustus dan September tidak akan terjadi kegiatan aksi terorisme seperti yang terjadi pada kedua hotel kelas atas itu.



"Aparatnya sudah siaga. Jadi kalau lengah pasti mereka bermain. Sekarang kita cari motivasinya apa?" kata dia.



Salam belum bisa memastikan terjadinya kecolongan informasi pada intelijen sehingga menyebabkan terjadinya pengeboman yang menyebabkan tewasnya 9 orang itu.



"Tergantung evaluasi. Kalau ada bom itu berarti belum maksimal," tegasnya.



Lebih lanjut, Salam menjelaskan bahwa tidak mungkin Noordin M Top bertindak atas kemauan sendiri untuk melakukan aksinya.



"Mungkin itu sebagai pelaku, tapi di atasnya siapa? Masa dilakukan tanpa kepentingan? Tujuannya apa? Masa mau mengorbankan dirinya?" tanya dia.



Salam menegaskan kembali adanya keterlibatan asing dalam berbagai ancaman yang terjadi di Indonesia.



"Saya katakan 75 persen ada benarnya, dan intelijen asing sudah bergentayangan di Indonesia, tapi kita belum bisa buktikan secara riil, makanya saya menawarkan diri jadi relawan," pungkasnya.[muslimdaily.net/rofx/detik]

(read more ...)




Lagi, seorang muslim yang sudah kehilangan identitasnya mulai berulah. Mohammed Sefawi berencana menerbitkan buku komik berjudul Menelanjangi Osama bin Laden. Dalam komiknya, ia menggambarkan keburukan-keburukan di kalangan aktivis gerakan Islam khususnya para mujahidin.


Berbagai lukisan dalam komik ini menyajikan gambaran keburukan yang tidak proporsional, yang tersebar di banyak negara Islam, khususnya setelah munculnya Al Qaeda dan Osama bin Laden.


Penulis komik adalah Mohammed Sefawi, seorang tokoh liberal, kelahiran Aljazair. Sedianya, komik ini akan diterbitkan oleh suatu penerbit di Paris, pada tanggal 11 September.


Terinspirasi Komik Nabi Muhammad


Gagasan awal komikus "gendheng" ini menulis tentang Al Qaeda dan Osama bin Laden dengan menggunakan medium kartun muncul di benak Mohammed Sefawi pada 2003. "Gagasan muncul ketika saya sedang melakukan riset di Pakistan dan Afghanistan, dalam rangka pembuatan film dokumenter dan buku berjudul The Search for Bin Laden."


Mohammed Sefawi, yang dikenal sebagai musuh Islam, menambahkan, "Orang-orang yang punya pikiran gelap itu, dalam setiap kata dan perbuatan mereka, menunjukkan mereka sebenarnya komik dan sumber lelucon. Aspek penting inilah, yang memudahkan saya menyajikan kisah kelompok ekstrem Islam dan Al Qaeda, dalam bentuk gambar kartun."


Mohammed Sefawi mulai menulis setelah perang saudara di Aljazair pada tahun 1990-an. Setelah ia melarikan diri ke Paris, dan selama lima tahun terpaksa hidup di bawah perlindungan polisi Prancis, karena menghadapi ancaman pembunuhan.



Selanjutnya Mohammed Sefawi menyatakan, ribut-ribut di berbagai kalangan Islam penerbitan kartun Nabi Muhammad di Denmark, juga mendorong lahirnya gagasan membuat kisah mengenai Al Qaeda dan Osama bin Laden dalam bentuk komik. Ia tidak menentang komik Nabi SAW.


Ia pun menghina soal jilbab, atau hijab. Ia menyatakan, "Sikap kalangan ekstremis pada kaum wanita, secara psikologis cacat. Karena, di satu sisi orang-orang seperti itu mengingkari eksistensi kaum wanita, menyembunyikan mereka di balik burka atau pakaian lainnya, membelenggu kebebasan mereka, dan memperlakukan mereka semata-mata sebagai obyek."


"Di sisi lain, mereka menikahi empat wanita sekaligus. Osama bin Laden sendiri, punya empat istri." Sang penulis selanjutnya menambahkan, hal yang paling ironis adalah, para pemimpin kelompok ekstremis tidak pernah mempertaruhkan nyawa mereka sendiri."


Melalui buku ini, penulis "murtad" ini ingin berpropaganda pada remaja Muslim, khususnya mereka yang tinggal di Eropa, agar hidup secara sekuler.


Ia meyebut gerakan-gerakan Islam sebagai gerakan syetan. "Ini menyangkut kelompok setan, yang kadang menamakan diri sebagai kelompok Wahabi, kadang Muslim Brothers (Ikhwanul Muslimin-red), dan mereka percaya Tuhan menyuruh mereka untuk melakukan pembunuhan." demikian ungkap komikus murtad ini.


Dalam bukunya, si "bodoh" ini juga menyatakan: "Berbagai kelompok Islam radikal tersebut mengesankan pada kita, dalam penghayatan kehidupan kita sehari-hari, mereka datang dari dunia lain, dari abad lain. Bahkan dalam cara berpakaian, mereka sangat berbeda dengan kebanyakan busana biasa. Mereka memang tidak mengenakan dasi, tapi menggunakan mobil telepon, internet, dan mobil mewah. Itu menunjukkan adanya schizofrenia pada dunia modern."


Beginilah Islam saat ini. Diserang dari luar oleh kafir. Namun tak luput juga digerogoti oleh kaum munafik yang lahir dengan nama muslim yang hakikatnya kafir. Waspadalah! Waspadalah!


(muslimdaily)


(read more ...)



Hidayatullah.com--Ana McKenzie mempunyai seorang teman yang mencoba untuk meniru gaya hidup wanita Muslim di Amerika. Namanya Spencer Wall, seorang gadis muda dari Texas Barat, siswa tahun keempat jurusan bahasa Inggris dan sosiologi. Ia berbagi cerita mengenai pengalaman gadis itu.



Saya pertama kali memperhatikan Spencer Wall di kelas agama dan masyarakat pada akhir semester lalu. Ia bukanlah tipe yang banyak bicara, tapi kain yang menutupi rambut, leher, dan pundaknya, membuat dirinya kelihatan menonjol di dalam kelas yang besar.



Biasanya saya hanya melihat dia sekilas saja, tanpa perhatian sama sekali. Tapi, ketika ia menceritakan kepada teman-teman di kelas mengenai keputusan yang ia buat pada 27 April, saya mulai memperhatikannya dengan seksama.



Wall seorang gadis usia 20-an tahun. Ia memutuskan untuk mengikuti ciri khas dan cara berpakaian wanita Muslim selama 1 tahun yang dimulai pada akhir April kemarin.



Ia menggunakan kerudung dan busana dengan potongan longgar ke mana pun ia pergi dan tidak mengkonsumsi babi atau alkohol di tempat umum. Ia menghindari kontak mata dan fisik dengan laki-laki dan meniru kebiasaan anggun, seperti berjalan dengan lengan yang merapat di sisi tubuh atau menyilangkannya di depan untuk menutupi dadanya.



Saya melihat Wall melakukan aktivitasnya sehari-hari ketika kami bertemu di Kerbey Lane baru-baru ini.



Ia mengenakan kerudung dengan corak warna hijau dan biru, baju hitam berlengan panjang dan rok panjang berwarna aqua. Hanya memperlihatkan kulitnya beberapa inci saja.



“Beberapa orang yang melewati kami berusaha tidak menampakkan rasa ingin tahu mereka. Hanya berusaha melihat sekilas-sekilas. Tapi kebanyakan orang, bahkan tidak menyembunyikan pandangan yang berlebihan atau menyolok.”



Wall dilewati oleh sekelompok orang yang antri mencari tempat duduk, dan mereka semuanya memandangi belakang kepalanya ketika ia berlalu. Seorang pria bahkan memutar-mutar matanya.



“Hal itu tidak mengejutkan saya,” kata Wall ketika saya bercerita tentang kelompok itu. “Tapi, coba lihat ke sekeliling. Mereka bukan satu-satunya yang begitu,” ujarnya.



Ia menegaskan bahwa apa yang dilakukannya itu bukanlah sebuah eksperimen sosial, tapi lebih pada pengalaman belajar pribadinya. Sebagai seorang wanita kulit putih yang berasal dari sebuah kota kecil di Texas Barat, Wall mengatakan, ia ingin tahu seperti apa rasanya menjadi bagian dari komunitas “minoritas yang diamati.”



“Saya tidak mewakili wanita Muslim atau komunitas Muslim,” katanya. “Saya hanya ingin tahu seperti apa rasanya berjalan dengan memakai sepatu mereka selama beberapa waktu.”



Sebelumnya, Wall sudah mempersiapkan diri untuk “pengalaman belajar”-nya, kalau-kalau orang bertanya kepadanya. Pertanyaan yang biasa diajukan, “Kamu berasal dari mana?”



Ia menghindari hal-hal seperti itu, maka sekarang jika orang bertanya mengenai pakaiannya, langsung saja dijawabnya bahwa ia bukan Muslim. Tapi, mengenakan hijab karena ia memilih untuk melakukannya.



Penjelasan seperti itu tidak seluruhya keliru, sebab sebagaimana Wall bilang, ia tidak bisa keluar rumah tanpa mengenakannya.



“Beberapa waktu lalu saya pernah mencoba untuk tidak mengenakan kerudung selama 24 jam,” katanya. “Saya malah tidak sanggup melakukannya, meskipun selama kurang dari setengah hari.”



Aneka reaksi



Wall mengatakan, ia mendapatkan reaksi yang berbeda-beda ketika mengenakan hijab. Suatu waktu pernah seorang pria menabrak displai barang di Wal-Mart karena pria itu memandanginya. Lain hari sekelompok laki-laki langganan restoran tempatnya bekerja menolak dilayani olehnya. Kelompok itu juga memanggilnya dengan sebutan yang menghina. Tapi, seringkali ia dihindari dengan cara yang terhormat.



“Saya tidak bilang tidak ada pria yang mendekati saya. Mereka mendekati saya, tapi dengan cara yang berbeda sekarang.” katanya. “Lebih sopan, tidak terlalu terang-terangan.”



Pengalaman telah mengajarkan Wall untuk memperhatikan hal-hal kecil yang membuat gaya hidup Muslim tradisional sulit diikuti di Amerika Serikat.



Suatu hari di toko pakaian, Wall harus meminta selembar penutup untuk menutupi lubang antara lantai dan pintu kamar pas, agar ia bisa menutupi kakinya ketika berganti pakaian. Pekerjaannya sebagai pelayan juga harus menghadapi situasi yang canggung karena sifat pekerjaannya yang harus melakukan kontak fisik dengan orang asing, yang mana hal itu terlarang untuk wanita Muslim.



Wall akhirnya bisa memahami privasi semacam itu dan menghormatinya. Mungkin hasil yang tidak terduga dari pengalamannya adalah keyakinannya yang bertambah terhadap agama Kristen yang ia anut.



Agama Islam memerintahkan pengikutnya untuk shalat lima kali sehari, ibadah pertama dimulai pukul 5 pagi. Meskipun Wall belum meniru kebiasaan itu, ia mengatakan mungkin di waktu depan ia akan melakukannya dan lebih sering.



“Kamu kan tahu, kita hidup dalam masyarakat yang tidak acuh terhadap aktivitas keagamaan harian,” katanya. “Dari pengalaman ini, saya semakin peduli dengan Tuhan.”



Dari semua apa yang kami bicarakan, saya ingin mendiskusikan sesuatu yang penting dengannya, tapi saya masih terus menimbang-nimbang. Apakah ia merasa sesak atau bahkan tertekan dengan kebiasaan-kebiasaan yang ia coba tiru itu?



Keterusterangan Wall untuk mendiskusikan masalah-masalah seperti itu membuat saya terkesan padanya. Berkali-kali ia meyakinkan saya agar bertanya, bahkan tentang pertanyaan yang sifatnya menyelidik dan menimbulkan perdebatan. Hal itu menggambarkan kedewasaan dan kecerdasannya yang tidak umum dimiliki gadis usia 20-an.



“Pengalaman ini mengajarkan saya untuk menghormati keputusan seorang wanita, apakah ia ingin tinggal di rumah bersama anak-anaknya, atau mengenakan hijab atau berkarier di luar rumah dan menjadi seorang CEO,” kata Wall.



Ia menghentikan bicaranya, saat seorang gadis memperhatikan belakang kepala Wall.



Mata gadis itu sejenak mengikuti garis-garis kerudung yang berwarna cerah, kemudian segera berlalu. Sepertinya gadis itu memandang bukan karena kasihan kepada Wall atau karena ia merasa dendam, marah atau takut, melainkan karena tertarik dengan kerudungnya.



Wall mengatakan, ia hanya akan memperlihatkan rambutnya di ruangan yang tertutup. Saya mengakui bahwa saya agak iri dengan seseorang yang bisa menghargai sesuatu, yang mana saya anggap hal itu biasa saja. [di/dtc/www.hidayatullah.com]

(read more ...)




Diantara sifat orang yang beriman adalah mampu mengendalikan dirinya disaat marah, sebagaimana firman Allah swt :


وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ


Artinya : “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al Imran : 134)


Seorang yang beriman tidak akan memperturutkan provokasi yang dilakukan setan didalam dirinya saat ia sedang marah yang dapat mengakibatkan dirinya hilang kendali bahkan tidak menyadari apa yang dilakukannya. Ia lebih memilih diam, melakukan introspeksi dan menenangkan seluruh anggota tubuhnya disaat marah, inilah kekuatan yang sesungguhnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori dari Abu Hurairoh dari Nabi saw bersabda,”Bukanlah kekuatan pada (kemampuan) bergulat akan tetapi pada yang mampu mengendalikan dirinya disaat marah.”


Tidak selamanya amarah itu dibenci akan tetapi terkadang justru hal itu dipuji oleh Allah swt, manakala amarahnya karena agama, Allah atau pelecehan terhadap aturan-aturan-Nya, sebagaimana disebutkan didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Aisyah bahwa Rasulullah saw tidak pernah ada amarah didalam dirinya sedikit pun kecuali jika kehormatan Allah dihinakan maka beliau saw akan marah karena Allah.”


Dengan demikian gejolak amarah ini bisa menimpa siapa saja bahkan terhadap seorang yang beriman atau seorang yang alim sekali pun ketika keimanannya menurun atau lalai dari dzikrullah. Pada saat seperti inilah setan yang memang mengalir didalam aliran darah manusia itu berhasil memanfaatkan situasi dan mengendalikan dirinya untuk terus membakar dirinya dan memprovokasi jiwanya sehingga amarahnya meledak menjadi ungkapan-ungkapan kotor, jelek, ejekan, hardikan, atau bahkan pemukulan.


Inilah awalnya dan ketika hal ini terjadi berulang-ulang tanpa pernah dirinya berusaha menyadari sebab-sebab kemunculan amarahnya itu atau memperbaikinya maka lama-kelamaan hal itu menjadi akhlak atau kebiasaannya yang secara otomatis keluar tanpa terfikir sebelumnya sehingga dirinya menjadi temperamental atau mudah terbakar amarahnya bahkan terkadang dikarenakan hal-hal sepele.


Dan bagi seorang istri yang mendapati suaminya memiliki akhlak seperti itu hendaknya senantiasa meminta pertolongan kepada Allah swt dengan doa-doa yang dipanjatkannya agar Allah swt memberikan bimbingan dan arahan-Nya kepada diri dan suaminya. Kemudian hendaknya dirinya bersabar terhadap sikap suaminya itu dan janganlah menandingi kemarahannya dengan amarah pula maka sesungguhnya ini tidak akan menyelesaikan permasalahan atau meredakan amarahnya karena yang terjadi justru permasalahan akan semakin runyam dan tensi akan semakin meninggi. Seharusnya amarahnya mereda hanya dalam waktu 5 menit namun ia bisa menjadi setengah jam lebih karena ditanggapi oleh istrinya dengan amarah pula.


Untuk memperbaiki prilaku suami yang temperamental ini maka yang pertama bahwa prinsip pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Untuk itu hendaklah si istri terlebih dahulu melakukan introspeksi terhadap dirinya (muhasabah) secara obyektif. Adakah prilakunya itu dikarenakan kekurangannya didalam melayaninya? Atau didalam mengurus anak-anaknya? Ataukah karena sikapnya yang menyinggung dirinya? Ataukah dikarenakan kegiatannya di luar rumah yang tidak disukainya? Ataukah…. Ataukah…. Dan jika memang dia mendapati bahwa dirinya juga menjadi penyebabnya maka hendaklah dia memperbaikinya. Dan tidak ada salahnya bagi si istri untuk lebih memberikan perhatian kepadanya baik ketika dia ada rumah maupun di luar rumah atau lebih menampakkan kecintaan dan kemesaraan kepadanya sehingga semakin mengikat hubungan hati diantara keduanya.


Adapun upaya-upaya yang bisa dilakukan setelah itu, diantaranya :


1. Langsung berdialog dengannya.


Cobalah disaat-saat anda berdua sedang bersantai, seperti ketika waktu makan, menjelang tidur, dan lainnya untuk mengkomunukasikan permasalahan diatas kepada dirinya, membicarakan tentang penyebab-penyebabnya dan mencari solusinya secara bersama. Dan pada saat ini pula cobalah anda sampaikan tentang sikap temperamennya yang tidak jarang membuat anda dan anak-anak takut, tegang, bingung dan sampaikan pula kepadanya pengaruh negatifnya terhadap anak-anak. Lalu mintalah darinya untuk mengurangi sikap temperamentalnya itu atau kalau mungkin menghentikannya sama sekali.


Dan hendaknya hal diatas dilakukan setelah anda terlebih dahulu memulainya dengan tawa, canda atau pujian-pujian terhadap dirinya maupun sifat-sifat yang ada pada dirinya.


2. Menulis surat atau sms kepadanya.


Apabila upaya pertama diatas tidak mendapatkan hasil maka anda bisa lakukan upaya yang lain yaitu dengan menuliskan surat, sms atau yang sejenisnya. Tuangkanlah didalam surat tersebut seluruh perasaan cinta dan sayang anda kepadanya, juga perasaan anak-anaknya kepada dirinya, pujilah dirinya, pujilah akhlaknya bahwa dirinya adalah kuat yang mampu menahan amarah. Lalu tuangkanlah isi hati anda, berupa kesedihan, ketakutan, kekhawatiran anda terhadap sikap temperamentalnya itu lalu tutuplah dengan harapan agar dirinya menghentikan sikapnya selama ini dan mintalah agar senantiasa mengingat Allah swt supaya hatinya menjadi tenang.


3. Dengan perantara orang lain


Upaya lainnya adalah anda bisa meminta bantuan dari orang yang terdekat dengannya, orang yang selama ini dihormati dan didengar ucapanya, seperti saudara perempuannya atau ibunya. Cobalah bicarakan permasalahan yang anda hadapi di keluarga kepada orang perantara itu dan mintalah bantuan darinya untuk membicarakannya kepada suami anda. Akan tetapi hal yang juga perlu anda ingatkan kepada perantara itu agar tidak mengatakan kepada suami anda bahwa dirinya mendapatkan aduan dari anda.


4. Anda juga bisa menggunakan sarana-sarana lainnya, seperti : mengajaknya mendengarkan caramah tentang menahan amarah, memberikan kepadanya artikel-artikel, buku-buku atau kaset-kaset tentang amarah dan bahayanya baik dilakukan dengan cara disengaja oleh anda seperti : dengan cara menyodorkannya kepada dirinya atau dengan cara tampak tidak disegaja, seperti : meletakkannya di tempat-tempat yang bisa terlihat olehnya di rumah. Seperti : di meja kerja, ruang perpustakaan keluarga, di tempat tidur dan lainnya.


Wallahu A’lam


(read more ...)



 



 


Pemerintah China sering merujuk kata separatisme sebagai sebab kekerasan, yang disulut oleh kelompok warga Uighur yang berada di pengasingan



Hidayatullah.com--Semula, ribuan warga Uighur berkumpul untuk mengajukan seruan pada pemerintah. Mereka menuntut penyidikan atas tewasnya dua warga Uigur, buruh pabrik di suatu kota kecil. Dua orang ini dibunuh oleh warga Cina, etnis Han. Dan warga Han, bertindak, karena ada desas desus, sekelompok warga Uigur memperkosa seorang gadis warga Han.



Ketika polisi mulai menangkap para pengunjuk rasa, aksi protes berubah menjadi amukan massa. Beberapa saksi mata melaporkan, di antara para pengunjuk rasa terdapat orang-orang yang bersenjatakan pentungan dan pisau.



Tapi pemerintah China sering merujuk kata separatisme sebagai sebab kekerasan, disulut oleh kelompok warga Uighur yang berada di pengasingan. Dan sebagaimana biasa, yang dituduh menjadi biang kerok adalah Rabiya Kadeer, seorang pengusaha wanita, yang usai menjalani hukuman penjara atas tuduhan separatisme, tinggal di Amerika Serikat.



"Pada tanggal 5 Juli Kadeer menelepon ke China, dan beberapa situs internet menghasut penduduk untuk membuat kerusuhan", kata Gubernur Xinjiang, Nur Bekri.



Warga Uighur ini, walaupun jabatannya Gubernur, bukan penguasa tertinggi di Xinjiang. Orang paling kuat adalah Wang Lequan, seorang warga Han, Ketua Sekretariat Partai di propinsi Xinjiang. Demikian cara China menjinakkan lebih dari 50 warga etnis yang ada.



Sistem seperti itu mengecewakan warga Uighur. Pada masa lalu, hamparan luas gurun dan stepa adalah kampung halaman kelompok etnis yang termasuk rumpun etnis Turki ini. Namun, akibat perpecahan interen, Republik Islam Turkistan tidak berumur panjang. Xinjiang, yang mencakup kelompok minoritas muslim keturunan China dan Rusia, sempat mencoba berdiri sendiri. Tapi, pada akhirnya jatuh ke pangkuan revolusi China, pimpinan Mao Zedong.



Setelah aneksasi tersebut, Pemerintah China mengirim warga Han sebagai pasukan tempur, untuk menaklukkan daerah liar itu. Dalam Bahasa China; bingtuan.



Pasukan militer yang dilatih untuk menjadi satuan produksi kini masih ada. Mereka mengelola kebun kapas, produksi buah-buahan, dan berbagai kekayaan barang tambang.



Dan arus kedatangan warga Han mengalir, bukan hanya anggota pasukan tempur tersebut. Setiap tahun, ribuan warga Han dari wilayah China Timur yang telah padat, pindah ke Xinjiang, mencari kehidupan dan pekerjaan.



Aksi Bunuh Biri



Dampaknya, dari 20 juta penduduk propinsi Xinjiang, 40 persen di antaranya adalah warga Han. Warga Uighur bukan hanya merasa jadi kelompok minoritas di kampung halaman sendiri, akibat diskriminasi, mereka juga tidak ikut menikmati hasil pertumbuhan ekonomi.



Kadang, suatu bom meledak di propinsi ini. Ledakan amatiran, sekadar botol berisi bensin. Atau bom aksi bunuh diri profesional buatan Gerakan Muslim Turki Timur’. Biasanya, jawaban Beijing, bertindak lebih keras lagi.



Kekangan terus menerus dan tindakan keras polisi, merupakan sumber banjir darah Ahad lalu, kata warga Uighur di pengasingan. Bukan separatisme, tapi rasa jengkel penduduk, akibat lindasan mesin modernisasi warga Han.



Pernyataan seperti di atas perlu dijawab dengan kebijakan untuk meredakan ketegangan antar etnis, bukannya penindasan. Tapi, Pemerintah China tidak pernah mempertimbangkan pelaksanaan kebijakan seperti itu.



Dalam bayangan para penguasa di Beijing, semua kelompok minoritas berbahagia, sementara berbagai kelompok separatis, dengan bantuan kekuatan kekuatan anti-China di luar negeri, mengganggu keharmonian di bawah lindungan Bendera Merah. [cha, rnwl/www.hidayatullah.com]

 




(read more ...)



Hidayatullah.com--Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang ini memiliki kekayaan alam luar biasa, mulai dari minyak, gas, dan batu bara. Pemerintah Komunis China menjadikan Xinjiang sebagai pusat strategi keamanan energi nasional.



Kabinet China menerbitkan dokumen berjudul Proposals of the State Council on Promoting Economic and Social Development in Xinjiang" yang secara jelas mengungkapkan bahwa pada 2020, Xinjiang akan menjadi basis pengolahan dan produksi migas terbesar di China.



Cadangan Minyak dan Gas



- Wilayah Xinjiang menguasai 20 persen cadangan potensial minyak China.



- Cadangan minyak mencapai antara 20-40 miliar ton minyak mentah



- Cadangan gas sedikitnya 12,4 triliun kaki kubik



* China National Petroleum Corp, perusahaan minyak milik negara terbesar, memiliki hak monopoli pengelolaan dan eksplorasi migas di Xinjiang.



- Penemuan minyak yang besar di cekungan Sungai Tarim dan gurun Taklamakan telah menarik perhatian global.



- China membangun pipa sepanjang 2.600 mil yang mengaliri migas ke sebagian besar kota besar seperti Shanghai hingga ke Beijing.



Strategi Energi China




- Mengurangi ketergantungan migas dari luar negeri



- Menjadikan Xinjiang sebagai pusat penyimpanan dan cadangan nasional



 - Selain Xinjiang, China memiliki basis produksi minyak besar di:



* Heilongjiang



* Shandong



* Liaoning



Penghasilan



* 75 persen pajak dari Xinjiang masuk ke pemerintah pusat, padahal wilayah itu merupakan daerah otonomi.



* Ekonomi China sangat tergantung migas, dan negeri Tirai Bambu itu menjadi salah satu pemain utama global dalam perang energi dengan AS, Rusia, dan Uni Eropa.



* China rata-rata menghabiskan 65 miliar dolar AS per tahun untuk impor energi, kebanyakan dari Arab Saudi dan Iran.



* Pada 2008, Xinjiang memproduksi 27,4 juta ton minyak mentah atau melebihi produksi ladang-ladang di Shandong.



* Pada 2009, Xinjiang diharapkan mampu memproduksi minyak hingga 28 juta ton.



* Pertumbuhan GDP Xinjiang mencapai 10 persen per tahun



* Tiap tahun, setidaknya 500 ribu turis asing datang



* Lebih dari 13 juta pelancong domestik juga datang



* Memperoleh pendapatan dari pariwisata rata-rata 1,5 miliar dolar AS per tahun



Kondisi Xinjiang



* Meski berada di daerah emas hitam dengan kekayaan melimpah, namun Xinjiang sangat berbeda dengan provinsi-provinsi China lainnya.



- Tak ada industrialisasi di sana



- Penduduk sebagian besar hidup dalam kemiskinan. [Xinhua/Center for Energy and Global Development/China Daily/Reuters/Republika]

(read more ...)



Penjajahan terus berlaku. Salah satu bangsa yang masih terjajah saat ini adalah bangsa Moro. Bukan kebetulan, bangsa Moro adalah Muslim. Mereka menghadapi opresi penguasa Filipina sepanjang waktu ke waktu.


Islam dan Moro sudah terjalin sejak ribuan tahun lamanya. Seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul Makhdum dan Raja Baguinda datang ke Filipina Selatan, tepatnya kepulauan Sulu dan Mindanao pada tahun 1380. Mereka berdua mengenalkan penduduk sekitar pada ajaran Islam.


Ajaran Islam yang simpatik menarik banyak kalangan. Salah satunya adalah Kabungsuwan Manguindanao, raja terkenal dari Manguindanao, yang akhirnya memeluk Islam. Dari sinilah awal peradaban Islam di wilayah ini dimulai. Pada masa itu, sudah dikenal sistem pemerintahan dan kodifikasi hukum yaitu Manguindanao Code of Law atau Luwaran yang didasarkan atas Minhaj dan Fathu-i-Qareeb, Taqreebu-i-Intifa dan Mir-atu-Thullab.


Manguindanao sendiri kemudian menjadi seorang Datu yang berkuasa atas propinsi Davao di bagian tenggara pulau Mindanao. Karena kekuasaan Datu, Islam menyebar ke berbagai daerah sekitarnya, terutama daerah kepulauan dan pantai. Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina semuanya berada dibawah kekuasaan pemimpin-pemimpin Islam yang bergelar Datu atau Raja bahkan setelah kedatangan orang-orang Spanyol. Konon menurut para ahli sejarah kata Manila (ibukota Filipina sekarang) berasal dari kata Amanullah (negeri Allah yang aman).


Penjajahan Spanyol





Pada tahun 1521, Spanyol dengan dipimpin Ferdinand de Magelllans datang ke Filipina dan langsung membuat onar. Ia menaklukkan seantero negeri namun hanya wilayah selatan yang tak bisa mereka kuasai. Berbeda dengan wilayah-wilayah lainnya, penduduk wilayah selatan yang mayoritas Muslim tidak sudi hidup dalam penjajahan. Spanyol menghabiskan 375 tahun untuk menaklukan kaum Muslimin.


Setelah Spanyol berkuasa, mereka lah yang menerapkan imej buruk terhadap kaum Muslim Filipina. Spanyol menyebut kaum Muslimin dengan sebutan “Moor.” Dalam bahasa Spanyol, Moor berarti buta huruf, jahat, tidak bertuhan dan huramentados (tukang bunuh). Disesuaikan dengan muatan local Filipina, Moor kemudian diganti menjadi Moro. Inilah cikal-bakal penyebutan Muslim Moro dan terus melekat sampai sekarang.


Spanyol tidak hanya menjajah, tapi juga membawa misi Kristen di bumi Islam tersebut. Pada 1578, negeri Matador ini mengadu domba rakyat Filipina untuk memereangi orang-orang Islam di selatan. Spanyol melabelinya dengan nama perang suci, hingga dari sinilah kemudian timbul kebencian dan rasa curiga orang-orang Kristen Filipina terhadap Bangsa Moro yang Islam hingga sekarang. Sejarah mencatat, orang Islam pertama yang masuk Kristen akibat politik yang dijalankan kolonial Spanyol ini adalah istri Raja Humabon dari pulau Cebu, kemudian Raja Humabon sendiri dan rakyatnya.


Penjajahan Amerika Serikat





Spanyol berakhir, datanglah AS. Spanyol, dengan tanpa rasa malu seolah-olah Mindanao dan Sulu kepunyaan mereka, menjual Filipina kepada AS. Harganya? Konon mencapai US$ 20 juta, harga yang sangat banyak pada tahun 1898. Penjualan ini diurus dalam Traktat Paris.


S sadar bahwa orang Islam Filipina telah terlanjur benci terhadap penjajah. Maka mereka pun bersiasat dengan berpura-pura mengambil hati orang-orang Islam agar tidak memberontak. periode 1903-1913 dihabiskan AS untuk memerangi berbagai kelompok perlawanan Bangsa Moro. Strategi AS tidak hanya berjalan secara fisik dalam peperangan. Mereka melancarkan yang lebih dahysat efeknya bagi Muslim Moro, yaitu dengan pendidikan dan ajakan.


Hasilnya, kesatuan politik dan perlawanan kaum Muslim tidak terkendali, dan yang paling ironis, budaya Islam yang sedikit demi sedikit semakin hilang dari masyarakat Muslim Moro.


Masa Peralihan





AS mengganti semua sistem yang dipakai bangsa Muslim Moro. Pada intinya ketentuan tentang hukum AS merupakan legalisasi penyitaan tanah-tanah kaum Muslimin (tanah adat dan ulayat) oleh pemerintah kolonial AS dan pemerintah Filipina di Utara yang menguntungkan para kapitalis.


Manuel L. Quezon, seorang senator, (1936-1944) berusaha memperbanyak jumlah bangsa Filipina non-Muslim. Konsep penjajahan AS melalui koloni diteruskan oleh pemerintah Filipina begitu AS hengkang dari negeri tersebut. Sehingga perlahan tapi pasti orang-orang Moro menjadi minoritas di tanah kelahiran mereka sendiri.


Masa Pasca Kemerdekaan hingga sekarang


Filipina merdeka tahun 1946. Tapi nasib bangsa Moro tidak pernah berubah sampai sekarang. Filipina menjelma menjadi penjajah yang lainnya, bahkan sama kejamnya. Dalam masa kemerdekaan Filipina, Muslim Moro sadar bahwa perjuangannya harus bersatu, tidak boleh bercerai-berai. Kemudian dibentuklah MIM, Anshar-el-Islam, MNLF, MILF, MNLF-Reformis, BMIF.


Namun kekurangannya, pada saat yang sama juga hal itu memecah kekuatan Bangsa Moro menjadi faksi-faksi yang melemahkan perjuangan mereka sendiri secara keseluruhan. Dibandingkan dengan masa pemerintahan semua presiden Filipina dari Jose Rizal sampai Fidel Ramos maka masa pemerintahan Ferdinand Marcos merupakan masa pemerintahan paling represif bagi Bangsa Moro. Pembentukan Muslim Independent Movement (MIM) pada 1968 dan Moro Liberation Front (MLF) pada 1971 tak bisa dilepaskan dari sikap politik Marcos.


Perkembangan berikutnya kita semua tahu. MLF sebagai induk perjuangan Bangsa Moro akhirnya terpecah. Pertama, Moro National Liberation Front (MNLF) pimpinan Nurulhaj Misuari yang berideologikan nasionalis-sekuler. Kedua, Moro Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hashim, seorang ulama pejuang, yang murni berideologikan Islam dan bercita-cita mendirikan negara Islam di Filipina Selatan.


Namun dalam perjalanannya, ternyata MNLF pimpinan Nur Misuari mengalami perpecahan kembali menjadi kelompok MNLF-Reformis pimpinan Dimas Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf pimpinan Abdurrazak Janjalani (1993). Tentu saja perpecahan ini lagi-lagi memperlemah perjuangan Bangsa Moro secara keseluruhan dan memperkuat posisi pemerintah Filipina dalam menghadapi Bangsa Moro.


Setiap waktu, Muslim Moro menghadapi terror yang terus memakan korban jiwa. Bagi mereka maut senantiasa mengintai. Akankah penderitaan Muslim Moro berakhir? (sa/berbagaisumber)


*www.eramuslim.com

(read more ...)



Pemuda keturunan Arab itu kemudian melilitkan bom di dadanya, ia lantas menggunakan kostum bell-boy berwarna merah sebagaimana para bell-boy lainnya yang bekerja di hotel itu. Sebelum beraksi, ia membuka locker lemarinya yang tertempel foto orangtuanya seraya meratap sedih seolah akan berpisah, hingga merasa sudah puas ia kemudian menuju lobby hotel. Sesaat sebelum ia menekan pemicu bom, ia mendapat pesan singkat dari bosnya: “make us proud” begitu kata sang “dalang”. Sambil komat-kamit mengucap doa hingga ia merasa yakin, lalu pemicu bom pun ia tekan dan seketika; “Bumm!!” hotel tempat ia bekerja itu luluh-lantak meledak seiring tubuhnya yang juga carut-marut karena bom bunuh diri yang ia lakukan.


Itulah salah satu adegan film Vantage Point yang menggambarkan bahwa orang Arab yang nota-benenya adalah Islam merupakan pelaku tindak teror yang selama ini kerap terjadi. Film The Traitor, Golden Eye, bahkan Iron Man pun tak luput turut menyudutkan Islam sebagai The Only Terrorist. Media massa barat yang diback-up oleh koalisi Yahudi-Nasrani memang kompak dalam membentuk paradigma Islam Teroris seperti ini, maka tak ayal jika setiap kali ada bom meledak seluruh jari serempak menuding Islam sebagai kambing-hitam di balik bombing tersebut.


Kasus pengeboman rakyat sipil, turis mancanegara dan kerumunan masa di tempat umum seperti di JW. Marriot bukanlah hal baru. Teror bom tersebut layaknya sebuah ‘trend’ abad 21 yang diawali dengan insiden 11 September delapan tahun silam. Entah siapa dan maunya apa, apa pun dan siapa pun pelakunya, perbuatan arogan itu jelas tidak dapat dibenarkan baik secara undang-undang maupun syariat. Jelas-jelas itu merupakan sebuah tindakan barbarisme yang tidak dapat ditoleransi.


Namun naifnya, kenapa selalu saja kasus teror tersebut disangkut-pautkan dengan Jihad, yang mana Jihad sendiri sebenarnya merupakan salah satu bentuk ibadah tertinggi dalam Islam, sedangkan teror merupakan kejahatan terkejam yang dilarang Islam. Di sana terdapat pencampur-adukan istilah dalam memaknai arti Jihad yang berdampak kepada pembentukan opini dunia bahwa Islam adalah ajaran holiganisme yang memiliki doktrin-doktrin ekstrim, kejam nan biadab.


Terlepas dari propaganda dunia, terlepas dari kilah paman Bush dengan War on Terror-nya, terlepas dari siapa dalang dan wayang di balik seluruh kejadian teror bom yang digandrungi para teroris abad ini, lebih arif jika kita memahami kembali ajaran ‘murni’ agama kita yang telah termaktub jelas dalam Al-Qur’an tentang hubungan seorang muslim dengan pemeluk agama lainnya berikut konsep ‘al-Jihad’ yang selama ini disalahartikan.


Dijelaskan dalam surat al-Mumtahanah ayat 8 bahwa, “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama, dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” Secara jelas Allah memerintahkan kepada umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada siapa saja hingga orang kafir sekalipun, selama mereka tidak mengadakan permusuhan kepada umat Islam. Tentu perbuatan baik dan perlakuan adil yang dimaksud adalah dalam interaksi sosial (mu’amalah dunyawiyyah) antara umat manusia sebagai sebuah kesatuan masyarakat sosial.


Lalu pada ayat selanjutnya ditegaskan, “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” Singkat kata, Allah melarang seluruh umat muslim untuk merajut loyalitas dengan kaum kafir ketika mereka memerangi umat Islam, baik itu dalam bentuk perang senjata (fisik), perang budaya, pemikiran, life-style maupun dalam segala bentuk perang yang digulirkan kaum kafir dan munafik untuk merobohkan bangunan Islam.


Dari dua ayat di atas, Islam ingin mengajarkan kepada pemeluknya tentang entitas Islam sebagai sebuah kesatuan nilai yang mengatur hubungan seorang muslim dengan Penciptanya dan dengan manusia sesamanya. Memahami status manusia sebagai makhluk sosial merupakan landasan utama kenapa umat Islam diperbolehkan berinteraksi dengan kaum kafir, bahkan ketika Rasulullah Saw. meninggal, perisai perang beliau masih tergadaikan di tangan seorang Yahudi.


Oleh karena itu, tiada yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya di hadapan Allah kecuali “iman”, sehingga kepercayaan seseorang terhadap Allah adalah urusan dia pribadi yang akan diganjar langsung oleh Sang Pencipta di akhirat kelak, bukan manusia yang mengganjarnya di dunia. Sedangkan dalam interaksi sosial, nyawa seseorang dengan yang lainnya adalah sama, tiada diskriminasi golongan, ras, warna kulit maupun agama. Hal tersebut karena seluruh manusia adalah ciptaan Allah, dan Dia tidak mengizinkan ciptaan-Nya tersebut dibunuh kecuali karena beberapa sebab.


Dr. Abdul Fatah al-Barsyumi dalam bukunya “al-Jinayat ‘ala an-Nafs wa Ma Dunaha fi al-Fiqh al-Islamy”, memaparkan beberapa sebab yang memperbolehkan seseorang untuk dibunuh. Antara lain adalah; seseorang yang telah memiliki pasangan yang sah (suami atau istri) namun dia masih melakukan zina (selingkuh), kedua adalah orang murtad –yang menyerukan kemurtadannya dan memusuhi Islam– dan ia tidak bertaubat setelah diminta untuk taubat, ketiga adalah orang yang mendapat hukuman qishas –lantaran melakukan pembunuhan dengan sengaja,– keempat adalah orang kafir yang memerangi Islam (kafir harbiy). Dan kelima adalah penyamun maupun perompak yang menentang ketentuan pemimpin adil serta menyebabkan kerusakan di wilayah kekuasaan Islam dengan meneror, membunuh dan merampok.


Namun bentuk pembunuhan yang dilegalkan dalam Islam di atas (qatlu-l-haq) tidak serta-merta semua orang bisa melakukannya, di sana terdapat beberapa aturan dan prosedur yang harus dipenuhi sebelum melakukan eksekusi tersebut, dan pemimpin tertinggi (imam/presiden) adalah orang yang memiliki otoritas terhadap keputusan hukuman tersebut, bukan pimpinan Ormas maupun ketua Partai tertentu.


Dengan demikian tidak ada sama sekali landasan dalil yang membolehkan seseorang untuk meneror dan membunuh manusia seenaknya. Tidak pernah ditemukan dalam kamus besar syariat Islam istilah “Delusion of Grandeur” di mana seseorang seolah mendapat ‘titah Tuhan’ lalu semaunya menghukum manusia. Hanya orang yang belum pernah membaca surat at-Taubah yang mengatakan bahwa bom bunuh diri seperti di atas adalah ‘Jihad fi sabilillah’.


Maka perlu kita pahami kembali bahwa Jihad sebenarnya upaya defensif yang ditujukan untuk melindungi agama dari segala serangan musuh. Dan menjaga kelanggengan agama Islam (hifdzu al-din) merupakan salah satu landasan terpenting dari tujuan syariat (maqashid syariah) itu sendiri. Pun Jihad tidak serta-merta main “tebas-liar”, artinya; di sana terdapat larangan yang tidak boleh dilanggar oleh para mujahid ketika berperang; seperti membunuh anak kecil, wanita, orang tua atau rahib. Oleh karenanya, Jihad menjadi wajib tatkala musuh telah memasuki wilayah umat Islam dan melakukan segala bentuk serangan serta perusakan, persis apa yang tengah terjadi sekarang di Palestina.


Sebagaimana telah maklum, bahwa Palestina adalah tanah para Nabi, tanah suci umat Islam yang di dalamnya terdapat Masjid al-Aqsha kiblat pertama umat Islam. Bahkan dalam perjalanan Isra’-Mi’raj Rasulullah Saw. sempat menjadi imam shalat para utusan Allah di masjid ini. Namun kini al-Aqsha tengah digenggam Zionis, dan jelas ini merupakan bentuk serangan terhadap Islam yang nyata. Pembebasan al-Quds Inilah lahan Jihad yang seharusnya menjadi sasaran bagi para pendakwa Jihad, bukan malah di stasiun kereta maupun di tempat pariwisata.


Mungkin para teroris itu perlu banyak baca koran agar up-date berita bahwa lahan Jihad ternyata masih luas dan Palestina masih butuh bantuan, mungkin para bomber itu juga perlu bergabung dengan Hamas agar hobi mereka dalam merakit dan meledakkan bom itu dapat tersalurkan dengan benar; setidaknya dapat meledakkan kamp-kamp pertahanan Israel saja mereka sudah layak dibilang sebagai Jagoan. Namun sayangnya, mereka malah lebih memilih JW. Marriot dan Ritz-Carlton. Entah mereka tidak paham arti Jihad, entah mereka hanya boneka yang diperalat oleh sebuah sindikat rahasia, atau mereka tidak punya ongkos untuk pergi ke Palestina, Wallahu A’lam bi-s-Shawab. Yang jelas, tindakan seperti itu bukanlah ajaran Islam, melainkan ajaran Ya’juj-Ma’juj yang penuh kebencian dan kekerasan.


 


Oleh :


MS. Yusuf al-Amien

Mahasiswa Tingkat Akhir Program Licence Universitas Al-Azhar Cairo


*www.eramuslim.com


 


 

(read more ...)



Setiap tahunnya ratusan warga Yahudi yang tinggal di Israel mendatangi Kantor Departemen Kehakiman untuk mengajukan keinginan mereka meninggalkan agamanya dan memilih Islam sebagai agama baru. Sementara para aktivis Yahudi yang menentang fenomena ini mengatakan, tidak semua Yahudi yang masuk Islam melaporkannya ke Departemen Kehakiman.


Media kedua terlaris di Israel setelah koran harian Yedioth Ahronoth, yaitu Tabloid Maarif yang bermarkaz di Tel Aviv memberitakan, bahwa beberapa data serta angka-angka menunjukkan ratusan warga Yahudi masuk Islam. Tabloid yang kini juga terbit dalam versi bahasa Arab ini juga melansir, bahwa fenomona ini sudah berlangsung sejak lima tahun terakhir.


Tabloid ini juga memberitakan, ada juga puluhan warga Yahudi yang meninggalkan agamanya dan masuk Kristen. Data dua tahun terakhir menunjukkan, dari 360 Yahudi yang melapor ke Departemen Kehakiman untuk mengubah agamanya, 249 di antaranya menyatakan masuk Islam dan sisanya ingin pindah ke Kristen. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap tahunnya sekitar 100 orang Yahudi pindah agama, baik itu agama Islam maupun Kristen. Angka ini meningkat sejak tahun 2008 hingga ada 142 Yahudi yang menyatakan masuk Islam pada tahun ini.

Tabloid Maarif menjelaskan, sejak tahun 2009 hingga sekarang, telah terdapat 32 Yahudi yang mengajukan permintaan mengubah agama. Angka-angka ini menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat Yahudi.


Di pihak lain, seorang anggota asosiasi yang bernama "Keluarga Yahudi Selamanya" menyatakan, "Jumlah Yahudi yang merubah agamanya masuk Islam tidak sama persis dengan pemberitaan media, karena ada ratusan Yahudi lain yang masuk Islam tapi tidak melaporkannya ke pihak yang berwajib."


Sementara salah seorang anggota Knesset bernama Adri Orbench menanggapi, "Setiap warga Yahudi yang pindah agama akan sangat merugikan bangsa Yahudi." (Sn/alm)

(read more ...)



Benarkah kaum wahabi membenci keluarga Nabi? Kita sering mendengar berita itu, tapi jarang dari kita yang mau bersikap kritis dan berani mengklarifikasi.


Dengan nama, kita bisa membedakan manusia satu dengan lainnya. ketika nama kita berbeda, kita bisa merasa kitalah yang dipanggil oleh teman. Tanpa nama, teman kita akan merasa kesulitan membedakan kita, dan sulit untuk memanggil kita dari kejauhan. Nama adalah faktor penting dalam kehidupan manusia



Nama yang indah adalah hiasan bagi seseorang, maka seluruh manusia –kafir ataupun mukmin- berusaha memilihkan nama yang indah bagi anak-anak mereka. nama-nama indah biasanya adalah nama-nama tokoh terkenal, juga nama yang dianggap memiliki nama indah. Ketika orang tua memilihkan nama seorang tokoh untuk anaknya, maka dia berharap anaknya menjadi seperti tokoh itu. 



Dan masalah nama faktor subyektifitas yang tinggi, karena nama-nama yang dipilih biasanya dianggap bagus oleh pemilik nama, jika seorang ayah memilihkan sebuah nama bagi anaknya, minimal si ayah memiliki anggapan bahwa nama itu bagus, meski di mata orang lain nama itu tidak memiliki makna atau bermakna buruk. Maka nama yang bagus bagi orang belum tentu bagus di mata orang lain. Nama yang indah bagi sebuah daerah belum tentu dianggap bagus oleh penduduk daerah lain. 



Juga bisa terjadi sebuah kasus di mana orang memberi nama anaknya dengan nama yang dianggapnya indah, namun dia tidak tahu bahwa nama itu ternyata memiliki makna yang buruk. Seandainya dia tahu nama itu bermakna buruk, maka dia pasti memilihkan nama lain untuk anaknya. Orang tidak akan memilihkan nama yang buruk bagi anaknya. Dalam hal ini keseluruhan manusia yang ada di dunia memiliki pandangan yang sama. Tidak ada orang yang sengaja memilihkan nama buruk bagi anaknya. Begitu juga sebaliknya, bisa jadi sebuah nama dianggap buruk bagi seseorang atau sebuah daerah, namun di daerah lain atau bagi orang lain nama itu dianggap nama yang indah. 





Maka kita bisa memahami jika teman-teman syi’ah memberi nama anaknya dengan nama-nama yang indah menurut mereka, seperti Jawad dan Kadzim. Dan memang nama-nama itu memiliki makna yang indah, seperti misalnya Jawad, dalam bahasa arab, nama jawad artinya kurang lebih suka memberi. Begitu juga kadzim artinya mampu menahan marah. Selain memiliki makna yang indah. Juga nama seperti Ali, Hasan dan Husein, yaitu dari nama tokoh yang mereka anggap sebagai imam. 



Tidak ada teman syi’ah yang senang dengan nama-nama “musuh” mereka seperti Abubakar dan Umar. Lalu bagaimana jika dia terlambat mengenal syi’ah lalu diberi nama dengan nama-nama yang dulu dianggap indah seperti Abubakar dan Umar? Ada yang tidak merubah nama itu, namun ada juga yang merubah namanya dengan nama yang lebih baik, seperti ada seseorang yang dulunya –ketika masih sunni- bernama Abubakar -saya rasa tidak relevan jika kita tuliskan nama lengkapnya di sini- lalu mengganti namanya menjadi Ali, dan dikenal dengan julukan daerah tempat dia tinggal. Di sisi lain, konon dari cerita-cerita yang beredar, ada juga temen syi’ah orang tuanya memilihkan nama Umar untuknya, saat itu dia belum mengenal syi’ah, tetapi setelah masuk syi’ah dia tidak mengganti namanya. 



Bahkan konon ada pepatah arab yang berbunyi: dari namamu aku tahu siapa ayahmu. Artinya dari nama yang dipilih untuk anaknya, kita bisa mengetahui kualitas orang tuanya. Orang tua yang ber”kualitas” tidak akan mungkin memilih nama sembarangan untuk anaknya. Seperti ketika kita mengenal anak bernama jawad, kita tahu bahwa orang tuanya mencintai imam Muhammad bin Ali Al Jawad, dan ingin agar anaknya menjadi seperti dia. Begitu juga ketika kita mengenal anak bernama kadzim, kita tahu si orang tua cinta pada imam Musa Al Kazhim. 



Orang-orang awam memberi namanya dengan nama-nama yang indah, begitu juga penganut syi’ah sendiri, maka para imam lebih mengetahui hal ini dan tidak mungkin memberi nama anak-anaknya dengan nama yang buruk, atau nama tokoh-tokoh musuh Islam dan musuh keluarganya sendiri. karena sudah pasti para imam itu –menurut keyakinan syi’ah- adalah maksum dan terbebas dari kesalahan dan kekeliruan serta sifat lupa. Masalah maksum ini adalah salah satu aksioma dalam mazhab syi’ah yang sudah “paten” dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena sifat maksum inilah teman-teman syi’ah menolak meyakini bahwa yang bermuka masam dalam surat “Abasa” adalah Rasulullah SAW. Karena nama-nama yang buruk adalah cerminan buruk bagi pemberi nama –dalam hal ini adalah ayah si anak yang merupakan imam ahlulbait-. Para imam adalah manusia-manusia suci yang terbebas dari keburukan. Pasti para imam memberi nama anak-anaknya dengan nama yang mereka anggap indah. 



Dalam sejarah -yang ditulis oleh kitab-kitab syi’ah sendiri- tercantum kenyataan bahwa Ali memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama Abubakar, Umar dan Utsman. Tokoh-tokoh yang dianggap lebih kafir oleh syi’ah. Begitu juga imam Hasan dan Imam Husein memberi nama anaknya dengan nama Umar. Padahal Muhammad Baqir Al Majlisi -seorang pakar hadits syiah- menyatakan : 



saya katakan dalil yang menunjukkan bahwa Abubakar, Umar dan orang yang sejalan mereka dengan mereka adalah kafir, juga menunjukkan pahala melaknat dan memusuhi mereka, yang menunjukkan bid’ah mereka, terlalu banyak untuk disebutkan dalam satu jilid atau berjilid-jilid buku, apa yang telah kami nukilkan di atas cukup bagi orang yang diberi petunjuk Allah ke jalan yang lurus. Biharul Anwar jilid 30 hal 399.



Bukan hanya kafir, tapi harus dilaknat, dan melaknat Abubakar, Umar dan Utsman dan ahlussunnah mendatangkan pahala.



Ali Zainal Abidin memberi nama anak perempuannya dengan nama Aisyah, sebuah nama yang dibenci oleh syiah hari ini. Imam Hasan memberi nama anaknya dengan nama Thalhah .

Padahal Aisyah dan Thalhah di mata Khomeini –tokoh syi’ah hari ini- yang sering disebut oleh syi’ah dengan panggilan Imam Khomeini, adalah lebih buruk dari anjing dan babi:



Sedangkan seluruh kelompok nashibi bahkan khawarij, tidak ada dalil yang menunjukkan najisnya mereka meskipun mereka akan disiksa lebih pedih dari siksaan orang kafir. Jika ada seorang penguasa yang memberontak terhadap Amirul Mukminin tanpa alasan [keyakinan] agama [karena alasan dunia], tetapi karena ingin merebut kekuasaan, atau karena tujuan-tujuan lain. Seperti Aisyah, Zubair, Thalhah, Muawiyah dan yang lainnya. Atau yang memusuhi Ali dan salah satu dari para imam tanpa alasan keyakinan agama, tetapi karena memusuhi suku Quraisy, atau Bani Hasyim, atau membenci bangsa arab, atau karena [imam] telah membunuh ayahnya atau anaknya, atau sebab lainnya, semua itu tidak mengakibatkan status najis secara zhahir, meskipun mereka [hakekatnya] lebih buruk dari anjing dan babi, karena tidak ada dalil dari hadits maupun ijma’ tentang hal itu [najisnya nashibi secara zhahir].Kitab Thaharah jilid 3 hal 457. 



Ali memang mencintai Abubakar, Umar dan Utsman, maka Ali memilih nama-nama mereka untuk anaknya. Sebagaimana syi’ah hari ini memberi nama anaknya dengan nama kadzim dan jawad karena cinta mereka pada Imam Kadzim dan Jawad, Ali memberi nama anaknya dengan Abubakar dan Umar karena kecintaannya pada mereka. Begitu pula imam Hasan dan Husein, yang jelas maksum dan lebih mengenal sejarah dibanding syi’ah hari ini, karena mereka adalah pelaku sejarah. 



Ini bisa dilihat dalam Kasyful Ghummah jilid 2 hal 334, I’lamul Wara karya Thabrasi, begitu juga dalam kitab Al Irsyad karya Al Mufid.



Kita sudah terbiasa untuk menelan segala berita yang ada mentah-mentah, tanpa menggunakan lagi sikap kritis untuk menilai sebuah berita. Ini bisa jadi karena berita itu begitu sering kita dengar, akhirnya kita tidak merasa perlu lagi untuk klarifikasi dan tabayun. Meskipun berita itu kita dengar dari orang-orang yang mungkin nampak valid, namun kita masih harus bersikap kritis dan meneliti lagi. Di antara yang sering kita dengar adalah klaim bahwa Muhammad bin Abdul Wahab adalah membenci ahlulbait. Seperti pembaca juga, saya pun sering mendengar berita-berita itu. Tapi saya mencoba melangkah lebih jauh dari sekedar percaya, saya mencoba bersikap kritis dan mencari tahu tentang hal itu. 



Ternyata Muhammad bin Abdul Wahab memberi nama anaknya dengan nama-nama keluarga Nabi, yaitu Ali, Fatimah, Hasan dan Husein. Ini tercantum dalam kitab Ad Durar As Saniyyah cetakan pertama dari Darul Ifta’ jilid 19 hal 12, begitu juga kitab Ulama Najd karya Al Bassam jilid 1 hal 155. Sebagaimana temen-temen syi’ah memberi nama anaknya dengan Kadzim karena cinta pada imam Musa Al Kadzim, begitu juga Muhammad bin Abdul Wahhab memberi nama anaknya dengan Ali, Fatimah, Hasan dan Husein karena cintanya pada mereka.



Source: hakekat.com

(read more ...)



Apakah nikah mut’ah sama dengan pelacuran? Barangkali banyak yang marah membaca judul di atas. Namun sebelum marah, hendaknya membaca dulu selengkapnya.






Kita bisa mengatakan motorku sama dengan motormu ketika kedua motor kita setype, kita bisa mengatakan rumahmu sama dengan rumahku ketika rumah kita sama-sama dicat dengan warna yang sama. Kita bisa mengatakan Hpku sama dengan Hpmu ketika HP kita setype. Antara HP kita dan HP teman kita ada faktor kesamaan sehingga bisa kita katakan sama. Sama artinya adalah ketika ada sesuatu yang ada pada dua hal yang kita perbandingkan. Semakin banyak kesamaan yang ada, semakin bisa kita katakan bahwa dua hal itu sama.



Walaupun banyak faktor kesamaan yang ada, kadang ada juga perbedaan-perbedaan yang bisa jadi penting dan bisa jadi tidak penting. Misalnya seluruh manusia adalah sama, artinya sama-sama manusia walaupun ada perbedaan yang kadang banyak, misalnya perbedaan suku, warna, ras, bahasa, perilaku, sifat dan watak, namun semua tetap disebut manusia. Sama-sama manusia walaupun beda. Namun dalam kacamata Islam, ada kriteria tertentu yang membedakan manusia, yang mana Islam mengklasifikasikan manusia melalui kriteria-kriteria itu. Kriteria itu adalah iman, artinya dalam segala kesamaan yang ada di antara seluruh manusia, ada perbedaan inti di antara mereka, yaitu iman. Meskipun ada ribuan persamaan di antara manusia, ketika ada perbedaan iman disitu manusia berbeda. Orang beriman berbeda dengan orang kafir, meskipun keduanya memiliki banyak persamaan, walaupun keduanya –misalnya- saudara kembar. Allah membedakan antara keduanya dengan iman. Dalam kasus ini -dan juga banyak kasus- satu perbedaan dapat menghapus semua kesamaan yang ada.



Ada banyak persamaan antara pernikahan dan perzinaan, yang mana perbedaan yang ada hanya pada akad nikah yang mensyaratkan adanya wali, saksi dan akad dan syarat lainnya, sementara perzinaan tidak perlu ada saksi dan wali, tinggal tawar dan bayar. Bahkan seringkali tanpa ada pembayaran, asal kedua belah pihak suka sama suka maka mereka berdua bisa langsung berzina tanpa syarat apa pun.



Meskipun ada banyak persamaan, sedikit perbedaan dapat membedakan perzinaan dan pernikahan, hal ini tidak perlu dibahas lagi panjang lebar. Dalam hal ini perbedaan yang sedikit membawa implikasi yang begitu besar.



Sebaliknya ketika perbedaan yang ada tidak membawa implikasi apa pun maka bisa dianggap tidak ada, seperti perbedaan rupa manusia tidak membawa implikasi apa pun, yang berbeda dengan implikasi perbedaan iman.



Pada aritkel lalu pembaca telah menelaah fikih nikah mut’ah, yang memberikan lebih banyak gambaran tentang “keindahan” nikah mut’ah bagi pembaca. Kali ini kita akan membandingkan “keindahan” nikah mut’ah dengan realita pelacuran yang ada di lapangan, pada akhirnya kita menemukan tidak ada perbedaan signifikan antara nikah mut’ah dan pelacuran, yang ada hanya perbedaan simbolik dengan isi dan substansi yang sama.



Kita akan melihat lagi point-point “keindahan” nikah mut’ah dan membandingkannya dengan realita pelacuran.



1. Nikah mut’ah adalah praktek penyewaan tubuh wanita, begitu juga pelacuran.



Kita simak lagi sabda Abu Abdillah : menikahlah dengan seribu wanita, karena wanita yang dimutah adalah wanita sewaan.  Al Kafi Jilid. 5 Hal. 452.



Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa nikah mut’ah adalah bentuk lain dari pelacuran, karena Imam Abu Abdillah terang-terangan menegaskan status wanita yang dinikah mut’ah: mereka adalah wanita sewaan.



2. yang penting dalam nikah mut’ah adalah waktu dan mahar



sekali lagi inilah yang ditegaskan oleh imam syi’ah yang maksum : Nikah mutah tidaklah sah kecuali dengan menyertakan 2 perkara, waktu tertentu dan bayaran tertentu. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 455.



Begitu juga orang yang akan berzina dengan pelacur harus sepakat atas bayaran dan waktu, karena waktu yang leibh panjang menuntut bayaran lebih pula. Pelacur tidak akan mau melayani  ketika tidak ada kesepakatan atas bayaran dan waktu. Sekali lagi kita menemukan persamaan antara nikah mut’ah dan pelacuran.



3. Batas minimal “mahar” nikah mut’ah.



Dalam nikah mut’ah ada batasan minimal mahar, yaitu segenggam makanan berupa tepung, gandum atau korma. Al Kafi Jilid. 5 Hal. 457. Sedangkan dalam pelacuran tidak ada batas minimal bayaran, besarnya bayaran tergantung dari beberapa hal. Kita lihat disini perbedaan antara mut’ah dan pelacuran hanya pada minimal bayaran saja, tapi baik mut’ah maupun pelacuran tetap mensyaratkan adanya bayaran. Banyak cerita yang kurang enak mengisahkan mereka yang berzina dengan pelacur tapi mangkir membayar.



4. batas waktu mut’ah



tidak ada batasan bagi waktu nikah mut’ah, semua tergantung kesepakatan. Bahkan boleh mensepakati waktu mut’ah walau untuk sekali hubungan badan.



Dari Khalaf bin Hammad dia berkata aku mengutus seseorang untuk bertanya pada Abu Hasan tentang batas minimal jangka waktu mutah? Apakah diperbolehkan mutah dengan kesepakatan jangka waktu satu kali hubungan badan? Jawabnya : ya. Al Kafi . Jilid. 5 Hal. 460



Begitu juga tidak ada batasan waktu bagi pelacuran, dibolehkan menyewa pelacur untuk jangka waktu sekali zina, atau untuk jangka waktu seminggu, asal kuat membayar saja. Demikian juga nikah mut’ah.



5. Boleh nikah mut’ah dengan wanita yang sama berkali-kali.



Suami istri diberi kesempatan untuk tiga kali talak, setelah itu si istri harus menikah dengan lelaki lain. Tidak demikian dengan nikah mut’ah, orang boleh nikah mut’ah dengan wanita yang sama berkali-kali, asal tidak bosan saja. Karena wanita yang dinikah secara mut’ah pada hakekatnya sedang disewa tubuhnya oleh si laki-laki. Sama persis dengan pelacuran.



Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Jafar, seorang laki-laki nikah mutah dengan seorang wanita dan habis masa mutahnya lalu dia dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mutahnya, lalu nikah mutah lagi dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mutahnya tiga kali dan nikah mutah lagi dengan 3 lakii-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama? Jawab Abu Jafar : ya dibolehkan menikah mutah berapa kali sekehendaknya, karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mutah adalah wanita sewaan, seperti budak sahaya. Al Kafi jilid 5 hal 460



Begitu juga orang boleh berzina dengan seorang pelacur semaunya, tidak ada batasan.



6.Tidak usah bertanya menyelidiki status si wanita



Laki-laki yang akan nikah mut’ah tidak perlu menyelidiki status si wanita apakah dia sudah bersuami atau tidak. Begitu juga orang tidak perlu bertanya pada si pelacur apakah dia bersuami atau tidak ketika ingin berzina dengannya.



Dari Aban bin Taghlab berkata: aku bertanya pada Abu Abdullah, aku sedang berada di jalan lalu aku melihat seorang wanita cantik dan aku takut jangan-jangan dia telah bersuami atau barangkali dia adalah pelacur. Jawabnya: ini bukan urusanmu, percayalah pada pengakuannya. Al Kafi  . Jilid. 5 Hal. 462



7. Hubungan warisan



Nikah mut’ah tidak menyebabkan terbentuknya hubungan warisan, artinya ketika si “suami” meninggal dunia pada masa mut’ah maka si “istri” tidak berhak mendapat warisan dari hartanya.



Ayatullah Udhma Ali Al Sistani dalam bukunya menuliskan : Masalah 255 :  Nikah mutah tidak mengakibatkan hubungan warisan antara suami dan istri. Dan jika mereka berdua sepakat, berlakunya kesepakatan itu masih dipermasalahkan. Tapi jangan sampai mengabaikan asas hati-hati dalam hal ini. Minhajushalihin. Jilid 3 Hal. 80



Begitu juga pelacur tidak akan mendapat bagian dari harta “pasangan zina”nya yang meninggal dunia.



8. Nafkah



Istri mut’ah yang sedang disewa oleh suaminya tidak berhak mendapat nafkah, si istri mut’ah hanya berhak mendapat mahar yang sudah disepakati sebelumnya. Bayaran dari mut’ah sudah all in dengan nafkah, hendaknya istri mut’ah sudah mengkalkulasi biaya hidupnya baik-baik sehingga bisa menetapkan harga yang tepat untuk mahar mut’ah.



Ayatollah Ali Al Sistani mengatakan:

Masalah 256 : Laki-laki yang nikah mutah dengan seorang wanita tidak wajib untuk menafkahi istri mutahnya walaupun sedang hamil dari bibitnya. Suami tidak wajib menginap di tempat istrinya kecuali telah disepakati pada akad mutah atau akad lain yang mengikat. Minhajus shalihin. Jilid 3 hal 80.



Begitu juga laki-laki yang berzina dengan  pelacur tidak wajib memberi nafkah harian pada si pelacur.


Sumber: hakekat

(read more ...)



Betapa generasi shalafus shalih telah melahirkan orang-orang yang terbaik di zamannya, yang sangat sulit akan ditemukan di zaman ini. Seperti diriwayatkan dari jabir bin Abdullah al Anshari radhiyallahu anhu: “Ada seorang pemuda Anshar masuk Islam, bernama Tsa’labah bin Abdurrahman”, ucapnya. Pemuda itu sangat senang dapat melayani Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam.


Suatu ketika Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruhnya untuk suatu keperluan, maka pemuda itu melewati sebuah pintu rumah lelaki Anshar, dan pemuda itu melihat seorang wanita Anshar sedang mandi. Lalu, pemuda yang bernama Tsa’labah itu, takut kalau Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan memberitahukan tentang perbuatannya, maka ia pun lari sekencang-kencangnya menuju gunung-gunung yang ada antara Mekah dan Madinah untuk bersembunyi.


Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, kehilangan Tsa’labah selama empat puluh hari, maka turunlah Jibril alaihis sallam kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan mengatakan, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu mengirimkan salam dan berfirman kepadamu , “Sesungguhnya ada seorang lekaki dari umatmu telah berada di gunung-gunung ini memohon perlindungan kepada-Ku”.


Maka, Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda, “Wahai Umar dan Salman carilah Tsa’labah bin Abdurrahman dan bawalah ia kepadaku”. Selanjutnya, Umar bersama dengan Salman berjalan keluar dari jalan-jalan Madinah, dan bertemu dengan seorang pengembala di Madinah bernama Dzufafah, dan Umar bertanya kepadanya, “Apakah kamu tahu seorang pemuda yang berada di gunung ini, namnya Tsa’labah?”. Dzufafah menjawab, “Barangkali maksudmu adalah lelaki yang lari dari neraka jahanam?”. Umar bertanya, “Apakah yang kamu maksudkan bahwa ia lari dari neraka jahanam?”.


Dzufafah menjawab, “Karena, jika di waktu malam telah tiba, maka ia datang kepada kami dari tengah gunung-gunung ini dengan meletakkan tangannya diatas kepalanya sambil berteriak, “Wahai, seandainya, Engkau cabut nyawaku, dan Engkau matikan tubuhku, dan tidak membiarkan untuk menunggu keputusan takdir-Mu”. Dan, Umar menjawab, “Dialah lelaki yang kami maksudkan”, ucapnya. Kemudian, Umar datang kepadanya dan mendekapnya, dan Tsa’labah bekata, “Wahai Umar. Apakah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, tahu tentang dosaku?”. Umar menjawab, “ Saya tidak tahu, hanya kemarin beliau menyebutmu, lalu menyuruhku dengan Salman mencarimu”. Tsa’labah berkata, “Wahai Umar, janganlah engkau bawa aku kepada Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, kecuali beliau sedang shalat. Maka, Umar segera kedalam barisan shalat bersama dengan Salman. Dan, ketika Tsa’labah mendengar bacaan Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam jatuh pingsan.


Ketika Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam sudah salam, Beliau bersabda, “Wahai Umar, wahai Salman apa yang dilakukan Tsa’labah?”. Keduanya menjawab, “Ini dia Rasulullah”. Kemudian, Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam berdiri menggerak-gerakan badan Tsa’labah, dan membangunkannya”. Lalu, Rasulullah bertanya, “Mengapa engkau menghilang dariku?”. “Dosaku sangat besar, wahai Rasulullah”, ucap Tsa’labah. Dan, Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda, “Tidakkah aku pernah tunjukkan kepadamu ayat yang menerangkan penghapusan dosa dan kesalahan”. “Ya, wahai Rasulullah”, jawab Tsa’labah. Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, bersabda, “Bacalah”. “ …Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka”. (al-Baqarah : 201).


Tsa’labah berkata, “Wahai Rasulullah, dosaku sangat besar”. Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bahkan firman Allahlah yang paling besar”. Kemudian, beliau menyuruhnya pulang ke rumahnya. Sejak itu, Tsa’labah sakit selama delapan hari, kemudian datang Salman kepada Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berkata, “Wahai Rasulullah, sudah tahukah engkau berita tentang Tsa’labah? Sesungguhnya, ia sedang sakit keras, karena perasaan dosanya”. “Marilah kita menjenguknya”, ucap Rasulullah.


Sesudah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, sampai di rumah Tsa’labah, meletakkan kepala Tsa’labah diantas pangkuannya. Tetapi, setiap kepalanya diletakkan dipangkuan Rasulullah, selalu Tsa’labah menggesernya. “Kenapa kamu geserkan kepalamu dari pangkuanku?”, tanya Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Kapalaku penuh dengan dosa, wahai Rasulullah”, jawab Tsa’labah. Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya , “Apakah yang kamu lakukan?”, tanya Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Seperti rayap dan semut berada diantara tulang, daging dan kulitku”, jawab Tsa’labah. “Apakah yang kamu senangi?”, tanya Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam. “Ampunan Tuhanku”, jawab Tsa’labah.


Kemudian, Jabir berkata, “Ketika itu turunlah Jibril Alaihisallam, mengatakan, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu mengirimkan salam padamu, dan berfirman, “JIka hamba-Ku ini menemui-Ku dengan dosa sejengkal tanah, maka Aku akan menemui dengan sejengkal ampunan”. Ketika itu, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam memberitahu Tsa’labah, dan seketika itu, Shahabat Tsa’labat menjerit, karena senang, dan kemudian meninggal.


Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam, menyuruh para Shahabat lainnya,memandikan dan mengkafaninya. Ketika, beliau meshalatinya, belaiu datang berjalan dengan merangkak. Ketika dimakamkan, beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, kami melihatmu berjalan merangkak”. Kemudian, Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Demi Allah yang telah mengutusku sebagai Nabi dengan haq, aku tidak bisa meletakkan kakiku diatas bumi, karena banyaknya malaikat yang turun mengantarkan jenazah Tsa’labah”.  Wallahu’alam.

(read more ...)



“Bangsa Arab telah menyerang kami, ingin menghancurkan rumah kami, pekerjaan kami, membunuh dan mencuri,” tulis Chaim Weizmann di tahun 1929. Meskipun sampai sekarang, Yahudi “telah memberikan semuanya” kepada para pemimpin Arab yang “menginginkan satu hal, mengejar kami sampai Mediteranian,” tambahnya, “Kami sekarang ditekan dari berbagai arah untuk menyetujui sesuatu dari mereka.”


Weizmann bersumpah tak akan pernah menerima apapun selain Palestina sebagai bangsa Yahudi seperti Inggris untuk orang Inggris, dan Amerika untuk orang Amerika.


Tulisan Weizmann hanya satu penanda yang lain. Fred Jerome menulis jurnal “Einstein di belakang Israel dan Zionisme”—menerangkan bahwa ilmuwan yang dianggap hebat itu merupakan salah seorang yang merancang pendirian negara Israel.


Einstein menyatakan bahwa ia bukanlah seorang pemikir politik yang sistemik. Namun, idealismenya seringkali melintasi batas naif. Pandangannya terhadap negara Israel tak pernah berubah, “Saya adalah seorang manusia, seorang Yahudi, dan seorang Zionis, dan penentang nasionalisme!” tegasnya.


Eintein adalah seorang sekular, dan ia menyerukan dunia dalam demokrasi, keadilan sosial, toleransi persamaan di antara sesama mereka. Bahkan Einstein menganjurkan bahwa dengan Zionisme, orang akan mengenali diri mereka sendiri, harga diri dan solidaritas.


Ia menyatakan bahwa kerjasama dengan bangsa Arab hanya bisa dilakukan jika saja dilandasi dengan konsep pemimpin bangsa Yahudi. Tahun 1948, ia pernah ditawari menjadi presiden Israel, setelah kematian Weizmann. Namun ia menolak. Menjelang kematiannya, Einstein menyampaikan harapan besarnya akan Israel, “lebih baik daripada negara-negara lainnya.”


Di balik nama besarnya, dan harapan indahnya akan negara Israel, Einstein sendiri ternyata tak setuju dengan pendirian negara Israel di Palestina. “Judaisme tak setara dengan pendirian Negara Israel.” ungkapnya.


Ben Gurion, mantan perdana menteri Israel, mengatakan jika Einstein menjadi presiden Israel, maka akan ada bencana besar buat bangsa Yahudi. Menurut Einstein, keuntungan yang diambil Yahudi dari Holocaust hanya dijadikan sebagai investasi besar untuk menumbuhkan anti-semit di kemudian hari.


Marc Ellis, seorang profesor Yahudi di Pusat Studi Yahudi di Universitas Baylor mengatakan bahwa Einstein adalah ilmuwan besar yang terperangkap dalam pandangan radikalnya akan keberadaan bangsa Yahudi.


Einstein adalah salah satu pelaku sejarah yang hidup pada waktu terjadinya Holocaust, sehingga ia mengetahui dengan pasti, kemana seharusnya bangsanya melangkah, bukan ke Palestina dan bukan mendirikan negara di atas pembunuhan bangsa Arab.


Einstein menjadi sebuah hikayat turun temurun; sebuah contoh pada generasi awal Yahudi: barangsiapa mempersoalkan keberadaan negara Yahudi, pilihannya hanya dua: hilang atau dihancurkan. Yang mana hikayat Einstein? (sa/haaretz)

(read more ...)



Ada sebuah ayat di dalam Al-Qur’an yang mengisyaratkan bahwa suatu masyarakat sengaja menjadikan ”berhala” tertentu sebagai perekat hubungan antara satu individu dengan individu lainnya. Sedemikian rupa ”berhala” itu diagungkan sehingga para anggota masyarakat yang ”menyembahnya” merasakan tumbuhnya semacam ”kasih-sayang” di antara mereka satu sama lain.  Suatu bentuk kasih-sayang yang bersifat artifisial dan temporer. Ia bukan kasih-sayang yang sejati apalagi abadi. Gambaran mengenai berhala pencipta kasih-sayang palsu ini dijelaskan berkenaan dengan kisah Nabiyullah Ibrahim ’alaihis-salam.


 




“Dan berkata Ibrahim ’alaihis-salam: "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu melaknati sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolongpun.” (QS Al-Ankabut ayat 25)


 


 


"Berhala-berhala" di zaman dahulu adalah berupa patung-patung yang disembah dan dijadikan sebab bersatunya mereka yang sama2 menyembah berhala patung itu padahal berhala itu merupakan produk bikinan manusia. Di zaman modern sekarang "berhala" bisa berupa aneka isme/ ideologi/ falsafah/ jalan hidup/ way of life/ sistem hidup/ pandangan hidup produk bikinan manusia. Manusia  di zaman skrg  juga "menyembah" berhala-berhala modern tersebut dan mereka menjadikannya sebagai "pemersatu" di antara aneka individu dan kelompok di dalam masyarakat. Berhala modern itu menciptakan semacam persatuan dan kasih-sayang yang berlaku sebatas  kehidupan mereka di dunia saja. Berhala modern itu bisa memiliki nama yang beraneka-ragam. Tapi apapun namanya, satu hal yang pasti bahwa ia semua merupakan produk fikiran terbatas manusia. Ia bisa bernama Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Liberalisme, Nasionalisme atau apapun selain itu.


 


Semenjak runtuhnya tatanan kehidupan bermasyarakat dan bernegara ummat Islam 85 tahun yang lalu bangsa-bangsa Muslim di segenap penjuru dunia mulai menjalani kehidupan sosialberlandaskan sebuah faham yang sesungguhnya asing bagi mereka. Faham itu bernama Nasionalisme. Ketika Khilafah Islamiyyah masih tegak dan menaungi kehidupan sosial ummat, mereka menghayati bahwa hanya aqidah Islam Laa ilaha illa Allah sajalah yang mempersatukan mereka satu sama lain. Hanya aqidah inilah yang menyebabkan meleburnya sahabat Abu Bakar yang Arab dengan Salman yang berasal dari Persia dengan Bilal yang orang Ethiopia dengan Shuhaib yang berasal dari bangsa Romawi.  Mereka menjalin al-ukhuwwah wal mahabbah (persaudaraan dan kasih sayang) yang menembus batas-batas suku, bangsa, warna kulit, asal tanah-air dan bahasa. Dan yang lebih penting lagi bahwa ikatan persatuan dan kesatuan yang mereka jalin menembus batas dimensi waktu sehingga tidak hanya berlaku selagi mereka masih di dunia semata, melainkan jauh sampai kehidupan di akhirat kelak. Mengapa? Karena ikatan mereka berlandaskan perlombaan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Hidup lagi Maha Abadi.


 


 


 


”Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS Az-Zukhruf ayat 67)


 


Orang-orang beriman tidak ingin menjalin pertemanan yang sebatas akrab di dunia namun di akhirat kemudian menjadi musuh satu sama lain. Oleh karenanya, mereka tidak akan pernah mau mengorbankan aqidahnya yang mereka yakini akan menimbulkan kasih-sayang hakiki dan abadi. Sesaatpun mereka tidak akan mau menggadaikan aqidahnya dengan faham atau ideologi selainnya. Sebab aqidah Islam merupakan pemersatu yang datang dan dijamin oleh Penciptanya pasti akan mewujudkan kehidupan berjamaah sejati dan tidak bakal mengantarkan kepada perpecahan dan bercerai-berainya jamaah tersebut.


 


 


 


”Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dalam jamaah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS Ali Imran ayat 103)


 


Sewaktu ummat Islam hidup di bawah naungan Syariat Allah dalam tatanan Khilafah Islamiyyah mereka tidak mengenal bentuk ikatan kehidupan sosial selain Al-Islam. Mereka tidak pernah membangga-banggakan perbedaan suku dan bangsa satu sama lain. Betapapun realitas suku dan bangsa memang tetap wujud, tetapi ia tidak pernah mengalahkan kuatnya ikatan aqidah di dalam masyarakat. Sedangkan setelah masing-masing negeri kaum muslimin mengikuti jejak langkah Republik Turki Modern Sekuler, maka mulailah mereka mengekor kepada dunia barat yang hidup dengan membanggakan Nasionalisme masing-masing bangsa. Padahal bangsa-bangsa Barat tidak pernah benar-benar berhasil membangun soliditas sosial melalui man-made ideology tersebut. Akhirnya bangsa-bangsa Muslim mulai sibuk mencari-cari identitas Nasionalisme-nya masing-masing. Mulailah orang Indonesia lebih bangga dengan ke-Indonesiaannya daripada ke-Islamannya. Bangsa Mesir bangga dengan ke-Mesirannya. Bangsa Saudi bangga dengan ke-Saudiannya. Bangsa Turki bangga dengan ke-Turkiannya. Lalu perlahan tapi pasti kebanggaan akan Islam sebagai perekat hakiki dan abadi kian tahun kian meluntur.


 


Sehingga di dalam kitab Fi Zhilalil Qur’an Asy-Syahid Sayyid Qutb rahimahullah menulis komentar mengenai surah Al-Ankabut ayat 25 di atas sebagai berikut:


 


Ia (Ibrahim) ’alaihis-salam berkata kepada mereka (kaumnya), “Kalian menjadikan berhala-berhala sebagai sesembahan selain Allah, yang kalian lakukan bukan karena kalian mempercayai dan meyakini berhaknya berhala-berhala itu untuk disembah. Namun, itu kalian lakukan karena basa-basi kalian satu sama lain, dan karena keinginan untuk menjaga hubungan baik kalian satu sama lain, untuk menyembah berhala ini. Sehingga, seorang teman tak ingin meninggalkan sesembahan temannya (ketika kebenaran tampak baginya) semata karena untuk menjaga hubungan baik di antara mereka, dengan mengorbankan kebenaran dan akidah!”


 


Hal ini terjadi di tengah masyarakat yang tak menjadikan akidah dengan serius. Sehingga, mereka saling berusaha menyenangkan temannya dengan mengorbankan akidahnya, dan melihat masalah akidah itu sebagai sesuatu yang lebih rendah dibandingkan jika ia harus kehilangan teman! Ini adalah keseriusan yang benar-benar serius. Keseriusan yang tak menerima peremehan, santai, atau basa-basi.


 


Kemudian Ibrahim’alaihis-salam menyingkapkan kepada mereka lembaran mereka di akhirat. Hubungan sesama teman yang mereka amat takut jika terganggu karena akidah, dan yang membuat mereka terpaksa menyembah berhala karena untuk menjaga hubungan itu, ternyata di akhirat menjadi permusuhan, saling kecam, dan perpecahan.


 


”...Kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain)....”


 


Hari ketika para pengikut mengingkari orang-orang yang diikutinya, orang-orang yang dibeking mengkafirkan orang-orang yang membekingnya, setiap kelompok menuduh temannya sebagai pihak yang menyesatkannya, dan setiap orang yang sesat melaknat teman yang menyesatkannya!


 


Kemudian kekafiran dan saling melaknat itu tak bermanfaat sama sekali, serta tak dapat menghalangi azab bagi siapapun.


”...Dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-kali tak ada bagimu para penolong pun.”


 


Mereka (kaumnya Nabi Ibrahim ’alaihis-salam) pernah menggunakan api untuk membakar Ibrahim ’alaihis-salam, tapi Allah kemudian membela dan menyelamatkan Ibrahim ’alaihis-salam dari api itu. Sementara mereka tak ada yang dapat menolong mereka dan tak ada keselamatan bagi mereka!


 


Saudaraku, marilah kita tinggalkan segala bentuk “berhala modern” yang sadar ataupun tidak selama ini kita “sembah”. Kita jadikan faham selain Islam sebagai sebuah perekat antara satu sama lain, padahal persatuan dan kasih-sayang yang dihasilkannya hanya bersifat fatamorgana.  Marilah hanya AL-ISLAM  yang kita jadikan "faktor pemersatu" yang pasti terjamin akan mempersatukan kita di dunia dan di akhirat.  Al-Islam bukan produk manusia melainkan produk Allah Yg Maha Tahu dan Maha Sempurna pengetahuannya.


 


Sedemikian hebatnya pengaruh Nasionalisme sehingga sebagian orang yang mengaku berjuang untuk kepentingan ummat-pun takluk di bawah ideologi buatan manusia yang satu ini. Betapa ironisnya perjuangan para politisi Islam tatkala mereka rela untuk menunjukkan inkonsistensi-nya di hadapan seluruh ummat demi meraih penerimaan dari fihak lain yang jelas-jelas mengusung Nasionalisme. Seolah kelompok yang mengusung ideologi Islam harus siap mengorbankan apapun demi mendapatkan keridhaan kelompok yang mengusung Nasionalisme. Seolah memelihara persatuan dan soliditas berlandaskan Nasionalisme jauh lebih penting dan utama daripada mewujudkan al-ukhuwwah wal mahabbah (persaudaraan dan kasih sayang) berlandaskan aqidah Islam.


 


Sedemikian dalamnya faham Nasionalisme telah merasuk ke dalam hati sebagian orang yang mengaku memperjuangkan aspirasi politik Islam sehingga rela mengatakan bahwa ”Isyu penegakkan Syariat Islam merupakan isyu yang sudah usang dan tidak relevan.” Tidakkah para politisi ini menyadari bahwa ucapan mereka seperti ini bisa menyebabkan rontoknya eksistensi Syahadatain di dalam dirinya? Dengan kata lain ucapannya telah mengundang virus ke-murtad-an kepada si pengucapnya. Wa na’udzubillahi min dzaalika.


 


Sebagian orang berdalih bahwa jika kita mengusung syiar ”Penegakkan Syariat Islam”  lalu  bagaimana dengan nasib orang-orang di luar Islam? Saudaraku, disinilah tugas kita orang-orang beriman untuk mempromosikan Islam sebagai "faktor pemersatu" yg bersifat Rahmatan lil aalamiin. Tidakkah terasa aneh bila "mereka" bisa dan boleh dibiarkan mendikte aneka isme/ ideologi/ falsafah/ jalan hidup/ way of life/ sistem hidup/ pandangan hidup produk bikinan manusia kepada kita umat Islam, sedangkan kita umat Islam tidak mampu –bahkan kadang tidak mau- mempromosikan (baca: berdawah) menyebarluaskan ajaran Allah kepada "mereka"? Wallahualam.-


 




 


 


”Dan Janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu". (QS Ali Imran ayat 73)


* Oleh Ust. Ihsan Tandjung, www.eramuslim.com

(read more ...)



Tel Aviv - Beberapa surat kabar yang terbit Israel baru-baru ini menurunkan berita skandal kejahatan seksual yang terjadi di dalam sekolah-sekolah agama dan di kalangan para Rabbi Yahudi.

Harian Haaretz (10/5), misalnya, melansir skalndal kejahatan seksual yang dilakukan oleh seorang Rabbi Yahudi terhadap tiga orang siswa didikannya. Tak disebutkan secara jelas bagaimana detail kejahatan seksual yang dilakukan Gibrail.


Dan Gibrail, nama Rabbi tersebut, didkawa telah melakukan pelecehan seksual terhadap murid-murid pengajian agamanya. Pengadilan kota Tel Aviv pun mengganjar Gibrail dengan hukuman dua setengah tahun penjara.


Diturunkan oleh Haatez, Gibrail adalah seorang Rabbi yang berasal dari daerah Harteslia, Israel. Ia membujuk ketiga bocah siswanya agar mau pergi ke tempat yang jauh bersamanya, lalu menyuruh mereka menenggak minuman keras, dan melakukan perbuatan yang tak seharusnya di tengah-tengah hilangnya kesadaran mereka.


Haaretz juga mengabarkan, seorang Rabbi Yahudi dari daerah Ptah Takfa, Israel, kini tengah menjalani proses hukum. Ia dituntut oleh seorang gadis yang pernah menjadi siswinya, juga dengan tuduhan pencobaan pemerkosaan.


Surat kabar terkemuka Israel itu juga menurunkan berita terkait fenomena seks menyimpang di kalangan Rabbi perempuan Yahudi di Israel. (L2/hrt/im)


(read more ...)




Ini adalah kajian singkat yang menjelaskan tentang beberapa indikasi destruktif dan bahaya yang ditimbulkan akibat terjun dan berkiprah dalam kancah demokrasi yang banyak orang tertipu dengannya dan menggantungkan harapan mereka kepadanya meskipun hal ini jelas-jelas bertentangan dengan manhaj Allah sebagaimana yang akan dijelaskan dalam kajian yang singkat ini, apalagi banyak sudah pengalaman pahit yang didapat oleh orang yang tertipu dengan permainan ini dan ditampakkan sisi penyimpangan dan kesesatannya


1. Sistem ini membuat kita lengah akan tabiat pergolakan antara jahiliyah dan Islam, antara haq dan batil, karena keberadaan salah satu di antara keduanya mengharuskan lenyapnya yang lain, selamanya tidak mungkin keduanya akan bersatu. Barangsiapa mengira bahwa dengan melalui pemilihan umum fraksi-fraksi jahiliyah akan menyerahkan semua institusi-institusi mereka kepada Islam, ini jelas bertentangan dengan rasio, nash dan sunan (keputusan Allah) yang telah berlaku atas umat-umat terdahulu.



"Tiadalah yang mereka nanti melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) atas orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapati perubahan bagi sunnatullah dan sekali-kali tidak (pula) akan mendapati perpindahan bagi sunnatullah itu." (Surat Faathir: 43)



2. Sistem demokrasi ini akan menyebabkan terkikisnya nilai-nilai aqidah yang benar yang diyakini dan diamalkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dan para sahabatnya yang mulia, akan menyebabkan tersebarnya bidah, tidak dipelajari dan disebarkannya aqidah yang benar ini kepada manusia, karena ajaran-ajarannya menyebabkan terjadi perpecahan di kalangan anggota partai, bahkan dapat menyebabkan seseorang keluar dari partai tersebut sehingga dapat mengurangi jumlah perolehan suara dan pemilihnya.



3. Sistem demokrasi tidak membedakan antara orang yang ‘alim dengan orang yang jahil, antara orang yang mukmin dengan orang kafir, dan antara laki-laki dengan perempuan, karena mereka semuanya memiliki hak suara yang sama, tanpa dilihat kelebihannya dari sisi syari. padahal Allah Taala berfirman:



"Katakanlah! Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui." (Surat Az-Zumar: 9)



Dan Allah Taala berfirman:



"Maka apakah orang yang beriman itu sama seperti orang yang fasiq? Mereka tidaklah sama." (Surat As-Sajdah: 18)



Dan Allah Taala berfirman: "Maka apakah Kami patut menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Mengapa kamu berbuat demikian, bagaimanakah kamu mengambil keputusan?" (Surat Al-Qalam: 35-36)



Dan Allah Taala berfirman:



"Dan anak laki-laki (yang ia nadzarkan itu) tidaklah seperti anak perempuan (yang ia lahirkan)." (Surat Ali Imran: 38)



4. Sistem ini menyebabkan terjadinya perpecahan di kalangan para aktivis dakwah dan jamaah-jamaah Islamiyah, karena terjun dan berkiprahnya sebagian dari mereka ke dalam sistem ini (mau tidak mau) akan membuat mereka mendukung dan membelanya serta berusaha untuk mengharumkan nama baiknya yang pada gilirannya akan memusuhi siapa yang dimusuhi oleh sistem ini dan mendukung serta membela siapa yang didukung dan dibela oleh sistem ini, maka ujung-ujungnya fatwa pun akan simpang-siur tidak memiliki kepastian antara yang membolehkan dan yang melarang, antara yang memuji dan yang mencela.



5. Di bawah naungan sistem demokrasi permasalahan wala dan bara menjadi tidak jelas dan samar, oleh karenanya ada sebagian orang yang berkecimpung dan menggeluti sistem ini menegaskan bahwa perselisihan mereka dengan partai sosialis, partai baath dan partai-partai sekuler lainnya hanya sebatas perselisihan di bidang program saja bukan perselisihan di bidang manhaj dan tak lain seperti perselisihan yang terjadi antara empat madzhab, dan mereka mengadakan ikatan perjanjian dan konfederasi untuk tidak mengkafirkan satu sama lain dan tidak mengkhianati satu sama lain, oleh karenanya mereka mengatakan adanya perselisihan jangan sampai merusakkan kasih sayang antar sesama!!



6. Sistem ini akan mengarah pada tegaknya konfederasi semu dengan partai-partai sekuler, sebagai telah terjadi pada hari ini.



7. Sangat dominan bagi orang yang berkiprah dalam kancah demokrasi akan rusak niatnya, karena setiap partai berusaha dan berambisi untuk membela partainya serta memanfaatkan semua fasilitas dan sarana yang ada untuk menghimpun dan menggalang massa yang ada di sekitarnya, khususnya sarana yang bernuansa religius seperti ceramah, pemberian nasehat, talim, shadaqah dan lain-lain.



8. (Terjun ke dalam kancah demokrasi) juga akan mengakibatkan rusaknya nilai-nilai akhlaq yang mulia seperti kejujuran, transparansi (keterusterangan) dan memenuhi janji, dan menjamurnya kedustaan,berpura-pura (basa-basi) dan ingkar janji.



9. Demikian pula akan melahirkan sifat sombong dan meremehkan orang lain serta bangga dengan pendapatnya masing-masing karena yang menjadi ini permasalahan adalah mempertahankan pendapat. Dan Allah Taala telah berfirman:



"Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada di sisi mereka (masing-masing)." (Surat Al-Mukminun: 53)



10. Kalau kita mau mencermati dan meneliti dengan seksama, berikrar dan mengakui demokrasi berarti menikam (menghujat) para Rasul dan risalah (misi kerasulan) mereka, karena al-haq (kebenaran) kalau diketahui melalui suara yang terbanyak dari rakyat, maka tidak ada artinya diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab, apalagi biasanya ajaran yang dibawa oleh para Rasul banyak menyelisihi mayoritas manusia yang menganut aqidah yang sesat dan menyimpang dan memiliki tradisi-tradisi jahiliyah.



sumber: Almuhajirun


(read more ...)



Allah Subhanahu wa Taala berfirman,








"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." QS. Al Maidah : 51.



Punk rock never dies! Ya, musik hingar-bingar itu ditasbihkan oleh para pengusungnya sebagai musik yang tak akan pernah mati, tak akan mungkintergerus oleh zaman. Heavy metal boleh datang, hardcore metal juga silakan menggempur, boysband turun-naik ke permukaan, tetapi musik punk akan selalu ada.

Adalah dua nama Tamas Erdelyi yang lebih dikenal Tommy Ramone dan Richard Blum yang juga punya nama lain Handsome Dick Manitoba. Keduanya sangat terkenal di jagat musik punk, dan para penggemarnya dianggap “berdosa” besar jika tidak mengetahui mereka berdua. Pasalnya, Ramone dan Manitoba adalah pencipta dan peletak dasar musik yang banyak digandrungi anak muda itu. Dan keduanya adalah Yahudi.


Tahun 1970-an, Ramone dan Manitoba adalah dua legenda hidup punk. Ramone besar dengan grup bandnya The Ramones, sedangkan Manitoba berkibar sebagai frontman The Dictators. Sejak awal, keduanya sadar benar bahwa mereka memainkan musik bukan hanya sekadar panggilan jiwa musisi ataupun menambal topangan hidup (percayalah, hidup sebagai selebriti tidak akan pernah membuat Anda kelaparan!), tapi lebih sebagai menyebarkan ideologi Yahudi mereka.


Musik punk sejak lahir diklaim sebagai musik anti-kemapanan. Ini sangat pararel dengan Yudaisme. Saat itu, seperti yang kita ketahui, Yahudi berada dalam situasi terjepit, karena banyak dibenci oleh banyak orang. Punk sangat tidak biasa, dan ini karena banyak pencetusnya berkeyakinan Yahudi. Hampir semua personil The Ramones adalah Yahudi, dan bahkan godfather punk sendiri, Lou Reed juga Yahudi.



Tumbuh besar sebagai kalangan minoritas dimanapun, tidak heran jika para Yahudi kemudian mengusung musik punk. Lenny Kaye, gitaris untuk Patti Smith (seorang penyanyi Australia yang terkenal di Hollywood) mengatakan bahwa pengaruh budaya punk memang berasal dari Yahudi. “Seting awal musik punk sangat penting,” ujarnya. Banyak istilah dalam musik punk yang berasal dari kata Yahudi.


Sampai tahun 2006, bisa dibilang, sedikit sekali musisi yang menyadari akar Yahudi dalam musik punk. Bahkan pada tahun 70-an, banyak grup band yang memberi nama bandnya berasal dari bahasa Ibrani.


Menurut Kaye, punk sering digunakan sebagai salah satu propaganda anti-semit. Padahal semuanya itu hanya sebuah satir saja. Ramone berpendapat, “Jika ada artis yang berpaham anti-semit, sebenarnya jumlahnya sedikit sekali.” Sedangkan Manitoba mengatakan, “Kami membuat musik punk hanya untuk senang-senang, dan sama sekali tak ada moralitas universal di dalamnya.”


Musik rock sering sekali dipakai oleh para pengusungnya sebagai penunjukan kedekatan mereka dengan gereja. Walaupun bertampang sangar dan bermusik keras, tidak jarang para rocker itu memakai sebuah kalung salib di lehernya, dan memilih tema tentang gereja atau Kristen.


Tak jarang pula mereka menggambarkan secara jelas gereja dalam video klip mereka. Misalnya saja, grup band Guns N’ Roses dalam video klip November Rain yang sangat terkenal. Begitu juga dengan band-band terkenal lainnya seperti Metallica, U2, dan banyak lainnya.


Sedangkan musik punk jelas-jelas mengusung ideologi Yahudi. Para pengusungnya hari ini tersebar di seantero dunia, termasuk Indonesia, dan juga tentu saja remaja-remaja yang beragama Islam. Ketika mereka meneriakan “Punk rock never dies!” dan jawabannya, “Yeah, it’s Jews! Punk rock is Jews!”. (sa/haaretz)


(read more ...)



Jul

23







Allah Subhanahu wa Taala berfirman :


" Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu Termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." QS. Al Maidah : 51.


 


Punk rock never dies! Ya, musik hingar-bingar itu ditasbihkan oleh para pengusungnya sebagai musik yang tak akan pernah mati, tak akan mungkintergerus oleh zaman. Heavy metal boleh datang, hardcore metal juga silakan menggempur, boysband turun-naik ke permukaan, tetapi musik punk akan selalu ada.

Adalah dua nama Tamas Erdelyi yang lebih dikenal Tommy Ramone dan Richard Blum yang juga punya nama lain Handsome Dick Manitoba. Keduanya sangat terkenal di jagat musik punk, dan para penggemarnya dianggap “berdosa” besar jika tidak mengetahui mereka berdua. Pasalnya, Ramone dan Manitoba adalah pencipta dan peletak dasar musik yang banyak digandrungi anak muda itu. Dan keduanya adalah Yahudi.


Tahun 1970-an, Ramone dan Manitoba adalah dua legenda hidup punk. Ramone besar dengan grup bandnya The Ramones, sedangkan Manitoba berkibar sebagai frontman The Dictators. Sejak awal, keduanya sadar benar bahwa mereka memainkan musik bukan hanya sekadar panggilan jiwa musisi ataupun menambal topangan hidup (percayalah, hidup sebagai selebriti tidak akan pernah membuat Anda kelaparan!), tapi lebih sebagai menyebarkan ideologi Yahudi mereka.


Musik punk sejak lahir diklaim sebagai musik anti-kemapanan. Ini sangat pararel dengan Yudaisme. Saat itu, seperti yang kita ketahui, Yahudi berada dalam situasi terjepit, karena banyak dibenci oleh banyak orang. Punk sangat tidak biasa, dan ini karena banyak pencetusnya berkeyakinan Yahudi. Hampir semua personil The Ramones adalah Yahudi, dan bahkan godfather punk sendiri, Lou Reed juga Yahudi.



Tumbuh besar sebagai kalangan minoritas dimanapun, tidak heran jika para Yahudi kemudian mengusung musik punk. Lenny Kaye, gitaris untuk Patti Smith (seorang penyanyi Australia yang terkenal di Hollywood) mengatakan bahwa pengaruh budaya punk memang berasal dari Yahudi. “Seting awal musik punk sangat penting,” ujarnya. Banyak istilah dalam musik punk yang berasal dari kata Yahudi.


Sampai tahun 2006, bisa dibilang, sedikit sekali musisi yang menyadari akar Yahudi dalam musik punk. Bahkan pada tahun 70-an, banyak grup band yang memberi nama bandnya berasal dari bahasa Ibrani.


Menurut Kaye, punk sering digunakan sebagai salah satu propaganda anti-semit. Padahal semuanya itu hanya sebuah satir saja. Ramone berpendapat, “Jika ada artis yang berpaham anti-semit, sebenarnya jumlahnya sedikit sekali.” Sedangkan Manitoba mengatakan, “Kami membuat musik punk hanya untuk senang-senang, dan sama sekali tak ada moralitas universal di dalamnya.”


Musik rock sering sekali dipakai oleh para pengusungnya sebagai penunjukan kedekatan mereka dengan gereja. Walaupun bertampang sangar dan bermusik keras, tidak jarang para rocker itu memakai sebuah kalung salib di lehernya, dan memilih tema tentang gereja atau Kristen.


Tak jarang pula mereka menggambarkan secara jelas gereja dalam video klip mereka. Misalnya saja, grup band Guns N’ Roses dalam video klip November Rain yang sangat terkenal. Begitu juga dengan band-band terkenal lainnya seperti Metallica, U2, dan banyak lainnya.


Sedangkan musik punk jelas-jelas mengusung ideologi Yahudi. Para pengusungnya hari ini tersebar di seantero dunia, termasuk Indonesia, dan juga tentu saja remaja-remaja yang beragama Islam. Ketika mereka meneriakan “Punk rock never dies!” dan jawabannya, “Yeah, it’s Jews! Punk rock is Jews!”.


* dari www.eramuslim.com


(read more ...)



Siapa sangka, kulit pisang yang selalu kita buang ternyata bisa djadikan sumber energi. Para peneliti dari Universitas Nottingham, Inggris menemukan cara untuk mengolah sampah kulit pisang yang banyak terdapat di Afrika, menjadi bahan bakar sumber energi.



Kulit pisang itu diubah menjadi semacam briket yang bisa dibakar dan digunakan untuk memasak, penerangan, dan pemanas ruangan. Penemuan briket dari kulit pisang ini bisa menggantikan penggunaan kayu bakar dan mengurangi penebangan pohon.



Di beberapa negara di Afrika, seperti Rwanda, terdapat banyak sekali pohon pisang. Pisang juga diolah menjadi makanan dan minuman, karena itu banyak terdapat sampah kulit pisang. Agar tidak menjadi sampah yang terbuang percuma, para peneliti memanfaatkannya menjadi bahan bakar yang bisa digunakan oleh masyarakat setempat.



Untuk membuat briket kulit pisang, pertama-tama kulit pisang yang telah membusuk dicampur dan ditumbuk menjadi satu, kemudian dibakar. Setelah dibakar, kulit pisang tersebut akan berubah menjadi seperti bubur.



Kemudian bubur akan dicampur dengan serbuk gergaji kemudian dipadatkan atau dikompres hingga terbentuk seperti balok kemudian dibakar kembali. Setelah dibakar, balok siap untuk digunakan.



"Pembuatan briket pisang ini menggunakan teknologi yang sangat sederhana. Kami membuatnya hanya dengan tangan dan tanpa bantuan peralatan mekanik, kata Mike Clifford salah satu peneliti dari Universitas Nottingham.



Wah, teknologi tersebut bisa ditiru di Indonesia juga ya. Karena selain sebagai sumber energi baru juga dapat mengurangi sampah kulit pisang. (muslimdaily.net/rmd/vvnws)

(read more ...)




Ini Bekas Tanah Pekuburannya"  


Banyak kejadian-kejadian menarik di arena dakwah. Cerita-cerita tersebut sebenarnya semakin mengukuhkan kemuliaan dakwah dan ketinggian derajat bagi mereka yang melakukannya. Terkadang si pelaku dawah alias sang dai tidak menyadari kemuliaan dan hidayah yang ia berikan pada orang yang didakwahinya tersebut.


 




Berikut ini adalah kisah seorang dai yang menakakjubkan sebagaimana dimuat salah satu majalah islam terkenal di timur tengah yaitu majalah al-mujtama sebagaiman diceritakan sendiri oleh sang dai.


Aku mengendarai mobil di samping sebuah pasar dan melihat seorang pemuda yang sedang memeluk seorang gadis. Aku ragu, apakah akan menasehatinya atau tidak? Tapi akhirnya aku putuskan untuk berhenti dan mendekati mereka. Melihat aku datang, anak gadis yang tadinya sedang asyik itu terkejut dan lari. Sementara sang pemuda juga tampak takut dan mengira aku aparta keamanan atau polisi.


“Assalamu’alaikum..”sapaku. aku kemudian menjelaskan, bukan sebagai aparat atau polisi. “aku hanya saudara yang ingin sekali menyampaikan kebaikan untukmu dengan memberi nasehat” jelasku. Aku lalu berbicara dengan suara tenang, hingga tanpa terasa mata pemuda tersebut berkaca-kaca lalu air matanya kulihat menetes. Singkat cerita setelah itu kami pun berkenalan dan saling tukar no HP.


Dua pekan setelah itu, aku kebetulan saja memeriksa dompet dan mendapatkan no teleepon si pemuda itu. “aku ingin menghubunginya sekarang”gumamku saat itu waktu shubuh.


Aku pun menghubunginya, “Masih kenal aku” Ia menjawab “bagaimana aku bisa melupakan suara ini, suara yang telah mengantarkanku pada hidayah dan membuatku bisa melihat cahaya dan jalan yang benar…?” kami pun lalu bersepakat untuk berkunjung ke rumahnya pada hari itu juga setelah shalat ashar.


 Tapi Allah mentakdirkan lain. Aku kedatangan tamu dan akhirnya terpaksa datang terlambat. Aku sempat ragu, apakah akan berangkat atau tidak. Akhirnya kuputuskan aku harus berangkat menepati janji meskipun terlambat.


Aku pergi ke rumah pemuda itu dan mengetuk pintu rumahnya. Rupanya orang tua pemuda itu yang membukakan pintu. “ Fulan ada..?”tanyaku. pertanyaan itu sepertinya membuat keheranan dan ia tidak menjawab apapun. Aku bertanya lagi “Fulan ada..?” orang tua itu lalu mengataka, “anak muda, ini bekas tanah pemakaman fulan. Tadi pagi kami baru saja menguburkannya..” aku sangat terkejut dan merasa tidak percaya dengan apa yang kudengar. Aku mencoba menerangkan dengan yakin,”pak, pagi tadi baru saja saya berbicara dengannya melalui telepon di waktu shubuh.”


Orangtua itu terdiam heran. Ia pun sama-sama nyaris tidak percaya dengan perkataanku. ia lalu menjelaskan, “ fulan kemarin shalat dzuhur dan duduk membaca Al-Qur’an di mesjid, setelah itu ia pulang dan tidur sebentar di rumah. Ketika kami ingin membangunkannya untuk makan siang ternyata ia sudah meninggal.” Ia menerangkan lagi “ anakku dahulunya adalah orang yang tidak malu melakukan kemaksiatan. Tapi dua minggu terakhir ini berubah, ia menjadi orang yang membangunkan kami untuk shalat shubuh di mesjid, padahal sebelumnya ia tidak mau mendirikan shalat dan banyak melakukan keburukan, Allah memberikannya hidayah..”


Kami sama-sama terdiam. Tapi kemudian ayah fulan bertanya,” sejak kapan kamu mengenal anak saya?” aku menjawab sambil termenung, “ dua minggu yang lalu” ayahnya langsung menyergah, “ jadi kamu yang menasehati anak saya. Biar aku memelukmu, karena kamu telah menyelamatkan anakku dari neraka..”...


Pembaca… silahkan ambil pelajaran dari kisah mengagumkan ini. (teamHasmi.org).


(read more ...)



Tahukah Anda? Ferdinand de Lesseps (1805-1894) ternyata bukan orang yang pertama membangun Terusan Suez. Jadi sebenarnya insinyur Perancis yang tinggal lama di Mesir itu tidak berhak menyandang julukan sebagai Si Pembangun Terusan Suez.   

Sejarah yang sebenarnya adalah bermula saat Firaun masih berkuasa di Mesir ribuan tahun sebelum Masehi. Ketika itu Mesir diketahui telah mengimpor sejumlah komoditi dari selatan, di antaranya kapur Barus dari kota Barus di pesisir timur Sumatera. Kapur Barus merupakan salah satu bahan utama untuk pembalseman raja dan bangsawan Mesir kala itu. Robert Dick-Read, dalam The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Times (2005), menulis jika selain kapur Barus, Mesir juga mengimpor dupa, kayu eboni, gading, kemenyan, electrum (campuran alami emas dan perak), dan sebagainya dari daerah Timur India, terutama Nusantara.


Sebelum Firaun Cheops berkuasa, para Firaun Mesir mengimpor bahan-bahan itu dari “daerah di balik matahari terbit”, yang dibawa menyusuri Laut Merah dan menyeberangi gurun yang panas dan terik—dengan dipanggul manusia atau onta—menuju pusat pemerintahan atau daerah gudang. Perjalanan di gurun inilah yang sering memakan korban, baik tenaga kasar maupun biaya yang harus ditanggung kerajaan. Hal ini tentu memusingkan para pembesar Mesir. Akhirnya mereka memutuskan untuk membuat sodetan panjang yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Tengah dan membangun armada laut yang kuat.


Bangsa Mesir memang sudah lama dikenal sebagai bangsa yang menguasai teknik pelayaran jauh. Nancy Jenkins dalam The Boat Beneath the Pyramid (1970) menulis, dalam suatu penggalian arkeologi di gurun dekat Kairo, ditemukan sebuah bangkai kapal laut yang dibenam di dalam satu kuburan khusus di bawah piramida Firaun Cheops. Firaun ini hidup lebih dari enam abad sebelum Firaun Sesostris naik tahta. Kapal itu dipisah-pisah secara sengaja dan cerdas menjadi sekira 1.200 potongan dan diletakkan di dalam sebuah kuburan besar. Dalam kondisi gurun yang kering dan hampa udara, potongan-potongan kapal tersebut tetap utuh saat ditemukan setelah terkubur selama lebih dari empatribu limaratus tahun.


Ketika potongan-potongan kapal itu dirakit kembali oleh satu tim ahli, terbentuklah seuah kapal yang elok sepanjang 141 kaki, dengan balok sepanjang 19 kaki yang terbuat dari papan-papan kayu cedar Lebanon. Balok-balok kayu yang berukuran 70 kaki dirangkai dengan indah dengan menggunakan rumput halfa.


Kapal-kapal bangsa Mesir kala itu sudah berlalu-lalang di Terusan Suez, baik ke arah Lebanon maupun ke Laut Merah menuju selatan. Selama beberapa abad setelah berakhirnya pemerintahan Sesostris, kebudayaan Indus mulai mengalami kemunduran. Dan Terusan Suez yang kala itu disebut sebagai Terusan Firaun pun terbengkalai. Terusan tersebut akhirnya tidak terurus dan tertutup pasir, sehingga sejarah mencatat sejak itu tidak ada lagi interaksi antara Mediteranian dengan Samudera Hindia sampai seribu tahun sesudahnya.


Namun Sesostris telah memelopori gagasan yang tidak terlupakan; ketika Firaun Necho (berkuasa pada abad ke-6 SM) memimpin armada Phoenician yang berlayar mengelilingi Afrika, ia bersiap-siap membangun kembali terusan baru dari cabang Pelusian di Sungai Nil menuju Bitter Lakes, proyek raksasa ini kabarnya menelan 100.000 korban jiwa. Proyek ini diteruskan oleh Darius I dari Sungai Nil menuju Laut Merah, pada 521 SM hingga 485 SM. Ketika terusan ini tertutup kembali oleh sedimentasi alam, tertutup pasir dan tanah, beberapa tahun kemudian dibuka kembali oleh orang-orang Athena; dan dua abad kemudian oleh Ptolemy Philadelphus.


Robert Dick-Read mencatat, pemerintah Romawi tidak mengrus terusan itu dengan baik sehingga tertutup kembali. Barulah pada akhir abad ke-1 M, Kekaisaran Trajan membuka kemblai terusan itu dan dikelola oleh Hadrian dan Antonines hingga akhir abad ke-2 M. Redupnya kekuasaan Romawi di sekitar Mesir membuat terusan itu kembali tertutup pasir hingga di masa awal cahaya Islam bersinar di jazirah Arabia terusan tersebut dibuka kembali untuk memudahkan pengiriman biji-bijian dari Mesir menuju Makkah.


Namun pada abad ke-8 M, Al-Mansur memerintahkan agar terusan itu ditutup kembali dengan alasan keamanan, mencegah ancaman dari timur. Terusan Suez atau Terusan Firaun itu pun dengan sengaja ditutup selama berabad-abad, hingga datangnya masa Ferdinand de Lesseps.


Terusan Suez dalam bahasa Arab disebut sebagai Qanā al-Suways, yang berada di barat Semenanjung Sinai. Terusan ini panjangnya sekira 163 kilometer, menghubungkan Port Said di Laut Tengah dengan Suez di Laut Merah.


Pada 17 November 1869, seorang insinyur Perancis yang sudah lama tinggal di Mesir bernama Ferdinand Vicomte de Lesseps membuka kembali terusan kuno tersebut setelah sebelumnya mempelajari sejarah transportasi dan rute perdagangan antara Mesir kuno dengan wilayah-wilayah selatan. Sebelumnya, kapal-kapal dari Eropa yang ingin ke Asia dari Mesir harus mengelilingi Benua Afrika dahulu dan ini jelas memakan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa di antaranya melakukan hal yang sama dilakukan raja-raja Mesir sebelum terusan itu dibangun, yakni dengan mengosongkan kapal dan membawa barang-barangnya lewat gurun antara Laut Tengah dan Laut Merah.


Atas jasanya membuka kembali Terusan Suez, Ferdinand de Lesseps dipuja bagai pahlawan oleh Eropa. Pemerintahan Perancis menganugerahkan kehormtan tertinggi padanya dengan mengangkatnya sebagai anggota Académie Française.


Selama hampir duabelas tahun De Lesseps menikmati kehidupan yang nikmat dan nama yang besar. Namun di saat usianya mencapai 73 tahun, dia ditunjuk untuk mengepalai pembangunan Terusan Panama. Setelah 10 tahun dikerjakan proyek ini ternyata tidak selesai juga padahal sudah memakan korban tewas sekira 22.000 pekerjanya dan juga biaya yang tidak sedikit. Tahun 1888 proyek Terusan Panama pimpinan de Lesseps dinyatakan gagal. De Lesseps diseret ke pengadilan karena dituduh menyelewengkan dana proyek dan dihukum penjara 5 tahun.


De Lesseps melalui sisa hidupnya selama 6 tahun berikutnya di atas kursi malas. Seluruh gairah hidupnya sirna dan mentalnya terganggu. Ada satu hal yang unik sekaligus menyedihkan, sejak keluar dari penjara, dia hanya mau membaca suratkabar yang terbit sebelum tahun 1888, tahun saat proyek Terusan Panama dihentikan. Hal ini dilakukannya sampai dia meninggal dunia pada 7 Desember 1894.


Sekarang, dunia mencatat De Lesseps sebagai orang besar pembangun Terusan Suez. Hal ini sesungguhnya kurang tepat, karena sebenarnya Firaun-lah yang pertama kali membangun terusan itu. [] (ridyasmara)


(read more ...)





Teheran (arrahmah.com) - Seorang pria Iran terpaksa mengawini seorang gadis Iran sehari sebelum gadis tersebut dieksekusi mati. Perkawinan ini dimaksudkan untuk melegalkan hukuman mati terhadap gadis tersebut.


Pria yang tidak disebutkan identitasnya itu adalah pengikut pemimpin spiritual Iran, Ali Khamenei. Pada The Jerussalem Post dia mengatakan, di usianya yang baru menginjak 18 tahun dirinya diberi kehormatan untuk mengawini wanita muda yang hendak dijatuhi hukuman mati.



Dalam hukum Islam yang diterapkan di Iran, tidak diperkenankan menghukum mati wanita yang statusnya masih perawan. Sehingga, untuk melegalkan penerapan hukuman mati terhadap wanita tersebut, pemerintah menggelar upacara perkawinan kecil-kecilan pada malam sebelum sang terhukum dieksekusi.



Sehingga, di malam itulah, wanita muda tersebut melakukan hubungan badan dengan suaminya sehingga hilanglah keperawanan sang gadis.



"Saya menyesal telah melakukannya (hubungan badan) meskipun sebenarnya itu legal," ujarnya kepada Jerussalem Post seperti dikutip news.com.au, Rabu (22/7/2009).



Pria muda itu menceritakan, dirinya tidak akan pernah melupakan saat-saat ketika malam menjelang eksekusi mati istrinya. "Saya selalu mengingat saat dia menangis setelah hubungan badan itu usai," ujarnya lirih.



"Dan saya tidak akan pernah lupa ketika dia mencakar-cakar wajahnya dengan kukunya sendiri sehingga menimbulkan luka goresan," ceritanya sedih.



 Gadis Muda Iran Dipaksa Menikah Sebelum Dieksekusi




(read more ...)



Kemenangan Ayatullah Khomeini dalam Revolusi Islam (revolusi sebenarnya yang terjadi adalah Revolusi Syiah) di Iran awal tahun 1979 yang menumbangkan kekuasaan monarkhi Shah Pahlevi membuka dua eskalasi baru bagi negara-negara Barat, utamanya AS.

Dua eskalasi besar AS terhadap Iran adalah, Iran memiliki arti strategis bagi AS sebagai salah satu negara penyangga untuk membendung pengaruh Timur Tengah tentang ajaran Islam yang sesungguhnya, dan ini kemudian berjalan selama bertahun-tahun sampai sekarang. Mencuatnya Khomeini sebagai figur baru pada periode itu membuka kiblat peta yang baru pula. Seiring dengan pesona pemikiran dan filsafat yang dikembangkan Syiah, segera saja aliran ini mendapatkan begitu banyak ekspektasi dan simpati dari para kaum muda Muslim—dengan berpikir bahwa Iran adalah negara Arab yang disangkanya sebagai Negara Islam.


Eskalasi kedua adalah, untuk menjamin keamanan sekutu utamanya di wilayah kaya minyak tersebut, Israel. Sebagai blessing in disguise (bemper) atas peran Iran sebagai negara penebar Syiah, maka perang media akan keberadaan Israel dan Iran terus berlangsung, namun selama puluhan tahun lamanya, tak pernah ada satupun konflik nyata yang dilakukan oleh keduanya.


Perang Iraq-Iran dan Pengaruh Syiah di Timur Tengah


Di wilayah Timur Tengah sendiri, satu-satunya negara yang menyadari keberadaan Iran sebagai negara Syiah adalah Iraq. Saddam Hussein—memerintah hampir bersamaan dengan Khomeini pada tahun 1979, jauh-jauh hari sudah melihat pengaruh besar Iran ke Iraq dan negara-negara Arab lainnya.


Perseteruan Iraq terhadap Iran kontan memecah pula konstalasi politik di wilayah Timur Tengah. Jika ingin melihat kemana saja Syiah bergerak pada awal mulanya di Timur Tengah akan sangat mudah, karena Libya dan Suriah, dengan serta merta menjadi komrad Khomeini dan perang Iraq-Iran pun berlangsung selama delapan tahun. Satu-satunya kesalahan Saddam adalah ia malah memilih berkongsi dengan Uni Soviet (sekarang Russia)—itupun dilakukan dengan terpaksa karena negara-negara Arab dengan satu alasan dan lainnya malah memilih abstain dengan mendirikan GCC (Gulf Coooperation Council) yang beranggotakan Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, Oman dan Uni Emirat Arab. Iraq sendiri bukannya tanpa dukungan, karena Mesir, Yaman dan Yordania berada di belakangnya.


Dari Suriah dan Libya, Syiah terus menerabas menuju Lebanon. Seperti diketahui, di Lebanon Syiah asalnya menjadi golongan yang tak diakui. Baru ketika Hizbullah naik ke permukaan, maka Syiah menjadi sangat kuat. Hizbullah adalah kelompok yang dibentuk oleh Sayyid Muhammad Hussein Fadhlalah. Gerakan yang sekarang dipimpin oleh Sayyid Hasan Nashrallah ini memperoleh dukungan dana dan perenjataan dari Teheran, sehingga pada saat ini Hizbulllah menjelma menjadi milisi bersenjata terkuat di Lebanon.


Kebangkitan Syiah di Irak


Jumlah kaum Syi’ah di Iraq sebenarnya sangat besar—mencapai sekitar 60 persen dari jumlah total 24 juta penduduknya. Sisanya adalah penganut Sunni yang menguasai politik Iraq. Sejak masa Saddam berkuasa, acara-acara yang berhubungan dengan kaum Syi’ah dilarang. Seperti diketahui, pada waktu Saddam berkuasa, kaum Syiah sama sekali tidak diberi ruang dikarenakan penyimpangan aqidah. Ketika Saddam jatuh, maka kaum Syiah seolah-olah membalas dendam kepada kaum Sunni. Mereka sengaja membuat isyu yang meminggirkan kaum Sunni lebih dekat kepada Al Qaidah sebagai pelindung setelah kejatuhan Saddam.


Setelah masa kependudukan Arab, bahkan Iran mempunyai pengaruh lebih buruk lagi terhadap Iraq. Keberadaan kaum syiah yang ada di Iraq menjadi salah satu penyebabnya. Kaum Syi’ah Iraq dipercayai lebih loyal terhadap Iran daripada Iraq sendiri. Pada akhirnya sentimen golongan tidak bisa dipisahkan pada permasalahan Iraq sebenarnya. Namun walau pun sekarang Saddam sudah tidak ada, tetap saja rakyat Iraq menolak Syiah dengan tegas.


Syiah di Timur Tengah


Secara umum, perkembangan Syiah di Timur Tengah telah merambah ke segala arah. Walau pun beberapa negara masih sangat ketat, seperti Arab Saudi dan Mesir, namun gerakan-gerakan ini sudah menimbulkan riak-riak dengan para pemuda sebagai pembawanya. Tiadanya figur sentral dalam dunia Islam jelas dimanfaatkan oleh Iran untuk naik ke permukaan—misalnya saja dengan tokoh-tokoh Iran yang seolah-olah secara terang-terangan mengecam dan membuka konfrontasi dengan AS dan Israel.


Berbagai gerakan Islam sepakat tidak mengakui Syiah sebagai salah satu perjuangan Islam. Misalnya saja, Ikhwan (Mesir) melalui pemimpinnya Mahdi Akif sudah dengan tegas menyatakan bahwa Ikhwan tidak pernah menjadi rekan mereka dalam menegakkan Islam. Perwakilan Hamas (Palestina) yang datang ke Indonesia menyatakan bahwa tidak satupun anggota dan kader Hamas yang berpaham Syiah.


Syiah di Indonesia


Bagaimana dengan di Indonesia? 1 September 1997, diselenggarakan sebuah seminar nasional di Jakarta, yang dihadiri pejabat pemerintah, ABRI, MUI, pimpinan ormas Islam, dan masyarakat umum. Melalui seminar itu, keluarlah sebuah keputusan penting menyangkut Syiah, antara lain; Syi’ah malakukan penyimpangan dan perusakan Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Seminar itu mengusulkan agar pemerintah RI lewat Kejaksaan Agung melarang Syiah, termasuk penyebaran buku-buku Syiah di Indonesia.


Namun dalam perkembangannya, justru kecenderungan untuk mempelajari Syi’ah makin meningkat. Buku-buku tentang Syiah pun dengan gampang bisa diperoleh di toko-toko buku. Bahkan lembaga atau komunitas Syiah juga berkembang pesat tanpa lagi takut dengan pelbagai gunjingan miring tentangnya. (sa/berbagaisumber)


(read more ...)



Militer Israel telah membagi-bagikan kepada para prajuritnya sebuah buklet yang didalamnya berisi kecurigaan bahwa Paus dan para Kardinal vatikan telah berkonspirasi dengan gerakan Syiah Libanon - Hizbullah untuk membunuh kaum Yahudi.

"Buku tersebut telah diterima sebagai sumbangan dan di bagikan kepada para prajurit sebagai sebuah itikad baik militer," kata juru bicara Militer Israel dalam sebuah pernyataannya kepada surat kabar Haaretz yang dipublikasikan pada hari ahad kemarin.


Buku yang berjudul "On Either Side of the Border" diterbitkan oleh persatuan jemaat Yahudi Ortodoks Amerika bekerja sama dengan pimpinan Rabbi dari kota Safed - shmuel Eliahu.


Buku tersebut mengklaim Vatikan telah menyelenggarakan sebuah tur ke Auschwitz (kamp konsentrasi Nazi) untuk para anggota Hizbullah guna mengajarkan mereka bagaimana mengganyang yahudi.


Menurut buku tersebut , pimpinan gerakan Syiah Hizbullah Hasan Nasrallah telah diundang untuk bergabung dengan delegasi tur ke Prancis, Italia dan Polandia termasuk vatikan.


Isi buklet juga menuduh para politikus dan wartawan Eropa secara nyata menentang Zionis Israel.


Penulis buku telah mengklaim bahwa buku tersebut telah didistribusikan diantara para prajurit selama beberapa bulan yang lalu, adalah merupakan kesaksian seorang perwira Hizbullah yang menjadi mata-mata untuk Israel.


Dalam laporannya, ia mengganti namanya dari Ibrahim menjadi Avi setelah dia meninggalkan Hizbullah dan menjadi Yahudi.


Para komandan dan pejabat senior militer Israel telah menganjurkan buku kecil tersebut untuk dibagikan kepada seluruh prajurit Israel, menurut sebuah surat kabar harian Israel.


David Menahemov, seorang asisten rabbi Eliahu, mengklaim bahwa isi buku tersebut merupakan kisah nyata.


"Avi adalah sosok yang nyata dan semua yang ada dalam buku adalah benar adanya," katanya kepada Haaretz.


"Ini benar-benar kisah nyata, saya mengenal Avi secara pribadi. Dia seorang warga Arab, walaupun dia mualaf dalam yahudi namun dia berkelakukan seperti seorang Arab," tambahnya.


"Kami membentu dia untuk menulis dan menerjemahkannya kedalam bahasa Ibrani. Kami mengganti beberapa hal detail untuk melindungi dia dan keluarganya."


Para prajurit Israel mengatakan bahwa meskipun pihak militer telah menghentikan pendistribusian buku kecil itu, namun sekarang dapat dengan mudah didapatkan dan tersedia secara luas dikalangan prajurit.


"Buku ini didistribusikan secara berkala dan setiap orang yang membacanya akan mempercayainya," kata seorang prajurit kepada harian Israel.


"Sekelompok tentara mengatakan kepada saya:Baca buku ini dan anda akan memahami bagaimana orang Arab."(fq/iol)


(read more ...)



dakwatuna.com - Islam adalah agama damai, agama penuh toleransi, agama yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta menentang pengkrusakan atau pembunuhan, baik dilakukan secara massif atau terhadap individu.

Ada 5 hak asasi manusia yang sangat dihormati dan dipelihara oleh agama Islam, yaitu Agama, Nyawa, Harta, Nasab dan Kehormatan.


Siapun yang melakukan pelecehan dan tindak kejahatan terhadap kelima hak asasi manusia tersebut tidak bisa diterima, dan Islam memberikan hukuman yang sangat berat terhadap pelakunya.


Allah swt. berfirman:


“Barang siapa membunuh seorang manusia bukan karena orang itu membunuh orang lain (bukan karena qishash), atau bukan karena membuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan ia membunuh manusia seluruhnya; dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan ia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.” Al-Maidah: 32


Islam melarang menggunakan segala cara untuk meraih tujuan. Dalam suasana kecamuk perang sekali pun, Islam memberikan rambu-rambu dan etika berperang: tidak boleh membunuh orang yang telah menyerah, tidak boleh membunuh wanita, orang tua, anak kecil, tidak boleh merusak tanaman, atau tempat ibadah. Tawanan perang dalam Islam juga dijaga dan diperlakukan secara manusiawi.


Oleh karena itu, setiap tindak kekerasan, pembunuhan atau pemboman, maka tindakan itu tidak bisa ditolelir, tidak bisa diterima, siapapun pelakunya, apapun agamanya. Dan Islam berlepas diri dari tindakan tersebut. Allahu a’lam


* www.Dakwatuna.com


(read more ...)



Bunga tulip selalu diidentikkan dengan negara Belanda. Ribuan wisatawan datang ke Belanda hanya untuk mengagumi bunga yang cantik dan berwarna cerah ini, yang banyak ditanam di taman-taman negara Kincir Angin itu. Kota Keukenhof di Belanda, setiap tahunnya bahkan dikunjungi sekitar 800.000 orang dari seluruh dunia yang ingin menyaksikan keindahan aneka bunga tulip dalam Festival Tulip yang diselenggarakan setiap tahun di kota itu. Tak heran masih banyak orang yang beranggapan bahwa bunga tulip adalah bunga asli dari Belanda.

Bunga tulip sebenarnya bukan bunga asli Belanda, karena sebenarnya bunga ini berasal dari Asia Tengah dan Belanda sebenarnya berhutang budi pada kekhalifahan Islam Ustmaniyah di Turki, karena atas peran kekhilafahan Islam inilah Belanda sekarang jadi terkenal karena bunga tulipnya.


Bunga tulip sebenarnya bunga liar yang tumbuh di kawasan Asia Tengah. Orang-orang Turki yang pertama kali membudidayakan bunga ini pada di awal tahun 1000-an dan pada masa pemerintahan kekhalifahan Ustmaniyah, terutama pada masa kekuasaan Sultan Ahmed III (1703-1730) bunga tulip berperan penting, sehingga masa Sultan Ahmed III disebut juga sebagai "Era Bunga Tulip."


Pada masa itu, istana Sultan memiliki sebuah dewan khusus untuk membudidayakan bunga-bunga tulip. Dewan itu dipimpin oleh seorang Turki yang juga kepala perangkai bunga istana yang tugasnya memberikan penilaian pada kualitas berbagai jenis bunga tulip dan memberikan nama yang indah dan puitis bagi bunga-bunga itu antara lain dengan nama  "Those that burn the heart", "Matchless Pearl", "Rose of colored Glass", "Increaser of Joy", "Big Scarlet", "Star of Felicity", "Diamond Envy", or "Light of the Mind".


Hanya bunga-bunga yang memiliki kualitas sempurna yang dimasukkan dalam daftar jenis-jenis bunga tulip itu, yaitu bunga tulip yang memenuhi standar dari ukuran tinggi dan kerampingan kelopak bunganya, bentuk helaian kelopaknya lancip dan jarak antar helaiannya sempit. Helaian kelopaknya harus halus tapi kuat, satu warna, ukuran lebar dan panjangnya pas. Tiga ratus tahun kemudian, komunitas holtikultura Belanda dan Inggris mengajukan baru memikirkan untuk melakukan klasifikasi bunga tulip yang sudah dilakukan jauh sebelumnya oleh ahli perangkai bunga Turki di kesultanan Ahmed III.



Bunga tulip baru dikenal di Belanda pada abad ke-16 dan menjadi sangat populer di kalangan masyarakat kelas atas di negeri itu. Kata "tulip" sendiri berasal dari bahasa Turki yang artinya "sorban", semacam kain yang dililit untuk menutupi kepala. Tidak diketahui kapan persisnya negara Kincir Angin itu mulai membudidayakan bunga tulip itu, tapi disebut-sebut bunga tulip mulai dibawa ke Belanda pada sekitar tahun 1550-an oleh kapal-kapal yang berasal dari Istanbul.

Dokumentasi pertama tentang penanaman bunga tulip bertahun 1954 di Kebun Raya Universitas Leiden. Menurut catatan itu, bunga tulip yang ditanam di kebun raya universitas Leiden dibawa oleh Carolus Clusius dari Wina, Austria, penanggungjawab taman istana di Austria. Ketika itu, pengaruh budaya Turki sangat kuat di Austria terutama dari gaya berpakaian yang oriental dan tradisi minum kopi.


Memasuki abad ke-17, perekonomian Belanda tumbuh pesat dan memicu persaingan antara pecinta bunga tulip. Mereka berlomba-lomba mencari bunga tulip yang paling indah dan tidak segan-segan membayar dengan harga mahal untuk membeli bunga tulip itu. Harga bunga tulip di Belanda pun makin mahal, bahkan kabarnya ada jenis bunga tulip yang harganya sama dengan harga sebuah rumah. Tahun 1635, satu set bunga tulip yang berjumlah 40 tangkai dijual dengan harga 100.000 florin, bandingkan dengan pendapatan kalangan kelas menengah pada masa itu di Belanda yang hanya 150 florin.


Tahun 1636, usaha bunga tulip menjadi salah satu bisnis yang perdagangan yang masuk dalam bursa saham dan diminati banyak orang. Kalangan pengusaha rela menjual tanah, rumah dan harta bendanya untuk berinvestasi di bisnis bungan tulip. Jenis bunga tulip yang sangat terkenal saat itu adalah jenis tulip yang bernama Viceroy, yang harganya bisa ribuan florin. Belanda menyebut fenomena "demam tulip" ini sebagai fenomena "wind trade" (perdagangan kontrak tulip) yang murni dilakukan dengan spekulasi. Ironisnya, masa keemasan bisnis bunga tulip di Belanda hanya berlangsung setahun, karena pada tahun 1637 pasar bunga tulip jatuh dan harga bunga tulip ikut melorot.


Sampai hari ini, istilah "tulip mania" atau "tulipomania" atau "kegilaan tulip" masih digunakan sebagai istilah untuk menggambarkan goncangnya perekonomian karena munculnya spekulan terhadap sesuatu trend bisnis yang sifatnya untung-untungan. Meski cerita di balik "tulip mania" ini sedikit memalukan, tapi Belanda tetap mencintai tulip dan banyak orang yang tak ingat bahwa tulip-tulip yang indah dan cantik itu hasil budidaya dari jaman kekhilafahan Islam Turki Utsmani. (ln/isc)


(read more ...)



Dari Abū Mas’ūd ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshāriy al-Badriy RadhiallahuAnhu, dia menjelaskan bahwa Rasulullah Salallhu Alihi Wasalam bersabda: “Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang dari pitutur (ucapan) para nabi terdahulu adalah:  Apabila engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesuka hatimu” (HR. al-Bukhāriy)

 Catatan Penting:


1.    Hadis di atas menjelaskan bahwa al-hayā’ (rasa malu) adalah perbu-atan yang terpuji, baik dalam tinjauan syari’at Islam maupun dalam tinjauan syari’at-syari’at agama ter-dahulu.


 Bahkan termasuk akhlak mulia yang diwariskan turun temurun oleh para nabi hingga kepada umat ini. Perintah dalam hadis di atas berstatus hukum mubāh, dan sekaligus sebagai thalab (diperintahkan) apabila sesuatu yang menimbulkan rasa malu tersebut ada-lah sesuatu yang dilarang dalam syari’at.


 Namun apabila hanya berupa larangan biasa, maka perintah dalam hadis bersifat sebagai tahdīd (ancaman). Maksudnya, bahwa perbuatan sesuka hati akan terjadi pada diri seseorang yang sudah tidak memiliki rasa malu, atau sedikit rasa malunya.


Dalam Jāmi’ al-‘Ulūm wa al-Hikam (1/498), Ibnu Rajab Rahimahullah berkata:


“Sabda Rasulullah Salallhu Alaihi Wasalam: “Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang dari ucapan para nabi terdahulu adalah…”, mengisyaratkan bahwa perkataan tersebut adalah ma’tsūr (diriwayatkan) dari para nabi terdahulu.


Kemudian ucapan ini disebar luaskan dan diwariskan secara turun temurun, dari generasi ke generasi. Hal ini menjelaskan bahwa perkataan tersebut diajarkan oleh nabi-nabi terdahulu, akhirnya dikenal luas, hingga sampai atau diketahui oleh generasi pertama umat Islam.”


Selanjutnya beliau Rahimahullah berkata:


“Sabda Rasulullah Salallhu Alaihi Wasalam : “…Apabila engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesuka hatimu, makna ungkapan ini memiliki dua penafsiran, yaitu:


1.    Pertama; maknanya bukan sebagai perintah bagi seseorang yang ingin mengerjakan perbuatan apa saja sesuai keinginannya, namun justru sebagai celaan dan larangan bagi-nya. Orang-orang yang berpendapat seperti ini beralasan dengan dua hal, yaitu:


·         Ungkapan tersebut bermakna perintah dengan arti tahdīd (ancaman) dan wa’īd (peringatan keras). Maksudnya bahwa apabila engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sekehendakmu, karena Allah Salallhu Alaihi Wasalam akan membalasnya, sebagaimana firman-Nya:


“…Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan[QS. Fushs-hilat (41): 40]


 


“Maka sembahlah olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia….” [QS. az-Zumar (39): 15]


 


Pendapat ini dipilih oleh sejumlah ulama, di antaranya Abū al-‘Abbās Tsa’lab Rahimahullah.


·         Ungkapan tersebut bermakna perintah yang berstatus sebagai penjelasan atau pemberian informasi. Maksudnya, barang-siapa yang tidak memiliki rasa malu, maka ia akan berbuat apa saja yang sesuai dengan kehendaknya. Karena yang dapat menghalangi seseorang dari berbuat kejelekan adalah rasa malunya. Oleh karena itu, barang-siapa yang tidak memiliki rasa malu, maka ia akan larut dalam perbuatan keji dan mungkar, serta perbuatan-perbuatan lainnya yang akan dijauhi oleh orang-orang yang memiliki rasa malu, sebagaimana Rasulullah Salallhu Alaihi Wasalam bersabda:


(( مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ))


“Barangsiapa yang berdusta atas namaku, maka hendaklah bersiap-siap menempati tempat duduknya di neraka”


Hadis di atas berupa perintah, yang maknanya berupa informasi bahwa barangsiapa yang berdusta atas nama beliau Salallhu Alaihi Wasalam, maka berarti telah menyiapkan tempat duduknya di neraka.


Pendapat ini dipilih oleh Abū ‘Ubayd al-Qāsim bin Salām Rahimahullah , Ibnu Qutaybah Rahimahullah , Muhammad bin Nāshir al-Marwaziy Rahimahullah dan lainnya. Dan Abū Dāwud Rahimahullah meriwayatkan salah satu riwayat dari pendapat Imam Ahmad Rahimahullah yang mendukung pendapat ini.


2.    Kedua; makna “…Apabila engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbu-atlah sesuka hatimu”, bahwa Rasul sa memerintahkan seseorang untuk mengerjakan hal apa saja yang sesuai dengan makna tekstual hadis tersebut. Maksudnya, apabila perbuatan yang hendak engkau kerjakan termasuk perbuatan yang tidak membuatmu malu ketika mengerjakannya, baik malu kepada Allah Salallahu Alaihi Wasalam ataupun malu kepada orang lain, bahkan termasuk perbuatan-per-buatan taat, atau termasuk akhlak mulia, atau termasuk adab yang dipandang baik, maka kerjakanlah sesuai dengan keinginanmu. Pendapat ini dipilih oleh sejumlah ulama, di antaranya Abū Ishāq al-Marwa-ziy al-Syāfi’iy Rahimahullah . Pendapat senada dikemukakan pula oleh Imam Ah-mad rh dalam riwayat lain.”


Selanjutnya (1/501-502) beliau Rahimahullah berkata:.


“Ketahuilah bahwa rasa malu ada dua macam, yaitu:


1.    Malu yang merupakan karakter dan sifat bawaan, bukan hasil sebuah upaya (proses pendewasaaan).


Malu seperti ini termasuk akhlak paling mulia yang Allah Salallahu Alaihi Wasalam anugerahkan kepada seorang hamba. Oleh ka-rena itu, Rasulullah Salallahu Alaihi Wasalam bersabda:


اَلْحَيَاءُ لاَ يَأْتِيْ إِلاَّ بِخَيْرٍ


“Malu itu tiada lain hanya akan mendatangkan kebaikan”


Hal ini dikarenakan rasa malu seperti ini akan menghalangi seseorang dari mengerjakan perbuatan dan akhlak tercela, serta akan mendorongnya untuk berakhlak mulia. Malu seperti ini merupakan salah satu dari cabang keimanan.


2.    Malu yang diupayakan, yaitu dengan mengenal Allah Subhanahu Wa Taala serta dengan mengenal keagungan-Nya, kedekatan-Nya dengan hamba, perhatian-Nya kepadanya serta terhadap ilmu pengetahuan-Nya yang dapat mengetahui pandangan mata yang khianat dan apa yang dirahasiakan hati. Malu seperti ini merupakan salah satu cabang iman yang paling tinggi, bahkan termasuk derajat ihsan yang paling tinggi.


Malu kepada Allah Subhanahu Wa Taala seperti ini akan membuat seseorang senantiasa menyadari luasnya nikmat-nikmat-Nya dan menyadari kekurangan dirinya dalam mensyukuri nikmat-nikmat ter-sebut.


Apabila rasa malu yang merupakan hasil upaya mengenal Allah Subhanahu Wa Taala dan rasa malu yang merupakan sifat bawaan dicabut dari diri seseorang, maka dia tidak akan memiliki penghalang yang dapat meredamnya dari perbuatan jelek dan akhlaq yang tercela. Pada akhirnya, dia akan menjadi seseorang yang tidak memilki iman lagi.”


Faedah Hadis:


1.    Bahwa rasa malu merupakan akhlak mulia yang diwariskan oleh para nabi terdahulu.


2.    Anjuran untuk memiliki rasa malu dan antusiasme untuk mendapatkan kemuliaannya.


3.    Bahwa apabila rasa malu telah hilang dari diri seseorang, maka dia pun akan banyak terjerumus dalam perbuatan jelek (maksiat).


 


(www.hasmi.org)


 


(read more ...)



Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



Saudaraku, marilah kita bersyukur karena kita terpilih sebagai orang-orang muslim, yakni berserah diri kepada Allah. Bersyukurlah karena:



1. Rabb kita adalah Allah Yang Maha Pengasih. Dia memberi pahala kebaikan berlipat-